Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

MANAJEMEN KUALITAS DAN PROSES OPERSIONAL

Dosen Pengampuh :

Qoriatur Rahma,M.Pd

Disusun oleh :

Cita Samsurin (1811230035)

Nurul Aulia (1811230042)

Yuliza (1811230062)

PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INGGRIS

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU

2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas rahmat dan
petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Manajemen Kualitas dan
Proses Operasional”. Sumber dari makalah ini diambil dari buku-buku yang berhubungan
dengan kewirausahaan dan lainnya yang ditambah dengan informasi yang didapat dari
pencarian (browsing) di internet dan sumber-sumber lainnya. Diantara sumber-sumber
tersebut kami susun semua informasi dalam satu makalah sehingga menurut kami makalah ini
sudah cukup informatif. Terimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam
penyelesaian makalah ini terutama kepada dosen pegampu mata kuliah Kewirausahaan
Qoriatur Rahma,M.Pd. Makalah ini dibuat agar bisa menjadi salah satu sumber bacaan yang
dapat menambah wawasan pembaca dan juga dalam memenuhi tugas terstruktur mata kuliah
kewirausahaan. Dalam penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang kami temui
namun kami berhasil menghadapinya dan menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Akhir kata
jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaklumi. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bengkulu, 15 Mei 2021

Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER......................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................
A. LATAR BELAKANG ...........................................................
B. TUJUAN.................................................................................
C. RUMUSAN MASALAH.....................................................
BAB II PEMBAHASAN....................................................................
A. CARMELO ITALIAN RESTAURAN..................................
B. SASARAN KUALITAS.........................................................
C. PROSES OPERSIONAL........................................................
D. KEKUATAN KOMPETITIF ..............................................
E. KEBIJAKAN DAN PRAKTIK PEMBELIAN...................
BAB IV PENUTUP............................................................................
A. KESIMPULAN......................................................................
B. SARAN...................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebuah organisasi tentu memerlukan perencanaan strategis dalamme ngembangkan


dan menumbuhkan bisnisnya. Perencanaan strategis ini dapat bersifat sementara atau
pun bersifat jangka panjang. Konsep dasar Total Quality Management merupakan
salah satu acuan dalam Manajemen Strategi Organisasi. Bagaimanapun juga strategi
yang paling handal adalah mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas. Kualitas
dari segala macam produk dan layanan yang anda miliki sebagai nilai jual kepada
pelanggan,stakeholder atau rekanan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah dari Camelo’s Italian restaurant?
2. Bagaimana Sasaran kualitas manajemen operasional ?
3. Bagaimana Proses operasioanal?
4. Bagaimana Kekuatan kompetitif melalui peningkatan produktivitas?
5. Bagaimana Kebijakan dan praktik pembelian?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui Sejarah dari Camelo’s Italian restaurant


2. Mengetahui Sasaran kualitas manajemen operasional
3. Mengetahui Proses operasioanal
4. Mengetahui Kekuatan kompetitif melalui peningkatan produktivitas
5. Mengetahui Kebijakan dan praktik pembelian
BAB II

PEMBAHASAN

A. Carmelo’s Italian Restaurant

Tingkat kualitas yang tepat bergantung pada tipe bisnis dan Mencapai
tingkat kualitas merupakan sasaran utama manajemen operasional. Suatu
strateginya. Dan, Carmelo Mauro, yang menjalankan Carmelo's Italian trend
yang ada. Daripada Ketika Texas dilanda resesi pada pertengahan tahun 1980-
Restaurants di Houston dan Austin, memilih menentang menurunkan harga,
dia memu- tuskan untuk bersaing pada kualitas, dengan memper- banyak
menu, menggunakan unsur-unsur yang sedikit lebih "Tak ada cara apa pun
saya dapat bersaing dengan rangkaian pizza Italia Amerika yang mahal dan
meningkatkan harga. besar dan jamuan makan kualitas untuk menarik para
langganan yang khusus, hanya dan tidak ingin makan pada suatu restoran yang
isinya malam nmereka seharga $3,99," kata Mauro. "Saya memasarkan orang-
orang yang dapat mem- biayai untuk makan di luar lagi banyak sekali."
Ketika texas dilanda resesi pada pertengahan tahun 1980-an, Carmelo
Mauro, yang menjalankan Carmelo's Italian Restaurants di Houston dan
Austin, memilih menentanf trend yang ada. Daripada menurunkan harga, dia
memutuskan untuk bersaing pada kualitas, dengan memperbanyak menu,
menggunakan unsur yangs sedikit lebih mahal dan meningkatkan harga.
"Tak ada cara apa pun saya dapat bersaing frngan rangkaian pizza
Italia-Ametika yang besar dan jamuan makan malam seharga $3.99," kata
Mauro."Saya memasarkan kualitas untuk menarik para langganan yang
khusus, hanya orang-orang yang dapat membiayai untuk makan di luar lagi
dan tidak ingin makan pada suatu restoran yang isinya banyak sekali."
Dengan menitikberatkan pada kualitas yang tinggi, Mauro mampu
menarik para konsumen yang menghargau makanan dan atmosfer yang
berhubungan dengan makan malam yang menyenangkan. Dalam pengakuan
akan keberhasilan komitmen kualitas, Mauro disebut sebagai seorang yang
mendapat kehormatan di Blue Chip Enterprise Initiative, suatu program uang
mengakui perusahaan kecil yang telah mengatasi tantangan.1

