Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
PERCOBAAN 6
DISPERSI KOLODIAL DAN SIFAT-SIFATNYA

Oleh :
Nama : Nindya Priswa
No.Mhs : M3519045
Hari/Tanggal Praktikum : Jum’at , 10 April 2020
Kelompok : 3A
Asisten Pembimbing : Adistyara Nur Faizah (M0616001)

PROGRAM STUDI D3 FARMASI


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
FARMASI FISIKA
PERCOBAAN 6
DISPERSI KOLODIAL DAN SIFAT-SIFATNYA

I. Tujuan
Dapat mengenal dan memahami sifat-sifat larutan kolodial
II. Dasar Teori
Koloid liofilik adalah partikel koloid yang suka dengan pelarutnya, maka
partikel koloidnya banyak berinteraksi dengan medium dispersi. Karena afinitasnya
terhadap medium dispersi ,maka bahan-bahan tersebut relatif mudah membentuk
dispersi koloid.jadi kolodial liofilik biasanya hanya diperoleh dengan melarutkan bahan
dalam pelarut yang digunakan. Koloidal liofobik adalah partikel yang benci pelarutnya,
maka partikel koloidnya mempunyai daya tarik menarik kecil terhadap medium dispers
sehingga selimut pelarut disekitar partikel tidak terbentuk. (Martin, 2008).
Partikel koloid dengan ukuran antara 10 dan 1000 nm dikenal sebagai
nanopartikel. Partikel ini dibuat dari polimer sintetis/alam dan ideal untuk
mengoptimalkan penghantaran obat dan mengurangi toksisitas. Selama bertahun-tahun
nanopartikel telah muncul sebagai variasi pengganti untuk liposom sebagai pembawa
obat. Keberhasilan penggunaan nanopartikel untuk penghantaran obat tergantung pada
kemampuan nanopartikel untuk menembus membran, pelepasan kandungan zat aktif
dan stabilitas nanopartikel dalam ukuran nanometer (Amalia, 2015).
Koagulasi adalah proses penambahan koagulan pada air baku yang
menyebabkan terjadinya destabilisasi dari partikel koloid agar terjadi agregasi dari
partikel yang telah terdestabilisasi tersebut. Dengan penambahan koagulan, kestabilan
koloid dapat dihancurkan sehingga partikel koloid dapat menggumpal [1] dan
membentuk partikel dengan ukuran yang lebih besar, sehingga dapat dihilangkan pada
unit sedimentasi. Terdapat 4 mekanisme destabilisasi partikel, yaitu (i) pemampatan
lapisan ganda, (ii) adsorpsi untuk netralisasi muatan, (iii) penjebakan partikel dengan
koagulan, serta (iv) adsorpsi dan pembentukan jembatan antar partikel melalui
penambahan polimer. (Rachmawati dkk.,2009).
Koloid merupakan suatu campuran berfase dua, yaitu: fase pendispersi dan fase
terdis-persi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 1 nm sampai dengan 100
nm. ( Asmara, 2015).
Koloid adalah sistem dispersi. Sistem dispersi atau sistem sebaran adalah suatu
sistem yang menunjukkan bahwa suatu zat terbagi halus dalam zat lain.Zat yang terbagi
atau didispersikan disebut sebagai fase terdispersi.Dispersi halus atau koloid
merupakan sistem dua fase yang ketercampurannya berada diantara homogen dan
heterogen , agak keruh serta memiliki diameter partikel 10−7cm (Sumardjo,2006).

