Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN NEUROLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER 2020


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Non Hemorrhagic Stroke

OLEH :
A.St. Haniyah Nadhifah Z, S.Ked

105505405219

PEMBIMBING:

dr. Hartina Harun, M. Kes, Sp.S

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

2020

1
A. PENDAHULUAN

Stroke adalah suatu gejala klinis yang ditandai defisit neurologi fokal atau

global yang berlangsung mendadak selama 24 jam atau lebih atau kurang dari 24

jam yang dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh gangguan

pembuluh darah.1 Setiap tahun, sekitar 22 juta orang di seluruh dunia menderita

stroke. Stroke adalah masalah perawatan kesehatan global yang menyebabkan

beban penyakit yang substansial dan tetap menjadi salah satu masalah kesehatan

masyarakat yang paling menghancurkan, yang seringkali mengakibatkan kematian

atau kerusakan fisik dan kecacatan parah.2

Data di Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus stroke

baik dalam hal kematian, kejadian, maupun kecacatan. Angka kematian

berdasarkan umur adalah: sebesar 15,9% (umur 45-55 tahun) dan 26,8% (umur

55-64 tahun) dan 23,5% (umur 65 tahun). Kejadian stroke (insiden) sebesar

51,6/100.000 penduduk dan kecacatan;1,6% tidak berubah; 4,3% semakin

memberat. Penderita laki-laki lebih banyak daripada perempuan dan profil usia

dibawah 45 tahun sebesar 11,8%, usia 45-64 tahun 54,2%, dan usia diatas 65

tahun sebesar 33,5%. Stroke menyerang usia produktif dan usia lanjut yang

berpotensi menimbulkan masalah baru dalam pembangunan kesehatan secara

nasional di kemudian hari.3

Stroke merupakan penyebab kematian utama pada semua umur, dengan

proporsi sebesar 15,4%.4 Stroke dapat dibagi menjadi dua,yaitu stroke non

hemoragik dan stroke hemoragik. Sebagian besar (80%) disebabkan oleh stroke

2
non hemoragik.4 Stroke non hemoragik dapat disebabkan oleh trombus dan

emboli. Stroke non hemoragik akibat trombus terjadi karena penurunan aliran

darah pada tempat tertentu di otak. Mekanisme patofisiologi dari stroke bersifat

kompleks dan menyebabkan kematian neuronal yang diikuti oleh hilangnya fungsi

normalari neuron yang terkena.1

Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan

oleh iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal

pembuluh darah otak yang menyebabkan turunnya suplai oksigen dan glukosa ke

bagian otak yang mengalami oklusi. Munculnya tanda dan gejala fokal atau global

pada stroke disebabkan oleh penurunan aliran darah otak. Oklusi dapat berupa

trombus, embolus, atau tromboembolus, menyebabkan hipoksia sampai anoksia

pada salah satu daerah percabangan pembuluh darah di otak tersebut. Stroke

hemoragik dapat berupa perdarahan intraserebral atau perdarahan subrakhnoid.5

3
B. LAPORAN KASUS

1. Identitas Pribadi

Nama : Ny. S

Usia : 73 tahun

Alamat : Jl. Balana II

Jenis Kelamin : Perempuan

2. Anamnesis

Seorang Perempuan usia 73 tahun datang ke Rumah Sakit

Pelamonia tanggal 8 September 2020 dengan keluhan lemah separuh

badan sebelah kanan yang sudah dialami 4 jam sebelum masuk ke RS

secara tiba-tiba saat pasien baru bangun tidur. Pasien juga mendadak

tidak bisa bicara. Nyeri kepala dan Mual Muntah disangkal, demam

(-), batuk (-). Pasien ada riwayat Hipertensi dan DM tidak terkontrol

Riwayat trauma : (-)

Riwayat demam : (-)

Riwayat penyakit sebelumnya : Hipertensi dan DM

Riwayat penyakit keluarga : Disangkal

4
3. Pemeriksaan Fisik

a. Tanda-tanda vital

1) TD : 190/100 mmHg 3) P : 26 x/menit

2) N : 118 x/menit 4) S : 36,4 0C

b. Pemeriksaan neurologis

1) GCS : E4M6Vx

2) FKL : Afasia

3) Rangsang meanings : Kaku kuduk (-)

