Anda di halaman 1dari 29

BAGIAN NEUROLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2020


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

SPONDILITIS TUBERKULOSIS

OLEH :
SRI AYU LESTARI WULANDARI
105505405619

PEMBIMBING:
dr. Ramlian, M.Kes., Sp.S

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2020
PENDAHULUAN

Insidens tetanus di dunia berkisar 1 juta kasus setiap tahun dengan kematian yang
bervariasi pada setiap negara. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT), jumlah kasus tetanus neonatorum sebanyak 141 kasus pada tahun 2007, turun
menjadi 114 kasus pada tahun 2011 dengan case fatality rate (CFR) 60,5%. Profil Kesehatan
Indonesia 2012 menunjukkan kenaikan kasus tetanus neonatorum menjadi 119 kasus, namun
jumlah pasien meninggal turun menjadi 59 kasus dengan CFR 49,6%.1 Di berbagai negara
penurunan insidens tetanus terjadi karena program imunisasi pemerintah. Imunisasi tetanus
terutama ditujukan untuk mencegah tetanus neonatorum dan menurunkan insidens menjadi
satu/1000 kelahiran hidup dalam satu tahun pada tahun 2008 Selain pada bayi dan anak,
imunisasi tetanus juga ditujukan pada anak sekolah, ibu hamil, perempuan usia subur dan
calon pengantin (cantin).2

Tetanus adalah infeksi akut yang sering berakibat fatal, dan disebabkan oleh
eksotoksin yang diproduksi oleh bakteri anaerobik Clostridium tetani. Bakteri gram positif ini
berbentuk batang anaerob, sporanya dapat bertahan di tanah dan menginfeksi luka yang
terkontaminasi. C. tetani dapat menghasilkan dua jenis eksotoksin, yaitu tetanolisin dan
tetanospasmin. Efek tetanolisin masih belum diketahui pasti. Tetanospasmin merupakan
neurotoksin penyebab manifestasi klinis infeksi tetanus. Dosis letal tetanospasmin pada
manusia ialah 2,5 ng/kgBB.1 Kuman tetanus, C.tetani dapat ditemukan di lingkungan, pada
air, tanah, saluran cerna hewan dan manusia. Clostridium tetani biasanya memasuki tubuh
melalui luka. Seperti luka tusuk atau luka yang tercemar kotoran, tinja atau saliva hewan.
Gejala tetanus meliputi spasme otot yang bersifat periodik dan berat. Manisfestasi klinis
tetanus antara lain berupa spasme otot wajah (risus sardonikus), kesukaran membuka mulut
(trismus) karena spasme otot maseter, rigiditas abdomen dan kejang otot berlanjut
(opistotonus).2
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Nama : Tn. B
Usia : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jln. Poros Limbung, Kel. Mata Allo, Kec. Bajeng, Kab. Gowa
Pekerjaan : Wirausaha (Pembuat lemari, kursi, dll)
Agama : Islam
Suku : Makassar
Masuk RS : 22 Agustus 2020
B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama:
Mulut sulit dibuka sejak 12 hari dan kejang 10 hari SMRS
2. Anamnesis terpimpin :
Pasien masuk Rumah Sakit dengan keluhan utama mulut sulit dibuka dan
kejang pada seluruh anggota gerak. Kejang dirasakan sejak 10 hari yang lalu dengan
intensitas kejang >10x/hari, durasi <5 menit. Kejang dialami tiba-tiba, tanpa diberi
rangsangan. Kejang semakin hari semakin bertambah. Bangkitan kejang berupa
kelojotan dan kaku, tanpa disertai penurunan kesadaran baik saat atau setelah kejang.
Sebelum pasien mengalami kejang, pasien merasakan kaku pada mulut sejak
14 hari yang lalu. Keluhan semakin bertambah berat hingga kaku pada seluruh
anggota gerak. 3 minggu yang lalu, pasien tertusuk paku pada telapak kaki pada saat
bekerja. Setelah itu, pasien dibawa ke Puskesmas untuk berobat namun tidak
melakukan perawatan pada luka tusuknya.
Selama masa perjalanan penyakit, pasien mengalami demam, kesulitan
menelan, dan pegal pada seluruh tubuh. Riwayat mual (-), muntah (-), sesak napas (-),
jantung berdebar (-), dan penurunan kesadaran (-). BAK normal, BAB terganggu
sejak 4 hari yang lalu. Riwayat imunisasi TT tidak diketahui.

