Anda di halaman 1dari 12

FENOMENA KEADILAN DALAM PENGENAAN SANKSI

PERPAJAKAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pajak merupakan faktor terpenting bagi keuangan negara dalam menjamin
kelangsungan pembangunan nasional tanpa tergantung kepada sumber daya alam dan bantuan
asing. Fjeldstad (2013:1) menyatakan bahwa “An effective tax sistem is considered central
for sustainable development because it can mobilize the domestic revenue base as a key
mechanism for developing countries to escape from aid or single natural resources
dependency.”  
Di Indonesia, pajak merupakan sumber pembiayaan negara terbesar, karena sekitar 80
persen pengeluaran negara dibiayai oleh pajak. Fungsi pajak sebagai sumber pembiayaan ini
dikenal sebagai fungsi budgetair pajak. Setiap tahunnya target penerimaan pajak terus
meningkat, oleh karena itu dibutuhkan peran dan dukungan masyarakat, dalam hal
ini voluntary compliance wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. 
Membayar pajak merupakan salah satu kewajiban warga negara sebagaimana diatur
dalam Pasal 23A UUD Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “pajak dan pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. 
Pajak dikumpulkan dari warga pajak dan digunakan untuk membiayai seluruh
kepentingan umum, seperti pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, bandara), subsidi
(pendidikan, energi, kesehatan), dan pembiayaan lainnya. Untuk meningkatkan kepatuhan
wajib pajak dalam membayar pajak dibutuhkan sistem perpajakan yang adil, di mana
pemerintah tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap wajib pajak dan tidak
menguntungkan suatu pihak atau golongan tertentu.

Keadilan sendiri merupakan substansi utama dalam perumusan kebijakan, akan tetapi
keadilan adalah hal yang abstrak dan subjektif sehingga sangat sulit untuk menemukan
formula sistem perpajakan yang dapat memenuhi prinsip keadilan tersebut. Suatu kebijakan
yang dapat diterima oleh seluruh pihak, seluruh rakyat, semua golongan.

Tidak memungkiri bahwa langkah reformasi peprajakn yang dilakukan pemerintah,


yang meliputi pembaruan kebijakan dan administrasi perpajakan selama ini berhasil

1
mendorong peningkatan penerimaan pajak secara signifikan. Meski demikian masih banyak
kendala yang dihadapi, baik dalam bidang admiistrasi pemungutan pajak, pemeriksaan pajak,
keberatan pajak, keadilan pajak serta kepatuhan wajib pajak sebagai implikasi dari kebjakan
dan administrasi perpajakan iu sendiri. Pemaruan kebijakan perpajakn dilaksanakan antara
lain melalui amandemen UU Pph, UU PN, dan PPnBM, UU KUP serta UU pajak lainnya.

Peran penerimaan pajak sebagai salah satu sumber penting pembiayaan negara masih
perlu ditingkatkan, sebab dibandingkan dengan negara tetanga saja tax ratio kita masih
rendah. Kegagalan dalam menciptakan iklim perppajakan yang kondusif dan kompetitif, tidak
saja berimbas pada hilangnya rasa keadilan dan kepastian hukum bagi wajib pajak, tetapi juga
gagalnya upaya meningkatkan kapatuhan (tax-complience) wajib pajak dan hilangnya
kepercayaan masyarakat terhadap aparatur pajak. Untuk itu keadilan dalam suatu perpajakan
merupakan salah satu hal yang paling penting karena dengan adanya sistem perpajakan yang
adil diharapkan dapat meningkatkan voluntary compliance wajib pajak, semakin
tinggi voluntary compliance wajib pajak, diharapkan semakin banyak wajib pajak yang
terdaftar dan aktif melakukan kewajiban perpajakannya, sehingga target penerimaan pajak
dapat tercapai.Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas mengenai fenomena-fenomena
keadilan dalam sanksi perpajakan.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana muatan keadilan dalam perpajakan ?
2. Apa pokok-pokok masalah dalam pengenaan sanksi perpajakan?
3. Bagaimana aspek juridis dalam pengenaan sanksi perpajakan?

