Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

BAGIAN NEUROLOGI
AGUSTUS , 2020
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

AFASIA

Oleh :

FADILAH AULIA RAHMA, S. KED.

Pembimbing :
dr. Nurrusyariah, M.AppSci, M.NeuroSci, Sp.N

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian Neurologi)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama : FADILAH AULIA RAHMA, S.KED
Judul Refarat : AFASIA

Telah menyelesaikan refarat dalam rangka Kepanitraan Klinik di Bagian


Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Agustus 2020


Pembimbing,

dr. Nurrusyariah, M.AppSci, M.NeuroSci, Sp.N

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah subhanu wa ta’ala


karena atas rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga refarat
dengan judul “Afasia” ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat senantiasa
tercurah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sang pembelajar sejati
yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing, dr.
Nurrusyariah, M.AppSci, M.NeuroSci, Sp.N. yang telah memberikan petunjuk,
arahan dan nasehat yang sangat berharga dalam penyusunan sampai dengan
selesainya referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan referat ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi
penyempurnaan referat ini.
Demikian, semoga refarat ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan
penulis secara khususnya.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, Agustus 2020

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING......................................................ii

KATA PENGANTAR........................................................................................iii

DAFTAR ISI.......................................................................................................4

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 5

A. Definisi.............................................................................................. 5
B. Epidemiologi..................................................................................... 5
C. Anatomi dan Fisiologi....................................................................... 6
D. Etiologi.............................................................................................. 8
E. Patomekanisme................................................................................. 9
F. Gejala Dan Klasifikasi Afasia........................................................... 11
G. Diagnosis........................................................................................... 12
H. Pemeriksaan Penunjang.................................................................... 12
I. Penatalaksanaan................................................................................ 13
J. Komplikasi........................................................................................ 14
K. Prognosis........................................................................................... 15
L. Pencegahan ....................................................................................... 15

BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

4
BAB 1
PENDAHULUAN

Bahasa, bersama dengan bicara (speech), dan pemikiran (thoughts), merupakan


kompenen utama dalam pembentukan proses komunikasi. Pemikiran merupakan bagian dari
aspek bahasa dan tergantung pada fungsi bahasa, namun bahasa dapat berdiri sendiri tanpa
adanya pemikiran.1
Setiap orang menggunakan bahasa. Berbicara, memperoleh kata-kata yang tepat,
memahami sesuatu, membaca, menulis, dan melakukan isyarat adalah merupakan bagian dari
penggunaan bahasa. Ketika satu atau lebih dari penggunaan bahasa tidak lagi berfungsi
dengan baik (yang dikarenakan oleh cedera otak), maka kondisi tersebut dinamakan afasia.
Afasia, A (= tidak) fasia (= bicara) berarti seseorang tidak dapat lagi mengungkapkan apa
yang dia mau. Dia tidak bisa lagi menggunakan bahasa. Selain afasia, dapat terjadi
kelumpuhan dan/atau masalah masalah sehubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu
secara sadar, kemampuan mengamati situasi di sekelilingnya, konsentrasi, pengambilan
inisiatif, dan kemampuan mengingat. Penderita afasia tidak dapat melakukan dua hal pada
waktu yang bersamaan.2
Afasia merupakan gangguan fungsi bahasa karena kerusakan pusat bahasa di otak.
Kerusakan tersebut dapat disebabkan langsung maupun tidak langsung dari penyakit otak,
ataupun dapat diakibatkan dari proses degenratif.1
Umumnya penderita afasia akan keliru dalam memilih dan merangkai kata-kata
menjadi sebuah kalimat yang benar. Akan tetapi, kondisi ini tidak memengaruhi tingkat
kecerdasan dan daya ingat penderitanya.3
Ada berbagai jenis afasia yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien, sehingga
perlu pemeriksaan khusus yang teliti. Pekembangan teknologi pencitraan (imaging) otak
memang akan sangat membantu, namun dibutuhkan penilaian klinis yang lebih spesifik
sesuai dengan patologi dan lokasi lesi penyebab afasia.1

