Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu gangguan metabolisme yang
ditandai dengan tingginya rasio gula dalam plasma darah (Kerner & Bruckel,
2014). Diabetes melitus adalah penyakit gangguan metabolik yang terjadi akibat
gangguan pada sekresi insulin sehingga jumlah hormon insulin yang dibutuhkan
oleh tubuh tidak tercukupi (Kemenkes RI, 2014).
Data dari Internasional Diabetes Federation (2015) mencatat sebanyak 415
juta orang menderita DM pada tahun 2015 dan akan meningkat menjadi 642 juta
pada tahun 2040. Riset Kesehatan Dasar (2018) mencatat peningkatan prevalensi
DM di Indonesia mengalami peningkatan dimana sebanyak 6,9% kasus penyakit
DM (2013) dan meningkat menjadi 8,5% kasus penyakit DM (2018). Prevalensi
DM yang terjadi di Sulawesi Barat juga menunjukkan peningkatan dimana
sebanyak 0,8% kasus penyakit DM (2013) dan meningkat menjadi 1,7% kasus
penyakit DM (2018) (Riset Kesehatan Dasar, 2018). Prevalensi DM yang terjadi
di klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene menunjukkan peningkatan
dimana 389 kasus penyakit DM (2016) menjadi 394 kasus penyakit DM (2017)
dan meningkat menjadi 408 kasus penyakit DM (2018) (IWCC, 2019).
Diabetes melitus dapat menyerang seluruh organ tubuh dan menimbulkan
berbagai komplikasi (Waspadji, 2009). Ulkus kaki diabetik adalah komplikasi
utama dari DM dan juga merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi pada
pasien DM (Lopes et al, 2018). Ulkus kaki diabetik yang tidak dilakukan
perawatan dengan baik akan menimbulkan infeksi. Hasil penelitian menyatakan
bahwa rata-rata penderita ulkus kaki diabetik mengalami peningkatan sel darah
putih (leukosit) sebagai respon tubuh terhadap infeksi dan inflamasi (Cervantes-
Garcia et al, 2017).
Alexiadou dan Doupis (2012) menyebutkan terdapat beberapa metode yang
dilakukan dalam perawatan ulkus kaki diabetik yakni debridement, pembalutan,

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


2

dan pencucian luka. Pencucian luka merupakan elemen penting dan merupakan
tujuan standar dalam perawatan luka ulkus diabetik.
Pencucian luka melibatkan penggunaan cairan pembersih yang pemilihannya
harus didasarkan pada evektifitas dan kurangnya sitotoksitas dari larutan
pembersih (Klasinc et al, 2017). Contoh cairan pencucian ulkus kaki diabetik
seperti normal saline, tap water, povidone-iodine, larutan ringer lactat,
hypochlorous acid, polyhexamethylene biguanide (PHMB), natrium hipoklorit
(NaClO), dan electrolyzed strong water acid (ESWA) (Bell ingeri et al, 2016;
Klasinc et al, 2017; Bongiovanni, 2014; Creppy, 2014; Cheng et al, 2016).
Wattanaploy et al, (2017) menyebutkan bahwa beberapa bahan larutan tersebut
dapat digunakan sebagai bahan pencucian luka akan tetapi tidak semua bahan
larutan pencucian luka mempunyai aktivitas bakterisida.
Salah satu alternatif cairan yang juga dapat digunakan dalam pencucian luka
yaitu air rebusan kayu secang (Caesalpinia sappan) (Anariawati, 2009). Fazri
(2009) menjelaskan ekstrak kayu secang bersifat antibakteri yang mampu
mengahambat aktivitas bakteri karena mengandung asam galat. Senyawa-
senyawa aktif lain yang terkandung dalam kayu secang selain asam galat, yakni
Sappanchalcone dan Caesalpin P, terbukti memiliki khasiat sebagai anti
inflamasi dan diabetes (Rahmawati, 2011).
Penelitian Shiratori et al, (2017) menyebutkan bahan pencucian luka yang
mengandung bakterisida adalah polyhexamethylene biguanide (PHMB). Cairan
polyhexamethylene biguanide (PHMB) adalah antiseptik dengan aktivitas
mikroba yang dapat melawan bakteri patogen dan virus (Gray, 2018). Hubner et
al, (2018) menjelaskan bahwa cairan PHMB mampu membunuh kroba sehingga
dapat digunakan sebagai salah satu produk perawatan luka.
Penelitian tentang cairan ini belum banyak dilakukan baik di dalam maupun di
luar negeri. Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti di klinik
IWCC didapatkan bahwa air rebusan kayu secang dan cairan PHMB digunakan
dalam proses pencucian luka akan tetapi belum ada penelitian mengenai

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


3

efektivitas pencucian luka dengan menggunakan dua cairan tersebut. Hasil studi
pendahuluan yang juga dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa khusus di
Provinsi Sulawesi Barat belum ada penelitian mengenai efektivitas pencucian
luka dengan menggunakan air rebusan kayu secang dan cairan PHMB. Hal ini
menjadi dasar sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
efektivitas pencucian luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan L. dan
cairan Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka
ulkus diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene Tahun
2020.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini "Bagaimana efektivitas pencucian luka
menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan polyhexamethylene
biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka ulkus diabetik di Klinik
Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene Tahun 2020 ?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas
pencucian luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan
polyhexamethylene biguanide (PHMB) terhadap proses penyambuhan luka
ulkus diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene Tahun
2020.
2. Tujuan khusus penelitian ini untuk :
a. Mengidentifikasi kondisi luka sebelum diberikan intervensi pencucian
luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan
Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan
luka ulkus diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten
Majene Tahun 2020.
b. Mengidentifikasi kondisi luka setelah diberikan intervensi pencucian luka
menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


4

Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan


luka ulkus diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten
Majene Tahun 2020.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan kepada
para tenaga kesehatan terkhusus tentang efektivitas pencucian luka
menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan Polyhexamethylene
Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka ulkus diabetik.
2. Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah untuk
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang efektivitas pencucian
luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan
Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka
ulkus diabetik.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan
agar kiranya pihak institusi lebih menyediakan sarana dalam hal referensi
buku yang erat kaitannya tentang efektivitas pencucian luka menggunakan air
rebusan Caesalpinia sappan dan cairan Polyhexamethylene Biguanide
(PHMB) terhadap proses penyembuhan luka ulkus diabetik.
4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
memperluas wawasan peneliti dalam hal efektivitas pencucian luka
menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan cairan Polyhexamethylene
Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka ulkus diabetik.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Mellitus


1. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) umumnya dikenal sebagai kencing manis.
Diabetes mellitus merupakan keadaan kelebihan kadar glukosa dalam darah
yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik (Herlena, 2014). Diabetes
Melitus merupakan penyakit turun-temurun yang mempunyai angka kejadian
meningkat setiap tahun. Pada penderita Diabetes Melitus mengalami
gangguan pada kelenjar pankreas yaitu tidak dapat atau hanya sedikit
memproduksi hormon insulin (Veranita, 2016).
2. Etiologi
Meningkatkan sekresi insulin dapat menghasilkan kadar glukosa yang
normal, akan tetapi sekresi insulin dapat menurun, dan jumlah insulin yang
ada tidak dapat lagi mempertahankan euglikemia. Sekitar 80% pasien
NIDDM mengalami kelebihan berat badan (obesitas). Obesitas berhubungan
dengan kondisi dimana sel-sel tidak tidak dapat menggunakan gula darah
dengan baik akibat insulin, maka kemungkinan besar gangguan toleransi
glukosa dan diabetes mellitus yang pada akhirnya terjadi pada pasien NIDDM
merupakan akibat dari obesitasnya (Rakhmadany, 2013).
3. Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Melitus Berdasarkan sebab yang mendasari
kemunculannya, DM dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu:
a. Diabetes Melitus tipe 1 disebabkan oleh penghancuran sel pulau pankreas.
Diabetes mellitus tipe 1 ini paling banyak mengenai anak-anak dan remaja
sehingga DM ini disebut juvenile diabetes (diabetes usia muda), namun
saat ini DM ini juga dapat terjadi pada orang dewasa. Faktor penyebab
DM tipe 1 adalah infeksi virus dan reaksi auto-imun yang mampu

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


6

merusak sel-sel penghasil insulin, yaitu sel β pada pankreas. Oleh karena
itu, pada tipe ini pankreas sama sekali tidak dapat memperoleh hormon
insulin.
b. Diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh kombinasi resistensi insulin dan
disfungsi sekresi insulin sel β. Diabetes tipe 2 biasa disebut dengan
diabetes life style karena selain faktor hereditas, DM tipe 2 disebabkan
oleh gaya hidup.
c. Diabetes tipe khusus disebabkan oleh suatu kondisi seperti endokrinopati,
penyakit eksokrin pankreas, sindrom genetic, induksi obat atau zat kimia,
infeksi, dan lain-lain.
d. Diabetes gestasional diabetes gestasional adalah diabetes yang muncul
pada saat hamil. Biasanya diabetes ini muncul pada minggu ke-24 dan
menghilang setelah melahirkan (Bilous & Donelly, 2014).
4. Faktor Risiko
a. Obesitas (kegemukan)
Obesitas berhubungan dengan kadar glukosa darah. Ketika kegemukan
IMT lebih dari 23 maka dapat mengakibatkan meningkatnya kadar
glukosa darah menjadi 200mg%.
b. Hipertensi
Tekanan darah tinggi sangat berhubungan dengan tidak sesuainya
penyimpanan garam dan air atau meningkatnya tekanan pada sirkulasi
pembuluh darah perifer.
c. Riwayat Keluarga Diabetes Mellitus
Pasien dengan diabetes mellitus diduga memiliki gen diabetes. Gen
diabetes tersebut merupakan gen resesif, akan tetapi hanya yang bersifat
homozigot dengan gen resesif yang dapat terkena Diabetes Mellitus.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


7

d. Dislipedimia
Merupakan keadaan dimana kadar lemak darah meningkat (Trigliserida >
250 mg/dl). Pada pasien DM sering didapatkan kejadian meningkatnya
plasma insulin dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl)
e. Umur
Usia >45 tahun merupakan usia yang paling rentan terkena diabetes
mellitus yaitu.
f. Riwayat persalinan
Memiliki riwayat abortus, melahirkan bayi tidak normal atau berat badan
bayi lebih dari standar berat badan bayi normal merupakan kejadian yang
mampu memicu terjadinya penyakit diabetes mellitus.
g. Faktor Genetik
Faktor genetik memiliki korelasi dengan diabetes mellitus. Risiko
terjadinya DM tipe 2 dapat meningkat dua sampai enam kali lipat apabila
orang tua atau saudara kandung pernah mengidap menyakit ini.
h. Alkohol dan Rokok
Perubahan gaya hidup mempunyai korelasi dengan peningkatan jumlah
pasien dengan DM tipe 2. Alkohol dan rokok akan menganggu
metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga akan
mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah.
Tekanan darah seseorang akan meningkat apabila mengkonsumsi alcohol
dan rokok.
5. Diagnostik Klinis
Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan
khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin
disampaikan penderita antara lain badan terasa lemah, sering kesemutan,
gatal-gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, dan pruritus vulvae pada
wanita. Apabila ada keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


8

sewaktu > 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl juga dapat digunakan
sebagai patokan diagnosis DM. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
2.1 berikut ini (Soegondo, 2013).
Tabel 1. Kriteria Penegakan Diagnosis
Glukosa Plasma Puasa Glukosa Plasma 2 Jam Setelah Makan
Normal <100 mg/dL <140 mg/dL
Pra-diabetis IFG atau 100 – 125 mg/dL ––
IGT –– 140 – 199 mg/dL
Diabetis >126 mg/dL >200 mg/dL

Kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa


darah abnormal tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk
menegakkan diagnosis DM. Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih
lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu kali lagi kadar gula darah
sewaktu yang abnormal tinggi (>200 mg/dL) pada hari lain, kadar glukosa
darah puasa yang abnormal tinggi (>126 mg/dL), atau dari hasil uji toleransi
glukosa oral didapatkan kadar glukosa darah paska pembebanan >200 mg/dL.
Secara umum, langkah-langkah penegakan diagnosis DM digambarkan oleh
(Soegondo, 2013).
6. Komplikasi
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan
komplikasi akut dan kronis. Menurut Perkeni (2014) komplikasi DM dapat
dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
a. Komplikasi akut
Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawah nilai
normal (< 50 mg/dl). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM
tipe 1 yang dapat dialami 1-2 kali per minggu, Kadar gula darah yang
terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


9

sehingga tidak berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.


Hiperglikemia, hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah meningkat
secara tiba-tiba, dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang
berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik, Koma Hiperosmoler Non
Ketotik (KHNK) dan kemolakto asidosis.
b. Komplikasi Kronis
Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang umum
berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak (pembekuan darah
pada sebagian otak), mengalami penyakit jantung koroner (PJK), gagal
jantung kongetif, dan stroke. Komplikasi mikrovaskuler, komplikasi
mikrovaskuler terutama terjadi pada penderita DM tipe 1 seperti nefropati,
diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan amputasi (Perkeni, 2014)..
B. Tinjauan Umum Tentang Luka
1. Definisi Luka
Luka adalah rusaknya atau hilangnya kontuinitas jaringan yang dapat
diakibatkan oleh faktor internal seperti obat-obatan, perubahan sirkulasi,
perubahan proses metabolisme, infeksi, kegagalan transport oksigen dan juga
oleh faktor eksternal seperti suhu yang ekstrim, injury, alergen, radiasi, zat-zat
kimia (Gitaraja, 2008; Potter & Perry, 2009) Pembagian luka yang
dihubungkan dengan waktu penyembuhan terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Luka akut yaitu luka yang proses penyembuhannya sesuai dengan waktu
pada konsep penyembuhan luka.
b. Luka kronik yaitu luka yang proses penyembuhannya gagal dan tidak
sesuai dengan waktu pada konsep penyembuhan luka (Falabella &
Kirsner, 2005; Gitaraja, 2008; Potter & Perry, 2009)
2. Proses Penyembuhan Luka
Proses penyembuhan luka adalah sebuah proses yang kompleks dan
dinamis yang menghasilkan perbaikan kontuinitas anatomi dan fisiologi
(Black & Hawks,2009). Sel yang paling berperan dari semua proses ini adalah