1.3. TUJUAN
1. Menjelaskan muatan keadilan dalam perpajakan.
2. Menjelaskan pokok-pokok masalah dalam pengenaan sanksi perpajakan.
3. Menjelaskan aspek juridis dalam pengenaan sanksi perpajakan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Muatan Keadilan di Bidang Perpajakan


Sebagai salah satu sumber utama penerimaan negara, pemungutan pajak ditetapkan
denganUndang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.Hal ini sejalan dengan Pasal 23A UUD 1945, yakni:
“Pajakdan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur dengan
undang-undang”. Namum dalam pelaksanaannya hali ini tidak bias dilakukan secara semena-
mena, karena harus tetap mematuhi ketentuan lain dalam Pasal 28D UUD 1945, yakni:
“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil,
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.

Sejalan dengan itu, maka dalam penjelasan atas UU No. 28 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga Atas UU No. 06 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) secara tegas menyatakan, bahwa perubahan tersebut bertujuan untuk lebih
memberikan rasa keadilan, meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak, meningkatkan
kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan dibidang teknologi
informasi dan perubahan ketentuan material dibidang perpajakan. Selain itu, perubahan
tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur perpajakan,
meningkatkan keterbukaan administrasi perpajakan, dan meningkatkan kepatuhan sukarela
wajib pajak.
Dengan berpegang pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan, arah dan
tujuan perubahan undang-undang tentang KUP ini mengacu pada kebijakan pokok sebagai
berikut:
a. Meningkatkan efisiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung penerimaan
Negara
b. Meningkatkan pelayanan, kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna
meningkatkan daya saing dalam bidang penanan modal dengan tetap mendukung
pengembangan usaha kecil dan menengah.
c. Menyesuaikan diri terhadap tuntutan perkembangan social ekonomi masyarakat serta
perkembangan dibidang teknologi informasi.
d. Meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.

3
e. Menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan.
f. Meningkatkan penerapan prinsip self assessment secara akuntabel dan konsisten.
g. Mendukungi klim usaha kearah yang lebih kondusif dan kompetitif.
Dilaksanakannya kebijakan pokok tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerimaan
negara dalam jangka menengah dan panjang, seiring dengan meningkatnya kepatuhan
sukarela dan membaiknya iklim usaha.
Wawasan tentang penegakan keadilan perpajakan ini sudah dipikirkan jauh sebelumnya
di abad tujuh belas, dalam era revolusi industri diInggris.Adam Smith (1723-1790) filsuf
Skotlandia dan guru besar ekonomi klasik sudah memikirkan bagaimana menggemas
pemungutan pajak dari masyarakatuntuk kepentingan pembiayaan negara dalam
menyelenggarakan pemerintahan, dengan tidak secara semena-mena dan dengan selalu
memperhatikan kemampuan masyarakat dalam membayar pajak. Dalam buku An Inquiry
Into The Nature And Causes of The Wealth of Nations yang diterbitkan pada tahun 1776,
Adam Smith mengemukakan salah satu dari empat prinsip yang disebut dengan Four
Maxims/Four Canons dengan menempatkan azas equality/equity diurutan teratas (diikuti
dengan ketiga azas lainnya yakni certainty, convenience, dan eficiency). Menurutnya pajak
itu harus adil dan merata, dikenakan kepada orang-orangpribadi atau subjek pajak, sebanding
dengan kemampuannya untuk membayar (ability to pay) pajak tersebut dan seimbang dengan
manfaat atau penghasilan yang diterima dan yang dinikmatinya dibawah perlindungan
pemerintah.
Aspek keadilan ini termanifestasi kan secara konseptual seperti yang tertuangdalam
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Negara kita tahun 1999, termasuk dalam muatan
5 prinsip dibidang perpajakan, yaitu: 1. Transparan; 2. Displin; 3. Adil; 4. Efisien; dan 5.
Efektif.

