Anda di halaman 1dari 12

Percobaan Gas Ideal

Deni Setiyawati1, Khofifah Amaliah2, Reynal Restu Affandi 3, Reyza Fadly Maghfiroh4,
Sandy Ilhmasyah5
a
Department of Chemistry, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia – Termo B

Abstrak (Khofifah Amaliah – 01211940000037)

Gas ideal merupakan sekumpulan partikel gas yang tidak saling berinteraksi satu sama lain. Jarak
antar partikel gas ideal berjauhan dan bergerak acak. Pada praktikum gas ideal kali ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara suhu dan tekanan pada gas ideal, kemudian untuk mengetahui hubungan
antara suhu dan volume pada gas ideal dan juga untuk mengetahui hubungan antara volume dan tekanan
pada gas ideal. Pada praktikum ini menggunakan prinsip persamaan umum gas ideal, hukum Charles,
hukum Boyle dan hukum Gay-Lussac. Pada bagian intro 1, didapatkan data bahwa pada suhu 500K
didapat tekanan sebesar 33,7 atm dan ketika suhu naik 1000K didapat tekanan sebesar 67,4. Hal ini
membuat grafik hubungan antara temperature dan tekanan naik secara bersamaan. Hal tersebut sesuai
dengan hukum Gay-Lussac dimana ketika volume tetap, maka tekanan akan berbanding lurus dengan
suhu yang diberikan. Dari percobaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan volume tetap dan
temperature dinaikkan, maka tekanan dalam wadah juga semakin tinggi dikarenakan hubungan antara
temperature dan tekanan adalah berbanding lurus.

Kata kunci : Gas ideal, suhu, tekanan, volume

1. Pendahuluan (Sandy Ilhamsyah – 01211840000071)


1.1 Latar Belakang
Jika kita amati gas merupakan materi salah satu yang paling banyak tersedia di bumi ini. Gas
sendiri memiliki sifat yang unik dan khas. Gas juga merupakan salah satu fluida dimana ia dapat
memenuhi ruang dengan volumenya sendiri. Dalam Chang (2005), dikatakan bahwa adanya
karakterisasi gas sebagai fluida menyebabkan gas ini terkait dengan kondisi-kondisi termodinamika
seperti tekanan, volume dan temperatur.
Beberapa teori dan hukum yang sangat mempengaruhi dalam pemahaman sifat gas yang
diantaranya adalah teori kinetik gas dan hukum termodinamika (Atkins, 2010). Teori kinetik zat
membicarakan sifat zat dipandang dari sudut momentum. Peninjauan teori ini bukan pada
bagaimana sebuah partikel memiliki karakterisasi, tetapi diutamakan pada sifat zat secara
keseluruhan sebagai hasil rata - rata kelakuan partikel - partikel (Giancoli, 2014).
Gas yang diketahui saat ini terdapat dua jenis yaitu gas ideal dan gas nyata, sebenarnya gas
yang ada di dunia ini sangat mustahil dalam keadaan ideal, maka dari itu adanya gas ideal hanya
untuk memudahkan dalam memahami sifat gas yang unik itu sendiri (Tim dosen, 2019). Gas ideal
adalah gas yang memenuhi asumsi sebagai berikut, jumlah partikel gas banyak sekali tetapi tidak
terjadi gaya tarik menarik antar partikel, setiap partikel selalu bergerak dengan acak, setiap
tumbukan akan menghasilkan lenting sempurna, dan partikel gas akan terdistribusi secara merata.
Pada kenyataannya tidak ditemukan gas yang memenuhi asumsi diatas akan tetapi sifat itu
dapat didekati oleh gas pada suhu yang tinggi dan tekanan rendah. Salah satu proses yang
berhubungan dengan usaha yang dilakukan oleh gas berkaitan dengan perubahan suhu, volume, dan
tekanan (Oxtoby, 2001).

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana hubungan jumlah partikel dengan tekanan pada kondisi volume tetap?
b. Bagaimana hubungan suhu dengan tekanan pada kondisi volume tetap?
c. Bagaimana hubungan volume dengan tekanan pada kondisi temperatur tetap?
d. Bagaimana hubungan temperatur dengan volume pada kondisi tekanan tetap?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui hubungan jumlah partikel dengan tekanan pada kondisi volume tetap.
b. Untuk mengetahui hubungan suhu dengan tekanan pada kondisi volume tetap.
c. Untuk mengetahui hubungan volume dengan tekanan pada kondisi temperatur tetap.
d. Untuk mengetahui hubungan temperatur dengan volume pada kondisi tekanan tetap.

