Anda di halaman 1dari 17

LATAR BELAKANG

Assalamualaikum. Wr. Wb
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah. SWT, karena berkat rahmat dan hidayah Nya
lah, saya selaku penulis makalah ini dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar
dan tepat waktu.
Semoga makalah mengenai Perkembangan Leasing di Indonesia saya ini, bisa
bermanfaat bagi yang membaca, dan juga semoga saya mendapat hasil yang baik guna
pencapaian tujuan yang diinginkan, tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas penambahan nilai yang diberikan oleh bapak dosen pembimbing Hukum
Pembiayaan, Rahma Fitri, S.H, M,H.
Saya penyusun makalah menyadari banyak kekurangan. Maka dari itu, saya mohon
maaf atas kesalahan dalam penulisan makalah ini. Dan saya mengaharapkan adanya kritik
dan saran yang membangun, sehingga saya dapat lebih baik lagi untuk kedepannya. Terima
Kasih.
Wassalamualaikum. Wr. Wb

Bengkulu, 28 Oktober 2012


Hormat Saya

ARDANI MAHENDRA S

DAFTAR ISI

Perkembangan Leasing di Indonesia i


Halaman Judul
Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................ 2
Bab II Pembahasan
2.1 Sejarah Leasing ............................................................................................... 3
2.2 Pengertian Leasing Menurut Norma di Indonesia........................................... 4
2.3 Teknik – teknik pembiayaan Leasing ............................................................. 5
2.4 Ciri - ciri Leasing .............................................................................................6
2.5 Pihak yang Berkepentingan dalam Leasing......................................................7
2.6 Mekanisme Leasing..........................................................................................7
2.7 Manfaat dan Keunggulan Leasing....................................................................9
2.8 Tiga Bentuk Ikatan dalam Hukum Perdata.....................................................10
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 12
3.2 Saran................................................................................................................ 12
Daftar Pustaka

Perkembangan Leasing di Indonesia ii


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan zaman, dunia bisnis pun menjadi semakin marak.
Dengan berkembangnya dunia bisnis ini, kebutuhan dana menjadi hal yang tak dapat
dielakkan lagi baik oleh kalangan usahawan perseorangan maupun usahawan yang tergabung
dalam suatu badan hukum di dalam mengembangkan usahanya maupun didalam
meningkatkan mutu produknya, sehingga dapat dicapai suatu keuntungan yang memuaskan
maupun tingkat kebutuhan bagi kalangan lainnya.
Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, saat ini semakin banyak orang yang mendirikan
suatu lembaga pembiayaan yang bergerak di bidang penyediaan dana ataupun barang yang
akan dipergunakan oleh pihak lain di dalam mengembangkan usahanya. Lembaga
pembiayaan tersebut merupakan lembaga keuangan nonbank. Yang membedakan lembaga
pembiayaan dengan bank adalah bank mengambil dana secara lansung dari masyarakat
sedangkan lembaga pembiayaan tidak mengambil dana secara langsung dari masyarakat.
Salah satu lembaga pembiayaan yang berkembang pesat saat ini adalah sewa guna usaha atau
biasa disebut juga dengan Leasing. Saat ini, leasing merupakan salah satu cara perusahaan
memperoleh asset atau kepemilikan tanpa harus melalui proses yang berkepanjangan.
Semuanya telah diatur oleh perusahaan leasing yang disediakan oleh berbagai perusahaan.
Leasing juga merupakan salah satu langkah penghindaran resiko tinggi yang saat ini sudah
disadari oleh para usahawan yang ada.
Bila dilihat dari propspek kebutuhan pembangunan, usaha leasing jelas dapat berkembang
pesat dan memainkan peranan aktif sebagai lembaga keuangan baru,yang khusus bergerak
dalam penyediaan barang modal, sebagai alternative sumber pembiayaan suatu perusahaan
bisnis dan mempunyai harapan untuk memenuhi kebutuhan pasarnya yang luas.
Potensi bisnis leasing di Indonesia sudah lama diamati oleh para penanam modal. Sebelum
tahun 1980, jumlah perusahaan leasing yang beroperasi 5 buah. Kemudian melalui kampanye
penggalangan usaha di bidang leasing oleh pemerintah, animo investor terus meningkat.
Tahun 1988 di Jakarta saja sudah tercatat 83 buah perusahaan leasing yang sudah
menjalankan operasinya, bahkan sudah dibentuk Asosiasi Leasing Indonesia (ALI). Beberapa
perusahaan besar juga bergabung dalam Asosiasi Leasing Indonesia, seperti Adira Finance
dan Adira Kredit.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah penulis kemukanan di atas, maka penulis membuat
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimakah sejarah perkembangan leasing di Indonesia?
2. Apakah pengertian leasing tersebut menurut Surat Keputusan Bersama Menteri
Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dan Koperasi?
3. Bagaimankah teknik-teknik dan ciri-ciri pembiayaan dalam leasing?
4. Bagaimana manfaat dan kegunaan leasing di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Leasing


