Anda di halaman 1dari 23

LK 1: Lembar Kerja Belajar Mandiri

Judul Modul MODUL 1. ALJABAR DAN PROGRAM LINEAR


Judul Kegiatan 1. Bentuk Aljabar dan Persamaan Linear
Belajar (KB) 2. Matriks dan Vektor
3. Program Linear
4. Pembelajaran Aljabar

N Butir
Respon/Jawaban
o Refleksi
1 Daftar KB 1. Bentuk Aljabar dan Persamaan Linear
peta Definisi
konsep
(istilah
Operasi Bentuk Aljabar
dan
Bentuk Aljabar
definisi) Perkalian Antar Suku
Bentuk Aljabar
di modul
ini Pemfaktoran Bentuk
Aljabar
Definisi

BENTUK Persamaan Linear

ALJABAR DAN Cara Penyelesaian


SISTEM Persamaan dan
PERSAMAAN Pertidaksamaan
Linear
LINEAR (SPL) Definisi

Pertidaksamaan Linear

Cara Penyelesaian
Pengertian dan solusi
SPL

Sistem Persamaan
Jenis-jenis SPL Substitusi
Linear

Metode Penyelesaian
Eliminasi
SPL

Gabungan (Sunbstitusi
dan Eliminasi)

1. Bentuk Aljabar
Bentuk Aljabar adalah suatu bentuk matematika yang dalam
penyajiannya memuat huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang belum
diketahui.
 Suku adalah bagian dari bentuk aljabar yang dipisah dengan tanda atau +.
Penyebutan untuk satu suku disebut suku tunggal, untuk dua suku disebut
binom, untuk tiga suku disebut trinom, sedangkan suku banyak dinamai
dengan polinom.
 Faktor adalah bilangan yang membagi bilangan lain atau hasil kali.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


 Koefisien adalah faktor bilangan pada hasil kali dengan suatu peubah.
 Konstanta adalah lambang yang menyatakan bilangan tertentu (bilangan
konstan/tetap) .
 Suku sejenis dan tidak sejenis Suku sejenis memiliki peubah dan pangkat
dari peubah yang sama. Jika berbeda, disebut dengan suku tidak sama
atau suku tidak sejenis.
a. Operasi Bentuk Aljabar
Operasi hitung pada bentuk aljabar tidak berbeda dengan operasi
hitung pada bilangan bulat, yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian,
dan pembagian.
Operasi hitung penjumlahan dan pengurangan suku aljabar
dilakukan dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan koefisien
antara suku-suku yang sejenis.
Operasi hitung perkalian dan pembagian suku aljabar dilakukan
dengan menggunakan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan riil, yakni:
1) Sifat komutatif penjumlahan, yaitu a + b = b + a
2) Sifat asosiatif penjumlahan, yaitu a + (b + c) = (a + b) + c
3) Sifat komutatif perkalian, yaitu a × b = b × a
4) Sifat asosiatif perkalian, yaitu a × (b × c) = (a × b) × c
5) Sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan,yaitu:
a × (b ± c) = (a × b) ± (a × c)

b. Perkalian antarsuku Bentuk Aljabar


Pada perkalian antarsuku bentuk aljabar, kita dapat menggunakan
sifat distributif sebagai konsep dasarnya.
Perkalian suku satu dengan suku dua atau suku banyak
o Contoh 1.9
Tentukan hasil penjumlahan dan pengurangan berikut:
a.) 4x(x-2y)
b) 8a(3ab -2ab2 – 8ab)
Penyelesaian:
a) 4x2 -8xy
b) 24a2b –16a2b2 -64a2b = -40a2b -16 a2b2

Perkalian suku dua dengan suku dua

Selisih dua kuadrat


o Contoh 1.11
Tentukan hasil dari (x -3) (x +3)
Penyelesaian:

