Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)

merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat

kesejahteraan masyarakat suatu negara serta derajat kesehatan masyarakat

pada negara tersebut.

AKI dan AKB juga mengindikasikan kemampuan dan kualitas

pelayanan kesehatan, kapasitas pelayanan kesehatan, kualitas masyarakat,

kesehatan lingkungan serta daya akses masyarkat untuk memperoleh

pelayanan kesehatan.

Di Indonesia upaya untuk memperbaiki kesehatan ibu, bayi baru

lahir dan anak telah menjadi prioritas utama dari pemerintah, bahkan

sebelum Millenium Development Goal's 2015 ditetapkan. Pemerintah

Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan AKI dan

AKB diantaranya dengan program safe motherhood sejak tahun 1988,

gerakan sayang ibu sejak tahun 1996, dan making pregnancy saver (PSM).

Memasuki tahun 2014, dunia internasional terkhusus Indonesia kian

dekat saja dalam menyongsong target pencapaian MDGs 2015, dimana AKI

harus diturunkan sampai 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB

23/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

1
Namun, jelang tahun 2015 pencapaian terasa kian berat dan

melahirkan pesimisme ditangah-tengah masyarakat Indonesia oleh grafik

AKI dan AKB yang malah mengalami peningkatan di tahun 2012.

Pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012

menunjukkan AKI berada pada angka 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Hasil survei itu diluncurkan dalam Temu Nasional Program Kependudukan

dan Keluarga Berencana dalam rangka Hari Kontrasepsi Sedunia 2013, di

Jakarta, Rabu (25/9). Survei dilaksanakan Badan Kependudukan dan

Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Badan Pusat Statistik (BPS)

per empat tahun. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

(SDKI), angka kematian ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup menurun

secara bertahap, dari 390 (1991) menjadi 334 (1997), 307 (2003), dan 228

(2007). Tahun 2012 untuk pertama kalinya AKI melonjak.

Selain AKI, angka kematian bayi (AKB) masih jauh dari target

MDGs. SDKI 2012 menyebutkan, AKB berada pada angka 32 per 1.000

kelahiran hidup, turun sedikit dibandingkan 2007, yaitu 34 per 1.000

kelahiran hidup.

Melihat fenomena masih tingginya AKI dan AKB di Indonesia, perlu

peninjauan dari berbagai aspek. Telah banyak program yang dicanangkan

pemerintah Indonesia sebagai wujud upaya penanggulangan terhadap

masalah tersebut. Namun demikian, disamping program yang harus terus

dijalankan dengan beragam target pencapaian masing-masing, yang juga

patut menjadi fokus perhatian kita adalah faktor-faktor apa saja yang

2
menjadi penyebab masih tingginya AKI dan AKB di Indonesia. Hal inilah

yang patut dipahami lebih dalam oleh seluruh lapisan masyarakat

Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyebab utama kematian ibu di

Indonesia adalah perdarahan 45%, infeksi 15%, dan hipertensi dalam

kehamilan (preeklamsi) 13%. Sementara itu, kematian dan kesakitan pada

bayi diantaranya dipicu oleh kelahiran bayi pada kondisi preterm.

Preeklamsi di Indonesia merupakan salah satu penyebab kematian

terbanyak ibu dan bayi. Penyebab utama kematian ibu adalah preeklamsia

atau hipertensi dalam kehamilan. Preeklamsia dan eklamsia adalah

komplikasi pada masa kehamilan yang merupakan salah satu penyebab

kematian dan kesakitan ibu dan bayi di seluruh dunia. Preeklamsia adalah

penyakit serius dan merupakan penyebab kedua kematian ibu. Preeklamsia

terjadi pada 5% kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kehamilan

pertama dan pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi.

Preeklamsia juga sangat mempengaruhi proses persalinan ibu. Salah

satu faktor etiologi persalinan preterm yaitu kondisi preeklampsia pada ibu

semasa hamil. Menurut hasil penelitian Tria Agustriana (2010) tentang

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Prematur di Indonesia

disebutkan bahwa pada ibu yang mengalami preeklampsia/eklampsia

memiliki peluang lebih besar untuk mengalami persalinan preterm

dibandingkan dengan ibu tanpa preeklampsia/eklampsia.

3
Dalam hal ini, kondisi pre eklampsia yang menyertai kehamilan ibu

dan kejadian persalinan preterm merupakan dua diantara faktor-faktor

penyebab yang juga berperan besar sebagai penyumbang pada tingginya

AKI dan AKB, khususnya di Indonesia. Beberapa sumber menyebutkan

kemungkinan pre eklampsia sebagai faktor predisposisi pada kejadian

persalinan preterm. Dilatarbelakangi hal tersebut, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian guna mengidentifikasi adanya pengaruh preeklampsia

terhadap kejadian persalinan preterm di Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Kota Baubau.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, dapat dirumuskan masalah

dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh preeklampsia terhadap

kejadian persalinan preterm di RSUD Kota Baubau?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh preeklampsia terhadap kejadian

persalinan preterm di RSUD Kota Baubau.

2. Tujuan Khusus

a. Mendapatkan gambaran tentang kejadian preeklampsia di

RSUD Kota Baubau.

b. Mendapatkan gambaran tentang kejadian persalinan preterm di

RSUD Kota Baubau.

4
D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Menerapkan konsep-konsep penelitian untuk

mengidentifikasi dan memahami pengaruh preeklampsia terhadap

kejadian persalinan preterm di RSUD Kota Baubau.

