Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat-Nyalah kami mampu
menyelesaikan laporan makalah tentang hasil diskusi PENYAKIT INFEKSI DAN NON INFEKSI
modul 314 tepat waktu dan dengan baik meskipun ada kekurangan di dalamnya.

Kami sangat berterima kasih kepada dosen yang membimbing kami di modul PENYAKIT
INFEKSI DAN NON INFEKSI modul ini dan juga kepada seluruh kontributor dan kepada seluruh
pihak yang telah berkontribusi dalam pembentukan makalah ini secara maksimal.

Semoga makalah ini dapat berguna bagi seluruh pembacanya dan juga menambah wawasan
serta pengetahuan kami juga. Kami menyadari bahwa makalah ini memilik banyak kekurangan, baik
dari segi tulisan maupun isinya, oleh karena itu kami berharap adanya kritikan dan juga saran yang
diberikan kepada kami guna memperbaiki makalah ini dan juga untuk makalah di masa yang akan
datang.

Sebelumnya kami mohon maaf bila terdapat kesalahan kata di dalamnya yang kurang berkenan.

Jakarta, Oktober 2018

Kelompok E

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1

DAFTAR ISI 2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG 3


1.2. RUMUSAN MASALAH 3
1.3. MANFAAT & TUJUAN 4

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB LEPASNYA IMPLANT 5


2.2. PENYEBAB TERTULAR VIRUS HIV 5-6
2.3. BEBERAPA EFEK SITOPATOLOGIS AKIBAT INFEKSI 6-8
2.4. MEKANISME RESPON IMUN YANG BERPENGARUH TERHADAP IFEKSI HIV
HINGGA AIDS 8-9
2.5. PENYEBAB KEGAGALAN RESPON IMUN PENDERITA SEHINGGA TIMBUL
ULSERASI BERWARNA MAGENTA 9-10
2.6. KRITERIA DIAGNOSTIK SESEORANG YANG MENDERITA HIV POSITIF SAMPAI
AIDS SECARA FISIK MAUPUN LABORATORIUM 10
2.7. PENANDA BIOLOGIS DALAM ERUM MAUPUN SALIVA UNTUK KEGANASAN
11
2.8. OBAT-OBATAN UNTUK KASUS IMUNO SUPRESAN 11-12
2.9. IMUNOTERAPI TUMOR 12-13

BAB 3 PENUTUP

3.1. KESIMPULAN 14
3.2. SARAN 14

DAFTAR PUSTAKA 15

2
BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seorang Ibu usia 35 tahun datang ke praktek dokter gigi pribadi dengan keluhan
implan yang dipasang 1 tahun yang lalu goyang dan akhirnya lepas. Dari anamnesis
diakui bahwa dokter telah menyatakan ia mengidap AIDS. Ibu tersebut diduga tertular
dari suaminya, seorang pengguna narkoba berat yang menggunakan suntikan.
Suaminya itu telah meninggal karena penyakit yang sama tiga tahun sebelumnya.
Kehidupan sehari-hari ibu ini berjalan dengan normal beberapa tahun sebelum
suaminya meninggal tanpa ada gejala-gejala yang khusus. Dokter menganjurkan Ibu
tersebut untuk memeriksakan kesehatannya secara berkala, di samping memberikan
obat spesifik. Pemeriksaan intra oral ditemukan indikasi berupa ulserasi berwarna
magenta pada palatum. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap darah Ibu tersebut
menunjukkan jumlah sel T CD4+ di bawah normal. Kemajuan di bidang imunologi
khususnya imunologi tumor memungkinkan dikembangkananya metode pengobatan
tumor dengan meminimalisai kerusakan jaringan sehat yang tidak diinginkan. Saat ini
terapi tumor mulai beralih dengan tidak menggunakan obat sitostatika ataupun
radioterapi tetapi melalui pendekatan imunologi.

