Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dividen adalah bagian laba usaha yang diperoleh perusahaan dan diberikan

oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya sebagai imbalan atas kesedian

mereka menanamkan hartanya dalam perusahaan (Rudianto, 2012:290).

Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan

akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam

bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang (Sartono, 2008).

Terdapat beberapa jenis dividen yang dapat dibagikan oleh perusahaan, yang

pertama dividen tunai, dividen harta, dividen skrip atau dividen utang, dividen

saham, dan dividen likuiditasi. Menurut Sutrisno (2013) apabila laba yang

diperoleh perusahaan akan dibagi dalam bentuk dividen, maka dampak bagi

perusahaan adalah berkurangnya jumlah laba yang akan digunakan sebagai modal

atau biaya internal perusahaan. Sebaliknya jika laba yang diperoeh perusahaan

tidaak di bagikan atau laba tersebut ditahan (retained earnings), maka jumlah laba

perusahaan yang akan digunakan sebagai modal atau biaya internal akan

bertambah sehingga perusahaan bisa mengembangkan perusahaannya atau dapat

melakukan reinvestasi.

Perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar deviden tinggi akan

mempengaruhi harga saham juga cenderung tinggi sehingga nilai perusahaan ikut

tinggi, sebaliknya apabila deviden yang dibayarkan perusahaan kecil maka harga

i
ii

saham perusahaan akan rendah yang dapat mengakibatkan nilai perusahaan akan

menurun. (Ayu putri dan Bagus panji 2018) Semakin besar tingkat laba yang

dibagikan dalam bentuk dividen akan membuat calon investor semakin tertarik

dan itu dapat menunjukan kondisi perusahaan yang sehat dan memiliki prospek

yang bagus untuk kedepannya. Apabila suatu perusahaan menaikkan dividen

maka minat investor untuk menanamkan sahamnya akan semakin meningkat dan

hal tersebut berpengaruh terhadap harga saham. Semakin banyak investor yang

berminat terhadap harga saham suatu perusahaan maka saham perusahaan tersebut

cenderung akan meningkat. Hal ini dikarenakan kebijakan deviden dapat memberi

kesaan kepada investor bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik dimasa

yang akan datang (Riyanto,2010).

Secara umum penetapan kebijakan dividen dipengaruhi oleh beberapa faktor

yang dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu financial dan non financial.

Faktor financial meliputi prospek pertumbuhan, biaya modal, profitabilitas,

kebutuhan pendanaan perusahaan, likuiditas, kemampuan meminjam, kebutuhan

pelunasan hutang, stabilitas dividen, serta tingkat ekspansi aktiva. Sedangkan

faktor non financial yang meliputi peraturan perpajakan, pembatasan perjanjian

hutang, peluang ke pasar modal, kendali perusahaan, posisi pemegang saham

sebagai pembayar pajak. Menurut Hanafi (2004) menyebutkan bahwa pembayaran

deviden dipengaruhi oleh investasi, profitabilitas, likuiditas, akses kepasar,

stabilitas pendapatan, dan pembatasan-pembatasan. Dengan demikian peneliti

mencoba menganalisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi kebijakan

ii
dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham, diantaranya leverage,

likuiditas, profitabilitas

Penelitian ini merupakan penelitian replikasi dari penelitian sebelumnya yaitu

penelitian dari (Deamaulida:2018) yang berjudul “Pengaruh Likuiditas,

Profitabilitas dan Leverage Terhadap Kebijakan Dividen”. Berdasarkan uraian

diatas maka peneliti akan menuangkannnya dalam sebuah karya ilmiah yang

berbentuk skripsi dengan judul : “ANALISIS PENGARUH LEVERAGE,

LIKUIDITAS, DAN PROFITABILITAS TERHADAP KEBIJAKAN

DEVIDEN”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya maka rumusan maslaah

untuk penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah leverage berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan Sub-

Sektor Property dan Real Estate periode 2015-2018.

2. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan Sub-

Sektor Property dan Real Estate periode 2015-2018.

3. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan

Sub-Sektor Property dan Real Estate periode 2015-2018.

C. Tujuan Penelitian

Keinginan untuk mengetahui analisis pengaruh leverage, likuiditas,

profitabilitas terhadap kebijakan deviden pada perusahaan Sub-sektor property

iii
iv

dan real estate, maka sesuai dengan perumusan masalah diatas peneliti

mempunyai tujuan:

1. Menganalisis adanya pengaruh leverage terhadap kebijakan deviden pada

perusahaan Sub-sektor property dan reale estate yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2015-2018.

2. Menganalisis adanya pengaruh likuiditas terhadap kebijakan deviden pada

perusahaan Sub-sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2015-2018.

3. Menganalisis adanya pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan deviden pada

perusahaan Sub-sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2015-2018.

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian yang dihasilkan, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

berbagai pihak,antara lain:

1. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan dapat

memberikan referensi untuk penelitian selanjutnya dan sebagai perbandiangan

penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan

leverage, likuiditas, profitabilitas terhadap kebijakan deviden.

2. Bagi Investor

Penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi para investor mengenai

leverage, likuiditas, profitabilitas, dan terhadap kebijakan deviden.

3. Bagi Manajer

iv
Penelitian ini diharapkan dapat membantu manajer perusahaan dalam mengambil

keputusan dalam membagikan deviden.

E. Sistematika Penulisan

Penulisan sekripsi ini terdiri dari lima bab yang saling berhubungan antara

satu bab dengan bab lainnya dan disusun secara terperinci untuk memberikan

gambaran dan mempermudah pembahasan.

BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah dan

sebab-sebab yang mendasari diadakannya penelitian ini. Dengan

adanya latar belakang tersebut kemudian dirumuskan masalah.

