Anda di halaman 1dari 16

AUDIT KEPATUHAN PADA KASUS KEGAGALAN PEMBAYARAN ASURANSI

OLEH PERUSAHAAN BUMN PT ASURANSI JIWASRAYA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : Audit Kepatuhan
Dosen Pengampu: 1.Dr. Sukirman, M.Si., QIA, QIA, CRMP, CFrA
2. Retnoningrum Hidayah, Se., M.Si., M.Sc., QIA, CRMP.

Oleh:

1. Helda Ziyadatul Basaroh (7211418158)


2. Amanda Ika Permatasari (7211418163)
3. Faizzal Abdullah (7211418169)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Audit Kepatuhan
Pada Kasus Kegagalan Pembayaran Asuransi Oleh Perusahaan BUMN PT Asuransi
Jiwasraya” tepat sesuai waktu yang ditentukan. Dengan selesainya tugas ini, kami
menyampaikan ucapan terima kasih, kami juga tak luput dari berbagai hambatan dan
masalah, namun berkat usaha dan bantuan dari berbagai pihak serta sarana yang mendukung.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Audit Kepatuhan, atas bimbingan
dan saran-saran yang telah diberikan serta pembelajaran dalam menyelesaikan tugas ini.

Akhirnya perlu juga dikatakan bahwa tugas ini bukanlah merupakan sesuatu yang
sempurna, mengingat kami hanyalah manusia biasa yang sangat jauh dari kesempurnaan.
Sejalan dengan keterbatasan yang kami miliki tersebut, maka tugas ini masih sangat terbuka
terhadap kritik maupun saran yang bertujuan agar lebih menyempurnakan makalah ini.
Semoga dengan selesainya tugas ini akan memberikan manfaat sebagaimana yang
diharapakan.

Semarang, 15 Oktober 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................. 1

KATA PENGANTAR........................................................................................................... 2

DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 4


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................................................5

BAB II LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN..........................................................6

2.1 Landasan Teori................................................................................................................6


2.1.1 Pengertian Audit Kepatuhan..................................................................................6
2.1.2 Kriteria Audit Kepatuhan.......................................................................................6
2.1.3 Pengertian Asuransi................................................................................................8
2.1.4 Tujuan dan Fungsi Asuransi...................................................................................8
2.1.5 Jenis-Jenis Asuransi...............................................................................................9
2.2 Hasil Penelitian.............................................................................................................10
2.2.1 Kasus Gagal Bayar Asuransi PT Asuransi Jiwasraya..........................................10
2.2.2 Peran Otoritas Jasa Keuangan..............................................................................11
2.2.3 Fraud Pada Laporan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya ......................................12
2.2.4 Tata Kelola Perusahaan Asuransi.........................................................................12
2.3 Pembahasan...................................................................................................................13

BAB III PENUTUP..............................................................................................................15

3.1 Kesimpulan....................................................................................................................15
3.2 Saran..............................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................16

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Industri asuransi merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi di telinga
masyarakat, industri ini merupakan industri jasa yang banyak digunakan oleh seluruh
kalangan masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah maupun masyarakat
menengah ke atas. Asuransi digunakan oleh masyarakat sebagai jaminan ketika terjadi
hal-hal yang tidak terduga, seperti kebakaran, untuk itu hal-hal seperti ini bisa
ditanggulangi dengan menggunakan asuransi sebagai proteksi dari kerugian yang tidak
diinginkan. Asuransi, berdasarkan Pasal 1 Angka 1 Undang-undang No.40 Tahun 2004
tentang perasuransian atau pertanggungan secara umum adalah perjanjian antara dua
pihak yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi
penerimaan premi oleh perusahaan asuransi.
Dengan meningkatnya kebutuhan dan minat masyarakat akan asuransi maka berbagai
jenis asuransi pun bertambah. Beberapa produk asuransi yang dikenal masyarakat adalah
asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, dan asuransi jiwa. Kemudian muncul unit baru
seperti unit link yang menggabungkan asuransi dengan investasi.
PT Asuransi Jiwasraya adalah perusahaan BUMN yang bergerak dibidang asuransi.
PT Asuransi Jiwasraya menawarkan berbagai jenis asuransi. Produk unggulan mereka
adalah unit saving plan yang merupakan produk asuransi jiwa sekaligus investasi. Unit
saving plan berbeda dengan produk asuransi unit link yang risiko investasinya
ditanggung oleh pemegang polis. Unit saving plan merupakan unit link yang risiko
investasinya ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan asuransi. Unit ini menawarkan
jaminan return yang sangat tinggi dengan periode pencairan setiap tahun dimana nilai
return jauh lebih tinggi bahkan hampir dua kali lipat daripada bunga yang ditawarkan
oleh deposito bank.
Audit kepatuhan dilaksanakan untuk mengadakan review secara sistematik
terhadap bagian dari prosedur dan metode operasi perusahaan untuk menilai efektifitas
dan efisiensinya. Audit kepatuhan adalah penilaian independent tentang apakah subjek
tertentu telah sesuai dengan otoritas dan kebijakan yang berlaku. Audit kepatuhan
didasarkan pada hubungan tiga pihak dimana auditor bertujuan untuk memperoleh

