Anda di halaman 1dari 53

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN

HEMOROID

Dosen Pembimbing:
Eddy Rosfiati, S.Kp,.M.Kep,.Ns.Kv,.Sp.Kep.MB
Disusun Oleh:
Agnes Riana 202015001
Farah Donna Maulidiane 202015006
Gina Indah Aulia 202015064
Rai Adhi Tami 202015014
Rosa Amalia 201611015
Suryandini Hermawan 202015020
Vika Sabilla 202015023

STIKes JAYAKARTA PKP DKI JAKARTA

Jalan Raya PKP Kecamatan Ciracas – Jakarta Timur 13730

Telp./fax (021) 22852216 email stikkesjayakarta1@gmail.com

Website www.stikkesjayakartapkp.ac.id
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya


bagi kita semua. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.
Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini guna
memenuhi tugas “Keperawatan Medikal Bedah”.
Adapun makalah yang kami susun ini berjudul “Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Hemoroid”. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan
yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
makalah ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga kendala-
kendala yang kami hadapi teratasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kata sempurna untuk itu kamu membutuhkan bantuan kritik dan saran dari
para pembaca demi perbaikan perubahan proposal di masa yang akan datang.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terimakasih. Maka dari itu apabila
ada kesalahan dan kata kata yang kurang berkenan, kami selaku penulis mohon
maaf yang sebesar besarnya.

Jakarta, Mei 2021

Kelompok B
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................4
A. Latar Belakang.....................................................................................................4
B. Tujuan...................................................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORI..........................................................................................6
A. Pengertian.............................................................................................................6
B. Anatomi dan Fisiologi..........................................................................................6
C. Etiologi...............................................................................................................10
D. Klasifikasi...........................................................................................................11
E. Manifestasi Klinis..............................................................................................11
F. Patofisiologi.......................................................................................................12
G. Komplikasi.........................................................................................................16
H. Pemeriksaan Penunjang.....................................................................................16
I. Penatalaksanaan Medis......................................................................................16
J. Perawatan Perioperatif.......................................................................................18
K. Pengkajian..........................................................................................................19
L. Diagnosis Keperawatan......................................................................................20
M. Rencana Keperawatan........................................................................................20
N. Evaluasi Keperawatan........................................................................................24
BAB III KASUS..........................................................................................................26
A. KASUS...............................................................................................................26
B. LAPORAN KASUS KELOLAAN KELOMPOK.............................................27
BAB IV PEMBAHASAN...........................................................................................46
BAB V DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................52
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hemoroid atau yang sering dikenal dengan penyakit wasir atau ambeien
merupakan penyakit yang sangat umum terjadi di masyarakat dan sudah ada
sejak jaman dahulu. Kejadian hemoroid cenderung meningkat seiring
bertambahnya usia seseorang, dimana insidennya lebih tinngi pada seseorang
yang berusia 20-50 tahun. Pada usia diatas 50 tahun ditemukan 50% populasi
mengalami hemoroid (Joyce. & Hawks, 2014). Menurut data WHO, jumlah
hemoroid di dunia pada tahun 2014 mencapai lebih dari 230 jiwa dan
diperkirakan meningkat menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2030. Berdasarkan
data dari The National Center of Health Statistics di Amerika Serikat,
prevalensi hemoroid sekitar 4,4% (Buntzen et al., 2013).
Di Indonesia sendiri untuk penelitian prevalensi dalam skala nasional juga
belum diketahui pasti. Belum banyak data mengenai prevalensi hemoroid di
Indonesia. Menurut data Depkes, (2015) prevalensi hemoroid di Indonesia
setidaknya 5,7% dari total populasi atau sekitar 10 juta orang, namun lainnya
1,5% saja yang terdignosa. Jika data Riskesda, (2015) (Riset Kesehatan
Dasar) menyebutkan ada 12,5 juta jiwa penduduk Indonesia mengalami
hemoroid. Beberapa faktor resiko terjadinya hemoroid antara lain adalah
konstipasi dan lamanya mengedan karena adanya feses yang keras dan
peningkatan tekanan intraabdomen yang menyebabkan obstruksi system
vena, mengakibatkan pembesaran pleksus hemoroidal (Griffiths, 2019).
Tindakan hemoroidektomi adalah terapi bedah yang bertujuan untuk
menghilangkan pembuluh darah yang mengalami masalah. Terapi bedah ini
dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita
hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan pada penderita
dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh dengan cara
terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang
mengalami trombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera dengan
hemoroidektomi. Prinsip yang harus diperhatikan pada hemoroidektomi
adalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar kelebihan.
Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang normal
dengan tidak mengganggu sfingter anus (Sjamsuhidajat, 2010).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien hemoroid.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian hemoroid
b. Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi hemoroid
c. Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab hemoroid
d. Mahasiswa mampu menjelaskan klasifikasi hemoroid
e. Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis hemoroid
f. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi hemoroid
g. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang hemoroid
h. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis hemoroid
i. Mahasiswa mampu menjelaskan perawatan perioperatif hemoroid
j. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan hemoroid
menurut teori
k. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien
hemoroid
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di
daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Di bawah atau diluar
linea dentate pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) disebut
hemoroid eksterna. Sedangkan diatas atau di dalam linea dentate, pelebaran
vena yang berada di bawah mukosa (submukosa) disebut hemoroid interna
(Sudoyo A. W., Setiyohadi B., Alwi I., Setiati S., 2006). Hemoroid adalah
vena-vena yang berdilatasi, membengkak di lapisan rektum. Menurut Arif
Muttaqin & Kumala Sari (2013), walaupun kondisi ini merupakan kondisi
patologis, tetapi karena sering menyebabkan keluhan pada pasien sehingga
memberikan manifestasi untuk diberikan intervensi. Hemoroid mempunyai
nama lain seperti wasir dan ambeien, sedangkan Marlene Hurst (2016)
menyebut hemoroid sebagai varikosa (terpelintir/tersimpul) vena pada saluran
anus.
Wasir atau hemoroid adalah pembengkakan atau pembesaran dari pembuluh
darah di usus besar bagian akhir (rektum), serta dubur atau anus. Wasir
merupakan penyakit yang dapat menyerang segala usia, namun umumnya
lebih sering menimbulkan keluhan pada usia 50 tahun atau lebih (Muttaqin &
Sari, 2011).

B. Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
Bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rektum dan
membentang dari kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian luar
tubuh). Satu inci terakhir dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan
dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus. Panjang rektum
dan kanalis ani adalah sekitar 15cm (5,9 inci). Usus besar secara klinis
dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan pada suplai darah yang
diterima. Arteria mesenterika superior mendarahi belahan kanan (sekum,
kolon asendens, dan dua pertiga proksimal kolon transversum) dan arteria
mesenterika inferior mendarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon
transversum, kolon asendens, kolon sigmoid dan bagian proksimal
rektum). Suplai darah tambahan ke rectum berasal dari arteri hemoroidalis
media dan inferior yang dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta
abdominalis.

Keterangan:
a. Rektum
Rektum adalah sebuah ruangan dengan panjang sekitar 12 sampai 15
cm yang berada diantara ujung usus besar (setelah kolon sigmiod/turun)
dan berakhir di anus. Fungsi rektum adalah menyimpan feses untuk
sementara waktu, memberitahu otak untuk segera buang air besar dan
membatu mendorong feses sewaktu buang air besar. Ketika rektum
penuh dengan feses, maka rectum akan mengembang dan sistem saraf
akan mengirim implus (rangsangan) otak sehingga timbul keinginan
untuk buang air besar.
b. Kolom Anal
Kolom anal (anal column) atau kolom Morgagni adalah sejumlah lipatan
vertikal yang diproduksi oleh selaput lendir dan jaringan otot di bagian
atas anus. Fungsi kolom anal adalah sebagai pembatas dinding anus.
c. Anus
Anus adalah pembukaan yang dilewati oleh kotoran manusia saat
kotoran tersebut meninggalkan tubuh.
d. Kanalis Anal
Kanalis anal (anal canal) adalah saluran dengan panjang sekitar 4 cm
yang dikelilingi oleh sfingter anus. Bagian atasnya dilapisi oleh mukosa
glandular rektal. Fungsi kanalis anal adalah sebagai penghubung antara
rektum dan bagian luar tubuh sehingga feses bisa dikeluarkan.
e. Sfingter Anal Eksternal
Sfingter anal eksternal (external anal sphincter) adalah serat otot lurik
berbentuk elips dan melekat pada bagian dinding anus. Panjangnya
sekitar 8 sampai 10 cm. Fungsi sfingter anal eksternal adalah untuk
membuka dan menutup kanalis anal.
f. Pectinate Line
Pectinate line (terjemahan masih dipertanyakan) adalah garis yang
membagi antara bagian dua pertiga (atas) dan bagian sepertiga (bawah)
anus. Fungsi garis ini sangatlah penting karena bagian atas dan bawah
pectinate line memiliki banyak perbedaan. Misalnya, jika wasir terjadi
di atas garis pectinate, maka jenis wasir tersebut disebut wasir internal
yang tidak menyakitkan. Sedangkan jika di bawah, disebut wasir
eksternal dan menyakitkan. Asal embriologinya juga berbeda, bagian
atas dari endoderm, sedangkan bagian bawah dari ektoderm.
2. Fisiologi
Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui vena
mesenterika superior, vena mesenterika inferior, dan vena hemoroidalis
superior (bagian sistem portal yang mengalirkan darah ke hati). Vena
hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka
sehingga merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosis
antara vena hemoroidalis superior, media, dan inferior, sehingga tekanan
portal yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya aliran balik ke
dalam vena dan mengakibatkan hemoroid.
Keterangan:
a. Internal Hemorrhoid
Pembengkakan vena pada pleksus hemorrhoidalis interna disebut
dengan hemorrhoid internal.
b. External Hemorrohoid
Pleksus hemorrhoid eksterna, apabila terjadi pembengkakan maka
disebut hemorrhoid eksterna (Isselbacher, 2000). Letaknya distal
dari linea pectinea dan diliputi oleh kulit biasa di dalam jaringan di
bawah epitel anus, yang berupa benjolan karena dilatasi vena
hemorrhoidalis.
Terdapat dua jenis peristaltik propulsif:
1) Kontraksi lamban dan tidak teratur, berasal dari segmen
proksimal dan bergerak ke depan, menyumbat beberapa
haustra.
2) Peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan
segmen kolon. Gerakan peristaltik ini menggerakkan
massa feses ke depan, akhirnya merangsang defekasi.
Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh
reflek gastrokolik setelah makan, terutama setelah makan yang pertama
kali dimakan pada hari itu. Propulasi feses ke dalam rektum
menyebabkan terjadinya distensi dinding rektum dan merangsang
refleks defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan
interna. Sfingter interna dikendalikan oleh sistem saraf otonom,
sedangkan sfingter eksterna dikendalikan oleh sistem saraf voluntary.
Refleks defekasi terintegrasi pada medula spinalis segmen sakral kedua
dan keempat. Serabut parasimpatis mencapai rektum melalui saraf
splangnikus panggul dan menyebabkan terjadinya kontraksi rektum dan
relaksasi sfingter interna. Pada waktu rektum yang teregang
berkontraksi, otot levator ani berelaksasi, sehingga menyebabkan sudut
dan anulus anorektal menghilang. Otot sfingter interna dan eksterna
berelaksasi pada waktu anus tertarik keatas melebihi tinggi masa feses.
Defekasi dipercepat dengan tekanan intra abdomen yang meningkat
akibat kontraksi voluntar otot dada dengan glotis yang tertutup, dan
kontraksi otot abdomen secara terus-menerus (maneuver dan
peregangan valsalva). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi voluntar
otot sfingter eksterna dan levator ani. Dinding rektum secara bertahap
menjadi rileks, dan keinginan defekasi menghilang. Rektum dan anus
merupakan lokasi sebagian penyakit yang sering ditemukan pada
manusia. Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan
rektum saat terjadi peristaltik masa. Bila defekasi tidak sempurna,
rektum menjadi rileks dan keinginan defekasi menghilang. Air tetap
terus diabsorpsi dari massa feses, sehingga feses menjadi keras, dan
menyebabkan lebih sukarnya defekasi selanjutnya. Bila massa feses
yang keras ini terkumpul disatu tempat dan tidak dapat dikeluarkan,
maka disebut sebagai impaksi feses. Tekanan pada feses yang
berlebihan menyebabkan timbulnya kongesti vena hemoroidalis interna
dan eksterna, dan hal ini merupakan salah satu penyebab hemoroid
(vena varikosa rektum) (Price,2005).

