Anda di halaman 1dari 18

JURNAL PRAKTIKUM FITOKIMIA

Metode Pemurnian Fraksi : Kromatografi Kolom Gravitasi

Asisten Laboratorium: Carla Florencia

Moh. Ariq Al Faruq

Nabilah Rizky Khairunnisa 260110190127

Kelompok (4)

Hari/Tanggal Praktikum: Kamis, 22 April 2021

LABORATORIUM FARMASI BAHAN ALAM


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2020/2021
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Melakukan pemurnian fraksi yang diperoleh dari hasil fraksinasi pada
praktikum 3 sehingga dapat memisahkan suatu senyawa/bercak/isolat dengan
metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif atau Kromatografi Kolom.

II. TEORI DASAR


Kromatografi kolom juga merupakan suatu metode pemisahan
preparatif. Metode ini memungkinkan untuk melakukan pemisahan suatu
sampel yang berupa campuran dengan berat beberapa gram. Pada prinsipnya
kromatografi kolom adalah suatu teknik pemisahan yang didasarkan pada
peristiwa adsorpsi. Pada kromatografi kolom, hal-hal yang paling berperan
dalam kesuksesan pemisahan adalah pemilihan adsorben dan eluen/pelarut,
dimensi kolom yang digunakan serta kecepatan elusi yang dilakukan
(Kristanti, dkk., 2008).
KLT merupakan suatu teknik pemisahan dengan menggunakan
adsorben (fase stasioner) berupa lapisan tipis seragam yang disalutkan pada
permukaan bidang datar berupa lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat
plastik (Tetti, 2014). Pengamatan UV 254 nm lempeng akan berflouresensi
sedangkan sampel akan tampak berwarna gelap. Pengamatan UV 366 nm
menghasilkan bercak noda yang berpendar dengan latar belakang yang gelap,
sehingga noda yang dapat berpendar (berflouresensi) dapat dilihat secara
visual. Hal tersebut disebabkan oleh adanya interaksi antara sinar UV dengan
gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom pada bercak noda. Flouresensi
yang tampak merupakan hasil emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen
tersebut ketika elektron tereksitasi dari tingkat dasar ke tingkat energi yang
lebih tinggi dan kemudian kembali semula dengan melepaskan energi
(Karima, dkk., 2014).
Tujuan dari pemurnian ini adalah mendapatkan jenis eluen yang
mampu meningkatkan mutu serta kualitas bahan aktif dari sampel yang akan
dianalisis. Dapat ditingkatkan mutunya dengan penentuan jenis adsorben dan
jenis eluen yang tepat dalam proses pemurnian (Winarti dan Mawarti, 2019).
III. ALAT DAN BAHAN
3.1.Alat
Beaker glass Bejana Cawan penguap

Erlenmeyer Gelas kolom Kapas

Pipa kapiler Pipet Sinar UV

Spatula Statif Timbangan

3.2.Bahan
a. Aquades f. Silika gel
b. Etanol g. Silica gel 60 F 254
c. Etil asetat
d. Larutan baku
e. N-heksan
IV. PROSEDUR KERJA

a. Kromatografi kolom

25 g silika gel Kolom diameter 1 cm + eluen setinggi


berlapis kapas 10 cm
+ 50 ml aquadest, kocok
kuat hingga homogen
1. Menuang semua bubur ke dalam kolom
secara perlahan dan tidak terputus
Bubur silika gel 2. Mengetuk-ketuk agar mampat
3. Mengelusi dengan larutan pengelusi hingga
diperoleh kolom yang stabil

Kolom siap digunakan Fraksi Ditimbang 1/20 berat silika

1. Mencampurkan cuplikan dengan silika, gerus


hingga homogen
2. Masukkan sampel dengan hati-hati diatas
Eluat 5ml di vial penjerap membentuk lapisan tipis merata

