Anda di halaman 1dari 150

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke


hadirat Allah SWT, atas limpahan taufik, hidayah serta inayahNya
kami dapat menerbitkan "Buku Pedoman Pembinaan
Kemasjidan" pada tahun anggaran 2007 ini. Shalawat dan salam
semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, para sahabat dan orang-orang yang
meneruskan perjuangan beliau hingga akhir zaman.

Diterbitkannya Buku Pedoman Pembinaan Kemasjidan ini


merupakan salah satu bentuk bimbingan dan pembinaan yang
dilakukan oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syariah kepada masyarakat, khususnya para pengurus atau
pengelola masjid, dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi
masjid.

Secara garis besar pembinaan kemasjidan meliputi 3 (tiga)


aspek yaitu : Bidang ldarah (organisasi); Bidang lmarah
(kemakmuran); dan Bidang Riayah (pemeliharaan dan
pengembangan fisik bangunan). Ketiga aspek tersebut perlu
mendapat perhatian serius dan dikembangkan sesuai situasi dan
kondisi dimana masjid berada, sehingga akan mendapat respon
positif bagi jamaah, bahkan mereka akan merasa bangga
berinteraksi dan melakukan berbagai kegiatan di masjid.

Semoga dengan kehadiran buku Pedoman Pembinaan


Kemasjidan ini akan memberikan kontribusi bagi para pengelola
masjid dalam upaya meningkatkan peran dan fungsi masjid
dimasa yang akan datang.
Kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku
ini, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih. Semoga Allah
SWT meridhai setiap upaya yang kita lakukan. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Oktober 2007

. oh. Muchtar Ilyasf'


183 367 (

ii
DAFTAR lSI

Hal am an
KATA PENGANTAR ........................................................... .
DAFTAR lSI ........................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................... . 1
1. Latar Belakang ... .......................................... 1
2. Pengertian lstilah ......................................... . 2

BAB II PEMBINAAN IDARAH ........................................ 3


1. Perencanaan ............................................... 3
2. Organisasi Kepengurusan ... ...... ............... ... 6
3. Administrasi ...... ... .... .. ..... ..... ...... ...... ........... . 8
4. Perlengkapan ............................................... 13
5. Keuangan ..................................................... 14
6. Pengawasan ................................................ 18

BAB Ill PEMBINAAN IMARAH .. ........ ........ ...... ........ ........ 19


1. Peribadatan .................................................. 20
2. Majelis Taklim .. ....... ............. ......... ........ ..... ... 32
3. Remaja Masjid ............................................. 33
4. Perpustakaan ............................................... 35
5. Taman Kanak-kanak .................................... 37
6. Madrasah Diniyah ........................................ 38
7. Pembinaan lbadah Sosial ............................ 40
8. Peringatan HBI dan Hari Besar Nasional ..... 41
9. Pembinaan Wanita....................................... 45
10. Koperasi ....................................................... 46
11. Kesehatan.. ... .............. ......... ... .. ........... ........ 47

BAB IV PEMBINAAN RIAYAH ..... ......... ........ ............. ...... 49


1. Pengertian .................................................... 49
2. Arsitektur dan Disain .................................... 50
3. Pemeliharaan Peralatan dan Fasilitas .. ....... 52

ill
4. Pemeliharaan Hal am an dan Lingkungan ..... 55
5. Penentuan Arah Kiblat.................................. 56
BAB V PENUTUP ............. ........... ............. .......... .......... 59
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Penetapan Presiden Rl No. 1 tahun 1965 tanggal 27
Januari 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan
dan atau Penodaan Agama dan penjelasannya .......... 60
2. Peraturan Menteri Agama No. 1 tahun 1975 tanggal
6 Maret 1975 tentang Pemberian Bantuan Kepada
Organisasi Sosiallslam, Perguruan Islam Swasta,
Pembangunan/Rehabilit as Masjid/Mushalla dan
Makam bersejarah ...................................................... 69
3. Peraturan Menteri Agama AI Nomor 54 Tahun 2006
tanggal 27 November- 2006 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja BKM .................................. 76
4. Keputusan Menteri Agama Rl Nomor 44 tahun 1978
tanggal 23 Mei 1978 tentang Pelaksanaan Dakwah
Agama dan Kuliah Subuh.melalui Radio ..................... 89
5. Keputusan Menteri Agama No. 70 tahun 1978 tanggal
1 Agustus 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama . 92
6. Keputusan Menteri Agama No. 77 tahun 1978 tanggal
15 Agustus 1978 tentang Bantuan Luar Negeri kepada
Lembaga Keagamaan di Indonesia ............................ 96
7. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri
Agama Rl
128 Tahun 1982
Nomor : - - - - - - - - tanggal 13 Mei 1982 tentang
44A Tahun 1982
Usaha Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Huruf AI-
Qur'an Bagi Umat Islam Dalam Rangka Peningkatan
Penghayatan ¢ian Pengamalan AI-Qur'an dalam
Kehidupan Sehari-hari ................................................ 102

iv
8. lnstruksi Menteri Agama Rl No. 4 tahun 1978 tanggal
11 April 1978 tentang Kebijaksanaan Mengenai Aliran-
aliran Kepercayaan ······································~·············· 107
9. lnstruksi Menteri Agama Rl No. 3 tahun 1987 tanggal
24 Oktober 1987 tentang Bimbingan dan Pembinaan
kepada Badan Hukum Keagamaan sebagai Madzir
dan Badan Hukum Keagamaan yang memiliki tanah . 109
10. lnstruksi Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 1990 tanggal 26 September 1990 tentang
Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kemampuan Baca
Tulis Huruf AI-Qur'an ................................................... 113
11. Surat Edaran Kagri No. A/VII/9221, tanggal 12 Juni
1952 peri hal Masalah Furui'yyah Khilafiyah ................. 118
12. Surat Edaran Kementerian Agama No. B/1/22/1 0627
tanggal 19 Agustus 1957 peri hal Kedudukan Pegawai-
pegawai dalam lingkungan Kementerian Agama ........ 119
13. Surat Edaran Menteri Agama Rl Nomor 3 tahun 1978
peri hal Dakwah dan Kuliah Subuh melalui Radio ....... 120
14. Surat Kementerian Agama Rl No. A/11/97/Rh. tanggal
14 Maret 1953 peri hal Ta'addud Jema'ah .................... 128
15. Surat Menteri Agama Rl No. B.VI/11215/78 tanggal18
Oktober 1978 perihal Masalah Penyebutan Agama,
Perkawinan, Sumpah dan Penguburan Jenazah bagi
Ummat Beragama yang dihubungkan dengan Aliran
Kepercayaan ............................................................... 131
16. Salinan Surat Menteri Agama Rl Nomor A/593/1978
tanggal 21 Oktober 1978 tentang Tempat lbadah/
Mushalla ...................................................................... 136

v
SAMBUTAN DIREKTUR URUSAN AGAMA ISLAM DAN
PEMBINAAN SYARIAH
SELAKU KETUA HARlAN BKM PUSAT

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT,


karena berkat rahmat dan inayahNya buku Pola Pembinaan
Kegiatan Kemasjidan ini diterbitkan.

Sejalan dengan kemajuan pembangunan khususnya pada


sektor agama buku seperti ini menjadi penting. Pelaksanaan
pembangunan dan rehabilitasi masjid dewasa ini berkembang
begitu pesat.
Lebih-lebih setelah Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang
dipimpin oleh Bapak Soeharto, sejak tahun 1984 ikut andil besar
dalam pembangunan masjid. Seperti kita ketahui berdasarkan
data tahun 2005 jumlah masjid adalah 600.000 buah, termasuk
mushalla dan langgar. Jumlah itu tentu masih akan terus
bertambah. Dari gambaran jumlah tersebut, dapat kita bayangkan
betapa besar sarana ibadah yang dimiliki oleh umat Islam
Indonesia. Demikian pula dapat kita bayangkan betapa tidak
mudahnya mengelola rumah ibadah Islam tersebut.

Karena itulah pembangunan itu harus diikuti dengan jurus


pengelolaan dan pembinaan kegiatan masjid secara jitu. Kita tentu
tidak akan membiarkan jika ada masjid yang kurang terawat dan
terkelola dengan baik. Apalagi sebuah masjid disamping sebagai
tempat ibadah, berfungsi pula sebagai pusat kegiatan umat.
Bahkan masjid juga harus difungsikan sebagai tempat kegiatan
penerangan pembangunan melalui pintu dan bahasa agama.

Penerbitan buku Pola Pembinaan Kegiatan Kemasjidan ini


antara lain dimaksudkan untuk menangani dan mengkoordinasi-
kan Pelaksanaan kegiatan masjid. Untuk pembinaan tersebut
masjid didekati melalui tiga sisi utamanya yakni idarah
(pengelolaan), imarah (kemakmuran) dan ri'ayah (pemeliharaan).

VIl
Kami berharap buku ini dapat dipedomani dan dilaksanakan
sebagaimana mestinya, tentu saja dengan melihat kondisi dan
situasi setempat.

Demikian, semoga Allah SWT selalu memberikan taufiq dan


hidayahnya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, Juni 2007

DIREKTUR URUSAN AGAMA ISLAM DAN


PEMBINAAN SYARIAH

ttd.

Drs. H. MOH. MUCHTAR ILYAS

VIll
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Berdasarkan data pada tahun 2005 bahwa di Indonesia
terdapat jumlah masjid, langgar dan mushalla sebanyak
644.502 buah dengan rincian : Masjid = 193.893 buah =
30,084%, Langgar =388.375 buah =60,259% dan Mushalla
= 62.234 buah = 9,656%. Hal ini memberikan gambaran dan
data kepada kita betapa besar potensi umat beragama yang
memerlukan perhatian semua pihak terutama Pemerintah
dalam membina dan memberdayakan masjid yang berlokasi
di Desa/Kelurahan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Menyadari kenyataan itu dalam hal pemberian bantuan,
diupayakan memberikan penekanan dalam bentuk bantuan
non fisik. Salah satu bentuk bantuan itu adalah berupa arahan
pembinaan kegiatan kemasjidan.
Sampai sekarang masih dirasakan bahwa fungsi masjid
masih terbatas sebagai pusat ibadah. Sedangkan fungsi lain
seperti sebagai tempat pembinaan umat, pusat tempat
meningkatkan kesejahteraan umat masih perlu ditingkatkan
secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Jumlah masjid yang cukup besar, apabila fungsinya dapat
meningkat, akan mempunyai arti yang sangat besar dalam
meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Tidak hanya
terbatas pada peningkatan kualitas iman dan takwa saja,
tetapi juga peningkatan kualitas kehidupan yang meliputi
kesehatan, pendidikan, koperasi, gotong-royong dan ibadah
sosial.
Dengan latar belakang itulah pola pembinaan kegiatan
kemasjidan disusun dalam bentuk seperti buku ini. Dengan
penyusunan ini, diharapkan agar masyarakat terutama
kalangan pengurus masjid dapat mewujudkan fungsi masjid
yang sebenarnya dalam suatu pola kegiatan yang terarah
dan terorganisasi dengan rapi, baik yang menyangkut idarah,
imarah maupun ri'ayahnya.

2. Pengertian lstilah
Dalam buku pedoman ini, yang dimaksud dengan :
a. Masjid : Bangunan tempat ibadah umat Islam yang
dipergunakan untuk shalat rawatib (lima
waktu) dan shalat Jum'at.
b. Langgar : Tempat ibadah yang dipergunakan untuk
shalat rawatib.
c. Mushalla : tempat atau ruangan yang dipergunakan
untuk shalat (shalat rawatib atau shalat
Jum'at) yang terletak di tempat-tempat
tertentu seperti kantor, pasar, stasiun, dan
perguruan.
d. ldarah : Kegiatan yang menyangkut perencanaan,
pengorganisasian pengendalian, peng-
administrasian dan pengawasan.
e. lmarah : Kegiatan memakmurkan masjid seperti
peribadatan, pendidikan, kegiatan sosial dan
peringatan hari besar Islam.
f. Ri'ayah : Kegiatan pemeliharaan bangunan,
peralatan, lingkungan, kE:bE:iSihan, uciil
keindahan masjid termasuk penentuan
Qiblat.

2
BAB II
PEMBINAAN IDARAH

Masjid berfungsi sebagai tempat ibadah shalat dan tempat


mengayomi dan membina umat sekitarnya secara aktif.

Dengan luasnya fungsi dan tugas masjid, tidak mungkin


pengelolaan masjid dilaksanakan oleh satu orang atau
sekelompok kecil orang. Sebab, bila masih dilakukan oleh
perorangan atau sekelompok kecil, maka masjid hanya akan
"kecil" saja peranannya di masyarakat, atau pengelolaan masjid
tidak rapi, karena kurang orang dan kurang kerjasama.

Untuk itu perlu adanya idarah (pengelolaan). ldarah ialah


kegiatan mengembangkan dan mengatur kerjasama dari banyak
orang guna mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan akhir idarah
masjid ialah agar lebih mampu mengembangkan kegiatan, makin
dicintai jamaah dan berhasil membina dakwah di lingkungannya.
Termasuk dalam pengertian idarah ialah, perencanaan, peng-
organisasian, pengadministrasian, keuangan dan pengawasan.

1. Perencanaan
Pengurus Masjid dalam jabatan apapun hendaknya
memiliki keahlian memimpin (leadership). Apakah ia ketua,
sekretaris, bendahara, penasihat, ketua bidang atau ketua
seksi. Semua jabatan tersebut memerlukan kepemimpinan.
Sudah barang tentu, pada mulanya pengurus harus me-
mahami seluruh tugas dan permasalahan, dalam bidangnya.
Pengurus kemudian merumuskan jalan keluarnya. Jalan
keluar inilah jangan merupakan inisiatif dari seseorang. Tentu
yang diharapkan adalah jalan keluar yang paling baik, paling
efisien dan paling efektif.
Salah satu bentuk nyata dari inisiatif ialah adanya
perencanaan. Semua unit kepengurusan harus mempunyai

3
rencana yang mantap dan kongkrit dalam bidangnya.
Dengan demikian akan ada rencana umum pengurus. Suatu
rencana yang kongkret berisi beberapa aspek yaitu :
a. Apa isi rencana, tujuan dan target dari rencana tersebut.
b. Mengapa rencana tersebut dibuat. Apa alasan-alasan
atau latar belakangnya.
c. Bagaimana rencana itu dilaksanakan. Dijelaskan secara
lengkap teknik dan tahap-tahapnya.
d. Oleh siapa dilaksanakan dan siapa atau apa sasarannya.
Apakah seorang atau satu kelompok orang atau suatu
organisasi atau panitia. Dijelaskan organisasinya, baik
yang melaksanakan maupun sasarannya.
e. Kapan dilaksanakan. Hal ini meliputi berapa lama dan
kapan. Sebaliknya dilengkapi dengan jadwal dari hari ke
hari, semenjak persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
pelaporan.
f. Dimana hal itu dilaksanakan. Sebutkan nama kota, desa,
ruang dan semacamnya.
g. Berapa biaya. Semuanya dinyatakan secara mendetail,
dari mana sumber biaya tersebut dan untuk apa.

Untuk mempersiapkan dan merealisasikan suatu


rencana, pengurus masjid akan mengadakan rapat-rapat.
Rapat Pengurus masjid sebaiknya dilaksanakan secara
periodik. Misalnya sekali dalam sebulan atau sekali dalam dua
minggu. Waktu rapat ditetapkan dalam rapat sebelumnya,
apakah siang atau malam.
Beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam rapat:
a. Acara yang jelas.
b. Target rapat harus kongkrit.
c. Pemimpin rapat hendaknya menghayati betul apa yang
ingin dicapai.

4
Tidak jelasnya tujuan rapat, akan membuat lama dan
pembicaraan akan berkepanjangan. Misalnya tujuan rapat :
Merencanakan peringatan Nuzulul Qur'an. Jadi, dalam rapat
diputuskan :
Kapan
Dimana
Siapa yang berbicara.
Siapa panitianya.
Siapa saja yang diundang.
Apa alat yang diperlukan.
Kegiatan apa yang perlu diadakan.
Berapa biaya yang dibutuhkan.
Untuk apa biaya tersebut.
Dari mana sumbernya.
Selain hal-hal tersebut di atas, diperlukan hal-hal sebagai
berikut:
a. Ketegasan pemimpin rapat. Tegas dalam arti harus
selalu mengarahkan rapat kepada tujuan dan target yang
telah ditentukan di atas. Seringkali rapat berlarut-larut,
karene3: adanya peserta rapat yang tidak faham terhadap
tujuan rapat dan target yang akan dicapai.
Dengari bijaksana seorang ketua rapat akan mengingat-
kan tujuan rapat. Acara lain-lain dapat dibahas bila acara
pokok telah selesai.
b. Menjaga waktu. Rapat sebaiknya diadakan tepat pada
waktu yang telah ditetapkan seperti tertulis dalam
undangan. Lama suatu rapat sebaiknya antara dua jam
dan maksimum tiga jam.
c. Pemimpin telah siap dengan beberapa pilihan keputusan
rapat. Suatu rapat dapat dimaksudkan sebagai wahana
untuk menguji pemecahan-pemecahan yang sudah
dipikirkan atau bahkan ditulis. Pemimpin rapat harus

5
bijaksana, agar sifat suatu rapat tetap terpelihara.
Pemimpin rapat dipandang kurang baik, bila terlalu
dominan dan menggurui.
d. Semua keputusan, dan jalannya rapat dicatat dalam
notulen rapat. Notulen memuat ikhtisar ringkas isi
pembicaraan, kesimpulan dan data waktu dan peserta
rapat. Notulen dapat segera disusun oleh sekretaris
begitu selesai rapat, diperbanyak dan dikirimkan kepada
peserta rapat, baik yang hadir maupun yang tidak hadir
dalam rapat. Gunanya notulen ialah agar semua
kesimpulan direkam untuk dilaksanakan dan bila ada
kesimpulan yang salah dapat dikoreksi. Untuk yang tidak
hadir dapat segera mengetahui keputusan rapat.
Dalam melaksanakan suatu kegiatan pengurus masjid
dapat membentuk suatu panitia, yaitu organisasi yang
sifatnya sementara dengan melaksanakan suatu tugas. Masa
jabatan suatu panitia dapat satu bulan atau sampai
selesainya tugas yang dibebankan. Seperti juga organisasi
pengurus masjid, susunan dan luas kepanitiaan disesuaikan
dengan luasnya tugas. Jadi pertama-tama disusun tugasnya
dan bukan sebaliknya.
Tugas-tugas masjid yang memerlukan kepanitiaan
misalnya:
a. Peringatan Maulud, lsra Mi'raj dan lain-lain.
b. Membangun sekolah, tempat wudlu, menara.
c. Rehabilitasi masjid.
d. Membuat taman kanak-kanak.

2. Organisasi Kepengurusan
Bahwa masjid harus mempunyai pengurus, telah hampir
merata disadari.oleh umat Islam. Hanya saja besar kecilnya
pengurus atau kejelasan pembagian tugas yang masih

6
kurang berkembang. Masih banyak pengurus masjid yang
tidak jelas pembagian tugasnya atau mencukupkan adanya
seorang ketua dengan sejumlah anggota, dan yang paling
senior dianggap ketua. Dalam keadaan sekarang, karena
tugas pengurus masjid makin rumit.
Seperti dikemukakan di depan, susunan ini dapat
diperluas atau diperkecil. Di lingkungan kecil, bidang ri'ayah
dapat digabung dengan bidang imarah dan bendahara dapat
digabung oleh Sekretaris. Tapi sebaliknya, bagi masjid yang
luas tugas dan lingkungannya, bidang-bidang dapat diperluas.
Misalnya bidang imarah bisa dipecah menjadi bidang
peribadatan, bidang pendidikan, bidang PHBI dan ibadah
sosial, dan semacamnya.
Pengurus masjid sebaiknya mempunyai masa jabatan
tertentu. Misalnya 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun atau selama-
lamanya 5 tahun. Pada akhir masa jabatannya pengurus
wajib menyampaikan pertanggungjawaban. Hal ini
mengandung beberapa keuntungan :
Pertama : Pengurus akan bekerja sekuatnya, agar diakhir
masa jabatannya dapat melaporkan suatu hasil.
Bukan dalam arti riya' tetapi agar menjadi contoh
kebaikan untuk diikuti oleh yang lain.
Kedua Ada persaingan positif sesuai firman Allah
"Fastabiqul khairat" yang artinya "berlombalah
dalam kebaikan". Ada pengurus atau jamaah
yang juga ingin berbuat kebaikan yang lebih luas.
Ketiga Tumbuhnya sikap tanggung jawab, bahwa
kemasjidan bukan urusan beberapa orang, tetapi
urusan semua jamaah. Suatu pengurus yang
tidak memberi kesempatan kepada jamaah lain
akan kurang mendapat dukungan, karena
jamaah menjadi apatis.

7
Keempat : Melatih dan menumbuhkan sikap demokratis,
sanggup dan bisa berbeda pendapat dan
bersedia mengakui kemampuan orang lain.
Dengan begitu akan berkembang juga sikap
serupa dalam masyarakat.
Dengan dibatasinya masa jabatan, maka akan selalu
dapat diadakan pemilihan pengurus baru. Cara pemilihan
ialah dengan musyawarah di antara jamaah yang rajin ke
masjid, baik waktu shalat Jum'at maupun shalat rawatib, juga
si calon bertempat tinggal di sekitar masjid. Pengurus lama
dapat ditunjuk dan dipilih kembali. Hendaknya pengurus lama
dapat berlapang dada dengan menerima kehadiran pengurus
yang baru dan mendorong tumbuhnya generasi penerus.

3. Administrasi
Sampai sekarang masih terbatas sekali masjid yang
menyelenggarakan suatu sistem administrasi. Hampir
semua kegiatan berlalu tanpa catatan dan tanpa
didokumentasikan. Hal ini mungkin sebagiannya dirasakan
sebagai kesulitan, tiadanya tenaga atau menganggap bahwa
pekerjaan dan kegiatan masjid amat sederhana.
Sesungguhnya tidak demikian. Betapapun kecilnya
kegiatan masjid apalagi bila memang banyak, sangat perlu
adanya suatu pendokumentasian dan pencatatan atau
administrasi yang baik. Administrasi kemasjidan akan
memberi faedah yang banyak.
Pertama : Diketahuinya secara pasti pek~rjaan dan
keadaan yang sudah berjalan, sehingga
memudahkan membuat kegiatan lanjutan.
Kedua Dengan administrasi yang baik dapat diadakan
evaluasi, apakah telah mencapai kemajuan atau
tidak.

8
Ketiga Dengan pelaksanaan administrasi, pihak lain
seperti pemerintah atau orang luar pada
umumnya, akan melihat sebagai suatu pertanda
adanya kemajuan.
Keempat : Suatu administrasi kemasjidan yang baik, akan
memudahkan pencatatan sejarah masjid yang
dapat ditelusuri dan dapat dijadikan contoh atau
bahan studi di belakang hari.
Dari serangkaian faedah-faedah di atas, kiranya sangat
jelas bagi semua pengurus masjid untuk segara memulai
membenahi dan menata administrasi kemasjidan. Sistem
administrasi masjid sesungguhnya sama saja dengan
administrasi pada umumnya dari suatu kantor. Yang beda
hanya obyek yang diadministrasikan. Demikian juga tahapnya
dapat dinilai dari yang paling sederhana terlebih dahulu,
sebagaimana bahasa berikut.
a. Administrasi Jamaah
Administrasi Jamaah masjid tidak mudah diterapkan
bagi masjid yang dikunjungi 500 - 1000 jamaah. Apalagi
bila masjid tersebut berada di pusat kota, yang jamaah-
nya sering berganti dan sama sekali merasa tidak terikat
dengan suatu masjid. Walaupun begitu pengurus masjid
dapat membedakan tentang adanya jamaah tetap dan
jamaah tidak tetap. Jamaah tetap ialah mereka yang
tinggal di sekitar masjid dan secara tetap, baik dalam
shalat rawatib atau hanya shalat Jum'at, selalu datang
rli masjid. Untuk administrasi jamaah ini, perlu adanya
buku yang memuat data kehadiran jamaah dan buku
berisi nama-nama jamaah. Dengan buku ini, secara tepat
dapat dikenal keadaan jamaah.
Dari data jamaah juga, pengurus bisa mencari
keahlian seseorang yang dapat diminta mengembangkan

9
masjid. Buku ini hendaknya buku besar dengan isi
200-300 halaman.
b. Surat-menyurat
Suatu mesjid tentu pernah mengirim surat atau juga
menerima surat, misalnya membalas surat. Kalau
pengurus masjid semakin aktif, sebagai akibatnya jumlah
surat akan semakin banyak. Surat yang banyak perlu
didatakan sebaik mungkin, agar memudahkan mencari-
nya. Petunjuk tentang surat-menyurat pada umumnya
adalah:
1. Surat hendaknya ringkas, padat, tidak perlu memakai
banyak kalimat, cukup 2 alinea atau lebih, tergantung
pada isi surat.
2. Model surat tidak penting, yang pokok mengungkap-
kan masalah dengan jelas.
3. Surat diberi nomor, agar memudahkan penyimpanan
Kode surat tergantung masing-masing, sesuai
dengan masalahnya.
4. Surat dibuat sedikitnya dua eks. Satu dikirim ke
alamat dan yang satu untuk arsip, disimpan guna
pengecekan kemudian hari.
5. Semua surat yang dikirim, demikian juga yang
diterima harus dicatat.
6. Semua surat disimpan dalam map snelhecter atau
map ordner, agar gampang mengambil kembali di
kemudian hari.
Pisahkan penyimpanan surat masuk dan surat
keluar. Atau dibuat penyimpanan surat dengan cara yang
lebih baik, seperti sistem kearsipan dinamis.