1.4 Manfaat
a. Bagi peneliti
➢ Mengembangkan wawasan dan menambah pola pikir peneliti.
b. Bagi masyarakat
➢ Menambah wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya.
c. Bagi ilmu Pengetahuan
➢ Sebagai media kontribusi pengembangan ilmu untuk penelitian-penelitian berikutnya.
d. Bagi pemerintah
➢ Sebagai dasar untuk membantu proses pembuatan kebijakan.

2. Eksperimental (Reyza Fadly Maghfiroh – 01211940000043)


2.1 Aplikasi dan Spesifikasi Laptop
Pada praktikum kali ini kami melakukan pengujian hokum-hukum yang ada pada gas ideal
dengan metode simulasi maka dari itu pada bagian experimental ini berisikan aplikasi yang kami
gunakan dan spesifikasi laptop sebagai media pengujian pada percobaan kali ini.
a. Aplikasi
Pada percobaan kali ini kami menggunakan aplikasi simulasi untuk mempelajari hukum-
hukum dari gas ideal. Aplikasi ini yaitu Phet yang terbagi menjadi dua tampilan yaitu bagian
intro screen dan ideal screen.
Fig 1, Tampilan intro screen

Pada bagian ini dapat dilihat ada beberapa part yang akan kita gunakan dalam pengujian
nanti diantaranya penghitung kecepatan tumbukan partikel terhadap dinding tabung, tabung
atau wadah yang bisa disesuaikan volumenya, pengatur suhu untuk menaik atau menrunkan
suhu gas, pompa untuk memompa gas ke dalam tabung, dan beberapa toggle kondisi seperti
tekanan dan volume tetap dan lainnya yang akan dijadikan variable kontrol. Selanjutnya ada
ideal screen yang susunannya kurang lebih sama dengan intro screen.

Fig 2, Tampilan ideal screen

b. Spesifikasi laptop
Spesifikasi laptop yang kami gunakan untuk melakukan simulasi hokum-hukum gas ideal
adalah sebagai berikut.
Tabel 1, spesifikasi laptop
Deskripsi Lenovo G40/50 AMD

Kartu Grafis Varian Kartu Grafis AMD R5-M230

Memori Hingga 16GB DDR3L

Layar Hingga 15.6" HD (1366 x 768)


14": 13.74" x 0.97” x 9.65" (349 mm x 24.8 mm x 245 mm) 15.6":
Dimensi (P X L X T)
15.12" x 0.98” x 10.43" (384 mm x 25 mm x 265 mm)

2.2 Prinsip percobaan


Prinsip yang digunakan pada percobaan kali ini merupakan hukum-hukum gas ideal yang
meliputi hokum boyle, hokum Gay-Lussac, hokum Charles, dan hokum gas ideal sebagai berikut.
a. Hukum Boyle
Dalam hukum Boyle ini menyatakan bahwa “Pada suhu tetap maka volume gas berbanding
terbalik dengan tekanannya”. Secara matematis hubungan ini dapat dituliskan sebagai berikut
𝑃𝑉 = 𝐶
1
𝑃
V
C di sini memiliki artian konstan, maka akan didapatkan hubungan sebagai berikut
𝑃1 𝑉1 = 𝑃2 𝑉2
(Abdullah, 2016)

b. Hukum Gay-Lussac
Dalam hokum Gay-Lussac ini menyatakan bahwa “Pada volume tetap, tekanan gas
berbanding lurus dengan suhunya”. Secara matematis hubungan ini dapat dituliskan sebagai
berikut
𝑃
=𝐶
𝑇
𝑃T
C di sini memiliki artian konstan, maka akan didapatkan hubungan sebagai berikut
𝑃1 𝑃2
=
𝑇1 𝑇2
(Atkins, 2010)

c. Hukum Charles
Dalam hokum Charles ini menyatakan bahwa “Jika tekanan gas dipertahankan konstant maka
volum gas berbanding terbalik dengan suhunya”. Secara matematis hubungan ini dapat dituliskan
sebagai berikut.
𝑉
=𝐶
𝑇
𝑉T
C di sini memiliki artian konstan, maka akan didapatkan hubungan sebagai berikut
𝑉1 𝑉2
=
𝑇1 𝑇2
(Abdullah, 2016)