1.2. Rumusan Masalah


1. Faktor-faktor penyebab lepasnya implant
2. Penyebab tertular infeksi HIV.
3. Beberapa efek sitopatologi (Cytopathic effects) akibat infeksi virus.
4. Mekanisme respon imun yang berpengaruh pada infeksi HIV hingga AIDS
5. Penyebab kegagalan respon imun penderita sehingga timbul ulserasi berwarna
magenta pada palatum
6. Kriteria diagnostik seseorang yang menderita HIV positif sampai AIDS secara fisik
maupun laboratorium
7. Penanda biologis dalam serum maupun saliva untuk keganasan.
8. Obat-obatan untuk kasus imunosupresan
9. Imunoterapi tumor

3
1.3. Tujuan
1. Menetapkan masalah berdasarkan data-data yang diberikan.
2. Menjelaskan penyebab timbulnya masalah.
3. Menjelaskan mekanisme yang mendasari kejadian.
4. Merencanakan penatalaksanaan yang tepat.

4
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Faktor-faktor penyebab lepasnya implant


 Osteointegrasi yang buruk dikarenakan implant yang longgar saat di pasang atau pun
dikarenakan oleh gingivitis berat.
 Kebiasaan mengeretakkan gigi
 Benturan keras karena pengaruh luar mekanik non infeksi
 Inflamasi karena adanya pendarahan maka terbentuk jaringan fibrotik yang dapat
menyebabkan lepasnya implant berhubungan dengan pembentukan sitokin IL-1, dan
IL-10 yang berperan saat terjadinya inflamasi , karena setiap inflamasi perlu adanya
regulator inflamasi
 Rokok dimana penggunaan rokok dapat menyebabkan penyusutan tulang penyangga
gigi dan menyebabkan implant dapat terlepas. Penyebab utama karena zat pada
rokok yaitu nikotin dan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan pada
osteoblast yang sangat berperan dalam pembentukan tulang
 Kebiasaan mengeretakkan gigi
 Infeksi pada tulang di sekitar implan

2.2. Penyebab tertular infeksi HIV


1. Jarum suntik
Salah satu media penyebab HIV yang berbahaya adalah jarum suntik. Jarum suntik
memberikan kesempatan untuk virus HIV menyebar dari tubuh penderita ke tubuh
orang yang sebelumnnya belum terjangkit. Pada proses ini bisa juga
melalui misalnya pemakaian jarum suntuk dikalangan pengguna narkotika suntikan,
melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, seperti
penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit seperti alat
tindik, tato, dan alat facial wajah. Jika ingin menggunakan jarum suntik harus
menggunakan jarum suntik yang hanya sekali pakai atau terlebih dahulu jarum
suntik yang telah digunakan telah melalu proses steril atau pembersihan secara
khusus, sehingga virus yang masih menempel di jarum suntik tidak menular).
2. Melalui ASI

5
Virus HIV bisa tertular melalui asi seperti penjualan ASI dari orang lain yang
memungkinkan didalam tubuh penjual asi terdapat virus HIV. Bisa juga melalui ibu
yang mengidap HIV memberikan asi kepada anaknya, oleh karena itu dianjurkan
pada ibu yang mengidap HIV tidak memberikan asi kepada anaknya melainkan
memberikan susu formula saja.
3. Hubungan seks.
Infeksi HIV dapat terjadi melalui hubungan seks baik melalui vagina maupun dubur
(anal). Meskipun sangat jarang, HIV juga dapat menular melalui seks oral. Akan
tetapi, penularan lewat seks oral hanya akan terjadi bila terdapat luka terbuka di
mulut penderita, misalnya seperti gusi berdarah atau sariawan.

Diketahui juga pada skenario ini seorang ibu yang tertular HIV karena suaminya
positif HIV, jadi dapat dikatakan kalau ibu tersebut tertular melalui hubungan seksual
(hubungan suami istri) karena cairan tubuh bisa membawa virus HIV seperti air mani d
an cairan praejakulasi, cairan vagina, mucus rectum (pelumas alami anus), ataupun AS
I. Kemungkinan untuk terjangkit HIV akan lebih kecil jika tidak melakukan hubungan s
eksual, mengurangi jumlah pasangan seksual, meminta pasangan seksual Anda untuk di
tes HIV, dan/atau batasi hubungan seksual Anda hanya dengan pasangan yang tidak ber
hubungan seks dengan orang lain. Atau dapat diatasi dengn pemakaian kondom.

2.3. Beberapa efek sitopatologi (Cytopathic effects) akibat infeksi virus

Efek sitopatik, yaitu perubahan morfologi sel – sel. Jenis efek sitopati akibat virus
meliputi lisis atau nekrosis sel, pembentukan inklusi, pembentukan sel raksasa, dan
vakuolisasi sitoplasma. Kebanyakan virus menimbulkan efek sitopatik yang nyata pada
sel-sel terinfeksi yang umumnya merupakan ciri khas golongan virus.

Efek Cytopathic (CPE), perubahan struktural dalam sel inang yang dihasilkan
dari infeksi virus. CPE terjadi ketika virus yang menginfeksi menyebabkan lisis
(pembubaran) dari sel inang atau ketika sel mati tanpa lisis karena ketidakmampuannya
untuk bereproduksi. Efek sitopatik atau efek cytopathogenic (CPE disingkat) mengacu
pada perubahan struktural dalam sel inang yang disebabkan oleh invasi virus. Virus
yang menginfeksi menyebabkan lisis sel inang atau ketika sel mati tanpa lisis karena
ketidakmampuan untuk bereproduksi. Kedua efek ini terjadi karena CPE. Jika virus
menyebabkan perubahan morfologi pada sel inang, dikatakan sebagai sitopatik. Contoh
6
umum CPE termasuk pembulatan sel yang terinfeksi, fusi dengan sel yang berdekatan
untuk membentuk syncytia, dan munculnya badan inklusi inti atau sitoplasma.

CPE dan perubahan lain dalam morfologi sel hanya beberapa dari banyak efek
oleh virus cytocidal. Ketika virus cytocidal menginfeksi sel permisif, virus membunuh
sel inang melalui perubahan morfologi sel, dalam fisiologi sel, dan peristiwa biosintesis
yang mengikutinya. Perubahan ini diperlukan untuk replikasi virus yang efisien tetapi
dengan mengorbankan sel tuan rumah

Jenis umum :

1. Penghancuran total
Penghancuran total monolayer sel induk adalah jenis CPE yang paling berat. Untuk
mengamati proses ini, sel-sel diunggulkan pada permukaan kaca dan monolayer
konfluen sel inang terbentuk. Kemudian, infeksi virus diperkenalkan. Semua sel
dalam monolayer menyusut dengan cepat, menjadi padat dalam proses yang dikenal
sebagai pyknosis, dan lepas dari gelas dalam waktu tiga hari. Bentuk CPE ini
biasanya terlihat dengan enterovirus.
2. Penghancuran subtotal
Penghancuran subtotal dari monolayer sel inang kurang parah daripada kehancuran
total. Demikian pula dengan penghancuran total, CPE ini diamati dengan menyemai
monolayer konfluen sel inang pada permukaan kaca kemudian memperkenalkan
infeksi virus. Penghancuran subtotal secara khas menunjukkan pelepasan beberapa
tetapi tidak semua sel dalam monolayer. Biasanya diamati dengan beberapa
togavirus, beberapa picornavirus, dan beberapa jenis paramyxovirus.
3. Degenerasi fokal
Degenerasi fokal menyebabkan serangan lokal dari monolayer sel induk. Meskipun
jenis CPE ini pada akhirnya dapat mempengaruhi seluruh jaringan, tahap awal dan
penyebaran terjadi di pusat virus lokal yang dikenal sebagai fokus. Degenerasi fokal
adalah karena transfer sel-sel-sel langsung dari virus daripada difusi melalui media
ekstraseluler. Moda transfer yang berbeda ini membedakannya dari kehancuran total
dan subtotal dan menyebabkan efek lokal yang khas. Awalnya, sel inang menjadi
membesar, membulat, dan refraktil. Akhirnya, sel-sel inang melepaskan dari
permukaan. Penyebaran virus terjadi secara konsentris, sehingga mengangkat sel-sel

7
dikelilingi oleh diperbesar, sel bulat yang dikelilingi oleh jaringan sehat. Jenis CPE
ini adalah karakteristik virus herpes dan poxvirus.
4. Pembengkakan dan penggumpalan
Pembengkakan dan penggumpalan adalah CPE di mana sel host membengkak secara
signifikan. Setelah diperbesar, sel-sel mengumpul dalam kelompok. Akhirnya, sel-
sel menjadi begitu besar hingga terlepas. Jenis CPE ini adalah karakteristik
adenovirus.

5. Degenerasi berbusa
Degenerasi berbusa juga dikenal sebagai vacuolization. Hal ini disebabkan oleh
pembentukan vakuola sitoplasma besar dan / atau banyak. Jenis CPE ini hanya dapat
diamati dengan fiksasi dan pewarnaan sel inang yang terlibat. Degenerasi berbusa
adalah karakteristik dari retrovirus, paramyxoviruses, dan flaviviruses tertentu. [2]
6. Syncytium
Syncytium juga dikenal sebagai fusi sel dan pembentukan polkarion. Dengan CPE
ini, membran plasma dari empat sel host atau lebih menyatu dan menghasilkan sel
yang diperbesar dengan setidaknya empat inti. Meskipun fusi sel besar kadang
terlihat tanpa pewarnaan, jenis CPE ini biasanya terdeteksi setelah fiksasi sel induk
dan pewarnaan. Virus herpes secara karakteristik menghasilkan fusi sel serta bentuk
CPE lainnya. Beberapa paramyxovirus dapat diidentifikasi melalui pembentukan
fusi sel karena mereka secara eksklusif menghasilkan CPE ini.
7. Badan inklusi
Badan inklusi - struktur abnormal yang tidak larut dalam inti sel atau sitoplasma -
hanya dapat dilihat dengan pewarnaan karena menunjukkan area pewarnaan yang
berubah dalam sel inang. Biasanya, mereka menunjukkan area sel inang di mana
protein virus atau asam nukleat sedang disintesis atau di mana virion sedang dirakit.
Juga, dalam beberapa kasus, badan inklusi hadir tanpa virus aktif dan menunjukkan
area dari jaringan parut virus. Badan inklusi bervariasi dengan strain virus. Mereka
bisa tunggal atau banyak, kecil atau besar, dan bulat atau tidak beraturan. Mereka
juga mungkin intranuklear atau intracytoplasmic dan eosinophilic atau basophilic.

2.4. Mekanisme respon imun yang berpengaruh pada infeksi HIV hingga AIDS
 Respons imun terhadap HIV

8
Pada pasien HIV terjadi respons imun humoral dan selular terhadap produk gen
HIV. Respons awal terhadap infeksi HIV serupa dengan pada infeksi virus lainnya
dan dapat menghancurkan sebagian besar virus di dalam darah dan sel T yang
bersirkulasi. Kendati demikian, respons imun ini gagal untuk menghilangkan semua
virus, dan selanjutnya infeksi
 HIV mengalahkan sistem imun pada sebagian besar individu.
Respons imun awal terhadap infeksi HIV mempunyai karakteristik ekspansi masif
sel T sitotoksik CD8 yang spesifik terhadap protein HIV. Respons antibodi terhadap
berbagai antigen HIV dapat dideteksi dalam 6-9 minggu setelah infeksi, namun
hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa antibodi mempunyai efek yang
bermanfaat untuk mengontrol infeksi. Molekul HIV yang menimbulkan respons
antibodi terbesar adalah glikoprotein envelope, sehingga terdapat titer anti-gpl20 dan
anti-gp41 yang tinggi pada sebagian besar pasien HIV. Antibodi anti-emvelope
merupakan inhibitor yang buruk terhadap infektivitas virus atau efek sitopatik.
Terdapat antibodi netralisasi dengan tier rendah pada pasien HIV. Antibodi
netralisasi ini dapat menginaktivasi HIV in vitro. Terdapat pula antibodi yang
memperantarai ADCC. Semua antibodi ini spesifik terhadap gp120. Belum
ditemukan korelasi antara titer antibodi dengan keadaan klinis.

2.5. Penyebab kegagalan respon imun penderita sehingga timbul ulserasi berwarna
magenta pada palatum

Pada kasus di atas, penderita tersebut telah menderita AIDS sejak 3 tahun yang
lalu, namun baru terdiagnosa sekarang. Apabila seseorang telah menderita penyakit
AIDS maka sistem imun di dalam tubuh sudah sangat minim sehingga tubuh rentan
sekali terhadapa infeksi oportunis dan juga virus-virus lain yang biasanya tidak dapat
menembus sistem imun tubuh. Hal ini menyebabkan mudahnya infeksi dari virus lain,
salah satu hasilnya adalah ulserasi berwarna magenta yang dideritanya. Faktor lain
yang sangat menentukan selain penyakit AIDS dalam mendiagnosa ulserasi tersebut
adalah CD4 penderita di bawah normal, yang kemungkinan sekitar di bawah 200
cells/mm3. Kemungkinan terbesar ulserasi ini adalah Sarkoma Kaposi, yaitu tumor yang
disebabkan oleh virus human herpes virus 8 (HHV-8) dimana merupakan salah satu
jenis penyakit yang muncul biasanya akibat AIDS. Pada mulut, Sarkoma Kaposi paling
sering menyerang langit-langit keras, diikuti oleh gusi. Lesi pada mulut mudah rusak
9
dengan digigit dan berdarah atau menderita infeksi kedua, dan bahkan mengganggu
penderita untuk makan dan berbicara.

2.6. Kriteria diagnostik seseorang yang menderita HIV positif sampai AIDS secara
fisik maupun laboratorium
Diagnosis pada infeksi HIV dilakukan dengan dua metode yaitu metode
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium meliputi
uji imunologi dan uji virologi. 
o Kehilangan berat badan
Penurunan berat badan (10%) yang cepat bersama dengan diare dan mual telah
menggangu system pertahanan tubuh.

o Demam berulang
Demam berulang adalah respon tubuh pertama dalam melawan setiap infeksi atau
invasi benda asing. Jika seseorang terinveksi HIV, pada tahap awal muncullah
demam kemudian disertai dengan gejasla seperti flu selama empat minggu pertama.
Kondisi ini disebut dengan sindrom retroviral akut atau ARS atau infeksi HIV
primer
o Pneumonia
Batuk, demam, penurunan berat badan, dan sesak nafas yang merupakan tanda-tanda
pneumonia bis menjadi indikasi infeksi HIV AIDS.
o Keringat malam
Orang yang terkena infeksi HIV AIDS mengalami gejala sering berkeringat di
malam hari meskipun pada saat itu udara tidak panas dan sedang tidak melakukan
aktifitas fisik
o Infeksi jamur
Ketika daya tahan tubuh melemah, maka tubuh mudah terserang infeksi, terutama
jamur. Ini merupakan tanda infeksi sekunder setelah terinfeksi HIV AIDS.
o kelenjar getah bening
Kelenjar getah bening merupakan bagian dari system kekebalan tubuh sehingga
organ ini seringkali diperngatuhi ketika tubuh mengalami inflamasi atau infeksi, tak
terkecuali pada HIV AIDS.

10
2.7. Penanda biologis dalam serum maupun saliva untuk keganasan.
Penanda biologis atau bisa juga disebut sebagai biomarker adalah alat bantu
untuk menentukan apakah dalam tubuh terdapat penyakit, biomarker dapat
menggunakan saliva ataupun serum untuk menentukan suatu penyakit. Contoh untuk
penggunaan saliva bisa sebagai alat bantu diagnosis kanker rongga mulut atau
karsinoma sel skuamosa, kanker payudara, dan lain-lain. Utk penggunaan serum bisa
digunakan untuk menentukan apakah orang terinfeksi HIV dengan melihat p24 dalam
tubuh mereka, apabila p24 dalam tubuh mereka meningkat maka mereka bisa
didiagnosa terkana HIV.
2.8. Obat-obatan untuk kasus imunosupresan
1. Glukokortikoid
 Prednison  per oral
 Metilprednison parental
Mekanisme:
 Menurunkan aktivasi limfosit T dengan menghambat sintesis IL-1 oleh makrofag
 Menurunkan mobilisasi limfosit keluar dari organ limfoid (limfopenia)

2. Penghambat Kalsineurin
a. Siklosporin (sandimmune®)
Mekanisme:
 Berikatan dg siklofilin dlm sitoplasma CD4
 Menghambat kalsineurin yang berperan dalam transkripsi gen IL-2 & sitokin lainnya
b. Takrolimus (prograf®)
Mekanisme: sama dengan siklosporin berikatan FK506-binding protein kemudian
menghambat kalsineurin

3. Antiproliferatif/ Antimetabolik
a. Sirolimus (Rapamisin)
Mekanisme kerja:
 Berikatan dengan FKBP, menghambat mTOR -> hambatan siklus sel dari G1 ke S
 Hambagan aktivitas IL-2 yang oenting untuk proliferasi & diferensiasi sel T
b. Mikofenolat Mofetil (CellCept®)
Mekanisme:
11
 Menghambat inosine monofosfat dehidrogenase (enzim penting sintesis de novo
purin)
 Hambatan sintesis purin limfosit T &B -> menekan proliferasi limfosit T &
Menghambat pembentukan antibodi oleh sel B
 Menghambat migrasi leukosit ke tempat inflamasi ( efek antiinflamasi)
c. Sitotoksik Non-Spesifik
 Axatioprin ( imuran)
 Siklofosfamid (cytoxan)
 Metotreksat
Mekanisme:
 Menghambat proleferasi limfosit B & T
 Non-spesifik: menekan pertumbuhan sel sel cepat membelah spt sum" tulang,
mukosa sal.cerna

