Anda di halaman 1dari 31

PL3002 Aspek Kebencanaan

Laporan Studi
ANALISIS BAHAYA GEMPA BUMI

Dosen:
Ir. Djoko Santoso Abi Suroso, M.PSt, Ph. D.

Dikerjakan Oleh:
M. Addifa Yulman (15006013)
I Gusti Ayu Andani (15408008)
Putri Sugih Permatasari (15408049)
Yunie Nurhayati (15408072)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2010
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................ 2
DAFTAR TABEL..................................................................................................................... 2
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 2

1.1 Fenomena Gempa Bumi................................................................................................2


1.2 Data Kejadian Gempa Bumi..........................................................................................2

BAB II PENDEKATAN DAN TAHAPAN-TAHAPAN ANALISIS BAHAYA................................2

2.1 Metoda Deterministik (DSHA)........................................................................................2


2.2 Metoda Probabilistik (PSHA).........................................................................................2

2.1.1 Input Data............................................................................................................... 2


2.1.2 Model Atenuasi Gempa...........................................................................................2
2.1.3 Intensitas Pada Batuan Dasar Keteknikan..............................................................2
2.1.4 Efek Amplifikasi Gelombang di Dekat Permukaan..................................................2
2.1.5 Respon Struktur......................................................................................................2
2.1.6 Tampilan Peta Probabilitas Goncangan Gempa.....................................................2

BAB III DAERAH RAWAN BENCANA GEMPA DI INDONESIA............................................2


BAB IV KESIMPULAN............................................................................................................ 2
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 2

2
DAFTAR TABEL

Tabel I.1 Data Kejadian Gempa Bumi di Indonesia.................................................................2

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Epicenter gempa bumi yang disebabkan oleh Patahan..........................................2


Gambar 2 Patahan dan Zona Subduksi..................................................................................2
Gambar 3 Diagram Cara Membuat Peta Bahaya Goncangan Berdasarkan Metoda
Determinisitik Standar........................................................................................................ 2
Gambar 4 Peta Patahan Sumatera di wilayah Danau Toba....................................................2
Gambar 5 Peta Bahaya Goncangan Gempabumi Berdasarkan Analisis Deterministic-
Konvensional...................................................................................................................... 2
Gambar 6 Peta Probabilistik Bahaya Goncangan Gempa Untuk Wilayah Jepang..................2
Gambar 7 Peta Probabilistik Tingkat Bahaya Goncangan Gempa Di Sumatera Untuk “10%
Probability Of Exedance”....................................................................................................2
Gambar 8 Peta Diagram Alur Kerja Kajian Bahaya Goncangan Gempa Dengan Metoda
Probabilistik........................................................................................................................ 2
Gambar 9 Peta Pergerakan Lempeng Tektonik Aktif yang Mengapit Kepulauan Indonesia....2
Gambar 10 Peta Tektonik Aktif Indonesia dan Gempa Bumi yang Terjadi Sejak Tahun 1973 2

4
BAB I
PENDAHULUAN

Bagian ini akan dibagi menjadi 2 subbagian, yaitu fenomena gempa bumi dan data
kejadian gempa bumi di Indonesia.

1.1 Fenomena Gempa Bumi


Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi
(pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Terjadinya gempa bumi disebabkan
oleh adanya pelepasan kekuatan yang berada dari dalam bumi, yaitu sentakan asli yang
bersumber dari dalam bumi merambat melalui permukaan lalu menerobos permukaan kulit
bumi karena keseimbangannya yang terganggu. Batuan kulit bumi menjadi bergeser sampai
tercapainya keseimbangan kembali. Gempa bumi berlaku setiap hari di bumi, namun
kebanyakannya adalah kecil dan tidak menyebabkan kerusakan. Gempa bumi kecil juga
akan mengiringi gempa bumi besar dan bisa terjadi sebelum atau sesudah gempa bumi
besar tersebut terjadi, yang disebut gempa susulan.

Gambar 1 Epicenter gempa bumi yang disebabkan oleh Patahan

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika

Gempa bumi di Indonesia sering terjadi pada wilayah-wilayah yang memiliki zona
subduksi dan patahan/sesar aktif. Penyebab terjadinya Gempa Bumi yaitu proses tektonik
akibat pergerakan kulit/lempeng bumi, aktivitas sesar di permukaan bumi, pergerakan
geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah, aktivitas gunung api

5
(vulkanisme), ledakan nuklir. Menurut sebab terjadinya, gempa dibedakan menjadi empat
macam, yaitu:

a) Gempa vulkanis

Gempa vulkanis adalah gempa yang terjadi akibat meletusnya gunung api. Apabila
gunung api akan meletus, maka timbullah tekanan gas dari dalam. Tekanan ini
menyebabkan terjadinya getaran yang disebut gempa bumi. Gempa vulkanis hanya terdapat
di daerah gunung api yang akan, sedang, atau sesudah meletus. Bahaya gempa ini relatif
kecil, tetapi sangat terasa di sekitarnya.

b) Gempa tektonik
Gempa tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang dihasilkan dari geseran
batuan sesar/patahan aktif sepanjang batuan sempadan plat tektonik. Tenaga dihasilkan
oleh tekanan antara batuan dikenali sebagai kecacatan tektonik. Kesan ini adalah seperti
gelang getah ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Bahaya gempa ini sangat besar sekali
sebab akibat gempa yang timbul, tanah dapat mengalami retakan, terbalik bahkan dapat
bergeser.
Patahan (fault) adalah gejala retaknya kulit bumi yang tidak plastis akibat pengaruh
tenaga horizontal dan tenaga vertikal. Daerah retakan seringkali mempunyai bagian-bagian
yang terangkat atau tenggelam. Jadi, selalu mengalami perubahan dari keadaan semula,
kadang bergeser dengan arah mendatar, bahkan mungkin setelah terjadi retakan, bagian-
bagiannya tetap berada di tempatnya.