KLT

b. KLT eluat KKG

Eluat yang akan


dianalisis
Larutan baku
1. Menotolkan ke silica gel 60 F 254
1. Menimbang 0,02 gram yang sudah dibatasi atas &
2. Melarutkan dalam 20 bawahnya
mL etanol 2. Pelat dijenuhkan dalam fase gerak
3. Menotolkan pada plat n-heksan : p-etil asetat (2:8)
KLT 3. Menghentikan kromatografi saat
fase gerak di batas atas

Pola kromatogram
Mengamati di bawah lampu UV 254

Rf
V. HASIL
1. Apa perbedaan kolom untuk kromatografi kolom gravitasi (KKG)
dengan kolom untuk KCV? (Sitha Fitri Ramadhani)

KCV KKG

● Jenis silika gel yang ● Jenis silika gel yang


digunakan adalah yang digunakan adalah yang
memiliki kerapatan 70- memiliki kerapatan 70-400
230 mesh mesh
● Terdiri dari dua bagian ● Terdiri dari satu bagian
kolom: kolom, sehingga pemisahan
- Bagian atas kolom : yang dihasilkan langsung
tempat silika gel ditampung ke dalam vial
- Bagian bawah kolom: ● Preparasi kolom
penampung hasil menggunakan cara basah
pemisahan dimana silika gel dilarutkan
● Preparasi kolom terlebih dahulu, baru
menggunakan cara kering setelah itu dimasukkan ke
dimana silika langsung kolom
dimasukkan ke dalam ● Tidak terdapat kaca masir,
kolom tetapi digunakan kapas
● Terdapat kaca masir untuk untuk menyangga silika gel
menyangga silika gel agar agar tidak turun
tidak turun

2. Jelaskan tentang silika yang digunakan untuk KKG? (Sitha Fitri


Ramadhani)
Silika gel yang digunakan adalah Silika gel Merck 60 ukuran 70-200
mesh. Berbeda dengan KCV, ukuran silika gel pada KKG lebih besar dari
KCV, hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu rapat dan proses pemisahan
dapat berjalan lebih cepat karena KKG tidak menggunakan pompa vakum
seperti pada KCV (Heftmann, 1983).

3. Apakah KKG selalu dilakukan setelah KCV? Bagaimana jika


dibalik, KKG dahulu lalu KCV dilakukan setelahnya? (Khalisha
Qintara Khairunnisa 260110190123)
KCV dilakukan terlebih dahulu sebelum KKG karena KCV
digunakan untuk fraksinasi kasar dari sampel ekstrak yang sangat
kompleks dan proses berlangsung cepat sehingga pemisahan lebih efisien.
Metode KCV lebih efektif dan relatif lebih cepat untuk komponen
kompleks karena adanya kondisi vakum untuk mempercepat aliran fase
gerak dari atas ke bawah (Chang, 2005). Fraksinasi pada KCV sering
digunakan sebagai fraksinasi awal pada ekstrak non polar atau semi polar.
Hasil fraksi dari KCV tersebut dilakukan fraksinasi kembali dan
pemurnian fraksi dengan KKG sehingga terbentuk kromatogram dengan
masing-masing fraksi mengandung senyawa yang berbeda. Untuk
membuktikan kromatogram mengandung senyawa target dapat diujikan
lebih lanjut dengan KLT (Heftmann, 1983 ; Alimin, 2007)
Jika metode isolasi langsung dilakukan KKG, itu boleh saja.
Namun jika sampel ekstrak atau fraksinasi masih mengandung senyawa
yang kompleks, maka pemisahan akan lama dan sulit, karena pita
kromatogram yang terbentuk akan banyak dan cenderung bertumpang
tindih. Hal ini menyulitkan proses pemisahan. Jadi lebih baik untuk
melakukan KCV terlebih dahulu baru melakukan KKG (Alimin, 2007).

