Anda di halaman 1dari 88

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bank merupakan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries)

yang menyalurkan dana dari pihak kelebihan dana (surplus unit) kepada pihak

yang membutuhkan dana (deficit unit) pada waktu yang ditentukan. Dalam

menjalankan fungsinya sebagai lembaga perantara, bank mendasarkan kegiatan

usahanya pada kepercayaan masyarakat. Maka bank juga disebut sebagai lembaga

kepercayaan masyarakat (agent of trust). Selain itu bank juga berfungsi bagi

pembangunan perekonomian nasional (agent of development) dalam rangka

meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional.

Bank berperan penting dalam mendorong perekonomian nasional karena

bank merupakan pengumpul dana dari surplus unit dan penyalur kredit kepada

defisit unit, tempat menabung yang efektif dan produktif bagi masyarakat, serta

memperlancar lalulintas pembayaran bagi semua sektor perekonomian.1 Bank

Syariah pada awalnya dikembangkan sebagai suatu respon dari kelompok ekonom

dan praktisi perbankan muslim yang berupaya mengakomodasi desakan dari

berbagai pihak yang menginginkan agar tersedia jasa transaksi keuangan yang

dilaksanakan sejalan dengan nilai moral dan prinsip-prinsip syariah dalam Islam.

Oleh karena itu, didirikan mekanisme perbankan yang bebas bunga (bank

Syariah). Perbankan Syariah didirikan berdasarkan alasan filosofis maupun

praktik. Secara filosofis, karena dilarangnya pengambilan riba dalam transaksi

1
Dhika Rahma Dewi, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah di
Indonesia, Artikel_Jurnal-Skripsi, diakses tgl 14-01-2014 jam 11.19 WIB
2

keuangan maupun non keuangan. Secara praktis, karena sistem perbankan

berbasis bunga atau konvensional mengandung kelemahan.

Pada umumnya tingkat kesehatan perbankan mengacu pada beberapa

variabel yang diproksikan dalam berbagai rasio keuangan perbankan. Landasan

hukum syariah terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 275.

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï

%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î

(#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$#

yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB

¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur

yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

275. orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri

melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan)

penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan

mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-

orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti

(dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176]

(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang

kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya.2

2
Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogya: UPP AMP YKPN, 2001), hal. 13
3

Perbankan memiliki peran sangat penting dalam perekonomian suatu

negara. Semakin baik kondisi perbankan suatu negara, maka semakin baik pula

kondisi perekonomian negara tersebut. Dalam kegiatan perekonomian suatu

negara dipengaruhi oleh kinerja perbankan sehingga pemerintah mendorong

tumbuhnya perbankan yang sehat. Seluruh kegiatan perekonomian membutuhkan

jasa perbankan untuk pembiayaan atau pendanaan. Banyak peran perbankan

dalam perekonomian salah satunya adalah menjadi lembaga perantara keuangan

(financial intermediary institution). Sebagai lembaga intermediasi antara pihak

yang kelebihan dana (surplus spending unit) dengan pihak yang membutuhkan

dana (defisit spending unit) sehingga hal ini mempunyai posisi yang strategis

dalam perekonomian nasional.

Bank dilihat dari segi cara menentukan harga terbagi menjadi dua kelompok

bank yaitu bank konvensional dan bank syariah. Dimana bank konvensional

dalam menentukan harga dan mencari keuntungan dengan menggunakan sistem

bunga dan biaya yang telah ditetapkan, sedangkan pada bank syariah

menggunakan prinsip syariah yaitu dengan aturan perjanjian berdasarkan hukum

islam antara bank dengan pihak lain untuk menyimpan dana atau pembiayaan

usaha atau perbankan lainnya.

Perkembangan bank yang cukup signifikan dalam mengembangkan produk

dan layanan perbankan memberikan dampak terhadap masyarakat dalam

mengelola uang. Sebagian besar masyarakat saat ini lebih memilih memanfaatkan

bank syariah, karena bank syariah menjadi perhatian bagi kalangan masyarakat.
4

Dimana pada tahun 1998 terjadi krisis moneter sehingga menimbulkan dampak

yang negatif bagi perekonomian negara Indonesia.

Tak dapat dihindari sektor perbankan juga mengalami imbas dari krisis

tersebut. Bank konvensional mengalami penurunan namun bank syariah tidak

terkena imbasnya karena bank syariah tidak menganut sistem bunga sehingga

dapat mempertahankan eksistensinya dalam menjaga kestabilan moneter.

Sehingga masyarakat mempertimbangkan keberadaan bank syariah sampai saat

ini.3

Untuk melihat perkembangan perbankan, maka parameter yang digunakan

adalah tingkat loan to deposit ratio (LDR) yang sering dipakai dalam melihat

pertumbuhan perekonomian nasional. Sedangkan pada bank syariah menggunakan

istilah financing to deposit ratio (FDR). FDR merupakan perbandingan antara

pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil

dikerahkan oleh bank. FDR akan menunjukan tingkat kemampuan bank syariah

dalam menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank syariah

yang bersangkutan.4

Penyaluran dana merupakan kegiatan utama perbankan, baik bank

konvensional maupun bank syariah. Dalam bank syariah penyaluran dana ini lebih

akrab disebut dengan pembiayaan sedangkan pada bank konvensional sering

disebut kredit. Pembiayaan adalah salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian

3
Nur Suhartatik Rohmawati Kusumaningtias, Determinan Financing To Deposit Ratio Perbankan
Syariah Di Indonesia (2008-2012), Jurnal Ilmu Manajemen, diakses tgl 15-02-2014 jam 13.50
WIB
4
Aluisius Wishnu Nugroho, Analisis Pengaruh FDR, NPF, BOPO, KAP dan PLO erhadap Return
On Asset Pada Bank Syariah di Indonesia (2006-2010), diakses tgl 14-01-2014 jam 11.20 WIB
5

fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang

merupakan defisit unit.

Pembiayaan merupakan suatu fasilitas yang diberikan bank syariah kepada

masyarakat yang membutuhkan untuk menggunakan dana yang telah

dikumpulkan oleh bank syariah dari masyarakat yang surplus dana. Pembiayaan

merupakan fungsi penggunaan dana terpenting bagi bank komersial, dalam hal ini

adalah khususnya bagi bank syariah. Oleh karena itu, bank seharusnya

memperhatikan berbagai faktor dan aspek apa saja yang harus dipertimbangkan

dalam pengambilan keputusan terhadap masalah pembiayaan atau penyaluran

dana pada masyarakat.

Informasi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan

keputusan adalah berupa informasi akuntansi dan non akuntansi. Informasi

akuntansi dapat diperoleh melalui laporan keuangan bank baik berupa rasio

keuangan, dimana rasio keuangan tersebut seperti rasio profitabilitasnya, rasio

pembiayaan bermasalah dan rasio-rasio lainnya. Rasio yang sangat terkait erat

dengan kegiatan penyaluran dana adalah rasio pembiayaan bermasalah atau NPF,

dimana setiap kenaikan pembiayaan yang bermasalah akan menurunkan jumlah

dana yang disalurkan.

Informasi lain yang diperoleh dari laporan keuangan adalah berupa sumber

dana bank. Sumber DPK yang dihimpun merupakan dana yang terbesar yang

paling diandalkan oleh bank (bisa mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang

dikelola oleh bank). Sumber dana yang lain berasal dari kebijakan Bank Indonesia

yaitu berupa bonus atas penempatan dana bank. Penempatan aktiva dalam bentuk
6

Sertifikat Wadiah Bank Indonesia yang termasuk dalam banking book yang

ditetapkan risiko sebesar 0% (zero risk), dimana bonus tersebut dapat dijadikan

sumber dana bank untuk meningkatkan kegiatan penyaluran dana.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyaluran dana yaitu DPK,

SWBI, dan pembiayaan bermasalah atau NPF. Dimana dana pihak ketiga

merupakan sumber dana bank yang diperoleh dari masyarakat yang berbentuk

giro, tabungan, dan deposito, sedangkan bonus SWBI adalah sumber dana bank

yang diperoleh dari Bank Indonesia atas penitipan dana wadiah atas kelebihan

likuiditas bank yang bersangkutan. Pembiayaan bermasalah atau NPF merupakan

rasio perbandingan pembiayaan yang bermasalah dengan total penyaluran dana

yang disalurkan kepada masyarakat.

Dilihat dari sisi penyaluran dana, kinerja Bank Syariah Mega Indonesia

pada awalnya mengalami kemajuan yang cukup baik, namun pasca konversi dari

bank berbasis konvensional menjadi bank berbasis syariah justru terus menerus

mengalami penurunan kinerja. Penurunan kinerja penyaluran dana tersebut apakah

terjadi hanya karena Bank Syariah Mega Indonesia memerlukan waktu untuk

menyesuaikan diri dengan basis baru yang digunakan, ataukah bank yang

bersangkutan gagal dalam perjalanan konversinya, ataukah terdapat faktor lain

yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Untuk itu perlu dilakukan pengkajian

lebih lanjut untuk membuktikan secara empiris bagaimana penurunan kinerja itu

terjadi pasca konversi Bank Umum Tugu menjadi Bank Syariah Mega Indonesia.5

5
Siswati, Analisis Penyaluran Dana Bank Syariah, Jurnal Dinamika Manajemen, dalam
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jdm, diakses tgl 15-02-2014 jam 20.35 WIB
7

Berawal dari PT Bank Umum Tugu (Bank Tugu). Bank umum yang

didirikan pada 14 Juli 1990 tersebut diakuisisi CT Corpora-dahulu bernama Para

Group-melalui PT Para Global Investindo dan PT Para Rekan Investama pada

2001. Sejak awal, para pemegang saham memang ingin mengonversi bank umum

konvensional itu menjadi bank umum syariah. Keinginan tersebut terlaksana

ketika Bank Indonesia mengizinkan Bank Tugu dikonversi menjadi PT Bank

Syariah Mega Indonesia (BSMI) pada 27 Juli 2004. Pengonversian tersebut

dicatat dalam sejarah perbankan Indonesia sebagai upaya pertama pengonversian

bank umum konvensional menjadi bank umum syariah. Pada 25 Agustus 2004,

BSMI resmi beroperasi.6

Hampir tiga tahun kemudian, pada 7 November 2007, pemegang saham

memutuskan perubahan bentuk logo BSMI ke bentuk logo bank umum

konvensional yang menjadi sister company-nya, yakni PT Bank Mega, Tbk.,

tetapi berbeda warna. Sejak 2 November 2010 sampai dengan sekarang, bank ini

berganti namamenjadi PT Bank Mega Syariah. Untuk mewujudkan visi “Bank

Syariah Kebanggaan Bangsa”, CT Corpora sebagai pemegang saham mayoritas

memiliki komitmen dan tanggung jawab penuh untuk menjadikan Bank Mega

Syariah sebagai bank umum syariah terbaik di industri perbankan syariah

nasional. Komitmen tersebut dibuktikan dengan terus memperkuat modal bank.

Dengan demikian, Bank Mega Syariah akan mampu memberikan pelayanan

terbaik dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dan kompetitif di

industri perbankan nasional.

6
http://www.megasyariah.co.id/report/annual/2012.pdf, diakses tgl 14-1-2014 jam 13.42 WIB
8

Berdasarkan Data Laporan Kinerja Keuangan Bank Mega Syariah

Indonesia, posisi dana pihak ketiga (DPK) PT. Bank Mega Syariah Indnesia

sampai dengan akhir 2012 mencapai Rp 7.108,754 miliar. Jumlah tersebut

meningkat signifikan 44,09% dibandingkan dengan pencapaian selama 2011 yang

sebesar Rp 4.933,556 miliar. Kontribusi terbesar dalam hal penghimpunan DPK

secara berurutan adalah deposito Rp 4.711,809 miliar (66,28%) serta giro dan

tabungan R p2.396,945 miliar (33,72%).7

Posisi aktiva produktif hingga akhir 2012 sebesar Rp 7.546 miliar, terjadi

peningkatan dibanding pencapaian 2011 yang sebesar Rp 5.132 miliar. Dari

jumlah aktiva produktif 2012 itu, komposisinya sebagai berikut: pembiayaan

sebesar Rp 6.21 miliar (82,34%); surat berharga (termasuk Sertifikat Bank

Indonesia Syariah atau SBIS) senilai Rp 1.289 miliar (17,06%) serta antar bank

aktiva sebesar Rp 45 miliar (0,59%).

Perusahaan mampu menekan rasio pembiayaan bermasalah (non performing

financing atau NPF) gross menjadi 2,67% pada akhir Desember 2011 dari 3,03%

pada akhir Desember 2012. Selain masih di bawah 5%, angka maksimal yang

diperkenankan Bank Indonesia, posisi NPF tersebut juga menunjukkan kualitas

pembiayaan perusahaan semakin baik. Rasio antara dana pihak ketiga dan

pembiayaan (financing deposit ratio atau FDR) selama 2012 mencapai 88,88%,

meningkat dibandingkan dengan posisi 2011 yang 83,08%. Rasio tersebut

menunjukkan fungsi intermediasi perusahaan berjalan baik karena dananya lebih

banyak disalurkan dalam bentuk pembiayaan, bukan investasi atau kegiatan non

pembiayaan.
7 http
://www.megasyariah.co.id/report/annual/2012.pdf, diakses tgl 14-1-2014 jam 13.42 WIB
9

Rasio tingkat pengembalian aset (return of assets atau ROA) selama 2012

meningkat signifikan menjadi 3,81% dibandingkan dengan posisi 2011 yang

1,58%. Pencapaian tersebut menunujukkan bahwa perusahaan semakin produktif.8

Di sisi lain, pertumbuhan kredit selama 2012 lebih lambat dibandingan dengan

selama 2011, yakni dari 24,6% menjadi 23,1% (year on year atau YOY).

Pelambatan tersebut merupakan imbas pelambatan perekonomian global.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi berhasil tumbuh 27,4%,

kredit modal kerja 23,2%, dan kredit konsumsi 19,9%. Sedangkan, dari sektor

yang dibiayai, pertumbuhan kredit terbesar berasal dari sektor perdagangan

(34,1%), kemudian disusul industri (29,4%), dan pertanian (29,0%). Kualitas

kredit semakin baik, yang tercermin dari menurunnya rasio non performing

financing (NPF) gross perbankan dari 2,17% menjadi 0,30%.

Dari latar belakang diatas, peneliti ingin menguji NPF dan FDR

mempengaruhi keuntungan Bank Mega Syariah Indonesia yang berlatar belakang

dari bank umum konvensional yang berubah menjadi bank umum syariah.

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh NPF dan FDR keuntungan Bank

Mega Syariah Indonesia selama tahun 2004-2013. Adapun variabel-variabel yang

digunakan antara lain, variabel likuiditas yaitu FDR, variabel kualitas aktiva

diukur dengan NPF. keuntungan diukur dengan Earning After Tax (EAT) untuk

mengetahui kinerja aset yang dimiliki bank syariah dalam memperoleh

keuntungan. Sehubungan dengan latar belakang tersebut diatas, maka peneliti

menyusun penelitian yang berjudul: “Pengaruh financing to deposit ratio (FDR)

8
http://www.megasyariah.co.id/report/annual/2012.pdf, diakses tgl 14-1-2014 jam 13.42 WIB
10

dan non performing financing (NPF) terhadap keuntungan PT. Bank Mega

Syariah Indonesia Tahun 2004-2013”.