Selanjutnya membahas mengenai tugas dan manfaat penelitian

yang dilakukan, serta sistematika penulisan sekripsi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan,

diantaranya teori pensinyalan, teori keagenan, teori rasio keuangan,

leverage, likuiditas, current ratio, profitabilitas, dividen, kebijakan

dividen. Selain itu juga terdapat penelitian terdahulu, kerangka

berfikir, dan perumusan hipotesis penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai dasar dilakukannya penelitian,

jenis dan sumber data yang di gunakan, penentuan populasi dan

sample yang akan diteliti, dan pengukuran variabel, metode

v
vi

pengumpulan data, serta teknik analisis data yang akan dipakai

dalam penelitian sekripsi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum dari

penelitian yang di ambil, serta hasil dan interpretasi hasil

penelitian.

BAB V PENUTUP

Pada bab ini menjelaskan mengenai simpulan berupa poin-poin

yang berisi hasil penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian

dan hasil temuan serta saran bagi subjek atau pihak-pihak yang

berkaitan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori pensinyalan (Sgnaling Theory)

Teori ini membahas tentang signal-signal keberhasilan atau kegagalan

manajemen (agen) yang disampaikan kepada pemilik (principal). Menurut Noor

(2015), teori signal atau teori pensignalan merupakan dampak dari adanya

asimetri informasi. Teori sinyal adalah teori yang menjelaskan cara pemberian

signal perusahaan kepada pihak-pigak yang berkepentingan dengan informasi

vi
tersebut. Teori signal (signalling theory) menjelaskan mengapa perusahaan

mempunyai dorongan untuk memberikan informasi asimetris antara perusahaan

(manajemen) dengan pihak luar, dimana manajemen mengetahui informasi

internal perusahaan yang relatif lebih bnayak dan lebih cepat dibandingkan pihak

luar seperti investor dan kreditor.

Kurangnya informasi yang diperoleh tentang perusahaan menyebabkan pihak

luar memberikan nilai yang rendah untuk perusahaan tersebut. Perusahaan dapat

meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetris, dengan

cara memeberikan signal kepada pihak luar yang disajikan dalam bentuk

informasi keuangan yang dapat dipercaya sehingga dapat mengurangi ketidak

pastian mengenai prospek perusahaan pada periode yang akan datang. Dengan

laporan tentang kinerja perusahaan yang baik akan mengakibatkan nilai

perusahaan ikut meningkat.

Isyarat atau signal adalah tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan

dimana manajemen mengetahui informasi yang lebih lengkap dan akurat

mengenai internal perusahaan dan prospek perusahaan dimasa depan dari pihak

investor (Febrianty, 2011). Signalling Theory merupakan signal-signal informasi

yang dibutuhkan oleh investor untuk mempertimbangkan dan menentukan apakah

para investor akan menanamkan sahamnya atau tidak pada perusahaan yang

bersangkutan. Dimana informasi mengeni perubahan harga dan volume saham

mengandung informasi dalam memberikan bukti yang bermanfaat dan dapat

digunakan dalam pengambilan keputusan (suwardjono, 2005).

vii
viii

Pengumuman informasi akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan

mempunyai prospek yang baik atau buruk di masa mendatang. Apabila informasi

keuangan memiliki penilaian yang baik maka informasi yang diterima investor

merupakan Good News sehingga investor tertarik untuk melakukan perdagangan

saham dan berujung pada perubahan harga saham. Sebaliknya bila informasi

keuangan menunjukkan penilaian buruk maka informasi yang diterima investor

adalah Bad News dan mempengaruhi perdagangan serta harga saham pula.

2. Teori keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menurut Jensen dan Meckling (1976) adalah “suatu kontrak

di bawah satu atau lebih yang melibatkan agent untuk melaksanakan beberapa

layanan bagi mereka dengan melakukan pendelegasian wewenang pengambilan

keputusan pada agent”. Tujuan utama dari teori keagenan (agency theory) aadalah

untuk menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak

dapat

mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisasi biaya sebagai dampak

adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi ketidakpastian.

Teori keagenan ini berusaha menjawab masalah keagenan yang terjadi karena

pihak-pihak yang saling bekerjasama meskipun mempunyai tujuan yang berbeda.

Teori keagenan (agency theory) di tekankan dalam dua hal masalah yang dapat

terjadi dalam gubungan keagenan (Eisenhardt, 1989 dalam Ernati 2009). Masalah

pertama yaitu masalah keagenan yang muncul pada saat keinginan-keinginan atau

tujuan-tujuan principal untuk verifikasi apakah agent telah melakukan sesuatu

dengan tepat. Kedua yaitu masalah pembagian dalam menanggung resiko yang

viii
dapat timbul dimana principal dan agent memiliki sikap yang berbeda terhadap

risiko. Inti dari hubungan keagenan yaitu di dalam hubungan keagenan tersebut

terdapat adanya pemisahan antara kepemilikan (pihak principal) yaitu pemegang

saham dengan pihak pengendalian (pihak agent) yaitu manajer yang mengelola.

3. Leverage

Laverage merupakan penggunaan aset dan sumber dana (source of funds)

oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban tetap) dengan maksud untuk

meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham (Sartono, 2008:257).

Laverage merupakan suatu kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva

atau dana yang mempunyai beban tetap (hutang dan atau saham istimewa) dalam

rangka mewujudkan tujuan perusahaan untuk memaksimalkan kekayaan pemilik

perusahaan.

Menurut Sjahrial (2009:147), leverage adalah penggunaan aktiva dan sumber

dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban tetap) berarti sumber dana

yang berasal dari pinjaman karena memiliki bunga sebagai beban tetap dengan

maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham. 

