Anda di halaman 1dari 4

Berontak

Tawa seorang anak kecil yang ada di wajahmu menghilang ketika kedewasaan datang menyapamu di
siang hari yang panas
Kau hanya mampu mengenang segala momen yang kau lewati bersama para penghibur masa kecil yang
tak pernah hilang dari ingatan
Sekeras apapun mencoba untuk lari dari bayangan sang tawa canda takkan mampu
Tegar mencoba kau untuk jalani masa depanmu yang kau bayangkan cerah dengan kau duduk di teras
rumah menengguk segelas kopi hitam sambil membaca koran di suatu pagi ketika mentari bersinar dari
kaca jendela rumah kecilmu
Gelombang kehidupan takkan kuat menghapus angan angan meskipun kekuatan sapuannya bisa
membuatmu mati dalam sekilas embusan napas
Kau hela napasmu yang tersengal karena kau merasa tak membutuhkan apapun untuk dapat menjadi
yang terbaik
Tanpa tuju di masa kecilmu yang tak bisa kau lupakan kau takkan menjadi apa yang kau impikan besama
sang sahabat pagi
Sekuat apapun kau meronta kau kembali lagi ke rencanamu dan kau ingat bahwa semuanya takkan
berakhir hingga kau kembali kepada sang pelukis pelangi

Tak Berjudul

Bermimpi kau dilarang oleh sang pengecut


Bermunajat kau dilarang oleh sang keparat
Kepala batunya coba hitamnya sinar mentari
Hati hitamnya coba gelapkan cahya jalan menuju ke angan terang di jalan jalan masa depan

Suryanya siapa lagi yang mampu bisikkan kata kata bijak?


Guru seperti apa lagi yang mampu ajarkan keteguhan hati?
Ini bukan urusan dunia yang kau anggap tiada sebab kefanaan
Ini tentang suatu hal yang kau anggap keabadian

Dunia dan segala kefanaannya adalah sebuah jalan


Kau ingin menuju ke kesempurnaan tapi kau menolak subuah keniscayaan
Enyahlah kau yang tak peduli dengan roda waktu menuju masa depan
Enyahlah kau yang hanya peduli dengan khayalan semumu
Harapanmu tak dapat dijangkau bintang
Perbuatanmu tak dapat disentuh kulit kaki
Kau tak layak berbicara dengan sang tuan

Rona

Wahai merona aku merindu


Wajahmu yang syahdu terbayang di pelupuk mataku
Wahai merona aku terpaku
Suaramu yang lembut mengayun berulang di telingaku
Di tepi batang sungai aku tulis syair-syair tak rahu harus bagaimana kuakhiri
Tak indah kata kata yang snaggup kurangkai
Hanya kehujuran jiwa yang sanggup kugoreskan
Dihai gadis berwajah meona
Dengarkanlah puisi ini
Untaian kata-katanya bukanlah goresan tangan sang pujangga
Tetapi, apatah hina dikau membaca tulisan ini?
Ini lah dia si obat hati merindu

Rindu pun tak tervayabgkan vagaimana rasanya


Sensainya tak terukir dalam oelupuk hati bisu
Apakah ia menyata dan oerih
Apakah ia menggelikan hingha membuat tertawa
Apakah ia memacu adrenalain
Menviutkan nyali
Entah, aku coba bertanya pada vabyak hak

Kebisuan lah yang menjawabnya


Duhai oh wahai
Berikanlah aku oenerangan akan kegelisahan ku
Apakah ini merindu
Aoakah arti merindu
Aku bingunh akunlelah
Aku terpaku
Tetapi akunyakin
Aku merindu

Mawar

Ini adalah kisah lama perseturuan dua ego


Berbentur satu sama lain terhempas hingga tak berbekas
Ini adalah luka lama yang tak pernah sembuh
Antara dua kelopak mawar yang berguguran
Hancur melebur terkubur kabur dari ingatan yang bertabur

Mawar-mawar itu mendongengkan syairnya


Alkisah sang mawar yang berasal dari tangkai yang satu
Esa ia tunggal hingga berakhir poli
Kepolian yang melukai
Mereka mati terkenang terluka pedang-pedang panjang
Tertembus panah-panah raksasa
Terkhianat berkhianat mengkhianat dikhianat
Menangis ditangis tertangis
Hembusan angin di lembah-lembah rerumput merah
Gelimpangan mayat-mayat kaku korban manusia
Kekejian yang mengejikan
Kutukan atas takhta keras yang tak penting terkejar

Kini bara api itu tinggallah percikan kecil


Tak padam tapi tak terbakar
Tinggal menunggu waktu hingga menjalar
Tinggal siramkan saja pembara jadilah bara
Tinggal ingatkan saja luka itu agar teringat
Bakar maka terbakarlah sudah

Tutup

Kau boleh panggil aku sesuka hatimu mengkehendaki


Aku tak berbatasan dengan cara dirimu mengarahkan pandang netramu padaku
Biar hancurpun kau pandang aku hina
Tak akan menghentikan sang jejak langkah
Satu langkah untuk seribu lari
Satu jengkal untuk jarak beribu kaki
Biarkan kau menari di penghujung pandangku
Meskipun pilu yang kudapat asalkan aku dapat mengejar sang angan.
Hiduplah ia selalu dalam sanubari salam
Hiduplah ia dalam sela-sela rongga jiwa
Biarkan hati ini beku
Biarkan jiwa ini tersesat
Selama kau ada dalam hati
Selama kau terikut dalam perasaan
Sang hati tak mampu untuk melayangkan kalimat menyela
Sang mulut terkunci rapat
Oh wahai sang mulut
Oh wahai sang TUtUP matamu
Asingkan aku
Biarkan aku larut dalam pikiran gelap
jangan kau coba terangkah pikiran ini
Tak inginku lemah dalam sesat
Tak ingin ku terjebak dalam sedih yang mendalam
Biarkan aku terlarut dalam sedihku dahulu
Tak butuhku kalimat kosongmu
Nasihati aku gurui aku tapi kau tak butuh hakimiku
Aku sudah cukup puas akan omong kosong yang ownuh dengan hipokrasi
Kosong menyedihkan menghinakan sehina cerat hinamu
Pergi kai! enyah kau!
Kubur saja dirimu dalan liang yang kotor dan dangkal.