B. Sasaran kualitas manajemen operasional

a. Fokus Konsumen dari Manajemen Kualitas


Usaha-usaha manajemen kualitas perusahaan sebaiknya dimulai
dengan fokus pada para konsumen yang membeli barang atau jasanya.
1
Justin G.Longenecker dan et al, Kewirausahaan Usaha Kecil, ( Jakarta : PT. Salemba Emban Patria, 2001), Hal :
537
Fokus konsumen yang konkret merupakan kekuatan pendorong di
belakang keberhasilan program kualitas Tanpa fokus seperti itu, pencarian
kualitas dengan mudah memburuk menjadi pencarian tanpa tujuan untuk
cita cita ang agak abstrak.
HARAPAN KONSUMEN Kualitas akhirnya ditentukan oleh
tingkatan kualitas barang dan jasa. Para konsumen memiliki harapan yang
berkaitan dengan kualitas baik barang (sebugai contoh, daya tarik dan daya
pada kualitas jasa ketika mobilnya diperbaiki atau menjahitkan
pakaiannya. Sering scorang konsumen mengharapkan beberapa kombinasi
dari kualitas barang dan jasa-ketika membeli lahan) dan jasa (sebagai
contoh, kecepatan dan ketepatan). Seorang konsumen memperhatikan
kualitas produk ketika membeli suatu kamera atau sepotong roti, perhatian
utama konsumen android uatu mesin pemotong rumput, seorang konsumen
mungkin memperhatikan kinerja mesin Para konsumen sering
mempertimbangkan standar-standar khusus yang relevan pada suatu
barang atau jasa. Tujuan manajaemen operasi adalah membangun sebuah
sistem TQM yang mengidentifikasi dan memuaskan kebutuhan pelanggan.
Oleh karena itu sebagaimana dijelaskan oleh American Siciety for Quality
tentang definisi Kualitas (Quality) adalah ”Keseluruhan fitur dan
karakteristik produk atau jasa yang mampu memuaskan kebutuhan yang
tampak atau samar”.2

Kualitas merupakan kemampuan suatu produk atau jasa untuk


memenuhi kebutuhan pelanggannya. Terdapat tiga pendekatan dalam hal
ini, yang pertama kualitas berbasis pengguna dimana kualitas tergantung
kepada audiensnya. Pendekatan ini biasanya digunakan oleh orang
pemasaran dan pelanggan. Yang kedua, kualitas berbasis manufaktur yang
biasanya diterapkan oleh manajer produksi. Dalam pendekatan ini kualitas
suatu barang berarti pemenuhan standar dan membuat produk dengan
benar sejak awal. Yang ketiga adalah kualitas itu berbasis produk yang
memandang bahwa kualitas sebagai variabel yang pesisi dan dapat
dihitung.

Pada dasarnya manajemen kualitas (Quality Management) atau


manajemen kualitas terpadu (total quality management) didefinisikan
sebagai suatu cara untuk meningkatkan performansi secara terus menerus
(continuous performance improvement) pada setiap level operasi atau
proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan
menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia.

ISO 8402 (quality vocabulary) mendefinisikan “manajemen


kualitas sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan

2
Justin G.Longenecker dan et al, Kewirausahaan Usaha Kecil, ( Jakarta : PT. Salemba Emban Patria, 2001), Hal :
539
yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan-tujuan dan tanggung
jawab, serta mengimplementasikannya melalui alat-alat seperti
perencanaan kualitas (quality planning), pengendalian kualitas (quality
control), jaminan kualitas (quality assurance) dan peningkatan kualitas
(quality improvement). Tanggung jawab untuk manajemen kualitas ada
pada semua level dari manajemen, tetapi harus dikendalikan oleh
manajemen puncak (top management), dan implementasinya harus
melibatkan semua anggota organisasi.”

b. Budaya Organisasi dan total Quality Management

Budaya Organisasi dan Total Quality Management Elemen yang sangat


penting darı manajemen kualitas yang efektif merupakan budaya
perusahaan yang mendukung Nilai, keyakinan, dan praktik tradisional
yang dikuti oleh para anggota suatu perusahaan bisnis mungkin diuraikan
sebagai budaya organisasi perusahaan. Beberapa perusahaan sangat
memperhatikan tingkat kualitas sehingga mereka akan mengembalikan
uang jika jasa atau barang tidak memuaskan atau akan menjadwalkan
pekerjaan lembur untuk menghindari kekecewaan scorang konsumen
Kualitas merupakan nilai utama dalam budaya organisasi perusahaan. Para
ahli manajemen kualitas mempercayai bahwa budaya yang berorientasi
kualitas penting jika perusahaan akan mencapai keberhasilan yang
menonjol. Waktu dan pelatihan dibutuhkan untuk membuat program TQM
sehingga mendatangkan usaha yang terbaik dari setiap orang di dalam
organisasi yang memproduksi barang atau jas berkualitas unggul. Bisnis
kecil yang mengadopsi filosofi TQM mengikat diri sendiri pada pencarian
keunggulan dari semua aspek operasionalnya. Menanggung dedikasi
seperti itu terhadap kualitas dengan dasar seluruh organisasi kadang-
kadang digambarkan sebagai suatu fenomena kebudayaan. TQM yang
melampaui kemampuan perusahaan hanya memastikan bahwa standar
standar yang sudah ada terpenuhi. Tujuannya yaitu perbaikan kualitas yang
terus-menerus sebagai usaha tanpa henti untuk memperbaiki kualitas
Sebagai contoh, jika proses barang telah diperbaiki pada tingkat yang
hanya terdapat satu kerusakan dalam 100 produk, proses tersebut
kemudian harus dialihkan pada tingkat selanjutnya dan sasaran baru yang
tidak ada lebih dari satu kerusakan dalam 200 atau bahkan 500 produk.