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


10

sel makrofag, yang berfungsi mensekresi sitokin pro-inflamasi dan anti-


inflamasi serta growth factors, fibroblast dan kemampuannya mensistesis
kolagen yang mempengaruhi kekuatan tensile strengh luka dan mengisi
jaringan luka kembali ke bentuk semula, kemudian diikuti oleh sel-sel
keratinosit kulit untuk membelah diri dan bermigrasi membentuk re-
epitelialisasi dan menutupi area luka (Faten Khorshid, 2010).
Secara umum, penyembuhan luka dibagi dalam 3 fase (Gutner GC,
2007) :
1. Fase Inflamasi
a. Fase Inflamasi Awal (Fase Hemostasis)
Fase Inflamasi terbagi dua, yaitu Fase inflamasi awal atau fase
haemostasis dan fase inflamasi akhir. Pada saat jaringan terluka,
pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan
pendarahan, reaksi tubuh pertama sekali adalah berusaha
menghentikan pendarahan dengan mengaktifkan faktor koagulasi
intrinsik dan ekstrinsik, yang mengarah ke agregasi platelet dan
formasi clot vasokontriksi, pengerutan ujung pembuluh darah yang
putus (retraksi) dan reaksi haemostasis. Reaksi haemostasis akan
terjadi karena darah yang keluar dari kulit yang terluka akan
mengalami kontak dengan kolagen dan matriks ekstraseluler, hal ini
akan memicu pengeluaran platelet atau dikenal juga dengan trombosit
mengekspresi glikoprotein pada membran sel sehingga trombosit
tersebut dapat beragregasi menempel satu sama lain dan membentuk
massa (clotting). Massa ini akan mengisi cekungan luka membentuk
matriks provisional sebagai scaffold untuk migrasi sel-sel radang pada
fase inflamasi (Landén, Li, & Ståhle, 2016).
b. Fase Inflamasi Akhir (Lag Phase)
Fase inflamasi dimulai segera setelah terjadinya trauma sampai
hari ke-5 pasca trauma. Tujuan utama fase ini adalah menyingkirkan

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


11

jaringan yang mati, dan pencegahan kolonisasi maupun infeksi oleh


agen mikrobial patogen (Gutner GC, 2007).
2. Fase Proliferasi
Fase proliferasi berlangsung mulai hari ke-3 hingga 14 pasca trauma,
ditandai dengan pergantian matriks provisional yang didominasi oleh
platelet dan makrofag secara bertahap digantikan oleh migrasi sel
fibroblast dan deposisi sintesis matriks ekstraselular (T Velnar, 2009).
Pada level makroskopis ditandai dengan adanya jaringan granulasi yang
kaya akan jaringan pembuluh darah baru, fibroblas, dan makrofag,
granulosit, sel endotel dan kolagen yang membentuk matriks ekstraseluler
dan neovaskular yang mengisi celah luka dan memberikan scaffold adhesi,
migrasi, pertumbuhan dan diferesiasi sel (Landén et al., 2016; Gutner GC,
2007).
Terdapat tiga proses utama dalam fase proliferasi, antara lain:
a. Neoangiogenesis
Angiogenesis merupakan pertumbuhan pembuluh darah baru
yang terjadi secara alami di dalam tubuh, baik dalam kondisi sehat
maupun patologi (sakit). Kata angiogenesis sendiri berasal dari kata
angio yang berarti pembuluh darah dan genesis yang berarti
pembentukan.. Fase proliferasi di mana jaringan granulasi mengisi
kavitas luka dan keratinosit bermigrasi untuk menutup luka (Gutner
GC, 2007). Pada angiogenesis pembentukan pembuluh darah baru
berasal dari kapiler-kapiler yang muncul dari pembuluh darah kecil di
sekitarnya (Kalangi, 2011). Setelah pembentukan jaringan cukup
adekuat, migrasi dan proliferasi sel-sel endotelial menurun, dan sel
yang berlebih akan mati dalam dengan proses apoptosis (Gurtner GC,
2007).

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


12

b. Fibroblast
Fibroblas memiliki peran yang sangat penting dalam fase ini.
Fibroblas memproduksi matriks ekstraselular yang akan mengisi
kavitas luka dan menyediakan landasan untuk migrasi keratinosit.
Matriks ekstraselular inilah yang menjadi komponen yang paling
nampak pada skar di kulit. Makrofag memproduksi growth factor
seperti PDGF, FGF dan TGF- yang menginduksi fibroblas untuk
berproliferasi, migrasi, dan membentuk matriks ekstraselular (Gurtner
GC, 2007).
c. Re-epitelisasi
Secara simultan, sel-sel basal pada epitelium bergerak dari
daerah tepi luka menuju daerah luka dan menutupi daerah luka (T
Velnar, 2009). Pada tepi luka, lapisan single layer sel keratinosit akan
berproliferasi kemudian bermigrasi dari membran basal ke permukaan
luka. Ketika bermigrasi, keratinosit akan menjadi pipih dan panjang
dan juga membentuk tonjolan sitoplasma yang panjang. Mereka akan
berikatan dengan kolagen tipe I dan bermigrasi menggunakan reseptor
spesifik integrin. Kolagenase yang dikeluarkan keratinosit akan
mendisosiasi sel dari matriks dermis dan membantu pergerakan dari
matriks awal. Sel keratinosit yang telah bermigrasi dan berdiferensiasi
menjadi sel epitel ini akan bermigrasi di atas matriks provisional
menuju ke tengah luka, bila sel-sel epitel ini telah bertemu di tengah
luka, migrasi sel akan berhenti dan pembentukan membran basalis
dimulai (T Velnar, 2009).
3. Fase Maturasi (Remodeling)
Fase maturasi ini berlangsung mulai hari ke-21 hingga sekitar 1 tahun
yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan dan integritas struktural
jaringan baru pengisi luka, pertumbuhan epitel dan pembentukan jaringan
parut (T Velnar, 2009). Segera setelah kavitas luka terisi oleh jaringan

