Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH MEDULA SPINALIS

DAN ANESTESI SPINAL

Dosen Pengampu :
Sapta Rahayu N, S.Pd., S.Kep., Ns., M.Kep

Kelompok 4

1. MOH. ASRUL (P07120721005)


2. PAMUJI WIYANA (P07120721040)
3. SUSILO (P07120721025)
4. FX JIMMIE MANTOW (P07120721039)
5. KHAIRIL FUADI (P07120721007)
6. SUPRIADINATA (P07120721033)

PROGAM STUDI ALIH JENJANG


SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2021/2022

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat – Nya,
serta ridha-Nya sehingga Makalah “MEDULA SPINALIS DAN SNESTESI
SPINAL” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Adapun penyelesaian makalah ini tak luput dari bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Sapta Rahayu N, S.Pd.,S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku Dosen mata kuliah
Anatomi Fisiologi Kardiorespirasi dan Neurologi.
2. Teman-teman yang ikut serta dalam membantu menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Dengan
kerendahan hati, kami memohon maaf apabila kesalahan dan ketidaksesuaian.
Sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Demikian kata
pengantar ini kami sampaikan Wassalamualaikum wr.wb.

Yogyakarta, Mei 2021

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Medula Spinalis ...................................................................................... 3
1. Pengertian Medula Spinalis .............................................................. 3
2. Anatomi Medula Spinalis ................................................................. 3
3. Fisiologi Medula Spinalis ................................................................. 5
B. Anestesi Spinal ........................................................................................ 7
1. Pengertian Anestesi Spinal ............................................................... 7
2. Anatomi Rute Anastesi Spinal .......................................................... 7
3. Obat Yang Dimasukan Pada Anastesi Spinal ................................... 8
4. Persiapan Anastesi Spinal ................................................................. 9
5. Teknik Analgesia Spinal ................................................................... 10
6. Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Blok Analgesia Spinal ............. 11
7. Komplikasi Anastesi Spinal .............................................................. 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 19
B. Saran ....................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... iv

