Anda di halaman 1dari 5

Konsep Dasar Masyarakat Dalam Islam

Sesungguhnya Islam memperhatikan persoalan masyarakat sebagaimana


memperhatikan persoalan individu, karena keduanya saling mempengaruhi. Karena
masyarakat itu tidak lain sekumpulan individu yang diikat dengan suatu ikatan. Oleh
karenanya kebaikan individu sangat berpengaruh langsung pada kebaikan
masyarakat, yang ia bagaikan batu bata bagi bangunan. Sebuah bangunan tidak akan
baik apabila batu batanya rapuh. Begitu juga sebaliknya, seorang itu tidak akan baik
kecuali jika berada dalam lingkungan masyarakat yang kondusif bagi perkembangan
pribadinya, bagi kemampuannya beradaptasi secara benar, dan bagi perilaku yang
positif.

H. Abu Ahmadi dalam bukunya “ilmu sosial dasar” mendefinikan bahwa


masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan
sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh satu sama lain.
[ CITATION Abu97 \l 1057 ]

Hammudah Abdalati mendefinisikan masyarakat sebagai, suatu kelompok yang


mencakup/meliputi dua karakter tertentu:

1. Kelompok yang didalamnya terdapat individu-individu yang dapat memiliki


sebagian besar kegiatan dan berbagai pengalaman yang sangat berguna
baginya.

2. Kelompok dimana orang yang berada didalamnya terikat oleh tanggung jawab
dan oleh identitas bersama.

Dari pengertian masyarakat diatas, maka kehidupan yang terjadi dalam


kehidupan bermasyarakat menghasilkan sebuah kebudayaan. Dan jika kita kaitkan
dengan Islam maka masyarakat ialah kelompok manusia dimana hidup terjaring
kebudayaan Islam, yang diamalakan oleh kelompok itu sebagai kebudayaannya.
Dalam artian, kelompok itu bekerja sama dan hidup bersama berasaskan prinsip-
prinsip Al-Qur’an dan Hadist dalam kehidupannya.

Masyarakat dalam pandangan Islam merupakan alat atau sarana untuk


melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang menyangkut kehidupan bersama (muamalah).
Karena itulah masyarakat harus menjadi dasar kerangka kehidupan duniawi bagi
kesatuan dan kerjasama umat menuju adanya suatu pertumbuhan manusia yang
mewujudkan persamaan dan keadilan.

Sebagaimana telah ditegaskan, kehadiran masyarakat Islam berfungsi antara lain


sebagai wadah implementasi syariat Allah swt. Mereka adalah orang-orang yang
mewujudkan tujuan keberadaan manusia, yakni pengabdian utuh kepada Allah.

Dengan begitu, layaklah mereka mendapat segala kebaikan dari sang Maha
Pencipta. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang
telah mereka kerjakan,” (QS Al-A’raf [7]:96).

Namun, tentu, masyarakat Islam, bahkan yang dibina langsung oleh Rasulullah
saw, bukan masyarakat malaikat. Mereka manusia biasa dengan segala kelebihan dan
kekurangannya. Di antara mereka ada yang lemah lembut, kasar, penyabar hingga
temperamental. Ada pula yang melakukan kesalahan dan penyimpangan. Justru
kepada merekalah hukum-hukum Islam, baik yang termaktub di dalam Qur'an
maupun Sunnah, ditujukan.

Kondisi itu menegaskan dua hal. Pertama, kemanusiawian masyarakat yang


dibina Rasulullah saw membuat kita berada dalam ruang kemampuan untuk
meneladaninya. Kedua, untuk mengawal dan memastikan masyarakat Islam berada
dalam garis syariat-Nya, perlu upaya-upaya untuk memotivasi potensi positif
(kebaikan) dan menecgah potensi negatif (keburukan), biasa kita sebut amar makruf
dan nahi mungkar.
Itulah salah satu karakter masyarakat beriman, sebagaimana dikatakan Allah swt
dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan,
sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh
(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat,
menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat
oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana,” (QS At-Taubah [9]:71).

Di dalam masyarakat Islam, tidak boleh ada orang saleh yang menikmati
kesalehannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Hadits Rasulullah, "Siapa di
antara kalian yang melihat kemungkaran maka ia harus mengubahnya dengan
tangannya. Jika ia tidak bisa maka ia harus mengubahnya dengan lidahnya. Jika ia
tidak bisa maka ia harus mengubahnya dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-
lemah iman,” (HR Muslim).

Rasulullah juga memberikan ilustrasi tentang bahaya meninggalkan amar makruf


nahi mungkar. “Perumpamaan orang-orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah
dengan orang-orang yang melanggarnya bagaikan sekelompok orang yang naik
kapal. Lalu mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang duduk di bagian
atas dan siapa yang duduk di bagian bawah (dek). Orang-orang yang duduk di
bagian bawah itu harus naik ke atas jika mereka membutuhkan air. Lalu salah satu
dari mereka mengatakan, 'Sebaiknya kita membolongi tempat kita ini sehingga kita
tidak mengganggu orang lain.' Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan
mereka melaksanakan apa yang mereka inginkan maka niscaya akan binasalah
semuanya. Namun jika mereka membimbingnya maka mereka yang ada di atas akan
selamat dan selamat pula mereka yang ada di bawah,” (HR Bukhari).

Atas dasar itu, kita boleh berkoalisi atau bekerja sama dengan siapa pun tapi
hanya dalam kebaikan (makruf). Ikatan koalisi, kerja sama, apa pun namanya, harus
dipertahankan selama tidak ada alasan untuk membatalkannya. Sebaliknya, ketika ada
tuntutan menutup-nutupi kebenaran dengan dalih menjaga keutuhan kebersamaan,
maka meninggalkan kebersamaan adalah sebuah konsekuensi dari pilihan terbaik
kita, yakni memerintah kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Kedudukan Tetangga bagi Seorang Muslim

Islam merupakan satu-satunya agama yang mengajarkan ummatnya agar selalu


menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta di satu sisi dan sesama mahluk di sisi
lain. Seseorang dikatakan tidak sempurna imannya jika hanya mempunyai hubungan
baik dengan Allah tapi buruk dengan sesamanya. Demikian pula sebaliknya.

Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia.
Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari
5589, Muslim 70)

Salah satu bentuk ajaran Islam yang mulia itu yaitu kewajiban menjaga hubungan
baik dengan tetangga. Dalam Islam, tetangga memiliki kedudukan yang sangat agung.
Rasulullah Saw adalah manusia yang sangat memuliakan para tetangganya. Dalam
kehidupan beliau, tetangga ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Dalam sebuah
hadits beliau brsabda: “Malaikat Jibril alaihissalam senatiasa mewasiatkan agar aku
berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan
hak waris (bagi mereka).” (HR: Al-Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam


hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak
memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa
akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini
menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)
Oleh sebab itu, sebagai pengikutnya, kita hendaklah senantiasa berlaku baik
kepada para tetangga. Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah ia berlaku baik kepada
tetangganya.” (HR: Muslim)

Anda mungkin juga menyukai