Anda di halaman 1dari 16

MEDIA SOSIAL DAN PROFESIONALISME

MATA KULIAH PROFESIONALISME

DOSEN YASINTA DEWI KRISTIANTI,S.SiT.,M.Kes

Di Susun Oleh :

Siti Nur Fadillah K (1052201006)

PROGRAM STUDI SARJANAKEBIDANAN DANPENDIDIKAN


PROFESI BIDAN
FAKULTAS KESEHATANUNIVERSITAS MH. THAMRIN
TAHUN AJARAN
2020/ 202
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, tuhan yang Maha Esa atas
rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah matakuliah
Profesionalisme yang berjudul “Makalah Media social dan Profesionalisme“
dengan tepat waktu. Penulisan makalah ini merupakan tugas Kelompok
matakuliah Profesionalisme prodi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan
Universitas Muhammad Husni Thamrin.
Dalam penyusunan makalah ini, masih banyak kekurangan baik secara teknis
maupun materi. Oleh karena itu, kami memohon saran dan kritik yang bersifat
membangun dari dosen, rekan – rekan, dan pembaca untuk menyempurnakan
penyusunan makalah ini.
Kami mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang sudah mendukung
dan membantu saya dalam menyusun makalah ini, khususnya kepada dosen yang
sudah memberikan tugas sebagai penambah wawasan saya.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah yang saya susun ini dapat bermanfaat
dalam pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan serta wawasan bagi para
pembaca mengenai media social dan profesioalisme

Bekasi , 25 maret 2021


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................I
DAFTAR ISI..........................................................................................................II
BAB 1......................................................................................................................1
PENDAHULUAN..................................................................................................1
1.1.Latar Belakang...............................................................................................1
I.2Rumusan Masalah............................................................................................2
I.3Tujuan..............................................................................................................2
I.4Manfaat............................................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................3
PEMBAHASAN.....................................................................................................3
II.1 Definisi media social dan profesionalisme................................................3
II.2 PERKEMBANGAN MEDIA SOSIAL.....................................................4
II.3 PERAN MEDIA SOSIAL.........................................................................6
II.4 Efek media social terhadap pasien.............................................................6
II.5. Efek media social terhadap Hubungan pasien dengan Bidan...................7
II.6 Memahami dasar social media bagi tenaga kesehatan...............................7
II.7 Definisi profesinalisme bidan....................................................................8
II.8 Ciri-ciri jabatan profesional bidan.............................................................9
II.9 Profesionalisme bidan dalam pelayanan kebidanan................................10
II.10 Tahap pencapaian profesionalisme bidan..............................................10
II.11 Standar penampilan dan etika Kompetensi yang terjamin.....................11
II.12 Tanggungjawab sebagai bidan profesinal..............................................11
BAB III..................................................................................................................12
PENUTUP.............................................................................................................12
III.1 Kesimpulan.............................................................................................12
III.2 Saran.......................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Perkembangan tekhnologi sangat pesat di jaman era globalisasi saat ini.
Tekhnologi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam mempermudah setiap
pekerjaan manusia. Salah satunya dalam hal komunikasi. Mudahnya setiap orang
untuk berkomunikasi saat ini dimana pun dan kapanpun membawa dampak besar
bagi kehidupan. Media sosial dalam review ini dibatasi sebagai aplikasi berbasis
internet yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user generated content.
Melalui pembatasan ini, media sosial dapat berupa blog, komunitas, situs jejaring
sosial, proyek kolaboratif, game virtual, dan dunia sosial virtual. Aplikasi-aplikasi
ini memungkinkan para pengguna, dalam hal ini pasien, untuk bertukar informasi
dengan alasan kesehatan atau kondisi kesehatan. Di Indonesia, terdapat beberapa
aplikasi yang sangat sering dan intens digunakan secara luas untuk berbagi
informasi kesehatan pasien pengguna sehat maupun pasien.
Saat ini, media sosial yang sering digunakan oleh orang Indonesia terutama adalah
situs jejaring sosial seperti misalnya Twitter, Facebook, Path, Instagram, dan
beberapa situs lain yang kurang populer. Orang Indonesia secara bebas saling
bertukar informasi melalui media sosial ini, bahkan untuk berbagai kondisi
kesehatan pribadi.Dan terdapat pengertian dari Bidan adalah profesi yang diakui
secara nasional maupun internasional oleh sejumlah praktisi diseluruh dunia.
Tugas utama yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan memiliki tujuan
untuk meningkatkan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana dalam rangka
mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat.Bidan harus dapat memberikan
supervise, perawatan dan saran yang diperlukan kepada ibu selama periode
kehamilan, persalinan dan pasca partum, membantu kelahiran sebagai
tanggungjawabnya, dan merawat bayi serta bayi baru lahir. Perawatan ini
mencangkup tindakan preventif, deteksi keadaan abnormal pada ibu dan anak,
upaya mendapatkan bantuan medis dan pelaksanaan tindakan kedaruratan bila
bantuan medis tidak tersedia.

