Anda di halaman 1dari 37

STUDI CROSS SECTIONAL PENYAKIT ISPA PADA

BALITA BGM DI PUSKESMAS CEMPAKA


BULAN JUNI 2005

OLEH :

Leonardus S. Wibowo
Mariya Ekawati
Vony Tjandra
Zeldi Ichsan

PEMBIMBING :

Dr. Ihya Ridlo Nizomy, M.Kes

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


BAGIAN/LABORATORIUM IKM/PBL
FAKULTAS KEDOKTERAN
BANJARBARU

AGUSTUS 2005
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 DATA DASAR

1.1.1 Keadaan Geografis

Puskesmas Cempaka terletak di kecamatan Cempaka, kota Banjarbaru,

Propinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di Jalan Gubernur Mistar Cokrokusumo

Kompleks Perkantoran, Kelurahan Sungai Tiung, lebih kurang 7 Km dari ibukota

Banjarbaru.

Wilayah kerja puskesmas terletak pada ketinggian di atas 75 m dari

permukaan laut. Sebagian besar wilayah kecamatan Cempaka ditumbuhi ilalang

dan belukar, juga dijumpai persawahan dan perkebunan terutama di bagian

selatan, dan hutan yang banyak dijumpai di sebelah timur. Keadaan tanah di

wilayah kecamatan Cempaka sebagian besar terdiri dari tanah yang berbatu-batu

dan berpasir yang mengandung bahan galian tambang, seperti intan, emas,

batubara, koral, kerikil, pasir, dll. Sehingga di daerah ini dijumpai kegiatan

penambangan atau pendulangan intan.

Jumlah hujan tertinggi terjadi pada bulan maret, yaitu 425,7 mm,

sedangkan curah hujan terendah terjadi bulan september, yaitu 74,5 mm. Hari

hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September, sedangkan jumlah hari

hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret dan Desember.

2
Batas Wilayah kerja Puskesmas Cempaka adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Kecamatan Banjarbaru Kota Banjarbaru.

2. Sebelah Selatan : Kecamatan Bati-bati Kabupaten Tanah Laut.

3. Sebelah Timur : Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.

4. Sebelah Barat : Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru.

Luas Wilayah kerja Puskesmas Cempaka adalah 146,70 Km2 yang

meliputi empat Kelurahan yaitu :

1. Kelurahan Palam : 14,75 Km2

2. Kelurahan Bangkal : 29,8 Km2

3. Kelurahan Sungai Tiung : 21,5 Km2

4. Kelurahan Cempaka : 80,65 Km2

1.1.2 Data Demografi

Jumlah penduduk di Wilayah kerja Puskesmas Cempaka adalah 23.592

jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 6.511 KK. Jumlah penduduk

Kelurahan Palam sebanyak 2.694 jiwa, Kelurahan Bangkal sebanyak 3.263 jiwa,

Kelurahan Sungai Tiung sebanyak 6.572 jiwa, dan Kelurahan Cempaka sebanyak

11.063 jiwa.

3
Tabel 1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
di Wilayah Kerja Puskesmas Cempaka Tahun 2004

Jenis Kelamin
Kelompok
No Laki- Jumlah
Umur Perempuan
laki
1 00-04 1.265 1250 2.515
2 5 - 9 thn 1.425 1335 2.76
3 10-14 thn 1.265 1285 2.55
4 15-19 1.298 1058 2.356
5 20-24 1.305 1233 2.538
6 25-29 1.061 1160 2.221
7 30-34 1.039 1008 2.047
8 35-39 921 865 1.786
9 40-44 791 704 1.495
10 45-49 392 431 823
11 50-54 427 443 870
12 55-59 194 208 402
13 60-64 273 296 569
14 65-69 92 121 213
15 70-74 125 133 258
16 75+ 61 128 189
17 TT - - -
11.93
Jumlah 11.658 23.592
4
Sumber : Kecamatan Cempaka dalam Angka tahun 2004

4
TT
70 - 74 th
60 - 64 th
50 - 54 th
40 - 44 th Perempuan
laki - laki
30 - 34 th
20 - 24 th
10 - 14 th
00-04
0 500 1000 1500

Grafik 1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin


di Wilayah Kerja Puskesmas Cempaka Tahun 2004

5
Tabel 2. Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Wilayah Kerja
Puskesmas Cempaka Tahun 2004
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Petani Pemilik 2760
2 Petani penggarap 1290
3 Penyekop 117
4 Pengusaha 5
5 Pengrajin 35
6 Buruh tambang 958
7 Buruh bangunan 270
8 Buruh Industri 29
9 PNS 196
10 ABRI 1250
11 Pensiunan 250
Jumlah
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Cempaka tahun 2004

Petani pemilik

Petani
17%
penggarap
3% 3% Penyekop
39%
0%
Pengusaha
4%
14% Pengrajin
0%
2% 18%

Buruh Tambang

Buruh Bangunan

Buruh Industri
Diagram 1.Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Wilayah Kerja
Puskesmas Cempaka Tahun 2004

