Anda di halaman 1dari 37

A.

Teori dan Pengetahuan Sosiologi


1.. Pengertian Sosiologi Menurut Ahli
Menurut para ahli, pengertian sosiologi sebagai berikut.
a. Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik
antara gejala sosial dan gejala nonsosial. Hubungan dan pengaruh timbal balik antargejala
sosial misalnya gejala ekonomi dan moral, gejala politik dan hukum, serta gejala agama dan
moral. Contoh gejala nonsosial yaitu kondisi geografis dan biologis.

b. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi


Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial.

c. Williain F. Ogburn
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan kelompok. kelompok.

Dapat disimpulkan, sosiologi mempakan ilmu yang mempelajari hubungan sosial


kemasyarakat/an melalui proses interaksi sosial di berbagai bidang yang saling
berhubungan.

2. Objek Ilmu Sosiologi


Sebuah ilmu pengetahuan umumnya memiliki objek kajian. Adapun objek kajian sosiologi dl
hat dalam dua .bentuk, yaitu masyarakat sebagai sistem sosial dan kebudayaan sebagai hasil
interaksi manusia. Kedua objek tersebut saling berkaitan dan memengaruhi. Kedua objek
kajian ilmu sosiologi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Masyarakat
Masyarakat (society) adalah sekumpulan manusia yang hidup bersama dalam waktu cukup
lama, mendiami wilayah tertentu, memiliki kebudayaan sama, dan melakukan aktivitas dalam
kelompok tersebut. Manusia yang hidup dalam maSyarakat menyadari keberadaan dirinya
sebagai satu kesatuan. Unsur-unsur dalam masyarakat antara lain fakta sosial, tindakan-
tindakan sosial, gejala sosial, lembaga sosial, dan kelompok sosial menjadi kajian sosiologi

Kebudayaan sebagai Hasil Interaksi Manusia


Kebudayaan adalah kompleksitas yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, kebudayaan sebagai hasil
interaksi antar manusia turut dikaji dalam ilmu sosiologi karena memengaruhi sistem sosial
masyarakat.

3.Karakteristik ilmu sosiologi


Ilmu sosiologi memiliki karakteristik/ciri berbeda dengan ilmu lainnya. Karakteristik ilmu
sosiologi sebagai berikut.
a. Nonetis, artinya sosiologi tidak bertujuan menilai baik atau buruknya suatu fakta, tetapi
bertujuan menjelaskan fakta secara ilmiah dan mendalam. Selain itu, sosiologi hanya bertugas
mengungkapkan atau menjelaskan tindakan sosial sebagai bagian darl fakta sosial. '
b. Kumulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada. Akan
tetapi. teorl tersebut selalu mengalami perbaikan, perluasan. dan penguatan sesuai
kondisi/fakta terbaru.
c. Teoretis, artinya sosiologi berusaha memberikan teori yang berasal dari abstraksi hasil
observasi sehingga menunjukkan pernyataan atau proporoi secara logis untuk menjelaskan
hubungan sebab akibat.
d Empiris, artinya cooiologl merupakan ilmu berdasarkan hasil observasi logic terhadap fakta
sosial, bukan berdasarkan hasil spekulasi (Soerjono Soekanto, 2014: 13).
4. Tokoh dan Teori Sosiologi
Teori berguna untuk mempertajam ataupun mengkhususkan fakta yang dipelajari dalam
masyarakat. Dalam ilmu sosiologi, teori digunakan sebagai landasan untuk menganalisis
fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat. Beberapa teori sosiologi yang dikemukakan
para tokoh sosiologi sebagai berikut.

a. Karl Marx
Kari Marx mengemukakan teori kelas sosial. Teori ini berpijak pada keadaan , masyarakat
semasa Revolusi Industri. Teori kelas sosial menyatakan dalam masyarakat kapitalis terdapat
pembedaan kelas yaitu. kelas pemilik modal (borjuis) dan buruh (proletar).
Industrialisasi menyebabkan alienasi karena pemilik modal (borjuis) menguasai proses
produksi, produk, dan jamkerja para buruh (Ritzer, 2004: 34). Kondisi tersebut menyebabkan
penindasan kelas atas terhadap kelas bawah. Para buruh memproduksi barang untuk
kepentingan pemilik moda|, ide-ide dari buruh tidak dapat tersalurkan dengan baik, hasil
produksi dimiliki pemilik modal, dan potensi pekerja dalam masyarakat kapitalis terabaikan,

b. Auguste Comte
Salah satu teori yang dikemukakan Auguste Comte yaitu hukum tiga tahap. Hukum tiga tahap
menjelaskan tahap atau tingkatan intelektual dalam perkembangan manusia. Berikut tiga
tahap perkembangan manusia. "
1) Tahap teologis menjelaskan segala , sesuatu yang terjadi di dunia dikendalikan oleh
kekuatan gaib. Tahap ini dibagi menjadi tiga yaitu fetisisme, politeisme, dan monoteisme.
2) Tahap metafisik merupakan tahap ' transisi teologis menuju positivis. Tahap ini ditandai
dengan kepercayaan hukum Tuhan yang diseimbangkan dengan pemikiran manusia.
3) Tahap posths ditandai dengan berkembangnya Ilmu pengetahuan. Manusia memusatkan
perhatian pada data empms untuk menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di dunia.

c. Ferdinand Tonnies
Ferdinand Tonnies merupakan tokoh pencetus istilah kelompok sosial masyarakat paguyuban
(gemeinschaft) dan patembayan (gessellschaft). Paguyuban merupakan bentuk kehidupan
bersama ketika anggotaanggotanya diikat oleh hubungan batin murni dan bersifat alami serta
kekal. Ferdinand Tonnies membedakan masyarakat gemeinschaft menjadi tiga jenis, yaitu
gemeinschaft by blood, gemeinschaft by place, dan gemeinschaft of mind. Adapun patembayan
merupakan bentuk kehidupan masyarakat berdasarkan ikatan lahir, bersifat pokok, disatukan
kepentingan tertentu, dan terbentuk dalam jangka waktu pendek. Kelompok masyarakat
gessellschaft memiliki struktur sosial bersifat mekanis (berdasarkan keahlian).

d. Max Weber
Max Weber merupakan tokoh sosiologi yang memperkenalkan teori tindakan sosial. Menurut
teori ini, tindakan atau perilaku seseorang dalam masyarakat bukan perilaku yang terjadi se
secara kebetulan. Perilaku ataupun tindakan tersebut memiliki pola, struktur, dan makna
tertentu. Max Weber secara khusus mengklasifikasikan tindakan sosial tersebut dalam empat
tipe berikut (George Ritzer, 2001: 126).
1) Tindakan Rasional Instrumental Tindakan yang dilakukan seseorang didasarkan atas
pertimbangan sadar serta berhubungan dengan tujuan tindakan dan ketersediaan alat untuk
mencapainya.
2) Tindakan Rasional Nilai Tindakan yang dilakukan seseorang karena mempertimbangkan
nilai yang terkandung daiarn tindakan tersebut.
3) Tindakan Afektif Tindakan seseorang yang didominasi emosi dan perasaan. Memiliki sifat
spontan, tidak rasional, dan merupakan ekspresi emosional dari individu.
4) Tindakan Tradisional Tindakan seseorang yang memperlihatkan perilaku tertentu karena
kebiasaan'yang diperoleh dari nenek moyang tanpa refleksi sadar atau perencanaan.
e. Emille Durkheim
Emile Durkheim merupakan pencetus teori keteraturan sosial. Menurut teori keteraturan
sosial, permasalahan mendasar yang dihadapi anggota masyarakat adalah cara membentuk
keteraturan sosial. Keteraturan sosial dapat meningkatkan integrasi dan solidaritas sosial.
integrasi adalah kemampuan beradaptasi dan berkontribusi antara kelompok satu dan
kelompok lain. Adapun solidaritas sosial menunjukkan rasa kebersamaan, kesatuan,
kepentingan, dan simpati sebagai anggota masyarakat. Solidaritas sosial dibedakan menjadi
dua bentuk, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis.

f. Charles Wright Mills


Charles Wright Mills mengembangkan teori Sosiologi modern dengan pokok pikiran khayalan
sosiologi (Sunarto, 2004: 13). Khayalan sosiologi dianggap perlu untuk memahami realitas
yang terjadi dalam masyarakat ataupun dalam diri manusia. Melalui khayalan sosiologi, kita
dapat memahami perkembangan masyarakat_ dengan riwayat kehidupan seseorang. Khayalan
sosiologi dapat dikembangkan melalui dua konsep pemikiran, yaitu permasalahan (trouble)
dan isu '(issues). Trouble muncul sebagai pertentangan pola pikir terhadap realitas sosial
dalam masyarakat. Issues muncul dari luar diri manusia untuk menyikapi suatu kondisi.

5. Kajian Ilmu Sosiologi


Kajian ilmu sosiologi sebagai berikut.

Interaksi Sosial
interaksi merupakan hubungan dinamis yang terjadi antarindividu, individu dan kelompok,
serta kelompok dan kelompok. Interaksi disebut juga hubungan sosial. Syarat terjadinya
interaksi sosial yaitu kontak sosial (Sosial contact) dan komunikasi (communication). Pada
saat ini interaksi sosial dapat terjalin dengan mudah karena pengaruh perkembangan
teknologi komunikasi. interaksi sosial dengan menggunakan media komunikasi dapat terjalin
tanpa harus bertatap muka.

Sosialisasi dalam Proses Pembentukan Kepribadian


Sosialisasi merupakan proses mempelajari atau menanamkan nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat. Sosialisasi dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Keluarga
merupakan agen sosialisasi pertama dan paling utama dalam pembentukan kepribadian
sehingga disebut agen sosialisasi primer Selain itu. sosiallsasi dapat diperoleh dan luar
keluarga yaitu lingkungan sekolah, teman sebaya. dan masyarakat. Soslalisasl ini d sebut
sosialisasi sekunder.

Kelompok Sosial
Menurut Richard T. Schaeier (2011: 139). kelompok (group) diartikan sebagai Sejumlah
manusia dengan norma, nilai, dan harapan yang sama dengan saling berinteraksi secara
teratur. Keluarga, komunitas, dan peserta didik dalam sekolah merupakan contoh kelompok
sosial dalam masyarakat. Kelompok sosial terbentuk karena kecenderungan masyarakat
menjalin hubungan sosial. Hubungan sosial yang terjalin dalam masyarakat bertujuan
mencukupi kebutuhan anggota masyarakat.

Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial merupakan segala bentuk perilaku yang tidak sesuai nilai dan norma
masyarakat. Penyimpangan sosial disebut juga deviasi sosial. Penyimpangan sosial dapat
dilakukan oleh individu atau kelompok. Berdasarkan sifatnya, penyimpangan sosial dapat
dibedakan menjadi empatjenis, yaitu primer, sekunder, positif, dan negatif. '

Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial merupakan upaya penertiban yang dilakukan oleh masyarakat.
Pengendalian sosial bertujuan meniaga keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat.
Pengendalian sosial dapat dilakukan melalui pengendalian formal dan nonformal.
Pengendalian formal dilakukan secara sadar, yaitu disengaja, terencana, dan memiliki sanksi
tegas. Sementara itu, pengendalian nonformal dilakukan secara kolektif oleh masyarakat
melalui desasdesus, pengucilan, celaan, dan ejekan.

Nilai dan Norma .


Nilai merupakan prinsip dasar atau kualitas dasar yang dianggap penting bagi seseorang atau
masyarakat. Norma merUpakan aturan atau tata tertib yang dibentuk masyarakat untuk
mewujudkan keteraturan dalam masyarakat.

Lembaga Sosial
Lembaga Sosial Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, lembaga sosial adalah sistem
norma sosial dan hubungan-hubungan terorganisasi yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur
tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lembaga sosial terbentuk
.untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lembaga sosial antara lain Iembaga keluarga.
pendidikan, agama, politik, dan hukum.

Mobilitas Sosial
Mobilitas Sosial merupakan pergerakan atau pemindahan status umrang atau keiompok sosial
dari suatu lapisan mual menuju lapisan mia! laun Mommas ma! dapat dbodakan menjadi tiga
bentuk yaitu mobilitas vertikal. mobilitas horizontal, dan mobilitas lateral. Mobilitas vertikal
merupakan perpindahan yang bersrtat naik/turun (tidak sederajat). Mobilitas horizontal
merupakan perpindahanyangteriacidalamtingamsmia (sederajat). Sementara itu, mobilitas
lateral merupakan perpindahan individu atau kelompok dari satu wilayah ke wiiayah laintanpa
mengubah status sosialnya.

Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan bagian dari proses perkembangan masyarakat. Menurut Selo
Soemardjan, perubahan sosial adalah segala perubahan pada Iembaga-Iembaga
kemasyarakatan yang memengaruhi sistem sosial masyarakat, termasuk nilai-nilai, sikap, dan
pola perilaku di antara kelompokkelompok Perubahan sosial dapat menimbuikan dampak
positif dan dampak negatif.

Struktur Sosial
Struktur sosial merupakan tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompokkelompok
sosial dalam masyarakat. Struktur sosial dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial. Diferensiasi sosial menunjukkan pembedaan
antarkelompok secara horizontal. Sebagai contoh, perbedaan suku bangsa, ras, agama, dan
golongan. ' Stratifikasi sosial menunjukkan sistem pelapisan sosial secara vertikal.

