Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN

FISTEL PERINATAL

Laporan Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas keperawatan anak

PEMBIMBING:

Tety Mulyati Arofi, S.Kep, Ns., M. Kep.

Di susun oleh :

Nama : Irene Dantyas Larasati

Nim : 19032

AKADEMI KEPERAWATAN YASPEN JAKARTA

Jalan Batas II No.54 RT 11 RW 09 Kel. Baru, Kec. Pasar Rebo, Jakarta


Timur

TAHUN AJARAN 2020/2021


A. Pengertian

Fistula ani berbentuk seperti saluran yang menyerupai tabung dan panjangnya


dimulai dari saluran anus (dubur) hingga ke kulit sekitar lubang anus. Kondisi ini bisa
dipicu oleh berbagai penyakit, seperti tuberkulosis, penyakit Crohn, kanker, atau penyakit
menular seksual. Abses perianal adalah kondisi di mana rongga rektum terisi dengan
nanah dan nanah tersebut muncul di sekitar anus. Rektum adalah bagian terakhir dari usus
besar di mana tinja disimpan sebelum dikeluarkan melalui anus. Ketika rektum dan
kelenjar lendir dubur terinfeksi, maka akan terbentuk lubang-lubang kecil pada rongga
rektum dam terisi dengan nanah. Rongga yang diisi dengan nanah ini disebut abses dan
jika mereka muncul di sekitar anus, mereka akan menyebabkan abses perianal. Fistula
adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel. Fistula ani adalah fistula
yang menghubungkan antara kanalis anal ke kulit di sekitar anus (ataupun ke organ lain
seperti ke vagina).  Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang fistula, dan
dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun kotoran saat buang air besar.
Terdapat berbagai jenis fistula, mulai dari yang simple hingga fistula kompleks yang
bercabang cabang dan melibatkan otot sphincter ani (otot yang mengatur proses defekasi).

Fistula ani sering terjadi pada laki laki berumur 20 – 40 tahun, berkisar 1-3 kasus tiap
10.000 orang. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses
menjadi fistula). Sekitar 40% pasien dengan abses akan terbentuk fistula.

Mayoritas penyakit supurativ anorektal terjadi karena infeksi dari kelenjar anus
(cyptoglandular). Kelenjar ini terdapat di dalam ruang intersphinteric. Diawali kelenjar
anus terinfeksi, sebuah abses kecil terbentuk di daerah intersfincter. Abses ini kemudian
membengkak dan fibrosis, termasuk di bagian luar kelenjar anus di garis kripte.
Ketidakmampuan abses untuk keluar dari kelenjar tersebut akan mengakibatkan proses pe-
radangan yang meluas sampai perineum, anus atau seluruhnya, yang akhirnya
membentuk abses perianal dan kemudian menjadi fistula.

Fistula ani juga dapat terjadi pada pasien dengan kondisi inflamasi berkepanjangan pada
usus, seperti pada Irritable Bowel Syndrome (IBS), diverticulitis, colitis ulseratif, dan
penyakit crohn, kanker rectum, tuberculosis usus, HIV-AIDS, dan infeksi lain pada daerah
ano-rektal.
Sebagian besar fistula ani memerlukan operasi karena fistula ani jarang sembuh spontan.
Setelah operasi risiko kekambuhan fistula termasuk cukup tinggi yaitu sekitar 21% (satu
dari lima pasien dengan fistula post operasi akan mengalami kekambuhan).

B. PATOFISIOLOGI

Patofisiologi fistula ani terjadi akibat abses perianal yang secara sengaja atau
spontan pecah, menyisakan ruang kosong. Ruang sisa abses dapat menetap membentuk
kista atau fistula antara kanalis anal dengan kulit perianal. Fistula ani sering terjadi di
kripta anus. Fistula ani dimulai dari sekresi kelenjar ani yang mengalir masuk ke kripta
anus dan keluar melalui kanalis anus. Apabila kelenjar-kelenjar tersebut tersumbat, maka
terjadi statis dan infeksi pada kripta anus.