Gambar 2 Patahan dan Zona Subduksi

Zona Subduksi

6
Sumber: Modul Aneka Bentuk Dan Potensi Muka Bumi, 2008

. Zona subduksi terjadi ketika lempeng samudra bertabrakan dengan lempeng benua


dan menelusup ke bawah lempeng benua tersebut ke dalam astenosfer.
Lempeng litosfer samudra mengalami subduksi karena memiliki densitas yang lebih tinggi.
Lempeng ini kemudian mencair dan menjadi magma. Suatu zona subduksi yang paling
mungkin untuk ditemukan adalah pada suatu batas plat menyimpang.

c) Gempa runtuhan (terban)


Gempa runtuhan dapat terjadi karena runtuhnya tanah di daerah tambang yang
berbentuk terowongan atau pegunungan kapur. Pada umumnya di pegunungan kapur
terdapat gua yang disebabkan oleh korosi. Jika gua atau lubang tersebut runtuh, maka
timbullah gempa bumi. Namun, bahaya yang ditimbulkan gempa bumi ini relatif kecil.

d) Gempa Jatuhan
Bumi merupakan salah satu planet yang ada dalam susunan tata surya. Dalam tata
surya kita terdapat ribuan meteor atau batuan yang bertebaran mengelilingi orbit bumi.
Sewaktu-waktu meteor tersebut jatuh ke atmosfir bumi dan kadang-kadang sampai ke
permukaan bumi. Meteor yang jatuh ini akan menimbulkan getaran bumi jika massa meteor
cukup besar. Getaran ini disebut gempa jatuhan, namun gempa ini jarang sekali terjadi.

7
1.2 Data Kejadian Gempa Bumi
Berikut merupakan data kejadian gempa bumi yang kekuatannya lebih dari 5 skala
richter yang mengguncang wilayah Indonesia selama periode 1815 – 2009.

Tabel I.1 Data Kejadian Gempa Bumi di Indonesia

No
. Tanggal Area Kekuatan Korban jiwa
1 10 April 1815 Pulau Sumbawa, NTB - ± 100.000 jiwa
2 27 Agustus 1883 Selat Sunda - 36.417 jiwa
3 20 September 1899 Ambon, Maluku 7.8 SR 3.280 jiwa
4 20 Mei 1919 Blitar, Jawa Timur - ± 5.000 jiwa
5 01 Februari 1923 Laut Banda 8,5 SR ± 140.000 jiwa
6 02 Februari 1938 Pulau Banda fan Pulau Kai 8.5 SR  
7 14 Agustus 1968 Sulawesi Utara 7.8 SR 392 jiwa
8 26 Juni 1976 Papua   ± 9.000 jiwa
9 19 Agustus 1977 Kepulauan Sunda 8.0 SR ± 2.200 jiwa
10 12 Desember 1992 Pulau Flores 7.5 SR ± 2.100 jiwa
11 02 Juni 1994 Banyuwangi 7.2 SR ± 200 jiwa
12 04 Juni 2000 Bengkulu 7.3 SR > 100 jiwa
13 06 Februari 2004 Nabire, Papua 6,9 SR 26 jiwa
14 12 November 2004 Alor 7.3 SR ± 20 jiwa
15 26 Desember 2004 Samudera Hindia 9.3 SR 131.028 jiwa
16 28 Maret 2005 Pulau Nias 8.3 SR -
17 27 Mei 2006 DI. Yogyakarta dan Klaten 5.9 SR 6.234 jiwa
18 17 Juli 2006 Ciamis dan Cilacap 7.7 SR > 400 jiwa
19 11 Agustus 2006 Pulau Simeulue 6.0 SR -
20 06 Maret 2007 Sumatera Barat 6.4 Mw > 60 jiwa
21 12 September 2007 Kepulauan Mentawai 7.7 SR ± 10 jiwa
22 26 November 2007 Sumbawa 6.7 SR > 3 jiwa
23 17 November 2008 Sulawesi Tengah 7.7 SR 4 jiwa
24 04 Januari 2009 Manokwari 7.2 SR 2 jiwa
25 02 September 2009 Tasikmalaya dan Cianjur 7.3 SR > 87 jiwa
26 30 September 2009 Sumatera Barat 7.6 Mw 1.115 jiwa
27 01 Oktober 2009 Kerinci 6.6 Mw 2 jiwa
28 9 November 2009 Pulau Sumbawa 6.7 SR 1 jiwa
29 07 April 2010 Aceh 7.2 SR -
Sumber: kapanlagi.com

8
BAB II
PENDEKATAN DAN TAHAPAN-TAHAPAN ANALISIS BAHAYA

Bab ini akan membahas topik mengenai cara pendekatan dan tahapan dalam
menganalisis bahaya gempa bumi.
Pendekatan Analisis yang digunakan dalam penentuan analisis bencana gempa ada
2 buah yaitu secara deterministik ( Deterministic Seismic Hazard Analysis(DSHA)) dan
secara probabilistik (Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA)). Berikut adalah
penjelasan langkah – langkah dari Masing – masing metode Analisis yang diadopsi dari
sumber Pedoman Analisis Bahaya Dan Risiko Bencana Gempabumi: Danny Hilman
Natawidjaja, 2008.

