Anda di halaman 1dari 17

Penyebab Infertilitas Pada Wanita

Setelah tahu penyebab infertilitas pada pria dan mitos-mitos serta apa kesuburan, sekarang
mari membahas mengenai penyebab infertilitas pada wanita;

1. Faktor Vagina :
Vaginismus (kejang otot vagina), Vaginitis (radang/infeksi vagina), dll
2. Faktor Uterus (rahim) :
Myoma (tumor otot rahim), Endometritis (radang sel. lendir rahim), Endometriosis
(tumbuh sel. ender rahim bukan pada tempatnya), Uterus bicornis, arcuatus,
asherman’s syndrome, retrofleksi (kelainan bentuk dan posisi rahim), Prolap
(pemburutan, penyembulan rahim ke bawah).
3. Faktor Cervix (Mulut Rahim) :
Polip (tumor jinak), Stenosis (kekakuan mulut rahim), Non Hostile Mucus (kualitas
lendir mulut rahim jelek), Anti Sperm Antibody (antibody terhadap sperma), dll.
4. Faktor Tuba Fallopi (Saluran Telur) :
Pembuntuan, penyempitan, perlengketan saluran telur (bias karena infeksi atau
kelainan bawaan).
5. Faktor Ovarium (Indung Telur) :
Tumor, Cyste, Gangguan menstruasi (Amenorhoe, Oligomenorhoe dengan/tanpa
ovulasi). Organ ini berinteraksi dengan pusat pengendali hormone di otak
(Hypothalamus dan Hipofisis) dalam mengatur siklus menstruasi.
6. Faktor Lain :
Prolactinoma (tumor pada Hipofisis), Hiper/hypotroid (kelebihan/ kekurangan
hormone tiroid), dll.

Pemakaian formalin yang dapat juga menyebabkan infertilitas pada wanita dan yang wanita
jangan mengalami tiada gairah/keinginan dalam berhubungan.

Tags: cervix, endometritis, fallopi, hamil, infertilitas, Otot, ovarium, rahim, sperma, tuba,
wanita

Penyebab Infertilitas Pada Pria


Jul 25th, 2008

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyebab infertilitas, terlebih dahulu harus
dipahami beberapa istilah yang sering disalahartikan, infertilitas diartikan sebagai
kekurangmampuan suatu pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah
ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan. Jadi infertilitas itu berbeda dengan
mandul (steril). Nah sekarang lihat apa penyebabnya pada pria:

1. anatomi :
Hypo-epispadia (kelainan letak lubang kencing), micropenis (penis sangat
kecil), Undescencus Testis (testis masih dalam perut/lipat paha), dll
2. Gangguan fungsi :
Disfungsi Ereksi berat (Impotensi), Ejakulasi Retrogade (ejakulasi balik), dll
3. Gangguan spermatogenesia :
Oligo/terato/asthenozoospermia (kelainan jumlah, bentuk, gerak sperma)
4. Lain-lain :
Hernia Scrotalis (Hernia berat sampai ke kantung testis), Varikokel
(varises pembuluh darah balik testis), Imunologis, Infeksi, dll

Dan kalau pingin tahu mengenai penyebab infertilitas pada pasangan yang lain yaitu
perempuan, tunggu artikel selanjutnya di f-buzz

Penyebab Kemandulan toxoplasma, karena kucing?


Berbicara mengenai kehamilan, tidak terlepas juga mengenai kemandulan. Ada pasangan
yang aru menikah sudah mengandung tetapi ada pula yang sudah bertahun-tahun tapi belum
dikarunia momongan. Akhirnya banyak pemikiran penyebab mandul. Ada yang mengatakan
bahwa bulu kucing dapat menyebabkan mandul, dan sebagainya. Sebenarnya yang bisa
menyebabkan kemandulan yaitu parasit yang dikenal sebagai Toxoplasma gondii. Parasit ini
bisa menyebabkan penyakit toxoplasmosis. Toxoplasma adalah penyakit yang menyerang
pada hewan dan manusia, lelaki maupun wanita.

Pada hewan, penyakit toxoplasma ini bisa menyerang hewan-hewan yang berdarah panas,
seperti: anjing, kucing, ayam, burung, kuda, sapi, domba, tikus, domba, harimau, babi, dan
lain-lain. Tetapi kucing selama ini dianggap sebagai penyebab toxoplasma, karena di dalam
tubuh kucing, toxoplasma bisa berkembang biak dengan dua cara, yaitu seksual (mikro dan
makro gamet) dan aseksual (membelah diri). Sedangkan pada binatang selain kucing,
toxoplasma hanya bisa berkembang biak dengan cara aseksual.

