Anda di halaman 1dari 16

Prodi D3 Keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta


Tahun 2020

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR


DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA
AMAN DAN NYAMAN

Dyah Shanti Setyawati1, Mellia Silvy Irdianty2


1
Mahasiswa/Fakultas Ilmu Kesehatan/Prodi D3 Keperawatan/Universitas
Kusuma Husada Surakarta
2
Dosen/Fakultas Ilmu Kesehatan/Prodi D3 Keperawatan/Universitas Kusuma
Husada Surakarta

E-mail: diahsantinew28@gmail.com

Abstrak

Latar Belakang : Fraktur merupakan cedera traumatik pada tubuh dengan presentasi
kejadian yang tinggi, dan menyebabkan perubahan atau gangguan kualitas hidup pada
seseorang karena adanya pembatasan aktivitas atau imobilisasi, kecacatan, dan kehilangan
pekerjaan. Tujuan: Mengatuhi pelaksanaan asuhan keperawatan pasien fraktur tertutup
dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman: nyeri. Metode : Mengunakan teknik
wawancara dan observasi. Hasil : Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien fraktur
tertutup dengan masalah keperawatan nyeri akut yang dilakukan tindakan keperawatan
kombinasi kompres dingin dan relaksasi nafas dalam selama 1 kali di IGD didapatkan hasil
pada akhir asuhan keperawatan yaitu skala nyeri menurun dari skala 5 (nyeri sedang)
menjadi skala 4 (nyeri sedang). Kesimpulan : Kombinasi relaksasi nafas dalam dan
kompres dingin efektif diberikan pada pasien fraktur tertutup dengan nyeri akut.

Kata kunci: Fraktur, Nyeri akut, Kombinasi kompres dingin dan relaksasi nafas dalam
NURSING STUDY PROGRAM OF DIPLOMA 3 PROGRAM

UNIVERSITY OF KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2020

NURSING CARE FOR DEXTRA FEMUR FRACTURE PATIENTS IN

FULFILLMENT OF SAFE AND COMFORTABLE NEEDS

Dyah Shanti Setyawati

Abstract

Background: Fracture is a traumatic injury to the body with a high

presentation of incidence. It causes changes or disturbances in the quality of life of

a person due to activity restrictions or immobilization, disability, and job loss.

Purpose: Knowing the implementation of closed fracture patient nursing care in

meeting the needs of safe and comfortable: pain. Methods: interviews and

observation techniques. Results: The management of nursing care in closed fracture

patients with acute pain nursing problems that were performed by a combination of

cold compresses and deep breathing relaxation for once in the emergency room

obtained decreased in the pain scale from 5 (moderate pain) to 4 (moderate pain).

Conclusion: A combination of deep breath relaxation and cold compresses is

effective for closed fracture patients with acute pain.

Keywords: Fracture, Acute Pain, a Combination of Cold Compress and Deep

Breathing Relaxation.
Translated by:

PENDAHULUAN
Fraktur menjadi salah satu gangguan kualitas hidup pada

penyebab terjadinya gangguan seseorang karena adanya

mobilitas fisik pada manusia pembatasan aktivitas atau

yang dapat menyebabkan imobilisasi, kecacatan, dan

kematian nomor tiga dibawah kehilangan pekerjaan (Black &

penyakit jantung coroner pada Hawks, 2014).

semua kelompok. Menurut WHO Jika tidak ditangani dengan

angka kematian akibat penanganan yang tepat klien

kecelakaan lalu lintas sebesar dapat kehilangan fungsi saraf dan

1,35 juta orang meninggal dunia otot, infeksi, mioglobinuria,

disetiap tahunnya. Fraktur gagal ginjal, dan amputasi,

merupakan cedera traumatik sehingga fraktur menjadi salah

pada tubuh dengan presentasi satu penyebab gangguan

kejadian yang tinggi, dan mobilitas pada manusia. Pada

menyebabkan perubahan atau fraktur juga bisa terjadi infeksi


dan terdapat gejala yang paha dan pasien dianjurkan untuk

mencakup yaitu nyeri tekan, menutup mata dilanjutkan

kemerahan, pembengkakan, dengan menarik nafas dalam

peningkatan suhu tubuh yang melalui hidung sampai hitungan

bisa mengganggu mobilitas fisik lima detik, pasien diminta untuk

atau ADL seseorang (Smeltzer, menahan nafas selama dua detik,

S. C., 2018). kemudian baru dihembuskan

Penatalaksanaan nyeri pada perlahan melalui mulut sampai

pasien fraktur ekstremitas hitungan lima detik, terapi

tertutup di IGD RSUD Salatiga relaksasi nafas dalam ini

akan diberikan terapi kombinasi dilakukan atau diulangi sebanyak

relaksasi nafas dalam dengan 10-15 siklus.