Kehadiran industri pembiayaan (multi finance) di Indonesia sesungguhnya belumlah
terlalu lama, terutama bila dibandingkan dengan di negara-negara maju. Dari beberapa
sumber, diketahui industri ini mulai tumbuh di Indonesia pada 1974. Kelahirannya
didasarkan pada surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, yaitu Menteri Keuangan,
Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan.
Setahun setelah dikeluarkannya SKB tersebut, berdirilah PT Pembangunan Armada
Niaga Nasional pada 1975. Kelak, perusahaan tersebut mengganti namanya menjadi PT
(Persero) PANN Multi Finance. Kemudian, melalui Keputusan Presiden (Keppres)
No.61/1988, yang ditindaklanjuti dengan SK Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988,
pemerintah membuka lebih luas lagi bagi bisnis pembiayaan, dengan cakupan kegiatan
meliputi leasing, factoring, consumer finance, modal ventura dan kartu kredit.
Sebagai sesama industri keuangan, perkembangan industri leasing relatif tertinggal
dibandingkan yang lain, perbankan, misalnya. Terlebih lagi bila dibandingkan dengan
perbankan pasca Pakto 1988. Pada era inilah bank muncul dan menjamur bagai musim hujan.
Deregulasi yang digulirkan pemerintah di bidang perbankan telah membuahkan banyak sekali
bank, walaupun dalam skala gurem. tetapi banyak kalangan menuding, justru Pakto 88 inilah
menjadi biang keladi suramnya industri perbankan di kemudian hari. Puncaknya, terjadi pada
1996 ketika pemerintah melikuidasi 16 bank. Langkah itu ternyata masih diikuti dengan
dimasukkannya beberapa bank lain dalam perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional
(BPPN).
Meski demikian, perusahaan pembiayaan juga mampu berkembang cukup
mengesankan. Hingga saat ini leasing di Indonesia telah ikut berkiprah dalam pembiayaan
perusahaan. Jenis barang yang dibiayai pun terus meningkat. Jika sebelumnya hanya terfokus
pada pembiayaan transportasi, kini berkembang pada keperluan kantor, manufaktur,
konstruksi dan pertanian. Hal ini mengindikasikan multi finance kian dikenal pelaku usaha
nasional.
Ada beberapa hal menarik jika kita mencermati konsentrasi dan perkembangan
perusahaan leasing. Pada era 1989, misalnya, industri ini di Indonesia cenderung berupaya
memperbesar asset. perburuan asset tersebut diantaranya disebabkan tantangan perekonomian
menuntut mereka tampil lebih besar, sehat dan kuat. Perusahaan yang tidak beranjak dari
skala semula, tampak terguncang-guncang dana akhirnya tutup sama sekali.
Dengan asset dan skala usaha yang besar, muncul anggapan perusahaan lebih andal
dibandingkan yang lain. Bagi yang kapasitasnya memang terbatas, mereka berupaya agar
tetap tampil megah dan gagah. Maka, dimulailah saling lirik dan penjajakan di antara
sesamanya. Skenario selanjutnya, banyak perusahaan leasing yang melakukan penggabungan
menjadi satu grup. Tampaknya, langkah ini membuahkan hasil positif. Selain modal dan asset
menggelembung, kredibilitas dan penguasaan pasar pun ikut terdongkrak.
Namun gairah menggelembungkan asset tersebut berangsur-angsur mulai pudar. Karena pada
tahun berikutnya (1990), industri leasing mulai kembali pada prinsip dasar ekonomi. mereka
lebih mengutamakan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Sebetulnya, berubahnya orientasi ini dipicu oleh kian sengitnya persaingan di industri
leasing. Akibatnya, kehati-hatian menjadi agak terabaikan. Indikasinya, persyaratan untuk
memperoleh sewa guna usaha menjadi semakin longgar. Bahkan, kabarnya di Bengkulu,
orang bisa mendapatkan sewa guna usaha hanya dengan menyerahkan selembar kartu tanda
penduduk (KTP).
Pada tahun 1991, kembali terjadi perubahan besar-besaran pada perusahaan
pembiayaan. Seiring dengan kebijakan uang ketat (TMP = tight money policy) - yang lebih
dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I dan II - suku bunga pun ikut meroket naik. Akibatnya,
banyak kredit yang sudah disetujui terpaksa ditunda pencairannya.
Dari sisi permodalan, TMP membuat perusahaan multi finance seperti kehabisan
darah. Aliran dana menjadi seret. kalaupun ada, harganya tinggi sekali. Itulah sebabnya
banyak di antara mereka yang menggabungkan usahanya. Dengan bergabung, mereka lebih
mudah dalam memperoleh kredit, termasuk dari luar negeri.

