Anda di halaman 1dari 4

10 Jul 2012

MAHABBAH DAN PENGERTIANNYA

Oleh: KHA SHOHIBULWAFA TAJUL ‘ARIFIN


abah anom by www.dokumenpemudatqn.com

(Pangersa Abah Anom Ra)

(Dari Status Ustadz Yefi Mieftah di Facebook Dokumen Pemuda TQN Suryalaya)

Dalam kesempatan sekarang ini kami akan mencoba menyampaikan materi pokok bahasan
Mahabbah/Cinta, mengandung maksud menyatakan rasa cinta kepada Al-Khaliq.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 165 ; artinya: “Orang-orang
yang beriman sangat mencintai Allah SWT”

Pengertian ayat tersebut diatas bahwa bukan berarti meniadakan cinta kepada makhluk, tetapi
cintanya itu terus terarah hingga menembus sampai kepada Al-Khaliq, dan bahwa cinta kepada
yang lain itu selalu dibawah naungan cinta kepada Allah Yang Maha Pencipta.

Seorang yang telah dikaruniai Allah rasa mahabbah kepada-NYA tentu juga akan mencintai dan
menyayangi kepada ciptaanNYA, antara lain cinta Tanah Air, sehingga segala keadaannya menjadi
terpelihara, teratur, terbina, tertib dan rapih sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya belum
tentu seseorang yang mencurahkan rasa cintanya kepada makhluk semata, akan bisa sampai
cintanya kepada Al-Khaliq.

Sesungguhnya mahabbah kepada Allah SWT adalah merupakan jembatan emas untuk mencapai
kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karena itu orang-orang mukmin yang muttaqin terus
berupaya untuk meningkatkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah SWT, dalam rangka
memperoleh kebahagiaan didunia dan di akhirat kelak.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 64:


Artinya : “Bagi merekalah segala kebahagiaan dalam penghidupan dunia dan akhirat”.

Kemudian firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 14:


Artinya: ”Manusia-manusia dihiasi rasa cinta serta keinginan diantaranya; cinta kepada istri,
kepada anak-anak dan kepada kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, juga kuda-
kuda yang bagus dan binatang ternak lainnya. Demikian juga kepada sawah dan ladang dan
kebun-kebun . Itulah kesenangan untuk hidup didunia. Dan kepada Allah itu sebaik-baik tempat
kembali”

Pengertian ayat tersebut diatas, ialah janganlah kalah kadar cintanya kepada Allah SWT, dari
cintanya kepada makhluk, sehingga Allah berfirman dalam ayat berikutnya dalam surat Al-Fajr
ayat 20:
Artinya:”Dan kamu itu hanya mencintai kepada kekayaan saja”

Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa semua (dunia dan akhirat) sebagai anugrah dari Allah
SWT, yang diperuntukkan bagi manusia, akan tetapi manusianya sendiri karena lemah imannya
sehingga terlibat hanya mencintai dunia. Oleh karena itu orang yang demikian diancam dalam Al-
Qur’an surat At-Taubat ayat 20:

1
Artinya: ”Katakanlah kepada mereka, jadi apabila Bapak-bapakmu, anak-anakmu, istri-istrimu,
keluargamu, harta bendamu yang kamu dapati, dan perniagaan yang kamu takut rugi dan tempat-
tempat tinggal (rumah) yang selalu kamu senangi melebihi cintamu kepada semuanya dari pada
cintanya kepada Allah SWT, dan Rosulnya, serta jihad/berjuang di jalan NYA. Maka tunggulah
olehmu sampai Allah SWT, mendatangkan azab-NYA, karena Allah SWT, tidak akan memberi
petunjuk kepada orang fasik (melewati batas)”.

Pengertian ayat tersebut ialah: bahwa kita harus mengupayakan agar cintanya kepada Allah SWT.
Jangan terkalahkan oleh cintanya kepada yang lain, yang mana Allah SWT member petunjuk
dalam firmanNYA agar umat manusia mengikuti jejak Nabi-NYA.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 30:


Artinya : ”Katakan oleh mu Muhammad, jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, hendaklah
ikuti Aku, niscaya Allah menyatakan kasih sayangNYA kepadamu, juga diampuni segala dosa-
dosamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Pengertian ayat tersebut diatas ialah bahwa kewajiban kita semua mengikuti (menteladani) jejak
langkah Nabi yang selalu menjadi panutan dan merupakan standar kita semua yang membawakan
dan menyampaikan wahyu Illahi kepada ummat seluruhnya oleh kita semua, sehingga akan
menyelamatkan di dunia dan di akhirat kelak.

