Anda di halaman 1dari 34

BAGIAN NEUROLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2020


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Low Back Pain

OLEH :
Endah Rahayu, S.Ked

105505404719

PEMBIMBING:

dr. Debby Veranico, M. Kes, Sp.S

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR

2020
PENDAHULUAN

Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan nyeri, ketegangan otot atau

kekakuan yang terlokalisir diantara batas iga bagian bawah dan lipatan gluteus

inferior, dengan atau tanpa penjalaran ke paha dan/atau tungkai (sciatica). NPB

dapat terjadi dengan/tanpa nyeri radikular atau nyeri alih yang menandakan

kerusakan jaringan organ lain. Pada prinsipnya, NPB disebabkan oleh kerusakan

jaringan saraf dan nonsaraf yang sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis.

Keluhan NPB sering dijumpai pada praktik sehari-hari. Sebanyak 17-31%

dari total populasi pernah mengalami NPB semasa hidupnya. Oleh karena NPB

sangat dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan posisi tubuh, maka pasie NPB memiliki

keterbatasan dalam bergerak (disabilitas). Hal tersebut menyebabkan penurunan

kualitas hidup serta memiliki dampak sosial dan ekonomi yang buruk.

Berdasarkan studi The Global Burden of Disease tahun 2010, NPB

merupakan penyumbang terbesar kecacatan global, yang diukur melalui years

lived with disability (YLD). Studi di Inggris mengemukakan bahwa NPB

merupakan penyebab utama disabilitas pada dewasa muda yang menimbulkan

lebih dari 100 juta hari kerja hilang tiap tahun. Dengan demikian, NPB penyebab

penurunan produktivitas kerja dan berkaitan dengan beban ekonomi yang besar.

Secara temporal, NPB terbagi menjadi akut (<6 minggu), subakut (7-12

minggu), kronik (>12 minggu/3bulan), dan rekuran. Sebagian besar penderita

NPB mengalami rekurensi, yang sebenarnya merupakan bentuk eksaserbasi akut

pada NPB kronik. Penanganan NPB akut yang tidak cepat dan adekuat akan

berakibat progresivitas keluhan menjadi kronik dan rekuren. Selain itu, faktor
stres psikologis juga turut meningkatkan risiko kronisitas NPB. Kondisi kronik

seperti ini harus dicegah oleh klinisi yang menangani pasien NPB(1)
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS

Nama : Tn. P

Umur : 37 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Rawamagun Jakarta

Agama : Islam

Status Perkawinan : Menikah

Pekerjaan : Pekerja bangunan

Masuk Rumah Sakit : 7 April 2014

B. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama:

Nyeri pinggang kiri sejak 1 minggu sebelum masuk RS

2. Anamnesis terpimpin :

Pasien datang ke poli saraf RSIJ dengan keluhan nyeri pinggang sejak 1

minggu lalu, nyeri pinggang yang hebat timbul secara tiba-tiba setelah

mengangkat benda berat, pasien mengaku nyerinya seperti tertusuk (sakit

sekali) dan nyeri pinggang tersebut dirasakan terusmenerus. Nyeri terasa

seperti kaku dan dipelintir kemudian menjalar ke bokong kiri sampai kaki

kiri., nyeri terasa bertambah sakit pada waktu malam (pasien sulit miring

ke kanan atau ke kiri), juga bertambah sakit bila beraktivitas. Sehari

sebelum berobat pasien memanggil tukang dipijat tetapi setelah dipijatpun

nyeri pinggangnya tidak membaik. Pasien mengatakan tidak bisa tidur dan
sulit berjalan sejak timbul nyeri. Pasien juga mengeluh saat beranjak dari

tempat tidur terasa nyeri sekali. Tidak ada keluhan kesemutan, baal,

ataupun nyeri di anggota badan lainnya. BAB dan BAK normal seperti

biasa.

3. Riwayat Penyakit Dahulu:

Riwayat DM dan HT (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang mengalami seperti

ini. Hipertensi disangkal. DM disangkal.

5. Riwayat Pengobatan: Pasien minum obat anti nyeri untuk mengurangi

nyeri tetapi nyeri tidak berkurang.