10
c. Jurnal masjid
Jurnal masjid adalah ikhtisar kegiatan masjid. Baik
oleh pimpinan, bidang-bidang atau siapa saja di
lingkungan pengurus masjid. Kemanfaatannya ialah
sebagai suatu rekaman kegiatan untuk bahan evaluasi
kemudian hari. Jurnal juga berguna untuk menyusun
laporan bagi pengurus masjid.

No. Hari & Peristiwa lkhtisar singkat


Tang gal

1. Senin Peringatan lsra' Acara diadakan di dalam masjid


21 Juni Mir'raj. · Pembicara adalah:
1988 a ...................... .
Jam: 20.00 b. ······················
s/d Hadir masyarakat .......... .
23.00 Hadir pejabat, yaitu ........ .

2. Dst-dst.

Maka pengorganisasian pengurus diperlukan secara jelas


dan mengikutsertakan jamaah lebih banyak lagi, dalam batas
keahlian dan kemampuannya.
Bagaimana susunan organisasi kepengurusan, berapa
jumlah pengurusnya, tergantung kepada luasnya pekerjaan.
Suatu masjid di kampung dengan jumlah penduduk 50 - 60
orang dan suatu masjid di kota besar dengan jumlah
penduduk ribuan tentu sangat berbeda. Demikian juga masjid
di dalam suatu komplek perumahan atau di lingkungan
universitas akan berbeda satu sama lain.
Pertama-tama harus dirumuskan apa saja yang akan
dilaksanakan oleh pengurus masjid. Hendaknya dirumuskan
tugas-tugas utama masjid dan dari situ dapat disusun suatu
susunan organisasi baik vertikal maupun horizontal.

11
Tugas masjid secara umum dewasa ini sekurang-
kurangnya adalah :
a. Pembinaan organisasi dan administrasi atau idarah.
Tugasnya meliputi masalah organisasi, kepengurusan,
personalia, perencanaan, sarana (perlengkapan),
administrasi keuangan dan semuanya.
b. Pembinaan kemakmuran atau imarah. Tugasnya meliputi
masalah pembinaan peribadatan, pembinaan pendidikan
formal (baik pendidikan agama maupun pendidikan
umum), pendidikan luar sekolah, majelis taklim,
pembinaan remaja, wanita, perpustakaan, taman kanak-
kanak, peringatan hari besar Islam, peringatan hari besar
nasional dan pembinaan ibadah sosial.
Susunan orgahisasi pengurus masjid sekurang-
kurangnya terdiri atas :
a. Seorang Ketua.
b. Seorang Sekretaris/Ketua Bidang ldarah.
c. Seorang Bendahara.
d. Seorang Ketua Bidang lmarah.
e. Seorang Ketua Bidang Ri'ayah.
Susunan organisasi tersebut dapat tergambar dalam
bagan berikut :

KETUA

I I
Sekretaris Bidang Bidang
Ri'ayah Bend ahara
Bid. ldarah lmarah

12
d. Administrasi Khatib
Untuk pencatatan khatib yang baik diperlukan
beberapa tindakan bermanfaat yaitu :
1) Daftar Khatib.
Kalau mungkin jadwal khatib dalam setahun
~' JrlAhdisusun rapi untuk tiap minggunya.
Setiap sebulan daftar ini diumumkan di papan
pengumuman. Setidaknya nama khatib yang
l ~rkhutbah pada hari tersebut, hari itu juga namanya
tulis di tempat yang dapat dibaca jamaah dengan
1udah .
.;ma/Judul Khutbah.
Khutbah yang baik ialah apabila temanya dari
minggu ke minggu berurutan secara tertib. Untuk itu
pengurus masjid, selain menyusun daftar khatib,
juga menyusun tema khutbah dalam setahun.
Hal ini untuk menghindari agar khatib tidak membahas
tema yang sama dengan khatib sebelumnya.
Pekerjaan administrasi kemasjidan menjadi tugas
Sekretaris. Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut
diadakan pembagian tugas di antara para sekretaris.
Tenaga sekretaris tidak perlu berkantor tetap, tetapi pada
jam-jam tertentu, misalnya sehabis Jum'at, atau sore hari.

4. Perlengkapan
Suatu masjid yang berusaha menuju perbaikan-perbaikan
harus memiliki beberapa peralatan penunjang yaitu :
a. Gedung kantor atau ruangan untuk kantor.
b. Mesin tik.
c. Mesin stensil.
d. Pengeras suara.

13
e. Alat-alat perkantoran.
f. Keranjang sampah.
g. Papan tulis (White board).
h. Papan pengumuman.
i. Papan nama khatib.
j. Kamera.
k. Papan nama masjid.
I. Meja dan kursi untuk bekerja.
m. Meja dan kursi untuk tamu.
n. Pesawat telepon.
o. Buku kepustakaan, majalah dan surat kabar.
p. Penyimpanan surat kabar.
q. Mimbar.
Semua sarana di atas diprogram secara berangsur
untuk diadakan, baik dengan dana masjid atau bantuan
dermawan.
Barang-barang tersebut juga dibuat daftar inventaris,
agar memudahkan kontrol dan pemeliharaan. Pada waktunya
juga diadakan penggantian.
Contoh Daftar lnventaris :

Nomor Nama Barang Jumlah Merek Keadaan

1.
2.

5. Keuangan
Salah satu pendukung utama bagi berhasilnya program
dan aktifitas masjid adalah berhasilnya pembinaan keuangan
masjid. Pembinaan keuangan masjid meliputi pengadaan
uang, pembelanjaan yang tepat dan administrasi keuangan
yang baik. Sehingga tumbuh kepercayaan bagi pengurus

14
masjid, dengan demikian juga akan mengundang orang lebih
senang beramal. Uang masjid adalah uang amanat, karena
itu pengeluarannya hendaknya berhati-hati berdasarkan suatu
rencana yang sungguh-sungguh dan atas dasar kepentingan
yang nyata untuk keperluan masjid.
Sejumlah pengeluaran rutin tiap bulan harus dikeluarkan
oleh masjid, agar tercapai beberapa tujuan masjid. Tujuan-
tujuan itu ialah :
a. Masjid tetap terawat dengan baik dan selalu bersih.
b. Roda organisasi dan administrasi masjid berjalan lancar.
c. Peribadatan terlaksanakan semestinya.
d. Program pendidikan dan sosial berhasil sebagaimana
d irencanakan.
Pos pengeluaran hendaknya disusun tiap awal tahun
anggaran menjadi suatu Anggaran Pendapatan dan Belanja
Masjid (APBM), yaitu suatu program yang menyangkut
program pemasukan dan pengeluaran uang.
Anggaran belanja masjid ditentukan oleh adanya program
masjid. Artinya kegiatan apa saja yang akan dikerjakan masjid
dalam setahun yang akan datang. Tahun Anggaran Masjid
bisa memilih apakah :
a. Dimulai Muharram s/d Dzulhijjah
b. Dimulai Januari s/d Desember
c. Dimulai April s/d Maret.
Di antara pos-pos pengeluaran masjid yang tidak perlu
adalah:
a. Pemeliharaan dan pembangunan fisik
b. Pembinaan peribadatan
c. Pembinaan pendidikan
d. Pembinaan sosial
e. Pembinaan organisasi dan administrasi.

15
a. Administrasi Keuangan.
Seluruh pemasukan dan pengeluaran uang hendak-
nya dicatat dalam buku kas setiap terjadi pemasukan dan
pengeluaran. Buku kas hendaknya secara terbuka dapat
dikontrol oleh pengurus, bahkan bila perlu oleh jamaah.
Buku kas tiap bulan ditutup, ditandatangani oleh
bendaharawan dan ketua masjid.
Pedoman umum pengeluaran ialah:
1) Semua pengeluaran hendaknya memakai kwitansi.
2) Pembelian barang dari luar, selain kwitansi
menyertakan juga faktur tanda pembelian dari toko.
3) Pengeluaran lebih dari Rp. 100.000,- memakai
materai Rp. 3.000,- Pengeluaran di atas Rp.
1.000.000,- memakai materai Rp. 6.000,-
4) Pengeluaran hendaknya sesuai dengan program
yang direncanakan. Pembelian yang diinginkan tapi
belum masuk program, hendaknya masuk program
bulan depan, kecuali bila nyata-nyata sangat
mendesak.
5) Semua bukti pengeluaran hendaknya disimpan
dalam file tersendiri yang sewaktu-waktu dapat
dicek.
6) Uang tunai sebaiknya disimpan dalam brankas di
kantor atau disimpan di bank. Sebaiknya tidak
menyimpan uang kas di rumah. Selain dapat
berbahaya bila ada pencuri, kebakaran dan
sebagainya juga mudah kena fitnah.
7) Uang kas tidak dapat dipinjamkan baik pribadi ketua,
bendahara, pengurus lain atau anggota jamaah.
8) Semua kwitansi diberi nomor sendiri.

16
b. Honorarium Khatib dan lain-lain
Khatib, penceramah, guru agama diberi uang
honorarium atau dibayar. Mereka adalah orang yang juga
memerlukan biaya hidup untuk keluarganya untuk
ongkos perjalanan atau setidaknya untuk pembelian
buku/kitab/majalah, agar khatib mempersiapkan diri
berkhutbah atau berceramah.
Besarnya honorarium tergantung kelaziman di
lingkungan. Seorang khatib mungkin cukup Rp. 5.000,-
sekali khutbah atau mungkin Rp. 15.000,-
c. Tromol dan Pengumuman Keuangan
Mengedarkan tromol adalah wajar dan lazim.
Usahakan bentuknya yang baik dan manis, terkunci dan
suaranya tidak mengganggu jamaah. Tromol dibuat
beberapa buah dan diberi nomor. Pembukaan tromol
hendaknya disaksikan beberapa orang dan segera
sesudah shalat Jum'at berlangsung. Setelah dihitung
kemudian dibuat berita acara atau catatan pendapatan
yang ditandatangani beberapa orang. Catatan inilah yang
menjadi bukti pemasukan uang dalam buku kas.
Contoh berita acara :

17
Pada hari Jum'at, tanggal ................ telah dibuka tromol
masjid dan tercatat hasilnya sebagai berikut:
a. Tromol No. 1 sebesar Rp ...................... .
b. Tromol No. 2 sebesar Rp ...................... .
c. Tromol No. 3 sebesar Rp ....................... .
dan seterusnya ................. .
(......................................................................................) .
..................................... 20 ... .
Tandatangan
1. 2. 3.

(....................... ) (...................... ) (....................... )


Hasil pengumpulan dari tromol maupun penerimaan
lain-lain diumumkan kepada jamaah. Demikian juga
pengeluaran-pengeluarannya. Dengan demikian hal itu
akan menimbulkan kepercayaan jamaah kepada
pengurus dan sekaligus memancing adanya bantuan-
bantuan lainnya. Cara pengumuman tersebut sebaiknya
ditulis dengan jelas, ditandatangani dan ditempel di
papan pengumuman.
Demikianlah beberapa pokok penyelenggaraan
keuangan masjid yang sederhana.

6. Pengawasan
Pengawasan adalah salah satu fungsi idarah yang
penting. Semua rencana pelaksanaan kegiatan, sistem
administrasi dan keuangan harus ada pengawasan.
Pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan oleh
pengawas khusus atau oleh pimpinan itu sendiri. Pengurus
secara keseluruhan juga harus mengadakan pengawasan
secara terus-menerus.

18
BAB Ill
PEMBINAAN IMARAH

Kata lmarah adalah bahasa Arab yang artinya makmur,


menurut istilah adalah suatu usaha untuk memakmurkan masjid
sebagai tempat ibadah, pembinaan umat dan peningkatan
kesejahteraan jamaah. Masjid merupakan rumah Allah yang harus
dipelihara kesucian dan keagungannya.

Memakmurkan masjid adalah menjadi kewajiban setiap


muslim yang mengharapkan untuk memperoleh bimbingan dan
petunjuk Allah SWT sebagaimana difirmankan dalam surat
At-Taubah: 18.
, '
. .....L,/~.Jl~,, ,. . . . . <\/ ~\.,< . . . '' ~/ .w,~.,...·/c'
. . . .~, ...... ~\ \ ' '
~ ( ~~ t~'-' . . . ;.~ ~..... ;, ~ ...
/11 ;•:;. / •.J•b •-' .:::lTI"-' ,.- .,u~ --'~ ~ < ....... (\""':::: '/~\
·--:..>! . . . "" \~':.;>.rl0' .) ~~,~~"\.).), )'~~r-' oy:,.l
(\A ""r:-'_;..,' )
Artinya : "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada
Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat
petunjuk". (At-Taubah: 18).

Memakmurkan masjid mempunyai pengaruh positif bagi


pembinaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kwalitas
hidup masyarakat dan negara. Oleh karena itu setiap muslim
harus ikut berperan dalam memakmurkan masjid.

Dalam rangka meningkatkan kemakmuran masjid sebagai


tempat ibadah, pembinaan umat dan peningkatan kesejahteraan
jamaah, akan diuraikan hal-hal yang berhubungan dengan
pembinaan ibadah, majelis taklim, remaja masjid, perpustakaan,

19
madrasah diniyah, peringatan hari besar Islam dan Nasional,
pembinaan wanita, koperasi dan kesehatan.

1. Peribadatan
Pengertian lbadah menurut Islam (Ahli Fiqh) adalah :

a"·~\ ,..L~
.,~ ,::,cs~~/4,~,:,;-~,
/-....~-
~ ::',.-~~
,.. . ~ .,., -....,.
.
Artinya: "Apa yang dikerjakan untuk mendapatkan keridloan
Allah dan mengharap pahalanya di akhirat"
Di dalam pembinaan peribadatan yang terpenting adalah
shalat fardlu 5 waktu, shalat Jum'at, imam, khatib, mu'adzim
dan jamaah. Sumber utama keberhasilan shalat 5 waktu
adalah banyaknya pengunjung/jamaah masjid. Karena
selama ini apabila diperhatikan masjid-masjid, mushalla-
mushalla terutama yang berada di pedesaan dan perkotaan
masih kurang dikunjungi masyarakat/jamaah untuk
melaksanakan shalat berjamaah. Sehingga suasana masjid
terutama di waktu siang hari nampak kelihatan sepi, karena
ramainya dikunjungi jamaah hanya untuk mengerjakan shalat
maghrib dan isya.
Pelaksanaan ibadah shalat fardu 5 waktu, seharusnya
lebih utama dikerjakan secara berjamaah, mengingat pahala
shalat berjamaah sangat besar sekali, sesuai dengan sabda
Nabi:
/
~~~~,.
~ . . / ,/ 5~ (\ 3~'->:f
"' ,_. ~\
1 ,/ - , ~ '\/.l ,/-
- , \ .//,..,\
~1.4~ ~/....,._
.#, • ,

({'--'J Q,~\c~.v) ;~.)-~


Artinya : "Shalat berjamaah /ebih utama dari pada shalat
sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat". (H.R.
AI-Bukhari dan Muslim) dari lbnu 'Umar.

20
lbadah shalat adalah merupakan ibadah yang sangat
dipentingkan dalam Islam. Dalam AI Qur'an dan Hadits Nabi
banyak disebutkan tentang pentingnya ibadah shalat. Bentuk
perintah mendirikan shalat tersebut ada kalanya berupa
suruhan yang tegas, dan ada kalanya dengan cara memuji
orang yang mengerjakan shalat dan mencela orang yang
meninggalkannya.
Ditegaskan juga dalam hadits Nabi bahwa shalat adalah
tiang agama (Islam), siapa yang mendirikannya berarti ia
I'Dendirikan agama, dan siapa yang meninggalkan shalat
berarti ia merobohkan agama.
Sesuai dengan sabdanya :
' / / / ~~\ /'(;" ·~ ~(:" .,_//. , "':\ _,, ....... _-:!~.....;;_(.
....__;..>AJ• G:..;XJ'\"' \~ ~ \:ro-'
~~\.3~ c~\
. (~,.,~__,) :~~,f'~Yi;~j
Artinya : "Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang
mendir[kan shalat berarti ia menegakkan agama,
qan siapa yang meninggalkan shalat berarti ia
.merobohkan agama". (H.R. Baihaqy) .
.Dalam. rangka menyehatkan nilai shalat perlu adanya
· bimbinyan dan tuntunan shalat secara tertib dan benar
se.suai c;lengan tuntunan yang telah digariskan dalam AI
Qur'arr dan Had its Nabi, dengan maksud agar jamaah dapat
mencapai tingkat kesempurnaan yang maksimal dalam
shalatnya, sehingga dapat dirasakan tumbuhnya kesehatan
dar) kesegaran rohani dari jasmani serta mendapatkan
ketenangan jiwa yang sempurna.

a.. Pembinaan Shalat Fardlu (5 waktu)


Untuk meningkatkan jumlah jamaah diperlukan usaha
pembinaan oleh pengurus masjid. Usaha pembinaan antara
lain dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

21
1) Memperbaiki bacaan dan kaifiyat shalat.
Kemantapan dan kefasihan bacaan imam sangat
mempengaruhi kegairahan jamaah yang bersangkutan
untuk ikut berjamaah di masjid.
Bacaan imam sangat menentukan sahnya
pelaksanaan shalat jamaah, karena jamaah akan malas
datang ke masjid, jika bacaan imamnya tidak fasih.
Demikian pula tentang kaififat shaf berjamaah, sering
dilihat keadaan shaf yang tidak sempurna. Kebanyakan
orang berjamaah tidak mengindahkan keutamaan shaf
(barisan shalat) sehingga dalam barisnya bengkok.
Sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW :

'-__j9 0L::'l\
....
~~~~'t;;~_)~~,;~~~~~
/ /

/~~;:. ~ . -:; / . ., -'~ •/ / 1 //!:( ~


:"~: / ·.--:
~~ •
/
ct ~~J)+~~.)...,
/ ,..,.. / -
0\J.?.
-
·6.1' ~\a..)......>~
......... ~ ......... - ~ ..... 1

, </ r
( _,_,,_,_/\c:l~),)) . j .i..>\
Artinya : "Susunlah shaf-shaf, dekatkanlah antara yang
satu dengan yang lainnya, berdirilah ber-
tentangan bahu. Demi Tuhan yang diriku di
tangannya, sesungguhnya aku melihat syetan
masuk antara celah-celah shaf serupa anak
kambing hitam". (H.R. Abu Dawud).
2) Membagi-bagikan buku pedoman shalat praktis kepada
jamaah.
3) Menulis bacaan-bacaan shalat di papan tulis, misalnya
do'a lftitah, bacaan tahiyyat dst.
4) Mengadakan pengajian singkat tentang agama dan
syari'at dengan uraian yang menarik, setelah shalat
maghrib dan shubuh.

22
5) Panggilan shalat melalui pengeras suara.
Panggilan dengan memberitahukan datangnya waktu
shalat adalah merupakan cara yang baik. Bahkan biasa-
nya seruan/panggilan di setiap masjid sebelum waktu
shalat tiba dengan menghidupkan pengeras suara/kaset
mengumandangkan ayat-ayat suci AI Qur'an.
Baru setelah benar-benar diketahui bahwa waktu shalat
telah masuk segera dilakukan adzan.
Kecuali hal-hal di atas dalam pembinaan shalat 5 waktu
juga diperlukan penunjukan imam tetap rawatib dan
marbot sekaligus muadzim untuk shalat tiap-tiap waktu.

b. Pembinaan Shalat Jum'at


Hari Jum'at bagi umat Islam merupakan hari yang mulia
(Sayyidul Ayyam) hari yang paling baik. Sebagaimana yang
telah disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya:
.........: .J ~ • .... "',) .Jr' \ ./•/~;"'! . cL,j~ ,/ r~
• ._//\1~ I" &..l
~ 4\ , ' -s.... /A
&..l \ • ..,. « ., ..l-
',1/ ~--'' • ,~ .,_. NT--:;:\~~~
/ ~ / • { ..... ~~/,,,/. •.1,. •• / _,.n-.. .
<.. ~~). ~~~~_, ~ ~,)'....~~ r.l\
Artinya : "Sebaik-baik hari ialah hari Jum'at, pada hari itu
Allah menciptakan Nabi Adam AS. pada hari itu
dimasukkan Nabi Adam dalam surga dan pada hari
itu juga dike/uarkannya dari surga". (Muttafaq Alaih).
Melaksanakan shalat Jum'at adalah fardlu 'Ain bagi setiap
orang Muslim yang tidak udzur atau berhalangan maupun
sakit, dilakukan secara berjamaah yang dilaksanakan pada
waktu dzuhur.
Firman Allah dalam surat AI-Jum'at : 9

23
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru
untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tingga/kanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui" (AI-Jum'at: 9).
Maka jika seseorang meninggalkan tiga kali Jum'at tanpa
udzur atau alasan yang cukup kuat, akan dicap sebagai
orang munafik.
Sabda Rasulullah SAW:
/.' • //' / / ~: ./ ··/ ~ /_,1,) / /1 / //•/
-~0.\~~~..u;..#~ 7~.::.,~..;j_;:,u-c
( c::::) ~' "~;) ,. . --
Artinya: "Barangsiapa meninggalkan shalat Jum'at hingga
tiga kali tanpa udzur, maka dicatat sebagai
golongan munafik". (H.R. Thabrani).
Untuk meningkatkan pemahaman ajaran agama bagi
masyarakat perlu diadakan usaha pembinaan antara lain
diadakan ceramah agama sebelum dimulai shalat Jum'at.
Untuk penyiapan penyelenggaraan shalat Jum'at perlu
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Pengadaan Seksi Jum'at.
Dalam susunan kepengurusan masjid, perlu diadakan
seksi sebanyak 2 orang atau lebih yang tugasnya adalah
untuk mengurus persiapan-persiapan pelaksanaan
shalat Jum'at. Misalnya mengadakan inventarisasi khatib
selama satu tahun, menunjuk khatib pengganti dan
imam pengganti.
2) Penyiapan Sarana. .
Sebelum shalat Jum'at ruangan masjid supaya
dibersihkan, disiapkan mulai dari tikar, karpet atau
permadani, membersihkan mihrab dan menyediakan
sajadah imam, membersihkan mimbar khutbah,

24
membersihkan tempat wudlu dan WC/Unior, mengecek
alat-alat elektronik dan melakukan testing amplifier,
speaker, tape recorder dan kasetnya.
3) Pemberitahuan Khatib.
Pemberitahuan khatib sesuai dengan jadwal yang sudah
disepakati, diusahakan sejak hari Rabu (2 hari sebelum-
nya) agar seksi Jum'at menghubungi khatib yan~
bersangkutan, dan agar segera dicarikan penggantinya
apabila khatib yang bersangkutan berhalangan.
Dan untuk lebih amannya sebaiknya khatib tersebut
dijemput oleh pengurus masjid agar kedatangannya bisa
tepat waktu.
4) Pengumuman-pengumuman.
Sebelum khatib naik mimbar pen_gurus masjid
seyogyanya memberikan pengumuman-pengumuman
yang dianggap penting, seperti mengumumkan uang kas
masjid yang diperoleh dari pendapatan kotak amal Jum'at
yang lalu, mencakup pengeluaran dan berapa sisa yang
ada agar seluruh jamaah mengetahuinya.
Perlu juga diumumkan yang akan bertindak sebagai
Imam dan khatib sekarang dan Jum'at yang akan datang.
Serta diperingatkan juga kepada jamaah agar barisan
shalat/shaf yang di depan yang masih kosong supaya
dipenuhi dengan lurus dan tertib.

c. Mu'adzimlbilal
Muadzim artinya orang yang melakukan adzan. Adapun
adzan ialah suatu cara untuk menyeru bahwa shalat telah
tiba dan akan segera dimulai shalat, kecuali shalat jamaah,
adzan adalah untuk memberitahukan bahwa khutbah akan
dimulai.
Setiap orang Islam boleh menjadi muadzim asal dia
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan menurut Hukum

25
Islam (Fikih Islam). Yaitu harus tamyiz hafallafal adzan dan
bersuara nyaring sehingga terasa enak didengar.
Tetapi sekarang sudah ada speaker, maka dengan
sendirinya bagi seorang mu'adzim tidak harus suaranya
musti keras, tetapi cukup dan terasa enak didengar. Bahkan
akhir-akhir ini banyak perkembangan seruan/panggilan di
setiap masjid sebelum waktu shalat tiba dengan menghidup-
kan pengeras suara/kaset yang mengumandangkan ayat-
ayat suci AI Qur'an. Baru setelah diketahui bahwa waktu
shalat telah masuk segera adzan dilakukan.
Untuk meningkatkan pembinaan bagi para mu'adzim,
dapat dilakukan dengan berlatih dapat juga dengan
mengadakan Iomba adzan yang bertujuan mencari ahli adzan
yang baik, kemudian pemenangnya ditetapkan menjadi
muadzim tetap pada masjid tersebut.

d. Imam
Perkataan imam berasal dari bahasa Arab yang artinya
pemimpin. Sedangkan arti imam menurut istilah yaitu orang
yang mengimami shalat berjamaah dalam masjid, mushalla,
langgar dan di tempat lain.
Adapun persyaratan imam menurut ketentuan Fikih Islam
antara lain :
1. Orang yang paling banyak mengerti Fikih Islam.
2. Orang yang paling banyak hafal surat AI Qur'an.
3. Orang yang paling luhur akhlaknya.
4. Orang yang paling tua umurnya.
5. Orang yang paling sempurna fisik dan pakaiannya.
6. Orang yang paling Wara'.
7. Orang yang paling baik suaranya.
8. Orang yang paling banyak mengetahui tata cara shalat
berjamaah.

