Anda di halaman 1dari 17

PENGEMBANGAN KECERDASAN DAN KEBERANIAN ANAK USIA

DINI MELALUI PERMAINAN OUTBOUNDTK ISLAM AL ITTIFAQIAH

INDRALAYA

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan dalam rangka memenuhi tugas penulisan proposal

penelitrian

Oleh

Eka Maryani

2017.01.058

Program Studi Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL QURAN AL-ITTIFAQIAH

INDRALAYA OGAN ILIR SUMATERA SELATAN

KOPERTAIS WILAYAH VII SUMATERA BAGIAN SELATAN

2020/ 2021
PENGEMBANGAN KECERDASAN DAN KEBERANIAN ANAK USIA

DINI MELALUI PERMAINAN OUTBOUND

A. Latar Belakang

Manusia dilahirkan dengan memiliki kecerdasan, kecerdasan sudah ada

sejak kita dilahirkan. Manusia memiliki kecerdasan sejak dini, kecerdasan bagi usia

dini merupakan manfaat yang besar bagi dirinya sendiri bagi perkembangan

sosialnya karena tingkat kecerdasan anak yang berkembang dengan baik akan

memudahkan anak bergaul dengan orang lain serta mampu menciptakan hal-hal

yang baru. Dalam kehidupan sehari-hari tentu saja kecerdasan sangat di perlukan

sehingga kita dapat memilih yang baik dan buruk. Pengembangan kecerdasan

manusia hendaknya dilakukan sejak anak usia dini. Pada anak usia sekitar lima

tahun merupakan masa keemasan ( golden age ) yang perkembangan

kecerdasannya mencapai 50% kapasitas kecerdasan orang dewasa1. Dalam diri

manusia terkandung banyak kemampuan/kecerdasan seperti yang dikemukakan

oleh Gardner dalam Suparno (2003:17) menetapkan ada 9 jenis kecerdasan anak

yaitu kecerdasan bahasa (linguistik varbal), kecerdasan logis matematis, kecerdasan

keruang (visual spasial), kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan

1
As’adi Muhammad, Panduan Praktis Stimulasi Otak Anak, Merangsang Otak, serta
mengoptimalkan ketajaman Daya Ingat dan Konsentrasinya. (Jogjakarta: Diva Press, 2010), h. 12.
intrapersonal, kecerdasan gerakan (kinestetik), kecerdasan naturalis dan kecerdasan

eksistensial2.

Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti pintar dan cerdik, cepat

tanggap dalam menghadapi masalah dan cepat mengerti jika mendengar

keterangan. Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi.

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang

dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran.3

Kecerdasan atau yang biasa disebut dengan inteligensi berasal dari bahasa Latin

“intelligence” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to

organize, to relate, to bind together).4 Kecerdasan bagi anak Usia Dini tentu saja

sangat penting bagi perkembangan diri nya hal ini karea dengan kecerdasan dan

anak usia dini akan dapat menilai sesuatu yang baik bagi dirinya. Kecerdasan

merupakan hal yang harus diperhatikan dengan serius salm perkembangan anak hal

ini kerena kecerdasan tersebut menjadi bagian terpenting dalam menghadapi

tahapan pertumbuhan dan perkembangan mereka di masa depan.

Anak akan berhadapan dengan sejumlah persoalan dirinya dan menuntut

sikap kesiapan intelektual mengatasinya. Anak terlahir dengan memiliki fitrah

untuk tumbuh dan berkembang dalam berbagai hal termasuk kecerdasannya.