Budaya organisasi sangatlah penting untuk dipahami karena budaya


organisasi dapat mempengaruhi cara orang dalam berperilaku dan harus
menjadi patokan dalam setiap program pengembangan organisasi dan
kebijakan yang diambil. Salah satu cara yang dipakai untuk pencapaian
dan peningkatan kualitas yaitu dengan menerapkan total quality
managementdalam perusahaan.
total quality management merupakan suatu konsep modern yang
memberikan respon secara tepat terhadap setiap perusahaan yang ada.
Penerapan total quality mangement dalam suatu perusahaan dapat
memberikan beberapa manfaat utama yang pada gilirannya
meningkatkan laba serta daya saing perusahaan. Dimana total quality
management lebih berfokus pada tujuan perusahaan untuk melayani
kebutuhan pelanggan dengan memasok barang dan jasa yang memiliki
kualitas setinggi mungkin3

c. Peralatan dan Teknik TQM


Total Quality management (TQM) adalah suatu alat yang digunakan oleh
manajemen suatu perusahaan yang melibatkan seluruh personel dalam
perusahaan dalam melakukan perbaikan secara terus-menerus atas
produk, pelayanan, lingkungan yang berhubungan dengan produk
perusahaan, dan manajemen perusahaan melalui metode ilmiah yang
inovatif
Menurut Hensler dan Brunell ada empat prinsip utama dalam Total Quality
Management. Keempat prinsip tersebut adalah
1. Kepuasan pelanggan Konsep mengenai kualitas dan pelanggan akan
diperluas. Kualitas tidak lagi hanya bermakna kesesuaian dengan
spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh
pelanggan. Pelanggan itu sendiri meliputi pelanggan internal dan
eksternal. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam
segala aspek, termasuk di dalamnya harga, keamanan, dan ketepatan
waktu.
2. Respek terhadap setiap orang Sebuah perusahaan yang kualitasnya kelas
dunia, setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta
dan kreativitas tersendiri yang unik. Dengan demikian karyawan
merupakan sumber daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena
itu, setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi
kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambil
keputusan.
3. Manajemen berdasarkan fakta Perusahaan kelas dunia berorientasi
pada fakta. Maksudnya bahwa setiap keputusan selalu didasarkan pada
data, bukan sekedar pada perasaan (feeling).
4. PerbaikanberkesinambunganAgar dapat sukses, setiap perusahaan perlu
melakukan proses secara sistematis dalam melaksanakan perbaikan
berkesinambungan. Konsep yang berlaku di sini adalah siklus PDCA
(plando-check-act), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan,
pelaksanaan rencana, pemeriksaan hasil pelaksanaan rencana, dan tindakan
korektif terhadap hasil yang diperoleh.

d. SERTIFIKASI INTERNASIONAL UNTUK MANAJEMEN KUALITAS


3
Adam, Fanggidae and Oematan / JOURNAL OF MANAGEMENT (SME’s) Vol. 8, No.1, 2019, p17-33
Standard Kualitas Internasional

 Standardisasi internasional dibentuk untuk berbagai teknologi yang


mencakup berbagai bidang, antara lain bidang informasi dan
telekomunikasi, tekstil, pengemasan, distribusi barang, pembangkit energi
dan pemanfaatannya, pembuatan kapal, perbankan dan jasa keuangan, dan
masih banyak lagi. Hal ini akan terus berkembang untuk kepentingan
berbagai sektor kegiatan industri pada masa-masa yang akan datang.
Perkembangan ini diperkirakan semakin pesat antara lain karena kemajuan
dalam perdagangan bebas di seluruh dunia, penetrasi teknologi antar
sektor, sistem komunikasi di seluruh dunia, dan standar global untuk
pengembangan teknologi, serta pembangunan di negara-negara
berkembang
Standardisasi internasional adalah suatu kenyataan yang diperlukan di
dalam suatu sektor industri tertentu bila mayoritas barang dan jasa yang
dihasilkan harus memenuhi suatu standar yang telah dikenal. Standar
seperti ini perlu disusun dari kesepakatan-kesepakatan melalui konsensus
dari semua pihak yang berperan dalam sektor tersebut, terutama dari pihak
produsen, konsumen, dan seringkali juga pihak pemerintah. Mereka
menyepakati berbagai spesifikasi dan kriteria untuk diaplikasikan secara
konsisten dalam memilih dan mengklasifikasikan barang, sarana produksi,
dan persyaratan dari jasa yang ditawarkan.
  Secara umum tujuan  penyusunan standar internasional adalah untuk
memfasilitasi perdagangan, pertukaran, dan alih teknologi melalui
peningkatan mutu dan kesesuaian produksi pada tingkat harga yang layak,
peningkatan kesehatan, keamanan dan perlindungan lingkungan, dan
pengurangan limbah, kesesuaian dan keandalan inter-operasi yang lebih
baik dari berbagai komponen untuk menghasilkan barang maupun jasa
yang lebih baik, dan penyederhanaan perancangan produk untuk
peningkatan keandalan kegunaan barang dan jasa, serta peningkatan
efisiensi distribusi produk dan kemudahan pemeliharaannya. Harapannya,
pengguna (konsumen) lebih percaya pada barang dan jasa yang telah
mendapatkan jaminan sesuai dengan standar internasional. Jaminan
terhadap kesesuaian tersebut dapat diperoleh baik dari pernyataan
penghasil barang maupun melalui pemeriksaan oleh lembaga independen.