26
Dalam shalat Jum'at biasanya pengurus masjid meminta
kepada khatib untuk langsung fnengimami. Tetapi ada kalanya
juga masjid menetapkan yang menjadi imam shalat Jum'at
adalah imam rawatib tersebut.
Ketentuan ini mengikuti seperti zaman Nabi Muhammad,
dimana dalam shalat Jum'at Nabi sendiri yang menjadi imam.
Agar mulai dipikirkan untuk memberikan uang/bantuan
kesejahteraan kepada imam masjid yang didapat dari :
1. Uang kotak amal/tromol masjid
2. Donatur tetap.
3. Sumbangan yang bersifat temporer dari masyarakat atau
pemerintah.
4. Dari hasil pemungutan zakat, infaq dan shadaqah.

e. Khatib
Perkataan Khatib berasal dari bahasa Arab artinya pidato,
sedangkan arti khatib menurut istilah yaitu orang yang
memberikan nasihat agama pada waktu shalat Jum'at, shalat
idul fitri, idul adha, shalat gerhana dan lain-lain.
Kedudukan khatib sangat mulia karena sebagai
penyambung lidah Rasulullah SAW. untuk memberikan
bimbingan serta pembinaan umat Islam dalam mengamal-
kan ajaran Islam secara baik.
Maka persyaratan khatib menurut ketentuan fikih Islam
antara lain :
1. Menguasai llmu agama Islam.
2. Berakhlak mulia.
3. Sewaktu berkhutbah dengan berdiri jika kuasa.
4. Hendaklah dengan suara yang keras, jelas agar
terdengar oleh bilangan yang sah Jum'at.
5. Khatib hendaklah duduk di antara dua khutbah,
sekurang-kurangnya berhenti sebentar.

27
6. Suci dari pada hadats dan najis.
7. Menutup aurat.
Tugas khatib adalah memberikan nasihat agama
mengenai takwa, iman, akhlak, tauhid dan hal-hal yang
berhubungan dengan masalah agama dengan thema
mengikuti situasi setempat serta hal-hal yang aktual dalam
masyarakat. Diharapkan penyampaian khutbah menggunakan
bahasa yang dapat difahami oleh jamaah, kecuali dalam
melafalkan rukun-rukun khutbah Jum'at yang lima macam itu
harus menggunakan bahasa Arab.
Rukun Khutbah Jum'at:
. 1. Mengucapkan Alhamdulillah.
2. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW.
3. Berwasiat dengan takwa pada kedua khutbah.
4. Membaca ayat AI-Qur'an pada salah satu kedua
khutbah.
5. Berdo'a mohon ampun mukminin dan mukminat pada
khutbah kedua.
Syarat dua khutbah :
1. Hendaklah khutbah itu dimulai sesudah masuk waktu
dzuhur.
2. Berkhutbah dengan berdiri jika mampu.
3. Khatib hendaklah duduk sebentar diantara dua khutbah.
4. Hendaklah dengan suara yang keras agar terdengar
jamaah.
5. Khatib harus suci dari hadats dan najis.
6. Khatib hendaklah menutup au rat dan berpakaian rapi.
Khatib yang baik adalah yang memenuhi rukun dan
syarat khutbah, isinya dapat menyejukkan, menenteramkan
hati yang sedang resah sehingga terasa tersentuh hati
pendengarnya untuk dapat mengamalkannya.
lsi khutbah itu mengandung :

28
1. Basyiron (memberi kabar gembira kepada orang yang
berbuat baik).
2. Nadziron (mengingatkan ancaman/azab terhadap orang
yang berbuat buruk).
3. Da'iyan (mengajak ke jalan Allah SWT).
4. Sirojan Muniron (memberi keterangan yang sejelas-
jelasnya).
Dan khutbah hendaknya juga dilaksanakan untuk
mendorong. Kemudian tentang waktu khutbah juga harus
diperhatikan, diusahakan tidak boleh terlalu lama, paling lama
25 menit sehingga tidak menjemukan dan menggelisahkan
jamaah, dan Nabi bersabda :

Artinya : "Sesungguhnya diantara a/amat (tanda) seorang


yang mempunyai pengertian dalam agama, ialah
panjang shalatnya dan pendek khutbahnya". (HR.
Ahmad dan Muslim dari Umar).

f. Pembinaan Jamaah
Masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah yang selalu
dikunjungi jamaah, kiranya dapat diusahakan pengurus
masjid agar dapat membina jamaah, agar menjadi orang
shaleh, yang berfikir dan berbuat sesuai dengan ajaran
Islam, juga menyadari bahwa masjid itu milik Allah yang
diamanatkan kepada mereka para jamaah. Oleh karena itu
menjadi kewajiban bersama pula untuk membina,
memelihara dan membiayainya serta mengembangkan
fungsinya sebagaimana mestinya. Ada 3 macam usaha
membina jamaah.
1. Memperbaiki pengorganisasian dan pengaturan masjid.
Mengorganisasi masjid berarti menghimpun semua

29
urusan yang menyangkut masjid ke dalam satu kesatuan
yang berjalan lancar di bawah pimpinan satu badan
hukum seperti Yayasan atau pengurus yang dapat
bertindak mewakili semua unsur jamaah yang ada.
2. Masyarakat sekitarnya hendaknya ditarik berkunjung ke
masjid secara kontinyu dengan kegiatan-kegiatan yang
menarik dan memikat hati jamaah.
Kegiatan-kegiatan dimaksud meliputi :
a. Pelaksanaan shalat rawatib dan shalat Jum'at.
b. Pengajian tetap, remaja, kaum ibu dan pendidikan
praktis yang bersifat meningkatkan kesejahteraan
hidup.
c. Amaliyah Islam, umpamanya zakat, penyembelihan
qurban, khitanan massal dan lain-lain.
3. Pendaftaran jamaah.
Para jamaah didaftarkan dalam buku anggota jamaah
masjid dengan menyangkut identitas seorang, meliputi
nama, umur, alamat, jenis, pekerjaan, pendidikan,
keahlian dan lain-lain. Dengan adanya usaha pembinaan
jamaah masjid yang berencana, kontinyu dan sistematis
akan dapat menarik serta membawa manfaat atau
memberikan efek nyata kepada para jamaah dan lambat
laun menanamkan ikatan yang erat antara jamaah
dengan masjid sehingga mereka menjadi senang,
kerasan dan cinta kepada masjid.
Dan jamaah masjid yang selalu ingat kepada masjidlah
yang akan memperoleh naungan di padang makhsyar
nanti. Sebagaimana yang telah dikatakan dalam hadits
Rasulullah SAW bahwa ada tujuh golongan yang
mendapat perlindungan di padang makhsyar nanti, dua
diantaranya ialah :

30
. . . .... /.. . . ~ / / ;: / ~ / ,..J..
,-\ \:.j l1
... , ~ l£. i\J.'.!: ; ~
~~ -"~j /./.):.. r::~ 9 / < /
l,..X~\ . "" ~
/~ ~ . \:...:. _,u.,
. ....::, , ' ..
\
:.. . \:/:. ,1'"'"' (~~\ f"'-'-"' ~q..)// ~,~/G.
~\~~~~~.)-'~ ~~ • ~_)J•..- J.l./
...
., / // /~/ • /~ -"t"'" 1..1 ,, . •/. / ///. / •/./ /// •
.,. .. y,w~ofo~-w'..r;~..;.,~U.JG~~~'
"' /, ....... / /// ./ J /~/ _,. /0// / ,_ 1 / / " /•/
.\, :J~ \\.:.?.-"'
'-='.
,..,,
._, ... .. 4·.A.,::_,\~o\....o\~~',;"\~-' o~
~
7 ~
~ J ",_,-:-. .. ..

..) .1 /•//·/~t~ ....... / /•/•-:-" // ....... ~// t ; ? / / /~ "//4<

.U\.c3'~ J~\A~\; ~~~~~.)_, ~'...;\0..1


(.~_,o_,~,a~J)

Artinya : "Ada tujuh macam orang yang Allah SWT telah


berjanji akan melindungi mereka di bawah lindungan-
nya, pada saat tidak ada perlindungan kecuali
perlindungan Allah (di padang mahsyar) yakni:
1. Imam (pemimpin) yang adil
2. Pemuda yang semenjak kecilnya sampai
besarnya taat beribadat kepada Allah SWT
3. Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid,
sehingga apabila ia keluar dari masjid ia ingin
kembali ke masjid.
4. Dua orang yang berkasih sayang karena Allah,
mereka bertemu dan bercerai hanya karena
Allah.
5. Seseorang yang ingat kepada Allah /alu
meneteskan air matanya padahal ia sendirian.
6. Seseorang laki-/aki yang diajak oleh perempuan
yang mempunyai pangkat dan cantik untuk
berzina, /alu orang laki-laki itu berkata : "Aku takut
kepada Allah".
7. Seseorang yang mendermakan satu sedekah,
maka ia sembunyikan sedekahnya itu, sampai
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang keluar
dari tangan kanannya.
(H.R. Bukhari Muslim).

31
2. Majelis Taklim
Majelis Taklim merupakan kegiatan terpokok bagi masjid
baik di perkotaan maupun di pedesaan yang diikuti oleh
seluruh lapisan masyarakat pria, wanita, pemuda dan
remaja. Majelis taklim yang berjalan selama ini masih perlu
ditingkatkan kwalitasnya baik dari sistem maupun metode
penyampaiannya, sehingga keberadaannya lebih dapat
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat umum, khususnya
umat Islam dalam pembangunan nasional.
Pelaksanaannya biasanya diadakan tiap malam, tiap
minggu atau tiap bulan, namun sebaiknya ditentukan
waktunya menurut situasi dan kondisi masyarakat setempat.
Hanya masalahnya bahwa majelis taklim yang berjalan
selama ini belum menggunakan metode proses mengajar
yang tepat, karena metode yang digunakan selama ini
hanyalah menggunakah sistem ceramah yang jarang diikuti
dengan tanya jawab, tidak ada buku pegangan, kurikulum
dan silabus, demikian juga sistem administrasinya. Dalam
rangka meningkatkan kwalitas majelis taklim itu pada tahun
1980 di DKI Jakarta diadakan musyawarah majelis taklim
diputuskan secara konkrit dirumuskan sistem majelis taklim
yang standar, dengan menghasilkan rumusan sebagai
berikut:
a. Majelis taklim, sesuai dengan sejarah dan namanya
adalah lembaga pendidikan. Karena itu harus ada satu
pedoman yang jelas.
b. Majelis taklim harus punya kurikulum. Kurikulum terdiri
atas materi agama dan umum.
c. Methode mengajar terdiri atas ceramah, tanya jawab dan
penguasaan.
d. Materi yang diajarkan hendaknya didiktatkan agar menjadi
pedoman bagi pengajar, dapat dibaca ulang oleh

32
seorang peserta dan dapat diajarkan kepada keluarga di
rumah.
e. Tenaga pengajar, peserta dan lain-lain diadministrasikan.
f. Diadakan sistem evaluasi.

3. Remaja Masjid
Pembinaan remaja merupakan kegiatan yang perlu
mendapat perhatian di lingkungan masjid. Karena remaja
adalah harapan orang tua, harapan bangsa dan negara.
Peranan pemuda dalam meneruskan perjuangan bangsa
sangat diharapkan, di tangan pemudalah terletak kemajuan
dan kemunduran bangsa. Sesuai dengan yang dikatakan
oleh AI-Mushofa Al-gholayainy.
,// ,, . , ..-;,. /
-~~~\~ ~_,~~~
._
,~,·,/.,
y·:=-
/.
c':J'*-~~l ~

Artinya : "Bahwa sesungguhnya di tangan pemudalah


terletak kehidupan dan kejayaan bangsa, dan di
pundak pemudalah terletak kehidupan bangsa".
Masjid-masjid di daerah pedesaan sampai bahwa masjid
merupakan pusat pertemuan anak-anak muda Islam. Pada
siang hari mereka shalat sambil isti~ahat, sedangkan pada
malam harinya mengaji AI-Qur'an terus bermalam di situ
sampai pagi harinya. Maka sangat baik sekali apabila jenis
pembinaan remaja Islam ditingkatkan, bukan hanya
pengajian, tilawatil Qur'an, rebana, kasidah, olah raga,
membagi zakat, tetapi perlu diberikan juga pelajaran-
pelajaran umum agar mereka mengetahui situasi yang
sedang berkembang yang harus diketahui oleh kalangan
remaja Islam.
Pola kegiatan yang konkrit dan positif itu dapat berupa
pembinaan ibadah, diskusi, pembinaan kewarganegaraan,
kesenian, olah raga, rekreasi, latihan bela diri dan pembinaan
ibadah sosial.

33
Pembinaan ibadah dilakukan dengan mengajak shalat
berjamaah pada waktunya, melibatkan remaja dalam
kegiatan peringatan hari besar Islam, pembangunan masjid,
pengumpulan zakat, infak dan shadaqah, pemotongan
hewan kurban dan lain-lain.
Diskusi adalah salah satu cara untuk menerima
pengetahuan lewat bertukar pikiran. Kegiatan ini dapat
memberikan cakrawala berpikir, mampu mengemukakan
pendapat, menghargai pendapat orang lain, serta dapat
menerima kebenaran hakiki.
Pembinaan kewarganegaraan dimaksud agar remaja
Islam memiliki tingkat kesadaran yang tinggi untuk
bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Kesenian seperti drama, qasidah, MTQ, dan lain-lain,
banyak meminta perhatian para pembina remaja masjid dan
orang tua. Masyarakat kita masih banyak menilai bahwa
musik dianggap perbuatan kontroversial (tidak sesuai)
dengan agama. Maka pelaksanaan kegiatan musik tersebut
sebaiknya dilaksanakan di luar masjid.
Olah raga di lingkungan masjid bisa berupa tenis meja,
bulu tangkis dan bola volley. Kegiatan sepak bola hendaknya
dilakukan di luar halaman masjid. Kegiatan olah raga ini
diharapkan dapat mengarahkan mereka kepada hal-hal yang
sportif dan dinamis serta mengtiindarkan mereka dari
kegiatan-kegiatan negatif.
Rekreasi dapat dilakukan dengan cara berkemah,
darmawisata. Kegiatan ini penting bagi remaja untuk
mengenal dan mencintai alam sekitar, yang akhirnya dapat
menghayati kebesaran dan kekuasaan llahi, yang dapat
membuahkan keteguhan iman kepada Allah SWT.

34
4. Perpustakaan
Perpustakaan masjid dimaksud adalah perpustakaan
yang didirikan di lokasi masjid dan dimaksudkan untuk
digunakan oleh jamaah masjid khususnya dan masyarakat
umumnya. Perpustakaan masjid tersebut diharapkan dapat
menjaring informasi-informasi yang merupakan konsumsi
bagi masyarakat yang dilayaninya.
Perpustakaan masjid diarahkan untuk dapat menyediakan
bahan pustaka selengkap mungkin mengenai masalah yang
diperlukan oleh para jamaah masjid dan masyarakat
setempat di sekitarnya, sehingga kebutuhan akan bahan
bacaan yang diperlukan oleh masyarakat pemakai itu dapat
terpenuhi. Untuk menjamin kelancaran pelaksanaan tugas,
perpustakaan masjid harus mempunyai organisasi yang
jelas. Secara sederhana struktur organisasi perpustakaan
masjid akan menggambarkan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan oleh perpustakaan masjid, yang dapat
dilukiskan sebagai berikut :

PERPUSTAKAAN MASJID
KEPALA

URUSAN TEKNIS URUSAN PELAYANAN

PENGADAAN LOKASI KEANGGOTAAN

KATALOGISASI SIRKULASI

KLASIFIKASI PINJAM ANTAR


PERPUSTAKAAN

PENYELESAIAN REFERENSI

PENYUSUNAN BUKU STATISTIK


DAN KARTU KATALOG PELAYANAN

35
Analisa Pekerjaan.
1. Urusan Teknis.
Tugas Tata Usaha meliputi pekerjaan surat-menyurat,
administrasi umum, penyediaan sarana dan prasarana
serta pemeliharaan.
2. Pengadaan Koleksi.
Tugas pengadaan meliputi pemeliharaan bahan pustaka,
usaha-usaha penambahan koleksi buku dan inventari-
sasi. Cara mencari buku antara lain dengan jalan
membeli dan meminta sumbangan bisa didapat dari
jamaah atau bisa juga dengan meminta bantuan
pemerintah seperti Departemen Agama, Depdikbud, Dep.
Koperasi, Dep. Pertanian, Dep. Kesehatan, Kantor
BKKBN dan lain-lain.
3. Pengelolaan Teknis.
Tugas pengelolaan teknis adalah mempersiapkan bahan
pustaka sedemikian rupa sehingga mudah diatur dan
didayagunakan. Untuk itu sudah ada peraturan baik yang
menyangkut cara penyusunan uraian katalog maupun
klasifikasi buku-buku.
4. Peminjaman/Sirkulasi.
Tugas peminjaman adalah mengatur sirkulasi buku-buku
sehingga koleksi yang ada dapat didayagunakan secara
tertib, maksimal dan keutuhan koleksi relatif terjaga.
Untuk itu masalah keanggotaan tata tertib dan tata cara
peminjaman perlu diatur dengan ketentuan tersendiri.
5. Kesiagaan informasi (pelayanan referensi).
Kesiagaan informasi adalah kesiagaan perpustakaan
dalam menyediakan data dan informasi yang diminta
pengunjung, melalui pelayanan referens.
6. Komisi Perpustakaan.
Tugas komisi perpustakaan adalah sebagai badan

36
penasihat pimpinan perpustakaan dalam rangka
mengelola dan mengembangkan perpustakaan. Untuk
menjaga perpustakaan sebaiknya dari orang yang sedikit
memahami ilmu perpustakaan. Untuk memperoleh
pengetahuan itu perlu mengikuti pendidikan
perpustakaan baik yang bersifat penataran, kursus
maupun formal. Disamping persyaratan tersebut di atas
petugas perpustakaan masjid diharapkan mempunyai
kwalifikasi sebagai beriktu :
a. Banyak memahami ilmu agama Islam dan bahasa
Arab.
2. Tingkat pendidikan sekurang-kurangnya sederajat
SLTA.
3. Mempunyai minat terhadap buku dan perpustakaan.

5. Taman Kanak-kanak
Masjid sebagai tempat yang terbuka untuk masyarakat
dapat memainkan peranan panting dalam rangka pembinaan
umat. Bukan saja merupakan tempat ibadat, tetapi dapat
ditingkatkan menjadi pusat masyarakat Islam terutama dalam
kegiatan belajar-mengajar.
Pendidikan yang diselenggarakan di masjid bisa bersifat
pendidikan umum atau pendidikan agama, untuk anak-anak
remaja, orang dewasa atau campuran semuanya yang
bentuknya bermacam-macam misalnya:
- TKIRA (Raudlatul Athfal).
Madrasah Diniyah/ Ml .
Taman Kanak-kanak mendidik anak usia 4 - 6 tahun yaitu
menjeiang masuk SD, lamanya belajar 2- 3 jam sehari,
berlangsung dari jam 7 hingga jam 10.00 dengan mengambil
tempat di ruangan depan masjid, atau boleh juga dilakukan
di luar masjid sepanjang tidak mengganggu pelaksanaan
shalat. Dan jika telah selesai belajar, segeralah meja dan

37
bangkunya yang kecil-kecil itu ditertibkan sehingga tidak
mengganggu pelaksanaan shalat dzuhur. Ketika anak berusia
4 - 5 tahun mereka masih amat polos, maka perlu diberikan
pelajaran-pelajaran yang bersifat hafalan dan praktek ibadah,
seperti belajar hafalan AI-Qur'an, do'a-do'a shalat, belajar
bersuci, belajar umrah, praktek manasik haji, dan
pengamalan keagamaan lainnya sehingga akan berbekas
seumur hidupnya.
Hakikatnya semua masjid dimana saja dapat dijadikan
tempat pendidikan TK. Untuk itu cukup dibentuk pengurus
khusus untuk membina TK.
Seorang guru ahli (lulusan sekolah guru TK).
Seorang Tenaga administrasi.
Sediakan alat tulis seperlunya.
Sediakan alat bermain ringan di halaman.
Maka terbentuklah satu TK masjid yang pasti amat menolong
jamaah di lingkungan masjid.

6. Madrasah Diniyah
Untuk dapat membantu dan menambah pendidikan
agama pada anak-anak yang Sekolah Dasar (SO) kiranya
di masjid juga dapat diadakan madrasah Diniyah dengan
menggunakan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Sesuai dengan Peraturan Meriteri Agama Nomor 3 Tahun
1983 yang dimaksud dengan Madrasah Diniyah ialah
lembaga pendidikan dan pengajaran Agama Islam, yang
berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar
anak-anaknya lebih banyak mendapat pendidikan Agama
Islam.
Madrasah Diniyah Awaliyah ialah Madrasah Diniyah
tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari
kelas I sampai dengan IV dengan jumlah jam belajar
sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.

38
Madrasah Diniyah mempunyai latar belakang tersendiri,
dan kebanyakan didirikan atas usaha perorangan yang
semata-mata untuk ibadah, maka sistem yang digunakan
tergantung kepada latar belakang pendiri dan pengasuhnya,
sehingga pertumbuhan madrasah diniyah di Indonesia
mengalami demikian banyak ragam dan coraknya.
Adapun tujuan khusus Diniyah Awaliyah ialah :
1. Agar anak cinta terhadap Agama Islam dan berkeinginan
untuk melakukan ibadah shalat dan ibadah lainnya.
2. Memiliki pengetahuan dasar tentang Agama Islam.
3. Memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa Arab
sebagai alat untuk memahami ajaran agama Islam.
4. Dapat mengamalkan ajaran agama Islam.
Maka dengan semakin terasa pentingnya peranan Madrasah
Diniyah, terutama dalam usaha memberi tambahan
pendidikan dan pengajaran agama bagi anak-anak yang
bersekolah umum, maka perlu ditingkatkan pembinaannya
melalui sistem penyajiannya dengan memanfaatkan waktu
yang tersedia secara optimal dan berencana bagi kegiatan
belajar dan mengajar yang fungsional untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Proses belajar-mengajar adalah merupakan suatu
sistem yang harus diarahkan kepada pencapaian tujuan.
Dengan tujuan yang jelas, akan memudahkan penysunan
materi-materi (bahan-bahan pengajaran dari suatu pelajaran),
penentuan metode mengajar yang sesuai, serta penyusunan
proses kegiatan belajar-mengajar yang sistematis.
Pelajaran yang disajikan pada Madrasah Diniyah
Awaliyah sesuai dengan pasal 8 Peraturan Menteri Agama
Nomor 3 Tahun 1983 ialah :
1. AI-Qur'an,
2. Hadits,

39
3. Terjemah,
4. Tajwid,
5. Aqidah Akhlak,
6. lbadah Syari'ah,
7. Tarikh Islam,
8. Bahasa Arab,
9. Praktek lbadah.
Adapun tenaga-tenaga yang diperlukan dalam proses belajar-
mengajar pada Madrasah Diniyah.
1. Kepala Madrasah, baik untuk Madrasah Diniyah
Awaliyah, Madrasah Diniyah Wustha, dan Madrasah
Diniyah Ulya.
2. Guru Madrasah Diniyah.
3. Tenaga Tata Usaha.
Tenaga Guru yang dibutuhkan oleh suatu Madrasah Diniyah
adalah tergantung kepada banyaknya kelas di madrasah
tersebut.
1. Untuk Kepala Madrasah Diniyah Awaliyah lulusan PGAN/
SMTP/SMTA sederajat, ditambah pengalaman sebagai
guru minimal 3 tahun.
2. Untuk Kepala Madrasah Diniyah Wustha adalah lulusan
PGA 6 tahun/SMA sederajat atau Sarjana Muda.