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


x2 -3x +3x +9 = x2 + 9

c. Pemfaktoran Bentuk Aljabar


Dalam suatu bentuk aljabar dapat ditentukan variabel, koefisien
variabel, konstanta, faktor, dan suku.
Untuk memfaktorkan bentuk aljabar dapat dilakukan dengan
menggunakan hukum distributif.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari faktor
persekutuan terbesar dari setiap suku aljabar.
2. Persamaan dan Pertidaksamaan
a. Persamaan
Definisi 1.2
Persamaan adalah kalimat terbuka yang menggunakan tanda hubung ”
= ” (sama dengan).
Definisi 1.3
Persamaan linear dengan satu variabel (PLSV) adalah suatu persamaan
yang memiliki satu variabel (peubah) dan pangkat tertingginya satu.
Bentuk umumnya: ax + b = c, a ≠ 0, x sebagai variabel.
 suatu PLSV dapat bernilai benar atau salah bergantung pada nilai
yang digantikan ke variabelnya. Oleh karena itu, dalam suatu PLSV
dikenal yang namanya penyelesaian atau solusi.
Definisi 1.4
Penyelesaian (solusi) dari suatu PLSV adalah bilangan real yang
menggantikan variabel sehingga persamaan tersebut menjadi bernilai
benar.
Definisi 1.5
Persamaan linear dengan dua variabel (PLDV) adalah persamaan yang
memiliki dua peubah dan pangkat tertingginya satu.
Bentuk umumnya: sebagai variabel.
Definisi 1.6
Penyelesaian (solusi) dari PLDV adalah bilangan terurut (x 1,y1)
sedemikian hingga jika disubstitusikan x1 untuk x dan y1 untuk y
mengakibatkan persamaan menjadi bernilai benar.
Himpunan penyelesaian (HP) dari PLDV ax | by = c adalah himpunan
semua bilangan terurut (x1,y1) yang merupakan solusi dari PLDV
tersebut.
Perlu ditekankan bahwa (x1,y1) ≠ {x1,y1}.

b. Pertidaksamaan
Menurut El-khateeb (2016), pertidaksamaan adalah kalimat
matematis yang dibangun dengan menggunakan satu atau lebih simbol

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


untuk membandingkan 2 kuantitas.
Pertidaksamaan linear adalah pertidaksamaan yang pangkat
tertinggi dari variabelnya adalah satu.
Pertidaksamaan linear satu variabel dinyatakan dalam bentuk
x<a. Pertidaksamaan linear 2 variabel dapat dinyatakan dalam 2
bentuk yaitu
Y<mx + c atau ax + by < c .
Penyelesaian pertidaksamaan linear satu variabel dilakukan
prosedur sebagai berikut.
1) Tambahkan kedua ruas dengan bilangan yang sama.
2) Kurangkan kedua ruas dengan bilangan yang sama.
3) Kalikan atau bagi kedua ruas dengan bilangan positif yang sama.
4) Jika mengalikan atau membagi kedua ruas dengan bilangan
negatif yang sama maka tanda pertidaksamaannya harus dibalik.
Langkah-langkah untuk menentukan penyelesaian dari sistem
pertidaksamaan linear dua variabel adalah sebagai berikut.
1) Gambar daerah penyelesaian pertidaksamaan yang pertama.
2) Gambar daerah penyelesaian pertidaksamaan yang kedua, dst
3) Himpunan penyelesaian (berupa daerah penyelesaian) sistem
pertidaksamaan linear dua variabelnya adalah irisan dua daerah
penyelesaian pada langkah 1 dan 2.

3. Sistem Persamaan Linear (SPL)


a. Pengertian SPL dan Solusi SPL
Sebagaimana sistem persamaan yang sering dikenal yakni SPLDV
(sistem persamaan linear dua variabel) dan SPLTV (sistem persamaan
linear tiga variabel), maka bentuk umum SPLDV dan SPLTV dituliskan
sebagai berikut.