B. Rumusan masalah

1. Apakah FDR berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT. Bank

Mega Syariah Indonesia?

2. Apakah NPF berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT. Bank

Mega Syariah Indonesia?

3. Apakah FDR dan NPF secara bersama-sama berpengaruh terhadap

keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian dirumuskan

sebagai berikut:

1. Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh signifikan dari FDR terhadap

keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia.

2. Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh signifikan dari NPF terhadap

keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia.

3. Untuk menguji pengaruh FDR dan NPF secara bersama-sama

berpengaruh terhadap keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. FDR berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT. Bank Mega

Syariah Indonesia.
11

2. NPF berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT. Bank Mega

Syariah Indonesia.

3. FDR dan NPF secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap

keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yang besar bagi penulis

pada penulis khususnya dan pada pengguna umumnya, di antaranya:

1. Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai tambahan

pengetahuan dibidang keilmuwan khususnya di bidang perbankan syariah. Dan

diharapkan bisa dijadikan informasi, masukan atau sumbangan pemikiran bagi

dunia perbankan syariah dalam laporan keuangan.

2. Secara praktis

a. Bagi Bank

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana

informasi yang dapat digunakan perusahaan (Bank umum Syariah)

untuk mengetahui tingkat potensi financing to deposit ratio (FDR)

dan non performing financing (NPF) terhadap keuntungan PT. Bank

Mega Syariah Indonesia dari tahun 2005 sampai dengan 2013. Dan

dapat dijadikan sebagai catatan atau koreksi untuk mempertahankan

dan meningkatkan kinerjanya, sekaligus memperbaiki apabila ada

kelemahan dan kekurangan.

b. Bagi akademisi
12

Hasil penelitian ini diharapkan dapat barmanfaat serta

menambah wawasan dan pengetahuan. Diharapkan dapat menambah

referensi terutama bagi mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi

Perbankan Syariah.

c. Bagi Investor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

informasi bagi para investor maupun sebagai acuan untuk pengambilan

keputusan berinvestasi di perbankan tersebut.

d. Bagai peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan

untuk peneliti selanjutnya yang akan meneliti dalam bidang perbankan

Islam khususnya mengenai pengaruh financing to deposit ratio (FDR)

dan non performing financing (NPF) terhadap keuntungan PT. Bank

Mega Syariah Indonesia.

F. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Objek penelitian yang digunakan adalah PT. Bank Mega Syariah

Indonesia. Adapun penelitian ini penulis akan membatasi diri dalam melihat

kinerja keuangan yaitu financing to deposit ratio (FDR) dan non performing

financing (NPF) Bank Mega Syariah Indonesia selama tahun 2004-2013 dan

peneliti membatasi lingkupnya pada keuntungan. Keuntungan disini

menggunakan Earning After tax (EAT) untuk mengetahui kinerja aset yang

dimiliki bank syariah dalam memperoleh keuntungan pada PT. Bank Mega

Syariah Indonesia.
13

G. Penegasan istilah

1. Konseptual

a. Pengaruh adalah “daya yang ada atau yang timbul dari seseorang

(orang, benda, dan sebagainya) yang berkuasa atau yang berkekuatan

ghaib dan sebagainya”.9

b. Bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan

pada bunga. Dengan kata lain, bank islam adalah lembag keuangan

yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya

dalam lalu lintas pembayaran serta perbedaan uang yang

pengorasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat islam.10

c. financing to deposit ratio (FDR) adalah menunjukan kesehatan bank

dalam memberikan pembiayaan.11

d. performing financing (NPF) adalah perbandingan kredit bermasalah

dengan pembiayaan.

e. Keuntungan adalah tujuan utama dalam pembukuan atau usaha proyek

yang direncanakan. Semakin besar keuntunganyang diterima, semakin

layak pembukuan usaha atau proyek yang dikembangkan.12

2. Operasional

Secara operasional, penelitian ini dilakukan untuk melihat

perkembangan perbankan dengan menguji pengaruh financing to deposit


9
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:Balai Pustaka,
1990), hal.664.
10
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah,(Yogyakarta:Ekonosia,2005), hal 1

11
Muhammad, Manajemen Dana....hal.159

12
Yacob Ibrahim, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2003), hal. 139
14

ratio (FDR) dan performing financing (NPF) terhadap keuntungan PT.

Bank Mega Syariah Indonesia. Untuk meneliti keuntungan peneliti

menggunakan laba setelah pajak (Earning After tax atau EAT).

a. FDR di penelitian ini dirumuskan :

b. NPF di penelitian ini dirumuskan :

c. Keuntungan di penelitian ini dirumuskan :

EAT (Laba Setelah Pajak) = Laba Sebelum Pajak (EBT) – Pajak

Pendapatan 50%

H. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Dalam bab ini akan dijelaskan gambaran singkat apa yang akan dibahas

dalam skripsi yaitu : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, kegunaan hasil penelitian, hipotesis penelitian, ruang lingkup

keterbatasan penelitian dan sistematika skripsi. Pada bab ini dijelaskan

alasan-alasan mengapa peneliti mengambil judul dan apa tujuan dari

penelitian yang dilakukan.

BAB II : Landasan Teori

Dalam bab ini berisisi landasan teori yang membahas tentang pengertian

bank baik secara konvensional maupun syariah, pengertian FDR, NPF dan

Keuntungan dalam bab ini peneliti akan memaparkan teori yang


15

digunakan dalam menganalisis temuan dalam bab selanjutnya yaitu bab

IV.

BAB III : Metode Penelitian

Dalam bab ini dijelaskan tentang metode penelitian yang digunakan,

rancangan penellitian, populasi penelitian, sumber data, variabel dan skala

penelitian, teknik pengumppulan data dan instrumen penelitian, dan

analisis data.

BAB IV : Hasil Penellitian

Bab ini menguraikan secara detail tentang deskripsi objek penelitian,

analisis data dan interpretasi hasil temuan dilapangan.

BAB V : Penutup

Bab ini menguraikan tentang simpulan peneliti yang dilakukan

berdasarkan analisis data dari hasil temuan di lapangan, adapun saran

ditujukan kepada pihak yang berkepentingan terhadap adanya penelitian

ini, baik kepada pihak bank maupun kepada pihak lain yang ingin

mengembangkan atau mengadakan penelitian lanjutan.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Laporan Keuangan

1. Pengertian Laporan keuangan


16

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi. Sebagai

hasil akhir dari proses akuntansi, laporan keuangan memberikan informasi yang

berguna untuk pengambilan keputusan berbagai pihak misalnya pemilik dan

kreditur. Laporan keuangan yang utama terdiri dari laporan laba/rugi, laporan

perubahan modal, dan neraca.1

Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh

informasi sehubungan dengan posisi keuangan perusahaan yang bersangkutan.

Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan

untuk dua periode atau lebih, dan dan dianalisis lebih lanjut sehingga dapat

diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang

bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (pengguna laporan keuangan)

dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional, seperti:13 Shahibul mall /

pemilik dana; Pihak-pihak yang bermanfaat dan menerima penyaluran dana;

Pembayar zakat, infak dan shadaqah; Pemegang saham; Otoritas pengawasan;

Bank Indonesia; Pemerintah; Lembaga penjamin simpanan; dan Masyarakat.

Informasi bermanfaat yang disajikan dalam laporan keuangan, antara lain,

meliputi:

a. Untuk pengambilan putusan investasi dan pembiayaan;

b. Untuk menilai prospek arus kas baik penerima maupun pengeluaran kas

di masa datang;

13
Dwi Suwiknyo, SEI.,M.Si. Analisis Laporan Keuangan Perbankan Syariah, (Yogyakarta, PUSTAKA
BELAJAR : 2010), hal.145-148
17

c. Mengenai sumber daya ekonomis bank (economic resources), kewajiban

bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau

pemilik saham, serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa

yang dapat memengaruhi perubahan sumber daya tersebut;

d. Mengenai kepatuhan bank terhadap prinsip syari’ah, termasuk pendapatan

dan pengeluaran yang tidak sesuai dengan prinsip syari’ah dan bagaimana

pendapatan tersebut diperoleh serta penggunaannya;

e. Untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab bank

terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada

tingkat keuntungan yang layak dan informasi mengenai tingkat

keuntungan investasi terikat; dan

f. Mengenai pemenuhan fungsi sosial bank, termasuk pengelolaan dan

penyaluran zakat.

Setiap bank diwajibkan menyampaikan laporan keuangan berupa neraca,

laporan laba rugi, laporan komitmen dan kontijensi, laporan arus kas dan catatan

atas laporan keuangan berdasarkan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia. Sedangkan laporan yang harus dipublikasikan kepada masyarakat

umum antara lain : neraca, laporan laba rugi, laporan komitmen dan kontijensi

yang dilengkapi kualitas aktiva produktif dan informasi lainnya, perhitungan rasio

keuangan, perhitungan kewajiban penyediaan modal minimum, serta transaksi

valuta asing dan derivatif.14

2. Tujuan Laporan Keuangan

14
H. Veithzal Rivai dan H. Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi.
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hal. 876-877
18

Tujuan pembuatan laporan keuangan, menurut “Kerangka Dasar

Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan” (IAI,2002), adalah sebagai

berikut: 15

a. Laporan keuangan menyajikan informasi tentang posisi keuangan

(aktiva, utang, dan modal pemilik) pada suatu saat tertentu.

b. Laporan keuangan menyajikan informasi kinerja (prestasi)

perusahaan.

c. Laporan keuangan menyajikan informasi tentang perubahan posisi

keuangan perusahaan.

d. Laporan keuangan mengungkapkan informasi keuangan yang penting

dan relevan dengan kebutuhan para pengguna laporan keuangan.

3. Syarat-syarat laporan keuangan

Menurut “Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan”

(IAI, 2002), terdapat empat karakteristik kualitatif pokok laporan keuangan yaitu:

a. Dapat dipahami, yaitu informasi keuangan yang dapat dipahami

adalah informasi yang disajikan dalam bentuk dan bahasa teknis yang

sesuai dengan tingkat pengertian penggunanya. Artinya, para pihak

pengguna sendiri dituntun memiliki tingkat pengetahuan tertentu

mengenai akuntansi dan informasi keuangan.

b. Relevan, berarti informasi keuangan harus berhubungan dengan

tujuan pemanfaatannya. Informasi yang tidak berhubungan dengan

pemanfaatannya tidaklah relevan dan tidak ada gunanya. Karena itu,


15
Dwi Suwiknyo, SEI.,M.Si. Analisis Laporan Keuangan....hal. 42-44
19

laporan keuangan disusun untuk memenuhi kepentingan pihak-pihak

yang memiliki banyak tujuan, maka upaya penyajian informasi yang

relevan lebih difokuskan kepada kepentingan umum pengguna.

c. Andal, yaitu agar bermanfaat, informasi juga harus jelas. Informasi

memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan

dan kesalahan yang material, dan dapat diandalkan pemakainya

sebagai penyajian yang tulus dan yang seharusnya disajikan atau yang

secara wajar diharapkan dapat disajikan.

d. Dapat diperbandingkan, yaitu informasi akuntansi harus dapat

diperbandingkan dengan informasi akuntansi periode sebelumnya

pada perusahaan yang sama, atau dengan perusahaan sejenis lainnya

pada periode waktu yang sama. Agar dapat dibandingkan dengan

periode sebelumnya pada perusahaan yang sama, maka:

1) Laporan keuangan disajikan dalam format yang sama.

2) Isi laporan keuangan adalah identik.

3) Prinsip akuntansi yang dianut tidak berubah, kalaupun berubah,

kalupun berubah maka dampak perubahannya terdapat rugi-laba

periode sekarang harus digunakan.

4) Perubahan dalam kondisi yang mendasari transaksi harus diungkapkan.

4. Batasan-batasan Laporan Keuangan

Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas

informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena

laporan keuangan memiliki keterbatasan, antara lain :


20

a) Bersifat historis, yaitu menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah

lampau.

b) Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak

pengguna.

c) Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Apabila

terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai

penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang

menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.

d) Lebih menekankan pada penyajian suatu peristiwa atau transaksi

sesuai subtansinya dan realitas ekonomi dari pada bentuk hukumnya

(formalitas).

e) Disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai

laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari

informasi yang dilaporkan.

f) Tidak luput dari oenggunaan dan taksiran.

g) Hanya melaporkan informasi yang material.

h) adanya berbagai alternatif metode akuntai yang dapat digunakan.

i) Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat

dikuantitatifkan umumnya diabaikan. 16

B. Financing Deposit Ratio (FDR)

Loan to deposit ratio (LDR) adalah perbandingan antara total kredit yang

diberikan dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dapat dihimpun oleh

16
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah,(Yogyakarta:Ekonosia,2005), hal. 144
21

bank.17 Sedangkan pada bank syariah menggunakan istilah financing to deposit

ratio (FDR) Adalah menunjukkan kesehatan bank dalam memberikan

pembiayaan.18 FDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam

menyalurkan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank yang bersangkutan.

Rasio ini dipergunakan untuk mengukur sampai sejauh mana dana pinjaman yang

bersumber dari dana pihak ketiga. Tinggi rendahnya rasio ini menunjukkan

tingkat likuiditas bank tersebut. Sehingga semakin tinggi angka FDR suatu bank,

berarti digambarkan sebagai bank yang kurang likuid dibandingkan dengan bank

yang mempunyai angka rasio yang lebih kecil.19

FDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito

berjangka, giro, tabungan dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi

permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio ini menggambarkan

sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman (pembiayaan) juga

untuk mengukur likuiditas. Sebagai indikator pinjaman FDR adalah jumlah atau

posisi pinjaman yang diberikan, sebagaimana tercantum pada sisi aktiva.