BAB II

5
PEMBAHASAN

A. Definisi
Afasia adalah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kerusakan pada
bagian otak yang mengandung bahasa (biasanya di hemisfer serebri kiri otak).
Individu yang mengalami kerusakan pada sisi kanan hemisfer serebri kanan otak
mungkin memiliki kesulitan tambahan di luar masalah bicara dan bahasa. Afasia
dapat menyebabkan kesulitan dalam berbicara, mendengarkan, membaca, dan
menulis, tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan. Individu dengan afasia mungkin juga
memiliki masalah lain, seperti disartria, apraxia, dan masalah menelan.4

B. Epidemiologi
Afasia merupakan defisit neurologis fokal yang dapat memengaruhi hidup
penderitanya akibat hendaya komunikasi. Insidens afasia menurut National Stroke
Association tahun 2008 terdapat 80.000 kasus baru pertahunnya di Amerika serikat.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) menyatakan
penderita afasia di Amerika Serikat mencapai 1 juta orang, atau satu dari 250 warga
negara Amerika Serikat mengalami afasia. Sebanyak 15% diantaranya berusia <65
tahun dan 43% berusia >85 tahun. Tidak terdapat perbedaan makna antar jenis
kelamin dengan afasia. Walaupun demikian, terdapat kecenderungan bahwa
perempuan lebih banyak mengalami afasia Wernicke dan global, sedanggkan laki-laki
sering mengalami afasia Broca.1

C. Anatomi Dan Fisiologi


Korteks terbagi kepada empat lobus yaitu lobus frontalis berfungsi untuk
mongontrol motorik dan fungsi eksekutif yang lebih tinggi, lobus parietalis untuk
fungsi sensoris, lobus temporalis untuk mendengar, mengestor memori dan
pemahaman bahasa, dan lobus occipitalis untuk persepsi visual.4

6
Gambar 1: Anatomi kortek serebri kiri

Terdapat 3 area utama pusat bahasa yaitu, area Broca, area Wernicke dan area
konduksi:
 Area Broca yang merupakan area motorik untuk berbicara. Area Broca terletak di
posterior gyrus frontal. Secara neuroanatomi, daerah ini digambarkan sebagai daerah
Brodman 44 dan 45.
 Area Wernicke dimana pusat pemprosesan kata kata yang diucapkan terletak di
posterior gyrus temporal superior. Secara neuroanatomi, daerah ini digambarkan sebagai
daerah Brodmann 22.
 Area konduksi terdiri daripada fasikulus arkuata yang merupakan satu bundel saraf
yang melengkung dan menguhubungkan antara area Broca dan area Wernicke. Kerusakan
fasikulus arkuata menyebabkan: timbul defisit unutk mengulang kata kata.
 Area Exner terletak tepat di atas area Broca dan anterior area kontrol motor primer.
Ini adalah area untuk menulis,berhampiran dengan lokasi gerakan tangan. Kerusakan area
Exner akan mengakibatkan agraphia. Dikenali sebagai daerah Brodmann 6 secara
neuroanatomi.
 Area membaca terletak di bagian media lobus oksipital kiri dan di splenium corpus
callosum. Ini adalah pusat untuk membaca. Ia menerima impuls dari mata dan mengirimkan
impuls tersebut ke daerah asosiasi untuk dianalisa dengan, kemudian dihantar ke fasikulus
7
arkuata. Lesi pada area ini menyebabkan kebutaan kata murni. Daerah ini neuroanatomi
digambarkan sebagai daerah Brodmann.4

