Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA  ARTRITIS REUMATOID DI KALIWUNGU KENDAL

OLEH:
KLARA MITA APRILIYANI
2008037

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN, BISNIS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS WIDYA HUSADA SEMARANG
2020 / 2021
I. KONSEP DASAR
A. DEFINISI
Menurut Noer S (1997) dalam Lukman (2009), artritis rheumatoid merupakan
suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang walaupunmanifestasi utamanya
adalah poliatritis yang progresif, akan tetapipenyakit ini juga melibatkan
seluruh organ tubuh.
Artritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi kronik dan sistemikyang
menyebabkan destruksi sendi dan deformitas serta menyebabkandisability.
Penyakit ini sering terjadi dalam 3-4 dekade ini pada lansia.Penyebab artritis
rheumatoid tidak diketahui, tetapi mungkin akibatpenyakit autoimun dimulai
dari interfalank proksimal,metakarpofalankeal, pergelangan tangan dan pada
tahap lanjut dapatmengenai lutut dan paha (Fatimah, 2010)
Reumatik adalah gangguan berupa kekakuan, pembengkakan, nyeri dan
kemerahan pada daerah persendian dan jaringan sekitarnya (Adellia, 2011)
Arthritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit sistematik yang
bersifatprogresif, yang cenderung menjadi kronis dan menyerang sendi serta
jaringanlunak. Artritis rheumatoid adalah suatu penyakit autoimun dimana,
secara simetris persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami
peradangansehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan, nyeri, dan sering
kalimenyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi. Karakteristik
artritisrheumatoid adalah radang cairan sendi (sinovitis inflamatoir) yang
persisten,biasanya menyerang sendi-sendi perifer dengan penyebaran yang
simetris(Junaidi, 2013)

B. KLASIFIKASI
Buffer (2010) mengklasifikasikan reumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:
1. Reumatoid arthritis klasik
Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
2. Reumatoid arthritis deficit
Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
3. Probable Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
4. Possible Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu :
1. Stadium synovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak
maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
2. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga
pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
3. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

C. ETIOLOGI
Penyebab utama dari kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang
dikemukakan mengenai penyebab arthtritis reumatoid, yaitu :  
1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non hemolitikus.
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolic
5. Faktor genetik serta faktor pemicu.
Pada saat ini, arthtritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktorautoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II:
faktor injeksi mungkin disebabkan oleh virus dan organismemikroplasma atau
group difteriod yang menghasilkan antigen kolagentipe II dari tulang rawan sendi
penderita. Kelainan yang dapat terjadipada suatu arthtritis reumatoid yaitu :
1. Kelainan pada daerah artikulera.
a. Stadium I (stadium sinovitis)
b. Stadium II (stadium destruksi)
c. Stadium III (stadium deformitas).
2. Kelainan pada jaringan ekstra-artikulerPada jaringan ekstra-artikuler akan
terjadi perubahan patologis, yaitu:
a. Pada otot terjadi miopati
b. Nodul subkutan
c. Pembuluh darah perifer terjadi proliferasi tunika intima padapembuluh
darah perifer dan lesi pada pembuluh darah arterioldan venosad.
d. Terjadi nekrosis fokal pada sarafe.
e. Terjadi pembesaran limfe yang berasal dari aliran limfe sendi(Nurarif
dan Kusuma, 2013).
Sedangkan menurut Price (1995) dan Noer S, (1996), faktor-faktor yang
berperan dalam timbulnya penyakit Artritis Reumatoid adalah jeniskelamin,
keturunan, lingkungan dan infeksi (Lukman, 2009).

D. MANIFESTASI KLINIS
Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti :
- Nyeri persendian
- Bengkak (Reumatoid nodule)
- Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
- Terbatasnya pergerakan
- Sendi-sendi terasa panas
- Demam (pireksia)
- Anemia
- Berat badan menurun
- Kekuatan berkurang
- Tampak warna kemerahan di sekitar sendi
- Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
- Pasien tampak anemic
Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti :
- Gerakan menjadi terbatas
- Adanya nyeri tekan
- Deformitas bertambah pembengkakan
- Kelemahan
- Depresi
Gejala Extraartikular :
- Pada jantung : Reumatoid heard diseasure,  Valvula lesion (gangguan
katub), Pericarditis, Myocarditis
- Pada mata : Keratokonjungtivitis, Scleritis
- Pada lympa : Lhymphadenopathy
- Pada thyroid : Lyphocytic thyroiditis
- Pada otot : Mycsitis
Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius terjadi pada
lanjut usia menurut Buffer (2010), yaitu: sendi terasa kaku pada pagi hari,
bermula sakit dan kekakuan pada daerah lutut, bahu, siku, pergelangan tangan
dan kaki, juga pada jari-jari, mulai terlihat bengkak setelah beberapa bulan,
bila diraba akan terasa hangat, terjadi kemerahan dan terasa sakit/nyeri, bila
sudah tidak tertahan dapat menyebabkan demam, dapat terjadi berulang

