Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Mata merupakan salah satu organ dari bagian tubuh yang sangat peka. Mata

adalah organ fotosensitif yang kompleks dan berkembang lanjut yang

memungkinkan analisis cermat tentang bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang

dipantulkan obyek. Mata terletak di dalam struktur tengkorak yang

melindunginya, yaitu orbita. Setiap mata terdiri atas 3 lapis konsentris yaitu

lapisan luar terdiri atas sklera dan kornea, lapisan tengah juga disebut lapisan

vaskular atau traktus uveal yang terdiri dari koroid, korpus siliar dan iris, serta

lapisan dalam yang terdiri dari jaringan saraf yaitu retina.4

Pterigium adalah membrane bentuk segitiga dengan puncak didaerah kornea

dan basis di konjungtiva bulbi, difisura palpebra. Pterigium dapat terjadi dibagian

nasal atau temporal.123 Pterigium merupakan timbunan atau benjolan yang bikin

penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin

membesar dan mengarah ke daerah kornea, sehingga bisa jadi menutup kornea

dari arah nasal dan sampai ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan

kita akan terganggu. 7

Pterigium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi

visual. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga menyebabkan iritasi okuler dan

mata merah.4

Berdasarkan beberapa faktor diantaranya :


2

1. Jenis Kelamin

Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan.14

2. Umur

Jarang sekali orang menderita pterigium umurnya di bawah 20 tahun.4

Prevalensi pterigium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada

usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Tan berpendapat

pterigium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga.14

Pterigium merupakan kelainan bola mata yang umumnya terjadi di wilayah

beriklim tropis dan dialami oleh mereka yang bekerja atau beraktifitas di bawah

terik sinar matahari dan umumnya terjadi pada usia 20-30 tahun. Penyebab paling

sering adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar matahari yang di terima

oleh mata, yaitu sinar ultraviolet (UV). Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh

faktor-faktor lain seperti zat allergen, kimia dan pengiritasi lainnya.4

Pterigium sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang yang

tinggal di dekat daerah khatulistiwa. Jarang mengenai anak-anak. Paparan sinar

matahari dalam waktu lama, terutama sinar ultraviolet, serta iritasi mata kronis

oleh debu dan kekeringan diduga kuat sebagai penyebab utama pterigium.4

Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi

geografisnya. Di daratan Amerika serikat, prevalensinya berkisar kurang dari 2%

untuk daerah di atas 40˚ lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang

28˚-360˚. Hubungan ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya

meningkat dan daerah-daerah elevasi yang terkena penyinaran ultraviolet untuk


3

daerah di bawah garis lintang utara ini.45 Pterigium relatif jarang di Eropa,

kebanyakan pasien berasal dari daerah dengan garis lintang 30˚-35 ˚ dari kedua

sisi equator. Distribusi geografis ini mengindikasikan bahwa sinar ultraviolet

merupakan faktor risiko yang penting.5

Di Indonesia, hasil survei Departemen Kesehatan RI Tahun 1982 pterigium

menempati urutan ketiga terbesar (8,79 %) dari penyakit mata. Hasil survei

nasional tahun 1993-1996 tentang angka kesakitan mata di 8 propinsi di Indonesia

menempatkan pterigium pada urutan kedua (13,9 %).8 Gizzard dkk dalam

penelitian di Indonesia menemukan bahwa angka prevalensi tertinggi ditemukan

di propinsi Sumatra.9 Sedangkan dari survei kesehatan indra penglihatan dan

pendengaran tahun 1995 prevalensi penyakit mata di Sulawesi Utara

menempatkan pterigium pada urutan pertama (17,9 %).10 Mandang pada tahun

1970 menemukan 14,69 % pterigium khususnya di 19 desa dan 17,50 % pterigium

di 3 ibukota kecamatan di Kabupaten Minahasa. Di Minahasa, pterigium

merupakan penyakit mata nomor 3 sesudah kelainan refraksi dan penyakit infeksi

luar. Mangindaan IAN, Bustani NM melaporkan 21,35 % pterigium di 2 desa di

Kabupaten Minahasa Utara, hasil 12,92 % pada pria dan 8,43 % pada wanita, 9,55

% berusia di atas 50 tahun, dengan pekerjaan petani sebesar 10,11 % terbanyak

adalah pterigium stadium 3 yaitu 42,11 % yang tumbuh di bagian nasal sebesar

55,26 %.11,12

Gejala pterigium adalah dapat memberikan keluhan atau akan memberikan

keluhan mata iritatif, gatal, merah, bengkak, pandangan kabur disertai dengan

jejas pada konjungtiva yang membesar, sensasi benda asing dan mungkin
4

menimbulkan astigmant atau obstruksi aksis visual yang akan memberikan

keluhan gangguan penglihatan.4,5

Komplikasinya berupa gangguan penglihatan, kemerahan, iritasi dan

gangguan pergerakan bola mata. Pada beberapa kasus terdapat rekurensi dan

risiko ini biasanya karena pasien yang terus terpapar radiasi sinar matahari, juga

beratnya atau derajat pterigium. Pasien dengan pterigium yang kambuh lagi dapat

mengulangi pembedahan.5

Sehubungan dengan hal-hal yang disebut di atas, penulis terdorong untuk

melakukan penelitian mengenai distrubusi penderita penyakit pterigium di RSU

Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari 2009 - Desember 2009.

MASALAH

Bagaimana distribusi penderita penyakit pterigium di Poliklinik Mata BLU

RSU Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari 2009 - Desember 2009.

TUJUAN

Untuk mengetahui distribusi penderita penyakit pterigium.

MANFAAT
5

Mengetahui gambaran distribusi penderita penyakit pterigium di Poliklinik

Mata BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2009 -

Desember 2009.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI PTERIGIUM

Pterigium berasal dari bahasa yunani, yaitu pteron yang artinya “wing” atau

sayap. Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang

bersifat degeneratife dan invasive. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah

kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah

kornea.1

Pterigium adalah suatu timbunan atau benjolan pada selaput lendir atau

konjungtiva yang bentuknya seperti segitiga dengan puncak berada di arah

kornea. Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman

karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarah ke

daerah kornea, sehingga bisa menjadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai

ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu. Suatu
6

pterigium merupakan massa ocular eksternal superficial yang mengalami elevasi

yang sering kali terbentuk diatas konjungtiva perilimbal dan akan meluas ke

permukaan kornea. Pterigium ini bisa sangat bervariasi, mulai dari yang kecil,

jejas atrofik yang tidak begitu jelas sampai yang besar sekali, dan juga jejas

fibrofaskular yang tumbuhnya sangat cepat yang bisa merusakkan topografi

kornea dan dalam kasus yang sudah lanjut, jejas ini kadangkala bisa menutupi

pusat optik dari kornea.4

Kondisi pterigium akan terlihat dengan pembesaran bagian putih mata,

menjadi merah dan meradang. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bisa

mengganggu proses cairan mata atau yang disebut dry eye syndrome. Sekalipun

jarang terjadi, namun pada kondisi lanjut atau apabila kelainan ini didiamkan lama

akan menyebabkan hilangnya penglihatan si penderita. Evakuasi medis dari

dokter mata akan menentukan tindakan medis yang maksimal dari setiap kasus,

tergantung dari banyaknya pembesaran pterigium. Dokter juga akan memastikan

bahwa tidak ada efek samping dari pengobatan dan perawatan yang diberikan.24

KLASIFIKASI PTERIGIUM

Klasifikasi pterigium berdasarkan lokasi, yaitu :

1. Pterigium Simpleks; jika terjadi hanya di nasal atau temporal saja.

2. Pterigium Dupleks; jika terjadi di nasal dan temporal.

Pterigium diklasifikasikan berdasarkan tingkatan stadium, yaitu :

1. Stadium I : Puncak pada limbus


7

2. Stadium II : Puncak pada kornea (½ antara limbus dan pupil).

3. Stadium III : Puncak pada kornea (melewati ½ antara limbus dan pupil).

4. Stadium IV : Puncak sudah melewati pupil.45

ETIOLOGI PTERIGIUM

Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga merupakan

suatu neoplasma radang dan degenerasi. Namun, pterigium banyak terjadi pada

mereka yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena

panas terik matahari. Faktor resiko terjadinya pterigium adalah tinggal di daerah

yang banyak terkena sinar matahari, daerah yang berdebu, berpasir atau anginnya

besar. Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar

matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet dan angin (udara panas) yang

mengenai konjungtiva bulbi berperan penting dalam hal ini. Selain itu dapat pula

dipengaruhi oleh faktor2 lain seperti zat alergen, kimia dan zat pengiritasi lainnya.

