Anda di halaman 1dari 6

BAB VIII

KEKHUSUSAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

PSIKOLOGI KOMUNITAS
Di Indonesia, Psikologi Komunitas dibahasa sebagai “Kesehatan Masyarakat” dalam
disiplin Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi Komunitas juga
menjadi subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi, dan ilmu sosial lainnya. Disini
Psikologi Komunitas akan dibahas sebagai salah satu kegiatan yang berkaitan dengan
memberi bantuan kepada orang yang mengalami gangguan emosional, penyesuaian diri,
atau masalah psikologi lainnya.
Apa yang dimaksud dengan psikologi komunitas? Umumnya psikologi komunitas
didefinisikan sebagai suatu pendekatan terhadap kesehatan mental yang menekankan
pada pemberdayaan lingkungan dalam menciptakan dan mengurangi masalah.

Rapaport (Phares, 1992) mengemukakan bahwa perspektif psikologi komunitas


memperhatikan tiga hal utama, yaitu pengembangan sumber daya individu, aktivitas
politik, dan ilmu.
Reber dan Reber dalam The Dictionary of Psychology edisi ke-3 menyebutkan bahwa
psikologi komunitas sebagai cabang psikologi terapan di mana para praktisioner bekerja
dalam berbagai cara dengan komunitas untuk membangun komunitas itu.
Pada intinya pendekatan komunitas tidak meletakkan gangguan di dalam diri orang yang
tergganggu, juga seluruhnya menyalahkan lingkungan. Fokusnya dalah interaksi orang-
lingkungan, mengidentifikasi peran dan daya lingkungan yang dapat
menciptakan/mengurangi masalah individu, dan kemudian memusatkan diri pada
pemberdayaan individu, dan kemudian memusatkan diri pada pemberdayaan individu
dan kelompok individu untuk lebih dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang
dihadapinya.

Psikologi komunitas bidang dengan perspektif baru yang unik untuk memahami
individu-individu di lingkungan mereka yang mencakup sistem sosial yang lebih besar
yang mempengaruhi kehidupan mereka. Menekankan dan berfokus pada kecocokan
orang terhadap lingkungan, saat bekerja sama dengan kelompok, dan mendorong
pemberdayaan.

Pencegahan dan intervensi awal melalui penelitian dan tindakan kolaboratif dipandang
sebagai alat (tools) yang penting, untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Psikologi
komunitas tidak berfokus pada "masalah" melainkan pada kekuatan dan kompetensi dari
anggota masyarakat.

Salah satu aspek yang paling menarik dari psikologi komunitas adalah bahwa bidang
masih berkembang dan mendefinisikan dirinya sendiri. Mengapa? Pertama, psikologi
komunitas secara bersamaan menekankan baik pada layanan terapan kepada
masyarakat juga penelitian berbasis teori. Kedua, mereka fokus pada berbagai tingkatan
analisis ➔ dari individu dan kelompok hingga pada program khusus dalam sebuah
organisasi, dan terakhir untuk seluruh komunitas. Ketiga, psikologi komunitas mencakup
berbagai setting. Seorang psikolog komunitas mungkin mendapati dirinya untuk
melakukan penelitian di sebuah pusat kesehatan mental pada hari Senin, tampil sebagai
saksi ahli dalam persidangan pada hari Selasa, mengevaluasi sebuah program rumah
sakit pada hari Rabu, menerapkan program berbasis sekolah pada hari Kamis, dan
mengatur pertemuan di lingkungan perumahan pada hari Jumat. Ini menggambarkan
urgensi dan uniknya dari psikolog komunitas – mereka seperti bagian dari sosial dan juga
bagian disipilin profesional dan ilmiah.

How can Comunity Psychology Help You?


Peran dari Psikologi Komunitas adalah:
• Mengenai sumber daya dan kekuatan orang.
• Bekerja untuk memecahkan rintangan sosial yang ada.
• Menekankan pemberdayaan dan kolaborasi daripada memberikan perintah untuk
solusi.
• Mendorong saling berbagi keterampilan dan pengetahuan.
• Menerima bahwa semua penelitian memiliki nilai.
• Menggunakan metode penelitian kualititatif dan kuantitatif untuk memahami
masalah sosial.