E. PATOFISIOLOGI
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya)
terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan
enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen
sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya
pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan
menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi
yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut
otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas
otot dan kekuatan kontraksi otot.
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti
vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. 
Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi
kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat
karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.
Kartilago menjadi nekrosis. Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat
ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi
adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen
jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. 
Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya Reumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan
adanya masa serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun
pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan
kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus.

F. PATWAYS
G. KOMPLIKASI
1. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya
prosesgranulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
2. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
3. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
Tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
4. Terjadi splenomegali.
Splenomegali merupakan pembesaran limfa,jika limfa membesar
kemampuannya untuk menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih
dan trombosit dalam sirkulasi menangkap dan menyimpan sel-sel darah
akan meningkat.
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus
peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi
nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease
modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab
morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar
dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya
berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan
neuropati iskemik akibat vaskulitis.

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi adalah:
- Meringankan rasa nyeri dan peradangan
- memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal
penderita.
- Mencegah atau memperbaiki deformitas
Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan
sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:
- Istirahat
- Latihan fisik
- Panas
- Pengobatan
- Aspirin (anti nyeri) dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat
serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
- Natrium kolin dan asetamenofen à meningkatkan toleransi saluran cerna
terhadap terapi obat
- Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari à
mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga
menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
- Garam emas
- Kortikosteroid
- Nutrisi à diet untuk penurunan berat badan yang berlebih
Bila Reumatoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi,
pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi.
Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
- Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk
mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali
inflamasi.
- Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
- Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
- Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada
persendian.
Terapi di mulai dengan pendidikan pasien mengenai penyakitnya dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik antara
pasien dan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya.
Tanpa hubungan yang baik akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien
untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang lama.
Penanganan medik pemberian salsilat atau NSAID dalam dosis terapeutik.
Kalau diberikan dalam dosis terapeutik yang penuh, obat-obat ini akan
memberikan efek anti inflamasi maupun analgesik. Namun pasien perlu
diberitahukan untuk menggunakan obat menurut resep dokter agar kadar obat
yang konsisten dalam darah bisa dipertahankan sehingga keefektifan obat anti-
inflamasi tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal.
Kecenderungan yang terdapat dalam penatalaksanaan Reumatoid arthritis
menuju pendekatan farmakologi yang lebih agresif pada stadium penyakit yang
lebih dini. Kesempatan bagi pengendalian gejala dan perbaikan
penatalaksanaan penyakit terdapat dalam dua tahun pertama awitan penyakit
tersebut.
Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari,
sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi hari. Dengan air hangat
pergerakan sendi menjadi lebih mudah bergerak. Selain mengobati, kita juga
bisa mencegah datangnya penyakit ini, seperti: tidak melakukan olahraga
secara berlebihan, menjaga berat badan tetap stabil, menjaga asupan makanan
selalu seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan
ikan laut. Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang
mengandung Omega 3. Didalam omega 3 terdapat zat yang sangat efektif
untuk memelihara persendian agar tetap lentur.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia
dan leukositosis,Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita
- Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan
( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang,
memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang
terjadi secara bersamaan.
- Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium
- Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan
irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
- Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar
dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon
inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan
lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ).
- Biopsi membran sinovial: menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.
- Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration)
atau atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak
leukosit dan kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.