Himpunan semua penyelesaian dari suatu SPL dinamakan Himpunan


Solusi atau Himpunan Penyelesaian (HP).
b. Jenis-jenis SPL
Berdasarkan solusi yang dimiliki oleh SPL, maka SPL dapat

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1) SPL konsisten (consistent), jika SPL tersebut mempunyai solusi.
2) SPL tak konsisten (inconsistent), jika SPL tersebut tidak
mempunyai solusi.
SPL homogen pasti mempunyai solusi, yakni solusi nol yang berbentuk
(0, 0, …, 0).
SPL homogen selalu konsisten. Ada beberapa sifat yang terkait
dengan SPL dalam bentuk AX=B, antara lain dinyatakan dalam
teorema berikut.
c. Metode Penyelesaian SPL
1) Metode Substitusi
Langkah-langkah menentukan himpunan penyelesaian SPLTV
menggunakan metode substitusi adalah sebagai berikut.
 Pilih salah satu persamaan yang paling sederhana, kemudian
nyatakan sebagai fungsi dan , atau sebagai fungsi dan ,
atau sebagai fungsi dan
 Substitusikan atau atau yang diperoleh pada langkah 1 ke
dalam dua persamaan yang lainnya sehingga didapat PLDV.
 Selesaikan SPLDV yang diperoleh pada langkah 2.
 Substitusikan dua nilai variabel yang diperoleh pada
langkah 3 ke salah satu persamaan semula sehingga
diperoleh nilai variabel yang ketiga.
2) Metode Eliminasi
Langkah-langkah menentukan himpunan penyelesaian SPLTV
menggunakan metode eliminasi adalah :
 Eliminasi salah satu variabel atau atau sehingga
diperoleh SPLDV.
 Selesaikan SPLDV yang didapat pada langkah 1.
 Substitusikan nilai-nilai variabel yang diperoleh pada
langkah 2 ke dalam salah satu persamaan semula untuk
mendapatkan nilai variabel yang lain.
3) Metode Gabungan
Dalam menentukan himpunan penyelesaian dengan
menggunakan metode gabungan, dapat dilakukan dengan
menggabungkan langkah-langkah dari metode substitusi dan
metode eliminasi.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


KB 2. Matriks dan Vektor pada Bidang dan Ruang
MATRIKS DAN
VEKTOR PADA
BIDANG DAN
RUANG
Vektor Pada
Matriks
Matriks Determinan Bidang dan
Transformasi
Ruang

Definisi
Definisi Matriks Definisi Refleksi
Determinan

Vektor pada
Jenis-jenis Sifat-sifat
Sistem Koordinat Rotasi
Matriks Determinan
Cartesius

Operasi pada
Aturan Cramer Norm Vektor Translasi
Matriks

Hasilkali Titik
Invers Matriks Dilatasi
(Dot Product)

Transpose Hasilkali Silang


Matriks (Cross Product)

Matriks
Elemnter

1. Matrik
a. Definisi Matriks
Matriks adalah susunan persegi panjang dari bilangan-bilangan.
Bilanganbilangan pada susunan tersebut disebut entri atau komponen
atau elemen dari matriks.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


b. Jenis-jenis Matriks

Misalkan matriks A =
1) Matriks A disebut matriks persegi berorder n jika A mempunyai n
baris dan n kolom. Komponen a11, a22, …, ann disebut komponen
diagonal utama dari A.
2) Matriks A disebut matriks segitiga bawah jika semua komponen di
atas diagonal utama nol.
3) Matriks A disebut matriks segitiga atas jika semua komponen di
bawah diagonal utama nol.
4) Matriks A disebut matriks segitiga jika matriks A merupakan
matriks segitiga atas atau segitiga bawah.
5) Matriks A disebut matriks diagonal jika A merupakan matriks
segitiga atas dan matriks segitiga bawah.
6) Matriks A disebut matriks skalar jika A merupakan matriks diagonal
dan komponen pada diagonal utama sama.
7) Matriks A disebut matriks identitas jika A merupakan matriks
persegi yang semua komponen pada diagonal utama adalah 1 dan
komponen lainnya 0. Matriks identitas ditulis I. Jika ukuran
matriks diperhatikan, maka matriks identitas nxn ditulis In.
8) Matriks A disebut matriks nol jika semua komponennya 0. Matriks
nol ditulis O. Jika ukuran matriks diperhatikan maka matriks O
berukuran pxq ditulis Opxq.
9) Matriks A disebut matriks kolom jika hanya mempunyai satu kolom.
Matriks A disebut matriks baris jika hanya mempunyai satu baris.