3. Riwayat Penyakit Dahulu:


Hipertensi disangkal
Diabetes Melitus disangkal
Riwayat penyakit seperti ini disangakal
4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita HT dan
DM serta penyakit seperti ini.

5. Riwayat Pengobatan : Riwayat imunisasi pasien tidak lengkap.


C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Sistemik
BB : 65 kg
TB : 164 cm
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 38,3oC
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Status gizi : baik
Paru-paru : vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung : BJ I & II normal regular, murmur (-), gallop (-)
Hati : tidak ada pembesaran
Limpa : tidak ada pembesaran
Kepala dan Leher :
Kepala : Normocephal, wajah rhisus sardonikus (+)
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Hidung : Sekret (-), epistaksis (-/-), septum deviasi (-), pernapasan cuping
hidung (-)
Telinga : Bentuk normotia, secret (-)
Mulut : Trismus (+) 1 cm, bibir lembab (+), perioral cyanosis (-), lidah kotor
(sulit dinilai)
Leher : Kuduk kaku (+), pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)
Thoraks
- Bentuk normochest,
- Pernapasan abdominothorakal,
- Punggung : Opistotonus (+)
Paru :
- Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela
iga (-)
- Palpasi : Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru
- Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler di kedua lapang paru, ronchi (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung :
- Inspeksi : Ictus Cordis terlihat di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Palpasi : Teraba ictus cordis di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung kanan relative di ICS V linea parasternal dextra
Batas jantung kiri relative di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
- Inspeksi : abdomen datar,
- Palpasi : Perut papan (+), nyeri epigastrium (-) , turgor baik, hepar dan lien
sulit dinilai.
- Perkusi : timpani pada ke-empat kuadran abdomen
- Auskultasi : bising usus normal

Ekstremitas
- Superior : Spastik, keadaan fleksi pada tangan kiri, tonus meninggi, Vulnus
morsum ad region digiti IV manus sinustra, dengan jaringan
nekrotik, berwarna kehitaman.
Akral hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis (-)
- Inferior : Spastik, keadaan ekstensi dan plantar fleksi, tonus meninggi, Akral
hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis (-)
2. Status Neurologik
 Kesadaran : Compos Mentis
 GCS : E4M6V5 (15)
Rangsang Meningeal
 Kaku Kuduk : (-)
 Laseuge, Kernig : tidak terbatas
 Bruinski I/II/II : (-)
Saraf Cranial
N.I (OLFAKTORIUS) KANAN KIRI
Daya Pembau : Normosmia Normosmia

N.II (OPTIKUS ) KANAN KIRI


Daya Penglihatan : + +
Pengenalan Warna : Tidak dilakukan
Lapang pandang : Baik
Fundus Okuli : dalam batas normal
Papil : dalam dalam batas normal
Retina : : dalam dalam batas normal
Arteri/Vena : arteri dan vena perbandingan 1/3

N.III (OKULOMOTORIUS) KANAN KIRI


Ptosis : - -
Gerakan Mata : baik
Ukuran pupil : 3 mm 3 mm
Refleks cahaya direct : (+/+)
Refleks cahaya indirect : (+/+)
Refleks Akomodasi : (+/+)
Diplopia : tidak ada

N.IV (TROKHLEARIS) KANAN KIRI


Gerakan mata ke medial bawah : + +
Strabismus konvergen : (-)
Diplopia : tidak ada

N.V (TRIGEMINUS) KANAN KIRI


Menggigit : (+) (+)
Membuka Mulut : Terbatas, trismus 1 cm
Sensibilitas Atas : (+) (+)
Tengah : (+) (+)
Bawah : (+) (+)
Reflek kornea : (+) (+)
Refleks maseter : (+) (+)
Refleks zigomatikum : (+) (+)

N.VI (ABDUSEN) KANAN KIRI


Gerakan mata ke lateral : (+) (+)
Diplopia : tidak ada

N.VII (FASIALIS) KANAN KIRI


Kerutan kulit dahi : (+), simetris
Kedipan mata : (+) (+)
Lipatan naso-labial : simetris
Sudut mulut : simetris
Menutup mata : baik dan simetris
Meringis : simetris
Daya kecap lidah 2/3 depan : sulit dinilai
Refleksvisuo palpebra : (+) (+)
Reflex glabella : (-)

N.VIII(VESTIBULOCHOCLEARIS)
KANAN KIRI
Mendengar suara berbisik : + +
Tes rinne : + +
Tes weber : lateralisasi telinga kanan sama dengan telinga kiri
Tes Schawabach : + +