2. Manfaat Aplikatif

a. Manfaat bagi institusi

Memberikan masukan bagi RSUD Kota Baubau dalam upaya

menatalaksana kejadian preeklampsia dan persalinan preterm.

b. Manfaat bagi profesi / bidan

Menambah wawasan kepada bidan khususnya tentang pengaruh

preeklampsia terhadap kejadian persalinan preterm.

c. Manfaat bagi Institusi Pendidikan

Sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan dokumentasi agar dapat

digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melakukan

penelitian sejenis.

d. Manfaat Bagi Peneliti

Merupakan pengalaman berharga dari penulis dalam

menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan dan

memperkaya pengetahuan serta pemahaman tentang pengaruh

preeklampsia terhadap kejadian persalinan preterm.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Preeklampsia

Definisi

Preeklampsia adalah gangguan multisistem. Klasifikasi keparahan

bergantung pada tingkat TD maternal dan proteinuria: TD, 140/90 mmHg;

proteinuria, hasil pemeriksaan dipstik 1+, atau 3 g dalam 24 jam.

Preeklampsia adalah gangguan multisistem dengan etiologi kompleks

yang khusus terjadi selama kehamilan. Preeklampsia biasanya didefinisikan

sebagai peningkatan tekanan darah dan proteinuria yang terjadi setelah usia

kehamilan 20 minggu. (Milne, et al. 2005). Namun, preeklampsia dapat

mempengaruhi sistem tubuh yang berbeda dan mempersulit kehamilan pada

wanita yang sudah memiliki suatu kelainan patologis sebelumnya,

mengakibatkan terjadinya berbagai macam gejala preeklampsia yang tidak

sesuai dengan definisi kalsik di atas (Roberts dan Cooper, 2011). Sibai et al.

(2005) bahkan mendeskripsikan dua sindrom preeklampsia: sindrom

maternal (hipertensi dan proteinuria dengan atau tanpa abnormalitas multi-

sistem) dan sindrom janin (pertumbuhan janin terhambat, penurunan cairan

amion, dan perfusi oksigen janin yang buruk). Preeklampsia masih

merupakan penyakit teori dan menjadi subjek dari banyak penelitian untuk

memahami etiologinya dan memperbaiki pendeteksian dan

penatalaksanaannya.

6
Perubahan yang terjadi pada preeklampsia tampaknya disebabkan oleh

gabungan kompleks antara abnormalitas genetik, faktor imunologis, dan

faktor plasenta.

Etiologi

Apa yang menjadi penyebab pre eklampsia dan eklampsia sampai

sekarang belum diketahui. Banyak teori yang mencoba menerangkan sebab

penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang

memuaskan. Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab

preeklampsia ialah iskemia plasenta. Namun dengan teori ini tidak

dapat diterangkan semua yang berkaitan dengan penyakit itu. Hal ini

disebabkan karena tidak hanya satu faktor saja yang menyebabkan pre

eklampsia, melainkan banyak faktor penyebab (Prawiroharjo, 2005).

Zweifel (1922), mengemukakan bahwa gejala gestosis atau hipertensi

dalam kehamilan, tidak dapat diterangkan dengan satu faktor atau

teori, tetapi merupakan multifaktor (teori) yang menggambarkan

berbagai manifestasi klinis yang kompleks, oleh Zweifel disebut

“disease of theory”(Manuaba, 2001). Adapun teori-teori itu antara lain :

a. Teori genetik

Ada kemungkinan diturunkan dari ibu kandung, khusunya pada

kehamilan pertama karena terjadi pada anak perempuan lebih

tinggi dibandingkan dengan menantu wanita. Pada kehamilan

kedua preeklampsia-eklampsia sedikit berulang, kecuali mendapat

suami baru.

7
b. Teori Imunologik

1) Janin merupakan “benda asing” yang relative karena faktor

benda asingnya berasal dari suami.

2) Adaptasi dapat terjadi dengan aman, karena:

a) Janin bukan benda asing khusus dan dapat diterima.

b) Rahim tidak dipengaruhi oleh sistem imunologi normal.

c) Terjadi modifikasi respons imunologi sehingga dapat

terjadi adaptasi.

3) Penolakan total rahim karena bersifat benda asing, maka

terjadi “abortus” yang sebabnya sulit diterangkan.

4) Apabila terjadi setelah plasenta lengkap, maka:

a) Sel tropoblas tidak sanggup secara total bertindak

sebagai dilatator pembuluh darah.

b) Janin dalam perkembangannya berlindung dibelakang

trofoblas.

c. Teori iskemia region uteroplasenter

1. Invasi sel trofoblas dapat menimbulkan dilatasi pembuluh

darah pada kehamilan normal, sehingga dapat memenuhi

kebutuhan nutrisi dan O2 serta plasenta berfungsi normal.

2. Pada pre eklampsia terjadi invasi sel trofoblas, hanya sebagian

pada arteri spiralis didaerah endometrium-desidua.

3. Akibatnya terjadi gangguan fungsi plasenta karena sebagian

besar arteri spiralis di daerah miometrium tetap dalam keadaan

8
konstriksi sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan darah

untuk nutrisi dan O2.

4. Karena terjadi iskemia region uteroplasenter, dianggap

terjadi pengeluaran toksin khusus yang menyebabkan terjadinya

gejala preeklampsia-eklampsia sehingga disebut “toksemia

gravidarum”, tetapi teorinya belum dapat dibuktikan.

d. Teori radikal bebas dan kerusakan endotel

1. Oksigen yang labil distribusinya, menimbulkan “produk

metabolisme” di samping radikal bebas, dengan cirri

terdapat “elektron bebas”.

2. Elektron bebas ini akan mencari pasangan “dengan

merusak” jaringan, khususnya endotel pembuluh darah.

3. Antiradikal bebas yang dapat dipakai untuk menghalangi

kerusakan membran sel, sebagai antiaksi dan vitamin C dan E.