Metode Penelitian dalam Ilmu Sosiologi


Metode penelitian merupakan cara yang digunakan suatu ilmu untuk memperoleh dan
mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Metode. penelitian dalam ilmu sosiologi, yaitu metode
kuantitatif dan kualitatif. Kedua metode tersebut 'dapat dijelaskan sebagai berikut

Metode kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan secara mendalam dengan sumber data
berupa kata-kata lisan atau tertulis. Salah satu teknik pengambilan data dalam metode
kualitatif, misainya wawancara. Melalui wawancara dapat diperoleh data lebih mendalam.
Metode kuantitatif digunakan untuk meneliti _ fakta yang dapat diukur dengan angka.
Penarikan kesimpulan dalam penelitian kuantitatif menggunakan skala, indeks, tabel. dan
formula-tonnula yang berkaitan dengan statistik.
6. Fungsi dan Mantaat Sosiologi
Sosiologi memandang gejala sosial sebagai peristiwa menarik yang harus dipahami dan di
elaskan kepada masyarakat. Oleh karena itu, sosroiogi berusaha mengkaji gejala sosial dengan
metode-metode tertentu sehingga menghasilkan kajian ilmiah yang dapat dipahami
masyarakat. llmu sosiologi diharapkan mampu memecahkan permasalahan sosial yang terjadi
dalam masyarakat. Secara umum, sosiologi memiliki beberapa fungsi berikut.

Solusi Pemecahan Masalah Sosial


Masalah sosial merupakan fenomena sosial yang cenderung terjadi selama manusia
menjalankan kehidupan dan menjalin hubungan sosial. Oleh karena itu, pendekatan sosiologi
diperlukan untuk menganalisis berbagai permasalahan sosial dengan menggunakan metode
penelitian. Pengamatan pendekatan sosiologi tentang masalah sosial diharapkan dapat
memberikan solusi bagi masyarakat.

Bahan Penelitian Sosial


ilmu sosiologi diperlukan untuk mempelajari berbagai gejala atau fenomena sosial dalam
masyarakat. llmu sosiologi mencoba mengkaji hal yang tersembunyi (laten) di balik gejala
sosial yang tampak (manifes) untuk dipahami secara mendalam. Pemahaman yang benar
mendorong munculnya pengertian dan upaya mengatasi gejalasosial tersebut. Dengan
demikian, hasil penelitian sosiologi dapat memberikan pemahaman logis kepada masyarakat
terkait gejala sosial.

Bahan Pembuatan Keputusan


Pemerintah sebagai lembaga formal negara memiliki legitimasi untuk mengatur tata
kehidupan bermasyarakat. Dalam meng' atur kehidupan masyarakat pemerintah
membutuhkan bantuan sosiolog untuk melakukan penelitian sosial terhadap perilaku dan
kebutuhan masyarakat dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, penyusunan program
pemberdayaan masyarakat disesuaikan budaya dalam masyarakat.

Bahan Perencanaan dan Pembangunan Sosial


Pembangunan sosial selalu ditujukan kepada masyarakat sebagai objek kajian sosiologi. Fungsi
sosiologi pada tahap perencanaan adalah memberikan data dan informasi mengenai kondisi
sosial masyarakat, baik berupa keadaan maupun fakta sosial yang ditemui dalam masyarakat
agar program yang direncanakan tepat sasaran. Adapun peran sosiologi pada tahap
pembangunan yaitu memberikan informasi " terkait dampak sosial pembangunan. Dengan "
demikian, pembangunan dapat dilaksanakan sesuai kemampuan serta memperhatikan
dampak sosial, misalnya berupa perubahan sosial progres atau perubahan sosial regres.
B. lnteraksi Sosial Antarindividu, Kelompok, dan Antarkelompok
lnteraksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. lnteraksi sosial merupakan
hubungan-hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara perorangan, antara
kelompok dan kelompok manusia, atau antara perorangan dengan kelompok manusia
(Soekanto dan Sulistyowati, 2014: 56). Interaksi sosial sangat berguna untuk mempelajari
berbagai masalah dalam masyarakat. Interaksi sosia| menyebabkan individu/kelompok saling
memengaruhi satu sama lain sepanjang hidupnya.

1. Syarat Interaksi Sosial dalam Masyarakat


Syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosia| (Sosial contact) dan komunikasi
(communication).

Kontak Sosial Secara harfiah, kontak sosial berarti terjadi hubungan secara fisik. Akan tetapi,
sebagai gejala sosia| kontak dapat terjadi baik secara langsung (primer) maupun tidak
langsung (sekunder). Terjadinya kontak sosial tidak hanya bergantung dari tindakan
seseorang, tetapi juga berdasarkan tanggap. an (respons) seseorang terhadap tindakan.
tersebut. Misalnya, ketika seseorang melambaikan tangan respons dari pihak lain yaitu
membalas dengan lambaian tangan. Selain primer dan sekunder, kontak sosial dapat bersifat
positif dan negatif. Suatu kontak sosia| dikatakan positif apabila mengarah pada kesepakatan
atau kerja sama.

Adapun kontak sosial dikatakan negatif apabila mengarah pada pertentangan.

Komunikasi Arti terpenting komunikasi adalah' seseorang memberikan tafsiran terhadap


perilaku/informasi/berita kepada orang Iain.

Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perilaku/informasi/ berita


tersebut. Beberapa komponen proses komunikasi sebagai berikut.
1) Sumber informasi/pengirim pesan ' (komunikator).
2) lnformasi/pesan yang. disampaikan (stimulus).
3) Saluran/media.
4) Penerima informasi (komunikan).
5) Respons atau tanggapan dari penerima informasi.

Apabila dalam interaksi sosial salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi _dapat terjadi
kegagalan dalam proses interaksi.

2. Ciri lnteraksi Sosial


Ciri-ciri interaksi sosiai menu'rut Charles P. Loomis sebagai ”berikut (Setiadi dan Kolip, 2011.
65-66).
a. Terdapat komunikasi menggunakan Simbol. simbol atau lambang. . _,
b. Jumlah pelaku dua orang atau iebih.
c. Terdapat tujuan yang akan dicapai. '
d. Terdapat dimensi waktu meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhl Interaksi Sosial


Interaksi sosial dalam masyarakat dipengaruhi oieh taktor-faktor berikut.

Simpati merupakan suatu proses ketika seseorang tertarik kepada pihak lain terkait perilaku
atau penampilannya.
Empati merupakan kemampuan merasakan keadaan orang lain dan ikut merasakan situasi
yang dialami atau dirasakan orang lain.
Imitasi merupakan proses meniru sikap, tindakan, tingkah laku, atau penampilan fisik orang
lain di lingkungan sekitarnya secara beriebihan. ‘
Sugesti merupakan proses menerima sikap, pandangan, dan pendapat orang lain tanpa dipikir
ulang. Kondisi tersebut dapat terjadi karena pandangan/pendapat berasal dari orang yang
berwibawa, memiliki kekuasaan dan diakui oleh masyarakat.
Motivasi merupakan dorongan, baik dari dalam diri seseorang maupun orang lain untuk
melakukan tindakan.
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang menjadi sama
(identik) dengan pihak lain. Proses identifikasi bersifat lebih mendalam daripada imitasi.
Dalam proses identifikasi tidak hanya perilaku dan penampilan luar yang ditiru. Akan tetapi,
kepribadian serta sifat-sifat orang lain juga ditiru sebagai pedoman bertindak dalam
kehidupan sehari-hari.

4. Jenis-Jenis Interaksi Sosial


Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat heterogen dapat menyebabkan timbulnya
beberapa jenis interaksi sosiai. Adapun jenis interaksi sosial tersebut meliputi interaksi antara
individu dan individu, individu dan kelompok atau sebaliknya, serta kelompok dan kelompok.

Interaksi antara Individu dan Indlvldu Interaksi antara individu dan individu berarti individu
menyampaikan informasi kepada individu lain. Dengan demikian, subjek dan objek interaksi
sosial adalah individu.

Interaksi antara Individu dan Kelompok


interaksi antara individu dan kelompok berarti individu berperan sebagai subjek/
komunikator dan kelompok berperan sebagai objek (komunikan).
Interaksi antara Kelompok dan Individu
Interaksi antara kelompok dan individu berarti kelompok berperan sebagai subjek dan
individu berperan sebagai objek.
interaksi antara Kelompok dan Kelompok Interaksi antara kelompok dan keiompok berarti
kelompok pemeran sebagai subjek dan kelompok lain berperan sebagai objek.

5. Proses Sosial
Hubungan sosial secara timbal balik dan transaksional mendukung terjadinya proses sosial.
Proses sosial merupakan kegiatan interaksi sosial yang bedangsung dalam jangka waktu
tertentu. Secara garis besar proses sosial dibedakan menjadi dua bentuk. yaitu proses sosial
asosiatif dan proses sosial disosiatif.

a. Proses Sosial Asosiatif


Proses sosial asosiatif mengarah pada persatuan dan dapat meningkatkan solidaritas sosial
antarindividu/kelompok. Proses sosial asosiatif diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Akulturasi
Akulturasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian
kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian ataupun ciri khas kebudayaan
asli.

2) Asimilasi
Asimilasi merupakan proses peleburan dua kebudayaan atau lebih yang berbeda menjadi satu
kebudayaan baru. Asimilasi menyebabkan hilangnya perbedaan pada tiap-tiap kebudayaan.

3) Amalgamasi
Amalgamasi merupakan proses melebumya dua kelompok budaya menjadi satu sehingga
melahirkan kelompok budaya baru. Amalgamasi mempertegas hilangnya
perbedaanperbedaan. Proses amalgamasi biasanya dilakukan melalui pernikahan campuran;
4) Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama merupakan suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok untuk
mencapai tujuan bersama. Bentuk-bentuk kerja sama sebagai berikut (Syarbaini dan Fatkhuri,
2016: 60). .
a) Koalisi (coalition) yaitu kerja sama dua organisasi politik atau lebih untuk mencapai tujuan
yang sama dengan bergabung menjadi satu. Jika kerja sama dilakukan atas dasar bagi hasil
disebut patungan (iointvenrum).
b) Tawar-menawar (bargaining) yaitu bentuk perjanjian mengenai per. tukaran barang dan
iasa antara dua pihak atau lebih.
c) Kooptasi (cooptation) yaitu bentuk kerja sama yang dilakukan dengan cara menyepakati
pimpinan yang ditunjuk mengendalikan jalannya organisasi/kelompok.

5) Akomodasi
Akomodasi merupakan interaksi sosial antara individu dan kelompok . dalam upaya
menyelesaikan suatu konflik/pertentangan. Bentuk-bentuk akomodasi sebagai berikut.
a) Toleransi merupakan suatu sikap. menghargai perbedaan dalam masyarakat.
b) Arbitrase (arbitration) merupakan penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga
yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Pihak ketiga dalam arbitrase adalah
majelis arbitrase.
c) Mediasi (mediation) merupakan proses pengikutsertaan pihak ketiga sebagai penasihat
bersifat netral dalam penyelesaian suatu perselisihan.
d) Ajudikasi (adjudication) merupakan suatu usaha penyelesaian konilik/ perselisihan melalui
pengadilan (meja hijau). '
e) Stalemate merupakan keadaan yang ditandai adanya kekuatan seimbang dari kedua pihak
yang bertikai sehingga pertikaian terhenti pada titik tertentu.
f) Koersi (coercion) merupakan bentuk akomodasi yang dilaksanakan menggunakan tekanan
(pemaksaan) sehingga salah satu pihak berada dalam keadaan lebih lemah dibandingkan pihak
lawan.
g) Kompromi (compromise) merupakan perundingan secara damai antara kedua belah pihak
yang bertikai untuk saling mengurangi tuntutan.
h) Konsiliasi (conciliation) merupakan usaha mempertemukan pihak-pihak yang berselisih
untuk mencapai persetujuan melalui lembaga sosial sebagai usaha menyelesaikan perselisihan
tersebut.

b. Proses Sosial Disosiatif


Proses sosial disosiatif merupakan interaksi sosial yang dapat menyebabkan perpecahan
Bentuk proses sosial disosiatii sebagai berikut.
1) Pertentangan (Pertikaian/Konflik)
Pertentangan adalah suatu proses sosial ketika saseorang/kelompok dengan sadar atau tidak
sadar menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan untuk mendapatkan
keinginanltujuan tertentu.

2) Kontravensi
Kontravensi adalah upaya meng. halangi dan menggagalkan tercapainya tuiuan pihak lain.
Bentuk-bentuk kontravensi berupa gangguan, fitnah, provokasi, dan intimidasi.

3) Persaingan/Kompetisi
Persaingan/kompetisi adalah suatu proses sosial yang dilakukan individu] kelompok untuk
memperoleh kemenangan secara kompetitif tanpa menimbulkan bentrok atau kekerasan fisik.

6. Keteraturan Sosial dalam Masyarakat


Interaksi sosial bertujuan mewujudkan keteraturan sosial. Keteraturan sosial menunjukkan
masyarakat melakukan interaksi sosial secara tertib dan teratur sesuai nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat (Syarbaini dan Fatkhun, 2016: 67). Wujud keteraturan sosial dapat
dilihat dalam kehidupan masyarakat yang aman, tertib, saling menghormati, dan
mengedepankan gotong royong. Keteraturan sosial dalam masyarakat dapat terbentuk melalui
unsur-unsur berikut.

a. Tertib sosial, artinya kondisi kehidupan suatu masyarakat yang aman, dinamis. dan teratur
karena setiap indlvidu bertindak sesuai ni|al dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagai contoh, tertib sosial dalam masyarakat dapat dilihat ketika kita mengamati
pengendara sepeda motor di jalan raya. Pengguna jalan raya yang memahami norma yang
berlaku akan menaati aturan lalu lintas. Sementara Itu, pengguna jalan yang tidak memahami
norma sosial akan melanggar aturan lalu lintas.

b. Order. artinya sistem norma dan nilai sosial yang berkembang, diakui, dan dipatuhi oleh
seluruh anggota masyarakat. Order dapat tercapai apabila terdapat tertib sosial dan setiap
individu melaksanakan hak serta kewajibannya. Contoh order adalah adat Istradat yang
dijadikan pedoman dalam kehtdupan masyarakat

c. Keajekan. artinya suatu kondisi keteraturan Sosial yang berlangsung tetap dan berkelanjutan
sebagal hasil hubungan antara tindakan. nilai, dan norma sossal yang bertangsung secara
terus-menerus. Keajekan bisaterwujud jika setiap individu telah melaksanakan hak dan
kewajiban sesuai sistem norma dan nilai sosial yang berkembang dalam lingkungan vtertentu.
Misalnya, setiap pagi peserta didik selalu datang ke sekolah.

d. Pola, artinya corak hubungan yang tepat dan ajek dalam interaksi sosial yang dijadikan
model bagi semua anggota masyarakat atau kelompok. Pola menekankan aspek kebiasaan yang
tetap terpelihara dan teruji dalam berbagai situasi. Contoh pola adalah musyawarah yang
dijadikan masyarakat sebagai cara menyelesaikan masalah karena teruji dapat menyelesaikan
berbagai persoalan. . .