4
bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyatakan kesimpulan yang dirancang untuk
meningkatkan kepercayaan pengguna.

1.2. Rumusan Masalah

1. Mengapa bisa terjadi kegagalan pembayaran asuransi oleh PT Asuransi Jiwasraya?


2. Bagaimana audit kepatuhan atas kasus pembayaran asuransi oleh PT Asuransi
Jiwasraya?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis audit kepatuhan pada kegagalan pembayaran asuransi oleh PT


Asuransi Jiwasraya.
2. Untuk mengetahui audit kepatuhan atas kasus pembayaran asuransi oleh PT
Asuransi Jiwasraya.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis
terhadap pelanggaran audit kepatuhan.
2. Bagi Pembaca
Sebagai sumber bacaan untuk penelitian lebih lanjut serta bahan perbandingan untuk
menyusun penelitian.
3. Bagi Perusahaan
a. Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
b. Pertimbangan agar kasus pelanggaran audit kepatuhan tidak terjadi lagi.

5
BAB II

LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1. LandasanTeori

2.1.1. Pengertian Audit Kepatuhan

Audit kepatuhan dalam Fundamental Principles of Compliance Auditing


International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAI 400) yang dibuat
International Organisations of Supreme Audit Institutions (INTOSAI), disebutkan
bahwa audit kepatuhan yaitu “the independent assessment of whether a given subject
matter is in compliance with applicable authorities identified as criteria”. Proses audit
kepatuhan menurut ISSAI dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu:

a. Pertimbanganawal (initial consideration).


b. Perencanaan audit (planning the audit).
c. Pelaksanaan audit dan pengumpulan bukti (performing the audit and gathering
evidence).
d. Evaluasi bukti dan penyusunan simpulan (evaluating evidence and forming
conclution).
e. Pelaporan (reporting).

2.1.2. Kriteria Audit Kepatuhan

Dalam ISSAI 4100 tujuan audit kepatuhan adalah mendapatkan bukti yang
cukup dan sesuai untuk menyimpulkan apakah entitas telah mematuhi dalam segala
hal yang material terhadap criteria tertentu. Oleh karena itu, untuk mendapatkan
kesimpulan pemeriksaan kepatuhan yang tepat maka penentuan criteria sangat penting
dan termasuk dalam langkah awal dalam perencanaan pemeriksaan kepatuhan.

Kriteria adalah dasar yang digunakan oleh auditor untuk menguji asersi
subject matter yang telah disusun/disajikan. Kriteria harus dikomunikasikan dengan
pihak yang diperiksa sehingga tercipta keseragaman pemahaman atas kriteria yang
digunakan. Apabila terdapat perbedaan sudut pandang, kedua belah pihak dapat
berdiskusi dan menyamakan persepsi sebelum masuk ke pelaksanaan pemeriksaan.

6
Komunikasi atas kriteria di awal pemeriksaan juga akan berguna apabila ada
sanggahan atas criteria tersebut sehingga tim dapat mengevaluasi kriteria lain yang
relevan untuk pemeriksaan. Jika terdapat perubahan kriteria yang digunakan, maka
harus dikomunikasikan dan di dokumentasikan.