III. Alat dan Bahan


A.Alat
1. Gelas Beker ( 2 buah )
2. Kertas Perkamen ( 4 buah )
3. Mortir dan stamfer ( 1 buah )
4. Labu ukur 100 mL ( 1 buah )
5. Labu ukur 10 mL ( 1 buah )
6. Labu ukur 50 mL ( 1 buah )
7. Cawan Porselin ( 3 buah )
8. Timbangan Analitik ( 1 buah )
9. Gelas Ukur ( 1 buah )
10. Penangas ( 1 buah )
11. Kompor listrik ( 1 buah )
12. Tabung Reaksi ( 3 buah )
13. Batang pengaduk ( 1 buah )
14. Stopwatch ( 1 buah )

B. Bahan
1. Pulvis Gummi Arabicum (PGA) ( 10 gram )
2. Argentum Proteinatum ( 0,5 gram )
4. FeCl ( 0,75 gram )
3. Gelatin ( 0,75 gram )
IV. Cara Kerja
1. Pembuatan mucilago gom arab 20% sebanyak 10 gram

Gom arab 10 gram


Ditimbang, dimasukan , dihaluskan

Mortir

Dimasukkan sedikit demi sedikit

Aquadest

Diaduk ad homogen

Larutan

Dimasukkan, ad air sampai tanda batas

Labu ukur 50 mL

Diaduk ad homogen

Mucilago Gom Arab

2. Pembuatan larutan 0,5 gram Argentum Proteinatum sebanyak 10 mL

AgNO3 0,5 gram

Ditimbang, dimasukkan

Labu ukur 10 mL

Ditambah air ad tanda batas

Aquadest

Dihomogenkan

Larutan AgNO3 5%

3. Pembuatan Larutan 0,25 gram dan 0,50 gram FeCl dalam 100 mL air mendidih

FeCl3 0,25 gram dan 0,50 gram

Masing-masing dimasukkan

Mortir

Ditambahkan sedikit demi sedikit


Air mendidih

Dimasukkan,

Labu ukur 100 mL

Ditambahkan sampai tanda batas

Sisa air mendidih

Dihomogenkan

Larutan FeCl3 0,25 % dan 0,5 %

4. Pembuatan Larutan 0,5 % dan 1 % gelatin


Gelatin 0,25 gram dan 0,5 gram

Masing-masing dimasukkan, dihaluskan

Mortir

Ditambahkan sedikit demi sedikit

Aquadest

Dimasukkan,

Labu ukur 50 mL

Ditambahkan sampai tanda batas

Sisa air

Dihomogenkan

Gelatin 0,5 % dan 1 %

5. Viskositas Koloid

Mucilago Gom Arab dan Gelatin 0,5 % dan 1%

Masing-masing dimasukkan

Tabung reaksi

dimiringkan 45º, selama 15 detik

Larutan
Ditegakkan kembali,dihitung

Waktu alir

5. Pengaruh elektrolit terhadap koloid (1)

10 mL MGA, 4 mL AgNO3 , 10 mL FeCl3 0,25% dan


0,5% dan 10 mL Gelatin 0,5% dan 1%

Ditambahkan hingga terbentuk endapan

Kelipatan 2 mL 25% NaCl

Dicatat

Volume penambahan

6. Pengaruh elektrolit terhadap koloid (2)

20 mL 0,5% FeCl3

Ditambah

5 mL 1% gelatin

Ditambah hingaa terbentuk endapan

Kelipatan 2 mL 25% NaCl

Dicatat

Volume penambahan

7. Pengaruh alkohol terhadap koloid

10 mL larutan 0,5% dan 1% gelatin


Ditambah hingga terbentuk endapan

Kelipatan 2 mL alkohol 96%

Dicatat

Volume penambahan
8. Reversibilitas Koloid

10 mL MGA, 10 mL AgNO3 dan 10 mL FeCl 0,25%


dan 0,5%

Masing-masing dimasukkan

Cawan porselin

Diuapkan, hingga kering

Larutan kering

Ditambahkan

10 mL air dingin

Diamati

Hasil

V. Data Hasil
A. Pembuatan Larutan Koloidal
No Koloid Metode Pembuatan Koloid
(dispersi/kondensasi)
1. PGA 20% Dispersi
2. AgNO3 5% Kondensasi
3. FeCl3 0,25% Kondensasi
4. FeCl3 0,5% Kondensasi
5. Gelatin 0,5% Dispersi
6. Gelatin 1% Dispersi