c. Operasi pada Matriks


Definisi 2.3
Jika A dan B matriks yang berukuran sama, maka jumlah A + B
merupakan matriks yang diperoleh dengan menjumlahkan komponen-
komponen matriks A dan B yang bersesuaian. Matriks yang ukurannya
tidak sama tidak dapat dijumlahkan.
Definisi 2.4
Jika A sebarang matriks dan sebarang skalar, maka hasil kali skalar A
adalah
matriks yang diperoleh dengan mengalikan setiap komponen dari A
dengan .
Definisi 2.5
Definisi perkalian matriks memerlukan syarat banyaknya kolom dari
matriks pertama, yaitu A, sama dengan banyaknya baris matriks kedua,
yaitu B. Jika syarat ini tidak dipenuhi maka perkaliannya tidak
terdefinisi.
Teorema 2.1

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


Jika matriks berikut berukuran sedemikian sehingga operasi-
operasinya dapat dilakukan dan bilangan real maka aturan berikut
berlaku.
1) A + B = B + A sifat komutatif untuk penjumlahan
2) A + (B + C) = (A + B) + C sifat asosiatif untuk penjumlahan
3) A(BC) = (AB)C sifat asosiatif untuk perkalian
4) A(B + C) = AB + AC sifat distributif kiri perkalian terhadap
penjumlahan
5) (B + C)A = BA + CA sifat distributif kanan perkalian terhadap
penjumlahan
d. Invers Matriks
Definisi 2.6
Jika A matriks persegi dan terdapat matriks B sedemikian sehingga AB
= BA = I, maka A is dikatakan invertibel dan B dikatakan invers A. Jika
A invertibel, maka inversnya dinyatakan dengan simbol A-1.
Teorema 2.2
Jika B dan C keduanya merupakan invers dari matriks A, maka B = C.
Teorema 2.3

Teorema 2.4
Jika A dan B mariks invertibel berukuran sama, maka
(1) AB invertibel

(2)

e. Transpose Matriks
Definisi 2.8
Jika A matriks p x q, maka transpos A, ditulis A T, didefinisikan sebagai
matriks q x p yang diperoleh dari menukar baris dan kolom A, yaitu
kolom pertama dari AT merupakan baris pertama matriks A, kolom
kedua dari AT merupakan baris kedua dari A, dan seterusnya.
Teorema 2.7
Jika ukuran matriks sedemikian sehingga operasi berikut ini dapat
dilakukan, maka:
(1) (AT)T =A
(2) (A + B)T = AT + BT
(3) (kA)T = k (A)T , dengan k sebarang skalar.
(4) (AB)T = BTAT
f. Matriks Elementer
Definisi 2.9
Suatu matriks n x n disebut matriks elementer jika dapat diperoleh
dari matriks identitas In berukuran nxn dengan melakukan satu operasi
baris elementer.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


Teorema 2.8
Jika matriks A dikalikan dari kiri dengan matriks elementer E, maka
hasilnya EA adalah matriks A yang dikenai operasi baris elementer yang
sama dengan operasi baris elementer yang dikenakan pada I untuk
mendapatkan E.
Teorema 2.9
Setiap matriks elementer adalah invertibel dan inversnya merupakan
matriks elementer.