Kriteria dapat bersifat formal, seperti hukum dan perundang–undangan,


keputusan menteri atau ketentuan dalam kontrak dan kesepakatan lainnya dan juga
dapat bersifat non formal seperti kepatutan. Namun demikian, kriteria non formal
seperti kepatutan, harus berwujud tertulis (terdokumentasi), dapat diuji, dan terkait
dengan hal-hal prinsip yang mengacu dalam peraturan tertulis.

Kriteria harus ditetapkan sesuai dengan tujuan pemeriksaan dan memenuhi


karakteristik seperti yang dinyatakan dalam ISSAI 4100 berikut:

a. Relevan – kriteria yang relevan memberikan kontribusi yang berarti terhadap


informasi yang diberikan dalam pengambilan kebutuhan oleh pengguna yang
dituju oleh laporan audit.
b. Dapat diandalkan – kriteria yang dapat diandalkan memberikan hasil yang
konsisten dalam pengambilan simpulan meskipun digunakan oleh auditor yang
berbeda pada kondisi yang sama.
c. Lengkap – kriteria yang lengkap adalah mencukupi untuk tujuan audit dan tidak
mengecualikan faktor- faktor yang relevan. Kriteria tersebut memiliki arti dan
memungkinkan pengguna mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut.
d. Objektif – kriteria yang objektif adalah netral dan bebas dari bias atas pendapat
auditor atau manajemen entitas yang diaudit. Artinya, criteria tersebut tidak bias
terlalu informal karena informasi mengenai hal yang diperiksa dibandingkan
dengan criteria akan menjadi sangat subjektif dan menyebabkan beberapa auditor
mengambil kesimpulan yang sangat berbeda.
e. Dapat dimengerti – kriteria yang dapat dimengerti adalah yang dinyatakan secara
jelas, memberikan kontribusi pada kesimpulan yang jelas, dapat dimengerti oleh
pengguna yang dituju, serta tidak memberikan interpretasi yang bervariasi.
f. Dapat diperbandingkan – kriteria yang dapat diperbandingkan adalah konsisten
bila digunakan pada audit yang sama dan sejenis dari entitas yang sama atau
kegiatan yang sama, dan bila dibandingkan dengan yang digunakan pada audit
sebelumnya pada entitas tersebut.

7
g. Dapat diterima – kriteria yang dapat diterima adalah yang disetujui oleh ahli
independen, entitas yang diperiksa, badan legislatif, media serta public secara
umum.
h. Tersedia – criteria harus tersedia bagi pengguna laporan yang dituju sehingga
mereka mengerti sifat audit yang dilakukan dan dasar untuk penyusunan laporan
pemeriksaan.

2.1.3. Pengertian Asuransi

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1992 tentang


usaha Perasuransian Bab 1 pasal 1 Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian
antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada
tertanggung, dengan menerima premi asuransi, memberikan penggantian kepada
tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan,
atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seorang yang
dipertanggungkan.

Sedangkan menurut Mehr dan Cammack dalam Danarti (2011:7) asuransi


merupakan suatu alat untuk mengurangi risiko keuangan, dengan cara pengumpulan
unit-unit exposure dalam jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian
individu dapat diperkiarakan. Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul
merata oleh mereka yang bergabung.

2.1.4. Tujuan dan Fungsi Asuransi

Tujuan asuransi mencakup :

1. Untuk mengalihkan ragam risiko yang mungkin terjadi dengan nasabah, di mana
risiko tersebut akan digantikan oleh perusahaan asuransi setelah nasabah
melakukan sejumlah pembayaran premi kepada perusahaan asuransi.
2. Jaminan bagi pihak nasabah mendapatkan perlindungan dengan risiko kerugian di
masa depan yang mungkin akan terjadi.
3. Memperkecil nilai dan potensi kerugian yang lebih besar bila mengeluarkan biaya
sendiri saat mengalami sebuah risiko.

8
4. Khusus untuk asuransi jiwa, dapat kamu gunakan sekaligus untuk menabung
karena sebagian biaya preminya akan dikembalikan kepada nasabah dalam kurun
waktu tertentu.
5. Untuk efisiensi bagi sebuah perusahaan karena mengurangi biaya untuk
pengawasan, pengamanan, dan perlindungan yang memakan banyak biaya dan
waktu.
6. Untuk mendapatkan ganti rugi kepada pihak nasabah sesuai dengan nilai premi
asuransi.
7. Untuk menutup loss of earning power seseorang atau suatu badan usaha ketika
sudah tidak bekerja atau tidak berfungsi lagi.