d. Hukum Gas Umum


Hokum ini merupakan penggabung sekaligus meringkas ketiga hubungan hokum di atas yang
dapat menjelaskan kondisi-kondisi gas tersebut. Secara matematis dapat dituliskan sebagai
berikut
𝑃𝑉
=𝐶
𝑇
peneliti telah menemukan nilai konstanta C ini akan setara dengan perkalian n (jumlah mol gas)
dan R, R sendiri disebut sebagai konstanta gas umum yang memiliki nilai 8,315 J/(mol K)
𝑃𝑉
= 𝑛𝑅
𝑇
(Soedodjo, 1999)
2.3 Prosedur percobaan
Pada percobaan kali ini dilakukakan lima perlakuan kondisi yang berbeda yaitu pada volume
tetap (hubungan jumlah partikel dengan suhu dan hubungan tekanan dan suhu), suhu tetap, dan
tekanan tetap.
2.3.1 Volume tetap
Pada simulasi kondisi volume tetap akan dilakukan dua pengamatan yang berbeda yaitu
akan mengamati hubungan jumlah partikel gas dengan tekanan dan mengamati hubungan
antara suhu dengan tekanan.
a. Jumlah partikel vs tekanan
Pada simulasi pengamatan hubungan jumlah partikel gas dan tekanan akan dilakukan
prosedur sebagai berikut
1) Masuk ke dalam intro screen
2) Gas dipompa sebanyak satu kali pompa ke dalam tabung dan diamati, kemudian
tekanan, suhu dan volume yang terukur dicatat.
3) Kondisi system diatur pada kondisi volume dan temperature tetap kemudian gas
dimasukan dengan jumlah partikel tertentu ke dalam tabung, jumlah partikel dan
tekanan yang terukur dicatat.
4) Ulangi langkah di atas sebanyak empat kali pengulangan, catat dan amati bagaimana
tekanan dan jumlah partikel yang didapatkan.

b. Suhu vs tekanan
1) Perlakuan pertama
Pada simulasi pengamatan hubungan suhu dan tekanan akan dilakukan prosedur
sebagai berikut
a) Mula-mula gas dipompa ke dalam wadah sebanyak satu kali pompa, kemudian
ubah pada kondisi volume tetap melalui toggle kondisi.
b) Temperatur dinaikan secara perlahan-lahan hingga menjadi dua kalinya dan
amati perubahan yang terjadi pada gas tersebut.
c) Langkah tersebut diulangi sebanyak empat kali pengulangan dengan menaikan
temperaturnya secara berkala.
d) Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat kemudian dibuat hubungannya.

2) Perlakuan kedua
Pada simulasi pengamatan hubungan suhu dan tekanan akan dilakukan prosedur
sebagai berikut
a) Mula-mula gas dipompa ke dalam wadah sebanyak satu kali pompa, kemudian
ubah pada kondisi volume tetap melalui toggle kondisi.
b) Temperatur dinaikkan menuju 500K, tekanan yang terukur dicatat
c) Kemudian temperature dinaikan lagi menjadi 1000K, tekanan yang terukur
dicatat.
d) Hasil data yang didapatkan dibuatkan sketsa grafik yang menyatakan hubungan
antara temperature dan tekanan.

2.3.2 Temperatur tetap


Pada simulasi kondisi temperature yang tetap akan dilakukan pengamatan hubungan
antara volume dengan tekanan yang terjadi pada gas tersebut. Simulasi ini akan dilakukan
dengan prosedur sebagai berikut
a. Gas dipompa ke dalam wadah sebanyak satu kali pompa.
b. Kondisi system diatur pada kondisi temperature tetap melalui toggle kondisi.
c. Volume dan tekanan yang terukur dicatat
d. Langkah tersebut diulangi sebanyak empat kali dan data yang didapatkan dicatat
kemudian dibuat hubungannya.