4. Radikal bebas adalah proksidase lemak-asam lemah jenuh

(kuning).

5. Kerusakan membrane sel akan merusak dan membunuh sel

endotel.

6. Sumber radikal bebas terutama plasenta yang “iskemia”.

e. Teori trombosit

Plasenta kehamilan normal membentuk derivate

prostaglandin dari asam arakidonik secara seimbang, yang menjamin

aliran darah menuju janin antara lain tromboksan (TxA2) yang

9
menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah sehinga menyebabkan

agregasi dan adhesi trombosit pada endotel pembuluh darah yang

rusak. Kemudian prostasiklin (PG12) yang menimbulkan

vasodilatasi pembuluh darah sehingga menghalangi agregasi dan

adhesi trombosit pada endotel pembuluh darah (Manuaba, 2001).

Faktor Risiko

Pre eklampsia lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada

multigravida, terutama primigravida usia muda. Faktor predisposisi

terjadinya pre eklampsia adalah molahidatidosa, diabetes militus,

kehamilan ganda, hidrops fetalis, obesitas, dan umur yang lebih dari

35 tahun (Mochtar, 1998).

Pre eklampsia menurut Wijayarini (2002) lebih banyak terjadi pada :

a. Primigravida (terutama remaja (19-24 tahun)dan wanita diatas 35

tahun). Secara internasional kejadian hipertensi dalam kehamilan

dapat diperkirakan primigravida sekitar 7-12% (Manuaba, 2007).

Angka kejadian pre eklampsia meningkat pada primigravida muda

dan semakin tinggi pada primigravida tua. Dalam penelitian

Sudhaberata Ketut dan Karta I.D.M (2001), hal ini dikarenakan

ketika kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies

terhadap antigen placenta tidak sempurna (Purwantini, 2004).

b. Wanita gemuk

c. Wanita dengan hipertensi esensial

d. Wanita yang mengalami :

10
1) Penyakit ginjal

2) Kehamilan ganda

3) Polihidramnion

4) Diabetes

5) Mola hidatidosa

e. Wanita yang mengalami riwayat pre eklampsia dan eklampsia

pada kehamilan sebelumnya

f. Riwayat eklampsia keluarga

Patofisiologi

Perubahan pokok yang didapatkan pada pre eklampsia adalah spasmus

pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Dengan biopsi

ginjal, Altchek dkk (1968) menemukan spasmus yang hebat pada arteriola

glomerolus. Pada beberapa kasus lumen arteriola demikian kecilnya,

sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Bila dianggap

bahwa spasmus arteriola juga ditemukan diseluruh tubuh, maka mudah

dimengerti bahwa tekanan darah yang meningkat merupakan usaha

mengatasi kenaikan tekanan perifer, agar oksigenasi jaringan dapat

dicukupi. Kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan penimbunan

cairan yang berlebihan dalam ruang interstitial belum diketahui sebabnya.

Telah diketahui bahwa pada pre eklampsia dijumpai kadar aldosteron

yang rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi daripada kehamilan

normal. Aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan

11
mengatur retensi air dan natrium. Pada pre eklampsia permeabilitas

pembuluh darah terhadap protein meningkat (Prawiroharjo, 2005).

Manifestasi Klinis

Pada pre eklampsia terjadi vasokonsentrasi yang menimbulkan

gangguan metabolisme endorgen dan secara umum terjadi perubahan

patologi-anatomi (nekrosis, perdarahan, edema). Perubahan

patologianatomi akibat nekrosis, edema dan perdarahan organ vital,

akan menambah beratnya manifestasi klinik dari masing-masing organ

vital (Manuaba, 2001).

Menurut Prawiroharjo (2005), perubahan patologi-anatomi yang

terjadi pada organ vital dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Perubahan pada plasenta dan uterus

Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan

fungsi plasenta. Pada hipertensi yang agak lama pertumbuhan

janin terganggu, pada hipertensi yang lebih pendek bisa terjadi

gawat janin sampai kematiannya karena kekurangan oksigenasi.

Kenaikan tonus uterus dan kepekaan terhadap perangsangan sering

didapatkan pada preeklampsia dan eklampsia, sehingga mudah terjadi

partus prematurus.

b. Perubahan pada ginjal

Perubahan pada ginjal disebabkan oleh aliran darah ke dalam ginjal

menurun, sehingga menyebabkan filtrasi glomerolus berkurang.

Kelainan pada ginjal yang penting adalah dalam hubungannya dengan

12
proteinuria dan mungkin sekali juga dengan retensi garam dan

air. Mekanisme retensi garam dan air belum diketahui benar,

tetapi disangka akibat perubahan dalam perbandingan antara

tingkat filtrasi glomerolus dan tingkat penyerapan kembali oleh

tubulus. Pada kehamilan normal, penyerapan ini meningkat sesuai

dengan kenaikan filtrasi glomerolus. Penurunan filtrasi glomerolus

akibat spasmus arteriolus ginjal menyebabkan filtrasi natrium

melalui glomerolus menurun, yang menyebabkan retensi garam dan

demikian juga retensi air. Fungsi ginjal pada pre eklampsia agak

menurun bila dilihat dari clearance asam uric. Filtrasi glomerolus

dapat turun sampai 50% dari normal, sehingga menyebabkan

dieresis turun, pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria ayau

anuria.

c. Perubahan pada retina

Pada pre eklampsia tampak edema retina, spamus setempat atau

menyeluruh pada satu atau beberapa arteri, jarang terlihat

perdarahan atau eksudat. Retinopatia arteriosklerotika menunjukkan

penyakit vaskuler yang menahun. Keadaan tersebut tidak tampak pada

penderita pre eklampsia, kecuali bila terjadi atas dasar hipertensi

menahun atau penyakit ginjal. Spasmus arteri retina yang nyata

menunjukkan adanya pre eklampsia berat, walaupun demikian

vasospasmus ringan tidak selalu menunjukkan pre eklampsia

ringan. Pada pre eklampsia jarang terjadi ablasio retina. Keadaan

13
ini disertai dengan buta sekonyongkonyong. Pelepasan retina

disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan indikasi untuk

pengakhiran kehamilan segera. Biasanya setelah persalinan

berakhir, retina akan melekat lagi dalam 2 hari sampai 2 bulan.