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


13

granulasi dan proses reepitelialisasi usai, fase ini pun segera dimulai. Pada
fase ini terjadi kontraksi dari luka dan remodeling kolagen. Kontraksi luka
terjadi akibat aktivitas fibroblas yang berdiferensiasi akibat pengaruh
sitokin TGF-β menjadi myofibroblas, yakni fibroblas yang mengandung
komponen mikrofilamen aktin intraselular. Myofibroblast akan
mengekspresikan α-SMA (α-Smooth Muscle Action) yang akan membuat
luka berkontraksi. Matriks intraselular akan mengalami maturasi dan asam
hyaluronat dan fibronektin akan di degradasi (T Velnar, 2009).
C. Tinjauan Umum Tentang Ulkus Diabetik
1. Definisi Ulkus Diabetik
Ulkus diabetik merupakan salah satu bentuk dari komplikasi kronik
diabetes melitus yang berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang
dapat disertai adanya kematian jaringan setempat. Ulkus diabetik
merupakan luka terbuka akibat abnormalitas saraf dan gangguan
pembuluh darah arteri perifer pada permukaan kulit terjadi komplikasi
makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insufisiensi dan neuropati, yang
lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan dan
dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun
anaerob (Tambun, 2015).
Ulkus diabetik adalah komplikasi jangka panjang diabetes melitus
yang sering terjadi. Pada kehidupan sehari-hari, ulkus diabetik
menyebabkan penurunan produktivitas pada pasien diabetes melitus.
Ulkus diabetik terjadi karena adanya hiperglikemi pada pasien diabetes
melitus yang kemudian menyebabkan kelainan neuropati dan pembuluh
darah. Kelainan neuropati mengakibatkan berbagai perubahan pada kulit
dan otot yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan distribusi
tekanan pada telapak kaki dan selanjutnya mempermudah terjadinya
ulkus. Dengan adanya ulkus yang terinfeksi, maka resiko amputasi
menjadi lebih besar (Galuhtiara, 2014).

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


14

2. Etiologi
Penyebab utama dari terjadinya luka pada kaki diabetik adalah kondisi
hiperglikemia yang menyebabkan perubahan di level molekul dan seluler.
Perubahan di level molekul dan seluler tersebut mengakibatkan
penundaan proses penyembuhan dan penurunan kekuatan luka. Kondisi
hiperglikemia tersebut juga mengakibatkan hipoksia jaringan dan
dislipidemia yang merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
terjadinya neuropati (Benbow, 2012).
Etiologi terjadinya luka kaki diabetik adalah neuropati, iskemia dan
neuroiskemia.  Neuropati merupakan faktor predisposisi terjadinya luka
kaki diabetik yang memberikan efek pada sensori, motorik dan syaraf
otonom. Kehilangan sensori akan mengakibatkan kehilangan perlindungan
tubuh terhadap trauma fisik, kimia dan termal. Motor neuropati dapat
menjadi  penyebab deformitas pada kaki yang hasilnya adalah tekanan
abnormal  pada kaki. Syaraf otonom secara tipikal berhubungan dengan
kulit kering yang mengakibatkan fisura, cracking dan kalus. Iskemia
berhubungan dengan sirkulasi yang buruk pada area  perifer. Periperal
arterial disease adalah salah satu contoh dari iskemia ini. Kondisi ini
mengakibatkan hampir 50 % terjadinya luka kaki diabetik. Penyebab
terakhir adalah neuroiskemia dimana kondisi ini adalah kombinasi dari
neuropati dan iskemia (Wounds UK, 2013).
3. Patofisologi
Ulkus diabetik diawali dengan adanya hiperglikemia pada pasien
dengan diabetes melitus yang menyebabkan kelainan pada saraf dikaki
(neuropati perifer). Kelainan yang terjadi diantaranya adalah neuropati
sensorik, motorik dan autonomik. Saraf autonomik adalah saraf yang
mengontrol fungsi otot-otot halus, kelenjar dan organ viseral. Dengan
adanya gangguan pada saraf autonomi maka terjadilah perubahan tonus
otot yang menyebabkan abnormalnya aliran darah. Dengan demikian

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


15

kebutuhan akan nutrisi dan oksigen maupun pemberian antibiotik tidak


dapat tercukupi atau tidak dapat mencapai jaringan perifer. Inilah yang
menimbulkan kulit menjadi kering, anhidrosis; yang memudahkan kulit
menjadi rusak dan luka yang sukar sembuh, dan dapat menimbulkan
kerentanan terhadap infeksi serta mengkontribusi terjadinya ganggren.
Dampak lain yang terjadi pada saraf sensorik dan motorik adalah
hilangnya sensasi rasa nyeri, tekanan dan perubahan suhu (Tambun,
2015).
4. Klasifikasi
Penilaian dan klasifiksi ulkus diabetik sangat penting untuk membantu
perencanaan terapi dari berbagai pendekatan dan membantu memprediksi
hasil. Beberapa sistem klasifikasi ulkus telah dibuat yang didasarkan pada
beberapa parameter yaitu luasnya infeksi, neuropati, iskemia, kedalaman
atau luasnya luka dan lokasi. Sistem klasifikasi yang paling banyak
digunakan pada ulkus diabetik adalah Wagner yang didasarkan pada
kedalaman luka dan terdiri dari 6 grade luka, yaitu (Wagner, 2015):
a. Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka pada kaki dengan risiko tinggi.
b. Derajat I : ulkus superfisial meliputi seluruh ketebalan kulit tetapi
tidak melibatkan jaringan di bawahnya.
c. Derajat II : ulkus dalam , menembus ligament dan otot, tetapi tidak
melibatkan tulang maupun pembentukan abses.
d. Derajat III : ulkus dalam dengan selulitis atau pembentukan abses,
sering disertai dengan osteomielitis.
e. Derajat IV : gangren terlokalisasi
f. Derajat V : gangren meluasa meliputi seluruh kaki
5. Komplikasi
Komplikasi luka kaki diabetik adalah, penderita yang secara genetik
ada meskipun secara pengobatan atau kepatuhan berobat bagus. Penderita
yang tidak melakukan pengobatan. Penderita yang tidak mampu

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


16

mengontrol gula darahnya atau pengobatannya tidak baik. Kaki diabetes


yang tidak dirawat dengan baik akan mudah mengalami luka dan cepat
berkembang menjadi ulkus gangren bila tidak ditanggulangi. Ulkus Kaki
Diabetik Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes
mellitus. Luka pada kaki yang tidak kunjung sembuh, dan pembusukan
jaringan sehingga perlu dilakukan amputasi.
6. Faktor Risiko
Faktor risiko terjadi ulkus diabetikum pada penderita penyakit DM
adalah (Purwanti, 2013):
a. Jenis kelamin
Laki-laki menjadi faktor predominan berhubungan dengan
terjadinya ulkus kaki diabetic (UKD).
b. Lama Penyakit Diabetes Melitus (DM)
Lamanya menderita DM menyebabkan keadaan hiperglikemia
yang lama. Keadaan hiperglikemia yang terus menerus menginisiasi
terjadinya hiperglisolia yaitu keadaan sel yang kebanjiran glukosa.
Hiperglosia kronik akan mengubah homeostasis biokimiawi sel
tersebut yang kemudian berpotensi untuk terjadinya perubahan dasar
terbentuknya komplikasi kronik DM.
c. Neuropati
Neuropati menyebabkan gangguan saraf motorik, sensorik dan
otonom. Gangguan motorik menyebabkan atrofi otot, deformitas kaki,
perubahan biomekanika kaki dan distribusi tekanan kaki terganggu
sehingga menyebabkan kejadian ulkus meningkat. Gangguan sensorik
disadari saat pasien mengeluhkan kaki kehilangan sensasi.
d. Peripheral Artery Disease
Penyakit arteri perifer adalah penyakit penyumbatan arteri di
ektremitas bawah yang disebakan oleh atherosklerosis. Gejala klinis
yang sering ditemui pada pasien PAD adalah klaudikasio intermitten

