Anda di halaman 1dari 1

Kulit adalah organ terbesar dengan fungsi utama sebagai pengatur keseimbangan air dan

elektrolit, sensasi, termoregulasi dan perlindungan tubuh terhadap lingkungan luar


termasuk paparan ultraviolet, parasite dan mikroorganisme. Fungsi ini perlu dijaga
dengan baik agar perlindungan terhadap tubuh dapat maksimal. Salah satu hal yang
dapat mengganggu fungsi kulit yaitu kerusakan jaringan akibat faktor eksternal misalnya
sayatan benda tajam (luka insisi) dan cedera kecelakaan (Budiman, 2015).
Data riskesdas 2018 menunjukkan bahwa kasus kesehatan berupa luka dan cedera
mengalami peningkatan dibandingkan dengan risekesdas 2013 yaitu dari angka 8,2%
menjadi 9,2%. Ditemukan bahwa, proporsi tempat terjadinya cedera paling besar terjadi
di rumah dan lingkungannya yaitu 44,7%. Selain itu, bekas luka permanen pada kulit
yang menggangu kenyamanan hidup seseorang juga menunjukkan angka yang tinggi
yaitu 9,2% (Riskesdas, 2018).
Pada dasarnya kulit memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan jaringan melalui 3
tiga tahapan utama yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodelling jaringn.
Tahapan ini membutuhkan waktu yang beragam, tergantung dari tingkat kerusakan
jaringan kulit dan beresiko lebih besar apabila terjadi kegagalan penyembuhan (Martin,
2015). Terkait hal tersebut, penggunaan obat-obatan baik tradisional maupun dalam
bentuk sediaan farmasi menjadi sesuatu yang penting.
Secara empiris, masyarakat di Sulawesi selatan khususnya di kab. Bone menggunakan
minyak dari lemak kuda sebagai pengobatan alternatif ketika terjadi luka pada kulit baik
akibat kecelakaan maupun sayatan benda tajam. Hal ini telah dibuktikan secara ilmiah
dengan penelitian pengujian aktivitas penyembuhan luka insisi berdasarkan parameter
jumlah fibroblast secara histologi (Sumarheni, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh
istiqomah (2017) menunjukkan bahwa minyak lemak kuda mempengaruhi secara
signifikan proses penyembukan luka insisi pada hewan uji berdasarkan parameter ukuran
diameter luka. Aktivitas penyembuhan luka dari minyak lemak kuda tidak terlepas dari
kandungan asam lemaknya seperti seperti asam oleat, asam palmitate dan arakidonat
terutama pada tahapan infalamasi (Leonardo, 2008).
Masalah asam lemak sebagai bahan obat adalah stabilitasnya yang rendah terhadap
reaksi oksidasi. Selain itu, penggunaan minyak secara langsung pada luka mempengaruhi
kenyamanan dan penerimaan pasien. Formulasi minyak lemak kuda dalam bentuk
emulgel menawarkan solusi yang menjanjikan karena menggabungkan keunggulan sistem
emulsi dan gel. Emulsi adalah sistem dispersi dengan salah satu fungsi utama
meningkatkan stabilitas obat melalui enkapsulasi dalam bentuk globul. Sedangkan gel
adalah sistem disperse yang terdiri dari polimer hidrofilik (gelling agent) dengan
keunggulannya yaitu meningkatkan penetrasi obat pada rute topikal, estetik dan nyaman
ketika digunakan (Panwar, 2011). Berdasarkan hal tersebut akan dilakukan penelitian
formulasi emulgel minyak lemak kuda dengan optimasi konsentrasi karbopol (gelling
agent).
Penelitian ini secara khusus bertujuan :
1. Mengembangkan sistem emulgel yang memenuhi persyaratan kimia fisika sediaan
farmasi.
2. Mengembangkan bahan alam dari hewani dalam bentuk emulgel sebagai terapi pada
penyembuhan luka.

Terkait dengan penelitian ini, untuk memperoleh formula emulgel yang stabil secara fisika
dan kimia akan ditawarkan optimasi konsentrasi karbopol sebagai system gel pada
emulgel. Diharapkan strategi system emulgel dalam penyembuhan luka dapat
berkontribusi secara signifikan pada program optimalisasi penggunaan bahan alam dalam
bidang pengobatan.