2.3.3 Tekanan tetap


Pada simulasi kondisi tekanan yang tetap akan dilakukan pengamatan hubungan antara
volume dengan temperatur yang terjadi pada gas tersebut. Simulasi ini akan dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut
a. Gas dipompa ke dalam wadah sebanyak satu kali pompa.
b. Kondisi system diatur pada kondisi tekanan tetap melalui toggle kondisi
c. Temperatur awal dan volume yang terukur dicatat
d. Perlahan-lahan system dipanaskan hingga temperatur system mengaalami kenaikan,
kemudian amati perubahan yang terjadi
e. Langkah tersebut diulangi sebanyak empat kali dan data yang didapatkan dicatat
kemudian dibuat hubungannya

3. Hasil dan Pembahasan (Deni Setiyawati – 01211940000050)

3.1 Data Hasil Percobaan


a. Kasus Gas Intro 1
Tabel 1. T dan P, pada V dan N konstan
No. Suhu (K) Tekanan (Atm)
1 500 33.7
2 1000 67.4

b. Kasus Gas Intro 2


1) Part I
Tabel. 2. P,V,dan T pada keadaan dasar, saat ditambah N
Volume (nm3) Suhu (K) Tekanan (Atm)
350 300 4,9

Tabel 3. N dan P pada V dan T konstan

Jumlah partikel P(atm)


92 10,7
137 16
187 21,8
237 27,7

2) Part 2
a) Eksperimen 1
Tabel 4. T dan P, pada N dan V konstan
No. Suhu (K) Tekanan (Atm)
1. 277 2,4
2. 289 2,5
3. 300 2,6
4. 317 2,7
5. 338 2,9

b) Eksperimen 2
Tabel 5. V dan P, pada N dan T konstan
No. Volume (𝑛𝑚3 ) Tekanan (Atm)
1. 350 5,8
2. 175 11,7
3. 525 3,9
4. 378 5,4
5. 437,5 4,7
6. 269,5 7,6
7. 420 4,9

c) Eksperimen 3
Tabel 6. T dan V, pada N dan P konstan
No. Suhu (K) Volume (𝑛𝑚3 )
1. 308 360,5
2. 323 378
3. 345 402,5
4. 352 409,5

3.2 Analisis dan Pembahasan


a. Kasus Gas Intro I
Pada percobaan kasus gas intro 1, sejumlah partikel di pompakan kedalam wadah dan
dibiarkan tetap. Suhu dinaikkan sampai 500K (227℃), tekanan naik menjadi 33.7 Atm dari
tekanan awal, selanjutnya Suhu dinaikkan kembali hingga 1000K (727℃), tekanan pada simulasi
naik menjadi 67,4 Atm.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa semakin besar suhu, maka tekanan akan semakin
besar. Berikut grafik hubungan antara tekanan terhadap kenaikan suhu pada percobaan ini :
Grafik P vs T pada V konstant
80
60

P (Atm)
40
20
0
500 1000 T℃

Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa hubungan antara tekanan dan suhu pada
gas ideal, berbanding lurus, semakin besar suhu dinaikkan, maka tekanan akan semakin besar.
Percobaan ini telah membuktikan kebenaran dari teori Gay-Lussac, teori tersebut mengatakan
pada kasus gas sempurna ketika sejumlah gas dan volumenya dibiarkan konstan, sementara suhu
dinaikkan, maka tekanan dalam gas ideal juga semakin naik.
𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇
Pada 𝑉 dan 𝑛 Konstant diperoleh persamaan :
𝑃1 𝑃2
=
𝑉1 𝑉2
Dimana persamaan tersebut merupkan teori dari hukum Gay-Lussac. (Atkins, 2010)

b. Kasus Gas Intro II


1) Part I
Pada percoban ini sejumlah partikel dipompakan ke dalam wadah, pada keadaan dasar
diketahui volume sebesar 350 𝑛𝑚3, suhu awal 300K dan tekanan menunjukkan 4,9 Atm.
volume dan suhu dibiarkan konstan. Dari percobaan tersebut dilakukan penambahan sejumlah
partikel. Penambahan partikel tersebut menyebabkan tekanan pada gas ideal naik. Kenaikan
tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut :

Grafik P vs N pada V dan T konstan


30
P (Atm)

20

10

0 N
92 137 187 237

Tekanan pada gas ideal disebabkan oleh adanya tumbukan antar partikel gas dengan
dinding tempat gas berada, semakin banyak partikel yang ditambahkan semakin banyak
tumbukkan yang terjadi antar partikel, dan tekanan yang dihasilkan semakin tinggi :

