Anda di halaman 1dari 53

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PROVINSI SULAWESI TENGAH

SPESIFIKASI TEKNIS DAN


METODE PELAKSANAAN
REHABILITASI GEDUNG KANTOR
SMKN 1 AMPANA
T.A 2021

CONSULTANT PERENCANA :
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 1

SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN


PEKERJAAN :
REHABILITASI GEDUNG KANTOR SMKN 1 AMPANA
KABUPATEN TOJO UNA-UNA
TAHUN ANGGARAN
2021

1. PEKERJAAN PENDAHULUAN

1.1. Uraian Umum

1.1. Pekerjaan yang harus dilaksanakan adalah Pekerjaan Rehabilitasi Gedung


Kantor SMKN 1 Ampana.
1.2. Untuk Pelaksanaan tersebut Pemborong hendaknya
- Tenaga kerja, tenaga ahli yang memadai sepadan dengan jenis dan
lingkup pekerjaan.
- Bahan, alat kerja dan segala keperluan yang berhubungan dengan
pelaksanaan pembuatan pembangunan.
1.3. Pekerjaan harus dilaksanakan sesuai ketentuan yang tertera dalam uraian
kerja dan syarat-syarat, gambar bestek dan detail, gambar konstruksi serta
keputusan Direksi.
1.4. Konstruksi pembuatan bangunan bersifat permanen, struktur bangunan terdiri
dari :
- Pondasi ; Batu gunung/batu belah
- Lantai : Keramik
- Rangka : Cor Beton Bertulang
- Dinding : Pasangan Batu Bata/diplester.
1.2. Persyaratan Umum
1 Lokasi Kegiatan/Proyek
Lokasi Pekerjaan Pembangunan SMKN 1 Ampana terletak di Kabupaten
Tojo Una-Una, sebagai mana dalam gambar site plan.

2 Penggunaan Persyaratan Teknis


a). Persyaratan Teknis ini merupakan Pedoman dalam pelaksanaan-
pelaksanaan pekerjaan (yang disebut sebagai kegiatan) termasuk seluruh
konstruksi dan pekerjaan-pekerjaan lainnya sebagai suatu kesatuan yang
tidak terpisahkan.
b). Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam Persyaratan Teknis ini
berlaku untuk seluruh konstruksi yang termasuk dalam pekerjaan kegiatan
ini, disesuaikan dengan gambar-gambar, keterangan-keterangan tambahan
tertulis dan perintah-perintah Direksi/Pengawas.
c). Semua pekerjaan yang ditentukan dalam Dokumen ini mengacu dan harus
mengikuti persyaratan dan Standard Nasional Indonesia (SNI), Standard
konsep Standard Normalisasi Indonesia (SK SNI), serta Peraturan-peraturan
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 2

Nasional dan Internasional lain yang ada hubungannya dengan pekerjaan


ini.
d). Standard-standard utama yang dipakai adalah standard-standard yang
dibuat dan berlaku resmi di negara ini, apabila tidak terdapat standard
yang dapat diberlakukan terhadap pekerjaan tersebut, maka harus
digunakan Standard Internasional yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan
tersebut atau setidak-tidaknya standard dari negara produsen bahan
yang menyangkut pekerjaan tersebut yang diberlakukan.
e). Gambar denah, potongan-potongan dinyatakan dalam gambar rencana
dan dijelaskan pula dalam gambar detail lengkap dengan ukurannya. Dan
apabila terdapat ketidak jelasan dalam ukuran pada gambar, maka
Pemborong wajib meminta penjelasan dan petunjuk kepada
Direksi/Pengawas Teknik sebelum pekerjaan dilaksanakan
1.3. Peraturan yang berlaku
Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan ketentuan-ketentuan peraturan
seperti yang tercantum dibawah ini :
1. Undang-Undang Republiki Indonesia No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi.
2. Undang-Undang Republiki Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung.
3. Peraturan Presiden RI Nomor 70 Tahun 2012 tentang tentang Pengadaan
Barang/ Jasa Pemerintah
4. Keputusan Presiden RI. Nomor 42 Tahun 2002
a. Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah RI Nomor :
339/KPTS/M/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi
Pemerintah.
b. Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah RI. No. :
332/KPTS/M/2002 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara
c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007,
Direktorat Penataan bangunan dan Lingkungan Tanggal 27
Desember 2007
d. Algemene voorwearden voor de uitvoering bij aaneming van openbare
warken, yang disahkan dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia
Belanda nomor 28 tanggal 9 Mei 1941 dan tambahan lembaran Negara
nomor 14571 (khusus pasal-pasal yang masih berlaku).
e. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971
f. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 1977
g. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) tahun 1961
h. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
i. Peraturan yang dilakukan oleh Dewan Normalisasi Indonesia :
N-1.3. : Peraturan Umum untuk pemeriksaan bahan bahan
bangunan dan pelaksanaan pembangunan di Indonesia
(PUBB) 1956
N-1.4. : Peraturan Cat Indonesia
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 3

N-1.6. : Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia (PUIL) 1977


dan International Electrotechnical Commission (IEC)
N-1.8. : Peraturan Cement Portland
N-1.10. : Peraturan Bata Merah sebagai bahan bangunan
N-1.143-53. : Pengawetan kayu untuk bangunan rumah dan gedung
j. Untuk bahan bahan yang tidak dan belum ada peraturannya di Indonesia
dipakai syarat-syarat yang ditentukan oleh pabrik bahan bahan tersebut
k. undang-undang dan peraturan – peraturan pemerintah umumnya dan
pemerintah daerah khususnya yang berlaku untuk pelaksanaan pekerjaan
pemborongan.
l. Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK SNI T-15-1991-03
m. Peraturan Umum Bahan bangunan Indonesia (PUBI) 1982
n. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PPKI-N.1.5/1961 )
o. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia ( PPBBI - 1983 )
p. Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan tertulis yang diberikan
pengawas pekerjaan untuk mencapai tujuan pembangunan
q. Apabila ternyata terdapat revisi terakhir dari peraturan-peraturan
tersebut diatas, maka revisi terakhir yang menjadi acuan dalam
pelaksanaannya. Demikian pula apabila bertentangan dengan Spesifikasi
Teknik ini maka yang berlaku adalah instruksi/keputusan Direksi
Pengawas.

1.4. Ketentuan khusus


Untuk melaksanakan pekerjaan ini berlaku dan mengikat pada :
a. Gambar bestek yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang sudah disahkan
oleh Pengguna Barang Jasa dan unsur teknis termasuk juga gambar - gambar
detail yang dibuat sudah disahkan/disetujui Pengawas lapangan.
b. Spesikasi Teknis.
c. Peraturan/ketentuan lain yang dikeluarkan oleh lnstansi Pemerintah setempat,
yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan pemerintah.

1.5. Kualitas Bahan dan Pekerjaan


Kualitas Bahan dan Pekerjaan harus memberikan penampilan dan kesan yang
rapi dan baik. Untuk itu tenaga kerja yang digunakan harus berpengalaman
dibidangnya, terampil dan cakap.
Apabila diperintahkan oleh Direksi Pengawas, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
harus membuat pembukaan/pembongkaran pada pekerjaan dan/atau bahan agar
dapat diadakan pemeriksaan.
Apabila dalam pemeriksaan itu Direksi Pengawas menemukan kesalahan,
kerusakan atau cacat-cacat lain, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus segera
membongkar dan memperbaikinya sampai pada kondisi yang sesuai dengan
spesifikasi ini, dan harus memikul biaya yang diperlukan untuk
pembukaan/pembongkaran pemeriksaan dan perbaikan tersebut.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 4

1.6. Pemeriksaan Pekerjaan dan Pengamanan


1.6.1. Peralatan Pelaksanaan
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengadakan dan menyiapkan
semua peralatan pelaksanaan yang diperlukan dalam jumlah yang cukup dan
kondisi yang baik dan siap pakai, agar terjamin adanya kualitas pekerjaan
yang baik dan memenuhi persyaratan dan laju pekerjaan yang memadai,
hingga seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu yang tepat seperti
ditentukan dalam pelelangan.
Apabila ternyata peralatan yang digunakan menurut pendapat Direksi
Pengawas tidak efisien pengoprasiannya atau tidak sesuai kegunaannya atau
jumlahnya kurang, hingga mutu pekerjaan yang dihasilkan tidak sesuai
dengan persyaratan atau laju pekerjaannya tidak memadai, Direksi Pengawas
berhak memerintahkan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana untuk mengganti
atau menambah peralatan dan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
mentaatinya.
Kegagalan Direksi dalam perintahnya pada Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana, tidak membebaskan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana dari
tanggung jawabnya atau pemenuhan kualitas pekerjaan dan laju pekerjaan
seperti yang diuraikan dalam Dokumen Kontrak.

1.6.2. Perlindungan terhadap Bangunan dan Utilitas


Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab atas perlindungan
terhadap semua bangunan dan utilitas yang ada disekitar pembangunan, baik
milik pribadi maupun milik negara/masyarakat termasuk semua sarana dan
prasarananya, baik yang tertera dalam gambar maupun tidak.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengambil langka-langka yang
dianggap perlu untuk melindungi bangunan dari utilitas tersebut dari segala
macam kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kegiatan-kegiatan
pelaksanaan oleh Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus diperbaiki oleh
dan atas beban biaya Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana, sesuai dengan
kondisi sebelumnya.
Dalam hal terjadi kerusakan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
segera memberitahu pemilik bangunan dan utilitas agar diperoleh
kesepakatan tentang perbaikannya.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab untuk memperoleh
informasi semua bangunan dan utilitas yang terletak didalam tanah.
Prasarana yang ada disekitar dan diperlukan oleh bangunan dan utilitas
harus dijaga agar tetap berfungsi.
Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pelaksanaan oleh Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana harus diperbaiki oleh dan atas beban biaya
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana sesuai dengan kondisi sebelumnya.

1.6.3. Penjagaan dan Pemeliharaan


Untuk pekerjaan yang sudah selesai, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 5

bertanggung jawab atas penjagaan, perlindungan dan pemeliharaan terhadap


pekerjaan-pekerjaan atau bagian-bagian pekerjaan yang telah selesai seperti
permukaan bagian dalam/luar, perlengkapan peralatan dan lain-lainnya dari
segala macam bentuk noda/kotoran, kerusakan dan cacat-cacat lainnya
selama masa Kontrak berlangsung sampai pada saat pekerjaan diserahkan
untuk pertama kalinya kepada pemilik.
Persyaratan dan ketentuan khusus dibawah ini harus dianggap sebagai
standar kondisi akhir pekerjaan pada saat penyerahan pertama.

a. Halaman Bangunan
Setelah pekerjaan selesai, kecuali apabila Direksi berpendapat lain,
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mernbongkar semua
bangunan sementara, peralatan pelaksaan, mesin-mesin, kelebihan
bahan, puing-puing dan kotoran-kotoran lain dari halaman bangunan.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membuang bahan-bahan zat-
zat organik yang berada didalam, bawah dan sekitar bangunan dan
melakukan desinfektan terhadap dan bekas-bekasnya. Halaman
bangunan harus diserahkan dalam kondisi yang rapi dan memuaskan.
b. Permukaan Beton, Pasangan dan Logam
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membersihkan secara cermat
semua permukaan beton, pasangan dan logam serta ceceran adukan,
noda-noda bekas bocoran pada beton bekas-bekas bekisting, cat dan
lain-lain.

c. Kaca
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki/mengganti,
apabila perlu mencuci, menggosok, secara cermat semua permukaan
kaca, dan membersihkan/menghilangkan ceceran cat dan goresan.
Ruang antara pada bingkai dengan kaca rangkap harus benar-benar
bersih dari sisa-sisa serutan, serbuk gergaji dan segala macam bentuk
kotoran lain.

d. Permukaan Cat, Email dan Politur


Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membersihkan semua
permukaan dari semua tanda-tanda, noda, goresan, bekas jari dan
kotoran lain.

e. Permukaan Lantai
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyingkirkan semua
lapis/penutup pelindung sementara dan membersihkan dari semua noda-
noda dan apabila dianggap perlu oleh Direksi, diberikan lapisan lilin lantai
(wax) dan digosok.

f. Permukaan Dinding
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membersihkan dinding dari
semua noda, ceceran cat dan kotoran-kotoran lain.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 6

g. Perlengkapan Listrik
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membersihkan dan
menggosok permukaan peralatan-peralatan logam, perlengkapan
penerangan dan papan-papan pemasangan kabel dari ceceran cat, debu
dan kotoran-kotoran lain. Terlebih lagi pada komponen-komponen yang
tergantung.

h. Permukaan Atap
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membuang dan
membersihkan puing-puing, ceceran paku dan semua kotoran lain dari
permukaan atap.
1.7. Pemeriksaan, Penyediaan Bahan dan Barang
Bila dalam rencana kerja dan syarat disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari
suatu bahan dan barang, maka hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahan
dan barang yang digunakan setiap penggantian nama bahan dan pabrik
pembuatan dari suatu bahan dan barang harus disetujui oleh perencana dan bila
tidak ditentukan dalam rencana kerja dan syarat serta gambar kerja, maka bahan
dan barang tersebut diusahakan dan disediakan oleh Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana yang harus mendapat persetujuan dari Pengguna Barang Jasa. Contoh
bahan dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus disediakan atas
biaya Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana, setelah disetujui pemberi tugas atau
direksi, dan dianggap bahwa bahan dan barang tersebut yang akan dipakai dalam
pelaksanaan pekerjaan nanti. Contoh bahan dan barang tersebut, disimpan oleh
Direksi Pengawas atau Pengguna Barang Jasa untuk dijadikan dasar penolakan
bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai kualitas maupun
sifatnya.
Dalam pengajuan harga penawaran, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
sudah memasukan jumlah keperluan biaya untuk pengajuan berbagai bahan dan
barang. Tanpa mengingat jumlah tersebut Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
tetap bertanggung jawab pula atas baiya pengujian bahan dan barang yang tidak
memenuhi persyaratan yang dibuat oleh Pengguna Barang Jasa/Direksi
Pengawas.

1.8. Persyaratan-persyaratan lain yang harus dipenuhi


1.8.1. Catatan dan Laporan
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus selalu menjaga kelengkapan
dan ketetapan catatan yang sesuai dengan pelaksanaan dan memperoleh
persetujuan Direksi. Semua catatan yang berhubungan dengan pekerjaan
selalu harus disiapkan untuk Direksi. Dan satu set
copy gambar lengkap dan spesifikasi harus selalu tersimpan dilapangan
pekerjaan. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana juga harus membuat buku
tamu yang akan melaporkan tentang keperluan tamu Pembangunan
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 7

1.8.2. Gambar sesuai Pelaksanaan (As Built Drawings)


Semua yang belum terdapat dalam gambar kerja baik karena
penyimpangan, perubahan atas perintah Pengguna Barang Jasa/Direksi
Pengawas maka pelaksana harus membuat gambar- gambar yang sesuai
dengan apa yang telah dilaksanakan yang jelas memperlihatkan
perbedaan-perbedaan antara gambar kerja dan pekerjaan yang
dilaksanakan. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga),
semua biaya pembuatan ditanggung oleh Pelaksana/Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana.