Syarat-syarat terwujudnya keteraturan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

- Terdapat norma sosial sesuai kebutuhan serta peradaban manusia.


- Terdapat kesadaran warga tentang pentingnya keteraturan masyarakat.
- Terdapat aparat penegak hukum yang ' konsisten dalam menjalankan tugas, fungsi, dan
wewenangnya dalam upaya mewujudkan keteraturan sosial.
C. Nilai dan Norma Sosial

Aturan-aturan dalam masyarakat memegang peranan penting untuk menciptakan keteraturan


sosial. Aturan pokok tersebut diciptakan dan ditetapkan berdasarkan nilai sosial. Nilai sosial
merupakan sesuatu yang dianggap baik dan pantas bagi masyarakat setempat. Aturan-aturan
dalam masyarakat meliputi perbuatan yang dilarang dan dianjurkan. Aturan dalam masyarakat
terwujud dalam bentuk norma sosial.

1. Nilai Sosial
Nilai sosial didefinisikan sebagai konsep abstrak tentang prinsip standar atau patokan yang
baik, dicita-citakan, penting, dan berguna bagi kehidupan manusia. Menumt Robert M.Z.
Lawang, nilai sosial adalah gambaran mengenai hal-hal yang pantas dan berharga atau
diinginkan. Halhal yang diinginkan oleh seseorang dapat memengaruhi perilaku sosial orang
tersebut. Nilai sosial berperan mengarahkan perilaku seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat.

a. Jenis-Jenis Nilai Sosial


Nilai sosial memuat nilai-nilai kolektif yang dianut oleh sebagian besar masyarakat.

Menurut Prof. Notonegoro, nilai sosial dibagi menjadi tiga sebagai berikut.

1) Nilai vital merupakan segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan aktivitas
atau kegiatan dalam hidupnya. Sesuatu dapat bernilai apabila dilihat dari daya gunanya.

2) Nilai materiel merupakan segala sesuatu yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
fisik/jasmani manusia.

3) Nilai rohani merupakan segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani.
Nilai rohani dibagi menjadi empat yaitu nilai kebenaran/empiris, nilai keindahan, nilai moral,
dan nilai religius.

Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.

1) Nilai instrumental merupakan nilai yang bersifat dinamis sehingga sangat fleksibel terhadap
hukum. Nilai instrumental biasanya terdapat dalam kelompok primer yang anggotanya saling
memiliki rasa empati, misalnya keluarga.

2) Nilai dominan merupakan nilai yang diutamakan dan dianggap lebih penting daripada nilai
lainnya.

3) Nilai yang mendarah daging merupakan nilai yang membentuk kepribadian seseorang
sehingga pelaksanaannya tidak membutuhkan banyak pertimangan

Berdasarkan fungsinya. nilai sosial dikelompokkan sebagai berikut.

1) Nilai lntegratif merupakan nilai yang memberikan tuntutan atau mengarahkan


eeeeorang/kelompok dalam usaha mencapai clta-cita bersama.
2) Nilai dislntegratif merupakan nilai yang hanya berlaku untuk sekelompok orang di wilayah
tertentu.

b. Fungsi Nilai Soslal


Nilai sosial memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.
1) Sebagai alat solidaritas masyarakat.
2) Membentuk sikap mandiri dan tanggung jawab.
3) Sebagai pengawas. pembatas. dan pendorong perilaku individu dalam masyarakat.
4) Memotivasi manusia agar berperilaku sesuai peran guna mencapai suatu tujuan.
5) Sebagai alat menentukan harga dan kelas sosial dalam stratifikasi sosial.
6) Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan berperilaku sesuai nllai-nlial sosial agar
tercipta integrasi dan ketertiban sosial.

2, Norma Sosial
Norma sosial berisi larangan dan perintah yang digunakan sebagai petunjuk hidup
bermasyarakat. Pelanggaran terhadap norma akan dikenal sanksi.

a. Proses Pembentukan Norma Sosial


Norma sosial tumbuh melalui proses dalam masyarakat berdasarkan nilai yang dianut oleh
masyarakat tersebut. Penerapan nilai ini pada suatu masyarakat dapat berbeda dengan
masyarakat lain. Perbedaan ini terjadi karena situasi dan kondisi dari masyarakat yang
berbeda. Selain itu, perbedaan kepentingan dalam masyarakat membutuhkan aturan yang
nyata. tidak sekadar nilai yang berbeda ahtarmasyarakat. Oleh karena itu. muncul norma yang
memiliki sanksi jelas agar nilai yang masih abstrak tersebut dapat ditaati oleh masyarakat demi
mencapai keteraturan sosial.

b. Jenis-Jenis Norma Sosial


Berdasarkan jenisnya. norma sosial dibagi meniadi dua sebagai berikut.
1) Berdasarkan Daya lkatnya
a) Tata kelakuan (mores) merupakan sekumpulan perbuatan mengenai aniuran dan
laranganpalam kehidupan bennasyarakat
b) Cara (usage) merupakan suatu bentuk perilaku atau tindakan yang dilakukan masyarakat
dalam kehidupan sehari-hari.
c) Kebiasaan (folkways) merupakan perbuatan berulang-ulang yang dilakukan secara sadar
dan mempunyai tujuan jelas.
d) Hukum (laws) merupakan sekumpulan aturan tertulis dalam masyarakat yang berisi
ketentuan ketentuan, perintah, dan larangan untuk menciptakan keteraturan.
e) Adat istiadat (customs) merupakan tata kelakuan yang terintegrasi secara kuat dengan poIa-
pola perilaku masyarakat.

2) Berdasarkan Sanksinya
a) Norma kesusilaan merupakan peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang
menghasilkan akhlak/ moral.
b) Norma kesopanan merupakan peraturan sosial yang bersumber pada pola perilaku individu
sebagai hasil interaksi sosial dalam masyarakat.
c) Norma agama merupakan ketentuan-ketentuan yang bersumber pada agama, bersifat
mutiak. dan keberadaannya tidak dapat ditawar.
d) Norma hukum merupakan ketentuan-ketentuan dalam kehidupan sosial yang bersumber
dari undang-undang. Pelanggar norma ini akan mendapat sanksi tegas berupa pidana atau
perdata.

c. Fungsi Norma Sosial


Fungsi norma sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
1) Sebagai sistem kontrol dalam nnsyaxakat.
2) Sebagai alat menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosaal. Sebagai
pedoman/aturan perilaku seseorang dalam hidup bennasyarakat.
D. Sosialisasi
Dalam lingkungan masyarakat, individu dituntut untuk menyesuaikan dirl. Proses penyesuaian
diri dilakukan agar individu dapat berperilaku sesuai harapan masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan pengenalan nilai dan norma sosial melalui proses sosialisasi.

1. Pengertian Sosialisasi .
Sosialisasi merupakan proses sosia| yang dialami seseorang atau kelompok untuk belajar
mengenali serta menghayati pola perilaku, sistem nilai, dan norma yang berlaku dalam
masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat berkembang menjadi pribadi yang diterima
masyarakat. Setiap individu mengalami sosialisasi sesuai tahapannya. Adapun tahapan
sosialisasi sebagai berikut :

a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage) Tahap persiapan merupakan tahap pemahaman


tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun belum
sempurna. .
b. Tahap Meniru (Play Stage) Play stage merupakan tahap anak dapat meniru perilaku orang
dewasa secara lebih ~ sempurna, Pada tahap ini anak sudah menyadari keberadaan dirinya
dan orang; _ orang terdekat serta mampu memahamisuatu peran.
c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage) Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam
keluarga dan masyarakat. Anak juga mulai menyadari peraturan yang berlaku
d.. Tahap Penerimaan Norma Kolektif , (Generalized Other)
Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewasaan dan mengetahui kehidupan
bermasyarakat dengan jelas. Anak juga mampu memahami perannya dalam masyarakat. ,

2. Tujuan Sosialisasi.
Tujuan sosialisasi sebagai berikut.
a. Menciptakan integrasi masyarakat.
b. Mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
c. Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus. '
d. Membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
e. Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma sehingga dapat
diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Bentuk Sosialisasi
Sosialisasi terbagi dalam beberapa bentuk sebagai berikut.
Sosialisasi langsung merupakan tahap sosialisasi yang dilakukan secara face to face tanpa
menggunakan media perantara atau alat komunikasi. Melalui sosiailsasi ini, subjek sosialisasi
dapat menilai keberhaaltan pesan yang disampaikan melalui sikap mimik muka dan
argumentasi yang disampaikan. Sosialisasi tidak langsung merupakan sosialisasi yang
dilakukan menggunakan media atau perantara komunikasi. Subjek dan objek sosialisasi tidak
berada dalam konteks ruang dan waktu yang sama.

Sosialisasi primer merupakan tahap sosialisasi pertama yang diterima Individu dl tingkungan
keluarga.
Sosialisasi sekunder merupakan bentuk sosialisasi yang terjadi di lingkungan sekolah,
lingkungan bermain. lingkungan kerja. dan Interaksi melalui media massa.
Sosialisasi represif merupakan bentuk sosialisasi yang bertujuan mencegah terjadinya
perilaku menyimpang. Sosialisasi represif berkaitan dengan pemberian hadiah (reward) dan
hukuman (punishment).
Sosialisasi partisipatoris merupakan bentuk sosialisasi yang dilakukan dengan mengutamakan
peran aktif objek sosialisasi dalam proses internalisasi nilai dan norma.
Sosialisasi secara formal merupakan bentuk sosialisasi melalui lembaga-lembaga formal
seperti sekolah dan kepolisian.
Sosialisasi secara nonformal merupakan bentuk sosialisasi melalui lembaga nonformal seperti
masyarakat dan kelompok bermain.

4. Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Kepribadian seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan sosialisasi yang
dilakukan individu. Berikut faktor-faktor pembentuk kepribadian seseorang.

a. Faktor kebudayaan yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi lingkungan


budaya.
b. Faktor biologis yaitu faktor pembentuk kepribadian yang diperoleh dari gen keturunan
orang tua.
c. Faktor geografis yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan
alam.
d. Faktor pranatal yaltu faktor yang berkaitan dengan pemberian rangsangan atau stimulus
ketika anak masih dalam kandungan.
e. Faktor pengalaman yaitu faktor pembentuk kepribadian yang berhubungan dengan
pengalaman hidup.
f. Faktor kelompok yaitu kepribadian seseorang yang terbentuk karena pengaruh
lingkungan kelompok sosial.

5. Berbagai Bentuk Media Soslalisasi


Sosialisasi dalam masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa media berikut.

Keluarga _
Keluarga merupakan kelompok primer yang memiliki intensitas tinggi untuk mengawasi
perilaku anggota keluarga. Sosialisasi dalam keluarga bertujuan membentuk ciri khas
kepribadian anak.

Sekolah
Sosialisasi di lingkungan sekolah ; berperan sebagai sosialisasi sekunder dan memiliki
“cakupan Iebih luas. Sosialisasi di sekolah bertujuan menanamkan nilai kedisiplinan yang lebih
tinggi dan mutlak serta berorientasi mempersiapkan peran peserta didik pada masa
mendatang.

Kelompok Bermain
Proses sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan oleh antar teman, baik teman sebaya
maupun teman tidak sebaya. Hubungan sosialisasi yang terjalin dalam kelompok bermain.
bersifat ekualitas (sederajat).

Lingkungan Kerja
Sosialisasi dalam lingkungan kerja diutamakan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan
hasil kerja Adaptasi dalam sosialisasi di lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan
sistem dan intensitas sosialisasi tertinggi dilakukan antar kolega.

Media Massa
Penyampaian pesan dalam sosialisasi melalui media massa iebih bersifat umum, selaiu
mengikuti segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial, serta berperan penting
menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogen.
E. Penyimpangan dan Pengendalian Sosial

Penyimpangan sosial sering ditemukan dalam kehidupan. Penyimpangan sosial terjadi akibat
ketidaksesuaian perilaku atau tindakan dengan nilai dan norma sosial dalam masyarakat.
Penyimpangan sosral dapat mengganggu keteraturan sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya
'pengendalian sosial untuk mengembalikan keteraturan sosial. ..

1. Penyimpangan Sosial Menurut Elly M. Setiadi dan Usman Kollp,

penyimpangan sosial merupakan semua perilaku manusia, baik secara individual maupun
kelompok yang tidak sesuai nilai dan norma yang berkembang dalam kelompok tersebut.
Penyimpangan sosial sering disebut deviasi sosial. Adapun pelaku penyimpangan sosial
disebut devian (deviant).

a. Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial


Menurut Paul B. Horton, ciri-ciri penyimpangan sosial sebagai berikut.
1) Terdapat penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Artinya, terdapat pihak-pihak
yang melakukan penyimpangan dengan frekuensi kecil atau disebut penyimpangan relatif dan
terdapat pihak-pihak yang melakukan penyimpangan dengan frekuensi besar dan kontinu atau
disebut penyimpangan mutlak. '

2) Muncul penyimpangan terhadap budaya nyata dan budaya ideal. Artinya, budaya ideal.
berkaitan dengan norma yang tertulis. Akan tetapi, banyak peristiwa budaya nyata yang
menyimpang dari budaya ideal.