Karena pada dasarnya masnusia di lahirkan tanpa mengetahui apapun maka dengan

di berikan nya kecerdasan dapat belajar apa yang ada di dunia ini salah satu ayat Al

2
Muhammad Afifi, Super Jenius denagn Aktivasi Otak Tengah, Mengantarkan Anak Meraih
Masa Depan Super Gemilang & Menjadi Pribadi Super Cerdas, Jenius, Setta Mencerahkan,
(Jakarta: Himmah Media Utama, 2010), h.39-40
3
Daryanto, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, (Surabaya : Apollo, 2015), Hlm. 141
4
Uswah Wardiana, Psikologi Umum, (Jakarta: Pt. Bina Ilmu, 2015), Hlm.159
Quran Hal ini di nyatakan di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 78 yang

bunyinya

ۡ ‫هلل وٱ همى ن ۡشي‬


‫هكم َل ت َۡعل ت مه ه ه بهطهى ن أ ۢ م َۡخ ر ج‬

ۡ ‫هكم أ و ر و ا ٱك ۡسم ع و ج ع ك هكهم ۡ َۡل َۡب ص ٱ و ۡ ف‬


‫هكم ت َۡش هك‬

٨ ‫ٱ ُ دَ هرو ن ۡ َۡل عل ك‬

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan

tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan

dan hati, agar kamu bersyukur5

Surat di atas menandakan bahwa Rasa keingintahuan seorang anak yang

agresif dapat dibuktikan dengan rasa untuk melakukan percobaan terus menerus

hingga berhasil dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Bagi diri anak, benar

dan tidak tindakan yang dilakukan, bahaya yang dihadapi ataupun tidak sebagai

akibat dari perbuatan tersebut adalah hal yang tidak menjadi prioritas dalam

kehidupan awal seorang anak6. Dalam sabda Rasulullah bersabda,

"Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk (kehidupan)

setelah kematian. Kecerdasan dalam Al Quaran terdapat pada surat Qs Arrahman

Ayat 1-4 dengan arti sebagai berikut

5
Lajnah Penthasih, Al-Qur’an Dan Terjemahan, ( Bandung: Cv Penerbit Diponegoro, 2011), h. 220
6
Rausyan Fikr 2018, Kecerdasan Anak dalam Persfektif Al Quran. Jurnal Islam Vol 14 no 2
(Tuhan) Yang maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al quran,

Diamenciptakan manusia,Mengajarkan pandai berbicara ( Qs Arrahman 1-5 )7

Selain kecerdasan hal yang penting pada anak usia dini adalah keberanian,

Keberanian diartikan sebagai sifat yang berani menanggung resiko dalam

pembuatan keputusan dengan cepat dan tepat waktu8. Keberanian bagi anak usia

dini tentu saja sangat penting karena dalam hal ini keberanian sejak usia dini dapat

mengembangkan mental anak sejak dini. Pengambangn kecerdasan dan keberanian

dapat dikembangkan dengan berbagai cara salahsatunya adalah denga media

Permainan Outbond

Oubound adalah pembelajaran yang di lakukan di alam terbuka,

penggunaannya di nilai memberi kontribusi positif terhadap kesuksesan belajar.

Kegiatan outbound cukup efektif dalam membangun pemahaman terhadap suatu

konsep dan membangun prilaku.9 Outbound adalah kegiatan belajar mandiri dalam

arti seluas luasnya mulai dari mengatasi rasa takut, ketergantungan kepada orang

lain sampai tidak percaya diri sehingga akhirnya menemukan jati dirinya juga mau

mendengarkan orang lain. Outbound adalah kegiatan yang dilakukan oleh untuk

memantapkan pemahaman konsep pembinaan perilaku dan kepemimpinan di alam

terbuka secara sistematis, terencana dan penuh kehati-hatian tanpa meninggalkan

7
Lajnah Penthasih, Al-Qur’an Dan Terjemahan
8
Aldri Frinaldi, Muhamad Ali Embi. (2011). “Pengaruh Budaya Kerja Etnik Terhadap
Budaya Kerja Keadilan dan Keterbukaan PNS dalam Membangun Masyarakat
Madani dan Demokrasi (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat)” dalam Jurnal
Humanus Vol.10 No.1. (pp:52-61).
9
Suryana, Dadan and Yulsyofriend, Yulsyofriend (2012) Efektivitas Outbound dalam
Pengembangan Kepercayaan Diri pada Anak TK Pertiwi VI Kota Padang. Project Report. PG-PAUD
FIP UNP, Padang.
kemungkinan mengembangkan kemampuan mengambil resiko yang harus di miliki

oleh seorang pemimpin melalui kegiatan kelompok. Outbound merupakan kegiatan

pembelajaran yang dapat melatih seorang anak yang mempunyai sifat penakut,

pemalu agar memiliki keberanian dan percaya diri.