1.8.3. Foto-foto Mengenai Kemajuan Pekerjaan


Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengambil foto lapangan
sebelum pekerjaan dimulai, saat akan mengajukan tagihan rutin atas
pekerjaan yang telah dilaksanakan dan pada tahap akhir. Foto-foto ini
hendaknya dicetak berwarna dengan 2 (dua) copy dan diserahkan dari
waktu ke waktu kepada Direksi dalam bentuk album.
1.8.4. Keamanan Pembangunan
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menjaga keamanan
Pembangunan, untuk memberikan perlindungan dan pengamanan atas
semua bahan, perlengkapan, peralatan dan pekerjaan yang ada didalam
batas-batas areal Pembangunan dan sekitarnya yang menjadi tanggung
jawabnya, terhadap semua bentuk kerusakan, gangguan atau kerugian
yang dilakukan oleh orang-orang atau pihak-pihak tidak berwenang.
Untuk mempermudah pelaksanaan pengamanan, Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana harus membuat gudang penyimpan bahan, perlengkapan dan
peralatan sesuai dengan petunjuk Direksi. Untuk pengawasan dan
penjagaan keamanan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
menyiapkan dan menyediakan satuan pengamanan yang memadai dan
harus melakukan penjagaan terus menerus selama 24 jam setiap hari.
1.8.5. Keselamatan Kerja/Keamanan (K3)
a. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengikuti peraturan
Kputusan Menteri Tenaga Kerja, menyediakan Peti obat-obatan dan
lain-lain yang diperlukan untuk P3K.
b. Peti obat dan peralatan kecelakaan harus dapat dipakai semua pihak
yang mememerlukan dilapangan.
c. Peti obat harus senantiasa lengkap selama masa pelaksanaan
pekerjaan.
d. Lokasi Pekerjaan harus mendapat pengamanan yang cukup baik dari
pencurian, kebakaran dan lain-lain yang dianggap berbahaya dari keluar
masuknya orang yang tidak berkepentingan.
e. Harus disediakan alat-alat pemadam kebakaran atau bak-bak pasir dan
air srta ember. Dianjurkan agar pekerja diasuransikan oleh penyedia
Jasa/Kontraktor
f. Penyedia Jasa/Kontraktor bertanggung jawab untuk menjaga
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 8

keselamatan karyawannya apabila petugas/karyawan mengalami


kecelakaan di dalam pelaksanaan pekerjaannya, untuk itu diwajibkan
melaporkan ke instansi setempat yang berwenang dengan
menyampaikan tembusannya kepada pemberi tugas.
1.8.6. Kebersihan/Kesehatan
a. Tempat kerja harus senantiasa dijaga dari kotoran-kotoran yang dapat
menimbulkan penyakit.
b. Penyedia Jasa/Kontraktor diwajibkan menyediakan cukup air minum
untuk direksi pekerjaan/pengawas harian maupun untuk petugas-
petugas atau pekerja-pekerjaanya.
c. Untuk pekerja-pekerja yang tinggal dalam proyek, kontraktor harus
membuat MCK yang bersih
d. Apabila terjadi kasus penyakit menular di antara pekerjanya maka
kontraktor diharuskan bertindak agar tidak menjalar lebih lannjut.
1.8.7. Perburuhan/Jaminan Sosial.
a. Penerimaan pekerja, dan jaminan sosial bagi pekerja-pekerja agar
dipenuhi ketentuan-ketentuan Menteri Tenaga Kerja, sepenuhnya
menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana.
b. Baik untuk waktu kerja buruh maupun jaminan sosial, kontraktor
pelaksana diharuskan mentaati peraturan-peraturan yang berlaku.
1.8.8. Papan Nama Pembangunan
Papan nama Pembangunan didirikan ditempat yang strategis dengan
ukuran panjang 2 meter dan lebar 1 meter. Tulisan dibuat dengan
huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca. Papan nama Pembangunan
harus jelas tertulis nama pemilik dan penjelasan Pembangunan dan Jenis
huruf ditentukan Direksi.
1.8.9. Pengukuran dan Pembayaran
Pengukuran untuk pekerjaan-pekerjaan yang tercakup dalam persyaratan
umum ini ditentukan berdasarkan ketentuan seperti ditunjukkan dalam
Spesifikasi atau Daftar Kuantitas Pekerjaan. Kecuali disebutkan lain dalam
RAB pekerjaan-pekerjaan yang tercakup didalamnya sudah termasuk
dalam pekerjaan-pekerjaan pokok yang bersangkutan.
Dalam hal dihitung terpisah, pengukuran meliputi penyediaan, pengadaan
dan pengangkutan tenaga kerja, bahan, perlengkapan, peralatan dan
pelaksanaan, pemeliharaan, perbaikan, termasuk pemeriksaan, pengujian
dan pekerjaan penunjang yang diperlukan seperti diuraikan dalam RAB.
Bobot pengukuran (%) terhadap seluruh nilai Kontrak/Adendum Kontrak
terakhir, bersama-sama dengan komponen-komponen pekerjaan yang lain
akan merupakan bobot prestasi yang dicapai Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana pada saat tertentu, dan akan dijadikan pedoman Penyedia
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 9

Jasa/Kontraktor Pelaksana untuk mengajukan penagihan pembayaran


angsuran kepada pemilik.
Pengukuran volume pekerjaan yang akan digunakan untuk pengajuan
penagihan pembayaran angsuran harus dilakukan bersama-sama antara
Direksi dan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.
Pembayaran akan dilakukan apabila selisih bobot prestasi Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana pada saat tertentu dengan bobot prestasi pada
pembayaran angsuran yang lalu telah mencapai tidak kurang dari angka
seperti disebutkan dalam syarat-syarat Kontrak.
Pembayaran dilakukan dalam jumlah harga satuan dikalikan dengan
volume pekerjaan yang nyata-nyata dilaksanakan, termasuk pembayaran
untuk pekerjaan tersebut diatas.
1.9. Ketentuan Ukuran
1.9.1. Pelaksanaan Kegiatan berdasarkan gambar kerja dan syarat-syarat yang
diuraikan dalam Spesifikasi Teknis ini. Termasuk hal ini adalah pekerjaan-
pekerjaan tambah/kurang yang timbul dalam pelaksanaan.
1.9.2. Perbedaan Ukuran
a. Bila terdapat perbedaan ukuran atau ketidak sesuaian antara gambar
rencana dan detail, maka yang mengikat adalah gambar yang
skalanya lebih besar.
b. Bilamana terjadi perbedaan antara gambar dengan Bestek/
Spesifikasi teknis harus dilaporkan kepada Konsultan pengawas
untuk mendapatkan persetujuan sebelum dilaksanakan.
2. PEKERJAAN PERSIAPAN
2. 1. Umum
Pekerjaan persiapan dan penunjang merupakan pekerjaan sementara yang
harus dilaksanakan agar pekerjaan pokok yang sebenarnya dapat dilaksanakan
dengan mudah dan lancar.
Pekerjaan-pekerjaan ini pada umumnya bersifat darurat, tetapi secara struktural
harus mampu memiliki beban yang diperlukan dan harus dilaksanakan
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan serta sesuai dengan syarat-syarat
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membuat dan menyerahkan
Spesifikasi dan gambar-gambar pekerjaan sementara termasuk perhitungan dan
analisa strukturalnya apabila kondisi lapangan memerlukan, kepada dan untuk
memperoleh persetujuan Direksi Pengawas, selambat-lambatnya 20 (dua puluh)
hari sebelum pekerjaan dimulai.

2. 2. Pembersihan Lapangan
1. Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus membersihkan areal lokasi dari
segala tanaman liar, rumput, puing-puing dan brangkal-brangkal yang dapat
menghambat pekerjaan dan melakukan penimbunan jika di anggap perlu.
Dalam hal ini kontraktor tidak diperbolehkan melakukan pembakaran sampah/
tumbuhan hasil pembersihan dari jenis apapun dan juga tidak menggunakan
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 10

bahan kimia untuk membersihkan tanaman/ tumbuhan di areal lokasi.


2. Sebelum di lakukan penimbunan, akar tanam, rumput pada permukaan tanah
harus dikupas, dan hasil kupasan harus dibuang keluar lokasi pekerjaan.
3. Jika pada halaman pekerjaan terdapat konstruksi atau utility yang masih
berfungsi seperti pipa-pipa, kabel-kabel, tiang-tiang listrik yang ada dibawah
atau diatas tanah, Kontraktor harus melindungi jangan sampai terjadi
kerusakan selama pelaksanaan.
4. Apabila untuk pelaksanaan pekerjaan ini diperlukan kendaraan atau
peralatan-peralatan lain yang dipandang perlu untuk menunjang pelaksanaan,
maka hal ini menjadi kewajiban Kontraktor untuk menyediakannya dan
seluruh biaya yang timbul menjadi beban dan kewajiban Kontraktor.
5. Pekerjaan pembersihan ini juga terdiri dari pembersihan segala macam
tumbuh-tumbuhan, semak-semak, tanaman lainnya, sampah-sampah dan
bahan-bahan yang lain yang mengganggu dan termasuk pencabutan akar-
akar, sisa-sisa konstruksi, seperti pondasi bekas bangunan, pekerjaan jalan
raya dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan semak-semak adalah
tanaman-tanaman atau tumbuhan-tumbuhan berupa rumput-rumputan,
alang-alang, segala jenis tanaman kecil yang tingginya tidak melebihi 1,50
meter dari permukaan tanah dimana tanaman itu tumbuh dalam lingkup
daerah yang tidak luas.
2. 3. Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
melakukan pekerjaan pengukuran untuk memastikan lokasi yang tepat untuk
penempatan komponen-komponen pekerjaan tertentu seperti ditunjukan dalam
gambar.
Pengukuran meliputi pengukuran/penentuan koordinat dan elefasi. Koordinat dan
elefasi titik yang diperlukan, ditentukan berdasarkan titik rujukan (Bench Mark)
seperti ditunjukan dalam gambar atau ditetapkan oleh Direksi.
Aktualisasi dan Artikulasi titik-titik tersebut diatas berupa titik-titik yang dipasang
pada bouwplank (papan rujukan bangunan/struktur) yang apabila dihubungkan
(dengan benang) satu dengan yang lain akan merupakan garis-garis sumbu
bangunan yang melalui titik-titik yang diperlukan.
Bouwplank harus dibuat dan dipasang oleh Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
sedemikian rupa sehingga mempunyai elefasi (rujukan) tertentu yang letaknya
jauh dari kegiatan pelaksanaan yang dapat mengganggu, merusak dan merubah
elevasinya. Konstruksi maupun dimensi bench mark akan ditentukan kemudian
oleh Direksi.
2. 4. Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi mencakup pengadaan, penyediaan dan pengakutan tenaga kerja,
perelengkapan dan peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan,
termasuk pemasangan, penyetelan dan pekerjaan penumpang lainnya, sehingga
semua tenaga kerja, perlengkapan dan peralatan kerja itu berada/terpasang
dilokasi pekerjaan dalam kondisi baik dan siap pakai.
Termasuk dalam mobilisasi adalah pengadaan, penyediaan dan pengangkutan :
1. Tenaga kerja yang diperlukan sebagai pelaksana-pelaksana pekerjaan;
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 11

2. Peralatan pelaksanaan yang terdiri atas alat-alat pengangkutan alat-alat


berat, peralatan pengaduk beton dan sebagainya.
3. Peralatan penunjang seperti pembangkit listrik, pompa air, peralatan
laboratorium dan sebagainya disediakan oleh Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana dan disetujui Direksi.
Dalam mobilisasi sudah termasuk pengadaan, penyediaan dan pengangkutan
suku cadang yang diperlukan agar perlengkapan dan peralatan tersebut selalu
siap dipakai. Demobilisasi dilakukan setelah berakhirnya pelaksana pekerjaan,
sebelum pekerjaan diserahkan untuk pertama kalinya kepada pemilik.
Demobilisasi adalah penyingkiran dan pengangkutan tenaga kerja, perlengkapan
dan peralatan yang telah dimobilisasi, keluar dari lokasi Pembangunan menuju
ketempat yang dikehendaki oleh Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.

2. 5. Biaya Asuransi
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus memperhitungkan biaya Asuransi
Sosial Tenaga Kerja (ASTEK) terhadap staf/pelaksana, Direksi/Pengawas
Pembangunan yang ditempatkan dilapangan.

2. 6. Personil Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana


a. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana wajib menempatkan seorang kuasa atau
wakil yang cukup cakap dan berpengalaman untuk memimpin pelaksanaan
pekerjaan ini dilapangan (pelaksana) minimal tamatan STM pengalaman
minimal 3 tahun.
b. Pelaksana yang ditunjuk Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
mendapatkan kuasa penuh dalam bertindak untuk dan atas nama Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana dan dinyatakan dengan Surat Tugas/Keterangan.
c. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyampaikan secara tertulis
kepada Direksi mengenai Pelaksana pekerjaan ini. Pelaksana baru bisa
bertindak jika Direksi menyetujuinya. Dalam waktu seminggu bila tidak ada
keberatan dari Direksi, berarti Direksi menyetujuinya dalam waktu 6 (enam)
hari setelah dikeluarkan kuasa, kecuali Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
sendiri (Direktur penanggung jawab perusahaan) yang memimpin sehari-
harinya.
2. 7. Dokumentasi
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mernperhitungkan biaya pembuatan
dokumentasi serta pengirimannya ke kantor Pemimpin Bagian Pembangunan
serta pihak-pihak lain yang diperlukan.
Yang dimaksud dengan pekerjaan dokumentasi ialah :
1. Membuat Laporan-laporan perkembangan Pembangunan,
yakni Harian dan Mingguan
2. Untuk kelengkapan laporan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
membuat foto-foto dokumentasi ukuran 4R, dibuat sebelum pekerjaan di
mulai (0%), tahap pelaksanaan hingga selesai ( setiap kali untuk pembuatan
laporan) dan pada setiap kali akan melakukan tagihan/terminj, foto
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 12

dokumentasi harus selalu diambil pada posisi yang sama untuk setiap
kemajuan (tampak depan, samping dan belakang) dan setiap bagian yang
penting antara lain penulangan, pondasi dan lain-lain.
3. Surat-surat dan dokumen lainnya.
2. 8. Bestek Dan Gambar
1. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana diwajibkan meneliti semua bestek dan
gambar-gambar pekerjaan ini.
2. Bila ternyata ada perbedaan antara bestek dan gambar, antara gambar satu
dengan gambar lainnya maka yang berlaku adalah :
a. B e s t e k ( SPESIFIKASI TEKNIS )
b. Gambar dengan skala yang lebih besar (detail).
3. Bila perbedaan itu menimbulkan keragu-raguan yang mungkin menimbulkan
kekeliruan atau bahaya dikemudian hari, Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana wajib menanyakan terlebih dahulu kepada direksi untuk
mendapatkan ketegasan.
2. 9. Rencana Kerja
1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
harus menyusun suatu rencana kerja (jadwal waktu pelaksanaan) yang
diajukan paling lambat dalam satu minggu setelah diterbitkan Surat Perintah
Mulai Kerja, untuk diketahui dan disetujui oleh Direksi.
2. Setelah rencana kerja disetujui Direksi, di copy dalam 4 (empat) rangkap, 3
(tiga) salinan untuk Direksi dan 1 (satu) salinan ditempel pada ruang
Direksi Keet.
3. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengikuti rencana kerja tersebut
yang menjadi dasar bagi Direksi untuk menilai prestasi pekerjaan dan segala
sesuatu yang berhubungan dengan kelambatan pekerjaan.
2. 10. Pengadaan Bahan Bangunan
1. Bahan-bahan yang boleh ditempatkan didalam kompleks pekerjaan
hanyalah bahan-bahan yang disyaratkan dalam SPESIFIKASI TEKNIS
maupun gambar-gambar.
2. Cara dan tempat penimbunan/penyimpanan bahan harus memenuhi syarat
atau menurut petunjuk Direksi/Pengawas Teknik.
3. Bahan bangunan yang dipakai adalah yang sesuai dengan kualitas dan
kuantitas serta dimensi yang disyaratkan dalam SPESIFIKASI TEKNIS
maupun gambar.
4. Apabila suatu bahan yang disyaratkan tidak terdapat dipasaran, sebelum
diganti Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus konsultasi terlebih dahulu
dengan Direksi/Pengawas Teknik, dan penggantian bisa dilakukan setelah
ada persetujuan secara tertulis.
5. Penggantian bahan bangunan yang tidak terdapat dipasaran dengan bahan
bangunan lain harus setara/setingkat kualitasnya.
6. Bahan bangunan yang dinyatakan afkeur oleh Direksi/Pengawas Teknik
karena cacat atau tidak sesuai dengan persyaratan yang ditentukan harus
segera dipindahkan dan dikeluarkan dari kompleks pekerjaan selambat-
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 13

lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam.


2. 11. Penggunaan Persyaratan Teknis
1. Persyaratan teknis ini merupakan pedoman dalam pelaksanaan-
pelaksanaan pekerjaan (yang disebut sebagai Pembangunan termasuk
seluruh bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya satu kesatuan
yang tidak terpisahkan;
2. Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam persyaratan teknis ini
berlaku untuk seluruh bangunan yang termasuk dalam pekerjaan
Pembangunan ini, disesuaikan dengan gambar- gambar, keterangan-
keterangan tambahan tertulis dan perintah-perintah direksi/pengawas.
3. Standar-standar utama yang dipakai adalah standar-standar yang dibuat
dan berlaku resmi di negara RI, apabila tidak terdapat standar yang dapat
diberlakukan terhadap pekerjaan tersebut, maka harus digunakan standar
internasional yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut atau setidak-
tidaknya standar dari negara produsen bahan yang menyangkut pekerjaan
tersebut yang diberlakukan
2. 12. PENENTUAN TINGGI PEIL (LEVEL) DAN UKURAN
1. Sebagai patokan tinggi peil (level) bangunan adalah peil diambil rata-rata
dari Permukaan Tanah dengan penyesuaian terhadap Jalan dan bangunan
yang berdekatan.
2. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana selaku pelaksana pekerjaan
diharuskan menggunakan alat-alat yang teliti untuk mendapatkan
ukuran, sudut-sudut dan ukuran tega secara tepat dan dapat
dipertanggung jawabkan, untuk itu dihindari cara-cara pengukuran
dengan perasaan, penglihatan dan kirakira.

3. PEKERJAAN BETON STRUKTUR


3.1. BAJA TULANGAN
3.1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan bahan baja tulangan yang sesuai
Gambar Kerja. Pekerjaan ini termasuk semua mesin, peralatan, tenaga
kerja dan pemasangan baja tulangan.
Spesifikasi ini akan lebih kuat dari Gambar Kerja bila ada perbedaan detail
yang mungkin terjadi.
3.1.2. Standar/Rujukan
1 Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2, 1971)
2 British Standar (BS)
3 American Society for Testing and Materials (ASTM)
4 American Concrete Institute (ACI)
5 Standar Industri Indonesia (SII)/ Standar Nasional Indonesia (SOI)
2.6. Spesifikasi Teknis - Beton Cor di Tempat
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 14

3.1.3. Prosedur umum.


A. Contoh Bahan dan Sertifikat Pabrik
1. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan kepada
Pengawas Lapangan, contoh bahan beserta sertifikat pabrik bahan
baja tulangan untuk disetujui.
2. Sebelum pengadaan bahan, semua daftar bahan dan daftar
pemotongan harus disiapkan oleh Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana dan diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk
disetujui.
3. Persetujuan yang diberikan tidak berarti membebaskan Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana dari tanggung jawabnya untuk
memastikan kebenaran daftar pemesanan dan daftar pemotongan.
4. Setiap penyimpangan dari daftar bahan dan daftar penulangan yang
telah disetujui telah menjadi tanggung jawab Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana untuk menggantinya atas biayanya.

B. Gambar Detail Pelaksanaan


1. Gambar Detail Pelaksanaan berikut harus diserahkan oleh Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana kepada Pengawas Lapangan untuk
disetujui.
2. Daftar penulangan yang menunjukkan pembeng-kokan, ukuran kait,
tewatan, sambungan dan lainnya yang memenuhi ACI 315 dan/atau
PBI (NI-2, 1971).
3. Gambar harus memenuhi spasi tulangan, setimut dan jarak antara,
pasak besi dan penahan jarak/gelang-gelang.
4. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana diijinkan mengganti ukuran
rencana baja tulangan yang ditunjukkan dalam Gambar Kerja selama
penggantian tersebut dianalisa dengan teliti dan Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana telah memeriksa bahwa kekuatan yang
diinginkan telah terpenuhi. Penggantian harus disetujui Pengawas
Lapangan sebelum pelaksanaan pekerjaan.

3.1.4. Pengiriman dan Penyimpanan


Baja tulangan setiap waktu harus dilindungi terhadap kerusakan dan harus
ditempatkan di atas batok-batok untuk mencegah menempelnya temper
atau benda asing lainnya pada besi tulangan. Tempat penyimpanan harus
dinaikkan agar aman dari air permukaan.

3.1.5. Bahan-Bahan
A. Umum
Semua baja tulangan lunak harus dalam keadaan baru, tidak berkarat
atau memiliki cacat lainnya serta harus memenuhi ketentuan dalam
Spesifikasi Teknis ini.
B. Baja Tulangan
Kecuali ditentukan lain, baja tulangan polos harus dari baja Mutu BLTP-
24 dengan tegangan leteh minimal 2400 kg/cml, dan baja tulangan utir
dari baja mutu BLTP-32 dengan tegangan leleh minimal 3200 kg/cm2
serta memenuhi ketentuan SIFO 136- 84/SNI.07-2052-1990.
Diameter yang digunakan harus sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 15

C. Jenis-jenis diameter besi


Baja tulangan polos digunakan untuk diameter disesuaikan dengan
gambar kerja dan untuk pengunaan baja tulangan ulir digunakan untuk
diameter > 1 mm.(lebih besar 1 mm) dari ukuran baja tulangan polos.

D. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Kait dan Pembengkokan
Penulangan harus dilengkapi dengan kait/bengkokan minimal sesuai
ketentuan PBI (NI-2, 1971) atau sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan dan/atau Gambar Kerja.
2. Pemotongan
Panjang baja tulangan yang melebihi Gambar Kerja (kecuali tewatan)
harus dipotong dengan alat pemotong besi atau alat pemotong yang
disetujui Pengawas Lapangan. Pada bagian yang membutuhkan
bukaan untuk dudukan mesin, peralatan dan alat utilitas lainnya,
baja tulangan harus dipotong sesuai dengan besar atau ukuran
bukaan.
3. Penempatan dan Pengencangan
- Sebelum pemasangan, baja tulangan harus bebas dari debu,
karat, kerak lepas, oli, cat dan bahan asing lainnya.
- Semua baja tulangan harus terpasang dengan baik, sesuai
dengan mutu, dimensi dan lokasi seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja. Penahan jarak dengan bentuk balok persegi atau
gelang-gelang harus dipasang pada setiap m2 atau sesuai
petunjuk Pengawas Lapangan. Batu, bata atau kayu tidak
diijinkan untuk digunakan sebagai penahan jarak atau sisipan
harus diikat dengan kawat no. AWG 16 ( 0 1,62 mm) atau yang
setara. Las tipis dapat dilakukan pada baja lunak pada tempat-
tempat yang disetujui Pengawas Lapangan.

3.2. BETON COR DI TEMPAT


3.2.1. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini meliputi struktur beton, yang dilaksanakan sesuai
dengan garis mutu dan dimensi sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
Semua pekerjaan, bahan dan untuk kerja yang berkaitan dengan beton cor
di tempat harus sesuai dengan Spesifikasi Teknis ini dan standar terkait.
3.2.2. Standar / Rujukan
1. Peraturan Beton Bertutang Indonesia (NI-2, 1971)
2. Standar industri Indonesia (SII) and/or standar Nasional Indonesia
(SNI):
- SII.0013-81 /SNI. 15-2049-1992 Semen Portland, Mutu dan Cara Uji
Semen.
- SNI. 03-2847-1992- Tata Cara Perhitungan struktur Beton untuk
Bangunan dan Gedung.
3. American Concrete Institute (ACI)
- ACI 318-95 Building Requirements for Reinforced Concrete
- ACI 347-94 Formwork for Concrete
4. American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO):
- AASHTO M6 Standard Specifications for concrete Aggregates.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 16

- AASHTO T11 Amount of Material Finer than 0.075 mm (No. 200)


Siehale In Aggregate.
- AASHTO T27 Siehale Analysis of Fine and Coarae Aggregate
- AASHTO T112 day Lumps and Friable Parti des in Aggregates
- AASHTO T113 Lightweight Pieces in Aggregates
5. American Society for Testing and Material (ASTM)
- ASTM C33-93 Specifications for Concrete Aggregate
- ASTM C94-90 Specifications for Ready-Mixed Concrete
- ASTM C150-94 Specifications for Portland Cement
- ASTM, C260-94 Standard Specification for Air-Entraining Admixtures
for Concrete.
- ASTM C294-92 Standard Specification for Chemical Admixtures for
Concrete. ASTM C685-94 Specification for Concrete Made by
HALolumetric Batching and Continuous Mixing.
- ASTM C920-87 Specification for Elastomeric -Joint Sealants.

3.2.3. Prosedur Umum


1. Gambar Detail Pelaksanaan
Gambar Detail Pelaksanaan berikut harus di sertakan Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui
dan harus meliputi:
- Diagram penulangan yang menunjukkan pembengkokan, kait,
lewatan, sambungan dan lainnya sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
Bentuk cetakan harus menunjukkan batang struktur, spasi, ukuran,
sambungan, sisipan dan pekerjaan lainnya yang terkait.
- Metoda pengecoran termasuk desain campuran, tenaga kerja,
peralatan dan alat-alat kerja.
2. Pemeriksaan, Pengambilan Contoh dan Pengujian
A. Pemeriksaan Lapangan
- Sebelum memulai pekerjaan beton, pengujian pendahuluan
tersebut di bawah akan dilakukan oleh Pengawas Lapangan
dengan biaya Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengacu kepada hasil
campuran percobaan dan estimasi yang akan digunakan datarn
pekerjaan ini.
- Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membantu Pengawas
Lapangan dalam pelaksanaan pengambilan contoh dan pengujian.
Pengujian pendahuluan akan meliputi penentuan hal-hal berikut:
- Karakteristik batu pecah.
- Tipe dan kualitas semen.
- Pemilihan dan dosis bahan tambahan.
- Perbandingan kelas batu pecah dan campuran.
- Faktor air semen.
- Pengujian slump.
- Karakteristik campuran beton segar.
Pengujian-pengujian ini harus dilakukan sampai diperoleh
campuran yang sesuai dengan ketentuan Spesifikasi Teknis ini.

B. Pengambilan Contoh dan Pengujian


Semua pengambilan contoh dan pengujian harus dilakukan oleh
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tanpa tambahan biaya.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 17

Pekerjaan ini akan bertangsung terus menerus selama pelaksanaan


pekerjaan beton.
Pengambilan contoh dan pengujian harus ditentukan oleh
Pengawas Lapangan, seperti tersebut di bawah :
- Semen
Semen harus memiliki sertifikat dari pabrik pembuat, yang
menunjukkan berat per zak, bahan alkali yang sesuai.
- Aggregate
Aggregate harus sesuai dan tahan uji menurut ASTM C 33,
pengujian dimulai 30 hari sebelum pelaksanaan pekerjaan beton.
- Mon
Minimal 30 hari sebelum pekerjaan beton dimulai, Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membuat percobaan campuran
untuk pengujian, bahan-bahan yang akan digunakan, dan
metoda yang akan digunakan untuk pekerjaan ini.
- Bahan Tambahan
Semua bahan tambahan untuk beton harus diuji sesuai standar
ASTM C 260 dan ASTM C 494 minimal 30 hari sebelum
pekerjaan beton dimulai.
Bahan tambahan tidak diijinkan digunakan tanpa persetujuan
Pengawas Lapangan.

C. Pengujian Campuran / Campuran Percobaan


1. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengujian
campuran beton, setiap tipe dan kuat tekan yang diaplikasikan,
sebelum pelaksanaan pengecoran beton.
2. Desain campuran harus mengindikasikan rasio air-semen, kadar
air, kadar bahan tambahan, kadar semen, kadar agregat, gradasi
agregat, slump, kadar udara dan kuat tekan.
3. Pengujian campuran dilakukan ketika contoh benda uji yang
dirawat dan diuji dalam kondisi laboraturium, kuat tekannya akan
melebihi kuat tekan yang diperlukan. Kuat tekan umur 7 hari
harus memiliki nilai minimal 65% dari kuat tekan umur 28 hari.
Pengujian beton harus ditaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi
Teknis.
4. Laporan hash pengujian harus diserahkan kepada Pengawas
Lapangan untuk disetujui, dan penempatan beton di lokasi tidak
diijinkan tanpa hasil pengujian yang memuaskan.

3.2.4. Bahan-Bahan
1. Beton
A) Komposisi beton, baik berat atau volume, harus ditentukan oleh
Pengawas Lapangan dan harus memenuhi kondisi berikut:
- Slump harus ditentukan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
- Campuran alternatif tidak boleh digunakan sebelum disetujui
Pengawas Lapangan.
- Tanpa air yang berasal dari batu pecah
B) Beton dikelompokkan dalam kelas yang berbeda, sesuai ketentuan
berikut: Beton mutu K-300 (fc = 264 kg/cm2) digunakan untuk
bangunan. Beton mutu K-300 (fc = 264 kg/cm2) digunakan untuk
pondasi. Beton mutu B-0 digunakan untuk lantai kerja pondasi dan
pengisi.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 18

2. Semen
Semen harus dari tipe I dan memenuhi persyaratan SII-0013-
81/SNI.15-204-1992 atau ASTM C 150-89. Semen harus berasal dari
salah satu merk dagang, seperti Semen Tonasa, Semen Tiga Roda,
Semen Gresik, Semen Bosowa, Semen Kijang.
3. A i r
Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan
bebas dari unsur-unsur yang merusak seperti alkali, asam, garam dan
bahan organik. Air dari kualitas yang dikenal dan untuk konsumsi
manusia tidak perlu diuji. Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, semua air
kecuali yang telah disebutkan di atas, harus diuji dan memenuhi
ketentuan ASTM dan/atau disetujui Pengawas Lapangan.
4. Agregat Halus
Agregat halus untuk beton harus terdiri dari pasir keras dan harus
disetujui Pengawas Lapangan. Agregat halus tidak boleh mengundang
bahan-bahan organik, asam, alkali dan bahan lainnya yang merusak.
5. Agregat Kasar
Agregat kasar untuk konstruksi harus terdiri dari batu butiran, batu
pecah, kerak dapur tinggi dan bahan lainnya yang disetujui dan
memiliki karakteristik serupa yang keras, tahan lama dan bebas dari
bahan-bahan yang tidak diinginkan.

3.2.5. Bahan Tambahan


1. Bahan tambahan untuk mengurangi air dan memperlambat pengerasan
beton, bila dibutuhkan, harus memenuhi ketentuan ASTM C 494 tipe B
dan D.
2. Bahan tambahan untuk mempercepat pengerasan beton bila diperlukan,
harus memenuhi ketentuan ASTM C 494 tipe C.

3.2.6. Pengisi Sambungan (Join Filler) dan (Joint Sealant)


1. Joint Filler harus memenuhi persyaratan AASHTO M 153 dan US Federal
Specification HH-F 341 a type 1 dass B, seperd Pahalatex atau setara.
2. Joint sealant harus memenuhi persyaratan ASTM C 920 seperti Elasto-
seal 227 atau setara.

3.3. PERANCAH/BAKESTING
3.3.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan bahan baja tulangan yang sesuai
Gambar Kerja. Pekerjaan ini termasuk semua mesin, peralatan, tenaga
kerja dan pemasangan baja tulangan.

3.3.2. Pelaksanaaan Pekerjaan


1). Perancah dan Acuan
Perancah harus dibuat di atas pondasi dengan kekuatan yang memadai
untuk menerima beban tanpa penurunan.
Perancah yang berdiri di atas lembek harus didukung dan diperkuat
dengan perancah tambahan yang sesuai. sebelum menempatkan
perancah, gambar gambar rancangan pemasangan/penempatan
perancah harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui.
Acuan harus memenuhi ketentuan berikut :
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 19

- Semua acuan harus dilengkapi dengan lubang pembersihan yang


memadai untuk pemeriksaan dan pembersihan setelah pemasangan
baja tulangan.
- Bahan acuan harus berasal dari bagian kayu tebal minimal 20 mm,
kayu lapis tebal minimal 9 mm, baja pelat lembaran tebal minimal
0,6 mm, atau bahan lain yang disetujui.
- Permukaan beton yang menghendaki penyelesaian halus dan
diekspos harus menggunakan acuan kayu lapis.
- Desain dan konstruksi acuan, penopang dan penguat menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.
- Acuan harus rapat dan kaku agar tidak terjadi distorai yang
diakibatkan oleh tekanan alat penggetar dan beban beton atau
lainnya.
- Acuan harus dibuat dengan teliti dan diperiksa kemampuan
konstruksinya sebelum pengecoran.
- Semua sudut Sambungan, pertemuan harus kaku untuk mencegah
terbukanya acuan selama pekerjaan pengecoran berlangsung.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab untuk acuan
dan penopangnya yang memadai. ikatan metal, penunjang, baut dan
batang harus disusun sedemikian rupa sehingga ketika acuan dibuka,
Semua metal harus berada tidak kurang dari 5 mm dari permukaan
beton ekspos.
- Untuk permukaan beton ekspos, ikatan metal, bila diijinkan, harus
disingkirkan sampai kedalaman minimal 25 mm dari permukaan
beton tanpa merusak.
- Kerucut yang sesuai harus disediakan. Cekungan-cekungan harus
diisi dengan adukan dan permukaan harus, rata dan seragam dalam
warna.
Bila dasar acuan sukar dicapai, Dinding bagian bawah acuan harus
dibiarkan terbuka, dan acuan kayu harus dibasahi dengan air sebelum
penempatan beton.

2). Perlakuan Pembukaan Acuan


Semua Dinding acuan harus diberi lapisan yang disetujui sebelum
penempatan, baja tulangan, dan acuan dari kayu harus dibasahi dengan
air sebelum penempatan beton. Bahan pelapis yang akan menyebabkan
perubahan warna asli beton tidak boleh digunakan.

3.2.7. Penempatan Pipa Drainase Dan Konduit


Pipa-pipa drainase, kondisi kabel listrik dan/atau telekomunikasi harus
dipasang sebelum pengecoran, dengan tanpa mengurangi kekuatan beton.
Pipa-pipa tersebut harus,dilindungi sehingga tidak akan terisi adukan beton
sewaktu pengecoran.
Pipa drainase dan pipa kondisi harus sesuai dengan ketentuan Spesifikasi
Teknis Mekanikal.

3.4. Sambungan Konstruksi


Sambungan konstruksi harus ditempatkan pada tempat-tempat sesuai Gambar
Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
20

Sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap garis utama tekanan dan
umumnya ditempatkan pada titik-titik minimal gaya geser pada Sambungan
konstruksi horizontal.
Batang pasak, alat penyalur beban dan alat pengikat yang diperlukan harus
ditempatkan pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

3.5. Sambungan Terbuka


Sambungan terbuka harus dibuat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dengan
menyisipkan dan kemudian mencabut kepingan kayu, pelat metal atau bahan lain
yang disetujui.
Penyisipan dan pencabutan cetakan harus dilakukan tanpa merusak pinggiran atau
sudut beton.
Penulangan tidak boleh melewati sambungan terbuka kecuali bila ditentukan lain.

3.6. Pengisi Sambungan


Sambungan mulai yang diisi harus dibuat serupa dengan sambungan terbuka. Bila
ditentukan pembentukan ulang sambungan mulai, ketebalan pengisian yang
dipasang sesuai dengan ketentuan Gambar Kerja. Pengisi sambungan harus
dipotong dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan permukaan yang akan
disambung.
Pengisi harus dipasang dengan kuat terhadap permukaan beton yang telah
ditempatkan dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak bergeser bila
disampingnya ditempatkan beton.
Bila diperiukan penggunaan lebih dari 1 lembar pengisi untuk mengisi sambungan,
lembaran harus ditempatkan secara rapat dan celah diantaranya diisi dengan
semen, dan salah satu sisinya harus ditutup dengan beton agar tersimpan dengan
baik.
Segera setelah pembongkaran acuan, sambungan mulai harus diperiksa dengan
teliti.
Beton atau adukan yang menutup sambungan harus dipotong dengan rapi dan
dibuang.