kompres dingin, karena Penatalaksanaan terapi

keduanya diketahui memberikan relaksasi nafas dalam

hasil yang signifikan dalam digabungkan atau dilakukan

menurunkan skala atau rasa dengan secara bersamaan dengan

nyeri. Adapun SOP untuk tindakan kompres dingin, dan

tindakan terapi kombinasi dilakukan sebanyak atau lama

relaksasi nafas dalam dengan waktunya sama dengan

kompres dingin, yaitu pertama pelaksanaan relaksasi nafas

pasien diminta untuk duduk atau dalam (Mujahidin, dkk, 2018).

berbaring dengan posisi yang Fraktur merupakan salah satu

nyaman, tangan diletakkan di dari sepuluh penyakit terbesar di


IGD RSUD Salatiga. Pada Pasien Fraktur dengan

Berdasarkan latar belakang Gangguan Rasa Aman dan

tersebut penulis tertarik untuk Nyaman di IGD RSUD Salatiga.

melakukan Asuhan Keperawatan

METODE Salatiga. Penelitian dilakukan pada


tanggal 18 februari 2020. Dengan
Metode studi kasus ini dengan pengumpulan data beberapa cara
satu subjek studi yaitu pasien dengan yaitu wawancara, studi dokumentasi,
diagnose medis nyeri akut yang observasi dan pemeriksaan fisik.
mengalami nyeri akut di IGD RSUD
HASIL pernapasan. Dari C
Dari pengkajian A (Airway) (Circulation) didapatkan hasil
didapatkan hasil jalan napas frekuensi nadi 82x/menit, irama
paten, lidah tidak terjatuh, tidak nadi teratur, tekanan darah
ada benda asing dalam jalan 104/70 mmHg, capillary refile
napas, tidak ada edema pada <2 detik, akral teraba hangat,
mulut, tidak ada suara napas suhu tubuh 37℃. Dari D
tambahan baik berupa ronchi, (Disability) didapatkan hasil
snoring maupun stridor. Dari GCS 15 dengan uraian E4 V5
pengkajian B (Breathing) M6, pupil positif terhadap
didapatkan hasil pola napas cahaya, pupil isokor, diameter
efektif, respiratory rate 3mm/3mm. Dari E (Exposure)
20x/menit, tidak menggunakan didapatkan hasil kondisi
otot bantu pernapasan, tidak ada lingkungan aman, pasien berada
pernapasan cuping hidung, di IGD RSUD Salatiga untuk
tidak terpasang alat bantu dilakukan tindakan.
Pengkajian sekunder atau dilakukan pemasangan pulse

secondary survey dari oximetry SPO2 96%. Dari

pengkajian full of vital sign pengkajian give comfort

didapatkan hasil tekanan darah didapatkan hasil klien

104/70 mmHg, nadi 82x/menit, mengatakan nyeri pada kaki

respirasi 20x/menit, suhu 37℃, kanan karena kecelakaan lalu

keadaan umum baik, kesadaran lintas, P: klien mengatakan

composmentis. Dari pengkajian nyeri pada kaki kanan bagian

five intervention didapatkan atas (paha) jika digerakkan,

hasil pasien tidak terpasang tidak terdapat luka pada area

EKG/ Bed Side Monitor, pasien kaki kanan Q: nyeri seperti

tidak terpasang NGT, pasien tertusuk-tusuk, R: nyeri pada

tidak terpasang Folley Chateter, kaki kanan bagian atas (paha),

pasien dilakukan pengambilan S: skala nyeri 5 dengan

darah untuk cek lab/ pengukuran skala nyeri

pemeriksaan radiologi bila menggunakan NRS (numerical

dicurigai fraktur dengan hasil rate scale), T: nyeri terus-

cek lab terdapat fraktur femur menerus, bertambah jika

dextra, fraktur yang dialami digerakkan. Dari pengkajian

oleh pasien adalah fraktur history (SAMPLE) subjektif

tertutup dengan tidak ada luka didapatkan hasil klien

robekan pada area yang mengatakan nyeri pada kaki

mengalami fraktur. Kemudian kanan, alergi didapatkan hasil


tidak ada alergi obat atau dirasakan, nyeri terjadi pada

makanan, medikasi didapatkan kaki kanan.

