Anda di halaman 1dari 16

OLEOKIMIA III

KELOMPOK 2

Dosen Pengampu:

Ir. R.TD. Wisnu Broto, M.T.

Disusun Oleh:

Zulfa Wulandari Rasyid 40040118650005

Azizah Azhar 40040118650009

Inggrit Pangestu Ayuningtyas 40040118650030

Aisyah Nuraini 40040118650048

Maudina Yunia Rahma 40040118650051

Lulu Nafysatul Alwi 40040118650064

Oktavia Dityaningrum 40040118650069

Cover
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN

TEKNOLOGI REKAYASA KIMIA INDUSTRI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2021
DAFTAR ISI

Cover...........................................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................2
1.3 Tujuan..........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................3
2.2 Biodiesel......................................................................................................................3
2.3 Jarak.............................................................................................................................4
2.4 Minyak Jarak...............................................................................................................4
2.5 Transesterifikasi..........................................................................................................5
2.6 Esterifikasi...................................................................................................................6
BAB III PEMBAHASAN..........................................................................................................7
3.1 Flowsheet.....................................................................................................................7
3.2 Cara Kerja....................................................................................................................7
3.3 Blok Diagram............................................................................................................10
BAB IV PENUTUP.................................................................................................................11
4.1 Kesimpulan................................................................................................................11
Daftar Pustaka..........................................................................................................................12

ii
KATA PENGANTAR

Terima kasih segala puji bagi Tuhan YME yang telah memberikan anugerah dan
kemudahan penyusun untuk dapat menyelesaikan makalah ini dengan maksimal. Makalah
ini merupakan tugas kelompok dari Mata Kuliah Oleokimia III
Ucapan terimakasih tidak lupa penulis sampaikan kepada bapak Ir. R.TD. Wisnu
Broto, M.T selaku dosen pengampu mata kuliah Oleokimia III yang telah membimbing
dan memberikan dasar pengetahuan sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan
waktunya. Makalah ini berisi mengenai merancang diagram blok dari flowsheet.
Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat membantu para pembaca serta penulis
sendiri untuk mengetahui dan memahami mengenai merancang diagram blok dari
flowsheet.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih
terdapat kesalahan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
akan penyusun terima demi penyempurnaannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
dan diaplikasikan bagi penyusun secara khusus dan pembaca secara umum.

Semarang, 16 Mei 2021

Penyusun

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring berjalannya waktu, kebutuhan energi semakin meningkat dan tidak
dapat dihindari dari kehidupan masyarakat. Peningkatan ini akan terus terjadi seiring
dengan meningkatnya populasi manusia, aktivitas industri, dan kemajuan teknologi
transportasi. Salah satu sumber energi yang sering kita gunakan adalah minyak bumi
yang berasal dari fosil. Cadangan bahan bakar minyak di Indonesia semakin hari
semakin menipis dan diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 10-15 tahun lagi.
Saat ini, kelangkaan pasokan energy sering terjadi di sebagian besar wilayah
Indonesia. Kelangkaan tersebut meliputi pasokan BBM, gas, batubara dan energi
listrik (Yunizurwan, 2007).
Salah satu cara untuk mengatasi masalah kelangkaan energi adalah
mengembangkan sumber energi alternatif. Selain semakin menipisnya jumlah
cadangan bahan bakar fosil, penggunaan bahan bakar fosil akan menimbulkan
masalah kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penggerusan fosil, menurunnya
kualitas udara akibat pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung gas belerang
dan menyebabkan kenaikan suhu bumi (global warming). Oleh karena itu, diperlukan
sumber energi lain sebagai energi alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah
lingkungan.
Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari minyak nabati (tanaman atau
lemak nabati) yang disebut dengan bahan bakar nabati (BBN). Biodiesel juga sangat
komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain, seperti memiliki kerapatan energi
per volume yang lebih tinggi, memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin karena
termasuk kelompok minyak tidak mengering (non drying oil), mampu mengurangi
emisi karbondioksida dan efek rumah kaca, memiliki karakter pembakaran relatif
bersih, lebih mudah ditransportasikan, biaya produksi rendah, dapat diperbarui
(renewable), dapat terurai (biodegrable). Disamping itu, emisi gas buang dari
biodiesel ini bebas dari sulfur, tidak beracun (non toxic), dan terbakar sempurna
dengan bilangan asap (smoke number) yang lebih tinggi yaitu 62 sehingga biodiesel
memiliki sifat ramah lingkungan.
Dalam pembuatan biodiesel menggunakan proses “transesterifikasi” yaitu
dengan mengubah trigliserida menjadi metil ester dan gliserol. Molekul trigliserida

