Anda di halaman 1dari 4

PENDALAMANMATERI

(LembarKerjaResume Modul)

A. JudulModul : AL-ASMA’ AL-HUSNA III


B. Kegiatan Belajar : (KB 4)

C. Refleksi

NO BUTIR REFLEKSI RESPON/JAWABAN


1.

al-
al-Hadi
Hasib
al- al-
Malik Khaliq

A. Memahami
ar- Kebesaran Allah al-
Swt. melalui Al-
Razzaq Asma al-Husna Hakim

Peta Konsep(Beberapa
1 istilah dan definisi) di 2. Ar-Razzâq berarti Allah Maha Pemberi Rezeki. Rezeki
modul bidang studi berasal dari kata rizq yang pada mulanya ditulis oleh Ibn
Faris (dikutip oleh M. Quraish Shihab), berarti pemberian
untuk waktu tertentu. Namun demikian, arti asal ini
berkembang sehingga rezeki diartikan sebagai pangan,
pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan, dan lain-lain, bahkan
anugerah kenabian pun dinamai rezeki.
3. M. Quraish Shihab mengutip pendapat Imam Ghazali
bahwa sifat Allah ArRazzâq berarti Dia yang menciptakan
rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki serta Dia
pula yang mengantar rezeki itu kepada mereka dan
menciptakan sebab-sebab perolehannya sehingga
makhluk dapat menikmati rezeki itu.
4. Al-Malik berarti Allah Maha Pemilik dan Maha Raja.
Khairunnas Jamal dan Kadarusman mengutip Abu al-
Qasim al-Qusyairi bahwa kata Malik (‫( مالك‬terdiri dari tiga
huruf, yaitu mim, lam, dan kaf yang memiliki arti kuat dan
sehat.
5. Dari akar kata tersebut terbentuk kata kerja malaka-
yamliku yang artinya kewenangan untuk memiliki sesuatu.
6. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata (‫ملك‬
(Malik/Raja biasanya digunakan untuk penguasa yang
mengurus manusia, berbeda dengan (‫( كالم‬Mâlik/Pemilik
yang biasanya digunakan untuk menggambarkan
kekuasaan si pemilik terhadap sesuatu yang tidak
bernyawa. Kalau demikian, adalah wajar apabila ayat
kedua surah an-Naas ini tidak dibaca Maalik dengan
memanjangkan huruf mim (‫( م‬mim, sebagaimana dalam
surah alFatihah.
7. Al-Hâsib berarti Allah Maha Menghitung dan Maha
Mencukupi. Dalam Bahasa Arab, Al-Hâsib memiliki dua
arti, yaitu menghitung dan mencukupi. Umar Sulaiman
alAsyqar menutip Abu Ishak Az-Zujaj bahwa Al-Hâsib
berarti Yang Menghitung amalanku dan juga berarti
mencukupiku
8. Menurut Abul Qosim az-Zujaj bahwa Al-Hâsib berarti
Yang Menghitung amalan segala sesuatu dan Yang
Menyetujui (atau tidak)nya. Allahlah yang menghitung
amalan-amalan hamba (dan yang memberikan balasan
atas amalanamalan itu).
9. Kata “Hasîban” terdiri dari huruf “ha”, “sin”, dan “ba”
mempunyai empat kisaran makna,yakni menghitung,
mencukupkan, bantal kecil, dan penyakit yang menimpa
kulit sehingga memutih.
10. M. Quraish Shihab pendapat Imam Ghazali bahwa “al-
Hâsib” berarti Dia yang mencukupi siapa yang
mengandalkannya. Sifat ini tidak dapat disandang kecuali
Allah sendiri karena hanya Allah yang dapat mencukupi
lagi diandalkan oleh setiap makhluk. Allah sendiri yang
dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan
kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan
menyempurna-kannya
11. Al-Hâdî berarti Allah Maha Memberi Petunjuk dan
menunjukkan hamba-hambaNya kepada-Nya,
menunjukkan jalan kebajikan dan amalan yang bisa
mendekatkan kepada-Nya.
12. Menurut Umar Sulaiman al-Asyqar, hidayah ada dua
macam, yaitu:
Pertama, petunjuk dan pengarahan. Sebagaimana firman
Allah Swt dalam QS. Fushshilat [41]: 17 Artinya: “Dan
adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk
tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan)
daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir
sebagai azab yang menghinakan disebabkan apa yang te-
lah mereka kerjakan.”
Kedua, hidayah yang hanya diberikan Allah Swt. Hidayah
ini hanya Allah Swt yang mampu memberikan kepada
hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Semua manusia