Kegiatan outbound diawali dengan pengalaman sederhana seperti bermain,

dengan bermain anak dapat mengembangkan kepercayaan diri, empati, tanggung

jawab, kepemimpinan dan sebagainya. Outbound merupakan permainan modern

yang memanfaatkan alam. Para peserta yang mengikuti outbound tidak hanya

dihadapkan pada tantangan intelegensia, tetapi juga fisik dan mental. Dan ini akan

terus melatih menjadi sebuah pengalaman yang membekali dirinya dalam

menghadapi dalam persaingan yang nyata dalam kehidupan sosial masyarakat10

Outbound menurut Subagyo adalah kegiatan yang menyenangkan dan

penuh tantangan. Bentuk kegiatan berupa simulasi kehidupan melalui permainan-

permainan yang kreatif, rekreatif, dan edukatif baik secara individual maupun

kelompok dengan tujuan untuk pengembangan diri maupun kelompok11

Dengan uraian di atas mengenai Outbond dan manfaat dari outbond yang dapat

mengembangkan diri makan penulis tertarik untuk meneliti dengan judul

“PENGEMBANGAN KECERDASAN DAN KEBERANIAN ANAK USIA

DINI MELALUI PERMAINAN OUTBOUND”

10
Hesti Purnama Sari ( 2014 ), Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Peserta Didik Melalui
Aktivitas Outbond, (Jurnal Fakultas Teknik Universitas Yogyakarta), h. 27-29
11
Imam Subagyo, Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Outbound Untuk Meningkatkan
Penyesuaian Diri Siswa, (Jakarta: PT Indeks, 2013), h. 3
B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana Perkembangan Kecerdasan Anak Usia Dini Melalui Permainan

Outbond

2. Bagaimana Perkembangan Keberanian Anak Usia Dini Melalui Permainan

Outbond

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas dapat di rumuskan

masalah penelitian sebagai berikut: metode yang digunakan pada penelitian ini

hanya terbatas pada metode kualitatif

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, permasalahan yang akan dikaji melalui

penelitian ini adalah Bagaimana Perkembangan Kecerdasan dan Keberanian Anak

Usia Dini Melalui Permainan Outbond ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah

untukmenganalisis Bagaimana Perkembangan Kecerdasan dan Keberanian Anak

Usia Dini Melalui Permainan Outbond

F. Manfaat Teoritis

Adapun manfaat yang diperoleh dari adanya penelitian ini antara lain adalah :
1. Teoritis Penelitian ini dapat memberikan khazanah bacaan dan keilmuan baru

dalam ruang lingkup Pembelajaran dalam pengembangan kecerdasan dan

keberanian anak.

2. Praktik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

masyarakat bahwa pembelajaran dan pengembangan kecerdasan dan keberanian

anak usia dini dengan menggunakan permainan Outbond sesuai dengan ajaran

Islam

G. Kerangka Teori

Agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami istilah-istilah yang terdapat

dalam judul skripsi ini, maka penulis akan menjelaskan beberapa istilah yang

terdapat dalam judul skripsi ini, yaitu sebagai berikut

1. Anak Usia Dini

Menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem

pendidikan nasional anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia

0-6 tahun. Dalam masa ini anak sedang mengalami proses pertumbuhan dan

perkembangan dari segala aspek perkembangannya. Usia dini juga disebut

sebagai masa peka terhadap segala rangsangan dari lingkungan sehingga

dapat disebut masa yang paling menentukan tumbuh kembang anak

selanjutnya. Menurut para ahli psikologi menjelaskan istilah anak usia dini

sebagai individu yang berbeda yang memiliki ciri-ciri yang tampak dari
psikologis anak selama masa kanak-kanak awal, diantaranya usia