Rasio leverage juga merupakan rasio keuangan yang dapat mengukur

kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang jangka

panjangnya. Rasio ini membandingkan antara total beban utang perusahaan

terhadap aset atau ekuitasnya. Yang artinya rasio ini menunjukkan seberapa

banyak aset perusahaan yang dimiliki oleh para pemegang saham dibandingkan

dengan aset yang dimiliki oleh para kreditur atau pemberi utang.

ix
x

Rasio leverage menggambarkan jumlah struktur modal yang digunakan untuk

membiayai oprasional perusahaan. Suatu perusahaan yang memiliki rasio leverage

yang tinggi dalam struktur modalnya dapat berisiko, namun di sisi lain hal

tersebut juga bisa memberikan manfaat. Penggunaan utang dalam oprasional

bisnis bisa memberi keuntungan, apabila mampu menghasilkan laba. Namun

perusahaan dengan leverage yang tinggi juga dapat mengalami gagal bayar yang

lebih tinggi terhadap kewajibannya apabila profitabilitasnya menurun

dibandingkan dengan perusahaan yang tingkat leverage lebih rendah.

Perusahaan dapat memilih ukuran leverage yang tepat dengan mengatur

strategi dan rencana yang matang. Perusahaan juga dapat selalu mengevaluasi

situasi market sebelum mengambil keputusan. Leverage dapat dikatakan baik

apabila tidak terlalu tinggi dan memiliki profit yang melebihi dari nilai leverage

tersebut.

4. Likuiditas

Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban

jangka pendeknya. Apabila suatu perusahaan memiliki likuiditas yang tinggi maka

hal tersebut dapat menggambarkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajibannya serta menggambarkan semakin tingginya kemampuan

perusahaan dalam membayar deviden bagi pemegang saham.

Menurut Bambang Riyanto (2010) “likuiditas adalah berhubungan dengan

masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya

x
yang segera harus dipenuhi. Jumlah alat-alat pembayaran (alat-alat likuid) yang

dimiliki oleh suatu perusahaan pada satu saat merupakan kekuatan membayar dari

perusahaan yang bersangkutan”.

Rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan

dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya. Rasio

likuiditas dapat digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan.

Jika suatu perusahaan mampu memenuhi kewajibannya berarti perusahaan

tersebut dapat di sebut likuid, sedangkan perusahaan yang tidak mampu

memenuhi kewajibannya berarti perusahaan tersebut tidak likuid.

Cara mengukur suatu perusahaan likuid atau tidak, dapat dengan

membandingkan komponen yang ada pada neraca, yaitu total aktiva lancar dengan

total pasiva lancar (utang jangka pendek). Pengukuran tersebut dapat dilakukan

untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari

waktu ke waktu.

Semakin tinggi tingkat likuiditas suatu perusahaan menunjukkan bahwa

kinerja perusahaan juga baik, karena dengan tingkat likuiditas yang tinggi berarti

suatu perusahaan tersebut dapat membayarkan utang jangka pendeknya dengan

baik, dengan begitu kesempatan untuk mendapatkan dukungan dari berbagai

pihak juga semakin terbuka lebar. Investor akan lebih memilih menyimpan

uangnya pada perusahaan yang mempunyai likuiditas tinggi. Jadi likuiditas yang

dimiliki perusahaan sangat penting dalam menunjukkan kinerjanya serta menjadi

target investasi para investor.

xi
xii

Sebaliknya apabila perusahaan mempunyai tingkat likuiditas yang rendah

maka perusahaan tersebut mempunyai kemampuan yang rendah dalam

membayarkan utang jangka pendeknya dengan begitu akan mengurangi minat

para investor menanamkan modal.Terdapat beberapa jenis rasio likuiditas antara

lain :

a) Current Ratio

Rasio yang digunakan untuk menilai kecukupan aktiva lancar perusahaan untuk

melunasi kewajiban jangka pendek atau utang lavncarnya yang dipakai

dalamperhitungan akuntansi sesuai jenis-jenis laporan keuangan.

b) Rasio Cepat (Quik Ratio)

Rasio yang digunakan untuk melihat likuiditas perusahaan secara cepat dengan

cara membandingkan kewajiban untang jangka pendek dengan aktiva lancar.

c) Rasio Kas

Rasio yang membandingkan cashflow dengan tagihan yang harus dibayar. Rasio

kas yang menunjukkan kurang dari satu menunjukkan bahwa perusahaan tidak

mampu membayar kewajibannya.

d) Rasio perputaran persediaan

Rasio ini biasa disebut dengan inventory trun over ratio menunjukkan berapa kali

persediaan atau barang inventaris dikonversi menjadi penjualan selamaperiode

waktu tertentu.

e) Working Capital to Total Asset Ratio

Rasio ini dipakai untuk menilai likuiditas dengan menghitung total aktiva dan

posisi modal kerja.

xii
5. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba.

Semakin besar profitabilitas, maka akan semakin besar pula kemampuan

perusahaan untuk memperoleh laba. Menurut kasmir (2014:115) rasio

profitabilitas untuk menilai kemampuan perusaahaan dalam mencari keuntungan.

Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu

perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan

pendapatan investasi.

Rasio profitabilitas atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan

perusahaan dalam mendapatkan laba dari pendapatan terkait penjualan, aset, dan

ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Semakin tinggi nilai rasio

profitabilitas maka menggambarkan kondisi perusahaan semakin baik. Dengan

profitabilitas yang tinggi maka akan menarik minat para investor untuk

menanamkan sahamnya karna laba yang diperoleh cukup tinggi.

Sebaliknya apabila suatu perusahaan memiliki nilai profitabilitas yang

rendah maka menggambarkan perusahaan tersebut mrmiliki tingkat pendapatan

rendah. Dengan demikian perusahaan akan memiliki peringkat yang kurang baik

di mata

para investor. Jadi dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang baik memiliki

profitabilitas yang tinggi.