2.2 Pengertian Leasing Menurut Norma di Indonesia


Kata leasing berasal dari kata to lease yang berarti menyewakan. 1 Menurut Surat
Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dan
Koperasi Nomor: Kep-122/MK/IV/1/1974; Nomor: 32/M/SK/2/1974; dan Nomor:
30/KPB/I/1974, tertanggal 7 Februari 1974, yang dimaksud dengan sewa guna usaha atau
leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-
barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan, untuk jangka waktu tertentu,
berdasarkan pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan
tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka
waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.2

1
Baca sumbernya di http://id.wikipedia.org/wiki/Sewa_guna_usaha
2.3 Teknik – teknik pembiayaan Leasing
Teknik pembiayaan leasing dapat dilihat dari jenis transaksi leasing yang secara garis
besar dapat dibagi dua kategori pembiayaan yaitu:

2.3.1 Finance Lease


Finance lease merupakan suatu bentuk pembiayaan dengan cara kontrak antara lessor
dengan lessee dengan pemberian hak opsi kepada lessee pada akhir periode lease. Disamping
itu, finance lease dapat dibagi dalam beberapa bentuk transaksi sebagai berikut:
1) Direct Financial Lease.

Transaksi leasing dalam bentuk direct lease atau sering pula disebut true-lease atau
disingkat direct lease saja merupakan suatu bentuk trnasaksi leasing di mana lessor
membeli suatu barang atas permintaan pihak lessee dan sekaligus
menyewagunausahakan barang tersebut kepada lessee yang bersangkutan.

2) Sale and Lease Back.

Transaksi leasing jenis ini pada prinsipnya adalah pihak lessee sengaja menjual
barang modalnya kepada lessor untuk kemudian dilakukan kontrak sewa guna usaha
atas barang tersebut antara lessor dengan lessee yang dalam hal ini sebagai pihak yang
menjual barnag untuk digunakan selama masa lease yang disetujui kedua pihak.
Metode leasing ini dimaksudkan untuk memperoleh tambahan dana untuk modal
kerja. Jadi transaksi leasing disini bersifat refinancing.

3) Leverage Lease.

Pada prinsipnya leveraged lease merupakan salah satu teknik pembiayaan dalam
finance lease yang digunakan lessor.

4) Syndicated Lease.

Adalah pembiayaan leasing yang dilakukan lebih dari satu lessor atas suatu objek
leasing. Syndicated lease terjadi apabila lessor karena alasan-alasan resiko tidak
bersedia atau karena suatu alasan tidak memiliki kemampuan pendanaan untuk

2
Ganefi, S.H.,M.Hum, Bahan Kuliah Hukum Pembiayaan (Bengkulu: Fakultas Hukum Universitas
Bengkulu, 2008), bab II
menutup sendiri suatu transaksi leasing yang nilainya cukup besar yang dibutuhkan
oleh lessee.

5) Cross Border Lease.

Adalah transaksi leasing yang dilakukan di luar bataas suatu Negara yaitu Negara
dimana lessor berkedudukan berbeda dengan Negara lessee.

6) Vendor Program.

Vendor program atau disebut juga dengan vendor lease adalah suatu metode penjualan
yang dilakukan oleh produsen atau dealer di mana perusahaan leasing memberikan
atau menyediakan fasilitas leasing kepada pembeli barang.

2.3.2 Operating Lease Leasing


Dalam bentuk ini, lessor sengaja membeli barang modal dan selanjutnya dilease-kan
kepada lessee. Berbeda dengan finance lease, dalam operating lease jumlah seluruh
pembayaran berkala tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
barang modal tersebut berikut dengan bunganya.