Pada manusia yang terkena penyakit toxoplasmosis, kebanyakan tidak mengalami gejala
klinis yang dominan. Gejala dapat timbul pada infeksi akut, yaitu berupa adanya pembesaran
kelenjar getah bening di sekitar leher atau ketiak.

Tetapi lama-kelamaan, toxoplasma itu dapat menyebabkan kemandulan. Pada pria,


kemandulan disebabkan toxoplasma dapat menginfeksi saluran sperma dan menyebabkan
peradangan. Sehingga peradangan pada saluran sperma ini menyebabkan penyempitan atau
penutupan saluran sperma dan pada pria itu tidak dapat mengeluarkan sperma untuk
membuahi sel telur.

Sedangkan pada perempuan, efek yang ditimbulkan hampir sama dengan pria. Infeksi
toxoplasma itu dapat mengebabkan peradangan dan penyempitan pada saluran telur.
Sehingga ovarium tidak akan dapat sampai ke rahim dan tidak dapat dibuahi oleh sperma.

Toxoplasma juga dapat berpengaruh terhadap janin. Kista toxoplasma dapat masuk hingga
kedalam otak janin dan menyebabkan cacat serta berbagai gangguan saraf lainnya. Selain itu,
kepala janin bisa terisi oleh cairan sehingga kepalanya menjadi besar (hidrosefalus).
PENYEBAB INFERTILITAS PADA SUAMI DAN ISTRI (dari milis sebelah)

Sepasang suami istri sudah menikah hampir tiga tahun, namun belum juga dikaruniai anak.
Mereka memeriksakan diri ke dokter dan melakukan terapi
tertentu tetapi belum juga menunjukkan hasil. Sayangnya, mereka juga masih
harus menghadapi stigma negatif dari lingkungan sekitar. Tampaknya,
keterbatasan pengetahuan pada istilah infertilitas menjadi penyebab timbulnya stigma negatif
tersebut.

Infertilitas adalah kondisi yang menunjukkan tidak terdapatnya pembuahan


dalam waktu satu tahun setelah melakukan hubungan seksual tanpa
perlindungan kontrasepsi. Diperkirakan 85-90% pasangan yang sehat akan
mendapat pembuahan dalam 1 tahun. Infertilitas dapat dibagi menjadi dua
kelompok :

1. Infertilitas primer, yaitu keadaan infertilitas yang dialami


pasangan suami istri sejak awal mereka menikah.
2. Infertilitas sekunder, yaitu keadaan infertilitas yang dialami
pasangan suami istri yang pernah mengalami proses pembuahan setelah
menikah.

Secara umum, infertilitas berhubungan dengan kondisi fisik, proses dan


waktu.

1. Kondisi Fisik
Kesuburan sangat ditentukan oleh kondisi fisik suami dan istri. Hal ini berhubungan dengan
proses pembentukan serta kualitas sperma atau sel
telur. Testis dapat menghasilkan 100-200 juta sel per hari atau 1 triliun
sel selama hidup. Pematangan sperma terjadi kurang lebih 70 hari. Dalam
saluran kelamin perempuan, sel sperma dapat hidup dan membuahi sel telur
antara 3-5 hari. Ovarium dapat menghasilkan1 sel telur setiap bulan. Bila tidak dibuahi, maka
sel telur itu akan mati dan turun pada saat haid.

Kualitas sperma dan sel telur dipengaruhi banyak faktor, diantaranya :


a. Secara alamiah perempuan mengalami fase menopause yang biasanya terjadi antara usia
40-50 tahun. Pada fase ini, lemungkinan untuk
memperoleh keturunan lebih kecil. Berbeda dengan laki-laki, proses
andropause yakni penurunan masa produktif biasanya terjadi saat usia yang
sangat lanjut.
b. Beberapa kelainan genetika dapat berpengaruh pada kesuburan
terutama yang berhubungan dengan anatomi kelamin dan sistem hormonal pada
suami maupun istri.
c. Penyakit tertentu, misalnya infeksi pada saluran kelamin, varicocel pada pria, kista
ovarium, mioma uteri pada wanita, dapat menghambat kehamilan.
d. Kebiasaan merokok dan minum alcohol terbukti mengurangi
kualitas kesuburan.
e. Menurut penelitian, kegemukan dapat mempengaruhi kesuburan.
Pada wanita yang kegemukan terdapat kelainan pada sekresi hormon
gonadotropin oleh kelenjar hipofisis. Kelainan ini pada akhirnya mempengaruhi
produksi hormon estrogen dan progesteron.
f. Pekerjaan yang berhubungan dengan bahan kimia dan polusi tinggi juga dapat mengurangi
kualitas kesuburan.
g. Banyak penelitian menunjukkan bahwa stres dapat mengganggu
kualitas dan proses kesuburan.