6
Tabel 3. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Wilayah Kerja
Puskesmas Cempaka Tahun 2004
Tingkat Pendidikan

No Kelurahan Tdk tamat Tamat SD- Tamat SLTA Jumlah


SD SLTP keatas

1 Palam 97 585 95 2790


2 Bangkal 362 469 118 1995
3 Sei Tiung 775 1136 84 949
4 Cempaka 824 1560 406 777
2.058 3750 703 6511
Jumlah
31,61% 57,59% 10,80% 100%
Sumber : Laporan Hasil Pendataan Keluarga Kecamatan Cempaka tahun 2004

1600
1400
1200
1000
Tdk tamat SD
800
SD - SLTP
600
SLTA ke atas
400
200
0
Palam S. Tiung

Grafik 2. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Wilayah Kerja

Puskesmas Cempaka Tahun 2004

7
Tabel 4. Data 10 Jenis Penyakit Terbanyak Puskesmas Cempaka Tahun 2004

Jumlah
No Jenis Penyakit
Kasus
1 Infeksi akut lain Pada Saluran Pernapasan atas (1302) 4738
2 Penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas (22) 2954
3 Tekanan Darah Tinggi (12) 1293
4 Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat (21) 1972
5 Penyakit Kulit Alergi (2002) 742
6 Ginggivitis dan periodental (1503) 733
7 Penyakit Pulpa dan jaringan periapikal (1502) 731
8 Asma (1403) 649
9 Penyakit lain pada Saluran Pernapasan Akut (1303) 631
10 Diare (102) 603

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Cempaka tahun 2004

4738
5000

4000
2954
3000
1972
1293 East
2000
742 733 731 649 631 603
1000

0
1302 12 2002 1502 1303

Grafik 3. Data 10 Jenis Penyakit Terbanyak Puskesmas Cempaka Tahun 2004

Tabel 5.Data Hasil Penemuan Penderita Program P2 ISPA Puskesmas Cempaka


Tahun 2004

8
PENEMUAN PENDERITA
NO BULAN NON PNEMONI PNEMONI
Bayi 1 - 4 Th Jumlah Bayi 1 - 4 Th Jumlah
1 Januari 50 93 143 8 16 24
2 Pebruari 61 131 192 11 11 22
3 Maret 91 167 258 12 25 37
4 April 72 112 184 14 22 36
5 Mei 52 102 154 8 6 14
6 Juni 56 101 157 6 4 10
7 Juli 60 145 205 11 22 33
8 Agustus 83 165 248 5 24 29
9 September 44 152 196 2 11 13
10 Oktober 64 191 255 1 10 11
11 Nopember 43 103 146 3 6 9
12 Desember 68 170 238 2 9 11
TOTAL 744 1632 2376 83 166 249

1.2 Latar Belakang

Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber

daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi

pembangunan nasional melalui pembangunan kesehatan yang ingin dicapai untuk

mewujudkan Indonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan

keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal.2

Masukan gizi telah terbukti merupakan salah satu faktor penting yang

berpengaruh dalam pembangunan dan pembentukan kualitas sumber daya

manusia. Peningkatan kualitas hidup masyarakat akan berhasil dengan baik

apabila dilakukan sedini mungkin, yaitu dengan memberikan perhatian kepada

gizi balita.2

Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah yang cukup berat.

Pada hakekatnya berpangkal pada keadaan ekonomi yang kurang dan kurangnya

pengetahuan tentang nilai gizi dari makanan-makanan yang ada. Makanan yang

9
sehat harus memenuhi syarat kualitas maupun kuantitas, disamping jangan

mengandung zat-zat/organisme-organisme yang dapat menimbulkan penyakit.

Masalah gizi juga timbul karena perilaku gizi seseorang yang salah, yaitu

ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dan kecukupan gizinya. Bila konsumsi

selalu kurang dari kecukupan gizinya, maka seseorang menderita gizi kurang.

Sebaliknya, jika konsumsi melebihi kecukupan gizinya maka yang bersangkutan

akan menderita gizi lebih. Jumlah kebutuhan makanan tidaklah sama pada setiap

orang. Hal ini tergantung pada umur, jenis kelamin, tinggi dan berat badan, jenis

pekerjaan dan keadaan kesehatan orang itu sendiri.3

Anak usia dibawah lima tahun merupakan kelompok umur yang rawan

gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang

paling menderita akibat gizi, dan jumlahnya dalam populasi besar.3

Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui.

Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan

makanannya dan meninggikan kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya

malnutrisi walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh

terhadap infeksi. Kedua-duanya bekerja sinergistik maka malnutrisi bersama-sama

dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan

dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi secara sendiri-sendiri. Akibat gizi

kurang sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang

infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat membawa

kematian.4,5

10
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) masih merupakan masalah

kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini tampak dari hasil Survey Kesehatan

Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 yang menunjukkan bahwa proporsi kematian

bayi akibat ISPA masih 29,5 %. Artinya dari 100 bayi yang meninggal 30 di

antaranya meninggal karena ISPA.2

Berdasarkan data profil kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan

Selatan, prevalensi total di propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 1999 sebesar

17,48 % dan pada tahun 2000 turun menjadi 10,43 %, pada tahun 2001 terjadi

peningkatan prevalensi gizi kurang pada balita total menjadi 12,5 %. Penemuan

jumlah kasus bayi, batita dan balita di bawah garis merah (BGM) melalui program

penimbangan bulanan tahun 2002 oleh Dinas Kota Banjarmasin berjumlah 5326

balita. Dari data rekapitulasi hasil penimbangan balita di Puskesmas Cempaka

periode Januari sampai Maret 2005, ditemukan kasus BGM (kasus baru dan lama)

6 orang bayi, 31 orang batita dan 20 orang balita. Di Puskesmas Cempaka pada

tahun 2004 penyakit ISPA menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit

terbanyak. Jumlahnya mencapai 2376 balita. Pada periode bulan Januari sampai

Juni tahun 2005 sebanyak 1090 balita.

Berdasarkan data tersebut, jumlah balita BGM dan penderita ISPA pada

balita di puskesmas Cempaka cukup tinggi. Namun belum diketahui apakah balita

BGM yang ada tersebut berhubungan dengan penyakit ISPA. Dengan demikian

penelitian ini dilakukan guna membuktikan adanya hubungan balita BGM dengan

penyakit ISPA serta membuktikan apakah balita BGM merupakan faktor risiko

penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Cempaka bulan Juni 2005.

11
1.3 Rumusan Penelitian

Apakah terdapat hubungan antara balita BGM dengan penyakit ISPA dan

apakah BGM itu merupakan faktor risiko penyakit ISPA pada balita di Puskesmas

Cempaka bulan Juni 2005.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antara

balita BGM dengan penyakit ISPA dan untuk membuktikan apakah balita BGM

benar-benar merupakan faktor risiko terhadap terjadinya penyakit ISPA di

Puskesmas Cempaka bulan Juni 2005.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan atau informasi

kepada masyarakat tentang hubungan antara balita BGM dengan penyakit ISPA,

dan bahwa balita BGM merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan

terjadinya penyakit ISPA. Diharapkan pula dapat berguna bagi perkembangan

ilmu pengetahuan umumnya dan ilmu gizi pada khususnya, serta dapat menjadi

data ilmiah bagi penelitian selanjutnya.

BAB II

12
KERANGKA TEORI

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Pengertian Dasar Mengenai Gizi Anak

Istilah gizi di Indonesia baru mulai dikenal sekitar tahun 1956 sebagai

terjemahan dari “nutrion”.5 Kata gizi berasal dari bahasa Arab “ghidza” dibaca

gizi. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi

secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,

metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ,

serta menghasilkan energi.6 Nutrien ialah zat penyusun bahan makanan yang

diperlukan oleh tubuh untuk metabolisme, yaitu air, protein, lemak, karbohidrat,

vitamin dan mineral.5 Bahan makanan ialah hasil produksi pertanian, perikanan

dan peternakan. Beberapa jenis makanan dapat langsung dimakan sebagai

makanan, misalnya buah-buahan, susu, telur dan lain-lain.8

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, merupakan salah satu

faktor primer yang menyebabkan masalah gizi kurang.5 Melaksanakan pemberian

makan yang sebaik-baiknya kepada bayi dan anak, bertujuan sebagai berikut :8

1. Memberikan nutrien yang cukup untuk kebutuhan;

memelihara kesehatan dan memulihkan bila sakit, melaksanakan berbagai

jenis aktifitas, pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta psikomotor.

2. Mendidik kebiasaan yang baik tenteng memakan,

menyukai dan menentukan makanan yang diperlukan.

13
Makanan untuk bayi sehat terdiri dari:8

1. Makanan utama yaitu air susu ibu (ASI): jika ASI sama

sekali tidak ada dapat diberikan makanan buatan sebagai penggantinya.

2. Makanan pelengkap terdiri dari buah-buahan, biskuit,

makanan padat bayi yaitu bubur susu, nasi tim atau makanan lain yang

sejenis

2.1.2 Gizi Status Gizi

Status gizi (nutrition status) merupakan ekspresi dari keseimbangan dalam

bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel

tertentu. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status

gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi

yang digunakan secara efesien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,

perkembangan otak, kemempuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat

setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan

satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh

memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek

toksik atau membahayakan. Baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih

terjadi gangguan gizi.7,9

Status gizi memiliki pengertian status gizi anak atau seseorang pada suatu

saat yang didasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan. Di bawah ini

adalah kategori status gizi menurut indikator yang digunakan dan batas-batasnya,

yang merupakan hasil kesepakatan nasional pakar gizi di Bogor bulan Januari

2000 dan di Semarang bulan Mei 2000, yang tercantum dalam Edaran Dirjen Bina

14
Kesehatan Masyarakat Nomor : KM.03.02.1.4.1298, tanggal 31 Juli 2000 tentang

Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita, Pemantauan Status Gizi (PSG) dan

Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG).9

Tabel 6. Baku Antropometri Menurut Standar WHO-NCHS.9

Indikator Status Gizi Keterangan


Berat Badan menurut Umur Gizi Lebih ≥ 2 SD

(BB/U) Gizi Baik -2 SD sampai +2 SD

Gizi Kurang < -2 SD sampai –3 SD

Gizi Buruk < -3 SD


Tinggi Badan menurut Umur Normal -2 SD sampai + 2 SD

(TB/U) Pendek < -2 SD

Berat Badan menurut Tinggi Gemuk ≥ 2 SD

Badan (BB/TB) Normal -2 SD sampai +2 SD

Kurus < -2 SD sampai –3 SD

Kurus sekali < -3 SD

2.1.3 Pemantauan Pertumbuhan

Pertumbuhan merupakan indikator perkembangan status gizi karena

pertumbuhan merupakan salah satu produk dari keadaan keseimbangan antara

asupan dan kebutuhan zat gizi (status Gizi). Pementauan pertumbuhan merupakan

suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus (berkesinambungan) dan

teratur. Dengan pemantauan pertumbuhan, setiap ada gangguan keseimbangan

gizi panda seorang anak akan dapat diketahui secara dini melalui perubahan

pertumbuhannya. Dengan diketahuinya gangguan gizi secara dini maka tindakan

15
penanggulangannya dapat dilakukan dengan segera, sehingga keadaan gizi yang

memburuk dapat dicegah. Maka pemantauan pertumbuhan merupakan kegiatan

penting dalam rangka kewaspadaan gizi.9

Oleh karena itu kegiatan pemantauan pertumbuhan mempunyai tiga tujuan

penting, yaitu :9

1. Mencegah memburuknya keadaan gizi

2. Upaya meningkatkan keadaan gizi

3. Mempertahankan keadaan gizi yang baik.

Pada dasarnya semua informasi atau data yang diperlukan untuk

pemantauan pertumbuhan balita, bersumber dari data berat badan hasil

penimbangan balita bulanan yang diisikan ke dalam KMS untuk dinilai naik (N)

ate tidaknya (T). Tiga bagian kegiatan penting dalam pemantauan pertumbuhan

adalah :9

1. Ada kegiatan penimbangan yang dilakukan terus menerus

secara teratur

2. Ada kegiatan mengisikan data berat badan anak ke dalam

KMS

3. Ada penilaian naik ate turunnya berat badan anak sesuai

dengan arah garis pertumbuhannya.

Data yang digunakan untuk pemantauan pertumbuhan adalah :

 N, T : Balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhan

panda KMS naik (N) ate tidak naik (T)

 D : Jumlah balita yang ditimbang

16
 O : Balita yang tidak ditimbang bulan sebelumnya

 B : Anak yang baru pertama kali ditimbang panda bulan ini

 BGM : Balita yang berat badannya di bawah garis merah panda KMS

BGM

Ukur kembali Periksa tanda-tanda klinis


panjang/tinggi dan berat kwashiorkor/Marasmus
badan

BB/TB < -3 SD ? Ya Tidak

Tidak ada Ya

Gizi Buruk

Bukan Gizi Buruk

Gambar 1. Mekanisme Pemeriksaan Lanjut Balita BGM5

2.1.4 Gangguan Gizi

Gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Faktor primer

adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas

17
yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan,kurang baiknya distribusi

pangan, kemiskinan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, kebiasaan

makan yang salah. Faktor sekunder meliputi faktor yang menyebabkan zat-zat gizi

tidak sampai di sel-sel pencernaan, seperti gigi-geligi yang tidak baik, kelainan

struktur saluran cerna dan kekurangan enzim.9

Akibat Gizi Kurang pada Proses Tubuh

Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh bergantung panda zat-zat apa

yang kurang. Kekurangan gizi seczrz umum (makanan kurang dalam kuantitas

dan kualitas) menyebabkan gangguan panda proses-proses :5

a.Pertumbuhan

Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai

zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok.

b. Produksi tenaga

Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seseorang

kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas. Orang

menjadi malas, merasa lemah dan produktivitas kerja menurun.

c.Pertahanan tubuh

Daya tahan terhadap tekanan ate stress menurun. Sistem imunitas dan

antibody berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek,

batuk, dan diare. Panda anak-anak hal ini dapat membawa kematian.

d. Struktur dan Fungsi Otak

18
Kurang gizi panda usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan

mental, dengan demikian kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk

maksimal panda usia dua tahun.

e.Perilaku

Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan

perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng dan apatis.

Akibat Gizi Lebih pada Proses Tubuh

Gizi lebih menyebabkan kegemukan ate obesitas. Kelebihan energi yang

dikonsumsi disimpan dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan

merupakan salah satu factor risiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif,

seperti hipertensi, penyakit-penyakit diabetes, jantung koroner, hati dan kantung

empedu.5

2.1.5 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode

penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebanyak 3-6 kali

pertahun. Sebagai kelompok penyakit, ISPA merupakan salah satu penyebab

utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40 – 60% kunjungan

berobat di puskesmas dan 15% - 30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan

dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA.10

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang

menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung

(saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya,

seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.10

19
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan rikectsia.

Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus,

Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus, Bordetella, dan Korinebakterium.

Virus penyabab ISPA antara lain adalah golongan Myxovirus, Adenovirus,

Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpes virus.9 Gejala klinis penyakit

ISPA adalah batuk, pilek, dengan atau tanpa demam. Bila telah terjadi komplikasi

pneumoni terdapat gejala berupa napas cepat dan tarikan dinding dada ke

dalam 10.

2.1.6 Dampak Malnutrisi Terhadap Infeksi

Menurunnya status gizi berakibat menurunnya imunitas penderita terhadap

berbagai infeksi. Tubuh memiliki tiga macam pertahanan untuk menolak infeksi:

a) melalui sel (imunitas selular), b) melalui cairan (imunitas humoral), dan c)

aktivitas leukosit polimorfonukleus.4

Imunitas Seluler

Telah lama diketahui bahwa pada penderita KEP didapat kelenjar timus

dan tonsil yang atrofik, mengurangnya jumlah T-limfosit yang berkorelasi dengan

imunitas seluler. Oleh menurunnya imunitas seluler maka invasi kuman gram

negatif atau kuman-kuman yang biasanya tidak begitu virulen sering

menyebabkan kematian penderita KEP berat.4

Imunitas Humoral

Fagositosis mempunyai peranan yang penting dalam pertahanan tubuh

terhadap berbagai macam infeksi, walaupun beberapa kuman dapat

20
menghindarinya. Bergabungnya komplemen dengan antibodi dapat memperbesar

efisiensi fagositosis dan aktivitas membunuhnya. Stitayah Sirisinta tahun 1975

telah memeriksa kadar imunoglobulin penderita-penderita KEP dan hasilnya

menunjukkan bahwa kadar Ig G, Ig A, Ig M, dan Ig D tidak menurun, bahkan

kadar Ig A dan Ig D meninggi. Pada infeksi berat kadar imunoglobulin lebih

tinggi dibandingkan dengan infeksi ringan, mereka berasumsi bahwa sintesis

antibodi terhadap antigen pada KEP tidak terganggu. Akan tetapi berhasilnya

antibodi dalam menunaikan tugasnya tergantung pada kerja sama dengan

komponen humoral lain yang diberi nama komplemen. Maka walaupun terdapat

kadar antibodi tinggi, jika terdapat gangguan pada sistem komplemen, infeksi

lebih mudah terjadi. Pda penderita KEP kadar komplemen-komplemen serum ini

lebih rendah, terkecuali C4, jika dibandingkan dengan anak sehat. Dari

penyelidikan ini dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun kadar imunoglobulin

pada KEP tidak menurun, bahkan meninggi, pada KEP terdapat gangguan

imunitas humoral yang disebabkan oleh menurunnya komplemen protein.4

Aktivitas Leukosit Polimorfonukleus

Leukosit bertugas untuk manfagositir kuman sebelum membunuhnya.

Pada penderita KEP aktivitas leukosit untuk memfagositir maupun membunuh

kuman menurun.4

BAB III

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESA

3.1 Landarasn Teori

21
Menurunnya status gizi berakibat menurunnya imunitas penderita terhadap

berbagai infeksi. Tubuh memiliki tiga macam pertahanan untuk menolak infeksi:

a) melalui sel (imunitas selular), b) melalui cairan (imunitas humoral), dan c)

aktivitas leukosit polimorfonukleus.4

Imunitas Seluler

Telah lama diketahui bahwa pada penderita KEP didapat kelenjar timus

dan tonsil yang atrofik, mengurangnya jumlah T-limfosit yang berkorelasi dengan

imunitas seluler. Oleh menurunnya imunitas seluler maka invasi kuman gram

negatif atau kuman-kuman yang biasanya tidak begitu virulen sering

menyebabkan kematian penderita KEP berat.4

Imunitas Humoral

Fagositosis mempunyai peranan yang penting dalam pertahanan tubuh

terhadap berbagai macam infeksi, walaupun beberapa kuman dapat

menghindarinya. Bergabungnya komplemen dengan antibodi dapat memperbesar

efisiensi fagositosis dan aktivitas membunuhnya. Stitayah Sirisinta tahun 1975

telah memeriksa kadar imunoglobulin penderita-penderita KEP dan hasilnya

menunjukkan bahwa kadar Ig G, Ig A, Ig M, dan Ig D tidak menurun, bahkan

kadar Ig A dan Ig D meninggi. Pada infeksi berat kadar imunoglobulin lebih

tinggi dibandingkan dengan infeksi ringan, mereka berasumsi bahwa sintesis

antibodi terhadap antigen pada KEP tidak terganggu. Akan tetapi berhasilnya

antibodi dalam menunaikan tugasnya tergantung pada kerja sama dengan

komponen humoral lain yang diberi nama komplemen. Maka walaupun terdapat

kadar antibodi tinggi, jika terdapat gangguan pada sistem komplemen, infeksi

22
lebih mudah terjadi. Pda penderita KEP kadar komplemen-komplemen serum ini

lebih rendah, terkecuali C4, jika dibandingkan dengan anak sehat. Dari

penyelidikan ini dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun kadar imunoglobulin

pada KEP tidak menurun, bahkan meninggi, pada KEP terdapat gangguan

imunitas humoral yang disebabkan oleh menurunnya komplemen protein.4

Aktivitas Leukosit Polimorfonukleus

Leukosit bertugas untuk manfagositir kuman sebelum membunuhnya.