Sertifikasi Standard Internasional


 Dengan adanya standar-standar yang belum diharmonisasikan
terhadap teknologi yang sama dari beberapa negara atau wilayah yang
berbeda, kiranya dapat berakibat timbulnya semacam “technical barriers to
trade (TBT)” atau “hambatan teknis perdagangan”. Industri-industri
pengekspor telah lama merasakan perlunya persetujuan terhadap standar
dunia yang dapat membantu mengatasi hambatan-hambatan tersebut dalam
proses perdagangan internasional. Dari timbulnya permasalahan inilah
awalnya organisasi ISO didirikan.
Kesepakatan diantara Negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa
(MEE)  memunculkan sistem standar yang dikenal dengan istilah
“International Organization for Standardization” (ISO). ISO adalah
organisasi standar system kualitas di luar pemerintahan (Non-Government
Organization/NGO) yang berdiri sejak tahun 1947, yang diakui secara
internasional dan saat ini beranggotakan lebih dari 90 negara atau tidak
kurang dari 140 negara termasuk Indonesia. ISO mengawasi badan
akreditasi (Acreditation Body) yang terdiri dari NACCB (National
Acreditation Council for Certification Body), RAB (Register Acreditation
Body) dan JAB (Japanesse Acreditation Body). Badan akreditasi ini
mengawasi lembaga-lembaga yang mengaudit dan memberikan sertifikat
(Sertification Body) seperti: SGS Sucofindo di Indonesia, SISIR di
Singapura, SIRIM di Malaysia, TISI di Thailand, BPS di Philipina,
L’Loyd dan BSI di Inggris dan lain sebagainya.

e. Manajemen kualitas dalam bisnis jasa

Prioritas utama dalam strategi manajemen kualitas jasa adalah memenuhi


dan memuaskan keinginan konsumen. Langkah dalam menerapkan strategi
manajemen kualitas jasa, yaitu :

(1) Customer Focus Strategy

Artinya suatu strategi yang memusatkan perhatian pada konsumen


dalam arti pemuasan keinginan konsumen merupakan titik akhir
manajemen kualitas. Apabila ternyata keinginan konsumen tidak
terpuaskan, maka dapat dikatakan bahwa manajemen kualitas tidak efektif
atau gagal mencapai tujuannya.

(2) Quality Culture Establishment Strategy

Pengertian budaya kualitas disini ialah nilai-nilai dan norma-norma


yang dianut para aparat perusahaan yang menjunjung tinggi kualitas
produk jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut. Budaya ini penting
karena menentukan pola tingkah seluruh jajaran perusahaan. Tanpa adanya
budaya kualitas, maka perilaku para individu didalam perusahaan tidak
akan mendorong dihasilkannya produk jasa yang mampu memuaskan
keinginan konsumen. Mereka akan bekerja asal-asalan sehingga outputnya
menjadi sekedarnya saja.

(3) Quality Control Strategy


Yaitu suatu strategi untuk mengetahui seberapa jauh pencapaian target
pemuasan keinginan konsumen dengan cara membandingkan realisasi
dengan target. Apabila ternyata realisasi masih berada dibawah target,
maka dilakukan upaya-upaya perbaikan dimasa yang akan datang.

(4) Continuous Improvement Strategy

Yaitu suatu strategi untuk melakukan penyempurnaan proses produksi


secara terus menerus terlepas dari apakah proses produksi tersebut telah
mampu menghasilkan produk sesuai target kualitas pada saat ini atau
tidak. Pengertian terus menerus disini adalah bertahap dan tanpa batas
waktu.4

C. Proses Operasional

1. Lingkup Proses Operasional


Istilah "Operasi" (Operations) dalam Production/Operations Management
diartikan sebagai kumpulan dari seluruh kegiatan yang berhubungan
dengan produksi barang dan jasa. Sedangkan "Production" diartikan
sebagai proses konversi sumber-sumber yang dimiliki perusahaan menjadi
output. Selanjutnya, istilah "Management" diartikan sebagai pengelolaan
yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengkoordinasian, dan pengendalian. Dengan demikian,
Production/Operations Management didefinisikan sebagai  pengelolaan
(perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan
pengendalian) semua kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan
produksi barang dan jasa (James R Evan, Applied Production and
Operations Management).