Dalam profitabilitas terdapat beberapa rasio antara lain Retrun on Asset

(ROA) rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

dari penggunaan seluruh sumber daya atau aset yang dimilikinya, ROA

xiii
xiv

digunakan untuk menilai kualitaskerja perusahaan dalammenghasilkan laba

bersih dari pemanfaatan aset yang dimilikinya, Retrun on Equity (ROE)

merupakan rasio profitabilitas untuk mengukur sejauh mana kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bagi para investor atau pemilik dari

investasi pemegang saham perusahaan dengan menggunakan, Ukuran

Perusahaan. Sedangan rasio Retrun On Investement (ROI) merupakan rasio

profitabilitas yang mengukur efisiensi sebuah investasi dengan membandingkan

laba bersih dengan total biaya atau modal yang diinvestasikan.

B. Kebijakan Dividen

Menurut Rudianto (2012:290) “Dividen adalah bagian laba usaha yang

diperoleh perusahaan dan diberikan oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya

sebagai imbalan atas kesediaan mereka menanamkan hartanya dalam perusahaan”.

Dapat disimpulkan bahwa dividen merupakan pembagian laba yang diperoleh

suatu perusahaan dari usaha yang diberikan kepada pemegang saham dimana laba

tersebut dapat berupa dividen tunai atau dividen saham yang dapat

memaksimumkan nilai perusahaan disamping keputusan investasi dan stuktur

modal. Berikut ini merupakan jenis jenis dividen yang dapat dibagikan oleh

perusahaan kepada pemegang sahamnya menurut Rudianto (2012:290) :

1. Dividen tunai

Bagian laba usaha yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk uang

tunai. Sebelum dividen dibagikan, perusahaan harus mempertimbangkan

ketersediaan dana untuk membayar dividen. Jika perusahaan memilih untuk

xiv
membagikan dividen tunai itu berarti pada saat dividen akan dibagikan kepada

pemegang saham perusahaan memiliki uang tunai dalam jumlah yang cukup.

2. Dividen harta

Bagian dari laba usaha perusahaan yang dibagikan dalam bentuk harta selain kas.

Walaupun dapat berbentuk harta lain, tetapi biasanya harta tersebut dalam bentuk

surat berharga yang dimiliki oleh perusahaan.

3. Dividen skrip atau dividen utang

Bagian dari laba usaha perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham

dalam bentuk janji tertulis untuk membayar sejumlah uang dimasa datang.

Dividen skrip terjadi karena perusahaan ingin membagikan dividen dalam bentuk

uang tunai, tetapi tidak tersedia kas yang cukup, walupun laba ditahan

menunjukan saldo yang cukup. Karena itu, pihak manajemen perusahaan

menjanjikan untuk membayar sejumlah uang di masa mendatang kepada para

pemegang saham.

4. Dividen saham

Bagian dari laba usaha yang ingin dibagikan kepada pemegang saham dalam

bentuk saham baru perusahaan itu sendiri. Dividen saham dibagikan karena

perusahaan ingin mengkapitalisasi sebagian laba usaha yang diperolehnya secara

permanen.

5. Dividen Likuidasi

Dividen yang ingin dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham

dalam berbagai bentuknya, tetapi tidak didasarkan pada besarnya laba usaha atau

xv
xvi

saldo laba ditahan perusahaan. Dividen likuidasi merupakan pengembalian modal

atas investasi pemilik oleh perusahaan.

Pembagian dividen dalam suatu perseroan diatur dalam Undang-

Undang NO. 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas (UUPT) dan

anggaran dasar perseroan, selama tidak bertentangan dengan UUPT.

Berdasarkan UU PT, seluruh laba bersih dikurangi penyisihan untuk

cadangan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, kecuali

terdapat ketentuan lain dalam Rapat Umum Pemegang Saham ("RUPS").

Kebijakan deviden merupakan pengambilan keputusan dalam

penentuan jumlah laba yang diperoleh perusahaan untuk dibagikan pada

pemegang saham dalam bentuk deviden ataupun laba ditahan yang

digunakan untuk pembiayaan investasi di masa datang dan juga penentuan

berapa banyak deviden yang akan dibagikan.

Menurut (Riyanto, 2011) kebijakan yang bersaangkutan dengan

pembagian pendapatan (earning) antara pengguna pendapatan untuk

dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai deviden atau untuk

digunakan dalam perusahaan, yang berarti pendapatan tersebut harus

ditanam di dalam perusahaan”.

Menurut Bambang Riyanto (2010: 269) terdapat beberapa macam

kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai

berikut:

1. Kebijakan dividen yang stabil. (stable dividend-per-share policy)

xvi
Jumlah pembayaran dividen yang sama besarnya dari tahun ke tahun. Salah satu

alasan mengapa suatu perusahaan itu menetapkan kebijakan dividen yang stabil

adalah untuk memberikan kesan para investor terhadap perusahaan tersebut,

karena apabila suatu perusahaan menerapkan kebijakan dividen yang stabil berarti

perusahaan tersebut yakin bahwa pendapatan bersih perusahaan tersebut juga

stabil dari tahun ke tahun meskipun perusahaan mengalami kerugian.

2. Kebijakan dividen payout ratioyang tetap (constant dividend payout ratio policy)

Dalam kebijakan ini, jumlah dividen akan berubah-ubah sesuai dengan jumlah

laba bersih perusahaan, tetapi rasio antara dividen dan laba ditahan tetap. Dividen

yang dibayar berfluktuasi tergantung besarnya keuntungan bagi pemegang saham

3. Kebijakan kompromi (compromise policy)

Suatu kebijakan yang berada antara kebijakan per saham yang stabil dan

kebijakan dividen payout ratio yang konstan ditambah dengan prestasi tertentu

pada tahun-tahun yang mampu menghasilkan laba bersih yang tinggi.

4. Kebijakan dividen residual (residual-dividend policy)

Apabila suaru perusahaan menghadapi suatu kesempatan investasi yang tidak

stabil maka manajemen menghendaki agar dividend hanya dibayar ketika laba

bersih terisi.

