Anda di halaman 1dari 10

A.

RESUME PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN


1. Latar belakang
Beberapa hal yang mendasari lahirnya UU Keperawatan yakni :
a. bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum sebagai salah satu tujuan
nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diselenggarakan pembangunan
kesehatan;
b. bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwujudkan melalui
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan;
c. bahwa penyelenggaraan pelayanan keperawatan harus dilakukan secara
bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan terjangkau oleh perawat
yang memiliki kompetensi, kewenangan, etik, dan moral tinggi;
d. bahwa mengenai keperawatan perlu diatur secara komprehensif dalam
Peraturan Perundang-undangan guna memberikan pelindungan dan kepastian
hukum kepada perawat dan masyarakat;
2. Pengertian Perawat
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan,
baik di dalam maupun di Iuar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan (Pasal 1 (2) UU No. 38 Tahun 2014).
Pengertian ini berbeda dengan yang tertuang dalam Permenkes 148/2010, dalam
Pasal 1 (1) berbunyi “Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat
baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan peraturan perundangundangan”.
UU keperawatan hanya mengakui profesi perawat harus lulusan perguruan tinggi,
tetapi Permenkes tidak tegas, dapat saja lulusan perguruan tinggi atau sekolah.
Profesi perawat dibedakan menjadi (a) Perawat profesi dan (b) Perawat
vokasi. Yang dimaksud perawat profesi terdiri atas ners dan ners spesialis (Pasal 4
ayat (1,2) UU No. 38 Tahun 2014). Mereka adalah luluasan dari pendidikan tinggi
keperawatan (Program Sarjana dan Pascasarjana). Sedangkan perawat vokasional
adalah mereka yang berpendidikan Diploma Tiga Keperawatan (Pasal 6 (1,2) UU
No.38 Tahun 2014).
3. Praktik dan asuhan keperawatan
UU No. 38 Tahun 2014, memberi penegasan bahwa perawat dalam
menjalankan profesinya, dibedakan antara praktik dan asuhan keperawatan. Praktik
keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh perawat dalam bentuk
asuhan keperawatan (Pasal 1 (4)). Sedangkan yang dimaksud asuhan keperawatan
adalah rangkaian interaksi perawat dengan klien dan Iingkungannya untuk mencapai
tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya (Pasal
1 (5)).
4. Kewenangan
Pasal 29 ayat (1), UU No. 38 Tahun 2014, tugas perawat selain memberikan
asuhan keperawatan, juga sebagai penyuluh dan konselor bagi klien, sebagai
pengelola pelayanan keperawatan, peneliti keperawatan, juga sebagai pelimpah
kewenangan dan keadaan keterbatasan tertentu. 184 Jurnal Dunia Kesmas Volume
4. Nomor 3. Juli 2015 Kewenangan pelayanan keperawatan secara perorangan,
dilakukan melalui pengkajian keperawatan secara holistik, menetapkan diagnosis
keperawatan, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan
keperawatan, dan mengevaluasi hasil keperawatan, melakukan rujukan, memberi
tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai kompetensinya, memberikan kunsultasi
keperawatan dan berkolaborasi dengan dokter, melakukan penyuluhan kesehatan
dan konseling, dan melakukan penatalaksanaan pemberian obat kepada klien sesuai
dengan resep tenaga medis atau obat bebas dan obat bebas terbatas (Pasal 30 (1) UU
No. 38 Tahun 2014).
5. Hak dan Kewajiban Perawat
Pasal 36 UU No. 38 Tahun 2014 telah memberi batasan mengenai hak profesi
perawat. Hak-hak tersebut adalah: (a). memperoleh pelindungan hukum sepanjang
melaksanakan tugas sesuai dengan standar pelayanan, standar profesi, standar
prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan; (b).
memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur dari klien dan/atau keluarganya;
(c). menerima imbalan jasa atas pelayanan keperawatan yang telah diberikan; (d).
menolak keinginan klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode etik,
standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur operasional, atau ketentuan
peraturan perundangundangan; dan (e). memperoleh fasilitas kerja sesuai dengan
standar. Sedangkan kewajibannya diatur dalam pasal 37, yaitu Perawat dalam
melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban: (a). melengkapi sarana dan
prasarana pelayanan keperawatan sesuai dengan standar pelayanan keperawatan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan; (b). memberikan pelayanan keperawatan
sesuai dengan kode etik, standar pelayanan keperawatan, standar profesi, standar
prosedur operasional, dan ketentuan peraturan perundang-undangan; (c). merujuk
klien yang tidak dapat ditangani kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang
lebih tepat sesuai dengan lingkup dan tingkat kompetensinya; (d).
mendokumentasikan asuhan keperawatan sesuai dengan standar; (e). memberikan
informasi yang lengkap, jujur, benar, jelas, dan mudah dimengerti mengenai
tindakan keperawatan kepada klien dan/atau keluarganya sesuai dengan batas
kewenangannya; (f). melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga
kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi perawat; dan (g). melaksanakan
penugasan khusus yang ditetapkan oleh pemerintah.