Gambar 2: Percabangan Arteri Serebri Media


Arteri yang menyuplai area Broca dan area Wernicke ialah Arteri Serebri Media.
Arteri Serebri Media terbagi menjadi 4 segmen, yaitu M1 (dari ICA ke bifurkasi atau
8
trifurcation), M2 (dari bifurkasi MCA ke sulkus melingkar insula), M3 (dari sulkus melingkar
dengan aspek dangkal dari fisura Sylvian), dan M4, yang terdiri dari cabang kortikal.
Segmen M1 bercabang menjadi arteri lenticulostriate, yang memasuki komisura
anterior, kapsul internal, nukleus kaudatus, putamen dan globus pallidus, dan arteri
temporalis anterior, yang menyuplai lobus temporal anterior.
Segmen M2 bermula dari titik divisi utama segmen M1, selama insula dalam fisura
Sylvian, dan berakhir pada margin insula. Terdapat dua percabangan utama yaitu
percabangan terminal superior terdiri dari arteri frontobasal lateral (orbito-frontal) arteri
sulcal prefrontal, arteri sulcal pra-Rolandic (precentral) dan Rolandic (pusat). Percabangan
terminal inferior bercabang mnejadi tiga ke arteri di temporal (anterior, tengah, posterior),
bercabang ke angular gyrus dan menjadi dua cabang yang menyuplai di area parietal
(anterior, posterior).
Segmen M3 dimulai pada sulkus insula dan berakhir di permukaan fisura Sylvian.
Bagian ini dikirimkan melalui permukaan opercula frontal dan temporal untuk mencapai
permukaan luar fisura Sylvian.
Segmen M4 dimulai pada permukaan fisura Sylvian dan membentang di atas
permukaan serebri. Cabang kortikal, yang memasok frontal, parietal, temporal, dan oksipital,
adalah sebagai berikut:
 Orbitofrontal
 Prefrontal
 Presentral
 Sentral
 Anterior dan posterior parietal
 Temporo-oksipital
 Sementara
 Cabang Temporopolar

D. Etiologi
Afasia disebabkan oleh cedera otak. Penyebab cedera otak pada umumnya disebabkan
oleh kelainan pada pembuluh darah. Kelainan tersebut juga dinamakan pendarahan otak,
gangguan pembuluh darah otak, atau geger otak. Istilah medisnya adalah CVA, Cerebro
(= otak) Vasculair (= pembuluh darah) Accident (= kecelakaan). Penyebab lain terjadinya
afasia adalah trauma (cedera pada otak karena kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu
9
lintas) atau tumor otak. Otak kita membutuhkan oksigen dan glukosa untuk dapat
berfungsi. Jika terjadi CVA atau gangguan lainnya yang menyebabkan terganggunya
sistem aliran darah di otak, maka lambat laun sel-sel otak di bagian tersebut akan
mengalami kematian. Di otak terdapat berbagai bagian dengan fungsi yang berbeda-beda.
Pada kebanyakan orang, bagian untuk kemampuan menggunakan bahasa terdapat di sisi
kiri otak. Jika terjadi cedera pada bagian bahasa di otak, maka terjadi afasia.2

E. Patomekanisme
Permukaan otak terdiri atas korteks atau grey matter, yang menjadi pusat sebagian
besar aktifitas manusia termasuk pengaturan tata bahasa yang merepresentasikan pula
pengetahuan tentang bahasa. Korteks adalah organ tempat pengambilan keputusan,
setalah menerima pesan dari seluruh organ sensori dan melakukan segala aktifitas
volunter.1

Gambar 4 : Serabut fasikulus potongan sagital

10
Gambar 5: Serabut fasikulus potongan koronal

Otak juga disusun oleh hemisfer serebri kiri dan kanan, serta dihubungkan oleh
korpus kolosum. Secara umum, hemisfer kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan dan
hemisfer kanan mengatur mengatur bagian tubuh sebelah kiri. Pusat bahasa tradisional
adalah pusat bahasa motorik Broca dan pusat bahasa reseptif Wernicke yang biasanya
terletak di hemisfer dominan (tersering adalah hemisfer kiri baik pada dominansi tangan
kanan maupun kiri). Keduanya dihubungkan oleh jaras transkortikal yang disebut
fasikulus arkuata.
Komponen neuroanatomi yang berperan dalam proses produksi bahasa dan
pemahaman sangat rumit. Komponen ini meliputi masukan (input) auditori dan
pengkodean bahasa di lobus temporal superior, analisis bahasa dilobus parietal dan
ekspresi dilobus frontal. Masukan tersebut kemudian naik ke traktus kotikobulbar menuju
kapsula interna dan batang otak, dengan efek modulator dari ganglia basal dan serebelum.
Terakhir, masukan dimaknai sebagai bahasa lengkap dengan kosakata, makna sintaksis
dan gramatikal di interkoneksi antar pusat-pusat bahasa.1