N.IX (GLOSOFARINGEUS)
 Arkus farings : sulit dinilai
 Arkus farings saat bergerak : sulit dinilai
 Daya kecap lidah 1/3 belakang : sulit dinilai
 Reflex muntah : sulit dinilai
N.X(VAGUS) KANAN KIRI
Denyut Nadi : 80x/mnt 80x/mnt
Menelan : (+)

N.XI (ASESORIUS) KANAN KIRI


Memalingkan Kepala : Sulit dinilai
Sikap Bahu : baik baik
Mengangkat Bahu : Sulit dinilai
Atropi Otot bahu : (-)

N.XII(HIPOGLOSUS)
 Sikap lidah : ditengah
 Atropi otot lidah : sulit dinilai
 Fasikulasi lidah: sulit dinilai

Motorik
 Sikap
 Eksitemitas atas : Fleksi pada tangan kiri,
 Ekstremitas bawah : Ekstensi dan plantar fleksi pada kedua
kaki
 Kekuatan : 5 5
5 5

 Tonus : Spastik Spastik


Spastik Spastik
 Atropi : - -
- -
 Klonus
Kaki : -/-
Patella : -/-
Sensorik
o Nyeri : Ekstremitas Atas : kanan – kiri sama
 Ekstremitas Bawah : kanan – kiri sama
o Raba : Ekstremitas Atas : kanan – kiri sama
 Ekstremitas Bawah : kanan – kiri sama
o Suhu : Ekstremitas Atas : tidak dilakukan
 Ekstremitas Bawah : tidak dilakukan
Refleks Fisiologis
 Refleks bisep : ++/++
 Refleks trisep : ++/++
 Refleks brachioradialis : ++/++
 Refleks patella : ++/++
 Refleks Achilles : ++/++

Refleks Patologis
 Babinski : -/-
 Chaddock : -/-
 Oppenheim : -/-
 Gardon : -/-

Fungsi Vegetatif
 Miksi : Baik
 Defekasi : Sulit

Koordinasi,Langkah Dan Keseimbangan


 Cara Berjalan : tidak dilakukan
 Rebound Fenomen : (-)
 Disemtris : (-)
 Tes telunjuk hidung : normal
 Tes telunjuk hidung-hidung : normal
 Tes Telunjuk-telunjuk: normal
Pemeriksaan tambahan lain:
 Tes laseque : -/+
 Tes laseque silang : +/+
 Tes O’connel : -/-
 Tes patrick : tidak dilakukan
 Tes kontra patrick : tidak dilakukan
 Tes gaenslen : tidak dilakukan
D. RESUME
Pasien masuk Rumah Sakit dengan keluhan utama mulut sulit dibuka dan
kejang pada seluruh anggota gerak. Kejang dirasakan sejak 10 hari yang lalu dengan
intensitas kejang >10x/hari, durasi <5 menit. Kejang dialami tiba-tiba, tanpa diberi
rangsangan. Kejang semakin hari semakin bertambah. Bangkitan kejang berupa
kelojotan dan kaku, tanpa disertai penurunan kesadaran baik saat atau setelah kejang.
Sebelum pasien mengalami kejang, pasien merasakan kaku pada mulut sejak
14 hari yang lalu. Keluhan semakin bertambah berat hingga kaku pada seluruh
anggota gerak. 3 minggu yang lalu, pasien tertusuk paku pada telapak kaki pada saat
bekerja.

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : compos mentis
Tanda-Tanda Vital :
Denyut Nadi : 86 x/mnt, reguler, kuat angkat, isi cukup
TD : 120/90mmHg
Pernafasan : 22x/mnt
Suhu : 38,3oC

Kepala dan Leher :


Kepala : Normocephal, wajah rhisus sardonikus (+)
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Hidung : Sekret (-), epistaksis (-/-), septum deviasi (-), pernapasan cuping
hidung (-)
Telinga : Bentuk normotia, secret (-)
Mulut : Trismus (+) 1 cm, bibir lembab (+), perioral cyanosis (-), lidah kotor
(sulit dinilai)
Leher : Kuduk kaku (-), pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)
Thoraks
- Bentuk normochest,
- Pernapasan abdominothorakal,
- Punggung : Opistotonus (+)
Paru :
- Inspeksi : Bentuk dada normal, pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela
iga (-)
- Palpasi : Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru
- Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler di kedua lapang paru, ronchi (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung :
- Inspeksi : Ictus Cordis terlihat di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Palpasi : Teraba ictus cordis di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Perkusi : Batas jantung kanan relative di ICS V linea parasternal dextra
Batas jantung kiri relative di ICS V linea mid clavicula sinistra
- Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
- Inspeksi : abdomen datar,
- Palpasi : Perut papan (+), nyeri epigastrium (-) , turgor baik, hepar dan lien
sulit dinilai.
- Perkusi : timpani pada ke-empat kuadran abdomen
- Auskultasi : bising usus normal