1
I.2Rumusan Masalah
1) Apa pengertian media sosial ?
2) Apa fungsi dan peran media sosial ?
3) Apa dasar social media bagi tenaga kesehatan ?
4) Apa yang dimaksud profesionalisme bidan ?
5) Apa yang menjadi ciri-ciri profesionalisme bidan ?
6) Apa saja Profesionalisme bidan dalam pelayanan kebidanan?

I.3Tujuan
1) Dapat mengetahui tentang apa itu media sosial
2) Untuk memenuhi tugas kuliah profesionalisme
3) Mengetahui tata cara seorang bidan menjadi profesionalisme
4) Untuk menambah pengetahuan menjadi bidan yang professional

I.4Manfaat
1) Sebagai masukan untuk mengetahui efek penggunaan media sosial oleh pasien
terhadap hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan terutama bidan.
2) Mengetahui tata cara berprofesi yang baik dan benar .
3) Mengetahui tata cara seorang bidan menjadi profesionalisme.

2
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Definisi media social dan profesionalisme


Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan
mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial,
wiki, forum dan dunia virtual.Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk
media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial adalah media online yang
mendukung interaksi sosial dan media sosial menggunakan teknologi berbasis
web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif.Andreas Kaplan dan
Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok
aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi
Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated
content”.Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web
page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi
dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar
antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan
media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet.
Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan
memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta
membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.Saat teknologi
internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh
dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa
dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile
phone. Demikian cepatnya orang bias mengakses media sosial mengakibatkan
terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara

3
maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai
tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan
berita-berita.Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang
seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti
televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang
banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa
mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang
aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan
sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa
mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan
berbagai model content lainnya.Dan profesionalisme adalah keandalan dalam
pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu tinggi, waktu yang tepat,
cermat, dan dengan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti. Menurut
Soedijarto mendefinisikan profesionalisme sebagai perangkat atribut-atribut yang
diperlukan guna menunjang suatu tugas agar sesuai dengan standar kerja yang
diinginkan. Menurut Philips memberikan definisi profesionalisme sebagai
individu yang bekerja sesuai dengan tandar moral dan etika yang ditentukan oleh
pekerjaan tersebut.Profesionalisme adalah komitmen para profesionalterhadap
profesinya. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan kebanggaan dirinya sebagai
tenaga profesional, usaha terusmenerus untuk mengembangkan kemampuan
profesional, dst.Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu.

II.2 PERKEMBANGAN MEDIA SOSIAL


 1978 Awal dari penemuan Sistem papan buletin yang memungkinkan untuk dapat
berhubungan dengan orang lain menggunakan surat elektronik , ataupun
mengunggah dan mengunduh Perangkat lunak , semua ini dilakukan masih
dengan menggunakan saluran telepon yang Terhubung dengaan modem
 1995 Kelahiran dari situs GeoCities, situs ini melayani Web Hosting yaitu layanan
penyewaan penyimpanan data - data website agar halaman website tersebut bisa
di akses dari mana saja, dan kemunculan GeoCities ini menjadi tonggak dari
berdirinya website - website lain.