2.4 Ciri - ciri Sewa Guna Usaha

Dilihat dari segi pandangan hukum, kegiatan sewa guna usaha memiliki 4 (empat) ciri yaitu:3

1) Perjanjian antara lessor dengan pihak lessee.


2) Berdasarkan perjanjian sewa guna usaha, lessor mengalihkan hak penggunaan barang
kepada pihak lessee.
3) Lessee membayar kepada lessor uang sewa atas penggunaan barang (asset).
4) Lessee mengembalikan barang tersebut kepada lessor pada akhir periode yang
ditetapkan lebih dahulu dan jangka waktunya kurang dari umur ekonomi barang
tersebut.

3
Baca sumbernya di http://ampundeh.wordpress.com/tag/ciri-kegiatan-sewa-guna-usaha/
2.5 Pihak yang Berkepentingan dalam Leasing

Dalam usaha leasing, terdapat beberapa pihak yang bersangkutan dalam perjanjian leasing,
yaitu:

1) Pihak yang disebut leasor, yaitu pihak yang menyewakan barang, dapat terdiri dari
bebrapa perusahaan. Pihak penyewa ini disebut juga sebagai investor, equity-holders,
owner-participants atau trustters-owners.
2) Pihak yang disebut lesse, yaitu pihak yang menikmati barang tersebut dengan
membayar sewa guna usaha yang mempunyai hak opsi.
3) Pihak kreditur atau lender atau disebut juga debt-holders atas loan-participants dalam
transaksi leasing. Mereka umumnya terdiri dari bank, insurance company, trust,
yayasan.
4) Pihak supplier, yaitu penjual dan pemilik barang yang disewakan. Supplier ini dapat
terdiri dari perusahaan yang berada di dalam negeri atau yang mempunyai kantor
pusat di luar negeri.

2.6 Mekanisme Leasing


Secara garis besar mekanisme leasing dapat diuraikan sebagai berikut :4
1) Lessee menghubungi supplier untuk pemilihan dan penentuan jasa barang, spesifikasi,
harga, jangka waktu pengiriman, jaminan purnajual atas barang yang akan di-lease.

2) Lesee melakukan negosiasi dengan lessor mengenai kebutuhan pembiayaan barang


modal. Pada tahap awal ini, lessee dapat meminta lease quotation yang tidak mengikat
dari lessor. Dalam lease quotation ini dimuat mengenai syarat-syarat pokok
pembiayaan leasing antara lain: keterangan barang, harga barang, cash security
deposit, residual value, asuransi, biaya administrasi, jaminan uang sewa dan
persyaratan-persyaratan lainnya.

3) Lessor mengirimkan letter of offer atau commitment letter kepada lessee yang berisi
syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai barang modal yang
dibutuhkan lessee tersebut. Apabila lessee menyetujui semua ketentuan dan

4
Dr. Munir Fuadi, LLM. Hukum tentang Pembiayaan. (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), h. 19-20
persyaratan dalam letter of offer, kemudian lessee menandatangani dan
mengembalikannya kepada lessor.

4) Penandatangan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi lessee. Kontrak


leasing tersebut sekurang-kurangnya mencakup hal-hal antara lain: piihak-pihak yang
terlibat, hak milik, jangka waktu, jasa leasing, opsi bagi lessee, penutupan asuransi,
tanggung jawab atas objek leasing, perpajakan, jadwal pembayaran angsuran sewa
dan sebagainya.

5) Pengiriman order beli kepada supplier disertai instruksi pengiriman barang kepada
lessee sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.

6) Pengiriman barang dan pengecekan barang oleh lessee sesuai pesanan. Selanjutnya
lessee menandatangani surat tanda terima dan perintah bayar dan diserahkan kepada
supplier.

7) Penyerahan dokumen oleh supplier kepada lessor termaasuk faktur dan bukti-bukti
kepemilikan barang lainnya.

8) Pembayaran oleh lessor kepada supplier.

9) Pembayaran angsuran (lease payment) secara berkala oleh lessee kepada lessor
selama masa sewa guna usaha yang seluruhnya mencakup pengembalian jumlah yang
dibiayai serta bunganya.

2.7 Manfaat dan Keunggulan Leasing

Manfaat dan kelebihan dari kegiatan atau industri sewa guna usaha/leasing antara lain :5

1) Leasing/sewa guna usaha dapat dijadikan sebagai salah satu sumber dana bagi
pengusaha yang membutuhkan barang modal, selama jangka waktu tertentu dengan
membayar sewa.