Pada penderita KEP aktivitas leukosit untuk memfagositir maupun membunuh

kuman menurun.4

Secara singkat landasan teori diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

Status Gizi ↓
(BGM)

Imunitas Tubuh ↓

Imunitas Imunitas Aktivitas


Selular Humoral leukosit PMN

23
Kelenjar timus Komplemen Aktivitas
dan tonsil atrofi Protein ↓ Leukosit ↓

Mudah terjadi infeksi

3.2 Hipotesis

Terdapat hubungan antara balita BGM dengan penyakit ISPA dan BGM

merupakan faktor risiko penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Cempaka bulan

Juni 2005.

BAB IV

METODOLOGI

4.1 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah data balita yang berkunjung ke poli umum

puskesmas Cempaka bulan Juni 2005.

Kriteria inklusi dari tesponden :

1. Data register balita usia 0 - 4 tahun di poli umum di Puskesmas

Cempaka bulan Juni 2005.

24
2. Data lengkap berisi umur, berat badan dan diagnosa penyakit.

3. Data balita dihitung berdasarkan kasus bukan berdasarkan jumlah

kunjungan.

Kriteria eksklusi dari responden :

1. Data register balita usia diatas 4 tahun di poli umum Puskesmas

Cempaka.

2. Data tidak lengkap.

4.2 Alat dan Prasarana Penelitian

Alat yang digunakan adalah data register dan status balita usia 0 – 4 tahun

yang ada di poli umum puskesmas Cempaka pada bulan Juni 2005 dan Kartu

Menuju Sehat (KMS).

4.3 Variabel-Variabel Penelitian

4.3.1 Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas pada penelitian ini adalah balita BGM bulan Juni 2005.

4.3.2 Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat pada penelitian ini adalah balita penderita ISPA bulan

Juni 2005.

4.3.3 Variabel Pengganggu

25
Variabel pengganggu pada penelitian ini adalah tingkat sosial ekonomi,

pendidikan, lingkungan, ketelitian dalam pencatatan serta pengambilan

data.

4.4 Definisi Operasional

1. Balita adalah Anak yang berusia 0 - 4 tahun

2. Berat badan merupakan ukuran indeks gizi dan

pertumbuhan tubuh dari responden.

3. BGM adalah Balita yang berat badannya di bawah garis

merah pada KMS pada catatan terakhir.

4. ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah

satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran

atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti

sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

5. BGM (+), ISPA (+) adalah : Balita yang berat

badannya di bawah garis merah pada KMS, yang diperoleh dari hasil

pengukuran berat badan berdasarkan umur yang dicocokkan pada KMS.

Serta data balita penderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Cempaka

bulan Juni 2005.

6. BGM (+), ISPA (-) adalah : Balita yang berat badannya

di bawah garis merah pada KMS, yang diperoleh dari hasil pengukuran

berat badan berdasarkan umur yang dicocokkan pada KMS. Serta data

balita selain penderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Cempaka

bulan Juni 2005.

26
7. BGM (-), ISPA (+) adalah : Balita yang berat badannya

di atas garis merah pada KMS, yang diperoleh dari hasil pengukuran berat

badan berdasarkan umur yang dicocokkan pada KMS. Serta data balita

penderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Cempaka bulan Juni 2005.

8. BGM (-), ISPA (-) adalah : Balita yang berat badannya

di atas garis merah pada KMS, yang diperoleh dari hasil pengukuran berat

badan berdasarkan umur yang dicocokkan pada KMS. Serta data balita

selain penderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Cempaka bulan Juni

2005.

9. Rasio prevalens adalah perbandingan antara prevalens

penyakit (efek) pada kelompok dengan risiko dengan prevalens efek pada

kelompok tanpa risiko. Interpretasinya :

- Bila nilai rasio prevalens = 1 berarti variabel yang diduga merupakan

faktor risiko tersebut tidak ada pengaruhnya untuk terjadinya efek,

dengan kata lain bersifat netral.

- Bila nilai rasio prevalens > 1, maka berarti variabel tersebut

merupakan faktor risiko untuk timbulnya penyakit tertentu.

- Bila nilai rasio prevalens < 1, berarti faktor yang diteliti tersebut justru

mengurangi kejadian penyakit, dengan kata lain variabel yang diteliti

tersebut merupakan faktor protektif.

- Bila nilai rasio prevalens mencakup angka 1, maka berarti pada

populasi yang diwakili oleh sampel tersebut mungkin nilai

27
prevalensnya = 1, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor

tersebut merupakan faktor risiko.

4.5 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dengan

menggunakan metode cross-sectional.