6. Hak dan kewajiban pasien
Hak-hak pasien (Pasal 38 UU 38 Tahun 2014), yaitu (a) mendapatkan
informasi secara, benar, jelas, dan jujur tentang tindakan keperawatan yang akan
dilakukan; (b) meminta pendapat perawat lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya;
(c). mendapatkan pelayanan keperawatan sesuai dengan kode etik, standar
pelayanan keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan
ketentuam peraturan perundangundangan; (d). memberi persetujuan atau penolakan
tindakan keperawatan yang akan diterimanya; dan (e). memperoleh keterjagaan
kerahasiaan kondisi kesehatannya. Sedangkan kewajiban pasien adalah (Pasal 40)
(a). memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur tentang masalah
kesehatannya; b. mematuhi nasihat dan petunjuk perawat; (c). mematuhi ketentuan
yang berlaku di fasilitas pelayanan kesehatan; dan (d). memberikan imbalan jasa
atas pelayanan yang diterima.
7. Konsil Keperawatan
UU Keperawatan telah mengatur lembaga yang diberi kewenangan untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan berkaitan dengan praktik keperawatan,
khususnya malpraktik keperawatan agar terwujud kepastian hukum. Pasal 47 (1)
dijelaskan, untuk meningkatkan mutu praktik keperawatan dan untuk memberikan
perlindungan serta kepastian hukum kepada perawat dan masyarakat, dibentuk
Konsil Keperawatan. Salah satu tugas Konsil berkaitan dengan praktik keperawatan
adalah menegakkan disiplin praktik perawat (Pasal 49 ayat (2) huruf (e)).
Sedangkan dalam menjalankan tugas tersebut, Konsil berwenang: menyelidiki dan
menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin profesi perawat
(Pasal 50 huruf (c)); menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi perawat
(Pasal 50 huruf (d)).
8. Sanksi Disiplin
Pasal 58 UU No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan telah mengatur sanksi
administratif yang dapat djatuhkan apabila perawat melanggar disiplin. Ayat (1)
menegaskan, setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 18 ayat (1): perawat
menjalankan praktik keperawatan wajib memiliki STR; Pasal 21: perawat yang
menjalankan praktik mandiri harus memasang papan nama praktik keperawatan;
Pasal 24 ayat (1): Perawat warganegara asing yang akan menjalankan praktik di
Indonesia harus mengikuti evaluasi kompetensi; dan Pasal 27 ayat (1): Perawat
warga negara Indonesia lulusan luar negeri yang akan melakukan praktik
keperawatan di Indonesia harus mengikuti proses evaluasi kompetensi. Bentuk
sanksi yang dapat dijatuhkan pada perawat profesional, dijelaskan pada pasal 58
ayat (2), yaitu: sanksi administratif berupa: a. teguran lisan; b. peringatan tertulis; c.
denda administrati; dan/atau d. pencabutan izin. Berdasarkan uraian di atas
berkaitan dengan sanksi perawat profesional ternyata UU No. 38 Tahun 2014 hanya
mengatur ancamanya bersifat administratif. Tidak ada satu pasal pun ancamannya
berupa denda (ganti rugi), kurungan, atau pidana penjara. Pada hal bisa saja seorang
perawat profesional melakukan mal praktik keperawatan.
B. ANALISIS KEBIJAKAN
1. Analisis Kebijakan Prospektif
Analisis kebijakan prospektif merupakan bentuk analisis kebijakan yang
memuat informasi sebelum suatu aksi kebijakan dimulai dan diimplementasikan.
Apakah suatu kebijakan yang dibentukan berjalan sesuai pertimbangan-
pertimbangan yang telah ditetapkan. Bentuk analisis kebijakan yang mengarahkan
kajiannya pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan "sebelum" suatu kebijakan
diterapkan. Model ini dapat disebut dengan model produktif. karena seringkali
melibatkan teknik-teknik peramalan (forecasting) untuk memprediksi kemungkinan
kemungkinan yang akan timbul dari suatu kebijakan yang akan diusulkan.