4) Nn.Cr. : Pupil bulat isokor diameter 2,5 mm

RCL +/+ RCTL +/+

N VII: parese dextra tipe sentral

N XII: parese dextra tipe sentral

5) Motorik

P K T RF RP

↑ ↑ - -
↑ ↑ + -

6) Sensorik : Hipestesia Dextra

7) Otonom : BAB Biasa

BAK Lancar

5
c. Diagnosa Kerja

Diagnosa klinis : hemiparese Dextra

parese N. VII dextra & N. XII dextra tipe

sentral

Diagnosa topis : Hemispherium cerebri dextra

Diagnosa etiologi : et causa Infark Cerebri (Non Hemoragik

Stroke)

d. Planning

1) IVFD RL 20 tpm

2) Clopidogrel 75mg 1x1

3) Piracetam 3gr/8j/IV

4) Metformin 500mg 2x1

5) Glimepirid tab 1-0-0

6) Ranitidin 50mg/ 12 j/IV

7) Neurobion 1amp/24j/IV

Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal 08-09-2020

 RBC : x 106/mm3 (↓)

 WBC : 7 X 103/mm3 (N)

 HGB : 13,6 g/dL (N)

 PLT : 159,8 x 103/mm3 (↓)

 HCT : 35 % (N)

 MCV : 80 fL (↓)

6
 MCH : 27.1 pg (↓)

 MCHC : 33.8 g/dL (N)

 NEUT : 82% (↑)

 PT/APTT : “15’1/”29’4 (N)

 Glukosa puasa : 172mg/dL (↑)

 GDS : 311mg/dL (↑)

 SGOT : 39 U/L (N)

 SGPT : 30 U/L (N)

 Ureum : 20mg/dL (N)

 Kreatinin : 0.69mg/dL (N)

 Asam urat : 6.2mg/dL (N)

 Kolesterol total : 317mg/dL (↑)

 Trigliserida : 174mg/dL (N)

 Kolesterol HDL : 56mg/dL (N)

 Kolesterol LDL : 256mg/dL (↑)

 COVID19 : non reaktif

7
Hasil Pemeriksaan CT-Scan Kepala pada tanggal 11-09-2020 potongan axial

tanpa kontras :

 Old and New Lacunar Infark Cerebri Dextra (Occipitalis Dextra)

 Proses atrofi cerebri

4. Diagnosa Akhir

Diagnosa klinis : Hemiparese dextra

Diagnosa topis : Occipitalis Dextra

Diagnosa etiologis : et causa Infark Cerebri (Non Hemoragik

Stroke)

5. Prognosis

1. Quo Ad Vitam : Ad Bonam

2. Quo Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam

8
C. DISKUSI
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut,

lebih dari 24 jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan

disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak sepintas, tumor otak, stroke

sekunder karena trauma maupun infeksi.5

Menurut WHO stroke disebabkan oleh adanya interupsi dari suplai

darah ke otak, biasanya disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah atau

pembuluh darah yang terblokade oleh adanya sumbatan. Hal inilah yang akan

memutus suplai oksigen dan nutrisi sehingga menyebabkan kerusakan pada

jaringan otak.Gejala stroke yang paling umum adalah kelemahan mendadak

atau mati rasa pada wajah, lengan atau tungkai, paling sering di satu sisi

tubuh. Gejala lainnya meliputi: kebingungan, kesulitan berbicara; Kesulitan

melihat dengan satu atau kedua mata; Kesulitan berjalan, pusing, kehilangan

keseimbangan atau koordinasi; Sakit kepala parah tanpa sebab yang diketahui;

Pingsan atau tidak sadar. Efek stroke bergantung pada bagian otak mana yang

terluka dan seberapa parahnya akan terpengaruh. Stroke yang sangat parah

bisa menyebabkan kematian mendadak.6

Stroke adalah suatu keadaan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi

neurologis (defisit neurologik fokal atau global) yang terjadi secara mendadak,

berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan kematian, yang semata-mata

disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak karena berkurangnya suplai

darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah secara spontan (stroke

perdarahan).7

9
Klasifikasi faktor risiko stroke terdiri dari faktor risiko yang bias

dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi.

BISA DIMODIFIKASI TIDAK BISA DIMODIFIKASI

Hipertensi Usia

DM Jenis Kelamin

Merokok Keturunan/Genetik

Dyslipidemia Ras/Warna Kulit

Alkohol

Berdasarkan kasus ini, pasien memiliki faktor risiko yang bisa

dimodifikasi yaitu hipertensi, DM dan dyslipidemia, serta satu faktor risiko

yang tidak bisa dimodifikasi yaitu usia. Hipertensi akan menyebabkan seluruh

pembuluh darah di tubuh menegang termasuk pembuluh darah yang menuju

ke otak. Akibatnya, jantung akan berkerja lebih keras untuk menjaga agar

sirkulasi darah tetap berjalan. Penegangan ini akan menyebabkan pembuluh

darah menyempit. Hal inilah yang akan mempermudah terjadinya

penyumbatan.