1
akan melepaskan tiga asam lemak menggantikan gugus alkohol dari ester dengan
gugus alkohol lain. Dalam proses ini, menggunakan basa atau asam sebagai
katalisnya. Hal ini bertujuan untuk menurunkan viskositas dan meningkatkan daya
pembakaran minyak, sehingga dapat memenuhi syarat sebagai bahan bakar alternatif
(Susilo, 2006).
Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai berbagai jenis
tumbuhan yang mempunyai potensi sebagai bahan baku biodiesel yang dikelola oleh
komoditas perkebunan penghasil minyak nabati. Komoditas perkebunan penghasil
minyak nabati di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel
diantaranya ubi kayu, kelapa sawit, kelapa, kacang, jagung dan jarak pagar. Sebagian
besar minyak nabati banyak diproduksi untuk keperluan pangan. Untuk itu
dibutuhkan tanaman yang menghasilkan minyak bukan untuk keperluan pangan tetapi
untuk menggantikan BBM. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku
pembuatan biodiesel adalah tanaman jarak. Sehingga pemanfaatannya sebagai bahan
baku biodiesel tidak akan mengganggu penyediaan kebutuhan minyak nabati (makan)
nasional, kebutuhan industri oleokimia dan ekspor Crude Palm Oil.
Mengingat semakin meningkatkannya kebutuhan energy dan semakin
menipisnya cadangan energi maka peranan biodiesel dari minyak jarak sebagai
energi alternatif menjadi sangat penting sehingga banyak dilakukan perancangan
industri biodiesel dari minyak jarak. Biodiesel dari minyak jarak ini, merupakan
bahan bakar yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui sehingga dapat
mengurangi jumlah impor solar.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Flowsheet produksi biodiesel dari minyak jarak ?
1.2.2 Bagaimana cara kerja produksi biodiesel dari minyak jarak ?
1.2.3 Bagaimana membuat diagram blok berdasarkan flowsheet dan cara
kerja produksi biodiesel dari minyak jarak ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Memahami Flowsheet produksi biodiesel dari minyak jarak
1.3.2 Memahami cara kerja produksi biodiesel dari minyak jarak
1.3.3 Memahami diagram blok berdasarkan flowsheet dan cara
kerja produksi biodiesel dari minyak jarak

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester
dari rantai panjang asam lemak yang digunakan sebagai bahan alternatif mesin diesel
yang terbuat dari sumberdaya hayati yang berupa minyak lemak nabati atau lemak
hewani yang mengandung trigliserida. Proses pembuatan biodiesel dari minyak nabati
disebut transesterifikasi. Transesterifikasi merupakan perubahan bentuk dari ester
menjadi bentuk ester yang lain. Ester merupakan suatu rantai hidrokarbon yang terikat
akan terikat dengan molekul yang lain. Satu molekul minyak nabati terdiri dari tiga
ester yang terikat pada satu molekul gliserol.Sekitar 20% molekul minyak nabati
adalah gliserol (Syah, 2006).
Biodiesel bersifat ramah lingkungan dan dapat diperbaharui (renewable) dapat
terurai (biodegradable), memiliki sifat pelumasan terhadap piston karena termasuk
kelompok minyak yang tidak mengering, mampu mengeliminasi efek rumah kaca dan
kontiunitas ketersediaan bahan baku terjamin. Biodiesel bersifat ramah lingkungan
karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan minyak
diesel/solat, yaitu sulfur, bilangan asap rendah dan angka cetana antara 57-62,
terbakar sempurna dan tidak beracun (Said, 2010).
Biodiesel tidak secara spontan meletup atau menyala dalam keadaan normal
karena mempunyai titik bakar yang tinggi, yaitu 150⁰ C. Hal ini berbeda dengan
bahan bakar diesel minyak bumi yang titik bakarnya hanya 52⁰ C. Sedangkan emisi
biodiesel jauh lebih rendah daripada emisi diesel minyak bumi. Biodiesel mempunyai
karakteristik emisi seperti berikut (Syah, 2006):
1. Emisi karbon dioksida netto (CO2) berkurang 100%.
2. Emisi sulfur dioksida berkurang 100%.
3. Emisi debu berkurang 40-60%.
4. Emisi karbon monoksida (CO) berkurang 10-50%.
5. Emisi hidrokarbon berkurang 10-50%.
6. Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) berkurang, terutama PAH yang
beracun, seperti : phenanthren berkurang 97%, benzofloroathen berkurang
56%, benzapyren berkurang 71%, serta aldehid dan senyawa aromatik
berkurang 13%.
7. Meningkatkan emisi nitro oksida (NOx) sebesar 5-10%, tergantunga umur
kendaraan dan modifikasi mesin.