Ekstremitas
- Superior : Spastik, keadaan fleksi pada tangan kiri, tonus meninggi, Vulnus
morsum ad region digiti IV manus sinustra, dengan jaringan
nekrotik, berwarna kehitaman.
Akral hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis (-)
- Inferior : Spastik, keadaan ekstensi dan plantarfleksi, tonus meninggi, Akral
hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis (-)

Status Neurologis
Rangsang Meningeal : kaku kuduk (-),
Kerning dan laseuge (tidak terbatas) Brudzinzki I/II/II
(-/-/-)
Saraf Cranial : Pupil bulat isokor Ø ODS 3 mm
Refleks cahaya (+/+)
Gerak bola mata baik
Wajah simetris, lidah tidak didapatkan lateralisasi.
Sensorik : normostesi
Motorik : 5 5
5 5
Fungsi Vegetatif : BAB sulit
Refleks Fisiologis :
Refleks bisep : ++/sulit dinilai
Refleks trisep : ++/sulit dinilai
Refleks brachioradialis : ++/sulit dinilai
Refleks patella : sulit dinilai/sulit dinilai
Refleks achilles : sulit dinilai/sulit dinilai
Refleks Patologis :
Babinski : -/-
Chaddock : -/-
Oppenheim : -/-
Gardon : -/-
DIAGNOSIS KERJA
- Diagnosis klinis : Trismus e.c. C. Tetanii

- Diagnosis topis : neuromuscular junction

- Diagnosis etiologi : C. Tetanii

E. TATALAKSANA
- Rawat diruang Isolasi
- Debridement luka
- IVFD NaCL 20gtt/mnt
- ATS 20.000 unit
- Metronidazole 3x500 mg
- Diazepam 12 x 5 mg
DISKUSI KASUS

