Anda di halaman 1dari 7

Pro Kontra Pemulangan WNI Eks ISIS, ini

Kata Pakar Tata Negara


Carlos KY Paath / RSAT Senin, 10 Februari 2020 | 08:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rencana pemulangan Warga Negara Indonesia


(WNI) mantan anggota ISIS perlu ditinjau dalam konteks konstitusi dan
perundang-undangan yang berlaku. Pakar Hukum Tata Negara Fakultas
Hukum Universitas Muslim Indonesia Makassar, Fahri Bachmid menilai
setiap orang bebas memilih dan menentukan kewarganegarannya.

Hal ini diatur dalam ketentuan Pasal 28E ayat (1) UUD 1945 yang menyebut
"Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya, serta berhak kembali".

"Setiap orang secara konstitusional bebas memilih kewarganegaraannya.


Dengan demikian untuk menyikapi soal ini (pemulangan WNI eks ISIS) tidak
terlepas dari dimensi hak asasi manusia (HAM) yang telah dijamin oleh
konstitusi," kata Fahri dalam keterangannya, Minggu (9/2/2020).

Menurut Fahri, terdapat sedikit kompleksitas dari sisi teknis yuridis jika
menggunakan instrumen Undang-Undang (UU) Nomor 12/2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia yang mendasarkan pada ketentuan
Pasal 23 poin d. Regulasi itu menyebutkan bahwa WNI kehilangan
kewarganegaraanya jika yang bersangkutan "masuk dalam dinas tentara asing
tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden".
Sementara, poin f yang menyebutkan bahwa "secara sukarela mengangkat
sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari
negara asing tersebut". "Ini tentu membutuhkan kajian dan pendalaman dari
segi teori, doktrin, serta kaidah hukum internasional sepanjang berkaitan
dengan eksistensi dan kedudukan ISIS sebagai subjek hukum internasional,"
ujar Fahri.

Fahri menerangkan, secara normatif macam subjek hukum internasional


terdiri dari negara berdaulat; gabungan negara-negara; tahta suci Vatikan;
organisasi internasional baik yang bilateral, regional maupun multilateral;
Palang Merah Internasional; individu yang mempunyai kriteria tertentu;
pemberontak (belligerent) atau pihak yang bersengketa; penjahat perang
(genocide).

Fahri menuturkan, menjadi sulit secara hukum jika WNI eks ISIS dikualifisir
sebagai warga negara yang telah secara sukarela mengangkat sumpah/janji
setia kepada negara asing/bagian dari negara asing tersebut sebagaimana
diatur dalam kaidah ketentuan pasal 23 poin f UU 12/2006.

"Karena secara konseptual maupun hukum internasional ISIS tidak dapat


dikategorikam sebagai negara,karena tidak memenuhi unsur-unsur negara,
sehingga ISIS merupakan subjek hukum bukan negara (non-state entities).
Hal ini harus dimatangkan dan perlu dikaji secara mendalam dan hati-hati
agar ketika membangun konstruksi hukum sekaitan dengan larangan mereka
untuk masuk kembali ke indonesia tetap sejalan dengan argumentasi yang
berbasis legal - konstitusional, dan tidak melawan hukum," kata Fahri.

Fahri menjelaskan, Konvensi Montevideo 1933 tentang Hak dan Kewajiban


Negara yang ditandatangani pada 26 Desember 1933 mengkodifikasi teori
deklaratif kenegaraan. Konversi itu menyebutkan syarat hukum berdirinya
sebuah negara yang harus dipenuhi secara mutlak, yaitu memiliki rakyat;
wilayah; pemerintahan; kemampuan berhubungan dengan negara lain;
pengakuan kedaulatan dari negara lain.

"Berdasarkan hal tersebut maka secara faktual ISIS tidak mempunyai


hubungan diplomatik dengan negara lain apalagi mendapat pengakuan
kedaulatan dari negara lain, sehingga secara hipotetis disimpulkan bahwa ISIS
adalah sebuah negara menjadi gugur," ungkap Fahri.