3) Didefinisikan perilaku menyimpang oleh masyarakat. Artinya, suatu perilaku yang telah
dicap sebagai penyimpangan karena merugikan dan meresahkan masyarakat. Pedoman yang
digunakan yaitu nilai dan norma sosial dalam masyarakat.

4) Terdapat norma penghindaran dalam penyimpangan. Artinya, terdapat praktikpraktik


dalam masyarakat yang tidak sesuai norma yang berlaku, tatapi masyarakat menolak jika
disebut menyimpang. '

5) Penyimpangan dapat diterima atau ditolak. Artinya, penyimpangan yang dilakukan tidak
selalu berdampak negatif. Jika penyimpangan berdampak positif seperti mendorong
perubahan akan diperbolehkan.

b. Faktor Penyebab Teriadlnya Penyimpangan Sosial .


Penyimpangan sosial dalam masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor berikut.
1) Keterbatasan ekonomi.
2) Pelampiasan rasa kecewa.
3) Sosialisasi tidak sempuma.
4) Pemberian julukan (labelling).
5) Pengaruh mental yang tidak sehat.
6) Keinginan seseorang untuk dipuji oleh orang lain.
7) Pengaruh lingkungan dan media massa yang cenderung negatif.
8) Adanya differential association atau asosiasi diferensial.
9) Sosialisasi subkebudayaan menyimpang.
10) Penyerapan nilai dan norma dalam proses sosialisasi tidak maksimal.
c. Hubungan Sosialisasi dengan Penyimpangan Sosial
Proses sosialisasi dapat mempengaruhi timbulnya penyimpangan sosial. Proses sosialisasi
yang memengaruhi munculnya penyimpangan sosial meliput: proses balam menyimpang dan
proses sosialisasi tidak sempurna.

1) Proses belajar menyimpang.


Individu atau kelompok melakukan proses sosialisasi berupa belajar mlakukan penyimpangan.
lndiwdu atau keiompok secara sadar ingin melakukan penyimpangan. Mtsainya, petajar secara
sadar meianggar tata tertib sekolah.

2) Proses sosialisasi tidak sempurna.


Agen atau media sosialisasi yang tidak menjalankan proses sosialisasi secara benar dapat
mendorong terjadinya penyimpangan sosial. Misalnya, orang tua tidak menjalankan fungsi
afeksi dan kontrol terhadap anak.

d. Klasifikasi Penyimpangan Sosial dalam Masyarakat


Penyimpangan sosial dalam masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Berdasarkan Sifatnya
a) Penyimpangan positif yaitu perilaku yang bertentangan dengan norma kebiasaan dalam
masyarakat, tetapi berdampak positif bagi pelaku penyimpangan atau orang lain di sekitarnya.
Sebagai contoh, perempuan bekerja pada pekerjaan yang mayoritas dikerjakan oleh lakilaki
atau sebaliknya. Penyimpangan negatif yaitu seluruh periiaku bertentangan dengan nilai dan
norma dominan dalam masyarakat. Penyimpangan ini menimbulkan keresahan dan
berdampak negatif bagi pelaku atau masyarakat. Masyarakat biasanya tidak menoleransi
tindak penyimpangan negatif.

2) Berdasarkan Jumlah Pelakunya


Penyimpangan individual yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang yang melanggar
tatanan nilai dan norma di lingkungan masyarakat.

Penyimpangan kolektif yaitu bentuk pelanggaran terhadap nilai dan norma oleh sekelompok
orang secara terkoordinasi. Penyimpangan ini terjadi karena pengaruh subkebudayaan
menyimpang.

3) Berdasarkan Jenisnya
a) Penyimpangan primer yaitu penyimpangan yang dilakukan dalam kondisi terdesak atau
ketidaksengajaan. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer, tidak dilakukan secara berulang-
ulang, dan masih dapat ditoleransi oleh masyarakat.
b) Penyimpangan sekunder yaitu penyimpangan sosial yang diiakw kan secara berutang-ulang
dan mengarah pada pelanggaran hukum.

e. Pengendalian terhadap Penyimpangan Sosial


Menurut Bruce J. Cohen, pengendalian penyimpangan sosial merupakan cara-cara atau metode
yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak
kelompok atau masyarakat tertentu. Masyarakat dapat mengajak, mendidik, serta memaksa
anggota masyarakat mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

a. Fungsi Pengendalian Sosial


Fungsi pengendalian sosial sebagai berikut.
Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosiaL
Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
Mengembangkan rasa malu. Mengembangkan rasa takut. Menciptakan sistem hukum.
b. Proses Pengendalian terhadap Penyimpangan Sosial
Proses pengendalian terhadap penyimpangan sosial terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
berdasarkan cara pengendalian sosial, sifat pengendalian sosial, dan bentuk pengendalian
sosial.

1) Cara Pengendalian Sosial


Pengendalian sosial berdasarkan caranya sebagai berikut.
a) Persuasif merupakan pengendalian sosial tanpa kekerasan dengan melakukan pendekatan-
pendekatan, baik secara formal maupun informal dalam bentuk sosialisasi, imbauan, dan
bimbingan kepada pelaku penyimpangan agar mematuhi niIai dan norma sosial.
b) Koersif merupakan pengendalian sosial dengan cara kekerasan atau paksaan, baik secara
fisik maupun nonfisik untuk membentuk masyarakat yang tertib sosial.

2) Sifat Pengendalian Sosial


Pengendalian sosial berdasarkan Sifatnya sebagai berikut.

a) Preventif merupakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan mencegah munculnya


gangguan keserasian masyarakat. '
b) Represif merupakan pengendalian sosial yang diiakukan untuk mengembalikan keserasian
akibat pelanggaran nilai dan norma sosial. Upaya pengendalian sosial ini dilakukan dengan
memberikan sanksi.

3) Bentuk Pengendalian Sosial


Pengendalian sosial berdasarkan bentuknya sebagai berikut.
a) Formal merupakan pengendalian sosial bersifat tertulis yang dilakukan oleh pihak
berwenang seperti polisi, kejaksaan, dan pengadilan. Pelaku penyimpangan akan diproses
sesuai ketentuan undang undang dan peraturan yang berlaku.'
b) Nonformal merupakan pe-ngendalian sosial yang tidak tertulis dan dilakukan oleh
masyarakat kepada pelaku penyimpangan secara langsung melalui desas-desus, intimidasi,
teguran, cemooh, dan pengucilan.
F. Dinamika Struktur Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, struktur aooiai merupakan hubungan timbal balik antara posisi
posisi sesuai dan peranan-peranan sosial. Peran dan status sosial dalam struktur sosial akan
membentuk pola sehingga mendorong dinamika struktur sosial dalam masyarakat.
Akibatnya, terbentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.

1. Bentuk-Bentuk Struktur Sosial


Struktur sosial terbagi menjadi dua bentuk, yaitu lapisan-lapisan sosial (stratifikasi sosial)
dan kemajemukan sosial (diferensiasi sosial).
Stratifikasi Sosial
Menurut Bruce J. Cohen, stratifikasi sosial sebagai sistem yang menempatkan seseorang pada
kelas sosial tertentu ' sesuai kualitas yang dimiliki. Perbedaan kelas sosial berkaitan dengan
sesuatu yang dihargai oleh masyarakat. Penggolongan masyarakat dalam kelas-kelas sosial
secara bertingkat menyebabkan masyarakat mengenal 'kelas sosial. Sebagai contoh,
masyarakat kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Ukuran yang digunakan dalam sistem
stratifikasi sosial antara lain kekayaan, kekuasaan, keturunan, kehormatan (prestise), dan
jenjang pendidikan.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat memiliki unsur pokok yang membentuknya. Unsur-
unsur pokok tersebut sebagai berikut.
1) Status Sosial
Status sosial dapat diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam kelompok masyarakat.
Status sosial seseorang diklasifikasikan menjadi tiga . bentuk sebagai berikut.
a) Ascribed status yaitu status sesuai yang diperoleh melalui kelahiran/ keturunan, bukan
serangkaian usaha. .
b) Achieved status yaitu kedudukan Yang dicapai seseorang melalui usaha-usaha yang
disengaja. kedudukan ini bersifat terbuka bagi dengan kemampuan semua orang sesuaikan
c) Assigned status yaitu kedudukan yang diberikan. Artinya.berikan kelompok/golongan
kepada kedudukan lebih tinggi dari seseorang yang berjasa demi ke Perjuangkan sesuatu
kepentingan masyarakat

2) Peran Sosial
Seseorang yang memiliki status sosial dalam masyarakat berarti memiliki hak dan kewajiban.
Kewajiban yang berkaitan dengan status sosial disebut peran sosial. Dengan demikian, peran
sosial dapat diartikan sebagai tingkah laku yang diharapkan dari individu sesuai status sosial
yang disandangnya.
Unsur-unsur stratifikasi sosial membentuk sistem pelapisan sosial untuk mencapai tujuan
tertentu. Sistem pelapisan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
1) Tertutup
Sistem pelapisan sosial tertutup (closed Sosial stratification) menyebabkan masyarakat sulit
melakukan perpindahan status ke lapisan atas atau lapisan bawah. Jalan untuk mencapai
status pada sistem stratifikasi ini melalui kelahiran atau keturunan. Sebagai contoh, _
pelapisan sosial dalam masyarakat yang menganut sistem kasta. Sistem pelapisan sosial
tertutup dapat digambarkan sebagai berikut.
2) Terbuka
Sistem pelapisan soSial terbuka (opened Sosial stratification) .bersifat dinamis. Sistem
pelapisan sosial terbuka memberi kesempatan kepada individu/ kelompok naik pada lapisan
atas atau mengalami penurunan hingga masuk lapisan bawah. Sistem pelapisan terbuka '
dapat digambarkan sebagai berikut.
Campuran Sistem pelapisan sosial campuran , membatasi kemungkinan perpindahan strata,
sedangkan di sisi lain membiarkan perpindahan strata pada bidang tertentu.

Sebagai contoh, masyarakat Bali menerapkan sistem pelapisan tertutup melalui kasta, tetapi
secara ekonomi masyarakat Bali menerapkan sistem pelapisan terbuka. Sistem pelapisan
campuran dapat digambarkan sebagai berikut.
Bentuk stratifikasi sosial semakin beragam akibat kompleksnya aktivitas masyarakat.
Beragam bentuk sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat didasarkan pada kriteria berikut.
1) Kriteria Status Sosial
Kriteria stratifikasi pada status Sosial membedakan kelas sosial berdasarkan status
sosial.'Anggota-anggota masyarakat yang memiliki status sosial terhormat menempati
lapisan sosial lebih .tinggi daripada anggota masyarakat yang tidak memiliki status sosial
dalam masyarakat. Sebagai contoh, status sosial sebagai tokoh masyarakat, tokoh
cendekiawan, dan pemuka agama Iebih dihormati oleh masyarakat.
2) Kriteria Ekonomi
Kriteria stratifikasi bidang ekonomi membedakan kelas sosial berdasarkan kepemilikan
kekayaan atau penghasilan. Tingkat ekonomi membagi pelapisan sosial dalam tiga kelas
seperti gambar bedkut
3) Kriteria Pendidikan
Kriteria pendidikan dapat membedakan masyarakatberdasarkan tinggi rendahnya tingkat
pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi kedudukan sosialnya dalam
masyarakat… Sistem pelapisan sosial dengan kriteria pendidikan dapat digambarkan sebagai
berikut.
4) Kriteria Politik .
Kriteria politik membedakan masyarakat berdasarkan kekuasaan yang mereka miliki&
Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin tinggi status sosialnya.
Bentuk kekuasaan dibagi menjadi tiga tipe pelapisan sosial berikut. '
a) Tipe kasta yaitu sistem pelapisan _ sosial yang sulit ditembus untuk melakukan
perpindahan status dari bawah ke atas ataupun sebaliknya karena .dipisahkan oleh' garis
tegas dan bersifat kaku. Contoh pelapisan kekuasaan berdasarkan tipe kasta tampak pada
gambar berikut. '
b) Tipe oligarki yaitu sistem pelapisan sbsial yang masih memiliki garis . pemisah tegas. Akan
tetapi, dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat. Pada
tipe oligarki kedudukan Setiap individu masih didasarkan pada kelahiran. Meskipun
demikian individu diberi kesempatan naik ke lapisan sosial . atas. Sistem pelapisan tipe
oligarki tampak pada gambar berikut.
c) ' Tipe demokratis yaitu tipe pelapisan _ sosial dengan garis pemisah antarIapisan. bersifat
fleksibel. Faktor ,, " kelahirantidak memengaruhfsistem pelapisan sosial ini. Contoh sistem
pelapisan sosial tipe demokratis tampak pada gambarberikut. '

b. Diferensiasi Sosiai
Diferensiasi sosial merupakan perbedaan-perbedaan individu atau kelompok dalam struktur
sosial yang bersifat horizontal. Beberapa jenis diferensiasi sosial dalam masyarakat sebagai
berikut.
DiferensiasiAgama .
Diferensiasi agama terjadi dalam realitas masyarakat yang terdiri atas individu yang
menganut agama berbeda. Setiap agama memberikan pedoman kepada pemeluknya
mengenai tata cara yang baik. Oleh karena itu, agama bersifat sejajar atau setara satu dengan
lain.
Diferensiasi Ras
Ras adalah sekelompok manusia yang berbeda dengan kelompokkelompok lain berdasarkan
ciri-cirl fisik bawaan. Ciri fisik sebagai dasar pembagian ras meliputi ciri kualitas dan
kuantitas. Ciri kualitas berkaitan dengan warna kulit, bentuk rambut, bentuk bibir, dan
bentuk lipatan mata. Sementara itu, ciri kuantitas meliputi tinggi badan, berat badan, dan
indeks kepala.
Diferensiasi Gender
Diferensiasi gender merupakan pembedaan sosial berdasarkan perbedaan peran Iaki-Iaki
dan perempuan secara budaya. Dilihat dari sisi gender, Iaki-Iaki Perempuan memiliki
kesamaan kedudukan dan hak Sebagai contoh, kedudukan laki laki dan perempuan dalam
Pekerjaan keberagaman profesi tergolong sebagaidiferensiasi. Protest atau pekerjaan
berkaitan dengan suatu kemampuan atau keahlian khusus seseorang. Oleh karena itu, tidak
ada pekerjaan yang lebih baik atau tinggi kedudukannya. Setiap pekerjaan membutuhkan
keahlian dan ilmu khusus sehingga tidak setiap orang dapat menjalankannya. Perbedaan
mengenai profesi ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu letak geografis, perbedaan iklim,
perbedaan ideologi, tingkat pehdidikan, dan tingkat ekonomi.