2.1 Metoda Deterministik (DSHA)


Prinsip memperkirakan besar goncangan dengan metoda deterministic standar
adalah dengan memakai rumus-rumus empiris atau formula hubungan antara besar
kekuatan dan tipe sumber gempa dengan dampak kerusakan berdasarkan data-data
kerusakan gempa bumi di dunia. Kekurangan metoda ini adalah karena sampai saati ini
belum ada rumus-rumus empiris yang khusus dikembangkan untuk wilayah Indonesia. Oleh
karena itu terpaksa harus mengambil rumus-rumus empiris yang dikembangkan berdasarkan
data-data dari luar Indonesia, sehingga belum tentu cocok.

Gambar 3 Diagram Cara Membuat Peta Bahaya Goncangan Berdasarkan Metoda


Determinisitik Standar

Sumber: Diadosi dari “Seismic Hazard Manual Guide” Natural Research Institute for Earth
Science and Disaster Prevention-Japan, 2008

9
Contoh Analisis Goncangan Gempa dengan Metoda Deterministik Konvensional:
Dalam analisis deterministik faktor probabilitas atau berapa besar kemungkinan
terjadinya suatu gempa besar di suatu wilayah tertentu tidak dipentingkan. Yang dihitung
adalah berapa besar goncangan yang mungkin terjadi di wilayah tersebut apabila gempa
besar yang terjadi pada salah satu sumber gempa disekitarnya terjadi. Jadi besar
goncangan yang terjadi adalah akibat dari suatu kejadian gempa. Biasanya diambil besari
magnitude maximum (worst-case). Secara Sederhana model besar goncangan gempa dapat
dihitung sebagai berikut.
Akselerasi gempa (sebanding dengan) Besar kekuatan/ magnitude sumber
gempa/(berbanding terbalik dengan) jarak sumber ke lokasi peredaman gelombang gempa.
Jadi besar goncangan gempa berbanding lurus dengan besar sumber gempa (magnitude)
dan berbanding terbalik dengan jarak gempa(makin jauh/besar akan makin kecil) dan faktor
peredaman gelombang.
Pada contoh studi ini akan dihitung perkiraan potensi bahaya goncangan gempa dari
Segmen Renun dari Patahan Sumatera di Wilayah Danau Toba. Patahan aktif ini dipetakan
berdasarkan foto udara skala 1 : 100.000 dan peta topografi skala 1 : 50.000. Peta patahan
aktif ini sudah cukup besar skalanya untuk bisa melakukan segmentasi patahan. Dari analsis
segmentasi, diketahui bahwa panjang segmen patahan aktif Renun sekitar 170 km.
Berdasarkan panjang patahannya maka dari formula empiris didapat perkiraan besar
magnitude gempa maximum ( MCE = Maximum Credible Earthquake) adalah Mw 7.6

10
Gambar 4 Peta Patahan Sumatera di wilayah Danau Toba

Sumber: Sieh dan Natawidjaja, 2000

Patahan aktif ini dipetakan dari foto udara 1 : 100.000 dan topografi skala 1 :50.000.
Segmen patahan Renun panjangnya 170 km. Dibagian utara dibatasi oleh diskontiniuitas
jalur patahan berupa struktur Lembah Alas. Di bagian Selatannya dipisahkan dari segmen
patahan Toru oleh perubahan arah jalur gempanya. Untuk model goncangan gempa dipakai
formula empiris dari atenuasi gempa oleh Fukushima dan Tanaka (1990), sebagai berikut.

log 10 A=0.41 M w −log 10 ( R+0.032 . 10M )−0.0034 R+ 1.3


w

Dimana, A = rata – rata ground peak acceleration-PGA (cm.sec2); R = jarak terdekat dari
lokasi ke sumber gempa (km); Mw = skala magnitude momen.mbar

Berdasarkan input dan patahan aktif Segmen Renun pada gambar 4 dan formula
atenuasi gelombang diatas maka didapat perkiraan besar goncangan gempa (dalam satuan
PGA = Peak Ground Acceleration –g =m/detik2) seperti terlihat pada gambar 5 dibawah :

11
Gambar 5 Peta Bahaya Goncangan Gempabumi Berdasarkan Analisis Deterministic-
Konvensional

Sumber: Fukushima dan Tanaka. 1990

Gambar 5 merupakan Peta bahaya goncangan gempabumi (pada batuan dasar)


berdasarkan analisis deterministic-konvensional dari patahan sumatera segmen Renum di
wilayah Toba (MCE=Mw 7.6) dengan memakai formula empiris atenuasi gelombang dari
Fukushima dan Tanaka (1990). Pada gambar tersebut terlihat pola goncangan
gempabuminya simetris, artinya dalam pemodelan ini tidak diperhitungkan faktor variasi arah
propagasi dari perekahan patahan gempa dan juga kondisi tanah/batuan disekelilingnya
diasumsikan homogeny. Pada kenyataannya besar goncangan gempa dipengaruhi oleh
banyak faktor, seperti kondisi geologi dan tanah didekat permukaan, konfigurasi struktur
bawah permukaan dan lain-lain.