Sedangkan sebagai indikator pada simpanan adalah giro, deposito,

tabungan yang masing-masing tercantum pada sisi pasiva neraca bank. Tujuan

perhitungan FDR adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi seberapa jauh

17
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability Management, (Jakarta : Lembaga penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), hal.146
18
Dwi Suwiknyo, Analisis Laporan Keuangan....hal.148

Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah. (Yogyakarta: UII Pres, 2000),
19

hal.74
22

sebuah bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasi atau kegiatan

usahanya. FDR digunakan sebagai indikator kerawanan suatu bank.20

Maksimal FDR yang diperkenankan oleh Bank Indonesia adalah sebesar

110%.21 Karena Bank Indonesia menetapkan besarnya FDR tidak boleh melebihi

110%. Yang berarti bank boleh memberikan kredit atau pembiayaan melebihi

jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun asalkan tidak melebihi 110%.22

Adapun FDR dapat dihitung dengan rumus :

1. Kebijakan penghimpunan dana

Setiap penerimaan DPK adalah merupakan amanah yang harus dijaga

keamanan dan kemaslahatannya bagi pemilik dana dan bank. Oleh karenanya

setiap proses penghimpunan dan penerimaan dana harus dilakukan berdasar

ketentuan peraturan Bank Indonesia, fatwa DSN maupun peraturan intern bank

yang didasarkan pada asas penerimaan dana yaitu : kebijakan pokok

Penghimpunan dana Bank Syari'ah sebagai lembaga intermediasi dalam

mengelola dana masyarakat harus memiliki suatu komitmen dan integritas, dan

oleh karenanya setiap proses Penghimpunan dana harus mempertimbangan asas

Penghimpunan dana yang sehat.

a) Prosedur penghimpunan dana yang sehat

Muhammad. Bank Syariah Problem dan Prospek perkembangan Di Indonesia, (Yogyakarta:


20

Graha Ilmu, 2005), hal. 85-86


21
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability.... hal.146

22
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah.... hal.75
23

setiap pejabat bank yang berhubungan dengan Penghimpunan dana harus

menempuh prosedur penerimaan dana yang sehat dan benar serta prosedur

persetujuan, dokumentasi dan administrasi serta pengawasan Penghimpunan dana.

Prosedur penghimpunan dana yang sehat adalah:

1) Setiap calon nasabah harus melalui suatu peoses penilaian yang

dilakukan secara obyektif.

2) Penghimpunan dana yang diterima dari nasabah berdasarkan hasil

penilaian yang obyektif, diyakini oleh pejabat bank bahwa nasabah

tersebut mendapatkan dana darinsumber yang halalndan dapat

dipertanggung jawabkan di hadapan hukum positif.

b) penghimpunan dana dalam perhatian khusus

Penghimpunan dana dalam perhatian khusus adalah Penghimpunan dana

yang dikategorikan sebagai transaksi keuangan yang mempunyai resiko tinggi dan

atau mencurigakan.

c) Pengkinian data

Upaya untuk melengkapi dan memperbaharui data para nasabah dilakukan

dengan cara penyelesaian kembali data nasabah Penghimpun dana yang telah

masuk dengan formulir yang terkini.

d) Penyelesaian pengaduan

Proses dan penyelesaian pengaduan permasalahan. Penghimpunan dana

harus didasarkan kepada program tindak lanjut yang telah dibuat dan disetujui

pada tingkat direksi dan silaporkan pada Bank Indonesia.

2. Penghimpunan Dana Yang Dihindari


24

Dalam penghimpunan dana, bank mempunyai beberapa batasan dan

larangan yang harus ditetapkan secara khusus melalui Surat Keputusan Direksi.

Ketentuan tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh pejabat dan staf

di jajaran bagian Penghimpunan dana. Setiap pelanggaran dapat dikenakan sanksi

terhadap ketentuan yang berlaku, penghimpunan dana yang dihindari meliputi

Penghimpunan dana tidak sesuai syariah Islam dan kebijakan pemerintah, antara

lain berupa hasil korupsi, hasil perjudian dan money laundring. Hal ini sebagai

prinsip mengenal nasabah.

3. Jenis Penghimpunan Dana Berdasarkan Tujuan

a) Keamanan, dengan mengunakan akad tititpan (wadi'ah).

b) investasi, dengan menggunakan akad bagi hasil (mudharabah

muqayyadah dan mudharabah mutlaqah).

c) Sosial, dalam bentuk penerimaan zakat, infak, shadaqah, wakaf, dan

hibah.23

4. Prosedur Penyaluran Dana Bank Syariah

a) Pengertian Penyaluran Dana

Penyaluran dana adalah transaksi penyediaan dana dan atau barang serta

fasilitas lainnya kepada nasabah yang tidak bertentangan dengan syariah islam

dan standar akuntansi perbankan syariah serta tidak termasuk jenis

penyaluran dana yang dilarang menurut ketentuan Bank Indonesia.

b) Fungsi Penyaluran Dana

23
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 59-62
25

Penyaluran dana berfungsi a) meningkatkan daya guna, peredaran daan lalu

lintas uang, b) meningkatkan daya guna dan peredaran barang, c) meningkatkan

aktivitas investasi dan pemerataan pendapatan, d) sebagai aset terbesar yang

menjadi sumber pendapatan terbesar bank.

c) Pejabat Bank

Pejabat bank dalam kebijakan dan prosedur ini meliputi Dewan Komisaris,

Dewan Pengawas Syariah (DPS), Direksi, Satuan kerja penyaluran dana (Manajer

Marketing, Accounting, Officer, Bagian Support penyaluran dana), Pimpinan

cabang, dan Manajer Operasional.

d) Komite Kebijakan Penyaluran Dana

Adalah satu majelis yang beranggotakan Komisaris, Direksi, DPS, Manajer

Marketing, dan Bagian Support yang berfungsi untuk merumuskan dan

menetapkan kebijakan penyalran dana dan mengawasi agar dapat dilaksanakan

secara konsekuen dan konsisten.

e) Komite Penyaluran Dana

Adalah suatu majelis yang berwenang memberikan persetujuan atau

penolakan pengajuan penyaluran dana yang diajukan oleh Account Officer,

beranggotakan Komisaris, Direksi, Manajer Marketing.

f) Evaluasi

Unuk tetap menjaga efektifitas Kebijakan prosedur penyaluran dana

(KPD), maka BPR Syariah akan melakukan kajian secara berkala sekurang-

kurangnya 1 (satu) kali dalam 2 (dua) tahun. Apabila terdapat perubahan dan atau

kebijakan baru dalam penyaluran dana yang belum termaktub dalam KPD, maka
26

perubahan dan atau kebijakan tersebut dituangkan terlebih dahulu dalam KPD

melalui keputusan komite Kebijakan penyalran dana.

5. Prinsip Kehatia-Hatian Dalam Penyaluran Dana

a) Kebijakan pokok dalam penyaluran dana

Setiap proses penyaluran dana harus mengacu pada pedoman yang berlaku

sebagai berikut:

1) Penerapan prinsip kehati-hatian. Sebagai daari suatu komitmen,

setiap proses penyaluran dana harus mengacu kepada kebijakan

yang berlaku, baik ketentuan Bank Indonesia maupun Kebijakan

Umum penyaluran dana bank sendiri yang didasarkan pada asas

penyaluran dana yang sehat.

2) Kebijakan penyaluran dana pihak terkait. Dalam menentukan

besarnya plafon bagi nasabah pihak terkait diperlukan adanya

ketentuan kusus. Pemberlakuan ketentuan tersebut bertujuan untuk

melindungi kepentingan dan kepercayaan masyarakat serta

memelihara tingkat kesehatan bank. Bank dalam menyalurkan

dananya harus berusaha menyebar resiko sedemikian rupa, sehingga

tidak terpusat pada nasabah tertentu. Selain itu terdapat tujuan lain,

yaitu perantara kesempatan bagi setiap orang untuk dapat

memperoleh penyaluran dana dari bank.

3) Sektor ekonomi dan segmentasi pasar. Dalam upaya peningkatan

aktivitas penyaluran dana perlu kiranya dibuat suatu peta wilayah

dan sektor ekonomi yang akan dibidik pihak manajemen guna


27

mempermudah dalam proses penyaluran dana. Untuk sektor

ekonomi dan segmen pasar penyaluran dana bank syariah adalah :

dari segi sektor ekonomi, dari segi sektor wilayah kerja, dari segi

jenis usaha, dari segi pengalaman, dari segi plafon.

4) Penyaluran dana yang perlu dihindari. Dalam penyaluran dana,

bank mempunyai batasan dan larangan yang harus ditetapkan secara

khusus melalui Surat Keputusan Direksi. a) penyaluran dana yang

bertentangan dengan syariah, b) penyaluran dana dengan tujuan

spekulasi, c) penyaluran dana yang diberikan tanpa informasi

keuangan yang cukup, d) penyaluran dana yang memerlukan

keahlian khusus, e) penyaluran dana kepada nasabah bermasalah.

5) Jenis penyaluran dana berdasarkan tujuan. a) modal kerja, yaitu

penyaluran dana yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan

ussaha bagi pembelian/pengadaan barang dalam rangka usaha. b)

investasi, yaitu penyaluran dana yang diberikan untuk memenuhi

kebutuhan pengadaan sarana/presarana usaha dan yang

dipersamakan dengan itu. c) konsumtif, yaitu penyaluran dana yang

dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan runah tangga.

b) Tata cara penilaian kualitas pelayanan dana. Mengacu pada

KetentuanKualitas Aktiva Produktif sesuai Peraturan Bank Indonesia

yang berlaku.

c) Profesionalisme dan integritas pejabat penyaluran dana


28

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang

berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara

manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. Am-Nisa (4): 58)

Kriteria pejabat penyaluran dana adalah a) mempunyai keahlian dan

keterampilan teknis dalam berbagai praktek kgiatan perbankan, b) profesional,

amanah, obyektif dan cermat, c) taat azas terhadap peraturan, d) menyadari dan

memahami sepenuhnya peraturan perbankan.

d) Kode etik pejabat penyaluran dana. Kode etik bank mengacu kepada

profesionalisme bank serta nilai-nilai syariah.24

6. Produk-Produk Penyaluran Dana

a) Piutang Murabahah

Murabahah dalam definisi dalam fiqih:

Adalah akad jual beli atas barang tertentu, Dimana penjual menyebutkan
dengan jelas barang yang diperjualbelikan, termasuk harga pembelian
barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atasnya
laba/keuntungan dalam jumlah tertentu. Sedangkan dalam teknis
perbankan, Murabahah adalah akad jual beli barang sebesar harga pokok
barang ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati.

Berdasarkan akad jual-beli tersebut bank membeli barang yang dipesan

oleh dan menjualnya kepada nasabah. Harga jual bank adalah harga beli dari

supplier ditambah keuntungan yang diepakati. Bank harus memberikan secara

jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. 25

b) Piutang Salam

24
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 94-102

25
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 103
29

Secara etimologi, salam artinya salaf (Pendahuluan). Secara terminologi

(ta’rif) muamalah salam adalah

Penjualan suatu barang yang disebutkan sifat-sifatnya sebagai persyaratan


jual beli dan barang masih dalam tanggungan penjual, dimana syarat-
syarat tersebut diantaranya adalah mendahulukan pembayaran pada waktu
di akad majlis (akad disepakati).

Bank dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu

transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada

pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini

disebut salam paralel. Salam adalah akad jual-beli suatu barang (komoditi) dimana

harganya dibayar dengan segera (pada saat akad disepakati), sedang barangnya

akan diserahkan kemudian dalam jangka waktu yang disepakati.

Salam paralel adalah suatu transaksi dimana bank melakukan dua akad

salam dalam waktu yang sama. Dalam akad salam pertama bank (selaku muslim)

melakukan pembelian suatu barang pihak penyedia barang (muslam ilaihi) dengan

pembayaran di muka dan pada akad salam kedua bank (selaku muslim alaih)

menjual lagi kepada pihak lain (muslim) dengan jangka waktu penyerahan yang

disepakati bersama. Pelaksanaan kewajiban bank selaku Muslam Ilaihi (penjual)

dalam akad salam kedua tidak tergantung pada akad salam yang pertama.26

c) Piutang Istishna

Istishna’ berarti minta dibuatkan. Secara terminologi muamalah (ta’rif)

berarti akad jual beli dimana Shanni’ (produsen) ditugaskan untuk membuat suatu

barang (pesanan) oleh Mustashni’ (pemesan). Menurut Jumhur ulama, Istishna

sama dengan salam yaitu dari segi obyek pesanannya yaitu harus dibuat atau

26
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 112-113
30

dipesan terlebih dahulu dengan ciri-ciri khusus. Perbedaanya hanya pada sistem

pembayara nnya, salam pembayarannya dilakukan sebelum barang diterima dan

istishna bisa di awal, di tengah, atau di akhir pesanan.

Istishna adalah jual beli dalam bentuk pembuatan barang tertentu dengan

kreteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pesanan (pembeli,

mustasni’) dan penjual (pembuat, shani). Jika pembeli dalam akad istishna tidak

mewajibkan bank untuk membuat sendiri barang pesanan, maka untuk memenuhi

kewajiban pada pertama, bank dapat mngadakan akad istishna kedua dengan

pihak ketiga (subkontraktor). Akad istishna kedua ini disebut istishna paralel.

Akad istishna dapat dihentikan jika kedua belah pihak telah memenui

kewajibannya.27

d) Penyaluran Dana Mudharabah

Mudharabah muqayada adalah akad mudharabah dimana pemilik dana

(shahibul maal) memberikan batasan kepada pengelola dana (mudharib) mengenai

tempat, cara, dan objek investasi. Bank bertindak sebagai agen penyalur dana

investor (chanelling agent) kepada nasabah yang bertindak sebagai pengelola

dana. Bank bertindak sebagai agen penyalur dana investor (chanelling agent)

kepada nasabah yang bertindak sebagai pengelola dana untuk kegiatan usaha

dengan persyaratan dan jenis kegiatan usaha yang ditentukan.28

e) Penyaluran Dana Musyarakah

Musyarakah Asal kata dari syirkah yang berarti percampuran. Menurut

fiqih, Musyarakah berarti:" Akad antara orang-orang yang berserikat dalam hal
27
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 120

28
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 133
31

modal dan keuntungan." Bentuk kerja sama (syirkah) terbagi dalam beberapa

golongan: a) Syirkah Al 'inan, penggabungan harta atau modal dua orang atau

lebihyang tidak harus sama jumlahnya dan keuntungannya dibagi secara

proporsional dengan jumlah masing-masing atau sesuai dengan kesepakatan, b)

Syirkah Al Mufawadah, perserikatan yang modal semua pihak dan bentuk

kerjasama dilakukan baik kualitasndan kuantitasnya harus sama dengan dan

keuntungan dibagi rata, c) Syirkah Al Abdan, perserikatan dalam bentuk kerja

yang hasilnya dibagi bersama, d) Syirkah Al Wujuh, perserikatan tanpa modal,

Syirkah Al Mudharabah, bentuk kerja sama antara pemilik modal dan seseorang

yang punya keahlian dagang dan keuntungan perdagangan dari modal itu dibagi

aesuai dengan kesepakatan bersama. 29

f) Penyaluran Dana Dengan Prinsip Al-Ijarah

Al-ijarah disbut akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu

barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayran sewa/upah,

tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Maksud "manfaat" adalah berguna, yaitu barang yang mempunyai

banyak manfaat dan selama menggunakannya barang tersebut tidak

mengalami perubahan atau musnah. Manfaat yang diambil tidak

berbentuk zatnya melainkan sifatnya dan dibayar sewa, misalnya,

rumah yang dikontrakkan /disewa mobil disewa untuk perjalanan. 30

g) Penyaluran Dana dengan Prinsip Ijarah Muntahiyyah Bittamlik

29
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 135

30
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 140
32

Ijarah muntahiyyah bittamlik adalah ijarah yang diakhir masa sewa nasabah

mempunyai hak opsi untuk memiliki objek sewa. Memberikan fasilitas kepada

nasabah yang membutuhkan manfaat atas barang dengan system sewa dan pada

akhir sewa nasabah mempunyai hak opsi.

h) Penyaluran Dana Pinjaman (Al-Qard)

Qardh atau Iqardh secara etimologi berartinpinjaman. Secara terminologi

muamalah (ta'rif) adalah "memiliki sesuatu yang harus dikembalikan dengan

pengganti yang sama". Al Qard adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah

(muqtaridh) yang memerlukan.

i) Qardhul Hasan

Pengertian qardhul hasan adalah kegiatan penyaluran dana dalam bentuk

pinjaman kebajikan tanpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam

mengembalikan pokok pinjaman secara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu

tertentu.31

Kehidupan bisnis perbankan Syariah sangat ditentukan berjalan tidaknya

produk-produk. Yang dijual kepada nasabah. Kesemuanya ini sangat dipengaruhi

oleh situasi prosedur produk yang dikembangkan dan dijalankan. Di dalam

prosedur operasional produk Bank Syariah dapat dibedakan menjadi dua

kelompok umum, yaitu: produk kelompok produk pengerahan dana dan prosedur

kelompok produk penyaluran dana (pembiayaan).