kelompok, usia meniru, mencari jati diri dan usia kreatif12

2. Definisi Konseptual

Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, maka perlu diberikan

batasan dalam pembahasan penelitian.Hal ini bertujuan untuk memperjelas

ruang lingkup penelitian.Pesan adalah sesuatu yang disampaikan pengirim

kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau

melalui media komunikasi baik berupa perkataan dan perbuatan maupun

non verbal yaitu suara, mimik dan gerak gerik.Adab makan dan minum

artinya mempraktikkan cara makan dan minum yang sesuai dengan aturan

yang nabi ajarkan

1). Kecerdasan

Gardner yang menciptakan teori kecerdasan majemuk (Multiple

intelligence) juga mengungkapkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan

untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dan kemudian

menghasilkan produk (karya)13

12 John W. Santrock (2007). Perkembangan Anak. Jilid 1 Edisi kesebelas. Jakarta : PT.

Erlangga 56-60
13
Suharnan, Psikologi Kognitif Edisi Revisi (surabaya: Srikandi, 2005), 345-346.
David Wechslet berpendapat bahwa kecerdasan adalah kemampuan

untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi

lingkungan secara efektif.14

2). Keberanian

Keberanian diartikan sebagai sifat yang berani menanggung resiko

dalam pembuatan keputusan dengan cepat dan tepat waktu15. Keberanian

bagi anak usia dini tentu saja sangat penting karena dalam hal ini keberanian

sejak usia dini dapat mengembangkan mental anak sejak dini. keberanian

anak dalam bertanya dan mampu menjawab saat diberikan pertanyaan,

memberi pendapat sendiri, serta mengambil keputusan yang dibuat sendiri,

anak yang sudah percaya diri tidak akan malu dalam melakukan kegiatan

pembelajaran, saat anak memiliki cerita tentang pengalamannya anakmulai

berani bercerita didepan kelas dan ditonton bersama-sama oleh temannya.16

3) Outbound

Oubound adalah pembelajaran yang di lakukan di alam terbuka,

penggunaannya di nilai memberi kontribusi positif terhadap kesuksesan

belajar. Kegiatan outbound cukup efektif dalam membangun pemahaman

14
Virzara Auryn, How to create a smart kids? Cara Praktis Menciptakan Anak Sehat dan
Cerdas (Yogyakarta: Katahati, 2014), 47.
15
Aldri Frinaldi, Muhamad Ali Embi. (2011). “Pengaruh Budaya Kerja Etnik Terhadap
Budaya Kerja Keadilan dan Keterbukaan PNS dalam Membangun Masyarakat
Madani dan Demokrasi (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat)” dalam Jurnal
Humanus Vol.10 No.1. (pp:52-61).
16
Novan Ardy Wiyani, Mengelola & Mengembangkan Kecerdasan Sosial & Emosi Anak
Usia Dini. (Jakarta : AR-RUZZ MEDIA, 2014), h. 134
terhadap suatu konsep dan membangun prilaku17. Outbound menurut