C. Etiologi
Kondisi hemoroid biasanya tidak berhubungan dengan kondisi medis atau
penyakit, namun ada beberapa predisposisi penting tyang dapat
meningkatkan risiko hemoroid menurut Muttaqin & Sari, (2011) seperti
berikut ini :
1. Peradangan pada usus, seperti pada kondisi colitis ulseratif atau
penyakit Crohn
2. Kehamilan, berhubungan dengan banyak masalah anorektal
3. Konsumsi makananan rendah serat
4. Obesitas
5. Hipertensi portal
6. Mengedan pada buang air besar yang sulit
7. Pola buang air besar yang salah (lebih banyak menggunakan
jamban duduk, lebih lama duduk dijamban)
8. Peningkatan penekanan intra abdomen karena tumor

D. Klasifikasi
Klasifikasi hemoroid dapat dibagi menjadi beberapa derajat menurut
Muttaqin & Sari, (2011):
A. Derajat 1 : Hemoroid interna dengan pendarahan segar tanpa
nyeri pada waktu defekasi
B. Derajat 2 : Hemoroid unterna yang menyebabkan pendarahan dan
mengalamiprolaps pada saat mengedan ringan, tetapi
dapat masuk kembali secara spontan
C. Derajat 3 : Hemoroid interna yang mengalami pendarahan dan
disertai prolaps dan diperlukan intervensi manual
memasukkan kedalam kanalis
D. Derajat 4 : Hemorid interna yang tidak kembali kedalam atau
berada terus-menerus diluar

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang yang akan timbul menurut Muttaqin & Sari, (2011), yaitu
sebagai berikut:
a. Perdarahan
Keluhan yang sering dan timul pertama kali yakni: darah segar menetes
setelah buang air besar (BAB), biasanya tanpa disertai nyeri dan gatal di
anus. Pendarahan dapat juga timbul di luar wakyu BAB, misalnya pada
orang tua. Perdaran ini berwarna merah segar.
b. Benjolan
Benjolan terjadi pada anus yang dapat menciut/ tereduksi spontan atau
manual merupakan ciri khas/ karakteristik hemoroid.
c. Nyeri dan rasa tidak nyaman
Dirasakan bila timbul komplikasi thrombosis (Sumbatan komponen
darah di bawah anus), benjolan keluar anus, polip rectum, skin tag.
d. Basah, gatal dan hygiene yang kurang di anus
Akibat penegluaran cairan dari selaput lender anus disertai perdarahan
merupakan tanda hemoroid interna, yang sering mengotori pakaian
dalam bahkan dapat menyebabkan pembengkakan kulit.
F. Patofisiologi
Hemoroid dapat terjadi pada individu yang sehat. Hemoroid umumnya
menyebabkan gejala ketika mengalami pembesaran, peradangan atau
prolaps.
Sebagian besar penyebab ialah diet rendah serat menyebabkan bentuk
feses menjadi kecil, yang bisa mengakibatkan kondisi mengejan selama
BAB. Peningkatan tekanan ini menyebabkan pembengkakan dari
hemoroid, kemungkinan gangguan oleh venous return. Kehamilan atau
obesitas memberikan tegangan abnormal dari otot sfingter internal juga
dapat menyebabkan masalah hemoroid, mungkin melalui mekanisme yang
sama. Penurunan venous return dianggap sebagai mekanisme aksi. Kondisi
terlalu lama duduk ditoilet (yang membaca) diyakini menyebabkan