Dalam upaya memenuhi kemampuan penghimpunan dana sebagai sumber

penyediaan pembiayaan yang seimbang dan sehat di Bank Syariah, diperluan

kebijakan Standard Operasional Penghimpunan dana yang mengacu pada


31
Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah....hal. 150
33

Undang-Undang Perbankan, Peraturan Bank Indonesia, Fatwa Dewan Syariah

Nasional serta tidak bertentangan dengan Syariah Islam.

Panduan Kebijakan Penghimpunan dana ini harus dilakukan revaluasi

secara periodik oleh bank menyesuaikan dengan perkembangan, kebutuhan dan

peraturan-peraturan Bank Indonesia.

Panduan Kebijakan Penghimpunan dana ini mengatur hal-hal:

1) Penghimpunan dana adalah seluruh kegiatan penghimpunan dan

penerimaan dana pihak ketiga oleh Bank Syariah berupa tabungan,

deposito dan pembiayaan yang diterima serta dana sosial berupa

zakatm infaq, shadaqah, waqaf dan hibah (ziswah).

2) Dana pihak ketiga (DPK) adalah dana yang dihimpun dari masyarakat

baik perorangan, kelompok dan lembaga badan hukum dalam bentuk

Tabunan Wadiah, Tabungan Mudharabah, Deposito Mudharabah dan

Antar Bank Pasiva Bank Syariah dalam bentuk pembiayaan yang

diterima Serta dana sosial berupa ziswah.

3) Pejabat Bank meliputi Dewan Komisaris, Direksi, Manajer, Pimpinan

Cabang atau Kepala Bagian (Marketing dan Operasional).

4) Untuk menjaga efektifitas panduan kebijakan Penghimpunan dana ini

harus dilakukan kajian dan revisi dan revaluasi secara berkala.

C. Non Performing Financing (NPF)

Non Performing Loans (NPL) merupakan merupakan salah satu indikator

kesehatan kualitas aset bank. NPL yang digunakan adalah NPL gross yaitu NPL

yang telah disesuaikan. Penilaian kealitas aset merupakan penilaian terhadap


34

kondisi aset Bank dan kecukupan manajemen resiko kredit. Semakin tinggi nilai

NPL maka bank tersebut semakin tidak sehat. NPL yang tinggi menyebabkan

menurunnya laba yang akan diterima oleh bank. Penurunan laba mengakibatkan

dividen yang dibagikan juga semakin berkurang sehingga pertumbuhan tingkat

return saham bank akan mengalami penurunan.32

Sedangkan kualitas aktiva produktif pada bank syariah diukur dengan Non

Performing Financing (NPF). Aktiva produktif bank syariah diukur dengan

perbandingan antara pembiayaan bermasalah dengan total pembiayaan yang

diberikan. Besarnya NPF yang diperolehkan Bank Indonesia saat ini adalah

maksimal 5%, jika melebihi 5% maka akan mempengaruhi penilaian Tingkat

kesehatan bank bank yang bersangkutan, yaitu akan mengurangi nilai /skor yang

diperolehnya.33

Adapun NPF dapat dihitung dengan rumus :

Dalam bahasa latin kredit disebut “credere” yang artinya percaya.

Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit

yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si

penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban

untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Oleh

karena itu, untuk meyakinkan bank bahwa si nasabah benar-benar dapat

32
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability....hal. 141

33
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability....hal. 142
35

dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dahulu bank mengadakan

analis kredit.

Analisa kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek

usahanya, jaminan yang diberikan serta faktor-faktor lainnya. Tujuan analisis ini

adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.pengertian

kredit menurut Undang-Undang perbankan Nomor 10 tahun 1998 adalah:

Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan

dana pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah

jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Sedangkan pemberian pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan


yang dapat dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang
dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka
waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Dari pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kredit atau pembiayaan

dapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang. Yang

menjadikan perbedaan antara kredit yang diberikan oleh bank berdasarkan

konvensional dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip

syariah adalah terletak pada keuntungan yang diharapkan. Bagi bank berdasarkan

prinsip konvensional keuntungan yang diperoleh melalui bunga, sedangkan bagi

bank yang berdasarkan prinsip syariah berupa imbalan atau bagi hasil.34

Pembiayaan bermasalah atau kredit bermasalah adalah suatu keadaan


dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh

34
Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada: 2008), hal. 102
36

kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan dalam


perjanjian kredit.35

Penyebab dari suatu keadaan kredit (pembiayaan) bermasalah adalah

karena kesulitan-kesulitan keuangan yang dialami debitur. Kesulitan-kesulitan ini

timbul karena berbagai faktor. Faktor-faktor lain penyebab pembiayaan

bermasalah yang dialami oleh usaha debitur yaitu :

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang ada di dalam perusahaan sendiri.

Faktor kenyataan yang perlu sekali digaris bawahi adalah bahwa keberhasilan

usaha akan banyak sekali bergantung pada kemampuan dan keberhasilan

pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan yang mampu atau capable akan

menghasilkan sesuatu kegiatan yang memuaskan atau akan selalu dapat

memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Ketidak mampuan

manajemen berbeda dengan ketidak jujuran.

Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan disebabkanoleh beberapa faktor

yaitu faktor manajerial seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan

penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran, penetapan yang

berlebihan pada aktiva tetap dan permodalan yang tidak cukup..

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berada diluar kuasa manajemen

perusahaan seperti bencana alam, peperangan, perubahan dalam kondisi

perekonomian dan perdagangan, dan perubahan-perubahan teknologi.36


35
Suhardjono, manajemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah, (Yogyakarta:UPP AMP YKP,
t.t), hal 252.
36
Muchdarsyah,manajemen Dana Bank, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), hal. 279-280
37

Penggolongan pembiayaan bermasalah berdasarkan kemampuan membayar

debitur antara lain:

1) Lancar

Apabila dalam membayar kewajiban nasabah tidak memiliki

tunggakan angsuran pokok, tunggakan bagi hasil, atau cerukan

penarikan. Meskipun memiliki tunggakan pokok dan bagi hasil tetapi

belum melampaui 3 bulan.37

2) Dalam Perhatian khusus

Apabila terdapat tunggakan angsuran telah melampaui 90 hari, atau

sering terjadi carukan, frekuensi mutasi rekening relative rendah,

terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi oleh debitur, serta

dokumentasi pinjaman yang lemah.38

3) Kurang Lancar

Jika terdapat tunggakan pembayaran yang telah melampaui 90 hari

sampai dengan 180 hari (6bulan).39

4) Diragukan

Jika terdapat tunggakan pembayaran yang telah melampaui 180 hari

sampai 270 hari (9 bulan).

5) Macet

37
Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005),
hal. 165
38
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hal.64

39
Hermansyah, Hukum Perbankan.....,hal.63
38

Apabila terdapt tunggakan pembayaran yang telah melampaui 270

hari, atau kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru, dan

dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan

pada nilai wajar.40

1. Batas Maksimum Pemberian Pembiayaan

Bank islam wajib mematuhi batas maksimum pemberian pembiayaan

berdasarkan prinsip islam sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat 3 Undang-

undang Perbankan. Batas maksimum pemberian pembiayaan diterapkan oleh

Bank Indonesia untuk pembiayaan oleh bank kepada:

a. Pemegang saham yang memiliki 10% atau lebih modal setor bank.

b. Anggota Dewan Komisaris.

c. Anggota Direksi.

d. Keluarga dari pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c.

e. Pejabat bank lainnya.

f. Perusahaan-perusaan yang didalamnya terdapat kepentingan pihak-

pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c.

Batas maksimum pemberian pembiayaan bagi pihak terkait di atas, baik

satu pinjaman atau kelompok peminjam diterapkan setinggi-tingginya sebesar

10% dari modal bank.41

2. Teknik Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah

40
Hermansyah, Hukum Perbankan.....,hal.64

41
H. Veithzal Rivai dan H. Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi.
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hal.784
39

Bahwa pemberian suatu fasilitas pembiayaan (kredit) mengandung suatu

resiko kemacetan. Akibatnya pembiayaan (kredit) tidak dapat ditagih sehingga

menimbulkan kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Sepandai apa pun

analisis pembiayaan (kredit) dalam menganalisis setiap permohonan pembiayaan

(kredit), kemungkinan pembiayaan (kredit) tersebut macet pasti ada. Hanya saja

dalam hal ini, bagai mana meminimalkan resiko tersebut seminimal mingkin.

Dalam praktiknya kemancetan suatu pembiayaan (kredit) disebabkan oleh 2

unsur sebagai berikut:

a. Dari pihak Perbankan

Artinya dalam melakukan analisisnya, pihak analisis kurang teliti, sehingga

apa yang seharusnya terjadi, tidak diprediksi sebelumnya atau mungkin salah

dalam melakukan perhitungan. Dapat pula terjadi akibat kolusi dari pihak analisis

pembiayaan (kredit) dengan pihak debitur sehingga dalam analisisnya dilakukan

secara subyektif dan akal-akalan.

b. Dari Pihak nasabah

Dari pihak nasabah kemacetan kredit dapat dilakukan akibat dua hal yaitu:

1) adanya unsur kesengajaan. Dalam hal ini nasabah sengaja untuk tidak

bermaksud membayar kewajiban kepada bank sehingga pembiayaan (kredit) yang

diberikan macet. Dapat dikatakan tidak adanya unsur kemauan untuk membayar,

walaupun sebenarnya nasabah mampu. 2) Adanya unsur tidak sengaja. Artinya si

debitur mau membayar akan tetapi tidak mampu.

Dalam hal ini macet pihak bank prlu melakukan penyelamatan, sehingga

tidak akan menimbulkan kerugian. Penyelamatan yang dilakukan apakah dengan


40

memberikan keringan berupa jangka waktu atau angsuran terutama bagi

pembiayaan (kredit) yang sengaja lalai untuk membayar. Terhadap kredit yang

mengalami kemacetan sebaiknya dilakukan penyelamatan sehingga bank tidak

mengalami kerugian.

Penyelamatan terhadap pembiayaan (kredit) macet dilakukan dengan cara

antara lain:

1) Resceduling (penjadwalan kembali)

Suatu tindakan yang diambil dengan cara memperpanjang jangka

waktu pembiayaan (kredit) untuk membayar angsuran.

2) Reconditioning (persyaratan kembali)

Maksudnya adalah bank mengubah berbagai persyaratan yang

ada. Tetapi perubahan pembiayaan (kredit) tersebut tanpa memberikan

tambahan pembiayaan (kredit) atas seluruh maupun sebagain dari

pembiayaan (kredit) menjadi equity perusahaan.

3) Retructuring (penataan kembali)

Merupakan tindakan bank kepada nasabah dengan cara

menambah modal nasabah dengan pertimbangan nasabah memang

membutuhkan tambahan dana dan usaha yang dibiayai memang masih

layak.

4) Ekskusi (penyitaan) jaminan

Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah

sudah benar-benar tidak punya iktikad baik ataupun sudah tidak

mampu lagi untuk membayar semua hutang-hutangnya.42


42
Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada: 2008), hal. 128-131
41

D. Keuntungan

Dalam menjalankan suatu usaha atau setiap kegiatan tentu harapan pertama

kali diinginkan adalah memperoleh keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan

berbagai cara dilakukan bank sebagai bisnis keuangan dalam mencari keuntungan

juga memiliki cara tersendiri. Dalam praktik perbankan di Indonesia dewasa ini

terdapat dua model dalam mencari keuntungan yaitu bank yang berdasarkan

prinsip konvensional dan berdasarkan prinsip syari’ah.43

Laba merupakan salah satu fungsi penting dari ekonomi dan perbankan

konensional, di mana transfer kesejahteraan bagi pihak-pihak yang berkaitan

sangat ditentukan. Laba juga merupakan penunjuk untuk melakukan investasi.

Sterling mengemukakan:

Memaknai laba atau income sebagai nama yang diberikan kepada konsep
keluarga di dunia tentang ide-ide yang secara erat berkaitan dengan
kekayaan dan nilai yang mereka miliki. Keluarga dalam pengertian laba
versi Sterling di atas mengarah pada berbagai nama, antara lain; personal
income, business income, net income dan sebagainya.

Definisi lain dari laba juga dapat disimak dari penuturan Kam berikut ini:

Income is the change inthe capital of an entity between two point in time,
excluding changes due to investment by and distributions to owners,
where capital is expressed in term of value and based on a given scale.

Laba, dengan demikian mengandung tiga komponen utama yaitu nilai

(value), modal (capital), dan skala (scale). Ketiganya saling terkait (interrelated).

Nilai terkait dengan konsep nilai ekoomis terutama menyangkut hak prefensi

orang satu sama lain berbeda terhadap suatu komoditas karena adanya perbedaan

43
Kasmir, Manajemen perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada: 2002), hal. 36-37
42

ekspektasi terhadap profit di masa yang akan datang. Sedangkan modal (uang dan

fisik) merupakan aktiva dengan kewajiban. Sedangkan skala diperlukan dalam

proses pengukuran agar dapat memberikan arti atas obyek yang diukur.44

Keuntungan (profit) adalah tujuan utama dalam pembukuan atau usaha

proyek yang direncanakan. Semakin besar keuntunganyang diterima, semakin

layak pembukuan usaha atau proyek yang dikembangkan. 45 Aspek Earning

merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam

meningkatkan keuntungan. Kemampuan ini dilakukan suatu periode. Kegunaan

aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang

dicapai bank yang bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara

rentabilitas yang terus meningkat di atas standar yang telah ditetapkan.46

Adapun keuntungan dihitung dengan menggunakan rumus:

EAT (Laba Setelah Pajak) = Laba Sebelum Pajak (EBT) – Pajak Pendapatan

50%

E. Bank

1. Bank Konvensional

Bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya

menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Kemudian bank juga dikenal

sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang

membutuhkan. Di samping itu, bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukar

Muhammad, Bank Syari’ah Problem dan Prospek Perkembangan Di Indonesia, (Yogyakarta:


44

Graha Ilmu, 2005), hal. 90-91


45
Yacob Ibrahim, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2003), hal. 139

46
Kasmir, Dasar-dasar Perbankan.... hal. 44
43

uang, memindahkan uang atau menerima segala segala bentuk pembayaran dan

setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah, dan

pembayaran lainnya.