7. Pembinaan lbadah Sosial


lbadah Sosial adalah ibadah yang menyangkut
kepentingan orang banyak (masyarakat).
Jenis kegaitan ibadah sosial yang umumnya dilakukan
di masjid adalah mengurus zakat, qurban, kematian,
membantu fakir miskin, yatim piatu, gotong royong, khitanan
massal, membantu anak terlantar dan sebagainya. Sampai
saat ini tampaknya sedikit sekali masjid yang menjadikan

40
dirinya sebagai pusat penampungan orang-orang fakir miskin
atau anak yatim piatu.
Ide semacam ini mung kin jika diperluas akan menampak-
kan aspek-aspek sosial ajaran Islam itu sendiri, dengan
demikian pengertian amal shaleh yang biasanya dijelaskan
sebagai ibadah sosial yang begitu sempit dapat diperluas.
Bentuk bantuan penyelenggaraan jenazah boleh dikatakan
terdapat di masjid-masjid, hal ini ditandai dengan adanya alat
pengangkut jenazah minimal sebuah keranda.
Dari masjid diberangkatkan calon jemaah haji dan ke
masjid pula jemaah haji kembali sebelum menginjakkan
kakinya ke halaman rumah.
Di lingkungan masjid diselenggarakan pelayanan kesehatan
dan kesejahteraan umat, sebagai tempa( dilangsungkan akad
nikah dengan upacara ritual.
Aspek sosial masjid ini perlu dikembangkan agar masyarakat
di lingkungan masjid turut serta mendukung kemakmuran
masjid.
Masyarakat akan mendukung masjid secara nyata bila
masjid juga menunjukkan perhatian lebih nyata terhadap
jamaah di luar dari masalah ibadah khassah.
Peranan masjid dewasa ini menjadi sangat panting
dalam membantu kebutuhan masyarakat terutama di bidang
ibadah sosial, tanpa mengurangi fungsi masjid sebagai
tempat ibadah.

8. Peringatan HBI dan Hari Besar Nasional


Peringatan Hari Besar Islam (HBI) dan hari besar
nasional sudah cukup melembaga menjadi bagian kegiatan
pengurus masjid. Peringatan ini adalah merupakan usaha
memelihara syi'ar Islam dan untuk menyegarkan kembali
penghayatan seseorang terhadap makna dan nilai peristiwa
bersejarah dalam agama Islam.

41
Peristiwa bersejarah yang lazim diperingati adalah maulid
Nabi, lsra' Mi'raj, Nuzulul Qur'an dan tahun baru Hijriyah.
Selain itu dalam makna lain dalam PHBI juga termasuk
kegiatan menyelenggarakan shalat ldul Fitri, ldul Adha dan
penyelenggaraan qurban.
Mengingat luasnya kegiatan peringatan hari besar Islam,
sebaiknya dilembagakan sedemikian rupa dalam satu panitia
(tatap).
Panitia bekerja untuk setiap ada peringatan Hari Besar Islam
dan kemudian kepanitiaan bisa dibentuk kembali pada acara
peringatan berikutnya.
Susunan kepanitiaan pada umumnya terdiri dari ketua, wakil
ketua, sekretaris, bendahara dan anggota.
Agar dapat menghasilkan secara optimal, kepanitiaan supaya
mengikutsertakan banyak unsur: Pemuda, pengurus masjid,
remaja masjid, pejabat setempat dan organisasi sosiai.
Pembagian tugas mungkin berbeda dari tiap-tiap peringatan
peristiwa bersejarah seperti hijriyah, maulid nabi, isra' mi'raj,
nuzulul qur'an, ldul Fitri dan ldul Adha.
Pola peringatan hari besar Islam yang berjalan selama
ini adalah suatu upacara dengan serangkaian pidato,
kemudian diakhiri dengan makan bersama, sehingga kurang
dirasakan manfaatnya. Bahkan banyak cemohan umat
agama lain bahwa peringatan tersebut hanya hura-hura saja.
Karena sementara umat sekelilingnya yang miskin dan
melarat serta kesulitan ekonomi, mungkin mereka akan
bertanya, apa arti agama bagi rakyat kecil.
Oleh karena itu tema dan pola kegiatan peringatan hari
besar Islam hendaknya dirubah tidak semata-mata pidato/
ceramah kemudian diakhiri dengan makan-makan bersama.
Tetapi dibarengi dengan kerja bakti, bergotong royong dengan
mengerahkan anak muda dan jamaah pada umumnya untuk
membersihkan lingkungan setempat, dalam rangka

42
pengamalan dakwah bilkhal. Peringatan hari besar Islam
dapat juga sambil diadakan kegiatan menanam pepohonan/
penghijauan di lingkungan tanah masjid, sambil membuat
penerangan jalan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh
masyarakat banyak. Atau juga sambil dibarengi peresmian
seperti meresmikan poliklinik, balai kesehatan, perpustakaan
masjid, membuka sekolah TK, Diniyah dan lbtidaiyah.
Atas dasar pola kegiatan inilah PHBI - pengurus masjid
mengadakan rapat. Apa yang dikerjakan untuk suatu acara
peringatan peristiwa bersejarah dalam agama Islam.
Pendeknya dikembangkan adanya kegairahan baru di
masyarakat jangan dibiarkan masyarakat statis penuh tradisi
yang rutin.
Agama sendiri selalu mendorong dinamika dan pergaulan
dengan lingkungan masyarakat.
ldul Fitri, ldul Adha dan Qurban
Shalat idul fitri atau idul adha bisa diselenggarakan di
masjid atau tanah lapang. Bila diadakan di tanah lapang,
artinya dimaksud agar menumbuhkan syi'ar Islam yang lebih
luas dan sekaligus menampung jamaah sebanyak-
banyaknya.
Dalam dua shalat ied, agama menganjurkan agar semua
umat keluar rumah beramai-ramai. Baik orang tua, ibu dan
anak-anak. Bahkan orang yang sedang berhalangan shalat
karena datang bulan, juga dianjurkan datang.
Semua ini tidak bisa di masjid karena perlu suci. Tapi tanah
lapang dapat menampung semua.
Menjelang esok paginya hari raya kita laksanakan takbiran
yang khusu' dan teratur. Karena mengumandangkan takbir
yang tertib dan teratur akan dapat menggugah kekaguman
dan simpati.
Hari Raya ldul Adha ditandai pula dengan pelaksanaan
qurban. Selain mendidik umat agar tidak bakhil, qurban juga

43
memberi pemecahan buat orang tidak mampu agar ikut
bergembira.
Pertama-tama tiap masjid hendaknya mencatat data
qurban dari tahun ke tahun. Kondisi ekonomi masyarakat
kota cenderung lebih banyak kemampuannya untuk membeli
seekor kambing qurban. Namun masalahnya ialah apakah
yang bersangkutan cukup memiliki kesadaran dalam
berqurban. Ataukah uangnya akan habis untuk membeli
pakaian dan perhiasan. Data ini dan kenaikannya tiap tahun
akan menjadi ukuran dan sekaligus alat untuk meningkatkan
dakwah mengundang tumbuhnya kesadaran umat yang
lebih tinggi.
Kedua, masalah pembagian daging qurban. Ada kalanya
satu daerah dan lembaga menerima dari pelbagai sumber,
sehingga menumpuk tak termakan. Dan ada pula yang
sebaliknya. Maka di sini sesungguhnya perlu perencanaan
secara luas oleh lingkungan yang lebih besar, misalnya
kantor agama kabupaten atau PHBI kabupaten. Setidak-
tidaknya pada tingkat kecamatan.
PHBI/Panitia qurban kecamatan menyusun satu daftar
prioritas misalnya rumah yatim/baitul Aitam, lembaga
pemasyarakatan panti asuhan, panti Werda, asrama pelajar,
fakir miskin dan seterusnya.
Masalah lainnya ialah cara pemotongan yang memenuhi
syarat secara syar'i, tidak menularkan penyakit, karena
sangat penting berkonsultasi dengan dinas kehewanan dan
dinas kesehatan untuk mengawasinya.
Hari Besar Nasional
Bagaimana bila masjid memperingati 17 Agustus atau
hari besar Nasional lainnya. Memang sepertinya agak ganjil,
karena tidak biasa. Tetapi sesungguhnya tidak demikian.
Masjid adalah lembaga masyarakat yang ikut serta memberi-

44
kan motivasi masyarakat untuk membela dan membangun
negara.
Dari sini jelas bahwa pengalaman sejarah nasional seperti
proklamasi, hari pahlawan, hari kartini dan lain-lain adalah
ilmu dan pengalaman sejarah amat penting dan perlu dihayati
oleh setiap generasi-generasi agar mampu jadi cermin syariat
yang memberi dorongan pada umat. Maka seperti peringatan
secara khidmat dan berdaya guna. Pelaksanaannya bisa
sendiri-sendiri atau digabung manakala memungkinkan dari
segi waktunya.

9. Pembinaan Wanita
Islam telah menempatkan kaum wanita pada kedudukan
yang mulia, yaitu sebagai tiang negara. Apabiia wanitanya
baik maka keadaan negarapun baik, dan bila wanitanya
buruk maka rusak pulalah negara itu.
Ungkapan yang termasyhur:

_;_,~r;;;t~~\&~'iJ;~,~~~9\
. I
-' / . / / / .
-~~\~
Artinya: 'Wanita ada/a tiang negara, apabila wanitanya baik,
maka negara itupun akan baik, dan apabila
wanitanya rusak, maka negarapun akan rusak".
Dari pengertian makalah di atas tersebut, maka
wanitapun hendaknya tidak berpangku tangan atau hanya
mengurus persoalan-persoalan dapur saja. Mereka
hendaknya juga turut aktif dalam pembangunan bangsa dan
negara. Untuk itulah pengurus masjid hendaknya ikut serta
berusaha meningkatkan pengetahuan ibu-ibu, baik Agama
maupun umum serta menganjurkan untuk mengikutsertakan
para ibu dalam tugas-tugas bangsa dan negara menurut
kemampuan dan bidang yang dikuasainya.

45
Kalau dilihat sekarang di alam pembangunan, wanita
telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang telah
dicita-citakan.
Dengan demikian ibu sebagai pengasuh anak mendidik_dan
membesarkan generasi bangsa sejak dalam kandungan
sampai usia 15-20 tahun.
Seorang yang tidak terdidik, tentu tidak akan dapat mendidik
anaknya dengan baik.
.
Islam mengangkat derajat kaum ibu, tetapi jamaah masih
kurang memberikan perhatian terhadap pembinaannya.
Untuk lebih meningkatkan pembinaan kaum wanita perlu
pengurus masjid mengadakan macam-macam kursus,
seperti menjahit, memotong rambut, merias pengantin,
membuat aneka makanan. Ceramah khusus tentang cara
memelihara badan dan mendidik anak, penataran Undang-
undang perkawinan, tata boga dan lain-lain.

10. Koperasi
Masjid di samping sebagai tempat ibadah sekaligus
sebagai forum komunikasi jamaah, forum ini sudah waktunya
untuk dikembangkan fungsinya sebagai kontak para jamaah
dalam bidang ekonomi antara lain dengan mendirikan
koperasi di lingkungan masjid dan kegiatan kontak usaha
antar jamaah untuk meningkatkan kesejahteraan tarat hidup
di antara mereka.
Koperasi merupakan suatu unit usaha yang dikelola
secara bersama oleh anggota atas prinsip kekeluargaan
disamping kegiatan ekonomi.
Koperasi ini dapat berupa: koperasi simpan pinjam, konsumsi,
jasa dan koperasi serba w~aha.
Pada umumnya masjid-masjid di Indonesia belum banyak
mengembangkan usaha koperasi, hal ini disebabkan antara
lain : ·

46
1. Belum memiliki tenaga pengelola yang siap pakai.
2. Bahwa kurang adanya minat jamaah untuk berkoperasi
karena terkesan adanya citra yang kurang baik terhadap
koperasi pada umumnya.
3. Tidak adanya ikatan formal antara jamaah masjid
sehingga menimbulkan hal-hal yang mudah goyah.
Karena itu perlu ditanamkan dan diberikan pengertian
akan pentingnya koperasi bahwa hal tersebut dianjurkan dan
sesuai dengan ajaran Islam. Adapun tujuan diadakannya
koperasi antara lain :
1. Untuk menggairahkan kesadaran umat dan jamaah akan
pentingnya usaha peningkatan ekonomi dan koperasi.
2. Memberi keterampilan mereka dalam bidang usaha.
3. Sebagai sumber dana untuk membiayai kegiatan dan
kebutuhan masjid dan kesejahteraan umat dan jamaah
atau anggota.

11. Kesehatan
.
Salah satu sarana yang amat penting guna meningkat-
kan kesejahteraan umat adalah adanya penanganan
kesehatan baik yang menyangkut fisik masjid yaitu
kebersihan serta keindahannya maupun yang menyangkut
kesehatan jamaahnya.
Bagi masjid yang mampu langsung dapat menangani
kesehatan tersebut dengan membuka poliklinik disediakan
ruangan khusus untuk pemeriksaan, tempat tidur pasien,
ruang dokter, ruang tunggu, peralatan, obat, kemudian
tersedia dokter dan perawat.
Hari praktek diatur berdasarkan kesediaan dokter, juga
memperhatikan jamaah berkumpul.
Tarif dokter harus terjangkau masyarakat atau gratis sama
sekali. Cara gratis sesungguhnya kurang baik, karena itu

47
perlu diupayakan dengan keadaan yang lebih ringan
dibanding di luar.
Yang sedang dirintis oleh Departemen Agama dan
Departemen Kesehatan adalah pengumpulan dana
kesehatan bagi anggota jamaah dengan menggunakan
prinsip asuransi kesehatan masjid, yang dikaitkan dengan
dana upaya kesehatan masyarakat (DUKM).
Sistim asuransi kesehatan yang dikembangkan pemerintah
atau pihak lain dapat juga dikembangkan.

· Suatu kesatuan jamaah masjid yang baik dapat mengatur hal


itu bersama jamaahnya. Misalnya suatu masjid dengan 700
jamaah KK dengan 300 jiwa akan dapat diatur agar jamaah dapat
berbuat banyak antara lain pelayanan kesehatan dengan biaya
ring an.

Masyarakat akan mendukung masjid secara nyata bila


masjid juga menunjukkan perhatian lebih nyata terhadap jamaah
seperti membantu pengobatan jamaah yang sakit yang tidak
mampu berobat. Demikian juga hendaknya pengurus masjid
menggerakkan jamaahnya untuk ikut andil dalam kegiatan donor
darah, mengingat sampai saat ini masih belum melakukan
kegiatan donor darah yang diadakan di lingkungan masjid. Hal ini
disebabkan karena pengurus masjid belum mulai mengajak
jamaahnya.

Pada dasarnya jamaah menyadari bahwa donor darah


adalah merupakan perbuatan mulia, menolong saudara-saudara
kita yang kecelakaan yang sangat memerlukan pertolongan
penambahan darah.

Umat Islam mempunyai pegangan yang kuat kepada ayat


ayat AI-Qur'an dan had its Nabi yang mengharuskan saling bantu
dan tolong-menolong diantara sesama umat dalam hal kebaikan.

48
BABIV
PEMBINAAN Rl' AYAH

Pengertian
Yang dimaksud ri'ayah masjid adalah memelihara masjid
dari segi bangunan, keindahan dan kebersihan. Dengan
adanya pembinaan ri'ayah masjid, masjid sebagai baitullah
(rumah Allah) yang suci dan mulia akan nampak bersih,
cerah dan indah, sehingga dapat memberikan daya tarik,
rasa nyaman dan menyenangkan bagi siapa saja yang
memandang, memasuki dan beribadah di dalamnya.
Sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam AI-Qur'an
surat Ali lmran ayat 97 :
- :::; ~ / ,/ 1.// / '//

('\\/ oY'-'') · · · ~ \0 ~~~.:,.a_, · · ·


Artinya : "Barang siapa memasuki (baitullah) menjadi
amanlah dia"
Pemeliharaan bangunan masjid meliputi antara lain:
a. Bentuk bangunan/arsitektur
b. Pemeliharaan dari kerusakan
c. Pemeliharaan kebersihan.
Hal ini sebagaimana bunyi firman Allah dalam surat AI-
Baqarah ayat 125:
~r~·. [eu"
.. .. •/("!\~:\/"'
.,..., ... ~~u~~~J.~
__,,. ~~ _, ...-
'>-"-"' _,,-,..,.,'ll,\?' .,,
"'~_, ...
.•.12-J ~ /
0"" o»') ·.J~ '6'~
Artinya : "... dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan
Ismail: bersihkanlah rumahku (baitullah) untuk
orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan
sujud".

49
Demikian juga sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam
Muslim dari Abu Malik AI-Asy'ary :
.\ . . ,\/ -'- /-s:j /
/'~
• U\.0---')
./ -~
~ti
,.,
.. \
Artinya : "Kebersihan itu adalah sebagian dari iman".
d. Penentuan arah kiblat.

2. Arsitektur dan Disain


Arsitektur merupakan seni bangunan. Arsitektur masjid
adaiah seni bangunan masjid. Seni membangun masjid di
Indonesia dipengaruhi oleh :
a. Peran dan perkembangan kebudayaan daerah sebagai
bagian dari kebhinnekatunggalikaan bangsa Indonesia.
b. Peran dan pengaruh ilmu dan teknologi.
c. Campuran.
Oleh karena itu norma penilaian arsitektur terbaik untuk
masjid adalah merupakan sesuatu yang relatif. Dalam hal ini,
penilaian arsitektur terbaik ditentukan menu rut seni budaya
yang berkembang di daerah. Seni membangun suatu masjid
bukanlah merupakan suatu yang mutlak dalam Islam. Ia
termasuk golongan masalah yang oleh Rasulullah dikatakan
"antum a'lamu bi umuri dunyakum" (kamu lebih tahu urusan
duniamu), kecuali arah kiblat yang merupakan hukum tetap
yang tidak dapat diubah.
Dalam disain masjid yang perlu diperhatikan antara lain
adalah adanya ruang-ruang sebagai berikut:
a. Ruang Utama.
Ruang utama mempunyai fungsi ganda antara lain:
1) Kegiatan sehari-hari dipakai untuk ibadah shalat lima
waktu yang dilakukan secara berjamaah ataupun
munfarid.

50
2) Kegiatan shalat Jum'at
3) Kegiatan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi
umat Islam. Selama bulan Ramadhan orang lebih
banyak berkunjung ke masjid untuk shalat
berjama'ah, tarawih, shalat witir, membaca AI-
Qur'an, i'tikaf, terutama 10 hari terakhir.
4) Kegiatan pada hari raya masjid dipergunakan sebagai
tempat shalat hari raya, upacara keagamaan seperti:
lsra' Mi'raj, Maulid Nabi, Nuzulul Qur'an dan lain-lain.
b. Ruang Wudhu
Menurut firman Allah dalam surat AI-Maidah, bahwa
kebersihan merupakan syarat mutlak melakukan ibadah.
Oleh karena itu masjid memerlukan ruang khusus untuk
tempat wudhu.
c. Ruang Pelayanan
Kebersihan diri rohani dan jasmani perlu diimbangi pula
dengan kebersihan ruang tersebut. Untuk itu perlu ruang
pelayanan yang menunjang kebersihan masjid.
d. Ruang Penunjang
Di samping ruang utama, ruang wudhu dan ruang
pelayanan, diperlukan pula ruang penunjang yang
diadakan untuk menampung kegiatan-kegiatan sosial
kemasyarakatan seperti:
1) Kegiatan Pendidikan
Kegiatan tersebut mencakup proses belajar-mengajar
meliputi sekolah, kursus keterampilan, perpustakaan
dan lain-lain yang berlangsung sepanjang masa.
· 2) Kegiatan Musyawarah
Kegiatan tersebut erat kaitannya dengan kegiatan
seperti: kesenian, diskusi, seminar, kepanitiaan hari-

51
hari besar, kegiatan zakat, qurban, penyuluhan
pertanian dan semacamnya.

3. Pemeliharaan Peralatan dan Fasilitas


Peralatan dan fasilitas masjid adalah merupakan sarana
untuk menunjang fungsi masjid, baik sebagai tempat ibadah
maupun untuk memancarkan syi'ar agama Islam. Oleh
karenanya segala peralatan dan fasilitas masjid harus selalu
dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya, antara lain:
a. Tikar Sembahyang.
Tikar sembahyang baik tikar biasa maupun karpet
atau permadani, merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari masjid. Oleh karena itu, baik kebersihan maupun
kerapian dan keserasian masjid harus dipelihara.
Ruangan masjid, khususnya tempat shalat agar selalu
bersih, rapi dan serasi. Penggunaan tikar sembahyang
harus diatur sedemikian rupa; misalnya, tikar
sembahyang digulung atau dilipat dengan rapi setelah
selesai dipergunakan. Tikar baru dibentang kembali
menjelang shalat berjamaah atau kegiatan keagamaan
lainnya. Tikar karpet yang sudah dilem dengan lantai
masjid, pemeliharaan kebersihannya supaya benar-
benar diperhatikan, tidak dipergunakan untuk tiduran,
bermain anak-anak, terkena abu rokok atau kotoran
lainnya.
b. Peralatan Elektronik
Penggunaan peralatan elektronik, seperti pt:ngt:.-a;:,
suara, tape recorder, radio kaset, amplifier dan
sebagainya sudah hampir merata di setiap masjid.
Peralatan tersebut sudah harus dipelihara dan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

52
Penggunaan peralatan elektronik, seperti pengeras
suara, hendaknya dibatasi dalam hal-hal yang penting
saja, seperti untuk keperluan adzan, khutbah Jum'at,
tarkhim, perayaan hari-hari besar Islam. Demikian pula
waktu penggunaannya harus diatur supaya tidak
mengganggu ketenangan warga masyarakat sekitarnya.
Misalnya tarkhim dan pengajian AI-Qur'an menjelang
subuh hendaknya dilakukan ketika sudah dekat waktu
subuh. Atau tadarus AI-Qur'an pada bulan Ramadhan
hendaknya tidak melebihi jam 22.00 Uam 10 malam).
Di samping itu hendaknya pemeliharaan peralatan
tersebut diserahkan kepada anggota pengurus yang
mengerti cara menggunakan dan memeliharanya.
Karena jika diserahkan kepada orang yang kurang
mengerti atau sering berpindah tangan, peralatan
tersebut akan cepat rusak.
c. Almari Perpustakaan
Setiap masjid hendaknya dapat menyediakan almari
untuk tempat menyimpan AI-Qur'an dan buku-buku
agama lainnya, yang sekaligus merupakan perpustakaan
masjid dalam rangka meningkatkan pengetahuan agama
para jamaah. Koleksi buku-buku perpustakaan tersebut
terus ditingkatkan, dengan pemanfaatan/peminjamannya
yang diatur sedemikian rupa sehingga tidak rusak atau
hi lang.
d. Rak sepatu/sandal.
Hi lang atau tertukarnya sandal/sepatu para jamaah
di masjid adalah tidak mustahil, mengingat masjid
adalah tempat umum. Oleh karena itu menjadi kewajiban
bagi pengurus mesjid agar menjadi keamanan sepatu/
sandal dan barang bawaan para jamaah.

53
Untuk itu perlu dibuatkan tempat penitipan sepatu/
sandal. Kebiasaan jamaah membawa alas kaki ke
ruangan masjid, sekalipun dengan kantong plastik, harus
dicegah. Karena di samping tidak sedap dipandang juga
akan membuat kotor masjid.
Baik bentuk maupun letak (rak) tempat penitipan alas
kaki tersebut hendaknya tidak mengganggu pemandangan
dan keindahan ruangan atau lingkungan masjid. Sebagai
petugas pelaksana penitipan tersebut hendaknya
diserahkan kepada anak-anak dan remaja yang dilatih
supaya mereka dapat melaksanakan tugas dengan
terampi!, tertib dan aman.
e. Bedug dan Papan Pengumuman.
Sebagian besar masjid di Indonesia terutama di
desa-desa masih mempergunakan bedug sebagai
sarana komunikasi, terutama untuk pemberitahuan
tentang masuk waktu shalat dan mensyi'arkan hari raya
(ldul Fitri dan ldul Adha). Terlepas dari bagaimana asal
usul dan kedudukan bedug tersebut dalam agama Islam,
namun keberadaannya hampir tak dapat dipisahkan dari
masjid dan telah membudaya di sebagian lingkungan
umat Islam. Suara bedug yang bertalu-talu, terutama
pada hari raya ldul Fitri dan ldul Adha, mempunyai kesan
tersendiri di hati umat serta memberikan kesemarakan
syi'ar Islam.
Oleh karena itu keberadaan bedug supaya dipelihara
dengan sebaik-baiknya dan diatur penempatannya
sehingga tidak mengganggu pemandangan dan
keindahan masjid, serta tidak mudah dipermainkan oleh
anak-anak atau orang-orang yang kurang mengerti akan
fungsinya. Demikian juga pada setiap masjid biasanya
terdapat beberapa papan pengumuman, seperti papan

54
pengumuman yang berisi jadwal petugas iman, khatib
dan muadzim, papan pengumuman yang berisi laporan
keuangan, berisi jadwal shalat dan lain sebagainya.
Papan-papan pengumuman tersebut hendaknya
ditulis dengan rapi dan jelas serta diletakkan pada tempat
yang strategis agar mudah dibaca oleh para jamaah
dengan memperhatikan keindahan ruangan dan ling-
kungan masjid. Termasuk dalam hal ini juga papan nama
masjid agar selalu diperhatikan keindaharinya, jangan
sampai dibiarkan rusak atau buram tulisannya, sehingga
mengganggu pemandangan dan keindahan masjid.