4. Dari hasil KLT fraksi KCV, tentukan fraksi mana saja yang akan
Digabung untuk dilanjutkan pemisahannya dengan KKG. Jelaskan
alasan Anda. (Khalisha Qintara Khairunnisa 260110190123)
Ket:
No. 1-13: Fraksi hasil KCV
No. 14: Baku Kuersetin
Fraksi yang digunakan untuk pengujian selanjutnya yaitu fraksi 7, 8, dan
9. Karena ketiga fraksi tersebut yang memiliki pola pemisahan (noda yang
dihasilkan), fluoresensi dan Rf, yang mirip dan sejajar dengan baku.
Dimana berdasarkan syarat nilai Rf selisih Rf antara sampel dengan baku
yaitu kurang dari sama dengan 0,05. Jika dilihat dari intensitas warna
bercak 7, 8, dan 9 cukup kuat hampir mirip dengan baku, menunjukkan
kandungan senyawa target yang cukup besar serta tidak terlalu banyak
memiliki pengotor, sehingga jika dikombinasikan tidak mengganggu
pengujian selanjutnya. Fraksi lain tidak dipilih karena memiliki noda yang
tidak sama dengan noda baku dan jika semakin kompleks senyawa yang
terkandung dalam suatu fraksi, maka akan semakin banyak kromatogram
yang terbentuk dan pemisahan akan semakin lama untuk mencapai isolat
murni. Jika kromatogram yang terbentuk sedikit dan masing-masing pita
warnanya jelas terlihat, maka akan mempermudah pemisahan dengan
metode KKG (Alimin et al, 2007).

5. Bagaimana prosedur pencarian eluen untuk KKG? (Nur Akma


260110193001)
Sebelum melakukan pemisahan, perlu dilakukan pencarian eluen terlebih
dahulu untuk mendapatkan pemisahan yang tepat. Pencarian eluen yang
tepat harus dilakukan sebelum dilakukan proses KKG agar hasil
pemisahan yang diperoleh nantinya akan sesuai. KLT dengan
menggunakan beberapa jenis kombinasi pelarut dapat membantu untuk
pencarian eluen yang baik dimana hasil dari kombinasi pelarut yang
terbaik diperoleh dari pemisahan yang baik yaitu dilihat dari nilai Rf
senyawa target. Rf ideal yang baik untuk penentuan eluen terbaik adalah
sebesar 0,2-0,3 (Gandjar & Rohman, 2007).

6. Apa komposisi eluen yang digunakan untuk KKG yang dilakukan di


video? (Nur Akma 260110193001)
Komposisi eluen yang digunakan untuk Kromatografi Kolom Gravitasi
(KKG) pada video yang telah ditonton yaitu kloroform : metanol dengan
perbandingan 9:1.

7. Menurut Anda apakah eluen yang dipilih tersebut adalah pilihan


yang baik? (Nur Akma 260110193001)
Eluen yang digunakan dalam analisis kadar kuersetin pada daun jambu
biji yaitu kloroform : metanol (9:1). Setelah melihat video tersebut, kami
berpendapat bahwa eluen yang dipilih merupakan pilihan yang terbaik,
karena jika dilihat pada lampu UV 366 nm dan 254 nm bercak dari sampel
dengan bercak baku adalah mirip dan memiliki nilai yang hampir sama.
Jika dilihat dari percobaan yang dilakukan, bisa dilihat proses mengelusi
terjadi dengan baik dan fraksi dapat mengalir keluar dari kolom melewati
penjerap. Pada pola pemisahan nodanya pula dapat terlihat dengan jelas.
Apabila saat terdeteksi dengan pancaran sinar dari lampu UV 254 nm dan
366 nm, sampel tersebut berfluoresensi dengan jelas dan terlihat elusi
yang baik. Hal tersebut menandakan eluen tersebut mampu memisahkan
senyawa kuersetin dari pengotor lain. Nilai Rf yang terbaik itu adalah
pada rentang 0.2-0.3. Karena baku yang digunakan adalah baku kuersetin,
maka ketika nilai Rf sampel dan Rf baku adalah mirip, artinya sampel
tersebut mungkin mengandung kuersetin. Hal ini karena, senyawa
kuersetin adalah senyawa yang bersifat semi-polar disamping komposisi
eluen yang digunakan yaitu kloroform (9 bagian) juga bersifat semi-polar
sehingga menyebabkan komponen terelusi lebih banyak berbanding di
eluen metanol yang bersifat polar (1 bagian).