2. Proses
Terjadinya pembuahan dan kehamilan dimulai dengan masuknya sperma dalam saluran
kelamin wanita dan bertemu dengan ovum atau sel telur di dalam saluran ovarium (tuba
falopii). Hasil pembuahan (embrio) itu digerakkan
menuju rahim untuk berkembang di dalamnya. Proses berhasil tidaknya
proses kehamilan sangat dipengaruhi beberapa hal :
a. Metode kontrasepsi: Penggunaan kondom pada pria atau diafragma
pada wanita tidak memungkinkan terjadinya proses pembuahan.
b. Beberapa kelainan anatomis, seperti kelainan pada rahim atau
saluran kelamin lainnya dapat mengganggu proses kehamilan.
c. Penyakit seperti myoma uteri, bukan saja menghalangi masuknya
sperma, tetapi juga mengakibatkan proses perlengketan embrio pada rahim
terganggu. Perlengketan atau tertutupnya tuba falopii dapat terjadi karena infeksi dan
peradangan, atau tumbuhnya jaringan ikat.

3. Waktu
Sel telur hanya dihasilkan satu kali setiap bulannya dan umurnya pun
pendek. Sehingga pengetahuan mengenai masa subur menjadi hal yang sangat penting. Untuk
mengetahui masa subur dapat dilakukan beberapa cara :
a. Metode kalender
Dalam menggunakan metode ini, perlu diketahui siklus menstruasi secara
individual. Menstruasi seorang wanita rata-rata terjadi setiap 28-35 hari.
Ovulasi terjadi pada 14 hari sebelum perkiraan menstruasi berikutnya.
Pada wanita dengan siklus 28 hari, ovulasi terjadi pada hari ke-14 (hari
pertama dihitung saat darah menstruasi keluar pertama kali setiap
bulannya). Pada wanita dengan siklus 35 hari, ovulasi terjadi pada hari ke-21. Cara ini
kadang tidak tepat, karena perkiraan menstruasi berikutnya
bisa saja meleset.
b. Pengukuran suhu tubuh
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan thermometer pada mulut setiap pagi
hari, mulai hari pertama menstruasi sebelum melakukan aktivitas. Ovulasi terjadi bila
terdapat kenaikan 0,2-0,4°C dari rata-rata suhu tubuh normal (36-37°C).
c. Pemeriksaan lendir rahim atau mulut rahim
Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari setelah menstruasi berakhir. Masa
subur ditunjukkan adanya lendir jernih dan elastis pada kelamin luar
wanita. Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan bila wanita tersebut baru saja melakukan
hubungan seksual.
d. Pemeriksaan hormone LH (Luteinizing Hormone), hormon yang
mempengaruhi proses ovulasi
Pada saat ovulasi terjadi peningkatan kadar LH dalam urin. Dan inilah
salah satu penentuan yang paling akurat. Namun pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan setiap
saat karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pada prinsipnya, diperlukan peranan yang sama besar dari pasangan suami maupun istri.
Dibutuhkan kesabaran ekstra karena kesempatan untuk hamil hanya ada satu kali selama
periode satu bulan. Dalam usaha mendapatkan
kehamilan, diperlukan konseling, terutama bagi pasangan yang memiliki
masalah seksualitas. Untuk beberapa kasus, diperlukan juga tindakan medis.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memperhatikan masa subur istri

karena melakukan hubungan intim pada masa subur memberi peluang yang lebih besar untuk
hamil.

Usaha yang tidak kalah penting adalah mengkonsumsi makanan yang seimbang,
sehat, dan bergizi.

Faktor Penyebab Infertilitas atau


Ketidaksuburan

Pasangan suami istri yang telah melakukan hubungan seksual secara


teratur tanpa kontrasepsi selama satu tahun tetapi belum mampu hamil
dan melahirkan anak hidup disebut pasangan infertil atau pasangan tidak
subur.

Berarti pasangan tersebut mengalami masalah infertilitas. Banyak faktor


yang menjadi penyebab infertilitas (ketidaksuburan) sehingga pasangan
suami istri tidak mempunyai anak, antara lain:

1. Faktor hubungan seksual, yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin


terlalu sering atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu
disfungsi ereksi, ejakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi
retrograde (ejakulasi ke arah kandung kencing), dan gangguan fungsi
seksual wanita yaitu dispareunia (sakit saat hubungan seksual) dan
vaginismus.