2. Pengaruh Struktur Sosial dalam Masyarakat


Diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial memengaruhi kehidupan masyarakat Pengaruh
tersebut muncul sebagai bentuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan sosial. a.
Pengaruh Stratlfikasi Sosial
Pengaruh stratifikasi sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
Pendidikan. Masyarakat lapisan atas memiliki kemampuan mengakses dan meningkatkan
strata pendidikan. Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke bawah memilih pendidikan
sesuai kemampuan.
Tempat tinggal. Masyarakat kelas atas biasanya mempunyai tempat tinggal mewah
menyesuaikan status sosialnya. Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke bawah lebih
memilih membangun rumah sederhana.
Pemenuhan kesehatan. Masyarakat kelas atas mampu mengakses pelayanan kesehatan
terbaik. Adapun masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki kemampuan ekonomi untuk
mengakses pelayanan kesehatan lebih rendah.
Gaya hidup. Golongan kelas atas cenderung memiliki gaya hidup mewah. Sebaliknya,
masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki gaya hidup yang sederhana.

Hobi dan rekreasi. Hobi dan rekreasi masyarakat kelas atas cenderung membutuhkan banyak
biayaSementara itu. masyarakat menengah ke bawah memilih rekreasi yang biayanya lebih
terjangkau.
Pengaruh Diferensiasi Sosial
Pengaruh diiferensiasi sosial terhadap kehidupan masyarakat sebagai berikut.
Etnosentrisme yaitu pandangan yang cenderung menganggap kelompoknya lebih baik
dibandingkan kelompok lain.
Primordialisme yaitu pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang teguh pada
hai-hal yang sejak semula melekat pada diri individu.
Politik aliran/sektarian yaitu keadaan suatu kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi
atau diikuti oleh sejumlah organisasi lain yang memiliki kesamaan pandangan dan ideologi
tertentu.
Rasisme yaitu pandangan diskriminasi berdasarkan perbedaan fisik seperti perbedaan warna
kulit.

3. Tahap-Tahap Perkembangan Struktur Sosial Masyarakat


Menurut Selo Soemardjan, perkembangan struktur sosial masyarakat dibedakan'menjadi tiga
bentuk berikut:
a. Masyarakat Sederhana ,
Ciri-ciri struktur sosial masyarakat sederhana sebagai berikut.
- Memiliki ikatan organisasi berdasarkan tradisi turun-temurun.
- Memiliki ikatan kekeluargaan sangat kuat. . .
- Mengedepankan sistem gotong royong.
- Hasil produksi tidak untuk dijual, tapi untuk dikonsumsi sendiri. j 6 am
- Masih memiliki kepercayaan terhadab kekuatan gaib.
- Menerapkan sistem hukum tidak teriulis.

b. Masyarakat Madya
Ciri-ciri struktur sosial masyarakat madya sebagai berikut.
- Lebih terbuka terhadap pengaruh perubahan sosial.
- Mulai memiliki pemikiran rasional meskipun tetap memercayai kekuatan gaib.
- Mulaimengenalsistem diferensiasi dan stratifikasi sosiaI.
- Mulai membentuk Iembaga formal.
- Menerapkan sistem hukum tertulis dan tidak'tertulis.

c. Masyarakat Modern
Ciri-ciri struktur sosial masyarakat modern sebagai berikut.
- Intensitas ikatan kekeluargaan tidak seerat masyarakat sederhana.
- Membentuk stratifikasi sosial berdasarkan keahlian.
- Hubungan sosial berdasarkan kepentingan pribadi.
- Mengembangkan pola pikir positivis. Memiliki tingkat ilmu pengetahuan tinggi.
Membentuk hubungan sosial bersifat terbuka.
- Memberiakukan sistem hukum formal tertulis.
G. Kelompok Sosial
Menurut Soerjono Soekanto. kelompok Sosial kesatuan manusia yang hidup bersama karena
adanya hubungan sosial. Hubungan tersebut antara Iain menyangkut hubungan timbal balik
yang saling memengaruhi dan timbulnya kesadaran saling menolong.
Ciri Ciri Ketompok Sosial
Suatu kelompok dapat disebut kelompok sosial jika memenuhi beberapa ciri berikut:
a. Terdapat kesadaran setiap anggota kelompok bahwa mereka merupakan bagian dari
kelompok yang bersangkutan.
b. Terdapat hubungan timbai balik antaranggota.
c. Terdapat persamaan tertentu seperti latar belakang, tujuan, nasib, dan ideologi.
d. Berstruktur, berkaidah, dan berpola.
e. Struktur sosial bersistem dan berproses.
Pembentukan Kelompok Sosial
Kelompok sosial dalam masyarakat dapat terbentuk secara aiami ataupun disengaja.
Kelompok sosial yang terbentuk secara alami misalnya keluarga inti dan ikatan kelompok
kekerabatan. Adapun keiompok yang sengaja dibentuk misalnya organisasi atau
perkumpulan.
Faktor yang melatarbelakangi seseorang membentuk atau bergabung dalam kelompok sosial
sebagai berikut.
a. Kesamaan darah dan keturunan (genealogi).
b. Faktor geografis suatu daerah.
c. Kesamaan daerah asal.
d. Kesamaan kepentingan.
Bentuk-Bentuk Kelompok Sosial Pada dasarnya kelompok sosial dibedakan menjadi
kelompok sosial teratur dan kelompok sosial tidak teratur.
Kelompok sosial teratur terbagi dalam beberapa bentuk berikut.
a. ln-group yaitu kelompok sosial yang individunya mengidentifikasi diri dalam
kelompoktersebut.
b. Out-group yaitu kelompok yang dianggap sebagai kelompok luar atau kelompok yang
dianggap sebagai lawan.
c. Keiompok primer (primary group) yaitu kelompok sosial yang antaranggotanya saling
mengenal, sering bertatap muka (face to face), bekerja sama dengan sifat pribadi, dan bersifat
permanen.
d. Kelompok sekunder (secondarygroup) yaitu kelompok sosial dengan jumlah anggota
banyak, hubungan antaranggota bersifat formal, antaranggota tidak saling mengenal, dan
tidak permanen.
e. Gemeinschaft (paguyuban) yaitu bentuk kehidupan bersama antar anggota masyarakat
yang mempunyai hubungan solidaritas mekanis, bersitat alami. dan kekal. Kelompok
paguyuban sering dikaitkan dengan masyarakat desa
f. Gesselschaft (patembayan) yaitu bentuk kehidupan yang bersifat pamrih, mempunyai
hubungan solidaritas organis, dan berlangsung dalam jangka waktu pendek. Kelompok jenis
ini identik dengan masyarakat kota yang kompleks.
g. Kelompok formal (formal group) yaitu organisasi kelompok yang terbentuk secara resmi,
mempunyai peraturan tegas dan sengaja dibuat oleh anggota-anggotanya untuk ditaati, serta
berfungsi mengatur hubungan antaranggota.
h. Kelompok informal (informal group) yaitu organisasi kelompok tidak resmi, tidak
mempunyai struktur dan organisasi yang pasti, serta peraturan tidak tertulis secara resmi.
i. Kelompok membership (membership group) yaitu kelompok yang hubungan
antaranggotanya terjadi secara fisik. Ukuran utama keanggotaan seseorang adalah
interaksinya dengan kelompok sosial yang bersangkutan.
j. Kelompok referensi (reference group) yaitu kelompok sosial yang menjadi acuan bagi
seseorang (bukan anggota kelompok) untukmembentuk pribadi dan perilakunya.
k. Kelompok volunter terdiri atas orang-orang yang mempunyai kepentingan sama.
Adapun kelompok sosial tidak teratur atau perilaku kolektif daiam masyarakat dibagi
menjadi dua kelompok berikut.
a.Kerumunan yaitu kumpulan individu yang bersifat sementara.
Kerumunan dibedakan menjadi dua yaitu kerumUnan terstruktur (formal audiens) dan
kerumunan bersifat sementara (casual crowds). Kerumunan ber_sifat sementara dibagi
menjadi kerumunan kurang menyenangkan (inconvenient aggregations), kerumunan orang
panik (panic ' crowds), dan kerumunan penonton (spectator crowds). '
b. Publik yaitu perilaku kelompok yang bukan satu kesatuan, tidak terstruktur dan
terorganisasi, serta terjadi interaksi tidak langsung melalui alat-alat komunikasi.

Fungsi Kelompok Social


Kelompok sosial yang tercipta berfungsi untuk memenum kehidupan masyarakat. Secara
spesifik fungsi kelompok sosial yaitu sebagai berikut.
a. Bagi Individu
Fungsi kelompok sosial bagi individu merupakan fungsi yang berdampak langsung terhadap
individu atau anggota kelompok sosial tersebut. Fungsi kelompok sosial bagi individu sebagai
berikut.
1) Sarana Menjalin Hubungan Sosial Bagi individu kelompok sosial berfungsi sebagai sarana
pemenuhan kebutuhan individu untuk menjalin hubungan sosial. Dengan demikian,
kelompok sosial merupakan sarana berkumpulnya individu untuk saling berinteraksi. Melalui
kelompok sosial, individu dapat mempelajari nilai dan norma di lingkungan sekitarnya.
2) Sarana Pendidikan
Kelompok sosial dapat berperan sebagai salah satu media pendidikan. Anggota kelompok
sosial dapat saling bertukar iimu pengetahuan. Melalui fungsi pendidikan, kelompok sosial
dapat mewariskan budaya dan memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang ilmu
pengetahuan. Adapun syarat kelompok sosial dalam memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan
yaitu tersedianya jumlah informasi yang akan didistribusikan ke dalam kelompok, terdapat
sejumlah partisipan dalam kelompok, serta terdapat frekuensi interaksi yang terjalin
antaranggota. Frekuensi interaksi tersebut menunjukkan intensitas dan pola interaksi seperti
keintiman dalam interaksi sosial.
3) Problem Solving Bagi beberapa individu, kelompok sosial dapat memberikansolusi
terhadap masalah yang dihadapi. Kelompok sosial menawarkan pemecahan masalah
berkaitan dengan penemuan solusi yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya melalui
musyawarah dan diskusi kelompok.

b. Bagi Masyarakat
Fungsi kelompok sosial bagi masyarakat merupakan bentuk laten dari fungsi kelompok sosial
karena manfaatnya tidak dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. Fungsi kelompok sosial
bagi masyarakat sebagai beukut
1) Pembentuk Nilai dan Norma dalam Masyarakat
Bagi masyarakat kelompok sosial berfungsi sebagai pembentuk nilai dan norma sosial untuk
menciptakan keteraturan sosial yang diidam-idamkan masyarakat. Niiai dan norma
masyarakat muncul dari hasil interaksi dalam sebuah kelompok sosial yang membentuk
polapola tertentu (nilai dan norma) sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
2) Pembentuk Struktur Sosial dalam Masyarakat
Suatu struktur sosial terbentuk dari poIa-pola interaksi yang terjalin antaranggota kelompok
sosial. Pola-pola’ tersebut dipahami oleh khalayak umum dan terbentuk menjadi struktur
sosial dalam masyarakat. Kelompok-keiompok sosial dapat dibedakan dalam dimensi vertikal
dan horizontal. Pada dimensi vertikal kelompok-kelompok sosial dibedakan dalam
strata/tingkatan kelas berbeda. Sementara itu, pada dimensi horizontal kelompok dibedakan
dalam kedudukan sejajar. Pembedaan dimensi vertikal dan horizontal tersebut menunjukkan
fungsi kelompok sosial sebagai pembentuk struktur sosial dalam masyarakat.
3) Pengawasan Sosial dan Tekanan Sosial
Kelompok sosial merupakan wadah bagi anggotanya untuk bernaung. Kelompok sosial ibarat
rumah yang melindungi semua anggota keluarga yang ada di dalamnya. Kelompok sosial
secara langsung atau tidak langsung ikut memberi andil bagi para anggotanya untuk tidak
melakukan penyimpangan. Daiam kelompok sosial terdapat nilai dan norma yang dipahami
anggotanya sehingga dapat mengurangi 99‘ nyimpangan sosial.
H. Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial merupakan gerak perpindahan seseorang atau sekelompok orang dari status
sosial satu menuju status sosial lain. Dalam mobilitas sosial terdapat tiga ciri pokok yaitu
terjadi perubahan kelas sosial, dialami oleh individu atau kelompok, dan memiliki dampak
sosial.
1 . Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut.
a. Berdasarkan Tipenya
Mobilitas sosial berdasarkan tipenya dibedakan sebagai berikut.
1) Mobilitas sosial vertikal merupakan perpindahan status individu dari satu kedudukan
sosial menuju kedudukan lain yang tidak sederajat. Bentuk mobilitas sosial vertikal
dibedakan sebagai berikut.
a) Mobilitas sosial vertikal naik (Sosial climbing) yaitu perpindahan status individu dari
kedudukan rendah menuju kedudukan lebih tinggi.
b) Mobilitas sosial vertikal turun (Sosial sinking) yaitu perpindahan status individu dari
kedudukan tinggi menuju kedudukan lebih rendah.
2) Mobilitas sosial horizontal merupakan perpindahan status individu dari kelompok sosial
satu menuju kelompok sosial lain yang sederajat.
3) Mobilitas sosial lateral merupakan perpindahan status individu atau kelompok dari daerah
satu ke daerah lain, tetapi tidak mengubah status sosial seseorang secara langsung. Mobilitas
lateral dibedakan menjadi dua, yaitu mobilitas sosial permanen dan tidak permanen.
b. Berdasarkan Ruang Lingkup
Berdasarkan ruang lingkup, mobilitas sosial dibedakan menjadi dua jenis sebagai bedkut
1) Mobilitas intragenerasi yaitu perpindahan status sosial dalam satu generasi yang sama. '
2) Mobilitas antargenerasi yaitu perpindahan status sosial di antara beberapa generasi.
Mobilitas antargenerasi terdiri atas dua bentuk, yaitu mobilitas antargenerasi naik dan
mobilitas antargenerasi turun.

2. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial


Faktor-faktor pendorong mobilitas sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
Faktor Individu
Faktor ini berkaitan dengan kualitas dan kapabilitas seseorang. Semakin tinggi tingkat
pendidikan, kecakapan, serta keterampilan yang dimiliki seseorang, semakin besar
kemungkinannya dapat menjangkau posisi tertentu.
Faktor Pendidikan
Akses pendidikan yang diperoleh individu mempermudah melakukan mobilitas sosial
vertika| naik. Sebagai contoh, lulusan sarjana Sosiologi bekerja sebagai dosen di universitas.
OIeh karena itu, pendidikan dapat mendorong terjadinya mobilitas vertikal naik.
Faktor Ekonomi
Realitas hidup yang serba kekurangan dapat mendorong seseorang giat bekerja, misalnya
dengan merantau ke daerah lain untuk mencari lapangan pekerjaan.
Faktor Struktural
Ketika status sosial yang dituju individu memang ada atau terdapat posisi untuk diisi, .
kondisi tersebut dapat mendorong terciptanya mobilitas sosial. Sebagai contoh, mobilitas
sosial akibat terbukanya kesempatan kerja.
Faktor Perubahan Kondisi Sosial
Perubahan kondisi sosial dalam masyarakat dapat menyebabkan seseorang melakukan
mobilitas sosial. Sebagai contoh, program transmigrasi yang diterapkan pemerintah.
Faktor Situasi Politik
Keadaan negara yang tidak menentu memengaruhi situasi keamanan dan menyebabkan
terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman. Sebagai contoh, masyarakat korban
perang, genosida, dan perang saudara mengalami mobilitas sosial vertikal turun.
Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial individu/kelompok dapat terhambat karena beberapa faktor benkut.
Kemiskinan
Kemiskinan membatasi mobilitas sosial untuk mencapai prestise atau kedudukan tertentu
karena keterbatasan pendapatan ekonomi
Perbedaan Kepentingan
Perbedaan kepentingan antar lndividu dalam suatu struktur organisasi memotivasi setiap
individu untuk saling bersaing. Akibatnya. timbul upaya saling menghambat satu sama lain
untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Sistem Pelapisan Sosial
Sistem pelapisan sosial tertutup dapat menghambat kemungkinan seseorang melakukan
mobilitas sosial vertikal.
Kebudayaan Masyarakat
Masih terdapat kebudayaan masyarakat yang bersifat tertutup terhadap pengaruh budaya
luar. Padahal budaya luar dapat membawa kemajuan.

Saluran Mobilitas Sosial


Mobilitas sosial (vertikal) mempunyal saluran-saluran yang disebut sebagai Sosial
circulation. Saluran-saluran mobilitas sosial sebagai berikut.
Lembaga Pendidikan .
Sekolah dianggap sebagai Sosial elevator: Dengan demikian. sekolah merupakan saluran
untuk melakukan mobilitas sosial yang bergerak dari kedudukan rendah menuju kedudukan
lebih tinggi.
Lembaga Keluarga
Lembaga keluarga dapat menladi saluran mobilitas sosial. Cara yang digunakan masyarakat
adalah melalui pernikahan atau mengasuh anak angkat.
Organisasi Ekonomi ,
Organisasi ekonomi memegang peranan penting sebagai saluran mobilitas sosial vertikal.
Selain itu, faktor ekonomi sering menjadi simbol status pada kedudukan seseorang.
Lembaga Keagamaan *
Seseorang yang memiliki pengetahuan ' dan pemahaman agama lebih baik akan dihormati
masyarakat. Pada umumnya seseorang dengan pemahaman agama yang baik akan diangkat
sebagai pemuka agama dan menjadi panutan masyarakat.
Angkatan Bersenjata/Mlllter
Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata ikut berjasa membela nusa, bangsa,
dan negara. Dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah penghargaan dan kena kan pangkat
Kenaikan pangkat dalam angkatan bersenjata menunjukkan terjadinya mobilitas sosial
vertikal naik.
Organisasi Politik
Oganisasi politik dapat memberikan peiuang besar bagi setiap anggotanya untuk mencapai
kedudukan lebih tinggi. misalnya pada saat beriangsungnya pemilihan umum. Seseorang
yang pandai berorganisasi dalam b|dang politik memiliki kesempatan menjadi ketua
organisasi atau menduduki lapisan atas masyarakat.

Dampak Mobilitas Sosial


Dampak mobilitas sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
- Mempercepat tingkat perubahan sosial.
- Mendorong seseorang untuk maju.
- Meningkatkan integrasi sosial.
- Menimbulkan pertentangan atau konflik.
- Mengurangi solidaritas antaranggota kelompok. .
Mobilitas Sosial dan Dinamika Kelompok Sosial
Dinamika dapat diartikan sebagai perubahan besar ataupun kecil. Dengan demikian,
dinamika kelompok sosial merupakan perubahan, baik kecil maupun besar yang berpengaruh
pada suatu .kelompok sosial. Perubahan ini dapat berupa perubahan progress (maju)
ataupun perubahan regress (mundur) akibat proses mobilitas sosial.
a. Indikator Dinamika Kelompok Sosial ' lndikator' kelompok sosial yang mengalami dinamika
sosial sebagai berikut.
1) Adaptasi , Adaptasi diperlukan untuk me' nyesuaikan kelompok dengan p'erkembangan
zaman. .
2) Pencapaian Tujuan Kelompok sosial yang berupaya mencapai tujuan tertentu akan
mengalami perubahan dan perkembangan. '
3) Integrasi Integrasi menandakan upaya tetap bersatu dalam kelompok untuk men-dukung
dan mewujudkan tujuan.
4) Pola Pemeliharaan dan Perluasan Kelompok sosial yang melakukan perubahan membuat
poIa-pola pemeliharaan agar tidak terjadi disintegrasi.
Kelompok sosial dapat melakukan perluasan dengan menerima anggota baru dan
memperkenalkan anggota tersebut dengan budaya kelompok.

b. Faktor Pendorong dan Penghambat Dinamika Kelompok Sosial Faktor pendorong dinamika
kelompok sosial sebagai berikut.
1) Keinginan anggota kelompok untuk melakukan perubahan.
2) Konflik antaranggota kelompok.
3) Pergantian anggota kelompok. 4) Perubahan lingkungan sosial. 5) Pengaruh modernisasi.

Faktor penghambat dinamika kelompok sosial sebagai berikut.


1) Keinginan untuk mempertahankan keadaan.
2) _Tradisi yang mengikat dalam ' masyarakat.
3) Adanya isolasi.
I. Permasalahan Sosial
Kartini Kartono mendefinisikan permasalahan sosial sebagai bentuk tingkah laku yang
melanggar adat istiadat masyarakat. Sebagian besar masyarakat menganggap permasalahan
sosial mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, dan merugikan banyak orang. Oleh karena
itu, permasalahan sosial tidak diharapkan masyarakat.

1. Bentuk Permasalahan Sosial


Permasalahan sosial dibedakan menjadi dua bentuk sebagai berikut. .
a. Manifest Sosial problem merupakan masalah sosial yang dampaknya langsung dirasakan
masyarakat.
b. Latent Sosial problem merupakan masalah sosial' yang tidak tampak (tersembunyi)
sehingga dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat.
2. Faktor Penyebab Munculnya Permasalahan Sosial Permasalahan sosial dalam masyarakat
dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.
a. Faktor biologis merupakan penyebab per. masalahan sosiaI yang berkaitan dengan
gangguan fisik atau penyakit tertentu.
b. Faktor ekonomi merupakan penyebab permasalahan sosial yang berkaitan dengan
pendapatan, kekayaan, dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup.
c. Faktor psikologis merupakan penyebab permasalahan sosial yang berkaitan dengan
gangguan kejiwaan'seseorang.
d. Faktor budaya menunjukkan latar belakang terjadinya permasalahan sosial berkaitan
dengan unsur-unsur nilai dan norma sosial seperti adat istiadat dan kebiasaan di lingkungan
masyarakat.

2. Contoh Permasalahan Sosial


Beberapa contoh permasalahan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
a. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja. Contoh
kenakalan remaja yaitu perkelahian. tawUran, penyalahgunaan narkoba, dan miras.
b. Delinkuensi Anak
Delinkuensi anak merupakan penyimpangan sosial yang dianggap melanggar nilai dan norma
masyarakat. Delinkuensi anak dapat terjadi karena faktor dari dalam dan faktor dari luar.
Faktor dari dalam (internal) berhubungan dengan gangguan kejiwaan sejak seseorang lahir.
Sementara itu, faktor dari luar (eksternal) dipengaruhi oleh sosialisasi tidak sempurna yang
dilakukan oleh keluarga, kelompok bermain, sekolah, atau lingkungan masyarakat.
Delinkuensi anak dapat berupa keterlibatan anak dalam aktivitas yang bertentangan dengan
nilai dan norma. Penyimpangan sosial juga dapat dilakukan secara individu.
c. Kemiskinan
Menumt Soerjono Soekanto, kemiskinan merupakan suatu keadaan ketika seseorang tidak
mampu memelihara dirinya sendiri sesuai taraf kehidupan kelompok. Adapun salah satu
parameter kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang mencukupi kebutuhan primer.
d. Tindak Kriminal
Tindak kriminal merupakan perilaku melanggar norma hukum. Pelaku tindak kriminal akan
mendapat hukuman berupa denda dan pidana. Contoh tindak kriminal yaitu pencurian,
pembunuhan, dan korupsi,
é. Kesenjangan Sosial
Jika ditinjau dari teori sistem sosial yang dikemukakan Talcott Parsons, kesenjangan sosial
merupakan ketidaksesuaian antara realitas sosial dan fungsi dalam sistem sosial.
Kesenjangan sosial dapat muncul akibat terganggunya keseimbangan sistem sosial.
f. Cyber Crime
Cyber crime merupakan tindak kejahatan yang terjadi di dunia maya melalui koneksi
internet. Kejahatan di dunia maya dapat berbentuk penipuan online, cyberbullying, penipuan
kartu kredit, pornografi, dan peretasan situs-situs penting.
g. Penyimpangan Seksual
Penyimpangan seksual dianggap melanggar nilai dan norma sosial serta dapat menimbulkan
permasalahan. Adapun bentuk bentuk penyimpangan seksual di antaranya pedofilia dan
homoseksual.

Dampak Permasalahan Sosial


Dampak permasalahan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.
I. Meningkatnya Angka Kriminalitas, Kasus kriminalitas seperti begal, iambret, dan pencurian
yang tidak segera ditangani dapat meningkatkan angka kriminalitas. Meningkatnya angka
kriminalitas menimbulkan keresahan dan menjadi ancaman bagi masyarakat.
b. Konflik Sosial
Permasalahan sosial dapat menyebabkan konflik sosial apabila tidak segera diatasi secara
Optimal. Permasalahan yang menimbulkan konflik sosial antara lain tawuran pelajar, demo
buruh menuntut kenaikan UMR, dan tuntutan warga terhadap pemerintah mengenai
kenaikan BBM.
c. Kenyamanan dan Keamanan Terganggu Permasalahan sosial seperti tawuran pelajar, begal,
geng motor, masalah sampah, hingga banjir dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Masyarakat tidak dapat hidup tenang karena merasa terancam dan terganggu. , '
d. Menimbulkan Kerusakan Fisik Beberapa permasalahan sosial seperti tawuran dan
vandalisme menyebabkan rusaknya fasilitas umum yang berguna bagi ' masyarakat. Selain
itu, tawuran dapat menimbulkan kerusakan fisik berupa lukaluka dan korban jiwa.