B. Viskositas Koloid
No Koloid Waktu alir
1. PGA 20% 46 menit
2. Gelatin 0,5% 5 detik
3. Gelatin 1% 3 detik

C. Pengaruh Elektrolit Terhadap Koloid


No Koloid V NaCl yang dipakai
1. PGA 20% 24 mL
2. AgNO3 5% 2 mL
3. FeCl3 0,25% 8 mL
4. FeCl3 0,5% 16 mL
5. Gelatin 0,5% 6 mL
6. Gelatin 1% 12 mL
7. FeCl3 0,5% + Gelatin 1% 18 mL
D. Pengaruh Alkohol terhadap Koloid
No Koloid V Alkohol 96% yang dipakai
1. Gelatin 0,5% 28 mL
2. Gelatin 1% 12 mL

E.Reversibilitas Koloid
No Koloid Perubahan Sifat Koloid
(Reversible/Irreversible)
1. PGA 20% Larutan kering
Reversible (Kembali
bercampur dengan
seperti semula )
aquadest
2. AgNO3 5% Larutan kering
Reversible (Kembali
bercampur dengan
seperti semula )
aquadest
3. FeCl3 0,25% Larutan kering tidak
Ireversible (Tidak
bercampur dengan
kembali seperti semula )
aquadest
4. FeCl3 0,5% Larutan kering tidak
Ireversible (Tidak
bercampur dengan
kembali seperti semula)
aquadest