hasil klien tidak sedang Diagnosa yang muncul

mengonsumsi obat/ tidak berdasarkan pengkajian atau

sedang menjalani pengobatan. pengumpulan data yang telah

Dari riwayat penyakit dilakukan pada Ny.S tanggal 18

sebelumnya didapatkan hasil februari 2020 masalah

klien tidak mempunyai riwayat keperawatan nyeri akut

fraktur. dari pengkajian last berhubungan dengan agen

meal didapatkan hasil klien pencedera fisik dibuktikan

terakhir mengonsumsi nasi, dengan mengeluh nyeri, tampak

sayur, dan air putih. Dari meringis (D.0077).

pengkajian even leading Intervensi yang dilakukan

didapatkan hasil klien dan yaitu manajemen nyeri

suami mengalami kecelakaan (I.08238) dengan melakukan

lalu lintas menggunakan sepeda tindakan identifikasi lokasi,

motor saat perjalanan menuju karakteristik, durasi, frekuensi,

Surakarta, klien mengalami kualitas, intensitas nyeri,

nyeri setelah kecelakaan terjadi, identifikasi skala nyeri , berikan

klien dibawa ke puskesmas dan teknik nonfarmakologi

dilakukan balut bidai kemudian (kombinasi kompres dingin dan

dirujuk ke RSUD Salatiga, relaksasi napas dalam).

tidak ada gejala lain yang Implementasi keperawatan


dilakukan mengidentifikasi menurun menjadi skala 4 (nyeri

lokasi, karakteristik, durasi, sedang).

frekuensi, kualitas, intensitas


PEMBAHASAN
nyeri dan mengidentifikasi skla
Pengkajian primer mencakup:
nyeri dan memberikan teknik
airway, breathing, circulation.
nonfarmakologis (kombinasi
Pengkajian sekunder (History
kompres dingin dan relaksasi
Sample), pengkajian ini
napas dalam).
mendapatkan hasil klien
Setelah dilakukan
mengalami nyeri dengan
implementasi keperawatan
pengkajian nyeri P: klien
dengan melakukan tindakan
mengatakan nyeri pada kaki
kombinasi kompres dingin dan
kanan atas ketika digerakkan, Q:
relaksasi nafas dalam di IGD
nyeri seperti tertusuk-tusuk, R:
kemudian dilakukan evaluasi
nyeri pada kaki kanan bagian
setelah dilakukan tindakan yang
atas, S: Skala nyeri 5 dengan
digambarkan dengan diagram
pengukuran NRS (numerical rate
pre dan post untuk mengetahui
scale), T: nyeri terus-menerus,
efektifitas atau mengetahui
bertambah jika digerakkan.
penurunan skala nyeri pasien.
Hasil diagnosa didapatkan
Hasil setelah dilakukan
dari data subjektif dan objektif
tindakan kombinasi kompres
klien. Data subjektif klien
dingin dan relaksasi nafas
mengatakan nyeri dibagian kaki
dalam skala nyeri pasien
kanan atas dengan pengkajian
nyeri P: klien mengatakan nyeri proses keeprawatan dalam

pada kaki kanan atas ketika membantu klien mencegah,

digerakkan, Q: nyeri seperti mengurangi, dan menghilangkan

tertusuk-tusuk, R: nyeri pada dampak atau respon yang

kaki kanan bagian atas, S: Skala ditimbulkan oleh masalah

nyeri 5 dengan pengukuran NRS kesehatan (Rosmalia & Hariyadi,

(numerical rate scale), T: nyeri 2019). Intervensi yang diberikan

terus-menerus, bertambah jika pada pasien fraktur untuk

digerakkan. Dari data objektif mengatasi nyeri yangdialami

didapatkan hasil klien meringis adalah terapi kombinasi kompres

kesakitan saat kaki digerakkan, dingin dan relaksasi nafas dalam.