2. Faktor infeksi, berupa infeksi pada sistem seksual dan reproduksi pria
maupun wanita, misalnva infeksi pada buah pelir dan infeksi pada rahim.

3. Faktor hormon, berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun


wanita sehingga pembentukan sel spermatozoa dan sel telur terganggu.

4. Faktor fisik, berupa benturan atau temperatur atau tekanan pada buah
pelir sehingga proses produksi spermatozoa terganggu.

5. Fakror psikis, misalnya stress yang berat sehingga mengganggu


pembentukan set spermatozoa dan sel telur.

Untuk menghindari terjadinya gangguan kesuburan pada pria maupun


wanita, maka faktor-faktor penyebab tersebut tersebut harus dihindari.
Tetapi kalau gangguan kesuburan telah terjadi, diperlukan pemeriksaan
yang baik sebelum dapat ditentukan langkah pengobatannya.

Infertilitas tidak sama dengan kemandulan

Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan


keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.

Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga mengalami pembuahan,
sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur - tanpa kontrasepsi - dalam periode
setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah perempuan yang rahimnya telah diangkat
atau laki-laki yang telah dikebiri (dikastrasi).

Penyebab Infertilitas
Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas
pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii
(saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis
6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%.

Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada


perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ
reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.

1. Gangguan pada organ reproduksi


Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:
- Tingkat keasaman tinggi
Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi
ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar
keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam
vagina terhambat.
- Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan
sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan
jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma
bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon
prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di
dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam
saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya
disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau
penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.
2. Gangguan Ovulasi
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari
ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal.
Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui
sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses
ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan
oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah.
Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu
hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam
darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan
mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang
dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga
akan terganggu.

3. Kegagalan implantasi
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi
proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon
progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh
antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang
memadai.

4. Endometriosis
Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang
tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan
uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan
endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan
hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun.

Solusi
Karena disebabkan oleh berbagai faktor, maka sangat dianjurkan agar pasangan suami dan
istri memeriksakan diri lebih dini, agar diketahui penyebabnya. Tidak semua kasus dapat dibantu
dengan pengobatan, beberapa di antaranya (kelainan anatomi dan bentuk) membutuhkan
penanganan medis via operasi.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan kandungan melalui serangkaian tes laboratorium
seperti tes darah, kencing serta kadar hormon. Jika dibutuhkan, dokter biasanya menyarankan agar
dilakukan pemeriksaan radiologis (USG, HSG), bahkan tindakan operasi (laparaskopi) untuk
mencari/mengobati penyebabnya.
15 Penyebab Infertilitas Pria
November 10 2009 Categorized Under: Kesehatan Pria No Commented

Definisi infertilitas menurut WHO adalah tidak terjadinya kehamilan pada pasangan yang
telah berhubungan intim tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur minimal 1-2 tahun.
Menurut data demografis dunia, 12,5 % pasangan usia subur mengalami kesulitan
mendapatkan anak.

Infertilitas terutama lebih banyak terjadi di kota-kota besar karena gaya hidup yang penuh
stres, emosional dan kerja keras serta pola makan yang tidak seimbang. Infertilitas dapat
terjadi dari sisi pria, wanita, kedua-duanya, maupun pasangan. Disebut infertilitas pasangan
bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan
sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian antigen/antibodi pasangan
tersebut.

Dari sisi pria, penyebab infertilitas yang paling umum terjadi adalah:

1. Bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna

Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar
dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak normal atau
gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau menembus sel telur.

2. Konsentrasi sperma rendah

Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml
atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta
sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak
memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang
kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi
(hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan.

3. Tidak ada semen

Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada
semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan
penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.

4. Varikosel (varicocele)

Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan
testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma.
Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat
pembuluh darah melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi
dan menyalurkan sperma terganggu.
5. Testis tidak turun

Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua buah
pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong scrotum. Karena suhu yang lebih tinggi
dibandingkan suhu pada scrotum, produksi sperma mungkin terganggu.

6. Kekurangan hormon testosteron

Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.

7. Kelainan genetik

Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua
kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan
pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi
sperma.

8. Infeksi

Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual
seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang
memblokir jalannya sperma.

9. Masalah seksual

Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi


prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak
atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.

10. Ejakulasi balik

Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih,
bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat
menyebabkannya, di antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra,
dan pengaruh obat-obatan tertentu.

11. Sumbatan di epididimis atau saluran ejakulasi

Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau
saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis
ke lubang penis.