Menurut Undang-Undan RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November

1998 tenteng Perbankan:

Yang dimaksud dengan BANK adalah badan usaha yang menghimpun


dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Dari pengertian diatas dapat dijelaskan secara lebih luas lagi bahwa bank

merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas

perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Bank konvensional

memberikan balas jasa kepada penyimpan. Balas jasa tersebut dapat berupa

bunga. Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan jasanya, bank

konvensional akan membebankan bunga pnjaman kepada nasabahnya.

Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan

kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Akibat dari kebutuhan masyarakat

akan jasa keuangan semakin meningkat dan beragam, maka peranan dunia

perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat baik yang berada

di negara maju maupun negara berkembang.

Perkembangan dunia perbankan semakin pesat dan modern, perbaikan

semakin mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis suatu negara. Bahkan

aktivitas dan keberadaan perbankan sangat menentukan kemajuan suatu negara.

Di zaman kemerdekaan perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang

lagi. Beberapa bank Belanda yang dinasionalisir oleh Pemerintah Indonesia.


44

Bank-bank yang ada di zaman awal kemerdekaan antara lain:

a. Bank Negara Indonesia yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 kemudian

menjadi BNI 1946.

b. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946.

Bank ini berasal dari DE ALGEMENE VOLK CREDIET bank atau

syomin ginko.

c. Bank Surakarta MAI (Maskapai Adil Makmur) tahun 1945 di Solo.

d. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946.

e. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan.

f. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta, kemudian

menjadi Bank Amerta.

g. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946.

h. Bank Dagang Indonesia NV di Banjarmasin tahun 1946.

i. Kalimantan Corporation Trading di Samarinda tahun 1950 kemudian

merger dengan Bank Pasifik.

j. Bank Timur NV di Semarang berganti nama menjadi Bank Gemari,

kemudian merger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949.47

2. Bank Syariah

Perbankan syari’ah dalam peristilahan internasional dikenal sebagai

Islamic Banking atau disebut dengan interest-free banking. Peristilahan dengan

menggunakan kata Islamic tidak dapat dilepaskan dari asal-usul sistem perbankan

syari’ah itu sendiri. Bank syariah pada awalnya dikembangkan sebagai suatu

47
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), 24-
29.
45

respon dari kelompok ekonom dan praktisi perbankan Muslim yang berupaya

mengakomodasi desakan berbagai pihak yang menginginkan agar tersedia jasa

transaksi keuangan yang dilaksanakan sejalan dengan nilai moral dan prinsip-

prinsip syari’ah Islam. Utamanya adalah berkaitan dengan pelarangan praktik riba,

kegiatan maisir (spekulasi), dan gharar (ketidak jelasan).48

Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syari’ah, adalah bank

yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank islam atau biasa

disebut dengan Bank Tanpa Bunga, adalah lembaga keuangan atau perbankan

yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan

Hadits nabi SAW. Atau dengan kata lain, Bank Islam adalah lembaga keuangan

yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu

lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan

dengan prinsip syariat islam. Antonio dan Perwataatmadja membedakan menjadi

dua pengertian, yaitu

Bank Islam dan bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah Islam. Bank
Islam adalah (1) bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip
syari’ah Islam; (2) bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada
ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan hadits; sementara bank yang
beroperasi sesuai dengan prinsip syari’ahIslam adalah bank yang dalam
beroperasinya ini mengikuti ketentuan-ketentuan syari’ah Islam,
khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam.
Dikatakan lebih lanjut, dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi praktik-
praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba untuk diisi
dengan kegiatan-kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan
perdagangan.

Bank adalah lembaga perantara keuangan atau biasa disebut financial

intermediary. Artinya, lembaga bank adalah lebaga yang dalam aktivitasnya


48
Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), hal.13
46

berkaitan dengan masalah uang. Oleh karena itu, usaha bank akan selalu dikaitkan

dengan masalah uang yang merupakan alat pelancar terjadinya perdagangan yang

utama. Kegiatan dan usaha bank akan selalu terkait dengan komoditas, antara lain:

a. Memindahkan uang

b. Menerima dan membayarkan kembali uang dalam rekening koran

c. Mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat berharga lainnya

d. Membeli dan menjual surat-surat berharga

e. Membeli dan menjual cek, surat wesel, kertasdagang

f. Memberi jaminan bank

Untuk menghindari pengoperasian bank dengan sistem bunga islam

memperkenalkan prinsip-prinsip muamalahIslam. Dengan kata lain, Bank

Syari’ah lahir sebagai salah satu solusi alternatif terhadap persoalan pertentangan

antara bungan bank dan riba. Dengan demikian, kerinduan umat Islam Indonesia

yang ingin melepaskan diri dari persoalan riba telah mendapat jawaban dengan

lahirnay bank Islam. Bank islam lahir di Indonesia, yang gencarnya, pada sekitar

tahun 90-an atau tepatnya setelah ada Undang-Undang no. 7 thun 1992, yang

direvisi dengan Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998, dalam bentuk

sebuah bank yang beroperasinya dengan sistem bagi hasil atau bank syari’ah.

Kaitan antara bank dengan uang dalam suatu unit bisnis adalah penting,

namun di dalam pelaksanaannya harus menghilangkan adanya ketidak adilan,

ketidak jujuran dan “penghisapan”dari satu pihak ke pihak lain (bank dengan

nassabahnya). Kedudukan bank islam dalam hubungan dengan para kliennya


47

adalah sebagai mitra investor dan oedagang, sedangkan dalam hal bank pada

umumnya, hubungannya adalah ssebagai kreditur atau debitur.

Sehubungan dengan jalinan investor dan pedagang tersebut, maka dalam

menjalankan pekerjaannya, bank islam menggunakan berbagai teknik dan metode

investasi seperti kontrak mudharabah. Disamping itu, bank islam juga terlibat

dalam kontrak mudharabah. Mekanisme perbankan islam yang berdasarkan

prinsip mitra usaha, adalah bebas bunga. Oleh karena itu, soal membayar bunga

kepada para debitur atau pembebanan suatu suku bunga dari para klien tidak

timbul.49

3. Perbedaan Antara Bank Islam dan Bank Konvensional

Sistem perbankan islam berbeda dengan sistem perbankan konvensional,

karena sistem keuangan dan perbankan islam adalah merupakan subsistem dari

suatu sistem ekonomi Islam yang cakupannya lebih luas. Oleh karena itu,

perbankan islam, tidak hanya dituntut untuk menghasilkan profit secara

komersial, namun dituntut secara sungguh-sungguh menampilkan realisasi nilai-

nilai syari’ah.

Di dalam perbankan konvensional terdapat kegiatan-kegiatan yang dilarang

oleh syariat-syariat islam, seperti menerima dan membayar bunga (riba),

membiayai kegiatan produksi dan perdagangan barang-barang yang diharamkan

seperti minuman keras (haram), kegiatan yang sangat dekat dengan gambling

(maisir) untuk transaksi-transaksi tertentu dalam Foreign excange dealing, serta

higly and intended speculative transaction (gharar) dalam investmen banking.

49
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: Kampus Fakultas Ekonomi UII,
2005), hal.1-2
48

Tujuan dari pendirian bank-bank islam ini umumnya adalah untuk

mempromosikan dan mengembangkan aplikasi dari prinsip-prinsip islam,

syari’ah, dan trasisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis

lain yang terkait agar umat terhindar dari hal-hal yang tersebut, meskipun

sesungguhnya Islam bukanlah satu-satunya agama yang melarang pembayaran

bunga. Penentangan terhaadap bunga bahkan sudah terjadi sejak zaman Yunani

Kuno, baik oleh Aristoteles maupun plato.

Prinsip utama yang dianut oleh Bank islam adalah 1) larangan riba (bunga)

dalam berbagai bentuk transaksi; 2) menjalankan bisnis dan aktivitas perdagangan

yang berbasis pada memperoleh keuntungan yang sah menurut syari’ah; dan 30

menuumbuh kembangkan zakat. Sepanjang praktik perbankan konvensional tidak

bertentangan dengan prinsip-prinsip islam, maka Bank-bank Islam telah

mengadopsi sistem dan prosedur perbankan yang ada.

Namun, bila terjadi pertentangan dengan prinsip syari’ah, maka Bank-bank

Islam merencanakan dan menerapkan sistem sendiri guna menyesuaikan aktivitas

perbankan mereka dengan prinsip-prinsip Syariat Islam. Untuk itu dewan syariah

berfungsi memberikan masukan kepada perbankan islam guna memastikan,

bahwa bankk islam tidak terlibat dengan unsur-unsur yang tidak setujui oleh

islam.

Berdasarkan prinsip utama itu, maka operasional, terdapt perbedaan-

perbedaan yang subtantif antara perbankan Islam dengan perbankan konvensional,

seperti terlihat pada tabel dibawah ini.50

50
H. Veithzal Rivai dan H. Arviyan Arifin, Islamic Banking...., hal. 675-678
49

Tabel 1.1 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional51

No. Bank Syariah Bank Konvensional


1. Investasi, hanya untuk proyek dan Investasi,tidak mempertimbangkan
produk yang halal serta halal atau haram asalkan proyek
menguntungkan. yang dibiayai menguntungkan.
2. Return yang dibayar dan/ atau Return baik yang dibayar kepada
diterima berasal dari bagi hasil atau nasabah penyimpan dana dan
pendapatan lainnya berdasarkan return yang diterima dari nasabah
prinsip bagi hasil. pengguna dana berupa bunga.
3. Perjanjian dibuat dalam bentuk akad Perjanjian menggunakan hokum
sesuai dengan syariah Islam. positif.
4. Orientasi pembiayaan, tidak hanya Orientasi pembiayaan, untuk
untuk keuntungan qakan tetapi juga memperoleh keuntungan atas dana
falah oriented, yaitu berorientasi yang dipinjamkan.
pada kesejahteraan masyarakat.
5 Hubungan antara bank dan nasabah Hubungan antara bank dan nasabah
adalah mitra. adalah kreditor dan debitur.
6 Dewan pengawas terdiri dari BI, Dewan pengawas terdiri dari BI,
Bapepam, Komisaris, dan Dewan Bapepam, dan Komisaris.
Pengawas Syariah (DPS).
7 Penyelesaian sengketa, diupayakan Penyeesaian sengketa melalui
diselesaikan secara musyawarah pengadilan negeri setempat.
antara bank dan nasabah, melalui
peradilan agama.

Ada perbedaan mendasar dalam konsep pelaksanaan di bank konvensional

dan bank islam, yaitu antara lain konsep antara investasi dengan membungakan

uang, dan perbedaan konsep antara utang uang, dan utang barang.

F. Peneliti Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu:

Ema Nasrotul Hidayah,52 tujuan penelitian dari penulis adalah: 1) Untuk

mengetahui Prosedur pemohonan pembiayaan musyarakah pada BMT Ar-


51
Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 38

Ema Nasrotul Hidayah, Strategi Pembiayaan Bermasalah pada Produk Musyarakah di BMT AR
52

RAHMAN Kedungwaru,(Tulungagung: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)


50

RAHMAN. 2) Untuk mengetahui faktor penyebab pembiayaan bermasalah pada

produk musyarakah di BMT Ar-RAHMAN. 3) Untuk mengetahui stategi

pembiayaan bermasalah pada BMT Ar-RAHMAN. Metode penelitian yang

digunakan adalah metode penelitian kualitatif,metode pengumpulan data dalam

skripsi ini menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode

dokumentasi. Hasil penelitian penulis adalah pada dasarnya penyebab terjadinya

pembiayaan bermasalah pada produk musyarakah disebabkan oleh faktor intern

dan ekstern, upaya BMT Ar-RAHMAN dalam menyelesaikan pembiayaan

bermasalah yang dilakukan oleh nasabah yaitu tindakan awal melakukan

musyawarah kekeluargaan akan tetapi mendapat sambutan baik dari nasabah,

maka diberi surat peringatan sampai dengan 3 kali, jika tetap tidak merespon

maka BMT berhak untuk menjual barang jaminan. Bentuk penyelesaian jika

dengan menjual barang jaminan tidak bisa terselesaikan maka tindakan akhir yaitu

penanganan dari tim khusus gabungan dari beberapa cabang BMT Ar-RAHMAN

yang memang bertugas untuk menyelesaikan tanpa melalui jalur hukum.

Suryani53, tujuan untuk: (1) menganalisis kondisi Financing to Deposit

Ratio (FDR) pada Perbankan Syariah di Indonesia, (2) menganalisis profitabilitas

perbankan syariah di Indonesia (3) menganalisis pengaruh Financing to Deposit

Ratio (FDR) profitabilitas perbankan syariah di Indonesia. Sampel dari kajian ini

meliputi 11 bank syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS). Data peneitian ini

diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia

dari bulan Januari 2008 hingga Desembar 2010 (Kajian mengenai Financial Ratio
Suryani, Analisis Pengaruh FDR Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Di Indonesia. Pada
53

penelitian ini penulis menganalisis kondisi Financing To Deposit Ratio (FDR) pada Perbankan
Syariah di Indonesia, (Lhokseumawe: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)
51

BUS dan UUS dalam periode 2008-2010) Sebanyak 34 bank dilibatkan dalam

penelitian ini. Adapun teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis

regresi linear dengan bantuan program EVIEWS versi 5. Hasil analisis dan

pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Financing to Deposit Ratio

(FDR) bank syariah memiliki rata-rata sebesar 103,65% sepanjang tahun 2008,

sebesar 89,70% di tahun 2009 dan sebesar 94,37% di tahun 2010. Secara

keseluruhan, rata-rata Financing to Deposit Ratio (FDR) dalam periode tiga

tahun pengamatan adalah sebesar 98,79%; (2) Return on Asset (ROA) merupakan

salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan total yang

dimilikinya. Berdasarkan deskripsi variabel diperoleh rata-rata Return on Asset

(ROA) di tahun 2008 sebesar 1,77%, 1,98% di tahun 2009 dan 1,74% di tahun

2010. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata Return on Asset (ROA) dalam tiga

tahun pengamatan masih berada di atas ketentuan Bank Indonesia yaitu standar

Return on Asset (ROA) yang baik adalah sekitar 1,5%; (3) Hasil analisis regresi

menunjukkan tidak adanya pengaruh signfikan Financing to Deposit Ratio (FDR)

terhadap Return on Asset (ROA). Besaran t hitungadalah 0,745 jauh di bawah t

tabel 2,032.