    Menurut Richard B Chase dalam bukunya Production and Operation


Management; Manufacture and Service, 1998, manajemen operasi (MO)
didefinisikan sebagai disain, operasi dan perbaikan sistem produksi yang
bertujuan menciptakan barang dan jasa utama perusahaan. Sama halnya
dengan pemasaran dan keuangan, manajemen operasi merupakan bidang
fungsional yang memiliki tanggung jawab  sebagai manajemen lini dalam
struktur organisasi bisnis. Ini penting karena manajemen operasi sering
kali dicampur-adukkan dengan Riset Operasi atau Manajemen Sain
(Operation Research-OR/ Management Science-MS) serta Industrial
Engineering (IE).

   Perbedaan pokok antara Manajemen Operasi dengan OR atau MS


atau IE adalah bahwa MO merupakan bidang manajemen sedang OR/ MS
4
Anggit Utami dan Y. Anni Aryani “Pengaruh Faktor-faktor kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Nasabah (Study
Kasus Bank Syariah Mandiri Cabang Surakarta)”. Jurnal Akuntansi dan bisnis, Vol A, No. 1, 48-60, 2004.
merupakan aplikasi metode kuantitatif untuk pengambilan keputusan di
segala bidang, sementara IE merupakan disiplin ilmu teknik. Dengan
demikian MO menggunakan OR/ MS sebagai alat untuk pengambilan
keputusan seperti misalnya dalam penyusunan skedul dengan
menggunakan jalur kritis, dan dalam beberapa hal memiliki topic bahasan
yang sama dengn IE seperti otomatisasi pabrik. Perbedaan peran
manajemen membuat MO menjadi berbeda dengan disiplin ilmu yang lain.
Sementara menuruty Agus Ahyari  manajemen produksi/ operasi
merupakan proses kegiatan untuk mengadakan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dari produksi dan proses
produksi. Sedang menurut Sukanto, manajemen produksi/ operasi
Merupakan usaha mengelola dengan cara optimal terhadap faktor-faktor
produksi atau sumber seperti manusia, tenaga kerja, mesin dan bahan baku
yang ada.

  Manajemen operasi (MO) mulai berkembang pesat sejak tahun


1910-an. Pada saat itu Frederick W Taylor mengembangkan konsep yang
terkait dengan efisiensi di bidang produksi dengan menggunakan
pendekatan ilmiah untuk menghitung produktivitas, menggunakan fungsi
manajemen untuk menemukan dan menggunakan aturan dan prosedur
dalam operasi system produksi.
Ruang lingkup Manajemen Operasi mencakup tiga aspek utama
yaitu: 1) Perencanaan Sistem Produksi. Perencanaan Sistem Produksi ini
meliputi Perencanaan Produk, Perencanaan Lokasi Pabrik, Perencanaan
Layout Pabrik, Perencanaan Lingkungan Kerja, Perencanaan Standar
Produksi. 2) Sistem Pengendalian Produksi. Meliputi pengendalian proses
produksi, bahan, tenaga kerja, biaya, kualitas dan pemeliharaan. 3) Sistem
Informasi Produksi. Aspek ini meliputi struktur organisasi, Produksi atas
dasar pesanan, Mass Production. Ketiga aspek dan komponen-
komponennya tersebut agar dapat berjalan dengan baik perlu planning,
organizing, directing, coordinating, controlling (Management Process).
Dalam perencanaan manajemen produksi/operasi, perencanaan
hingga pengambilan keputusan dilakukan dengan menggunakan
pendekatan kalsifikasi hirarkhis (Hierarchical Classifications). Artinya,
perencanaan dan keputusan ditempatkan pada tiga kategori yakni:
a. Keputusan dan Rencana Strategik 
Pada tataran ini, perencanaan dan keputusan memiliki skop yang
luas dan meliputi seperti misalnya, penentuan product line, distribution
and marketing channel, new plant and warehouse, dll.
b. Keputusan dan Rencana Taktis
Merupakan keputusan-keputusan perencanaan taktis terutama yang
terkait penyusunan skedul operasi, alokasi dana, penggunaan mesin,
perencanaan tingkat produksi , penentuan jumlah tenaga kerja yang
diperlukan, penentuan perlu tidaknya lembur, penentuan perlu tidaknya
persediaan dan berapa banyak.
c. Keputusan dan Rencana Operasional
Merupakan keputusan jangka pendek yang terkai misalnya
menetukan pekerjaan yang harus dilakukan hari ini atau minggu ini,
menentukan siapa melakukan tugas apa, menentukan tugas-tugas apa
yang harus diprioritaskan. Perencanaan dan keputusan operasional ini
merupakan tingkatan yang terakhir yang mencakup perencanan dan
keputusan tugas-tugas rutin sehari-hari, nisalnya penjadualan karyawan
dan peralatan, penyesuaian tingkat produksi, keputusan melakukan
tindakan-tindakan penyesuaian bila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan dalam pengoperasian mesin, pengawasan terhadap kualitas
produksi.

2. Manufaktur Versus Operasional Jasa

Perbedaan Perusahaan Manufaktur dengan Perusahaan Jasa –


Manufaktur dan Jasa merupakan dua sektor ekonomi yang sangat
penting. Kedua sektor ini berkontribusi pada pengembangan ekonomi,
infrastruktur dan kualitas hidup penduduk di suatu Negara. Manufaktur
berkaitan dengan produksi barang yang dibutuhkan dan dikonsumsi
oleh orang-orang (konsumen). Sedangkan Jasa atau layanan mengacu
pada industri yang tidak menghasilkan barang tetapi memberikan
pelayanan bagi orang-orang atau masyarakat seperti layanan kesehatan,
layanan transportasi, layanan perbankan dan lain sebagainya.