3.7. Sambungan Besi


Sambungan hasil harus ditempatkan pada semua sambungan konstruksi yang
berhubungan langsung dengan tanah atau air bawah tanah dan tempat-tempat lain
sesuai Gambar Kerja dan/atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.

3.8. Toleransi
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menjaga dan menyetel acuan untuk
memastikan, setelah pembongkaran acuan dan sebelum pekerjaan akhir, bahwa
tidak ada bagian beton yang melebihi toleransi yang diijinkan dalam Gambar Kerja.
variasi ketinggian lantai harus diukur sebelum pembongkaran pelindung dan
penumpu.

3.9. Perbandingan dan Campuran Beton


1. Perbandingan bahan ditentukan dengan penimbangan atau dengan metode yang
disetujui Pengawas Lapangan. Perbandingan volume tidak diijinkan tanpa
persetujuan Pengawas Lapangan.
2. Semua beton harus dicampur dengan mesin. Waktu pencampuran harus sesuai
dengan petunjuk kapasitas alat pencampur.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
21

3. Slump yang diijinkan minimal 75 mm dan maksimal 150 mm untuk balok, kolom
dan pelat. Pencampuran beton tidak boleh dimulai tanpa memastikan persediaan
bahan yang memadai, dalam batas yang aman, agar pengecoran beton dapat
dilaksanakan.
4. Bila pengecoran tidak dapat dihentikan. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
harus menyediakan peralatan tambahan dan memadai yang disetujui Pengawas
Lapangan.

3.10. Penempatan Beton dan Pembongkaran Acuan


1. Beton tidak boleh ditempatkan sebelum acuan, penulangan, sisipan dan lainnya
telah disetujui Pengawas Lapangan. Acuan harus dibersihkan, bebas dari
guncangan, celah, mata kayu, kotoran dan bengkokan sebelum, pengecoran.
2. Metoda dan urutan pengecoran harus sesuai dengan Spesifikasi Teknis dan
petunjuk Gambar Kerja.
3. Bagian luar permukaan beton harus dikerjakan dengan baik selama pengecoran.
Penggetaran terus menerus pada jarak 38-40 cm harus tetap terjaga untuk
mencegah keropos dan untuk mendapatkan permukaan yang halus.

3.11. Pembongkaran Acuan


Acuan dan perancah tidak boleh dibongkar tanpa persetujuan Pengawas Lapangan.
Persetujuan Pengawas Lapangan tidak membebaskan Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana dari keamanan pekerjaan tersebut. Jadwal pembongkaran harus
ditentukan oleh Pengawas Lapangan.

3.12. Perbaikan Beton


1. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus meminta Pengawas Lapangan untuk
memeriksa permukaan beton segera setelah pembongkaran.
2. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana atas biayanya harus mengganti beton yang
tidak sesuai dengan garis, detail atau elehalasi yang telah ditentukan atau yang
rusaknya berlebihan. (Jangan menambat, mengisi, memutasl, memperbaiki atau
mengganti beton ekspos kecuali atas petunjuk Pengawas Lapangan).
3. Semua beton yang membentuk permukaan harus memiliki penyelesaian cor di
tempat menggunakan acuan khusus. Lubang pengikat harus ditutup. Permukaan
ekspos dan permukaan yang akan di cat harus bersih dari lambatan, memiliki
ship-ship dan tetesan adukan yang tersikat halus, dan memiliki permukaan yang
bebas dari lapisan penutup dan debu.
4. Keropos, lubang atau sambungan dingin harus diperbaiki segera setelah
pembongkaran acuan.
5. Bahan tambahan harus kohesif, tidak berkerut dan melebihi kekuatan beton.
6. Singkirkan cacat, karat, noda atau beton ekspos yang luntur warnanya atau
beton yang akan dicat dengan
- Semprotan pasir ringan
- Pembersihan dengan larutan lembut sabun detergent dan air yang
diaplikasikan dengan menggosok secara keras dengan sikat lembut, kemudian
disiram dengan air. Hilangkan noda karat dengan mengaplikasikan pasta
asam oksatid, biarkan sejenak, dan sikat dengan kikir yang disetujui.
- Pembersihan dengan larutan asam muriatik yang mengandung tidak kurang
dari 2 % dan tidak lebih dari 5 % asam dalam volume, yang diaplikasikan
pada permukaan yang sebelumnya telah dilembabkan dengan air beraih.
- Hilangkan asam. Lindungi bahan metal atau lainnya yang dapat rusak karena
asam.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
22

- Tambalan kapur.
- Mengikir dan menggerinda.

3.13. Penyelesaian Beton


1. Kecuali ditentukan lain, permukaan beton harus segera diselesaikan setelah
pembongkaran dan harus diselesaikan sesuai tingkat dan dimensi seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2. Floor Hardrainer harus diaplikasikan pada permukaan beton yang masih segar
secara merata, dengan cara pelaksanaan dan dalam iumlah sesuai rekomendasi
dari pabrik pembuatnya, atau sebanyak 5 kg/m , kecuali bila ditentukan lain oleh
Pengawas Lapangan.

3.14. Perawatan dan Perlindungan


1. Ketentuan-ketentuan berikut harus diperhatikan untuk melindungi beton segar
yang baru dicor terhadap matahari, angin dan hujan sampai beton mengeras
dengan baik, dan untuk mencegah pengeringan yang terlalu cepat.
2. Semua acuan yang berisi beton harus dijaga tetap lembab sampai saat
pembongkaran.
3. Semua permukaan beton ekspos harus dilembabkan secara terus menerus
selama 14 hari setelah pengecoran.
4. Perhatian khusus harus diberikan pada permukaan Lantai atap yang akan
ditutup dengan karung lembab atau dilindungi terhadap kekeringan dengan
bahan lain yang sesuai
5. Tidak diijinkan menyimpan bahan-bahan di atas beton atau melintas diatas
konstruksi, yang menurut pendapat Pengawas Lapangan, belum cukup
mengeras

4. GALIAN, URUGAN KEMBALI DAN PEMADATAN


4.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut:
- Menyediakan peralatan dan perlengkapan yang memadai, bahan-bahan, tenaga
kerja yang cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
- Penggalian, pengurugan kembali dan pemadatan semua pekerjaan yang
membutuhkan galian dan/atau urugan kembali seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
- Membuang semua bahan-bahan galian yang tidak memenuhi persyaratan ke
suatu tempat pembuangan yang telah ditentukan.
- Penggalian dan pengangkutan bahan timbunan dari suatu tempat galian.
Melengkapi pekerjaan seperti ditentukan dalam spesifikasi ini.

4.2. Standar/Rujukan
1. American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO).
2. American Society for Testing and Materials (ASTM)
3. Semua peraturan dan standar lokal yang berlaku.

4.3. Prosedur Umum


1. Penggalian.
a. Penggalian harus dikerjakan sesuai garis dan kedalaman seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
23

Lembar galian harus dibuat cukup untuk memberikan ruang gerak dalam
melaksanakan pekerjaan.
b. Elevalasi yang tercantum dalam Gambar Kerja merupakan perkiraan saja dan
Pengawas Lapangan dapat menginstruksikan perubahan-perubahan bila
dianggap perlu.
c. Setiap kali pekerjaan galian selesai, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana wajib
melaporkannya kepada Pengawas Lapangan untuk diperiksa pekerjaan
selanjutnya.
d. Semua lapisan keras atau permukaan keras lainnya yang digali harus bebas
dari bahan lepas, bersih dan dipotong mendatar atau miring sesuai Gambar
Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan sebelum menempatkan
bahan urugan.
e. Bila bahan yang tidak sesuai terlihat pada Elevalasi penggalian rencana,
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus melakukan penggalian tambahan
sesuai petunjuk Pengawas Lapangan, sampai kedalaman dimana daya
dukung yang sesuai tercapai.
f. Untuk lapisan lunak, permukaan akhir galian tidak boleh diselesaikan sebelum
pekerjaan berikutnya siap dilaksanakan, sehingga air hujan atau air
permukaan lainnya tidak merusak permukaan galian.
g. Untuk menggali tanah lunak, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
memasang Dinding penahan tanah sementara untuk mencegah longsornya
tanah ke dalam tubang galian.Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
melindungi galian dari genangan air atau air hujan dengan menyediakan
saluran pengeringan sementara atau pompa.
h. Galian di bawah Elevalasi rencana karena kesalahan dan kelalaian Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana harus diperbaiki sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan tanpa tambahan biaya dari pengguna barang jasa
i. Diasumsikan bahwa penggalian pada lokasi kerja dapat dilakukan dengan
peralatan standar sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.
j. Bila ditemukan batu-batuan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
memberitahukan kepada Pengawas Lapangan yang akan mengambil
keputusan, sebelum penggalian dilanjutkan.
k. Sesudah setiap pekerjaan penggalian selesai, Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana harus memberitahu Pengawas Lapangan, dan pekerjaan dapat
dilanjutkan kembali setelah Pengawas Lapangan menyetujui kedalaman
penggalian dan sifat lapisan tanah pada dasar penggalian tersebut.

4.4. Pelaksanaan Pekerjaan


4.4.1. Galian
1. Pekerjaan galian dapat dianggap selesai bila dasar galian telah mencapai
elevalasi yang ditentukan dalam Gambar Kerja atau telah disetujui oleh
Pengawas Lapangan.
2. Semua bahan galian harus dikumpulkan pada tempat tertentu sesuai
petunjuk Pengawas Lapangan sehingga bila dibutuhkan dan memenuhi
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
24

ketentuan bahan galian tersebut dapat digunakan untuk bahan urugan


atau dibuang sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.
3. Bila terjadi kelebihan penggalian di tepi garis batas dan Elevalasi yang
ditentukan dalam Gambar Kerja atau petunjuk Pengawas Lapangan yang
disebabkan karena kesalahan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana,
kelebihan penggalian tersebut tidak dibayar dan Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki daerah tersebut sesuai
Gambar Kerja atas biaya Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.
4. Penggalian harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa agar tidak
merusak patok-patok pengukuran atau pekerjaan lain yang telah selesai.
Semua kerusakan yang disebabkan karena pekerjaan penggalian menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana dan harus diperbaiki
oleh Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tanpa biaya tambahan atau
waktu.
4.4.2. Urugan dan Timbunan
1. Bahan Urugan
- Bahan urugan harus bebas dari bahan organik, gumpalan besar, kayu,
bahan-bahan lain yang mengganggu dan butiran batu besar dari 100
mm dan memiliki gradasi sedemikian rupa agar pemadatan berjalan
lancar.
- Bila menurut pendapat Pengawas Lapangan, suatu bahan tidak dapat
diperoleh, penggunaan batu-batuan atau kerikil yang dicampur
dengan tanah dapat diijinkan, dalam hal ini, bahan yang lebih besar
dari 150 mm dan lebih kecil dari 50 mm tidak diijinkan digunakan, dan
presentase pasir harus berjumlah cukup untuk mengisi celah dan
membentuk kepadatan tanah yang seragam dengan nilai kepadatan
yang sesuai.
- Semua bahan galian kecuali tanah tidak diijinkan digunakan sebagai
bahan urugan kecuali disetujui oleh Pengawas Lapangan seperti
disebutkan Spesifikasi Teknis ini.
- Bahan urugan yang dekat tempat kerja untuk waktu lebih dan 2 jam
harus dilindungi dengan lembaran plastik agar tidak terjadi
penyimpangan pada bahan Urugan yang telah disetujui tersebut.
- Setiap Lapisan bahan urugan, bila kering, harus dibasahi merata
sampai tercapai kadar air tertentu untuk mendapatkan kepadatan
yang disyaratkan.

2. Persiapan
Sebelum penempatan bahan urugan, pekerjaan-pekerjaan berikut harus
sudah dikerjakan sebelumnya.
- Pembersihan lokasi dan/atau penggalian sesuai petunjuk Gambar
Kerja dan Spesifikasi Teknis.
- Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus memberitahu Pengawas
Lapangan sebelum memulai penempatan bahan urugan dan Pengawas
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
25

Lapangan akan memeriksa kondisi lokasi yang telah disiapkan untuk


maksud tersebut.
- Lokasi yang akan diberi bahan urugan/timbunan harus dikeringkan
dahulu dari genangan air menggunakan pompa alat lain yang disetujui
Pengawas Lapangan.

4.4.3. Penempatan Bahan Urugan


- Bahan urugan tidak boleh dihampar atau dipadatkan pada waktu
hujan. Bahan urugan di dalam atau di luar lokasi timbunan harus
ditempatkan lapis demi lapis dengan ketebalan maksimal 200 mm
(keadaan tepas) dan harus dipadatkan dengan baik.
- Untuk timbunan di luar lokasi timbunan harus dipadatkan sampai
kepadatan yang sebanding dengan daerah sekitarnya atau sesuai
ketentuan dalam Spesifikasi Teknis ini.
- Untuk timbunan di dalam lokasi timbunan, urugan harus dipadatkan
sesuai nilai kepadatan yang ditentukan dari Spesifikasi Teknis ini.
- Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja atau syarat khusus, alat
pemadat tangan tidak diijinkan sebagai pengganti atat pemadat
mekanis.
- Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tidak boleh menempatkan lapisan
baru bahan urugan sebelum pemadatan lapisan terdahulu disetujui
Pengawas Lapangan. Pengurugan tidak boleh dikerjakan tanpa
persetujuan dari Pengawas Lapangan.

4.5. Pemadatan
4.5.1.Umum
- Jika diperlukan, setiap lapisan sebelum dipadatkan harus memiliki kadar
air yang sesuai dengan ketentuan agar dihasilkan pemadatan dengan
nilai kepadatan yang sesuai. Bahan harus memiliki kadar air yang
seragam pada seluruh lapisan bahan yang akan dipadatkan.
Setiap lapisan harus dipadatkan dengan merata menggunakan alat
pemadatan yang disetujui.
- Penggilasan harus dilakukan pada arah memanjang sepanjang timbunan
dan biasanya dimulai dari sisi terluar dan menuju ke arah tengah dengan
cara sedemikian rupa agar setiap bagian menerima tingkat pemadatan
yang sama.

4.5.2.Kepadatan Kering Maksimal dan Kadar Air Optimal


Kepadatan kering maksimal dan kadar air optimal harus ditentukan
berdasarkan metode ASTM D1557-90 (AASHTO T180-74) yang umum
dikenal sebagai Modified Proctor Test.

4.5.3.Pengawasan Kelembaban
Pada saat pemadatan yang membutuhkan nilai kepadatan tinggi, bahan
urugan dan permukaan yang akan menerima bahan urugan harus memiliki
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
26

kadar air yang disyaratkan. Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tidak


diijinkan melakukan pemadatan sampai dicapai kadar air sesuai dengan
yang disyaratkan.
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus melembabkan bahan urugan atau
permukaan yang akan diurug bila kondisinya terlalu kering. Bahan urugan
yang terlalu basah dan harus dikeringkan sampai tercapai kadar air yang
sesuai bila perlu dengan bantuan peralatan mekanis.

4.5.4.Kepadatan Tanah Kohesif


Untuk tanah yang mengandung 30% atau lebih berat partikel yang melalui
saringan no. 200, yang membutuhkan pemadatan relatif, seperti ditentukan
ASTM D1557-90 (AASHTO T180-74).

4.5.5.Kepadatan Tanah Tidak Kohesif


Tanah yang mengandung kurang dari 30% berat partikel yang melalui
saringan No, 200, yang membutuhkan pemadatan retatif, seperti ditentukan
ASTM D1557-90 (AAHSTO T180-74), dan dinyatakan dalam presentase
kepadatan kering maksimal dan kadar air, pada saat pemadatan harus
memenuhi ketentuan.

4.5.6.Pembuangan Bahan Galian


Semua bahan galian yang memenuhi persyaratan harus digunakan untuk
urugan. Bahan yang tidak sesuai untuk pengurugan harus dibuang.