C. Teori Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah membandingkan angka-angka yang

terdapat dalam laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui posisi

keuangan suatu perusahaan serta menilai kinerja manajemen dalam suatu

perusahaan dan menilai kinerja manajemen dalam suatu periode tertentu.

xvii
xviii

Menurut Samryn (2011) Analisis rasio keuangan adalah suatu cara yang

membuat perbandingan data keuangan perusahaan menjadi lebih arti. Rasio

keuangan menjadi dasar untuk menjawab beberapa pertanyaan penting mengenai

kesehatan keuangan dari perusahaan.

D. Penelitian terdahulu

Penelitian terdahulu yang berkaitan degan leverage, likuiditas,

profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan deviden telah

banyak dilakukan oleh banyak peneliti seperti:

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Shandy Eltaya dan Topowijono Devi

Farah (2016) Secara parsial hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel

Current Ratio(CR) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout

Ratio (DPR) sedangkan variabel Debt Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan

negatif terhadap Dividend Payout Ratio (DPR), Return On Equity (ROE)

berpengaruh signifikan positif terhadap Dividend Payout Ratio(DPR) dan Size

berpengaruh signifikan negatif terhadap Dividend Payout Ratio (DPR).Secara

simultan hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa variabel Debt Equity Ratio

(DER), Current Ratio(CR), Return On Equity (ROE) dan Size berpengaruh

signifikan terhadap Dividend Payout Ratio(DPR).

Penelitian yang dilakukan oleh Yulian Bayu Ganar (2018) Penelitian ini

dilakukan untuk menguji pengaruh variable Current Ratio (CR), Net Profit

Margin (NPM), Return on equity (ROE) dan Earning per share (EPS) terhadap

Dividend Payout Ratio (DPR) pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2013-2016. Penelitian ini menggunakan sampel 5perusahaan.

xviii
Teknik analisis yang digunakan adalah, uji asumsi klasik, analisis regresi

berganda, pengujian hipotesis, dan koefisien determinasi dengan taraf signifikan

5% menggunakan program SPSS forWindows Version 23. Hasil penelitian

menunjukkan Secara parsial di dapat

bahwa variabel Current Ratio (CR), dan Return on equity (ROE) berpengaruh

signifikan positif terhadap dividend payout ratio dan Net Profit Margin (NPM)

dan EPS berpengaruh signifikan negatif terhadap dividend payout ratio, hasil

penelitian ini juga menunjukkan bahwa besar pengaruh variabel independen yaitu

CR, NPM, ROE dan EPS terhadap variabel dependen yaitu Dividend Payout

Ratio (DPR) adalah sebesar 62,5%.

Menurut penelitian Kristina Simbolon dan Djoko Sampurno (2017) Penelitian

ini meneliti tentang pengaruh Firm Size, DER, Growth, ROE, EPS, Quick Ratio

dan Past Dividend terhadap Dividend payout ratio pada perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015. Hasil pengujian hipotesis

menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian diperoleh nilai adjusted

2
R sebesar 59,90% yang berarti bahwa tujuh variabeli ndependen, yaitu FirmSize,

DER, Growth, ROE, EPS, Quick Ratio dan DPR_1 dapat menjelaskan variabel

Dividend payout ratio dengan persentasi 59,90% sedangkan sisanya 40,10%

dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian Hipotesis 4 variabel diterima,

yaitu Debt To Equity Ratio, Asset Growth, ROE dan Dpr_1. Hipotesis tiga

variabel ditolak karena tidak signifika nyaituFirm Size, EPSd an QuickRatio.

a. Kerangka Berfikir

xix
xx

Setelah memahami hasil penelitian terdahulu dan tinjauan teori yang telah

diuraikan tersebut, dapat dirumuskan kerangka berfikir sebagai berikut:

Leverage

Likuiditas Kebijakan
Dividend

Profitabilitas

b. Pengembangan Hipotesis

1. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

leverage terhhadap total shareholders equity yang dimiliki oleh suatu perusahaan.

Menurut Darsono dan Ashari (2010) menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio

(DER) merupakan salah satu rasio leverage atau solvabilitas. Rasio solvabilitas

adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar

kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Rasio ini juga disebut dengan rasio

pengungkit (leverage) yaitu menilai batasan perusahaan dalam meminjam uang.

xx
Profit yang diterimaperusahaan akan digunakan untuk membayar bunga

pinjaman sehingga dana yang tersedia untuk membayar deviden akan sangat

terbatas. Perusahaan akan cenderung menahan labanya daripada membagikan laba

dalam bentuk deviden, hal ini sesuai dengan agency cost theory. Rasio yang lebih

besar akan membuat suatu perusahaan akan memilih melunasi kewajibannya

terlebih dahulu daripada membagikannya dalam bentuk deviden. Sehingga akan

semakin besar hutang perusahaan dalam hal rasio DER yang tinggi maka akan

semakin kecil DPR yang dibagikan. Sehingga pertumbuhan DER berbanding

terbalik dengan DER.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hermin

Nainggolan dan Supriyanti (2018) menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio

berpengaruh signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.

H1: Debt to Equity Ratio ( DER) berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio.

2. Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Current Ratio merupakan salah satu rasiolikuiditas yang menunjukkan

kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya,

yang termasuk dividen terhutang. Likuiditas perusahaan merupakan salah satu

faktor yang di pertimbangkan untuk menentukan kebijakan dividen. Karena bagi

perusahaan dividen merupakan kas keluar, jadi semakin besar posisi kas dan

llikuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan

perusahaan untukmembayar dividen.

Current Ratio yang tinggi menggambarkan semakin ringgi kemampuan suatu

perusahaan dalam memenuhi kewajiban pendekya. Current ratio yang tinggi

xxi
xxii

menunjukkan keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan untuk

membayarkan dividen yang dibaarkan akan menjadiinformasi yang positif bagi

para pemegang saham mengenai prospektif laba perusahaan dimasa yang akan

datang, hal tersebut sesuai dengan. Hipotesis ini mengacu pada penelitian yang

dilakukan oleh Rizky Adhyvian periode 2015-2017 yang mengungkapkan

Current Ratio berpengaruh positif terhadap Dividend Payout Ratio.