penurunan relative venous return di daerah perianal (yang disebut dengan
efek tourniquet), mengakibatkan kongesti vena dan terjadilah hemoroid.
Kondisi penuaan mneyebabkan melemahnya struktur pendukung yang
memfasilitasi prolaps. Melemahnya system pendukung sudah dapat terjadi
pada awal decade ketiga (Thornton, (2009) dalam Muttaqin & Sari,
(2011).
Mengejan dan konstipasi telah lama dianggap sebagai penyebab dalam
pembentuka hemoroid. Kondisi ini mungkin benar, mungkin juga tidak.
Pasien yang melaporkan hemoroid memiliki tonus kanal istirahat lebih
tinggi dari bias any. Tonus istirahat setelah hemorrhoidektomi lebih rendah
daripada sebelum prosedur. Perubahan dalam tonus istiarahat adalah
mekanisme aksi dilatasi.
Hipertensi portal telah sering disebutkan dalam hubungannya dengan
hemoroid. Pendarahan masif dari hemoroid pada pasien dengan hipertensi
portal biasanya bersifat masif. Varises anorektal merupakan kondisi umum
pada pasien dengan hipertensi portal. Varises terjadi di midrektum,
diantara system portal dan vena inferior rectal. Varises terjadi lebih sering
pada pasien yang nonsirosis, dan mereka jarang mengalami pendarahan.
Kondisi hemoroid dapat memberikan berbagai manifestasi klinis berupa
nyeri dan pendarahan anus. Hemoroid internal tidak menyebabkan sakit
karena berada diatas garis dentate dan tidak ada inervasi saraf. Namun,
mereka mengalami pendarahan, prolaps dan sebagai hasil dari deposisi
dari suatu iritasi kebagian sensitive kulit perianal sehingga menyebabkan
gatal dan iritasi. Hemoroid internal dapat menghasilakan rasa sakit
perianal oleh prolaps dan menyebabkan spasme sfingter di sekitar
hemoroid. Spasme otot ini mengakibatkan ras sakit akut ketika terjadi
inkarserata atau strangulasi. Kondisi strangulasi dengan nekrosis dapat
menyebabkan kejang sfingter eksternal seiring dengan thrombosis.
Trombosis eskternal menyebabkan nyeri akut.
Hemoroid internal yang paling sering menyebabkan pendarahan tanpa rasa
sakit pada saat buang air besar. Pendarahan umumnya merupakan tanda
pertama hemoroid interna akibat trauma oleh feses yang keras dan vena
mengalami rupture. Dengan meningginya spasme sfingter, pendarahan
dapat bersifat muncrat. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak
tercampur dengan feses, mungkin hanya berupa garis pada feses atau
kertas pembersih sampai pada pendarahan yang terlihat menetesatau
mewarnai air toilet menjadi merah. Walaupun berasal dari vena, darah
yang keluar merah segar karena kaya akan zat asam. Pendarahan luas dan
intensif dipleksushemoroidalis, menyebabkan darah di vena tetap
merupakan “darah arteri”. Kadang perdarahan hemoroid yang berulang
dapat mengakibatkan timbulnya anemia berat.
Hemoroid internal dapat mendepositkan lender ke jaringan perianal.
Lendir pada feses dapat menyebablan dermatitis local, yang disebut
pruritus ani.

