Anda di halaman 1dari 7

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISA DIAGNOSIS KEPERAWATAN MASALAH PSIKOSOSIAL


“GANGGUAN CITRA TUBUH”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Jiwa pada Masalah Psikososial

Oleh:
WAHYUDI MULYANINGRAT
NPM. 2006541694

PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
SEPTEMBER 2020
ANALISA DIAGNOSA MINGGU III
GANGGUAN CITRA TUBUH

1. Pengertian
Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap
tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi,
penampilan dan potensi tubuh. Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap
perubahan bentuk, struktur dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan
(Stuart, Keliat, Pasaribu, 2016). Gangguan Citra tubuh adalah Konfusi dalam gambaran
mental tentang diri-fisik individu (NANDA, 2015).
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gangguan citra tubuh adalah perasaan
tidak puas dalam cara memandang fisik yang meliputi ukuran, fungsi, penampilan dan
potensi tubuh yang tidak sesuai dengan keinginan.

2. Tanda dan Gejala


2.1. Perilaku
2.1.1. Menceritakan tentang masa lalu (kekuatan, penampilan, fungsi)
2.1.2. Mengatakan adda perubahan gaya hidup
2.1.3. Memerlihatkan bagian tubuh yang terganggu
2.1.4. Menyembuyinykan bagian tubuh yang terganggu
2.1.5. Menolak bagian tubuh yang terganggu
2.1.6. Menolak menyentuh bagian tubuh yang terganggu
2.1.7. Menolak menyentuk bagian tubuh yang tergangguan
2.2. Afektif
2.2.1 Mengatakan dirinya kecewa dengan kondisisnya
2.2.2 Mengatakan dirinya putus asa
2.2.3 Mengatakasn dirinya merasa sedih
2.2.4 Mengatakan perasaan tidak berguna, tidak ada harapan
2.2.5 Terlihat mudah tersinggunng
2.2.6 Terlihat malu, menunduk
2.3. Fisiologis
2.3.1. Mengatakan perubahan actual fungsi tubuh
2.3.2. Kurang bergairah
2.3.3. Sulit tidur
2.3.4. Tidak nafsu makan
2.3.5. Hilangnya bagian tubuh
2.3.6. Wajah muruh
2.4. Sosial
2.4.1. Menarik diri
2.4.2. Menolak interaksi dengan orang lain
2.4.3. Aktivitas sosial menurun
2.4.4. Komunikasi terbatas
2.4.5. Banyak diam

3. Predisposisi dan Presipitasi


a. Biologi
1) Adanya riwayat anggota keluarga menderita penyakit genetik (cacat tubuh).
2) Penyalahgunaan obat atau zat terlarang.
3) Menderita penyakit fisik (penyakit kronis, defek kongenital dan kehamilan)
4) Mengalami perubahan kognitif atau persepsi akibat nyeri kronis
5) Adanya masalah psikososial yang menyebabkan gangguan makan, BB obesitas atau
terlalu kurus
6) Penanganan medik jangka panjang (kemoterapi dan radiasi)
7) Maturasi normal: pertumbuhan dan perkembangan masa bayi, anak dan remaja
8) Perubahan fisiologis pada kehamilan dan penuaan
9) Adanya riwayat prosedur pembedahan elektif: prosedur bedah plastik, wajah, bibir,
perbaikan jariangan parut, prosedur pembedahan transeksual, aborsi
10) Adanya perubahan penampilan akibat penyakit kronis, kehilangan bagian tubuh,
kehilangan fungsi tubuh, dan trauma berat.