2. Determinan
a. Definisi
Definisi 2.10
Permutasi himpunan bilangan-bilangan bulat {1, 2, 3,…, n} adalah susunan
bilangan-bilangan bulat ini menurut suatu aturan tanpa menghilangkan
atau mengulangi bilangan-bilangan tersebut
Definisi 2.11
Sebuah permutasi dikatakan permutasi genap jika banyaknya inversi
seluruhnya adalah bilangan bulat genap. Sebuah permutasi dikatakan
permutasi ganjil jika banyaknya inversi seluruhnya adalah bilangan bulat
ganjil.
Definisi 2.14
Misalkan A matriks persegi. Determinan A, ditulis det(A) atau |A| , dan
didefinisikan sebagai jumlah semua hasilkali elementer bertanda dari A.

b. Sifat-sifat Determinan
Teorema 2.13
Jika matriks berukuran nxn, maka berlaku sifat-sifat berikut.
1) Jika A memuat baris nol maka det(A) = 0.

2) Jika A matriks segitiga maka det(A) =


3) Jika B matriks yang diperoleh dari A dengan baris ke i dari B
sama dengan k kali baris ke i dari A atau kolom ke j dari B sama
dengan k kali kolom ke j dari A, maka det(B) = k.det(A).
4) Jika B matriks yang diperoleh dari A dengan menukar dua baris
atau dua kolom dari A maka det(B) = -det(A).
5) Jika B matriks yang diperoleh dari A dengan baris ke i dari B
sama dengan baris ke i dari A ditambah k kali baris ke j dari A
atau kolom ke i dari B sama dengan kolom ke i dari A ditambah k
kali kolom ke j dari A, maka det(B)= det(A).
6) det(A) = det(At ).
7) Jika C suatu matriks nxn maka det(AC) = det(A) det(C).

c. Aturan Cramer

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


3. Vektor pada Bidang dan Ruang
a. Vektor pada Sistem Koordinat

Vektor-vektor pada bidang ( ) dan ruang ( ) dapat dinyatakan


secara geometris sebagai ruas-ruas garis berarah.
Arah panah menentukan arah vektor dan panjang panah menyatakan
besarnya. Pangkal panah disebut titik pangkal vektor dan titik ujung
panah disebut titik ujung vektor.
Vektor dinyatakan dengan huruf kecil tebal, misalnya u, v, w. Semua
skalar disini merupakan bilangan real. Jika titik pangkal vektor v adalah

A dan titik ujungnya adalah B maka ditulis v =


Vektor-vektor yang panjang dan arahnya sama disebut ekivalen.
Jika v dan w ekivalen, ditulis v = w. Vektor yang panjangnya nol disebut
vektor nol, dinotasikan 0. Vektor nol mempunyai arah ke segala arah.

b. Norm Vektor
Teorema 2.15
Jika u, v dan w vektor-vektor di atau , k dan l skalar maka:
1) u + v = v + u
2) (u + v)+ w = u +(v+ w)
3) u + 0 = 0 + u
4) u + (-u) = 0
5) k(l u) = (kl) u
6) k(u +v) = k u + lv
7) (k +l) u = k u + l v
8) 1 u = u

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


c. Hasilkali Titik (Dot Product)

d. Hasilkali Silang (Cross Product)


Teorema 2.19

Teorema 2.20

Teorema 2.21

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


4. Matriks Transformasi
a. Refleksi
Secara umum, transformasi pada yang memetakan
titik ke
bayangan simetrisnya terhadap garis atau bidang disebut transformasi

refleksi. Misalkan transformasi yang memetakan setiap


titik ke bayangan simetrisnya terhadap sumbu y.

b. Rotasi

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


c. Translasi

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


d. Dilatasi

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


KB 3. Program Linear

Definisi

Program Linear Masalah PL

Langkah-langkah Membuat
Model Matematika

Definisi
Metode Titik Ekstrim (Titik
Pojok)
Langkah
Penyelesaian
PROGRAM Metode Grafik
LINEAR Definisi
Metode Garis Selidik
Langkah
Penyelesaian
Metode Langkah-langkah
Simpleks Penyelesaian