1 𝑁. 𝑚. 𝑉 2𝑁
𝑃= = ⃗⃗⃗⃗
𝐸
3 𝑉 3𝑉 𝑘
Hubungan ini menunjukkan bahwa jumlah partikel (N) gas berbanding lurus dengan
tekanan.(Atkins, 2010)
2) Part II
a) Eksperimen 1 :
Variabel Bebas : Suhu
Variabel Terikat : Tekanan
Variabel Konstant : Volume

Pada percobaan ini sejumlah partikel dalam suatu wadah dengan volume dibiarkan
konstant suhu dinaikkan menyebabakan tekanan pada gas tersebut juga semakin naik, Berikut
grafik kenikan tekanan pada percobaan ini :
Grafik P vs T pada V konstant
4
3
P (Atm)

2
1
0
277 289 300 317 338 T℃

Pada gas ideal dengan volume tetap, kenaikan suhu menyebabkan energi kinetik dalam
gas tersebut juga semakin naik, hal ini menyebabakan tumbukan antar partikel juga semakin
cepat, sehingga menyebabkan tekanan partikel dalam wadah tersebut juga naik. Oleh karena
itu hubungan antara Suhu dan Tekanan pada gas ideal berbanding lurus. Berdasarkan teori
hukum Gay-Lussac :
𝑃1 𝑃2
=
𝑉1 𝑉2
(Levine, 2009)
Dalam kasus real dikehidupan sehari-hari Pressure cooker, alat ini menggunakan prinsip
guy lussac, pada volume ketika suhu dinaikkan menyebabkan tekanan dalam alat tersebut
naik, oleh karena itu pressure cooker mampu melunakkan masakan dalam waktu singkat.

b) Eksperimen 2
Variabel Bebas : Volume
Variabel Terikat : Tekanan
Variabel Konstant : Suhu
Pada percoban ini sejumlah partikel dipompakan kedalam wadah dengan volume
dibiarkan konstant, pada saat itu suhu pada termometer simulasi menunjukkan 350 𝑛𝑚3 dan
tekanan sebesar 5,8 Atm, pada pengulangan selanjutnya, volume diperkecil sampai 175𝑛𝑚3
menyebabkan tekanan naik menjadi 11,7 Atm, selanjutnya volume diperbesar menjadi 525
𝑛𝑚3, tekanan turun dan menunjukkan angka 3,9 Atm, dan seterusnya. Percobaan tersebut
digambarkan dalam grafik berikut :
Grafik P vs V pada T konstant

15

10

P(Atm) 5

0
175 269.5 350 378 420 437.5 525 V(nm^3)

Grafik pada percobaan tersebut menujukkan bahwa semakin besar volume, maka tekanan
dalam gas ideal semakin turun. Sebaliknya ketika volume di perkecil tekanan akan semakin
besar. Hal ini menunjukkan kebenaran dari teori Hukum Boyle yaitu :
𝑃1 𝑉1
= 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑇 𝑑𝑎𝑛 𝑁 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
𝑃2 𝑉2
(Levine,2009)
Hukum boyle menunjukkan hubungan antara Tekanan dan Volume berbanding terbalik,
hal ini erat kaitannya dengan teori kinetik gas. Gas dalam suatu wadah dengan jumlah
partikel tetap, keika volume nya berkurang partikel akan bergerak menyerang sisi wadah
yang semakin sempit, yang menyebabakan tekanan wadah akan semakin besar.(Levine,2009)
Contoh kehidupan sehari-hari yang menggunakan prinsip hukum boyle yaitu penggunaan
jarum suntik, semakin besar tekanan diberikan pada jarum suntik volume dalam ruang
semakin kecil, begitu sebaliknya ketika pegangan suntik di tarik, terbentuk volume ruang
yang besar dalam alat tersebut.

c) Eksperimen 3
Variabel Bebas : Suhu
Variabel Terikat : Volume
Variabel Konstant : Tekanan dan Jumlah Partikel