Pterigium sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang yang tinggal di

dekat daerah khatulistiwa. Jarang menyerang anak-anak.4

GEJALA DAN TANDA PTERIGIUM

Gejala dan tanda pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan

memberikan keluhan mata iritatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmant

yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan.1


8

Bila masih baru, banyak mengandung pembuluh darah, warnanya menjadi

merah, kemudian menjadi membrane yang tipis berwarna putih dan stasioner.

Bagian sentral melekat pada kornea dapat tumbuh memasuki kornea dan

menggantikan epitel, juga membrane Browman, dengan jejaringan elastic dan

hialin. Pertumbuhan ini mendekati pupil, biasanya didapat pada orang-orang yang

banyak berdegenerasi yang berlangsung lama. Bila mengenai kornea, dapat

menurukan visus karena timbulkan astigmant dan juga dapat menutup

pupil,sehingga cahaya terganggu perjalanannya.2

Pterigium bisa berupa berbagai macam perubahan fibrofaskular pada

permukaan konjungtiva dan pada kornea. Penyakit ini lebih sering menyerang

pada konjungtiva nasal dan akan meluas ke kornea nasal meskipun bersifat

sementara dan juga pada lokasi yang lain.4

Gambaran klinis bisa dibagi menjadi 2 kategori umum, sebagai berikut :

1. Kelompok pertama pasien yang mengalami pterigium berupa ploriferasi

minimal dan penyakitnya lebih bersifat atrofi. Pterigium pada kelompok

ini cenderung lebih pipih dan pertumbuhannya lambat mempunyai

insidensi yang lebih rendah untuk kambuh setelah dilakukan eksisi.

2. Pada kelompok kedua pterigium mempunyai riwayat penyakit tumbuh

cepat dan terdapat komponen elevasi jaringan fibrovaskular. Pterigium

dalam grup ini mempunyai perkembangan klinis yang lebih cepat dan

tingkat kekambuhan yang lebih tinggi untuk setelah dilakukan eksisi.4

KOMPLIKASI

Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut:4

1. Penyimpangan atau pengurangan pusat penglihatan


9

2. Kemerahan

3. Iritasi

4. Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea

Keterlibatan yang luas otot extraocular dapat membatasi penglihatan dan

memberi kontribusi terjadinya diplopia. Bekas luka yang berada ditengah otot

rektus umumnya menyebabkan diplopia pada pasien dengan pterigium yang

belum dilakukan pembedahan. Pada pasien dengan pterigium yang sudah

diangkat, terjadi pengeringan focal kornea mata akan tetapi sangat jarang terjadi.4

Komplikasi postoperasi pterigium meliputi:

1. Infeksi

2. Reaksi material jahitan

3. Diplopia

4. Conjungtival graft dehiscence

5. Corneal scarring

Komplikasi yang jarang terjadi meliputi perforasi bola mata perdarahan

vitreous, atau retinal detachment. Komplikasi akibat terlambat dilakukan operasi

dengan radiasi beta pada pterigium adalah terjadinya pengenceran sclera dan

kornea.4

PENANGANAN
10

Pterigium sering bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda.

Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata

dekongestan. Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau

dilakukan pembedahan bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya

astigmatisme ireguler atau pterigium yang telah menutupi media penglihatan.4

Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari, debu dan udara kering

dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang berikan air mata buatan

dan bila perlu dapat diberi steroid. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air

mata buatan dalam bentuk salep. Bila diberi vasokontriktor maka perlu kontrol 2

minggu dan bila terdapat perbaikkan maka pengobatan dihentikan.4

1. Tindakan Operatif

Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan

bila pterigium telah mengganggu penglihatan. Pterigium dapat tumbuh

menutupi seluruh permukaan kornea atau bola mata. Tindakan operasi,

biasanya bedah kosmetik, akan dilakukan untuk mengangkat pterigium yang

membesar ini apabila mengganggu fungsi penglihatan atau secara tetap

meradang dan teriritasi. Pasca operasi biasanya akan diberikan terapi lanjut

seperti penggunaan sinar radiasi B atau terapi lainnya.