VI. Pembahasan
Percobaan 6 yang berjudul dispersi koloidal dan sifat-sifatnya ini bertujuan
untuk dapat mengenal dan memahami sifat-sifat larutan.Dilakukannya praktikum ini
utuk mengetahui viskositas koloid, stabilitas koloid terhadap larutan elektrolit (NaCl)
,untuk mengetahui stabilitas koloid dengan alkohol dan untuk mengetahui
reversibilitas koloid. Pengertian dari koloid yakni suatu campuran zat heterogen (dua
fase) antara dua zat atau lebih dimana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase
terdispersi) tersebar secara merata di dalam zat lain (fase pendispersi). Ukuran partikel
koloid antara 1-100 nm ( Asmara, 2015). Berdasarkan ukuran zat yang didispersikan
makasistem dispersi dibedakan menjadi tiga kelompok yakni dispersi kasar (suspensi)
dimana partikel-partikel zat yang terdispersi berukuran lebih besar dari 100 nm, yang
kedua adalah dispersi halus (koloid) yang partikel-partikel zatnya terdispersi antara 1-
100 nm, dan yang terakhir adalah dispersi molekuler (larutan sejati) yakni bila
partikel-partikel zat yang terdispersi lebih kecil dari 1 nm.
Koloid memiliki sifat-sifat diantaranya yakni Gerak brown yang merupakan
gerak tidak beraturan atau gerak zig-zag partikel koloid karena adanya benturan tidak
teratur, efek Tyndall merupakan efek penghampuran cahaya oleh partikel koloid,
adsorbpsi merupakan penyerapan pada permukaan partikel koloid oleh adanya gaya
adhesi zat-zat asing, elektroforesis merupakan pergerakan partikel koloid dibawah
pengaruh medan listrik, dan koagulasi adalah peristiwa pengendapan partikel-partikel
koloid sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya.
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa sampel yakni Mucilago Gummi
Arabici 20% , AgNO3 5% , FeCl3 0,25% dan 0,50 % dan gliserin 0,5% dan 1%.
Metode pembuatan koloid sendiri ada dua yakni metode kondensasi dan metode
dispersi. Metode kondensasi yakni cara pembuatan koloid dengan cara mengubah
partikel-partikelnya (atom,ion,molekul) menjadi partikel besar seukuran partikel
koloid. Metode kondensasi ini dapat dilakukan dengan penurunan kelarutan dan cara
kimia (reaksi redoks, reaksi hidrolisis, reaksi substitusi dan reaksi penggaraman).
Sedangkan metode yang kedua yakni metode dispersi adalah cara pembuatan larutan
koloid dengan mengubah partikel-pertikel kasar menjadi partikel koloid.Metode
dispersi dapat dilakukan dengan cara kimia atau mekanik.
Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium pendispersinya
dibagi menjadi dua macam yakni koloid liofilik dan koloid liofobik. Koloid liofilik
merupakan koloid yang senang cairan atau koloid yang yang akan mengadsorbsi
molekul cairan sehingga terbentuk selubung atau cincin pelindung pada partikel
tersebut. Ciri-ciri dari koloid ini diantaranya, dapat dibuat langsung dengan
mencampurkan fase terdispersi dengan medium pendispersinya, mempunyai muatan
yang kecil,tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit, reversible dan
memberikan efek Tyndall yang lemah. Sedangkan koloid liofobik adalah koloid yang
benci cairan atau koloid yang partikelnya tidak mengadsorpsi molekul cairan. Ciri-
ciri dari koloid liofobik diantaranya, tidak dapat dibuat jika hanya dengan
mencampurkan fase terdispersi dengan medium pendispersinya, memiliki muatan
positif/negatif , mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit, irreversible dan
memberikan efek Tyndall yang jelas.
Pada sampel Mucilago Gummi Arabici dan glelatin digunakan metode dispersi
dengan menggerus serbuk terlebih dahulu hingga halus kemudian cukup
mencampurnya dengan air sehingga terbentuk koloid. Sedangkan pada sampel AgNO3
dan FeCl3 digunakan metode kondensasi. Dimana pada sampel FeCl3 dengan cara
menghidrolisis FeCl3 dengan air panas sehingga terbentuk larutan Fe(OH)3 yang
merupakan koloid, reaksinya sebagai berikut: FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3 (koloid)
+ 3HCl(aq) . Kemudian pada sampel AgNO3 digunakan metode kondensasi dengan
reaksi dekomposisi rangkap. Dimana larutan AgNO3 dicampurkan dengan larutan
HCl encer sehingga terbentuk AgCl yang merupakan koloid, reaksinya sebagai
berikut : AgNO3(ag) + HCl(aq) → AgCl (koloid) + HNO3(aq) .
Pada penentuan viskositas koloid bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar
zat koloid yang akan mempengaruhi kekentalan suatu zat yakni dengan cara
memiringkan larutan yang telah dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian
meneggakkannya kembali dan dihitung waktu alirnya sampai garis batas yang
ditentukan.Sampel yang digunakan adalah PGA dan gliserin. Sesuai data yang
diperoleh pada percobaan ini yakni waktu alir pada PGA 20% 46 menit, gliserin 0,5%
5 detik dan 1% 3 detik, semakin lambat waktu alir menunjukkan bahwa viskositas
semakin meningkat. Karena semakin bertambahnya kadar zat maka jumlah partikel -
partikel zat terdispersi pun semakin banyak sehingga kekentalannya (viskositas)
meningkat.
Kemudian pada penentuan stabilitas koloid dengan penambahan larutan
elektrolit digunakan larutan NaCl 25% yang bertujuan untuk memecah ikatan partikel
dan membentuk koagulasi (pengendapan). Pengendapan ini terjadi karena fase
terdispersi terlepas dari fase pendispersinya. Sampel yang digunakan adalah 10 mL
PGA, 4 mL AgNO3, 10 mL FeCl3 0,25% ,FeCl3 0,5% ,10 mL gelatin 0,5% gelatin 1%
dan campuran 20 mL FeCl3 dengan 5 mL gelatin. masing-masing kemudian
ditambahkan kelipatan 2 mL NaCl 25% hingga terbentuk endapan. Sesuai dengan data
yang diperoleh bahwa FeCl dan AgNO3 memerlukan penambahan NaCl 25% lebih
sedikit daripada larutan yang lain hal ini menunjukkan bahwa larutan koloid tersebut
bersifat liofobik karena tidak terdapatnya cincin pelindung sehingga mudah berikatan
dengan ion-ion larutan elektrolit. Sedang pada PGA , gelatin dan campuran gelatin
dengan FeCl3 termasuk larutan koloid yang bersifat liofilik karena terdapat cincin
pelindung sehingga partikelnya sulit berikatan dengan larutan elektrolit.
Selanjutnya pada penentuan pengaruh alkohol terhadap koloid dilakukan
dengan menggunakan alkohol 96%. Penambahan alkohol ini berfungsi sebagai
perusak kestabilan koloid dengan cara menarik air pada koloid sehingga semakin
mengental dan terdapat endapan. Pada percobaan ini menggunakan sampel gelatin
0,5% yang membutuhkan 28 mL alkohol 96% untuk mengendap dan sampel gelatin
1% yang membutuhkan 12 mL alkohol 96% untuk mengendap. Sesuai dengan data
tersebut semakin tinggi kadar koloid maka semakin tinggi juga alkohol yang
dibutuhkan, karena semakin sedikit pula air yang ditarik oleh alkohol sehingga
alkohol yang dibutuhkan pun juga sedikit , begitu juga sebaliknya.
Yang terakhir adalah pengujian reversibilitas koloid dengan menggunakan
sampel masing-masing 10 mL PGA, AgNO3, FeCl3 0,25% ,FeCl3 0,5% kemudian
menguapkannnya hingga kering dan menambahkan 10 mL air dingin setelah masing
masing larutan kering. Jika larutan kembali tercampur berarti menunjukkan sifat
reversible (liofilik) dan apabila sebaliknya irreversible (liofobik). Sesuai dengan data
, menunjukkan bahwa larutan koloid FeCl3 menujukkan bahwa tidak dapat bercampur
dengan aquadest karena FeCl3 merupakan liofobik sedangkan PGA dan AgNO3 dapat
bercampur kembali dengan aquadest (liofilik), namun pada sampel AgNO3 tidak
sesuai dengan teori karena seharusnya bersifat liofobik, hal ini dikarenakan kesalahan
praktikan saat melakukan praktikum.
Penerapan sifat-sifat koloid dalam kehidupan sehari-hari diantaranya yakni
pada proses pengolahan air bersih yakni didasarkan pada sifat koloid yaitu koagulasi
dan adsorpsi, pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah
pembentukan kristal besar es atau gula, partikel-partikel karbon dalam tinta dilindungi
dengan larutan gom, pada bidang farmasi pembuatan minyak ikan, penisilin untuk
suntikan, salep dan krim.