2.2. Pokok Masalah dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan


Dengan semakin bertambahnya learning curve dari fungsionaris perpajakan, baik dari
pihak legislatif maupun eksekutif dalam memasyaraktkan pembaharuan Undang-Undang
Perpajakan hasil reformasi perpajakan sejak tahun 1983, aspek keadilan terhadap masyarakat
wajib pajak harus semakin dikedepankan. Negara tidak ada bila tidak ada masyarakat, dan
pundi-pundi negara juga tidak akan terisi bila tidak ada yang bayar pajak. Jadi, masyarakat
harus didudukkan sebagai mitra pembangunan, bukan hanya subjek pajak semata, sehingga
terjadinya suatu interaksi antara fiskus dan masyarakat wajib pajak yang saling menghidupi
(simbiosis mutualistis).

4
Mari kita tinjau lebih dalam dalil-dalil yang terdapat dalam UU Nomor 28 Tahun 2007
tentang Perubahan Ketiga Atas UU No.06 Tahun 1983 tentang KUP pasal 25 ayat (9) dan
pasal 27 ayat (5d) yanga menyatakan :

1. Pasal 25 ayat (9): "Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian,
wajib pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh
persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan, dikurangi dengan pajak
yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan".

Dalam kasus di mana pengadilan pajak tidak dapat memenuhi semua banding
pajak atau bahkan kalah, wajib pajak masih diharuskan membayar sanksi pajak Pasal
25 ayat (9).

Komentar :

- Ketentuan dari pasal di atas sangat merugikan hak konstitusional wajib pajak, karena
adanya sanksi yang sangat memberatkan yang dijatuhkan terlebih dahulu secara
imperatif, tanpa melalui “proses hukum dalam proses mencari keadilan hukum".

Dengan demikian, dalil tersebut (ketentuan Pasal 25 Ayat (9) jelas


bertentangan bahkan telah melanggar Pasal 1 Ayat (3) dan Pasal 27 Ayat (1) serta
Pasal 28D Ayat (1) UUD 1945 seperti diuraikan dalam pembahasan "aspek juridis-
keadilan dalam UUD 1945" dibawah ini.

- Ironisnya, dalam pembentukan UU, tidak terkecuali UU di bidang perpajakan, kita


tahu bahwa Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum yang dimanifestasikan
dalam UUD 1945, memberikanperlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) dan
mensyaratkan pemenuhan hak-hak konstitusi dengan senantiasa menjaga eksistensi
kepastian hukum demi tercapainya keadilan bagi setiap warga negara. Dalam contoh
di atas, hak-hak konstitusi wajib pajak terabaikan. Jika "proses hukum dalam
proses mencari keadilan hukum" adalah hak setiap warga negara, bagaimana
mungkin penggunaan hak yang dijamin secara konstitusional oleh UUD1945, pada
proses awal telah “dijatuhi" ancaman sanksi yang sangat memberatkan! Apakah ini
yang dimaksudkan keadilan mata hukum ?

5
2. Pasal 27 ayat (5d): Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian
wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus
persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan
pembayaran pajak yang telahdibayar sebelum mengajukan keberatan.

Komentar

- Pasal ini bisa membangkrutkan atau memati-surikan wajib pajak pemohon. Ibatar
sudah jatuh ketimpa tangga. Denda sebesar 100% dihitung dari pokok pajak plus
bunga yang sudah ditetapkan dalam Surat Keputusan Keberatan pajak, sehingga
pengenaan denda bunganya jadi berlipat-lipat. Apakah ini yang dimaksudkan keadilan
di mata hukum? Bagaimana fungsi keadilan hukum itu menempatkan masvarakat
wajib pajak sebagai mitra pembangunan jika hukum itu sendiri membuat nya mati
suri? Bila perusahaan diibaratkan tanaman buah, yang diambil oleh pajak masih
sebatas buahnya saja, tanaman masih bisa berbuah lagi, tapi bila batangnya ditebas
(denda sebesar 100%), tanaman pasti mati, karena praktis cash flow (urat nadi)
perusahaan macet.

3. Pasal 13 ayat (2 ): Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e ditambah dengan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan, paling lama 24
(duapuluh empat) bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak, atau tahun pajak sampaidengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar.