H2: Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

3. Pengaruh Retrun On Equity (ROE)terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Retrun On Equity (ROE) adalah rasio yang memberikan gambaran atas

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kepada para pemegang saham

perusahaan. Menurut Kasmir (2015:204) Retrun On Equity adalah rasio untuk

mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio

ini berarti mencerminkan penerimaan perusahaan atas peluang investasi yang baik

dan manajemen yang efektif. Yang artinya posisi pemilik perusahaan semakin

kuat. Hipotesis ini didukung oleh penelitian Meilina (2015) yang menunjukkan

hasil dari penelitiannya mengungkapkan bahwa variabel profitabilitas yang.

H3: Retrun On Equity (ROE) berpengaruh terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

xxii
BAB III

Metode Penelitian

i. Populasi dan Sample

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2011:80).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan Sub-sektor property dan

real state yang terdaftar di Bursa Efek Indoesia (BEI) dalam periode 2015-2018.

xxiii
xxiv

Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi

tersebut (Sugiyono, 2011:81). Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin

mempelajari semua yang ada pada populasi, missal karena keterbatan dana, tenaga

dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang

dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.

Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative

(Sugiyono,2011). Penelitian ini menggunakan Purposive Sampling atau pemilihan

sample dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011:84), agar memperoleh data

sampel yang representative. Kriteria yang digunakan dalam memperoleh sample

penelitian ini antara lain:

1. Perusahaan Property dan Real State yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia

(BEI) periode 2015-2018.

2. Perusahaan Property dan Real State yang menerbitkan laporan keuangan periode

2015-2018.

3. Perusahaan Property dan Real State yang membagikan dividen tunai periode

2015-2018.

4. Data perusahaan Property dan Real State yang menerbitkan laporan keuangan

secara lengkap periode 2015-2018.

ii. Variabel dan Definisi Oprasional Variabel

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan variabel utama yaitu variabel

dependen dan variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu Dividend Payout Ratio (DPR), serta variabel independennya

xxiv
mencakup. Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), Retrun On Equity

(ROE), Frim Size (SIZE). Adapun definisi pengukuran darikedua variabel tersebut

sebagai berikut:

1. Variabel Dependen atau Variabel Terkait

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Dividend Payout Ratio (DPR).

Dividen Payout Ratio dalam penelitian ini merupakan DPR perusahaan sampel

yaitu Sub-sektor property dan real state periode 2015-2018. DPR meupakan faktor

yang berpengaruh dan harus diperhatikan oleh para investor dalam melakukan

investasi karena dividend yang baik mencerminkan keadaan suatu perusahaan

baik atau tidak. Perusahaan yang baik dengan prestasi yang baik akan selalu

berusaha meningkatkan laba agar dapat membagikan dividen yang tinggi kepada

para pemegang saham. Dan juga akan menarik minat para investor untuk

menanamkan modalnya. Menurut Van Horne dan Wachowicz (2013) dan Ang

(1997) Dividend Payout Ratio dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :

Dividend Per Share

Dividend Payout Ratio =

Earning Per Share

2. Variabel Independen atau Variabel Bebas

Variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian ini adalah :

a. Debt to Equity Ratio

xxv
xxvi

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang terhadap modal. Rasioini

mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, dimana semakin tinggi

nilai rasio ini menggambarkan gejala yang kurang baikbagi perusahaan

(Sartono,2010). Menurut van Horne dan Waxhowicz (2012) Dept to Equity Ratio

dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Total utang

Debt to Equity Ratio =

Total Ekuitas

b. Current Ratio

Current Ratio (CR) merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang

lancar. Semakin baik Current Ratio, semakin besar kemampuan perusahaan dalam

membayar dividen (Sartono, 2010). Menurut Birgham dan Houston (2010)

Current Ratio dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Aktiva Lancar

Current Ratio=

Hutang Jangka Pendek

c. Retrun On Equity

Retrun On Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan

perusahaan untuk mendapatkan laba yang tersedia bagi pemegang saham

xxvi
(Sartono, 2012). Menurut Horne (2005) Retrun On Equity dapat dicari dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

Laba Bersih

Retrun On Equity =

Modal

iii. Data dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan peneliti dalam meneliti penelitian ini adalah data

sekunder, yaitu sumber data penelitian yang tidak diperoleh secara langsung,

melainkan melalui media perantara. Data sekunder pada penelitian ini berasal dari

laporan keuangan yang di terbitkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang di akses

melalui website resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) (www.idx.id) pada

periode 2015, 2016, 2017,2018 yang diambil dari laporan keuangan.

iv. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data peneliti memulai dengan tahapan penelitian, yaitu

mempelajari beberapa referensi yang ada di buku, jurnal riset, web, sumber

bacaan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada tahap ini

peneliti juga melakukan pengkajian data yang dibutuhkan, yaitu mengenai jenis

data yang akan dipakai dalam penelitian, ketersediaan data, cara memperoleh data,

serta gambaran dalam pengolahan data. Tahapan selanjutnya yaitu dengan

penelitian pokok yang digunakan untuk mengumpulkan keseluruhan data yang

dibutuhkan guna menjawab persoalan penelitian dan memperkaya literatur untuk

menunjang data kuantitatif yang diperoleh.

xxvii
xxviii

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah pengummpulan data yang

digunakan dengan menggunakan bahan tertulis atau data yang dibuat oleh pihak

lain. Dlam penelitian ini metode dokumentasi dilakukan dengan mencatat atau

mendokumentasikan data yang ada pada Indonesian Stok Exchange (IDX) periode

2015, 2016, 2017, 2018 yang dilakukan dengan mengambil data laoran keuangan

dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam IDX periode 2015, 2016, 2017,