Penelitian menunjukkan adanya peranan hiperglikemi dalam proses

aterosklerosis, yaitu gangguan metabolisme berupa akumulasi sorbitol di

dinding pembuluh darah arteri. Hal ini menyebabkan gangguan osmotik dan

bertambahnya kandungan air dalam sel yang dapat menyebabkan kurangnya

oksigenasi.

Stroke mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak yang

terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai

10
arteri otak. Gambaran klinis stroke cukup beragam tergantung pada arteri yang

terkena serta daerah otak yang diperdarahi, intensitas kerusakan, dan luas

sirkulasi kolateral yang terbentuk. Stroke pada satu hemisfer otak akan

menimbulkan tanda dan gejala pada sisi tubuh yang berlawanan. Gejala umum

berupa lemas mendadak di wajah, lengan, atau tungkai terutama disalah satu

sisi tubuh. Gejala lainnya meliputi sakit kepala mendadak tanpa kausa yang

jelas, kesulitan bicara, susah berjalan, perubahan tingkat kesadaran, dan

gangguan penglihatan.1,8

Berdasarkan kasus, pasien mengeluh lemas pada wajah dalam sehingga

sulcus nasolabialis dextra dangkal. Pasien juga mengalami kelemahan pada

kaki dan tangan kanannya dan terdapat ketegangan otot. Paresis terjadi

dicurigai akibat disfungsi neuron motorik atas (upper motor neuron), sesuai

dengan gejala disfungsi UMN diantaranya adalah terdapat refleks patologis

dan terjadi penurunan refleks fisiologis (hiperrefleksia). Pada pasien

didapatkan reflex Hoffman-Tromner negatif pada kedua tangan dan Babinsky

positif pada kaki kanan. Selain itu, terjadi hiperrefleks pada tangan dan kaki

kanan. Sehingga pada pasien ini dapat dikatakan terdapat lesi pada UMN

berdasarkan hasil pemeriksaan neurologis.

Secara umum, stroke diklasifikasikan menjadi stroke hemoragik dan

stroke non-hemoragik. Berdasarkan pembagian klinisnya stroke hemoragik

terdiri dari perdarahan intraserebral dan perdarahan subarachnoid. Sedangkan

stroke non-hemoragik dibagi menjadi emboli serebral dan trombosis

serebral.1,9

11
Ada beberapa cara yang digunakan untuk membedakan jenis dan

penyebab stroke, yaitu dengan menggunakan Skor Siriraj, Alogaritma Gadjah

Mada, dan Skor Hasanuddin. Pada kasus ini, digunakan Skor Hasanuddin:

No. Kriteria Skor

1. Tekanan Darah
Sistole≥200:Diastole≥110 7,5
Sistole<200:Diastole<110 1

2. Waktu Serangan
Sedang bergiat 6,5
Tidak sedang bergiat 1

3. Sakit Kepala
Sangat hebat 10
Hebat 7,5
Ringan 1
Tidak 0

4. Kesadaran Menurun
Langsung, beberapa menit s/d 1 jam setelah 10
onset
1 jam s/d 24 jam setelah onset 7,5
Sesaat tapi pulih kembali 6
24 jam setelah onset 1
Tidak ada 0

5. Muntah Proyektil
Langsung, beberapa menit s/d 1 jam setelah 10
onset
1 jam s/d <24 jam setelah onset 7,5
24 jam setelah onset 1
Tidak ada 0

Interpretasi skor Hasanuddin apabila total skor >15 maka stroke HS

dan total skor <15 maka stroke NHS. Pada kasus Ny. S total skor yang

12
diperoleh adalah 2. Hal ini berarti total skor yang diperoleh adalah <15. Oleh

karena itu, diagnosa sementara pasien ini adalah stroke non-hemoragik.

Namun, hal ini tidak lantas dijadikan acuan karena penentuan diagnosis baku

emas (gold standard) pasien dengan stroke adalah dengan menggunakan CT

Scan. CT Scan dapat membantu menentukan lokasi dan ukuran abnormalitas,

seperti daerah vaskularisasi, superfisial atau dalam, kecil atau luas. Namun

pada hasil CT Scan kepala pasien didapatkan kesan infark pada sisi Occipitalis

Dextra dan old and new lacunar infark cerebri dextra ( Occipitalis Dextra)

yang menegaskan bahwa diagnosis klinis pasien adalah stroke non

hemoragik.10

Penatalaksanaan pada pasien stroke non-hemoragik biasa dimulai

dengan pemberian anti agregasi/ anti platelet, neuroprotektan, dan

neurotropik.11

Selain terapi konservatif, dianjurkan pula untuk melakukan fisioterapi

dimana pada stroke non hemoragik dilakukan fisioterapi pada segera setelah

fase akut yang bertujuan untuk agar dapat terjadi neuroplastisitas/

terbentuknya neuron-neuron baru pada daerah yang sebelumnya terjadi infark.