Fahri menambahkan WNI eks ISIS ini secara hukum telah "stateless" atau
tanpa kewarganegaraan. Jika suatu waktu atas dasar hak konstitusional dan
kemanusiaan pemerintah memutuskan untuk mereka dipulangkan ke Tanah
Air, menurut Fahri, beberapa instrumen dan payung hukum yang berkaitan
dengan pelaksanaan UU 12/2006 perlu disiapkan untuk mengatur tentang
proses identifikasi.

Misalnya, identifikasi mana WNI yang menjadi pelaku aktif (kombatan),


mana yang sekadar korban? Berikutnya, mana yang levelnya "verry
dengerous" karena sangat radikal dan ekstrim sampai pada level yang
resikonya sangat kecil? Proses assesment, deradikalisasi pengaturan leading
sector-nya, apakah dibawah tanggung jawab BNPT atau siapa? Hal yang
paling penting adalah tingkat penerimaan masyarakat setempat yang tentunya
melibatkan pemerintah daerah.

"Hal-hal ini yang harus dikaji secara cermat dan komprehensif oleh
pemerintah. Setelah semua proses itu dilalui baru selanjutnya mereka
diwajibkan untuk menjalani proses administrasi pewarganegaraan
sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 8 sampai dengan Pasal 16 UU
12/2006 yang mana Pasal 16 mengatur tentang sumpah atau pernyataan janji
setia kepada negara Republik Indonesia," ujar Fahri.
Fahri mencontohkan pengalaman empiris terkait memperlakukan eks
kombatan ISIS, yaitu mantan Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
Badan Pengusahaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho. Pada 2018 silam, Djoko dan
keluarganya menghilang sejak Agustus 2015 dan belakangan diketahui telah
bergabung dengan ISIS dan beroperasi di Irak. Namun, akhirnya Djoko dan
keluarganya berhasil dipulangkan ke Indonesia. Djoko mendekam dipenjara
setelah divonis 3,5 tahun penjara. Sementara anggota keluarga yang lainnya
menjalani program deradikalisasi dan akhirnya dilepaskan.

"Ini bisa menjadi referensi terkait hal ini. Agar proses integrasi WNI eks ISIS
ke indonesia tidak menjadi permasalahan baru. Jadi pendidikan serta
pembinaan dalam rangka deradikalisasi menjadi penting, agar paham radikal
dan ekstrimis bisa benar benar dihilangkan, dan idiologi yang mereka
gunakan dapat ditinggalkan," ucap Fahri. 

Sumber: Suara Pembaruan


https://www.beritasatu.com/nasional/599530/pro-kontra-pemulangan-wni-eks-
isis-ini-kata-pakar-tata-negara
Pro Kontra Pemulangan 600 WNI Eks ISIS ke
Indonesia
Liputan6.com, Jakarta - 600 Warga Negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah yang sempat
bergabung dalam kelompok teroris Islamic State Iraq Suriah (ISIS) akan dipulangkan ke Tanah
Air. Hal ini disampaikan Menteri Agama Fachrul Razi.

Informasi rencana pemulangan WNI eks ISIS itu diperoleh Fachrul dari Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT). Proses pemulangan mereka akan dilaksanakan dalam waktu
dekat.

Meski BNPT menyatakan siap, pemulangan baru akan dilakukan setelah ada keputusan dari
sejumlah kementerian dan lembaga terkait.

Pro dan kontra pun muncul terkait pemulangan 600 WNI eks ISIS ini. Salah satunya adalah
Menko Polhukam Mahfud Md yang menyebut tim masih menggodok soal pemulangan WNI eks
ISIS.

"Belum ada yang dipulangkan dan masih dianalisis baik buruknya apakah akan dipulangkan atau
tidak. Tapi sampai hari ini belum ada keputusan dipulangkan," kata Mahfud Md di kantornya, di
Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Februari 2020.