II. KONSEP KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
- Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi
synovial : catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi), krepitasi,
nyeri saat sendi digerakkan.
- Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral: catat
bila ada atrofi, tonus yang berkurang, ukur kekuatan otot
- Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
- Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
2. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup
tinggi apalagi pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi
karean pasien merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan
merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat
melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body
image dan harga diri klien.
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan
organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan
misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-
bentuk arthritis lainnya. Pengkajian 11 Pola Gordon:
a. Pola Persepsi Kesehatan- Pemeliharaan Kesehatan
- Apakah pernah mengalami sakit pada sendi-sendi?
- Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya?
- Riwayat keluarga dengan RA
- Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
- Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll
b. Pola Nutrisi Metabolik
- Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan
yang banyak mengandung pospor(zat kapur), vitamin dan
protein)
- Riwayat gangguan metabolic
c. Pola Eliminasi
- Adakah gangguan pada saat BAB dan BAK?
d. Pola Aktivitas dan Latihan
- Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum dan sesudah sakit
- Jenis aktivitas yang dilakukan
- Rasa sakit/nyeri pada saat melakukan aktivitas
- Tidak mampu melakukan aktifitas berat
e. Pola Istirahat dan Tidur
- Apakah ada gangguan tidur?
- Kebiasaan tidur sehari
- Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam setelah bangun tidur
- Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur?
f. Pola Persepsi Kognitif
- Adakah nyeri sendi saat digerakan atau istirahat?
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
- Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas/kaku sendi)?
- Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya?
h. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama
- Bagaimana hubungan dengan keluarga?
- Apakah ada perubahan peran pada klien?
i. Pola Reproduksi Seksualitas
- Adakah gangguan seksualitas?
j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi terhadap Stress
- Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita?

k. Pola Sistem Kepercayaan


- Agama yang dianut?
- Adakah gangguan beribadah?
- Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada
Tuhan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnose 1 : Nyeri Akut (SDKI D.0077)
Pengertian: Pengalaman sensori atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan
actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintesitas ringan hingga
berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Batasan karakteristik :
Batasan mayor Batasan minor
Tanda Tanda
Tanda objektif Tanda objektif
subjektif subjektif
Mengeluh Tampak meringis, bersikap - TD meningkat, pola nafas berubah, nafsu makan
nyeri protektif, gelisah, frekuensi nadi berubah, proses berfikir terganggu, menarik diri,
meningkat, sulit tidur. berfokus ke diri sendiri, diaforesis
Diagnose 2 : Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
Pengertian : Keterbatasan dalam gerak fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri.
Batasan karakteristik :
Batasan mayor Batasan minor
Tanda subjektif Tanda objektif Tanda subjektif Tanda objektif
Mengeluh sulit Kekuatan otot menurun, Nyeri saat bergerak, enggan Sendi kaku, gerakan tidak
menggerakan rentang gerak (ROM) melakukan pergerakan, terkoordinir, gerakan terbatas,
ekstremitas menurun merasa cemas saat bergerak fisik lemah

Diagnose 3 : Gangguan Citra Tubuh (D.0083)


Pengertian : Perubahan persepsi tentang penampilan, struktur dan fungsi fisik individu.
Batasan karakteristik :
Batasan mayor Batasan minor
Tanda subjektif Tanda objektif Tanda subjektif Tanda objektif
Mengungkapkan Kehilangan bagian Tidak mau mengungkapkan Menyembunyikan/ menunjukan
kecacatan/ tubuh, fungsi/ kecacatan/ kehilangan bagian bagian tubuh secara berlebihan,
kehilanngan struktur tubuh tubuh, mengungkapkan menghindari melihat dan/ menyentuh
bagian tubuh berubah/ hilang. perasaan negative tentang bagian tubuh, focus berlebihan pada
perubahan tubuh, perubahan tubuh, respon nonverbal
mengungkapkan kekhawatiran pada perubahan dan persepsi tubuh,
pada penolakan/ reaksi orang focus pada penampilan dan kekuatan
lain, mengungkapkan masa lalu, hubungan social berubah.
perubahan gaya hidup.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
HARI TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI
/ TGL KRITERIA HASIL
01/06/ (SDKI- D.0077) (SLKI- L.08066) A. MANAJEMEN NYERI (I. 08238)
2021 Setelah dilakukan 1. Observasi
Nyeri Akut tindakan
 lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
berhubungan keperawatan
selama 3x8 jam intensitas nyeri
dengan agen
diharapkan skala  Identifikasi skala nyeri
pencedera nyeri klien
 Identifikasi respon nyeri non verbal
fisiologis. menurun dengan
kriteria hasil :  Identifikasi faktor yang memperberat dan
- Klien mampu memperingan nyeri
melaporkan
 Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
nyeri menurun
- Sikap meringis tentang nyeri
menurun  Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon
- Gelisah nyeri
menurun
- Kesulitan tidur  Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
menurun  Monitor keberhasilan terapi komplementer
- Frekuensi nadi yang sudah diberikan
membaik
 Monitor efek samping penggunaan analgetik
- Pola nafas
membaik 2. Terapeutik
- Tekanan darah  Berikan teknik nonfarmakologis untuk
membaik
mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis,
akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat,
aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi bermain)
 Control lingkungan yang memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
 Fasilitasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri
3. Edukasi
 Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Anjurkan memonitor nyri secara mandiri
 Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
 Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
4. Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