Dan ajaran Al-Qur’an mencakup zahir bathin, sebagaimana sabda Nabi:


Artinya: ”Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir dan bathin”.

Kemudian sebagian isinya untuk mengatur Hablumminallah(hubungan dengan Allah) dan juga
mengatur Hablumminannaas(hubungan dengan sesame manusia) dengan segala cara-caranya.

Orang yang beriman yang mengikuti Nabinya, baik dalam mengatur Hablumminallah maupun
dalam mengatur Hablumminannas, memiliki rasa cinta/mahabbah kepada Allah, sebab rasa
cinta/mahabbah kepada Allah itu bisa menimbulkan dan menumbuhkan keinsafan ber-amal
ibadah dengan rasa ikhlas, baik itu melakukan amal ibadah wajib, seperti sholat lima waktu,
puasa, zakat dan lain-lain, maupun ibadah sunnat, demikian juga akan timbul semangat tolong
menolong dengan sesame manusia, seperti memberikan jariyah, sodaqoh dan amal ibadah
lainnya serta bakti sosial lainnya.

Untuk memiliki rasa cinta/mahabbah kepada Allah, Nabi Muhammad pernah menunjukkan
kepada Sayyidina Ali ra.

Artinya: ”Ciri – ciri cinta kepada Allah terlebih dahulu cinta dzikir kepadaNYA, dan sebaliknya, cirri-
ciri membangkang kepada Allah, enggan dzikir kepadaNYA”. Semoga kita semua termasuk insane
yang cinta dzikir kepada Allah agar senantiasa memperoleh rasa mahabbah/cinta kepadaNYA.

Jadi jelas dan yakin sekali bahwa dzikir itu adalah alat/jalan untuk mencapai mahabbah/cinta
kepada Allah; sedang cinta itu menempati diujung perasaan, oleh karena itu para Ulama Thoreqat
senantiasa menjeritkan hati memohon dan berdo’a kepada Allah agar dapat mahabbah
kepadaNYA. Dengan mengamalkan dzikir agar terarah dan terbina rasanya.

Adapun dalam mengamalkan dzikirnya ada yang menggunakan cara/thoreqat, diantaranya melaui
Thoreqat Qoodiriyah Naqsyabandiyyah, yang mengamalkan dzikirnya selain diucapkan dengan
bibirnya, juga diisikan didalam ingattannya, sehingga memperoleh kemantapan dan rasa meresap
kedalam latifah-latifahnya.

2
Latifah-latifah itu menurut Ulama Tassawuf adalah anggota manusia yang halus, artinya yang
tidak bisa diraba dan dilihat, banyaknya 7 sampai 10 macam, yang disebut oleh Imam Al-Ghazali,
HAKIKAT INSAN juga tempat jumpanya ma’rifat kepada Allah dan juga wadahnya NUR ILLAHI,
sehingga disitulah dianugrahi Mukasyafah dan Musyahadah.

Ulama Tasawwuf lainnya menjelaskan bahwa latifah itu adalah merupakan proses untuk
meningkatkan iman manusia. Uraian Latifah tersebut erat sekali hubungannya dengan hadist
Qudsi yang tertulis dalam makalah Bapak Prof. Dr. H.A.Sanusi.

Artinya: “Firman Allah, AKU jadikan pada anak Adam(manusia) itu ada istana, disitu ada dada,
didalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), didalamnya lagi ada fuad (jujur
ingatannya), didalamnya pula adasyagof (kerinduan),juga didalamnya ada lubbun (merasa terlalu
rindu), dan didalamnya ada sirrun (merasa mesra) didalam itulah ada AKU”

Kemudian diterangkan pula dalam hadist lainnya, yang erat hubungannya dengan hadist qudsi
tersebut diatas, sebagai berikut:

Artinya:”Manusia itu rasa KU, dan AKU dirasakan manusia”.