6. Anamnesis Sistem

Sistem Serebrospinal : kesadaran menurun (-), pusing (-), nyeri kepala (-),

pandangan kabur (-), muntah (-)

Sistem Kardiovaskuler : nyeri dada (-), berdebar-debar (-), sesak (-)

Sistem Respirasi : batuk (-), pilek (-), sesak napas (-), mengi (-)

Sistem Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-)

Sistem Muskuloskeletal : nyeri di daerah ekstremitas atas (-/-), bawah (-/+)

Sistem Integumentari : luka lecet (-), gatal-gatal (-), kemerahan (-),

perubahan warna kulit (-)

Sistem Urogenital : poliuri (-), anuria (-), retensio urin (-)

C. PEMERIKSAAN FISIS

1. Status Sistemik
BB : 67 kg
TB : 162 cm
Tekanan Darah : 120/80
Nadi : 86 x/menit
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 36,3oC
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Status gizi : baik
Paru-paru : vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung : BJ I & II normal regular, murmur (-), gallop (-)
Hati : tidak ada pembesaran
Limpa : tidak ada pembesaran
2. Status Neurologis
Kesadaran : compos mentis
Kuantitatif : GCS (E 4, V 5, M 6) = 15
Kualitatif : tingkah laku aktif
Orientasi : (tempat, waktu, orang, lingkungan sekitar) baik
Jalan pikiran : logis, kecerdasan baik
Daya ingat kejadian : (baru) baik, (lama) baik
Kemampuan bicara : lancar, sikap tubuh baik
Cara berjalan : belum dapat berjalan, gerakan abnormal (-)
Kepala : bentuk normocephal, simetris (+), ukuran normal, pulsasi (-),
nyeri tekan (-), bising (-)
Leher : sikap tenang, gerakan normal, kaku kuduk (-), bentuk vertebra
normal, nyeri tekan vertebra (+), pulsasi (-), bising karotis (-/-), bising
subklavia (-/-). Tes Lhermitte tidak dilakukan. Tes Naffziger tidak
dilakukan Tes Valsava tidak dilakukan. Tes Brudzinski I (-)
3. Status neurologis
a. Kesadaran : compos mentis, GCS 15 (E4M6V5)
b. Sikap tubuh : berbaring terlentang
c. Cara berjalan : tidak dapat dinilai
d. Gerakan abnormal : tidak ada
e. Kepala :
 Bentuk : normocephal
 Simetris : simetris
 Pulsasi : dalam batas normal
 Nyeri tekan : tidak ada
f. Leher :
 Sikap : tegak
 Gerakan : dalam batas normal
 Kaku kuduk : (-)

4. Gejala rangsang meningeal:


(kanan/kiri)
a. Kaku kuduk : -/-
b. Laseque : -/+
c. Kernig : -/-
d. Brudzinsky I : -/-
e. Brudzinsky II : -/-

5. Syaraf kranialis:
a. Nervus I (N. olfactorius)
 Daya penghidu: normosmia/ normosmia
b. Nervus II (N. opticus)
 Ketajaman penglihatan : normal / normal
 Pengenalan warna : normal / normal
 Lapang pandang : normal/normal
 Funduskopi : tidak dilakukan
c. Nervus III, IV, VI (N. occulomotorius/ trochlearis/ abdusens)
 Ptosis : -/-
 Strabismus : -/-
 Nistagmus : -/-
 Eksoftalmus : -/-
 Enoptalmus : -/-
 Pupil:
- Ukuran pupil : 2 mm/ 2 mm
- Bentuk pupil : isokor
- Refleks cahaya langsung :+/+
- Refleks cahaya tidak langsung : +/+
d. Nervus V (N. trigeminus)
 Menggigit : normal
 Membuka mulut : normal
 Sensibilitas wajah : normal
 Refleks masseter : baik
 Refleks zigomatikus : tidak dilakukan
 Refleks kornea :+
 Refleks bersin : baik
e. Nervus VII (N. fasialis)
 Mengerutkan dahi : normal
 Menutup mata : normal
 Gerakan bersiul : tidak dilakukan
 Daya pengecapan lidah 2/3 depan : tidak dilakukan
 Hiperlakrimasi : tidak dilakukan
f. Nervus VIII (N. acusticus)
 Suara berbisik : normal
 Tes rinne : tidak dilakukan
 Tes weber : tidak dilakukan
 Tes swabach : tidak dilakukan
g. Nervus IX (N. glossopharyngeus)
 Daya pengecap lidah 1/3 belakang : tidak dilakukan
 Refleks muntah : normal
h. Nervus X (N. vagus)
 Denyut nadi : reguler
 Arkus faring : simetris
 Bersuara : baik
 Menelan : baik
i. Nervus XI (N. assesorius)
 Memalingkan kepala : normal
 Mengangkat bahu : normal
j. Nervus XII (N. hipoglosus)
 Pergerakan lidah : normal
 Atrofi lidah : tidak ada
 Tremor lidah : tidak ada
 Fasikulasi : tidak dilakukan