Fakta Dualitas

Dualitas Teoremma Dualitas Lemah

Teorema Dualitas Kuat

1. Program Linear
a. Definisi
Program linear merupakan bagian dari Operation Research yang
mempelajari masalah optimum. Prinsip pada program linear diterapkan
dalam masalah nyata diantaranya dalam bidang ekonomi, kesehatan,
pendidikan, perdagangan, transportasi, industri, sosial, dan lain-lain.

b. Masalah PL
Menurut Winston (1993), masalah program linear adalah masalah
optimasi dalam hal sebagai berikut:
1) Usaha untuk memaksimalkan (atau meminimalkan) fungsi linear
dari sejumlah variabel keputusan. Fungsi yang dimaksimalkan
atau diminimalkan disebut fungsi tujuan/fungsi objektif.
2) Nilai variabel keputusan harus memenuhi sejumlah
pembatas/kendala. Setiap pembatas/kendala harus dalam bentuk
persamaan linear atau pertidaksamaan linear.
3) Nilai pada setiap variabel dibatasi. Untuk setiap variabel, tanda

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


batasnya nonnegatif atau boleh tidak dibatasi tandanya.

c. Langkah-langkah Membuat Model Matematika


Menurut Suyitno (2014), langkah-langkah untuk membuat model
matematika adalah sebagai berikut:
1) Menentukan tipe masalah (maksimum atau minimum).
2) Mendefinisikan variabel keputusan.
3) Merumuskan fungsi tujuan.
4) Merumuskan fungsi kendala.
5) Menentukan persyaratan nonnegatif.

2. Metode Grafik
a. Metode Titik Ekstrim (Titik Pojok)
Definisi
Definisi 3.2 Definisi titik ekstrim

Langkah Penyelesaian
Nilai optimal fungsi tujuan dibandingkan berdasarkan titik-titik
ekstrim pembentuknya.
b. Metode Garis Selidik
Definisi
Garis selidik adalah garis-garis yang sejajar dengan garis pada
fungsi tujuan. Untuk masalah maksimum, garis selidik itu disebut
isoprofit lines, sedangkan untuk masalah minimum disebut isocost
lines.
Langkah Penyelesaian
Langkah-langkah menentukan nilai optimal dari fungsi tujuan
menggunakan metode garis selidik adalah sebagai berikut.
1) Menggambar DPF.
2) Menggambar garis yang persamaannya ax + by =0.
3) Menggambar garis-garis yang sejajar dengan dan melalui titik
ekstrim. Garis sejajar ini disebut garis selidik.
4) Untuk masalah maksimum maka titik ekstrim terakhir yang dilalui
garis selidik berkaitan dengan penyelesaian optimal. Sedangkan
untuk masalah minimum, titik ekstrim pertama yang dilalui garis
selidik berkaitan dengan penyelesaian optimal.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


3. Metode Simpleks

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


4. Dualitas
a. Fakta Dualitas
1) Nilai optimal model primal sama dengan nilai optimal model dual
2) Dual dari dual program linear adalah program linear itu sendiri
3) Jika primal (masalah maksimum dalam bentuk baku) dan dual
(masalah minimum dalam bentuk baku) keduanya dapat
diselesaikan maka opt(primal) opt(dual)
b. Teorema Dualitas (Lemah)
Jika LP1 program linear masalah maksimum dalam bentuk baku,
LP2 program linear masalah minimum dalam bentuk baku, LP1 dan
LP2 merupakan dual satu sama lainnya maka:
1) Jika LP1 merupakan kasus penyelesaian tidak terbatas maka LP2
merupakan kasus ketidaklayakan.
2) Jika LP2 merupakan kasus penyelesaian tidak terbatas maka LP1
merupakan kasus ketidaklayakan.
3) Jika LP1 dan LP2 keduanya tertutup dan dapat diselesaikan maka
opt(LP1) opt(LP2), (dibaca nilai optimal (LP1) nilai optimal (LP2)).

c. Teori Dualitas (Kuat)


Jika LP1 atau LP2 dapat diselesaikan dan tertutup maka berlaku
pula untuk pasangannya dan opt (LP1) = opt LP2).