4. Pemeliharaan Halaman dan Lingkungan


Pemeliharaan halaman dan lingkungan masjid adalah
sangat penting, oleh karena suatu bangunan termasuk
bangunan masjid akan tampak indah dan anggun apabila
didukung oleh halaman dan lingkungannya yang terpelihara
dengan baik, sehingga menampakkan suasana yang bersih,
aman, tertib, indah dan nyaman.
Upaya-upaya pemeliharaan halaman dan lingkungan
terse but antara lain:
a. Kebersihan.
Pada setiap masjid hendaknya diperhatikan penyediaan
sanitasi dan saluran air (riolering) di sekeliling masjid baik
untuk pembuangan air bekas wudhu, WC, maupun air
hujan, sehingga tidak menggenangi halaman masjid.
Halaman dan lingkungan masjid harus merupakan
tempat yang indah dan bersih. Untuk itu agar sampah
dedaunan, kertas koran atau kertas bekas dan lain-lain
yang sering bertebaran di halaman masjid supaya
segera dibersihkan. Demikian juga rumput dan tanaman
yang tumbuh di halaman masjid hendaknya dipelihara
dengan baik dan rapi.

55
b. Pemagaran.
Seluruh pekarangan masjid hendaknya dipagar dengan
baik untuk menghindari gangguan terhadap pekarangan
dan bangunan masjid. Pagar masjid dapat berupa beton,
besi, kayu, bambu atau pagar hidup, yang dibuat sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
c. Penyediaan tempat parkir.
Pada setiap masjid hendaknya dapat. disediakan tempat
parkir kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Dengan tersedianya tempat parkir yang cukup selain
akan menambah kesemarakan bangunan dan lingkungan
masjid, juga akan merupakan daya tarik para jamaah
untuk berkunjung atau beribadah di masjid tersebut.
d. Penghijauan dan Pembuatan Taman
Salah satu aspek yang dapat mendukung keindahan dan
keanggunan suatu bangunan masjid adalah apabila
halaman dan lingkungan masjid tersebut terdapat
penghijauan dan taman yang bersih, rapi dan indah. Oleh
karena itu hendaknya pada setiap rt:lasjid agar
diupayakan penghijauan dan pembuatan "taman yang
terpelihara dengan baik sehingga menciptakan suasana
yang indah dan nyaman.

5. Penentuan Arah Kiblat


Orientasi masjid adalah pasti, yaitu mengikuti arah kiblat.
Arah kiblat pada setiap masjid dapat dilihat pada arah
mihrabnya. Atau suatu mihrab harus benar-benar mengarah
kiblat. Arah kiblat di Indonesia menunjukkan berapa derajat
(o) dan berapa menit (") arah menyimpang dari arah barat
sebenarnya. Penyimpangan dari arah barat ke jurusan utara
diukur dengan alat yang dinamakan kompas (pedoman).
Dewasa ini bahkan telah tersedia kompas kecil yang dengan

56
mudah dan praktis dapat digunakan untuk mencari arah kiblat
khusus bagi mereka yang sedang bepergian (musafir).
Bila tidak ada kompas, arah utara-selatan dapat ditentukan
dengan jalan sebagai berikut:
a. Pancangkan sebuah tongkat yang benar-benar lurus
secara tegak lurus pada tanah yang dipadatkan dan
diratakan. Tegak lurusnya tongkat dapat diperiksa dengan
waterpas. Boleh juga digantungkan sebuah unting-unting
pada sepotong benang yang cukup kuat.
b. Gunakan arloji yang betul penunjukannya.
c. Tunggu sampai waktu zhuhur.
d. Tepat pada waktunya zhuhur, tandai bagaimana jatuhnya
bayang-bayang tongkat atau benang itu.
e. Arah bayang-bayang yang diperoleh ialah arah _utara-
selatan yang tepat.
Penentuan arah utara-selatan janganlah dilakukan sekali
jadi, tapi dilakukanlah beberapa hari berturut-turut, sehingga
diperoleh arah utara-selatan yang meyakinkan. Untuk telitinya
pilihlah hari, yang bayang-bayang matahari pada awal waktu
zhuhur tidak terlalu pendek, tetapi cukup panjang. Bila telah
diketahui garis utara-selatan dipilihlah pada garis itu tegak
lurus AB, yang panjangnya dibuat misalnya 1 meter.
Pada titik B didirikan sebuah garis tegak lurus BC, yang
panjangnya diperoleh dengan mengalikan 1 meter dengan
sebuah bilangan, yang dinamakan tangens sudut kiblat.
Umpamakan sudut kiblat besarnya 22°15, tangensnya
besarnya 0,409, dikalikan dengan 1 meter menjadi 40,9 em.
Maka BC diambil sepanjang 40,9 em.
A dihubungkan dengan C. Garis AC menunjukkan arah kiblat
yang hendak diketahui.

57
Daftar Tangens

Sudut tg Sudut Tg Sudut tg

20°00 0,364 22°15 0,409 24°30 0,456


15 0,369 30 0,414 45 0,461
30 0,374 45 0,419 25°00 0,466
45 0,379 23°00 0,424 15 0,472
21ooo· 0,384 15 0,430 30 0,477
15 0,398 30 0,435 45 0,482
45 0,399 24°00 0,445 15 0,493
22°00 0,404 15 0,450 30 0,499

Untuk menentukan arah kiblat pembangunan masjid,


sebaiknya panitia menghubungi Kantor Departemen Agama
dan Majelis Ulama setempat. Karena arah kiblat menyangkut
keyakinan masyarakat, oleh karena itu sangat peka dan perlu
ditentukan oleh suatu tim yang meyakinkan masyarakat dan
sifatnya terbuka.

58
aAB V
PENUTUP

Buku pedoman pembinaan kegiatan kemasjidan ini diharap-


kan dapat dijadikan pedoman, baik bagi aparat Depart'emen
Agama, pengurus masjid maupun instansi dan kalangan lain
dalam pengelolaan kegiatan kemasjidan.

Dengan mempedomani buku ini, diharapkan agar masjid-


masjid yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dapat
difungsikan seoptimal mungkin, sehingga rumah ibadah itu dapat
hadir dalam sosok yang paripurna.

Demikian buku pedoman ini disusun. Segala sesuatu yang


belum disir:1ggung ·di dalamnya akan diatur kemudian, dengan
memperhatikan kondisi dan situasi setempat. Semoga
bermanfaat.

59
SEKRETARIAT NEGARA
REPUBUK INDONESIA

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 1 TAHUN 1965
TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DANIATAU
PENODAAN AGAMA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengamanan Negara
dan masyarakat, cita-cita Revolusi Nasional
dan Pembangunan Nasional Semesta
menuju ke masyarakat adil dan makmur,
perlu mengadakan peraturan untuk men-
cegah penyalahgunaan atau pedonadaan
Agama,
b. bahwa untuk pengamanan Revolusi dan
ketenteraman masyarakat, soal ini perlu
diatur dengan Penetapan Presiden.
Mengingat 1. Pasal 29 Undang-Undang Dasar;
2. Pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang
Dasar;
3. Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1962
(Lembaran Negara Tahun 1963 Nomor 34),
4. Pasal 2 ayat (1) Ketetapan MPRS Nomor
11/MPRS/1960.

MEMUTUSKAN:
Menetapkan PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA TENTANG PENCEGAHAN
PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN
AGAMA.
Pasal1
Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum
menceriterakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan
umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang
dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan
yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu;
penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok
ajaran agama itu.

Pasal2
{1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1
diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan
perbuatan-perbuatannya itu di dalam suatu keputusan
bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri
Dalam Negeri.
(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh
organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden
Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan
menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai
organiasi/aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden
mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa
Agung dan Menteri Dalam Negeri.

Pasal3
Apabila, setelah dilakukan tidakan oleh Menteri Agama
bersama-sama Menteri!Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri
atau Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal
2 terhadap orang, organisasi atau aliran kepercayaan, mereka
masih terus melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1, maka
orang, penganut, anggauta dan/atau anggauta pengurus
organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

61
Pasal4
Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal
baru yang berbunyi sebagai berikut :

Pasal156a.
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun
barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan
perasaan atau melakukan perbuatan :
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan
atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di
Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama
apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

PasaiS
Penetapan Presiden Republik Indonesia ini mulai berlaku
pada hari diundangkannya.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintah-


kan pengundangan Penetapan Presiden Republik Indonesia ini
dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 27 Januari 1965

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

ttd.

SOEKARNO

62
Diundangkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 27 Januari 1965

SEKRETARIS NEGARA

t.t.d.
MOCH. ICHSAN

LEMBARAN NEGARA TAHUN 1965 NOMOR 3.

Sesuai dengan aslinya


SEKRETARIS NEGARA
Kepala Bagian Perundang-undangan

t.t.d.
SURJANTORO

63
PENJELASAN
ATAS
PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 1 TAHUN 1965
TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DANIATAU
PENODAAN AGAMA

I. UMUM
1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan
Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap
bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam
Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan.
suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.
Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Negara kita
berdasarkan:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
3. Persatuan Indonesia;
4. Kerakyatan;
5. Keadilan Sosial.
Sebagai dasar pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa bukan
saja meletakkan dasar moral di atas Negara dan
Pemerintah, tetapi juga memastikan adanya · kesatuan
Nasional yang berazas keagamaan .. Pengakuan sila pertama
(Ketuhanan Yang Maha Esa) tidak dapat dipisah-pisahkan
dengan Agama. Karena adalah salah satu tiang pokok
daripada peri-kehidupan manusia dan bagi bangsa Indonesia
adalah juga sebagai sendi peri-kehidupan Negara dan unsur
mutlak dalam usaha nation building.
2. Telah ternyata, bahwa pada akhir-akhir ini hampir di selutuh
Indonesia tidak sedikit timbul aliran-aliran atau organisasi-

64
organisasi kebathinan/kepercayaan masyarakat yang
bertentangan dengan ajaran-ajaran dan hukum Agama.
Di antara ajaran-ajaran/perbuatan-perbuatan pada pemeluk
aliran-aliran tersebut sudah banyak yang telah menimbulkan
hal-hal yang melanggar hukum, memecah persatuan
Nasional dan menodai Agama. Dari kenyataan teranglah,
bahwa aliran-aliran atau organisasi kebathinan/kepercayaan
masyarakat yang menyalahgunakan dan/atau memper-
gunakan Agama sebagai pokok, pada akhir-akhir ini
bertambah banyak dan telah berkembang ke arah yang
sangat membahayakan Agama-agama yang ada.
3. Untuk mencegah berlarut-larutnya hal-hal tersebut di atas
yang dapat membahayakan persatuan bangsa dan negara,
maka dalam rangka kewaspadaan Nasional dan dalam
Demokrasi Terpimpin dianggap perlu dikeluarkan Penetapan
Presiden sebagai realisasi Dekrit Presiden tanggal 5 Juli
1959 yang merupakan salah satu jalan untuk menyalurkan
ketatanegaraan dan keagamaan, agar oleh segenap rakyat
di seluruh wilayah Indonesia ini dapat dinikmati ketenteraman
beragama dan jaminan untuk menunaikan ibadah menurut
agamanya masing-masing.
4. Berhubung dengan maksud memupuk ketenteraman
beragama inilah, maka Penetapan Presiden ini pertama-tama
mencegah agar jangan sampai terjadi penyelewengan-
penyelewengan dari ajaran-ajaran agama yang dianggap
sebagai ajaran-ajaran pokok oleh para ulama dari agama
yang bersangkutan (pasal 1 - 3), dan kedua kalinya aturan
ini melindungi ketenteraman beragama tersebut dari
penodaan/penghinaan serta dari ajaran-ajaran untuk tidak
memeluk agama yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha
Esa (pasal 4).
5. Adapun penyelewengan-penyelewengan keagamaan yang
nyata-nyata merupakan pelanggaran pidana dirasa tidak perlu

65
diatur lagi dalam peraturan ini, oleh karena telah cukup
diaturnya dalam berbagai-bagai aturan pidana yang telah
ada.

Dengan Penetapail Presiden ini tidaklah sekali-kali dimaksud-


kan hendak mengganggu gugat hak hidup Agama-agama yang
sudah diakui oleh Pemerintah sebelum Penetapan Presiden ini
diundangkan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1. Dengan kata~kata "Dimuka Umum" dimaksudkan


apa yang diartikan dengan kata itu dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana. Agama:..agama yang dipeluk oleh penduduk
Indonesia ialah : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong
Fu Tju (Confusius).

Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan agama-


agama di Indonesia.· Karena 6 macam agama ini adalah agama-
agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia, maka
kecuali mereka mendapat jaminan seperti yang diberikan oleh
pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar juga mereka mendapat
bantuan-bantuan dan perlindungan seperti yang diberikan oleh
pasal ini.

lni tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya : Jahudi,


Zarazustrian, Shinto, Theoism dilarang di Indonesia. Mereka.
mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29
ayat 2 dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau
peraturan perundangan lain.

Terhadap badan/aliran kebathinan, Pemerintah berusaha


menyalurkan ke arah pandangan yang sehat dan ke arah
Ketuhanan Yang Maha Esa.

66
Hal ini sesuai dengan ketetapan MPRS Nomor : 11/MPRS/
1960, lampiran A Bidang I, angka 6.

Dengan kata-kata "Kegiatan Keagamaan" dimaksudkan


segala macam kegiatan yang bersifat keagamaan, misalnya
menamakan suatu aliran sebagai Agama, mempergunakan istilah
dalam menjalankan atau mengamalkan ajaran-ajaran keper-
cayaannya ataupun melakukan ibadahnya dan sebagainya.
Pokok-pokok ajaran agama dapat diketahui oleh Departemen
Agama yang untuk itu mempunyai alat-alat/cara-cara untuk
menyelidikinya.

Pasal 2. Sesuai dengan kepribadian Indonesia, maka


terhadap orang-orang ataupun penganut-penganut sesuatu ali ran
kepercayaan maupun anggota Pengurus Organisasi yang
melanggar larangan tersebut dalam pasal 1, untuk permulaannya
dirasa cukup diberi nasehat seperlunya.

Apabila penyelewengan itu dilakukan, oleh organisasi atau


penganut-penganut aliran kepercayaan dan mempunyai efek yang
cukup serius bagi masyarakat yang beragama, maka Presiden
berwenang untuk membubarkan organisasi itu dan untuk
menyatakan sebagai organisasi atau aliran terlarang dengan
akibat-akibatnya Oo pasal169 KUHP).

Pasal 3. Pemberian ancaman pidana yang diatur dalam pasal


ini, adalah tindakan lanjutan terhadap anasir-anasir yang tetap
mengabaikan peringatan tersebut, dalam pasal 2.

Oleh karena aliran kepercayaan biasanya tidak mempunyai


bentuk seperti organisasi/perhimpunan di mana mudah dibedakan
siapa pengurus dan siapa anggotanya, maka mengenai aliran-
aliran kepercayaan, hanya penganutnya yang masih terus
melakukan pelanggaran dapat dikenakan pidana sedang pemuka
aliran· sendiri, yang menghentikan kegiatannya tidak dapat dituntut.

67
Mengingat sifat ideal dari tindak pidana dalam pasal ini maka
ancaman pidana 5 tahun dirasa sudah wajar.

Pasal 4. Maksud ketentuan ini telah cukup dijelaskan dalam


penjelasan umum di atas. Cara mengeluarkan perasaan atau
melakukan perbuatan dapat dilakukan dengan lisan, tulisan
ataupun perbuatan lain.

Huruf a. Tindak pidana yang dimaksud di sini, ialah semata-


mata (pada pokoknya) ditunjuk kepada niat untuk memusuhi atau
menghina.

Dengan demikian, maka uraian-uraian tertulis maupun lisan


yang dilakukan secaa objektif, zakelijk dan ilmiah mengenai
sesuatu agama yang disertai dengan usaha untuk menghindari
adanya kata-kata atau susunan kata-kata yang bersifat
permusuhan atau penghinaan, bukanlah tindak pidana menurut
pasal itu.

Huruf b. Orang yang melakukan tindak pidana tersebut di sini,


di samping mengganggu ketenteraman orang beragama, pada
dasarnya mengk_hianati sila pertama dari Negara secara total, dan
oleh karenanya adalah pada tempatnya, bahwa perbuatannya itu
dipidana sepantasnya.

Pasal 5. Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR : 2726

68
PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 1- TAHUN 1975
TENTANG
PEMBERIAN BANTUAN KEPADA ORGANISASI SOSIAL
ISLAM, PERGURUAN ISLAM SWASTA, PEMBANGUNANI
REHABILITASI MASJIDIMUSHALLA DAN
MAKAM BERSEJARAH

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang bahwa untuk memberikan bimbingan dan


dorongan kepada usaha/kegiatan Organisasi
Sosial Islam, Perguruan Islam Swasta,
Pembangunan/Rehabilitasi Masjid/Mushalla dan
'pemeliharaan makam-makam bersejarah,
dipandang perlu menetapkan peraturan tentang
pemberian bantuan kepada usaha/kegiatan
tersebut.
Mengingat 1. UUD 1945 pasal 17 ayat (3), pasal 29 dan
pasal31;
2. Keputusan Presiden Nomor 44 dan Nomor
45 dan Tahun 1974;
3. Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun
1960;
4. Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun
1964.

MEMUTUSKAN:
Menetapkan Peraturan Menteri Agama tentang Pemberian
Bantuan kepada Organisasi Sosial Islam,
Perguruan Islam Swasta, Pembangunan/
Rehabilitasi Masjid/Mushalla dan Makam
Bersejarah.

69
BABI
KETENTUAN UMUM

Pasal1
(1) Organisasi Sosiallslam adalah Organisasi/Badan/Lembaga
Sosial yang dalam kegiatan pokoknya menyelenggarakan :
a. Musabaqah lilawatil Qur'an tingkat nasional
b. Penelitian/research keagamaan Islam;
c. Hisab/ru'yah;
d. Da'wah/Penyiaran dan Pendidikan Agama Islam
e. lbadah dan/atau usaha-usaha sosial keagamaan Islam,
f. Perpustakaan Keagamaan Islam.
(2) Perguruan Islam Swasta adalah perguruan yang diseleng-
garakan oleh organisasi Islam, di mana pelajaran Agama
merupakan mata pelajaran pokok, baik untuk lingkat Dasar,
Menengah Pertama, Menengah Atas dan Perguruan linggi.
(3) Masjid/Mushalla adalah bangunan yang dipergunakan
sebagai tempat beribadah oleh umat beragama Isla~.
(4) Makam bersejarah adalah makam tokoh/pejuang yang telah
berjasa kepada Agama Islam, Bangsa dan Tanah Air.

Pasal2

Organisasi-organisasi/badan-badan/lembaga yang melaku-


kan usaha-usaha sebagaimana tersebut dalam pasal 1 di atas,
dapat diberikan bantuan dari anggaran Departemen Agama,
apabila memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pasal 3
dan 4 Peraturan ini.

70
BAB II
SYARAT-SYARAT PEMBERIAN BANTUAN

Pasal3
(1) Untuk dapat diberikan bantuan, maka Panitia Nasional
Musabaqah Tilawatil Qur'an dibentuk dengan Keputusan
Menteri Agama.
(2) Organisasi/badan/lembaga yang melakukan usaha-usaha/
kegiatan tersebut pasal 1, dapat diberikan bantu an apabila
memenuhi persyaratan bahwa organisasilbadan/lembaga
yang bersangkutan telah melakukan usaha-usahanya
minimal selama 1 (satu) tahun dan berjalan baik.
(3) Persyaratan pemberian bantuan untuk Perguruan Islam
Swasta Tingkat Dasar, Menengah Pertama dan Menengah
Atas adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Agama Nomor 2 Tahun 1960, dan Perguruan Islam Swasta
Tingkat Tinggi menurut Peraturan Menteri Agama Nomor 2
Tahun 1964.
(4) Masjid/Mushalla dapat diberikan bantuan apabila memenuhi
persyaratan bahwa rehabilitasi/pembangunan tempat ibadah
yang bersangkutan sangat mendesak urgensinya.
(5) Makam bersejarah yang dapat diberi bantuan, harus
memenuhi syarat, bahwa makam yang bersangkutan
merupakan makam ulama atau tokoh agama Islam yang
meninggal sebagai pahlawan.

BAB Ill
PROSEDUR PENGAJUAN PERMOHONAN BANTUAN

Pasal4
(1) Permohonan bantu an untuk Panitia Nasional Musabaqah
Tilawatil Qur'an disampaikan kepada Menteri Agama cq.

71
Sekretaris Jenderal Departemen Agama, dengan dilampiri
Surat Keputusan Pembentukan Panitia dan rencana biaya
penyelenggaraan Musabaqah tersebut.
(2) Permohonan bantuan untuk organisasi/badanllembaga sosial
Islam terse but pasal 1 ayat {1) huruf b, c, d, e dan f di atas,
ditujukan kepada Menteri Agama cq. Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam dengan dilampiri :
1. Susunan pengurus dan struktur organisasinya;
2. Akte pendirian atau keterangan tentang berdirinya
organisasi/badan/lembaga sosial Islam bersangkutan;
3. Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga;
4. Rencana kerja dan anggaran biaya keseluruhan;
5. Rencana fisik kegiatan dan anggaran biaya yang
dimohon;
6. Data atau keterangan-keterangan lainnya mengenai
organisasi/badan/lembaga sosial Islam bersangkutan
yang dianggap perlu dan/atau rekomendasi dari Kepala
Perwakilan Departemen Agama setempat.
(3) Permohonan bantuan untuk Perguruan Islam Swasta tingkat
dasar, tingkat menengah pertama dan tingkat menengah atas
diajukan berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 2
Tahun 1960, dan Perguruan Islam Swasta Tingkat Tinggi
menu rut Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 1964.
(4) Permohonan bantuan untuk pembangunan/rehabilitasi
masjid/mushalla diajukan oleh pengurus tempat ibadah
tersebut dan ditujukan kepada Menteri Agama cq. Direktur
Jenderal Bimbihgan Masyarakat Islam, dengan rekomendasi
Kepala Perwakilan Departemen Agama setempat, dengan
dilampiri:
1. Susunan pengurusnya;
2. Foto tempat ibadah tersebut;

72
3. Perincian biaya yang diminta -untuk pembangunan/
rehabilitasi tempat ibadah bersangkutan.
(5) Permohonan bantl.ian untuk pembangunan/rehabilitasi dan/
atau pemeliharaan makam bersejarah diajukan oleh
pengurus makam tersebut dan ditujukan kepada Menteri
Agama cq. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
dengan rekomendasi Kepala Perwakilan Departemen Agama
setempat dengan dilampiri :
1. Riwayat hidup perjuangan tokoh/pahlawan bersangkutan;
2. Foto dari makam bersangkutan;
3. Rekomendasi dari Pemerintah Daerah setempat;
4. Perincian biaya yang diminta untuk pembangunan/
rehabilitasi makam bersangkutan.

BABIV
PENETAPAN JUMLAH PEMBERIAN BANTUAN

PasaiS
(1) Jumlah pemberian bantu an yang didasarkan atas
permohonan-permohonan yang masuk, ditetapkan oleh
Sekretaris Jenderal atau Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam sesuai dengan proporsi anggaran yang
tersedia dan peraturan yang berlaku.
(2) Prosedur pelaksanaan pemberian bantuan dilakukan sesuai
dengan peraturan keuangan yang berlaku.

BABV
PENUTUP

Pasal6
(1) Peraturan ini mulai berlaku pad a tanggal ditetapkan dan
berlaku surut sejak tanggal 1 April 1974.

73
(2) Segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan ini
ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Departemen
Agama dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
(3) Hal-hal yang belum tercantum dalam Peraturan ini, akan
diatur dengan ketentuan tersendiri.

Ditetapkan di : J a ka rt a
Pada tanggal : 6 Maret 1975
MENTER! AGAMA,

Caplttd.,

H.A. MUKTI All

74
PERATURAN INI DISAMPAIKAN KEPADA YTH. :
1. Kabinet Pembangunan;
2. Menteri Negara Bidang Kesra,
3. Menteri Keuangan;
4. Sekretariat Negara;
5. Sekretariat DPR Komisi IX;
6. Semua Departemen Bidang Kesra,
7. Badan Pemeriksa Keuangan di Jakarta;
8. Perwakilan BPK di Yogyakarta;
9. Dirjen Keuangan Departemen Keuangan;
10. Ditjen Anggaran Departemen Keuangan;
11. lrjen Keuangan Departemen Keuangan;
12. Dit. Perbendaharaan Negara di Jakarta;
13. Ditjen Pengawas Keuangan Dep. Keuangan;
14. Dit. Pengawas Anggaran Dep. Keuangan;
15. Dit. Tata Usaha Keuangan Dep. Keuangan;
16. Dit. Perjalanan Dep. Keuangan;
17. KBN di Jakarta dan seluruh Indonesia;
18. Gubernur/KDH Propinsi di seluruh Indonesia;
19. Bupati/Walikota di seluruh Indonesia;
20. Sekjen/lrjen/Dirjen/BPP di Departemen Agama;
21. Biro/Direktorat/lnspektorat/Pusat di Dep. Agama;
22. Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat di Dep. Agama
(25 exp);
23. Perwakilan Dep. Agama Prop. di seluruh Indonesia;
24. Perwakilan Dep. Agama Kab./Kodya di seluruh Indonesia.