6. Motorik:
a. Gerakan : Bebas Bebas
Bebas Bebas
b. Kekuatan : 5 5
5 5
c. Tonus otot : Normal Normal
Normal Normal
d. Refleks fisiologis:
 Refleks biseps : +/+
 Refleks triseps: +/+
 Refleks radius : +/+
 Refleks ulna : +/+

7. Refleks Patologis: -/-


8. Sensibilitas:
a. Eksteroseptif:
 Nyeri : +/+
 Suhu : tidak dilakukan
 Taktil : +/+
b. Propioseptif:
 Posisi : normal
 Vibrasi : tidak dilakukan
 Tekanan dalam : tidak dilakukan

9. Koordinasi dan keseimbangan:


a. Tes Romberg : sulit dinilai
b. Ataksia : sulit dinilai
c. Disdiadokinesis : tidak dilakukan
d. Rebound phenomen : tidak dilakukan
e. Dismetri : normal
f. Tes telunjuk hidung : normal
g. Tes telunjuk telunjuk : normal

10. Pemeriksaan tambahan lain:


a. Tes laseque : -/+
b. Tes laseque silang : +/+
c. Tes O’connel : -/-
d. Tes patrick : tidak dilakukan
e. Tes kontra patrick : tidak dilakukan
f. Tes gaenslen : tidak dilakukan
11. Fungsi otonom:
a. Miksi
 Inkontinensia : tidak ada
 Retensi urin : tidak ada
 Anuria : tidak ada
 Hematuria : tidak ada
b. Defekasi
 Inkontinensia : tidak ada
 Retensi : tidak ada

D. RESUME

Seorang laki-laki , 37 tahun datang ke poli saraf RSIJ dengan keluhan

nyeri pinggang sejak 1 minggu lalu, nyeri pinggang yang hebat timbul

secara tiba-tiba setelah mengangkat benda berat, pasien mengaku nyerinya

seperti tertusuk (sakit sekali) dan nyeri pinggang tersebut dirasakan terus-

menerus, Nyeri terasa seperti kaku dan dipelintir kemudian menjalar ke

bokong kiri sampai kaki kiri., nyeri terasa bertambah sakit pada waktu

malam (pasien sulit miring ke kanan atau ke kiri), juga bertambah sakit

bila beraktivitas.

Status generalis: Kesadaran: compos mentis, GCS (E 4, V 5, M 6) = 15,

tingkah laku aktif, Tekanan Darah: 120/80, Nadi: 86 x/menit, Pernapasan:

22 x/menit, Suhu: 36,3 oC.

Status internus: dalam batas normal

Status neurologi: tes Laseque + (sinistra), tes Laseque silang +

Radiologi Foto Rontgen (tanggal 21 Feb 2014)

- Alignment vertebra lumbosakral normal

- Tak tampak listesis atau kompresi

- Tak tampak osteofit

- Pedicle dan discus intervertebralis normal

- Foramen intervertebralis normal

- Densitas tulang normal

- Curve lurus
- Pelvis dan coxae normal

Kesan: curve vertebra lumbalis lurus (muscle spasme)