2018.

v. Metode Analisis

Metode analisis data merupakan cara pengolahan data yang terkumpul

untuk kemudian dapat diinterpretasi. Hasil pengolahan data ini digunakan untuk

menjawab permasalahan yang telah dirumuskan, penelitian ini menggunakan

analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh DER, CR, ROE, dan SIZE

terhadap DPR pada perusahaan sub-sektor Property dan Real state. Dalam

melakukan uji ini penulis menggunakan sofware SPSS dengan metode statistik

yang akan digunakan penulis antara lain:

i. Statistik Diskriptif

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik

diskriptif. Menurut Ghozali (2013) statistik diskriptif dapat memberikan

gambaran atau mendiskripsikan data yang dapat dilihat dari nilai rata-rata

(mean), standar deviasi (ringkat penyebaran data atau kuadrat dari standar

xxviii
deviasi), nilai maksimum, nilai minimum, sum,range (jarak antara nilai minimum

dengan nilai maksimum), kurtosis (kelancipan distribusi, dan swekness

(kemiringan distribusi).

ii. Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik bertujuan untuk menganalisis suatu data penelitian sebelum

melakukan melakukan uji hipotesis serta memastikan bahwa hasil suatu

penelitian tersebut valid, dengan data yang digunakan secara teori yaitu tidak bias,

konsisten, dan penaksiran koefisian regresinya efisien (Ghozali, 2011). Setelah

penelitian dinyatakan hasilnya akurat, maka penelitian dapat dilanjutkan dengan

melakukan uji analisis berganda. Dalam pengujian asumsi klasik terdapat

beberapa jenis pengujian meliputi:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan sebagai prasyarat untuk

melakukan analisis data. Uji normalitas dilakukan sebelum data diolah

berdasarkan model-model penelitian yang diajukan. Uji normalitas data bertujuan

untuk mendeteksi distribusi data dalam satu variabel yang akan digunakan dalam

penelitian. Data yang baik dan layak untuk membuktikan model-model penelitian

tersebut adalah data distribusi normal. Uji normalitas yang digunakan adalah uji

Kolmogorov-Smirnov. Rumus Kolmogorov-Smirnovadalah sebagai berikut :

𝐾𝐷∶ 1,36 𝑛1 +√ n 1+ n 2

𝑛1 𝑛2

Keterangan :

KD = jumlah Kolmogorov-Smirnov yang dicari

xxix
xxx

n1 = jumlah sampel yang diperoleh

n2 = jumlah sampel yang diharapkan (Sugiyono, 2013:257)

Data dikatakan normal, apabila nilai signifikan lebih besar 0,05 pada

(P>0,05). Sebaliknya, apabila nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 pada (P¿0,05),

maka data dikatakan tidak normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji ini berhubungan dengan adanya korelasi antar variabel

independen, sebuah persamaan regresi dikatakan baik apabila persamaan

tersebut memiliki variabel independen yang tidak saling berkorelasi.

Semakin rendah korelasi antar variabel independen maka persamaan

tersebut akan semaikn baik, uji multikolineritas harus

dilakukan bila kita ingin mendapatkan hasilyang baik dan menggunakan

persamaan regresi tersebut sebagai penduga atau estimaator (Hadi:2006).

c. Uji Heteroskedastitas

Uji heterokreditas bertujuan untuk menguji apakah dalammodel regresi

terjadi ketidak samaan variance dan resedual satu pengamatan ke pengamatan

lain, jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda

maka disebut heteroskedastisitas (Imam Ghozali:2013;105)

Dasar pengambilan keputusan untuk uji heteroskedastitas yaitu:

1. Jika ada pola tertentu seperti titik yang ada membentuk pola tertentu teratur

(bergelombang, melebur kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah

terjadi heteroskedastitas.

xxx
2. Jika tidak ada pola jellas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0

pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastitas.

iii. Uji Goodnes of Fit

Menurut Ghozali (2011), uji goodness of fit (uji kelayakan model) dilakukan

untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual

secara statistik. Model goodness of fit dapat diukur dari nilai statistik F yang

menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model

mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Menurut

Ghozali (2007) uji statistik F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel

indepen den secara bersama–sama terhadap variabel dependen dengan melihat

nilai signifikansi F. Tingkat pengujian F adalah sebagi berikut:

1. Apabila nilai probabilitas signifikansi <0,05 maka Ho ditolak dan HA diterima

yang artinya variabel indepen den secara simultan berpengaruh terhadap variabel

dependen

2. Apabila nilai probabilitas signifikansi >0,05 maka Ho diterima dan HA ditolak

yang artinya variabel independen secara simultan tidak berpengaruh terhadap

variabel dependen.

iv. Analisis Regresi Berganda

Pengujian penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Analisis

regresi berganda merupakan analisis regresi yang memiliki lebih dari satu variabel

independen, dalam pengertian lain analisis regresi berganda yaitu teknik statistik

guna menguji besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen

(Hadi:2006). Dalam penelitian ini variabel independen (X 1, X2, X3,....... Xn) adalah

xxxi
xxxii

laverage (DER), likuiditas (CR), profitabilitas (ROEserta variabel dependen (Y)

dalam penelitian ini adalah kebijakan dividen (DPR).

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh dari variabel independen terhadap

variabel dependen makamodel analisis berganda dapat dirumuskan sebagai

berikut:

Y =α +β1X1+β2X2+β3X3+β4X4 +e

Keterangan:

KD =Kebijakan Dividend

K =Konstanta

b1-b4 =Koefisien regresi berganda

DER =Debt to Equity Ratio

CR =Current Ratio

ROE =Retrun On Equity

e =Variabel Residual atau error

v. Uji Parsial (Uji t)

Uji parsial atau uji t dilakukan untuk menguji tingkat signifikansi variabel-

variabel independen terhadap variabel dependen dalam persamaan regresi

berganda secara parsial, selain itu uji t juga dapat dilakukan untuk menguji

bagaimana kebenaran koefisien regresi serta untuk melihat apakah koefisien

regresi yang diperoleh signifikan atau tidak (Ghozali,2011). Pengujian dalam

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi atau α sebesar

5%. Pengujian terhadap hasil regresi dilakukan dengan menggunakan uji t pada

xxxii
derajat keyakinan sebesar 95% atau α = 5%. Keputusan uji hipotesis secara parsial

dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Apabila tingkat signifikansi ≤ 5%, maka H0 ditolak dan Ha diterima.