tekanan darah 104/70 mmHg, Berdasarkan jurnal Mujahidin

nadi 82x/menit, pernapasan dkk (2018), membuktikan bahwa

20x/menit, suhu 37℃. Diagnosa terapi kombinasi kompres dingin

nyeri akut merupakan diagnose dan relaksasi nafas dalam dapat

prioritas pertama, karena menurunkan intensitas nyeri

mengacu pada teori hirearki yang dialami pasien fraktur

maslow bahwa kebutuhan aman karena terapi es dapat

dan nyaman merupakan salah menurunkan prostaglandin yang

satu kebutuhan yang harus memperkuat sensitivitas reseptor

dipenuhi oleh manusia. nyeri dan subkutan lain pada

Intervensi keperawatan tempat cedera dengan

merupakan langkah keempat dari menghambat proses


inflamasi(Andarmoyo, S. 2013). skala nyeri 5 dengan pengukuran

Dan relaksasi adalah suatu skala nyeri menggunakan NRS

tindakan untuk membebaskan (numerical rate scale), T: nyeri

mental dan fisik dari ketegangan terus-menerus, bertambah jika

dan stress sehingga dapat digerakkan, Objektif: klien

meningkatkan toleransi terhadap tampak meringis kesakitan.

nyeri. Implementasi yang kedua untuk

Implementasi yang dilakukan mengatasi masalah nyeri pada

pada pasien fraktur dengan pasien fraktur adalah

masalah keperawatan nyeri memberikan teknik

adalah : mengidentifikasi lokasi, nonfarmakologis (kombinasi

karakteristik, durasi, frekuensi, kompres dingin dan relaksasi

kualitas, intensitas nyeri dan napas dalam), didapatkan respon

mengidentifikasi skala nyeri klien, Subjektif: klien

dengan respon klien Subjektif: mengatakan bersedia dilakukan

klien mengatakan nyeri dibagian teknik kombinasi kompres dingin

kaki kanan atas, nyeri seperti dan relaksasi napas dalam,

tertusuk-tusuk dengan P: klien Objektif: klien tampak tenang

mengatakan nyeri pada kaki dan kooperatif saat dilakukan

kanan bagian atas (paha) jika tindakan kombinasi kompres

digerakkan, Q: nyeri seperti dingin dan relaksasi napas dalam.

tertusuk-tusuk, R: nyeri pada Implementasi atau tindakan

kaki kanan bagian atas (paha), S: keperawatan ini sesuai dengan


jurnal dari Mujahidin,dkk (2018) teratasi, Plan: Lanjutkan

yang dilakukan untuk itervensi (kombinasi kompres

mengurangi intensitas nyeri pada dingin dan relaksasi nafas

pasien fraktur. dalam). Setelah dilakukan

Evaluasi adalah aktivitas yang tindakan keperawatan sesuai

direncanakan, berkelanjutan, dan jurnal Mujahidin dkk (2018)

terarah ketika klien dan tentang “Pengaruh Kombinasi

profesional kesehatan Kompres Dingin dan Relaksasi

menentukan kemajuan klien Nafas Dalam terhadap Penurunan

menuju pencapaian tujuan/hasil, Intensitas Nyeri Fraktur di

dan keefektifan rencana asuhan Wilayah Kabupaten Provinsi

keperawatan. (Kozier & Shirlee, Sumatera Selatan Tahun 2017”

2011). membuktikan terapi tersebut

Hari/tanggal/j Sebelu Sesud dapat menurunkan intensitas


am m ah
Selasa, 18
nyeri pada pasien fraktur.
Februari 2020 Skala Skala
nyeri 5 nyeri 4
17.25 WIB (nyeri (nyeri
sedang sedang
) )

Evaluasi pada pasien Ny.S yaitu

Subjektif: klien mengatakan

nyeri berkurang dari skala 5

menjadi skala 4, Objektif: klien

tampak meringis kesakitan,


KESIMPULAN
Assesment: Masalah belum
Setelah penulis melakukan klien meringis kesakitan saat kaki

pengkajian, analisa data, penentuan digerakkan, gelisah, tekanan darah

diagnosis, implementasi dan evaluasi 104/70 mmHg, nadi 82x/menit,

tentang pemberian tindakan terapi pernapasan 20x/menit, suhu 370C.