Komentar:

- Implementasi Pasal 25 ayat (9) UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas
UU No. 6 tahun 1983 tentang KUP mengandung pengenaan denda bunga berlipat-
lipat yang disebabkan pengenaan sanksi atas sanksi ex. Pasal 13 ayat (2) UU KUP.

Seperti terlihat dalam ilustrasi di bawah ini, ditahap awal pada terbitkannya
SKPKB, fiskus sudah memperhitungkan pokok ditambah bunga dari Pasal 13 ayat (2)
sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan,
setelahterbitnya Surat Keputusan Keberatan dengan pengenaan Pasal 25 ayat (9),
berarti terjadi penambahan pengenaan sanksi atas sanksi ex. Pasal 13 ayat (2) UU
KUP. Boleh saja pemerintah menegakkan fungsi budgetairnya, tapi harusnya prilaku

6
hukum itu benar-benar mengayomi masyarakat agar tidak terjatuh dalam perangkap
seperti praktik lintah darat (bunga berbunga).

4. Pengejewantahan butir 1 dan 2 UU di atas dianggap bertentangan dengan Pasal 27,


28 d, dan 281 UUD 1945. asas keadilan pajak, serta keadilan sosial dari sila kelima
Pancasila.

Ilustrasi tentang adanya sanksi yang sangat merugikan hak konstitusional dan
sangat memberatkan wajib pajak pemohon atas pengenaan sanksi Pasal 25 Ayat (9)
UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas UU KUP No. 06 Tahun 1983,
adalah sbb:

Uraian Perhitungan Menurut Fiskus


Rp

Pokok Pajak (Pph Badan 2009) 200.000.000.000


Sanksi Administratif pasal 13 ayatg (2) menurut 48.000.000.000
SKPKB: 2% perbulan maksimal 48%
Jumlah Pajak yang harus dibayar menurut SKPKB 248.000.000.000
- Pembayaran Pajak terutang sebelum 0
mengajukan Keberatan
- Pembayaran Pajak terutang setelah 0
mengajukan Keberatan
Jumlah Pajak yang masih terutang 248.000.000.000
Denda pasal 25 ayat (9) 50% 124.000.000.000
Total Pajak yang harus dibayar setelah pengenaan 372.000.000.000
Denda pada pasal 25 Ayat (9)

Dari Tabel Analisis Pengenaan Sanksi Perpajakan tersebut, dapat dicatat hal-hal berikut :

1. Jumlah Pajak yang masih terutang pada tingkat keberatan harus ditambah sanksi
denda sesuai ketentuan Pasal 25 Ayat (9) UU No. 28 KUP Tahun 2007 yang besarnya
50% dari jumlah pajak yang masih terutang tersebut. Pembebanan sanksi yang sangat
memberatkan ini dilakukan tanpa melalui “proses mencari keadilan hukum", yang
merupakan hak fundamental wajib pajak.

2. Pengenaan sanksi administrasi ex. Pasal 1 ayat (2) KUP 2007 sebesar 48% yang
timbul karena Surat Keterangan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), diterbitkan 2 (dua)
tahun setelah tahun pajak yang bersangkutan (2009).

7
3. Pengenaan sanksi Pasal 25 ayat (9) UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga
atas UU No. KUP 6 tahun 1983 mengandung pengenaan sanksi atas sanksi ex. Pasal
13 ayat (2) UU KUP.

2.3. Aspek Juridis dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan


a). Aspek Juridis- Fiskal

Latar belakang sejarah timbulnya etentuan Pasal 25 ayat (9) dan pasal 27 ayat (5d)
Undang-Undang KUP adalah pengejewantahan dari ketentuan pasal 19 ayat (1)
Undang-Undang KUP mengenai bunga penagihan sebsar 2% per bulan tanpa batas
waktu.

Selengkapnya Pasal 19 ayat I berbunyi :

Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan atau Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan, serta Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan
jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah, pada saat jatuh tempo pelunasan
tidak atau kurang dibayar, atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu
dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk
seluruh masa, yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal
pelunasan atau tanggal diterbitkannya Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan
dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Dalam penjelasan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 25 ayat (9)
dinyatakan bahwa:
“Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan wajib
pajak tidak mengajukan permohonan banding, jumlah pajak berdasarkan keputusan
keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan
harus dilunast paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan
Keberatan, dan Penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila wajib pajak
tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, walab pajak dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen)".