Sedangkan, fungsi asuransi sebagai berikut:

1. Penghimpun dana.
2. Membantu pebisnis fokus pada usaha.
3. Mengurangi potensi risiko.
4. Membagi Risiko Kerugian.

2.1.5. Jenis-Jenis Asuransi

Beberapa jenis asuransi sebagai berikut:

1. Asuransi Kesehatan, yaitu jenis asuransi yang memberikan pertanggungan untuk


masalah kesehatan yang diakibatkan oleh kecelakaan atau penyakit.
2. Asuransi Jiwa, yaitu jenis asuransi yang memberikan pertanggungan atas kematian
seorang nasabah yang memiliki nilai keuangan.
3. Asuransi Pendidikan, yaitu asuransi yang memberikan jaminan pendidikan kepada
pihak tertanggung.
4. Asuransi Bisnis, yaitu asuransi yang memberikan jaminan kepada perusahaan
apabila terjadi risiko yang menyebabkan kerugian, seperti kehilangan, kerusakan,
dan lain-lain.
5. Asuransi Kepemilikan Rumah dan Properti, yaitu asuransi yang memberikan
jaminan kepada pemilik rumah atau properti apabila terjadi kerusakan pada
properti.

9
6. Asuransi Kendaraan, yaitu asuransi yang memberikan pertanggungan terhadap
kendaraan jika terjadi risiko seperti kerusakan akibat kecelakaan, kehilangan, dan
lain-lain.

2.2. Hasil Penelitian


2.2.1. Kasus Gagal Bayar Asuransi PT Asuransi Jiwasraya
Industri Keuangan Nasional akhir-akhir ini dihebohkan dengan kasus gagal
bayar perusahaan asuransi plat merah PT Asuransi Jiwasraya yang merupakan
perusahaan asuransi BUMN bidang asuransi terbesar. Kejaksaan Agung
mengungkapkan potensi kerugian negara dari kasus dugaan korupsi PT Asuransi
Jiwasraya bisa mencapai Rp 17 triliun dan besaran nilai yang sesungguhnya sedang
dihitung oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Nilai tersebut berasal dari
penelaahan berkas selama 10 tahun, dari 2008 hingga 2018.
Gagal bayar Asuransi PT. Asuransi Jiwasraya sebenarnya terjadi pada salah
satu produk unggulannya yang bernama saving plan. Saving plan merupakan produk
asuransi jiwa sekaligus investasi yang ditawarkan melalui perbankan atau
bancassurance. Berbeda dengan produk asuransi unit link yang risiko investasinya
ditanggung pemegang polis, saving plan merupakan investasi non unit link yang
risikonya sepenuhnya ditanggung perusahaan asuransi. SavingPlan menawarkan
jaminan return yang sangat tinggi dengan periode pencairan setiap tahun. Nilai return
ini jauh lebih tinggi atau hampir dua kali lipat daripada bunga yang ditawarkan
deposito bank yang saat itu besarannya di kisaran 5-7 persen. . Tercatat ada 17.000
pemegang polis saving plan. Adapun total pemegang polis PT Asuransi Jiwasraya
secara keseluruhan termasuk pemegang polis produk lainnya mencapai 7 juta
pemegang polis.
Beberapa dugaan penyebab gagal bayarnya PT Asuransi Jiwasraya
diantaranya : Produk-produk yang merugi, kinerja pengelolaan aset yang rendah,
kualitas aset investasi dan non investasi yang kurang likuid, sistem pengendalian
perusahaan yang masih lemah, tata kelola perusahaan yang kurang baik, dan sistem
informasi yang tidak andal.
2.2.2. Peran Otoritas Jasa Keuangan
Kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya selalu dikaitkan dengan peran OJK
sebagai otoritas pengawas lembaga keuangan. Seperti diketahui, dalam menjalankan