Fistula ani sering ditemukan pada pasien dengan  inflammatory bowel


disease, termasuk penyakit Crohn, divertikulitis di samping usus besar, benda asing di
daerah anus yang menyebabkan respon inflamasi, sifilis, tuberkulosis, pajanan radiasi,
dan penyakit HIV.
Fistula ani diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan sfingter anal, yaitu:

1. Fistula interspfingterik, terletak di linea dentata atau intersphincteric space, sampai ke


kulit perianal
2. Fistula transfingterik rendah, yaitu fistula yang melewati sepertiga bawah sfingter anus
eksternus kemudian membentuk saluran sampai kulit perianal

3. Fistula transfingterik tinggi, yaitu fistula yang melewati sepertiga atau dua pertiga atas
sfingter anus eksternal kemudian membentuk saluran sampai ke kulit perianal

4. Fistula suprasfingterik, yaitu fistula yang melewati kripta anus dan membentuk saluran
yang melingkar di sepanjang sfingter dan berakhir di fossa ischioanal

5. Fistula ekstrasfingterik, yaitu fistula yang berawal dari kanalis anal bagian atas dan
membentuk saluran di sepanjang lingkaran sfingter kemudian berakhir di kulit perianal

 
C. ETIOLOGI

Etiologi fistula ani belum diketahui secara jelas, tetapi biasanya diawali oleh
infeksi anorektal. Beberapa mikroba yang menjadi etiologi abses anorektal
adalah Bacteroides fragilis, Peptostreptococcus, Prevotella, Fusobacterium,
Porphyromonas, Clostridium, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Abses
perianal dapat menyebabkan adanya ruang kosong yang menetap, membentuk kista atau
fistula antara kanalis analis dengan kulit perianal.

Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian fistula ani, yaitu:

1. Riwayat penyakit kronis, seperti penyakit Crohn, tuberkulosis, HIV, diabetes mellitus,


hiperlipidemia, dan dermatosis
2. Trauma, yaitu trauma obstetrik atau saat proses persalinan

3. Benda asing pada daerah kanalis anal

4. Konstipasi yang menyebabkan trauma kanalis anal


5. Faktor gaya hidup, seperti riwayat merokok dan konsumsi alkohol, terlalu lama duduk
di toilet ketika buang air besar, jarang berolahraga atau gaya hidup sedentary. Kebiasaan
ini berhubungan dengan kondisi overweight dan peningkatan risiko penyakit pada anus,
seperti hemoroid dan fistula ani
6. Diet tinggi garam yang dapat meningkatkan kecenderungan respon inflamasi dalam
kondisi infeksi

D. DIAGNOSIS
Diagnosis fistula ani ditegakkan melalui anamnesis adanya discharge perianal,
nyeri, atau perdarahan pada daerah kulit sekitar anus. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan adanya orificium eksternal atau sinus yang terbuka di sekitar anus.
Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu diagnosis fistula ani adalah
pemeriksaan anoskopi, fistulografi, ultrasonografi endoanal atau endorectal, MRI
perianal, dan anal manometri.
Anamnesis
Keluhan pasien dapat karena adanya discharge perianal, atau nyeri, perdarahan, luka,
dan edema pada daerah kulit sekitar anus. Biasanya disertai riwayat nyeri, bengkak,
dan drainase secara sengaja maupun spontan dari abses perianalsebelumnya.

Untuk mendiagnosis fistula ani, dokter akan menanyakan gejala yang dialami serta
riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada
anus dan area di sekitarnya.

Dokter akan memeriksa tanda iritasi pada anus dan area sekitarnya, melihat apakah
ada lubang kecil di dekat bukaan anus yang mengeluarkan nanah ketika ditekan, serta
melakukan pemeriksaan colok dubur untuk memastikan adanya fistula ani.