8. Jelaskan alasan kenapa hasil KLT dilihat di bawah lampu UV 254


nm dan 365 nm. (Nabilah Rizky Khairunnisa NPM 260110190127)
Lampu UV 254 nm dan 365 nm memiliki daya interaksi antara sinar
UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng ataupun
pada sampel. Ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke
tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula
sambil melepaskan energi sehingga akan menghasilkan warna tertentu
terjadilah fluoresensi cahaya.
Lampu UV 254 nm digunakan untuk mengamati fluoresensi pada
lempeng dan sampel akan tampak berwarna gelap. Lempeng dapat
berfluoresensi karena dalam lempeng terdapat indikator fluoresensi yang
berinteraksi dengan sinar UV. Dikarenakan memiliki kromofor, maka
tidak akan ada cahaya yang dipancarkan. Hal tersebut terjadi karena sinar
uv yang mengeksitasi tidak mencapai indikator fluoresensi.
Sedangkan pada lampu UV 366 nm sampel akan berfluoresensi
sedangkan lempeng tidak. Contohnya hal ini terjadi karena pada senyawa
kuersetin yang terdapat gugus kromofor dimana mampu berinteraksi
dengan UV. Maka sampel yang mengandung kuersetin terlihat terang.
Penggunaan lampu UV 254 nm untuk melihat bercak pada KLT
sedangkan lampu UV 366 nm untuk melihat warna atau bercak yang tidak
terlihat pada saat menggunakan lampu UV 254 nm.
(Sudarmadji, 1996; Kusnadi dan Devi,2017)

9. Apa fungsi kapas dalam penyiapan kolom KKG? (Nabilah Rizky


Khairunnisa NPM 260110190127)
Karena pada KKG tidak menggunakan kaca masir untuk menyangga
silika gel (fase diam) dimana fungsinya adalah agar silika gel tidak turun
dan ikut keluar bersama kolom, maka digunakanlah kapas agar silika gel
tetap tertahan pada kolom. Kapas pun tidak boleh terlalu tebal untuk
menghindari kemampatan yang berlebih menyebabkan eluen turun karena
kolom telah diisi oleh silika yang cukup tinggi.

10. Pengepakan kolom untuk KKG dilakukan dengan cara basah.


Jelaskan apa perbedaan pengepakan kolom dengan cara basah dan
kering. (Jessica Anliani Huang NPM 260110190126)
a. Cara Kering
Pengepakan dengan cara kering dilakukan tanpa mencampurkan
terlebih dahulu silika gel dan eluen terlebih dahulu sebelum mengisi
kolom kromatografi. Kolom kromatografi diisi dengan silika gel
(fase diam) dan mengetuk-ngetukkan kolom agar serbuk silika gel
lebih padat, rapat dan mampat sehingga dihasilkan kolom yang
homogen dan baik. Setelah kolom mampat, diisi dengan eluen untuk
membasahi silika gel. Apabila eluen berlebih, dapat dikeluarkan
dengan membuka keran kolom (Yazid, 2005).
b. Cara Basah
Pengepakan dengan cara basah dilakukan dengan mencampurkan
eluen dengan serbuk silika gel hingga terbentuk bubur silika.
Kemudian, bubur silika tersebut dimasukkan ke dalam kolom
kromatografi yang sudah dilapisi kapas secara perlahan dan berhati-
hati untuk menghindari munculnya gelembung udara. Dengan
menggunakan pipet, alirkan fase gerak secara perlahan ke dalam
kolom. Setelah itu, kolom diketuk-ketuk hingga tidak ada
gelembung dan mampat. Buka keran kolom, dan tampung eluen
yang keluar hingga tinggi eluen sama dengan permukaan silika
(Nichols L, 2020).