DIAGNOSIS KERJA

- Diagnosis klinis : Iskhialgia sinsitra

- Diagnosis topis : vertebra lumbosakral L4-L5

- Diagnosis etiologi : Susp. HNP

E. TATALAKSANA

Nonmedikamentosa

- Edukasi

- Bed rest total

- Fisioterapi

Medikamentosa

- Celecoxib 100 mg 2x1


DISKUSI KASUS

TEORI KASUS
EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologi mengenai LBP di Pasien adalah laki-laki 37 tahun. Pasien
Indonesia belum ada, namun insiden mengeluh nyeri pinggang yang hebat.
berdasarkan kunjungan pasien beberapa
rumah sakit di Indonesia berkisar antara
3-17%. Menurut Yanra (2013),
prevalensi pasien dengan nyeri
punggung bawah di Departemen Klinik
Rawat Jalan Bedah di RSU Raden
Mattaher Provinsi Jambi Rumah Sakit
Umum adalah 85 pasien dengan nyeri
punggung bawah spondilogenic 67
pasien (78,8%) dan nyeri punggung
bawah viscerogenic 18 pasien (21,2 %)
adalah merupakan kasus LBP(2). Low
back pain adalah salah satu keluhan
yang dirasakan oleh sebagian besar
pekerja, umumnya mulai dirasakan pada
usia 25 tahun dan meningkat pada usia
50 tahun (Yunus M, 2008). Penelitian
dari kelompok studi nyeri Perhimpunan
Dokter Saraf Indonesia (PERDOSSI)
menemukan bahwa jumlah penderita
LBP sebanyak 35,86 persen dari total
kunjungan pasien nyeri(3)
KLASIFIKASI(4)
Keadaan-keadaan yang sering
Pada kasus ini, pasien termasuk ke
menimbulkan keluhan low back pain
dalam nyeri spondilogenik, terjadi
dapat dikelompokkan sebagai berikut
1. Nyeri spondilogenik
proses degeneratif dalam hal ini
a) Proses Degeneratif
degenerasi diskus, yang disesuaikan
1) Degenerasi diskus dengan keluhan pasien yaitu nyeri
Gejala awal biasanya pinggang hebat yang dirasakan sejak 1
dibatasi dengan nyeri minggu lalu (akut)
akut pada regio
lumbal. Penyakit
degenerasi pada
diskus ini dapat
menyebabkan
entrapment pada
akhiran syaraf pada
keadaan – keadaan
tertentu seperti
herniasi diskus,
kompresi pada tulang
vertebra dan
sebagainya.

2) Osteoarthrosis dan
spondylosis

Kedua keadaan ini


biasanya muncul
dengan gambaran
klinis yang hampir
sama, meskipun
spondilosis mengarah
pada proses
degenerasi dari diskus
intervertebralis
sedangkan
osteoarthrosis pada
penyakit di
apophyseal joint.

3) Ankylosing
hyperostosis

Penyebab pastinya
belum diketahui.
Merupakan bentuk
spondylosis yang
berlebihan, terjadi
pada usia tua dan
lebih sering pada
penderita Diabetes
Melitus.

4) Ankylosing
spondylitis

Ankylosing
spondylitis sering
muncul pada awal
tahapan proses
pertumbuhan (pada
laki – laki).

5) Infeksi

Proses infeksi ini


termasuk infeksi
pyogenik,
osteomyelitis
tuberkulosa pada
vertebra, typhoid,
brucelosis, dan infeksi
parasit. Sulitnya
mengetahui onset dan
kurangnya informasi
dari foto X-ray dapat
menyebabkan
keterlambatan
diagnosis 8 – 10
minggu. Dengan
progresivitas dari
penyakit, nyeri
pinggang belakang
dapat dirasa semakin
meningkat
intensitasnya, menetap
dan terasa saat tidur.

6) Osteokhondritis

Osteokhondritis pada
vertebra
(Scheuermann`s
disease) sama seperti
osteokhondritis pada
bagian selain vertebra.
Ia mempengaruhi
epiphyse pada bagian
bawah dan bagian atas
dari vertebra
lumbal.Gambaran
radiologi menunjukan
permukaan vertebra
yang ireguler, jarak
antar diskus yang
menyempit dan
bentuk baji pada
vertebra.