Seorang Psikolog Komunitas memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk:


• Melakukan peneltian berbasis komunitas
• Menilai kebutuhan kelompok dan masyarakat
• Melakukan analisis kebijakan dan pengembangan
• Mengevaluasi dan mengkoordinasi proyek berbasis masyarakat
• Training staf
• Memberikan advokasi
• Memfasilitasi kelompok
• Mengembangkan dan melaksanakan program promosi dan edukasi kesehatan
• Mengelola dan mempromosikan perubahan dalam sistem, organisasi, dan komunitas

Konsep kunci psikologi komunitas:


Analisis berbagai tingkat ekologis ➔ Psikologi komunitas menekankan pemahaman
terhadap permasalahan sosial dalam berbagai tingkatan, termasuk:
✓ Individual dan hal kecocokan orang terhadap lingkungannya
✓ Mikrosistem, merupakan lingkungan dimana individu memiliki kontak langsung,
seperti kelas, tim olahraga, dan kelompok swadaya
✓ Organisasi, lebih besar daripada mikrosistem dimana individual menjadi bagian dari
hal tersebut, seperti paduan suara, organisasi sekolah/kantor
✓ Lokalitas, mencakup komunitas seperti lokasi geografi, seperti kecamatan, RT, hingga
kota
✓ Sistem makro, mencakup masyarakat seperti pemerintahan dan budaya.

Psikologi komunitas fokus untuk merubah sistem dan struktur yang terlibat dalam
individu dalam menyesuaikan diri dalam lingkungannya.

Psikologi komunitas ini memiliki visi tunggal yaitu untuk membantu orang atau
lingkungan yang relatif tidak berdaya, bagian luar dan dalam institusi, dan mengambil
alih lingkungan dan kehidupan mereka. Psikolog komunitas seperti memakai “banyak
topi” dalam menciptakan sistem sosial, yang: (1) mempromosikan pertumbuhan individu
dan mencegah masalah kesehatan mental dan sosial sebelu terjadi; (2) menyediakan
intervensi langsung dan tepat dimana mereka paling dibutuhkan; (3) memungkinkan
mereka yang diberi label “menyimpang” agar mereka dapat hidup layak bermatabat,
didukung, dan diberdayakan, serta dapat memberikan kontribusi sebagai anggota
masyarakat.

Ada beberapa yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komunitas, yaitu
pencegahan dan pemberdayaan.

Pencegahan dalam Psikologi Komunitas


Ada tiga jenis pencegahan: primer, sekunder, & tersier. Pencegahan primer adalah upaya
melawan keadaan yang memungkinkan timbulnya gangguan sebelum gangguan itu
terjadi. Yang termasuk adalah pencegahan primer, antara lain pemberian gizi bagi balita,
imunisasi, konseling pranikah. Pencegahan sekunder adalah usaha diagnosis dini atas
suatu keadaan dan bertujuan agar dapat dilakukan terapi atau treatment pada tahap dini
atau tahap awal gangguan. Misalnya deteksi suatu keadaan gangguan neurologis minimal
yang dapat ditindaklanjuti segera pada tahap awal. Pemeriksaan (screening) harus sering
dilakukan terhadap sejumlah besar populasi yang tidak mencari pertolongan karena
mereka jarang merasa mempunyai penyakit. Pencegahan tersier adalah upaya rehabilitas
terhadap orang-orang yang memerlukan penyesuaian kembali karena penyakit atau
trauma yang pernah dialaminya. Rehabilitasi ini dapat beruba konseling, pelatihan, dan
lain-lain.