b. Psikologi
1) Harapan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat atau
sakit.
2) Ketegangan peran adalah perasaan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat
melakukan peran atau melakukan peran yang bertentangan dengan hatinya atau
tidak merasa cocok dalam melakukan perannya (Stuart,2016).
3) Penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang
berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang
lain dan ideal diri yang tidak realistis.
4) Stressor yang lain adalah konflik, tekanan, krisis dan kegagalan
5) Kemampuan melakukan komunikasi verbal, berinteraksi dengan orang lain.
6) Ada pengalaman terlibat dalam masalah hukum atau pelanggaran norma.
7) Motivasi: kurangnya pernghargaan dari orang lain.
8) Self kontrol rendah, ketidakmampuan melakukan kontrol diri ketika mengalami
kegagalan maupun keberhasilan (terlalu sedih atau terlalu senang yang berlebihan).
9) Kepribadian: menghindar, tergantung dan tertutup/menutup diri dan mudah cemas.
10) Rasa posesif, permisif, dan kontrol berlebihan dari salah satu atau kedua orang tua
c. Sosio Kultural
1) Stereotipi peran gender, tuntutan peran kerja, harapan peran budaya, tekanan dari
kelompok sebaya dan perubahan struktur sosial (Stuart,2016).
2) Usia: Pada usia tersebut individu tidak dapat mencapai tugas perkembangan yang
seharusnya sehingga mudah mengalami kecemasan. Teori yang diungkapkan oleh
Erikson (1963) mengemukakan jika tugas perkambangan sebelumnya tidak
perpenuhi dapat menjadi predisposisi terhadap gangguan ansietas. Sebagai respon
terhadap stres, tampak perilaku yang berhubungan dengan tahap perkembangan
sebelumnya karena individu mengalami regresi ke atau tetap berada pada tahap
perkembangan sebelumnya.
3) Gender/jenis kelamin: pelaksanaan peran individu sesuai dengan jenis kelamin yang
tidak optimal akan mempermudah munculnya kecemasan.
4) Kurangnya pendapatan/penghasilan yang dapat mengancam pemenuhan kebutuhan
dasar sehari-hari.
5) Mengalami perubahan status atau prestise.
6) Pengalaman berpisah dari orang terdekat, misalnya karena perceraian, kematian,
tekanan budaya, perpindahan dan perpisahan sementara atau permaenen.
7) Perubahan status sosial dan ekonomi akibat pension.
8) Tinggal di lingkungan yang terdapat bahaya keamanan maupun polutan lingkungan.
9) Kondisi pasien yang tidak mempunyai pekerjaan, pengangguran, ada pekerjaan
baru maupun promosi).
10) Peran sosial: kurang mampu menjalankan perannya untuk berpartisipasi lingkungan
tempat tinggal dan kesulitan membina hubungan interpersonal dengan orang lain.
11) Agama dan keyakinan: kurang menjalankan kegiatan keagamaan sesuai dengan
agama dan kepercayaan atau ada nilai budaya dan norma yang mengharuskan
melakukan pembatasan kontak sosial dengan orang lain (misalnya laki-laki dengan
perempuan).

4. Terapi
Tujuan; klien mampu:
a) Mengungkapkan pikiran otomatis negatif tentang diri sendiri
b) Mengatasi pikiran negative
Tindakan: Terapi individu : Terapi kognitif
a) Mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan menimbulkan pikiran
otomatis negative
b) Melawan pikiran otomatis negative
c) Memanfaatkan sistem pendukung
d) Mengevaluasi manfaat melawan pikiran negatif