Meskipun memiliki berbagai perbedaan, namun Manufaktur dan


Jasa memiliki kesamaan yaitu membutuhkan Sumber Daya Manusia
yang berkompeten di bidangnya, membutuhkan Lingkungan kerja
untuk operasional dan tentunya juga hasil akhir yang diinginkan yakni
mencari profit atau laba

Perbedaan Perusahaan Manufaktur dengan Perusahaan Jasa

Berikut ini adalah 5 perbedaan utama perusahan Manufaktur


dan Perusahaan Jasa.

1. Barang Fisik
Perbedaan utama antara perusahaan Manufaktur dan
perusahaan Jasa adalah tangibilitas (tangibility) dari output yang
dihasilkan. Output atau Keluaran dari perusahaan manufaktur
adalah memproduksi barang fisik yang dapat dilihat dan disentuh
oleh pelanggan. Sedangkan Output atau keluaran dari perusahaan
Jasa seperti konsultasi, pemeliharaan dan pelatihan adalah tidak
berwujud (intangible)

2. Tingkat Persediaan

Perusahaan Jasa tidak seperti perusahan Manufaktur yang


memerlukan persediaan. Perusahaan Jasa hanya menciptakan layanan
apabila diperlukan oleh pelanggannya. Perusahaan Manufaktur pada
umumnya akan memproduksi barang terlebih dahulu sehingga
menyebabkan adanya persediaan dengan tingkat yang berbeda-beda
tergantung pada perkiraan permintaan pasar. Produsen akan
mempertahankan tingkat persediaannya seminimal mungkin. Tingkat
persediaan atau inventory level ini sangat tergantung pada keakuratan
permintaan dan kapasitas produksinya untuk memenuhi permintaan
berdasarkan waktu yang tepat. Persediaan pada dasarnya merupakan
biaya pada perusahaan-perusahaan manufaktur.

3. Permintaan Pelanggan

Perusahaan Jasa tidak akan menghasilkan layanan atau jasa


kecuali dibutuhkan oleh pelanggan. Perusahaan Jasa pada umumnya
menghasilkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Sedangkan perusahaan manufaktur dapat memproduksi barang tanpa
pesanan pelanggan atau perkiraan permintaan pelanggan. Namun,
memproduksi barang yang tidak memenuhi kebutuhan pasar adalah
strategi yang buruk dan harus dihindari oleh setiap perusahaan
manufaktur.

4. Persyaratan Tenaga Kerja

Perusahaan Jasa memerlukan orang-orang yang memiliki


keterampilan dan pengetahuan khusus serta disiplin ilmu pada bidang
yang sesuai layanan yang ditawarinya. Penyampaian layanan atau Jasa
bersifat padat karya dan tidak dapat dengan mudah diotomatisasi.
Sedangkan pabrik pada perusahaan manufaktur dapat mengotomatisasi
banyak proses produksinya sehingga dapat mengurangi kebutuhan
terhadap tenaga kerja atau bisa juga memindahkan fasilitas
produksinya ke Negara-negara yang biaya tenaga kerjanya lebih
rendah.

5. Lokasi Fisik

Perusahaan Jasa tidak memerlukan lokasi fisik. Orang-orang


yang bekerja di perusahaan jasa dapat memberikan layanan dimana
saja. Sedangkan perusahaan manufaktur atau pabrik harus memiliki
lokasi fisik untuk mengoperasikan produksinya dan juga penyimpanan
persediaannya.

3. Tipe Operasional Manufaktur

Proses Manufaktur merupakan prosedur desain yang menghasilkan


perubahan fisik dan/atau kimia untuk memulai pengerjaan material dengan
tujuan meningkatkan nilai material itu. Proes manufaktur biasanya
dilakukan karena operasi unit, yang berarti bahwa proses manufaktur
adalah langkah tunggal dalam urutan langkah yang dibutuhkan untuk
mengubah material awal menjadi produk akhir. Operasi manufaktur
dapat dibagi menjadi dua tipe dasar:

a. Operasi proses

Operasi proses mengubah material kerja dari satu keadaan


menjadi keadaan yang lebih bernilai  yang merupakan produk akhir
yang diinginkan. Operasi proses menambah nilai dengan mengubah
geometri, sifat, atau penampilan dari material awal. Pada umumnya,
operasi proses dilakukan pada part kerja yang berlainan, akan tetapi
operasi proses tertentu juga mampu diterapkan untuk part yang di
asembling. 

Operasi proses menggunakan energi untuk mengubah bentuk


daripada sebuah part kerja, sifat fisik, atau tampilan untuk menambah
nilai pada material. Bentuk-bentuk energi termasuk diantaranya energi
mekanik, energi termal, listrik dan kimia. Energi tersebut diterapkan
dengan cara yang terkontrol dengan  mesin-mesin dan tool-tool. Energi
manusia dapat juga dibutuhkan, tetapi pekerja pada umumnya bekerja
untuk mengontrol mesin, mengawasi operasi dan part yang terbebani
maupun yang tak terbebani sebelum dan sesudah masing-masing siklus
operasi

b. Operasi Assembling (perakitan).