12. Lubang kencing yang salah tempat (Hypo-epispadia)

Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila tidak
dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.
13. Antibodi pembunuh sperma

Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani
vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat
vasektomi dicabut.

14. Cystic fibrosis

Cystic fibrosis adalah penyakit bawaan yang menyebabkan masalah dalam sistem pernafasan
dan pencernaan. Beberapa pria penderita penyakit ini tidak dapat mengeluarkan sperma dari
testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup.

15. Kanker Testis

Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan


menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 dan 32 tahun.

Kemandulan DEFINISI
Kemandulan adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk mencapai kehamilan setelah
selama 1 tahun melaksanakan hubungan seksual secara teratur dan tidak menggunakan alat
kontrasepsi.

Kemandulan primer adalah istilah yang digunakan jika pasangan suami istri sama sekali
belum pernah memiliki anak. Jika sebelumnya pasangan suami istri pernah memiliki anak
(minimal 1 kali kehamilan), tetapi kehamilan berikutnya belum berhasil dicapai, maka
digunakan istilah kemandulan sekunder.

PENYEBAB
Sekitar 30-40% kasus disebabkan oleh faktor pria, seperti:
1. Masalah pada sperma

Pada pria dewasa, sperma dibuat terus menerus di dalam testis (buah zakar). Proses
pembuatan sperma disebut spermatogenesis.
Sel yang belum terspesialisasi memerlukan waktu sekitar 72-74 hari untuk
berkembang menjadi sel sperma yang matang.

Dari testis kiri dan kanan, sperma bergerak ke dalam epididimis (suatu saluran
berbentuk gulungan yang terletak di puncak testis menuju ke testis belakang bagian
bawah) dan disimpan di dalam epididimis sampai saat terjadinya ejakulasi.
Dari epididimis, sperma bergerak ke vas deferens dan duktus ejakulatorius. Di dalam
duktus ejakulatorius, cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis ditambahkan
pada sperma dan membentuk semen, yang kemudian mengalir menuju ke uretra dan
dikeluarkan ketika ejakulasi.

Kesuburan seorang pria ditentukan oleh kemampuannya untuk mengantarkan


sejumlah sperma yang normal ke dalam vagina wanita.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses tersebut sehingga bisa terjadi
kemandulan:
a. Peningkatan suhu di dalam testis akibat demam berkepanjangan atau akibat panas
yang berlebihan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sperma, berkurangnya
pergerakan sperma dan meningkatkan jumlah sperma yang abnormal di dalam semen.
Pembentukan sperma yang paling efsisien adalah pada suhu 33,5? (lebih rendah dari
suhu tubuh). Testis bisa tetap berada pada suhu tersebut karena terletak di dalam
skrotum (kantung zakar) yang berada diluar rongga tubuh.
Faktor lain yang mempengaruhi jumlah sperma adalah pemakaian marijuana atau
obat-obatan (misalnya simetidin, spironolakton dan nitrofurantoin).
b. Penyakit serius pada testis atau penyumbatan atau tidak adanya vas deferens (kiri
dan kanan) bisa menyebabkan azospermia (tidak terbentuk sperma sama sekali.
Jika di dalam semen tidak terdapat fruktosa (gula yang dihasilkan oleh vesikula
seminalis) berarti tidak terdapat vas deferens atau tidak terdapat vesikula seminalis
atau terdapat penyumbatan pada duktus ejakulatorius.
c. Varikokel merupakan kelainan anatomis yang paling sering ditemukan pada
kemandulan pria. Varikokel adalah varises (pelebaran vena) di dalam skrotum.
Varikokel bisa menghalangi pengaliran darah dari testis dan mengurangi laju
pembentukan sperma.
d. Ejakulasi retrograd terjadi jika semen mengalir melawan arusnya, yaitu semen
mengalir ke dalam kandung kemih dan bukan ke penis.
Kelainan ini lebih sering ditemukan pada pria yang telah menjalani pembedahan
panggul (terutama pengangkatan prostat) dan pria yang menderita diabetes.
Ejakulasi retrograd juga bisa terjadi akibat kelainan fungsi saraf.

2. Impotensi

3. Kekurangan hormon

4. Polusi lingkungan.

5. Pembentukan jaringan parut akibat penyakit menular seksual.

40-50% kemandulan disebabkan oleh faktor wanita:

1. Jaringan parut akibat penyakit menular seksual atau endometriosis.

2. Disfungsi ovulasi (kelainan pada proses pelepasan sel telur oleh ovarium/sel telur).
Ovulasi adalah pelepasan sel telur dari ovarium (indung telur).
Ovulasi biasanya terjadi 14 hari sebelum menstruasi hari pertama.
Sel telur yang dilepaskan ini siap dibuahi oleh sperma yang berasal dari pria.