Pemberdayaan dalam Psikologi Komunitas


Pemberdayaan adalah upaya mencegah individu atau kelompok individu yang terkena
suatu dampak perubahan lingkungan yang merugikan – korban penipuan, kesewenang-
wenangan, dan lain-lain. Ada beberapa kelompok rentan dalam masyaraat yang perlu
diperhatikan, misalnya remaja yang rentan terhadap pengaruh sebayanya yang
menkonsumsi narkoba, TKW yang di ‘ekspor’ ke luar negeri tanpa bekal pengetahuan dan
kompentensi yang memadai, lanjut usia yang terlempar dari keluarganya sendiri,
pensiunan yang tidak dimanfaatkan, dan lain-lain.
NEUROPSIKOLOGI
Neuropsikologi adalah studi tentang hubungan antara otak-perilaku. Klinikal
neuropsikologi adalah aplikasi dari pengetahuan ini dalam asesmen dan pengobatan dari
cedera dan penyakit neurologis (Broake, 2008). Neuropsikologi klinis membahas efek
pada fungsi masalah neuropsikologis, termasuk masalah-masalah genetis, cedera terkait
kelahiran, cedera kepal akibat kecelakaan olahraga, kecelakaan mobil, tumor otak,
infeksi, penyakit seperti multiple sclerosis, penyakit cerebrovaskular, epilepsi, penyakit
neurodegenaratif seperti alzheimer dan parkinson, dan efek-efek dari paparan toxin
lingkungan, dan efek dari kemoterapi (Cairns, 2004). Pada awalnya aktivitas utama
neuropsikologi merupakan sebuah aktivitas diagnostik dimana mereka mengembangkan
tes-tes yang dikembangkan untuk membantu lokalisasi dari lesi di otak. Asesmen
neupsikologi dahulu untuk menentukan apakah ada dasar organik terhadap masalah
psikologis dan perilaku, dan jika demikian untuk mengidentifikasi secara tepat area otak
yang terpengaruh (Goldstein & McNeil, 2004). Dengan berkembangnya tehnik pencitraan
yang efektif pada otak seperti MRI (magnetic resonance imaging) dan fMRI (functional
magnetic resonance imaging) sehingga telah melahirkan cara alternatif untuk
mengidentifikasi disfungsi otak secara tepat. Sehingga neuropsikologi mengembangkan
fokusnya untuk menangani kesulitan-kesulitan kognitif, emosional, psikososial, dan
perilaku sebagai hasil dari hasil cedera di otak.

Asesmen dalam Neuropsikologi


Yang termasuk dalam asesmen neuropsikologi adalah memeriksa memori, penalaran
abstrak, problem-solving, kemampuan spasial, dan konsekuensi emosional dari disfungsi
otak (Groth-Marnat, 2000). Asesmen dalam Neuropsikologi dapat menjawab pertanyaan
seperti contoh kasus di bawah:
Tujuan dari Asesmen Neuropsikologi (Contoh kasus):
Diagnosis
• Apakah si anak menunjukkan tanda-tanda terkena zat beracun?
• Apakah keluhan memori pasien berhubungan dengan demensia atau depresi?
Prognosis
• Sampai sejauh mana kemampuan anak dalam belajar bahasa dipengaruhi oleh cedera
kepalanya?
• Berapa lama waktu yang wajar untuk orang ini tinggal mandiri mengingat
kemampuan memorinya menurun?
Treatment Planning and Rehabilitation
• Alat bantu pembelajaran khusus apa yang dibutuhkan anak yang memiliki kesulitan
belajar?
• Jika pasien yang mengalami stroke kembali bekerja, jenis adaptasi apa yang
diperlukan untuk mengkompensasi defisit terkait stroke?
• Yang bisa dilakukan untuk menolang orang ini yang kehilangan memori yang ringan?
Legal Proceedings
• Apakah ada bukti bahwa disfungsi otak bisa dikaitkan dengan orang yang melakukan
tindakan kekerasan?