VII. Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari praktikum kali ini, bahwa dispersi larutan koloidal ada
yang bersifat liofilik dan liofobik. PGA dan gelatin merupakan koloid liofilik yang
memiliki ciri reversible sedangkan AgNO3 dan FeCl3 merupakan koloid liofobik yang
memiliki ciri irreversible. Semakin bertambahnya kadar zat maka jumlah partikel -
partikel zat terdispersi pun semakin banyak sehingga kekentalannya (viskositas)
meningkat. Dan yang terakhir, semakin tinggi kadar koloid maka semakin tinggi juga
alkohol yang dibutuhkan, karena semakin sedikit pula air yang ditarik oleh alkohol
sehingga alkohol yang dibutuhkan pun juga sedikit , begitu juga sebaliknya.
VIII. Daftar Pustaka

Amalia,A., Jufri,M., Anwar,E. 2015. Preparasi dan Karakterisasi Sediaan Solid Lipid
Nanoparticle (SLN) Gliklazid. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 13(1):
108-114.
Asmara,A.P. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Audio Visual
Tentang Pembuatan Koloid. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA. 15(2): 156-178.
Martin, A., James, S dan Arthur C. 2008. Farmasi Fisik .Edisi III. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Rachmawati S.W., Iswanto,B., Winarni. 2009. Pengaruh Ph Pada Proses Koagulasi
Dengan Koagulan Aluminum Sulfat dan Ferri Klorida. Jurnal Teknologi
Lingkungan. 5(2) : 40-45.
Sumardjo D. 2006. Pengantar Kimia . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

IX. Lampiran
1. Jurnal

Mengetahui, Surakarta. 15 April 2020


Asisten Praktikum, Praktikan,

( Adistyara Nur Faizah) ( Nindya Priswa )


IX.2 LAMPIRAN JURNAL

Anda mungkin juga menyukai