Anda di halaman 1dari 6

Nama : Erlina Nurul Faturrohmah

NIM : 042456897

Mata Kuliah : Tugas 1 Pengantar Ekonomi Makro/ESPA4110

1. Jelaskan Konsep-konsep Dasar dalam Ilmu Ekonomi

a. Kelangkaan (Scarcity)

Pertanyaan pertama yang muncul ialah apa yang dimaksud dengan


kelangkaan? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setiap agen ekonomi (baik
rumah tangga maupun perusahaan) menghadapi masalah keterbatasan sumber daya
yang dimilikinya. Rumah tangga memiliki keterbatasan pendapatan, waktu dan
sebagainya, sehingga jumlah barang dan jasa yang dapat dikonsumsi juga terbatas.
Perusahaan menghadapi keterbatasan anggaran pula sehingga harus menentukan
berapa jumlah input yang akan digunakan dalam proses produksinya, serta berapa
jumlah barang yang akan
diproduksi.

b. Pilihan-pilihan (Choices)

Seseorang selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup. Apakah kita ingin
berlibur ke pantai atau ke pegunungan? Apakah kita ingin berbelanja di pasar
swalayan atau di pasar tradisional? Apakah kita ingin melanjutkankuliah atau bekerja
dan menabung terlebih dahulu, atau menikah? Itu semua merupakan pilihan yang
sering hadir di dalam kehidupan kita.

c. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)

Perlu dipahami bahwa ketika seseorang memutuskan untuk memilih salah satu
pilihan tersebut maka ada biaya kesempatan yang hilang. Misalnya: orang di gambar
memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya saja. Maka pada saat yang bersamaan, dia
akan kehilangan upah yang dapat diperoleh jika dirinya bekerja. Contoh lainnya
adalah ketika Anda memutuskan untuk membaca buku ini, sebenarnya ada pilihan
kegiatan lain yang dapat Anda lakukan seperti menonton TV, berolahraga, atau
bermain. Artinya, menonton TV, berolahraga, dan bermain adalah opportunity cost
Anda. Jadi, opportunity cost adalah biaya kesempatan yang muncul karena
mengambil sebuah pilihan.

d. Alokasi ( Alocation)

Alokasi hampir mirip maknanya dengan distribusi. Di dalam ilmu ekonomi,


alokasi berarti bagaimana mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk
memenuhi kebutuhan yang hampir tidak terbatas. Misalnya, seseorang memiliki uang
sebanyak 1 juta rupiah serta dialokasikan untukmembeli pakaian seharga 400 ribu
rupiah dan makanan sebesar 600 ribu rupiah. Keputusan untuk membelanjakan uang
(sumber daya) yang dimiliki orang tersebut merupakan perwujudan alokasi sumber
daya.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “PDB adalah nilai pasar 

