Anda di halaman 1dari 3

Fenomenologi

Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia
sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan
ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728 - 1777),
seorang filsuf Jerman. Dalam bukunya Neues Organon (1764). ditulisnya tentang ilmu
yang tak nyata.

Dalam pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas


fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha
untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami.
G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl adalah dua tokoh penting dalam pengembangan
pendekatan filosofis ini.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau
fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu.
Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam
memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54),
Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai
ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep
epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep
epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal
tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

Dalam Creswell (1994) disebutkan empat jenis penelitian dalam pendekatan kualitatif.

1. Etnografi : dalam penelitian ini yang dipelajari adalah kelompok budaya dalam
konteks natural selama periode tertentu, dengan tujuan untuk mengetahui budaya
kelompok tersebut.
2. Grounded Theory : yang diupayakan dalam penelitian ini adalah menyimpulkan
suatu teori dengan menggunakan tahap-tahap pengumpulan data dan saling
menghubungkan antara kategori informasi. Karateristik dari jenis ini adalah
pembandingan antar data dari berbagai kategori dan penggunaan sampel yang
berbeda dari kelompok populasi untuk memaksimalkan persamaan dan
perbedaannya.
3. Studi Kasus : yang digali adalah entitas tunggal atau fenomena (“kasus”) dari
suatu masa tertentu dan aktivitas (bisa berupa program, kejadian, proses, institusi
atau kelompok sosial), serta mengumpulkan detil informasi dengan menggunakan
berbagai prosedur pengumpulan data selama kasus itu terjadi.
4. Studi Fenomenologi : dalam penelitian ini yang diteliti adalah pengalaman
manusia melalui deskripsi dari orang yang menjadi partisipan penelitian, sehingga
peneliti dapat memahami pengalaman hidup partisipan.
2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Karena terkait
langsung dengan gejala-gejala yang muncul di sekitar lingkungan
manusia
terorganisasir dalam satuan pendidikan formal.Penelitian yang
menggunakan
pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna
peristiwa serta
interaksi pada orang-orang dalam situasi tertentu Pendekatan ini
menghendaki
adanya sejumlah asumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan
untuk
mendekati perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau
“penyebab”.
Penyelidikan fenomenologis bermula dari diam. Keadaan “diam”
merupakan upaya menangkap apa yang dipelajari dengan
menekankan pada
aspek-aspek subjektif dari perilaku manusia. Fenomenologis berusaha
bisa
masuk ke dalam dunia konseptual subjek nya agar dapat memahami
bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut dalam
kehidupan
sehari-harinya.
Singkatnya, peneliti berusaha memahami subjek dari sudut pandang
subjek itu sendiri, dengan tidak mengabaikan membuat penafsiran,
dengan
membuat skema konseptual. Ppeneliti menekankan pada hal-hal
subjektif,
tetapi tidak menolak realitas “di sana” yang ada pada manusia dan
yang
mampu menahan tindakan terhadapnya. Para peneliti kualitatif
menekankan
pemikiran subjektik karena menurut pandangannya dunia itu dikuasai
oleh
angan-angan yang mengandung hal-hal yang lebih bersifat simbolis
dari pada
konkret. Jika peneliti menggunakan perspektif fenomenologi dengan
paradigma definisi sosial biasanya penelitian ini bergerak pada kajian
mikro.
Paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai
subjek penelitian (informan penelitian) melakukan interpretasi, dan
kemudian
peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai
mendapatkan
makna yang berkaitan dengan pokok masalah penelitian
. Terdapat beberapa model metodologi dalam penelitian kualitatif yakni antara lain
fenomenologi, etnometodologi, dan interaksionisme simbolik. Pada model fenomenologis,
penelitian ditekankan pada cara manusia sebagai subjek berinteraksi dengan dunia gejala,
baik terhadap objek-objek empirik maupun peristiwa. lni sesuai dengan pengertian
fenomenologi sebagai disiplin yang mempelajari makna suatu gejala bagi manusia secara
individual. Model etnometodologi menekankan pada cara-cara orang mengkonstruk dunia
budaya mereka. Model ini terutama membahas cara berpikir antar individu berkenaan dengan
aturan-aturan etnik kultural yang melatarbelakangi interaksi sosial kelompok budaya mereka.
Sedangkan interaksionisme simbolik menekankan pada makna yang tercakup dalam cara-
cara manusia menggunakan dan menginterpretasikan pola-pola simbolik dalam melakukan
interaksi sosial (Persell, 1987).