Sebagian fistula bisa terdeteksi hanya lewat pemeriksaan fisik, tetapi sebagian lainnya
tidak memperlihatkan tanda-tanda di permukaan kulit sehingga memerlukan
pemeriksaan lanjutan.

Berikut adalah beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk


memastikan diagnosis fistula ani:

 Proktoskopi, yaitu pemeriksaan dengan alat khusus dengan lampu di ujungnya, untuk
melihat kondisi di dalam anus
 Fistula probe, yaitu pemeriksaan dengan alat dan pewarna khusus, untuk mengetahui
lokasi saluran fistula dan abses
 Anoskopi, yaitu pemeriksaan dengan alat khusus berupa spekulum anus, untuk
melihat kondisi di dalam saluran anus
 Kolonoskopi yaitu pemeriksaan dengan selang berkamera yang dimasukkan melalui
anus untuk melihat kondisi usus besar serta penyebab fistula ani

E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan fistula ani biasanya membutuhkan tindakan bedah. Prosedur bedah
bertujuan untuk memperbaiki fistula ani atau memotong orificium fistula. Pilihan
tindakan operasi ditentukan jenis fistula ani.
Fistulotomi
Fistulotomi merupakan teknik yang paling sering dilakukan untuk menangani fistula
ani, yaitu sebesar 85-95% dari pasien fistula ani.  Fistulotomi dilakukan dengan cara
memasukkan probe ke dalam orificium eksternal dan dilakukan pemotongan dengan
pisau atau elektrokauter untuk memisahkan kulit, jaringan subkutan, dan otot sfingter
internal. Fistulotomi merupakan tata laksana standard untuk fistula ani submukosal
karena memiliki risiko rendah terjadinya rekurensi.

Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik, antipiretik serta


profilaksis antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren.

Terapi pembedahan:

 Fistulotomi: Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit,


dibiarkan terbuka, sembuh per sekundam intentionem. Dianjurkan sedapat
mungkin dilakukan fistulotomi.
 Fistulektomi:Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk
menyembuhkan fistula. Terapi terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya
terbuka.
 Seton: benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. Terdapat dua macam
Seton, cutting Seton, dimana benang Seton ditarik secara gradual untuk
memotong otot sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana benang Seton
ditinggalkan supaya terbentuk granulasi dan benang akan ditolak oleh tubuh dan
terlepas sendiri setelah beberapa bulan.
 Advancement Flap: Menutup lubang dengan dinding usus, tetapi
keberhasilannya tidak terlalu besar.
 Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke dalam
saluran fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh.
Penggunaan fibrin glue memang tampak menarik karena sederhana, tidak sakit,
dan aman, namun keberhasilan  jangka panjangnya tidak tinggi, hanya 16%.
F. MANIFESTASI KLINIS
Tanda Dan Gejala
Gejala Fistula Ani

Berikut adalah sejumlah gejala yang dapat muncul akibat fistula ani:

 Nyeri pada area anus yang semakin parah saat duduk, bergerak, buang air besar, atau
batuk
 Iritasi kulit di sekitar anus, seperti bengkak, perubahan warna kulit menjadi
kemerahan, dan gatal
 Keluar darah saat buang air besar
 Keluar nanah berbau busuk dari kulit dekat bukaan anus
 Demam, meriang, dan merasa kelelahan
 Kesulitan mengontrol keluarnya feses