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Medula Spinalis atau Sumsum tulang belakang adalah saraf tipis yang
merupakan perpanjangan dari sistem saraf pusat dari otak dan melengkungi
serta dilindungi oleh tulang belakang. atau jaringan saraf berbentuk seperti
kabel putih yang memanjang dari medula oblongata turun melalui tulang
belakang dan bercabang ke berbagai bagian tubuh. Medula spinalis
merupakan bagian utama dari sistem saraf pusat yang melakukan impuls saraf
sensorik dan motorik dari dan ke otak. Disebut juga saraf tulang belakang atau
sumsum tulang belakang.Letak sumsum tulang belakang, memanjang di dalam
rongga tulang belakang, mulai dari ruas-ruas tulang leher hingga ruas tulang
pinggang ke dua.
Anestesi adalah suatu tindakan menahan rasa sakit ketika meelakukan
pem bedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit
pada tubuh. Istilah anestesi pertama kali di gunakan pertama kali oleh Oliver
Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Ada beberapa anestesi yang menyebabkan hilangnya kesadaran
sedangkan jenis yang lain hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh
tertentu dan pemakaianya tetap sadar. pembiusan lokal adalah suatu jenis
anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa
menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius ini bila digunakan
dalam operasi tidak membuat lama waktu penyembuhkan oprasi. Anestesi
hanya di lakukan oleh dokter spesialis anestesi atau anestesiologis.
Dalam bidang kepenataan ini merupakan salah satu rute pemasukan
obat yang harus diketahui dan dipahami oleh penata anestesi. Oleh sebab itu
penata anestesi harus mengetahui tentang pengertian, obat yang dimasukkan,
teknik maupun komplikasi yang disebbabkan oleh anastesi ini terhadap respon
pasien yang dilakukan tindakan anastesi.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini sebagai berikut:
1. Apa Pengertian dari Medula Spinalis ?
2. Bagaimana Anatomi Medula Spinalis ?
3. Bagaimana Fisiologi Medula Spinalis ?
4. Apakah yang dimaksud anestesi spinal itu ?
5. Bagaimana rute anatomi dari anestesi spinal ?
6. Apakah obat yang biasa dimasukkan dalam anestesi spinal ini ?
7. Bagaimana pesiapan untuk melakukan tindakan anestesi spinal ?
8. Bagaimana teknik melakukan tindakan anestesi spinal ?
9. Apa komplikasi yang terjadi dari tindakan anestesi spinal ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1. Mengetahui Pengertian dari Medula Spinalis.
2. Mengetahui Bagaimana Anatomi Medula Spinalis.
3. Mengetahui Bagaimana Fisiologi Medula Spinalis.
4. Mengetahui dan memahami pengertian anestesi spinal.
5. Memahami rute anatomi dari anestesi spinal.
6. Mengetahui obat-obat yang biasa digunakan untuk anestesi spinal.
7. Mampu mengetahui pesiapan untuk melakukan tindakan anestesi spinal.
8. Memahami teknik melakukan tindakan anestesi spinal.
9. Mengetahui dan memahami komplikasi yang terjadi dari tindakan anestesi
spinal.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Medula Spinalis
1. Pengertian Medula Spinalis
Medula Spinalis atau Sumsum Tulang Belakang ialah saraf pipih
yang menjadi ekstensi dari sistem saraf inti dari otak dan melingkupi serta
dibentengi oleh tulang belakang. Fungsi utama sumsum tulang belakang
ialah pengangkutan penghasilan rangsangan antara periferi dan otak.
Fungsi lain sumsum tulang belakang yakni mengatur gerakan spontan,
tergolong gerakan spontan pada mata, hidung dan sebagainya.
Medula Spinalis atau Sumsum tulang belakang adalah saraf tipis
yang merupakan perpanjangan dari sistem saraf pusat dari otak dan
melengkungi serta dilindungi oleh tulang belakang. atau jaringan saraf
berbentuk seperti kabel putih yang memanjang dari medula oblongata
turun melalui tulang belakang dan bercabang ke berbagai bagian tubuh.
Medula spinalis merupakan bagian utama dari sistem saraf pusat yang
melakukan impuls saraf sensorik dan motorik dari dan ke otak. Disebut
juga saraf tulang belakang atau sumsum tulang belakang.Letak sumsum
tulang belakang, memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari
ruas-ruas tulang leher hingga ruas tulang pinggang ke dua
2. Anatomi Medula Spinalis
Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan medula spinalis. Medula
spinalis terletak di dalam canalis vertebralis columna vertebra dan
dibungkus oleh meningen serta diliputi oleh cairan serebrospinal
Bagian medula spinalis mulai dari perbatasan dengan medula oblongata
(decussatio pyramidum) sampai setinggi vertebra L1- 2 yang terdiri
dari 31 segmen: 8 servikal, 12 torakal, 5 lumbal, 5 sakral, 1
koksigeal. Pada bagian bawah, medula spinalis menipis menjadi conus
medularis dan berlanjut sebagai filum terminale yang melekat pada os

3
coccygea. Akar saraf lumbal dan sakral terkumpul dan disebut dengan
cauda equina.
Masing-masing segmen membentuk sepasang radiks saraf spinal
yang keluar melalui foramen intervertebral yaitu bagian dorsal dan ventral.
Akar bagian dorsal berisi serabut saraf sensorik dan memiliki struktur
ganglia yang berisi neuron sensoris, sedangkan akar bagian ventral
berisi serabut saraf motorik dengan neuron motoriknya terletak pada
cornu anterior medula spinalis.
Medula spinalis tersusun oleh substansia alba yang berwarna putih
di bagian luar dan substansia grisea yang berwarna abu-abu di bagian
dalam. Substansia grisea membentuk cornu anterior dan posterior
sehingga tampak seperti gambaran huruf H atau kupu-kupu pada potongan
melintang. Di dalam substansia alba berisi lintasan-lintasan asenden dan
desenden. Di dalam substansia grisea pada daerah cornu anterior
terdapat motor neuron yang bertanggung jawab dalam penghantaran
impuls motorik somatik. Medula spinalis dilindungi oleh tulang vertebra
dan ligamen.
Medula spinalis diperdarahi oleh satu arteri spinalis anterior
dan dua arteri spinalis posterior yang berasal dari arteri vertebralis
dari dalam intrakranial dan berjalan secara longitudinal di sepanjang
medula spinalis dan bergabung dengan arteri segmental dari masing-
masing regio yang merupakan cabang dari arteri besar yang
memperdarahi masing-masing regio, seperti :
a. Arteri vertebralis yang berasal dari arteri subklavia di leher.
b. Arteri intercostalis posterior yang berasal dari aorta thorakalis.
c. Arteri lumbalis yang berasal dari aorta abdominalis.
d. Arteri sacral lateral yang berasal dari arteri iliaka interna pelvis.
Aliran pembuluh vena medula spinalis berawal dari vena
radikularis yang bergabung menuju vena segmentalis kemudian
terkumpul di :
a. Vena cava superior
b. Sistem vena azygos thorakalis