4
 1997 Muncul situs jejaring sosial pertama yaitu Sixdegree.com walaupun
sebenarnya pada
 tahun 1995 terdapat situs Classmates.com yang juga merupakan situs jejaring
sosial namun, di anggap lebih menawarkan sebuah situs jejaring sosial di banding
 1999 Muncul situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini
menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri.
sehingga pengguna dari Blogger ini bisa memuat hal tentang apapun. termasuk hal
pribadi ataupun untuk mengkritisi pemerintah. sehingga bisa di katakan blogger
ini menjadi tonggak berkembangnya sebuah Media sosial.
 2002 Berdirinya Friendster, situs jejaring sosial yang pada saat itu menjadi
booming, dankeberadaan sebuah media sosial menjadi fenomenal.
 2003 Berdirinya LinkedIn, tak hanya berguna untuk bersosial, LinkedIn juga
berguna untuk mencari pekerjaan, sehingga fungsi dari sebuah Media Sosial
makin berkembang.
 2003 Berdirinya MySpace, MySpace menawarkan kemudahan
dalammenggunakannya,sehingga myspace di katakan situs jejaring sosial yang
user friendly.
 2004 Lahirnya Facebook, situs jejaring sosial yang terkenal hingga sampai saat
ini, merupakan salah satu situs jejaring sosial yang memiliki anggota terbanyak.
 2006 Lahirnya Twitter, situs jejaring sosial yang berbeda dengan yang lainnya,
karena pengguna dari Twitter hanya bisa mengupdate status atau yang bernama
Tweet ini yang hanya di batasi 140 karakter.
 2007 Lahirnya Wiser, situs jejaring social pertama sekali diluncurkan bertepatan
dengan peringatan Hari Bumi (22 April) 2007. Situs ini diharapkan bisa menjadi
sebuah direktori online organisasi lingkungan seluruh dunia termasuk pergerakan
lingkungan baik dilakukan individu maupun kelompok.
 2011 Lahirnya Google+, google meluncurkan situs jejaring sosialnya yang
bernama google, namun pada awal peluncuran. google+ hanya sebatas pada orang
yang telah di invite oleh google. Setelah itu google+ di luncurkan secara umum.

5
II.3 PERAN MEDIA SOSIAL
 Sebagai sarana diskusi dengan jangkauan yang luas
 Media untuk bertukar informasi
 Sebagai sarana hiburan
 Sebagai sarana berkomunikasi
 Mempererat pertemanan dengan teman satu sekolah, atau teman kuliah
 Menjalin silaturahmi yang sudah lama putus dengan teman lama atau kerabat
lama
 Mendapat banyak informasi terbaru
 Mengisi waktu luang
 Menambah wawasan
 Tempat pembelajaran online
 Administrasi
 Mendengarkan dan Belajar
 Membangun Hubungan
 Jangkauan Global

II.4 Efek media social terhadap pasien


Efek penggunaan media sosial terhadap para pasien secara umum dibagi menjadi
dua, yaitu pemberdayaan pasien dan efek yang lain. Pemberdayaan pasien adalah
penemuan dan pengembangan kapasitas inheren pasien untuk bertanggung jawab
terhadap hidupnya sendiri. Hal ini akan meningkatkan kondisi secara subjektif,
psikologis, dan perbaikan manajemen dan pengendalian diri. Walau demikian,
terdapat empat efek lain penggunaan media sosial oleh pasien. Keempat efek itu
adalah berkurangnya kondisi secara subjektif, hilangnya privasi, menjadi target
promosi, dan kecanduan media sosial. Menurunnya kondisi secara subjektif
adalah akibat perasaan khawatir dan cemas. Kecanduan media sosial juga terjadi,
dengan keluhan bahwa pasien yang menggunakan media sosial kerap
mengakibatkan terbengkalainya urusan yang lain akibat terlalu sering
menggunakan media sosial.

6
II.5. Efek media social terhadap Hubungan pasien dengan Bidan
Terdapat empat macam efek penggunaan media sosial oleh pasien terhadap
hubungan antara pasien dan Bidan profesional. Keempatnya adalah komunikasi
yang makin sejajar, hubungan yang lebih harmonis, dan interaksi yang
suboptimal. Dengan penggunaan media sosial, pasien merasa lebih percaya diri
ketika berdiskusi dengan para bidan. Hal ini karena pasien merasa telah
mendapatkan tambahan informasi mengenai kondisi dan berbagai pilihan
pengobatannya. Pasien juga merasa bahwa media sosial memungkinkan mereka
lebih siap ketika bertemu dengan bidan sehingga tahu mana pertanyaan yang
harus diajukan dalam diskusi, Penggunaan media sosial dapat meningkatkan
kesempatan belajar dan meningkatkan komunikasi kesehatan. dengan demikian
juga dimungkinkan sebagai akibat penggunaan media sosial oleh pasien. Diskusi
mengenai bagaimana bidan menangani kondisi tertentu secara langsung akan
berpengaruh pada pilihan pasien.