3
2.3 Jarak
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linneaus) merupakan tanaman yang
dikenal sebagai tanaman konservasi karena sifatnya yang sangat toleran terhadap jenis
tanah dan iklim. Tanaman ini sangat cepat tumbuh dan struktur akarnya yang mampu
menahan erosi (Heyne, 1987). Tanaman ini memiliki batang berkayu, berbentuk
silinder dan jika tergores mengeluarkan getah. Daun tanaman jarak pagar lebar dan
berbentuk jantung dengan panjang 5 – 15 cm. Bunga tanaman ini merupakan bunga
majemuk yang berbentuk malai dan berwarna kuning kehijauan. Buah tanaman jarak
berbentuk telur dengan diameter 2 – 4 cm dan memiliki 3 ruang dengan masing-
masing ruang terdapat satu biji yang berbentuk bulat lonjong berwarna coklat
kehitaman. Biji ini mengandung minyak dengan rendemen 30-50% ( Said, 2010).
Selain itu tanaman ini megandung toksin sehingga tidak dapat dikonsumsi
oleh manusia jadi, tidak menggangu penyediaan minyak nabati di Indonesia.
Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan penyediaan bahan baku
tanaman penghasil bahan bakar alternatif terutama untuk tanaman jarak pagar.
Adapun daerah-daerah peningkatan pengembangan jarak pagar di Indonesia yaitu
Sumatra Barat, Sumatra Utara, Lampung, Banten, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Barat, Flores, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Lombok, Gorontalo, dan
Papua.

2.4 Minyak Jarak


Minyak Jarak pagar diperoleh dari biji dengan metode pengepresan atau
ekstraksi menggunakan pelarut. Berdasarkan hasil penelitian biji jarak mengandung
minyak sebesar 46%, dan jika dipress dengan menggunakan alat pengepress minyak
sederhana seperti hydraulik press, maka dapat diperoleh rendemen minyak jarak
sebesar 22-27% (Julianti, 2005). Minyak jarak pagar secara umum tidak digunakan
sebagai bahan nutrisi manusia karena mengandung racun yang disebabkan adanya
senyawa ester phorbol. Pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel
memberikan peluang sangat besar karena minyak jarak pagar tidak dapat dikonsumsi
sebagai minyak makan (non edible oil).
Minyak jarak pagar memiliki viskositas, kelarutan dalam alkohol, dan
bilangan asetil relatif tinggi. Minyak jarak pagar larut dalam etil-alkohol 95% pada
suhu kamar serta pelarut organik yang polar, dan sedikit yang larut dalam golongan

4
hidrokarbon alfatis. Nilai kelarutan dalam petroeleum eter relatif rendah, dan dapat
dipakai untuk membedakan dengan trigliserida lainnya. Kandungan asam lemak
esensial yang sangat rendah menyebabkan minyak jarak berbeda dengan minyak
nabati lainnya (Ketaren, 2005).
Minyak jarak pagar sebagai salah satu sumber bahan baku alternatif
merupakan salah satu solusi yang tepat, karena dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan biodiesel. Karakteristik minyak jarak pagar dengan minyak diesel tidak
banyak berbeda, minyak jarak pagar memiliki kadar sulfur yang lebih rendah, serta
nilai cetane yang lebih tinggi sehingga aman bagi lingkungan.