4
c. Vena cava inferior

Berikut adalah gambar medula spinalis :

Gambar 2.1 Medula Spinalis

3. Fisiologi Medula Spinalis


Medula spinalis terdiri dari substansia alba dan grisea. Sama
seperti pada otak substansia grisea medula spinalis mengandung badan
sel neuron primer dan dendritnya, interneuron, dan sel glia.
Substansia alba terdiri dari traktus-traktus yang merupakan
kumpulan serat saraf (akson) yang memanjang dari otak ke
sepanjang medula spinalis dan mentransmisikan informasi spesifik.
Traktus asending mentransmisikan sinyal input dari aferen ke otak,
sedangkan traktus desending menghantarkan pesan impuls dari otak ke
neuron eferen.
Substansia grisea terbagi menjadi cornu anterior (ventral),
cornu posterior (dorsal), dan cornu lateral. Cornu posterior
mengandung badan sel dari interneuron aferen. Cornu anterior

5
mengandung badan sel dari neuron eferen motorik untuk otot
skeletal. Badan sel serat saraf otonom, baik simpatis maupun
parasimpatis, yang mempersarafi jantung, otot polos, dan kelenjar
eksokrin terdapat di cornu lateral.
Persarafan pada badan disuplai oleh masing-masing regio saraf
spinal secara spesifik yang dikenal dengan istilah dermatom. Beberapa
saraf spinal juga mempersarafi organ dalam sehingga terkadang
penjalaran rasa sakit yang berasal dari organ dalam tersebut
dirasakan sebagai sensasi nyeri yang berlokasi sesuai dengan
dermatom persarafan organ tersebut, hal ini dikenal sebagai referred
pain atau nyeri alih. Contohnya, nyeri yang berasal dari jantung sering
dirasakan juga pada bahu dan lengan kiri.
Medula spinalis terletak antara otak dan serat aferen dan
eferen system saraf perifer sehingga hal ini menyebabkan medula
spinalis memiliki dua fungsi : (1) sebagai jembatan transmisi informasi
antara otak dan seluruh tubuh, dan (2) sebagai pusat refleks antara input
aferen dan output eferen tanpa melibatkan otak. Refleks ini disebut sebagai
refleks spinal.
Refleks merupakan suatu respon yang terjadi secara otomatis
tanpa usaha secara sadar. Ada dua tipe refleks: (1) simpel atau dasar,
yang merupakan refleks alami tanpa perlu dipelajari seperti menjauhkan
tangan dari api; dan (2) didapat atau terkondisikan, yang merupakan
hasil dari belajar dan latihan berulang-ulang seperti musisi yang membaca
partitur secara otomatis memainkannya. Lengkung refleks melibatkan lima
komponen dasar yaitu :
a. Reseptor sensoris
b. Jalur aferen
c. Pusat integrasi
d. Jalur eferen
e. Efektor
Reseptor menangkap stimulus yang terdeteksi kemudian
memberikan respon berupa potensial aksi yang dihantarkan oleh jalur

6
aferen menuju ke pusat integrasi yaitu sistem saraf pusat (otak atau
medula spinalis). Pusat integrasi ini kemudian mengolah informasi
yang didapat dari reseptor dan kemudian ‘memutuskan’ respon yang
akan diberikan. Respon tersebut dihantarkan dari pusat integrasi
melalui jalur eferen menuju ke efektor (otot atau kelenjar). Respon
refleks dapat diprediksi karena selalu melalui jalur yang sama.