kombinasi kompres dingin dan 2. Hasil Diagnosa Keperawatan

relaksasi nafas dalam untuk Diagnosa yang muncul

menurunkan skala nyeri pada pasien berdasarkan pengkajian atau

fraktur tertutup di IGD RSUD pengumpulan data yang telah

Salatiga, secara metode studi kasus dilakukan pada Ny.S tanggal 18

maka dapat di tarik kesimpulan. februari 2020 masalah keperawatan

1. Pengkajian nyeri akut berhubungan dengan agen

pencedera fisik dibuktikan dengan


Setelah dilakukan pengkajian
mengeluh nyeri, tampak meringis
diperoleh data subjektif klien
(D.0077).
mengeluh nyeri dibagian kaki kanan

atas dengan pengkajian nyeri P: klien


3. Intervensi Keperawatan
mengatakan nyeri pada kaki kanan

atas ketika digerakkan, Q: nyeri Intervensi yang dilakukan yaitu

seperti tertusuk-tusuk, R: nyeri pada manajemen nyeri (I.08238) dengan

kaki kanan bagian atas, S: Skala nyeri melakukan tindakan identifikasi

5 dengan pengukuran NRS lokasi, karakteristik, durasi,

(numerical rate scale), T: nyeri terus- frekuensi, kualitas, intensitas nyeri,

menerus, bertambah jika digerakkan. identifikasi skala nyeri , berikan

Dari data objektif didapatkan hasil teknik nonfarmakologi (kombinasi


kompres dingin dan relaksasi napas post untuk mengetahui efektifitas atau

dalam). mengetahui penurunan skala nyeri

4. Implementasi keperawatan pasien. Hasil setelah dilakukan

tindakan kombinasi kompres dingin


Implementasi keperawatan
dan relaksasi nafas dalam skala nyeri
dilakukan mengidentifikasi lokasi,
pasien menurun menjadi skala 4
karakteristik, durasi, frekuensi,
(nyeri sedang).
kualitas, intensitas nyeri dan
SARAN
mengidentifikasi skla nyeri dan
Setelah penulis melakukan
memberikan teknik
asuhan keperawatan pada klien
nonfarmakologis (kombinasi
dengan diagnosis keperawatan
kompres dingin dan relaksasi napas
nyeri akut, penulis akan
dalam).
memberikan asuhan dan

masukan yang positif kususnya

bidang kesehatan antara lain.

1. Bagi Intitusi Pelayanan


5. Evaluasi Keperawatan
Kesehatan

Setelah dilakukan implementasi Diharapkan rumah sakit

keperawatan dengan melakukan khususnya RSUD Salatiga dapat

tindakan kombinasi kompres dingin memberikan intervensi

dan relaksasi nafas dalam di IGD mengatasi nyeri pada pasien

kemudian dilakukan evaluasi setelah fraktur dengan

dilakukan tindakan yang mengimplementasikan tindakan

digambarkan dengan diagram pre dan


non farmakologis yaitu dingin dan relaksasi nafas dalam

kombinasi kompres dingin dan untuk menurunkan nyeri

relaksasi nafas dalam untuk terutama pada pasien fraktur.

menurunkan tingkat nyeri pasien. 4. Bagi Penulis

2. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat

Keperawatan meningkatkan kualitas kesehatan

Dapat meningkatkan mutu khusunya pada pasien fraktur

pelayanan pendidikan yang lebih yang mengalami nyeri dalam

berkualitas dan professional tindakan menurunkan nyeri

sehingga dapat tercipta perawat dengan teknik non farmakologi.

yang professional, terampil, 5. Bagi Pembaca

inovatif dan bermutu yang Diharapkan dapat menjadikan

mampu memberikan asuhan sumber referensi setelah

keperawatan secara menyeluruh membaca karya tulis ini dalam

dan berdasarkan kode etik memberikan intervensi terhadap

keperawatan. penanganan nyeri pada pasien

3. Bagi Tenaga Kesehatan fraktur dengan melakukan

Khususnya Perawat tindakan non farmakologis yaitu

Diharapkan selalu kombinasi kompres dingin dan

berkoordinasi dengan tenaga relaksasi nafas dalam.