Gangguan penglihatan secara tetap jarang ditemukan. Skotoma,

diplopia, dan ambliopia pada penderita pre eklampsia merupakan

gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia. Keadaan ini

disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan

di korteks serebri atau dalam retina.

d. Perubahan pada paru-paru

Edema paru-paru merupakan sebab utama kematian penderita

preeklampsia dan eklampsia. Komplikasi ini biasanya disebabkan

oleh dekompensasio kordis kiri.

e. Perubahan pada otak

McCall melaporkan bahwa resistensi pembuluh darah dalam otak

pada hipertensi dalam kehamilan lebih meninggi lagi pada

eklampsia. Walaupun demikian, aliran darah ke otak dan pemakaian

oksigen pada pre eklampsia tetap dalam batas normal. Pemakaian

oksigen oleh otak hanya menurun pada eklampsia.

f. Metabolisme air dan elektrolit

Hemokonsentrasi yang menyertai pre eklampsia dan eklampsia

tidak diketahui sebabnya. Disini terjadi pergeseran cairan dari

ruang intravaskuler ke ruang interstitial. Kejadian ini yang diikuti

14
oleh kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum, dan sering

bertambahnya edema menyebabkan volume darah berkurang,

viskositet darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih

lama. Karena itu aliran darah ke jaringan di berbagai bagian

tubuh berkurang, dengan mengakibatkan hipoksia. Dengan perbaikan

keadaan, hemokonsentrasi berkurang, sehingga turunnya hematokrit

dapat dipakai sebagai ukuran tentang perbaikan keadaan penyakit

dan tentang berhasilnya pengobatan.

Gejala

Diagnosis pre eklampsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga

gejala, yaitu penambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi,

dan proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi

kenaikan 1 kg seminggu selama berkali-kali. Edema terlihat sebagai

peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.

Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat >

30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah

pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua

yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat pre eklampsia.

Proteinuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24

jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2, atau kadar protein

≥ 1 g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi

tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam (Mansjoer,

2001).

15
Disebut pre eklampsia berat bila ditemukan gejala berikut :

a. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg.

b. Proteinuria +≥5 g/24 jam atau ≥ 3 pada tes celup.

c. Oliguria (<400 ml dalam 24 jam).

d. Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.

e. Nyeri epigastrium dan ikterus.

f. Edema paru atau sianosis.

g. Trombositopenia.

h. Pertumbuhan janin terhambat.

Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala

preeklampsia disertai kejang dan koma. Sedangkan, bila terdapat gejala

preeklampsia berat disertai salah satu atau beberapa gejala dari nyeri kepala

hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan

kenaikan tekanan darah yang progresif, dikatain pasien tersebut

menderita impending pre eklampsia. Impending pre eklampsia ditangani

sebagai kasus eklampsia (Mansjoer, 2001).

Klasifikasi

Pembagian pre eklampsia sendiri dibagi menjadi dua, yaitu

preeklampsia ringan dan pre eklampsia berat (Wijayarini, 2002) :

a. Pre eklampsia ringan

1) Tekanan darah diastolik meningkat sebesar 15-20 mmHg atau

nilai

2) Absolut > 90 tetapi < 100.

16
3) Proteinuria +1.

4) Tidak disertai gangguan fungsi organ.

b. Pre eklampsia berat

1) Tekanan darah meningkat > 20 mmHg atau nilai absolut > 100.

2) Proteinuria +2 atau semakin besar secara persisten.

3) Disertai dengan edema generalisata (termasuk wajah dan

tangan), sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri abdomen

atas, oligouria, menurunnya gerakan janin.

Komplikasi

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Usaha utama

ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita pre eklampsia

dan eklampsia. Komplikasi yang tersebut dibawah ini biasanya terjadi pada

preeklampsia berat dan eklampsia (Prawiroharjo, 2005) :

a. Solusio plasenta

Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu yang menderita

hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre eklampsia.

b. Hipofibrinogenemia

Pada pre eklampsia berat Zuspan (1978) menemukan 23 %

hipofibrinogenemia, maka dari itu dianjurkan untuk pemeriksaan

kadar fibrinogen secara berkala.

c. Hemolisis

Penderita dengan pre eklampsia berat kadang-kadang

menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal dengan ikterus.

17
Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan

sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal

hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia

dapat menerangkan ikterus tersebut.

d. Perdarahan otak

Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal

penderita eklampsia.

e. Kelainan mata

Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung

sampai seminggu dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi

pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia

serebri.

f. Edema paru-paru

Komplikasi ini disebabkan karena payah jantung.

g. Nekrosis hati

Nekrosis periportal hati pada pre eklampsia dan eklampsia merupakan

akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas

untuk eklampsia, tetapi ternyata juga ditemukan pada penyakit

lain. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan

faal hati, terutama penemuan enzim-enzimnya.

h. Sindroma HELLP

Yaitu haemolysis, elevated liver enzymes dan low platelet.