G. KOMPLIKASI
Komplikasi pada fistula ani umumnya terjadi pada periode pasca operasi.
Komplikasi ini bisa berupa retensi urine, perdarahan hebat atau keluarnya cairan dari
lokasi fistulotomi, pembentukan bekuan darah di dalam wasir, dan impaksi tinja.
Tak cuma itu saja, komplikasi lain yang umumnya dapat timbul setelah prosedur
operasi, seperti stenosis anus, inkontinensia usus, dan penyembuhan luka yang
tertunda (tidak sembuh selama lebih dari 12 minggu).
Pada dasarnya semua operasi membawa risiko infeksi ketika sayatan dibuat ke dalam
kulit, termasuk prosedur fistulektomi (prosedur bedah pada saluran fistula). Dalam
beberapa teknik bedah fistula, prosedur ini mungkin harus diselesaikan dalam
beberapa tahap.
Nah, dalam kasus seperti itu, infeksi pada saluran fistula dapat menyebar ke seluruh
tubuh dan menyebabkan infeksi sistemik. Sehingga, antibiotik sering diperlukan
untuk mengobati infeksi yang terkait dengan operasi fistula.

H. PATHWAY
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang
1. Fistulografi : Injeksi kontras melalui pembukaan internal, diikuti dengan
anteroposterior, lateral dan gambaran X-ray oblik untuk melihat jalur fistula.
2. Ultrasound endoanal / endorektal: Menggunakan transduser 7 atau 10 MHz ke
dalam kanalis ani untuk membantu melihat differensiasi muskulus
intersfingter dari lesi transfingter. Transduser water-filled ballon membantu
evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi suprasfingter.
3. MRI: MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks, untuk
memperbaiki rekurensi.
4. CT- Scan: CT Scan umumnya diperlukan pada pasien dengan penyakit crohn
atau irritable bowel syndrome yang memerlukan evaluasi perluasan daerah
inflamasi. Pada umumnya memerlukan administrasi kontras oral dan rektal.
5. Barium Enema: untuk fistula multiple, dan dapat mendeteksi penyakit
inflamasi usus.
6. Anal Manometri: evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada
pasien tertentu seperti pada pasien dengan fistula karena trauma persalinan,
atau pada fistula kompleks berulang yang mengenai sphincter ani.