Jenis Operasi pada Pterygium antara lain :

a. Bare Sklera
11

Pterigium diambil, lalu dibiarkan, tidak diapa-apakan. Tidak dilakukan

untuk pterigium progresif karena dapat terjadi granuloma → granuloma

diambil kemudian digraph dari amnion.

b. Subkonjungtiva

Pterigium setelah diambil kemudian sisanya dimasukkan/disisipkan di

bawah konjungtiva bulbi → jika residif tidak masuk kornea.

c. Graf

Pterigium setelah diambil lalu digraf dari amnion/selaput mukosa

mulut/konjungtiva forniks.

2. Terapi Medikamentosa

a. Pemakaian air mata artifisial (obat tetes topikal untuk membasahi mata)

untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada

lapisan air mata.

b. Salep untuk pelumas topikal, suatu pelumas yang lebih kental pada

permukaan okular.

c. Obat tetes mata anti inflamasi untuk mengurangi inflamasi pada membantu

dalam penatalaksanaan pterigium yang inflamasi dengan mengurangi

permukaan mata dan jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan

sangat pembengkakan jaringan yang inflamasi pada permukaan okular di

dekat jejasnya.

3. Perawatan Lanjut pada Pasien Rawat Jalan


12

Sesudah operasi, eksisi pterigium, steroid topikal pemberiannya lebih di

tingkatkan secara perlahan-lahan. Pasien pada steroid topikal perlu untuk

diamati, untuk menghindari permasalahan tekanan intraocular dan katarak.

4. Pencegahan Kekambuhan Pterigium

Secara teoritis, memperkecil terpapar radiasi ultraviolet untuk mengurangi

resiko berkembangnya pterigium pada individu yang mempunyai resiko lebih

tinggi. Pasien di sarankan untuk menggunakan topi yang memiliki pinggiran,

sebagai tambahan terhadap radiasi ultraviolet sebaiknya menggunakan

kacamata pelindung dari cahaya matahari. Tindakan pencegahan ini bahkan

lebih penting untuk pasien yang tinggal di daerah subtropis atau tropis, atau

pada pasien yang memiliki aktifitas di luar, dengan suatu resiko tinggi terhadap

cahaya ultraviolet (misalnya, memancing, ski, berkebun, pekerja bangunan).

Untuk mencegah berulangnya pterigium, sebaiknya para pekerja lapangan

menggunakan kacamata atau topi pelindung.4

PROGNOSIS

Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur

baik saat dipahami oleh pasien dan pada awal operasi pasien akan merasa

terganggu setelah 48 jam pasca perawatan pasien bisa memulai aktivitasnya.

Pasien dengan pterigium yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan eksisi

dan pencangkokan, kedua-duanya dengan konjungtiva limbal autografts atau

selaput amniotic, pada pasien yang telah ditentukan. Pasien yang memiliki resiko

tinggi pengembangan pterigium atau karena di perluas ekspose radiasi sinar


13

ultraviolet, perlu untuk di didik penggunaan kacamata dan mengurangi ekspose

mata dengan ultraviolet.4

BAB III

METODE PENELITIAN
14

BENTUK PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan meneliti

data-data di Poliklinik Mata BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

LOKASI PENELITIAN

Penelitiaan dilakukan di Poliklinik Mata BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado.

WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Juli 2010.

ALAT DAN BAHAN

1. Alat tulis – menulis

2. Komputer

3. Kalkulator

4. Status pasien dengan pterigium di Poliklinik Mata BLU RSU Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado periode Januari 2009 – Desember 2009.

TEKNIK PENELITIAN
15

Teknik penelitian yang digunakan dengan cara mengumpulkan data secara

retrospektif dari status penderita dengan pterigium di Poliklinik Mata BLU RSU.

Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang ditabulasikan dalam bentuk tabel dan

presentase jenis pterigium menurut:

1. Mata kanan atau kiri atau kedua mata

2. Lateral atau medial atau kedua-duanya

3. Stadium

4. Rekurensi

5. Penyakit penyerta

6. Jenis kelamin

7. Umur

8. Pekerjaan

SUBYEK PENELITIAN

Subyek penelitian dalam tulisan ini adalah penderita penyakit pterigium yang

berobat di bagian Poliklinik Mata BLU RSU. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

periode Januari 2009 - Desember 2009.

BAB IV
16

HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang diadakan secara deskriptif retrospektif didapatkan

bahwa jumlah penderita pterigium di Poliklinik Mata RSU. Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado periode Januari 2009 – Desember 2009 adalah sebanyak 174

kasus.