7) Proses metabolik

Penyakit metabolik
pada tulang yang
sering menimbulkan
gejala nyeri pinggang
belakang adalah
osteoporosis. Nyeri
bersifat kronik.

8) Neoplasma

Sakit pinggang
sebagai gejala dini
tumor intraspinal
berlaku untuk tumor
ekstradural di bagian
lumbal. 70 %
merupakan metastase
dan 30 % adalah
primer atau penjalaran
perkontinuitatum
neoplasma non
osteogenik. Jenis
tumor ganas yang
cenderung untuk
bermetastase ke tulang
sesuai dengan urutan
frekuensinya adalah
adenocarsinoma
mammae, prostat,
paru, ginjal dan tiroid.
Keluhan mula-mula
adalah pegal di
pinggang yang lambat
laun secara berangsur-
angsur menjadi nyeri
pinggang yang tidak
tertahankan oleh
penderita.

b) Kelainan Struktur

1) Spondilolistesis

Suatu keadaan dimana


terdapat pergeseran ke
depan dan suatu ruas
vertebra. Biasanya
sering mengenai L5.
Keadaan ini banyak
terjadi pada masa intra
uterin. Keluhan baru
timbul pada usia
menjelang 35 tahun
disebabkan oleh
kelainan sekunder
yang terjadi pada
masa itu, bersifat
pegal difus. Tapi
spondilolistesis juga
dapat terjadi oleh
karena trauma.

2) Spondilolisis

Ialah suatu keadaan


dimana bagian
posterior ruas tulang
belakang terputus
sehingga terdapat
diskontinuitas antara
prosesus artikularis
superior dan inferior.
Kelainan ini terjadi
oleh karena arcus
neuralis putus tidak
lama setelah neonatus
dilahirkan. Sering
juga terapat bersama
dengan
spondilolistesis. Sama
halnya dengan
spondilolistesis,
keluhan juga baru
timbul pada umur 35
tahun karena alasan
yang sama.

3) Spina bifida

Adalah defek pada


arcus spinosus
lumbal/sakral akibat
gangguan proses
pembentukan
sehingga tidak
terdapat ligamen
interspinosus yang
menguatkan daerah
tersebut. Hal ini
menyebabkan mudah
timbulnya
lumbosacral strain
yang bermanifestasis
sebagai sakit
pinggang.

4) Trauma

Ruptur ligamen
interspinosum, fraktur
corpus vertebra
lumbal.

2. Nyeri viserogenik

Nyeri ini dapat muncul akibat


gangguan pada ginjal, bagian
viscera dari pelvis dan tumor –
tumor peritoneum

3. Nyeri vaskulogenik

Aneurisma dan penyakit


pembuluh darah perifer dapat
memunculkan gejala nyeri.
Nyeri pada aneurisma
abdominal tidak ada
hubungannya dengan aktivitas
dan nyerinya dijalarkan ke
kaki. Sedang pada penyakit
pembuluh darah perifer,
penderita sering mengeluh
nyeri dan lemah pada kaki
yang juga diinisiasi dengan
berjalan pada jarak dekat.

4. Nyeri neurogenik

Misal pada iritasi arachnoid


dengan sebab apapun dan
tumor – tumor pada spinal
duramater dapat menyebabkan
nyeri belakang.

5. Nyeri psikogenik

Pada ansietas, neurosis,


peningkatan emosi, nyeri ini
dapat muncul.