B. Anestesi Spinal
1. Pengertian Anestesi Spinal
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan
tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid.
Anestesi spinal/ subaraknoid juga disebut sebagai analgesi/blok spinal
intradural atau blok intratekal.
Spinal Anestesi adalah pembiusan dengan memasukan obat berupa
suntikan jarum halus melalui tulang belakang (tulang punggung) sehingga
pasien tidak mengalami rasa nyeri ketika di sayat dengan pisau, namun
pasien tetap sadar dan bisa bicara dengan petugas dan mengetahui bahwa
dia sedang menjalani operasi.
Spinal anestesi mudah untuk dilakukan dan memiliki potensi untuk
memberikan kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah
umbilikus. Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di bawah umbilikus
misalnya hernia, ginekologi dan operasi urologis dan setiap operasi pada
perineum atau alat kelamin. Semua operasi pada kaki, tapi amputasi
meskipun tidak sakit, mungkin merupakan pengalaman yang tidak
menyenangkan untuk pasien yang dalam kondisi terjaga. Dalam situasi ini
dapat menggabungkan tehnik spinal anestesi dengan anestesi umum.
2. Anatomi Rute Anastesi Spinal
Anatomi rute ini meliputi sebagai berikut : Tulang punggung
(columna vertebralis) Terdiri dari : 7 vertebra servikal, 12 vertebra
thoracal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sacral (menyatu pada dewasa ), dan
4 vertebra kogsigeal ( menyatu pada dewasa ). Medula spinalis
diperadarahi oleh spinalis anterior dan spinalis posteror.

7
Tulang belakang biasanya bentuk-bentuk ganda C, yang cembung
anterior di daerah leher dan lumbal. Unsur ligamen memberikan dukungan
struktural dan bersama-sama dengan otot pendukung membantu menjaga
bentuk yang unik. Secara ventral, corpus vertebra dan disk intervertebralis
terhubung dan didukung oleh ligamen longitudinal anterior dan posterior.
Dorsal, ligamentum flavum, ligamen interspinous, dan ligamentum
supraspinata memberikan tambahan stabilitas. Dengan menggunakan
teknik median, jarum melewati ketiga dorsal ligamen dan melalui ruang
oval antara tulang lamina dan proses spinosus vertebra yang berdekatan.
Untuk mencapai cairan cerebro spinal, maka jarum suntik akan
menembus : kulit, subkutis, ligament supraspinosum, ligament
interspinosum, ligament flavum, ruang epidural, durameter, ruang
subarahnoid.
Berikut adalah gambar Anatomi Spinal Anestesi menurut
Friedrich, 2012 :

Gambar 2.2 Anatomi Spinal Anestesi menurut Friedrich

3. Obat Yang Dimasukan Pada Anastesi Spinal


Anestetik local yang paling sering digunakan:
a. Lidokaine (xylobain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobaric,
dosis 20-100 mg (2-5ml).

8
b. Lidokaine (xylobain,lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis
1.003, sifat hyperbaric, dose 20-50 mg (1-2 ml).
c. Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat isobaric,
dosis 5-20 mg.
d. Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027,
sifat hiperbarik, dosis 5-15 mg (1-3 ml).
Obat anestetik lokal yang sering digunakan adalah prokain,
tetrakain, lidokain, atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal
mempengaruhi aliran obat dan perluasan daerah teranestesi. Pada anestesi
spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis CSS (hiperbarik),
maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gravitasi. Jika lebih
kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas. Bila
sama (isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat
penyuntikan.
Bupivacaine adalah obat anestetik lokal yang termasuk dalam
golongan amino amida. Bupivacaine di indikasikan pada penggunaan
anestesi lokal termasuk anestesi infiltrasi, blok serabut saraf, anestesi
epidural dan anestesi intratekal. Bupivacaine kadang diberikan pada
injeksi epidural sebelum melakukan operasi athroplasty pinggul. Obat
tersebut juga biasa digunakan untuk luka bekas operasi untuk mengurangi
rasa nyeri dengan efek obat mencapai 20 jam setelah operasi.
Bupivacaine dapat diberikan bersamaan dengan obat lain untuk
memperpanjang durasi efek obat seperti misalnya epinefrin, glukosa, dan
fentanil untuk analgesi epidural. Kontraindikasi untuk pemberian
bupivacaine adalah anestesi regional IV (IVRA) karena potensi risiko
untuk kegagalan tourniket dan adanya absorpsi sistemik dari obat tersebut.
Bupivacaine bekerja dengan cara berikatan secara intraselular
dengan natrium dan memblok influk natrium kedalam inti sel sehingga
mencegah terjadinya depolarisasi. Dikarenakan serabut saraf yang
menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih tipis dan tidak
memiliki selubung mielin, maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat
ke dalam serabut saraf nyeri dibandingkan dengan serabut saraf

9
penghantar rasa proprioseptif yang mempunyai selubung mielin dan
ukuran serabut saraf lebih tebal.
4. Persiapan Anastesi Spinal
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan
pada anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung
atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
a. Informed consent : tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui
anesthesia spinal
b. Pemeriksaan fisik : tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan
tulang punggung.
c. Pemeriksaan laboratorium anjuran : Hb, ht,pt,ptt
Peralatan analgesia spinal :
a. Peralatan monitor: tekanan darah, pulse oximetri, ekg.
b. Peralatan resusitasi.
c. Jarum spinal.
5. Teknik Analgesia Spinal
a. Posisi duduk
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada
garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya
dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya
diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi
berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya
obat.
1) Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral
dekubitus. Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya
tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maximal agar
processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.
2) Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista
iliaka, misal L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau
diatasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis.