2.2 Metoda Probabilistik (PSHA)


Analisis goncangan gempa bumi dengan cara probabilistik adalah cara yang paling
umum dilakukan di dunia. Metoda ini tidak hanya memperhitungkan satu sumber patahan
gempa bumi saja tetapi menghitung semua efek goncangan gempa dari semua sumber-
sumber gempa bumi pada dan sekitar wilayah studi. Metoda ini tidak mengasumsikan satu
atau beberapa skenario gempa pada setiap sumber (patahan) gempanya tetapi semua
kemungkinan magnitudo gempa bumi yang dapat terjadi yaitu nilai perioda ulang atau
frekuensi masing-masing. Umumnya metoda ini memakai pendekatan rumus-rumus empiris,
mirip dengan yang dipakai dalam metoda deterministik standar tetapi diaplikasikan untuk
banyak sumber gempa sekaligus memakai prinsip probabilstik bukan skenario gempa.

12
2.1.1 Input Data
Input data sumber gempa dipakai untuk metoda PSHA, yaitu :
a) Patahan Aktif
b) Area Sumber Gempa/ Seismik Latar Belakang
Data patahan aktif adalah input data yang paling menentukan kualitas bagi hasil
PSHA. Semakin komplit dan semakin baik kualitas data untuk input patahan aktifnya akan
semakin baik juga hasil PSHA-nya. Untuk itu langkah pertama yang utama adalah
mengumpulkan semua data patahan aktif yang sudah tersedia untuk kemudian analisis satu
persatu untuk memeriksa kualitas dan akurasi datanya,kemudian bandingkan antara satu
sumber dengan yang lainnya.
Faktanya dibanyak tempat di dunia termasuk di Indonesia data patahan aktif ini
masih terbatas sehingga input data area sumber gempa/seismik latar belakang menjadi
sangat penting. Oleh karena itu untuk melakukan PSHA porsedur standar untuk mendesain
input data seismic latar belakang ini perlu benar – benar diperhatikan. Lebih jelasnya, data
seismik latar belakang ini di analisis dan disintesiskan dari katalog gempabumi, yaitu: data
rekaman seismik yang berisi informasi tentang lokasi episenter dan kedalaman sumber atau
hiposenter, magnitudo, dan waktu terjadi gempa-gempa masa lalu. Tahapan-tahapan untuk
mempersiapkan pangkal data katalog gempa yang baik adalah sebagai berikut :
1) Kompilasi semua katalog gempa bumi yang ada dan pemilihan serta eliminasi data yang
sama (completeness analysis)
2) Agar datanya komplit
3) Menyamakan skala magnitudo yang dipakai oleh berbagai katalog tersebut
4) Melakukan proses “declustering”, yaitu menghilangkan semua data – data gempa yang
termasuk kedalam gempa – gempa pendahuluan dan gempa – gempa susulan (karena
yang diperlukan untuk PSHA hanya gempa – gempa utama atau berdiri sendiri saja)
5) Tahapan yang cukup sulit atau bahkan sering tidak bisa dilakukan adalah menyamakan
kualitas dan keakuratan dari semua katalog semua gempa bumi yang dikompilasi untuk
homogenisasi pangkal data seismiknya.

2.1.2 Model Atenuasi Gempa


Formula empiris adalah hubungan kuantitatif/matematis/statistik antara dua atau lebih
parameter berdasarkan data-data kejadian yang melibatkan parameter-parameter tersebut.
Secara umum rumus empiris atenuasi gelombang gempa adalah hubungan antara sumber
gempa, terutama magnitudonya, dengan tingkat kerusakan yang terjadi disekitarnya sebagai
fungsi dari jarak (antara sumber gempa dan titik target). Lebih lanjut lagi, parameter lainnya

13
seperti sejenis mekanisme gempa (apakah patahan naik, turun, atau geser) dan lingkungan
tektonik patahan gempanya (apakah patahan yang berada pada lempeng atau patahan di
batas antar lempeng) juga dimasukkan sebagai parameter sumber gempa. Untuk kerusakan
di target poin juga dimasukkan parameter tambahan seperti efek amplifikasi pada poin
tersebut yang tergantung pada jenis tanah/batuannya.
Ada banyak formula empiris untuk atenuasi gelombang yang sudah dibuat untuk
berbagai kondisi sumber gempa dan kondisi lokalnya. Sebagian formula empiris khusus
dikembangkan untuk wilayah/ Negara tertentu yang tentunya juga berdasarkan data dari
suatu wilayah/Negara tersebut. Sebagian lainnya dikembangkan lebih universal berdasarkan
data dari seluruh dunia. Sampai sekarang belum ada formula empiris yang dikembangkan
dari data Indonesia dan untuk Indonesia. Juga belum ada usaha yang lebih komprehensif
untuk membuat koreksi dan penyesuaian terhadap berbagai formula yang sudah
dikembangkan untuk bisa diterapkan lebih baik di Indonesia. Karena itu pemilihan formula
empiris yang akan dipakai harus dengan kehati-hatian mengingat belum tentu benar-benar
cocok. Lebih baik kalau memakai beberapa rumus empiris sekaligus sehingga bisa
dibandingkan hasilnya untuk kemudian dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya untuk
menentukan nilai mana yang akan dipakai. Dengan akan tersedianya banyak data
seismometer dan akselerometer di seluruh wilayah Indonesia dalam rangka keperluan
TEWS maka dapat dipastikan bahwa data ini nantinya dapat dipakai untuk
membuat/mengkoreksi formula-formula empiris atenuasi gelombang gempa.