2) Apabila tingkat signifikansi > 5%, maka H0 diterima dan Ha ditolak.

vi. Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Uji R2 atau uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui besaran

presentase pengaruh variabel independen terhadap perubahan variabel dependen

(Ghozali, 2011).Dalam uji R2 dapatdiketahui seberapa besar variabel dependen

dapat dijelaskan oleh variabel independen atau dalamanalisis regresi, uji ini

bertujuan untuk mengetahui tingkat ketepatan perkiraan, setiap bertambahnya

suatu variabel independen maka R2 pasti juga akan bertabah tidak pedui apakah

variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhasap dariabel dependen

(Ghozali, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Agus, S. (2008). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogtakarta: BPFE.

Asril, A. M. (2009). Pengaruh free cast flow, profitablitas, likuiditas dan laverage
terhadap kebijakan deviden. Jurnal keuangan dan perbankan, vol. 13, No.
1, 78-87.

Ayuningthias, B. (2019). Analisis pengaruh leverage, likuiditas, profitabilitas,


pertumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan
dividen. universitas telkom, vol 6 No 1.

Bambang , R. (2010). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 4.


Yogyakarta: BPFE.

Birgham, & Houston. (2010). Dasar-dasar Manajemen Keuangan Buku 1 (edisi


II). Jakarta: Salemba Empat.

Darmawan, S. (2009). Manajemen Keuangan. Edisi 3. Jakarta: Mitra Wacana


Media.

xxxiii
xxxiv

Darsono, & Ashari. (2010). Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan.


Yogyakarta: Andi.

Dea, m. (2018). Pengaruh likuiditas, profitabilitas, leverage terhadap kebijakan


dividend. Universitas Telkom, Vol 5 no 3.

Destry, S. J. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dividend Payout


Ratio. Universitas Diponegoro Vol 5 No 3, 1-12.

Ghozali, I. (2011). “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”.


Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, I. (2013). “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”.


Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

James C. , V. H., & Jhon M., W. (2007). "Prinsip-Prinsip Manajemen


Keuangan". Buku Satu. jakarta: Salemba Empat.

James C., V. H., & Jhon M., W. J. (1997). "Prinsip-prinsip Manajemen


Keuangan". Buku satu. Edisi kesembilan. alih bahasa Heru Sutojo.
Jakarta: Salemba Empat.

James C., V., & John M., W. (2013). Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan.
Quratul’ Ain Mubarokhah. Yogyakarta : Salemba Empat.

Kasmir. (2014). Analisis Laporan Keuangan. Cetakan ke-7. Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada.

Kasmir. (2015). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Krisna, S., & Djoko, S. (2017). Analisis Pengaruh Frim Size, DER, Asset Growth,
ROE, EPS, Quick Ratio dan Past Dividend terhadap Dividend Payout
Ratio. Universitas Diponegoro vol 6 No 3 , 1-13.

Mamduh M. , H. (2004). Manajemen Keuangan. Edisi 1. Yogyakarta: BPFE


UGM.

Marietta, Unzu, & Djoko Sampurno. (2013). Analisis Pengaruh Cash Ratio,
Retrun on Assets, Growth, Frim Size, Debt to Equity Ratio terhadap
Dividend Payout Ratio: (Studi Pasa Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun (2008-2011). Diponegoro , 1-11.

Noor , J. (2015). Metodology Penelitian. Jakarta: Kencana.

xxxiv
Nurainun, B., & Wati, S. (2007 ). Analisis Pengaruh Profitabilitas Dan Kebijakan
Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Perdagangan, Jasa Dan Investasi Yang
Terdaftar Di Bursa Eek Jakarta. Jurnal Akuntansi Tahun IX, NO. 2, Mei
2007 Universitas Tarumanegara Jakarta, 107-120.

Ratnasari, P. S., & Ni, K. P. (2019). Pengaruh Profitabilitas, likuiditas, tingkat


pertumbuhan perusahaan dan leverage terhadap kebijakan dividen, Vol.
8, No. 10, 2019 : 6179-6198 ISSN : 2302-8912.

Samryn. (2011). Pengantar Akuntansi Mudah Membuat Jurnal Dengan


Pendekatan Siklus Transaksi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sandy, E., Topowijoyo, & Devi, F. A. (2016). Pengaruh Laverage, Likuiditas,


Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen. Jurnal
Administrasi Bisnis , Vol38 No2.

Sugiyono. (2005). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sumani, & Sulaiman. (2016). Analisis Pengaruh Likuiditas, Leverage, Aktivitas,


Profitabilitas, dan Growth Terhadap Kebijkan Dividen Emiten Yang
Terdaftar Pada Indeks LQ-45 Periode 2011-2013. Jurnal Manajemen, 179-
197.

Susana, D., & Achyani, F. (2006). Analisis Pengaruh Investasi, Terhadap


Kebijakan Dividend Payout Ratio (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur yang Terddaftar Di BEJ). Jurnal Akuntansi dan Keuangan,
Volume 5. No 1. April 2006 Universitas Muhammadiyah Surakarta, 51-62.

Sutrisno. (2012). Manajemen Keuangan Teori, Konsep Aplikasi. Yogyakarta:


Ekonisia.

Suwardjono. (2005). Teori Akuntansi:Perekayasaan Laporan Keuangan.


Yogyakarta : BPFE.

xxxv