Selain itu, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung apabila pemerintah akan memulangkan
para WNI mantan ISIS dari Suriah ke Indonesia.

Berikut ragam tanggapan terkait pemulangan 600 WNI eks ISIS dihimpun Liputan6.com:

 Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera meminta pemerintah mempersiapkan secara matang rencana
pemulangan 600 WNI mantan simpatisan ISIS dari Timur Tengah ke Indonesia. Proses
pemulangan ratusan WNI itu harus dilakukan secara teratur.

"Mereka WNI. Dipulangkan dengan penanganan yang rapi," kata Mardani saat dihubungi
merdeka.com, Rabu, 5 Februari 2020.

Mardani juga meminta pemerintah membentuk gugus tugas lintas kementerian untuk menangani
WNI mantan pengikut ISIS itu. Penanganan eks kombatan ISIS tidak hanya dari segi agama tapi
ekonomi dan sosial.

"Ada gugus tugas yang dibentuk lintas kementerian untuk menangani mereka baik secara
ekonomi, sosial dan keagamaan. Bisa diregistrasi dan dilakukan moderasi," ujarnya.

Menurut Mardani, WNI eks ISIS perlu dipulangkan ke Tanah Air. Sebab, mereka adalah warga
Indonesia yang membutuhkan kehadiran negara. Negara harus bisa memastikan seluruh warganya
mendapat perlindungan yang sama.

"Seperti juga WNI yang kena ancaman virus Corona, mereka juga mesti diurus negara. Karena
memang negara mesti hadir dan penanganan yang tepat justru jadi management knowledge yang
mahal untuk SOP masa depan," jelas Mardani.
Tak hanya PKS, Partai Demokrat juga angkat bicara mengenai rencana pemulangan 600 WNI eks
simpatisan ISIS dari Timur Tengah ke Indonesia. Anggota Komisi III DPR dari fraksi Partai
Demokrat Hinca Panjaitan mendukung langkah tersebut.

Meski mendukung, Hinca memberi catatan khusus bagi pemerintah jika ingin memulangkan WNI
eks simpatisan ISIS. Pertama, intelijen harus mampu melakukan threat assesment pada setiap
WNI yang kembali. Ini guna mengukur tingkat radikal dari setiap WNI eks kombatan ISIS itu.

Kedua, pemerintah harus mengadakan kegiatan kontra-terorisme bagi WNI eks simpatisan ISIS.
Salah satu isi kegiatan yakni WNI eks pengikut ISIS membuat video-video pendek berisi alasan
mengapa mereka akhirnya memilih pulang.

"Mengapa video? Sederhana alasan saya. Dalam melakukan rekrutmen, kelompok teroris sering
memakai sarana media sosial dalam bentuk video propaganda. Ingat, kejahatan terorisme saat ini
tidak dimulai langsung dengan weapon system tapi pemerintah harus berpikir juga untuk
membuat kontra-terorisme berbasis cyber warfare sebagai langkah preventif," jelas Hinca.

Hinca tak sependapat bila ada yang menolak WNI mantan simpatisan ISIS kembali ke Tanah Air.
Apalagi jika ada yang menolak dengan alasan mengikuti kebijakan negara lain seperti Inggris dan
Prancis. Menurut Hinca, geopolitik setiap negara berbeda-beda.

"Kita tahu tahun lalu Trump sempat memaksa negara-negara seperti Inggris, Perancis dan Jerman
untuk membawa kembali eks kombatan ISIS untuk pulang. Namun ternyata tanggapan tiap
negara berbeda, Perancis tidak mau memulangkan mereka sekaligus, mereka lakukan
pemulangan berdasarkan kasus per kasus. Kalau Jerman, setahu saya mereka menyatakan bahwa
WN yang diduga atau telah bergabung dengan ISIS masih memiliki hak untuk kembali," jelasnya

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan pemerintah memiliki kewajiban
melindungi setiap warganya, termasuk WNI eks simpatisan ISIS.