2.1.3 Intensitas Pada Batuan Dasar Keteknikan


Nilai kecepatan atau percepatan gelombang gempa atau juga konversinya ke
intensitas atau besarnya goncangan gempa dapat di perkirakan pada batuan dasarnya atau
pada permukaan tanahnya. Yang disebut sebagai batuan dasar adalah batuan/tanah yang
lebih kerass dan padat di bawah tubuh tanah yang lebih lunak dan tidak terkonsolidasi.
Batuan dasar keteknikaan (engineering bedrock) adalah batuan dasar yang menjadi fondasi
untuk struktur bangunan besar.

2.1.4 Efek Amplifikasi Gelombang di Dekat Permukaan


Ketika gelombang gempa menjalar dari batuan dasar ke atas permukaan maka
gelombang ini akan mengalami amplifikasi. Besarnya amplifikasi ini ditentukan oleh jenis
atau sifat fisik tanahnya. Yang sekarang umum dipakai untuk standar besarnya amplifikasi
adalah nilai kecepatan gelombang permukaan pada tubuh tanah dari permukaan sampai
kedalamn 30 meter (Vs-30 m). Satuan goncangan untuk batuan dasar dan permukaan ini

14
bisa direpresentasikan sebagai Puncak Kecepatan/Percepatan Gelombang (Peak Ground
Velocity/Acceleration. PGV/PGA)

2.1.5 Respon Struktur


Selain besar goncangan gempa pada batuan dasar dan permukaan, potensi bencana
juga ditentukan oleh respon struktur bangunan karena efek resonansi dari sturktur bangunan
akan memperkuat gelombang gempa. Oleh karena itu dalam analisis goncangan perihal
respon struktur bangunan ini diperhitungkan. Respon struktur pada gelombang gempa yang
datang ini biasa disebut sebagai spektra respon (response spectra).

2.1.6 Tampilan Peta Probabilitas Goncangan Gempa


Ada dua macam tampilan dari peta probabilitas bahaya goncangan gempa bumi:
1) Peta besarnya probabilitas dari goncangan gempa yang melewati nilai goncangan yang
ditentukan untuk perioda waktu yang ditentukan (the probability for a fixed time period
and intensity)
2) Peta Probabilitas besarnya goncangan gempa yang melewati nilai yang tidak ditentukan
untuk besar probabilitas dan perioda waktu yang ditentukan (the intensity for a fixed time
period and probability)
3)
Gambar 6 Peta Probabilistik Bahaya Goncangan Gempa Untuk Wilayah Jepang

Gambar diatas merupakan contoh 2 macam tampilan peta probabilistik bahaya


goncangan gempa untuk wilayah Jepang : a) Peta kiri memperlihatkan perkiraan besar
intensitas goncangan dengan tingkat kemungkinan 6% dalam 30 tahun ke depan. Peta
kanan memperlihatkan perkiraan besar intensitas (dalam JMA) goncangan dengan tingkat
kemungkinan 3 % dalam 30 tahun ke depan. b) Peta kiri memperlihatkan tingkat

15
kemungkinan (probabilitas) goncangan gempa akan sama dengan atau melebihi intensitas 5
(skala JMA). Peta Kanan memperlihatkan tingkat kemungkinan (probabilitas) goncangan
gempa akan sama dengan atau melebihi intensitas 6 (skala JMA)

Gambar 7 Peta Probabilistik Tingkat Bahaya Goncangan Gempa Di Sumatera Untuk


“10% Probability Of Exedance”

Sumber: Petersen et al, 2004

16
Gambar 8 Peta Diagram Alur Kerja Kajian Bahaya Goncangan Gempa Dengan Metoda
Probabilistik

Sumber: Diadopsi dari “Seismic Hazard Manual Guide”, NRI-ESDP-Japan,2008 dan


“Seismic Hazard and Risk Analysis” by R.K. McQuire, 2004

Contoh Perhitungan PSHA :

Pada suatu site akan dilakukan analisis resiko gempa dengan teori probabilitas total
( McGuire, 1970). Diketahui bahwa di sekitar site terdapat sumber gempa subduksi; jarak
terdekat dan terjauh anatara sesar dengan site adalah 230 km dan 270 km. Magnitude
maksimum dari sesar tersebut adalah 7,5. Dengan data pencatatan gempa sebagai berikut :

17
Tabel 1.

No. Magnitude Data Pencatatan selama 80 tahun Kejadian pertahun Jumlah Kejadian > per tahun
1 5 45 0.5625 1.475
2 5.5 32 0.4 0.9125
3 6 20 0.25 0.5125
4 6.5 14 0.175 0.2625
5 7 5 0.0625 0.0875
6 7.5 2 0.025 0.025
Dan Data Probabilitas Jarak sebagai berikut :

Dengan Menggunakan fungsi atenuasi Youns,1997, hitunglah Probabilitas bahwa


perccepatan sebesar 0.05g akan terlampaui. Gempa dengan Magnitude lebih kecil dianggap
tidak mempunyai kontribusi terhadap resiko gempa.