4.6 Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur berikut ini :

a. Pengumpulan Data

Data diambil dari register harian poli umum dan status bulan Juni 2005

yang ada di bagian pendaftaran di puskesmas Cempaka.

b. Pencatatan Data

Data dicatat dengan cara sebagai berikut :

- Mencatat data penderita ISPA pada balita dan umur dalam satuan

bulan yang diperoleh dari buku register harian poli umum

puskesmas Cempaka pada bulan Juni 2005.

- Mencari status yang ada di bagian pendaftaran di puskesmas

Cempaka.

- Mencatat berat badan yang ada pada status tersebut dalam satuan

kilogram

- Melihat dan mencatat berat badan berdasarkan umur pada KMS

apakah berada di bawah garis merah atau di atas garis merah.

28
4.7 Analisa Data

Setelah data dari status diperoleh, data tersebut kemudian dikumpulkan

dan diolah. Data yang sudah diolah kemudian dianalisis untuk mencari hubungan

antara balita BGM dengan penyakit ISPA. Analisa data ini dengan menggunakan

uji Chi-square pada tahap kepercayaan 95%. Kemudian dilakukan studi cross

sectional untuk memperoleh rasio prevalens dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :

Efek
Jumlah
Ya Tidak
Faktor Ya A B A+B
Risiko Tidak C D C+D

Keterangan :

A = subjek dengan faktor risiko yang mengalami efek

B = subjek dengan faktor risiko yang tidak mengalami efek

C = subjek tanpa faktor risiko yang mengalami efek

D = subjek tanpa faktor risiko yang tidak mengalami efek

Rumus Ratio Prevalens :

RP = A / (A+B) : C/ (C+D)

Keterangan :

A / (A+B) = proporsi (prevalens) subjek yang mempunyai faktor risiko yang

mengalami efek, sedangkan

C/ (C+D) = proporsi (prevalens) subjek tanpa faktor risiko yang mengalami

efek.

29
4.8 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Cempaka pada bulan

Agustus 2005.

BAB V

JADWAL KEGIATAN

Tabel 7. Jadwal Kegiatan

Minggu
No Keterangan VII VIII IX X
1 Penyusunan Proposal Χ Χ
2 Persiapan Lapangan Χ Χ
Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa
3 Χ Χ
Data

30
4 Penyusunan Laporan Χ Χ
5 Presentasi Χ

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Hasil

Dari hasil analisa data balita yang berkunjung ke poli anak di puskesmas

Sungai Jingah pada bulan September - Nopember 2005 yang memenuhi kriteria

inklusi adalah 752 balita.

31
Berdasarkan data hasil penelitian, maka data bayi dan balita penderita

ISPA dan Gizi kurang/buruk pada bulan September – Nopember 2005 dapat

dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 8.Data balita penderita ISPA di puskesmas Sungai Jingah pada bulan

September – Nopember 2005.

No Keterangan Jumlah Prosentase


1 Balita penderita ISPA 168 22,34 %
2 Balita yang tidak menderita ISPA 584 77,66 %
Jumlah 752 100 %

Tabel 9. Data balita gizi kurang dan buruk di puskesmas Sungai Jingah pada
bulan September – Nopember 2005.
No Keterangan Jumlah Prosentase
1 Balita gizi kurang- buruk 216 28,72 %
2 Balita yang tidak gizi kurang – buruk 536 71,28%
Jumlah 752 100 %

Tabel 10. Data balita penderita ISPA dan balita gizi kurang- buruk pada bulan
September – Nopember 2005.
ISPA
POSITIP NEGATIP JUMLAH
(+) (-)
GIZI POSITIP
50 166 216
KURA (+)
NG-
NEGATIP
BURU 118 418 536
(-)
K
JUMLAH 168 584 752

Tabel 11. Hasil Perhitungan Chi-square Hubungan Penyakit ISPA dengan balita

Gizi kurang-buruk

Hubungan dengan balita BGM Hubungan

32
X2 Survei X2 Tabel
Penyakit ISPA 0,113 3,84 Tidak bermakna

Tabel 11 di atas menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang tidak

bermakna antara balita gizi kurang -buruk dengan penyakit ISPA.

Hasil perhitungan ratio prevalens adalah sebesar 1,05 hal ini

menunjukkan bahwa balita gizi kurang- buruk belum dapat disimpulkan sebagai

faktor risiko terhadap terjadinya penyakit ISPA.

6.2 Pembahasan

Pada umumnya infeksi yang sering menyerang pada balita adalah infeksi

saluran pernapasan akut yang sering dikenal dengan ISPA.

Pada penelitian ini ditetapkan subjek penelitian adalah balita yang datang

ke poli anak puskesmas Sungai Jingah pada bulan September - Nopemberr 2005

yang tercatat pada register dan status di puskesmas Sungai Jingah sebanyak 752

yang memenuhi syarat, yaitu data balita yang berusia 0 – 4 tahun yang datang ke

puskesmas pada bulan September – Nopember 2005, data lengkap berisi berat

badan dan umur.