10
3) Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol.
4) Beri anastesi lokal pada tempat tusukan.
5) Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar
22G, 23G, 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang
kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu
jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam
kira-kira 2cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum
spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika
menggunakan jarum tajam (QuinckeBabcock) irisan jarum (bevel)
harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring
bevel mengarah keatas atau kebawah, untuk menghindari
kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala
pasca spinal. Setelah resensi menghilang, mandarin jarum spinal
dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obat
dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi aspirasi
sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau
anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor
tidak keluar, putar arah jarum 90º biasanya likuor keluar. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter.
6) Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya
bedah hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-
ligamentum flavum dewasa ± 6cm.
b. Posisi lateral :
1) Bahu sejajar dengan meja operasi.
2) Posisikan pinggul di pinggir meja operasi.
3) Memeluk bantal/knee chest position.
6. Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Blok Analgesia Spinal :
a. Volume obat analgetik lokal: makin besar makin tinggi daerah
analgesia.
b. Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgesia.
c. Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan batas
daerah analgetik.

11
d. Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia yang
tinggi. Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan: 3 detik untuk 1 ml
larutan.
e. Maneuver valsava: mengejan meninggikan tekanan liquor
serebrospinal dengan akibat batas analgesia bertambah tinggi.
f. Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik
cenderung berkumpul ke kaudal(saddle blok) pungsi L2-3 atau L3-4
obat cenderung menyebar ke cranial.
g. Berat jenis larutan: hiper,iso atau hipo barik.
h. Tekanan abdominal yang meningkat: dengan dosis yang sama didapat
batas analgesia yang lebih tinggi.
i. Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis makin
besar dosis yang diperlukan.(BB tidak berpengaruh terhadap dosis
obat).
j. Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan,umumnya larutan
analgetik sudah menetap sehingga batas analgesia tidak dapat lagi
diubah dengan posisi pasien.
7. Komplikasi Anastesi Spinal
a. Komplikasi Tindakan :
1) Hipotensi berat yang pada dewasa dicegah dengan memberikan
infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan.
2) Bradikardia : Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau
hipoksia,terjadi akibat blok sampai T-2.
3) Hipoventilasi : Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi
pusat kendali nafas.
4) Trauma pembuluh saraf.
5) Trauma saraf.
6) Mual-muntah.
7) Gangguan pendengaran.
8) Blok spinal tinggi atau spinal total.
b. Komplikasi pasca Tindakan :
1) Nyeri tempat suntikan.

12
2) Nyeri punggung.
3) Nyeri kepala karena kebocoran likuor.
4) Retensio urine.
5) Meningitis
c. Komplikasi intraoperative :
1) Komplikasi kardiovaskular.
Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 10-
40%. Hipotensi terjadi karena vasodilatasi, akibat blok simpatis,
yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola sistemik
dan vena, makin tinggi blok makin berat hipotensi. Cardiac output
akan berkurang akibat dari penurunan venous return. Hipotensi
yang signifikan harus diobati dengan pemberian cairan intravena
yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif seperti efedrin atau
fenilefedrin.
Cardiac arrest pernah dilaporkan pada pasien yang sehat
pada saat dilakukan anestesi spinal. Henti jantung bisa terjadi tiba-
tiba biasanya karena terjadi bradikardia yang berat walaupun
hemodinamik pasien dalam keadaan yang stabil. Pada kasus seperti
ini, hipotensi atau hipoksia bukanlah penyebab utama dari cardiac
arrest tersebut tapi ia merupakan dari mekanisme reflek bradikardi
dan asistol yang disebut reflek Bezold-Jarisch.
Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse
cairan kristaloid (NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-
15ml/kgbb dlm 10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia
spinal. Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih terjadi
hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin
intravena sebanyak 19mg diulang setiap 3-4menit sampai
mencapai tekanan darah yang dikehendaki. Bradikardia dapat
terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok
simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.
2) Blok spinal tinggi atau total.