Dhika Rahma Dewi,54 tujuan dari penelitian penulias adalah menganalisis

pengaruh CAR terhadap ROA Bank Syariah di Indonesia, menganalisis pengaruh

FDR terhadap ROA Bank Syariah di Indonesia, menganalisis pengaruh NPF

54
Dhika ahma Dewi, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah Di
Indonesia, (Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)
52

terhadap ROA Bank Syariah di Indonesia, dan menganalisis pengaruh REO

terhadap ROA Bank Syariah di Indonesia. Adapun jumlah populasi dalam

penelitian ini adalah bank syariah yang terdaftar di Bank Indonesia pada tahun

2005-2008, sampel yang dapat digunakan sebanyak 3 bank umum syariah. Sampel

penelitian diambil secara purposive sampling yaitu metode dimana pemilihan

sampel pada karakteristik populasi yang sudah diketahui. Kemudian dilakukan

analisis terhadap data-data yang diperoleh. Analisa data yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu pengujian asumsi klasik, analisis regresi berganda, dan uji

hipotesis.Untuk menganalisis data menggunakan alat bantu software SPSS. Dari

hasil uji hipotesis Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak berpengaruh signifikan

terhadap ROA pada Bank Syariah di Indonesia, Financing to Deposit Ratio (FDR)

tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA pada Bank Syariah di Indonesia, Non

Performing Financing (NPF) berpengaruh signifikan negatif terhadap ROA pada

Bank Syariah di Indonesia, Rasio Efisiensi Operasional (REO) berpengaruh

signifikan negatif terhadap ROA pada Bank Syariah di Indonesia.

Endah Diana Nuroini,55 tujuan penelitian dari penulis adalah: untuk

mengetahui secara jelas konsep keuntungan konvennsional, islam dan batasan

pengambilan keuntungan. Metode yang digunakan penulis adalah metode

deduktif. Hasil penelitian penulis adalah keuntungan merupakan selisih lebih

antara modal dan biaya-biaya operasional usaha. Keuntungan dalam konvensional

mengandung keuntungan secara materi semata dengan kebebasan mengambil

keuntungan sebesar-besarnya bagi kapitalis dan penguasaan pemerintah bagi

Endah Diana Nuroini, Kajian Keuntungan Dalam Prespektif Ekonomi Konvensuional dan Islam,
55

(Tulungagung: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)


53

sosialis, dan dalam aliran konvensional ini mengandung unsur riba serta tidak

adanya norma dalam pengambilan keuntungan. Islam menganggap bahwa

keuntungan tidak hanya bersifat materi samata, akan tetapi dalam mengambil

keuntungan harus membawa serta keimanan kepada Allah SWT agar keuntungan

ukhrawi juga diperoleh.

Dari beberapa kajian penelitian yang sudah ada, seperti yang dipaparkan

diatas untuk itu peneliti mengkaji suatu penelitian yang berbeda dengan penelitian

sebelumnya, disini peneliti juga meneliti pembiayaan bermasalah yang terjadi di

bank Mega syariah Indonesia. Peneliti meneliti kemampuan bank dalam

menyalurkan pembiayaan atau dananya (FDR) dan pembiayaan bermasalah (NPF)

terhadap keuntungan, peneliti mengukur keuntungan dengan menggunakan laba

setelah pajak atau earning after tax (EAT).

G. Kerangka Berfikir penelitian

1
X1

2
Y
X2

Sesuai dengan rancangan kerangka berfikir di atas dapat dijelaskan bahwa,

terdapat dua variabel independen X1 dan X2 dan satu variabel dependen Y.


54

Variabel financing to deposit ratio (FDR) (X1) dan non performing financing

(NPF) (X2) keduanya secara sendiri maupun bersama-sama mempunyai pengaruh

terhadap variabel keuntungan (Y).


55

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian yang adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh

pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. pada hakekat merupakan suatu

bagian pokok dari ilmu pengetahuan, yang bertujuan untuk lebih mengetahui dan

lebih mendalami segala segi kehidupan.56 Soekamto menjelaskan, “Bahwa suatu

penelitian, khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik, pada umumnya

bertujuan untuk menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu

pengetahuan”.57

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif untuk

memperoleh signifikasi pengaruh antar variabel yang diteliti yaitu: “Pengaruh

financing to deposit ratio (FDR) dan non performing financing (NPF) terhadap

keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia”.

Penelitian kuantitatif merupakan penelitian dengan meneliti seberapa besar

pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent)”.58

Metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau

sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis

data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah

Ahmad Tanzeh, Pengantar Metodologi Penelitian,(Yogyakarta:Teras, 2009), hal. 2


56

57
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metodologi ..., hal. 3

Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian,(Bandung: Alfabeta, 2006), hal. 11


58
56

ditetapkan. Pendapat lain juga mengatakan bahwa penelitian kuantitatif

merupakan suatu pendekatan yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai

dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data, serta penampilan dari hasilnya.59

Sehubungan dengan definisi di atas, permasalahan yang diangkat pada

penelitian ini merupakan jenis asosiatif, yaitu suatu pertanyaan peneliti yang

bersifat menghubungkan dua variabel atau lebih. Hubungan variabel dalam

penelitian adalah hubungan kausal, yaitu hubungan yang bersifat sebab akibat.

Ada variabel independent (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependent

(dipengaruhi). Variabel independent dalam penelitian ini FDR (X1) dan NPF

(X2) dan variabel dependent adalah Keuntungan (Y).

B. Populasi

Populasi dalam penelitian kuantitatif merupakan istilah yang sangat lazim

dipakai. Populasi diartikan sebagai jumlah kumpulan unit yang akan diteliti

karateristik atau cirinya. Populasi yaitu keseluruhan sasaran yang seharusnya

diteliti dan pada populasi itu hasil penelitian diberlakukan. 60 Adapun yang menjadi

kriteria dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

1. PT. Bank Mega Syariah Indonesia merupakan Bank Umum Syariah yang

lahir di Indonesia berawal dari Bank Umum Tugu.

2. Perusahaan tersebut memiliki laporan keuangan yang telah dipublikasikan

di website resmi Bank Indonesia di www.bi.go.id.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,(Jakarta: Rineka


59

Cipta,2010),hal. 12.

Moh. Kasiran, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang:UIN Maliki Press,2010),


60

hlm.257.
57

3. Peneliti menentukan jumlah sampel dari seluruh populasi yang ada di

laporan keuangan PT. Bank Mega Syariah Indonesia dari periode tahun

2004 triwulan ke-1 sampai dengan tahun 2013 triwulan ke-4. Jadi

penelitian ini merupakan penelitian populasi.

Karena penelitian ini merupakan penelitian populasi, maka teknik sampling

dalam penelitian ini tidak ada.

C. Sumber Data, variabel, dan Skala Pengukurannya

1. Sumber Data.

Data adalah sekumpulan bukti atau fakta yang dikumpulkan dan disajikan

untuk tujuan tertentu. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah data sekunder, yaitu data yang lebih dahulu dikumpulkan dan

dilaporkan oleh orang atau instansi di luar dari peneliti sendiri, walaupun

yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Data yang

diambil adalah berupa laporan keuangan dari Income Statment dan

Balance Sheetberdasarkan data periode tahun 2004 triwulan ke-1 samapai

dengan tahun 2013 triwulan ke-4 PT. Bank Mega Syariah Indonesia.

Dengan demikian, data penelitian ini bersifat time series.

2. Variabel Penelitian.

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa

saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh

informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Secara

teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek

yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan orang yang lain atau
58

dengan satu obyek dengan obyek lang lain. Variabel juga dapat merupakan

atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.61

a. FDR adalah menunjukan kesehatan bank dalam memberikan

pembiayaan.62 Rasio ini dipergunakan untuk mengukur sampai sejauh

mana dana pinjaman yang bersumber dari dana pihak ketiga. Tinggi

rendahnya rasio ini menunjukkan tingkat likuiditas bank tersebut.

Sehingga semakin tinggi angka FDR suatu bank, berarti digambarkan

sebagai bank yang kurang likuid dibandingkan dengan bank yang

mempunyai angka rasio yang lebih kecil.63

RUMUS FDR =

b. NPF adalah perbandingan kredit bermasalah dengan pembiayaan.

Besarnya NPF yang diperolehkan Bank Indonesia saat ini adalah

maksimal 5%, jika melebihi 5% maka akan mempengaruhi penilaian

Tingkat kesehatan bank bank yang bersangkutan, yaitu akan

mengurangi nilai / skor yang diperolehnya.64

RUMUS NPF =

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 60
61

Muhammad, Manajemen Dana....hal.159


62

Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah. (Yogyakarta: UII Pres, 2000),
63

hal.74
64
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability....hal. 142
59

c. Keuntungan adalah tujuan utama dalam pembukuan atau usaha proyek

yang direncanakan. Semakin besar keuntunganyang diterima, semakin

layak pembukuan usaha atau proyek yang dikembangkan.65

RUMUS keuntungan =

EAT (Laba Setelah Pajak) = Laba Sebelum Pajak (EBT) – Pajak

Pendapatan 50%

3. Skala Pengukuran.

Penelitian ini menggunakan skala pengukuran rasio. Skala rasio mengatasi

kekurangan titik permulaan yang berubah-ubah pada skala interval, yaitu

skala rasio memiliki titik nol absolut-absolute (berlawanan dengan

berubah-ubah), yang merupakan titik pengukuran yang berarti. Jadi, skala

rasio tidak hanya mengukur besaran perbedaan antar titik pada skala,

namun juga menunjukkan proporsi perbedaan.66 Skala rasio merupakan

skala pengukuran  yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa

dibedakan, diurutkan, mempunyai jarak tertentu, dan bisa dibandingkan

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi yaitu dengan

cara mencari dan mengunpulkan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dll. Data-data yang diperoleh dalam

penelitian ini meliputi data mengenai variabel yang diteliti yaitu FDR dan NPF

Yacob Ibrahim, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2003), hal. 139
65

Uma Sekaran, Metodologi Penelitian Untuk Bisnis, (Jakaarta: Salemba Empat, 2006), hal. 20
66
60

sebagai variabel independent, serta variabel Keuntungan sebagai variabel

dependent.

Adapun prosedur pengumpulan data dalam penelitian yang dilakukan oleh

penulis adalah: penelitian kepustakaan (Library Research) dari situs

www.bi.go.id, www.megasyariah.co.id, serta mengkaji buku-buku literature,

jurnal dan majalah untuk memperoleh landasan teoritis yang komprehensif

tentang bank syariah, media cetak, serta mengeksplorasi laporan-laporan

keuangan yang bertujuan untuk memperoleh data sekunder dan untuk mengetahui

indikator-indikator dari variabel yang diukur.

Penelitian ini juga berguna sebagai pedoman teoritis pada waktu melakukan

penelitian lapangan serta untuk mendukung dan menganalisis data, yaitu dengan

cara mempelajari literatur-literatur yang relevan dengan topik yang sedang diteliti.

E. Anaisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian agar dapat

diinterpretasikan dan mudah dipahami adalah:

1. Uji Normalitas Data

Merupakan teknik membangun persamaan garis lurus untuk membuat

penafsiran, agar penafsiran tersebut tepat maka persamaan yang digunakan

untuk menafsirkan juga harus tepat.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Multikolonearitas.

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan

adanya korelasi diantara variabel independen. Model regresi yang baik


61

seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen karena

akan mengurangi keyakinan dalam pengujian signifikansi. Untuk

mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolonearitas di dalam model

regresi ini dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF).67

b. Uji Heteroskedastisitas.

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variable dari residual satu pengamatan ke pengamatan

yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan

lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika berbeda disebut

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi

heterokedastisitas. Uji heterokedastiitas dalam penelitian ini dengan

cara melihat grafik plot.

c. Uji Autokorelasi.

Adalah korelasi yang terjadi diantara anggota observasi yang terletak

berderetan, biasanya terjadi pada data time series.68 Uji ini bertujuan

menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara

kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-

1 atau sebelumnya.

3. Uji Regresi Berganda

Agus Eko Sujianto, Aplikasi Statistik Dengan SPSS 16.0, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,
67

20090 hal. 79

Agus Eko Sujianto, Aplikasi Statistik Dengan SPSS 16.0,....hal. 80


68
62

Regresi berganda seringkali digunakan untuk mengatasi permasalah

analisis regresi yang melibatkan dua atau lebih variabel bebas.69Dalam

penelitian ini, variabel terikat dipengaruhi oleh dua variabel bebas. Maka

untuk menguji atau melakukan estimasi dari suatu permasalahan yang terdiri

dari lebih dari satu variabel bebas tidak bisa dengan regresi sederhana. Alat

analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda.

Persamaan umum regresi berganda adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2+...bnXn

Keterangan :

Y = variable dependent (Keuntungan)

X1= variable independent (FDR)

X2= variable independent (NPF)

b1, b2, bn= angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka

peningkatan ataupun penurunan variable dependent yang didasarkan pada

perubahan variabel independen.

4. Uji Hipotesis

a. Hipotesis I : FDR berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT.

Bank Mega Syariah Indonesia. Di uji dengan menggunakan Uji t (t-

test). Untuk mengetahui keterandalan serta kemaknaan dari nilai koefisien

regresi, sehingga dapat diketahui apakah pengaruh variabel FDR (X2)

berpengaruh signifikan atau tidak terhadap keuntungan (Y). Kriteria

pengujian yang digunakan yaitu : Ho diterima jika t hitung <t tabel => tidak ada

pengaruh yang signifikan signifikan antara FDR terhadap Keuntungan. Ho

Agus Eko Sujianto, Aplikasi Statistik Dengan SPSS 16.0,....hal. 56


69
63

ditolak jika t hitung > t tabel atau t hitung < -t tabel => ada pengaruh yang

signifikan antara FDR terhadap Keuntungan.

b. Hipotesis II : NPF berpengaruh signifikan terhadap keuntungan PT.

Bank Mega Syariah Indonesia. Di uji dengan menggunakan Uji t (t-

test). Untuk mengetahui keterandalan serta kemaknaan dari nilai koefisien

regresi, sehingga dapat diketahui apakah pengaruh variabel NPF (X3)

berpengaruh signifikan atau tidak terhadap keuntungan (Y). Kriteria

pengujian yang digunakan yaitu : Ho diterima jika t hitung <t tabel => tidak ada

pengaruh yang signifikan signifikan antara NPF terhadap Keuntungan. Ho

ditolak jika t hitung > t tabel atau t hitung < -t tabel => ada pengaruh yang

signifikan antara NPF terhadap Keuntungan.

c. Hipotesis III : FDR dan NPF secara bersama-sama berpengaruh

terhadap keuntungan PT. Bank Mega Syariah Indonesia. Di uji dengan

menggunakan Uji F (F-tes). F-tes digunakan untuk menguji pengaruh

secara bersama-sama antara FDR dan NPF terhadap Keuntungan. Ho

diterima jika Fhitung < Ftabel => Tidak ada pengaruh yang signifikan antara

FDR dan NPF terhadap Keuntungan. Ho ditolak jika F hitung > Ftabel =>

Ada pengaruh yang signifikan antara FDR dan NPF terhadap

Keuntungan.

5. Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) dari hasil regresi berganda menunjukkan

seberapa besar variabel dependen bisa dijelaskan oleh variabel-variabel

bebasnya. Dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda maka

masing-masing variabel independent yaitu FDR dan NPF secara parsial dan
64

secara simultan mempengaruhi variabel dependen yaitu Keuntungan yang

dinyatakan dengan R2 untuk menyatakan koefisien determinasi atau seberapa

besar pengaruh FDR dan NPF terhadap Keuntungan. Sedangkan r2 untuk

menyatakan koefisien determinasi parsial variabel independent terhadap

variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi adalah 0 sampai dengan

1. Semakin mendekati nol, maka semakin kecil pula pengaruh semua

variabel independent terhadap nilai variabel dependen (dengan kata lain

semakin kecil kemampuan model dalam menjelaskan perubahan nilai

variabel dependen).

Sedangkan jika koefisien determinasi mendekati 1 maka dapat

dikatakan semakin kuat model tersebut dalam menerangkan variasi variabel

independent terhadap variabel terikat. Angka dari R square didapat dari

pengolahan data melalui program SPSS yang bisa dilihat pada tabel model

summery kolom R square.

Rumus:
R2 = r2 x100
%
2
R = Koefisien Determinasi
65

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Data

1. Analisis FDR

Semakin besar penyaluran dana yang diberikan maka pendapatan yang

diperoleh akan naik, karena pendapatan tersebut naik secara otomatis keuntungan

juga akan mengalami kenaikan. Dari analisa dan perhitungan, dapat diperoleh data

FDR selama periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2013 sebagai berikiut:

Gambar 4.1
Kurva FDR dalam (%)

Sumber : lampiran 15
66

FDR memiliki nilai terendah (minimum) sebesar 32% pada Bank Mega

Syariah Indonesia periode Desember 2004 dan nilai tertinggi (maksimum) sebesar

91% pada Bank Mega Syariah Indonesia periode September 2004. Dengan rata-

rata sebesar 56,45% Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik, pada periode

penelitian, nilai FDR pada Bank Mega Syariah Indonesia tidak melebihi standar

maksimal yang ditetapkan BI yaitu 110%.

2. Analisis NPF

Kualitas aktiva produktif pada bank syariah diukur dengan NPF. Aktiva

produktif bank syariah diukur dengan perbandingan antara pembiayaan

bermasalah dengan total pembiayaan yang diberikan. Besarnya NPF yang

diperolehkan Bank Indonesia saat ini adalah maksimal 5%, jika melebihi 5%

maka akan mempengaruhi penilaian Tingkat kesehatan bank bank yang

bersangkutan, yaitu akan mengurangi nilai / skor yang diperolehnya.70 Dari analisa

dan perhitungan, dapat diperoleh data NPF selama periode tahun 2004 sampai

dengan tahun 2013 sebagai berikiut:

Gambar 4.2
Kurva NPF dalam (%)

70
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability....hal. 142
67

Sumber : lampiran 16

NPF memiliki nilai terendah (minimum) sebesar 1% pada Bank Mega

Syariah Indonesia dan nilai tertinggi (maksimum) sebesar 4% pada Bank Mega

Syariah Indonesia periode September 2009, dengan nilai rata-rata (mean) sebesar

3,8483%. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik, pada periode penelitian

nilai NPF Bank Umum Syariah tidak melebihi standar maksimal yang ditetapkan

BI yaitu sebesar 5%.

3. Analisis Keuntungan

Semakin besar keuntunganyang diterima, semakin layak pembukuan usaha

atau proyek yang dikembangkan.71 Bank yang sehat adalah bank yang diukur

secara rentabilitas yang terus meningkat di atas standar yang telah ditetapkan. 72

Dari analisa dan perhitungan, dapat diperoleh data Keuntungan selama periode

tahun 2004 sampai dengan tahun 2013 sebagai berikiut:

Gambar 4.3
Kurva Keuntungan dalam (%)

71
Yacob Ibrahim, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta, PT Rineka Cipta: 2003), hal. 139

72
Kasmir, Dasar-dasar Perbankan.... hal. 44
68

Sumber : lampiran 17

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa dari triwulan pertama sampai

dengan triwulan keempat pada Bank Mega Syariah Indonesia mengalami

peningkatan keuntungan pada setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan kinerja Bank

Mega Syariah Indonesia dalam setiap tahunnya signifikan, dalam artian

berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh.

4. Uji Normalitas Data

a. Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov-Smirnov

Untuk menguji data yang berdistribusi normal, akan digunakan alat uji

normalitas, yaitu One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Data dikatakan

berdistribusi normal jika signifikasi variabel memiliki nilai signifikasi > 0,05.73

Pengujian normalitas data dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 4.1
Hasil Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

FDR NPF Keuntungan

N 34 34 34

73
Agus Eko Sujianto, Apikasi Statistik Dengan SPSS 16.0, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009), hal.
83
69

Normal Parametersa Mean 55.1176 42.5294 42.5294

Std. Deviation 1.33047E1 9.52608 34.91308

Most Extreme Differences Absolute .122 .133 .128

Positive .122 .057 .128

Negative -.050 -.133 -.117

Kolmogorov-Smirnov Z .712 .775 .749

Asymp. Sig. (2-tailed) .692 .586 .628

a. Test distribution is Normal.

Sumber : lampiran 4

Pada tabel One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diatas dapat dilihat bahwa

nilai Asymp. Sig. (2-tailed) untuk X1 (FDR) sebesar 0,692, X2 (NPF) sebesar

0,586, Y (Keuntungan) sebesar 0,628 sehingga dapat disimpulkan bahwa data

yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi secara normal. Karena memiliki

nilai signifikasi > 0,05. Nilai ini dibandingkan dengan 0,05 (dalam kasus ini

menggunakan taraf signifikansi atau a = 5%) untuk pengambilan keputusan

dengan pedoman:

1) Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05, distribusi data

adalah tidak normal.

2) Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, distribusi data

adalah normal.

Tabel 4.2

Keputusan Uji Normalitas Data

Nama Nilai Asymp. Taraf Keputusan


Variabel Sig. (2-tailed) signifikansi

FDR 0,692 0,05 Normal


70

NPF 0,586 0,05 Normal

Keuntungan 0,628 0,05 Normal

Sumber : lampiran 4

b. Uji Normalitas Data Dengan Normal P-P Plots

Gambar 4.4
Normal P-P Plots untuk Variabel FDR

Sumber : lampiran 5

Gambar 4.5
Normal P-P Plots untuk Variabel NPF

Sumber : lampiran 6
71

Gambar 4.6
Normal P-P Plots untuk Variabel Keuntungan

Sumber : lampiran 7

5. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya variabel

independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu

model. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi korelasi diantara variabel

bebas. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas yaitu jika variance inflantion

factor (VIF) tidak lebih dari 10 maka model terbebas dari multikolinearitas. Nilai

VIF dapat dilihat dalam table dibawah ini:

Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa
72

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 FDR .685 1.460

NPF .685 1.460


a. Dependent Variable: Keuntungan
Sumber : lampiran 8

Berdasarkan Coefficients di atas dapat diketahui bahwa VIF adalah 1,460

(variabel FDR) dan 1,460 (variabel NPF). Hasil ini berarti variabel FDR dan NPF

terbebas dari asumsi klasik multikolinearitas karena hasilnya lebih kecil dari 10.

b. Uji Heterokedastisidas

Untuk mengetahui ada tidaknya heterokedastisidas pada suatu model dapat

dilihat dari pola gambar Scatterplot. Tidak terdapat heterokedastisidas jika: (1)

penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola; (2) titik-titik data menyebar di

atas dan dibawah atau disekitar angka 0; dan (3) titik-titik data tidak megumpul

hanya diatas atau dibawah saja.74

Gambar 4.7
Hasil Uji Heterokedastisidas

74
Agus Eko Sujianto, Apikasi Statistik……..,hal. 79-80
73

Sumber : lampiran 9

Berdasarkan dari pola model Scatterplot diatas diketahui tidak terjadi

heterokedastisidas, hal ini ditunjukkan oleh penyebaran titik-titik data yang tidak

berpola serta menyebar disekitar angka nol dan tidak mengumpul hanya diatas

atau dibawah saja.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

berganda ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk menguji autokorelasi akan

dilakukan dengan menggunakan pengujian Durbin-Watson dengan ketentuan

sebagai berikut:

 1,65 < DW < 2,35 maka tidak ada autokorelasi

 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 maka tidak dapat disimpulkan

 DW < 1,21 atau DW > 2,79 maka terjadi autokorelasi.

Pengujian autokorelasi dapat dilihat dalam table berikut ini:

Tabel 4.4
Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Std. Error of the


Model R R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson

1 .273a .074 .015 34.65491 .786

a. Predictors: (Constant), NPF, FDR

b. Dependent Variable: Keuntungan


Sumber : lampiran 10
74

Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Durbin-Watson pada Model Summary

menunjukkan hasil sebesar 0,786. Karena nilai 0,786 terletak diantara < 1,21 atau

DW > 2,79 maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi ini terjadi

autokorelasi.

6. Uji Regresi Berganda

Analisis regresi berganda untuk mengetahui pola hubungan antara variabel

independen (FDR dan NPF) dengan variabel dependennya (Keuntungan). Analisis

regresi berganda dapat dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 4.5
Hasil Uji Regresi Berganda

Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 132.311 38.229 3.461 .001

FDR -1.180 .507 -.372 -2.326 .026

NPF -6.212 8.933 -.111 -.695 .491

a. Dependent Variable: Keuntungan


Sumber : lampiran 11

Output coefficients digunakan untuk menggambarkan persamaan regresi

berikut ini:
75

Y = 132,311 – 1,180 (X1) – 6,212(X2) atau

Keuntungan = 132,311 – 1,180 (FDR) – 6,212 (NPF)

Keterangan:

 Konstanta sebesar 132,311 menyatakan bahwa apabila tidak ada variabel

FDR dan NPF maka keuntungan sebesar 132,311%. Dalam arti

Keuntungan (Y) sebesar 132,311% sebelum atau tanpa adanya variabel

FDR dan NPF.

 Koefisien regresi X1 sebesar – 1,180 menyatakan bahwa setiap kenaikan 1

satuan unit dari FDR, maka akan menurunkan keuntungan sebesar 1,180.

Dan sebaliknya jika setiap penurunan sebesar 1 satuan unit dari FDR,

maka keuntungan juga diprediksi akan menambah keuntungan sebesar

1,180.

 Koefisien regresi X2 sebesar –6,212 menyatakan bahwa setiap

penambahan 1 satuan unit dari NPF, maka akan menurunkan keuntungan

sebesar – 6,212. Dan sebaliknya jika setiap penurunan sebesar 1 satuan

unit dari NPF, maka keuntungan juga diprediksi mengalami kenaikan

sebesar – 6,212.

7. Uji Hipotesis

a. Analisis Pengaruh FDR Terhadap Keuntungan

FDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana

pihak ketiga yang dihimpun oleh bank yang bersangkutan. Rasio ini dipergunakan

untuk mengukur sampai sejauh mana dana pinjaman yang bersumber dari dana

pihak ketiga. Tinggi rendahnya rasio ini menunjukkan tingkat likuiditas bank
76

tersebut. Sehingga semakin tinggi angka FDR suatu bank, berarti digambarkan

sebagai bank yang kurang likuid dibandingkan dengan bank yang mempunyai

angka rasio yang lebih kecil.75

Sedangkan sebagai indikator pada simpanan adalah giro, deposito, tabungan

yang masing-masing tercantum pada sisi pasiva neraca bank. Tujuan perhitungan

FDR adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi seberapa jauh sebuah bank

memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasi atau kegiatan usahanya. FDR

digunakan sebagai indikator kerawanan suatu bank.76 Semakin besar penyaluran

dana yang diberikan maka pendapatan yang diperoleh akan naik, karena

pendapatan tersebut naik secara otomatis keuntungan juga akan mengalami

kenaikan. Pengaruh FDR terhadap Keuntungan peneliti menguji dengan uji t

dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6
Hasil Uji t-tes
Coefficientsa

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 132.311 38.229 3.461 .001

FDR -1.180 .507 -.372 -2.326 .026

NPF -6.212 8.933 -.111 -.695 .491

a. Dependent Variable: Keuntungan


Sumber : lampiran 12

Muhammad, sistem dan prosedur Operasional Bank Syariah. (Yogyakarta: UII Pres, 2000),
75

hal.74

Muhammad. Bank Syariah Problem dan Prospek perkembangan Di Indonesia, (Yogyakarta:


76

Graha Ilmu, 2005), hal. 85-86


77

Dalam tabel Coefficients diperoleh nilai Sig. sebesar 0,026 dibandingkan

dengan taraf signifikansi (a=5%) 0,05, maka:

Sig. a

0,026 < 0,05

Karena nilai Sig. < a maka disimpulkan untuk menolak H 0 dan menerima

Ha, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara FDR terhadap keuntungan

menolak H0 dan menerima Ha. Bahwa FDR berpengaruh signifikan terhadap

keuntungan. Jadi, hipotesis I teruji.

b. Analisis Pengaruh NPF Terhadap Keuntungan

Kualitas aktiva produktif, Kualitas aktiva produktif pada bank syariah

diukur dengan NPF. Aktiva produktif bank syariah diukur dengan perbandingan

antara pembiayaan bermasalah dengan total pembiayaan yang diberikan. Besarnya

NPF yang diperolehkan Bank Indonesia saat ini adalah maksimal 5%, jika

melebihi 5% maka akan mempengaruhi penilaian Tingkat kesehatan bank bank

yang bersangkutan, yaitu akan mengurangi nilai / skor yang diperolehnya.77 Dari

analisis diatas dan dengan melihat tabel 4.6, maka hasil uji t adalah sebagai

berikut :

Dalam tabel 4,6 diperoleh nilai Sig. sebesar 0,49 dibandingkan dengan taraf

signifikansi (a=5%) 0,05, maka:

Sig. a

0,491 > 0,05

77
Selamet Riyadi, Banking Assets and Liability....hal. 142
78

Karena nilai Sig. > a maka disimpulkan untuk mennerima H0 dan menolak Ha,

yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara NPF terhadap keuntungan

menerima H0 dan menolak Ha. Bahwa NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap

keuntungan. Jadi, hipotesis II tidak teruji.

c. Analisis Pengaruh FDR dan NPF Terhadap Keuntungan

FDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana

pihak ketiga yang dihimpun oleh bank yang bersangkutan. Rasio ini dipergunakan

untuk mengukur sampai sejauh mana dana pinjaman yang bersumber dari dana

pihak ketiga. Tinggi rendahnya rasio ini menunjukkan tingkat likuiditas bank

tersebut. Sehingga semakin tinggi angka FDR suatu bank, berarti digambarkan

sebagai bank yang kurang likuid dibandingkan dengan bank yang mempunyai

angka rasio yang lebih kecil.