5. PASANGAN BATU KALI


5.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pasangan batu kali seperti ditunjukkan
dalam Gambar Kerja.
Pekerjaan ini meliputi, tetapi tidak terbatas pada pengadaan bahan, tenaga kerja
dan semua pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan pasangan
batu kali, sesuai batas, tingkat, bagian dan dimensi seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
5.2. Standar / Rujukan
1 Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982).
2 Spesifikasi Teknis:
- Galian, Urugan Kembali dan Pemadatan.
- Adukan dan Plesteran
5.3. Prosedur Umum
5.3.1. Contoh Bahan
Contoh bahan batu seberat minimal 20 kg dengan ukuran terpanjang
maksimal 150 mm, harus diserahkan terlebih dahulu kepada Pengawas
Lapangan untuk disetujui sebelum dikirim Direksi Teknis ke lokasi
Pembangunan
5.3.2. Gambar detail pelaksanaan.
Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
membuat Gambar Detail Pelaksanaan yang mencakup dimensi, Elevalasi,
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
27

kemiringan dan detail-detail lain yang diperlukan, untuk disetujui


Pengawas Lapangan.
5.4. Pemeriksaan dan Pengujian
Pemeriksaan dan pengujian harus dikerjakan pada setiap bagian pekerjaan seperti
yang tersebut di bawah:
- Tata letak,
- Penggalian
- Bahan di lokasi termasuk alat dan peralatan,
- Penempatan Penpasir atas,
- Setiap tinggi pemasangan 1200 mm.
Selama pengujian, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyediakan
tenaga Pengawas mutu dan fasilitas untuk Pengawas Lapangan tanpa biaya
tambahan kepada Pengguna Jasa/Kontraktor Pelaksana.
5.5. Bahan-Bahan
5.5.1. Batu Kali
Batu kali harus memiliki sisi terpanjang maksimal 150 mm, dan memiliki
minimal 3 bidang kontak.
Batu kali harus keras, bersifat kekal dan tidak boleh mengundang bahan
yang dapat merusak.
5.5.2. Adukan
Adukan dan plesteran harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis
seperti pada (Spesifikasi Teknis Adukan dan Plesteran).
5.6. Pelaksanaan Pekerjaan
5.6.1. Pemeriksaan dan Pembersihan Galian
1. Pekerjaan pasangan batu kali, baru diijinkan untuk dimulai bila semua
pekerjaan galian dan urugannya telah diperiksa serta disetujui oleh
Pengawas Lapangan.
2. Pekerjaan galian dan urugan kembali dilaksanakan sesuai ketentuan
Spesifikasi Teknis seperti pada (Spesifikasi Teknis Galian, Urugan
Kembali dan Pemadatan).
3. Sebelum memulai pekerjaan perletakan pasangan batu kali, air/air
hujan atau pun air tanah yang berada dalam galian harus dipompa dan
dikeluarkan.
5.6.2. Pemasangan
1. Adukan 1 semen dengan 2 pasir untuk pasangan batu kali yang
terendam air dan adukan 1 semen dengan 4 pasir untuk pasangan batu
kali yang tidak terendam air.
2. Adukan harus membungkus batu kali pada bagian tengah pasangan
sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian dari pasangan yang
berongga/tidak padat.
3. Tidak diperbolehkan sama sekali memukul batu kali ditempat pekerjaan
(pada bagian konstruksi) dengan martil besar, kecuali diluar pagan
patok ukur/bow plank.
4. Pasangan batu kali di atas tanah keras harus mempunyai pasir setebal
150 mm, atau sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
28

5. Bagian yang akan diberi pasangan batu kali harus sudah dibentuk
sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja, dan/atau sesuai petunjuk
Pengawas Lapangan.
5.6.3. Pembersihan Permukaan
Segera setelah adukan ditempatkan, semua permukaan pasangan batu kali
yang terlihat harus dibersihkan secara menyeluruh dari cipratan adukan
dan harus dijaga sedemikian rupa sampai pekerjaan selesai.
5.6.4. Perawatan
Pasangan batu kali harus dilindungi dari cahaya matahari dan secara terus
menerus harus dibasahi dengan cara yang disetujui selama 3 (tiga) hari
setelah pekerjaan selesai.

6. PEKERJAAN BATU BATA


6.1. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, peralatan, alat-alat bantu
yang dibutuhkan, bahan dan semua pasangan batu bata pada tempat-tempat
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
Pekerjaan ini terdiri tetapi tidak pada hal-hal berikut:
- Pasangan batu bata,
- Adukan,
- Pengaplikasian bahan penutup celah antara dinding dengan kolom bangunan,
dinding dengan bukaan dinding dan dinding dengan peralatan, sesuai dengan
petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
6.2. Standar / Rujukan
1 Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)
2 Standar Industri Indonesia (SII) / Standar Nasional Indonesia (SNI)
3 American Society for Testing and Materials (ASTM).
4 Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (SK SNI 5-04-1989-F).
5 Spesifikasi Teknis:
- Adukan dan Plesteran
- Penutup dan Pengisi Celah.
6.3. Prosedur Umum
6.3.1. Contoh Bahan
Contoh bahan-bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Pengawas Lapangan untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim
Direksi Teknis ke lokasi Pembangunan Contoh bahan batu bata
diserahkan sebanyak minimal 10 buah, untuk keperluan pengujian
kuat tekan yang disyaratkan.
Biaya pengadaan Contoh dan pengujian menjadi tanggung jawab Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana.
6.3.2. Pengiriman dan Penyimpanan
Semua bahan harus disimpan dengan baik, terlindung dari kerusakan. Bata
harus tersusun dengan baik dan teratur dengan tinggi maksimum 150 cm.
Semen harus dikirim dalam kemasan asIinya yang tertutup rapat dimana
tertera nama pabrik merek dagangnya.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
29

Penyimpanan semen harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi


Teknis seperti pada (Spesifikasi Teknis Beton Cor di Tempat).
6.4. Bahan-Bahan
6.4.1 Batu-Bata
1. Batu bata harus batu bata merah dari mutu yang terbaik dengan
pembakaran sempurna dan merata, produksl lokal dengan ukuran nominal
55 mm x 110 mm x 230 mm atau sesuai dengan ukuran lokal yang dapat
diperoleh yang dibakar dengan baik dan bersudut runcing dan rata, tanpa
cacat dan mengandung kotoran.
Meskipun ukuran bata yang biasa diperoleh di suatu daerah mungkin
berbeda dengan ukuran tersebut diatas, harus diusahakan supaya tidak
terlalu menyimpang dari ukuran-ukuran tersebut.
2. Bata merah yang digunakan harus mempunyai kuat tekan minimal 25
kg/cm sesuai ketentuan SII-0021-78/SNI.15-2049-1991 dan SK SNI 5-04-
1989-F.
6.4.2 Adukan dan Plesteran
Adukan dan plesteran untuk pasangan batu-bata harus memenuhi ketentuan
Spesifikasi Teknis seperti pada (Spesifikasi Teknis Adukan dan Plesteran).
6.4.3 Bahan Penutup dan Pengisi Celah
Bahan penutup dan pengisi celah harus memenuhi persyaratan Spesifikasi
Teknis seperti pada (Spesifikasi Teknis Penutup dan Pengisian Celah).

6.5. Pelaksanaan Pekerjaan


6.5.1. Adukan
1. Adukan harus dicampur dalam alat/tempat mencampur yang telah
disetujui. Sangat dilarang memakai adukan yang sudah mulai mengeras
dan membubuhkannya untuk dipakai lagi.
2. Adukan yang dipakai seperti berikut:
- Untuk pasangan kedap air di daerah basah, 15 cm di bawah permukaan
tanah I sampai 20 cm di atas lantai (tergambar ataupun tidak tergambar
dalam Gambar Kerja), dan ditempat-tempat lain sesuai petunjuk Gambar
Kerja digunakan adukan 1 semen dan 2 pasir.
- Untuk pasangan biasa digunakan adukan 1 semen dengan 5 pasir.
6.5.2. Pemasangan
1. Sebelum pelaksanaan pekerjaan ini, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
wajib memeriksa dengan seksama Gambar Kerja dan melihat keadaan
tempat pekerjaan tersebut di atas yang akan dilaksanakan. Sebelum
digunakan, batu bata harus direndam dalam air menggunakan bak
air/drum hingga jenuh. dinding harus dipasang dan didirikan menurut
masing-masing ukuran, ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2. Tidak diperkenankan memasang batu-bata yang patah dua melebihi 5%
dan yang patah lebih dari dua.
3. Pasangan dinding batu-bata yang luasnya lebih besar dari 12 m2 harus
ditambahkan kolom dan balok penguat dengan ukuran minimal 120 mm x
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
30

120 mm, sesuai dengan lebar bata, dengan tulangan pokok minimal 4 Ø
12 mm, sengkang Ø 8 mm - 150 mm atau sesuai dengan Gambar Kerja.
4. Pasangan dinding bata dengan Luas setiap 6 m2 yang terletak diluar
bangunan yang langsung mendapat beban angin harus diberi kolom
praktis ukuran minimum 120 mm x 120 mm dengan tulangan dan beugeul
seperti diatas.
5. Pemasangan dinding batu bata dilaksanakan bertahap, setiap tahap terdiri
maksimal 24 lapis setiap hari, dan kemudian diikuti dengan pengecoran
kolom praktis.
6. Tebal adukan pengikat tidak kurang dari 10 mm dan adukan harus padat
sedemikian rupa sehingga membentuk sambungan yang lurus / menerus
dan rata.
7. Setelah bata terpasang dengan adukan, siar-siar harus dikerok rapih
sedalam 10 mm dan dibersihkan dengan sapu lidi untuk kemudian disiram.
8. Sebelum diplester, pasangan bata harus dibasahi dengan air terlebih
dahulu sampai jenuh.
6.5.3. Perawatan dan Perlindungan
1. Pasangan batu bata harus dibasahi terus menerus.
2. Pasangan batu bata yang terkena, udara terbuka, selama waktu-waktu
hujan lebat harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari
tembok.
3. Siar atau celah antara dinding dengan kotom bangunan, dinding dengan
bukaan dinding atau dinding dengan peralatan harus ditutup dengan
bahan pengisi celah seperti disebutkan dalam Spesifikasi Teknis seperti
(Spesifikasi Teknis Penutup dan Pengisian Celah)
6.5.4. Plesteran
Bahan plesteran harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis seperti pada
(Spesifikasi Teknis Adukan dan Plesteran).

7. ADUKAN DAN PELESTERAN


7.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan adukan dan plesteran (kasar dan halus),
seperti dinyatakan dalam Gambar Kerja atau disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.
7.2. Standar/ Rujukan
1. American Society for Testing and Materials (ASTM)
2. American Concrete Institute (ACI)
3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (N1-2, 1971)
4. Standar Industri Indonesia (SII) and / or Standar Nasional Indonesia
(SNI):
- SII.0013-81 /SNI. 115-2049-1992 Semen Portland, Mutu dan Cara Uji Semen
5. American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO).
6. Spesifikasi Teknis - Beton Cor di Tempat.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
31

7.3. Prosedur Umum


7.3.1 Contoh Bahan
Contoh bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada Pengawas
Lapangan untuk terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi Pembangunan
7.3.2 Pengiriman dan Penyimpangan
1. Pengiriman dan penyimpangan bahan semen dan bahan lainnya harus
sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis seperti pada (Spesifikasi Teknis Beton
Cor Di Tempat).
2. Pasir harus disimpan di atas tanah yang bersih, bebas dari aliran air;
dengan kata lain chetah seldtar penyimpanan dilengkapi dengan saluran
pernbuangan yang memadai, dan bebas dari benda-benda asing.
3. Tinggi penimbunan tidak lebih dari 1200 mm agar tidak berhamburan.

7.4. Bahan-Bahan
7.4.1. Semen
Semen tipe I harus memenuhi Standar SII.001 3-81 /SNI. 15-2049-1992 atau
ASTM C 15089 serta. Spesifikasi Teknis Beton Cor Di Tempat).
Semen yang digunakan harus berasal dari satu merek dagang yang dikenal

7.4.2. Pasir
Pasir harus bersih, keras, padat dan tajam, tidak mengandung Lumpur atau
kotoran yang lain yang merusak.
Perbandingan butir-butir harus seragam dari yang kasar sampai dengan yang
halus, sesuai dengan ketentuan ASTM C 33.

7.4.3. Air
Air harus bersih, bebas dari asam, minyak, alkali dan zat-zat organik yang
beraifat merusak.
Air dengan kualitas yang diketahui dan dapat diminum tidak perlu diuji. Pada
dasarnya semua air, kecuali yang telah disebutkan diatas, harus diuji sesuai
ketentuan AASHTO T26 dan/atau disetujui Pengawas Lapangan.

7.5. Bahan Tambahan


Bahan tambahan untuk meningkatkan kekedapan air terhadap air dan menambah
daya lekat harus berasal dari merek yang dikenal juga, seperti Super Cement,
Febond SBR, Cemecryl, Barra Emulsion 57 atau yang setara.

7.6. Pelaksanaan Pekerjaan


7.6.1 Perbandingan Campuran Adukan dan/atau Plesteran
1. Campuran 1 semen dan 3 pasir digunakan untuk adukan kedap air, adukan
kedap air 150 mm di bawah permukaan tanah sampai 200 mm di atas
lantai, tergambar atau tidak tergambar dalam Gambar Kerja, plesteran
permukaan beton yang terlihat dan tempat-tempat lain seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
32

2. Campuran 1 semen dan 5 pasir untuk semua pekerjaan adukan dan


plesteran selain tersebut di atas.
3. Bahan tambahan untuk menambah daya lekat dan meningkatkan
kekedapan terhadap air harus digunakan dalam jumlah yang sesuai dengan
petunjuk penggunaan dari pabrik pembuat.

7.6.2 Pencampuran
1. Semua bahan kecuali air harus dicampur dalam kotak pencampur atau alat
pencampur yang disetujui sampai diperoleh campuran yang merata, untuk
kemudian ditambahkan sejumlah air dan pencampuran minimal 1 sampai 2
menit sebelum pengaplikasian
2. Adukan dibuat dalam jumlah tertentu dan waktu pencampuran minimal 1
sampai 2 menit sebelum pengaplikasian.
3. Adukan yang tidak digunakan dalam jangka waktu 45 menit setelah
pencarnpuran tidak diijinkan digunakan.

7.6.3 Perataan dan Pembersihan Permukaan


1. Semua permukaan yang akan menerima adukan dan/atau plesteran harus
bersih, bebas dari serpihan karbon lepas dan bahan lainnya yang
mengganggu.
2. Pekerjaan plesteran hanya diperkenankan setelah selesainya pemasangan
instalasi listrik dan air dan seturuh bagian yang akan menerima plesteran
telah terlindung di bawah atap.
3. Permukaan yang akan diplester harus telah berusia tidak kurang dari dua
minggu. Bidang permukaan tersebut harus disiram air terlebih dahulu
dengan air hingga jenuh dan siar telah dikerok sedalam 10 mm dan
dibersihkan.

7.7. Pemasangan
7.7.1. Plesteran Batu Bata
1. Pekerjaan plesteran dapat dimulai setelah pekerjaan persiapan dan
pembersihan selesai.
2. Untuk memperoleh permukaan yang rapi dan sempurna, bidang
plesteran dibagi-bagi dengan kepala plesteran yang dipasangi kelosketos
sementara dari bambu.
3. Kepala plesteran dibuat pada setiap jarak 100 cm, dipasang tegak
dengan menggunakan kepingan kayu lapis tebal 6 mm untuk patokan
kerataan bidang.
4. Setelah kepala plesteran diperiksa kesikuannya dan kerataannya,
permukaan dinding baru dapat ditutup dengan plesteran sampai rata dan
tidak ada kepingan-kepingan kayu yang tertinggal dalarn plesteran.
5. Seluruh permukaan plesteran harus rata dan rapi, kecuali bila pasangan
akan dilapis dengan bahan lain. Sisa-sisa pekerjaan yang telah selesai
harus segera dibersihkan.
6. Tali air (naad) selebar 4 mm digunakan pada bagian-bagian permukaan
dengan bukaan dinding atau bagian lain yang ditentukan dalam Gambar
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
33

Kerja, dibuat dengan menggunakan profil kayu khusus untuk itu yang
telah diserut rata, rapi dan siku. Tidak diperkenankan membuat tali air
dengan menggunakan baja tulangan.
7.7.2. Plesteran Permukaan Beton
1. Permukaan beton yang akan diberi plesteran harus dikasarkan,
dibersihkan dari bagian-bagian yang lepas dan dibasahi air, kemudian
diplester.
2. Permukaan beton harus bersih dari bahan-bahan cat, minyak, lemak,
lumut dan sebagainya sebelum pekerjaan plesteran dimulai. Permukaan
beton harus dibersihkan menggunakan kawat baja. Setelah plesteran
selesai dan mulai mengeras, permukaan plesteran dirawat dengan
penyiraman air.
3. Plesteran yang tidak sempurna, misalnya bergelombang, retak-retak,
tidak tegak lurus dan sebagainya harus diperbaiki.
7.7.3. Ketebalan Adukan dan Plesteran
Tebal adukan dan/atau plesteran minimal 10 mm, kecuali bila dinyatakan
lain dalam Gambar Kerja atau sesuai dengan petunjuk Pengawas Lapangan.
7.8. Pengacian
Pengacian dilakukan setelah plesteran disiram air sampai jenuh sehingga plesteran
menjadi rata, harus, tidak ada bagian yang bergelombang, tidak ada bagian yang
retak dan setelah plesteran berumur 8 (delapan) hari atau sudah kering betul.
Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai dilakukan, Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana harus selalu meyirami bagian permukaan yang diaci
dengan air sampai jenuh, sekurang-kurangnya dua kali setiap harinya.
7.9. Pemeriksaan dan Pengujian
Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana setiap waktu harus memberi kemudahan kepada
Pengawas Lapangan untuk dapat mengambil contoh pada bagian yang telah
diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan
cara yang sama dengan seutuhnya tanpa biaya tambahan dari Pengguna
Jasa/Kontraktor Pelaksana

8. PEKERJAAN KAYU
8.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan bekesting serta
pekerjaan lainnya yang menggunakan bahan Kayu, sesuai petunjuk Gambar Kerja
dan Spesifikasi Teknis.
8.2. Material :
a. Jenis : Kayu yang dipakai pada pekerjaan ini seluruhnya adalah Kayu yang
mempunyai kelas keawetan III dan kelas kuat III sesuai dengan SN-T-02-2003
UDC : 674.048.
b. Mutu : Kayu yang dipakai harus lurus kering, memiliki serat yang teratur, tidak
terdapat mata-mata kayu/cacat-cacat lainnya serta tidak terdapat bidang-bidang
yang lemah.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
34

c. Ukuran : Ukuran-ukuran kayu yang dipergunakan harus sesuai dengan yang


terdapat pada gambar detail.
d. Kadar Air : Kayu-kayu yang dipergunakan hanya boleh mengandung kadar air
maksimum 25 % untuk ukuran tebal lebih dari 7 cm dan kadar air maksimum
19 % untuk tebal kurang dari 7 cm.
e. Playwood dengan Veneer (Teakwood) : Playwood dengan lapisan veneer lebih
kurang 1 mm dari jenis "teak" atau rose "wood" yang terrekat ke badan plywood
dan dipasang pada daerah-daerah sesuai gambar rencana. Bahan-bahan yang
dipakai harus produksi dalam negeri dengan kualitas terbaik.
f. Pengikat-pengikat : Bahan pengikat digunakan dari kayu paku galvanis, baut
atau plat besi. Apabila menggunakan perekat, bahan perekat yang digunakan
harus terbuat dari lem tahan air setara dengan merk "Herferin".
8.3. Pelaksanaan :
a. Semua proses pemotongan dan pembuatan dikerjakan dengan mesin, kecuali
untuk detail tertentu atas persetujuan Pengawas Konsultan.
b. Pengukuran keadaan lapangan diperlukan sebelum memulai pekerjaan untuk
mendapatkan ketetapan pemasangan di lapangan.
c. Semua lubang-lubang bekas paku, baut dan sebagainya harus ditutup dengan
dempul hingga rapi kembali.
d. Rangka kayu yang akan dipasang bahan finishing harus diperhalus, rata dan
waterpass.
e. Hasil akhir dari pemasangan harus rata, lurus dan tidak melampaui toleransi
kerataan 0,5 cm untuk setiap 2 m2.
8.4. Pemeriksaan dan Pengujian
Setelah dipasang, dan dilakukan pemeriksaan dan pengujian Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana wajib memberi Perlindungan terhadap benturan
benturan benda lain dan kerusakan-kerusakan akibat kelalaian pekerjaan, semua
kerusakan yang timbul adalah tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana.