13
Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari
kesalahan perhitungan dosis yang diperlukan untuk satu suntikan.
Komplikasi yang bisa muncul dari hal ini adalah hipotensi, henti
nafas, penurunan kesadaran, paralisis motor, dan jika tidak diobati
bisa menyebabkan henti jantung. Akibat blok simpatetik yang
cepat dan dilatasi arterial dan kapasitas pembuluh darah vena,
hipotensi adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada
anestesi spinal. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan sirkulasi
darah ke organ vital terutama otak dan jantung, yang cenderung
menimbulkan sequel lain. Penurunan sirkulasi ke serebral
merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadi henti nafas
pada anestesi spinal total. Walau bagaimanapun, terdapat
kemungkinan pengurangan kerja otot nafas terjadi akibat dari blok
pada saraf somatic interkostal. Aktivitas saraf phrenik biasanya
dipertahankan.
Berkurangnya aliran darah ke serebral mendorong
terjadinya penurunan kesadaran. Jika hipotensi ini tidak di atasi,
sirkulasi jantung akan berkurang seterusnya menyebabkan terjadi
iskemik miokardiak yang mencetuskan aritmia jantung dan
akhirnya menyebakan henti jantung. Pengobatan yang cepat sangat
penting dalam mencegah terjadinya keadaan yang lebih serius,
termasuk pemberian cairan, vasopressor, dan pemberian oksigen
bertekanan positif. Setelah tingkat anestesi spinal berkurang,
pasien akan kembali ke kedaaan normal seperti sebelum operasi.
Namun, tidak ada sequel yang permanen yang disebabkan oleh
komplikasi ini jika diatasi dengan pengobatan yang cepat dan tepat.
3) Komplikasi respirasi
a) Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi,
bila fungsi paruparu normal.
b) Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk
blok spinal tinggi.

14
c) Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi
atau karena hipotensi berat dan iskemia medulla.
d) Kesulitan bicara,batuk kering yang persisten,sesak
nafas,merupakan tandatanda tidak adekuatnya pernafasan yang
perlu segera ditangani dengan pernafasan buatan.
d. Komplikasi post operative :
1) Komplikasi gastrointestinal
Nausea dan muntah karena hipotensi,hipoksia,tonus
parasimpatis berlebihan, pemakaian obat narkotik,reflek karena
traksi pada traktus gastrointestinal serta komplikasi delayed,pusing
kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan ciri
khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi
tegak. Mulai terasa pada 24-48jam pasca pungsi lumbal,dengan
kekerapan yang bervariasi. Pada orang tua lebih jarang dan pada
kehamilan meningkat.
2) Nyeri kepala
Komplikasi yang paling sering dikeluhkan oleh pasien
adalah nyeri kepala. Nyeri kepala ini bisa terjadi selepas anestesi
spinal atau tusukan pada dural pada anestesi epidural. Insiden
terjadi komplikasi ini tergantung beberapa faktor seperti ukuran
jarum yang digunakan. Semakin besar ukuran jarum semakin besar
resiko untuk terjadi nyeri kepala. Selain itu, insidensi terjadi nyeri
kepala juga adalah tinggi pada wanita muda dan pasien yang
dehidrasi. Nyeri kepala post suntikan biasanya muncul dalam 6 –
48 jam selepas suntikan anestesi spinal. Nyeri kepala yang
berdenyut biasanya muncul di area oksipital dan menjalar ke retro
orbital, dan sering disertai dengan tanda meningismus, diplopia,
mual, dan muntah.
Tanda yang paling signifikan nyeri kepala spinal adalah
nyeri makin bertambah bila pasien dipindahkan atau berubah posisi
dari tiduran/supinasi ke posisi duduk, dan akan berkurang atau
hilang total bila pasien tiduran. Terapi konservatif dalam waktu 24