75
PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 54 TAHUN 2006
TENTANG
SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA
BADAN KESEJAHTERAAN MASJID

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang bahwa dalam rangka peningkatan kinerja Badan


Kesejahteraan Masjid sesuai perkembangan
dan keadaan serta untuk peningkatan
pengendalian dan pengawasan dipandang perlu
menetapkan susunan organisasi dan tata kerja
sebagai pengganti Keputusan Menteri Agama
Nomor 505 Tahun 2003 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Badan Kesejah-
teraan Masjid;
Mengingat 1. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi, Tata
Kerja Departemen yang telah diubah
dengan Peraturan Presiden Nomor 62
Tahun 2005;
2. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I

76
Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006;
3. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor:
SK.178/DJA/1982 Tahun 1982 tentang
Penunjukan Badan Kesejahteraan Masjid
(BKM) Pusat Sebagai Badan Hukum Yang
Dapat Mempunyai Tanah Dengan Hak Milik;
4. Keputusan Menteri Agama Nom(!>r 373
Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi dan Kantor Departemen Agama
Kabupaten/Kota yang telah diubah dengan
Keputusan Menteri Agama Nomor 480
Tahun 2003;
5. Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun
2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Agama;

MEMUTUSKAN:
Dengan mencabut Keputusan Menteri Agama
Nomor 505 Tahun 2003 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Badan Kesejah-
teraan Masjid;

Menetapkan PERATURAN MENT~RI AGAMA TENTANG


SUSUNAN ORGANISASI OAN TATA KERJA
BADAN KESEJAHTERAAN MASJID.

77
BABI
KETENTUAN UMUM

Pasal1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Menteri adalah Menteri Agama Republik Indonesia.
2. Direktur Jenderal .adalah Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama.
3. Direktur adalah Direktur Urusan Agama Islam dan
Pembinaan Syariah.
4. Kanwil adalah Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi.
5. Kandepag adalah Kantor Departemen Agama Kabupaten/
Kota.
6. KUA adalah Kantor Urusan Agama kecamatan.
7. BKM adalah Badan Kesejahteraan Masjid.

BAB II
NAMA, FUNGSI DAN TEIOIPAT KEDUDUKAN

Pasal2
Badan Kesejahteraan Masjid yang selanjutnya disebut BKM
adalah lembaga semi resmi yang dibentuk oleh Departemen
Agama untuk meningkatkan peranan dan fungsi masjid sebagai
tempat ibadah dan sarana pembinaan umat Islam.

Pasal3
Dalam menjalankan peran dan fungsinya BKM mempunyai tugas:
a. melakukan advokasi dan kerja!?ama dengan pengurus masjid
untuk pengamanan aset dan kekayaan masjid;

78
b. melakukan pembinaan organisasi dan administrasi
pengelolaan masjid;
c. melakukan koordinasi dan kerjasama untuk meningkatkan
peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan dakwah
dalam rangka pencerahan umat melalui kegiatan ta'lim,
tazkiyah, tilawah dan ishlal;
d. mengupayakan bantuan peningkatan sarana dan prasarana,
pembangunan/re"habilitasi dan pemeliharaan masjid;
e. mengupayakan terselenggaranya konsultasi keluarga dan
penasehatan perkawinan di setiap masjid;
f. melakukan pembinaan dan bimbingan organisasi remaja
masjid;
g. melakukan koordinasi dengan organisasi-organisasi
kemasjidan baik tingkat nasional, regional maupun
internasional;
h. melakukan pembinaan dan bimbingan perpustakaan masjid;
dan
i. mengu~ayakan penyelenggaraan radio dakwah di masjid.

Pasal4

(1) BKM Pusat berkedudukan di Jakarta.


(2) BKM Provinsi berkedudukan di ibukota provinsi.
(3) BKM Kabupaten/Kota berkedudukan di ibukota kabupaten/
kota.
(4) BKM Kecamatan berkedudukan di ibukota kecamatan.
(5) BKM Desa/Kelurahan berkedudukan di desa/kelurahan.

79
BAB Ill
ASAS DAN TUJUAN

Pasal5
BKM berasaskan Pancasila dan berlandaskan iman dan takwa.

Pasal6
BKM bertujuan meningkatkan kesejahteraan masjid serta tempat
ibadah umat Islam lainnya atas dasar takwa melalui peningkatan
manajemen (idarah), kemakmuran (imarah), dan pemeliharaan
(riayah).

BABIV
SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA

Pasal7
Susunan organisasi BKM secara vertikal terdiri dari:
a. BKM Pusat;
b. BKM Provinsi;
c. BKM Kabupaten/Kota;
d. BKM Kecamatan;
e. BKM Desa/Kelurahan.

Pasal8
(1) Pengurus BKM Pusat diangkat dan diberhentikan oleh
Menteri atas usul Direktur Jenderal.
(2) Pengurus BKM Pusat terdiri dari Pembina, Pengawas Umum,
Pengawas Administrasi, Pengawas Keuangan, Ketua, Wakil
Ketua, Ketua Harian, Sekretaris, Wakil Sekretaris,
Bendahara, Wakil Bendahara, dan Bidang-bidang meliputi :
Bidang Manajemen (idarah), Bidang Kemakmuran (imarah),

80
Bidang Pemeliharaan (riayah) dan Bidang Bantuan Hukum
(Advokasi), dengan anggota bidang sesuai kebutuhan.
(3) Menteri karena jabatannya diangkat sebagai Pembina BKM
Pusat.
(4) lnspektur Jenderal Departemen Agama karena jabatannya
diangkat sebagai Pengawas Umum.
(5) Sekretaris Jenderal Departemen Agama karena jabatannya
diangkat sebagai Pengawas Administrasi.
(6) Kepala Biro Keuangan dan BMN Departemen Agama karena
jabatannya diangkat sebagai Pengawas Keuangan.
(7) Direktur Jenderal karena jabatannya diangkat sebagai Ketua.
(8) Sekretaris Ditjen Simas Islam karena jabatannya diangkat
sebagai Wakil Ketua.
(9) Direktur karena jabatannya diangkat sebagai Ketua Harian.
(1 0) Kasubdit Kemasjidan karena jabatannya diangkat sebagai
Sekretaris.
(11) Wakil Sekretaris, Bend ahara dan Wakil Bendahara, Ketua
Bidang, dan Anggota diangkat dari pejabat di lingkungan
Direktorat Jenderal dan unit kerja terkait.

Pasal9
(1) Pengurus BKM Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh
Direktur Jenderal.atas usul Kepala Kantor Wilayah.
(2) Pengurus BKM Provinsi terdiri dari Ketua, Ketua Harian,
Sekretaris, Bendahara, Bidang Manajemen (idarah), Bidang
Kemakmuran (imarah), Pemeliharaan (riayah) dan Bidang
Bantuan Hukum (Advokasi), dengan anggota sesuai
kebutuhan.

81
(3) Kepala Kanwil karena jabatannya diangkat menjadi Ketua.
Dalam hal yang bersangkutan tidak beragama Islam, Ketua
dijabat oleh Kabag TU atau pejabat setingkat yang beragama
Islam.
(4) Kepala Bidang Urusan Agama Islam karena jabatannya
diangkat me~jadi Ketua Harian.
(5) Sekretaris dijabat oleh salah seorang Kepala Seksi pada
Bidang Urusan Agama Islam.
(6) Bendahara dijabat oleh salah seorang Kepala Seksi atau
pegawai pada Bidang Urusan Agama Islam.
(7) Ketua Bidang dan anggota diangkat dari pejabat di lingkungan
Kanwil dan instansi terkait.

Pasal10
(1) Pengurus BKM Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan
oleh Kepala Kanwil atas usul Kepala Kandepag.
(2) Pengurus BKM Kabupaten/Kota terdiri dari Ketua, Ketua
Harian, Sekretaris, Bendahara, Bidang Manajemen (idarah),
Bidang Kemakmuran (imarah), dan Bidang Pemeliharaan
(riayah) dan Bidang Bantuan Hukum (Advokasi), dengan
anggota sesuai kebutuhan.
(3) Kepala Kandepag karena jabatannya diangkat menjadi
Ketua. Dalam hal yang bersangkutan tidak beragama Islam,
Ketua dijabat oleh Kabag TU atau pejabat setingkat yang
beragama Islam.
(4) Kepala Seksi Urusan Agama Islam karena jabatannya
diangkat menjadi Ketua·Harian.
(5) Sekretaris danBendahara dijabat oleh pegawai pada Seksi
Urusan Agama Islam.

82
(6) Ketua Bidang dan anggota diangkat dari pejabat/pegawai
Kandepag dan satuan.

Pasal11
(1) Pengurus BKM Kecamatan diangkat dan diberhentikan oleh
Kepala Kandepag atas usul Kepala KUA.
(2) Pengurus BKM Kecamatan terdiri dari Ketua, Sekretaris,
Bendahara, Bidang Manajemen (idarah), Bidang
Kemakmuran (imarah), Bidang Pemeliharaan (riayah) dan
Bidang Bantuan Hukum (Advokasi).
(3) Kepala KUA karena jabatannya diangkat menjadi Ketua.
(4) Sekretaris dan Bedahara dijabat oleh pegawai pada KUA.
(5) Ketika Bidang dan anggota diangkat dari Penyuluh Agama
Islam pada KUA dan instansi terkait serta unsur tokoh ulama
dan tokoh masyarakat.

Pasal12
(1) Pengurus BKM Desa/Kelurahan diangkat dan diberhentikan
oleh Kepala KUA atas pertimbangan Lurah/Kepala Desa
setempat.
(2) Pengurus BKM Kelurahan/Desa terdiri dari Ketua, Sekretaris,
Bendahara serta anggota sesuai kebutuhan.
(3) Penyuluh Agama Islam yang ada di Kelurahan/Desa yang
bersangkutan karena jabatannya diangkat menjadi Ketua.
(4) Pengurus lainnya ditunjuk dari ulama, tokoh masyarakat, guru
agama Islam dan wakil pengurus masjid yang ada di
Kelurahan/Desa yang bersangkutan sesuai kebutuhan.

Pasal13
(1) Pengurus BKM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8,
Pasal9, Pasal10, Pasal11 dan Pasal12 terdiri dari:

83
a. Pengurus Lengkap;
b. Pengurus Harian.
(2) Pengurus Lengkap meliputi seluruh unsur pengurus BKM
pada masing-masing tingkatan;
(3) Pengurus Harian yaitu mulai dari Ketua Harian sampai
kepada bidang-bidang.

Pasal14
Pengurus BKM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9,
Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 mempunyai tugas :
a. melaksanakan dan mempertanggungjawabkan usaha-usaha
untuk mencapai semua tujuan BKM sebagaimana tersebut
dalam Pasal 5 dan Pasal 6;
b. memelihara hak milik BKM baik berupa benda tidak bergerak
maupun benda bergerak;
c. mengadakan rapat Pengurus Lengkap sekurang-kurangnya
6 (enam) bulan sekali dan rapat Pengurus Harian sekurang-
kurangnya 3 (tiga) bulan sekali;
d.. menjalankan garis-garis kebijakan Menteri di bidang
pembinaan kemasjidan;
e. membuat pertanggungjawaban keuangan BKM;
f. membuat laporan perkembangan dan kegiatan BKM.

Pasal15
Laporan perkembangan, laporan kegiatan, dan laporan
pertanggungjawaban keuangan BKM disampaikan oleh:
a. BKM Desa/Kelurahan kepada BKM Kecamatan, dengan
tembusan kepada Lurah/Kepala Desa setempat;
b. BKM Kecamatan kepada BKM Kabupaten/Kota, dengan
tembusan kepada Camat setempat;

84
c. BKM Kabupaten/Kota kepada BKM Provinsi, dengan
tembusan kepada Bupati/Walikota setempat;
d. BKM Provinsi kepada BKM Pusat, dengan tembusan kepada
Gubernur setempat;
e. BKM Pusat kepada Direktur Jenderal dengan tembusan
kepada Menteri.

Pasal16
(1) Laporan perkembangan dan laporan kegiatan BKM
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 disampaikan secara
tertib setiap 3 (tiga) bulan sekali.
(2) Laporan pertanggungjawaban keuangan BKM sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 disampaikan setiap akhir bulan.

BABV
MASA JABATAN

Pasal17
(1) Pengurus BKM diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun.
(2) Setelah berakhir masa jabatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1 ), Pengurus BKM yang bersangkutan dapat diangkat
kern bali.
(3) Pengurus BKM berhenti dari jabatannya karena:
a. meninggal dunia;
b. habis masa jabatannya;
c. dipindahkan dari instansi/tempat kedudukan yang
bersangkutan dan kepengurusan BKM secara ex-officio
dijabat oleh pejabat baru;
d. diberhentikan;
e. tidak dapat melakukan tugas sebagaimana mestinya.

85
BABVI
PENDAPATAN DAN PEMBIAVAAN

Pasal18
Sumber pendapatan BKM adalah:
1. Dana APBN.
2. Dana APBD.
3. PNBP Nikah, Talak ~an Rujuk.
4. Bantuan masyarakat.
5. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan syariat
Islam, asas, dan tujuan BKM~

Pasal19
Pendapatan BKM seperti dimaksud dalam Pasal 18 adalah untuk
pembiayaan usaha-usaha BKM dalam mencapai tujuannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6.

Pasal20
Biaya administrasi penyelenggaraan BKM sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8, Pasal 9, P.asa1·1 0, Pasal 11 dan Pasal 12
dibebankan kepada anggaran BKM.

BAB VII·
KEKAVAAN

Pasal21
(1) BKM merupakan badan hukum yang dapat mempunyai tanah
dengan hak milik.
(2) Kekayaan BKM berasal dari sejumlah kekayaan yang
· dipisahkan dalam bentuk uang dan/atau barang.

86
(3) Selain kekayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
kekayaan BKM dapat diperoleh dari:
a. sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat;
b. wakaf;
c. hibah;
d. hibah wasiat; dan
e. perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran
Dasar BKM dan atau peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

BAB VIII
TUGAS BENDAHARAWAN

Pasal22
Bendaharawan BKM bertugas mengadministrasikan semua
kekayaan BKM berupa uang, benda tidak bergerak, dan benda
bergerak.

Pasal23
(1) Kekayaan yang berwujud _uang harus disimpan dalam
rekening BKM pada bank pemerintah.
(2) Bendaharawan BKM dibenarkan menyimpan uang tunai
BKM dalam kasnya untuk pengeluaran-pengeluaran rutin
untuk kepentingan BKM.

BABIX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal24
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur
kemudian oleh Ketua Harian BKM Pusat dengan persetujuan
Direktur Jenderal Simas Islam.

87
(2) Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 27 November 2006
MENTERI AGAMA REPUBLIK
INDONESIA,

Cap/ttd.

MUHAMMAD M. BASYUNI

88
KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 44 TAHUN 1978
TENTANG
PELAKSANAAN DAKWAH AGAMA DAN KULIAH SUBUH
MELALUI RADIO

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dakwah agama dan kuliah subuh


melalui radio merupakan upaya penyam-
paian ajaran agama kepada masyarakat
berfungsi dan bertujuan menyerukan,
mengajak ummat beragama pada jalan
yang benar dan memperkokoh persatuan
serta kesatuan bangsa guna meningkatkan
amal dalam usaha bersama membangun
masyarakat selaras dengan penghayatan
dan pengamalan Pancasila;
b. bahwa agar dakwah agama dan kuliah
subuh melalui radio dapat berjalan sesuai
dengan fungsi dan tujuan tersebut di atas,
maka perlu dijaga kemungkinan masuknya
unsur-unsur yang bertujuan menyalah-
gunakan tujuan dakwah itu sendiri yang
dapat mengganggu stabilitas keamanan
nasional;
c. bahwa oleh karena itu dan untuk mening-
katkan pembinaan masyarakat beragama
yang Pancasilais dan masyarakat
Pancasila yang Agamais, perlu ditetapkan
keputusan guna pengaturan pelaksanaan
dan pengawasan dakwah agama dan kuliah
subuh melalui radio.

89
Mengingat 1. Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 17 ayat
3 dan Pasal 29;
2. Ketetapan MPR Nomor : 11/MPR/1978;
3. Ketatapan MPR Nomor : IV/MPR/1978;
4. Keputusan Presiden R.I. Nomor 44 dan
Nomor 45 Tahun 1974;
5. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975 (disempurnakan).
Memperhatikan: Hasil Pembicaraan Menteri Agama dan
Pangkopkamtib tanggal 20 Mei 1978.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan KEPUTUSAN MENTER! AGAMA TENTANG


PELAKSANAAN DAKWAH AGAMA DAN KULIAH
SUBUH MELALUI RADIO.
Pertama Pelakanaan dakwah agama dan kuliah subuh
melalui radio tidak memerlukan izin terlebih
dahulu, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menganggu stabilitas nasional,
b. tidak mengganggu jalannya pembangunan
nasional;
c. tidak bertentangan dengan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
Kedua Aparat Departemen Agama di daerah dalam hal
ini Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Propinsi/sederajat, Kepala Kantor Departemen
Agama Kabupaten/Kotamadya dan Kepala
Kantor Urusan Agama Kecamatan berkewajiban
memberikan bimbingan dan pengawasan atas
pelaksanaan dakwah agama dan kuliah subuh

90
melalui radio di daerah wewenang masing-
masing sesuai dengan kebijaksanaan Menteri
Agama dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Ketiga Segala ketentuan dan peraturan yang
bertentangan dengan Keputusan ini dinyatakan
tidak berlaku lagi.
Keempat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di : J A KA RTA
Pada tanggal : 23 Mei 1978
MENTERI AGAMA,

Cap/ttd.,

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

91
KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 70 TAHUN 1978
TENTANG
PEDOMAN PENYIARAN AGAMA

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa kerukunan hidup antar umat


beragama merupakan syarat mutlak bagi
persatuan dan kesatuan bangsa serta
pemantapan stabilitas nasional dan
keamana nasional;
b. bahwa dalam rangka usaha memantapkan
kerukunan hidup antar umat beragama
pemerintah berkewajiban untuk melindungi
setiap usaha pengembangan dan penyiaran
agama;
c. bahwa oleh karena itu perlu diatur tentang
pedoman penyiaran agama.
Mengingat 1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 17 ayat
3 dan Pasal 29;
2. Ketetapan MPR Rl Nomor: IV/MPR/1978,
3. Keppres Nomor 44 dan 45 Tahun 1974;
4. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975 (disempurnakan).
Memperhatikan: Petunjuk Bapak Presiden Republik Indonesia
tanggal 24 Mei 1978.

MEMUTUSKAN

Menetapkan KEPUTUSAN MENTER! AGAMA TENTANG


PEDOMAN PENYIARAN AGAMA.

92
Pertama Untuk menjaga Stabilitas Nasional dan demi
tegak kerukunan antar umat beragama,
pengembangan dan penyiaran agama supaya
dilaksanakan dengan semangat kerukunan,
tenggang rasa, teposeliru, saling menghargai
hormat-menghormati antar. urn at beragama
sesuai jiwa Pancasila.
Kedua Penyiaran agama tidak dibenarkan untuk :
a. Ditujukan terhadap orang dan atau orang-
orang yang telah memeluk sesuatu agama
lain;
b. Dilakukan dengan menggunakan bujukan/
pemberian materiil, uang, pakaian,
makanan/minuman, obat-obatan dan lain-
lain agar supaya orang tertarik untuk
memeluk sesuatu agama;
c. Dilakukan dengan cara-cara penyebaran
pamflet, buletin, majalah, buku-buku dan
sebagainya di daerah-daerah/di rumah-
rumah kediaman umat/orang yang
beragama lain;
d. Dilakukan dengan cara-cara masuk keluar
dari rumah ke rumah orang yang telah
memeluk agama lain dengan dalih apapun.
Ketiga Bilamana ternyata pelaksanaan pengembangan
dan penyiaran agama sebagaimana yang
dimaksud diktum kedua, menimbulkan
terganggunya kerukunan hidup antar umat
beragama akan diambil tindakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Keempat Seluruh Aparat Departemen Agama sampai ke
daerah-daerah diperintahkan untuk melakukan

93
pengawasan terhadap pelaksanaan Keputusan
ini dan selalu mengadakan konsultasilkoordinasi
dengan unsur Pemerintah dan tokoh-tokoh
masyarakat setempat.
Kelima Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di : J A KA RTA
Pada tanggal : 1 Agustus 1978
MENTER I AGAMA,

Gap/ttd.,

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

KEPUTUSAN ini disampaikan kepada Yth. :


1. Bapak Presiden R.I.;
2. Menko Kesra;
3. Para Menteri Kabinet Pembangunan Ill;
4. Kejaksaan Agung R.I. di Jakarta;
5. Ketua Bakin di Jakarta;
6. Pangkopkamtib di Jakarta;
7. Ketua Bappenas/BAKN/LIPI/LAN di Jakarta;
8. Sekretariat Negara;
9. Sekretariat Kabinet Pembangunan Ill;
10. Sekjen DPR R.I.;
11. Sekretariat Komisi IX DPR R.I.;
12. Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Dep. Kehakiman;
13. Sekjen/lrjen/Para Dirjen/Kabad Litbang Agama Dep. Agama,
14. Gubernur KDH Tk. I Propinsi Seluruh Indonesia;
15. Para Kepala Biro/Direktur/lnspektur/Kepala Puslitbang
Agama Ka. Pusdiklat Pegawai Dep. Agama;

94
16. Laksuswil Seluruh Indonesia;
17. Laksusda Seluruh Indonesia;
18. Rektor lAIN Seluruh Indonesia;
19. Para Sekretaris Ditjen, ltjen, Badan Litbang Agama Dep.
Agama;
20. Ketua Pengadilan linggi Islam/MIT/MIT Cabang/Mahkamah
Syari'ah Propinsi/Kerapatan Qadi Besar di Seluruh Indonesia;
21. Kepala Kanwil Dep. Agama Propinsi/Setingkat di Seluruh
Indonesia;
22. Bupati KDH Tk. 11/Kabupaten/Kotamadya di Seluruh
Indonesia;
23. Ketua Pengadilan Agama/Mahkamah Syari'ah, Kerapatan
Qadi di Seluruh Indonesia;
24. Kepala Kandepag Kodya/Kabupaten di Seluruh Indonesia;
25. Bagian Dokumentasi Biro Hukum dan Humas Dep. Agama
(15 exp.);
26. Pimpinan Majelis Ulama Indonesia di Jakarta;
27. Pimpinan Pusat Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI);
28. Pimpinan Majelis Ulama Tk. Propinsi Seluruh Indonesia;
29. Pimpinan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI);
30. Pimpinan Pusat Parisada Hindu Dharma;
31. Pimpinan Pusat Majelis Agung Agama Budha (MABI).

95
KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 77 TAHUN 1978
TENTANG
BANTUAN LUAR NEGERI
KEPADA LEMBAGA KEAGAMAAN DIINDONESIA

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka memantapkan


persatuan dan kesatuan bangsa serta
stabilitas dan ketahanan Nasional, maka
kehidupan beragama perlu dibina dan
diarahkan guna memantapkan kerukunan
hidup intern ummat beragama, kerukunan
hidup antar ummat beragama serta
kerukunan antar ummat beragama dengan
Pemerintah;
b. bahwa bantuan Luar Negeri kepada
Lembaga Keagamaan di Indonesia dalam
rangka mengembangkan kehidupan
beragama perlu diatur dan diarahkan agar
supaya terhindar pengaruh negatif yang
dapat mengganggu persatuan dan
kesatuan bangsa, kerukunan hidup intern
dan antar ummat beragama, serta stabilitas
dan ketahanan nasional yang semakin
man tap.
Mengingat 1. Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29 dan
Pasal 17 ayat (3);
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia Nomor : IV/MPR/
1978 tentang Garis-garis Besar Haluan
Negara;

96
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 44 dan 45 Tahun 1974 tentang
Pokok-pokok Organisasi Departemen dan
Susunan Organisasi Departemen;
4. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Agama (disempurnakan);
5. Keputusan Menteri Agama Nomor 22 Tahun
1978 tentang Pertimbangar 'Rekomendasi
atas Rohaniawan Warg2. i-..Jegara Asing
yang melakukan kegiatan di bidang Agama
di Indonesia.
Memperhatikan: 1. Sapta Krida Kabinet Pembangunan Ill;
2. Petunjuk Bapak Presiden Republik Indonesia
tanggal 14 Maret 1978;
3. Hasil Pembicaraan Menteri Agama dan
Pangkopkamtib tanggal 20 Mei 1978.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI AGAMA TENTANG


BANTUAN LUAR NEGERI KEPADA LEMBAGA
KEAGAMAAN Dl INDONESIA.

Pasal1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
a. Bantuan Luar Negeri ialah segala bentuk bantuan berasal
dari Luar Negeri yang berwujud bantuan tenaga, materiil dan
atau financiel yang diberikan oleh Pemerintah Negara Asing,
Organisasi dan atau perseorangan kepada Lembaga
Keagamaan dan atau Perseorangan di Indonesia dengan

97
cara apapun yang bertujuan atau dapat diduga bertujuan
untuk membantu pembinaan, pengembangan dan penyiaran
agama di Indonesia.
b. Lembaga keagamaan ialah organisasi, Perkumpulan, Badan
Yayasan dan lain-lain bentuk Lembaga Keagamaan yang
usahanya bertujuan membina, mengembangkan, dan
menyiarkan agama yang secara kelembagaan/instansional
dikelola oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama.

Pasal2
Bantuan Luar Negeri seperti dimaksud Pasal 1 huruf a
Keputusan ini hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat
persetujuan/rekomendasi dan melalui Menteri Agama.