Jika seorang wanita memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak
mengalami menstruasi (amenore), maka dicari terlebih dahulu penyebabnya lalu
dilakukan pengobatan untuk merangsang terjadinya ovulasi.
Kadang ovulasi tidak terjadi akibat tidak dilepaskannya GnRH (donadotropin-
releasing hormone) oleh hipotalamus.

3. Kelainan hormon.

4. Kekurangan gizi.

5. Kista ovarium.

6. Infeksi panggul.

7. Tumor.

8. Kelainan lendir servikal (lendir reher rahim).


Lendir pada serviks bertindak sebagai penyaring yang menghalangi masuknya bakteri
dari vagina ke dalam rahim. Lendir ini juga berfungsi memperpanjang kelangsungan
hidup sperma.
Lendir pada serviks adalah kental dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali pada
fase folikuler dari siklus menstruasi.
Selama fase folikuler, terjadi peningkatan hormon estradiol sehingga lendir lebih
jernih dan elastis dan bisa ditembus oleh sperma. Selanjutnya sperma menuju ke
rahim lalu ke tuba falopii dan terjadilah pembuahan di tuba falopii.

9. Kelainan sistem pengangkutan dari leher rahim ke tuba falopii (saluran telur).

10. Kelainan pada tuba falopii.


Bisa terjadi kelainan struktur maupun fungsi tuba falopii.
Penyebab yang utama adalah:
- Infeksi
- Endometriosis
- Pengikatan tuba pada tindakan sterilisasi.

Diperkirakan sebanyak 10-20% pasangan mengalami kemandulan.


Merupakan hal yang penting untuk tidak menunda kehamilan lebih dari 1 tahun;
kemungkinan hamil pada pasangan yang sehat dan keduanya berusia dibawah 30 tahun serta
melakukan hubungan seksual secara teratur adalah hanya sebesar 25-30%/bulan.
Puncak kesuburan seorang wanita adalah pada usia 20 tahunan; jika usia wanita diatas 30
tahun (terutama diatas 35 tahun), maka kemungkinan hamil adalah sebesar kurang dari
10%/bulan.

Selain faktor yang berhubungan dengan usia, resiko kemandulan juga meningkat pada:
 Berganti-ganti pasangan seksual (karena meningkatkan resiko terjadi penyakit menular
seksual)
 Penyakit menular seksual
 Pernah menderita penyakit peradangan panggul (setelah menderita penyakit ini, 10-15%
wanita menjadi mandul)
 Pernah menderita orkitis atau epididimitis (pria)
 Gondongan (pria)
 Varikokel (pria)
 Pemaparan DES (dietil stilbestrol) (pria maupun wanita)
 Siklus menstruasi anovulatoir
 Endometriosis
 Kelainan pada rahim (mioma) atau penyumbatan leher rahim
 Penyakit menahun (misalnya diabetes).

GEJALA
Gejalanya berupa:
 Tidak kunjung hamil
 Reaksi emosional (baik pada istri, suami maupun keduanya) karena tidak memiliki anak.

Kemandulan sendiri tidak menyebabkan penyakit fisik, tetapi dampak psikisnya pada suami,
istri maupun keduanya bisa sangat berat.
Pasangan tersebut mungkin akan menghadapi masalah pernikahan (termasuk perceraian),
depresi dan kecemasan.

DIAGNOSA
Dilakukan pemeriksaan fisik dan pengumpulan riwayat kesehatan dari suami dan istri.
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:
 Analisa semen untuk menilai volume dan kekentalan semen serta menilai jumlah,
pergerakan, kecepatan pergerakan dan bentuk sperma.
2-3 hari sebelum menjalani pemeriksaan ini, suami tidak boleh melakukan ejakulasi.
 Pengukuran suhu tubuh basal.
Setiap pagi, sebelum beranjak dari tempat tidur, dilakukan pengukuran suhu tubuh wanita,
jika terjadi peningkatan sebesar 0,5-1? Celsius berarti sedang terjadi ovulasi.
 Memperhatikan perubhan pada lendir servikal.
Pada fase ovulatoir, lendir menjadi basah, elastis dan licin.
 Postcoital test (PCT).
PCT dilakukan untuk menilai interaksi antara sperma dan lendir servikal dengan cara
menganalisa lendir servikal yang dikumpulkan dalam waktu 2-8 jam setelah melakukan
hubungan seksual.
Tes ini dilakukan pada pertengahan siklus menstruasi yaitu pada saat estradiol mencapai
kadar tertinggi dan pada saat terjadi ovulasi.
Dalam keadaan normal, lendir servikal adalah jernih dan bisa diregangkan sepanjang 7,6-10
cm tanpa terputus. Bila dilihat dengan mikroskop, lendir tampak seperti pohon pakis.
 Kadar progesteron serum.
 Biopsi endometrium
 Biopsi testis (jarang dilakukan)
 Kadar LH (luteinizing hormon) untuk memperkirakan saat ovulasi dan membantu
menentukan waktu untuk melakukan hubungan seksual.
 Progestin challenge
 Kadar hormon pada suami dan istri.
 Histerosalpingografi (HSG) untuk menilai sistem transport dari serviks melalui rahim
sampai ke tuba falopii.
 Histeroskopi.
 Laparoskopi untuk melihat rongga panggul.
 Pemeriksaan panggul (pada wanita) untuk menentukan adanya kista atau tidak.