15
– 48 jam harus di coba terlebih dahulu seperti tirah baring,
rehidrasi (secara cairan oral atau intravena), analgesic, dan suport
yang kencang pada abdomen. Tekanan pada vena cava akan
menyebabkan terjadi perbendungan dari plexus vena pelvik dan
epidural, seterusnya menghentikan kebocoran dari cairan
serebrospinal dengan meningkatkan tekanan extradural. Jika terapi
konservatif tidak efektif, terapi yang aktif seperti suntikan salin
kedalam epidural untuk menghentikan kebocoran.
3) Nyeri punggung
Komplikasi yang kedua paling sering adalah nyeri
punggung akibat dari tusukan jarum yang menyebabkan trauma
pada periosteal atau ruptur dari struktur ligament dengan atau tanpa
hematoma intraligamentous. Nyeri punggung akibat dari trauma
suntikan jarum dapat di obati secara simptomatik dan akan
menghilang dalam beberapa waktu yang singkat sahaja.
4) Komplikasi neurologic
Insidensi defisit neurologi berat dari anestesi spinal adalah
rendah. Komplikasi neurologik yang paling benign adalah
meningitis aseptik. Sindrom ini muncul dalam waktu 24 jam
setelah anestesi spinal ditandai dengan demam, rigiditas nuchal dan
fotofobia. Meningitis aseptic hanya memerlukan pengobatan
simptomatik dan biasanya akan menghilang dalam beberapa hari.
Sindrom cauda equina muncul setelah regresi dari blok
neuraxial. Sindrom ini mungkin dapat menjadi permanen atau bisa
regresi perlahan-lahan setelah beberapa minggu atau bulan. Ia
ditandai dengan defisit sensoris pada area perineal, inkontinensia
urin dan fekal, dan derajat yang bervariasi pada defisit motorik
pada ekstremitas bawah.
Komplikasi neurologic yang paling serius adalah
arachnoiditis adesif. Reaksi ini biasanya terjadi beberapa minggu
atau bulan setelah anestesi spinal dilakukan. Sindrom ini ditandai
oleh defisit sensoris dan kelemahan motorik pada tungkai yang

16
progresif. Pada penyakit ini terdapat reaksi proliferatif dari
meninges dan vasokonstriksi dari vasculature korda spinal.
Iskemia dan infark korda spinal bisa terjadi akibat dari
hipotensi arterial yang lama. Penggunaan epinefrin didalam obat
anestesi bisa mengurangi aliran darah ke korda spinal. Kerusakan
pada korda spinal atau saraf akibat trauma tusukan jarum pada
spinal maupun epidural, kateter epidural atau suntikan solution
anestesi lokal intraneural adalah jarang, tapi tetap berlaku.
Perdarahan subaraknoid yang terjadi akibat anestesi
regional sangat jarang berlaku karena ukuran yang kecil dari
struktur vaskular mayor didalam ruang subaraknoid. Hanya
pembuluh darah radikular lateral merupakan pembuluh darah besar
di area lumbar yang menyebar ke ruang subaraknoid dari akar
saraf. Sindrom spinal-arteri anterior akibat dari anesthesia adalah
jarang. Tanda utamanya adalah kelemahan motorik pada tungkai
bawah karena iskemia pada 2/3 anterior bawah korda spinal.
Kehilangan sensoris biasanya tidak merata dan adalah sekunder
dari nekrosis iskemia pada akar posterior saraf dan bukannya
akibat dari kerusakan didalam korda itu sendiri. Terdapat tiga
penyebab terjadinya sindrom spinal-arteri : kekurangan bekalan
darah ke arteri spinal anterior karena terjadi gangguan bekalan
darah dari arteri-arteri yang diganggu oleh operasi, kekurangan
aliran darah dari arteri karena hipotensi yang berlebihan, dan
gangguan aliran darah sama ada dari kongesti vena mahu pun
obstruksi aliran.
Anestesi regional merupakan penyebab yang mungkin yang
menyebabkan terjadinya sindrom spinal-arteri anterior oleh
beberapa faktor. Contohnya anestesi spinal menggunakan obat
anestesi lokal yang dicampurkan dengan epinefrin. Jadi
kemungkinan epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi pada
arteri spinal anterior atau pembuluh darah yang memberikan
bekalan darah.