Selain masalah kesejahteraan dan tuntutan hukum kepada perawat, masalah
pendidikan keperawatan juga merupakan problem yang harus dibenahi, khususnya
mengenai jenjang pendidikan yang masih beragam dan belum ada standardisasi
pendidikan
Untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat dan
tenaga keperawatan, serta perlu adanya undang-undang keperawatan ini maka
Dewan Perwakilan Rakyat telah memasukan Rancangan Undang-Undang
keperawatan dan Alhamdulillah sekarang sudah inkra menjadi sebuah
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26
TAHUN 2019 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 38 TAHUN 2014 TENTANG KEPERAWATAN

2. Analisis Kebijakan Retrospektif.


Analisis kebijakan retrospektif adalah penciptaan dan pemindahan informasi
setelah suatu tindakan atau kebijakan diambil dan diimplementasikan. Analisis
kebijakan yang dilakukan terhadap akibat-akibat kebijakan "setelah" suatu
kebijakan diimplementasikan. Model ini biasanya disebut model evaluatif, karena
banyak menggunakan pendekatan evaluasi terhadap dampak kebijakan yang sedang
dan atau telah diterapkan.
BAB III tentang PERIZINAN Pasal 4 menyatakan bahwa Perawat harus
memiliki sertifikat kompetensi atau sertifikat profesi dan persyaratan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dampak dari UU Keperawatan
ini, mengharuskan seorang luluasan keperawatan harus melalui suatu ujian yang
disebut uji kompetensi untuk bisa diberi kewenangan memberikan pelayanan
keperawatan baik di sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta
atau membuka klinik pribadi, sehingga banyak lulusan perawat yang harus
menjalani ujian berkali kali untuk mendapatkan pengakuan atau tersertifikasi. Hal
ini menuai banyak pro dan kontra dikalangan aktivis keperawatan.
Dampak positifnya adalah perawat memiliki kepastian tentang kewenangan
yang dimiliki dan system pendidikan keperawatam yang tertata rapi. Dengan adanya
peraturan tentang hak dan keperawatan, diharapkan agar pada Perawat bisa
mendapatkan hal-hal yang memang sudah menjadi haknya serta melakukan hal-hal
yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Setelah hak dan kewajibannya terpenuhi,
perawat sangat perlu untuk memenuhi hak dan tanggung jawab klien, agar asuhan
keperawatan yang diberikan dapat maksimal sehingga keselamatan klien tetap
terjaga.
3. Analisis Kebijakan Integratif
Model Integratif, yaitu perpaduan antara model prospektif dan retrospektif
Model ini kerap kali disebut model komperehen sifat auholistik, hal ini dikarenakan
analisis ini didasarkan oleh konsekuensi-konsekuensi kebijakan yang mungkin
sebelum atau sesudah dilaksanakan atau dioperasikan
Undang – undang Keperawatan Nomor 38 Tahun 2014 menjawab kebutuhan
akan adanya perlindungan secara hukum dalam Praktik Keperawatan di Indonesia,
dalam pembuatan Rancangan Undang – undang Keperawatan tersebut terdapat
unsur kepentingan politik sehingga terdapat beberapa pasal tidak sesuai dengan
esensi Caring dalam Keperawatan yaitu pasal 29, pasal 30, pasal 33 dan pasal 35
terkait Curing yaitu tindakan medis dan pengobatan terbatas, darurat dan keadaan
keterbatasan tertentu.
Kompetensi perawat dalam Pendidikan Profesional Keperawatan (Ners) tidak
memasukan kompetensi dalam melakukan tindakan medis dan pengobatan terbatas,
darurat dan keadaan keterbatasan tertentusehingga besar kemungkinan terjadinya
tindakan Malpraktik, oleh karena perlunya Undang – undang Keperawatan
dilakukan revisi dengan menghilangkan tugas dan wewenang dalam melakukan
tindakan medis dan pengobatan terbatas, darurat dan keadaan keterbatasan tertentu
atau revsi kurikulum Pendidikan Profesional Keperawatan dengan memasukan
kompetensi dalam melakukan tindakan medis dan pengobatan terbatas, darurat dan
keadaan keterbatasan tertentu.