Uraian hadist tersebut menunjukkan bahwa manusia harus melakukan ibadah kepada Allah SWT,
dengan keadaan lurus dan terarah sehingga tembus dari mulai kulit sampai isi. Jadi bukan hanya
kulitnya saja yang disebut yang disebut sadrun/dada jasmani manusia semata, dan begitu juga
bukan hanya isinya saja yang disebut sirrun/rasa, tetapi kedua-duanya harus dihadapkan kepada
Allah SWT baik diwaktu Hablumminalloh maupun di waktu Hablumminannaas agar lebih lengkap
dan sempurna.

Sesuai dengan ucapan Ulama Tasawwuf Syekh Zainuddin bin Ali Al Malibari dalam kitabnya Al
Azkiya:

Artinya; ”Melakukan syari’at tanpa hakikat adalah kosong tidak berisi, sebaliknya melakukan
hakikat tanpa syri’at adalah bathal”

Demikian juga ucapan Imam Al Ghazali ; ”bahwa ilmunya pun harus lengkap”.

Artinya:” Siapa orang yang berfiqih saja tanpa tasawwuf adalah fasik, sebaliknya orang-orang
bertasawwuf tanpa fiqih adalah zindik, dan siapa orang yang berfiqih dan bertasawwuf maka
sesungguhnya adalah benar”.

Jadi untuk itu, demi kesempurnaan mengabdi kepada Allah SWT, agar kedua-duanya
dipergunakan sebagaimana mestinya.

Demikian seseorang Mukmin yang Muttaqien melaksanakan isi Al-Qur’an, sebagaimana sabda
Nabi:

Artinya: ” Sesungguhnya petunjuk Al-Qur’an itu meliputi zahir bathin”.

Sebagaimana diuraikan didalam hadist qudsi tersebut diatas, bahwa di dalam dada ada lima
rongga, yaitu Kalbu, Fuad, Syagof, Lubbun dan Sirrun, yang kesemuanya itu terus menerus
dilintasi oleh godaan syetan dan bujukan nafsu.

Oleh karena itu manusia yang mengharapkan kebahagian dan kesejahteraan lahir bathin harus
sanggup dan terus berusaha untuk membendung godaan-godaan syetan dan bujukan nafsu dalam

3
rangka mewujudkan dan mengokohkan ibadah kepada Allah SWT, pada khususnya dan beramal
baik dengan sesame manusia pada umumnya.

Dalam hal ini, didalam ilmu tasawwuf yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist harus
benar-benar menggunakan thoreqat atau metode, agar berhasil dengan baik dan tepat mengenai
sasaran, apakah itu yang diucapkan dan dilakukan(amalan badan jasmani), demikian juga yang
diingatkan yang dimulai dari qolbun sampai ketingkat sirrun (amalan badan ruhani).

Didalam rasa mesra itulah tempat wusulnya manusia kepada Allah, disitulah tempat rasa syukur
manusia atas nikmat yang diperoleh dari Allah Yang Maha Pengasih, disitu pulalah tempat
sabarnya manusia terhadap musibah dari Allah SWT.

Juga disitulah tempat rasa kasih sayang dan tolong menolong serta rasa maaf me maafkan dengan
sesama manusia, dan disitulah tempat rasa Mahabbah kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan
disitulah tempat terbukanya hijab antara abid dengan ma’bud dan disitu juga adanya rasa setia,
patuh dan rela mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan rela menjauhi apa-apa
yang dilarangnya(taqwa).

Jadi kesimpulannya bahwa eseorang Mukmin yang Muttaqien telah terisi rasa cintanya merembes
mengalir pada gerak kegiatannya, baik zahir maupun bathinnya selalu dipersembahkan serta
diserahkan sepenuhnya kepada Allah Jalla Jalaahu.

Hal ini sebagaimana sebuah ayat Allah yang selalu kit abaca setiap melaksanakan sholat fardlu
maupun sholat sunnat dalam do’a iftitah.

Artinya: ”Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidup dan kehidupanku, serta matiku, kami serahkan
semuanya kepada Allah SWT”.

Demikianlah sekedar uraian yang dapat kami sampaikan, semoga semua penjelesan-penjelasan ini
ada manfaatnya bagi kita semua. Aamiin.

by: Suryanto TQN

Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/07/mahabbah-dan-pengertiannya-oleh-


kha.html#ixzz2u1ozLfyi