Anda di halaman 1dari 3

Teori belajar Dienes

January 18, 2011


akhnayzz
No comments

Menurut Dienes (dalam Hudojo, 1988: 59-61), berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip
matematika dapat dimengerti secara sempurna hanya jika pertama-tama disajikan kepada peserta didik
dalam bentuk-bentuk konkrit. Dari sini dapatlah kita mengerti bahwa bentuk permainan yang dilaksanakan
di dalam laboratorium matematika. Konsep-konsep matematika dipelajari menurut tahap-tahap bertingkat
seperti halnya dengan tahap periode perkembangan intelektualnya Piaget.
Permainan bebas (Free play), permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas
yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan yang memungkinkan peserta didik mengadakan eksperimen dan
memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur konsep yang dipelajari itu. Tahap ini
merupakan tahap yang penting sebab pengalaman pertama, peserta didik berhadapan dengan konsep baru
melalui interaksi dengan lingkungannya yang mengandung representasi konkrit dari konsep itu.
Permainan yang menggunakan aturan (Games), tahap ini merupakan tahap belajar konsep setelah di
dalam periode tertentu permainan bebas terlaksana. Di dalam tahap ini peserta didik mulai meneliti pola-
pola dan keteraturan yang terdapat di dalam konsep itu. Peserta didik memperhatikan aturan-aturan tertentu
yang terdapat dalam konsep (peristiwa-peristiwa). Aturan-aturan itu adakalanya berlaku untuk suatu konsep,
namun tidak berlaku untuk konsep lain. Setelah peserta didik itu mendapatkan aturan yang ditentukan dalam
konsep (peristiwa) itu, peserta didik itu siap untuk memainkan permainan itu.
Permainan mencari kesamaan sifat (Searching for comunalities), tahap ini berlangsung setelah
memainkan permainan yang disertai aturan yang telah disebutkan tadi. Dalam melaksanakan permainan
tahap ke dua tadi (permainan yang menggunakan aturan), mungkin peserta didik belum menemukan struktur
yang menunjukkan sifat-sifat kesamaan yang terdapat di dalam permainan-permainan yang dimainkan itu.
Permainan dengan representasi (Representation), dalam tahap ini peserta didik mencari kesamaan
sifat dari situsi yang serupa. Setelah peserta didik itu mendapatkan kesamaan sifat dan situasi, peserta didik
itu memerlukan gambaran konsep tersebut.
Permainan dengan simbulisasi (Symbolization), permainan dengan menggunakan simbul ini
merupakan tahap belajar konsep di mana peserta didik perlu merumuskan representasi dari setiap konsep
dengan menggunakan simbul matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai.
Formalisasi (Formalization), permainan ini merupakan tahap belajar konsep terakhir. Setelah peserta
didik mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan, peserta didik harus
mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru.

Teori -Teori Belajar (Piaget, Bruner, Vygotsky)


Mei 27, 2010 oleh Herdian,S.Pd., M.Pd.
Teori -Teori Belajar (Piaget, Bruner, Vygotsky)

Pada prinsipnya proses belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang hayat, artinya belajar
adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada dinding kelas. Hal ini
didasari pada asumsi bahwa di sepanjang kehidupannya, manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-
masalah, rintangan-rintangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Prinsip belajar
sepanjang hayat ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO,
yaitu: (1) learning to know, yang berarti juga learning to learn; (2) learning to do; (3) learning to be, dan (4)
learning to live together.
Learning to know atau learning to learn mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya
tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses
belajar. Dengan proses belajar, siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus dipelajari, akan tetapi juga
memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara mempelajari yang harus dipelajari itu.
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan
melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan
kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global.
Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi
dirinya sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan
kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.
Learning to live together adalah belajar untuk bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan
tuntunan kebutuhan dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara
kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya.
Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus
memperhatikan teori-teori yang melandasinya. Ada beberapa teori belajar yang mendukung pembelajaran
dengan pendekatan inkuiri diantaranya:

Teori Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar terbagi empat periode yaitu: a)
periode sensori motor ( 0 – 2 tahun); b) periode praoperasional (2-7 tahun); c)periode operasional konkrit (7-
11 tahun); d) periode operasi formal (11-15) tahun. Sedangkan konsep-konsep dasar proses organisasi dan
adaptasi intelektual menurut Piaget yaitu: skemata (dipandang sebagai sekumpulan konsep); asimilasi
(peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang telah dimiliki seseorang; akomodasi
(terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan
disesuaikan dengan informasi lama); dan equilibrium (bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal
informasi baru).