Subagyo adalah kegiatan yang menyenangkan dan penuh tantangan. Bentuk

kegiatan berupa simulasi kehidupan melalui permainan-permainan yang

kreatif, rekreatif, dan edukatif baik secara individual maupun kelompok

dengan tujuan untuk pengembangan diri maupun kelompok18. Para peserta

yang mengikuti outbound tidak hanya dihadapkan pada tantangan

intelegensia, tetapi juga fisik dan mental. Dan ini akan terus melatih menjadi

sebuah pengalaman yang membekali dirinya dalam menghadapi dalam

persaingan yang nyata dalam kehidupan sosial masyarakat19

H. Tinjauan Pustaka

Pada penelitian ini menggunakan rujukan pada penelitian lainya, rujukan

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

Pertama Penelitian yang di lakukan Linda Puspita Sari 2019 dengan judul UPAYA

MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI

MELALUI OUTBOUND HALANG RINTANG DI TK PGRI 38 TAMAN

PEKUNDEN SEMARANG TAHUN AJARAN 2014/2015. Penalitian ini

bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak usia dini melalui

outbound halang rintang di TK PGRI 38 Taman Pekunden pada kelompok B

17
Suryana, Dadan and Yulsyofriend, Yulsyofriend (2012) Efektivitas Outbound dalam
Pengembangan Kepercayaan Diri pada Anak TK Pertiwi VI Kota Padang. Project Report. PG-PAUD
FIP UNP, Padang.
18
Hesti Purnama Sari (2014), Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri Peserta Didik
Melalui Aktivitas Outbond, (Jurnal Fakultas Teknik Universitas Yogyakarta), h. 27-29
19
Imam Subagyo, Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Outbound Untuk Meningkatkan
Penyesuaian Diri Siswa, (Jakarta: PT Indeks, 2013), h. 3
semester II tahun ajaran 2014/2015 melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan

tindakan, observasi dan refleksi. Metode pengumpulan data menggunakan

observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukkan bahwa melalui outbound

halang rintang terbukti dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak usia dini

pada kelompok B di TK PGRI 38 Taman Pekunden Semarang Tahun Ajaran

2014/2015. Hal tersebut ditandai dari ketercapaian indikator keberhasilan

penelitian tindakan kelas dan adanya peningkatan kecerdasan emosional anak.

Kondisi awal ketuntasan anak sebesar 28,57%. Siklus I ketuntasan yang dicapai

sebesar 50% dan pada Siklus II ketuntasan yang dicapai sebesar 85,71% Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa Melalui Outbound Halang Rintang dapat

meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak TK di TK PGRI 38 Taman Pekunden

Semarang Tahun Ajaran 2014/2015.

Kedua Peneltian yang dilakukan oleh Hermawati Dwi Susari IMPLEMENTASI

KEGIATAN OUTBOUND DALAM UPAYA PEMBENTUKAN PERILAKU

SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI. Bertujuan untuk melihat

pembentukan perilaku dengn kegiatan OutBound. Hasil Dari hasil temuan

penelitian disebutkan oleh guru selaku fasilitator selama proses wawancara bahwa

terdapat keterbatasan dan bervariasinya tingkat pengetahuan serta keterampilan

guru dalam menjalankan perannya baik sebagai pendidik PAUD maupun sebagai

fasilitator dalam outbound. Permasalahan tersebut timbul karena adanya korelasi

dengan data yang diperoleh dari hasil studi dokumentasi mengenai identitas guru.

Lebih lanjut dapat disampaikan bahwa latar belakang pendidikan sebagian besar

guru tidak berasal dari bidang pendidikan.


Ketiga oleh Sri Nurlaily dengan judul METODE PERMAINAN OUTBOUND

DALAM UPAYA PENINGKATAN KEMANDIRIAN ANAK. Peneltian ini

bertujuan untuk mengetahu bagaimana metode permainan OutBound dalam Upaya

penigkatan Kemandirian anak. Hasil dari penelitian ini adalah hasil Penelitian

Tindakan Kelas yang dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan bahwa metode

permainan outbound adalah salah satu upaya yang dapat meningkatkan

kemandiriana nak usia 4-5 tahun di PAUD Ad-Da’wah Kec. Cibadak Kab.

Sukabumi. Hal tersebut didukung oleh data dan informasi bahwa pada tahap pra

siklus diperoleh kemandirian anak sebagai berikut, Aspek kemampuan fisik dengan

kategori Belum Berkembang (BB) sebesar 69%, Mulai Berkembang (MB) 31%,

sedangkan kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat

Baik (BSB) sebesar 0%.

I. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Ditinjau dari objek penelitiananya, maka penelitian ini termasuk

dalam penelitian pustaka dan observasi, sebab yang diteliti adalah bahan

dokumen dan kegiatan langsung dilapangan, yaitu melakukan analisis

Pengembangan Kecerdasan dan Keberanian anak usia dini dengan

permainan Outbound . Oleh karena itu, penelitian ini disebut sebagai

penelitian pustaka (library research ).