2.5 Transesterifikasi
Transesterifikasi adalah reaksi ester untuk menghasilkan ester baru yang
mengalami penukaran posisi asam lemak. Transesterifikasi dapat menghasilkan
biodiesel yang lebih baik dari proses mikroemulsifikasi, pencampuran dengan
petrodiesel atau pirolisis. Reaksi transesterifikasi untuk memproduksi biodiesel tidak
lain adalah reaksi alkoholis, reaksi ini hampir sama dengan reaksi hidrolisis tetapi
menggunakan alkohol. Reaksi ini bersifat reversible dan menghasilkan alkil ester dan
gliserol. Alkohol berlebih digunakan untuk memicu reaksi pembentukan produk
(Khan, 2002). Alkohol yang digunakan sebagai pereaksi untuk minyak nabati adalah
metanol, namun dapat juga etanol, isopropanol atau butyl, tetapi perlu diperhatikan
juga kandungan air dalam alkohol. Bila kandungan air tinggi akan mempengaruhi
hasil biodiesel kualitasnya rendah, karena kandungan sabun, ALB dan trigliserida
tinggi (Rahayu, 2005).
Reaksi pada proses ini biasanya berjalan dengan lambat namun dapat
dipercepat dengan bantuan suatu katalis. Katalis yang banyak digunakan adalah
katalis basa, namun katalis asam juga dapat digunakan terutama pada minyak nabati
yang kadar asam lemak bebasnya tinggi. Katalis basa dinilai lebih baik dari katalis
basa karena katalis basa mampu bereaksi dengan berjalan pada suhu lebih rendah,
bahkan suhu kamar. Adapun katalis basa yang digunakan adalah NaOH, KOH,
karbonat dan antioksida dari Natrium dan Kalsium.

5
2.6 Esterifikasi
Esterifikasi merupakan tahap konversi dari asam lemak menjadi metil ester.
Proses ini mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis yang cocok adalah
asam kuat misalnya asam sulfat, asam sulfonat organik atau resin penukar anion asam
kuat. Tetapi tidak direkomendasikan untuk penggunaan katalis berkarakter asam kuat
karena sifatnya korosif terhadap peralatan.
Reaksi dapat berlangsung lebih sempurna pada temperatur rendah (misalnya
paling tinggi 120⁰C ), reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang sangat
berlebih (lebih besar dari 10 kali nisbah stoikiometrik) dan air produk ikutan reaksi
harus disingkirkan dari fasa reaksi, yaitu fasa minyak. Dengan melalui kombinasi-
kombinasi yang tepat dari kondisi reaksi dan metode penyingkiran air, konversi yang
sempurna dari asam-asam lemak menjadi metil ester dapat dituntaskan dalam waktu 1
sampai beberapa jam.
Dalam pembuatan biodiesel dari minyak berkadar asam lemak bebas tinggi,
dapat dilakukan dengan menggunakan proses esterifikasi. Pada tahap ini, asam lemak
bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Sebelum produk esterifikasi
diumpankan ke tahap transesterifikasi, air dan bagian terbesar katalis asam yang
dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu (Hikmah, 2010).

6
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Flowsheet

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Pembuatan dan pretreatment minyak jarak
Buah jarak pagar dikeringkan di dalam oven pada suhu 110°C selama
1 jam. Buah yang telah dikeringkan kemudian dikupas untuk memisahkan biji
dari kulit buah. Selanjutnya kulit biji dipisahkan dari daging biji, dihaluskan
dengan menggunakan mesin giling dan diayak dengan ukuran partikel
berdiameter 1-2 mm. Ekstraksi minyak jarak pagar dilakukan dengan
menimbang biji jarak halus dikeringkan di dalam oven selama 1 jam pada
suhu 60°C selanjutnya ditekan dengan menggunakan jack press. Minyak jarak
kasar yang diperoleh dimurnikan dengan proses degumming diikuti
penambahan antioksidan Butylated Hidroxy Toluen (BHT) masing-masing
0,3% (b/b) dan 0,1% (b/b) kedalam 2 gelas yang masing-masing telah diisi