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


KB 4. Pembelajaran Aljabar

Bruner

Vigotsky Dienes

Teori Belajar

Ausubel Piaget Penger-


RPP tian

Sintaks Karak-
Model
DL teristik
Pembelajaran
Perangkat Discovery
Pembelajaran Learning
Penggalan Kekura
PEMBELAJAR Kelebi-
Silabus -ngan
AN ALJABAR han DL
DL

PPK Critical
(Penguatan Thinking
Cara
Pendidikan
Pelaksanaan
Gerakan PPK Karakter)
Creativi- Pembelajara Commun-
ty n Abad 21 cation
Karakter
Utama
Religius
Collabo-
Nasionalis
ration
Mandiri
Gotong
Royong
Integritas

1. Teori Belajar
a. Menurut Piaget
Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa perkembangan anak
bermakna membangun struktur kognitifnya atau peta mentalnya yang
diistilahkan “Skema” atau konsep jejaring untuk memahami dan
menanggapi pengalaman fisik dalam lingkungan di sekelilingnya.
Konsep skema sendiri sebenarnya sudah banyak dikembangkan
oleh para ahli linguistic, psikologi kognitif dan psikolinguistik yang
digunakan untuk menjelaskan dan memahami adanya interaksi antara
sejumlah faktor kunci yang berpengaruh terhadap terhadap proses
pemahaman.
Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam
pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai
dengan skemata yang dimilikinya. Proses tersebut meliputi:

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


 Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya
seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan
mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga
berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan
rangsangan yang datang, dan terus berkembang.
 Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap
mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau
merinci.
 Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena
konsep awal sudah tidak cocok lagi.
 Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi
sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan
struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek
seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium
melalui asimilasi dan akomodasi.
b. Menurut Bruner
Bruner mengungkapkan bahwa belajar merupakan bagaimana
orang tersebut untuk memilah, memilih, mempertahankan, dan
mentransformasikan informasi dengan cara yang lebih aktif.
Menurut Bruner selama kegiatan belajar berlangsung akan lebih
baik jika siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri apa penyebap dan
makna dari berbagai hal yang mereka pelajari, sehingga teori
“menyuapi” ilmu tidak ia gunakan dalam belajar.
c. Menurut Ausubel
David mengungkapkan bahwa dengan teori belajar bermakna,
maka belajar bisa diklasifikasikan menjadi dua dimensi, diantaranya
adalah :
o Dimensi yang berkaitan dengan cara informasi atau materi
pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau
penemuan sehingga siswa lebih aktif, atau
o Dimensi yang menyangkut tentang cara siswa untuk mengabaikan
informasi pada beberapa struktur yang ada, khususnya struktur
kognitif diantaranya adalah fakta, konsep, dan generalisasinya
yang telah dipelajari dan diingat siswa
d. Menurut Vigotsky
Teori pembelajarannya sebagai pembelajaran kognisi social
(Social cognition). Pembelajaran kognisi social meyakini bahwa
kebudayaan merupakan penentuan utama bagi pengembangan individu.
Manusia merupakan satu-satunya spesies di atas dunia ini yang
memiliki kebudayaan hasil rekayasa sendiri dan setiap anak manusia
berkembang dalam konteks kebudayaannya sendiri.
Oleh karenanya perkembangan pembelajaran anak dipengaruhi
banyak

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


e. Menurut Dienes
Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat
dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan
hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkategorikan
hubungan-hubungan di antara strukturstruktur.
Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam
matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat
dipahami dengan baik. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau
objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila
dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.