11. Berapa perbandingan jumlah silika terhadap sampel untuk KKG?


(Jessica Anliani Huang NPM 260110190126)
Perbandingan jumlah silika gel yang digunakan terhadap sampel KKG
yaitu sekitar 10:1 sampai 20:1. Apabila silika gel yang digunakan semakin
banyak dan semakin tinggi, maka proses elusi akan semakin lama dan
apabila silika gel yang digunakan terlalu sedikit maka pemisahan yang
terjadi akan tidak akurat dan tidak sempurna (Moektiwardojo et al., 2020).

12. Jelaskan cara memasukkan sampel fraksi yang akan dipisahkan ke


dalam kolom KKG. Apa perbedaannya dengan KCV? (Nadya Putri
Maharani_260110190124)
Cara memasukkan sampel fraksi ke dalam kolom KKG yaitu dengan
melarutkan fraksi dengan pelarut sesedikit mungkin, kemudian diteteskan
ke permukaan silika gel yang sebelumnya telah dicampurkan dengan
eluen dan telah membentuk bubur. Cara lain untuk memasukkan sampel
ke dalam kolom KKG yaitu penetrasi dengan menggunakan pipet
secarang langsung ke atas kolom. Sampel dilarutkan ke dalam eluen
dengan perbandingan eluen sesedikit mungkin agar membentuk pita yang
bagus (tidak melebar). Pelarut yang dapat digunakan adalah pelarut
semipolar seperti aseton. Selain aseton, dapat pula digunakan metanol
namun tidak sepenuhnya dianjutkan karena dikhawatirkan dapat
mengganggu kepolaran sampel. Pada KKG jumlah sampel yang di elusi
akan lebih sedikit karena merupakan hasil fraksinasi KCV. Sedangkan
untuk KCV perlu dilakukan pembuatan impregnasi atau pelapisan fraksi
pada permukaan silika terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam
kolom KCV.

13. Apakah eluen yang digunakan untuk KKG isokratik atau gradien?
(Nadya Putri Maharani_260110190124)
Umumnya, eluen yang digunakan dalam metode KKG adalah isokratik.
Karena eluen isokratik merupakan fase gerak dengan polaritas yang tetap
selama dilakukannya elusi. Selain itu senyawa target juga hanya memiliki
satu kepolaran. (Supriadin, dkk., 2017).
.
14. Bagaimana cara menentukan elusi sudah selesai? (Nadya Putri
Maharani_260110190124)
Elusi dihentikan dan ditentukan telah selesai apabila sudah tidak ada lagi
sampel yang tidak dapat ditarik keluar lagi oleh fase gerak. Hal ini dapat
ditandai dengan warna eluen yang telah bening dan tidak lagi terdapat
warna dari sampel fraksi. Evaluasi KLT juga dapat dilakukan untuk
memastikan bahwa elusi telah selesai dan sudah tidak ada sampel fraksi
yang tertarik eluen (Supriadin, dkk., 2017).

15. Apakah eluen untuk uji KLT harus sama dengan eluen untuk elusi
KKG? (260110190125_Shafa Fitri Khairunnisa)
• Eluen yang digunakan untuk uji KLT dalam identifikasi senyawa
target pada sampel tidak harus sama dengan eluen pada KKG.
Eluen yang dipakai merupakan eluen yang kompatibel dengan
senyawa uji, dan dipilih berdasarkan literatur (Farmakope Herbal
Indonesia). Eluen juga dapat dimodifikasi atau dikombinasikan
dengan eluen lain apabila dalam praktiknya, Rf dari pengujian
KLT di luar range 0,2 - 0,8.
• Namun, eluen yang digunakan pada KKG harus sama dengan hasil
KLT optimasi eluen KKG, agar proses elusi pada KKG berjalan
optimal dengan hasil terbaik.
(Jayanti dkk, 2012).