Intervensi
Dibandingkan dengan sejarah perawatan untuk gangguan mental, sejarah intervensi
untuk individu dengan gangguan neurokognitif relatif singkat. Rehabilitasi adalah sebuah
proses interaktif antara pasien dan penyedia layanan yang dirancang untuk
memungkinkan orang tersebut berfungsi semaksimal mungkin. Menggunakan
terminologi dari WHO, beberapa intervensi dirancang untuk mengatasi gangguan dengan
mengajarkan strategi pasien baru pada pasien; intervensi lain dirancang untuk
mengkompensasi gangguan dengan memodifikasi lingkungan atau dengan menggunakan
alat agar pasien mampu melakukan suatu aktivitas; dan beberapa intervensi lain
membahas rintangan sosial, psikologis, fisik terhadap partisipasi orang tersebut
(Lemsky, 2000). Perencanaan treatment melibatkan kolaborasi dengan klien untuk
mengidentifikasi hasil yang diinginkan. Wilson (2008) menggunakan akronim SMART
untuk menggaris-bawahi pentingnya menetapkan tujuan yang Spesific, Measurable,
Achievable, Realistic, dan Timely.

PSIKOLOGI FORENSIK
Psikologi forensik merupakan penerapan metode, teori, dan konsep psikologi terhadap
sistem hukum (Wrightsman, Nietzel, dan Fortune, 1998).
Kegiatan Psikolog dalam Psikologi Forensik (Phares, 1992):
1. Psikolog dapat menjadi saksi ahli. Ada perbedaan antara saksi ahli dan saksi biasa.
Seorang saksi ahli harus mempunyai kualifikasi ➔ dalam hal ini clinical expertice,
meliputi pendidikan, lisensi, pengalaman, kedudukan, penelitian, publikasi,
pengetahuan, aplikasi, prinsip-prinsip ilmiah, serta penggunaan alat tes khusus.
2. Psikolog dapat menjadi penilai dalam kasus-kasus kriminal, misalnya menentukan
waras/tidaknya (sane/insane) pelaku kriminal.
3. Psikolog dapat menjadi penilai bagi kasus-kasus sipil. Termasuk di dalamnya
menentukan layak/tidaknya seseorang masuk rumah sakit jiwa, kekerasan dalam
keluarga, dan lain-lain.
4. Psikolog juga dapat memperjuangkan hak untuk memberi/menolak pengobatan bagi
seseorang.
5. Psikolog diharapkan dapat memprediksi bahaya yang mungkin berkaitan dengan
seseorang. Misalnya dampak baik/buruk mempersenjatai seseorang. Psikolog
diharapkan tau tentang motivasi, kebiasaan, dan daya kendali seseorang.
6. Psikolog dapat memberikan treatment sesuai dengan kebutuhan.
7. Psikolog diharapkan dapat menjalankan funsgi sebagai konsultan dan melakukan
penelitian di bidang psikologi forensik.

Nietzel dkk (1998) menyimpulkan bahwa ada lima pokok bahasan psikologi forensik,
yaitu:
1. Kompetensi untuk menjalani proses pengadilan serta tanggung jawab kriminal.
2. Kerusakan psikologis yang mungkin terjadi dalam pengadilan sipil
3. Kompetensi sipil
4. Otopsi psikologis dan criminal profiling
5. Hak asuh anak dan kelayakan orang tua (parental fitness).

Yang dimaksudkan dengan otopsi psikologi ialah kegiatan psikolog dalam melakukan
asesmen terhadap seseorang yang sudah meninggal. Asesmen ini diminta oleh
pengadilan untuk mengetahui keadaan psikis orang itu sebelum meninggal. Selanjutnya
dapat diketahui penyebab kematiannya, apakah karena bunuh diri, kecelakaan, dan lain-
lain. Ini dilakukan untuk menentukan wajib/tidaknya suatu perusahaan memberikan
kompensasi kepada keluarga korban.

Criminal profiling memiliki persamaan dengan otopsi psikologi. Keduanya sama-sama


menentukan keadaan psikis atas data yang ditinggalkan seseorang. Pertanyaan dalam
criminal profiling adalah siapa yang melakukan ➔ pelaku belum diketahui. Perbuatan
krimial sering meninggalkan jejak. Criminal profiling bertujuan mencari pelaku dan
penyebabkan berdasarkan tanda-tanda yang ditinggalkan (Nietzel dkk, 1998).