Upaya Pemecahan Permasalahan Sosial


Permasalahan sosial dalam masyarakat harus segera diatasi. Beberapa permasalahan sosial
dapat memicu konflik apabiia tidak segera diatasi. Adapun upaya pemecahan permasalahan
sosial sebagai berikut.

a. Mempertegas Sanksi Sosial bagi Para Pelanggar Pemberian sanksi tegas kepada pelaku
yang melanggar peraturan merupakan upaya represif untuk mengatasi permasalahan sosial.
Pemberian sanksi disesuaikan dengan tindakan yang dilakukan oleh pelaku.
b. Menyosialisasikan Nilai dan Norma Sosial . _ Permasalahan sosial dapat dicegah melalui
upaya preventif. Upaya‘preventif dapat dilakukan dengan menyosialisasikan nilai dan norma
sosial secara intensif.
c. Menyediakan Modal Usaha
Pemberian bantuan modal usaha melalui sistem pendampingan dan pemantauan dapat
menyelesaikan masalah kemiskinan dan pengangguran. Bantuan modal usaha juga
diharapkan dapat membuka lapangan usaha mandiri dan meningkatkan perekonomian
rakyat.
d. Meningkatkan Pemerataan Pembangunan dan Pendidikan .
Pemerataan pembangunan bertujuan mengurangi tingkat kesenjangan sosial.
J. Konflik Soslal dan Integrasl Sosial

Soerjono Soekanto mendeflnisikan konflik sebagai suatu proses sosial ketika seseorang atau
sekelompok orang berusaha mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan
disertai ancaman atau kekerasan.

1. Sebab Terjadinya Konflik Sosial


Faktor penyebab konfiik sosial sebagai berikut.
a. Perbedaan keyakinan dan pendirian seseorang.
b. Perbedaan kebudayaan antarkelompok masyarakat.
c. Perbedaan kepentingan antarindividu/ kelompok.
d. Kesenjangan sosial yaitu perbedaan yang sangat menonjol pada kemampuan meraih
tingkat kesejahteraan.
e. Perubahan sosial. Masyarakat yang tidak siap menerima perubahan sosial dapat mengalami
konflik sosial.

2. Dampak Terjadinya Konflik Sosial


Konflik sosial dapat memunculkan dampak positif dan negatif berikut;
a. Dampak Positif »
1) Memunculkan norma baru.
2) Meningkatkan soiidaritas kelompok.
3) Meningkatkan kekuatan pribadi untuk menghadapi berbagai situasi konflik.
4) Mendorong kesadaran kelompok yang berkonfrik untuk melakukan kompromi.
b. Dampak Negatif
1) Menimbulkan perpecahan.
2) Melumpuhkan roda perekonomian.
3) Meningkatkan keresahan masyarakat.
4) Menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana umum.
5) Menghancurkan harta benda dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
6) Merusak struktur sosiai dalam masyarakat.

3. Proses Sosial dalam Penyelesaian Konflik

Konflik hendaknya segera diselesaikan agar kehidupan masyarakat kembali teratur. Dengan
demikian, disintegrasi sosial pun dapat dicegah. Proses penyelesaian konflik disebut
akomodasi. Akomodasi dapat dilakukan melalui berbagai metode penyelesaian konflik.
Penggunaan metode penyelesaian konflik disesuaikan dengan tipe konflik, besarnya konflik,
dan dampak yang ditimbulkan.

Adapun beberapa metode penyelesaian kontiik sebagai berikut.


Koersi (coercion) merupakan bentuk akomodasi melalui paksaan fisik atau peikologis.
Kompromi (compromise) merupakan pihakpihak yang terlibat dalam konflik saling
mengurangi tuntutan untuk mencapai suatu penyelesaian.
Arbitrase (arbitration) merupakan cara untuk mencapai sebuah kompromi melalui pihak
ketiga majelis arbitrase yang bersifat formal" karena pihak-pihak yang bertikai tidak mampu
menyelesaikan masalah sendiri. .
Mediasi (mediation) merupakan akomodasi yang melibatkan pihak ketiga. Pihak ketiga ini
bersifat netral dan tidak berwenang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah. ' _
Negosiasi (negotiation) merupakan proses komunikasi dua atau lebih pihak yang berkonflik
untuk menyelesaikan permasalahan dengan mencapai penyelesaian yang diterima semua
pihak.
Konsiliasi (conciliation) merupakan usaha mempertemukan pihak-pihak yang bertikai untuk
mencapai suatu kesepakatan; Konsiliasi merupakan mediasi yang bersifat Iebih formal.
Keputusan pihak ketiga dalam konsiliasi bersifat tidak mengikat. .
Rekonsiliasi (reconciliation) merupakan usaha menyelesaikan konflik pada masa lalu
sekaligus memperbarui hubungan ke arah perdamaian yang lebih harmonis.
Stalemate merupakan proses akomodasi yang terjadi karena kedua belah pihak memiliki
kekuatan seimbang sehingga pertikaian berhenti dengan sendirinya.
Transformasi konflik (conflict transformation) merupakan upaya penyelesaian konflik dengan
mengatasi akar penyebab konflik sehingga dapat mengubah konflik yang bersifat destruktif
menjadi konflik konstruktif.
Ajudikasi (ajudication) merupakan penyelesaian konflik di pengadilan.
Segregasi (segregation) merupakan tiap-tiap pihak memisahkan diri dan saling menghindar
untuk mengurangi ketegangan.
Eliminasi (elimination) merupakan salah satu pihak yang berkonflik memutuskan mengalah
atau mengundurkan diri dari konflik.
Subjugation atau domination merupakan pihak yang mempunyai kekuatan lebih kuat dan
dominan meminta pihak yang lebih lemah untuk memenuhi keinginannya.
Keputusan mayoritas (majority rule) merupakan keputusan yang diambil berdasarkan suara
terbanyak atau melakukan voting.

Integrasi Sosial
Integrasi sosial terjadi ketika unsur-unsur dalam masyarakat saling berhubungan secara
intensif di berbagai bidang kehidupan. Akibatnya, terjadi pembauran beberapa unsur
berbeda dan setiap unsur dalam masyarakat dapat bekerja sama dengan unsur lain.

a. Proses Terwujudnya Integrasi


Proses terwujudnya integrasi sosial diawali dengan terjadinya konflik dalam masyarakat.
Konflik tersebut kemudian diredam melalui akomodasi. Akomodasi tersebut menghasilkan
koordinasi antarpihak yang berkonflik untuk bersatu. Pada tahap terakhir terjadi asimilasi
antarpihak yang menjalin koordinasi.

Sifat Integrasi Sosial Menurut Paulus Wirutomo, integrase sosial dibedakan menjadi tiga sifat
berikut.
1) Integrasi normatif merupakan integrasi yang terbentuk karena adanya kesepakatan nilai,
norma, cita-cita bersama, dan rasa solidaritas antaranggota masyarakat. Integrasi normatif
biasanya terjadi pada masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis (masyarakat
sederhana). Integrasi ini berkaitan dengan unsur-unsur budaya sehingga sering disebut
integrasi budaya.

2) Integrasi fungsional merupakan integrasi yang terbentuk berdasarkan kerangka perspektif


fungsional, dengan kata lain melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang terintegrasi.
Integrasi fungsional biasanya berkembang dalam masyarakat yang memiliki tingkat
spesialisasi kerja tinggi. integrasi fungsional dipersatukan oleh kebutuhan tertentu
(ketergantungan fungsional).

3) Integrasi koersif yaitu integrasi yang terjadi tidak berasal dari hasil kesepakatan normatif
ataupun ketergantungan fungsional. Integrasi koersif merupakan hasil kekuatan yang
mengikat masyarakat secara paksa. Integrasi koersif terjadi karena paksaan dari pihak-pihak
yang memiliki kekuasaan.

b. Integrasi dan Kerukunan

Masyarakat majemuk rawan terhadap disintegrasi sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya
untuk mewujudkan kerukunan dalam masyarakat. Menurut Paulus Wirutomo, kerukunan
yang akan menciptakan integrasi sosial memiliki beberapa konsep, sebagai berikut.
Integration (integrasi) merupakan keutuhan atau persatuan. Konsep ini mengoiaborasikan
antara integrasi nasional dan integrasi sosial. Apabila integrasi sosial terjalin dengan baik,
integrasi nasional dapat dipertahankan. Equilibrium (keseimbangan) merupakan keadaan
seimbang dan tidak terjadi kesenjangan yang menimbulkan gejolak. Stability(stabilitas)
merupakan keadaan tenang, mantap, dan mapan. Stability bersifat tidak dinamis karena
adanya kelompok penguasa yang memaksakan stabiiitas tersebut.

The absence of conflict (keadaan nyaris tanpa konflik) merupakan keadaan yang terjadi
karena adanya kekuatan yang menekan keiompok-kelompok agar tidak berkonflik. KOnfiik
sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Oleh karena itu, keadaan ini bersifat
semu dan tidak realistis.

Tolerance (toleransi) merupakan sikap menahan diri, menerima keadaan, dan tidak
menyerang pihak lain. Akan tetapi, kerukunan yang dihasilkan masih bersifat dangkal dan
tidak akan berkembang. Solidarity (kesetiakawanan) merupakan kondisi yang lebih baik
daripada toleransi. Kondisi ini ditandai dengan adanya sikap saling membantu dan bersatu
dalam kerukunan masyarakat.

Conformity (keteraturan) merupakan kepatuhan anggota masyarakat sehingga menimbulkan


suasana rukun. Peace (kedamaian) merupakan kondisi tidak berselisih dan bersifat rukun,
tetapi bersifat pasif.

Cohesion (kohesi) _ merupakan kondisi kesatuan yang kuat, terdapat kerja sama, dan
kekompakan. Akan tetapi, dalam kondisi ini terdapat nuansa fanatik kelompok.

Compromise (kompromi) merupakan keadaan saling mengalah untuk menghindari konflik.

Harmony(harmoni) merupakan keadaan yang menunjukkan adanya perbedaan sosial


budaya, tetapi bersifat serasi. Solidity (kekukuhan/kekuatan) mea rupakan keadaan rukun
yang memiliki daya tahan sehingga tidak mudah goyah atau dipengaruhi oleh pihak lain.
Sinergy(sinergi) merupakan bersepakat dan bersatu dalam perbedaan. Semua pihak
berlawanan menggabungkan kekuatan untuk menghasilkan kekuatan berlipat ganda. Sinergi
ini bersifat win-win solution.

c. Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi Sosial


Proses integrasi sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong dan penghambat sebagai
berikut.
1) Faktor Pendorong Integrasi Sosial
Berikut beberapa faktor pendorong integrasi sosial.
a) Rasa ingin memiliki.
b) Konsensus.
c) Cross-cutting affiliations.
d) Cross-cutting Ioyalities.
e) Kesediaan berkorban demi kebaikan bersama.

2) Faktor Penghambat Integrasi Sosial


Faktor penghambat integrasi sosiai sebagai berikut.
a) Kondisi masyarakat yang terisolasi.
b) Masyarakat kurang memiliki ilmu pengetahuan.
c) Terdapat perasaan superior salah satu kelompok!
K. Lembaga Sosial
Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt lembaga sosial adalah sistem norma sosial dan
hubungan-hubungan terorganisasi yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur tertentu dalam
rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lembaga ' sosial disebut juga pranata sosial
atau institusi sosial. Lembaga sosial dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

1. Ciri-Ciri Lembaga Sosial


Lembaga sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki fungsi dan tujuan jelas.
b, Memiliki simbol atau lambang tertentu.
c. Mencerminkan nilai dan norma sosial dalam masyarakat
d. Memiliki tata tertib tertulis dan tidak tertulis.
e. Memiliki tradisi atau aturan mengikat.
f Memiliki kekekalan atau jangka waktu tertentu.
g. Memiliki sarana, prasarana, atau kelengkapan.

2. Tipe-Tipe Lembaga Sosial


Lembaga sosial dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Berdasarkan Sistem Nilainya
1) Lembaga sosial primer (basic institutions), yaitu lembaga yang bersifat pokok, penting, dan
wajib ada dalam masyarakat.
2) Lembaga sosial sekunder (subsidiary institutions), yaitu lembaga yang beraitat pelengkap,
kurang penting, dan tidak wajib ada dalam masyarakat.
b. Berdasarkan Penerimaan Masyarakat
Approved Sosial institutions atau Sosial sanctioned institutions, yaitu lembaga yang dapat
diterima masyarakat karena dianggap penting, bermanfaat, atau berharga.
Unsanctioned institutions, yaitu lembaga yang tidak diterima masyarakat karena bersifat
merugikan.

c. Berdasarkan Pengembangannya

d. Berdasarkan Fungsinya
1) Crescive Sosial institutions, yaitu lembaga yang terbentuk secara tidak sengaja dan tumbuh
dalam kehidupan masyarakat.
2) Enacted Sosial institutions, yaitu lembaga yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan
tertentu dan bersifat lebih resmi dibandingkan crescive Sosial institutions.
3) Operative Sosial institutions, yaitu lembaga yang dibentuk untuk menghimpun pola-pola
atau tata cara yang diperlukan dalam mencapai tujuan tertentu.
2) Regulative Sosial institutions, yaitu lembaga yang berperan mengawasi jalannya adat
istiadat atau tata kelakuan bagi lembaga lain dalam masyarakat.

a. Berdasarkan Penyebarannya
1) Lembaga sosial luas (general institutions), yaitu lembaga yang tersebar dan diketahui
sebagian besar masyarakat. Lembaga ini dapat ditemukan di mana saja.

2) Lembaga sosial terbatas (restricted institutions), yaitu lembaga yang bersifat tertutup dan
khusus sehingga belum dikenal banyak orang. Lembaga ini hanya terdapat pada golongan
tertentu.

3. Fungsi Lembaga Sosial


Lembaga sosial memiliki berbagai fungsi dalam masyarakat. Fungsi lembaga sosial dapat
bersifat nyata (manifes) dan tidak tampak (|aten). Sehubungan dengan usaha manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, secara umum lembaga sosial mempunyai fungsi untuk
menjaga keutuhan masyarakat, memberikan pedoman dalam bertingkah laku, serta sebagai
kontrol sosial.