J. KLASIFIKASI
Klasifikasi
Selain fistula simple, Parks membagi fistula ani menjadi 4 type:
1. Intersphinteric fistula
Berawal dalam ruang di antara muskulus sfingter eksterna dan interna dan
bermuara berdekatan dengan lubang anus.
2. Transphinteric fistula
Berawal dalam ruang di antara muskulus sfingter eksterna dan interna,
kemudian melewati muskulus sfingter eksterna dan bermuara sepanjang satu
atau dua inchi di luar lubang anus, membentuk huruf ‘U’ dalam tubuh, dengan
lubang eksternal berada di kedua belah lubang anus (fistula horseshoe).
3. Suprasphinteric fistula
Berawal dari ruangan diantara m. sfingter eksterna, dan interna dan membelah
ke atas muskulus pubrektalis lalu turun di antara puborektal dan m.levator ani
lalu muncul satu atau dua inchi di luar anus.
4. Ekstrasphinteric fistula
Berawal dari rektum atau colon sigmoid dan memanjang ke bawah, melewati
muskulus levator ani dan berakhir di sekitar anus. Fistula ini biasa disebabkan
oleh abses appendiceal, abses diverticular, atau Crohn’s Disease.
K. ASUHAN KEPERAWATAN
4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum Umumnya penderita datang dengan keadaan sakit dan gelisah
atau cemas akibat adanya bisul pada daerah anus.
b. Tanda-Tanda Vital Tekanan darah normal, nadi cepat, suhu meningkat dan
pernafasan meningkat.
c. Pemeriksaan Kepala Dan Leher
1) Kepala Dan Rambut Pemeriksaan meliputi bentuk kepala, penyebaran dan
perubahan warna rambut serta pemeriksaan tentang luka. Jika ada luka pada daerah
tersebut, menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan kulit.
2) Mata Meliputi kesimetrisan, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya dan
gangguan penglihatan.
3) Hidung Meliputi pemeriksaan mukosa hidung, kebersihan, tidak timbul pernafasan
cuping hidung, tidak ada sekret.
4) Mulut Catat keadaan adanya sianosis atau bibir kering.
5) Telinga Catat bentuk gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan
serumen. Pada penderita yang bed rest dengan posisi miring maka,
kemungkinan akan terjadi ulkus didaerah daun telinga.
6) Leher Mengetahui posisi trakea, denyut nadi karotis, ada tidaknya pembesaran
vena jugularis dan kelenjar linfe.
d. Pemeriksaan Dada Dan Thorax Inspeksi bentuk thorax dan ekspansi paru,
auskultasi irama pernafasan, vokal premitus, adanya suara tambahan, bunyi
jantung, dan bunyi jantung tambahan, perkusi thorax untuk mencari ketidak
normalan pada daerah thorax.
e. Abdomen Bentuk perut datar atau flat, bising usus mengalami penurunan
karena immobilisasi, ada masa karena konstipasi, dan perkusi abdomen hypersonor
jika dispensi abdomen atau tegang.
f. Urogenital Inspeksi adanya kelainan pada perinium. Biasanya klien dengan
fistula ani yang baru di operasi terpasang kateter untuk buang air kecil.
g. Muskuloskeletal Adanya fraktur pada tulang akan menyebabkan klien bedrest
dalam waktu lama, sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.
h. Pemeriksaan Neurologi Tingkat kesadaran dikaji dengan sistem GCS. Nilainya
bisa menurun bila terjadi nyeri hebat (syok neurogenik) dan panas atau demam
tinggi, mual muntah, dan kaku kuduk.
i. Pemeriksaan Kulit : Inspeksi kulit Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit
termasuk membran mukosa, kulit kepala, rambut dan kuku. Tampilan kulit yang
perlu dikaji yaitu warna, suhu, kelembaban, kekeringan, tekstur kulit (kasar atau
halus), lesi, vaskularitas. Yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu :
1) Warna, dipengaruhi oleh aliran darah, oksigenasi, suhu badan dan produksi
pigmen. Lesi yang dibagi dua yaitu :
 Lesi primer, yang terjadi karena adanya perubahan pada salah satu komponen
kulit.
 Lesi sekunder adalah lesi yang muncul setelah adanya lesi primer.
Gambaran lesi yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu warna, bentuk,
lokasi dan kofigurasinya.

2) Edema Selama inspeksi kulit, perawat mencatat lokasi, distribusi dan warna dari
daerah edema.

3) Kelembaban Normalnya, kelembaban meningkat karena peningkatan aktivitas atau


suhu lingkungan yang tinggi kulit kering dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti lingkungan kering atau lembab yang tidak cocok, intake cairan yang
inadekuat.

4) Integritas Yang harus diperhatikan yaitu lokasi, bentuk, warna, distribusi,


apakah ada drainase atau infeksi.

5) Kebersihan kulit

6) Vaskularisasi Perdarahan dari pembuluh darah menghasilkan petechie dan


echimosis.

7) Palpasi kulit Yang perlu diperhatikan yaitu lesi pada kulit, kelembaban, suhu,
tekstur atau elastisitas, turgor kulit.
Data Fokus ( kemungkinan ditemukan DO & DS )
DO: ekspresi wajah tampak meringis saat tidur terlentang. Kulit tampak
kemerahan dan ada luka operasi yang terpasang handscoen drain.

DS: pasien mengatakan ada bisul di daerah dubur dan terasa nyeri

C. ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN .


Pre operasi:
1. Nyeri pada daerah perianal berhubungan dengan adanya luka pada perianal.
2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka yang mungkin
terkontaminasi.
3. Kecemasan berhubungan dengan physiologi faktor akibat proses peradangan.
4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan tindakan yang akan
didapatnya.
Post operasi :
1. Nyeri area operasi berhubungan dengan adanya eksisi luka operasi.
2. Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan efek anestesi, pemasukan
cairan yang tidak adekuat.
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan risiko prosedur invasive, luka yang
mungkin terkontaminasi.