5
Ibid., h. 24
2) Usaha leasing/sewa guna usaha dapat memberikan pembiayaan dalam waktu yang
cepat.
3) Dengan perjanjian leasing/sewa guna usaha, suatu perusahaan akan terasa lebih
menghemat dalam hal pengeluaran dana tunai disbanding dengan membeli secara
tunai.

4) Mempunyai keunggulan – keunggulan sebagai alternative baru bagi pembiayaan di


luar system perbankan, misalnya :

 Proses pengadaan peralatan modal relative lebih cepat dan tidak memerlukan
jaminan kebendaan, prosedurnya sederhana dan tidak ada keharusan melakukan
studi kelayakan yang memakan waktu lama.
 Pengadaan kebutuhan modal alat – alat berat dan mahal dengan teknologi tinggi
amat meringankan terhadap kebutuhan cash flow-nya mengingat system
pembayaran cicilan berjangka panjang.
 Posisi cash flow perusahaan akan lebih baik dan biaya – biaya modal menjadi
lebih murah dan menarik.
 Perencanaan keuangan perusahaan lebih mudah dan sederhana.

2.8 Tiga Bentuk Ikatan dalam Hukum Perdata

Dalam Hukum Perdata, ada tiga bentuk ikatan yang mirip satu sama lainnya, namun
berlainan dalam hukumnya yaitu antara sewa guna usaha/leasing, sewa beli, dan jual beli
secara angsuran. Baik perjanjian sewa beli maupun jual beli dengan angsuran ketentuannya
belum diatur dalam KUHPerdata. Maka dengan Keputusan Menteri Perdagangan dan
Koperasi Nomor 34/KP/II/80 tanggal 1 Februari 1980 tentang Perizinan Kegiatan Usaha
Sewa Beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran (credit sale) dan sewa (renting).

 Sewa Beli (hire purchase)

Sewa beli merupakan jual beli barang di mana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh
pembeli yang dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan
yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih
dari penjual kepada pembeli setealh jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli
kepada penjual.

 Jual beli secara angsuran (credit sale)

Jual beli secara angsuran adalah jual beli di mana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli
dalam bebrapa kali angsuran atas harga barang yang telah disepakati bersama dan
yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari
penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli.

Persamaan antara perjanjian leasing dengan kedua perjanjian di atas adalah bahwa pada
perjanjian leasing, lesse membayar imbalan jasa kepada lessor dalam waktu tertentu.
Sedangkan pada perjanjian sewa beli dan jual beli dengan angsuran, pembeli membayar
angsuran kepada penjual dalam waktu tertentu sesuai dengan perjanjian.

Sedangkan perbedaannya dapat diuraikan sebagai berikut.

Perjanjian Leasing Perjanjian Sewa Beli dan Jual Beli secara


Angsuran
1. Lessor adalah pihak yang menyediakan 1. Harga pembelian barang sebagian
dana dan membiayai seluruh pembelian kadang – kadang dibayar oleh pembeli.
barang tersebut. Jadi penjual tidak membiayai seluruh
2. Masa leasing biasanya ditetapkan harga beli barang yang bersangkutan.
sesuai dengan perkiraan umur 2. Jangka waktu tidak memperhatikan baik
kegunaan barang. pada perkiraan umur kegunaan barang
3. Pada akhir masa leasing, lesse dapat maupun kemampuan pembeli
menggunakan hak opsinya untuk mengangsur harga barang.
membeli barang yang bersangkutan, 3. Pada akhir masa perjanjian, hak milik
sehingga hak milik atas barang beralih atas barang dengan sendirinya beralih
pada lesse. pada pembeli. Hak milik atas barang
beralih dari penjual pada pembeli pada
saat barang diserahkan oleh penjual.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah :

 Dengan semakin berkembangya dunia bisnis, maka semakin banyak perusahaan yang
terjun ke dunia bisnis. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang terjun ke dunia
bisnis, maka semakin banyak kebutuhan dana dan modal yang harus dipenuhi oleh
berbagai perusahaan. Hal tersebut mendorong industry bisnis yang bergerak dalam
bidang pembiayaan yang disebut lembaga pembiayaan.

 Leasing termasuk ke dalam salah satu bentuk lembaga pembiayaan karena yang
dikatakan dengan lembaga pembiayaan adalah suatu badan usaha yang di dalam
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal
dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Sedangkan leasing
adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang –
barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan, untuk jangka waktu tertentu,
berdasarkan pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (optie) bagi
perusahaan tersebut untuk membeli barang – barang modal yang bersangkutan atau
memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati
bersama. Oleh karena itu, leasing termasuk salah satu jenis lembaga pembiayaan
karena leasing membiayai perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal.