II.6 Memahami dasar social media bagi tenaga kesehatan


 Jaga kehidupan pribadi dan kehidupan profesional anda terpisah secara online
a. Anda harus memastikan Anda melindungi identitas pribadi Anda secara online. 
b.  Lakukan : Pikirkan baik-baik tentang informasi apa yang Anda ingin  bagi
tentang diri Anda secara online dan bagaimana rincian ini dapat dilihat oleh orang
lain. Ini mungkin termasuk mengidentifikasi diri sebagai perawat atau bidan dan
di mana Anda bekerja atau kuliah.
c. Jangan menggunakan layanan anda atau menggunakan layanan orang lain; 
d.  mengambil foto atau video di tempat kerja kecuali bagian dari persetujuan
pelatihan profesional, mengajar atau belajar; 
e.  melampiaskan atau menyampaikan keluhan secara online, dan 
f. Lihat situasi, kolega atau pengguna jasa anda. Selalu hormati batas-batas
profesional dan pribadi.
 Hormati privasi pasien/ klien dan kerahasiaannya.
media sosial adalah media terbuka, berbagi dan informal. Privasi, kerahasiaan dan
profesionalisme adalah inti dari nilai-nilai keperawatan dan kebidanan. Oleh

7
karena itu, Anda perlu menghormati hak-hak privasi dan kerahasiaan pasien dan
kolega dan menghormati nilai-nilai profesi Anda setiap saat. Postinglah yang
bijak dan benar.
 Gunakan situs media sosial dan jejaring sosial untuk pengembangan profesional
Anda
Ada banyak cara untuk menggunakan media sosial secara profesional dan NMBI (
Konsil Keperawatan dan Kebidanan Irlandia-red) mendukung penggunaan situs
media sosial yang bertanggung jawab oleh perawat, bidan dan mahasiswa. Anda
bisa, misalnya, update dengan penelitian terbaru menggunakan Twitter, update
organisasi dari Facebook, belajar dari YouTube dan membuat jaringan dengan
rekan-rekan di LinkedIn. Anda harus membuat kehadiran online Anda berharga
untuk diri sendiri dan orang lain. Cobalah untuk 'terlibat, bertukar dan
memperkaya' (Kalia, 2011).
 Berpikir sebelum Anda memposting - apakah yang anda posting tepat untuk
media sosial?
Tetap profesional setiap saat. Jangan posting pesan atau informasi tentang sesuatu
yang tidak ingin rekan-rekan Anda dan manajer anda melihatnya. Jika Anda akan
mempublikasikan sesuatu yang tidak akan Anda lakukan di ruangan yang penuh
dengan orang-orang, maka jangan lakukan.

II.7 Definisi profesinalisme bidan


Profesinalisme berarti memiliki sifat profesional yang dimiliki oleh seorang bidan.
Bidan profesinal termasuk rumpun kesehatan , untuk menjadi jabatan profesional
memiliki 9 syarat bidan profesinal, meliputi :

a) Ilmu sosial, budaya, kesehatan masyarakat, konsep kebidanan, etika, kode etik,
kebidanan yang membentuk dasar dari asuhan yang berkualitas.
b) Asuhan ibu hamil
c) Asuhan kebidanan ibu melahirkan
d) Kebidanan asuhan ibu nifas menyusui
e) Asuhan bayi lahir

8
f) Asuhan pada bayi balita
g) Keluarga berencana
h) Gangguan reproduksi
i) Kebidanan komunitas

II.8 Ciri-ciri jabatan profesional bidan


 Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis
 Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan secara tenaga profesional
 Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat
 Mempunyai peran dan fungsi yang jelas
 Mempunyai kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah
 Memiliki organisasi profesi sebagai wadah
 Memiliki kode etik bidan
 Memiliki etika bidan
 Memiliki standar pelayanan
 Memiliki standar praktik
 Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi
sesuai dengan kebutuhan pelayanan
 Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan
kompetensi
 Mempunyai kompetensi yang jelas dan terukur
 Sehubungan dengan profesinalisme jabatan bidan, perlu dibahas bahwa bidan
tergolong jabatan profesinal.

II.9 Profesionalisme bidan dalam pelayanan kebidanan


PROFESI:
Suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lebih dalam dan luas serta
adanya pengetahuan yang khusus
Terdapat 4 ciri utama profesi :

9
 Pengetahuannya
 Kode etik profesi
 Terdapat otonomi penuh dalam pelayanan, pendidikan dan penilaian
 Memberikan pelayanan yang vital dan unik

II.10 Tahap pencapaian profesionalisme bidan


 Sertifikasi (pendidikan)
Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap Kompetensi Bidan
yang telah lulus Uji Kompetensi untuk melakukan Praktik Kebidanan. Sertifikat
Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan Praktik Kebidanan yang
diperoleh lulusan pendidikan profesi.
 Registrasi (pendaftaran)
Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhadap
bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kompetensi inti atau standar
penampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu
melaksanakan praktik profesinya.
 Lisensi (perizinan)
Lisensi praktik kebidanan merupakan proses administrasi yang dilakukan
pemerintah dalam mengeluarkan surat izin praktik yang diberikan kepada suatu
tenaga profesi untuk pelayanan yang mandiri. Menurut IBI : Lisensi adalah
pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah
ditetapkan.
 Akreditasi (evaluasi)
Akreditasi atau pentauliahan adalah suatu bentuk pengakuan pemerintah terhadap
suatu lembaga pendidikan swasta. Salah satu contoh akreditasi adalah akreditasi
pada metode tes laboratorium dan sertifikasi spesialis yang diperbolehkan
mengeluarkan sertifikat resmi suatu yang telah memiliki standar.