PENGOBATAN
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.

bisa diberikan untuk mencoba menambah pembentukan sperma pada pria. Tetapi Clomifene
tampaknya tidak dapat meningkatkan kemampuan gerak sperma maupun mengurangi jumlah
sperma yang abnormal dan belum terbukti mampu menambah kesuburan.

Pada pria yang hanya memiliki sedikit sperma yang normal, bisa dilakukan inseminasi
buatan, baik melalui prosedur pembuahan in vitro maupun GIFT (gamete intrafallopian tube
transfer).

Pada azospermia, bisa dipertimbangkan pembuahan dengan sperma dari donor.

Varikokel bisa diatasi dengan pembedahan.

Bagi wanita yang tidak mengalami ovulasi dalam waktu lama (anovulasi kronis) bisa
diberikan Clomifene.
Pada awalnya menstruasi dirangsang dengan obat lain, yaitu medroksiprogesteron acetat.
Kemudian diberikan Clomifene selama 5 hari. Biasanya ovulasi akan terjadi 5-10 hari (rata-
rata 7 hari) setelah pemberian Clomifene dihentikan dan 14-16 hari setelah ovulasi akan
terjadi menstruasi.

Jika setelah pemberian Clomifene tidak terjadi menstruasi, maka dilakukan tes kehamilan.
Jika hasilnya negatif, siklus pengobatan diulangi dengan menambah dosis Clomifene sampai
terjadi ovulasi atau sampai tercapai dosis maksimum.
Jika telah ditentukan dosis Clomifene yang bisa merangsang terjadinya ovulasi, maka dosis
ini diberikan minimal selama 6 siklus pengobatan lagi. Kebanyakan wanita akan bisa hamil
pada siklus keenam, dimana terjadi ovulasi.

Sekitar 75-80% wanita yang mendapatkan Clomifene akan mengalami ovulasi, tetapi hanya
40-50% yang berhasil hamil.
Sekitar 5% kehamilan adalah kehamilan ganda (terutama kembar 2).

Efek samping dari klomifen adalah hot flashes, pembengkakan perut, nyeri tekan pada
payudara, mual, gangguan penglihatan dan sakit kepala.
Sekitar 5% dari wanita yang diobati dengan Clomifene mengalami sindroma hiperstimulasi
ovarium, dimana ovarium menjadi sangat besar dan sejumlah besar cairan berpindah dari
aliran darah ke rongga perut. Untuk mencegah terjadinya sindroma ini, maka diberikan dosis
Clomifene terendah yang masih efektif.

Jika pemberian Clomifene tidak berhasil merangsang ovulasi, maka dicoba diberikan terapi
hormonal dengan human menopausal gonadotropin (HMG).
Hormon ini diekstrak dari air kemih wanita pasca menopause.
HMG memerlukan biaya besar dan memiliki efek samping yang berat, karena itu
pemakaiannya dibatasi hanya jika penyebab kemandulan sudah pasti merupakan kelainan
ovulasi.

HMG disuntikkan ke dalam otot dan dosisnya disesuaikan dengan respon penderita terhadap
hormon tersebut. HMG berfungsi merangsang pematangan folikel di ovarium. Untuk
memantau pematangan ini, dilakukan pengukuran kadar hormon estradiol dan pemeriksaan
USG panggul.
Setelah folikel matang diberikan suntikan hormon lain, yaitu human chorionic gonadotropins
(HCG) untuk merangsang ovulasi.
Lebih dari 95% wanita yang diberi hormon ini mengalami ovulasi, tetapi kehamilan hanya
terjadi pada 50-75% penderita.
10-30% kehamilan adalah kehamilan ganda (terutama kembar 2).
Efek samping dari HMG adalah sindroma hiperstimulasi ovarium, yang terjadi pada 10-20%
penderita.