Hemoroid eskternal menyebabkan gejala dalam dua cara. Pertama,


thrombosis akut yang mendasari vena hemoroid eskternal dapat terjad.
Trombosis akut biasanya berkaitan dengan peristiwa tertentu, seperti
tenaga fisik, berusaha dengan mengejan, diare, atau perubahan dalam diet.
Nyeri dari inervasi saraf oleh adanya distensi dan edema. Rasa sakit
berlangsung selama 7-14 hari sesuai dengan resolusi thrombosis.Kondisi
hemoroid eskternal memberikan manifestasi kurang higienis akibat
kelembapan dan rangsangan akumulasi mucus. Keluarnya mucus dan
terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid yang
mengalami prolaps menetap.
PATHWAY

Sumber: Arif Muttaqin & Kumala Sari. (2011). Gangguan Gastrointestinal:


Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
G. Komplikasi
Rektum akan relaksasi dan harsat untuk defekasi hilang apabila defekasi tidak
sempurna. Air tetap terus di absorsi dari masa feses yang menyebabkan feses
menjadi keras, sehingga defekasi selanjutnya lebih sukar. Tekanan fases
berlebihan menyebabkn kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna, dan
merupakan salah satu penyebab hemoroid (vena varikosa rektum). Daerah
anorektal sering merupakan tempat abses dan fistula, kanker kolon dan
rektum merupakan kanker saluran cerna yang paling sering terjadi pada
penderita konstipasi. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah: hipertensi
arterial, impaksi fekal, fisura, serta mengakolon (Smeltzer & Bare, 2010).

H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Nurarif & Kusuma., (2015), pemeriksaan penunjang pada hemoroid
yaitu sebagai berikut :
a. Pemeriksaan colok anus
Diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rectum. Pada
hemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya
tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri.
b. Anoskopi
Diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak menonjol keluar.
c. Proktosigmoidoskopi
Untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang
atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi.

I. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan menurut Muttaqin & Sari,
(2011), yaitu sebagai berikut:
a. Konservatif
Terapi hemoroid interna yang simtomatik harus ditetapkan secara
individual. Hemoroid adalah kondisi fisiologis dan karenanya tujuan
terapi bukan untuk menghilangkan pleksus hemoroidal, tetapi untuk
menghilangkan keluhan. Kebanyakan pasien hemoroid derajat pertama
dan kedua dapat ditolong dengan tindakan local yang sederhana disertai
nasihat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri atas makanan berserat
tinggi. Makanan ini membuat gumpalan isi usus besar, namun lunak
sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan mengedan
secara berlebihan. Supositoria dan salep anus diketahui tidak mempunyai
efek yang bermakna kecuali efek anestetik dam astringen. Hemoroid
internal yang mengalami prolaps oleh karena edema umumnya dapat
dimasukkan kembali secara perlahan disusul dengan beristirahat tirah
baring dan kompres local untuk mnegurangi pembengkakan. Rendam
duduk dengan cairan hangat juga dapat meringankan nyeri. Apabila ada
penyakit radang usus besar yang mendasarinya, misalnya penyakit
Chron, tetapi medis harus diberikan apabila hemoroid menjadi
simtomatik.
b. Skleroterapi
Skleroterapi adalah penyuntikan kimia yang merangsang, misalnya 5%
fenol dalam minyak nabati. Penyuntika diberikan ke submukosa didalam
jaringan areolar yang longgar dibawah hemoroid internal dengan tujuan
menimbulkan peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotic dan
meninggalkan jaringan parut.
c. Ligasi
Pada hemoroid besar dan mengalami prolaps dapat ditangani dengan
ligasi gelang karet. Dengan bantuan anuskop, mukosa diatas hemoroid
yang menonjol dijepit dan ditarik atau diidap kedalam tabung ligator
khusus. Gelang karet didorong dari ligator dan ditempatkan secara
sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis tersebut.
d. Hemoroidektomi
Hemoroidektomi adalah suatu tindakan pembedahan dan cara
pengangkatan pleksus hemoroidalis dan mukosa atau tanpa mukosa
yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar- benar berlebih.
Intervensi ini dilakukan pada pasien dengan keluhan kronis dan
dengan stadium III dan stadium IV
Kontra indikasi hemoroidektomi
1) Hemoroid derajat I dan II
2) Penyakit Chorn’s
3) Karsinoma rectum yang inoperable
4) Wanita hamil
5) Hipertensi portal

J. Perawatan Perioperatif
Perawatan perioperatif menurut Rosdahl & Kowalski, (2017) yaitu terdiri
dari:
1. Persiapan pre operasi
Sebelum pembedahan, dokter bedah atau dokter anestesiologi
menuliskan program yang diindikasikan dengan pasti apa obat dan
persiapan fisik yang diperlukan pasien. Penting untuk mengajarkan
pasien melaksanakan program praoperasi yang tepat, karena hal tersebut
akan memengaruhi kesuksesan pembedahan. Sambil mengajarkan asuhan
praoperasi, ingat perasaan pasien dan keluarga serta perlunya mereka
untuk ditenangkan. Dalam pembedahan darurat, periode praoperasi
mungkin sangat singkat. Dalam keterbatasan ini, ingat untuk memberikan
dukungan emosional ke semua pasien. Menjelaskan apa yang akan terjadi
selama dan setelah pembedahan paling membantu dalam mempersiapkan
pasien dan keluarga. Mereka yang memahami prosedur ini biasanya lebih
rileks dan kooperatif. Informasikan pasien dan keluarga tentang apa yang
diharapkan ketika pasien kembali dari ruang operasi. Ajarkan pasien
bagaimana melakukan latihan pernapasan.
2. Pasca operasi
Hampir semua rumah sakit memiliki sebuah ruangan atau deretan
ruangan yang dibuat di samping untuk perawatan pasien sesaat setelah
pembedahan. Berbagai nama digunakan untuk mengidentifikasi area ini,
termasuk unit perawatan pascaanestesia (postanesthesia care unit,
PACU). Pasien secara cermat dipantau di PACU sampai ia pulih dari
anestesia dan bersih secara medis untuk meninggalkan unit. Pemantauan
spesifik termasuk ABC dasar kehidupan. Pada saat pasien kembali dari
PACU ke area penerimaan rawat jalan atau ke unit keperawatan, pasien
biasanya terjaga dan menyadari sejumlah ketidaknyamanan. Nyeri
biasanya merupakan ketidaknyamanan pertama pascaoperasi yang
disadari oleh pasien. Nyeri dievaluasi setiap kali tanda vital yang lain
diukur. Nyeri biasanya paling berat sesaat setelah pasien pulih dari
anestesi.
Komplikasi yang akan muncul setelah operasi yaitu: inkontinensia,
retensio urine, nyeri lokasi operasi, stenosisani, dan perdarahan fistula
dan abses.