B. PEMBERIAN ANALGETIK (I.08243)


1. Observasi
 Identifikasi karakteristik nyeri (mis. Pencetus,
pereda, kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)
 Identifikasi riwayat alergi obat
 Identifikasi kesesuaian jenis analgesik (mis.
Narkotika, non-narkotika, atau NSAID) dengan
tingkat keparahan nyeri
 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
 Monitor efektifitas analgesik
2. Terapeutik
 Diskusikan jenis analgesik yang disukai untuk
mencapai analgesia optimal, jika perlu
 Pertimbangkan penggunaan infus kontinu, atau
bolus opioid untuk mempertahankan kadar dalam
serum
 Tetapkan target efektifitas analgesic untuk
mengoptimalkan respon pasien
 Dokumentasikan respon terhadap efek
analgesic dan efek yang tidak diinginkan
3. Edukasi
 Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
4. Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian dosis dan jenis
analgesic, sesuai indikasi
01/06/ (SDKI- D.0054) (SLKI- L.05042) DUKUNGAN AMBULASI (I.06171)
2021 Setelah dilakukan 1. Observasi
Gangguan
Tindakan  Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
mobilitas fisik
keperawatan lainnya
berhubungan
selama 3 X 8 jam  Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
dengan
maka diharapkan  Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
kekakuan sendi
mobilitas fisik sebelum memulai ambulasi
meningkat. Dengan  Monitor kondisi umum selama melakukan
kriteria hasil : ambulasi
- Pergerakan 2. Terapeutik
ekstremitas  Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
meningkat (mis. tongkat, kruk)
- Kekuatan otot  Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
meningkat  Libatkan keluarga untuk membantu pasien
- Rentang gerak dalam meningkatkan ambulasi
(ROM) 3. Edukasi
meningkat  Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
- Nyeri menurun  Anjurkan melakukan ambulasi dini
- Kecemasan  Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
menurun dilakukan (mis. berjalan dari tempat tidur ke kursi
- Kaku sendi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi,
menurun berjalan sesuai toleransi)
- Kelemahan fisik
menurun
01/06/ (SDKI- D.0083) (SLKI- L. 09067) PROMOSI CITRA TUBUH ( I.09305)
2021 Setelah dilakukan 1. Observasi
Gangguan Citra
Tindakan  Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan
Tubuh
keperawatan tahap perkembangan
berhubungan
selama 3 X 8 jam  Identifikasi budaya, agama, jenis kelami, dan
dengan transisi
maka diharapkan umur terkait citra tubuh
perkembangan.
persepsi citra tubuh  Identifikasi perubahan citra tubuh yang
meningkat. Dengan mengakibatkan isolasi sosial
kriteria hasil :  Monitor frekuensi pernyataan kritik tehadap
- Melihat bagian diri sendiri
tubuh  Monitor apakah pasien bisa melihat bagian
meningkat tubuh yang berubah
- Menyentuh 2. Terapiutik
bagian tubuh  Diskusikan perubahn tubuh dan fungsinya
meningkat  Diskusikan perbedaan penampilan fisik
- Verbalisasi terhadap harga diri
perasaan  Diskusikan akibat perubahan pubertas,
negative tentang kehamilan dan penuwaan
perubahan  Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi
tubuh menurun citra tubuh (mis.luka, penyakit, pembedahan)
- Verbalisasi  Diskusikan cara mengembangkan harapan citra
kekhawatiran tubuh secara realistis
pada penolakan/  Diskusikan persepsi pasien dan keluarga
reaksi orang tentang perubahan citra tubuh
lain menurun 3. Edukasi
- Verbalisasi  Jelaskan kepad keluarga tentang perawatan
perubahan gaya perubahan citra tubuh
hidup menurun  Anjurka mengungkapkan gambaran diri
- Focus pada terhadap citra tubuh
penampilan  Anjurkan menggunakan alat bantu( mis.
masa lalu Pakaian , wig, kosmetik)
menurun  Anjurkan mengikuti kelompok
- Hubungan pendukung( mis. Kelompok sebaya).
social membaik  Latih fungsi tubuh yang dimiliki
 Latih peningkatan penampilan diri (mis.
berdandan)
 Latih pengungkapan kemampuan diri kepad
orang lain maupun kelompok
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Beberapa prosedur tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat
sebelumnya.

E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi dilakukan dengan cara menilai kemampuan dalam merespon tindakan yang
telah diberikan oleh perawat

Anda mungkin juga menyukai