Tidak terpenuhinya keberadaan Dokter dan Apoteker di pelosok desa maka
peran perawat sebagai Caring beralih fungsi menjadi Curing akibat adanya desakan
dari masyarakat karna jauhnya akses Puskesmas ataupun Rumah Sakit yang
mempunyai Dokter dan/atau Apoteker. Kondisi ini menjadi pemicu untuk
memasukan peran Curing terbatas dan Darurat oleh perawat kedalam Undang –
Undang Keperawatan yaitu pada pasal 29 ayat (1) menyebutkan dalam
menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat bertugas sebagai : a. Pemberi
asuhan keperawatan; b. Penyuluh dan konselor bagi klien; c. Pengelola Pelayanan
Keperawatan; d. Peneliti Keperawatan; e. Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan
wewenang; dan/atau f. Pelaksana tugas dalam keadaan terbatas tertentu.
Pasal 30 ayat (1) menyebutkan dalam menjalankan tugas sebagai pemberi
Asuhan Keperawatan di bidang upaya kesehatan perorangan, Perawat berwenang: a.
Melakukan pengkajian keperawatan secara holistik; b. Menetapkan diagnosis
keperawatan; c. Merencanakan tindakan keperawatan; d. Melaksanakan tindakan
keperawatan; e. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan; f. Melakukan rujukan; g.
Memberikan tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan kompetensi; h.
Memberikan konsultasi keperawatan dan berkolaborasi dengan dokter; i.
Melakukan peyuluhan kesehatan dan konseling; dan j. Melakukan penatalaksanaan
pemberian obat kepada klien sesuai dengan resep tenaga medis atau obat bebas dan
obat bebas terbatas.
Pasal 33 ayat (1) menyebutkan pelaksanaan tugas dalam keadan keterbatasan
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf (f) merupakan
penugasan Pemerintah yang dilaksanakan pada keadaan tidak adanya tenaga medis
dan/atau tenaga kefarmasian di suatu wilayah tempat Perawat bertugas; ayat (3)
Pelaksanaan tugas pada keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan dengan memperhatikan kompetensi Perawat. Ayat (4) dalam
melaksanakan tugas pada keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Perawat berwenang: a. Melakukan pengobatan untuk penyakit umum
dalam hal tidak terdapat tenaga medis; b. Merujuk pasien sesuai dengan ketentuan
pada sistem rujukan; dan c. Melakukan pelayanan kefarmasian secara terbatas
dalam hal tidak terdapat tenaga kefarmasian.
Pasal 35, ayat (1) dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan
pertama, Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pengobatan terbatas, darurat
dan keadaan keterbatasan tertentu sesuai dengan kompetensinya. (2) Pertolongan
pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan
nyawa klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut. (3) Keadaan darurat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa atau kecacatan
Klien. (4) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Perawat sesuai dengan hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya. (5) Ketentuan lebih
lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Mentri.
Kompetensi perawat yang terdapat pada pasal 29 ayat (1) huruf (f) Pelaksana
tugas dalam keadaan terbatas tertentu, pasal 30 ayat (1) huruf (j) Melakukan
penatalaksanaan pemberian obat kepada klien sesuai dengan resep tenaga medis
atau obat bebas dan obat bebas terbatas, pasal 33 atat (1) menyebutkan pelaksanaan
tugas dalam keadan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
ayat (1) huruf (f) merupakan penugasan Pemerintah yang dilaksanakan pada
keadaan tidak adanya tenaga medis dan/atau tenaga kefarmasian di suatu wilayah
tempat Perawat bertugas dan (4) dalam melaksanakan tugas pada keadaan
keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Perawat berwenang: a.
Melakukan pengobatan untuk penyakit umum dalam hal tidak terdapat tenaga
medis; b. Merujuk pasien sesuai dengan ketentuan pada sistem rujukan; dan c.
Melakukan pelayanan kefarmasian secara terbatas dalam hal tidak terdapat tenaga
kefarmasian. serta pasal 35 ayat (1) dalam keadaan darurat untuk memberikan
pertolongan pertama, Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pengobatan
terbatas, darurat dan keadaan keterbatasan tertentu sesuai dengan kompetensinya.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.jogloabang.com/pustaka/uu-38-2014-keperawatan
Ake, Julianus, Malpraktik dalam Keperawatan, EGC, Jakarta, 2003
Samino, et al (2015). SANKSI PERAWAT DALAM UU NOMOR 38 TAHUN 2014
TENTANG KEPERAWATAN. Jurnal Dunia Kesmas Volume 4. Nomor 3. 182-
188
Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan