Anda di halaman 1dari 15

SHORT CASE

KATARAK SENILIS

Disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti kepaniteraan klinik senior di
Departemen Ilmu Penyakit Mata RSMH Palembang

Pembimbing
dr Dharma Sastrawan Sp.M

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010

1
BAB I
KATARAK

1. 1 Latar Belakang
Lensa Kristalina adalah sebuah struktur yang transparan dan bikonveks yang
memiliki fungsi untuk mempertahankan kejernihan, refraksi cahaya, dan memberikan
akomodasi. Lensa dapat merefraksikan cahaya karena indeks refraksinya, secara
normal sekitar 1,4 pada bagian tengah dan 1,36 pada bagian perifer yang berbeda dari
aqueous humor dan vitreous yang mengelilinginya.1

Lensa terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya usia. Saat lahir, ukurannya
sekitar 6,4 mm pada bidang ekuator, dan 3,5 mm anteroposterior serta memiliki berat
90 mg. Pada lensa dewasa berukuran 9 mm ekuator dan 5 mm anteroposterior serta
memiliki berat sekitar 255 mg. Ketebalan relatif dari korteks meningkat seiring usia.
Pada saat yang sama, kelengkungan lensa juga ikut bertambah, sehingga semakin tua
usia lensa memiliki kekuatan refraksi yang semakin bertambah.

Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena
dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan
yang kabur pada retina.1,2 Etiologi dari katarak adalah: degeneratif (usia), kongenital,
penyakit, penyakit lokal pada mata (misal uveitis, glaukoma dll), trauma, bahan toksik
keracunan obat-obat tertentu (kortikosteroid, ergot, dll)
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia di atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti.
Katarak senilis secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, intumesen,
matur, hipermatur dan morgagni. 3

2
BAB II
LAPORAN KASUS

1. IDENTIFIKASI
Nama : Ny. N
Umur : 62 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Petani
Alamat : Luar kota
Tanggal Berobat : 19 Juli 2009

2. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Pengelihatan mata kiri semakin kabur sejak 6 bulan yang lalu
Riwayat Perjalanan Penyakit
± 1 tahun yang lalu, penglihatan kedua matanya kabur seperti melihat asap.
Penglihatan menurun perlahan. Penderita merasa lebih nyaman melihat pada pagi hari
atau malam hari dan pada siang hari seringkali merasa silau. Penderita merasa kabur saat
melihat jauh, tetapi masih bisa membaca pada jarak dekat. Penglihatan seperti melihat
pelangi tidak ada, mata merah tidak ada, mata berait-air tidak ada, nyeri tidak ada,
kotoran mata tidak ada. Penderita tidak berobat
± 6 bulan yang lalu, mata kiri os kemasukan potongan bambu saat bekerja. Mata
penderita menjadi merah, berair, gatal (-), kotoran mata(-). Penderita mengeluh mata kiri
semakin kabur dibanding mata kanan. Penglihatan seperti melihat asap masih tetap ada.
Penderita tetap merasa silau saat siang hari. Mata penderita saat melihat jauh masih kabur
dan tetap masih bisa membaca bila jarak dekat. Lalu penderita berobat ke RS Mata dan
diberi 3 macam obat tetes yang os lupa nama obatnya. Penderita mengeluh mata tetap
kabur seperti tertutup/melihat asap, nyeri tidak ada, mata merah berkurang, berair-air

3
berkurang. Kotoran mata tidak ada. Penderita merasa keluhan semakin bertambah karena
itu penderita berobat ke poliklinik ilmu kesehatan Mata RSMH.

Riwayat Penyakit Dahulu


• Riwayat memakai kacamata disangkal.
• Riwayat penyakit darah tinggi disangkal.
• Riwayat penyakit kencing manis disangkal

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal.

3. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Sens : kompos mentis
Tekanan darah: 130/90 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Respiratory rate : 18 x/menit
Suhu : afebris

Status Oftalmologikus
OD OS
Visus 6/21 ph 6/9 1/300
Tekanan intraokuler 18,5 = mmHg 18,5 = mmHg

KBM Ortoforia

4
GBM

Segmen anterior
- Palpebra Tenang Tenang
- Konjungtiva Tenang Tenang
- Kornea Jernih Jernih
- COA Sedang Sedang
- Iris Gambaran baik Gambaran baik

- Pupil Bulat, center, RC (+) d = Bulat, center, RC (+) d =


3 mm 3 mm
- Lensa Keruh, ST (+) Keruh, ST (-)

4. DIAGNOSIS BANDING
Katarak traumatika + Anomali refraksi
Katarak senilis + Anomali refraksi
Katarak drug induced + Anomali refraksi

5. DIAGNOSIS KERJA
Katarak imatur senilis + Anomali refraksi OD + Katarak matur senilis komplikata
OS

6. PENATALAKSANAAN
ECCE + IOL OS

7. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

5
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian
Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena
dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan
yang kabur pada retina.1
Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa
di dalam kapsul lensa atau juga suatu keadaan patologik lensa di mana lensa menjadi
keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.1
Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa,
proses penuaan (degeneratif). Meskipun tidak jarang ditemui pada orang muda, bahkan
pada bayi yang baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubela) di masa
pertumbuhan janin, genetik, gangguan pertumbuhan, penyakit mata, cedera pada lensa
mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan berlebihan dari sinar ultraviolet.
Kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, diabetes mellitus, rokok, alkohol, dan obat-
obatan steroid, serta glaukoma (tekanan bola mata yang tinggi), dapat meningkatkan
risiko terjadinya katarak.1

1. Etiologi
etiologi katarak adalah :
a. degeneratif (usia)
b. kongenital
c. penyakit sistemik (misal DM, hipertensi, hipoparatiroidisme)
d. penyakit lokal pada mata (misal uveitis, glaukoma dll)
e. trauma
f. bahan toksik (kimia & fisik)
g. keracunan obat-obat tertentu (kortikosteroid, ergot, dll)

6
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan
bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 55%
orang berusia 75— 85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun
sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.1

Gejala
Gejala umum gangguan katarak meliputi :
• Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
• Peka terhadap sinar atau cahaya.
• Dapat melihat dobel pada satu mata.
• Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
• Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.1

Penyebab terjadinya kekeruhan lensa ini dapat :


1. Primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar
lensa.
2. Sekunder, akibat tindakan pembedahan lensa.
3. Komplikasi penyakit lokal ataupun umum.2

Jenis-jenis katarak
Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :
• Katarak perkembangan (developmental) dan degeneratif
• Katarak kongenital, juvenvil, dan senil.
• Katarak komplikata
• Katarak traumatik.2

7
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :
• Katarak kongenital, katarak yang terlihat pada usia di bawah 1
tahun
• Katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas1 tahun dan
di bawah 40 tahun.
• Katarak presenil, katarak sesudah usia30 - 40 tahun
• Katarak senil, katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40
tahun.2

KATARAK SENIL
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di
atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti.
Katarak senil secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, intumesen,
matur, hipermatur dan morgagni. 3

Katarak insipien. Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut :


Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior
(katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak subkapsular posterior,
kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa
dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refaksi yang tidak sama
pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama. 3

Katarak intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang
degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa
menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat
memberikan penyulit glaukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang
berjalan cepat dan mengakibatkan miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi
hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang

8
memberikdn miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai
peregangan jarak lamel serat lensa. 3

Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai
seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma
sekunder. 3

Katarak matur. Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur
atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali
pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan
mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif. 3
Katarak matur bila dibiarkan saja akan menjadi katarak intumesen (katarak dengan
kandungan air maksimal), yang dapat memblok pupil dan menyebabkan tekanan bola
mata meningkat (glaucoma). Atau lama kelamaan bahan lensa akan keluar dari lensa
yang katarak ke bilik mata depan dan menyebabkan reaksi radang. Sel-sel radang ini akan
menumpuk di trabekulum dan akhirnya juga dapat meningkatkan tekanan bola mata
(glucoma). Bila tekan bola mata yang tinggi ini tidak segera diturunkan, maka sel-sel
syaraf mata yang terdapat pada dinding belakang bola mata akan tertekan, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf tersebut, yang mengakibatkan
kebutaan. 5

Katarak hipermatur. Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi


lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering,
Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang
pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor. Bila

9
proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang
berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk
sebagai sekantong susu disertai dengan nukieus yang terbenam di dalam korteks lensa
karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.3

TERAPI
Bedah katarak senil
Bedah katarak senil dibedakan dalam bentuk ekstraksi lensa intrakapsular dan ekstraksi
tensa ekstrakapsular. 2

Ekstraksi lensa intrakapsular


Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil.
Lensa dikeluarkan berama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus zonula
Zinnyang telah pula mengalami degenerasi.
Pada ekstraksi lensa intrakapsular dilakukan tindakan dengan urutan berikut:
1. Dibuat flep konjungtiva dari jam 9-3 melalui jam 12
2. Dilakukan pungsi bilik mata depan dengan pisau
3. Luka kornea diperlebar seluas 160 derajat
4. Dibuat iridektomi untuk mencegah glaukoma blokade pupil pasca bedah
5. Dibuat jahitankorneosklera
6. Lensa dikeluarkan dengan krio
7. Jahitan kornea dieratkan dan ditambah
8. Flep konjungtiva dijahit.2

Penyulit pada saat pembedahan yang dapat terjadi adalah :


1. Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama-sama
kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana
karena kapsul posterior akan tertinggal
2. Prolaps badan kaca pada saat lensa dikeluarkan. 2

10
Bedah ekstraksi lensa intrakapsular (EKIK) masih dikenal pada negera dengan ekonomi
rendah karena :
1. Teknik yang masih baik untuk mengeluarkan lensa keruh yang mengganggu
penglihatan
2. Teknik dengan ongkos rendah. 2

Ekstraksi lensa ekstrakapsular


Pada ekstraksi lensa ekstrakapsular dilakukan tindakan sebagai berikut:
1. Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat dari jam
2. 10 sampai jam 2
3. Dibuat pungsi bilik mata depan
4. Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi anterior
5. Dibuat luka kornea dari jam 10-2
6. Nukieus lensa dikeluarkan
7. Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul poserior saja
8. uka komea dijahit
9. Flep konjungtiva dijahit2

Penyulit yang dapat timbul adalah terdapat korteks lensa yang akan membuat katarak
sekunder. 2

Fakoemulsifikasi
Untuk mencegah astigmat pasa bedah EKEK, maka luka dapat diperkecil dengan
tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan fako ini lensa yang katarak di
fragmentasi dan diaspirasi. 2

SICS
Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan teknik
pembedahan kecil. Teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat
sembuh dan murah.6

11
BAB IV
ANALISIS KASUS

Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena
dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan
yang kabur pada retina.1
Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa,
proses penuaan (degeneratif). Meskipun tidak jarang ditemui pada orang muda, bahkan
pada bayi yang baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubela) di masa
pertumbuhan janin, genetik, gangguan pertumbuhan, penyakit mata, cedera pada lensa
mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan berlebihan dari sinar ultraviolet.
Kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, diabetes mellitus, rokok, alkohol, dan obat-
obatan steroid, serta glaukoma (tekanan bola mata yang tinggi), dapat meningkatkan
risiko terjadinya katarak.1
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan
bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 55%
orang berusia 75— 85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun
sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.1
Refraksi adalah suatu fenomena fisika berupa penyerapan sinar yang melalui media
transparan yang berbeda. Sebagai suatu contoh proses refraksi saat sebuah pensil
diletakkan di dalam gelas yang berisi air, maka akan tampak gambaran pensil di udara
tidak lurus dengan yang tampak pada air. 1,5
Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti Punctum Proksimum
merupakan titik terdekat di mana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Punctum
Remotum adalah titik terjauh di mana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, titik
ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata
istirahat. Gangguan atau kelainan dari proses refraksi normal di atas disebut sebagai
anomali refraksi. 1,2,4

12
Kelainan refraksi pada mata terdiri atas miopia, hipermetropia, astigmatisme dan
presbiopia. Kelainan mata tersebut dapat dikoreksi dengan penggunaan kacamata, lensa
kontak, dan saat ini dapat dilakukan prosedur bedah refraktif antara lain excimer laser,
misalnya LASIK, intracorneal ring.5

Seorang wanita berumur 62 tahun, tidak bekerja dan bertempat tinggal di dalam
kota, datang ke RSMH dengan keluhan utama pengelihatan mata kiri semakin kabur
sejak 6 bulan yang lalu. Riwayat perjalanan penyakit penderita didapatkan keluhan
penurunan tajam penglihatan seperti melihat asap. Penglihatan menurun perlahan.
Penderita merasa lebih nyaman melihat pada pagi hari atau malam hari dan pada siang
hari seringkali merasa silau. Penderita merasa kabur saat melihat jauh, tetapi masih bisa
membaca pada jarak dekat. Penglihatan seperti melihat pelangi tidak ada, mata merah
tidak ada, mata berair-air tidak ada, nyeri tidak ada, nyeri kepala tidak ada, kotoran mata
tidak ada.
Dari keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit ini dapat dipikirkan beberapa
diagnosis banding untuk penyakit mata yang ditandai dengan mata tenang visus menurun,
diantaranya yaitu kelainan refraksi, glaucoma kronik, katarak, retinopati, retinoblastoma,
toxoplasmosis okuler, dan ambliopia.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menyingkirkan differensial diagnostik
berdasarkan anmnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penderita ini kami
diagnosa sebagai katarak imatur senilis OD dan Katarak matur senilis OS.
Pada pemeriksaan anamesis didapatkan keluhan nyeri didalam dan disekitar mata
kanan, penglihatan kabur, penglihatan seperti melihat asap, merasa silau. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan penurunan visus sebelah kanan sebesar 6/21 dan kiri
sebesar 1/300, lensa mata kiri dan kanan keruh dengan shadow test kanan positif dan kiri
negatif. Pada kedua mata didiagnosis katarak senilis sudah terjadi kekeruhan lensa pada
usia diatas 50 tahun. Pada mata kanan didiagnosis sebagai katarak imatur karena
kekeruhan lensa belum seluruhnya (ST +) sedangkan karena pada mata kiri didapatkan
kekeruhan pada seluruh lensa (ST -), maka mata kiri didiagnosis dengan katarak matur.
Ekstraksi lensa intrakapsular merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada
katarak senil. Lensa dikeluarkan berama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus

13
zonula Zinnyang telah pula mengalami degenerasi. Karena pada katarak senilis telah
mengalami kekerasan pada lensa, sehingga dilakukan ekstraksi lensa intrakapsular dan
dengan penggantian lensa untuk memperbaiki visus penderita.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan DG. Asbury T. Eva PR. Oftamologi umum. Ed 14. Jakarta: Widya
Medika. 2000
2. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta : Erlangga. 2005
3. Ilyas S., 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI, hlm : 128.
4. Ilyas S., 2008. Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI,
5. Joomla., 2009. Tindakan Bedah Katarak. Available on
http://209.85.175.132/search?q=cache:8de-uud-INQJ:203.211.145.29/~gadingey//
index2.php%3Foption%3Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id
%3D9+Tindakan+Bedah+Katarak
%2BJoomla&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&client=firefox-a. (Diakses 25
Februari 2009).

15