Anda di halaman 1dari 5

Tugas Review Virtual Tour PT.

AJINOMOTO INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah Pemisahan Mekanik yang diampu oleh :
Qifni Yasa’ Ash S. ST., MT.

Disusun oleh :

Nabila Tasya Nuronia (2311191034)


Melida Rahmasari (2311191044)
Hanifah Helmi Wiguna (2311191050)
Mela Faradila (2311191052)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2021
Virtual tour PT. AJINOMOTO INDONESIA
Proses produksi ajinomoto
1. Proses pengolaha bahan baku dan tetes gula tebu
Ajinomoto terbuat dari tebu dan diambil tetes tebunya. Tetes tebu lalu diurai agar mudah
diserap oleh mikroorganisme.
2. Proses fermentasi asam glutamate
Mikroorganisme ditambah tetesan tebu menjadi asam glutamate. Proses ini sama seperti
proses pembuatan susu menjadi keju dan kedelai menjadi tempe.
3. Proses kristalisasi dan pemisahan
Asam glutamate dikristalisasi dengan natrium dan hasilnya akan dipisahkan dengan
cairannya. Kristal asam glutamate diolah menjadi monosodium glutamat yang mudah larut
dalam air.
Teknik filtrasi dalam pemisahan padatan dari cairannya digunakan dalam dua unit operasi
pada proses pembuatan MSG dari tetes tebu. Kedua unit operasi tersebut, yaitu sebagai
berikut:
a. Pemisahan enzim Porcine dari Bactosoytone
Proses pembiakan mikroba dalam pembuatan MSG dari tetes tebu
Sebelum digunakan untuk proses fermentasi, maka mikroba yang digunakan harus
dibiakkan terlebih dahulu di media terpisah. Mikroba yang dapat digunakan untuk
proses fermentasi campuran tetes pada pembuatan MSG, yaitu di antaranya Aspergillus
terrus, Micrococcus glutamicus, dan Corinobacterium glutamicum. Membiakkan
mikroba tersebut awalnya dengan inokulasi pada media slant (media agar padat), untuk
selanjutnya dipindahkan ke tangki seeding. Media pertumbuhan mikroba yang dapat
digunakan, contohnya, yaitu Bactosoytone yang dibuat tersendiri (oleh Difco Company
di AS), dengan cara hidrolisis-enzimatik dari protein kedelai (soyprotein). Dalam
bahasa yang sederhana, protein-kedelai dipecah dengan bantuan enzim sehingga
menghasilkan peptide rantai pendek (pepton) yang dinamakan Bactosoytone itu. Enzim
yang dipakai pada proses hidrolisis inilah yang disebut Porcine, dan enzim inilah yang
diisolasi dari pankreas-babi.
Setelah Bactosoytone terbentuk, selanjutkan dilakukan proses clarification untuk
memisahkan enzim Porcine dari Bactosoytone yang terjadi. Proses ini dilakukan
dengan cara pemanasan pada temperatur 160oF selama sekurang-kurangnya lima jam,
kemudian dilakukan filtrasi. Filtrasi tersebut akan memisahkan enzim Porcine dari
produk Bactosoytonenya. Filtrat yang sudah bersih ini kemudian diuapkan dan
Bactosoytone yang terjadi diambil.
b. Pemisahan asam glutamat dari sludge pada hasil fermentasi
Campuran tetes yang sudah melalui proses pretreatment dalam dilution tank (terjadi
pencampuran molasses, HDC (hasil decanter), beet molasses, H2SO4, dan air di
dalamnya), akan masuk ke dalam tangki settling. Di dalam tangki ini, akan terjadi
reaksi pengikatan Ca2+ yang merupakan impurities pada campuran tetes karena dapat
mengganggu proses kristalisasi MSG, oleh H2SO4 yang telah ditambahkan
sebelumnya. Setelah itu dibentuk sludge pada in line mixer. Pada proses ini
ditambahkan aronvis yang telah dilarutkan dengan air, dengan bantuan atau didorong
oleh udara. Aronvis merupakan bahan flokulan, untuk membentuk flok CaSO4 agar
terkumpul menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga proses pemisahan
dapat berlangsung lebih sempurna. Sludge akan mengendap sedangkan campuran tetes
berada diatas sludge. Campuran tetes yang telah terpisah dari sludge kemudian disebut
dengan cairan overflow. Cairan overflow yang telah terpisah dari sludge masuk dan
ditampung ke dalam tangki overflow sedangkan sludge masuk ke dalam tangki mixer-
1. Sisa-sisaflok dari cairan overflow dipisahkan dengan teknik filtrasi menggunakan
separator. Sisa-sisa flok yang telah terpisah membentuk sedimen dan kemudian masuk
ke tangki mixer-1 dan bercampur dengan sludge dari tangki thickener-1. Sementara itu,
cairan yang telah bersih dari sisa flok disebut HSP (hasil separator), dan mengandung
impurities (kotoran) kurang dari 1% dan siap untuk digunakan dalam proses fermentasi.
Di dalam proses fermentasi tersebut, akan dihasilkan asam glutamat yang kemudian
akan diolah lebih lanjut menjadi monosodium glutamat. Asam glutamat ini dipisahkan
salah satunya dengan teknik filtrasi
4. Proses filtrasi dan fermentasi
Monosodium glutamate dari proses sebelumnya masih dalam bentuk cair, monosodium
glutamate difiltrasi dengan bahan alamai filter karbon aktif yang akan dipisahkan dari zat
pengotornya. Media filter karbon aktif (Activated Carbon), Media filter karbon aktif salah satu
media yang digunakan untuk menjernihkan air dan menghilangkan bau. Karbon aktif atau sering
juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang
sangat besar.
Proses fermentasi terjadi karena adanya aktivitas bakteri yang menghasilkan asam
glutamat. PT. Ajinomoto Indonesia menggunakan spesies bakteri Brevibacterium
lactofermentum. Bakteri tersebut digunakan untuk memecah glukosa pada TCM menjadi
asam glutamat. Reaksi yang terjadi selama proses fermentasi adalah :