11
F. Gejala Dan Klasifikasi Afasia
1. Afasia Broca
Area Broca berada dikorteks insula media dan mendapatkan suplai darah dari arteri
serebri media segmen M2 divisi superior. Sumbatan atau oklusi di arteri tersebut
dapat menyebabkan terjadinya afasia Broca.1
Gambaran Klinik afasia Broca
 Biacara tidak lancar
 Tampak sulit memulai bicara
 Kalimatnya pendek (5 kata atau kurang perkalimat)
 Pengulangan (repetisi) buruk
 Kemampuan menamai buruk
 Kesalahan parafasia
 Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memahami kalimat yang
sintaktis kompleks)
 Gramatika bahasa kurang, tidak kompleks
 Irama kalimat dan irama bicara terganggu.2

2. Afasia Wernicke
Afasia Wernicke adalah sindrom afasia klasik yang berhubungan dengan gangguan
pada pemahaman berbahasa akibat lesi pada korteks temporoparietal posterior kiri,
yang akan memengaruhi elemen utama sistem sistem fonologi dan semantik yang
berperan dalam pemahaman bahasa. Kelainan tersebut disebabkan sumbatan akibat
trombosis maupun emboli pada arteri serebri media segmen M2 divisi inferior pada
sisi hemisfer dominan (umumnya kiri) yang memperdarahi lobus superior temporal.1
Gambaran klinik Afasia Wernicke
 Keluaran afasik yang lancar
 Panjang kalimat normal
 Artikulasi baik
 Prosodi baik
 Anomia (tidak dapat menamai)
 Parafasia fonemik dan semantik
 Komprehensi auditif dan membaca buruk

12
 Repetisi terganggu
 Menulis lancar tapi isinya kosong.2
3. Afasia Global
Afasia tipe ini terjadi karena adanya lesi luas yang meliputi area Broca maupun
Wernicke, bisa akibat infark luas daerah parenkim otak yang diperdarahi oleh arteri
serebri media. Gangguan terjadi pada seluruh komponen fungsi berbahasa. Terkadang
afasia global juga dapat disertai dengan apraksia verbal.1
Gambaran klinik Afasia Global
 Produksi kata terbatas dan tidak memiliki makna
 Gangguan berat repetisi
 Gangguan berat membaca dan menulis.2
4. Afasia Transkortikal
Afasia ini memiliki gangguan klinis berupa kesulitan dalam mengekspresikan bahasa,
namun pemahaman relatif baik, menurut Benson dan Ardila, afasia jenis ini terbagi
menjadi 2 tipe yaitu
a) Tipe 1 (afasia dinamik), merupakan bentuk evolusi dari afasia Broca. Tipe 1
diperkirakan berada di area Broadmann 45 hemisfer dominan, lebih anterior
dari arrea Broca.
b) Tipe II (afasia supplementary motor area/SMA) berada di supplementary area
hemisfer dominan.2
5. Afasia anomik
Semua pasien dengan afasia tipe anomik, memiliki masalah dalam mengingat nama
sebuah benda. Gangguan penamaan ini disebabkan oleh gangguan dalam kemampuan
berbahasa. Afasia anomik yang terjadi pada seorang diakibatkan oleh adanya
aneurisma pada pembuluh darah otak, sehingga menghambat aliran darah menuju area
berbahasa. Afasia anomik biasanya disebabkan oleh adanya lesi pada lobus temporal
kiri inferior, di dekat batas antara lobus temporal dan oksipital.1
Gambaran klinik Afasia anomik
 Keluaran lancar
 Komprehensi baik
 Repetisi baik
 Gangguan (defisit) dalam menemukan kata.2

13
G. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis afasia, sebagaimana diagnosis pada kasus neurologi
pada umumnya, perlu dikaji dari empat aspek, yaitu aspek klinis, topis, patologis dan
etiologis. Kajian dimulai sejak awal pemeriksaan klinis fungsi luhur lanjutan terutama
modalitas bahasa, radiologis otak, dan penunjang lainnya yang relevan. Dalam klinis,
diagnosa afasia dapat berubah dan atau berkembangsesuai dengan kelengkapan
pemeriksaan afasia selama pemantauan.1