II.11 Standar penampilan dan etika Kompetensi yang terjamin


Yang penting bagaimana caranya memperkuat kesan profesional seorang bidan.
Seorang bidan yang profesional dituntut sikap profesionalismenya, antara lain :

10
 Standar penampilan dan etika
 Kompetensi yang terjamin
 Pengetahuan yang luas
 Pelatihan yang ekstensif

II.12 Tanggungjawab sebagai bidan profesinal


1) Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date, terus mengembangkan
keterampilan dan kemahiran agar bertambah luas serta mencangkup semua
aspek peran seorang bidan
2) Mengenali batas-batas pengetahuan, keterampilan pribadinya dan tidak
berupaya melampaui wewenangannya dalam praktik klinik
3) Menerima tanggungjawab untuk mengambil keputusan serta konsekuensi dari
keputusan tersebut
4) Berkomunikasi dengan pekerja kesehatan lainnya (bidan, dokter, dan perawat)
dengan rasa hormat dan martabat
5) Memelihara kerja sama yang baik dengan staff kesehatan dan rumah sakit
pendukung untuk memastikan sistem rujukan yang optimal
6) Melaksanakan kegiatan pemantauan mutu yang mencangkup penilaian
sejawat, pendidikan berkesinambungan, mengkaji ulang kasus audit maternal
atau perinatal
7) Bekerjasama dengan masyarakat tempat bidan praktik
8) Meningkatkan akses dan mutu asuhan kebidanan
9) Menjadi bagian dari upaya meningkatkan status wanita, kondisi hidup mereka
dan menghilangkan praktik kultur yang sudah terbukti merugikan kaum
wanita.

11
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan
mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial,
wiki, forum dan dunia virtual.Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk
media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial adalah media online yang
mendukung interaksi sosial dan media sosial menggunakan teknologi berbasis
web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif. Peran media sebagai
sarana diskusi dengan jangkauan yang luas,Media untuk bertukar
informasi,Sebagai sarana hiburan,Sebagai sarana berkomunikasi. dasar social
media bagi tenaga kesehatan meliputi Jaga kehidupan pribadi dan kehidupan
profesional anda terpisah secara online, Hormati privasi pasien/ klien dan
kerahasiaannya,Gunakan situs media sosial dan jejaring sosial untuk
pengembangan profesional Anda, Berpikir sebelum Anda memposting - apakah
yang anda posting tepat untuk media social.Kemudian terdapat pengertian
Profesionalisme berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu
berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya, profesionalisme juga merupakan tingkah laku, keahlian atau
kualitas dan seseorang yang professional.ciri ciri profesionalisme bidan yaitu
Memiliki organisasi profesi sebagai wadah,Memiliki kode etik bidan,Memiliki
etika bidan,Memiliki standar pelayanan,Memiliki standar praktik. Profesionalisme
bidan dalam pelayanan kebidanan meliputi Pengetahuannya ,Kode etik
profesi,Terdapat otonomi penuh dalam pelayanan, pendidikan dan
penilaian,Memberikan pelayanan yang vital dan unik.

III.2 Saran
Dalam hal siapa pun yang menggunakan teknologi berbasis mobile dan web dapat
mempublikasikan dan menerima informasi kapan saja. untuk profesi berbasis
sosial seperti kebidanan dan untuk menjadi bidan yang profesional, seorang bidan
harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan, dikarena bidan memiliki
tanggungjawab yang besar terhadap pasien yang akan diberi pelayanan. Demikian
makalah yang kami buat semoga dapa bermanfaat bagi teman teman

12
semua,Apabila terdapat kesalahan pada makalah yang kami buat mohon
dimaafkan karena kami adalah hamba Allah yang luput dari kesalahan .

DAFTAR PUSTAKA

Kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo Purwandari,


Atik.2008
Yulifah Surachmindari,Rita.Konsep Kebidanan untuk Pendidikan
Kebidanan.Jakarta Selatan : Salemba Medika.2013

13

Anda mungkin juga menyukai