Tabel 1. Distribusi penderita pterigium berdasarkan lokasi mata sebelah

kanan, kiri atau kedua-duanya.

No Lokasi Jumlah Presentase (%)


1. Kanan 46 26,5
2. Kiri 61 35
3. Kanan dan Kiri 67 38,5
Total 174 100 %

Dari tabel 1 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

lokasi mata adalah lebih banyak terkena pada kedua mata 67 pasien (38,5 %),

mata kiri 61 pasien ( 35 % ) dan mata kanan 46 pasien ( 26,5 % ).

Tabel 2. Distribusi penderita pterigium berdasarkan jenis pterigium

medial, leteral atau kedua-duanya.

No Jenis Jumlah Presentase (%)


1. Medial 167 96
17

2. Lateral 3 1,7
3. Medial dan Lateral 4 2,3
Total 174 100 %

Pada tabel 2 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

jenis pterigium lebih banyak terkena pada bagian medial 167 pasien (96 %),

bagian medial dan lateral 4 pasien (2,3 %), dan bagian lateral 3 pasien (1,7 %).

Tabel 3. Distribusi penderita pterigium berdasarkan stadium

No. Stadium Jumlah Presentase (%)


1. I 65 37,3
2. II 80 46
3. III 24 13,8
4. IV 5 2,9
Total 174 100 %

Pada tabel 3 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

stadium adalah lebih banyak terkena pada stadium II 80 pasien (46 %), stadium I

65 pasien (37,5 %), stadium III 24 pasien (13,8 %), dan stadium IV 5 pasien (2,9

%).

Tabel 4. Distribusi penderita pterigium berdasarkan rekurensi

No. Rekurensi Jumlah Presentase (%)

1. Rekurensi 5 2,8

Total 174 100 %

Pada tabel 4 didapatkan bahwa rekurensi dari pterigium adalah sebanyak 5

pasien (2,8 %) dari 174 penderita pterigium.


18

Tabel 5. Distribusi penderita pterigium berdasarkan penyakit penyerta

No Jenis Jumlah Presentase ( % )


1. Presbiopia 66 46,4
2. Hipermetropia 23 16,2
3. Miopia 7 5
4. Hiperopia 15 10,5
5. KSSI 5 3,5
6. KSSM 1 0,7
7. Retinopati Hipertensi 11 7,7
8. Astenopia 4 2,9
9. Astigmatisma 4 2,9
10. Corpus Alienum 1 0,7
11. Pinguekulitis 2 1,4
12. Keratitis pungtata 1 0,7
19

13. Angiopati Hipertensi 2 1,4


Total 142 100 %

Pada tabel 5 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

penyakit penyerta adalah lebih banyak terkena penyakit penyerta presbiopia 66

pasien (46,4 %), hipermetropia 23 pasien (16,2 %), hiperopia 15 pasien (10,5 %),

retinopati hipertensi 11 pasien (7,7 %), miopia 7 pasien (5 %), KSSI 5 pasien (3,5

%), astenopia yaitu 4 pasien (2,9 %), astigmatisma 4 pasien (2,9 %), pinguekulitis

2 pasien (1,4 %), angiopati hipertensi 2 pasien (1,4 %), KSSM 1 pasien (0,7 %),

corpus alienum 1 pasien (0,7 %), dan keratitis pungtata 1 pasien ( 0,7 % ).

Tabel 6. Distribusi penderita pterigium berdasarkan jenis kelamin

No. Jenis kelamin Jumlah Presentase (%)

1. Laki - laki 71 40

2. Perempuan 103 60

Total 174 100 %

Pada tabel 6 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

jenis kelamin lebih banyak terkena pada jenis kelamin perempuan 103 pasien (60

%) dibandingkan dengan laki-laki 71 pasien (40 %).

Tabel 7. Distribusi penderita pterigium berdasarkan umur

No. Umur Jumlah Presentase (%)

1. 0-5 0 0

2. 6 - 18 0 0

3, 19 - 40 32 18,4
20

4. > = 41 142 81,6

Total 174 100 %

Pada tabel 7 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

umur lebih banyak terkena pada umur > = 41 yaitu 142 pasien (81,6 %), dan umur

19 – 40 yaitu 32 pasien (18,4).