H. Pemeriksaan penunjang
Metode pencitraan dapat mengkonfirmasi lokasi gangguan pusat bahasa. Termasuk
pencitraan pembuluh untuk sistem karotis, vertebralis, dan intrakranial melalui
angiografi, CT dan atau MRI angiografi, USG Dopler arteri karotis dan vertebra, serta
Dopler transkranial.1

I. Penatalaksanaan

Pengobatan afasia tergantung pada jenis afasia, bagian otak yang rusak, penyebab
kerusakan otak, serta usia dan kondisi kesehatan pasien. Jika kerusakan otak tergolong
ringan, afasia dapat membaik dengan sendirinya. Jika kondisinya cukup berat,
pengobatan bisa dilakukan dengan beberapa metode berikut:
 Terapi wicara
14
Sesi terapi wicara dan bahasa bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi
dan berbicara. Sesi terapi ini harus dilakukan secara rutin. Terapi wicara bisa dilakukan
dengan menggunakan teknologi seperti program komputer atau aplikasi. Terapi ini
dianjurkan untuk penderita afasia akibat stroke.
 Obat-obatan
Beberapa jenis obat juga dapat diberikan oleh dokter untuk membantu menangani afasia.
Obat-obatan yang diberikan biasanya bekerja dengan melancarkan aliran darah ke otak,
mencegah berlanjutnya kerusakan otak, serta menambah jumlah senyawa kimia yang
berkurang di otak.
 Operasi

Prosedur operasi juga dapat dilakukan jika afasia disebabkan oleh tumor otak. Operasi
bertujuan untuk mengangkat tumor di otak. Prosedur ini diharapkan akan membantu
mengatasi afasia.3

J. Komplikasi
Karena memengaruhi kemampuan berkomunikasi, afasia dapat berdampak pada
kehidupan sehari-hari penderitanya, termasuk dalam hal pekerjaan dan hubungan pribadi.
Jika tidak ditangani dengan baik, afasia juga dapat menyebabkan munculnya gangguan
kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi.3

K. Prognosis
Prognosis hidup untuk afasia tergantung pada penyebab afasia, dan tingkat
kesembuhannya juga bervariasi tergantung pada ukuran lesi dan umur serta keadaan
umum pasien.

L. Pencegahan
Belum ada cara pasti untuk mencegah terjadinya afasia. Langkah terbaik yang dapat
dilakukan adalah mencegah kondisi yang dapat menyebabkan afasia. Pencegahan tersebut
dapat dilakukan dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti:

 Berhenti merokok
 Melakukan olahraga secara teratur setidaknya 30 menit setiap hari
 Menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
 Menjaga pikiran tetap aktif, misalnya dengan membaca atau menulis

15
 Menjaga berat badan agar tetap ideal dan terhindar dari obesitas.

BAB III
KESIMPULAN

 Afasia merupakan gangguan kemampuan berbahasa


16
 Gejala pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi dan atau memahami
bahasa.
 Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak.
 Penyebab cedera otak pada umumnya disebabkan oleh kelainan pada pembuluh
darah. Kelainan tersebut juga dinamakan pendarahan otak, gangguan pembuluh
darah otak, atau geger otak.
 Penyebab lain terjadinya afasia adalah trauma (cedera pada otak karena
kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas) atau tumor otak.
 Terapi utama afasia adalah terapi wicara

DAFTAR PUSTAKA

17
1. Anindhita, T. dan Wiratman, W. Buku Ajar Neurologi, Departemen Neurologi
FKUI, Jakarta, 2017. hal. 181-94.
2. Association Internationale Aphasie (AIA) 2017 www.aphasia-
international.com
3. Doogan, et al. 2018. Aphasia Recovery: When, How and Who to Treat?.
Current neurology and neuroscience reports, 18(12), pp. 90.
4. Bahan Ajar Afasia FK unhas. 2017. Med.unhas.ac,id
5. S.M Lumbantobing. 2018. Neurologi Klinik. Badan Penerbit FK UI. Jakarta
Badan Penerbit FK UI. hal 156-75.

18