Stroke dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup dan

mengendalikan atau mengontrol atau mengobati faktor-faktor risiko.

Pencegahan stroke dapat dibagi dua yaitu:11

a. Pencegahan Primer

13
Adalah upaya pencegahan (yang sangat dianjurkan) sebelum

terkena stroke. Caranya yaitu dengan mempertahankan Tujuh Gaya

Hidup Sehat, yaitu:

1) Berat badan diturunkan atau dipertahankan sesuai berat badan ideal

2) Makan makanan sehat

3) Olahraga yang cukup dan teratur dengan melakukan aktivitas fisik

yang punya nilai aerobic (jalan cepat, bersepeda, berenang, dan

lain-lain) secara teratur minimal 30 menit dan minimal tiga kali per

minggu

4) Kadar lemak (kolesterol) dalam darah kurang dari 200mg%

5) Kadar gula darah puasa kurang dari 100mg/dl

6) Tekanan darah dipertahankan 120/80 mmHg

b. Pencegahan Sekunder

Adalah upaya pencegahan agar tidak terkena stroke berulang yaitu:

1) Mengendalikan faktor risiko yang telah ada seperti mengontrol

darah tinggi, kadar kolesterol, gula darah, asam urat

2) Mengubah gaya hidup

3) Minum obat sesuai anjuran dokter secara teratur

D. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan neurologis, dan

pemeriksaan penunjang yaitu CT-Scan, maka dapat disimpulkan bahwa pasien

tersebut didiagnosa dengan stroke non-hemoragik.

14
Stroke infark terjadi akibat kurangnya aliran darah ke otak. Aliran

darah ke otak normalnya adalah 58 mL/100 gram jaringan otak per menit; jika

turun hingga 18 mL/100 gram jaringan otak per menit, aktivitas listrik neuron

akan terhenti meskipun struktur sel masih baik, sehingga gejala klinis masih

reversibel. Jika aliran darah ke otak turun sampai <10 mL/100 gram jaringan

otak per menit, akan terjadi rangkaian perubahan biokimiawi sel dan

membrane yang ireversibel membentuk daerah infark.5

Tanda utama stroke adalah munculnya secara mendadak satu atau lebih

defisit neurologik fokal. Stroke pada satu hemisfer otak akan menimbulkan

tanda dan gejala pada sisi tubuh yang berlawanan.

Penatalaksanaan stroke non-hemoragik berupa pemberian anti

agregasi/ anti platelet, neuroprotektan, dan neurotropik.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Truelsen, T. Begg, S. Mathers, C. The Global Burden of Cerebrovascular


Disease. 2000. Burden of Diseases. World Health Organization. 2000.
http://www.who.int/healthinfo/statistics/bod_cerebrovasculardiseasestroke
.pdf

2. Sabin JA, Roman GC. The Role of Citicoline in Neuroprotection and


Neurorepair in Ischemic Stroke. Brain Sci. 2013; (3): 1395-1396

3. Misbach SJ. Guideline Stroke 2011. PERDOSSI; 2011

4. Hinkle, JL. Guanci, MM. Acute Ischemic Stroke Review. J Neurosci Nurs.
2007; 39 (5): 285-293, 310

5. Setyopranoto I. Stroke: Gejala dan Penatalaksanaan. CDK. 2011; 38 (4):


247-250

6. WHO. Stroke, cerebrovaskuler accident. 2014.


http://www.who.int/topics/cerebrovasculer_accident/en diunduh pada
tanggal 1 Juni 2017

7. http://www.repositoryums.ac.id diakses pada tanggal 30 Oktober 2017

8. Kowalak PK, Welsh W, Mayer B. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC,


2012

9. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi konsep klinis proses-


proses penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2005.

10. I Made. Pendekatan terhadap Pasien Anemia. Buku ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : 2006. Hal : 632- 636.

11. Tutwuri Handayani. Hubungan Kadar Hemoglobin, Hematokrit dan


Eritrosit dengan Derajat Klinis pada penderita Strok Iskemik Akut.
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar : Tutwuri
Handayani.

16