Pada percobaan ini sejumlah partikel dipompakan kedalam wadah, dengan tekanan
konstan. Suhu awal terhitung pada termometer simulasi sebesar 308K, volume sebesar
360,5𝑛𝑚3, selanjutnya suhu dinaikkan menjadi 323K, menyebabkan volume bertambah
menjadi 378𝑛𝑚3. Dan seterusnya, dari percobaan tersebut menunjukkan bahwa, semakin
besar suhu dinaikkan, volume gas ideal semakin besar, berikut grafik data pada percobaan
tersebut :

400 Grafik V vs T, pada T dan N konstan


V (nm^3)

350

300

250
T℃
360.5 378 402.5 409.5

Grafik tersebut menunjukkan hubungan antara suhu dan volume pada saat tekanan dan
jumlah partikel dalam keadaan konstan, suhu dan volume berbanding lurus, semakin besar
suhu dinaikkan, volume juga semakin besar. Percobaan ini menunjukkan kebenaran hukum
Gay-Lussac yaitu ketika jumlah partikel dan tekanan dibiarkan tetap, sementara suhu
dinaikkan, mengakibatkan volume juga semakin naik :
𝑇1 𝑇2
= 𝑃𝑎𝑑𝑎 𝑁 𝑑𝑎𝑛 𝑃 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
𝑉1 𝑉2
(Levine,2009)
Kenaikan volume pada gas disebabakan karena partikel-partikel bergerak semakin cepat
ketika suhu dinaikkan, hal ini menyebabakan amplitudo getaran akan semakin bertambah
besar, akibatnya jarak antar partikel akan menjadi semakin besar, yang menyebabakan
terjadinya pemuaian gas, pemuaian ini mengakibatka volume gas tersebut bertambah.(Levine,
2009). Contoh peristiwa meletusnya balon yang dibiarkan terbuka terkena panas matahari,
pada peristiwa tersebut suhu panas menyebabakan volume balon membesar dan lama
kelamaan meletus.

4. Kesimpulan (Reynal Restu Affandi - 01211940000056)


Telah dilakukan percobaan gas ideal melalui sebuah situs bernama PHET yang kemudian dapat
diketahui sifat-sifat dari gas ideal. Pada percobaan ini dilakukan secara berulang-ulang pada wadah
tertutup dengan mengganti variable konstannya, seperti suhu, volume, dan tekanan, yang kemudian
didapat beberapa kesimpulan. Pertama, semakin tinggi suhu suatu wadah, maka gerak molekul di
depannya pun semakin cepat. Hal itu disebabkan karena ketika suhu meningkat, maka energi kinetik
suatu molekul juga bertambah, sehingga laju gerakannya menjadi bertambah. Kedua, pada suhu
konstan, semakin besar volume, semakin kecil tekanannya. Hal itu disebabkan karena ketika volumenya
besar, maka lebih sedikit molekul yang akan menyerang suatu area tertentu dari sisi wadah per satuan
waktu, sehingga tekanannya pun menjadi kecil. Ketiga, pada volume konstan, semakin besar suhu,
tekanannya semakin besar. Hal ini disebabkan karena ketika suhu tinggi, maka semakin cepat molekul
tersebut menyerang area tertentu per satuan waktu. Keempat, semakin banyak partikel yang ada pada
suatu wadah, maka tekanannya semakin besar. Hal itu disebabkan karena ketika partikel semakin
banyak, maka semakin banyak tumbukan yang dialami pada suatu area pada sisi wadah per satuan
waktu. Dan kelima, pada tekanan konstan, semakin tinggi suhu, semakin besar volumenya. Hal ini
disebabkan karena wadah tersebut mengalami pemuaian.

Referensi
[1] Chang, Raymond. (2005). Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
[2] Atkins, Peter. (2010). Physical Chemistry 9th editon. New York : WH Freeman and company
[3] Giancoli, Douglas. (2014). Physics Prinsiple with Application. United States of Amerika: Pearson
Education
[4] Tim dosen. (2019). Fisika Mekanika dan Termodinamika. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
November
[5] Oxtoby, et al. (2001). Prinsip-prinsip Kimia Modern Jilid I. Jakarta: Erlangga
[6] Abdullah, Mikrajudin. (2016). Fisika Dasar 1. Bandung: Institut Teknologi Bandung
[7] Soedodjo, Peter. (1999). Fisika Dasar. Yogyakarta: ANDI
[8] Levine, N. I. (2009). Physical Chemistry 6th Edition. New York: The Mc Graw Hill Companies, Inc.

Anda mungkin juga menyukai