Operasi Assembling menggabungkan dua atau lebih


komponen untuk membuat bentuk baru yang disebut dengan  rakitan,
sub rakitan atau beberapa istilah lain yang mengacu pada proses
joining (penggabungan) (contoh assembling las yang disebut lasan).
Komponen dari entitas baru dikoneksikan satu sama lain secara
permanen atau semi permanen. Proses penggabungan permanen
diantaranya adalah welding (pengelasan), brazing (pematrian),
soldering (penyolderan), dan ikatan adhesif. Mereka membentuk
gabungan antara komponen-komponen yang tidak dapat dengan mudah
dipisahkan. 

MESIN dan TOOL PRODUKSI

Operasi manufaktur dilakukan menggunakan mesin-mesin dan


tool-tool (dan manusia). Penggunaan secara luas dari mesin-mesin
dalam proses manufaktur dimulai pada revolusi industri. Mesin-mesin
yang digunakan pada waktu itu adalah mesin pemotong logam yang
mulai dikembangkan dan digunakan secara luas.

4. Perencanaan dan Penjadwalan Operasional

Perencanaan   merupakan   salah   satu   fungsi   vital   dalam   kegiatan


manajemen proyek. Perencanaan dikatakan baik bila seluruh proses
kegiatan yang ada didalamnya dapat diimplentasikan sesuai dengan
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dengan tingkat penyimpangan
minimal serta hasil akhir maksimal. Perencanaan adalah Suatu tahapan  
dalam manajemen proyek yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan
sasaran sekaligus menyiapkan segala program teknis dan administratif agar
dapat diimplementasikan. 

Dalam proses penjadwalan, penyusunan kegiatan dan hubungan antar


kegiatan dibuat lebih terperinci dan sangat detail. Hal ini dimaksudkan
untuk membantu  pelaksanaan evaluasi  proyek.  Penjadwalan atau
scheduling   adalah   pengalokasian  waktuyang  tersedia  
melaksanakan masing   masing   pekerjaan   dalam   rangka  
menyelesaikan   suatu proyek hinggah tercapai hasil optimal dengan
mempertimbangkan keterbatasan yangada Selama   proses   pengendalian  
proyek,   penjadwalan   mengikuti perkembangan  proyek dengan berbagai
permasalahannya. Proses monitoring serta updating selalu dilakukan untuk
mendapatkan penjadwalan yang paling realistis agar alokasi sumber daya
dan penetapan durasinya sesuai dengan sasaran dan tujuan proyek.

5. Pemeliharaan Pabrik

Pemeliharaan Pabrik Murphy's Law menyatakan buhwa jika sesuatu


dapat berjalan salah, akan terjadi kesalahan tersebut. Dalam sistem operasi
yang menggunakan perlengkapan dan peralatan, tentu saja terdapat banyak
hal yang dapat berjalan salah. Fungsi pemeliharaan ditujukan untuk
memperbaiki kegagalan pemakaian peralatan dan, sejauh memungkinkan,
untuk mencegah terjadinya kerusakan.
PERANAN PEMELIHARAAN Pemeliharaan yang efektif
memberikan sumbangan secara angpung pada kualitas barang dan jasa dan
hingga pada kepuasan konsumen. Pemeliharaan yang kurang baik sering
menciptakan permanalahan bagi para konsumen. Suatu pancuran yang
cacat atau suatu lampu baca yang tidak menyala, misalnya, menjadikan
suatu motel tetan kurang menyenangkan bagi seorang wisatawan.
manufaktur/ Kegagalan pemakaian dan kerusakan peralatan tidak hanya
menyebabkan permasalahan bagi para konsumen, tapi juga meningkatkan
biaya untuk penilaiaan yang melakukan produks para karyawan mungkin
tidak produktif sementara dilakukan reparasi, dan peralatan
masalamungkin bendiri menganggur ketika seharuinya peralatan tersetut
melakukan produksi

. Selanjutnya, peralatan yang tidak dipelihara dengan tepat lebih cepat


rusak dan membutuhkan penggantian lebih awal, sehingga menambah
biaya operasional manufaktur lingkup kerja pemeliharaan sargat jelas
tergantung pada tipe proses operanonal dan tipe Peralatan yang digunakan.
Dalam suatu kantor, misalnya, yang membutuhkan Pemeliharaan meliputi
komputer, mesin faksimile, mesin ketik, mesin foto kopi, dan peralatan
yang terkait Jasa pemeliharaan lainnya.5

D. Kekuatan kompetitif melalui peningkatan produktivitas

Kekuatan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memiliki


kinerja yang jauh lebih tinggi dan unggul dibandingkan kompetitor dalam
industri sejenis melalui karakteristik dan sumber daya yang dikelola secara
maksimal. Suatu perusahaan dikatakan memiliki keunggulan jika mempunyai
karakteristik, seperti kompetensi khusus, misalnya memiliki mutu yang baik,
mempunyai saluran distribusi yang lebih lancar, penyerahan produk yang lebih
cepat dan memiliki merek produk yang terkenal. Konsep ini diperkenalkan
pertama kali pada tahun 1985 oleh Michael E. Porter.