INTERVENSI 1. Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada perianal Tujuan:


Nyeri berkurang sampai hilang Kriteria hasil: klien menunjukkan toleransi terhadap
nyeri, klien mengungkapkan nyeri berkurang.
Intervensi: Kaji frekuensi dan intensitas nyeri dengan skala 1 – 10. Rasional:
perubahan karakteristik nyeri mengidikasikan adanya perkembangan kearah
komplikasi.
 Perhatikan tanda-tanda nonverbal seperti; takut bergerak, kegelisahan.
Rasional: bahasa tubuh/perilaku nonverbal dapat digunakan sebagai data yang
menunjukkan adanya rasa nyeri/tak nyaman.
 Kaji faktor-faktor yang mengganggu atau meningkatkan nyeri. Rasional:
keadaan stress dapat meningkatkan rasa nyeri.
 Berikan posisi yang nyaman (telungkup, miring), aktivitas pengalihan
perhatian Rasional: meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan
koping.
 Bersihkan area rectal dengan sabun yang lembut dan air sesudah bab dan
rawat kulit dengan salf, petroleum jelly. Rasional: menjaga kulit sekitar rektal
dari asam isi perut, menjaga exoriasi.
 Berikan rendaman duduk. Rasional: menjaga kebersihan dan memberikan rasa
nyaman.
 Observasi area perianal fistel. Rasional: fistula mungkin berkembang dari
erosi dan kelemahan dari dinding intestinal.
 Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik. Rasional: Analgetik
membantu mengurangi nyeri.
INTERVNSI 2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka
yang mungkin terkontaminasi. Tujuan: infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil:
tanda vital dalam batas normal (peningkatan suhu tidak terjadi), leukosit
normal Rencana tindakan:Kaji area luka, catat adanya penambahan luas luka,
karakteristik cairan yang keluar dari luka. Rasional: adanya pus
mengindikasikan adanya infeksi
 Monitor tanda-tanda vital, peningkatan suhu tubuh. Rasional: peningkatan
suhu mengindikasikan adanya proses infeksi.
 Rawat luka dengan prinsip aseptik.
Rasional: luka pada klien adalah luka kotor, prinsip aseptik mencegah terjadinya
infeksi tambahan.
 Berikan diet yang adekuat. Rasional: klien membutuhkan nutrisi yang cukup
untuk penyembuhan lukanya.
 Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Rasional: antibiotik membantu
menghambat terjadinya infeksi.
INTERVENSI 3. Kecemasan berhubungan dengan faktor fisiologi akibat
proses peradangan. Tujuan: kecemasan berkurang Kriteria hasil : ekspresi
wajah klien tenang, mengungkapkan kesadarannya akan perasaan cemasnya.
Intervensi
 Bina hubungan saling percaya. Rasional: hubungan saling percaya merupakan
dasar dari komunikasi therapeutic.
 Perhatikan perubahan perilaku klien, kegelisahan, tak ada kontak mata,
tampak kurang tidur. Rasional: indikator peningkatan stress/kecemasan.
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya, berikan feedback.
Rasional: membina hubungan therapeutik.
 Dengarkan ungkapan klien dengan empati. Rasional: dengan menunjukkan
sikap empati, diharapkan akan membantu mengurangi kecemasan klien.
 Berikan informasi yang akurat. Rasional: dengan memberikan informasi
yang akurat akan membantu menurunkan tingkat kecemasan.
 Ciptakan ketenangan dan lingkungan yang nyaman. Rasional: membantu
meningkatkan relaxasi, mengurangi kecemasan.
 Kolaborasi untuk pemberian sedativa, seperti barbiturat, anti anxietas seperti
diazepam
Rasional: sedativa/anti anxietas membantu mengurangi kecemasan dan
membantu istirahat.
INTERVENSI 4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis
dan tindakan yang akan didapatnya berhubungan dengan kurangnya
informasi. Tujuan: Pengetahuan pasien bertambah Kriteria hasil: Klien
mampu mengungkapkan tentang proses penyakit dan penanggulangannya.
Berpartisipasi dalam penatalaksanaan regimen. Intervensi
 Kaji persepsi klien tentang proses penyakitnya. Rasional: menentukan tingkat
pengetahuan klien dan kebutuhan informasi yang diperlukan.
 Ulangi penjelasan tentang proses penyakit, penyebab, tanda dan gejala
penyakit serta penanggulangannya. Rasional: dengan memberikan penjelasan
yang memadai klien tahu proses penyakit dan tindakan yang akan didapatnya,
sehingga klien dapat menerima tindakan yang didapatnya.
 Tekankan pentingnya menjaga kebersihan kulit, seperti : tehnik cuci tangan
yang baik dan perawatan kulit perianal. Rasional: mengurangi penyebaran
bakteri dan resiko iritasi kulit dan infeksi.