Secara formal, yang dimaksud dengan Produk Domestik Bruto(PDB) adalah


nilai pasar dari seluruh barang/jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu negara dalam
periode waktu tertentu. Pengertian ini memang mudah untuk dimengerti, namun di
dalam setiap frase kata dari pengertian tersebut sebenarnya memiliki makna yang
perlu ditelusuri lebih dalam. Frase “PDB adalah nilai pasar ...” menunjukkan bahwa
pengukuran PDB dilakukan dengan menggunakan nilai uang dari suatu barang dan
jasa akhir, bukan menggunakan jumlah barang. Dalam perekonomian terdapat
berbagai macam barang/jasa, dan untuk menjumlahkan seluruh barang dan jasa tidak
dapat dilakukan dengan menjumlahkan kuantitas yang tersedia. Alhasil, Pengukuran
dalam bentuk nilai uang ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pembandingan antar
barang yang tidak seimbang, bagaikan antara
apel dan jeruk, sehingga penyamaan satuan merupakan hal yang dibutuhkan.
Frase “... dari seluruh...” menunjukkan bahwa PDB memasukkan semua
produk yang diproduksi oleh perekonomian dan yang dijual di pasar secara legal,
tidak hanya berupa barang, namun juga jasa. Selain itu, ada beberapa produk yang
tidak masuk ke dalam perhitungan PDB, yaitu barang/jasa yang diproduksi secara
ilegal, di antaranya adalah obat-obatan terlarang (narkoba) dan makanan yang
diproduksi oleh rumah tangga dan kemudian dikonsumsi langsung oleh rumah tangga
tersebut. Kedua hal initidak masuk dalam perhitungan PDB karena tidak pernah
masuk ke dalam pasar sehingga tidak memiliki nilai pasar. Frase “...barang/jasa...”
menunjukkan bahwa PDB dihitung dengan memasukkan barang nyata (seperti mobil
dan tas) dan barang tidak nyata (seperti pendidikan yang diberikan guru dan
pelayanan kesehatan oleh dokter). Barang yang tidak nyata ini dikenal juga dengan
sebutan jasa.
Frase “...akhir...” menunjukkan bahwa barang/jasa yang dimasukkan dalam
perhitungan PDB adalah barang/jasa jadi (yaitu yang dapat langsung digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia), bukan produk yang setengah jadi yang masih
memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia, ataupun produk mentah yang belum diolah sama sekali.
Misalnya terhadap meja belajar; yang dimasukkan dalam perhitungan PDB adalah
nilai pasar dari meja belajar, sementara nilai pasar dari kayu gergajian yang dibeli
oleh tukang untuk menghasilkan meja tidak dimasukkan dalam perhitungan. Kenapa
kayu gergajian tidak dimasukkan dalam perhitungan PDB padahal kayu ini memiliki
nilai pasar dan diperdagangkan secara legal di pasar? Hal ini ditujukan untuk
menghindari persoalan double counting ‘perhitungan ganda’ dari suatu produk.
Nilai kayu sebenarnya telah diperhitungkan dalam menentukan nilai pasar dari
meja, sehingga ketika nilai kayu juga dimasukkan dalam perhitungan PDB, maka nilai
kayu ini akan tercatat dua
kali. Frase “...dihasilkan..” merujuk pada kondisi bahwa PDB memperhitungkan
barang/jasa yang dihasilkan pada masa sekarang. Misalnya, penjualan sepeda motor
baru oleh Yamaha akan diperhitungkan dalam PDB, namun jika yang melakukan
penjualan adalah kalian, maka tidak dimasukkan dalam perhitungan PDB karena
sepeda motor yang kalian jual bukanlah barang/jasa yang dihasilkan pada masa
sekarang. Frase “...oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu” menunjukkan
bahwa barang/jasa yang diperhitungkan dalam PDB adalah barang/jasa yang
dihasilkan oleh daerah-daerah yang berada dalam kawasan suatu negara, dan
pengukuran dilakukan dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam kurun waktu satu
tahun dan tiga bulan.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan MPC (Marginal Propensity to Consume)

Marginal Propensity to Consume (MPC) didefinisikan sebagai sejumlah


tambahan yang dikonsumsi saat menerima pendapatan tambahan. Dalam istilah
ekonomi, marginal diartikan sebagai tambahan atau ekstra. Contohnya marginal cost
yang berarti biaya tambahan untuk memproduksi satu unit tambahan. Propensity to
Consume dalam ekonomi makro digambarkan sebagai tingkat yang diinginkan dari
konsumsi. Jadi MPC merupakan konsumsi ekstra atau tambahan yang dihasilkan dari
tambahan pendapatan.
Untuk lebih mengerti tentang penghitungan MPC, kita tuliskan kembali Tabel
dengan bentuk yang lebih lengkap dengan penambahan MPC dan Marginal
Propensity to Save (MPS), seperti yang terlihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel
Konsumsi, MPC, Tabungan dan MPS
Pendapatan Marginal
Disposabel, Konsumsi, C Propensity to Tabungan,S Marginal Propensity
(Yd) (rupiah) Consume (MPC) = (1) – (2) to Saving (MPS)
(rupiah)
1 2 3 4 5
1.500.000 1.511.000 - 11.000
0,89 0,11
1.600.000 1.600.000 0
0,85 0,15
1.700.000 1.685.000 15.000
0,75 0,25
1.800.000 1.760.000 40.000
0,64 0,36
1.900.000 1.824.000 76.000
0,59 0,41
2.000.000 1.883.000 117.000
0,53 0,47
2.100.000 1.936.000 164.000

Tingkat pendapatan disposabel mengalami kenaikan sebesar Rp100.000.