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


17

yang disebabkan oleh iskemia otot dan iskemia yang menimbulkan


nyeri saat istirahat. Iskemia berat akan mencapai klimaks sebagai
ulserasi dan gangren.
e. Perawatan kaki Edukasi
Perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang
dengan ulkus maupun neuropati perifer atau peripheral Artery disease
(PAD). Menurut penelitian Purwanti OK perawatan kaki terdiri dari
perawatan perawatan kaki setiap hari, perawatan kaki reguler,
mencegah injuri pada kaki, dan meningkatkan sirkulasi.
7. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan (UKD) Menurut Yuanita, 2013 yaitu
untuk mempermudah dan mempercepat proses penyembuhan luka.
Ada lima hal yang menjadi prinsip dalam pengelolaan kaki diabetik,
yaitu : (Chadwick, 2012)
a. Pengelolaan yang holistik
Pengelolaan secara holistik mencakup perubahan gaya hidup
seperti merokok, modifikasi diet dan level aktifitas fisik, pengobatan
dan secara teratur mengontrol gula darah. Apabila pengelolaan
tersebut dapat dicapai maka akan mempermudah proses penyembuhan
luka.
b. Menurunkan tekanan
Menurunkan tekanan pada luka adalah komponen utama pada
proses perawatan luka. Meningkatnya tekanan disekitar luka akan
mengakibatkan pembentukan callus yang akan memperlambat
penyembuhan luka.
c. Kontrol Infeksi
Luka pada kaki mengakibatkan kerusakan jaringan karena
infeksi. Infeksi merupakan alasan utama pelaksanaan amputasi pada
pasien dengan luka ulkus kaki diabetik.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


18

d. Revaskularisasi
Iskemia dapat memperlambat proses penyembuhan luka.
Iskemia adalah salah satu faktor resiko terhadap luka ulkus diabetik
dan juga sering terjadi bersamaan dengan penurunan sensasi.
e. Debridement
Debridement adalah pengangkatan jaringan nekrotik dari luka
agar dapat memicu pertumbuhan jaringan baru. Selanjutnya akan
mempermudah proses penyembuhan luka.
Manajemen perawatan luka meliputi  pencucian luka, debridemen, pemilihan
bahan topical terapi. (Gitaraja, 2008)
a. Pencucian Luka
Pencucian luka dilakukan untuk membuang jaringan nekrosis,
meminimalisir cairan luka yang berlebihan, sisa balutan serta sisa
metabolik tubuh pada cairan luka. Pencucian luka ini menjadi sangat
penting karena merupakan komponen mendasar dalam manajemen luka.
Proses penyembuhan luka akan lebih baik  bila lukanya dalam keadaan
bersih.
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya akan sumber
daya alam, salah satu potensi alamnya yang bisa dimanfaatkan yaitu
tanaman kayu secang (Caesalpinia sappan). Tanaman ini termasuk dalam
famili Leguminosae yang pada umumnya lebih dikenal sebagai kayu
Brazil atau Sappan. Kayu secang memiliki berbagai manfaat biologis,
seperti anti-inflamasi, antibakteri, aktivitas antioksidan, antialergi,
aktivitas nuklease, analgesik, dan lain sebagainya (Nirmal et al., 2015).
Senyawa aktif pada kayu secang terdapat flavonoid, saponin, alkaloid,
tanin, fenolik, dan brazilin. Kandungan saponin, flavonoid, dan alkaloid
yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan bersifat antifungi,
serta tanin yang dapat menunjukkan aktifitas antivirus, dan antibakteri
(Kusmiati et al, 2014). Senyawa utama yang terkandung pada kayu secang

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


19

adalah brazilin, yang berfungsi sebagai anti inflamasi. Senyawa-senyawa


aktif tersebut dapat berperan dalam proses penyembuhan luka (Winarti
dan Nurdjanah, 2005).
PHMB (Polyhexamethylene biguanide) adalah senyawa sintetis yang
memiliki struktur serupa sebagai agen dressing antimikroba. Cairan
PHMB dipakai setelah pencucian luka dengan menggunakan cairan kayu
secang. Alasan penggunaan PHMB ini karena memiliki banyak
keuntungan ketika digunakan pada luka kronis dan akut untuk tingkat
penyembuhan luka, diantaranya dapat mendebridement slough,
mendorong pembentukan jaringan granulasi, risiko sensitivitas rendah,
memudahkan pengambilan biofilm dan mengurangi koloni bakteri yang
dapat mengekang infeksi (Welch & Forder, 2016). Selain itu Agen PHMB
(Polihhexamethylene Biguanide) terbukti mengurangi rasa sakit lebih
efektif daripada perawatan kontrol. Ini kemungkinan terkait dengan
pengurangan cepat beban bakteri, karena rasa sakit adalah indikator
infeksi dengan spesifisitas 100% (Tan et al., 2016).
Ada berbagai jenis pembalut yang diresapi PHMB
(Polihhexamethylene Biguanide) seperti pembalut kasa dan dressing luka
bioselulosa termasuk gel misalnya produk Prontosan®, B Braun.
Prontosan® Wound Gel adalah gel yang siap pakai yang mengandung
0,1% Polyhexanide (pengawet) dan Betain (surfaktan), Glycerol
(pelembab) dan Hydroxyethylcellulose (pembentuk gel agen) dalam air.
PHMB diindikasikan untuk pembersihan, penyerapan bau luka,
dekontaminasi dan pelembab luka akut dan luka kronis pada ulkus kaki
diabetik, ulkus kaki, ulkus tekan, luka pasca operasi serta luka bakar
tingkat 1 dan 2 yang tidak menghambat granulasi dan epitelisasi.
Meskipun demikian PHMB ini memiliki kontraindikasi diantaranya tidak
dapat digunakan pada luka yang mengenai struktur jaringan tendon atau