Pasal3
(1) Dalam rangka pembinaan, pengembangan, penyiaran dan
bimbingan terhadap umat beragama di Indonesia, maka
penggunaan tenaga asing untuk pengembangan dan
penyiaran agama dibatasi.
(2) Warga Negara Asing yang ada di Indonesia yang tugas
pokoknya di luar bidang agama, hanya dibenarkan melakukan
kegiatan di bidang agama secara insidental, setelah
mendapat izin dari Menteri Agama atau pejabat yang
ditunjuknya.
(3) Lembaga Keagamaan seperti dimaksud Pasal 1 huruf b
Keputusan ini dapat menggunakan warga negara asing untuk
melakukan kegiatan di bidang agama, setelah mendapat izin
dari Menteri Agama.
(4) Lembaga Keagamaan seperti dimaksud Pasal 1 huruf b
Keputusan ini wajib mengadakan program pendididikan dan
latihan, dengan tujuan agar dalam waktu yang ditentukan

98
tenaga-tenaga warga negara Indonesia dapat menggantikan
tenaga asing yang melakukan kegiatan di bidang agama
tersebut.
(5) Program Pendidikan dan Latihan seperti dimaksud ayat (4)
pasal ini harus dilakukan selambat-lambatnya enam bulan
setelah ditetapkannya Keputusan ini dan selesai
dilaksanakan selambat-lambatnya dua tahun setelah
pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan tersebut.

Pasal4
Lembaga Keagamaan yang menerima bantuan Luar Negeri yang
ternyata tidak memenuhi ketentuan Pasal2, Pasal3 ayat (3), ayat
(4) dan ayat (5) Keputusan ini dan warga negara asing yang
melanggar ketentuan Pasal 3 ayat (2) Keputusan ini, dapat
diambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pasal5
Direktur Jenderal Simas Islam, Direktur Jenderal Simas Kristen
Protestan, Direktur Jenderal Simas Katolik dan Direktur Jenderal
Simas Hindu dan Sudha Departemen Agama serta Kepala Kantor
Wilayah Departemen Agama melaksanakan Keputusan ini dan
mengambil langkah-langkah yang diperlukan serta memberikan
laporan pelaksanaan Keputusan ini.

Pasal6
(1) Segala sesuatu yang bertentangan dengan Keputusan ini
dinyatakan tidak berlaku lagi.
(2) Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur
lebih lanjut oleh Menteri Agama.

99
Pasal7
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J A KA RTA
Pada tanggal : 15 Agustus 1978
MENTER I AGAMA,

Cap/ttd.,

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

KEPUTUSAN ini disampaikan ·kepada Yth. :


1. Bapak Presiden R.I.;
2. Menko Kesra;
3. Para Menteri Kabinet Pembangunan Ill;
4. Kejaksaan Agung R.I. di Jakarta;
5. Ketua Bakin di Jakarta;
6. Pangkopkamtib di Jakarta;
7. Ketua Bappenas/BAKN/LIPI/LAN di Jakarta;
8. Sekretariat Negara;
9. Sekretariat Kabinet Pembangunan Ill;
10. Sekjen DPR R.I.;
11. Sekretariat Komisi IX DPR R.I.;
12. Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Dep. Kehakiman;
13. Sekjen/lrjen/Para Dirjen/Kabad Litbang Agama Dep. Agama,
14. Gubernur KDH Tk. I Propinsi Seluruh Indonesia;
15. Para Kepala Biro/Direktur/lnspektur/Kepala Puslitbang
Agama Ka. Pusdiklat Pegawai Dep. Agama;
16. Laksuswil Seluruh Indonesia;
17. Laksusda Seluruh Indonesia;
18. Rektor lAIN Seluruh Indonesia;

100
19. Para Sekretaris Ditjen, ltjen, Badan Litbang Agama Dep.
Agama; ..
20. Ketua Pengadilan Tinggi Islam/MIT/MIT Cabang/Mahkamah
Syari'ah Propinsi/Kerapatan Qadi Besar di Seluruh Indonesia;
21. Kepala Kanwil Dep. Agama Propinsi/Setingkat di Seluruh
Indonesia;
22. Bupati KDH Tk. 11/Kabupaten/Kotamadya di Seluruh
Indonesia;
23. Ketua Pengadilan Agama/Mahkamah Syari'ah, Kerapatan
Qadi di Seluruh Indonesia;
24. Kepala Kandepag Kodya/Kabupaten di Seluruh Indonesia;
25. Bagian Dokumentasi Biro Hukum dan Humas Dep. Agama
(15 exp.);
26. Pimpinan Majelis Ulama Indonesia di Jakarta;
27. Pimpinan Pusat Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI);
28. Pimpinan Majelis Ulama Tk. Propinsi Seluruh Indonesia;
29. Pimpinan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI);
30. Pimpinan Pusat Parisada Hindu Dharma;
31. Pimpinan Pusat Majelis Agung Agama Budha (MABI).

101
KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI AGAMA Rl.
NOMOR : 128 TAHUN 1982
44A TAHUN 1982
TENTANG
USAHA PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS
HURUF AL-QUR' AN BAG I UMAT ISLAM
DALAM RANGKA PENINGKATAN PENGHAYATAN DAN
PENGAMALAN AL-QUR' AN
DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI AGAMA Rl,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan


amanat Presiden Republik Indonesia pada
Upacara Peringatan Nuzulul Qur'an tahun
1975 di Jakarta dan pada upacara
pembukaan MTQ Nasional ke IX tahun 1976
di Samarinda tentang perlunya peningkatan
pemahaman maksud dan makna AI-Qur'an
serta pengamalannya dipandang perlu
menggiatkan usaha peningkatan kemam-
puan baca tulis huruf AI-Qur'an dikalangan
Ummat Islam;
b. bahwa untuk melaksanakan maksud
tersebut di atas dipandang perlu menetap-
kan Keputusan Bersama Menteri Dalam
Negeri dan Menteri Agama Rl, agar usaha
peningkatan kemampuan baca tulis huruf
AI-Qur'an bagi Ummat Islam dalam
rangka meningkatkan penghayatan dan
pengamalan AI-Qur'an dalam kehidupan
sehari-hari, dapat diselenggarakan dengan
efektif dan terarah dalam rangka pelak-

102
sanaan program kegiatan Lembaga
Pengembangan Tilawatil Qur'an.
Mengingat 1. Pasal 17 ayat (3) dan Pasal 29 Undang-
Undang Dasar 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Nomor 11/MPR/1978 tentang
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila;
3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Nomor : IV/MPR/1978 tentang
Garis-garis Besar Haluan Negara;
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Pemerintah di
Daerah;
5. Keputusan Presiden R.I. Nomor 14 Tahun
1974 tentan Pokok-pokok Organisasi
Departemen;
6. Keputusan Presiden R.I. Nomor 45 Tahun
1974 tentang Susunan Organisasi
Departemen;
7. Keputusan Presiden R.I. Nomor 10 Tahun
1978 jo Nomor 22 Tahun 1981 tentang
Perubahan Lampiran 14 Keputusan
Presiden R.I. Nomor 45 Tahun 1974;
8. Keputusan Presiden R.I. Nomor 57 Tahun
1980 jo Keputusan Presiden R.I. Nomor 62
Tahun 1980;
9. Keputusan Menteri Agama R.I. Nomor 18
Tahun 1975 (disempurnakan) tentang
Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Agama jo Nomor 6 Tahun

103
1979 tentang Penyempurnaan Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Agama jo Nomor 6 Tahun 1979 tentang
Penyempurnaan Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Agama;
10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 72
Tahun 1981 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Dalam Negeri;
11. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri
dan Menteri Agama R.I.
19 Tahun 1977
Nomor : - - - - - - - tentang
151 Tahun 1977
Pembentukan Lembaga Pengembangan
Tilawatil Qur'an.

MEMUT"USKAN:

Menetapkan KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI DALAM


NEGERI DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK
INDONESIA TENTANG USAHA PENINGKATAN
KEMAMPUAN BACA TULIS HURUF AL-QUR'AN
BAGI UMMAT ISLAM DALAM RANGKA
PENINGKATAN PENGHAYATAN DAN
PENGAMALAN AL-QUR'AN DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI.
Pertama Meningkatkan kemampuan baca tulis huruf AI-
Qur'an bagi ummat Islam dalam rangka
Pelaksanaan usaha Lembaga ~engembangan
Tilawatil Qur'an (LPTQ) untuk "Meningkatkan
Penghayatan dan Pengamalan AI-Qur'an dalam
kehidupan sehari-hari" sebagaimana dimaksud
dalam Keputusan Bersama Menteri Dalam

104
Negeri dan Menteri Agama R.l
19 Tahun 1977
Nomor : - - - - - - - tentang Pembentukan
151 Tahun 1977
Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an.
Kedua Usaha Peningkatan Keniampuan Baca Tulis
Huruf AI-Qur'an dalam garis besarnya adalah
sebagai berikut :
a. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Mengkoordinasikan Perencanaan Program
Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Huruf
AI-Qur'an dalam wilayah daerahnya secara
teknis perencanaan program disiapkan oleh
Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Propinsi;
b. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II mengkoordinasikan Perencanaan
Pelaksanaan Program Peningkatan
Kemampuan Baca Tulis Huruf AI-Qur'an
dalam Wilayah Daerahnya secara teknis
perencanaandisiapkan oleh Kepala Kantor
Departemen Agama Kabupaten/Kota-
madya;
c. Camat mengkoordinasikan pelaksanaan
program Peningkatan Kemampuan Baca
Tulis Huruf AI-Qur'an dalam wilayahnya
secara teknis pelaksanaan program
disiapkan oleh Kepala Kantor Urusan
Agama Kecamatan bersama Pemilik
Pendidikan Agama Islam, termasuk
mempersiapkan Guru/Juru Penerang
Agama Islam;

105
d. Kepala Desa/Lurah mengatur pelaksanaan
Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Huruf
AI-Qur'an di Desa/Kelurahannya;
e. Guru/Juru Penerang Agama Islam
melaksanakan Peningkatan Kemampuan
Baca Tulis Huruf AI-Qur'an.
Ketiga Pelaksanaan Usaha Peningkatan Kemampuan
Baca Tulis Huruf AI-Qur'an berpedoman pada
petunjuk Menteri Agama dan Menteri Dalam
Negeri.
Keempat Pembiayaan kegiatan Usaha Peningkatan
Kemampuan Baca Tulis Huruf AI-Qur'an dalam
rangka pelaksanaan program kegiatan LPTQ :
a. Untuk Tingkat Nasional bersumber pada
bantuan Pemerintah dan sumbangan
masyarakat;
b. Untuk Tingkat Daerah bersumber pada
bantuan Pemerintah Daerah dan
sumbangan masyarakat.
Kelima Keputusan Bersama ini mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di :JAKARTA
Pada tanggal : 13 Mei 1982

MENTERI AGAMA MENTERI DALAM NEGERI

ttd. ttd.

H. Alamsjah Ratu Perwiranegara H. Amir Machmud

106
INSTRUKSI MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 4 TAHUN 1978
TENTANG
KEBIJAKSANAAN MENGENAI ALIRAN-ALIRAN
KEPERCAYAAN

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang : a. bahwa setelah ditetapkannya Ketetapan
MPR Nomor: IV/MPR/1978 tentang Garis-
garis Besar Haluan Negara, dianggap perlu
untuk mengeluarkan suatu instruksi tentang
kebijaksanaan mengenai aliran-aliran
kepercayaan, guna dijadikan pegangan
oleh peiabat-pejabat Departemen Agama,
baik di Pusat maupun di daerah-daerah.
Mengingat 1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Pasal29;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Nomor: IV/MPR/1978;
3. Keputusan Presiden Nomor 44 dan Nomor
45 Tahun 1974;
4. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975;
5. lnstruksi Menteri Agama Nomor 13 Tahun
1975;
6. Hasil Konsultasi Menteri Agama dengan
Presiden pada tanggal 3 April 1978.

MENGINSTRUKSIKAN :
Kepada 1. Sekjen, lrjen, para Dirjen dan Kepala Badan
Litbang Agama;
2. Para Rektor lAIN Seluruh Indonesia;

107
3. Para Ketua Mahkamah Tinggi Islam/
Kerapatan Qadi Besar/Pengadilan Agama
Tingkat Banding Seluruh Indonesia;
4. Para Kepala Kantor Wilayah Departemen
Agama Propinsi/Setingkat Seluruh Indone-
sia, dalam lingkungan Departemen Agama.
Untuk Dalam melaksanakan tugas sejauh yang
menyangkut kepercayaan supaya berpedoman
kepada ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Nomor : MPR/1978, tentang Garis-
garis Besar Haluan Negara yang antara lain
menyatakan bahwa : Kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak
merupakan Agama.
2. Sehubungan dengan angka 1 (satu) di atas,
maka Departemen Agama yang tugas
pokoknya adalah melaksanakan sebagian
tugas Pemeritahan Umum dan Pemba-
ngunan di bidang Agama, tidak akan
mengurusi persoalan-persoalan Aliran-
aliran Kepercayaan, yang bukan
merupakan Agama tersebut.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 11 April 1978
MENTERI AGAMA,

Cap/ttd.,

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

TEMBUSAN lnstruksi ini disampaikan kepada Yth. :


1. Bapak Presiden R.I. (sebagai laporan).
2. Semua Menteri Kabinet Pembangunan Ill.

108
INSTRUKSI MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 3 TAHUN 1987
TENTANG
BIMBINGAN DAN PEMBINAAN KEPADA
BADAN HUKUM KEAGAMAAN SEBAGAI NADZIR DAN
BADAN HUKUM KEAGAMAAN YANG MEMILIKI TANAH

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang : a. bahwa masih terdapat Organisasi/Lembaga
Keagamaan Islam yang belum jelas
keberadaannya sehingga perlu ditingkatkan
kedudukannya untuk memperoleh status
sebagai badan hukum;
b. bahwa banyak Organisasi/Lembaga
Keagamaan Islam yang menguasai tanah
baik didapat dari wakaf maupun didapat
dengan cara lain, tetapi administrasi/
pencatatannya sebagai Nadzir dan Status
Pemilikan Tanah yang didapat dengan cara
lain tersebut belum diselesaikan menurut
Peraturan Perundangan yang berlaku;
c. bahwa untuk memberikan bimbingan dan
pembinaan dipandang perlu menetapkan
lnstruksi Menteri Agama.
Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun
1961 tentang Pendaftaran Tanah;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun
1963 Penunjukan Badan-badan Hukum

109
yang dapat mempunyai Hak Milik Atas
Tanah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
1977 tentang Perwakafan Tanah Milik;
5. Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun
1978 tentang Peraturan Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
1977 tentang Perwakafan Tanah Milik;
6. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Agama yang telah
diubah dan disempurnakan, terakhir dengan
Keputusan Menteri Agama Nomor 75 Tahun
1984;
7. lnstruksi Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri
1 Tahun 1978
Nomor : - - - - - - tentang
1 Tahun 1978
Pela:ksanaan Peraturan Pemerintah Nomor
28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah
Milik.

MENGINSTRUKSIKAN :
Kepada PARA KEPALA KANTOR WILAYAH DEPAR-
TEMEN AGAMA SELURUH INDONESIA
Untuk 1. Memberikan bimbingan dan pembinaan
kepada Organisasi/Lembaga Keagamaan
Islam, Pengurus Masjid, Lembaga
Pendidikan Islam, Lembaga Sosial
Kemasyarakatan Islam dan Lembaga
Keagamaan Islam lainnya agar berusaha

110
meningkatkan keberadaannya dengan
mengurus kedudukannya sehingga menjadi
Badan Hukum;
2. Memberikan bimbingan dan pembinaan
kepada Organisasi/Lembaga Keagamaan
agar menyelesaikan administrasi per-
wakafan tanah bagi tanah-tanah yang telah
dikuasainya untuk dicatat/didaftar;
3. Memberikan bimbingan dan pembinaan
kepada Organisasi/Lembaga Keagamaan
Islam yang pada hakikatnya memiliki tanah
yang tidak sekedar sebagai pemakai atau
penguasa saja tetapi berusaha untuk
mendapat hak atas tanah yang telah
dicatat/terdaftar sebagai tanah wakaf/tanah
milik ke kantor Agraria setempat;
4. Dalam memberikan bimbingan dan
pembinaan tersebut haruslah berpedoman
kepada perundang-undangan yang berlaku;
5. Memberikan bantuan memperlancar proses
yang harus dilakukan bagi Organisasil
Lembaga Keagamaan Islam tersebut untuk
memperoleh kedudukan baik sebagai
nadzir maupun dalam memperoleh hak-hak
atas tanah;
6. Memberikan laporan tentang pelaksanaan
instruksi ini kepada Menteri Agama cq.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat
Islam dan Urusan Haji.

111
lnstruksi ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 24 Oktober 1987
MENTER I AGAMA Rl,

Cap/ttd.,

H. MUNAWIR SJADZALI

TEMBUSAN lnstruksi ini dikirim kepada :


1. Menke Kesra di Jakarta;
2. Menteri Dalam Negeri di Jakarta;
3. Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji di Jakarta;
4. Dirjen Agraria Dep. Dalam Negeri di Jakarta;
5. Gubernur KDH Tk. 1/Propinsi di Seluruh Indonesia;
6. Bupati KDH Tk. 11/Kab/Kodya Seluruh Indonesia;
7. Kepala Kandepag Kab/Kodya Seluruh Indonesia;
8. Karo Hukum dan Humas Dep. Agama di Jakarta.

112
INSTRUKSI MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 3 TAHUN 1990
TENTANG
PELAKSANAAN UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN
BACA TULIS HURUF AL-QUR' AN

MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka tindak lanjut dari


Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri
dan Menteri Agama Nomor 128 dan 44A
Tahun 1982, dan Keputusan Bersama
Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri
Nomor 182A Tahun 1988 dan Nomor 48
Tahun 1988 sebagai salah satu program
Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an
(LPTQ), perlu pelaksanaan upaya
peningkatan kemampuan baca tulis huruf
AI-Qur'an;
b. bahwa upaya kegiatan kemampuan baca
tulis huruf AI-Qur'an yang diselenggarakan
oleh berbagai Lembaga Da'wah, Lembaga
Pendidikan dan Lembaga Keagamaan
lainnya yang telah berjalan selama ini
dalam berbagai bentuk dan jenisnya di
berbagai tempat terutama masjid, langgar,
mushalla, taman bacaan AI-Qur'an, sekolah
dan tempat pengajian lainnya perlu lebih
ditingkatkan lagi dan disebarluaskan secara
me rata;
c. bahwa untuk melaksanakan maksud huruf
a dan b di atas perlu dikeluarkan lnstruksi
Menteri Agama Republik Indonesia.

113
Mengingat 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 1974, tentang Pokok-pokok
Pemerintahan di Daerah;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 1979, tentang Pemerintahan Desa;
3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989,
tentang Sistem Pendidikan Nasional;
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 44 Tahun 1974, tentang Pokok-
pokok Organisasi Departemen;
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 15 Tahun 1984, tentang Susunan
Organisasi Departemen yang telah diubah
dan disempurnakan terakhir dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 4 Tahun 1990;
6. Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun
1989, tentang Pembantu Pegawai Pencatat
Nikah (PPN);
7. Keputusan Menteri Agama Nomor 18 Tahun
1975, tentang Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Agama yang telah
diubah dan disempurnakan terakhir dengan
Keputusan Menteri Agama Nomor 75 Tahun
1984;
8. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri
dan Menteri Agama
128 Tahun 1982
Nomor : - - - - - - - tentang Usaha
44A Tahun 1982
Peningkatan Kemampuan Baca Tulis AI-
Qur'an Bagi Ummat Islam Dalam Rangka

114
Peningkatan Penghayatan dan Pengamalan
AI-Qur'an Dalam Kehidupan Sehari-hari.
9. Keputusan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Dalam Negeri
182A Tahun 1988
Nomor : - - - - - - - tentang
48 Tahun 1988
Pengembangan Organisasi Lembaga
Pengembangan Tilawatil Qur'an;
10. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan dan Menteri Agama
Nomor 0198/U/1985 dan Nomor 35 Tahun
1985, tentang Pelaksanaan Pendidikan
Agama di Sekolah/Kursus di lingkungan
Pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

MENGINSTRUKSIKAN :
Pertama
Kepada 1. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Propinsi di seluruh Indonesia untuk
mengkoordinasikan pelaksanaan program
peningkatan kemampuan baca tulis huruf
AI-Qur'an di kalangan ummat Islam di
Wilayahnya/Daerah Tingkat I masing-
masing, serta bertanggung jawab kepada
Menteri Agama.
2. Kepala Kantor Departemen. Agama
Kabupaten/Kotamadya di seluruh Indonesia
untuk mengkoordinasikan pelaksanaan
program peningkatan kemampuan baca

115
tulis huruf AI-Qur'an di kalangan ummat
Islam di Wilayahnya/Daerah Tingkat II
masing-masing, serta bertanggung jawab
kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen
Agama Propinsi.
3. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan
di seluruh Indonesia untuk mengkoordi-
nasikan pelaksanaan program peningkatan
kemampuan baca tulis AI-Qur'an di kalangan
ummat Islam di wilayahnya/kecamatan
masing-masing, serta bertanggung jawab
kepada Kepala Kantor Departemen Agama
Kabupaten/Kotamadya.
Kedua Peningkatan kemampuan baca tu.lis huruf AI-
Qur'an tersebut meliputi l~ngkungan masjid,
surau, mushalla, langgar, kantor, lembaga
dakwah, organisasi Islam, majelis taklim,
sekolah umum, perguruan agama, dan
lembaga-lembaga lainnya yang dapat
dimanfaatkan untuk itu.
Ketiga Dalam pelaksanaan instruksi tersebut diktum
pertama agar dikoordinasikan dan dikonsul-
tasikan dengan Pemerintah Daerah, instansi
terkait, dan Lembaga Pengembangan Tilawatil"
Qur'an (LPTQ) setempat.
Keempat Pembiayaan untuk pelaksanaan instruksi
tersebut diktum pertama dibebankan kepada
alokasi dana yang tersedia baik APBN maupun
APBD serta swadaya masya~akat seperti Zakat
lnfaq dan Sadaqah (ZIS) sesuai dengan
lnstruksi Menteri Agama Nomor 16 Tahun 1989
tentang Badan Amil Zakat lnfaq dan Sadaqah.

116
Kelima lnstruksi ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 26 September 1990
MENTER I AGAMA AI,

ttd.

H. MUNAWIR SJADZALI

Tembusan:
1. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat;
2. Menteri Dalam Negeri;
3. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan;
4. Sekjen/lrjen/Kabalitbang/Staf Ahli Menteri di lingkungan
Departemen Agama;
5. Para lnspektur/Kepala Puslitbang Agama/Kepala Pusdiklat
Pegawai di lingkungan Departemen Agama dan para
Direktur di lingkungan Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji
dan Ditjen Binbaga Islam;
6. Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Agama;
7. .Para Sekretarus Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji dan
Ditjen Binbaga Islam;
8. Para Gubernur KDH Tk. I di Seluruh Indonesia;
9. Para Bupati!Walikota KDH Tk. II di Seluruh Indonesia;
10. Para Camat di Seluruh Indonesia.

117
Dikutip dari Pedoman Pejabat Kantor-kantor Agama Jilld ke Ill hal. 711
MASALAH FURU'IYYAH CHILAFIYAH
SURAT EDARAN KAGRI TANGGAL 12 JUNI1952 NOMOR: ANIV9221

Kepada Yth.
Prepinsi/Daerah/Kabupaten
di-
SELURUH INDONESIA

Dengan ini kami permaklumkan, bahwa berhubung dengan


masih terjadinya perselisihan-perselisihan di beberapa daerah
mengenai masalah Furu'iyyah Chilafiyah, maka mengingat bahwa
tugas Kementerian Agama bukan mengurus langsung seal-seal
intern dari masing-masing Agama, dengan ini kami peringatkan
sebagai berikut :
1. Hendaklah Saudara tidak mencampuri masalah-masalah
furu'iyyah Chilafiyyah semacam itu.
2. Bila di daerah Saudara terdapat perselisihan mengenai seal-
seal semacam itu, hendaklah Saudara berusaha mendamai-
kannya dengan kebijaksanaan sebaik-baiknya.
3. Di dalam melakukan kewajiban tersebut hendaknya Saudara
bersifat adil dan tidak memihak pada salah satu pihak,
meskipun Saudara sebagai perseen (bukan sebagai
pegawai) menjadi anggauta dari salah satu gelengan yang
sedang berselisih itu.
4. Bila di dalam kantor Saudara terdapat pegawai yang dalam
melakukan tugasnya mencampuri/memihak salah satu
faham yang sedang berselisih itu, harap Saudara peringatkan
seperlunya, dan di mana perlu Saudara dapat bertindak
dengan tegas terhadap pegawai tersebut.
Demikianlah harap menjadi perhatian Saudara.

MENTER I AGAMA AI.


d.t.e.,
( H. FAKIH USMAN )

118
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
Jl. MerdekalJtara
JAKARTA
Jakarta, 19 Agustus 1957.
Nomor B/1/22/1 0627
Lamp.
Hal Kedudukan pegawai-
pegawai dalam lingkungan
Kementerian Agama.
Kepada
Yth.Saudara-saudara Kepala :
1. Jawatan Urusan Agama di Jakarta,
2. Jawatan Pendidikan Agama di Jakarta.
3. Jawatan Penerangan Agama di
Jakarta.
4. Biro Peradilan Agama di Jakarta.
5. Mahkamah Islam Tinggi di Surakarta.
6. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
di Yogyakarta.
7. Semua Kantor Urusan Agama/
Pendidikan Agama/Penerangan
Agama Propinsi dan yang sederajat di
seluruh Indonesia.
8. Semua Kantor Urusan Agama/
Pendidikan Agama Kabupaten dan
yang sederajat di seluruh Indonesia.
9. Semua Sekolah dalah lingkungan
Kementerian Agama di seluruh
Indonesia.
10. Bahagian/Sub Bahagian/Seksi di
Pusat Kementerian Agama di Jakarta
untuk dilakukan dan disampaikan
kepada para pegawai-pegawainya di
dalam lingkungannya dan diteruskan
ke Daerah-daerah.