Contoh:

8
Untuk tahun pajak 2010, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan
jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 200.000.000.000 diterbitkan
terhadap PT X;

Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, wajib pajak hanya menyetujui


pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 100.000.000.000, kemudian melunasi
sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp 100.000.000.000 Wajib Pajak PT X
selanjutnya mengajukan keberatan atas koreksi lainnya. Direktur Jenderal Pajak
mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak sehingga jumlah pajak yang masih
harus dibayar menjadi Rp 150.000000.000.
Dalam hal ini, wajib pajak PT X tidak dikeai sanksi administrasi sebagaimana
diatur dalam pasal 19, tetapi dkenai sanksi administrasi sesuai dengan pasal 25
ayat (9) yaitu sebesar 50% x (150.000.000.000- Rp 100.000.000.000) = Rp
250.000.000
b). Aspek Juridis- Keadilan Dalam UUD 1945

Sebagai hukum pajak formal, bagaimanapun juga UUD 1945 harus menjadi
acuan normatif yang sangat penting dalam penyusunan Ketetuan Umum dan Tata
Cara pajakan (KUP), seperti pada pasal-pasal | berikut

 Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945:" Negara Indonesia adalah Negara hokum”

 Pasal 27 Ayat (1) UUD 1945: "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di
dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan
itu dengan tidak ada kecualinya.

 Pasal 28 D Ayat (1) UUD 1945: Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di
hadapan hukum".

 Pasal 28 D Ayat (5) UUD 1945:"Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi
manusia dengan prinsip Negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak
asasi manusia dijamin, diatut, dan dituangkan dalam peraturan perundang-
undangan".

Setiap pertimbangan yang diambil untuk memberikan muatan keadilan pajak


dalam hukum pajak formal, seyogiayanya memperhatikan rambu-rambu hukum

9
tersebut sebagai refleksi penegakan hukum (law enforcement) yang demokratis bagi
segenap masyarakat umumnya.

10
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas, kelompok dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Dalil yang mendasari Pasal 25 ayat (9) UU KUP No 28 Tahun 2007 merugikan hak
konstitusional wajib Pajak, karena adanya sanksi yang sangat memberatkan yang
dijatuhkan terlebih dahulu secara imperatif, tanpa melalui "proses hukum dalam
proses keadilan hukum".

2. Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 27 Ayat (5d) UU KUP No. 28 Tahun 2007 jelas
bertentangan dengan Pasal 1 Ayat (3). Pasal 27 Ayat (1) dan Pasal 28D Ayat (1)
UUID 1945.

3. Implementasi Pasal 25 ayat (9) UU KUP No. 28 Tahun 2007 yang mengakumulasikan
pengenaan denda bunga pajak, menyebabkan beban pajak jadi berlipat-lipat akibat
pengenaan sanksi atas sanksi ex. Pasal 13 ayat (2) UU KUP.

4. Bila keberatan wajib ajak ditolak seluruhnya atau diterima sebagian, maka setelah
menerima Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas Keberatan wajib pajak,
tindakan selanjutnya yang disarankan, sebaimana tertuang dalam Pasal 27 UU KUP
No. 28 Tahun 2007 wajib pajak dapat melakukan upaya hukum dengan mengajukan
banding pada Pengadilan Pajak.

3.2. SARAN
Menurut kelompok , keadilan didalam sanksi perpajakan merupakan salah satu hal
yang berperan penitng dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak (tax-compliance) untuk
itu sangat penting bagi pemerintah dan aparatur pajak untuk lebih meningkatkan keadilan
dalam sanksi prpajakan dan memberikan kepastian tentang sanksi perpajkan, sehingga
dengan adanya suatu keadilan dalam perpajakan diharapakan semakin tinggi  juga tingkat
kepatuhan wajib pajak yang pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan negara.

11
DAFTAR PUSTAKA

Pohan, C. A. (2017). Manajemen Perpajakan: Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis (Edisi
Revisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

12