"Pemerintah punya kewajiban lindungi tiap warga negara. Kalau mereka ibaratnya tersesat karena
doktrin tertentu seperti ISIS, ya harus dikembalikan karena mereka jadi korban propaganda ISIS,”
kata Fadli Zon.

Menurut Fadli, pemerintah harus memfasilitasi bagi WNI eks anggota ISIS yang ingin kembali ke
Indonesia. Pemerintah tidak boleh mengabaikan apalagi menyudutkan WNI tersebut.

Meski demikian, pemerintah diminta mempersiapkan secara matang prosedur pemulangan WNI
eks simpatisan ISIS.

"Tentu ada protokol yang harus dijalani, semacam interogasi. Mereka harus dilihat apa yang
terjadi, kronologi seperti apa, dibriefing kembali sebagai warga negara," ujar dia.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar, Christina Aryani meminta
pemerintah melakukan kajian mendalam soal rencana memulangkan WNI eks simpatisan ISIS
dari Timur Tengah ke Indonesia.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan serius yakni mekanisme penanganan WNI pasca
pemulangan.
"Misalnya saja di mana WNI tersebut akan dikarantina, siapa yang akan bertanggung jawab
melakukan program deradikalisasi dan observasinya, berapa lama program itu akan dilakukan,
bagaimana kesiapan anggarannya, serta siapa yang akan mengawasi pasca pembauran kembali
dengan masyarakat," kata Christina.

Christina memandang penting pemerintah mengkaji lebih jauh prosedur penanganan WNI eks
kombatan ISIS setelah tiba di Tanah Air. Pasalnya, tak ada alat ukur yang akurat untuk
memastikan tingkat radikal para WNI tersebut.

"Kita ketahui bersama tidak terdapat suatu alat ukur yang pasti atas virus ideologi yang bisa
menjadi parameter penilaian untuk mengukur tingkat radikal seseorang,” ujarnya.Christina juga
mendorong pemerintah menyampaikan secara terbuka kepada publik langkah-langkah apa saja
yang diambil untuk memulangkan WNI eks simpatisan ISIS.

"Guna mendapatkan tanggapan dan masukan, mengingat potensi dampaknya yang besar bukan
saja bagi keamanan negara tetapi juga bagi upaya perlindungan ratusan juta WNI dari paparan
ideologi radikalisme,” pungkas Christina.Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) Jimly Asshiddiqie angkat suara soal wacana pemulangan sejumlah WNI yang pernah
menjadi pengikut gerakan kelompok ISIS. Menurut Jimly, wacana itu perlu diantisipasi dengan
mencabut paspor milik mereka terlebih dahulu.

"Saya sarankan cabut dulu paspornya, nanti urusan belakangan dia ingin kembali, kalau ingin
kembali ada syaratnya termasuk tes," kata Jimly.

Jimly menjelaskan, tes dimaksud adalah uji mental, kepribadian, dan psikologis. Tes ini
dilakukan guna mengetahui apakah mereka membawa paham radikal atau hanya sebagai korban
saja.

"Tes khusus itu untuk tindakan yang sifatnya mendidik, memang sebaiknya kalau terbukti harus
ada pembinaan supaya dia sadar kesalahannya, ini satu hal serius ditangani pemerintah," jelas
Jimly.Sementara itu, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI Purn Moeldoko
menegaskan, keputusan atas rencana pemulangan WNI mantan anggota ISIS dari Suriah akan
mempertimbangkan aspek untung dan ruginya."Kan sudah dijelaskan bahwa pemerintah belum
menyiapkan kebijakan untuk itu," kata Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, perlu adanya rapat terbatas untuk membahas wacana pemulangan WNI
eks ISIS tersebut dengan mendengarkan keuntungan dan kerugian dari kebijakan yang diambil.

"Perlu ada rapat terbatas, semua pihak nanti akan didengarkan dengan baik. Untung ruginya
seperti apa," kata mantan Panglima TNI tersebut.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/4172972/pro-kontra-pemulangan-600-wni-
eks-isis-ke-indonesia