C6H12O6+NH3+3/2O2 B.Lactofermentum C5H9O4N +CO2+3H2O

Pada proses ini juga ditambahkan bahan pembantu fermantasi yaitu amonia (NH3) sebagai
sumber N pada media fermentasi dan juga berfungsi sebagai kontrol pH, H2PO4 sebagai
sumber phosphat (P) pada media, dan juga ditambahkan antifoam sebagai zat pemecah
buih yang dihasilkan pada proses fermentasi. Pada tahap ini juga dilakukan aerasi, yaitu
dengan mengalirkan oksigen ke dalam fermentor.
5. Proses pemanasan dan kristalisasi ke-2
6. Proses pengemasan dan proses pengeringan
Teknik drying untuk mengurangi kadar air, digunakan dalam dua unit operasi pada proses
pembuatan MSG dari tetes tebu. Kedua unit operasi tersebut, yaitu:
a. Pengambilan dan kristalisasi asam glutamate
Proses drying digunakan untuk mengambil asam glutamat hasil fermentasi. Setelah
fermentasi selesai dalam waktu ± 30-40 jam, cairan hasil fermentasi yaitu Original
Broth Glutamic Acid (OBGA) dipekatkan untuk mengurangi kadar airnya. Setelah itu
OBGA yang telah dipekatkan tersebut ditambahkan HCl untuk mencapai titik
isoelektrik pada pH ± 3,2. Selanjutnya, dilakukan netralisasi atau refining dengan
menambahkan NaOH. Selanjutnya, asam glutamat yang telah dinetralkan, dikristalkan
melalui proses kristalisasi.
Kristalisasi merupakan metode yang terpenting dalam purifikasi senyawa-senyawa
yang mempunyai berat molekul rendah (Mc Cabe, et al. 1994). Kristal murni asam
glutamat yang berasal dari proses pemurnian asam glutamat digunakan sebagai dasar
pembuatan MSG. Asam glutamat yang dipakai harus mempunyai kemurnian lebih dari
99 % sehingga bisa didapatkan MSG yang berkualitas baik. Kristal murni asam
glutamat dilarutkan dalam air sambil dinetralkan dengan NaOH atau dengan Na2CO3
pada pH 6,6-7,0 yang kemudian berubah menjadi MSG.
b. Pengeringan kristal monosodium glutamate
Kristal asam glutamat yang dihasilkan kemudian direaksikan dengan NaOH sehingga
terbentuk monosodium glutamat liquor. Larutan ini mempunyai derajat kekentalan 26
-28OBe, pada suhu 300OC, dengan konsentrasi MSG sebesar 55 gram/larutan
(Winarno, 1990). Dekolorisasi atau penjernihan warna terhadap liquor tersebut
dilakukan dengan menggunakan karbon aktif. Selanjutnya, dilakukan kristalisasi
monosodium glutamat yang akan menghasilkan kristal monosodium glutamat yang
masih mengandung liquor.
Pengeringan kristal monosodium glutamat dilakukan dengan menggunakan rotary
dryer. Dari proses pengeringan tersebut, didapatkan serbuk kristal monosodium
glutamat yang mempunyai kemurnian tinggi ± 99,7 %. Proses pengeringan tersebut
memiliki tiga tahap, yaitu pemisahan kristal MSG dari cairan dan pencuciannya,
pengeringan, dan pengayakan. Kristal MSG yang dihasilkan dari proses kristalisasi
dipisahkan dengan metode sentrifugasi dari cairannya. Filtrat hasil penyaringan
dikembalikan pada proses pemurnian dan kristal MSG yang dihasilkan setelah disaring
kemudian dikeringkan dengan udara panas dalam lorong pengeringan, setelah itu
diayak dengan ayakan bertingkat sehingga diperoleh 3 ukuran yaitu LLC (“Long Large
Crystal”), LC (“Long Crystal”), dan RC (“Regular Crystal”), sedangkan FC (“Fine
Crystal”) yang merupakan kristal kecil dikembalikan ke dalam proses sebagai umpan.
Hasil MSG yang telah diayak dalam bentuk kering kemudian dikemas dan disimpan
sementara dalam gudang sebelum digunakan untuk tujuan lainnya.
7. Proses bio-cycle
Produk-produk ajinomoto
1. Penyedap rasa ajinomoto
2. Masako
3. Sajiku
4. Saori
5. Mayumi

Anda mungkin juga menyukai