16. Dari hasil KLT fraksi KKG, fraksi mana yang akan digabung dan
kemudian akan dilanjutkan untuk pemisahan berikutnya?
Fraksi yang akan digabung dan kemudian akan dilanjutkan untuk
pemisahan berikutnya adalah fraksi dari no. 30-71 karena di bawah sinar
UV 366, fraksi-fraksi tersebut menunjukkan warna fluoresensi yang sama
dengan baku kuersetin dengan jarak bercak yang sejajar dengan bercak
baku kuersetin (Rf sama).
17. Silahkan menonton video di link berikut:
https://youtu.be/ci2uu9Cuf5s
Apa perbedaan flash kromatography di video tersebut dengan KKG
yang ditampilkan di video praktikum?(260110190122_Alisha Zahra
S)
Perbedaan antara video praktikum tersebut (prosedur pemisahan suatu
senyawa target dengan metode kromatografi kolom gravitasi (KKG))
dengan video flash chromatography adalah sebagai berikut:
• Pada flash chromatography setelah kapas dimasukkan ke dalam kolom
dan sebelum ditambahkan bubur silika, ada penambahan pasir
• Pada flash chromatography memakai rubber tubing untuk mengetuk-
ngetuk kolom agar silika terpacking lebih baik
• Pada flash chromatography memakai pompa untuk mendorong pelarut
tujuannya agar mempercepat proses elusi, kemudian juga dilakukan
penambahan pasir ke dalam kolom untuk menahan silika gel sebagai
fase diamnya agar tidak terjadi crack saat dimasukkan eluen ke dalam
kolom dan saat diberi aliran udara.
• Pada flash chromatography ada penggantian eluen dari non polar
menjadi eluen yang lebih polar setelah senyawa non polar terelusi,
sehingga lebih banyak senyawa polar yang dapat terelusi

18. Fasa diam dalam kromatografi kolom tidak hanya silika. Juga ada
yang lain seperti Sephadex LH-20, ODS, dll. Jelaskan masing-masing
fasa diam ini, apa perbedaannya dengan silika.
(260110190122_Alisha Zahra S)
• Silika merupakan jenis fase diam yang sering digunakan pada
kromatografi fase normal. Prinsip pemisahannya adalah sapel
diserap oleh silanol pada silika gel menggunakan ikatan hidrogen
(Yamazen, 2020). Silika gel sendiri adalah jenis dari silikon
dioksida dimana atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen. Akan
tetapi pada permukaan silika atom silikon berikatan dengan gugus
OH. Gugus OH silika gel sangat polar dan gugus OH inilah yang
akan berikatan hidrogen dengan senyawa target (Syahmani, et al.,
2017).
• Sephadex LH-20 adalah fase diam dalam kromatografi kolom yang
didesain berdasarkan ukuran molekul dari produk bahan alam,
seperti flavonoid, glikosida, steroid dan peptida dengan berat
molekul yang rendah. Prinsip pemisahan kromatografi sephadex
LH-20 adalah molekul yang berat molekul kecil akan melewati dan
terjebak dalam gel sephadex terlebih dahulu sebelum turun keluar
kolom, sedangkan molekul yang berat molekul besar akan langsung
terelusi keluar kolom karena tidak dapat menembus gel. Oleh karena
itu, molekul yang akan keluar dari kolom terlebih dahulu adalah
molekul yang ukurannya lebih besar setelah itu disusul oleh molekul
yang ukurannya lebih kecil (Day dan Underwood, 2002).
• ODS (Octadesil Silica) merupakan silika gel yang dimodifikasi
dengan alkil. Permukaan silika gel (gugus silanol-nya) berikatan
dengan rantai C-18. Silika gel yang terikat dengan rantai C-18 akan
menghasilkan polaritas terbalik, artinya ODS bersifat non polar,
sedangkan eluennya bersifat polar. Sistem ini disebut sebagai
kromatografi fase terbalik. Prinsip pemisahan kromatografi
berdasarkan perbedaan kepolaran analit (Yamazen, 2020).
• Poliamida merupakan fase diam yang diproduksi dari
policaprolactam (nilon 6), polihexametyldiaminoadipate (nion 66),
asam atau poliaminoundecanoic (nilon 11). Pemisahan kromatografi
bergantung pada kemampuan ikatan hidrogen amida dan gugus
karbonil. Kekuatan ikatan dihasilkan tergantung pada jumlah dan
posisi fenolik, hidroksil atau gugus karboksil yang terdapat dalam
komponen-komponen sampel (Wulandari, 2011).
• Aluminium oksida atau alumina merupakan sorben sintesis yang
dibuat pada tiga rentang pH yaitu asam basa dan netral untuk
berbagai macam sampel yang berbeda. Alumina mempunyai gugus
hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Alumina lebih reaktif
secara kimiawi dibandingkan silika gel dan dapat menyebabkan
masalah dengan beberapa sampel (Wulandari, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Alimin., Yunus, M., dan Idris, I. 2007. Kimia Analitik. Makassar: Alauddin Press.