TEORI KASUS
EPIDEMIOLOGI3,4,5
Data epidemiologi tetanus dari WHO Pasien adalah laki-laki 25 tahun. Pasien
pada tahun 2016 menunjukkan ada datang dengan riwayat tertusuk paku,
13.502 laporan kasus tetanus. Di negara tidak melakukan perawatan luka
maju lainnya seperti Inggris, hanya 7 dengan baik dan riwayat imunisasi
kasus tetanus dilaporkan selama bulan yang tidak lengkap.
Januari – Desember tahun 2013. Secara
global selama tahun 2011-2016 laporan
kasus tetanus selalu kurang dari 20.000
kasus per tahun. Di Inggris kasus
tetanus yang ditemukan antara bulan
Januari sampai Desember 2017
berjumlah 5 kasus. Dari 5 kasus tersebut
usia pasien berkisar antara 26 hingga 81
tahun. Semua pasien memiliki riwayat
luka baru, yang didapat dari tempat
yang bervariasi (rumah, kebun, di jalan,
pantai). Penyakit tetanus terjadi sangat
bersifat sporadic. Penyakit tetanus
jarang berhasil diobati, sehingga angka
mortalitas mendekati 100%. Syarat
terjadinya infeksi diperlukan luka yang
dalam atau pada luka superfisialis yang
tercemari bakteri anaerob yang
mempunyai potensi oksidasi reduksi
lemah. Penularan terjadi melalui luka
tertusuk paku, luka-luka pada rongga
mulut, luka tersembunyi dalam usus
atau alat kelamin. Kejadian tetanus
disebabkan oleh C. tetanii yang
didukung oleh adanya luka yang dalam
dengan perawatan yang salah. Factor
predisposisi antara lain adanya luka
dalam yang tidak dirawat dengan baik,
hewan umur muda atau tua, serta belum
dilakukan vaksinasi terhadap tetanus.
Tetanus dapat terjadi diseluruh dunia,
terutama dinegara beriklim tropis,
termasuk Indonesia.
KLASIFIKASI6
1. Generalized tetanus (Tetanus
Pada kasus ini, pasien termasuk ke
umum)
dalam generalized tetanus dimana
Tetanus ini paling umum
pasien mengalami kejang dan trismus,
ditemukan. Derajat luka
serta spasme pada abdomen.
bervariasi, mulai dari luka yang
tidak disadari hingga luka
trauma yang terkontaminasi.
Masa inkubasi sekitar 7-21 hari
tergantung jarak luka dengan
susunan saraf pusat. Penyakit
ini memilki pola desendens,
dengan tanda pertama berupa
trismus yang diikuti dengan
kekauan leher, kesulitan
menelan, dan spasme pada otot
abdomen. Gejala utama berupa
trismus yang terjadi sekitar
75% kasus, dan seringkali
ditemukan oleh dokter gigi dan
dokter bedah mulut. Gambaran
klinis lainnya meliputi
iritabilitas, gelisah,
hiperhidrosis dan disfagia
dengan hidrofobia,
hipersalivasi dan spasme otot
punggung. Spasme dapat
terjadi berulang kali dan
berlangsung hingga beberapa
menit. Spasme dapat terjadi
hingga 3-4 minggu.
2. Localized tetanus (Tetanus
lokal)
Tetanus lokal pada ektrmitas
dengan luka yang
terkontaminasi serta memiliki
derajat yang bervariasi. Bentuk
ini merupakan tetanus yang
tidak umum dan memiliki
prognosis yang baik. Spasme
dapat terjadi hingga beberapa
minggu sebelum akhirnya
menghilang secara bertahap.
Tetanus lokal dapat mendahului
derajat tetanus umum tetapi
dengan derajat yang lebih
ringan yaitu sekita 1% dalam
menyebabkan kematian.
3. Cephalic tetanus (Tetanus
sefalik)
Tetanus sefalik umumnya
terjadi setelah trauma kepala
atau terjadi setelah infeksi
telinga tengah. Gejalanya
terdiri dari disfungsi saraf
kranialis motorik (seringkali
pada saraf fasialis). Gejala lain
dapat berupa gejala pada
tetanus lokal hingga tetanus
umum. Bentuk tetanus ini
memliki masa inkubasi 1 – 2
hari dan prognosis biasanya
buruk.
4. Tetanus neonatorum
Bentuk tetanus ini terjadi pada
neonatus, dan pada negara yang
belum berkembang telah
menyumbang sekitar setengah
kematian neonatus. Penyebab
yang sering adalah akibat dari
penggunaan alat – alat yang
terkontaminasi untuk
memotong tali pusat ibu yang
belum diimunisasi. Masa
inkubasi sekita 3 – 10 hari.
Gejala pada neonatus ini
biasanya gelisah, rewel, sulit
minum ASI, mulut mecucu,
dan spasme berat. Angka
mortalitas dapat melebihi 70%
FAKTOR RISIKO8
Pada penelitian studi retrospektif oleh
Pada kasus ini, faktor risiko terjadinya
Bankole et al (2012), menunjukan
keluhan pada pasien yaitu faktor jenis
bahwa kejadian tetanus meningkat tiga
kelamin dan masa inkubasi >10 hari.
kali lipat pada kaum pria dibanding
kaum wanita. Periode masa inkubasi
11,4 ± 4,8 hari, dan durasi onset adalah
72 ± 45,6 jam. Case Fatality Rate
adalah 16,3%. Sebesar 12% dari CFR
tersebut meninggal dengan jangka
waktu onset yang panjang, sedangkan
sebesar 43% meninggal dengan jangka
waktu onset yang singkat (P = 0,002).
Pasien dengan komplikasi (78%)
meninggal sementara hanya 8%
meninggal dari mereka yang tidak
komplikasi (P <0,0001).
GEJALA KLINIS7
Manifestasi klinis dari tetanus Hal ini sesuai dengan yang dirasakan
disebabkan oleh kerja toxin tetanus di oleh pasien yang mengalami spastik
dalam susunan saraf pusat. Hambatan pada ekstremitas atas dan bawah, serta
inhibisi motor neuron mengakibatkan trismus.
peningkatan tonus otot dan spasme otot
skelet. Terdapat suatu periode
asimtomatik setelah inokulasi bakteri C.
tetani, yang dinamakan periode
inkubasi. Periode ini biasanya
berlangsung 7-10 hari. Kemudian
muncul gejala berupa spasme otot,
periode ini disebut periode onset yang
berkembang selama kira-kira 24-72
jam. Gejala awal yang tampak berupa
trismus (kaku rahang), kaku otot, dan
myalgia. Terkadang spasme otot terjadi
hanya di daerah sekitar luka (tetanus
lokalisata) tetapi biasanya terjadi di
seluruh tubuh (tetanus generalisata).
Spasme terjadi karena amplifikasi dari
tonus otot yang bervariasi intensitas dan
durasinya akibat stmulasi motoric yang
tidak terinhibisi. Spasme dapat muncul
akibat stimuli sederhana seperti suara
keras, cahaya yang terang, ataupun
manipulasi fisik. Spasme otot-otot
wajah menimbulkan gambaran risus
sardonicus, dan keterlibatan otot-otot
punggung dan leher menimbulkan
gambaran opisthotonus. Pada kasus
yang parah spasme dapat menyerang
otot-otot pernapasan sehingga
menyebabkan kematian oleh karena
asfiksia. Spasme otot-otot laryng yang
melibatkan vocal cord juga dapat
menyebabkan obstruksi jalan napas
DIAGNOSIS7
a. Hasil Anamnesis (Subjective) Kepala dan Leher :
Keluhan Kepala : Normocephal,
Pasien datang dengan manifestasi klinis wajah rhisus
tetanus yang dapat bervariasi dari sardonikus (+)
kekakuan otot setempat, trismus, Mata : Konjungtiva
sampai kejang yang hebat. Manifestasi anemis (-/-),
klinis tetanus terdiri atas 4 macam sclera ikterik
yaitu: (-/-)
1. - Tetanus local Hidung : Sekret (-),
2. Gejalanya meliputi kekakuan epistaksis (-/-),
dan spasme yang menetap disertai rasa septum deviasi
sakit pada otot disekitar atau proksimal (-), pernapasan
luka. Tetanus lokal dapat berkembang cuping hidung
menjadi tetanus umum. (-)
2. - Tetanus sefalik Telinga : Bentuk
3. Bentuk tetanus lokal yang normotia,
mengenai wajah dengan masa inkubasi secret (-)
1-2 hari, yang disebabkan oleh luka Mulut : Trismus (+) 1
pada daerah kepala atau otitis media cm, bibir
kronis. Gejalanya berupa trismus, lembab (+),
disfagia, rhisus sardonikus dan perioral
disfungsi nervus kranial. Tetanus sefal cyanosis (-),
jarang terjadi, dapat berkembang lidah kotor
menjadi tetanus umum dan (sulit dinilai)
prognosisnya biasanya jelek. Leher : Kuduk kaku
3. - Tetanus umum/generalisata (-),
4. Gejala klinis dapat berupa pembesaran
berupa trismus, iritable, kekakuan leher, KGB (-),
susah menelan, kekakuan dada dan peningkatan
perut (opistotonus), rasa sakit dan JVP (-)
kecemasan yang hebat serta kejang Thoraks
umum yang dapat terjadi dengan - Bentuk normochest,
rangsangan ringan seperti sinar, suara - Pernapasan
dan sentuhan dengan kesadaran yang abdominothorakal,
tetap baik. - Punggung : Opistotonus (+)
5. - Tetanus neonatorum
6. Tetanus yang terjadi pada bayi Abdomen
baru lahir, disebabkan adanya infeksi - Inspeksi : abdomen datar,
tali pusat, Gejala yang sering timbul - Palpasi : Perut papan
adalah ketidakmampuan untuk menetek, (+), nyeri
kelemahan, irritable, diikuti oleh epigastrium
kekakuan dan spasme. (-) , turgor
7. baik, hepar dan
Faktor resiko : riwayat imunisasi yang lien sulit
buruk (belum pernah mendapat dinilai.
imunisasi tetanus), melahirkan dengan - Perkusi : timpani pada
alat-alat yang tidak steril. ke-empat
kuadran
b. Hasil Pemeriksaan Fisik dan abdomen
penunjang sederhana (Objective) - Auskultasi : bising usus
normal
Pemeriksaan Fisik