Tabel 8. Distribusi penderita pterigium berdasarkan pekerjaan

No Jenis pekerjaan Jumlah Presentase ( % )


1. PNS 63 36,2
2. Pensiunan 27 15,5
3. IRT 40 23,1
4. Buruh 9 5,1
5. Petani 9 5,1
6. Swasta 24 14
7. Sopir 1 0,5
8. Mahasiswa 1 0,5
Total 174 100 %

Pada tabel 8 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

pekerjaan lebih banyak terkena pada PNS 63 pasien (36,2 %), IRT 40 pasien (23,1

%), pensiunan 27 pasien (15,5 %), swasta 24 pasien (14 ), buruh 9 pasien (5,1 %),

petani 9 pasien (5,1 %), sopir 1 pasien (0,5 %), dan mahasiswa 1 pasien (0,5 %).
21

BAB V

PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang diadakan secara deskriptif retrospektif didapatkan

bahwa jumlah penderita pterigium di Poliklinik Mata BLU RSU. Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado periode Januari 2009 – Desember 2009 adalah sebenyak 174

kasus.

Pada tabel 1 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

lokasi mata banyak terdapat pada keduamata yaitu 67 kasus (38,5%) di

bandingkan dengan mata kiri 61 kasus (35 %) dan mata kanan 46 kasus (26,5 %).

Pada tabel 2 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

jenis pterigium medial, leteral atau kedua-duanya lebih banyak terkena pada

bagian medial 167 pasien (96 %), bagian medial dan lateral 4 pasien (2,3 %), dan

bagian lateral 3 pasien (1,7 %)

Pada tabel 3 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

stadium adalah lebih banyak terkena pada stadium II 80 pasien (46 %), stadium I

65 pasien (37,5 %), stadium III 24 pasien (13,8 %), dan stadium IV 5 pasien (2,9

%).

Pada tabel 4 didapatkan bahwa rekurensi dari pterigium adalah sebanyak 5

pasien (2,8 %). Pterigium yang berulang dapat di sebabkan oleh seringnya
22

terpapar dengan factor pencetus yang diantaranya adalah bagi penderita yang

sering terpapar dengan sinar ultraviolet, sehingga diharapkan untuk pasien yang

tinggal di daerah suptropis atau tropis, atau pasien yang memiliki aktifitas di luar,

suatu resiko tinggi terhadap cahaya ultraviolet sebaiknya memakai kacamata atau

topi pelindung.

Pada tabel 5 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

penyakit penyerta adalah lebih banyak terkena penyakit penyerta presbiopia yaitu

66 pasien (46,4 %), hipermetropia yaitu 23 pasien (16,2 %), hiperopia yaitu 15

pasien (10,5 %), retinopati hipertensi yaitu 11 pasien (7,7 %), miopia yaitu 7

pasien (5 %), KSSI yaitu 5 pasien (3,5 %), astenopia yaitu 4 pasien (2,9 %),

astigmatisma yaitu 4 pasien (2,9 %), pinguekulitis yaitu 2 pasien (1,4 %),

angiopati hipertensi yaitu 2 pasien (1,4 %), KSSM yaitu 1 pasien (0,7 %), corpus

alienum yaitu 1 pasien (0,7 %), dan keratitis pungtata yaitu 1 pasien (0,7 %).

Pada tabel 6 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

jenis kelamin lebih banyak terkena pada jenis kelamin perempuan 103 pasien (60

%) dan laki-laki 71 pasien (40 %). Berdasarkan penelitian Hamurwono GD,

Nainggolan SH, Soekraningsih pada Buku Pedoman Kesehatan Mata dan

Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas bahwa Tidak terdapat perbedaan risiko

antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan hasil di atas dapat disebabkan oleh

populasi perempuan yang semakin banyak dibandingkan laki-laki serta semakin

banyaknya perempuan yang bekerja dengan resiko tinggi terpapar dengan factor

pencetus.