Tingkat konsumsi juga mengalami kenaikan dari Rp1.685.000,- menjadi
Rp1.760.000,- atau sebesar Rp 75.000,-. Oleh karenanya konsumsi tambahan
sebesar Rp75.000/Rp100.000 = 0,75 dari tambahan pendapatan. Setelah
mengetahui cara menghitung MPC, akan kita coba menghitung MPC secara grafik,
seperti yang terdapat pada Gambar 3.2. Kita gambarkan sebuah segitiga kecil di
dekat titik B dan C. Seiring dengan meningkatnya pendapatan sebesar Rp100.000
dari B ke C, jumlah konsumsi juga meningkat sebesar Rp85.000,- berdasar fungsi
konsumsi. Ini artinya MPC berada dikisaran Rp85.000,-/Rp100.000,- = 0,85.

Slope dari fungsi konsumsi, yang mengukur perubahan konsumsi setiap


perubahan rupiah yang terjadi dalam pendapatan disebut sebagai Marginal
Propensity to Consume.

4. Jelaskanlah apakah  nilai kecenderungan mengkonsumsi marginal (MPC) di


negara maju dan di negara berkembang nilainya sama atau berbeda. Jika
bernilai sama atau berbeda silakan Anda jawab berdasarkan teori yang ada.

Sebagian besar negara berkembang memiliki nilai Marginal Propensity to


Consump (MPC) diatas 0,6 (Lestari, 2011). MPC atau lebih dikenal dengan
kecenderungan konsumsi adalah salah satu ukuran untuk melihat kondisi
masyarakat terhadap kecenderungan untuk mengonsumsi dalam hal ini baik
makanan maupun non makanan yang dihabiskan untuk keperluan sehari-hari.
Semakin besar nilai MPC menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan yang
diperoleh masyarakat akan digunakan untuk konsumsi, sementara yang dipakai
untuk menabung hanya sebagian kecilnya saja (Moniruzzaman, 2019).

Nilai MPC di negara berkembang dan di negara maju nilainya berbeda hal
ini dikarenakan masyarakat di negara maju akan lebih memilih menabung
sehingga kemampuan investasi dalam rangka pembangunan ekonomi dalam
negeriterus meningkat untuk jangka panjang sehingga MPC pada kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi atau negara maju lebih rendah daripada MPC
kelompok masyarakat berpenghasilan rendah negara berkembang (Naqvi, 2017).
Kelompok masyarakat yang mempengaruhi nilai MPC suatu negara salah satunya
adalah petani. Berdasarkan penelitian (Rinawati, Yantu, & Rauf, 2014) ditemukan
bahwa masyarakat petani padi sawah memiliki nilai MPC 0,68 yang berarti bahwa
setiap satu satuan pendapatan, dikeluarkan sebesar 0,68 untuk konsumsi dan
sisanya 0,32 untuk menabung. Hal ini membuktikan bahwa penelitian terkait
pengaruh pendapatan terhadap konsumsi sangat menarik untuk dilakukan
khususnya untuk masyarakat petani.
Hal ini membuktikan bahwa penelitian terkait pengaruh pendapatan
terhadap konsumsi sangat menarik untuk dilakukan khususnya untuk masyarakat
petani. Petani cengkeh merupakan salah satu kelompok petani yang dikenal
dengan pendapatannya yang tinggi (Kaczan, Swallow, & Adamowicz, 2013)
(Rakotobe dkk., 2016). Hal ini karena harga jual dari komoditi cengkeh tergolong
lebih tinggi daripada komoditi perkebunan lainnya bahkan komoditi pertanian
dalam skala luas.

Komoditi cengkeh berada dalam urutan ke-7 diantara 9 komoditi unggulan


sektor perkebunan (Perkebunan, 2018). Pada penelitian ini peneliti terlebih dahulu
akan melihat bagaimana pola konsumsi petani cengkeh setelah itu akan dianalisis
pengaruh pendapatan petani terhadap konsumsi yang dikeluarkan oleh petani
cengkeh di Kabupaten Toli-Toli. Oleh karena itu maka tujuan penelitian ini yaitu
untuk menganalisis pengaruh pendapatan terhadap konsumsi petani cengkeh di
Kabupaten Toli-Toli.

Sumber :
-B Harmadi, Sonny Harry. 2020. Pengantar Ekonomi Makro. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
-Sultan, Hardiyanti. 2019. Pengaruh pendapatan Terhadap Konsumsi Petani Cengkeh di
Kabupaten Toli-Toli. Palu. Universitas Tadulako.