Berdasarkan data yang ada, pada bulan September – Nopember 2005

jumlah balita penderita ISPA yang datang ke poli umum puskesmas Cempaka

sebanyak 168 balita, kurang lebih 22,34% dari semua jumlah balita yang datang

ke poli anak puskesmas Sungai Jingah pada bulan September - Nopember 2005.

Sedangkan yang selain penderita ISPA ada 584 balita (77,60 %) . Balita gizi

kurang - buruk yang datang ke poli anak puskesmas Sungai Jingah adalah 216

balita hanya 28,72 % dari semua balita yang berkunjung pada bulan September -

33
Nopember 2005. Sedangkan jumlah balita yang tidak gizi kurang – buruk

sebanyak 536 balita (71,28 %).

Untuk mengetahui hubungan antara balita gizi kurang –buruk dengan

penyakit ISPA digunakan analisis uji Chi square. Dari hasil analisis tersebut

didapatkan hasil bahwa X2 kurang dari X2 tabel pada tingkat kepercayaan 95%

yang berarti H0 diterima sehingga terdapat hubungan yang tidak bermakna secara

signifikan (p < 0,05) antara balita gizi kurang- buruk dengan penyakit ISPA.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena gizi kurang - buruk merupakan suatu

keadaan kronis sedangkan ISPA merupakan suatu keadaan akut, sehingga pada

saat dilakukan penelitian kemungkinan balita gizi kurang - buruk tidak sedang

menderita ISPA .

Jumlah balita gizi kurang- buruk yang menderita ISPA pada penelitian ini

sebanyak 50 balita. Hal ini kemungkinan terjadi secara kebetulan, karena salah

satu kelemahan pada studi cross sectional adalah sulit untuk menentukan sebab

dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang

bersamaan (temporal relationship tidak jelas). Akibatnya sering tidak mungkin

ditentukan mana yang sebab dan mana akibat.

Pada data perhitungan ratio prevalens terdapat jumlah balita gizi kurang

-buruk sebanyak 216 balita, 50 diantaranya menderita ISPA. (prevalens penyakit

ISPA pada balita BGM = 50 / 216 = 0,231). Terdapat 536 balita yang tidak gizi

kurang - buruk, 118 di antaranya menderita ISPA ( prevalens penyakit ISPA pada

balita yang tidak gizi kurang - buruk = 118 /536 = 0,220).Maka ratio prevalens

diperoleh hasil sebesar 1,05. Ini berarti balita gizi kurang - buruk belum dapat

34
disimpulkan sebagai faktor risiko terhadap terjadinya penyakit ISPA. Hal ini

kemungkinan disebabkan karena balita gizi kurang - buruk dan penyakit ISPA

dinilai hanya satu kali saja sehingga tidak dapat diketahui seberapa jauh balita gizi

kurang – buruk menyebabkan ISPA. Untuk itu perlu dilakukan penelitian secara

retrospective dengan mengidentifikasi subyek dengan efek sebagai kelompok

kontrol, dan mencari subjek yang tidak mengalami efek (kelompok kasusl). Faktor

risiko yang diteliti ditelusuri retrospektif pada kedua kelompok, kemudian

dibandingkan.11

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh

kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara balita gizi

kurang - buruk dengan penyakit ISPA pada bulan September - Nopember 2005 di

puskesmas Sungai Jingah, sehingga balita gizi kurang - buruk masih meragukan

sebagai faktor resiko penyakit ISPA.

7.2 Saran

35
Untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan datang,

peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian secara retrospektif untuk mencari

hubungan seberapa jauh balita gizi kurang-buruk mempengaruhi penyakit ISPA,

selain itu dilakukan juga penelitian terhadap faktor lain yang juga mempengaruhi

terjadinya penyakit ISPA seperti faktor lingkungan, tingkat sosial ekonomi dan

pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Laporan Tahunan Puskesmas Cempaka Tahun


2004. Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru 2005

2. Anonim. Perbaikan Gizi Makro. Depkes RI. Direktorat


Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat

3. Depkes RI. Pesan Dasar Gizi Seimbang, Jakarta 1995

4. Pudjiadi Solihin.Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Jakarta 1990.

5. Almatsier Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta 2001.

36
6. Suprajasa IDN, Bahri B & Fajar I Penilaian Status Gizi
Malang : Depkes RI, pusat pendidikan tenaga kerja kesehatan. Akademi Gizi
Malang, 2000

7. Jahari AB. Antropometri Sebagai Indikator Status Gizi.


Gizi Indonesia, 1998

8. Hasan R, Alatas H, ed. Pneumonia. Dalam : Buku Kuliah


Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Bagian FKUI, Jakarta ; 2000 : 1228-1233

9. Anonim. Pemantauan Pertumbuhan Balita, Departemen


Kesehatan RI, Jakarta 2002

10. Anonim. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi


Saluran Pernapasan Akut Departemen Kesehatan RI. Jakarta 2002.

11. Sastroasmoro,S. Dasar –Dasar Metodologi Penelitian


Klinis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. FKUI, Jakarta ; 1995

37