9. PEKERJAAN PELAPISAN LANTAI


9.1. Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan peralatan
termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan pemasangan lantai kramik, sehinggga dapat dicapai hasil pekerjaan yang
bermutu baik dan sesuai yang ditentukan dalam gambar.

9.2. Material :
a. Tegel keramik yang digunakan 40 x 40 cm dipasang pada semua lantai pada
bangunan kecuali KM/WC Lantai dan Dinding KM/WC menggunakan keramik
30 x 30 cm serta meja beton menggunakan keramik 60 x 60 cm.
b. Semua tegel keramik yang digunakan harus mempunyai kualitas satu (KW-1).
9.3. Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-benar padat
sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada lantai.
b. Pemasangan lantai/ubin harus rapi, dengan siar harus tegak lurus, serta
mengikuti peil-peil yang ditentukan dalam gambar.
c. Semua pemasangan tegel dinding harus menggunakan campuran 1 Pc : 4 Ps
dengan perekat AM-30 Mortar Flax.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
35

d. Pemasangan ubin keramik dipasangan diatas adukan 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr setebal 7


cm.
9.4. Pembersihan dan Perlindungan
Setelah pemasangan selesai, permukaan ubin harus benar-benar bersih, tidak ada
cacat, dan dianggap perlu permukaan ubin harus; diberi perlindungan misalnya
dengan sabun anti karat atau cara lain yang diperbolehkan, tanpa merusak
permukaan ubin

10. PEKERJAAN DINDING KERAMIK


10.1. Linkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan peralatan
termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan pemasangan lantai kramik, sehinggga dapat dicapai hasil pkerjaan yang
bermutu baik dan sesuai yang ditentukan dalam gambar.
10.2. Material :
a. Tegel keramik yang digunakan 30 x 30 cm dipasang pada dinding KM/WC
b. Semua tegel keramik yang digunakan harus mempunyai kualitas satu (KW-1).
10.3. Pelaksanaan :
a. Pada permukaan dinding beton/bata merah yang akan dipasang keramik,
dibersihkan sehingga permukaannya bersih dari kotoran organik.
b. Keramik diletakkan didinding dengan adukan untuk pemasangan 1 semen : 3
pasir.
c. Tebal adukan tidak lebih dari 1,6 cm.
d. Keramik yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik.
e. Pemotongan keramik harus menggunakan alat pemotong khusus (sesuai
petunjuk pabrik).
f. Sebelum keramik dipasang, keramik harus terlebih dahulu direndam air sampai
jenuh.
g. Ketinggian peil tepi atas pola keramik disesuaikan dengan gambar Pelaksanaan.
h. Pemasangan keramik wajib memperhatikan nilai estetika di mana bidang dinding
keramik harus benar-benar rata dan garis-garis siar harus bnar-benar lurus. Siar
arah horizontal pada dinding yang berbeda ketinggian pail lantainya, harus
merupakan garis lurus.
i. Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan bahan cadangan 2,5 % dari masing-
masing jenis/type bahan keramik terpasang, disimpan sesuai dengan petunjuk
pemberi Tugas/Konsultan Pengawas.

11. PINTU DAN JENDELA ALUMINIUM


11.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan kusen dan pintu dan
jendela, daun jendela dan daun pintu dan pekerjaan lainnya yang menggunakan
bahan profit aluminium, sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis.

11.2. Standar Rujukan


a. Standar Industri Indonesia (SII)/Standar Nasionat Indonesia (SNI). SII.0695-
82/SNI.07-0603-1989 - Produk Aluminium Ekstrusi untuk Arsitektur.
b. British Standard (BS).
c. American Society for Testing and Materials (ASTM).
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
36

- ASTM B221M-91 - Specification for Aluminium-Alloy Extruded Bara, Roda, Wire,


Shapes and Tubes.

11.3. Spesifikasi Teknis


a. Penutup dan Pengisi Celah.
b. Alat Penggantung dan Pengunci.
c. Kaca dan Aksesori.

11.4. Prosedur Umum


a. Contoh Bahan dan Data Teknis
Contoh profit dan penyelesaian permukaan yang harus meliputi tipe aluminium
ekstrusi, pelapisan, warna dan penyelesaian, harus diserahkan kepada Konsultan
pengawas untuk disetujui sebelum pengadaan bahan ke lokasi pekerjaan.
Contoh bahan produk aluminium harus diuji di laboratorium yang ditunjuk
Konsultan pengawas atau harus dilengkapi dengan data-data pengujian.
Data-data ini harus meliputi pengujian untuk:
- Ketebalan lapisan,
- Keseragaman warna,
- Berat,
- Karat,
- Ketahanan terhadap air dan angin minimal 100 kg/m2 untuk masing- masing
tipe,
- Ketahanan terhadap udara minimal 15 m3/jam
- Ketahanan terhadap air minimal 15 kg/m2
b. Biaya pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
11.5. Gambar Detail Pelaksanaan
a. Gambar detail pelaksanaan harus meliputi detail-detail pemasangan rangka dan
bingkai, pengencangan dan sistem pengangkutan seturuh pekerjaan harus
disiapkan oleh Kontraktor untuk diserahkan kepada Konsultan pengawas untuk
disetujui sebelum pelaksanaan pekerjaan.
b. Semua dimensi harus diukur di lokasi pekerjaan dan ditunjukan dalam Gambar
Detail Pelaksanaan.
c. Kontraktor bertanggung-jawab atas setiap perbelian dimensidan akhir penyetelan
semua bagian pekerjaan, koordinasi dengan pekerjaan lain dan semua pekerjaan
lain yang diperlukan untuk menyempurnakan pekerjaan yang tercakup dalam
Spesifikasi Teknis ini, sehingga sesuai dengan ketentuan
dalam Gambar Kerja.
11.6. Pengiriman dan Penyimpanan
a. Pekerjaan alluminium dan kelengkapannya harus diadakan sesuai dengan
ketentuan dalam Gambar Kerja, bebas dari bentuk puntiran, lekukan dan cacat.
b. Segera setelah didatangkan, pekerjaan aluminium dan kelengkapannya harus
ditumpuk dengan baik di tempat yang bersih dan kering dan dilindungi terhadap
kerusakan atau gesekan, sebelum dan setelah pemasangan. Semua bagian
harus dijaga tetap bersih dan bebas dari ceceran adukan, plesteran, cat dan
lainnya.

11.7. Garansi
Kontraktor harus memberikan kepada Pemilik Proyek, garansi tertulis yang metiputi
kesempumaan pemasangan, pengoperasian dan kondisi semua pintu, jendela dan
lainnya seperti ditunjukan dalam Spesifikasi Teknis untuk periode selama 1 tahun
setelah tanggal penerimaan. Selama periode ini, Kontraktor wajib memperbaiki dan
mengganti pekerjaan yang rusak atas biaya Kontraktor.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
37

11.8. Bahan-Bahan
a. Aluminium
Aluminium untuk kusen pintu/jendela/lower dan untuk daun jendela/Louver
adalah dari jenis aluminium alloy yang memenuhi ketentuan S11-0695-
1982/SNI.07-0603-1989 dan ASTM B 221 M, dalam bentuk profil jadi yang
dikerjakan di pabrik, dengan lapisan clear anodized minimal 10 mikron yang
diberi warna lapisan akhir dari pabrik, dengan warna sesuai Skema Warna yang
ditentukan kemudian.(Dalam hal ini allumunium yang digunakan adalah warna
brown) Tebal profil minimal 1,5 mm, seperti merek YKK, Arkasa, Ate)dan, Indeks
atau yang setara dengan ukuran dan bentuk sesuai Gambar Kerja. Dimensi profil
dapat berubah tergantung jenis profil yang disetujui.
Kecuali ditentukan lain, semua Louver dan jendela harus dilengkapi dengan
perlengkapan standar dari pabrik pembuatnya.

b. Alat Pengencang Aksesori


- Alat Pengencang harus terdiri dari sekrup baja anti karat AISI seri 300
dengan pemasangan kepala tertanam untuk mencegah reaksi elektrolitik
antara pengencang dan komponen yang dikencangkan.
- Angkur harus dari baja anti karat AISI seri 300 dengan tebal minimal 2 mm.
- Penahan udara dari bahan vinyl.

c. Kaca dan Neoprene / Gasket


- untuk pintu dan jendela aluminium harus memenuhi ketentuan Spesifikasi
Teknis/ Gambar Kerja seperti Kaca Raybend 5 mm dan 3 mm sesuai gambar
kerja serta kaca tempered ketebalan 12 mm
- Neoprene/Gasket untuk pelindung cuaca pada pemasangan kaca pekerjaan
aluminium harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.

d. Perlengkapan Pintu dan Jendela


Perlengkapan pintu dan jendela seperti kunci, engsel, dan lainnya sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis seperti pada Pasal mengenai Spesifikasi Teknis
Material Penggantung dan Pengunci.

11.9. Pelaksanaan Pekerjaan


a. Pabrikasi
- Pekerjaan pabrikasi atau pemasangan tidak boleh dilaksanakan sebelum
Gambar Detail Pelaksanaan yang diserahkan Kontraktor disetujui Konsultan
pengawas.
- Semua komponen harus dipabrikasi dan dirakit secara tepat sesuai bentuk
dan ukuran yang telah ditentukan dalam Gambar Kerja dan ukuran di lokasi
serta dipasang pada lokasi seperti ditunjukkan.

b. Pemasangan
- Bagian pertama yang terpasang harus disetujui Konsultan pengawas sebagai
acuan dan contoh untuk pemasangan berikutnya.
- Kontraktor bertanggung jawab atas kualitas konstruksi komponen-komponen.
Bila suatu sambungan tidak digambarkan dalam Gambar Kerja, sambungan-
sambungan tersebut harus ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa sehingga
sambungan-sambungan tersebut dapat meneruskan beban dan menahan
tekanan yang harus diterima.
- Bila dipasang langsung ke dinding atau beton, kusen atau bingkai harus
dilengkapi dengan angkur pada jarak setiap 50 cm.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
38

- Semua bagian aluminium yang berhubungan dengan semen atau adukan


harus dilindungi dengan cat transparan atau lembaran plastik. Semua bagian
aluminium yang berhubungan dengan elemen baja harus dilapisi dengan cat
khusus yang direkomendasikan pabrik pembuat, untuk mencegah kerusakan
komposisi aluminium.
- Berbagai perlengkapan bukan aluminium yang akan dipasang pada bagian
aluminium harus terdiri dari bahan yang tidak menimbulkan reaksi etektrolitik
seperti baja anti karat, nylon, neoprene dan lainnya.
- Semua pengencang harus tidak terlihat, kecuali ditentukan lain. Semua
sambungan harus rata dengan pemotongan dan pengeboran yang dikerjakan
sebelum pelaksanaan anodisasi.
- Pemasangan kaca pada profil aluminium harus dilengkapi dengan gasket
sesuai ketentuan Spesifikasi.
- Kunci, alat penutup pintu (door closer jika diperlukan pada perencanaan) dan
engsel harus dipasang sesuai ketentuan Gambar Kerja dan memenuhi
ketentuan Spesifikasi Teknis seperti pada pasal mengenai Spesifikasi Teknis
Alat Penggantung dan Pengunci.
- Penutup celah harus digunakan sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat dan
memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis Pasal mengenai Spesifikasi Teknis
Penutup dan Pengisi Celah.

12. PEKERJAAN KACA


12.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan Pekerjaan ini
meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja pemotongan dan
pemasangan kaca bingkai jendela, ventilasi, cermin maupun kaca mati seperti
yang ditunjukan dalam Gambar Kerja dan pesifikasi Teknis.
12.2. Bahan-bahan
- Kaca yang digunakan pada pekerjaan ini adalah jenis kaca Bening tebal 5 mm.
- Kaca yang digunakan adalah kaca buatan dalam negeri, tidak cacat dan tidak
retak.
12.3. Pelaksanaan Pekerjaan
- Ukuran dan ketebalan kaca yang akan dipasang dilaksanakan mengikuti
petunjuk- petunjuk yang ditentukan dalam gambar.
- Kaca harus dipasang sedemikian rupa sehingga dengan lubang sponing yang
sesuai dengan ketebalan kaca, serta dipasang list dengan rapi sehingga
tidak goyang/longgar.
- Pada saat pekerjaan diserahkan, kaca yang terpasang dalam keadaan utuh
dan tidak pecah/retak. Apabila berdasarkan pemeriksaan terdapat kaca yang
retak, Kontraktor harus segera mengganti.

13. ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


13.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan dan pemasangan semua atas
penggantung dan pengunci pada semua daun pintu dan jendela sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja/ atau Spesifikasi Teknis seperti pada (Spesifikasi
Teknis Alat Penggantung dan Pengunci).

13.2. Material :
a. Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2 (dua) slag
kualitas baik, setara yale.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
39

b. Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah engsel nylon 4” untuk
semua pintu.
c. Grendel tanam lengkap untuk pintu 2 daun, grendel biasa jendela buatan
dalam negeri.
d. Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus
diperliahatkan contohnya kepada Konsultan Pengawas.

13.3. Pengiriman dan Penyimpanan


Alat Penggantung dan pengunci harus dikirim Kontraktor pelaksana ke lokasi
Pembangunan dalam kemasan asli dari pabrik pembuatnya, tiap alat harus
dibungkus rapi dan masing-masing dikemas dalam kotak yang masih utuh
lengkap dengan Nama pabrik dan mereknya. Semua alat harus disimpan dalam
tempat kering dan terlindung dari kerusakan.

13.4. Ketidaksesuaian
Pengawas Lapangan berhak menolak bahan maupun pekerjaan yang tidak
memenuhi perayaratan dan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
menggantinya dengan yang sesuai. Segala hal yang diakibatkan karena hal di
atas menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana.

13.5. Pelaksanaan Pekerjaan


a. Umum
1. Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan
persyaratan serta sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya. Semua
peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada
tempatnya, untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
2. Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan badan kunci, silinder,
handel/pelat.
b. Pemasangan Pintu
1. Kunci pintu dipasang pada ketinggian 100 cm dari lantai.
2. Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 28 cm dari tepi atas daun
pintu dan engsel bawah berjarak maksimum 33 cm dari tepi bawah daun
pintu, sedang engsel tengah dipasang di antara kedua engsel tersebut.
3. Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handel),
pelat penutup muka dan pelat kunci.
4. Pada pintu yang terdiri dari dua buah daun pintu, salah satu daunnya
harus memasang slot tanam sebagaimana mestinya.
c. Pemasangan Jendela
Daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan sepasang engsel
tipe casement tipe jungkit seperti ditunjukan dalam Gambar Kerja.