Pada tabel 7 didapatkan bahwa pterigium lebih banyak didapatkan pada umur

pada umur > = 41 yaitu 142 pasien (81,6 %), dan umur 19 – 40 yaitu 32 pasien
23

(18,4). Berdasarkan penelitian pterigium bahwa jarang sekali orang menderita

pterigium umurnya di bawah 20 tahun. Prevalensi pterigium meningkat dengan

pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada

usia anak-anak. Tan berpendapat pterigium terbanyak pada usia dekade dua dan

tiga.14

Pada table 8 didapatkan bahwa distribusi penderita pterigium berdasarkan

pekerjaan lebih banyak terkena pada PNS 63 pasien (36,2 %), IRT 40 pasien (23,1

%), pensiunan 27 pasien (15,5 %), swasta 24 pasien (14 %), buruh 9 pasien (5,1

%), petani 9 pasien (5,1 %), sopir 1 pasien (0,5 %), dan mahasiswa 1 pasien (0,5

%).
24

BAB VI

KESIMPULAN

KESIMPULAN

Telah dilakukan penelitian secara deskriptif retrospektif didapatkan bahwa

jumlah penderita pterigium di Poliklinik Mata BLU RSU. Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado periode Januari 2009 – Desember 2009. Dari hasil dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Presentase penderita pterigium di Poliklinik Mata BLU RSU. Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado periode Januari 2009 – Desember 2009 adalah sebenyak 174

kasus.

2. Presentase penderita pterigium berdasarkan lokasi mata sebelah kanan, kiri

atau kedua-duanya adalah lebih banyak terkena pada kedua mata 67 pasien

(38,5 %).

3. Presentase penderita pterigium berdasarkan jenis pterigium didapatkan lebih

banyak terkena pada bagian medial 167 pasien (96 %).

4. Presentase penderita pterigium berdasarkan stadium adalah lebih banyak

terkena pada stadium II 80 pasien (46 %).

5. Jumlah rekurensi dari pterigium adalah sebanyak 5 pasien (2,8 %).

6. Presentase penderita pterigium berdasarkan penyakit penyerta adalah lebih

banyak terkena penyakit presbiopia yaitu 66 pasien (46,4 %).


25

7. Presentase penderita pterigium berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terkena

pada jenis kelamin perempuan 103 pasien (60 %).

8. Presentase penderita pterigium berdasarkan umur lebih banyak terkena pada

umur >= 41 yaitu 142 pasien (81,6 %).

9. Presentase penderita pterigium berdasarkan pekerjaan lebih banyak terkena

pada PNS 63 pasien (36,2 %).


26

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta. DSM, Prof. Dr. Dalam ilmu penyakit mata, Balai penerbit FKUI.

Jakarta 2004: 116-117.

2. Wijana Nana. S.D, Dr. Dalam ilmu penyakit mata,Makassar 1983: 33-34

3. James Bruce, Chris Chew,Bron Anthony, Lecture Notes Oftalmologi,Erlangga.

Jakarta 2006: 66-67.

4. Rahmat Aswin Juliansyah’s Blog. Dalam blog pterigium.

file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/Ieien%20maniezz/My

%20Documents/mata_files/Pterigyum%20«%20Rahmad%20Aswin

%20Juliansyah’s%20Blog.htm.4/13/2010 1:58:45 PM

5. Pterigium dari stetoskop tua:

file://localhost/F:/pterigium.html

6. Pterigium from:

file://localhost/F:/translate.htm

7. Dokter online.pterigium atau selaput mata:

ile://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/Ieien%20maniezz/My

%20Documents/mata_files/index.php.htm

8. Sirlan F, Wiyana IGP. Survey morbiditas mata dan kebutaan di Indonesia,

1993-1996. Warta kesehatan mata. 1996 ; VII : 7.

9. Gazzard G, Pterygium in Indonesia : prevalence, severity and risk factors. Br. J

Ophtalmol. 2002 ; 86 : 1341-46.


27

10. Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas. La[oran hasil survey kasehatan

indra penglihatan dan pendengaran di propinsi Sumatera Barat dan Sulawesi

Utara tahun 1995. Jakarta.

11. Oka Pn. The pterygium and its management. Dept ofophtalmology Airlangga

university school of medicine dr. soetomo. General Hospital Surabaya,

Indonesia. 1979

12. Mangindaan IAN, Bustani NM. Insiden pterigium di desa bahoi dan serei di

pesisir pantai minahasa utara,2005.

13. Buratto L, Phillips RL, Carito G. Pterygium Surgery. Slack Incorpoated.

USA. 2000 : 5-14. 21-32, 37-50.

14. Hamurwono GD, Nainggolan SH, Soekraningsih. Buku Pedoman Kesehatan

Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina

Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat

Departemen Kesehatan, 1984. 14-17.


28