Teori Bruner
Teori belajar Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Bruner mengemukakan bahwa
perkembangan intelektual anak mengikuti tiga tahap representasi yang berurutan, yaitu: a) enaktif, segala
perhatian anak tergantung pada responnya; b) ikonik, pola berpikir anak tergantung pada organisasi
sensoriknya dan c) simbolik, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal sehingga anak
telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Implikasi teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah menghadapkan anak pada suatu situasi
yang membingungkan atau suatu masalah.Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau
mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam
benaknya.
Teori Vygotsky
Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan
kemampuannya (zone of proximal development), yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas
kemampuan yang sudah dimilikinya. Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua
tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan
secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi, baik antara
guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan seperti saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan
pihak lain, bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat dapat berkembang.

.Teori Belajar yang di Kemukakan Edward Lee Thorndike

Pada mulanya, pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat di dominasi oleh pengaruh dari
Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut “ Connectionism” karena belajar merupakan proses
pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering juga disebut “Trial and error”
dalam rangka menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu, Thorndike mendasarkan teorinya atas
hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak-
anak dan orang dewasa.
Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek
melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara
bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.
Ciri-ciri belajar dengan trial and error :
1.Ada motif pendorong aktivitas
2.ada berbagai respon terhadap situasi
3.ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah
4.ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.

Hukum-Hukum yang digunakan Edward Lee Thorndike

1. Hukum latihan :
Hukum ini pada dasarnya sama dengan hukum prekuensinya Aristoteles, jika asosiasi (atau koneksi
neural) lebih sering digunanakan, maka koneksinya akan lebih kuat, sedangkan yang paling kurang
penggunaannya, maka paling lemahlah koneksinya, dua hal inilah yang berturut-turut disebut dengan hukum
kegunaan dan ketidak bergunaan.

2. Hukum efek
Ketika sebuah asosiasi kemudian di ikuti dengan keadaan yang memuaskan, maka hasilnya menguat
begitu juga sebaliknya ketika sebuah asosiasi di ikuti dengan keadaanyang memuaskan, maka koneksinya
melemah, kecuali untuk bahasa “mentalistik’ (kepuasan bukanlah prilaku), karena hal itu sama dengan
pengondisian operasi coperant Conditioning)-nya Skiner.
Pada tahun 1929, penelitiannya telah membawanya keluar dari semua dal diatas kecuali apa yang yang kita
sebut sekarang dengan penguatan (reinforcement).
Thorndike yang dikenal karena kajiannya tentang Transfer pelatihan (Transfer or Training),
kemudian ia percaya (dan masih sering percaya) bahwa mengkaji subjek-subjek sulit meskipun anda tidak
akan pernah menggunakannya. Adalah bagus buat anda karena hal itu memperkuat pikiran anda. Hal ini
adalah sejenis latihan yang bias memperkuat otot-otot anda. Hal itu kemudian di gunakan kembali untuk
membenarkan cara anak belajar bahasa latin, seperti halnya yang digunakan saat ini. untuk membenarkan
cara anak belajar kalkulus. Namun dia menyatakan bahwa hanya keserupaan objek kedua dengan yang
pertama sama saja yang bias mengarah pada pembelajaran yang meningkat hasilnya dalam subjek kedua.
Jadi bahasa latin mungkin membantu anda belajar bahasa Italia, atau belajar aljabar mungkin membantu
anda belajar kalkulus, tetapi bahasa latin tidak akan pernah membantu anda belajar kalkulus atau hal-hal lain
yang berbeda.

Kesimpulan :
Dari uraian diatas maka dapat diambil berapa kesimpulan :
1. Teori belajar yang dekemukakan Edward Lee Thorndike disebut dengan teori Connectionism atau dapat
juga di sebut Trial and Error Learning.
2. Ciri-ciri Belajar dengan Trial and error adalah :
a. Ada motif pendorong aktivitas
b. Ada berbagai respon terhadap situasi
c. Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah
d. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan
3. Hukum-hukum yang digunakan Edward Lee adalah hukum latihan dan hukum efek.
Diposkan oleh Annisah di 17:00
Label: edward lee thorndike, teori belajar asosiasi thorndike, teori belajar thorndike