 Perusahaan leasing dan lembaga pembiayaan lainnya akan menjadi sector bisnis yang
dapat membantu masyarakat luas yang masih awam dalam sisi pendanaan yang
nantinya akan banyak menarik para pengusaha untuk masuk ke dalam dunia bisnis.

3.2 Saran
 Hendaknya pemerintah dapat mengakomodasi regulasi untuk seluruh transaksi
perusahaan leasing dengan cara membentuk UU khusus dan juga mengamandemen
UU sesuai dengan perkembangan jaman.

 Para perusahaan yang bergerak sebagai lessor, hendaknya dapat memberikan


pelayanan sebaik mungkin kepada konsumen sehingga tidak terjadi perselisihan
antara konsumen dan juga pihak lessor.
DAFTAR PUSTAKA

Fuadi, Munir Dr, LLM. 2006. Hukum tentang Pembiayaan. Bandung : Citra Aditya Bakti
Ganefi, S.H.,M.Hum. 2008. Bahan Kuliah Hukum Pembiayaan. Bengkulu: Fakultas Hukum
Universitas Bengkulu
http://amiruddinzain.wordpress.com/2012/04/18/leasing-sewa-guna-usaha/ (di akses tanggal
28 oktober 2012, pukul 19.31 wib)
http://ampundeh.wordpress.com/2012/06/19/sewa-guna-usaha-leasing/ (di akses tanggal 28
oktober 2012, pukul 20.15 wib)
http://ampundeh.wordpress.com/tag/ciri-kegiatan-sewa-guna-usaha/ (di akses tanggal 28
oktober 2012, pukul 19.45 wib)
http://afand.abatasa.com/post/detail/2656/leasing-sewa-guna-usaha--pengertian.html (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 20.29 wib)
http://dahlanforum.wordpress.com/2009/04/24/leasing-sewa-guna-usaha-pengertian/ (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 19.10 wib)
http://hukumperbankan.blogspot.com/2009/04/sejarah-leasing.html (di akses tanggal 28
oktober 2012, pukul 19.58 wib)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sewa_guna_usaha (di akses tanggal 28 oktober 2012, pukul
20.38 wib)
http://id.wordpress.com/tag/perkembangan-leasing-di-indonesia-mekanisme-leasing-
penggolongan-perusahaan-leasing/ (di akses tanggal 28 oktober 2012, pukul 22.52 wib)
http://jaenal-abidinbin.blogspot.com/2012/06/leasing_22.html (di akses tanggal 28 oktober
2012, pukul 19.18 wib)
http://kismiaprilia.blogspot.com/2011/03/sewa-guna-usaha-leasing.html (di akses tanggal 28
oktober 2012, pukul 21.28 wib)
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=28298 (di akses tanggal 28
oktober 2012, pukul 22.25 wib)
http://masalahpajak.blogspot.com/2007/09/leasing.html (di akses tanggal 28 oktober 2012,
pukul 20.50 wib)
http://qyki.blogspot.com/2009/11/manfaat-dan-kerugian-sewa-guna-usaha.html (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 19.25 wib)
http://setiawanzenegger10.blogspot.com/2011/06/sewa-guna-usaha-leasing.html (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 21.30 wib)
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/sewa-guna-usaha-leasing-tugas-blk/ (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 21.08 wib)
http://www.ifsa.or.id/ (di akses tanggal 28 oktober 2012, pukul 21.48 wib)
http://www.imq21.com/news/read/42405/20110927/161528/APPI-Prediksi-5-Perusahaan-
Leasing-IPO-di-2012.html (di akses tanggal 28 oktober 2012, pukul 22.24 wib)
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110924235913AAbGcvN (di akses
tanggal 28 oktober 2012, pukul 22.05 wib)
Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 34/KP/II/80 tanggal 1 Februari 1980
tentang Perizinan Kegiatan Usaha Sewa Beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran
(credit sale) dan sewa (renting).
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 61 tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Simatupang, Richard Burton. 2003. Aspek Hukum dalam Bisnis. Jakarta : Rineka Cipta.
Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK.013/1988
TUGAS
HUKUM PEMBIAYAAN
LEASING (SEWA GUNA USAHA) DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Disusun oleh :
NAMA: ARDANI MAHENDRA S
NPM : B1A110010

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN BUDAYA RI


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BENGKULU
2012