Chang, R. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga

Day, R. A. dan Underwood, A. L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.


Jakarta: Erlangga.

Gandjar, I. G. & Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka


Pelajar.

Heftman E. 1983. Fundamental and Application of Chromatographic and


Electrophoretic Methods. Amsterdam : Elsevier Scientific Publishing
Company.

Jayanti, N.W., Astuti, M.D., Komari, N., dan Rosyidah, K. 2012. Isolasi dan Uji
Toksisitas Senyawa Aktif dari Ekstrak Metilena Klorida (MTC) Lengkuas
Putih (Alpinia galangan (L.) Willd). Chem. Prog. Vol. 5(2): 100-108.

Karima, N., Pratiwi, L., Apridamayanti, P. 2014. Identifikasi Senyawa Kuersitin


Ekstrak Etil Asetat Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) dengan
Metode Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas
Kedokteran UNTAN. Vol. 4(1): 1-5.

Kristanti, A. N., Aminah, N. S., Tanjung, M., dan Kurniadi, B. 2008. Fitokimia.
Surabaya: Airlangga University Press.

Kusnadi, dan Devi, E. 2017. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA


FLAVANOID PADA EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens
L.) DENGAN METODE REFLUKS. PSEJ. Vol 2 (1): 56-67.

Moektiwardojo, M., Ferry, F.S., Yasmiwar, S.M., Iskandar, Y., Zuhrotun, A.,
Maisyarah, I.T., Indradi, R.B., dan R. Zelika, M. 2020. Panduan Praktikum
Fitokimia. Sumedang: FF Unpad
Nichols, L. 2020. Column Chromatography. Tersedia secara online di
https://chem.libretexts.org/Bookshelves/Organic_Chemistry/Book%3A_Or
ganic_Chemistry_Lab_Techniques_(Nichols)/02%3A_Chromatography/2.
04%3A_Column_Chromatography/2.4A%3A_Macroscale_Columns.
[Diakses pada 22 April 2021].

Syahmani., Leny., Iriani, R., dan Elfa, N. 2017. Penggunaan Kitin sebagai
Alternatif Fase Diam Kromatografi Lapis Tipis dalam Praktikum Kimia
Organik. Jurnal Vidya Karya. Vol 32 (1) : 1-11.

Sudarmadji, S. 1996. Teknik Analisis Biokimia. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta

Supriadin, A., Kudus, R., & Amalia, V. 2017. Efek Larvasida Hasil Fraksinasi
Metanol Daun Aglaia Glabrata Terhadap Larva Aedes aegypti . Jurnal
Farmasi. Vol 10 (1): 68-82.

Tetti, M. 2014. Ekstraksi, pemisahan senyawa, dan identifikasi senyawa aktif.


Jurnal Kesehatan. Vol. 7(2): 361-367.

Winarti, C., & Marwati, T. (2019). Teknologi Pemurnian Ekstrak Lengkuas


(Alpinia Galanga) Secara Adsorpsi. Jurnal Penelitian Pascapanen
Pertanian. Vol. 4(2): 65-71.

Wulandari, L. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember : PT. Taman Kampus


Presindo.

Yamazen. 2020. ODS (C18) Column User Guide. Tersedia secara online di
http://www.intertech.kr/shop/board/download.php?id=library&no=10&di
v=0 [Diakses pada tanggal 21 April 2021].

Yazid, E. 2005. Kimia Fisika Untuk Paramedis. Yogyakarta: Penerbit Andi.