18
i. Kelainan ginjal

Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan

sitoplasma sel endotel tubulus ginjal tanpa kelainan struktur

lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal

ginjal.

j. Komplikasi lain

Antara lain lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh

akibat kejang-kejang, pneumonia aspirasi, dan DIC (disseminated

intravascular coogulation).

k. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin.

Penanganan

Penanganan pre eklampsia dan eklampsia menurut Syaiffudin (2002)

antara lain :

a. Pre eklampsia ringan

1) Kehamilan kurang dari 37 minggu

a. Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks

dan kondisi janin.

b. Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda

bahaya preeklampsia dan eklampsia.

c. Lebih banyak istirahat.

d. Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam).

e. Tidak perlu diberi obat-obatan.

f. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit :

19
1. Diet biasa.

2. Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin untuk

proteinuria) sekali sehari.

3. Tidak perlu diberi obat-obatan.

4. Tidak perlu diuretik, kecuali terdapat edema

paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut.

g. Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien

dapat dipulangkan :

1. Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-

tanda pre eklampsia berat.

2. Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan

darah, urin, keadaan janin, serta gejala dan tanda-

tanda pre eklampsia berat.

3. Jika tekanan diastolik naik lagi, rawat kembali.

h. Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat.

Lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin.

i. Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat,

pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat

sampai aterm.

j. Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre eklampsia

berat.

20
2) Kehamilan lebih dari 37 minggu

a) Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi

persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.

b) Jika serviks belum matang, lakukan pematangan

dengan prostaglandin atau kateter foley atau lakukan

seksio sesarea.

b. Pre eklampsia berat dan eklampsia

Penanganan pre eklampsia berat dan eklampsia sama,

kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah

timbulnya kejang pada eklampsia. Semua kasus pre eklampsia

berat harus ditangani secara aktif. Penanganan konservatif tidak

dianjurkan karena tanda dan gejala eklampsia seperti hiperrfleksia dan

gangguan penglihatan sering tidak sahih.

B. Tinjauan tentang Persalinan Prematur

Definisi

Ancaman persalinan prematur: kehamilan diperumit oleh aktivitas

uterus yang signifikan secara klinis tetapi tanpa disertai oleh perubahan

serviks.

Persalinan prematur: kejadian kontraksi uterus secara teratur yang

menyebabkan penipisan atau dilatasi serviks sebelum kehamilan berusia

lengkap 37 minggu.

21
Insidens Pelahiran Prematur

1. Tepat kurang dari 7% kelahiran di Inggris adalah kelahiran prematur.

2. Kurang dari seperempat kelahiran prematur di Inggris memiliki usia

gestasi <32 minggu.

Beberapa Faktor Predisposisi

1. Preeklampsia, eklampsia.

2. Hemoragi antepartum, solusio plasenta, plasenta previa.

3. Retardasi pertumbuhan intauteri.

4. Penyakit atau infeksi pada wanita atau janin.

5. PPROM.

6. Kematian janin intrauteri.

7. Kehamilan multipel.

8. Polihidramnion.

9. Abnormalitas kongenital.

10. Persalinan prematur sebelumnya (pada beberapa kasus tertentu,

penjahitan serviks mungkin telah dilakukan untuk mengurangi risiko

pelahiran prematur yang kedua).

11. Inkompetensi serviks (mungkin merupakan hasil dari pembedahan

serviks atau terminasi kehamilan melalui bedah).

22
Risiko Pelahiran Prematur

1. Masalah utama yang terjadi untuk bayi yang dilahirkan setelah usia

gestasi 24 minggu (ketika bayi viabel) dan sebelum 33 minggu.

2. Kematian janin dapat terjadi akibat hemoragi intraventrikular, sindrom

gawat napas (respiratory distress syndrome, RDS), inffeksi, ikterik,

hipoglikemia, atau endokolitis nekrotik.

3. Pada kasus PPROM, angka sintasan dikaitkan dengan gestasi saat

ketuban pecah terjadi dan bukan dikaitkan dengan durasi pecah.

Terdapat risiko tinggi terjadinya korioamnionitis.

4. Prognosis bergantung pada pemberian steroid di masa antenatal

kepada ibu, usia gestasi dan berat badan lahir, kondisi saat lahir, dan

perawatan langsung/segera setelah bayi lahir, termasuk ketersediaan

unit perawatan intensif neonatus (NICU).

Penatalaksanaan Pelahiran Prematur

1. Asuhan kebidanan satu per satu trutama direkomendasikan.

2. Hubungi anggota tim yang lain. Rencana perawatan harus

didiskusikan antara dokter obstetri, dokter anestesi dan staf ruang

bedah, staf neonatal, staf kebidanan senior dan orang tua.

3. Pantau dokumentasi rencana di dalam catatan wanita.

4. Pastikan bahwa kortikosteroid dan antibiotik diberikan jika perlu.

23
5. Atur pemindaian ultrasound, untuk:

a) Mengonfirmasi letak dan presentasi janin.

b) Memberikan perkiraan berat janin.

c) Menyingkirkan abnormalitas yang serius.

C. Kerangka Konsep

Berikut model kerangka konsep yang digunakan untuk

memberikan gambaran tentang hubungan antara variabel independen

dan variabel dependen dalam penelitian ini:

Variabel Independen Variabel Dependen


(X) (Y)

Pre eklampsia Kejadian Persalinan


Preterm

Gambar 1
Kerangka Konsep Penelitian

24
D. Definisi Operasional

Tabel I
Definisi Operasional

No Jenis Kriteria
Variabel Definisi Skala
. Variabel Objektif
1. Pre Independent Meningkatnya Positif, Nominal
Eklampsia tekanan jika:
darah dengan TD:
disertai ≥140/90
protein uria mmHg,
serta edema Terdapat
yang terjadi Protein
pada Uri
kehamilan
dengan usia Negatif,
kehamilan jika:
diatas 20 TD:
minggu. <140/90
mmHg,
Tidak
Terdapat
Protein
Uri
2. Persalinan Dependent Kejadian Ya, jika: Nominal
Preterm kontraksi uterus Persalinan
secara teratur pada UK
yang <37
menyebabkan minggu.
penipisan atau
dilatasi serviks Tidak,
sebelum jika:
kehamilan Persalinan
berusia lengkap pada UK
37 minggu. ≥37
minggu.

E. Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut, “Ada pengaruh preeklampsia terhadap kejadian persalinan

preterm di RSUD Kota Baubau.”

25
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian medical record dengan

pendekatan Cross Sectional untuk mempelajari pengaruh preeklampsia

terhadap kejadian persalinan preterm.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Kota Baubau.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2014

dengan mengacu pada catatan rekam medik ruang bersalin Rumah

Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau periode 01 Mei-30 Juni

2014.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin

di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau periode 01 Mei-

30 Juni 2014.

26
2. Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel total

sampling, yaitu penarikan sampel dimana seluruh anggota populasi

diambil menjadi sampel.

F. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data

sekunder, yaitu berdasarkan catatan pada rekam medik tentang jumlah ibu

yang bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau periode

01 Mei-30 Juni 2014.

E. Metode Pengolahan dan Analisis Data

1. Metode Pengolahan Data

Langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut :

a. Editing

Editing bertujuan untuk meneliti kembali jawaban menjadi

lengkap.Editing dilakukan di lapangan sehingga bila terjadi

kekurangan atau ketidaksengajaan kesalahan pengisian dapat

segera dilengkapi atau disempurnakan.

b. Coding

Coding yaitu memberikan kode angka pada atribut variabel agar

lebih mudah dalam analisa data.

c. Transfering

Tranfering data yaitu memindahkan data dalam media

tertentu pada master tabel.

27
d. Tabulating

Pada tahapan ini data dihitung, melakukan tabulasi untuk

masingmasing variabel.

2. Metode Analisis Data

Data-data yang telah dikumpulkan, dianalisa dengan

menggunakan rumus persentase sebagai berikut:

F
P= x 100%
n

Keterangan :

P = Presentase

F = Frekuensi kejadian/kasus

n = Jumlah populasi

Data yang diperoleh untuk menguji hipotesis menggunakan

tehnik analisa statistik dengan Rumus Chi – Square Test ( X 2 ).

Penelitian akan menggunakan analisa ini untuk mengetahui atau

uji kemaknaan hubungan antara pre eklampsia dengan kejadian

persalinan preterm. Hasil yang diperoleh tabel Contigency 2 x 2 di

terapkan dengan menggunakan perhitungan secara manual dalam

rumus Chi – Square, yaitu :

2 ∑ ( O−e )2
X =
e

28
Keterangan :

X 2 = Chi – Kuadrat

O = Frekuensi Observasi

e = Frekuensi Harapan

Tabel II
Kontigensi 2x2

Persalinan Preterm TOTAL


Preeklampsia
+ -
+ A B
- C D
TOTAL

Setelah X 2 hitung diketahui, kemudian dibandingkan daerah

kritis penolakan (df) dengan level of Significance (α) = 0,05.

Kesimpulan :

a. Apabila X 2 hitung > x 2 tabel maka hasilnya signifikan artinya

Ho ditolak dan Ha diterima.

b. Apabila X 2 hitung ≤ x 2 tabel maka hasilnya tidak signifikan

artinya Ho diterima dan Ha ditolak.

29
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Letak Geografis

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Baubau merupakan salah satu

Rumah Sakit rujukan yang ada di kota Baubau yang terletak di Jl. Drs. H.

La Ode Manarfa dengan luas tanah ± 6000m 2 dan luas bangunan 2.071

m2 dengan lokasi yang strategis dikelilingi oleh pusat-pusat pertumbuhan

ekonomi, sosial dan budaya sehingga sangat potensial untuk

pengembangan di masa mendatang.

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Baubau merupakan rumah sakit

tipe D dengan jumlah tempat tidur 100 dan ditinjau oleh 5 dokter

spesialis.

2. Sarana dan Prasarana Pelayanan Rumah Sakit

Sarana dan prasarana pelayanan yang telah diselenggarakan Rumah

Sakit Umum Daerah Kota Baubau antara lain:

a. Poliklinik/rawat jalan

1. Poliklinik umum

2. Poliklinik penyakit dalam

3. Poliklinik penyakit anak

4. Poliklinik bedah

5. Poliklinik kandungan

30
6. Poliklinik mata

7. Poliklinik gigi

b. Rawat Inap

1. Ruang perawatan penyakit dalam

2. Ruang perawatan bedah

3. Ruang perawatan anak

4. Ruang perawatan obstetri

5. Ruang isolasi

6. Ruang perawatan perinatologi

7. Ruang ICU

c. Instalasi penunjang medik

1. Radiologi

2. Rehabilitasi medic

3. Laboratorium

4. Instalasi gizi

3. Sumber Daya Manusia

a. Tenaga Dokter

b. Tenaga keperawatan/bidan sebanyak 132 orang

c. Tenaga farmasi sebanyak 8 orang

d. Tenaga kesehatan masyarakat sebanyak 5 orang

e. Tenaga gizi sebanyak 13 orang

f. Tenaga keteknisan medis 20 orang

g. Tenaga non kesehatan 1 orang

31
B. Karakteristik Responden

1. Umur

Tabel III
Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Persentase
No. Umur Frekuensi
(%)
1. < 20 tahun 21 18,26
2. 20-35 tahun 79 68,69
3. > 35 tahun 15 13,05
Jumlah 115 100
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau

Berdasarkan tabel III di atas, terlihat bahwa dari 115 responden,

terdapat 21 responden (18,26%) pada tingkat umur < 20 tahun, 79

responden (68,69%) pada tingkat umur antara 20-35 tahun, dan 15

responden (13,05%) pada tingkat umur > 35 tahun.