Ekstremitas
Dapat ditemukan: kekakuan otot
- Superior : Spastik,
setempat, trismus sampai kejang yang
keadaan fleksi
hebat.
pada tangan
kiri, tonus
1. Pada tetanus lokal ditemukan
meninggi,
Vulnus
kekakuan dan spasme yang morsum ad
menetap. region digiti
2. Pada tetanus sefalik ditemukan IV manus
trismus, rhisus sardonikus dan sinustra,
disfungsi nervus kranial. dengan
3. Pada tetanus umum/generalisata jaringan
adanya: trismus, kekakuan leher, nekrotik,
kekakuan dada dan perut berwarna
(opisthotonus), fleksi-abduksi kehitaman.
lengan serta ekstensi tungkai, Akral hangat,
kejang umum yang dapat terjadi CRT < 2 detik,
dengan rangsangan ringan Edema (-),
seperti sinar, suara dan sentuhan sianosis (-)
dengan kesadaran yang tetap - Inferior : Spastik,
baik. keadaan
4. Pada tetanus neonatorum ekstensi dan
ditemukan kekakuan dan spasme plantarfleksi,
dan posisi tubuh klasik: trismus, tonus
kekakuan pada otot punggung meninggi,
menyebabkan opisthotonus yang Akral hangat,
berat dengan lordosis lumbal. CRT < 2 detik,
Bayi mempertahankan Edema (-),
ekstremitas atas fleksi pada siku sianosis (-)
dengan tangan mendekap dada,
pergelangan tangan fleksi, jari
mengepal, ekstremitas bawah
hiperekstensi dengan dorsofleksi
pada pergelangan dan fleksi jari-
jari kaki.

c. Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
temuan klinis dan riwayat imunisasi.

Tingkat keparahan tetanus:


Kriteria Pattel Joag
1. - Kriteria 1: rahang kaku,
spasme terbatas, disfagia, dan kekakuan
otot tulang belakang
2. - Kriteria 2: Spasme, tanpa
mempertimbangkan frekuensi maupun
derajat keparahan
3. - Kriteria 3: Masa inkubasi ≤
7hari
4. - Kriteria 4: waktu onset ≤48
jam
5. - Kriteria 5: Peningkatan
temperatur; rektal 100ºF ( > 400 C),
atau aksila 99ºF ( 37,6 ºC).
6.
Grading
 - Derajat 1 (kasus ringan),
terdapat satu kriteria, biasanya Kriteria
1 atau 2 (tidak ada kematian)
 - Derajat 2 (kasus sedang),
terdapat 2 kriteria, biasanya Kriteria 1
dan 2. Biasanya masa inkubasi lebih
dari 7 hari dan onset lebih dari 48 jam
(kematian 10%)
 - Derajat 3 (kasus berat),
terdapat 3 Kriteria, biasanya masa
inkubasi kurang dari 7 hari atau onset
kurang dari 48 jam (kematian 32%)
 - Derajat 4 (kasus sangat berat),
terdapat minimal 4 Kriteria (kematian
60%)
 - Derajat 5, bila terdapat 5
Kriteria termasuk puerpurium dan
tetanus neonatorum (kematian 84%).

Derajat penyakit tetanus menurut


modifikasi dari klasifikasi Albleet’s :

- Grade 1 (ringan) Trismus


ringan sampai sedang,
spamisitas umum, tidak
ada penyulit pernafasan,
tidak ada spasme, sedikit
atau tidak ada disfagia.
- Grade 2 (sedang)
Trismus sedang, rigiditas
lebih jelas, spasme
ringan atau sedang
namun singkat, penyulit
pernafasan sedang
dengan takipneu.
- Grade 3 (berat) Trismus
berat, spastisitas umum,
spasme spontan yang
lama dan sering,
serangan apneu, disfagia
berat, spasme
memanjang spontan
yang sering dan terjadi
refleks, penyulit
pernafasan disertai
dengan takipneu,
takikardi, aktivitas
sistem saraf otonom
sedang yang terus
meningkat.
- Grade 4 (sangat berat)
Gejala pada grade 3
ditambah gangguan
otonom yang berat,
sering kali menyebabkan
“autonomic storm”.

TATALAKSANA7 Pada pasien telah diberikan :


- Rawat diruang Isolasi
1. Rekomendasi manajemen luka
- Debridement luka
traumatik
- IVFD NaCL 20gtt/mnt
- ATS 20.000
a. Semua luka harus dibersihkan dan
unit
jika perlu dilakukan debridemen.
- Metronidazole 3x500

b. Riwayat imunisasi tetanus pasien mg

perlu didapatkan. - Diazepam 12 x 5


mg
c. TT harus diberikan jika riwayat
booster terakhir lebih dari 10 tahun jika
riwayat imunisasi tidak      diketahui,
TT dapat diberikan. d. Jika riwayat
imunisasi terakhir lebih dari 10 tahun
yang lalu, maka  tetanus imunoglobulin
(TIg) harus diberikan. Keparahan luka
bukan faktor penentu pemberian TIg