7
dengan minyak jarak hasil pemurnian dan dipanaskan diatas pemanas air pada
suhu 95°C selama ±1 jam untuk menghilangkan kadar air.
3.2.2 Proses esterifikasi
Pada tahapan esterifikasi, suhu minyak diturunkan menjadi 60°C
menggunakan pengadukan dengan kecepatan 300 rpm. Perbandingan yang
digunakan antara minyak dan methanol adalah 1:6 serta 1% katalis dari berat
minyak jarak. Pencampuran dilakukan pada suhu 60°C selama 2 jam. Hasil
konversi mencapai 65%. Pada dinding luar reaktor dipasang jaket pendingin
agar temperatur selama proses bisa dijaga konstan dan methanol tidak
menguap. Hasil proses dari reaktor berupa metil ester, minyak, air, katalis, dan
sisa methanol menjadi metil ester + minyak + uap methanol pada bagian atas
dan sisanya berupa H2SO4 + H2O terpisah menuju ke bagian bawah. Produk
bawah kemudian dialirkan menggunakan pipa menuju ke kondensor untuk
didinginkan suhunya kemudian menuju adsorber untuk menyerap hasil produk
yang tidak diinginkan sebelum dilakukan tindakan selanjutnya. Bisa di
recovery untuk menghasilkan H2SO4 pekat atau dibuang.
3.2.3 Proses transesterifikasi-1
Methanol dan katalis basa KOH dihomogenkan dalam KOH-methanol
mixer sehingga terbentuk Kalium Metoksida kemudian hasil pencampuran
ditampung dalam Methoxide Storage. Senyawa ini lah yang dialirkan menuju
reaktor transesterifikasi-1 dan reaktor transesterifikasi-2. Setelah reaksi
esterifikasi selesai, dilakukan tahap pemisahan fasa antara metil ester dengan
air. Sisa metanol di-recovery ke dalam reaktor esterifikasi, sedangkan air akan
menuju ke unit recovery metanol. Kemudian metil esterr hasil esterifikasi
diolah pada unit transesterifikasi. Pada reaktor transesterifikasi ditambahkan
metoksida yang berasal dari unit penyimpanan metoksida (pencampuran
metanol dengan katalis basa alkali, yaitu KOH). Produk hasil esterifikasi
dengan suhu 60°C dipompa ke dalam reaktor transesterifikasi-1. Reaktor ini
dilengkapi pemanas dan pengaduk, yaitu saat pemanasan juga dilakukan
pengadukan dengan kecepatan kurang lebih 300 rpm. Pemanasan awal
campuran menggunakan TIC dengan media pemanas berupa reboiler sehingga
suhu campuran naik menjadi 65°C. Selanjutnya, dilakukan pemanasan lagi,
hal ini bertujuan agar suhu campuran mendekati kondisi operasi optimum
yaitu 70-80°C. Setelah reaksi transesterifikasi selesai, dilakukan tahap

8
pemisahan fasa antara metil ester dengan gliserol. Metanol yang tersisa di-
recovery kembali ke dalam reaktor transesterifikasi-2 sedangkan gliserol akan
menuju ke tangki penyimpanan gliserol. Metil ester hasil reaksi
transesterifikasi akan diolah pada unit reaktor transesterifikasi-2. Pada settling
tank terbentuk lapisan atas berupa biodiesel dan lapisan bawah berupa gliserol
serta minyak yang belum bereaksi secara sempurna. Lapisan biodiesel yang
terbentuk akan diproses kembali ke transesterifikasi-2 dan lapisan bawah yaitu
gliserol akan masuk ke dalam thick glycerol storage.
3.2.4 Proses Transesterifikasi-2
Transesterifikasi dilakukan sebanyak 2 tahap, hal tersebut ditujukan
untuk mendorong kesetimbangan lebih ke kanan. Selain itu dilakukan 2 tahap
dengan tujuan mengurangi jumlah alkohol, namun tetap dapat menghasilkan
yield biodiesel yang maksimum. Sebelumnya, methanol dan katalis basa KOH
yang dihomogenkan dalam KOH-methanol mixer sehingga terbentuk Kalium
Metoksida dialirkan menuju reaktor Transesterifikasi-2. Untuk menjaga proses
dan menjaga agar methanol tak menguap didalam reaktor 2, maka
dipasangkan jaket yang berfungsi sebagai pendingin. Dalam reaktor ini terjadi
proses pencampuran hasil dari settling tank dengan Kalium Metoksida.
Reaktor kedua yang dilengkapi dengan pengaduk dan pendingin digunakan
untuk mengontakkan metil ester dengan sisa metanol dan KOH untuk
menghilangkan sisa katalis, gliserol dan sabun. Hasil akan menuju ke settling
tank-2 untuk memisahkan antara metil ester dengan gliserol dengan
mengontakkan air. Ketika air bersentuhan dengan biodiesel, pengadukan
pengaduk tidak bisa terlalu turbulen, pencampuran yang pelan harus dilakukan
untuk mencegah pembentukan emulsi. Setelah emulsi terbentuk, pemisahan
antara air dan fase berminyak menjadi sangat sulit. Setelah terkena air,
biodiesel yang masih mengandung uap air harus dihilangkan sehingga kadar
air harus di bawah 500 ppm. Di tangki ini, kelembaban dihilangkan dengan
cara pemanasan dan operasi vakum. Metil ester hasil reaktor-2 akan diolah
pada unit pemurnian sedangkan gliserol akan menuju ke thin gliserol storage.
3.2.5 Unit Pencucian
Pada unit ini terdiri dari tahap pencucian dengan air, dan pengeringan
dengan sistem recycle-vacuum. Tujuan dari pencucian yaitu untuk melarutkan
bahan-bahan yang masih terbawa didalam metil ester (biodiesel) seperti