2. Paritas

Tabel IV
Karakteristik Responden berdasarkan Paritas
Persentase
No. Paritas Frekuensi
(%)
1. Primigravida 43 37,39
2. Multigravida 72 62,61
Jumlah 115 100
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau

Dengan melihat data yang ditunjukkan pada tabel IV, dapat diperoleh

gambaran dari 115 responden, yang berada pada kelompok primigravida

yaitu ibu dengan kehamilan pertama terdapat 43 responden (37,39%) dan

pada kelompok multigravida yaitu ibu dengan kehamilan lebih dari

pertama kali sejumlah 72 responden (62,61%).

32
3. Usia Kehamilan

Tabel V
Karakteristik Responden berdasarkan Usia Kehamilan
Usia Kehamilan Persentase
No. Frekuensi
(%)
1. <37 minggu 32 27,82
2. ≥37 minggu 83 72,18
Jumlah 115 100
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau

Menurut data pada tabel V, terlihat dari 115 responden terdapat

sejumlah 32 responden (27,82%) yang masuk dengan inpartu pada usia

kehamilan < 37 minggu dan sejumlah 83 responden (72,18%) yang masuk

dengan inpartu pada usia kehamilan ≥37 minggu.

C. Hasil Penelitian

Setelah dilakukan pengumpulan data berdasarkan catatan rekam

medik ruang kebidanan RSUD Kota Baubau periode 01 Mei - 30 Juni 2014,

dari total 115 ibu bersalin didapatkan jumlah ibu bersalin yang memenuhi

kriteria yaitu dengan kejadian persalinan preterm dan preeklampsia

sejumlah 32 orang. Sedang sebagai kontrol diambil dari jumlah ibu bersalin

pada bulan yang sama.

Data sekunder yang diperoleh kemudian dikelompokkan sesuai tujuan

penelitian, maka dilanjutkan dalam bentuk tabel disertai penjelasannya

sebagai berikut:

33
Tabel VI
Distribusi Frekuensi Kasus Preeklampsia pada Ibu Bersalin di Ruang
Kebidanan RSUD Kota Baubau 01 Mei-30 Juni 2014
No. Pre Eklampsia Frekuensi Persentase (%)
1. Positif Preeklampsia 40 34,8
2. Negatif Preeklampsia 75 65,2
Jumlah 115 100
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau

Berdasarkan tabel VI dapat diketahui bahwa jumlah ibu bersalin

dengan preeklampsia di ruang kebidanan RSUD Kota Baubau periode 01

Mei sampai dengan 30 Juni 2014 adalah sejumlah 40 orang atau 34,8 %.

Sedangkan jumlah ibu yang bersalin tanpa adanya riwayat atau kasus

preeklampsia berjumlah 75 orang atau 65,2 %.

Tabel VII
Distribusi Frekuensi Kejadian Persalinan Preterm di Ruang Kebidanan
RSUD Kota Baubau 01 Mei-30 Juni 2014
No. Ibu Bersalin Frekuensi Persentase (%)
1. Preterm (<37 minggu) 32 27,82
2. Aterm (≥37 minggu) 83 72,18
Jumlah 115 100
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau
Dari tabel VII dapat diketahui jumlah ibu bersalin dengan kejadian

persalinan preterm yaitu ibu telah masuk keadaan inpartu pada usia

kehamilan kurang dari 37 minggu di ruang kebidanan RSUD Kota Baubau

periode 01 Mei sampai dengan 30 Juni 2014 berjumlah 32 orang atau 27,82

%. Dan jumlah ibu yang bersalin dengan kejadian persalinan aterm yaitu ibu

masuk keadaan inpartu setelah usia kehamilan cukup atau lebih dari 37

minggu, berjumlah 83 orang atau 72,18 %.

34
Tabel VIII
Pengaruh Preeklampsia terhadap Kejadian Persalinan Preterm
Pre Persalinan Preterm Jumlah P
Eklampsia Ya f (%) Tidak f (%)
24 16
Positif 20 14,78 40
(a) (b)
8 67 0,000
Negatif 7,83 57,39 75
(c) (d)
Jumlah 32 27,83 83 72,17 115
Sumber:Buku Register Pasien Ruang Kebidanan RSUDKota Baubau

Berdasarkan hasil penelitian serta perhitungan dan analisa yang telah

dilakukan dengan menggunakan SPSS, diperoleh nilai x 2 hitung = 31,613

dan nilai P sebesar 0,000. Selanjutnya diperoleh nilai derajat bebas (DF =

1). Nilai ini kemudian dirujuk pada tabel nilai-nilai Chi Kuadrat pada taraf

signifikansi 5% (α = 0,05) sehingga diperoleh nilai x 2 tabel sebesar 3,841.

Membandingkan besarnya x 2 hitung dengan x 2 tabel. Nilai x 2 hitung

yang diperoleh adalah 31,613 sedangkan nilai x 2 tabel pada taraf

signifikansi 5%= 3,841. Dengan demikian terlihat bahwa nilai x 2 hitung

(31,613) > x 2 tabel (3,841).