A. Probabilitas Magnitude
1. Buat Persamaan Guttenberg-Richter
Tabel 2.
No. Magnitude Data Pencatatan selama 80 tahun Kejadian pertahun Jumlah Kejadian > per tahun Log (Jumlah Kejadian > per tahun)
1 5 45 0.5625 1.475 0.16879202
2 5.5 32 0.4 0.9125 -0.039767127
3 6 20 0.25 0.5125 -0.29030613
4 6.5 14 0.175 0.2625 -0.580870692
5 7 5 0.0625 0.0875 -1.057991947
6 7.5 2 0.025 0.025 -1.602059991

18
Guttenberg- Richter
0.5
0 f(x) = − 0.7 x + 3.79
-0.5 5 R² 5.5
= 0.96 6 6.5 7 7.5 8
Log (Jumlah Kejadian > per tahun -1
-1.5
-2
Magnitude

2. Mendapatkan Frekuensi kejadian dan Perioda Ulang

lm = frekuensi Kejadian Tiap tahun


1
T=
λm

T = Perioda ulang
Dari persamaan hasil trendline didapatkan parameter untuk Guttenberg-Richter
a= 3.789
b= 0.697
sehingga kita dapatkan β= 0.697 x Ln (10) = 1.605

Untuk Model gempa dengan Magnitude 7.5 maka kita dapatkan

log ( λ m )=3.789−0.697 M min

log ( λ m )=3.789−0.697(5)

( λ m )=10 3.789−0.697 (5 )

( λ m )=2.013 / tah un

3. Probabilitas Magnitude dengan Magnitude 7.5

19
(−β ( M o− M min❑))
β xe
fM= (− β ( M max −M min❑) )
1−e

Probabilitas Magnitude
P M =f m x Δ m

Δ m= Selang Magnitude, kita ambil antara 7.5 dan 7 sehingga selangnya = 0.5
Dengan Mmax = 7.5 dan Mmin = 5.0 dan Mo = Rata – rata dari 7 sampai 7.5
adalah 7.25.
Dan β = 1.605
Kita dapatkan fm = 0.044
Sehingga didapatkan PM = 0.044 x 0.5 = 0.022  probabilitas Magnitude

B. Probabilitas Jarak
Probabilitas jarak dapat dilihat dari data yang ada

Jadi jika jarak site (lokasi yang ditinjau) berjarak 230 km dari pusat gempa yang
dimodelkan maka didapat probabilitas jarak = PR = 0.13

C. Probabilitas Atenuasi

Rumus atenuasi yang dipakai adalah Youngs (1997), untuk mencari PGA yaitu :

20
ln ( y )=0.2418+1.414 M −2.552 ln ( R+1.7818 e 0.554 M ) +0.00607 H +0.3846 Zt dan
σ ln y =1.45−0.1 M
y = PGA; dari data yang kita ingin cari M = 7.5 dan R = 230; H (kedalaman pusat
gempa) kita modelkan pada kedalaman 10 km; Zt untuk mekanisme interface =0 dan
untuk mekanisme interslab = 1, model yang diambil mekanisme interface sehinga Z t =
0.
Maka Kita dapatkan

ln ( y )=0.2418+1.414 ( 7.5 )−2.552 ln ( 230+1.7818 e 0.554 (7.5 )) + 0.00607 (10 )+ 0.3846(0)d


ln ( y )=−4.249
y=0.0142 g

Karena percepatan yang ingin kita lampaui adalah a* = 0.05 g

Maka kita harus cari parameter ,z, dulu dengan cara


ln a¿ −ln PGA
z=
σ ln PGA
Karena lPGA = 0.0142g ; a* = 0.05g ; dan σ ln PGA = 1.45 – 0.1 (7.5) = 0.7.
ln(0.05 g)−ln(0.0142 g)
z=
0.7
z=1.78
Untuk z > 0 maka,
Probabilitas atenuasi = F (-Z)
Untuk z <0
Probabilitas atenuasi = 1 – F(z)
Karena z kita dapt besar dari 0 yaitu =1.78 maka dari tabel distribusi normal didapat
F(–z) = F(-1.78) = 0.0375= Probabilitas Atenuasi.