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


20

hanya digunakan pada luka grade 0 sampai grade 1 (Wound & Solution,
2016).
Luka kronis dapat menghasilkan eksudat dan biofilm yang berlebihan,
dan membutuhkan antibakteri yang diresapi atau pembalut yang tepat
untuk mengurangi dan menghilangkan biofilm untuk penyembuhan luka.
Berdasarkan jurnal penelitian dengan kasus luka pada diabetes melitus tipe
2. Kondisi ulkus berukuran 2,6 cm x 2,6 cm, memiliki 10% slough dan
90% granulasi ke dasar, kalus maserasi dan tingkat eksudat moderat. Kaki
menunjukkan tanda-tanda infeksi, termasuk panas dan eritema, dan pasien
mengalami peningkatan suhu dan tidak merasakan sensasi sakit yang
dilaporkan karena neuropati. Dilakukan penatalaksanaan perawatan kaki
ulkus diabetik selama 4 minggu menggunakan PHMB
(Polihhexamethylene Biguanide) mampu memperlihatkan pengurangan
luas luka hingga 53% dari penilaian awal. (Welch & Forder, 2016)
b. Debridement
Debridement adalah sebuah tindakan pengangkatan  jaringan nekrotik
yang ada pada luka. Jaringan nekrotik adalah  jaringan mati akibat
degradasi enzim secara progresif sehingga terjadi perubahan morfologi
pada jaringan tersebut, hal ini merupakan respon yang normal dari tubuh
terhadap jaringan yang rusak.
Jaringan nekrotik dibedakan menjadi 2 bentuk:
1) Eschar yang berwarna hitam, keras serta dehidrasi impermeabel
dan lengket pada permukaan luka
2) Slough basah, kuning berupa cairan dan tidak lengket pada luka
Jaringan nekrotik ini harus disingkirkan dari luka karena dapat
mengakibatkan proses penyembuhan luka terhambat dan dapat juga
memberikan tempat yang bagus untuk pertumbuhan  bakteri. Maka
tindakan untuk mengangkat jaringan sangat diperlukan seperti
debridement.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


21

c. Penggunaan Bahan Topikal


Tindakan terakhir dalam manajemen perawatan luka adalah
menggunakan bahan topikal terapi. Memilih balutan yang tepat dapat
mempromosikan penyembuhan luka lebih baik, sehingga kemampuan
untuk memilih balutan sangat penting demi  penyembuhan luka tepat
waktu, efektif dan efisien.
D. Efektifitas pencucian luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan
dan cairan Polyhexamethylene Biguanide (PHMB)
Diabetes melitus dapat menyerang seluruh organ tubuh dan
menyebabkan berbagai jenis keluhan dengan gejala bervariasi. Apabila tidak
segera ditangani maka akan memicu berbagai komplikasi (Waspadji, 2009).
Salah satu komplikasi yang paling banyak adalah ulkus luka diabetik. Ulkus
luka diabetik dapat ditangani dengan pencucian luka. Cairan yang dapat
digunakan untuk pencucian luka yaitu air rebusan kayu secang dan cairan
PHMB.
Senyawa aktif pada kayu secang terdapat flavonoid, saponin, alkaloid,
tanin, fenolik, dan brazilin. Kandungan saponin, flavonoid, dan alkaloid yang
berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan bersifat antifungi, serta tanin
yang dapat menunjukkan aktifitas antivirus, dan antibakteri (Kusmiati et al,
2014). Senyawa utama yang terkandung pada kayu secang adalah brazilin,
yang berfungsi sebagai anti inflamasi. Senyawa-senyawa aktif tersebut dapat
berperan dalam proses penyembuhan luka (Winarti dan Nurdjanah, 2005).
Kandungan lain pada kayu secang adalah tanin. Tanin dalam ekstrak
kayu secang dapat mempercepat penyembuhan luka dengan beberapa
mekanisme seluler yaitu membersihkan radikal bebas dan oksigen reaktif,
meningkatkan penyambungan luka serta meningkatkan pembentukan
pembuluh darah kapiler dan fibroblas (Kusumawardhani et al, 2015; Hamid et
al, 2018). Tanin berfungsi menghentikan eksudat dan perdarahan ringan
sehingga mampu mempercepat penyembuhan luka (Izzati, 2015).

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


22

Salah satu alternatif cairan yang juga dapat digunakan dalam


pencucian luka selain rebusan kayu secang yaitu PHMB (polyhexamethylene
biguanide. PHMB adalah senyawa sintetis yang memiliki struktur serupa
sebagai agen dressing antimikroba. Cairan PHMB dipakai setelah pencucian
luka dengan menggunakan cairan kayu secang. Alasan penggunaan PHMB ini
karena memiliki banyak keuntungan ketika digunakan pada luka kronis dan
akut untuk tingkat penyembuhan luka, diantaranya dapat mendebridement
slough, mendorong pembentukan jaringan granulasi, risiko sensitivitas
rendah, memudahkan pengambilan biofilm dan mengurangi koloni bakteri
yang dapat mengekang infeksi (Welch & Forder, 2016).
Fazri (2009) menjelaskan ekstrak kayu secang bersifat antibakteri
yang mampu mengahambat aktivitas bakteri karena mengandung asam galat.
Senyawa-senyawa aktif lain yang terkandung dalam kayu secang selain asam
galat, yakni Sappanchalcone dan Caesalpin P, terbukti memiliki khasiat
sebagai anti inflamasi dan diabetes (Rahmawati, 2011).
Penelitian Shiratori et al, (2017) menyebutkan bahan pencucian luka
yang mengandung bakterisida adalah polyhexamethylene biguanide (PHMB).
Cairan polyhexamethylene biguanide (PHMB) adalah antiseptik dengan
aktivitas mikroba yang dapat melawan bakteri patogen dan virus (Gray,
2018). Hubner et al, (2018) menjelaskan bahwa cairan PHMB mampu
membunuh kroba sehingga dapat digunakan sebagai salah satu produk
perawatan luka.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


23

E. Kerangka Teori

Faktor Resiko Penyakit DM


Diabetes Melitus
1. Obesitas
2. Hipertensi
Komplikasi 3. Faktor Genetic
4. Dislipedemia
1. Akut
5. Umur
6. Riwayat Persalinan
2. Kronik
7. Alkohol Dan Perokok
a. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
b. Gagal Jantung Kongetif
c. Stroke
d. Diabetik Retinopati (Kebutaan)
e. Neuropati

f. Amputasi Akibat Ulkus Diabetik

Gangguan Proses
Ulkus Diabetik
Penyembuhan Luka

Penatalaksanaan
Pencucian luka dengan :
1. Pencucian luka
1. Air rebusan
2. Debridement Caesalpinia sappan
3. Penggunaan bahan topikal 2. Cairan
Polyhexamethylene
Biguanide (PHMB)

Gambar 1. Kerangka Teori


Modifikasi dari Restyana, 2015; Perkeni, 2014; Tambun 2015; Gitaraja, 2008; Black,
et al, 2009; Kusmiati, et al., 2014; Welch et al, 2016.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


24

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini yakni sebagai berikut :

Air rebusan
Caesalpinia sappan
Proses penyembuhan
Cairan luka ulkus diabetik
Polyhexamethylene
Biguanide (PHMB)

Gambar 2. Model Kerangka konsep Penelitian


Keterangan :

