Anda di halaman 1dari 7

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISA DIAGNOSIS KEPERAWATAN MASALAH PSIKOSOSIAL


“ANSIETAS”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Jiwa pada Masalah Psikososial

Oleh:
WAHYUDI MULYANINGRAT
NPM. 2006541694

PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
SEPTEMBER 2020
ANALISA DIAGNOSA MINGGU I
ANSIETAS

1. Pengertian
Ansietas adalah keadaan emosi berupa ketakutan yang samar, disertai perasaan yang tidak
pasti, tidak berdaya, terisolasi, merupakan pengalaman subjektif individu tanpa objek yang
spesifik karena ketidaktahuan dan mengawali semua pengalaman yang baru seperti memulai
pekerjaan baru atau melahirkan anak (Stuart, 2016).
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons autonom (sumber
sering kalitidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan
oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanyabahaya dan memampukan individu untuk bertindak
menghadapi ancaman (NANDA, 2015).

2. Tanda dan Gejala


2.1. Kognitif
2.1.1. Subjektif
1) Mudah lupa
2) Mengatakan sulit mengambil keputusan
3) Mengatakan sering mimpi buruk
4) Mengatakan takut kehilangan kontrol
5) Gangguan perhatian
6) Konfusi atau bingung
7) Blocking
8) Ketakutan terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
9) Mengungkapkan adanya gejala fisiologis
10) Mengungkapkan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup
11) Mengungkapkan keluhan karena perubahan pada kejadian kehidupan
2.1.2. Objektif
1) Kesulitan konsentrasi
2) Penurunan kemampuan untuk belajar
3) Penurunan lapang persepsi
4) Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
5) Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah
6) Tidak mampu menerima rangsang dari luar
2.2. Afektif
2.2.1. Subjektif
1) Merasa khawatir
2) Merasa bingung dan menyesal
3) Perasaan senang yang berlebihan
4) Perasaan tidak aman
5) Gelisah dan merasa ketakutan
6) Kesedihan yang mendalam hingga mengalami frustrasi
7) Distres dan perasaan yang tidak adekuat
8) Peningkatan rasa ketidakberdayaan yang persisten
2.2.2. Objektif
1) Berfokus pada diri sendiri
2) Ragu dan tidak percaya diri
3) Tidak sabar
4) Marah yang berlebihan
5) Menyalahkan orang lain
6) Peningkatan kewaspadaan
7) Iritabilitas dan gugup
2.3. Fisiologis
2.3.1. Subjektif
1) Perasaan mau pingsan
2) Anoreksia
3) Diare
4) Nyeri abdomen
5) Sering berkemih
6) Anyang-anyangen
7) Peningkatan ketegangan otot
8) Eksitasi kardiovaskuler
9) Mulut kering
10) Jantung berdebar-debar
11) Peningkatan reflek
12) Kedutan pada otot
13) Kesemutan pada ekstremitas
2.3.2. Objektif
1) Wajah tegang
2) Tekanan darah naik
3) Nadi naik
4) Sering napas pendek
5) Tremor tangan dan anggota badan lain
6) Peningkatan keringat
7) Suara bergetar dan kadang meninggi
8) Gangguan pola tidur/insomnia
9) Peningkatan frekuensi pernapasan (hiperventilasi)
10) Pupil melebar
11) Vasokonstriksi supervisial
2.4. Perilaku
2.4.1. Subjektif
1) Penurunan produktivitas
2) Ketegangan fisik dan tremor
2.4.2. Objektif
1) Tampak waspada
2) Melamun
3) Kontak mata buruk
4) Tidak bisa tenang
5) Gerakan tersentak-sentak
6) Gerakan yang irelevan
7) Gelisah dan melihat hanya sepintas
8) Agitasi dan mengintai
9) Kurang koordinasi dalam gerakan dan tidak bertujuan
2.5. Sosial
2.5.1. Subjektif
Sulit menikmati kegiatan harian
2.5.2. Objektif
1) Bicara berlebihan dan cepat
2) Menarik diri dari hubungan interpersonal
3) Kurang inisiatif
4) Menghindari kontak sosial dengan orang lain
5) Kadang menunjukkan sikap bermusuhan
3. Tingkatan Ansietas
1. Ansietas ringan
Biasanya berhubungan dengan peristiwa dan ketegangan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat
ini terjadi peningkatan lapang persepsi dan individu akan berhati-hati, meningkatkan
kewaspadaan dan meningkatkan pembelajaran untuk menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas.
2. Ansietas sedang
Pada tingkatan ini lapang persepsi menurun, individu lebih memfokuskan pada hal penting
saat itu dan mengesampingkan hal yang lain. Kemampuan berfokus pada masalah utama,
kesulitan untuk tetap perhatian dan mampu belajar.
3. Ansietas berat
Pada tingkatan ini lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu tidak mampu
memfokuskan pada penyelesaian masalah, cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan
mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berpikir realistis dan membutuhkan
banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada area lain.
4. Panik
Pada tingkatan ini lahan persepsi sudah sangat sempit sehingga individu tidak dapat
mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberikan
pengarahan. Terjadi peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan
dengan orang lain dan kehilangan pemikiran rasional. Ketidakmampuan total untuk
berfokus; disintegrasi kemampuan koping; gejala fisiologik dari respon ‘figth of flight’.
4. Terapi
Pemberian terapi keperawatan spesialis meliputi : Terapi Individu (Deep breathing relaksasi,
Thought stoping, Relaksasi progresif, Meditasi, Visualisasi, Terapi musik. Terapi Kelompok
(Terapi suportif). Terapi Keluarga (Family sistem terapi, Family Pscyoedukasi, Case
management)
5. Analisa Diagnosa
Ansietas merupakan respon psikologis yang wajar terjadi atau dialami setiap klien yang
mengalami gangguan fisik maupun keluarga yang anggota keluarganya mengalami sakit.
Individu yang mengalami ansietas harus segera mendapatkan penanganan yang tepat dan
cepat. Hal ini dikarenakan apabila individu yang mengalami ansietas tidak mendapatkan
penanganan dengan benar dan tepat yakni perawatan kesehatan jiwa yang tepat, maka
masalah individu ini dapat berkembang menjadi masalah lain baik yang langsung
berpengaruh terhadap perubahan/gangguan fisik maupun perubahan psikologis yang lebih
berat yang mengarah pada gangguan jiwa (Apriady et al., 2016). Individu yang mengalami
ansietas dapat mengalami gangguan pemenuhan nutrisi, tidur dan istirahat, komunikasi dan
interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa ansietas dapat menjadi pemicu munculnya masalah
fisik seseorang. Sedangkan keluarga pasien yang mengalami ansietas dapat mencetuskan
kurang optimalnya kemampuan keluarga dalam partisipasinya untuk memberikan perawatan
pada klien. Keluarga dapat menjadi pasif bahkan menjadi konflik dengan si klien maupun
antar sesama anggota keluarga dikarenakan anggota keluarga yang sakit. Mengingat dampak
ansietas yang lebih fatal ini maka dapat dikatakan bahwa ansietas yang dialami pasien
maupun keluarga pasien harus segera mendapatkan penatalaksanaan yang cepat dan tepat
dengan memberikan asuhan keperawatan psikososial pada klien ansietas.
Asuhan keperawatan psikososial pada klien ansietas dimulai dari pemberian intervensi
keperawatan yang bersifat standar (generalis). Intervensi generalis ini mempunyai inti
kegiatan secara bersama-sama dengan klien mengidentifikasi ansietas yang dialami klien
yaitu penyebab ansietas, situasi yang menyertai ansietas, perilaku klien terkait ansietas,
kemudian perawat mengajarkan klien untuk mengatasi ansietasnya dengan tehnik
pengalihan situasi (distraksi), latihan relaksasi nafas dalam dan relaksasi otot serta teknik
hipnotis diri dengan tehnik 5 jari. Apabila dengan intervensi generalis ini klien masih
mengalami ansietas maka diperlukan perawatan lebih lanjut yaitu pemberian terapi spesialis
yang dilakukan oleh seorang perawat spesialis keperawatan jiwa. Terapi spesialis ini dapat
berupa terapi Relaksasi Otot Progresif, Terapi Penghentian Pikiran (Thought stopping) dan
Terapi Logo (Livana et al., 2016).
Pada klien yang mahasiswa kelola, setelah mendapatkan terapi spesialis thought stopping,
ansietas berangsur hilang. Pasien mengalami percepatan pemulihan gejala penyakitnya
seperti pusing, susah tidur, tidak ada nafsu makan dan lain lain. Penampilan klien menjadi
lebih tenang, klien sudah bisa tidur dengan baik, makanan yang disajikan dapat dihabiskan.
Penemuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Malfasari &
Erlin (2017) bahwa terapi Thought Stopping (TS) dapat menurunkan ansietas pada
mahasiswa yang menjalani praktik klinik keperawatan. Supriati (2010) juga telah
membuktikan dengan bahwa kombinasi terapi thought Stopping dan terapi relaksasi
progresif dapat menurunkan ansietas pada klien dengan gangguan fisik di RSUD dr.
Soedono Madiun. Dengan demikian terapi relaksasi progresif dan Thought Stopping (TS)
sangat efektif untuk menurunkan ataupun menghilangkan ansietas yang dialami oleh klien.
6. Referensi
Apriady, T., Yanis, A., & Yulistini, Y. (2016). Prevalensi Ansietas Menjelang Ujian Tulis
pada Mahasiswa Kedokteran Fk Unand Tahap Akademik. Jurnal Kesehatan Andalas,
5(3), 666–670. https://doi.org/10.25077/jka.v5i3.596
Livana, Keliat, B. A., & Putri, Y. S. E. (2016). Penurunan Tingkat Ansietas Klien Penyakit
Fisik dengan Terapi Generalis Ansietas di Rumah Sakit Umum Bogor. Jurnal
Keperawatan, 8(2).
Malfasari, E., & Erlin, F. (2017). Terapi Thougth Stopping (TS) Untuk Ansietas Mahasiswa
Praktik Klinik di Rumah Sakit. Jurnal Endurance, 2(6), 444–450.
NANDA. (2015). Buku Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. EGC.
Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart (B. A. Keliat
(ed.)). Elsevier inc.
Supriati, L. (2010). Pengaruh Terapi Thought Stopping Dan Progressive Muscle Relaxation
Terhadap Ansietas Pada Klien Dengan Gangguan Fisik Di Rsud Dr. Soedono Madiun.
Universitas Indonesia.