Setelah Kita mendapatkan


Probabilitas untuk Magnitude 7. 5 = P(M=7.5) = 0.022
Probabiltas Jarak dengan jarak 230 km = P(R=230 km) = 0.13
Probabilitas Atenuasi yang melebihi a>0.05 g = (P a>0.05 g) = 0.0375
Maka Ptotal ( M=7.5, R = 230 km, a > 0.05 g ) = 0.022 x 0.13 x 0.0375 = 0.0001
Ini baru untuk satu kejadian model gempa dimana gempa terjadi dengan Magnitude
7.5, Jarak dari Site ke pusat gempa 230 km, untuk melampaui percepatan 0.05 g.
untuk kejadian – kejadian gempa yang kita modelkan dengan magnitude yang

21
berbeda, jarak sumber gempa model yang berbeda dan percepatan pada site yang
melebihi 0.05 g akan memiliki probabilitas yang berbeda – beda pula. Sehingga untuk
melengkapinya semua langkah 1 sampai 3 untuk mencari Probabilitas Magnitude,
Probabilitas Jarak dan Probabilitas Atenuasi harus dicari dengan gempa – gempa
yang terjadi pada 80 tahun belakangan yang ada seperti pada data yang kita miliki di
tabel 1 kita harus lakukan terus. Hingga didapatkan Probabilitas totalnya.
Nilai F(z) didapat dari distribusi normal seperti tabel berikut :

22
Contoh Hasil PSHA yang sudah dilakukan oleh ahli – ahli gempa di Indonesia, seperti
Prof. Masyhur Irsyam dan Dr. I Wayan Sengara menghasilkan Peta Makrozonasi dan
Peta Mikrozonasi. Peta Makrozonasi wilayah studinya luas ( contoh untuk Seluruh
Indonesia). Peta Mikrozonasi wilayah studinya diabatas ( contoh : kota Padang )

23
Peta Makrozonasi Gempa di Indonesia untuk SNI ( oleh Prof. Masyhur Irsyam, dkk )
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
94 96 98 100 102 104 106 108 11 0 11 2 11 4 11 6 11 8 120 122 124 126 128 130 132 134 136 138 140
o o
10 10

o 0 80 200 400 o
8 8
K il o m e t e r

o o
6 6
B anda Aceh

1
2
3 4 5 6 5 4 3 2 1
o o
4 4

o o
2 2
M anado

T e r n a te
P e k an b a ru
1
o o
0 S a m a rin d a
0
2
1
P adang P a lu M a n o k w a ri 3
2
3 S o ro n g
4 Jam bi B ia k 4
5
6
o P a la n g k a ra y a o
2 4
5 5 2
3
2 Ja ya p u ra
6
1
P a le m b a n g B a n j a r m a s in
5
B e n g k u lu K e n d a ri Am bon
o o
4 4 4
1 M akasar 3
B a n d a rla m p u n g
Tual 2
o o
6 J a k a r ta 2 1
6
B andung
G a ru t S e m a ra n g
S ukab um i S u ra b a y a
T a s i k m a la y a S o lo
J o g ja k a rta 3
o C ila c a p B li t a r M a la n g o
8 Banyuw angi 4
8
D enpasar M a ta r a m
M e ra u ke
5

6
o o
10 5 K upang 10
4

W il a y a h 1 : 0 ,0 3 g 3

2
12 o
W il a y a h 2 : 0 ,1 0 g 1
12 o

W il a y a h 3 : 0 ,1 5 g
W il a y a h 4 : 0 ,2 0 g
o o
14 14
W il a y a h 5 : 0 ,2 5 g
W il a y a h 6 : 0 ,3 0 g
o o
16 16
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
94 96 98 100 102 104 106 108 11 0 11 2 11 4 11 6 11 8 120 122 124 126 128 130 132 134 136 138 140

G a m b a r 2 .1 . W i la y a h G e m p a I n d o n e s i a d e n g a n p e r c e p a t a n p u n c a k b a t u a n d a s a r d e n g a n p e r io d a u la n g 5 0 0 t a h u n

Peta Mikrozonasi Gempa untuk Wilayah Padang ( Dr. I Wayan Sengara, dkk )

24
PSHA didapat dari konsep Teorema Total Probabilitas. Teorema Total Probabilitas
adalah Perkalian dari Probabilitas Magnitude dengan Probabilitas Jarak dengan Probabilitas
Atenuasi.
1) Kita Memiliki catatan gempa dari gempa yang terjadi dimasa lalu.
2) Kemudian Kita Urutkan besar magnitude gempa dari yang terbesar dan ke terkecil
seperti
terlihat pada gambar berikut :
Contoh data gempa dan mencari probabilitasnya
Data Pencatatan dlm 80 tahun Kejadian/Tahun
Magnitude Jumlah Kejadian Magnitude Jumlah Kejadian Jumlah Kejadian >
Dalam 80 Tahun Per Tahun Per Tahun

5.0 1040 5.0 13.0 20.0


13+5+1.4+0.425+0.1125+0.0625= 20
5.5 400 5.5 5.0 5+1.4+0.425+0.1125+0.0625=
7.0 7
6.0 112 6.0 1.4 2.0
1.4+0.425+0.1125+0.0625= 2
6.5 34 6.5 0.4250 0.425+0.1125+0.0625=
0.6 2
7.0 9 7.0 0.1125 0.175
0.1125+0.0625= 2
7.5 5 7.5 0.0625 0.0625
0.0625

1200

1000

800

600

400

200

0
5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5

3) Kemudian Kita cari parameter Guttenberg-Richter. Dari data di langkah ke-2

4) Rumus Parameter Guttenberg-Richter adalah

25
5) Mencari Probabilitas Magnitude :

Probabilitas Magnitude = f(m) x ∆m


∆m = Rentang Magnitude

6) Probabilitas Jarak

26
PR = Probabilitas Jarak

7) Probabilitas Atenuasi
Probabiliatas Atenuasi didapatkan dari Distribusi normal dengan rumus :
I.