9
methanol, air, gliserol, dan katalis. Setelah dilakukan pencucian, hasil dari
Washing Tank yang masih mengandung sedikit air akan dipompa menuju
Water Evaporator bertujuan untuk menghilangkan kandungan air yang masih
ada dalam biodiesel. Pada lapisan atas biodiesel dan gliserol yang diperoleh
masih kasar karena masih mengadung zat-zat pengotor sehingga dilakukan
proses evaporasi dengan alat Evaporator dengan kondisi vakum agar air dan
methanol sisa yang mengotori biodiesel dan gliserol menguap dan biodisel
menjadi murni. Selanjutnya produk akhir berupa biodiesel akan ditampung
didalam tangki penyimpanan biodiesel dan gliserol dimana sebelum disimpan,
gliserol dilakukan pemurnian kembali terlebih dahulu dengan mengalirkan ke
methanol evaporator untuk menghilangkan methanol agar produk yang
dihasilkan lebih murni.

10
3.3 Blok Diagram

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester
dari rantai panjang asam lemak yang digunakan sebagai bahan alternatif mesin
diesel yang terbuat dari sumberdaya hayati yang berupa minyak lemak nabati atau
lemak hewani yang mengandung trigliserida. Proses pembuatan biodiesel yang
berasal minyak nabati terdiri dari transesterifikasi dan esterifikasi. Bahan yang
dapat dijadikan bahan baku biodiesel adalah minyak jarak pagar, karena bahan ini
tidak digunakan sebagai bahan makanan, sehingga keberadaannya melimpah.

11
Proses produksi biodiesel diawali dengan pembuatan dan pretreatment minyak
jarak, kemudian dilanjutkan dengan proses esterifikasi, transesterifikasi-1, proses
tramsesterifikasi-2, dan diakhiri dengan melalui unit pencucian.

12
Daftar Pustaka
Heyne, K.,1987,Tumbuhan Berguna Indonesia, Volume II, Yayasan Sarana Wana Jaya :
Diedarkan oleh Koperasi Karyawan, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.

Hikmah, M.N. dan Zuliyana, 2010, “Tugas Akhir; Pembuatan Metil E www.nist.com ster
(Biodiesel) dari Minyak Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan
Transesterifikasi”, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro,
Semarang

Julianti, E., 2005. Pengembangan Minyak Jarak Pagar Sebagai Biodiesel, Medan: Universitas
Sumatera Utara.

Ketaren, S. 2008. Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama. Jakarta : Universitas
Indonesia Press.

Said, Muhammad, 2009, “Jurnal Penelitian, Metanolisis Minyak Jarak Pagar Menghasilkan
Biodiesel: Pengaruh Waktu Reaksi, Jumlah Katalis dan Rasio Reaktan terhadap
konversi minyak jarak”, Majalah Dinamika Penelitian BIPA, Palembang

Susilo, Bambang, 2006, “Biodiesel; Pemanfaatan Biji Jarak Pagar Sebagai Alternatif Bahan
Bakar”, Trubus Agrisarana, Surabayac

Syah, A., 2006, “Biodiesel Jarak Pagar; Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan”,
Agromedia Pustaka, Jakarta

Rahayu Martini., 2005. “Teknologi Proses Produksi Biodiesel”. Jurnal Prospek


Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak.

Yunizurwan. (2007). Analisis Potensi dan Peluang Ekonomi Biodiesel dari Minyak Jarak
Pagar (Jatropha Curcas L) sebagai Bahan Bakar Alternatif. Tesis Pascasarjana, Teknik
Industri, Universitas Sumatera Utara, Medan.

13