14. PENUTUP DAN PENGISI CELAH


14.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini metiputi pengadaan dan pemasangan bahan penutup dan pengisi
celah termasuk diantaranya, tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut:
- celah antara kusen pintu/jendela dengan dinding,
- celah antara dinding dengan kolom bangunan,
- celah antara peralatan dengan dinding, lantai atau langit-langit,
- celah antara langit-langit dan dinding, dan
- celah celah lainnya yang memerlukan
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 40

14.2. Standar/Rujukan
a. American Society for Testing and Materials (ASTM).
b. Spesifikasi Teknis :
- Batu Bata
- Pintu Jendela dan Aluminium

14.2. Prosedur Umum


a. Contoh Bahan dan Data Teknis Contoh bahan beserta data teknis bahan
dan/atau brosur bahan harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk
disetujui sebelum pengadaan bahan ke lokasi.
b. Pengiriman dan Penyimpanan Semua bahan yang didatangkan harus dalam
keadaan baru, utuh/masih disegel, bermerek jelas dan harus disimpan di
tempat kering, bersih dan aman, dan ditindungi dari kerusakan yang
diakibatkan oleh kondisi udara.

14.3. Bahan-Bahan
Bahan penutup dan pengisi celah harus terbuat dari bahan formula silicon, yang
sesuai Untuk daerah tropis dengan kelembaban tinggi dan dapat diaplikasikan
pada berbagal jenis bahan, seperti produk Dow Corning 795 Silicone Building
Sealant, Ge Silglaze N, atau yang setara. Untuk permukaan yang berpori harus
digunakan pelapis dasar yangdirekomen dasikan oleh pabtik pembuat bahan
penutup dan pengisi celah.

14.4. Pelaksanaan Pekerjaan


a. Persiapan
Semua permukaan yang akan menerima bahan penutup dan pengisi celah
harus bebas dari debu, air, minyak dan segala kotoran.
Bahan metal atau kaca yang berhubungan dengan dinding harus dibersihkan
dengan bahan pembersih yang tidak mengandung minyak seperti methyl.
b. Desain Pertemuan
Desain pertemuan pada lokasi bahan penutup celah akan ditempatkan tidak
lebih lebar dari 12.7 mm dan tidak lebih sempit dari 4 mm, dengan
kerdalaman tidak lebih besar dari 4.6 mm dan tidak lebih kecil dari 4 mm.

14.5. Cara Pengaplikasian


a. Daerah di sekitar tempat yang akan diberi bahan penutup celah harus
dilindungi dengan lembaran pelindung. Lembaranpelindung ini tidak boleh
menyentuh bagian permukaan yang akan diberi bahan penutup celah.
b. Pelapis dasar harus diaplikasikan terlebih dahulu pada permukaan yang
berpori, agar bahan penutup dan pengisi celah dapat melekat dengan baik.
c. Bahan penutup celah harus diaplikasikan secara menerus (tidak terputus).
d. Lembaran pelindung harus segera dibuka setelah bahan penutup celah selesai
diaplikasikan.
e. Bahan penutup celah yang baru saja terpasang tidak boleh diganggu pating
sedikit selama 48 (empat putuh delapan) jam.
15. ATAP & BAJA RINGAN
15.1. Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan alat, bahan serta pemasangan lembaran
pelindung atap dan metal untuk talang air hujan dan perlengkapan atap,
lainnya pada seluruh bangunan sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi
Teknis ini.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 41

15.2. Standar/ Rujukan


a. Standar Industri Indonesia (SII).
b. Japanese Industrial Standard (JIS).
c. Spesifikasi Teknis:
- Rangka Baja Ringan.
- Berbagai Jenis Metal.

15.3. Prosedur Umum


a. Contoh Bahan dan Data Teknis
Contoh dan data teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
b. Gambar Detail Pelaksanaan
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus membuat dan menyerahkan
Gambar Detail Pelaksanaan untuk diperiksa dan disetujui Konsultan
Pengawas.
c. Pengiriman dan Penyimpanan.
Semua bahan yang didatangkan harus segera disimpan ditempat yang kering
dan terlindung dari kerusakan, baik sebelum dan selama pemasangan.

15.4. Bahan-Bahan
a. Rangka Baja Ringan
- Properti mekanis baja (Steel Mechanical Properties) :
Baja Mutu Tinggi G 550
Tegangan leleh minimum (Minimum Yield Strength) 550 Mpa
. Modulus Elastisitas 200.000 Mpa
Modulus geser 80.000 Mpa
- Lapisan Anti karat
Material baja harus dilapisi perlindungan terhadap serangan korosi, dua jenis
lapisan anti karat (coating):
Galvanised (Z220)
Pelapisan Galvanised
Jenis Hot-dip zinc
Kelas Z22
katebalan pelapisan 220 gr/m2
komposisi 95% zinc, 5% bahan campuran
Galvalume (AZ100)
Pelapisan Zinc-Aluminium
Jenis Hot-dip-allumunium-zinc
Kelas AZ100
katebalan pelapisan 100 gr/m2
komposisi 55% alumunium, 43,5% zinc dan 1,5% silicon.
b. Multigrip (MG)
Konektor antara kuda-kuda baja ringan dengan murplat (top plate) berfungsi
untuk menahan gaya lateral tiga arah, standar teknis sebagai berikut:
- Galvabond Z275
- Yield Strength 250 MPa
- Design Tensile Strength 150 Mpa
c. Alat Penyambung (Screw)
Baut menakik sendiri (self drilling screw) digunakan sebagai alat sambung
antar elemen rangka atap yang digunakan untuk fabrikasi dan instalasi,
spesifikasi screw sebagai berikut:
Kelas Ketahanan Korosi Minimum Kelas 2
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 42

Panjang (termasuk kepala baut) 16mm


Kepadatan Alur 16 alur/inci
Diameter Bahan dengan alur 4,80 mm
Diameter Bahan tanpa alur 3,80 mm
Kekuatan Mekanikal :
Gaya geser satu baut 5,10 KN
Gaya aksial 8,60 KN
Gaya Torsi 6,90 KN
d. Valley Gutter
Talang Jurai Dalam (Valley Gutter), Pertemuan dua bidang atap yang
membentuk sudut tertentu, pada pertemuan sisi dalam harus manggunakan
talang dalam (Valley Gutter) untuk mengalirkan air hujan. Ketebalan material
jurai dalam minimal 0,45 mm dengan detail profil seperti gambar
diatas.
e. Profil Material Rangka Baja Ringan
Rangka atap menggunakan Profil C.75.75
Reng Menggunakan profil U.35.45
f. Talang Air Hujan
Jika menggunakan bantuan talang tegak, maka spesifikasi harus terbuat dari
pipa PVC dengan diameter sesuai Gambar Kerja dan dari kelas tekanan kerja 5
kg/cm2 sesuai standard JIS, seperti merekPralon, Rucika, Maspion atau yang
setara.
g. Atap
- Bahan atap yang akan dipergunakan untuk bangunan ini adalah atap Seng
Soka Zincalume 0,3 mm
- Bahan nok/bubungan menggunakan Soka Zincalume Colour, dengan
spesifikasi sebagai berikut :
Panjang : 110 cm
Lebar : 5 cm
Tinggi : 5 cm
Tebal : 0,3 mm
15.5. Pelaksanan Pekerjaan
a. Umum
Pekerjaan yang bersifat pabrikasi dilaksanakan sesuai ketentuan dalam
Gambar Kerja dan harus dikerjakan oleh tukang yang ahli dalam bidangnya.
b. Pemasangan Rangka Baja Ringan
- Kontraktor wajib memberikan pemaparan produk sebelum pelaksanaan
pemasangan rangka atap baja ringan, sesuai dengan SPEKTEK (Spesifikasi
Teknis) .
- Produk yang dipaparkan sesuai dengan surat dukungan dan brosur yang
dilampirkan pada dokumen tender.
- Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap berserta detail
dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum
dalam gambar kerja. Dalam hal ini meliputi dimensi profil, panjang profil
dan jumlah alat sambung pada setiap titik buhul.
- Perubahan bahan/detail karena alasan apapun harus diajukan ke Konsultan
Pengawas, Konsultan Perencana dan Pihak Direksi untuk mendapatkan
persetujuan secara tertulis.
- Eleman utama rangka kuda-kuda (truss) dilakukan fabrikasi diworkshop
permanen dengan menggunakan alat bantu mesin JIG yang menjamin
keakurasian hasil perakitan (fabrikasi)
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 43

- Kontraktor wajib menyediakan surat keterangan keahlian tenaga dari


Fabrikan penyedia jasa Rangka Atap Baja ringan,
- Kontraktor wajib menyertakan hasil uji lab dari bahan baja ringan dari
badan akreditasi nasional (instansi yang berwenang sesuai dengan
kompetensinya).
- Pembuatan dan pemasangan kuda-kuda dan bahan lain terkait, harus
dilaksanakan sesuai gambar dan desain yang telah dihitung dengan
aplikasi khusus perhitungan baja ringan sesuai dengan standar
perhitungan mengacu pada standar peraturan yang berkompeten.
- Semua detail dan konektor harus dipasang sesuai dengan gambar kerja.
- Perakitan kuda-kuda harus dilakukan di workshop permanen dengan
menggunakan mesin rakit (Jig) dan pemasangan sekrup dilakukan dengan
mesin screw driver yang dilengkapi dengan kontrol torsi.
- Pihak kontraktor harus menyiapkan semua struktur balok penopang dengan
kondisi rata air (waterpas level) untuk dudukan kuda-kuda sesuai dengan
desain sistem rangka atap.
- Pihak kontraktor harus menjamin kekuatan dan ketahanan semua struktur
yang dipakai untuk tumpuan kuda-kuda. Berkenaan dengan hal itu, pihak
konsultan ataupun tenaga ahli berhak meminta informasi mengenai reaksi-
reaksi perletakan kuda-kuda.
- Pihak kontraktor bersedia menyediakan minimal 8 (delapan) buah Atap
metal yang akan dipakai sebagai penutup atap, agar pihak penyedia
konstruksi baja ringan dapat memasang reng dengan jarak yang setepat
mungkin, dan penyediaan genteng tersebut sudah harus ada pada saat
kuda-kuda tiba dilokasi proyek.
- Kontraktor wajib memberikan jaminan jika terjadi deformasi yang melebihi
ketentuan maupun keruntuhan yang terjadi pada struktur rangka atap Baja
Ringan, meliputi kuda-kuda, pengaku-pengaku dan reng.
- Kekuatan struktur Baja Ringan dijamin dengan kondisi sesuai dengan
Peraturan Pembebanan Indonesia dan mengacu pada persyaratan-
persyaratan seperti yang tercantum pada “Cold formed code for structural
steel”(Australian Standard/New Zealand Standard 4600:1996) dengan
desain kekuatan strukural berdasarkan ”Dead and live loads Combination
(Australian Standard 1170.1 Part 1) & “Wind load”(Australian Standard
1170.2 Part 2) dan menggunakan sekrup berdasarkan ketentuan “Screws-
self drilling-for the building and construction industries”(Australian
Standard 3566).
c. Pemasangan Talang (Jika diperlukan)
- Hubungan antara atap beton dengan talang tegak lurus dikerjakan dengan
cara yang sesuai dan disetujui sehingga rapih, kuat dan tidak bocor.
- Atap beton harus dibuat sederniklan rupa sehingga terjadi kemiringan ke
arah lubang talang tegak dan air dapat mengalir dengan lancar ke talang
tegak tanpa menimbulkan genangan air.
- Setiap lubang menuju talang tegak lurus harus dilengkapi dengan saringan
talang yang ditanam dengan baik ke dalam lubang talang tegak dan setiap
belokan talang tegak harus dilengkapi elbow dari bahan yang sama
dengan bahan talang tegak.
- Pemasangan dan penempatan talang tegak harus sesuai ketentuan
Gambar Kerja dan harus diikatkan ke struktur bangunan dengan cara
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
16. PEKERJAAN PLAFOND GYPSUM DAN AKSESORIS
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 44

16.1. Lingkup Pekerjaan :


Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan, tenaga kerja, peralatan bantu dan
pemasangan panel gypsum dan aksesori pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
16.2. Material :
a. Panel gypsum harus dari produk yang memiliki teknologi control density dan
memiliki ketebalan minimum dan ukuran model sesuai petunjuk dan Gambar
Kerja (Ketebalan Gypsum digunakan 9 mm), seperti produk Jayaboard atau
yang setara.
b. Panel gypsum harus dari normal/standar yang memenuhi ketentuan AS 2588-
1983, dengan bentuk tepi khusus untuk penyambungan rata (flush joint),
kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
c. Semen penyambung panel gypsum harus sesuai dengan rekomendasi dari
pabrik pembuat panel gypsum.
d. Alat pengencang berupa sekrup dengan tipe sesuai jenis pemasangan harus
sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat panel gypsum yang memenuhi
ketentuan AS 2589-1983.
e. Alat pengencang berupa sekrup dengan tipe sesuai jenis pemasangan harus
sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat panel gypsum yang memenuhi
ketentuan AS 2589-1983.
- Perekat,
- Pita kertas,
- Cat dasar khusus untuk pembuatan panel. gypsum,
- Dan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan agar panel gypsum
terpasang dengan baik.
16.3. Pelaksanaan :
a. Sebelum panel gypsum dipasang, Kontraktor harus memeriksa kesesuaian
tinggi/kerataan pamukaan, pembagian bidang, ukuran dan waterpas
pada tempat pemasangan terhadap ketentuan Gambar Kerja, serta lurus dan
waterpas pada tempat yang sama.
b. Pemasangan, panel gypsum dan kelengkapannya harus sesuai dengan
petunjuk pemasangan dari pabrik pembuatnya.
c. Jenis/bentuk tepi panel gypsum harus dipilih berdasarkan jenis pemasangan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
d. Rangka panel gypsum untuk pemasangan di langit-langit, gypsum atau
tempat-tempat lainnya berupa rangka yang terbuat dari bahan baja lapis
seng/hollow Metal Vuring, harus sesuai dengan standar dari pabrik
pembuatnya. yang dibuat khusus untuk pemasangan panel gypsum.
e. Panel gypsum dipasangkan kerangkanya dengan paku, sekrup atau alat
pengencang dengan diameter dan panjang yang sesuai.
f. Sambungan antar panel gypsum harus menggunakan pita penyambung dan
perekat dikerjakan sesuai petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat panel
gypsum.
g. Permukaan gypsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 45

permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.


h. Kemudian permukaan panel gypsum tersebut harus dilapisi dengan cat dasar
khusus untuk panel gypsum untuk menutup permukaannya yang berpori.
i. Setelah cat dasar panel gypsum kering kemudian dilanjutkan dengan
pengaplikasian cat dasar dan/atau cat akhir sesuai ketentuan Spesifikasi
Teknis seperti pada Spesifikasi Teknis Pengecatan dalam warna akhir sesuai
ketentuan Skema warna yang akan ditentukan kemudian.

17. PENGECATAN
17.1. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan mencakup pengangkutan dan pengadaan semua peralatan,
tenaga kerja dan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan
pengecatan selengkapnya, sesuai dengan Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis
ini.
Kecuali ditentukan lain, semua permukaan eksterior dan interior harus dicat
dengan standar pengecatan minimal 2 (dua) kali cat dasar dan 2 (dua) kali cat
akhir.

17.2. Standar/ Rujukan


17.2.1. Steel Structures Painting Council (SSPC).
17.2.2. Swedish Standard Institution (SIS).
17.2.3. British Standard (BS).
17.2.4. Petunjuk Pelaksanaan dari pabrik pembuat cat yang digunakan.

17.3. Prosedur Umum


1. Data Teknis dan Kartu Warna
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan data teknis/brosur
dan kartu warna dari cat yang akan digunakan, untuk disetujui terlebih
dahulu oleh Pengawas Lapangan. Semua warna ditentukan oleh Pengawas
Lapangan dan akan diterbitkan secara terpisah dalam suatu Skema Warna.
2. Contoh dan Pengujian
a. Cat yang telah disetujui untuk digunakan harus disimpan di lokasi
Pembangunan dalam kemasan tertutup, bertanda merek dagang dan
mencantum identitas cat yang ada di dalamnya, serta harus diserahkan
tidak kurang 2 (dua) bulan sebelum pekerjaan pengecatan, sehingga cukup
dini untuk memungkinkan waktu pengujian selama 30 (tiga puluh) hari.
b. Pada saat bahan cat tiba di lokasi, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana dan
Pengawas lapangan mengambil 1 liter contoh dari setiap takaran yang ada
dan diambil secara acak dari kaleng/kemasan contoh harus diaduk dengan
sempurna untuk memperoleh contoh yang benar-benar dapat mewakili
c. Untuk pengujian, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mernbuat
contoh warna dari cat-cat tersebut diatas 2 (dua) potongan kayu lapis atau
panel semen berserat berukuran 300mm x 300mm untuk masing-masing
warna. 1 (satu) contoh disimpan Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana dan I
(satu) contoh lagi disimpan Pengawas lapangan guna memberikan
kemungkinan untuk pengujian di masa mendatang bila bahan tersebut
ternyata tidak memenuhi syarat setelah dikerjakan.
d. Biaya pengadaan contoh bahan dan pembuatan contoh warna menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 46

3. Bahan-Bahan
a. Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup pabrik/segel, dan
masih jelas menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau
spesifikasi cat, nomor takaran pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrik,
petunjuk dari pabrik dan Nama pabrik pembuat, yang kesemuanya harus
masih basah pada saat pemakalannya. Semua bahan harus sesuai dengan
spesifikasi yang disyaratkan pada daftar cat.
b. Cat dasar yang dipakai dalam pekerjaan ini harus berasal dari satu
pabrik/merek dagang dengan cat akhir yang akan digunakan.
c. Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat
yang dipakai harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil
produksi ICl/Danapaints, atau yang setara.