27
BAB III
DAERAH RAWAN BENCANA GEMPA DI INDONESIA

Wilayah Indonesia berada di lokasi yang sangat unik, berada dalam sabuk ‘Ring of
fire’ yang terkenal yaitu deretan gunung berapi aktif yang membentuk lingkaran di seputar
samudera Pasifik dan Indonesia merupakan pertemuan lempengan dunia yang terus
bergerak dan bergesekan untuk mencari keseimbangan. Seperti kita ketahui Bumi kita
walaupun padat, selalu bergerak Teori tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi
terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut
dan mengapung di lapisan seperti salju Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga
berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya.
Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah yang sering mengalami gempa bumi
dan tsunami. Berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama
bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi. Wilayah Indonesia
dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-
waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya, jika terjadi
tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh
dan Sumatera Utara. Catatan dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28 wilayah
di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami, diantaranya NAD, Sumatra Utara,
Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian Selatan, Jatim bagian
Selatan, Bali, NTB dan NTT. Kemudian Sulut, Sulteng, Sulsel, Maluku Utara, Maluku
Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta Balikpapan Kaltim.

Gambar 9 Peta Pergerakan Lempeng Tektonik Aktif yang Mengapit Kepulauan


Indonesia

28
Sumber : Draft 02 pedoman analisis bahaya dan risiko bencana gempa bumi oleh Danny
Hilman Natawidjaja

Lempeng Lautan Hindia dan Australia bergerak ke Utara sekitar 50-70 mm/tahun dan
menunjam di bawah Palung laut dalam Sumatra-Jawa sampai ke Barat Pulau Timor di NTT.
Kemudian di sepanjang tepian Lempeng Kepulauan dari Pulau Timor ke arah Timur dan
terus memutar ke Utara berlawanan arah jarum jam menuju wilayah perairan Maluku,
Lempeng Benua Australia menabrak dengan kecepatan sekitar 70 mm/tahun. Jadi di wilayah
ini yang terjadi bukan penunjaman lempeng lautan lagi tapi zona tumbukan lempeng benua
terhadap lempeng Kepulauan. Di Utara Indonesia Timur, Lempeng Pasifik menabrak sisi
Utara Pulau Irian dan Pulau-pulau di Utara Maluku dengan kecepatan 120 mm/tahun, dua
kali lipat lebih cepat dari kecepatan penunjaman Lempeng di bagian sisi Barat dan Selatan
Indonesia.

Gambar 10 Peta Tektonik Aktif Indonesia dan Gempa Bumi yang Terjadi Sejak Tahun
1973

29
Sumber : Draft 02 pedoman analisis bahaya dan risiko bencana gempa bumi oleh Danny
Hilman Natawidjaja

Pada peta di atas terdapat lima warna titik yang masing-masing menggambarkan
episenter gempa pada kedalaman yang berbeda. Titik merah merupakan episenter gempa
dengan kedalaman 0-30 Km, titik kuning adalah episenter gempa dengan kedalaman 33-60
Km, titik oranye adalah episenter gempa dengan kedalaman 61-90 Km, titik hijau adalah
episenter gempa dengan kedalaman 91-150, titik biru adalah episenter gempa dengan
kedalaman lebih besar dari 151 km. Berdasarkan peta di atas terlihat bahwa hampir semua
wilayah di kepulauan Indonesia memiliki potensi gempa bumi (dengan episenter yang
berbeda-beda) kecuali Pulau Kalimantan.

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan materi di atas, dapat disimpulkan:


1. Gempa Bumi disebabkan oleh beberapa hal, seperti proses tektonik akibat
pergerakan kulit/ lempeng bumi, aktivitas sesar di permukaan bumi, pergerakan
geomorfologi secara lokal, aktivitas gunung api, ledakan nuklir
2. Kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia tercatat setiap tahun
3. Metode analisis gempa bumi ada 2, yaitu DSHA (Deterministik Seismic Hazard Analysis)
dan PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis)
4. Di Indonesia, wilayah yang rawan terhadap bencana gempa bumi adalah sepanjang
jalur subduksi dan patahan/sesar aktif, seperti wilayah barat pulau Sumatera, wilayah
selatan Pulau Jawa, wilayah Utara Pulau Irian (Papua), dan sebagian wilayah Sulawesi.

30
DAFTAR PUSTAKA

http://bnpb.go.id/website/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=38
http://science.howstuffworks.com/earthquake.htm/printable
http://portal.vsi.esdm.go.id/portal/gempabumi/gempabumi.htm
http://eksan.komite-sman2bjb.web.id/wp-content/uploads/2008/04/aneka-bentuk-dan-
potensi-muka-bumi.pdf
http://draft2pena.files.wordpress.com/2008/05/gempa11.jpg
Natawidjaja, D.H, 2008. Pedoman Analisis Bahaya Dan Risiko Bencana Gempa Bumi.
BNPB/SCDRR

31