17
Hipotensi yang kadang timbul setelah anestesi regional
dapat menyebabkan kekurangan aliran darah. Infeksi dari spinal
adalah sangat jarang kecuali dari penyebaran bacteria secara
hematogen yang berasal dari fokal infeksi ditempat lain. Jika
anestesi spinal diberikan kepada pasien yang mengalami
bakteriemia, terdapat kemungkinan terjadi penyebaran ke bakteri
ke spinal. Oleh yang demikian, penggunaan anestesi spinal pada
pasien dengan bakteremia merupakan kontra indikasi relatif. Jika
infeksi terjadi di dalam ruang subaraknoid, akan menyebabkan
araknoiditis. Tanda dan symptom yang paling prominen pada
komplikasi ini adalah nyeri punggung yang berat, nyeri lokal,
demam, leukositosis, dan rigiditas nuchal. Oleh itu, adalah tidak
benar jika menggunakan anestesi regional pada pasien yang
mengalami infeksi kulit loka pada area lumbar atau yang menderita
selulitis. Pengobatan bagi komplikasi ini adalah dengan pemberian
antibiotik dan drenase jika perlu.
5) Retentio urine / Disfungsi kandung kemih
Disfungsi kandung kemih dapat terjadi selepas anestesi
umum maupun regional. Fungsi kandung kencing merupakan
bagian yang fungsinya kembalipaling akhir pada analgesia spinal,
umumnya berlangsung selama 24 jam. Kerusakan saraf pemanen
merupakan komplikasi yang sangat jarang terjadi.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Medula Spinalis atau Sumsum Tulang Belakang ialah saraf pipih yang
menjadi ekstensi dari sistem saraf inti dari otak dan melingkupi serta
dibentengi oleh tulang belakang. Fungsi utama sumsum tulang belakang ialah
pengangkutan penghasilan rangsangan antara periferi dan otak. Fungsi lain
sumsum tulang belakang yakni mengatur gerakan spontan, tergolong gerakan
spontan pada mata, hidung dan sebagainya.
Spinal Anestesi adalah pembiusan dengan memasukan obat berupa
suntikan jarum halus melalui tulang belakang (tulang punggung) sehingga
pasien tidak mengalami rasa nyeri ketika di sayat dengan pisau, namun pasien
tetap sadar dan bisa bicara dengan petugas dan mengetahui bahwa dia sedang
menjalani operasi.
Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di bawah umbilikus misalnya
hernia, ginekologi dan operasi urologis dan setiap operasi pada perineum atau

19
alat kelamin. Semua operasi pada kaki, tapi amputasi meskipun tidak sakit,
mungkin merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk pasien
yang dalam kondisi terjaga.

B. Saran
Dari kesimpulan diatas diharapkan mahasiswa mampu Mengetahui
Pengertian, Anatomi, Fisiologi Medula Spinalis dan memehami Anestesi
Spinal, mulai dari rute Anatomi, obat – obatan yang digunakan dalam Spinal
Anestesi, bisa melakukan persiapan sebelum tindakan Anestesi Spinal oleh
Dokter Anestesi, memahami teknik – teknik melakukan tindakan Spinal
Anestesi, dan terakhir yang paling penting memahami komplikasi yang terjadi
dari tindakan anestesi spinal agar dapat dengan sigap membantu Dokter
Anestesi dalam melakukan Asuhan Kepenataan Anestesi yang profesional.

DAFTAR PUSTAKA

Redaksi Pakdosen, 2021. “Medula Spinalis”, https://pakdosen.co.id/medulla-


spinalis/, diakses pada 27 mei 2021 pukul 17.10.
Tanudjaja, Teguh, 2019. “Anatomi dan Fisiologi medula Spinalis”,
https://docplayer.info/73040629-Bab-ii-anatomi-dan-fisiologi.html, diakses
pada 27 mei 2021 pukul 17.20.
Redaksi Seputar Pengetahuan, 2020. “Medula Spinalis : Pengertian, Letak Fungsi
dan Struktur”, https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/04/medula-
spinalis.html, diakses pada 27 mei 2021 pukul 17.30.
Fadila, Ihda, 2020. “Mengenal Anatomi, Fungsi dan Penyakit pada Sumsum
Tulang Belakang”, https://hellosehat.com/saraf/sumsum-tulang-belakang/,
diakses pada 27 mei 2021 pukul 17.40.
Arsyad, Azwar, 2021. “Anatomi dan Fisiologi Medula Spinalis”,
https://id.scribd.com/doc/226713011/Anatomi-Dan-Fisiologi-Medula-
Spinalis, diakses pada 27 mei 2021 pukul 17.50.

20
Anonim, 2020. “Anatomi Tulang Belakang”, https://sinta.unud.ac.id/
uploads/dokumen_dir/a1b7e5bef5ee5bdd80f65cd18dbc6aca.pdf, diakses
pada 27 mei 2021 pukul 17.50.
Sari, Adela, dkk, 2014. “Makalah KDM II Anestesi Spinal”,
http://docshare02.docshare.tips/files/29128/291285410.pdf, diakses pada 27
mei 2021 pukul 18.00.

iv

21