2. Pembelajaran Discovery Learning


a. Pengertian
Menurut Bruner, DL merupakan pendekatan pembelajaran
berbasis-inquiry dimana siswa membangun pengetahuan baru
berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya dan pengalaman aktif.
Siswa membangun pengalaman menggunakan intuisi, imajinasi, dan
kreativitasnya; dan mencari informasi baru untuk menemukan fakta,
korelasi, dan kebenaran baru.

b. Karakteristik DL
Karakteristik utama DL adalah siswa menghasilkan unit dan
struktur pengetahuan abstrak seperti konsep dan aturan
menggunakan penalaran induktif mereka tentang bahan belajar
nonabstrak yang disediakan lingkungan belajar.
Karakteristik lainnya adalah adanya sejumlah petunjuk yang
diberikan kepada siswa selama proses penalaran induktif.

c. Kelebihan DL
1) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilanketerampilan dan proses-proses kognitif.
2) Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan
masalah.
3) Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi
dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan,dan transfer.
4) Strategi ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan
sesuai dengan kecepatannya sendiri.
5) Strategi ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya,
karena memperoleh kepercayaan bekerjasama dengan yang
lainnya.
6) Berpusat kepada siswa dan guru berperan sama-sama
aktifmengeluarkan gagasan-gagasan.
7) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


8) Menimbulkan rasa senang siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan berhasil.
9) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
10) Siswa akan mengerti konsep dasar ide-ide lebih baik.
11) Melatih siswa belajar mandiri.
12) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.

d. Kekurangan DL
1) Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih banyak.
2) Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di
lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti
dengan model ceramah.
3) Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya
topiktopik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan
dengan model temuan terbimbing.

e. Sintaks DL
Sintaks pembelajaran discovery learning adalah: (1) stimulation;
(2) problem statement; (3) data collecting; (4) data processing; (5)
verification; dan (6) generalization. Berikut ini penjelasan sintaks
pembelajaran discovery learning.

3. Pembelajaran Abad 21
Pembelajaran abad 21 menggunakan istilah yang dikenal sebagai 4Cs
(critical thinking, communication, collaboration, and creativity), yaitu:
 berpikir kritis dan pemecahan masalah. Maksudnya adalah peserta
didik dapat mengidentifikasi, menganalisisi, mengintrepetasikan, dan
mengevaluasi bukti-bukti, argumentasi, klaim dan datadata yang
tersaji secara luas melalui pengkajian secara mendalam, serta
merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.
 komunikasi. Peserta didik dapat mengkomunikasikan ide-ide dan
gagasan secara efektif menggunakan media lisan, tertulis, maupun
teknologi.
 kolaborasi. Peserta didik dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok
dalam memecahkan permasalahan yang ditemukan.
 kreativitas berpikir dan inovasi. Maksud dari keterampilan kreativitas
berpikir dan inovasi adalah peserta didik dapat menghasilkan,
mengembangkan, dan mengimplementasikan ide-ide mereka secara
kreatif baik secara mandiri maupun berkelompok.

4. PPK ( Penguatan Pendidikan Karakter)


a. Karakter Utama PPK

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih


Lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk
jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas gerakan PPK
adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, integritas
b. Cara Pelaksanaan Gerakan PPK
Pelaksanaan Gerakan PPK disesuaikan dengan kurikulum pada
satuan pendidikan masing-masing dan dapat dilakukan melalui tiga
cara, yaitu:
1) Mengintegrasikan pada mata pelajaran yang ada di dalam
struktur kurikulum dan mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok)
melalui kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler.
2) Mengimplementasikan PPK melalui kegiatan ekstrakurikuler yang
ditetapkan oleh satuan pendidikan.
3) Kegiatan pembiasaan melalui budaya sekolah dibentuk dalam
proses kegiatan rutin, spontan, pengkondisian, dan keteladanan
warga sekolah

5. Perangkat Pembelajaran
Perangkat Pembelajaran yang digunakan yaitu Penggalan Silabus dan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2 Daftar 1. Vektor pada bidang dan ruang


materi 2. Program Linear Metode Simpleks
yang sulit
dipahami
di modul
ini
3 Daftar - Koefisien dalam bentuk aljabar
materi
yang
sering
mengalami
miskonsep
si

LK-1 Modul 2 | Euis Suwangsih

Anda mungkin juga menyukai