4. Antibodi
 Anti-limfosit globulin (ALG)
 Imunoglobulin intravena (IGIV)

2.9. Imunoterapi tumor


1. Terapi Sitokin
Sitokin interleukin-2 dapat mendorong sistem imun di dalam tubuh manusia untuk
melawan sel-sel tumor. Sel CD4 T adalah sel-sel yang menyusun respon imun tubuh
manusia. Sel CD4 T menggunakan sitokin -sitokin sebagai mekanisme sinyal untuk
menstimulasi respon imun tubuh untuk pertumbuhTan, pembelahan dan diferensiasi
sel tersebut. Karena sel-sel tumor muncul sebagai sel sendiri, sistem imun tubuh
tidak dapat merespon secara efektif untuk membunuh sel tumor tersebut. Tetapi,
terapi imun seluler adaptif dengan IL-2 dapat secara potensial mengembalikan atau
menaikkan efek-efek imun tubuh untuk membunuh sel tumor
2. Vaksinasi
Memvaksinasi pasien dengan sel tumomya sendiri atau antigen dari sel-sel tersebut.
Antigen tumor tersebut dibentuk dan digunakan untuk vaksinasi individu melawan
tumornya sendiri
12
3. Adaptive Cell Transfer
Mengisolasi sel-sel T yang paling aktif terhadap tumor atau memodifikasi gen
didalamnya untuk membuatnya lebih mampu menemukan dan menghancurkan sel-
sel tumor, lalu sel tersebut dibiakkan dengan perbenihan dengan faktor pertumbuhan
dan diinjeksikan kembali ke dalam jaringan pasien.

13
BAB 3

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Salah satu faktor penyebab lepasnya implan adalah osteointegrasnya buruk sehingga
dapat terjadi fibrosis pada jaringan gingiva. Pada skenario ini, virus dapat ditularkan
melalui jarum suntk penggunaan narkoba dan juga hubungan seks. Beberapa efek
sitopatologi akibat infeksi virus yaitu, adanya penghancuran total dan subtotal,
degenerasi fokal, pembengkakan dan penggumpalan serta adanya badan inklusi.
Mekanisme respon imun yang erpengaruh pada HIV sehingga terjadinya AIDS
sebenarnya sama seperti reaksi tubuh terhadap virus lainnya yang dapat
menghancurkan sebagian besar virus dalam darah dan sel T yang bersirkulasi. Ada juga
penyebab kegagalan respon imun penderita sehingga timbul ulserasi berwarna magenta
pada palatum karena CD4 yang dimiliki oleh penderita berada dibawah nilai normal
yang disebabkan banyaknya virus yang masuk kedalam tubuh penderita karena sistem
imun yang telah menurun akibat terserang HIV/AIDS. Beberapa kriteria diagnostik
seseorang terkena HIV positif sampai AIDS secara fisik maupun laboratorium adalah
kehilangan berat badan(10%) secara cepat, demam yang berulang, pneumonia dan
kelenjar getah bening. Penderita dapat melakukan imunoterapi tumor dengan cara terapi
sitokin dan vaksinasi.

3.2. SARAN

Penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Pembaca dapat menambah
referensi mengenai materi yang telah dibahas melalui literatur berupa buku maupun
jurnal kedokteran gigi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Dadhich, V, Prabhu, R., Pai V., J, D’Souza, J., S., Harish, M., Jose. (2014). Serum and
Salivary sialic acid as a biomarker in oral potentially malignant disorders and oral cancer.
Indian J Cancer.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, Jilid II. Jakarta:
Interna Publishing; 2009.

Yudoyono, HS. Ulserasi Mukosa Mulut pada Individu dengan Infeksi HIV: Etiologi,
Manifestasi Klinis, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia. 2000; 7 (Edisi Khusus): 766-773.

15