2. Jenis Pendekatan
Menurut M.H. Abrams sebagaimana dikutip Heru Kurniawan,

mengemukakan bahwa ada empat macam pendekatan terhadap karya sastra

yang terdiri dari, pertama pendekatan mimetik yaitu pendekatan yang dalam

mengkaji sastra berupaya memahami karya sastra dengan realitas dengan

kenyataan. Kedua pendekatan ekspresif ialah pendekatan yang dalam

memandang dan mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada

sastrawan selaku pencipta karya sastra.Ketiga pendekatan pragmatik adalah

pendekatan yang memandang karya satra sebagai sarana untuk

menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Keempat pendekatan

obyektif, ialah pendekatan yang memfokuskan kepada karya sastra itu

sendiri. Keempat pendekatan tersebut kemudian mengalami perkembangan

hingga muncul berbagai pendekatan seperti pendekatan stuktural, semiotik,

sosiologi sastra, resepsi sastra, psikologi sastra, dan moral20.

3. Sumber Data

a. Sumber Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang secara khusus menjadi

objek penelitian.Adapun data primer yang digunakan dalam penelitian ini

adalah Observasi dengan permainan Outbound

b. Sumber Sekunder

20
Heru Kurniawan, Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga
Penulisan Kreatif,2019,: Purwekerto hlm. 61-63
Sumber data primer adalah sumber data yang secara khusus menjadi

objek penelitian.Adapun data Sekunder yang digunakan dalam penelitian

ini adalah data-data jurnal dan buku-buku.

c. Teknik Pengumpulan data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data adalah dokumentasi

dan observasi .Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang

ditujukan untuk memperoleh data langsung yang meliputi buku-buku yang

relevan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, dan data yang relevan

dengan penelitian21. Observasi pada penelitian ini dengan langsung dengan

pada permainan outbound.

d. Teknik Analisa Data

Dalam menganalisis data yang sudah terkumpul dan tersistematisasi,

teknik yang akan digunakan adalah jenis analisis isi atau content analysis,

yaitu penelitian yang dilakukan terhadap informasi, yang di

dokumentasikan dalam rekaman, baik dalam gambar, suara mupun tulisan22

J. Sitematika Pembahasan

Sistematika ini menjelaskan tentang kerangka berpikir yang akan disajikan dalam

penelitian ini dari awal hingga akhir. Adapun sistematika dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

21
Riduan, Belajar Mudah Penenlitian: Untuk Guru-karyawan dan peneliti pemula, (Bandung :
Alfabeta, 2011),hlm. 77
22
Suharsimi,Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta : Rineke Cipta, 1998), hlm. 309
Bab I berupa pendahuluan beirisi tentang latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian, sistematika

pembahasan.

Bab II merupakan Landasan Teori. Berupa biografi naskah yaitu deskripsi lagu

animasi Nussa dan Rara Episode makan jangan asal makan.Dalam bab ini

membahas tentang sejarah film Nussa, biografi dan profil Pembuat animasi Nussa,

tokoh dan penokohan dalam film Nussa, definisi pendidikan Anak Usia dini,

definisi moral dan agama Anak Usia Dini, prbolematika dan alternatif

pengembangan moral dan agama Anak Usia Dini, dan Standar tingkat pencapaian

perkembangan anak.

Bab III, Metodologi Penelitian, terdiri dari jenis penelitian, subjek penelitian, waktu

penelitian, teknik pengumpulan data dan analisis data.

Bab IV berisi Hasil Penelitian. Dalam bab ini penulis paparkan data mengenai adab

makan manurut Islam yang terkandung dalamlagu animasi Nussa dan Rara Episode

makan jangan asal makan, yang meliputi nilai-nilai pendidikan akidah, nilai-nilai

akhlak dan nilai-nilai ibadah.

Bab V yaitu penutup, di dalamnya berisi kesimpulan dan saran