kesehatan lainnya dalam DAFTAR PUSTAKA

memberikan tindakan non Ahmadi, Rulam. (2014). Metodologi


Penelitian Kualitatif.
farmakologis kombinasi kompres Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Andarmoyo, S. (2013). Konsep & Eko Karyuni, dkk. (2011).
Proses Keperawatan Nyeri. Buku Ajar Fundamental
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik Edisi 7
Asikin, M. dkk. (2016). Keperawatan Volume 1. Jakarta: EGC
Medikal Bedah Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: Krisanty Paula, et al. (2016). Asuhan
Erlangga. Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta: Trans Info Media.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014).
Keperawatan Medikal Bedah: Mujahidin, Repiska P., & Sanita
Manajemen Klinis untuk Hasil R.N.U., (2018). Jurnal Ilmiah
yang Diharapkan. Edisi 8. Multi Science Kesehatan.
Buku 1. Jakarta: Salemba Pengaruh Kombinasi
Medika. Kompres Dingin dan
Relaksasi Nafas Dalam
Brunner & Suddarth, (2013) Buku Terhadap Penurunan
Ajar Keperawatan Medikal- Intensitas Nyeri Farktur di
Bedah Edisi 8 Volume 3. Wilayah Kabupaten Provinsi
Jakarta: ECG. Sumatera Selatan Tahun
2017. Vol. 8 pp. 37-50.
Dosen Keperawatan Medikal-Bedah
Indonesia. (2017). Rencana Musliha. (2010). Keperawatan Gawat
Asuhan Keperawatan Darurat Plus Contoh Askep
Medikal-Bedah Diagnosis dengan Pendekatan NANDA
NANDA-1 2015-2017 NIC NOC. Yogyakarta: Nuha
Intervensi NIC Hasil NOC. Medika.
Jakarta: Kedokteran EGC.
Ningsih, Dewi Kartika. (2015).
Hasyim, Masruroh dan Prasetyo, Penatalaksanaan
Joko. (2019). Buku Panduan Kegawatdaruratan Syok
Etika Keperawatan. Dengan Pendekatan Proses
Temanggung: Desa Pustaka Keperawatan. Malang: UB
Indonesia. Press.

Hidayat A. Aziz. Alimul. & Uliyah, Rosdahl, C. B., & Kowalski, M. T.


Musrifatul. (2014). Pengantar (2014). Buku Ajar
Kebutuhan Dasar Manusia. Keperawatan Dasar. Edisi 10
Jakarta: Salemba Medika. Volume 2. Jakarta: EGC

Imron, Moch. (2014). Metodologi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)


Penelitian Bidang Kesehatan. (2018). Badan Penelitian dan
Jakarta: Sagung Seto. Pengembangan Kesehatan
Kementrian RI tahun 2018.
Kozier, B,. Berman, A. and Shirlee J. https://www.depkes.go.id/res
Snyde, alih bahasa Pamilih ources/download/infoterkini/
materi_rakorpop_2018/Hasil
%202018.pdf- Diakses
November 2019.

Saryono & Anggraeni, Mekar Dwi.


(2010). Metodologi Penelitian
Kualitatif dalam Bidang
Kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Medika

Smeltzer, S. C. (2018). Keperawatan


Medikal-Bedah Handbook
For Brunner & Suddarth’s
Textbook of Medikal-Surgical
Nursing. Edisi 12. Jakarta:
EGC, 2013.

Sujarweni, V. Wiratna. (2014).


Metodologi Penelitian
Keperawatan. Yogyakarta:
Gava Media.

PPNI. 2016. Standar Diagnosis


Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indoikator
Diagnostik, Edisi-1. Jakarta:
DPP PPNI.

PPNI. 2018. Standart Intervensi


Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi-1.
Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2018. Standar Luaran


Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil,
Edisi-1. Jakarta: DPP PPNI.

WHO. World Health Statistic 2018:


World Health Organization.
Diakses tanggal 11 November
2019 pukul 20.00 WIB,
http://www.who.int.