Kemandulan akibat tidak dilepaskannya hormon GnRH oleh hipotalamus bisa diatasi dengan
memberikan GnRH buatan untuk merangsang ovulasi.
Jika penyebabnya adalah kelainan pada lendir servikal, maka bisa dilakukan inseminasi
intrauterin, yaitu memasukkan semen langsung ke dalam rahim sehingga tidak perlu
melewati lendir.
Atau diberikan obat untuk mengencerkan lendir (misalnya guaifenesin).

Teknik Pembuahan

Setelah semua pengobatan lain gagal menghasilkan kehamilan, maka lebih banyak pasangan
mandul yang beralih ke fertilisasi in vitro (bayi tabung).
Prosedur ini terdiri dari perangsangan ovarium, pemulihan pelepasan sel telur, pembuahan sel
telur, penumbuhan embrio di laboratorium kemudian penanaman embrio pada rahim wanita.

Untuk merangsang ovarium sehingga banyak sel telur yang matang, diberikan kombinasi
klomifen, HMG dan agonis GnRH (obat yang merangsang pelepasan gonadotropin oleh
kelenjar hipofisa).

Dengan panduan USG, dimasukkan sebuah jarum melalui vagina atau perut ke dalam
ovarium dan diambil beberapa sel telur dari folikelnya.
Di laboratorium, sel telur ditempatkan di dalam cawan pembiakan dan dibuahi oleh sperma
pilihan (sperma yang paling aktif).
Setelah sekitar 40 jam, 3-4 embrio dipindahkan dari cawan biakan ke dalam rahim itu melalui
vagina. Embrio lainnya bisa dibekukan dalam larutan nitrogen untuk cadangan bila tidak
terjadi kehamilan.
Setiap kali sel telur yang telah dibuahi dimasukkan ke dalam rahim, peluang berkembangnya
seorang bayi cukup bulan hanya sekitar 18-25%.

Jika penyebab kemandulan pada wanita tidak diketahui atau jika penyebabnya adalah
endometriosis tetapi fungsi tuba falopiinya normal, maka dilakukan GIFT (gammete
intrafallopian tube transfer).
Sel telur dan sperma pilihan diperoleh melalui prosedur yang sama dengan pada fertilisasi in
vitro, tetapi sel telur tidak dibuahi di laboratorium.
Sel telur dan sperma dimasukkan ke dalam ujung tuba falopii melalui dinding perut (pada
proses laparoskopi) atau melalui vagina (dipandu oleh USG), sehingga pembuahan terjadi di
dalam tuba falopii.
Angka keberhasilan pada GIFT adalah sekitar 20-30%.

Variasi dari fertilisasi in vitro dan GIFT adalah pemindahan embrio yang lebih matang
(zygote intrafallopian tube transfer), pemakaian sel telur dari donor dan pemindahan embrio
yang telah dibekukan ke dalam rahim wanita lain.

PROGNOSIS
Sekitar 85-90% kasus, kemungkinan penyebabnya bisa diketahui.
Pengobatan yang tepat (tidak termasuk teknik modern seperti fertilisasi in vitro)
memungkinkan terjadinya kehamilan pada 50-60% pasangan yang sebelumnya didiagnosis
mengalami kemandulan.
Tanpa pengobatan, 15-20% kasus pada akhirnya akan mengalami kehamilan.

PENCEGAHAN
Kemandulan seringkali disebabkan oleh penyakit menular seksual, karena itu dianjurkan
untuk menjalani perilaku seksual yang aman guna meminimalkan resiko kemandulan di masa
yang akan datang.
Penyakit menular seksual yang paling sering menyebabkan kemandulan adalah gonore dan
klamidia. Kedua penyakit ini pada awalnya mungkin tidak menunjukkan gejala dan gejala
baru timbul setelah terjadinya penyakit peradangan panggul atau salpingitis. Peradangan
menyebabkan pembentukan jaringan parut pada tuba falopii lalu terjadi penurunan
kesuburan, kemandulan absolut atau kehamilan di luar kandungan.

Immunisasi gondongan telah terbukti mampu mencegah gondongan dan komplikasinya pada
pria (orkitis).
Kemandulan akibat gondongan bisa dicegah dengan menjalani immunisasi gondongan.

Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki resiko kemandulan yang lebih tinggi (misalnya
IUD). IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum pernah memiliki anak.