Aktiva produktif bank syariah diukur dengan perbandingan antara

pembiayaan bermasalah dengan total pembiayaan yang diberikan. Besarnya NPF

yang diperolehkan Bank Indonesia saat ini adalah maksimal 5%, jika melebihi 5%

maka akan mempengaruhi penilaian Tingkat kesehatan bank bank yang

bersangkutan, yaitu akan mengurangi nilai / skor yang diperolehnya. Dalam

pengaruh FDR dan NPF terhadap Keuntungan peneliti menguji dengan uji f (F-

test) sebagai berikut:

Tabel 4.7
Hasil Uji F (F-test)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.


79

1 Regression 13524.902 2 6762.451 2.707 .080a

Residual 92440.698 31 2498.397

Total 105965.600 33

a. Predictors: (Constant), NPF, FDR

b. Dependent Variable: Keuntungan


Sumber : lampiran 13

Output diatas (ANOVA), terbaca nilai Fhitung sebesar 2,707 dengan tingkat

signifikansi 0,080. Karena keuntungan (0,080) jauh lebih besar dari 0,05 (dalam

kasus ini menggunakan taraf signifikansi atau a = 5%), maka model regresi bisa

dipakai untuk memprediksi keuntungan yang diperoleh. Umumnya output ini

digunakan untuk menguji hipotesis.

jika Sig. > a maka H0 diterima yang artinya tidak ada hubungan yang linear

antara FDR, NPF dengan keuntungan yang diperoleh. yang berarti tidak ada

pengaruh yang signifikan antara FDR dan NPF terhadap keuntungan menerima H0

dan menolak Ha. Bahwa FDR dan NPF tidak berpengaruh signifikan. Jadi antara

FDR dan NPF terhadap Keuntungan tidak ada hubungan yang linear.

8. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .273a .074 .015 34.65491

a. Predictors: (Constant), x2, FDR

b. Dependent Variable: Keuntungan


Sumber : lampiran 14
80

Outpot diatas (model summary), angka R Square atau koefisien atau

koefisien determinasi adalah 0,074. Nilai R Square berkisar antara 0 sampai

dengan 1. Nugroho menyatakan, untuk regresi linear berganda sebaiknya

menggunakan R Square yang sudah disesuaikan atau tertulis Adjusted R Square

karena disesuakian dengan jumlah variabel independent yang digunakan.

Angka Adjusted R Square adalah 0,074, artinya 7,4% variabel terikat

keuntungan dijelaskan oleh variabel FDR dan NPF, dan sisanya 92, 6% dijelaskan

oleh variabel lain diluar variabel yang digunakan. Jadi sebagian besar variabel

terikat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas yang digunakan dalam model.

B. Pembahasan

1. Pengaruh FDR Terhadap Keuntungan

Semakin tinggi FDR suatu bank umum syariah, tidak menjadi tolok ukur

bank untuk memperoleh profitabilitas yang tinggi. Dari data yang ada pada

penelitian pembiayaan yang disalurkan dilihat dari FDR sudah cukup baik dengan

rata-rata 56,45% namun begitu juga NPF mempunyai kecenderungan naik

meskipun rata-rata belum menyentuh angka 5% yaitu nilai rata-rata (mean)

sebesar 3,8483%.. Bank syariah cenderung menjaga tingkat likuiditasnya pada

titik aman. Ekspansi pembiayaan telah dilakukan oleh Bank Mega Syariah

Indonesia dalam penggunaan aktiva produktifnya. Hal ini menunjukkan fungsi

bank dalam menyalurkan pembiayaan belum dilakukan dengan baik oleh

keseluruhan bank syariah. Oleh karena itu pada penelitian ini FDR yang

merupakan tolok ukur rasio likuiditas tidak memberikan pengaruh nyata dalam

mengukur kinerja profitabilitas bank syariah.


81

Hasil pengujian FDR dan keuntungan menunjukkan nilai Koefisien regresi

X1 sebesar – 1,180 menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 satuan unit dari FDR,

maka akan menurunkan keuntungan sebesar 1,180. Dan sebaliknya jika setiap

penurunan sebesar 1 satuan unit dari FDR, maka keuntungan juga diprediksi akan

menambah keuntungan sebesar 1,180. Dengan nilai signifikansi sebesar 0,026.

Karena nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05, berarti bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan antara variabel FDR terhadap variabel Keuntungan.

Rasio FDR merupakan perbandingan antara pembiayaan yang disalurkan

oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh Bank Mega

Syariah Indonesia. Dengan demikian, semakin tinggi rasio ini mencerminkan

bahwa Bank Mega Syariah Indonesia semakin efektif dalam menyalurkan

pembiayaannya. Dengan asumsi bahwa rasio ini berada dalam batas yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sehingga pendapatan yang diperoleh bank juga

semakin meningkat. Maka, dapat disimpulkan bahwa FDR berpengaruh signifikan

terhadap Keuntungan.

Walaupun objek dan periode penelitian yang berbeda antara penelitian

terdahulu dengan penelitian ini namun ketika pengujian objek berbeda

mendapatkan hasil yang sama, hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

oleh Dhika Rahma Dewi78 dan Suryani79, yang menunjukkan hasil bahwa FDR

berpengaruh signifikan terhadap Keuntungan.

78
Dhika ahma Dewi, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah Di
Indonesia, (Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)

Suryani, Analisis Pengaruh FDR Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Di Indonesia. Pada
79

penelitian ini penulis menganalisis kondisi Financing To Deposit Ratio (FDR) pada Perbankan
Syariah di Indonesia, (Lhokseumawe: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)
82

2. Pengaruh NPF Terhadap Keuntungan

Hasil pengujian antara NPF dengan keuntungan menunjukkan nilai

koefisien regresi variabel NPF sebesar –6,212 menyatakan bahwa setiap

penambahan 1 satuan unit dari NPF, maka akan menurunkan keuntungan sebesar

– 6,212. Dan sebaliknya jika setiap penurunan sebesar 1 satuan unit dari NPF,

maka keuntungan juga diprediksi mengalami kenaikan sebesar – 6,212. Koefisien

regresi variabel NPF yang bertanda negatif, menunjukkan bahwa NPF

berpengaruh negatif terhadap Keuntungan. Dengan nilai signifikansi sebesar

0,491. Dilihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05, berarti bahwa

terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel NPF terhadap variabel

Keuntungan.

Rasio NPF mencerminkan resiko kredit yang dihadapi Bank Mega Syariah

indonesia. Semakin tinggi rasio ini, kualitas kredit bank semakin buruk karena

jumlah kredit bermasalah semakin besar, sehingga kemungkinan bank dalam

kondisi bermasalah semakin besar. Hal ini akan berpengaruh terhadap turunnya

pendapatan karena adanya peningkatan biaya cadangan aktiva produktif. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa rasio NPF berpengaruh negatif terhadap

Keuntungan.

NPF berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Keuntungan pada

Bank Mega Syariah Indonesia. Dengan kata lain semakin kecil NPF maka akan

membawa dampak pada peningkatan Keuntungan. Tingkat kesehatan pembiayaan

(NPF) ikut mempengaruhi pencapaian keuntungan bank. Apabila suatu bank

kondisi NPFnya tinggi akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk


83

memperoleh pendapatan dari pembiayaan yang diberikan, dan menambah biaya

pencadangan aktiva produktif. Semakin tinggi NPF akan menurunkan keuntungan

bank.

Walaupun objek dan periode penelitian yang berbeda antara penelitian

terdahulu dengan penelitian ini namun ketika pengujian objek berbeda

mendapatkan hasil yang sama, hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian

Dhika Rahma Dewi80, yang menunjukkan hasil bahwa NPF berpengaruh tidak

signifikan terhadap Keuntungan.

3. Pengaruh FDR dan NPF Terhadap Keuntungan

Dari output ANOVA pada 4.7, terbaca nilai Fhitung sebesar 2,707 dengan

tingkat signifikansi 0,080. Oleh karena keuntungan (0,080) jauh lebih besar dari

0,05 (dalam kasus ini menggunakan taraf signifikansi atau a = 5%), maka model

regresi bisa dipakai untuk memprediksi keuntungan yang diperoleh.

jika Sig. > a maka H0 diterima yang artinya tidak ada hubungan yang linear

antara FDR, NPF dengan keuntungan yang diperoleh. Cara lainnya dengan

membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel. H0 diterima jika Fhitung > Ftabel => maka

disimpulkan menerima H0, yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara

FDR dan NPF terhadap Keuntungan. Jadi antara FDR dan NPF dengan

Keuntungan tidak ada hubungan yang linear.

Semakin tinggi rasio FDR mencerminkan bahwa Bank Mega Syariah

Indonesia semakin efektif dalam menyalurkan pembiayaannya. Dengan asumsi

80
Dhika ahma Dewi, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah Di
Indonesia, (Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)
84

bahwa rasio ini berada dalam batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Sehingga pendapatan yang diperoleh bank juga semakin meningkat.

Adanya pengaruh NPF terhadap Keuntungan, dengan kata lain semakin kecil

NPF maka akan membawa dampak pada peningkatan Keuntungan. Tingkat

kesehatan pembiayaan (NPF) ikut mempengaruhi pencapaian laba bank. Apabila

suatu bank kondisi NPFnya tinggi akan mengakibatkan kehilangan kesempatan

untuk memperoleh pendapatan dari pembiayaan yang diberikan, dan menambah

biaya pencadangan aktiva produktif. Semakin tinggi NPF akan menurunkan

profitabilitas bank

Walaupun objek dan periode penelitian yang berbeda antara penelitian

terdahulu dengan penelitian ini namun ketika pengujian objek berbeda

mendapatkan hasil yang sama, hal ini juga didukung oleh penelitian dari Hasil

penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Dhika Rahma Dewi81 dan Suryani82,

dalam hasil penelitiannya meyatakan semakin efisien kinerja operasional suatu bank

maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai analisis tingkat Keuntungan

pada Bank Mega Syariah Indonesia Tbk. Maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
81
Dhika ahma Dewi, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah Di
Indonesia, (Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010).

Suryani, Analisis Pengaruh FDR Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Di Indonesia. Pada
82

penelitian ini penulis menganalisis kondisi Financing To Deposit Ratio (FDR) pada Perbankan
Syariah di Indonesia, (Lhokseumawe: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2010)
85

1. Hasil pengujian FDR dan keuntungan (EAT) menunjukkan nilai Koefisien

regresi X1 sebesar – 1,180 menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 satuan unit

dari FDR, maka akan menurunkan keuntungan sebesar 1,180. Dan sebaliknya

jika setiap penurunan sebesar 1 satuan unit dari FDR, maka keuntungan juga

diprediksi akan menambah keuntungan sebesar 1,180. Dengan nilai

signifikansi sebesar 0,026. Karena nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05,

berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel FDR terhadap

variabel Keuntungan. Rasio FDR merupakan perbandingan antara pembiayaan

yang disalurkan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun

oleh Bank Mega Syariah Indonesia. Dengan demikian, semakin tinggi rasio ini

mencerminkan bahwa Bank Mega Syariah Indonesia semakin efektif dalam

menyalurkan pembiayaannya. Dengan asumsi bahwa rasio ini berada dalam

batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sehingga pendapatan yang

diperoleh bank juga semakin meningkat. Maka, dapat disimpulkan bahwa

FDR berpengaruh signifikan terhadap Keuntungan pada PT. Bank Mega

Syariah Indonesia.

2. Hasil pengujian antara NPF dengan keuntungan (EAT) menunjukkan nilai

koefisien regresi variabel NPF sebesar –6,212 menyatakan bahwa setiap

penambahan 1 satuan unit dari NPF, maka akan menurunkan keuntungan

sebesar – 6,212. Dan sebaliknya jika setiap penurunan sebesar 1 satuan unit

dari NPF, maka keuntungan juga diprediksi mengalami kenaikan sebesar –

6,212. Koefisien regresi variabel NPF yang bertanda negatif, menunjukkan

bahwa NPF berpengaruh negatif terhadap Keuntungan. Dengan nilai


86

signifikansi sebesar 0,491. Dilihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari

0,05, berarti bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel

NPF terhadap variabel Keuntungan. Koefisien regresi variabel NPF yang

bertanda negatif, menunjukkan bahwa NPF berpengaruh negatif terhadap

Keuntungan. NPF berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap

Keuntungan pada Bank Mega Syariah Indonesia. Dengan kata lain semakin

kecil NPF maka akan membawa dampak pada peningkatan Keuntungan.

Tingkat kesehatan pembiayaan (NPF) ikut mempengaruhi pencapaian

keuntungan bank. Apabila suatu bank kondisi NPFnya tinggi akan

mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari

pembiayaan yang diberikan, dan menambah biaya pencadangan aktiva

produktif. Semakin tinggi NPF akan menurunkan keuntungan bank.

3. Nilai Fhitung sebesar 2,707 dengan tingkat signifikansi 0,080. Oleh karena

keuntungan (0,080) jauh lebih besar dari 0,05 (dalam kasus ini menggunakan

taraf signifikansi atau a = 5%), maka model regresi bisa dipakai untuk

memprediksi keuntungan yang diperoleh. jika Sig. > a maka H0 diterima yang

artinya tidak ada hubungan yang linear antara FDR, NPF dengan keuntungan

yang diperoleh. Cara lainnya dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel.

H0 diterima jika Fhitung > Ftabel => maka disimpulkan menerima H0, yang berarti

tidak ada pengaruh yang signifikan antara FDR dan NPF terhadap

Keuntungan. Jadi antara FDR dan NPF dengan Keuntungan tidak ada

hubungan yang linear.

B. Saran
87

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian maka peneliti memberikan

saran sebagai berikut:

1. Bagi Praktisi

a. Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diharapkan

Bank Mega Syariah Indonesia Tbk. menjalankan fungsinya sebagai

lembaga perantara keuangan dalam penyaluran pembiayaan ke

masyarakat dengan prinsip kehati-hatian. Menjaga FDR pada level yang

optimal dan memperhatikan batas aman, sehingga bank dapat memenuhi

kewajiban yang akan jatuh tempo dan memenuhi permintaan pembiayaan

yang dapat meningkatkan profitabilitas.

b. Diharapkan dapat menekan nilai NPF agar bank tidak kehilangan

kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari pembiayaan yang

diberikan dan menambah biaya pencadangan aktiva produktif, sehingga

dapat meningkatkan profitabilitasnya.

2. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat barmanfaat serta menambah

wawasan dan pengetahuan. Diharapkan dapat menambah referensi terutama

bagi mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi Perbankan Syariah.

3. Bagi Investor
88

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi

para investor maupun sebagai acuan untuk pengambilan keputusan

berinvestasi di PT. Bank Mega Syariah Indonesia..

4. Bagai peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan

untuk peneliti selanjutnya yang akan meneliti dalam bidang perbankan Islam

khususnya mengenai pengaruh financing to deposit ratio (FDR) dan non

performing financing (NPF) terhadap keuntungan PT. Bank Mega Syariah

Indonesia. Disarankan melakukan pengembangan, dapat dengan menambah

variable atau memperpanjang periode penelitian.