Post Operasi 1. Nyeri pada area operasi berhubungan dengan adanya eksisi
luka operasi. Tujuan: nyeri berkurang atau terkontrol Kriteria hasil: ekspresi
wajah klien rileks, cukup istirahat, mengungkapkan nyeri berkurang /dapat
ditahan. Intervensi:
 Kaji lokasi, intensitas nyeri dengan skala 0 – 10, faktor yang mempengaruhi.
Perhatikan tanda-tanda nonverbal. Rasional: membantu menentukan
intervensi selanjutnya.
 Monitor tanda-tanda vital Rasional: perubahan tanda-tanda vital,
peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan bisa diakibatkan karena
nyeri.
 Kaji area luka operasi, adanya edema, hematoma atau inflamasi. Rasional:
pembengkakan, inflamasi dapat menyebabkan meningkatnya nyeri.
 Berikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang tenang, ajarkan tehnik
relaksasi, pengalihan perhatian. Rasional: membantu mengurangi dan
mengontrol rasa nyeri.
 Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgesik. Rasional: analgesik
membantu mengurangi nyeri.
Post operasi 2. Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan
dengan efek anestesi, pemasukan cairan yang tidak adekuat. Tujuan: pola
eliminasi kembali berfungsi normal. Intervensi:
 Auskultasi bising usus. Rasional: adanya suara bising usus yang
abnormal, merupakan tanda adanya komplikasi.
 Anjurkan makanan/minuman yang tidak mengiritasi. Rasional: menurunkan
resiko iritasi mukosa.
 Kolaborasi medik untuk pemberian glyserin suppositoria. Rasional:
membantu melunakkan feses.
Post operasi 3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur
invasive, luka yang mungkin terkontaminasi. Tujuan: tidak terjadi infeksi,
luka sembuh tanpa komplikasi. Intervensi:
 Kaji area luka operasi, observasi luka, karakteristik drainage, adanya
inflamasi. Rasional: penambahan infeksi dapat mengambat proses
penyembuhan.
 Monitor tanda-tanda vital, temperatur, respirasi, nadi. Rasional:
peningkatan temperatur, pernapasan, nadi merupakan indikasi adanya
proses infeksi.
 Rawat area luka dengan prinsip aseptik. Jaga balutan kering. Rasional:
menjaga pasien dari infeksi silang selama penggantian balutan.
 Kolaborasi untuk pemeriksaan cultur dari sekret/drainage, kedua dari
tengah dan pinggir luka. Rasional: dengan mengetahui adanya
organisme akan menentukan pemberian antibiotik.
 Berikan antibiotik sesuai pesan medik. Rasional: antibiotik mencegah
dan melawan infeksi.
 Bila perlu lakukan irigasi luka. Rasional: irigasi luka dengan
antiseptik baik untuk melawan infeksi

Anda mungkin juga menyukai