Berdasarkan rumusan hipotesis apabila X 2 hitung > x 2 tabel maka

hasilnya signifikan artinya Ho ditolak dan Ha diterima dan apabila X 2

hitung ≤ x 2 tabel maka hasilnya tidak signifikan artinya Ho diterima dan

Ha ditolak. Maka hipotesis dalam penelitian ini (Ha), yaitu ada hubungan

antara preeklampsia dengan kejadian persalinan preterm di Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau diterima.

D. Pembahasan

35
Berdasarkan data yang diperoleh, didapatkan hasil dari karakteristik

yang diteliti, didapatkan sampel 24 responden yang memenuhi kriteria.

Jumlah ibu bersalin dengan preeklampsia di ruang kebidanan RSUD

Kota Baubau periode 01 Mei sampai dengan 30 Juni 2014 adalah sejumlah

40 orang atau 34,8 %. Sedangkan jumlah ibu yang bersalin tanpa adanya

riwayat atau kasus preeklampsia berjumlah 75 orang atau 65,2 %.

Pre eklampsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,

udem, dan protein urin yang timbul karena kehamilan, dimana pada pre

eklampsia terjadi perubahan pokok yaitu spasmus pembuluh darah

(Prawiroharjo, 2005). Pada kehamilan dengan pre eklampsia terjadi invasi

sel trofoblas hanya terjadi pada sebagian arteri spiralis didaerah

endometrium sehingga terjadi gangguan fungsi plasenta maka plasenta

tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk nutrisi dan oksigen ke janin

(Manuaba, 2001).

Jumlah ibu bersalin dengan kejadian persalinan preterm yaitu ibu telah

masuk keadaan inpartu pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu di ruang

kebidanan RSUD Kota Baubau periode 01 Mei sampai dengan 30 Juni 2014

berjumlah 32 orang atau 27,82 %. Dan jumlah ibu yang bersalin dengan

kejadian persalinan aterm yaitu ibu masuk keadaan inpartu setelah usia

kehamilan cukup atau lebih dari 37 minggu, berjumlah 83 orang atau 72,18

%.

Ancaman persalinan prematur: kehamilan diperumit oleh aktivitas

uterus yang signifikan secara klinis tetapi tanpa disertai oleh perubahan

36
serviks. Persalinan prematur: kejadian kontraksi uterus secara teratur yang

menyebabkan penipisan atau dilatasi serviks sebelum kehamilan berusia

lengkap 37 minggu.

Beberapa faktor predisposisi terjadinya perselainan preterm, yaitu

preeklampsia, eklampsia, hemoragi antepartum, solusio plasenta, plasenta

previa, retardasi pertumbuhan intauteri, penyakit atau infeksi pada wanita

atau janin, PPROM, Kematian janin intrauteri, kehamilan multipel,

polihidramnion, Abnormalitas kongenital, persalinan prematur sebelumnya

(pada beberapa kasus tertentu, penjahitan serviks mungkin telah dilakukan

untuk mengurangi risiko pelahiran prematur yang kedua), inkompetensi

serviks (mungkin merupakan hasil dari pembedahan serviks atau terminasi

kehamilan melalui bedah).

Berdasarkan data pada hasil penelitian yang telah dianalisis, diketahui

nilai x 2 hitung adalah 31,613. Kemudian dibandingkan dengan x 2 tabel

dengan df = 1 dan taraf kesalahan α = 0,05 diperoleh nilai 3,841.

Karena nilai x 2 hitung > x 2 tabel (31,613 > 3,841) berati H0 ditolak dan Ha

diterima yang berarti ada hubungan antara pre eklampsia dengan kejadian

persalinan preterm di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau.

Berdasarkan teori dan hasil yang didapatkan dalam penelitian

tersebut selain perdarahan dan infeksi pre eklampsia merupakan

penyebab kematian yang tinggi di negara berkembang. Oleh karena itu

menegakkan diagnosis dini preeklampsia dan mencegah agar tidak

37
berlanjut menjadi eklampsia merupakan tujuan dari pengobatan. Untuk

dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan pengawasan saat hamil

secara teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikan

tekanan darah, dan pemeriksaan urin untuk menentukan proteinuria

(Manuaba, 1998).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

38
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut:

1. Angka kejadian pre eklampsia di Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Kota Baubau yaitu 40 dari 115 kelahiran hidup (34,8 %).

2. Angka kejadian persalinan preterm di Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Kota Baubau yaitu 32 dari 115 kelahiran hidup (27,8%).

3. Terdapat pengaruh pre eklampsia terhadap kejadian persalinan

preterm, dimana hasil Chi square didapatkan nilai x 2 hitung > x 2tabel

(31,613> 3,841) berati H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada

pengaruh antara pre eklampsia terhadap kejadian persalinan preterm di

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau.

B. Saran

1. Bagi instansi kesehatan

Diharapkan kepada seluruh petugas kesehatan terkhusus bidan

sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak serta dokter

bagian obstetri dan ginekologi dan petugas kesehatan lainnya untuk

melakukan deteksi dini faktor risiko pre eklampsia, sehingga

dapat memberikan pendidikan kesehatan yang sifatnya promotive,

preventive, curative kepada ibu hamil dan melahirkan. Dengan

demikian diharapkan dapat mengantisipasi adanya kegawatdaruratan

pada ibu maupun bayi dan segera melakukan rujukan dalam rangka

membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.

2. Bagi Masyarakat

39
Diharapkan masyarakat dapat mengenali tanda bahaya kehamilan

pre eklampsia (tensi tinggi, oedem, proteinuria) sehingga

menerapkan langkah-langkah promotive dan preventif dengan

petunjuk dari petugas kesehatan untuk mencegah terjadinya

komplikasi kehamilan dan mengurangi risiko kejadian persalinan

preterm.

40