10
lembaganya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan agar keseluruhan kegiatan di
dalam sektor jasa keuangan:
 Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel,
 Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan
stabil, dan
 Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di
sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mempunyai tugas
melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor
Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor Institusi Keuangan Non bank (IKNB) .
Dilihat dari tugasnya sebagai pengawas kegiatan jasa keuangan, maka
keberadaan OJK dalam kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya banyak
dipertanyakan publik. Terlebih kasus ini sebenarnya sudah terdeteksi beberapa tahun
lalu atau cukup memakan waktu yang panjang untuk diawasi. Namun terlepas dari
opini-opini publik yang masih perlu diuji kebenarannya, secara fundamental kasus
gagal bayarnya Jiwasraya ini karena penerapan Good Corporate Governance ( GCG )
dalam mengelola perusahaan tidak diterapkan dengan baik dan benar oleh pimpinan
PT Asuransi Jiwasraya sesuai dengan aturan yang sudah ada yaitu POJK Nomor
73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan
Perasuransian.

2.2.3. Fraud Pada Laporan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya


Di balik kesuksesan produk asuransi PT Asuransi Jiwasraya yang laris manis
di pasaran, ternyata tak serta-merta diiringi dengan manajemen yang baik. Kekacauan
pengelolaan dana asuransi dengan sistem saving plan ini mulai terjadi di tahun
keempat penjualannya. Hal ini terkuak dengan adanya indikasi fraud pada laporan
keuangan tahun 2017. Dalam laporan keuangan tahun tersebut, total keuntungan yang
diraih Jiwasraya mencapai Rp 2,4 triliun, padahal laba sebenarnya hanya sebesar Rp
328,44 miliar saja. Adanya fraud laporan keuangan ini diketahui setelah dilakukannya
audit oleh suatu KAP yang cukup terkenal.

11
Fraud pada laporan keuangan dan tingkat bunga yang tinggi menyebabkan
keuangan perusahaan semakin berat. Sebab, perusahaan harus membayar kembali
dana nasabah sekaligus bunganya yang tidak sedikit saat jatuh tempo. Sementara,
keuntungan atas pemanfaatan dana nasabah tidaklah sesuai dengan yang dicantumkan
dalam laporan keuangan resmi perusahaan.

2.2.4. Tata Kelola Perusahaan Asuransi


Dalam POJK Nomor 73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang
Baik bagi Perusahaan Perasuransian disebutkan bahwa tata kelola perusahaan yang
baik merupakan salah satu dasar dalam membangun kondisi perusahaan yang sehat.
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik berkaitan erat dengan kredibilitas
perusahaan yang menjalankan usahanya. Pesatnya perkembangan industri asuransi
harus didukung dengan kondisi lingkungan yang kondusif. Dalam rangka menunjang
pencapaian kondisi lingkunganperusahaan yang kondusif serta persaingan usaha yang
sehat, maka penting bagi industri asuransi untuk menerapkan tata kelola perusahaan
yang baik. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik oleh industri asuransi tersebut
menjadi salah satu bagian penting dalam menangani risiko. Apabila penerapapan tata
kelola Perusahaan Perasuransian dapat berjalan dengan baik, maka manajemen risiko
juga akan berjalan dengan efektif.
Pelaksanaan Good Corporate Governance perusahaan paling tidak harus
memperhatikan beberapa hal, antara lain :

 Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, Dewan Komisaris


 Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite Audit;
 Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan eksternal;
 Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian internal;
 Rencana strategis Perseroan;
 Pelaksanaan transparansi kondisi keuangan dan non keuangan Perseroan.
Apabila PT Asuransi Jiwasraya sebelumnya sudah konsisten mejalalankan tata
kelola perusahaan yang baik sesuai dengan peraturan yang sudah ada maka kecil
kemungkinan terjadi kasus gagal bayar yang nilainya sangat besar ini. Dampak gagal
bayar PT Asuransi Jiwasraya disinyalir berdampak massive dan sistemik. Bagi Pelaku
bisnis atau seluruh stakeholder jasa keuangan, kasus PT Asuransi Jiwasraya ini

12
menjadi peringatan serius tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang baik dan
benar.