17.4. Cat Dasar


Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut atau yang
setara:
- Alkali Resisting Primer/Alkali Resistant Sealer untuk permukaan plesteran,
beton dan semen berserat.
- Aluminium Wood Primer Undercoat untuk permukaan kayu lapis.
- Quick-Drying Metal Primer Chromate/Zinc Chromate Primer untuk
permukaan lapis besi/baja.

17.5. Cat Akhir


Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut, atau yang
setara:
- Synthetic Enamel/Synthetic Super Gloss untuk permukaan kayu dan
besi/baja. Setara Dulux-Super gloss dari ICI-Dulux dan Danalux dari
Danapaint serta Nipponpaint untuk Permukaan Tembok.

17.6. Pelaksanaan Pekerjaan.


1. Pembersihan, Persiapan dan Perawatan Awal Permukaan.
- Semua peralatan gantung dan kunci serta perlengkapan lainnya,
permukaan polesan mesin, metal, instalasi lampu dan Benda-benda
sejenisnya yang berhubungan langsung dengan permukaan yang akan
dicat, harus dilepas, ditutupi atau dilindungi, sebelum pelaksanaan
persiapan permukaan dan pengecatan dimulai.
- Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam
bidang tersebut.
- Permukaan yang akan dicat harus bersih sebelum dilakukan persiapan
Permukaan atau pelaksanaan pengecatan. Minyak dan lemak harus
dihilangkan dengan memakai kain bersih dan zat pelarut/pembersih yang
berkadar racun rendah dan mempunyai titik nyala di atas 380C
- Pekerjaan pembersihan dan pengecatan harus diatur sedemikian rupa
sehingga debu dan pencemar lain yang berasal dari proses pembersihan
tersebut tidak jatuh di atas permukaan cat yang baru dan basah.

2. Permukaan Plesteran dan Beton.


- Permukaan plesteran umumnya hanya boleh dicat sesudah sedikitnya
selang waktu 4 (empat) minggu untuk mengering di udara terbuka. Semua
pekerjaan plesteran atau semen yang dicat harus dipotong dengan tepi-
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 47

tepinya dan ditambal dengan plesteran baru hingga tepi-tepinya


bersambung menjadi rata dengan plesteran sekelilingnya.
- Permukaan plesteran yang akan dicat harus dipersiapkan dengan
membersihkan bunga garam kering, bubuk besi, kapur, debu, Lumpur
lemak minyak, aspal, adukan yang berlebihan dan tetesan-tetesan adukan.
Sesaat sebelum pelapisan cat dasar dilakukan, permukaan plesteran
dibasahi secara menyeluruh dan seragam dengan tidak meninggalkan
genangan air. Hal ini dapat dicapai dengan menyemprotkan air dalam
bentuk kabut dengan mempersiapkan selang waktu dari saat
penyemprotan hingga air dapat diserap.

3. Selang Waktu Antara Persiapan Permukaan dan Pengecatan.


Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat
harus mendapatkan lapisan pertama atau cat dasar seperti yang disyaratkan,
secepat mungkin setelah persiapan-persiapan diatas selesai. Harus
diperhatikan bahwa hal ini harus dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada
permukaan yang sudah disiapkan diatas.

17.7. Pelaksanaan Pengecatan.


a. Umum
Permukaan yang sudah dirapihkan harus bebas dari aliran punggung cat,
tetesan cat, penonjolan, gelombang, bekas olesan kuas, pemberian warna
dan tekstur.
Usaha untuk menutupi semua kekurangan tersebut harus sudah sempurna
dan semua lapisan harus diusahakan membentuk lapisan dengan ketebalan
yang sama.
Perhatian khusus harus diberikan pada keseluruhan permukaan, termasuk
bagian tepi, sudut dan cekuk/lekukan, agar bisa diperoleh ketebalan lapisan
yang sama dengan permukaan-permukaan di sekitarnya.
Permukaan Seng atau kayu yang terletak bersebelahan dengan permukaan
yang akan menerima cat dengan bahan dasar air, harus diberi lapisan cat
dasar terlebih dahulu.

b. Proses Pengecatan
Harus diberi selang waktu yang cukup diantara pengecatan yang berikutnya
untuk memberikan kesempatan pengeringan yang sempurna, sesuai dengan
keadaan cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.
Pengecatan harus dilakukan dengan ketebalan minimal (dalam keadaan cat
kering). Tebal lapisan cat dalam keadaan kering harus sesuai dengan standar
dari pabrik pembuat cat yang dipilih untuk digunakan.

c. Pencampuran dan Pengenceran.


Pada saat pengerjaan, cat tidak boleh menunjukkan tanda-tanda mengeras,
membentuk selaput yang berlebihan dan tanda-tanda kerusakan lainnya.
Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam
konsistensinya selama pengecatan.
Bila disyaratkan oleh keadaan permukaan, suhu, cuaca, dan metoda
pengecatan, maka cat boleh diencerkan sesaat sebelum dilakukan
pengecatan dengan mentaati petunjuk yang diberikan oleh pabrik pembuat
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 48

cat dan tidak melebihi jumlah 0,5 liter zat pengencer yang baik untuk 4 liter
cat. Pemakaian zat pengencer tidak berarti lepasnya tanggung jawab
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana untuk memperoleh daya tahan cat yang
tinggi (mampu menutup warna lapis dibawahnya).

d. Metoda Pengecatan.
Cat dasar untuk permukaan beton, plesteran dan panel semen berserat
diberikan dengan Kuas dan lapisan berikutnya boleh dengan Kuas atau rol.
Cat dasar untuk permukaan panel gypsum diberikan dengan kuas dan lapisan
berikutnya, dengan Kuas atau rol.
Cat dasar untuk permukaan kayu lapis diberikan dengan Kuas dan lapisan
berikutnya dengan Kuas atau rol.
Cat dasar untuk permukaan barang besi/baja diberikan dengan Kuas atau
disemprotkan dan lapisan berikutnya boleh menggunakan semprotan.

17.8. Pemasangan Kemball Barang-Barang yang Dilepas.


Sesudah selesainya pekerjaan pengecatan, maka barang-barang yang dilepas
harus dipasang kembali oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya.

17.9. Contoh Dan Bahan Untuk Perawatan


a. Pemborong harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat
pada bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2. Dan pada bidang-
bidang tersebut harus dicantumkan Direksi Teknis dengan jelas warna,
formula cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat dasar s/d lapisan
akhir).
b. Semua bidang contoh tersebut harus diperhatikan kepada Direksi Lapangan
dan perencana. Jika contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis
oleh perencana dan Direksi Lapangan, barulah pemborong melanjutkan
dengan pembuatan mock up
c. Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi Lapangan, untuk kemudian
akan
d. diteruskan kepada Pengguna Barang Jasa, minimal 5 galon tiap warna dan
jenis cat yang dipakai. Kaleng-kaleng tersebut harus tertutup rapat dan
mencantumkan Direksi Teknisan dengan jelas indentitas cat yang ada di
dalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai cadangan untuk perawatan, oleh
Pengguna Barang Jasa.

17.10. Pekerjaan Cat Dinding


a. Yang termasuk pekerjaan cat dinding adalah pengecatan seluruh plesteran
bangunan dan/atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.
b. Untuk dinding-dinding luar bangunan digunakan cat khusus luar, jenis
Nippon Exterior, ex vinilex, warna ditentukan perencana
c. Plamur yang digunakan adalah plamur tembok yang berkualitas baik.
d. Sebelum dinding plamur, plesteran sudah harus betul-betul kering, tidak ada
retak–retak dan pemborong meminta persetujuan kepada konsultan Direksi
Teknis.
e. Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisau plamur dari plat baja tipis dan
lapisan plamur dibuat setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN 49

f. Sesudah 7 hari plamur terpasang kemudian dibersihkan dengan bulu ayam


sampai bersih betul. Selanjutnya dinding dicat dengan menggunakan Roler.
g. Untuk mendapatkan tekstur pada pengecatan dinding yang ditentukan
dengan finish textured spray paint brupa pasta texture dengan bahan dasar
emulsi ecrylic ini disemprotkan dengan alat penyemprot compressor.
h. pengecatan untuk dinding luar adalah 3 (tiga) lapis dengan kekentalan sama
setiap lapisnya.
i. Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 (satu) lapis alkali resistance
sealer yang dilanjutkan dengan 3 (tiga) lapis acrylic emulsion dengan
kekentalan cat sebagai berikut;
- Lapis I encer (tambahan 20% air)
- Lapis II kental
- Lapis III encer
j. Untuk warna-warna yang jenis, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana
diharuskan menggunakan kaleng-kaleng dengan nomor pencampuran
(batch number) yang sama setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding
merupakan bidang yang utuh, rata, licin tidak ada bagian yang belang
dan bidang dinding dijaga terhadap pengotoran - pengotoran.

17.11. Pekerjaan Cat Langit-Langit


a. Yang termasuk dalam pekerjaan cat langit-langit Gypsum.
b. Cat yang digunakan jenis Tembok Warna ditentukan Perencana setelah
melakukan percobaan pengecatan.
c. Plamur yang digunakan adalah plamur Tembok berkualitas baik. Selanjutnya
semua metode/prosedur sama dengan pengecatan dinding tidak
digunakannya lapis alkali resistence sealer pada pengecatan langit-langit ini.

18. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK


18.1. Lingkup Pekerjaan :
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah :
a. Pengadaan lampu-lampu, kabel-kabel, stop kontak, sacklaar, fitting-fitting,
pipa, material bantu, termasuk pemasangannya.
b. Penyerahan Surat Jaminan oleh Instalatur/Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana beserta pembuatan gambar instalasi yang terpasang.
18.2. Bahan yang dipakai :
a. Kabel-kabel yang dipakai adalah dari jenisnya NYA yang memenuhi standard
PLN (SPLN) serta berinitial LMK (Minimal merk Eterna atau setara).
b. Stop kontak, sacklar dan fitting serta peralatan listrik yang digunakan harus
buatan dalam negeri yang telah memenuhi standard PLN, kemampuan
minimal 10/16A.
c. Untuk trafo neon yang digunakan harus merk Sinar, sedangkan balon pijar/TL
harus merk Phillips TL harus dilengkapi Capisitor.
d. Penempatan SDP harus mengikuti petunjuk dalam gambar, ukuran
proporsional agar babel dan pengamanan dalam SDP, nampak rapi, mudah
perawatannya.
18.3. Pemasangan :
a. Pemasangan instalasi listrik harus berpedoman pada Peraturan Umum
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
50

Instalasi Listrik (PUIL) 2000.


b. Untuk menangani pekerjaan ini harus ditunjuk Instalatir yang telah memiliki
SPJT dan SBUJK Bidang E&M.
c. Instalasi yang terpasang harus disesuaikan dengan tegangan yang terpasang
di area Pembangunan
d. Untuk penerangan dan stop kontak biasa kabel yang digunakan adalah jenis
NYA diameter 2,5 mm atau 1,5 mm dengan pelindung PVC diameter 5/8"
dan dipasang inbouw, tidak terkecuali yang diatas plafond.
e. Untuk semua penyambung kabel harus menggunakan T Dos dan ditutup
dengan las dop, serta ditempatkan pada kedudukan yang aman.
f. Pemasangan instalasi listrik umumnya dikerjakan sebelum plafon ditutup dan
pelesteran diding dikerjakan.
g. Pada semua stop kontak dan SDP harus di beri arde dengan menggunakan
kawat BC, dan khusus pengetanahan pada SDP dibagian yang tertanam
kedalam tanah harus dikerjakan sampai mendapatkan tahanan yang
disyaratkan, serta diberi pelindung pipa GIP diameter 1/2".

19. PEKERJAAN PEMBERSIHAN AKHIR


19.1. UMUM
Selama periode pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana harus memelihara Pekerjaan bebas dari akumulasi sisa bahan
bangunan, kotoran dan sampah, yang diakibatkan oleh operasi pelaksanaan.
Pada saat selesainya Pekerjaan, semua sisa bahan bangunan dan bahan-bahan
tak terpakai, sampah, perlengkapan, peralatan dan mesin-mesin harus
disingkirkan, seluruh permukaan terekspos yang nampak harus dibersihkan dan
Pembangunan ditinggal dalam kondisi siap pakai dan diterima oleh Direksi
Pekerjaan.

19.2. Pembersihan Selama Pelaksanaan


1) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus melakukan pembersihan secara
teratur untuk menjamin bahwa tempat kerja, struktur, kantor sementara,
tempat hunian dipelihara bebas dari akumulasi sisa bahan bangunan,
sampah dan kotoran lainnya yang diakibatkan oleh operasi-operasi di tempat
kerja dan memelihara tempat kerja dalam kondisi rapi dan bersih setiap saat.
2) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menjamin bahwa sistem drainase
terpelihara dan bebas dari kotoran dan bahan yang lepas dan berada dalam
kondisi operasional pada setiap saat
3) Bilamana dianggap perlu, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
menyemprot bahan dan sampah yang kering dengan air untuk mencegah
debu atau pasir yang beterbangan.
4) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus menyediakan drum di lapangan
untuk menampung sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah sebelum
dibuang.
5) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus membuang sisa bahan bangunan,
kotoran dan sampah di tempat yang telah ditentukan sesuai dengan
Peraturan Pusat maupun Daerah dan Undang-undang Pencemaran
Lingkungan yang berlaku.
6) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tidak diperkenankan mengubur sampah
atau sisa bahan bangunan di lokasi Pembangunan.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
51

7) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tidak diperkenankan membuang limbah


berbahaya, seperti cairan kimia, minyak atau thinner cat ke dalam saluran
atau sanitasi yang ada.
8) Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana tidak diperkenankan membuang sisa
bahan bangunan ke dalam sungai atau saluran air.
9) Bilamana Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana menemukan bahwa saluran
drainase samping atau bagian lain dari sistem drainase yang dipakai untuk
pembuangan setiap jenis bahan selain dari pengaliran air permukaan, baik
oleh pekerja Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana maupun pihak lain, maka
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus segera melaporkan kejadian
tersebut kepada Direksi Pekerjaan, dan segera mengambil tindakan
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan untuk mencegah
terjadinya pencemaran lebih lanjut.

19.3. Pembersihan Akhir


1) Pada saat penyelesaian Pekerjaan, tempat kerja harus ditinggal dalam
keadaan bersih dan siap untuk dipakai Pemilik. Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana juga harus mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang
tidak diperuntukkan dalam Dokumen Kontrak ke kondisi semula.
2) Pada saat pembersihan akhir, semua perkerasan, kerb, dan struktur harus
diperiksa ulang untuk mengetahui kerusakan fisik yang mungkin ditemukan
sebelum pembersihan akhir. Lokasi yang diperkeras di tempat kerja dan
semua lokasi diperkeras untuk umum yang bersebelahan langsung dengan
tempat kerja harus disikat sampai bersih. Permukaan lainnya harus digaru
sampai bersih dan semua kotoran yang terkumpul harus dibuang.

20. GAMBAR PELAKSANAAN (AS BUILT DRAWING)


1. Setelah selesainya seluruh pekerjaan, Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus
membuat gambar terlaksana (as built drawing) dari seluruh sistem, termasuk apabila
terjadi perubahan letak, denah maupun konstruksi.
2. Instalasi listrik, instalasi air bersih dan instalasi air kotor harus dibuat oleh Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana sesuai dengan keadaan yang terpasang dan diserahkan
kepada Pengguna Barang Jasa pada saat Serah Terima Pekerjaan.

21. PENGAWASAN
1. Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan oleh
Direksi/Pengawas.
2. Setiap saat Direksi/Pengawas atau petugas-petugasnya harus dapat mengawasi,
memeriksa atau menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan. Untuk itu
Penyedia Jasa/Kontraktor Pelaksana harus mengadakan fasilitas-fasilitas yang
diperlukan.
3. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengamatan
Direksi/Pengawas adalah menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa/Kontraktor
Pelaksana. Pekerjaan tersebut bila diperlukan harus dapat diperiksa sebagian atau
seluruhnya untuk keperluan/kepentingan pemeriksaan.
4. Jika diperlukan pengawasan oleh Pengawas Harian diluar jam kerja yang resmi,
maka segala biaya yang diperlukan untuk hal tersebut menjadi beban Penyedia
Jasa/Kontraktor Pelaksana. permohonan untuk mengadakaan pemeriksaan tersebut
harus dengan surat yang disampaikan kepada Direksi/pengawas.
SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE PELAKSANAAN
52

22. PENUTUP
Pekerjaan-pekerjaan yang belum/tidak tercantum/dijelaskan dalan SPESIFIKASI
TEKNIS ini dapat dilihat pada gambar atau di tanyakan pada saat Rapat Penjelasan
Pekerjaan (Aanwijzing)
Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap SPESIFIKASI TEKNIS ini pada saat Rapat
Penjelasan Pekerjaan akan dibuat suatu Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang
mengikat, dan merupakan satu kesatuan dengan SPESIFIKASI TEKNIS ini

Palu 25 Maret 2021


Disusun oleh
Konsultan Perencana
CV. GOLDEN RATIO

FEBRINA SILKIA, ST
Direktris