FAKTOR RISIKO Pada kasus ini, faktor risiko terjadinya


Faktor risiko terjadinya LBP dibagi keluhan pada pasien yaitu faktor usia
menjadi 3 (tiga) faktor, yaitu: dan faktor pekerjaan, dimana pasien
1. Faktor Individu berusia 37 tahun dan bekerja sebagai
a. Usia pekerja bangunan
b. Jenis Kelamin
c. Indeks Massa Tubuh (IMT)
d. Tingkat Pendidikan
e. Kebiasaan Merokok
f. Kebiasaan Olahraga
2. Faktor Pekerjaan
a. Beban Kerja
b. Lama Kerja
c. Sikap Kerja
d. Postur Janggal
e. Postur Statis
f. Repetitive Work
3. Faktor lingkungan
a. Getaran
b. Pencahayaan
c. Kebisingan
GEJALA KLINIS
Low back pain (LBP) umumnya Hal ini sesuai dengan yang dirasakan
oleh pasien yang mengalami nyeri
akan memberikan rasa nyeri pada
pada punggung bawah yang hebat,
seseorang yang mengalaminya. Rasa
nyeri dapat digambarkan sebagai menjalar ke bokong kiri sampai kaki
kiri. Nyeri seperti tertusuk dan
sensasi tidak menyenangkan yang
dirasakan terus menerus. Bertambah
terjadi bila mengalami cedera atau
sakit bila beraktivitas
kerusakan pada tubuh. Nyeri dapat

terasa panas, gemetar,

kesemutan/tertusuk, atau ditikam.

Nyeri akan menjadi suatu masalah

gangguan kesehatan dikarenakan

dapat menganggu aktivitas yang

akan dilakukan.

Adapun tanda dan gejala dari

low back pain antara lain yakni:

1. Nyeri sepanjang tulang

belakang, dari pangkal leher

sampai tulang ekor.

2. Nyeri tajam terlokalisasi di

leher, punggung atas atau

punggung bawah terutama

setelah mengangkat benda berat

atau terlibat dalam aktivitas

berat lainnya.

3. Sakit kronis di bagian punggung

tengah atau punggung bawah,


terutama setelah duduk atau

berdiri dalam waktu yang lama.

4. Nyeri punggung menjalar

sampai ke pantat, dibagian

belakang paha, ke betis dan kaki.

5. Ketidakmampuan untuk berdiri

tegak tanpa rasa sakit atau

kejang otot di punggung bawah.

DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis Tes Laseque + (sinistra), tes Laseque

dari nyeri punggung bawah silang +

memerlukan anamnesis yang teliti,


Radiologi Foto Rontgen (tanggal 21
pemeriksaan fisik umum, neurologi
Feb 2014)
serta pemeriksaan penunjang agar
- Alignment vertebra
mengarahkan ke etiologi terjadinya
lumbosakral normal
nyeri punggung bawah dan untuk
- Tak tampak listesis atau
menyingkirkan diagnosis banding.
kompresi
Pada anamnesis pasien dengan
- Tak tampak osteofit
nyeri punggung bawah harus
- Pedicle dan discus
mendeteksi pula faktor risiko, aspek
intervertebralis normal
psikologis, dan psikososial penderita.
- Foramen intervertebralis
Aspek psikologis dan psikososial
normal
sangat besar perannya dalam terapi
nyeri punggung bawah. Sehingga - Densitas tulang normal

bila tidak digali dan diterapi dengan - Curve lurus

adekuat akan dapat menyebabkan - Pelvis dan coxae normal

terjadinya nyeri yang sukar untuk


Kesan: curve vertebra lumbalis lurus
dikendalikan. Hasil penelitian
(muscle spasme)
menunjukkan bahwa distress

psikologis akan meningkatkan risiko

terjadinya nyeri punggung bawah

sampai 2 kali lipat pada orang

dewasa. Sementara penelitian Kerr,

dkk (2001) juga menunjukkan

adanya hubungan antara lingkungan

psikososial kerja, dan variabel

mekanik di lingkungan kerja

terhadap kejadian nyeri punggung

bawah. Kedua penelitian tadi

mendukung konsep multifaktorial

pada nyeri punggung bawah.

Sehingga pada semua penderita nyeri

punggung bawah, aspek psikososial

sebaiknya dievaluasi secara seksama.

Pada pasien ini pemeriksaan

neurologis difokuskan pada tes lasegue,


patrick dan kontrapatrick. Adapun

pemeriksaan  fisik tes yang dilakukan

antara lain:

a) Tes laseque

Percobaan ini

meregangkan nervus

ischiadicus dan radiks-radiksnya.

Penderita dalam posisi terlentang

dan  tidak boleh tegang.

