Anda di halaman 1dari 4

1.

Potentiometer

2. Piezoelectric

3. LVDT
LVDT (Linear Variabel differential Transformer) merupakan sensor yang
dapat membaca tekanan melalui pergeseran inti magnet. LVDT sendiri terdiri dari 2
komponen penting yaitu :
1. Kumparan
Di dalam sebuah sensor LVDT terdiri atas 3 kumparan, yaitu 1 buah kumparan
primer dan 2 buah kumparan sekunder. Digunakannya 2 buah kumparan sekunder
dimaksudkan agar perbedaan besar induksi yang di terima kedua kumparan
sekunder dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar perubahan posisi
batang inti magnet.
2. Core (batang inti magnet)

Prinsip kerja dari sensor LVDT sebagai berikut :

1. Terjadi perubahan tekanan dalam kantung yang akan mengakibatkan perubahan


posisi inti magnet
2. Perubahan tersebut akan mengakibatkan perubahan induksi magnetic pada
kumparan sekunder 1 dan 2
3. Dengan perubahan induksi magnetic tersebut menyebabkan keluaran atau output
dari kumparan 1 dan 2 akan menghasilkan tegangan induksi magnetic yang
besarnya sebanding dengan pergeseran inti magnet
4. Pergeseran inti magnet akan menimbulkan tegangan output pada kumparan yang
mendapat induksi dai inti magnet
Gambar 1. Sensor LVDT

4. Capacitive diaphragm
5. Pressure sensor
6. Prinsip kesetimbangan dan neraca
7. Menaksir gaya melalui massa jenis dan gaya apung
8. Strain gauge
Strain gauge adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur suatu deformasi
maupun strain. Adapun cara kerja dari alat ini sebagai berikut :
1. Jika tekanan yang terjadi pada benda mengalami perubahan, maka kawat logam
akan mengalami deformasi dan nilai tahanan pada alat pun akan berubah.
2. Perubahan pada tahanan selanjutnya akan dimasukkan ke dalam rangkaian listrik
berupa jembatan Wheatstone.
3. Setelah itu akan diketahui berapa besarnya tahanan pada strain gauge.
9. Load cell
Sensor load cell adalah jenis sensor beban yang banyak digunakan untuk mengubah
beban atau gaya menjadi perubahan tegangan listrik. Perubahan tegangan listrik
tergantung dari tekanan yang berasal dari pembebanan.
10. Memanfaatkan sensor tekanan sebagai pengukur gaya
11. Prony brake
Prony brake merupakan salah satu tipe dynamometer yang digunkan untuk mengukur
jumlah torsi yang ditimbulkan oleh mesin pada mobil. Pada prony brake ini
menggunakan prinsip fisika torsi dimana torsi dapat dihitung dari gesekan yang
diukur dari sabuk kulit saat mesin sedang bekerja. Ketika mesin telah mencapai batas
kerja maksimal, disarankan untuk mengencangkan tali dan meningkatkan gesekan.
Dengan membandingkan tarikan dari kedua sisi sabuk, torsi dapat dihitung.
12. Hydro brake/ Water brake
13. Torque sensor

14. Pengukuran temperature

15. Pengenalan jenis sensor temperature beserta prinsip kerjanya

1. Termostat (Thermostat)

Thermostat adalah jenis Sensor suhu Kontak (Contact Temperature Sensor) yang
menggunakan prinsip Electro-Mechanical. Thermostat pada dasarnya terdiri dari dua jenis
logam yang berbeda seperti Nikel, Tembaga, Tungsten atau aluminium. Dua Jenis Logam
tersebut kemudian ditempel sehingga membentuk Bi-Metallic strip. Bi-Metallic Strip tersebut
akan bengkok jika mendapatkan suhu tertentu sehingga bergerak memutuskan atau
menyambungkan sirkuit (ON/OFF).

Thermostat sering digunakan pada peralatan listrik seperti Oven, Seterika dan Water Heater.

Thermistor adalah komponen elektronika yang nilai resistansinya dipengaruhi oleh Suhu.
Thermistor yang merupakan singkatan dari Thermal Resistor ini pada dasarnya terdiri dari 2
jenis yaitu PTC (Positive Temperature Coefficient) yang nilai resistansinya akan meningkat
tinggi ketika suhunya tinggi dan NTC (Negative Temperature Coefficient) yang nilai
resistansinya menurun ketika suhunya meningkat tinggi.

2. Thermistor yang dapat mengubah energi listrik menjadi hambatan ini terbuat dari bahan
keramik semikonduktor seperti Kobalt, Mangan atau Nikel Oksida yang dilapisi dengan kaca.

Keuntungan dari Thermistor adalah sebagai berikut :

Memiliki Respon yang cepat atas perubahan suhu.

Lebih murah dibanding dengan Sensor Suhu jenis RTD (Resistive Temperature Detector).

Rentang atau Range nilai resistansi yang luas berkisar dari 2.000 Ohm hingga 10.000 Ohm.

Memiliki sensitivitas suhu yang tinggi.


Thermistor (PTC/NTC) banyak diaplikasikan kedalam peralatan Elektronika seperti Voltage
Regulator, sensor suhu kulkas, pendeteksi kebakaran, Sensor suhu pada Otomotif, Sensor
suhu pada Komputer, sensor untuk memantau pengisian ulang Baterai pada ponsel, kamera
dan Laptop.

3. Resistive Temperature Detector (RTD)

Resistive Temperature Detector atau disingkat dengan RTD memiliki fungsi yang sama
dengan Thermistor jenis PTC yaitu dapat mengubah energi listrik menjadi hambatan listrik
yang sebanding dengan perubahan suhu. Namun Resistive Temperature Detector (RTD) lebih
presisi dan memiliki keakurasian yang lebih tinggi jika dibanding dengan Thermistor PTC.
Resistive Temperature Detector pada umumnya terbuat dari bahan Platinum sehingga
disebut juga dengan Platinum Resistance Thermometer (PRT).

Keuntungan dari Resistive Temperature Detector (RTD)

- Rentang suhu yang luas yaitu dapat beroperasi di suhu -200⁰C hingga +650⁰C.

- Lebih linier jika dibanding dengan Thermistor dan Thermocouple.

- Lebih presisi, akurasi dan stabil

4. Thermocouple (Termokopel)

Thermocouple adalah salah satu jenis sensor suhu yang paling sering digunakan, hal ini
dikarenakan rentang suhu operasional Thermocouple yang luas yaitu berkisar -200°C hingga
lebih dari 2000°C dengan harga yang relatif rendah. Thermocouple pada dasarnya adalah
sensor suhu Thermo-Electric yang terdiri dari dua persimpangan (junction) logam yang
berbeda. Salah satu Logam di Thermocouple dijaga di suhu yang tetap (konstan) yang
berfungsi sebagai junction referensi sedangkan satunya lagi dikenakan suhu panas yang akan
dideteksi. Dengan adanya perbedaan suhu di dua persimpangan tersebut, rangkaian akan
menghasilkan tegangan listrik tertentu yang nilainya sebanding dengan suhu sumber panas.