:Variabel bebas

:Variabel terikat

B. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini:
Ada efek pencucian luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan dan
cairan Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka
ulkus diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene Tahun
2020.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


25

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian.
Desain studi penelitian ini adalah pre - experimental design dengan
pendekatan one-group pretest-posttest design, yaitu desain penelitian yang
terdapat pretest sebelum diberi treatment (perlakuan) dan posttest setelah diberi
perlakuan (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai
variabel dependen). Dengan demikian dapat diketahui lebih akurat, karena dapat
membandingkan dengan diadakan sebelum diberi perlakuan (Wahab, 2012).
Dimana penelitian ini menerangkan atau menggambarkan tentang efektivitas
pencucian luka menggunakan air rebusan Caesalpinia sappan L. dan cairan
Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) terhadap proses penyembuhan luka ulkus
diabetik di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene Tahun 2020.
B. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan orang yang tergambarkan dari sampel dan
hasilnya mampu digeneralisir atau keseluruhan objek penelitian atau objek yang
diteliti (Wahab, 2012). Populasi penelitian ini adalah keseluruhan penderita
ulkus diabetik yang berkunjung atau melakukan perawatan luka pada bulan
Desember 2019 di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene yang
berjumlah 23 orang.
b. Sampel
Sampel adalah unit terkecil dalam penelitian atau bagian kecil yang diambil
dari keseluruhan objek yang diamati dan dianggap mewakili seluruh populasi
tersebut (Wahab, 2012).
c. Sampling
Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling yaitu
accidental sampling. Dalam non probability sampling, setiap unsur dalam

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


26

populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk dipilih
sebagai sampel. Pemilihan unit smapling didasarkan pada pertimbangan waktu
atau penilaian subjektif dan tidak menggunakan teori probabilitas (Malhotra
dalam Muray, 2007).
C. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada Bulan Maret Tahun 2020 di Klinik
Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene.
D. Definisi Operasional
Variabel Skala Hasil
No Defenisi Operasional Alat Ukur
Penelitian Ukur Ukur
Variabel Bebas
1 Caesalpin Suatu tanaman yang - - -
ia sappan batangnya dapat
dimanfaatkan sebagai
anti-inflamasi,
antibakteri, aktivitas
antioksidan,
antialergi, aktivitas
nuklease, dan
analgesik.
2 Polyhexa Senyawa sintetis - - -
methylene yang memiliki
Biguanide struktur serupa
(PHMB) sebagai antimikroba.
Variabel Terikat
3 Proses Proses yang dinamis Lembar Interval Score
Penyembu untuk menghasilkan observasi PUSH (0-
han Luka perbaikan kontuinitas dengan 17)
anatomi dan fisiologi menggunaka
luka. n PUSH
Score
Tabel 2. Definisi operasional

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


27

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah :
1. Kuesioner data demografi
Kuesioner data demografi terdiri dari inisial, tempat tanggal lahir,
alamat, jenis kelamin, usia, agama, suku, pekerjaan, pendidikan terakhir,
status pernikahan, lama menderita, dan lokasi luka.
2. Lembar observasi PUSH Score
Lembar observasi proses penyembuhan luka diukur dengan
menggunakan Pressure Ulcer Scale for Healing (PUSH) yang telah
diterjemahkan oleh Gardner et al (2005). PUSH Score adalah skala ukur
dalam rentang kontinum, dengan menjumlahkan item: panjang x lebar, jumlah
eksudat, dan tipe jaringan yang terdapat pada luka ulkus diabetik.

Tabel 3. Kisi-kisi Lembar Observasi PUSH Score (Gardner et al, 2005)


Jenis pernyataan Nomor pernyataan Jumlah
Luas luka (panjang x lebar) 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 10
Jumlah eksudat 0, 1, 2, 3 3
Tipe jaringan 0, 1, 2, 3, 4 4
Total 17

Deskripsi luka berada pada skor 0-17, 0 menunjukkan luka sembuh,


sedangkan 1-17 merupakan respresentasi tingkat penyembuhan luka ulkus
diabetik. Lembar observasi PUSH Score terdisi dari 3 pernyataan yakni luas
luka (panjang x lebar), jumlah eksudat, dan tipe jaringan. Bagian pernyataan
pertama memiliki jawaban yang berbobot yakni 0-17. Dimana “0cm2”
berbobot 0, “<0,3cm2” berbobot 1, “0,3-0,6cm2” berbobot 2, “0,7-1,0cm2”
berbobot 3, “1,1-2,0cm2” berbobot 4, “2,1-3,0cm2” berbobot 5, “3,1-4,0cm2”
berbobot 6, “4,1-8,0cm2” berbobot 7, “8,1-12,0cm2” berbobot 8, “12,1-24,0
cm2” berbobot 9, dan “>24,0cm2” berbobot 10. Bagian pernyataan kedua
memiliki jawaban yang berbobot yakni 0-3. Dimana “tidak ada (dasar luka

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


28

kering)” berbobot 0, “sedikit (jaringan luka tampak lembab, drainase cairan


<25% balutan)” berbobot 1, “sedang (dasar luka basah, drainase cairan 25%
pada balutan)” berbobot 2, dan “banyak (jaringan luka tampak jenuh, dasar
luka basah, drainase eksudat” berbobot 3. Bagian pernyataan ketiga juga
memiliki jawaban yang berbobot yakni 0-4. Dimana “tertutup” berbobot 0,
“epitelisasi (merah mudah)” berbobot 1, “granulasi (kemerahan)” berbobot 2,
“slough (kuning)” berbobot 3, dan “nekrotik (hitam)” berbobot 4.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


29

F. Alur Penelitian

Populasi Pasien DM dengan ulkus


diabetik di Klinik IWCC
Kabupaten Majene

Sampel penelitian sesuai dengan teknik


accidental sampling.

Variabel Bebas : Variabel Terikat:


Air Rebusan Caesalpinia sappan dan Proses Penyembuhan Luka
Cairan Polyhexamethylene Biguanide
(PHMB)

Pengisian lembar observasi kondisi luka pre

Tindakan pencucian luka

Pengisian lembar observasi post 1 (per 3 hari)

Tindakan pencucian luka

Pengisian lembar observasi post 2 (per 3 hari)

