Anda di halaman 1dari 2

MAKALAH KEBIJAKAN MONETER

23:27 by bayutube86 · 3 comments

Makalah tentang Kebijakan Moneter ini menyoroti peran kebijakan moneter yang dilakukan
Indonesia dan dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia.Dalam sistem nilai tukar bebas dan
perfect capital mobility,kebijakan moneter lebih efektif dibandingkan kebijakan fiskal dalam
upaya mencapai keseimbangan dan stabilitas makroekonomi.Kebijakan moneter lebih berperan
dalam menstimulasi pemulihan ekonomi.Kebijakan moneter yang efektif menjanjikan
tercapainya inflasi yang rendah,stabilitas nilai tukar,dan suku bunga.

Salah satu dampak dari kapitalisme yakni uang berfluktuasi tak terkontrol tanpa ada standar
acuan yang baku. Konsep uang yang semula digunakan sebagai:

1. alat pertukaran atau media pembayaran


2. alat untuk menyimpan nilai
3. alat satuan hitung
4. juga dipakai sebagai alat spekulasi.

Ketika uang diperdagangkan di pasar valuta asing nilainya akan terus berfluktuasi mengikuti
harga pasar (supply and demand). Berdasarkan realita, kurs pertukaran uang sesungguhnya
dengan fiat money, dimana uang dijadikan komoditas perdagangan amat sangat merugikan
individu maupun tatanan masyarakat. Sebagai contoh jumlah hutang luar negeri Indonesia yang
semula US$ 102 Milyar hanya dalam waktu satu tahun naik lima kali lipat menjadi US$ 510
Milyar, akibatnya dana yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mensejahterakan kehidupan
rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945, sebagian besar disedot untuk membayar bunga dan
pokok pinjaman. Untuk menutup defisit APBN kembali pemerintah harus mengandalkan hutang
sebagai sumber pendanaan.

Para ekonom sepakat ciri-ciri suatu Negara yang rentan terhadap krisis moneter adalah
apabila Negara tersebut:

• memiliki jumlah hutang luar negeri yang cukup besar


• mengalami inflasi yang tidak terkontrol
• defisit neraca pembayaran yang besar
• kurs pertukaran mata uang yang tidak seimbang
• tingkat suku bunga yang diatas kewajaran

Jika ciri-ciri di atas dimiliki oleh sebuah negara,maka dapat dipastikan Negara tersebut hanya
menunggu waktu mengalami krisis ekonomi.

Pendapat Para Ekonom Islam tentang penyebab krisis

Menarik disimak adalah pendapat para ekonom Islam tentang penyebab krisis. Krisis terjadi
karena ketidak seimbangan antara sektor moneter dengan sektor riil. Dalam ekonomi Islam hal
ini disebut dengan riba. Sektor moneter (keuangan) berkembang jauh lebih cepat meninggalkan
sektor riil (barang dan jasa). Selaras dengan prinsip ekonomi kapitalis yang menjadi kiblat
perekonomian dunia setelah runtuhnya paham sosialis yang diusung oleh Soviet yakni tidak
menghubungkan sama sekali antara sektor riil dengan sektor moneter. Keduanya berdiri secara
terpisah.

Pesatnya pertumbuhan sektor moneter yang jauh meninggalkan pertumbuhan sektor riil dapat
diamati dalam pergerakan transaksi-transaksi di bursa saham dan pasar valuta asing yang penuh
dengan praktek ribawi serta spekulasi. Peter Ducker (1980), seorang pakar manajemen
mengatakan bahwa gejala ketidak seimbangan antara laju pertumbuhan sektor moneter dengan
laju pertumbuhan sektor riil (barang dan jasa) disebabkan oleh decoupling yakni keterlepaskaitan
antara sektor moneter dengan sektor riil. Adanya ketidakseimbangan ini, tentu saja menjadi
ancaman serius bagi perekonomian dunia. Para spekulan di bursa saham dan pasar valuta asing
akan dengan mudah membeli atau melepas aset mereka tanpa mempedulikan kestabilan nilai
mata uang suatu negara. Apablia terjadi kepanikan, nilai mata uang yang semula terkatrol akan
terjun bebas begitu para spekulan melepas semua asetnya ke pasar dan memindahkan
investasinya ke pasar lain yang memberikan keuntungan. Banyaknya uang yang beredar di pasar
tanpa diimbangi pergerakan yang berarti dari sektor perdagangan/jasa mengakibatkan nilai uang
menjadi turun sehingga harga-harga menjadi naik. Situasi seperti ini menyebabkan pertumbuhan
inflasi yang tidak terkendali.

Untuk menjamin kestabilan antara sektor moneter dan sektor riil, peranan pemerintah dalam hal
ini Bank Sentral amat sangat diperlukan.
Bank Indonesia mempunyai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, BI memerlukan instrumen kebijakan moneter untuk
memengaruhi penawaran uang, antara lain:

1. Cadangan Wajib (Giro Wajib Minimum)


2. Operasi Pasar Terbuka Dengan Persetujuan Pembelian Kembali (Open market repurchase
agreements)
3. Suku Bunga Diskonto.

Untuk menciptakan keseimbangan antara sektor moneter dengan sektor riil kebijakan
yang dapat diambil adalah:

1. Mengontrol secara ketat atau membatasi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
2. Mempercepat perputaran uang yang beredar di masyarakat. Untuk mempercepat
perputaran uang pemerintah harus menghapus sistem bunga/ riba dari tubuh perbankan.
Jika sistem bunga dihapuskan sektor riil akan tergerak karena dana yang ada sepenuhnya
diinvestasikan di sektor riil untuk memperoleh keuntungan.