tidak mampu memberikan hidayah ini, bahkan Rasulullah
Saw pun tidak mampu memberikan hidayah kepada
orang- orang yang beliau kasihi.
13. M. Quraish Shihab mengutip pendapat Thahir Ibn
‘Asyur bahwa ayat ke-6 di atas dapat dipahami dalam arti
sebagai permohonan agar kiranya Allah Swt
menganugerahkan kepada si pemohon melalui naluri,
pancaindera, akal, dan agama kemampuan untuk
menggapai jalan lurus lagi luas itu.
14. Al-Khâliq berarti Allah Maha Pencipta. Allah Swt telah
menciptakan seluruh makhluk-Nya yang ada dari
ketiadaan. Menciptakan dan membentuk dalam bentuk
yang berbeda dari yang sudah ada
15. Al-Khâliq dan Al-Bâri’ mengacu pada makna Zat yang
mengadakan semua makhluk dari ketiadaan, tanpa
menyerupai bentuk yang sudah ada sebelumnya. Hanya
saja, makna al-Bâri’ menunjuk pada makna khusus
menciptakan binatang dan sangat jarang digunkan untuk
arti selainnya
16. Kata Al-Khallâq bentuk superlatif menunjukkan arti
banyaknya yang telah diciptakan dan diadakan oleh Allah
Swt. Kata al-Bâdi bermakna Zat yang mengadakan dari
ketiadaan, yang tidak serupa dengan bentuk yang sudah
ada.
17. Menurut M. Quraish Shihab, hakikat ibadah mencakup
dua hal pokok, yaitu:
pertama, kemantapan makna penghambaan diri kepada
Allah dalam hati setiap insan. Kemantapan perasaan
bahwa ada hamba dan ada Tuhan, hamba yang patuh dan
Tuhan yang disembah (dipatuhi). Tidak selainnya. Tidak
ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya
adalah hamba-hamba-Nya.
Kedua, mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada
nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam
hidup. Semuannya hanya mengarah kepada Allah secara
tulus. Melepaskan diri dari segala perasaan yang lain dan
dari segala makna selain makna pengambaan diri kepada
Allah
18. Al-Hâkim berarti Allah Mahabijaksana. Bijaksana dalam
mengambil keputusan hukum secara adil, tidak pilih kasih
serta menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempat
dan waktunya yang tepat.
19. Menurut Umar Sulaiman al-Asyqar, sifat Allah Swt
sebagai Al-Hâkîm mempunyai dua arti, yaitu: Pertama,
Yang Mengatur dan Menentukan Segala Sesuatu.
20. Menurut Umar Sulaiman al-Asyqar, sifat Allah Swt
sebagai Al-Hâkîm mempunyai dua arti, yaitu:
Pertama, Yang Mengatur dan Menentukan Segala Sesuatu.
Dia yang mengatur semua firman dan tindakan-Nya,
sehingga benar dan teliti. KetelitianNya berupa ketepatan
dalam meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dia
mengatur semua makhluk- Nya dengan baik dan
menciptakan semua makhluk-Nya dalam bentuk paling
baik.
Kedua, Allah adalah hukum itu sendiri dan yang mengadili
di antara hambahamba-Nya. Allah Swt adalah hakim
dengan sebaik-baik Pemberi keputusan dan Pengadil yang
seadil-adilnya Firman-Nya:16 ﴿ Artinya: “Bukankah Allah
hakim yang paling adil?” (Q.S. At-Tîn [95]: 8).
21. M. Quraish Shihab menafsirkan ayat di atas bahwa
Bukahkah Allah yang telah mencipta manusia dalam
bentuk sebaik-baiknya dan mengutus para nabi untuk
menunjuki mereka jalan lurus dan bukahkah Dia
sebijaksana- bijaksana dan seadil-adil Hakim Pemutus
Perkara dan Pengatur segala sesuatu dalam bentuk dan
cara terbaik? Benar.

1. Memahami Kebesaran Allah Swt. melalui Al-Asma al-


Husna (ar- Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khaliq
dan al-Hakim)
Daftarmateri bidang studi
2. fakta dan fenomena-fenomena kebenaran sifat- sifat Allah
2 yangsulit dipahami pada
modul yang terkandung dalam al-Asma’ al- Husnâ yang meliputi
sifat (arRazzâq, al- Malik, al-Hâsib, al-Hâdî, al-Khâliq dan
al-Hakîm)
3. Dst.

1. Memahami Kebesaran Allah Swt. melalui Al-Asma al-


Daftarmateriyangsering
Husna (ar- Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khaliq
3 mengalami miskonsepsi
dalam pembelajaran dan al-Hakim)

Anda mungkin juga menyukai