1. 1. Pengawasan, agar tidak ada


hambatan fungsi respirasi.
2. 2. Ruang Isolasi untuk
menghindari rangsang luar seperti
suara, cahaya-ruangan redup dan
tindakan terhadap penderita.
3. 3. Diet cukup kalori dan protein
3500-4500 kalori per hari dengan 100-
150 gr protein. Bentuk makanan
tergantung kemampuan membuka mulut
dan menelan. Bila ada trismus, makanan
dapat diberikan per sonde atau
parenteral.
4. 4. Oksigen, pernapasan buatan
dan trakeostomi bila perlu.
5. 5. Antikonvulsan diberikan
secara titrasi, sesuai kebutuhan dan
respon klinis. Diazepam atau
Vankuronium 6-8 mg/hari. Bila
penderita datang dalam keadaan kejang
maka diberikan diazepam dosis 0,5
mg/kgBB/kali i.v. perlahan-lahan
dengan dosis optimum 10mg/kali
diulang setiap kali kejang. Kemudian
diikuti pemberian Diazepam per oral
(sonde lambung) dengan dosis
0,5/kgBB/kali sehari diberikan 6 kali.
Dosis maksimal diazepam 240 mg/hari.
Bila masih kejang (tetanus yang sangat
berat), harus dilanjutkan dengan
bantuan ventilasi mekanik, dosis
diazepam dapat ditingkatkan sampai
480 mg/hari dengan bantuan ventilasi
mekanik, dengan atau tanpa kurarisasi.
Magnesium sulfat dapat pula
dipertimbangkan digunakan bila ada
gangguan saraf otonom.
6. 6. Anti Tetanus Serum (ATS)
dapat digunakan, tetapi sebelumnya
diperlukan skin tes untuk hipersensitif.
Dosis biasa 50.000 iu, diberikan IM
diikuti dengan 50.000 unit dengan infus
IV lambat. Jika pembedahan eksisi luka
memungkinkan, sebagian antitoksin
dapat disuntikkan di sekitar luka.
7. 7. Eliminasi bakteri, penisilin
adalah drug of choice: berikan prokain
penisilin, 1,2 juta unit IM atau IV setiap
6 jam selama 10 hari. Untuk pasien
yang alergi penisilin dapat diberikan
Tetrasiklin, 500 mg PO atau IV setiap 6
jam selama 10 hari. Pemberian
antibiotik di atas dapat mengeradikasi
Clostridium tetani tetapi tidak dapat
mempengaruhi proses neurologisnya.
8. 8. Bila dijumpai adanya
komplikasi pemberian antibiotika
spektrum luas dapat dilakukan.
Tetrasiklin, Eritromisin dan
Metronidazol dapat diberikan, terutama
bila penderita alergi penisilin.
Tetrasiklin: 30-50 mg/kgBB/hari dalam
4 dosis. Eritromisin: 50 mg/kgBB/hari
dalam 4 dosis, selama 10 hari.
Metronidazol loading dose 15
mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5
mg/KgBB tiap 6 jam.
9. 9. Pemberian Tetanus Toksoid
(TT) yang pertama, dilakukan
bersamaan dengan pemberian antitoksin
tetapi pada sisi yang berbeda dengan
alat suntik yang berbeda. Pemberian
dilakukan dengan dosis inisial 0,5 ml
toksoid intramuskular diberikan 24 jam
pertama.
10. 10. Pemberian TT harus
dilanjutkan sampai imunisasi dasar
terhadap tetanus selesai.
11. 11. Mengatur keseimbangan
cairan dan elektrolit.
DAFTAR PUSTAKA

1. Surya, Raymond.. Skoring Prognosis Tetanus Generalisata pada Pasien

Dewasa, Nusa Tenggara Timur (NTT). CDK-238/ vol.43 no.3, th. 2016.

2. Pieter, Richard. Laporan Kasus: Tetanus Otogenik pada Orang Dewasa.

Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Indonesia, Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia.

Majalah Kedokteran UKI 2016 Vol XXXII No.1.

3. WHO. Tetanus.

http://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/surveillance_t

ype/passive/tetanus/en/

4. Public Health England. Research and analysis tetanus in England and Wales: 2013.

https://www.gov.uk/government/publications/tetanus-in-england-and-wales-

2013/tetanus-in-england-and-wales-2013

5. Public Health England. Tetanus in England:2017.

https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachme

nt_data/file/711458/hpr1818_ttns17.pdf

6. Hidayati, Soraya, dkk. Tetanus. FAKULTAS KESEHATAN

MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO 2015.

7. Tetanus – HMPD FK UB. 2017. http://hmpd.fk.ub.ac.id/tetanus-2/


8. Rahmanto, Danawan. UNIVERSITAS DIPONEGORO.

http://eprints.undip.ac.id/55169/3/Danawan_Rahmanto_22010113130141_Lap.KTI

_Bab2.PDF