Secara khusus fungsi lembaga sosial dalam masyarakat sebagai berikut.


a. Fungsi Lembaga Keluarga
Fungsi manifes lembaga keluarga yaitu fungsi afeksi, proteksi, ekonomi, sosialisasi,
pengendalian sosial, biologis, dan religius. Selain memiliki fungsi manifes, lembaga keluarga
memiliki fungsi |aten yaitu memelihara nama baik keluarga, menjaga harta milik keluarga,
memberikan status, dan menjaga gelar yang dimilikinya.

b. Fungsi Lembaga Pendidikan


Fungsi manifes lembaga Pendidikan sebagai berikut.
1) Transfer ilmu pengetahuan.
2) Menyalurkan niiai-nilai sosial masyarakat.
3) Meneruskan kebudayaan bangsa.
4) Memperbaiki masa depan.
5) Sebagai media untuk melakukan penelitian.
6) Mengembangkan kreativitas masyarakat.
7) Mempersiapkan manusia yang terdidik dan terampil.

Fungsi laten lembaga pendidikan, yaitu mengurangi pengawasan orang tua terhadap anak,
mengajarkan peserta didik berpikir kritis, mempertahankan sistem kelas social masyarakat.
dan memperpanjang masa remaja dengan melepas beban-beban keluarga.

Fungsi Lembaga Agama Fungsi manifes lembaga agama sebagai berikut.


1) Memberikan pedoman hidup bagi para pemeluknya.
2) Mengajarkan kebenaran bagi para pemeluknya.
3) Mengajarkan kerukunan dan keseimbangan dengan lingkungan di sekitarnya.
4) Meningkatkan kualitas kehidupan sosial bagi pemeluknya yang taat beragama.

Fungsi laten lembaga agama, yaitu mengajarkan hidup harmonis, spirit dalam pembangunan,
mengajarkan kerukunan antarumat beragama, dan menanamkan dogma bagi pemeluknya.

Fungsi Lembaga Ekonomi Fungsi manifes lembaga ekonomi sebagai berikut.


1) Fungsi produksi, yaitu berperan mengolah barang mentah menjadi barang setengah jadi
atau barang jadi yang siap pakai.
2) Fungsi distribusi, yaitu menyalurkan barang dan jasa yang telah diproduksi produsen
kepada konsumen.
3) Fungsi konsumsi, berkaitan dengan penggunaan suatu barang dan jasa sesuai kebutuhan.

Fungsi laten lembaga ekonomi, yaitu meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan


masyarakat. Akan tetapi, lembaga ekonomi dapat menyebabkan kerusakan lingkungan,
komersialisasi, konsumerisme, Iunturnya budaya dan kearifan lokal, ketergantungan
(determinasi), dan keterasingan (alienasi) pada kaum buruh.

Fungsi Lembaga Hukum


Fungsi manifes Iembaga hukum sebagai berikut.
1) Memberikan sanksi kepada masyarakat yang melanggar hukum.
2) Menegakkan dan memajukan aturan hukum.
3) Melindungi masyarakat melalui cara preventif (mencegah) dan represif (memperbaiki)
demi kenyamanan hidup bersama..
4) Memberikan teladan bagi masyarakat.
5) Sebagai alat mengubah perilaku masyarakat.
Fungsi laten lembaga hukum yaitu menindak pelaku kriminal dan mengawasi lembaga-
Iembaga lainnya.

Fungsi Lembaga Politik


Beberapa fungsi manifes lembaga politik sebagai berikut.
1) Menyalurkan aspirasi masyarakat.
2) Mengarahkan masyarakat dalam memilih pemimpin yang baik melalui kampanye.
3) Memaksa warga negara untuk mematuhi peraturan yang berlaku.
4) Menengahi suatLI pertentangan dalam masyarakat.
5) Melindungi masyarakat melalui Iangkah diplomasi.
6) Mengawasi, mengatur, dan mengajak masyarakat taat pada undangundang.

Fungsi laten lembaga politik yaitu meningkatkan jiwa patriotik, membatasi kekuasaan
pemerintah, dan meningkatkan sikap demokrasi.
L. GeiaIa-Gejala Sosial dalam
Masyarakat Gejala sosial merupakan sebuah fenomena yang muncul akibat interaksi sosial
antarmanusia dalam masyarakat. Gejala sosial akan terus ada seiring perkembangan
masyarakat. Berdasarkan penyebabnya, gejala sosial dibedakan menjadi tiga, yaitu gejala
sosial akibat pengaruh perubahan sosial, heterogenitas sosial, dan penyimpangan sosial.

1.Gejala Sosial akibat Pengaruh Perubahan Sosial


Perubahan sosial dalam masyarakat berkaitan dengan proses perubahan perilaku, nilai, dan
norma yang' menjadi pedoman masyarakat pada waktu tertentu (Syarbaini dan Fatkhuri,
2015: 193). Perubahan tersebut memengaruhi kondisi masyarakat sehingga memunculkan
gejala sosial. Gejala sosial yang berkaitan dengan perubahan sosial antara lain globalisasi,
westernisasi, modernisasi, hedonisme, culture shock, cultural lag, konsumerisme,
industrialisasi, dan dekadensi moral.

2. Gejala Sosial akibat Pengaruh Heterogenitas Sosial


Heterogenitas dalam masyarakat ditunjukkan dengan berbagai perbedaan dalam kehidupan
bermasyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal. Aktivitas masyarakat dalam
berinteraksi di tengah-tengah perbedaan memunculkan gejala sosial seperti stratifikasi sosial
dan diferensiasi sosial. Stratifikasi sosial merupakan penggolongan anggota masyarakat
dalam kelompok-kelompok tertentu secara bertingkattingkat (hierarki) menurut dimensi
kekuasaan, kehormatan, dan prestise. Sementara itu, diferensiasi sosial merupakan
pengelompokan masyarakat secara horizontal atau memiliki kedudukan sejajar. Sebagai
contoh, keragaman ras, agama, suku bangsa, dan profesi. '

3. Gejala Sosial akibat Pengaruh Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial merupakan perbuatan yang melanggar aturan dan norma sosial dalam
masyarakat. Perilaku penyimpangan sosial dapat memunculkan gejala sosial. Penyimpangan
yang menyebabkan gejala sosial dapat bersifat positif ataupun negatif. Penyimpangan sosial
negatif dapat memunculkan berbagai gejala sosial antara lain kenakalan remaja, kriminalitas,
dan kekerasan. Sementara itu, penyimpangan sosial positif yang menyebabkan gejala sosial
misaInya pergeseran peran.
Perubahan sosial dapat terjadi ketika unsur materiel memberikan pengaruh lebih besar pada
unsur imaterieL Misalnya, penggunaan teknologi internet dalam dunia pendidikan.
Penggunaan teknologi internet dalam pendidikan merupakan unsur materiel. Sementara itu,
bentuk imateriel menekankan pada perubahan sikap akibat keberadaan penemuan baru. Oleh
karena itu, masyarakat sebaiknya bersikap bijak dalam menanggapi berbagai bentuk
perubahan sosial.

Gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat berdampak positif dan negatif. Dampak
tersebut bergantung pada sikap masyarakat dalam menghadapinya. Masyarakat hendaknya
menyikapi gejala sosial secara bijak agar berdampak positif bagi diri dan kehidupannya. Jika
tidak disikapi secara bijak, gejala sosial dapat berdampak negatif. Secara umum, gejala sosial
dalam masyarakat menimbulkan dampak negatif sebagai berikut.
- Terjadi ketidakteraturan sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial semakin
meningkat. Terjadi kerusakan lingkungan alam.
- Terjadi masalah kependudukan.
- Konflik sosial meningkat.
- Dekadensi moral. ~ .

Adapun dampak positif gejala sosial dalam masyarakat sebagai berikut.


1.Kualitas pendidikan masyarakat meningkat.
2. Masyarakat semakin maju dan produktif.
3. Timbulnya rasa toleransi.
4. Kesetaraan gender.
M. Jenis/Tipe Penelitian Sosial

Penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah sistematis guna memperoleh kebenaran dari
gejala atau fenomena sosial. Sebelum melakukan penelitian, peneliti perlu memahami jenis-
jenis penelitian sosial berdasarkan klasifikasinya. Adapun jenis penelitian sosial dapat dilihat
berdasarkan tempat penelitian, tujuan, manfaat, dan pendekatannya.

Berdasarkan Tempat Penelitiannya


Jenis penelitian berdasarkan tempat penelitiannya sebagai berikut.
a. Field research merupakan penelitian yang dilakukan langsung di lapangan.
b. Library research merupakan penelitian yang dilakukan menggunakan
Iiteratur/kepustakaan.
c. Laboraton/research merupakan penelitian yang dilakukan di tempattertentu seperti
laboratorium.

BerdasarkanTujuannya
Jenis penelitian berdasarkan tujuannya sebagai berikut.
a. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan memberikan gambaran
mengenai fenomena tertentu.
b. Penelitian eksploratif merupakan penelitian yang bertujuan menemukan fakta atau
pengetahuan baru.
c. Penelitian tindakan merupakan penelitian untuk menemukan cara efektif meningkatkan
kinerja organisasi/keiompok.
d. Penelitian verifikatif merupakan penelitian yang bertujuan menguji teori atau penelitian
sebelumnya.
e. Penelitian pengembangan/development merupakan penelitian yang bertujuan
mengembangkan, memperluas, dan memperdalam suatu teori/pengetahuan.

Berdasarkan Manfaat Penerapannya


Jenis penelitian yang dapat dikategorikan berdasarkan manfaat/penerapannya sebagai
berikut.
a. Penelitian'dasar (basic research) merupakan penelitian yang bersifat murni untuk
pengembangan ilmu pengetahuan.
b. Penelitian terapan (applied research) merupakan penelitian yang didesain untuk
memecahkan masalah dan memberi solusi secara praktis.

Berdasarkan Pendekatannya
Penelitian sosial memiliki dua pendekatan utama, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan
kedua pendekatan tersebut sebagai berikut.

a. Jenis Penelltlan dengan Pendekatan Kualitatif


Penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif bertujuan mencari kebenaran/ penjelasan
secara mendalam terhadap fenomena sosial dalam masyarakat.
Pendekatan kualitatif cenderung mementingkan deskripsi/penjelasan dalam membangun
realitas sosial. Adapun ciri-ciri pendekatan kualitatif sebagai berikut.
1) Bersifat umum, fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian.
2) Mementingkan pemahaman dari dalam (emik).
3) Menggambarkan realitas kompleks.
4) Berakhir dengan kesimpulan(induktif).
5) Péneliti berperan sebagai instrumen utama penelitian.
6) Teknik pengumpulan data melalui kegiatan wawancara dan observasi.
7) Analisis dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian.
8) Hubungan dengan informan cukup dekat.
9) Sajian data berupa deskripsi catatan -lapangan, jawaban informan, dan dokumen.
Adapun Jenis penelitian dengan pendekatan kualitatif sebagai berikut.
1) Fenomenologi merupakan penelitian yang berusaha menjelaskan suatu
fenomena/kejadian berdasarkan pemahaman/hasil pemikiran informan/objek penelitiannya.
2) Deskriptif merupakan penelitian yang berupaya memberikan gambaran secara lengkap
mengenai suatu permasaiahan sosial.
3) Studi kasus merupakan penelitian yang digunakan untuk mempelajari peristiwa atau
kasus pada unit sosial seperti orang (individu), kelompok, lembaga sosial, sebuah distrik,
komunitas, atau sistem yang dikaji secara menyeluruh (holistik).
4) Penelitian historis merupakan penelitian yang bertujuan menjelaskan kembali peristiwa
ataupun gejala sosial pada masa lampau. Penelitian ini dapat menggunakan tulisan! artefak,
dan bukti-bukti peninggalan sejarah sebagai sumber informasi.
5) Studi dokumen merupakan penelitian yang dilakukan melalui analisis atau interpretasi
suatu dokumen seperti buku teks, surat kabar, artikel ilmiah, atau film.

b. Jenis Penelitian dengan Pendekatan Kuantitatif


Pendekatan kuantitatif cenderung sistematis, terstruktur, tersusun dari awal hingga akhir
penelitian, dianalisis menggunakan angka-angka dan dianalisis dengan prosedur statistik.
Ciri-ciri pendekatan kuantitatif sebagai berikut.
- Bersifat spesifik, jelas, dan terperinci.
- Mementingkan pandangan orang lain (etik).
- Menunjukkan hubungan antarvariabel.
- Memulai dengan teori dan hipotesis (deduktif).
- Instrumen utama pendekatan ini yaitu komputer, kalkulator, dan aplikasi statistik. .
- Menggunakan teknik eksperimen, survei, dan angket dalam mengumpulkan data.
- Analisis dilakukan setelah pengumpulan data.
- Terdapat jarak antara peneliti dan informan serta hubungan berjangka pendek.

Adapun jenis penelitian dengan pendekatan kuantitatif sebagai berikut.


Deskriptif kuantitatif merupakan penelitian yang memberikan gambaran mengenai suatu
permasalahan sosial dengan menganalisis menggunakan metode statistik.

Survei merupakan penelitian yang bertujuan memperoleh informasi mengenai sikap, nilai,
dan pendapat dengan mengambil sampel populasi melalui kuesioner.

Eksploratif merupakan penelitian yang bertujuan mengenali variabel tertentu dari suatu
fenomena sosial yang ingin diketahui maknanya.

Korelasional merupakan penelitian yang bertujuan menyelidiki sejauh mana dampak variasi-
variasi suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi lain dalam satu faktor atau lebih.

Eksperimen merupakan penelitian yang bertujuan mengetahui suatu akibat dari pemberian
perlakuan (treatment) yang dilakukan peneliti terhadap objek penelitian.