Pemeriksaan mengangkat satu

tungkai penderita, tungkai tadi

dalam  posisi lurus, dan fleksi pada

sendi panggul. Apabila penderita

merasakan nyeri sepanjang nervus

ischiadicus maka parcobaan tadi

positif.  Dapat dinyatakan dalam

derajat, misalnya positif 30 derajat

artinya waktu tungkai diangkat

sampai 30 derajat (sudut antara

tugkai dengan bidang datar) mulai

timbul rasa sakit. Apabila

agak ragu-ragu, maka pemeriksaan

ini dapat dimodifikasi dengan cara


kaki ditahan dalam  posisi dorso-

fleksi dan kemudian tungkai

diangkat ke atas. Dengan cara ini

nervus ischiadicus teregang lebih

kuat. Pada HNP, percobaan ini

merupakan hal yang sangat penting.

b) Tes patrick

     Tungkai dalam posisi fleksi di

sendi lutut sementara tumit

diletakkan di atas lutut tungkai

yang satunya lagi, kemudian lutut

tungkai yang difleksikan tadi

ditekan ke bawah. Penderita dalam

posisi berbaring. Apabila ada

kelaianan di sendi panggul maka

penderita akan  merasakan nyeri di

sendi panggul tadi.

c) Tes kontrapatrick

Tungkai dalam posisi fleksi di

sendi lutut dan sendi panggul,

kemudian lutut didiorong ke

medial; bila di sendi sakroiliaka ada

kelainan maka disitu akan terasa


sakit.

Pemeriksaan penunjang pada

kasus LBP lebih difokuskan pada

pemeriksaan radiologi seperti foto

polos, CT scan dan MRI untuk

melihat apakah ada kelainan pada

struktur tulang belakang, otot dan

persarafan.

1) Foto Polos Lumbosacral

Pemeriksaan foto polos

lumbosacral adalah tes

pencitraan untuk membantu

dokter melihat penyebab

penyakit punggung seperti

adanya patah tulang, degenerasi,

dan penyempitan DIV. Pada foto

lumbosacral akan terlihat

susunan tulang belakang yang

terdiri dari lima ruas tulang

belakang, sacrum dan tulang

ekor.

Pemeriksaan ini merupakan

pemeriksaan penunjang yang


paling sering dilakukan pada

pasien LBP karena mudah

dilakukan dan relatif murah.

Pemeriksaan foto polos ada tiga

posisi, yaitu anterior-posterior

(AP), lateral dan oblique.

Pada foto polos lumbosacral

AP/lateral gambaran kelainan

yang mungkin terlihat pada

pasien LBP ringan antara lain

spondylolisthesis < 3 mm,

osteophyte < 2 mm, subcondral

sclerosis ringan dan

penyempitan DIV 25-50%. Pada

kasus LBP sedang gambaran

yang mungkin terlihat antara

lain spondylolisthesis 3-5 mm,

osteophyte 2-4 mm, subcondral

sclerosis sedang, fraktur pada

satu tulang dan penyempitan

DIV 50-75%. Sedangkan

gambaran foto polos

lumbosacral AP/lateral pada


pasien LBP berat akan terlihat

spondylolisthesis > 5 mm,

osteophyte > 4 mm, adanya

kompresi tulang vertebra,

subcondral sclerosis berat,

multiple fraktur dan

penyempitan DIV 75-100%.

Pada foto oblique evaluasi

dari elemen posterior lumbar

vertebrae seperti lamina, pedicle,

the facet joints, dan

intervertebral foramina dapat

dilakukan meski tidak terlalu

penting. Foto oblique biasa

digunakan untuk

memvisualisasikan foramina L5

sisi kanan dan kiri karena pada

foto lateral tidak terlihat dengan

baik. Pasien dengan posisi

miring 30-45 derajat articular

process dan facet joints akan

tampak seperti “Scottie dogs”.

Kelemahan pada pemeriksaan


radiologi foto polos adalah pada

paparan radiasi yang

ditimbulkan, terutama pada foto

oblique. Kelemahan lain adalah

pada identifikasi gambaran

abnormalitas sendi, skoliosis

ringan dan penonjolan dari DIV

(herniated disc). Untuk

mengamati lebih jelas pada

kelainan tersebut perlu

dilakukan pemeriksaan CT scan

dan MRI.