119
DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
SEKRETARIAT JENDERAL
JL. M.H. THAMRIN NOMOR 6
JAKARTA

KEPADA
YTH. : PARA KEPALA KANTOR WILAYAH
DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI/
SETINGKAT
Dl-
SELURUH INDONESIA
Hal : Dakwah dan kuliah subuh
melalui radio.

SURAT EDARAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 3 TAHUN 1978

Sebagai kelanjutan Keputusan Menteri Agama Nomor 44


Tahun 1978 dan lnstruksi Menteri Agama Nomor 9 Tahun 1978,
agar supaya da'wah dan kuliah Subuh melalui radio dapat berjalan
sebagaimana mestinya, dianggap perlu mengeluarkan surat
edaran sebagai berikut :
I. Pengertian Da'wah Agama
Pengertian da'wah agama, dalam hal ini da'wah agama
Islam antara lain meliputi : ·
1. Pengajian-pengajian baik harian, mingguan, tengah bulan
atau bulanan.
2. Majelis-majelis Ta'lim di Masjid, di Pesantren atau di
Madrasah atai.J di rumah-rumah baik untuk kaum lbu, para
Bapak, campuran atau khusus untuk para pemuda dan
remaja.
3. Peringatan-peringatan hari Besar Islam seperti : Tanggal
1 Muharram memperingati peristiwa Hijrah Nabi

120
Muhammad SAW, peringatan Maulid, peringatan lsra'
Mi'raj, peringatan Nuzulul Qur'an atau menyambut awal
Ramadhan, Hari Raya ·ldul Fitri, Halal Bihalal, Hari Raya
ldul Qurban, Malam Takbiran.
4. Upacara-upacara seperti perkawinan, khitanan,
khataman AI-Qur'an, kematian, pembukaan masjid,
langgar, madrasah, pesantren, akhir masa sekolah/
Madrasah, ulang tahun/imtihan Pesantren/Lembaga
Pendidikan Agama Islam dan lain-lain, pemberangkatan
dan kembalinya Jemaah Haji.
5. Ceramah-ceramah agama yang diadakan di Kantor-
kantor aula, balai pertemuan,_lembaga pemasyarakatan,
daerah transmigr~si, suku ~etasing dan lain-lain.
6. Drama atau pertunjukan kesenian bernafaskan agama,
kasidah, rebana, lukisan, brosur, leaflet dan seterusnya.
7. Usaha pembangunan untuk maslahat orang banyak
seperti membuat Madrasah, Sekolah, Poliklinik,
Perpustakaan, Rumah Sakit, Rumah Miskin, saluran air
dan lain-lain.

II. Pengertian kuliah Subuh melalui radio


1. Kuliah subuh melalui radio yaitu semua acara-acara
keagamaan yang dilakukan melalui radio baik radio
da'wah, radio swasta niaga, radio daerah atau radio
Republik Indonesia dalam berbagai bentuknya seperti :
(a) Pengajian AI-Qur'an;
(b) Tarhim;
(c) Pembacaan sholawat;
(d) Pembacaan terjemahan AI-Qur'an, AI Hadits,
tuntunan Agama Islam lainnya yang berasal dari kitab/
buku yang dikarang oleh para Ulama/Pengarang
Islam;

121
(e) Ceramah agama Islam yang berisi tuntunan
beragama Islam dalam berbagai ajarannya.
2. Dengan kuliah Subuh di radio dimaksudkan ialah seluruh
acara-acara tersebut di atas yang dilakukan lewat radio
dan disiarkan secepat-cepatnya 15 menit sebelum waktu
shalat Subuh.

Ill. Tern pat da'wah. agama


Sebagaimana tersebut dalam bagian I, da'wah agama
dapat dilakukan di berbagai tempat yang memungkinkan
seperti:
1. Masjid/Mushalla; 8. Tanah lapang;
2. Madrasah; 9. Lembaga Pemasyarakatan;
3. Pesantren; 10. Sekolah;
4. Kantor; 11. Ruang kuliah dan lain-lain;
5. Aula; 12. Taman kesenian;
6. Balai Pertemuan; 13. Panggung dan lain-lain.
7. Rumah;

IV. lsi/Bahan da'wah


lsi bahan da'wah agama Islam berasal dari berbagai
sumber antara lain :
1. AI-Qur'anul Karim,
2. Hadits;
3. Kitab-kitab atau buku agama Islam yang ditulisoleh
Ulama/ Pengarang lslan;
4. Pendapat penceramah/Muballigh Islam yang tidak
bertentangan dengan Pancasila, UUD 45 dan ketentuan
perundangan yang berlaku lainnya.

V. Larangan-larangan
Da'wah agama atau kuliah Subuh melalui radio dilarang
atau tidak boleh bertentangan dengan Pancasila UUD 45,

122
· menghambat jalannya pembangunan Nasional atau meng-
ganggu stabilitas politik. Beberapa contoh larangan :
1. Menghina atau merendahkan Pancasila dan UUD '45;
2. Menghina atau merendahkan Pejabat Negara yang
sedang melakukan tugas;
3. Menghasut;
4. Menghina sesuatu golongan politik, sosial, agama, keper-
cayaan;
5. Mengganggu stabilitas pertahanan dan keamanan
Negara;
6. Mengganggu kelancaran pembangunan Nasional.

VI. Anjuran-anjuran
1. Agar da'wah dapat berhasil baik sesuai dengan maksud
mengajak kepada jalan yang benar dan diridloi Allah
SWT. hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang
bijaksana, lemah-lembut, tidak melukai dan mampu
.menunjukkan ketinggian ajaran yang dida'wahkan baik
dengan bukti-bukti perbuatan maupun kenyataan sejarah
atau dalil-dalil yang benar.
2. Perlu juga diadakan klasifikasi di antara pendengar atau
pesertanya yang sedikit banyak mempunyai persamaan
dalam latar belakang pemikiran dan pengetahuannya
seperti:
a. Kaum remaja;
b. Anak-anak;
c. Para wanita;
d. Buruh;
e. Pegawai;
f. Mahasiswa dan lntelektuil;
g. Petani;
h. Dan lain-lain.

123
VII. Da'i atau juru da'wah
1. Pada dasarnya setiap Muslim berkewajiban berda'wah,
namun pemilihan da'i hendaknya disesuaikan keahlian-
nya dengan masyarakat pendengar baik ia berasal dari
daerah yang bersangkutan, kota kabupaten, lbukota
Propinsi atau lbukota Negara.
2. Da'i yang bukan warganegara Indonesia hanya dapat di-
benarkan berda'wah bilamana telah memperoleh izin dari
Kepolisian setempat.

VIII. Persiapan dan pelaksanaan


1. Da'wah baik yang dilakukan secara pengajian, ceramah
dan lain-lain hendaknya dilakukan dengan mengadakan
persiapan terlebih dahulu.
2. Sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam UUD '45
pasal 29, dan Keputusan serta lnstruksi Menteri Agama
tersebut di atas, seluruh kegiatan da'wah agama dan
kuliah subuh melalui radio adalah tidak memerlukan izin.
3. Da'wah yang dilakukan di lapangan denqan peserta/
jama'ah yang lebih dari 300 (tiga ratus) orang harus
memberitahukan kepada Kepolisian (petugas
keamanan) setempat untuk minta bantuan pengamanan.

IX. Proses pemberitahuan


1. Surat pemberitahuan dialamatkan kepada
a. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat
untuk mendapatkan bimbingan/pengawasan;
b. Kepala Polisi (petugas keamanan) setempat untuk
mendapatkan bantuan pengamanan.
2. Surat pemberitahuan asli tersebut dikirim kepada alamat
paling lambat tiga hari sebelumnya melalui karier dengan

124
mempergunakan buku ekspedisi atau surat pengantar,
sebagai tanda bukti bahwa pemberitahuan telah
dilaksanakan.
3. Dalam surat pemberitahuan supaya diterangkan :
a. identitas penanggung-jawab;
b. identitas da'i atau penceramah;
c. dalam rangka apa da'wah ini diselenggarakan;
d. susunan acara lengkap.
4. Tanpa menunggu jawaban pemberitahuan tersebut,
da'wah dapat dilaksanakan.

X. Bimbingan dan pengawasan.


1. Bentuk bimbingan yang dapat diberikan antara lain
adalah:
a. Memberikan bahan-bahan tertulis baik isi da'wah,
maupun yang menyangkut metodologi;
b. Mengadakan penataran atau up grading untuk
meningkatkan kecakapan teknis maupun isi;
c. Memberi kesempatan untuk peninjauan, mengikuti
pendidikan di luar daerahnya dan lain-lain;
d. Diskusi antar Mubaligh;
e. Kunjungan silaturrahmi.
2. Bentuk pengawasan yang dilakukan :
a. Bilamana diketahui dengan jelas terdapat pelanggaran
atas larangan di atas dilakukan teguran lisan secara
bijaksana;
b. Bilamal'1a masih juga terjadi pelanggaran agar
diperingatkan secara tertulis. .
c. Bilamana masih juga melanggar setelah ada
peringatan tertulis, pejabat kantor Departemen
Agama setempat melaporkannya kepada pihak
Keplisian.

125
3. Hendaknya P2A yang merupakan Badan Kerjasama
antara Pemerintah dan masyarakat, dan Majelis Ulama
Indonesia dapat bekerjasama untuk mensukseskan
Keputusan dan lnstruksi Menteri Agama tersebut di atas.
4. lnstansi Departemen Agama setempat mencatat data-
data da'wah di daerahnya untuk melaporkannya kepada
atas-an.
5. Dalam melaksanakan bimbingan dan pengawasan
hendaknya aparat Departemen Agama berusaha
meningkatkan koordinasi dengan Kepolisian dan
Organisasi da'wah setempat.

XI. Pen u t up
Demikianlah surat edaran ini dikeluarkan untuk dapat
dipedomani dengan sebaik-baiknya.

Dikeluarkan di : Jakarta
Pada tanggal : 29 Juni 1978
MENTER! AGAMA,

ttd.

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

SURAT EDARAN ini disampaikan Yth. :


1. Bapak Presiden R.I. sebagai laporan;
2. Menhankam/Pangab;
3. Pangkopkamtib;
4. Menteri Dalam Negeri;
5. Para Kepala Stat Angkatan dan Kapolri;

126
6. Jaksa Agung R.I.;
7. Kepala BAKI N;
8. Para Laksuswill, II, 111, dan IV,
9. Para Laksusda;
10. Para Gubernur Kepala Daerah lingkat I,
11. Para Kadapol;
12. Para Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi;
13. Ketua Majelis Ulama Seluruh Indonesia;
14. Ketua Dewan Gereja-gereja di Indonesia;
15. Ketua Majelis Agung Wali Gereja Indonesia;
16. Ketua Parisada Hindu Dharma;
17. Bagian Dokumentasi Biro Hukum dan Humas Departemen
Agama (15 exp.).

127
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
Merdeka Utara No.7
JAKARTA

Jakarta, 14 Maret 1953.


Nomor A/11/97/Rh.
Lamp.
Hal Ta'addud Jema'ah
Kepada
Yth. GUBERNUR JAWA TIMUR
Di-
SURABAYA

Dengan hormat,

Berhubung dengan surat Saudara Residen Malang yang


dialamatkan kepada Saudara tanggal 7 Pebruari 1953 Nomor :
Poi/116/Rahasia, yang tindasannya dikirimkan kepada kami juga,
terlebih dahulu kami kemukakan, bahwa sebagai telah maklum
pada dasarnya menurut Peraturan-peraturan yang berlaku, bagi
setiap penduduk di Indonesia diakui hak kemerdekaannya untuk
memeluk agama masing-masing dan untuk beribadah menurut
agama dan kepercayaannya, oleh karena mana kekuasaan
Pemerintah umumnya dan Kementerian Agama khususnya
terbatas sampai hal-hal yang bersangkut paut dengan
Pemerintahan, sehingga soal-soal intern agama, selama itu tidak
diatur dalam Undang-undang atau Peraturan-peraturan yang syah
tiadalah boleh dicampuri. Bahkan terhadap agama Kristen dan
Roma Katolik diakui juga prinsip-prinsip dan anutan-anutan
mereka yang bersumber pada azas-azas di sekitar dalil "scheding
tusschen Kerk en Staat".

Dalam hal-hal mengenai intern agama yang menimbulkan


perselisihan paham, Kementerian Agama tidak dapat bercampur
tangan dengan jalan memaksakan sesuatu pendirian, walaupun
pendirian dari suatu golongan yang besar, akan tetapi hanya
bertindak sebagai abiter antara pihak yang berkepentingan

128
dengan mengusahakan supaya perselisihannya diputuskan oleh
kedua pihak dalam suasana damai dan merdeka, sehingga bagi
Kementerian Agama, kebijaksanaan dan politik yang terbaik ialah:
menyerahkan sepenuhnya kepada kedua pihak pendirian mana
dan keputusan yang bagaimana akan diambilnya tentang soal-
soal khilafiah, asal dapat mencapai persetujuan yang sesuai
dengan tujuan bersama, kesatuan, keamanan, kemerdekaan dan
kesusilaan.

Mengingat akan hal. itu, maka mengenai soal perselisihan


faham tentang masjid Nur di Tompokersan (Lumajang) yang
dikemukakan oleh Sdr. Bupati Lumajang, pendirian Kementerian
Agama adalah sebagai berikut :

Sebagaimana telah sama dimaklumi inti dari kewajiban


bersembahyang Jum'ah, selain menunaikan tugas terhadap Allah,
ialah agar penduduk dalam satu desa, sekura:ng-kurangnya sekali
dalam satu minggu berkumpul untuk bersilaturahmi dalam satu
tempat. Apabila tempat yang telah disediakan tidak muat lagi,
barulah pertemuan itu diadakan dalam dua tempat. Begitu
seterusnya.

Lepas dari soal khilafiah, kalau benar, mesjid yang sudah


bisa digunakan untuk bersembahyang Jum'ah masih dapat
memuat jama'ah di desa (dusun) itu, tidaklah ada alasan untuk
mendirikan Jum'ah di lain tempat lagi.

Kalau benar-benar mesjid yang kedua sangat mengingat


adanya shalat Jum'ah di tempat itu, sebagai jalan tengah, baik
diatur secara begitu, inipun kalau letak dan besarnya ada
seimbang.

Berhubung dengan yang diaturkan di atas, terlepas dari soal-


soal yang mungkin menimbulkan pelanggaran hukum pidara, dan
jika soalnya masih belum dapat dipecahkan, baiklah kiranya
Bupati dan Kepala Kantor Urusan Agama dengan memperguna-

129
kan segala kebijaksaan, mengumpulkan pihak-pihak yang
berkenaan dan memberi peneranan serta anjuran-anjuran yang
kiranya dapat menginsyafkan kedua pihak akan kepentingan
mereka bersama yang lebih penting dengan menyampaikan soal-
soal yang kurang penting, menginsyafkan aka:n kewajiban
menjunjung tinggi kemerdekaan sesama warga negara dan
golongan-golongan dan kemudian menyalurkan kedua pihak ke
arah putusan yang sewajar guna melenyapkan segala
pertentangan. Dalam pada itu dapatlah sekali memperbesar
kerjasama kedua pihak dalam mencapai tujuan-tujuan bersama
mereka untuk mencapai kesempurnaan ketaatan kepada
agamanya, masing-masing memakai toleransi sepatutnya
terhadap siapa atau golongan apapun juga.

Dapat pula kanii kemukakan .di sini, bawah dalam kesulitan-


kesulitan lain yang timbul dikemudian hari, cara penyelesaian
arbitrair sebagai tersebut di atas, kami persilahkan dengan
hormat untuk dipergunakan oleh Pemerintah Daerah dengan
bantuan-bantuan/bersama-sama dengan Kepala Kantor Urusan
Agama setempat.
MENTERI AGAMA R.I.
Sekretariat Jenderal,

ttd.

R.MOH. KAFRAWI
Tindasan kepada Yth. :
1. Kementerian Dalam Negeri;
2. Residen Malang;
3. Bupati Lumajang;
4. Jaura Jakarta;
5. Kuap Jawa Timur Surabaya;
6. Kuak Lumajang;
7. Japena.

130
MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 18 Oktober 1978


Nomor B. Vl/11215f78
Lamp.
Hal Masalah penyebutan
Agama, perkawinan,
Kepada Yth. :
sumpah dan
Para Gubernur
penguburanjenazah
Kepala Daerah Tk. I
bagi umat beragama
Di-
yang dihubungkan
SELURUH INDONESIA
dengan Ali ran
Kepercayaan.

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan dari daerah


mengenai masalah-masalah penyebutan agama, perkawinan,
sumpah, penguburan jenazah bagi ummat beragama yang
dihubungkan dengan Kegiatan aliran Kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, maka kami sampaikan dengan hormat
pokok-pokok kebijaksanaan Pemerintah sebagai berikut:
1. Ketetapan MPR Rl Nomor : IV/MPR/1978 tentang Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) telah menegaskan bahwa
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak
merupakan agama dan pembinaannya tidak mengarah
kepada pembentukan agama baru.
2. Dalam Pidato Kenegaraan Bapak Presiden Republik
Indonesia Soeharto di depan Sidang DPR tanggal 16 Agustus
1976 ditegaskan pula :
"Dalam kesempatan ini saya ingin menambah
-penjelasan tentang Kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha !=sa yang dalam kenyataannya memang
merupakan bagian dari kebudayaan Nasional kita.
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah

131
agama dan juga bukan agama baru. Karena itu tidak
perlu dibandingkan, apalagi dipertentangkan dengan
agama.
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah
kenyataan budaya yang hidup dan dihayati oleh sebagian
bangsa kita. Pada dasarnya kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan warisan dan
kekayaan rohaniyah rakyat kita. Kita tidak dapat
memungkirinya begitu saja.
Akan tetapi kitapun menyadari bahwa di dalam
pertumbuhannya pernah terjadai satu dua aliran
kepercayaan_ yang berkembang tidak selaras dengan
landasan falsafah oegara kita.
Dalam pada itu kitapun menyadari bahwa perkembangan
kepercayaan:..kepercayaan tersebut jangan sampai
mengarah pada pembentukan agama baru. Oleh
karenanya · pembinaan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang _Maha Esa harus diarahkan pada pembinaan budi
luhur bangsa kita.
Dalarri pembinaan budi luhur itu jelas tercakup
pembinaan sikap takwa_ terhadap Tuhan Yang Maha Esa
dan rasa horrriat terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
sehingga makin kuatlah rasa keagamaan mereka.
Sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan, maka
pembinaan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa akan diletakkan dalam lingkungan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan".
3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan mengingat pula
bahwa masalah-masalah penyebutan agama, perkawinan,
sampah, penguburan jenazah adalah menyangkut keyakinan
agama, maka dalam Negara Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila tidak dikenal adanya tata cara
perkawinan, sumpah dan penguburan menurut A/iran

132
Kepercayaan, dan tidak dikenal pula penyebutan "A/iran
Kepercayaan" sebagai "agama" baik dalam Kartu Penduduk
(KTP) dan lain-lain.
4. Oleh karena ali ran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa bukan agama tetapi merupakan bagian dari kebudayaan,
maka orang beragama/pemeluk agama yang mengikuti a/iran
kepercayaan tidaklah kehilangan agama yang dipeluknya.
Oleh karena itu pula tidak ada tata cara "perkawinan menurut
a/iran kepercayaan" dan "Sumpah menurut a/iran
kepercayaan".
5. Dalam hubungannya dengan Perkawinan, Pasal 2 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
ditegaskan bahwa "Perkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu".
Selanjutnya dalam penjelasan atas Undang-Undang tersebut
dinyatakan bahwa, "dengan perumusan Pasal 2 ayat (1) ini,
tidak ada kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang-
Undang Dasar 1945. Yang dimaksud dengan hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk
ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan
agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak
bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-
undang ini". Di dalam penjelasan Umum Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 197 4 itu disebutkan berbagai hukum
perkawinan bagi golongan warga negara dan berbagai
daerah, di mana tidak adalterdapat penyebutan hukum yang
berlaku bagi golongan a/iran kepercayaan.
6. Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974, maka perkawinan hanya sah menurut hukum
agama, tidak ada perkawinan di luar hukum agama.
· Berhubungan dengan itu tata cara "hidup bersama tanpa
perkawinan/nikah" tidak dibenarkan (dilarang), karena

133
bertentangan dengan norma-norma agama dan peraturan
perundang-undangan.
7. Dengan demikian jelas bahwa untuk Warga Negara Republik
Indonesia, maka perkawinan hanyalah sah apabila dilakukan
menurut syarat-syarat agama (vide pasal 2 ayat 1 Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1974). Tata cara perkawinan
dilakukan menurut agama masing-masing dengan
mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-
masing hukum agamanya, dan perkawinan dilaksanakan di
hadapan Pegawai Pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi
(vide pasal 10 ayat (2) dan (3) PP Nomor 9 Tahun 1975).
Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan
perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh
Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan
Rujuk dan Pencatatan Perkawinan dari mereka yang
melangsungkan perkawinannya menurut agama dan
kepercayaan (baca agama) itu selain Islam dilakukan oleh
Pegawai Pencatat Perkawinan pada Kantor Catalan Sipil
sebagaimana dimaksud dalam berbagai peraturan
perundang-undangan mengenai pencatatan perkawinan
(pasal 2 ayat (1) dan (2) PP Nomor 9 Tahun 1975).
Dengan adanya ketentuan tersebut dalam pasal ini, maka
pencatatan perkawinan dilakukan hanya oleh dua instansi,
yakni Pegawai Pencatat Nikah, Talak dan Rujuk dan Kantor
Catatan Sipil atau instansi/pejabat yang membantunya
(penjelasan pasal 2 ayat (1) dan (2) PP Nomor 9 Tahun
1975).
8. Dalam rangka memelihara dan memantapkan keamanan
dan ketertiban masyarakat, maka keresahan ummat
beragama yang diakibatkan adanya tata cara perkawinan
menurut aliran kepercayaan Sapto Darmo di Yogyakarta
kiranya perlu dicegah terjadinya di daerah lain dan
selanjutnya dilarang.

134
Sehubungan dengan itu, kami menyambut baik dan
berterima kasih kepada saudara Jaksa ,Agung Republik
Indonesia yang telah mengeluarkan surat keputusan Jaksa
Agung Republik Indonesia tanggal 21 September 1978
Nomor : KEP-089/J.A/9/1978 tentang larangan pengedaran/
penggunaan Surat Kawin yang dikeluarkan oleh Yayasan
Pusat Srati Darma Yogyakarta.

Demikian untuk menjadikan maklum, dan dimohon bantuan


para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk mengamankan
pelaksanaannya dan menyebarluaskan dalam daerah masing-
masing.

Atas bantuan para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I kami


ucapkan banyak-banyak terima kasih.

MENTERI AGAMA Rl,

Cap/ttd.

H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA

Tembusan disampaikan kepada Yth. :


1. Bapak Presiden Republik Indonesia (sebagai laporan);
2. Sdr. Menko Kesra;
3. Sdr. Menteri Dalam Negeri dan Para Menteri Kabinet
Pembangunan Ill,
4. Sdr. Menteri Hankam;
5. Sdr. Pangkopkamtib;
6. Sdr. Jaksa Agung;
7. Sdr. Ketua Bakin;
8. Sdr. Para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Dep. Agama;
9. Sdr. Kepala Kantor Wilayah Dep. Agama Propinsi/sederajat;
10. Sdr. Laksuswil dan Laksusda di Seluruh Indonesia.

135
MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN
Jakarta, 21 Oktober 1978
Nomor : A/593/1978
Lamp.
Hal : Tempat lbadah/ Kepada
Mushalla. Yth. Pimpinan Oepartemen/
Lembaga Tinggi Negara
Non Oepartemen
di-
JAKARTA
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Untuk meningkatkan kehidupan beragama serta penghayatan dan
Pengamalan Pancasila dalam masyarakat Indonesia terutama bagi para
Karyawan/Pegawai, dengan ini diharapkan agar lnstansi-instansi baik
Pemerintah maupun swasta yang belum memiliki tempat-tempat lbadah
(Mushalla) dalam waktu yang tidak terlalu hendaknya memiliki tempat
lbadah dimaksud serta memberikan kesempatan bagi para Karyawan
untuk melaksanakan lbadah pada waktunya.
Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan terima kasih.

Was sa I am,
MENTER I AGAMA Rl,
Cap/ttd.
H. ALAMSJAH RATU PERWIRANEGARA
SALINAN sesuai dengan aslinya
yang menyalin,
ttd.
H. ADNAN HASBY
NIP. :150102665

Tembusan:
1. Gubernur KOH Tingkat I Propinsi/01/0KI
di Seluruh Indonesia;
2. Kepala Kanwil Oep. Agama Propinsi/01/0KI
di Seluruh Indonesia.

136