Analisa data menggunakan komputer/


SPSS untuk melihat distribusi frekuensi

Penyajian dan pembahasan hasil penelitian

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3. Alur Penelitian

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


30

G. Teknik Pengumpulan Data


1. Data primer diperoleh melalui lembar observasi proses penyembuhan luka
yang di isi oleh peneliti.
2. Data sekunder diperoleh dari laporan-laporan atau dokumen-dokumen
lainnya yang ada di Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten Majene.
H. Rencana Jalannya Penelitian
Rencana jalannya penelitian dilakukan dengan beberapa proses yakni :
1. Tahap persiapan
Tahap ini diawali dengan peneliti menentukan tema dan judul penelitian
melaui review kepustakaan dan jurnal hasil penelitian. Langkah selanjutnya
melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing terkait judul penelitian.
Menyusun proposal penelitian dengan terlebih dahulu melakukan studi
pendahuluan ke Klinik IWCC Kabupaten Majene. Menyiapkan instrument
penelitian. Instrument penelitian yang disiapkan yakni lembar observasi
proses penyembuhan luka.
2. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan peneliti setelah proposal
penelitian ini disetujui oleh pembimbing adalah sebagai berikut :
a. Meminta izin kepada pihak UNIVERSITAS SULAWESI BARAT untuk
melakukan penelitian.
b. Meminta izin kepada Kepala Klinik Ikram Wound Care Center Kabupaten
Majene untuk melakukan penelitian di Klinik Ikram Wound Care Center
Kabupaten Majene.
c. Kepala Klinik mengarahkan peneliti ke penanggung jawab program
perawatan luka ulkus diabetik.
d. Menjelaskan prosedur dalam pengambilan data kepada penanggung jawab
perawatan luka ulkus diabetik.
e. Meminta data pribadi responden yang tercatat dalam catatan medis
responden yang menjadi pasien DM dengan ulkus diabetik.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


31

f. Peneliti terjun ke lapangan dengan meminta persetujuan dari responden


untuk menemui calon responden dan keluarga calon responden dengan
melakukan pendekatan BHSP (bina hubungan saling percaya).
g. Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian kepada calon
responden dan keluarga calon responden.
h. Peneliti selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk
menandatangani lembar persetujuan, dan jika pasien menolak maka
peneliti menghormati hak responden dan tidak memaksa responden.
i. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya bila ada yang
belum jelas.
j. Setelah balutan luka dibuka, peneliti mengukur panjang dan lebar luka,
jumlah eksudat, dan tipe jaringan pada luka pasien. (pre)
k. Sebelum tindakan pencucian luka, peneliti mengisi lembar observasi.
l. Setelah lembar observasi dijawab, peneliti mengecek kembali
kelengkapan jawabawan dari lembar observasi.
m. Jika jawaban dari lembar observasi belum terisi dengan lengkap, maka
peneliti harus melengkapi ulang lembar observasi tersebut. Dan setelah
semua terisi maka peneliti mengumpulkan data dan mengucapkan terima
kasih kepada responden.
n. 3 hari kemudian peneliti mengukur kembali lebar dan panjang luka,
jumlah eksudat, dan tipe jaringan pada luka pasien. (post 1)
o. Sebelum tindakan pencucian luka, peneliti mengisi lembar observasi.
p. Setelah lembar observasi dijawab, peneliti mengecek kembali
kelengkapan jawabawan dari lembar observasi.
q. Jika jawaban dari lembar observasi belum terisi dengan lengkap, maka
peneliti harus melengkapi ulang lembar observasi tersebut dan setelah
semua terisi maka peneliti mengumpulkan data dan mengucapkan terima
kasih kepada responden.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


32

r. 3 hari kemudian peneliti mengukur kembali lebar dan panjang luka,


jumlah eksudat, dan tipe jaringan pada luka pasien. (post 2)
s. Sebelum tindakan pencucian luka, peneliti mengisi lembar observasi.
t. Setelah lembar observasi dijawab, peneliti mengecek kembali
kelengkapan jawabawan dari lembar observasi.
u. Jika jawaban dari lembar observasi belum terisi dengan lengkap, maka
peneliti harus melengkapi ulang lembar observasi tersebut. Dan setelah
semua terisi maka peneliti mengumpulkan data dan mengucapkan terima
kasih kepada responden.
I. Analisis data
Data dianalisis dengan dua tahap, yakni sebagai berikut :
1. Analisis Univariat
Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel
dari hasil penelitian. Analisa univariat dalam penelitian ini menghasilkan
distribusi frekuensi dengan presentase. Analisa dilakukan pada variabel air
rebusan Caesalpinia sappan dan cairan Polyhexamethylene Biguanide
(PHMB) terhadap proses penyembuhan luka.
2. Analisis Bivariat
Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah menganalisa efektivitas air
rebusan Caesalpinia sappan dan cairan Polyhexamethylene Biguanide
(PHMB) terhadap proses penyembuhan luka di Klinik IWCC Kabupaten
Majene dengan melakukan Repeated-Measures Anova. Menurut Field (2009)
Repeated-measures digunakan karena subjek yang sama berpartisipasi dalam
suatu eksperimen dengan dua perlakuan atau lebih. Dalam penelitian ini
eksperimen yang dilakukan memiliki tiga perlakuan (pre, post 1, dan post 2).
Selain itu, Field (2009) menjelaskan bahwa jika menggunakan analisis
Repeated-measures, efek dari eksperimen lebih jelas serta dapat menentukan
ada atau tidaknya interaksi (ketergantungan) antara variabel-variabel.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


33

J. Pengolahan Data
1. Editing
Editing yaitu memeriksa semua kuesioner yang telah diisi, berkaitan
dengan kekurangan cara pengisian yang dilakukan oleh responden yang
selanjutnya dilakukan pengolahan data, terutama memeriksa kuesioner
berdasarkan criteria sampel.
2. Koding
Koding disebut juga dengan pengkodean kuesioner. Koding dilakukan
dengan memberikan kode sesuai dengan jawaban yang diisi oleh responden.
Selanjutnya untuk memudahkan pemasukan data maka dibuat formulir koding
kemudian hasil koding dan pada saat ini data siap untuk dimasukkan kedalam
komputer.
3. Scoring
Pada tahap scoring peneliti memberi nilai sesuai dengan skor yang
ditentukan pada lembar kuesioner yang diisi oleh responden.
4. Entry Data
Kegiatan memasukan data yang telah dikumpul kedalam master tabel
atau data base komputer kemudian membuat distribusi frekwensi sederhana.
5. Tabulasi
Tabulasi dilakukan dengan mengelompokkan data kedalam satu tabel
sesuai sifat–sifat yang dimiliki.
6. Cleaning
Kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry, Apakah
terdapat kesalahan atau tidak.
K. Etika Penelitian
Etika penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut:
a. Informed consent
Informed consent adalah lembar persetujuan yang diberikan kepada responden
penelitian yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR


34

tujuan dari penelitian yang dilakukan. Responden yang bersedia ikut dalam
penelitian peneliti akan meminta kesediaan responden untuk menandatangani
lembar persetujuan tersebut. Namun jika responden menolak untuk diteliti,
maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak responden.
b. Anonimity
Prinsip anonimity dilakukan dengan menjaga kerahasiaan responden,
peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar observasi,
cukup dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar tersebut.
c. Confidentiality
Kerahasiaan responden dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu
saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.
d. Benefcience
Segala tindakan dalam penelitian harus didasarkan untuk kebaikan
responden.
e. Keadilan
Peneliti tidak akan melakukan diskriminasi pada responden penelitian yang
meliputi suku, ras, agama, jenis kelamin, status sosial, jabatan, dan
kedudukan.

Fakultas Ilmu Kesehatan UNSULBAR