Secara umum, implementasi teori perusahaan tentang bagaimana cara


bersaing akan memiliki tiga implikasi terhadap posisi kompetitif perusahaan,
yaitu:

1. Competitive advantage, yaitu jika tindakan perusahaan memberi nilai


tambah dan jika hanya ada sedikit perusahaan yang mampu melakukan
tindakan sejenis.

2. Competitive parity, yaitu jika tindakan perusahaan untuk memberi nilai


tambah, tetapi cukup banyak perusahaan yang mampu melakukan tindakan
yang sama.

5
Justin G.Longenecker dan et al, Kewirausahaan Usaha Kecil, ( Jakarta : PT. Salemba Emban Patria, 2001), Hal :
548
3. Competitive disadvantage, yaitu jika tindakan perusahaan dalam suatu
industri yang gagal untuk memberi nilai tambah ekonomis

Menurut Porter (1980), cara untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, antara


lain :

a. Overall low cost leadership

Perusahaan berusaha menjadikan dirinya produsen dengan


tingkat efisiensi yang paling tinggi dengan karakteristik strategi low
cost ini antara lain: pembangunan fasilitas berskala efisien secara
agresif.

b. Differentiation

Perusahaan berusaha untuk melakukan differentiation atau diferensiasi


dengan tampil sebagai produsen dengan biaya yang paling rendah,
melainkan menghasilkan suatu produk yang memiliki keunikan
sehingga mudah dibedakan dari produk sejenis di pasar. Karakteristik
pembedanya adalah: prestige dan brand image, teknologi, inovasi,
fitur, layanan pelanggan, dan jaringan dealer

c. Focus

Perusahaan yang memiliki strategi fokus akan memilih suatu segmen


atau kelompok segmen serta menyesuaikan strategi untuk melayani
segmen tersebut. Dinamika pertumbuhan ekonomi bisnis
sertakemajuan teknologi saat ini membawa berbagai
lembaga/perusahaan dengan bermacam produknya ke dalam suasana
yang kompleks dan kompetitif. Dengan terjadinya over-produktivitas
di semua lini, menjadikan suasana pasar global dan regional menjadi
penuh kompetisi yang ketat, sengit, dan juga menampakkan kehilangan
batas-batas penghambat atau pelindung. Hal ini membuat pasar tidak
lagi menjadi kompetitif,

E. Kebijakan dan praktik pembelian

Kebijakan dan praktik pembelian mencakup tujuh hal, yaitu:

1. penetapan harga diskon dan potongan harga.

2. penetapan harga tersegmentasi.

3. penetapan harga

psikologis,

4.penetapan harga promosi,


5. penetapan

harga geografis,

6. penetapan harga dinamis, serta

7. penetapan harga internasional (Kotler dan Amstrong)

Menurut Kotler dan Amstrong Diskon merupakan bentuk


pengurangan harga secara langsung terhadap pembelian selama periode
waktu tertentu. Sedangkan menurut Rewoldt, Scott, dan Warshaw diskon
adalah potongan harga yang menarik untuk memancing para pembeli agar
membeli dalam kuantitas yang lebih besar.6

6
Agustinus Johanes,MANAJEMEN & STRATEGI PEMBELIAN Bukit Cemara Malang 2015 HAL: 23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada dasarnya manajemen kualitas (Quality Management) atau


manajemen kualitas terpadu (total quality management) didefinisikan sebagai
suatu cara untuk meningkatkan performansi secara terus menerus (continuous
performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap
area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber
daya manusia dan modal yang tersedia.

Manajemen Kualitas adalah fundamental dalam sebuah strategi


perusahaan. Ketika Organisasi selalu bermain dalam lingkungan kualitas
yangbaik, maka hasil dan kinerja akan berlaku untuk jangka panjang. B. Saran
Sebelum manajemen mutu benar dapat dilaksanakan pemimpin organisasi
harus terlebih dahulu mendapatkan pemahaman yang baik tentang apa kualitas
yang baik dan bagaimana hal itu telah berkembang selama bertahun-tahun
dalam bisnis mereka. Mereka juga harus memahami prinsip-prinsip yang
digunakan sehingga mereka akan lebih mampu untuk membuat perbedaan
yang benar dalam hal peningkatan produk dan layanan dan evaluasi. Ada
standar manajemen mutu yang harus dipenuhi untuk mempertahankan tingkat
kualitas yang telah datang yang diharapkan di berbagai industri. Hal ini juga
membantu eksekutif dalam memahami tujuan sebenarnya dari manajemen
mutu sehingga kemudian dapat digunakan dalam cara yang terbaik untuk
mencapai hasil akhir yang diinginkan.
DAFTAR ISI

Justin G.Longenecker dan et al, Kewirausahaan Usaha Kecil, ( Jakarta :


PT. Salemba Emban Patria, 2001),

Adam, Fanggidae and Oematan / JOURNAL OF MANAGEMENT


(SME’s) Vol. 8, No.1, 2019,

Anggit Utami dan Y. Anni Aryani “Pengaruh Faktor-faktor kualitas Jasa


Terhadap Kepuasan Nasabah (Study Kasus Bank Syariah Mandiri Cabang
Surakarta)”. Jurnal Akuntansi dan bisnis, Vol A, No. 1,

Agustinus Johanes,MANAJEMEN & STRATEGI PEMBELIAN Bukit


Cemara Malang 2015