2) Magnetic Resonance Imaging

(MRI) dan Computed Tornografi

Scan (CT scan)

Magnetic Resonance

Imaging (MRI) dan Computed

Tornografi Scan (CT scan)

direkomendasikan pada pasien

dengan kondisi yang serius atau

defisit neurologis yang

progresif, seperti infeksi tulang,

cauda equina syndrome atau


kanker dengan penyempitan

vertebra. Pada kondisi tersebut

keterlambatan dalam diagnosis

dapat mengakibatkan dampak

yang buruk.

Magnetic Resonance

Imaging tidak menimbulkan

radiasi dan memiliki hasil

gambaran yang lebih akurat

pada jaringan lunak, kanal

tulang belakang dan pada

keluhan neurologi, oleh karena

itu MRI lebih disukai daripada

CT scan. Namun pada CT scan

memiliki gambaran tulang

kortikal yang lebih baik

dibandingkan MRI. Jadi ketika

pemeriksaan pada struktur

tulang menjadi fokus utama,

pemeriksaan yang dipilih adalah

CT scan. Pada pasien dengan

nyeri punggung akut dengan

tandatanda atau gejala herniated


disc atau penyakit sistemik lain,

CT scan dan MRI jarang

dilakukan kecuali pada pasien

dengan kecurigaan kanker,

infeksi atau cauda aquina

syndrome dalam pemeriksaan

awalnya.

3) Electromyography (EMG) dan

Nerve Conduction Studies

(NCS)

Pemeriksaan EMG dan

NCS sangat membantu dalam

mengevaluasi gejala neurologis

dan/atau defisit neurologis yang

terlihat selama pemeriksaan

fisik. Pada pasien LBP dengan

gejala atau tanda neurologis,

pemeriksaan EMG dan NCS

dapat membantu untuk melihat

adanya lumbosacral

radiculopathy, peripheral

polyneuropathy, myopathyatau

peripheral nerve entrapment.


TATALAKSANA(1) Pada pasien ini telah diberikan:

1. Pada NPB yang berasal dari organ 1. Nonmedikamentosa


abdomen dan bagian posterior - Edukasi
abdomen, serta NPB akiat metastasis
- Bed rest total
spinal, maka pengobatan ditujukan
pada penyakit yang mendasari - Fisioterapi
tersebut 2. Medikamentosa
2. Pada NPB yang dapat disembuhkan
- Celecoxib 100 mg 2x1
dengan operasi, tentukan indikasi
untung rugi tindakan operasi pada
awal awitan NPB atau setelah terapi
konservatif terlebih dahulu
3. Pada NPB tanpa indikasi operasi:
a. Istirahat
b. Terapi fisik
c. Terapi olahraga
d. Orthoses
e. Terapi medikamentosa:
 Terapi kuratif dengan
antibiotik atau obat anti
tuberkulosis untuk kasus-
kasus infeksi
 Terapi simtomatik dengan
obat-obatan antiinflamasi dan
analgetik
 Menghilangkan nyeri dengan
blok lokal atau blok saraf
f. Psikoterapi
g. Panduan untuk menjalankan
kehidupan sehari-hari

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf. PANDUAN PRAKTIK KLINIK,

Diagnosis dan Penatalaksanaan Demensia. 2015.


2. Harahap PS, Marisdayana R, Hudri M Al. Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Dengana Keluhan Low Back Pain ( LBP ) Pada Pekerja

Pengrajin Batik Tulis Di Kecamatan Pelayangan Kota Jambi Tahun 2018

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat , STIKES Harapan Ibu Jambi ,

Indonesia Email korespondensi : uti_. Ris Inf Kesehat. 2018;7(2).

3. Kaur K. Prevalensi Keluhan Low Back Pain (Lbp) Pada Petani Di Wilayah

Kerja Upt Kesmas Payangan Gianyar April 2015. Intisari Sains Medis.

2016;5(1):49.

4. Meliala L. Patofisiologi Nyeri pada Nyeri Punggung Bawah. Dalam:

Meliala L, Nyeri Punggung Bawah, Kelompok Studi Nyeri Perhimpunan

Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Jakarta, 2003.