2.3. Pembahasan
Berdasarkan pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa pelanggaran audit
kepatuhan dalam kegagalan pembayaran asuransi oleh PT Asuransi Jiwasraya
disebabkan karena tata kelola perusahaan yang kurang baik. Penerapan tata kelola
perusahaan yang baik berkaitan erat dengan kredibilitas perusahaan yang menjalankan
usahanya serta meminimalisir risiko yang ada. Selain itu, menurut penelitian kami
kegagalan ini juga disebabkan karena produk-produk yang merugi karena bunga yang
terlalu tinggi serta kinerja pengelolaan aset yang rendah. Pasalnya, kegagalan
pembayaran asuransi ini terjadi pada produk unggulannya yang menawarkan return
yang tinggi, bahkan mencapai dua kali lipat dari bunga deposito bank, apalagi risiko
investasi produk unggulan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan asuransi.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sebelumnya tidak mempertimbangkan risiko-
risiko yang ada pada produk unggulan tersebut secara tepat. Adapun audit kepatuhan
yang dilanggar oleh PT Asuransi Jiwasraya adalah mengenai bukti audit. Bukti audit
adalah informasi yang digunakan oleh auditor dalam mengambil kesimpulan yang
mendasari kesimpulan atau opini auditor. Dalam kasus ini, terjadi indikasi fraud pada
laporan keuangan tahun 2017. PT Asuransi Jiwasraya memalsukan laporan keuangan
perusahaan dibagian laba yang mencapai Rp 2,4 triliun, padahal laba sebenarnya
hanya sebesar Rp 328,44 miliar saja. Adanya fraud laporan keuangan ini diketahui
setelah dilakukannya audit oleh suatu KAP yang cukup terkenal.

KAP ini dinilai telah melanggar kode etik karena ikut andil dalam pelaporan
laporan keuangan yang salah. Auditor seharusnya objektif dan bersikap profesional.
Namun, KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Asuransi Jiwasraya justru
melakukan rekayasa laporan keuangan. Pada laporan keuangan PT Asuransi
Jiwasraya disajikan bahwa laporan keuangan tersebut disajikan dengan “opini dengan
modifikasi” tanpa penjelasan lebih lanjut apa jenis opini yang ditetapkan oleh auditor
dan penyebabnya.

Peran OJK dalam audit kepatuhan juga sangat penting. Otoritas adalah elemen
paling mendasar dari audit kepatuhan karena struktur dan konten otoritas melengkapi
kriteria audit dan oleh karena itu membentuk dasar bagaimana audit akan dilanjutkan

13
di bawah penraturan konstitusional tertentu, yang mencakup aturan, hukum, regulasi,
kebijakan, kode etik, serta persyaratan yang disepakati. Dalam kasus ini, OJK gagal
dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya untuk menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor
jasa keuangan serta melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa
keuangan.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

14
Audit kepatuhan pada PT Asuransi Jiwasraya tidak dilakukan dengan benar
sesuai peraturan yang berlaku. Terjadi kecurangan yang dilakukan oleh KAP yang
bersangkutan yang memberikan “opini dengan modifikasi” namun tidak dijelaskan
secara detail bentuk modifikasinya. Dalam kasus ini, OJK juga dinilai gagal
melaksanakan tanggung jawabnya untuk mengawasi kegiatan operasional perusahaan.

3.2. Saran
1. Perusahaan harus menetapkan tata kelola yang baik untuk meminimalisir risiko
agar kelangsungan hidup perusahaan berjalan dengan baik.
2. OJK harus melaksanakan fungsi pengawasannya lebih ketat agar kasus seperti ini
tidak terulang kembali.
3. Auditor seharusnya bersifat independen dan memperhatikan kode etik.

DAFTAR PUSTAKA

ISSAI 400

ISSAI 4100

15
ANGGUNGGUGAT KERUGIAN NASABAH ASURANSI TERHADAP KASUS
GAGAL BAYAR PRODUK ASURANSI UNIT LINK

Lorina Lorina

Jurnal Pro Hukum: Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik 8 (2), 325-
333, 2019

SIARAN PUBLIK ATAS PERMASALAHAN PT ASURANSI JIWASRAYA


(https://iapi.or.id/Iapi/detail/860)

Mehr, C. R. (2011). Fundamental of Insurance. Illinois: Irwin Inc.

16