5. Analisa Diagnosa
Gangguan Citra Tubuh (GCT) terjadi ketika seseorang mengalami perubahan atau
kehilangan bentuk, struktur dan fungsi salah satu bagian tubuhnya. Hal tersebut
menyebabkan individu berfikir negatif tentang diri dan kemampuannya. GCT tidak jarang
menyebabkan individu merasa tidak berdaya dan ansietas (cemas).
Ansietas merupakan respon psikologis yang wajar terjadi atau dialami setiap klien yang
mengalami gangguan fisik maupun keluarga yang anggota keluarganya mengalami sakit.
Individu yang mengalami ansietas harus segera mendapatkan penanganan yang tepat dan
cepat. Hal ini dikarenakan apabila individu yang mengalami ansietas tidak mendapatkan
penanganan dengan benar dan tepat yakni perawatan kesehatan jiwa yang tepat, maka
masalah individu ini dapat berkembang menjadi masalah lain baik yang langsung
berpengaruh terhadap perubahan/gangguan fisik maupun perubahan psikologis yang lebih
berat yang mengarah pada gangguan jiwa (Apriady et al., 2016). Individu yang mengalami
ansietas dapat mengalami gangguan pemenuhan nutrisi, tidur dan istirahat, komunikasi dan
interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa ansietas dapat menjadi pemicu munculnya masalah
fisik seseorang. Sedangkan keluarga pasien yang mengalami ansietas dapat mencetuskan
kurang optimalnya kemampuan keluarga dalam partisipasinya untuk memberikan perawatan
pada klien. Keluarga dapat menjadi pasif bahkan menjadi konflik dengan si klien maupun
antar sesama anggota keluarga dikarenakan anggota keluarga yang sakit. Mengingat dampak
ansietas yang lebih fatal ini maka dapat dikatakan bahwa ansietas yang dialami pasien
maupun keluarga pasien harus segera mendapatkan penatalaksanaan yang cepat dan tepat
dengan memberikan asuhan keperawatan psikososial pada klien ansietas.
Asuhan keperawatan psikososial pada klien dengan GCT dimulai dari pemberian intervensi
keperawatan yang bersifat standar (generalis). Intervensi generalis ini mempunyai inti
kegiatan secara bersama-sama dengan klien mengidentifikasi kecemasan yang dialami klien
yaitu penyebab ansietas, situasi yang menyertai ansietas, perilaku klien terkait ansietas,
kemudian perawat mengajarkan klien untuk mengatasi ansietasnya dengan tehnik
pengalihan situasi (distraksi), latihan relaksasi nafas dalam dan relaksasi otot serta teknik
hipnotis diri dengan tehnik 5 jari. Terapi spesialis untuk GCT berupa terapi kognitif. Terapi
kognitif sesuai dengan kondisi pasien dengan GCT karena kondisi pasien mengalami adanya
distorsi kognitif yakni pikiran yang tidak realistis dan berunsur negatif. (Livana et al., 2016).
Pada klien yang mahasiswa kelola, setelah mendapatkan terapi spesialis kognitif terapi,
pikiran negaitf berangsur hilang. Pasien mengalami percepatan pemulihan gejala
penyakitnya seperti pusing, susah tidur, tidak ada nafsu makan dan lain lain. Penampilan
klien menjadi lebih tenang, klien sudah bisa tidur dengan baik, makanan yang disajikan
dapat dihabiskan. Penemuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan
oleh Malfasari & Erlin (2017) bahwa terapi Thought Stopping (TS) dapat menurunkan
ansietas pada mahasiswa yang menjalani praktik klinik keperawatan. Supriati (2010) juga
telah membuktikan dengan bahwa kombinasi terapi thought Stopping dan terapi relaksasi
progresif dapat menurunkan ansietas pada klien dengan gangguan fisik di RSUD dr.
Soedono Madiun. Dengan demikian terapi relaksasi progresif dan Thought Stopping (TS)
sangat efektif untuk menurunkan ataupun menghilangkan ansietas yang dialami oleh klien.
6. Referensi
Apriady, T., Yanis, A., & Yulistini, Y. (2016). Prevalensi Ansietas Menjelang Ujian Tulis
pada Mahasiswa Kedokteran Fk Unand Tahap Akademik. Jurnal Kesehatan Andalas,
5(3), 666–670. https://doi.org/10.25077/jka.v5i3.596
Livana, Keliat, B. A., & Putri, Y. S. E. (2016). Penurunan Tingkat Ansietas Klien Penyakit
Fisik dengan Terapi Generalis Ansietas di Rumah Sakit Umum Bogor. Jurnal
Keperawatan, 8(2).
Malfasari, E., & Erlin, F. (2017). Terapi Thougth Stopping (TS) Untuk Ansietas Mahasiswa
Praktik Klinik di Rumah Sakit. Jurnal Endurance, 2(6), 444–450.
NANDA. (2015). Buku Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. EGC.
Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart (B. A. Keliat
(ed.)). Elsevier inc.
Supriati, L. (2010). Pengaruh Terapi Thought Stopping Dan Progressive Muscle Relaxation
Terhadap Ansietas Pada Klien Dengan Gangguan Fisik Di Rsud Dr. Soedono Madiun.
Universitas Indonesia.