K. Pengkajian
Pengkajian hemoroid terdiri atas pengkajian anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan evaluasi diagnostik. Pada pengkajian anamnesis didapatkan sesuai
kondisi klinik perkembangan penyakit. Keluhan utama yang lazim didapatkan
adalah nyeri, perdarahan pada anus, dan merasa ada benjolan di sekitar anus.
Keluhan nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid
interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang mengalami trombosis.
Pengkajian riwayat penyakit dahulu, perawat menanyakan faktor predisposisi
yang berhubungan dengan hemoroid, seperti adanya hemoroid sebelumnya,
riwayat peradangan pada usus, dan riwayat rendah serat. Pengkajian
psikososial akan didapatkan peningkatan kecemasan, serta perlunya
pemenuhan informasi intervensi keperawatan, pengobatan, dan rencana
pembedahan.
Pemeriksaan survei umum bisa terlihat sakit ringan, sampai gelisah akibat
menahan sakit. TTV bisa normal atau bisa didapatkan perubahan, seperti
takikardi, peningkatan pernapasan. Pemeriksaan anus untuk melihat adanya
benjolan pada anus, kebersihan dan adanya ulserasi di sekitar anus.
Pemeriksaan colok dubur hemoroid interna tidak dapat diraba sebab terkena
vena di dalamnya tidak cukup tingi, dan biasanya tidak nyeri. Colok dubur
diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

L. Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri b.d kerusakan integritas jaringan, respons pembedahan
2. Pemenuhan informasi b.d adanya intervensi kemoterapi, radioterapi,
rencana pembedahan, dan rencana perawatan rumah
3. Risiko tinggi infeksi b.d adanya port de entree luka pasca bedah
4. Aktual/ risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d intake makanan yang kurang adekuat
5. Intoleransi aktivitas b.d cepat lelah, kelemahan fisik umum respons
sekunder dari anemia
6. Kecemasan pasien dan keluarga b.d prognosis penyakit, rencana
pembedahan

M. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan disusun sesuai dengan tingkat toleransi individu. Untuk
intervensi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, risiko
infeksi, dan kecemasan dapat disesuaikan dengan intervensi pada pasien
kanker kolon. Untuk intervensi intoleransi aktivitas dapat disesuaikan pada
pasien kanker rektal.

Nyeri b.d iritasi intestinal, respon pembedahan


Tujuan: Dalam waktu 3 jam nyeri hemoroid dan 2x 24 jam pasca pembedahan nyeri
berkurang atau teradaptasi.
Kriteria evaluasi:
1. Secara subjektif pernyataan nyeri berkurang atau teradaptasi
2. Skala nyeri 0-1 (0-4)
3. TTV dalam batas normal, wajah pasien rileks
Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu pasien Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
dengan tindakan pereda nyeri dan nondarmakologi lainnya telah menunjukkan
nonfarmakologi dan non invasif keefektifan dalam mngurangi nyeri
Lakukan manajemen nyeri
keperawatan meliputi:
1. Kaji nyeri dengan Pendekatan PQRST dapat secara komprehensif
pendekatan PQRST menggali kondisi nyeri pasien. Apabila pasien
mengalami skala nyeri 3 (0-4).
2. Anjurkan melakukan Rendam bokong dengan larutan PK dapat
rendam bokong menurunkan kolonisasi jamur pada area perianal
sehingga menurunkan stimulasi gatal atau nyeri
pada hemoroid.
3. Anjurkan mandi rendam air Mandi di bak mandi dengan air hangat secara
hangat umum menurunkan nyeri perianal. Kondisi ini
akan meningkatkan relaksasi sfingter dan
menurunkan spasme dari perianal yang menjadi
stimulus nyeri sehingga dapat menurunkan
respons nyeri.
4. Beri es pada kondisi nyeri Pemberian es dapat mningkatkan vosokontriksi
akibat trombus pada hemoroid lokal sehingga menurunkan ransangan nyeri dan
eksternal. trombus hemoroid.
5. Istirahatkan pasien pada Istirahat secara fisiologis akan menurunkan
saat nyeri muncul kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme basal.
6. Atur posisi fisiologis Pengaturan posisi semi fowler dapat membantu
merelaksasikan otot-otot abdomen pascabedah
sehingga dapat menurunkan stimulus nyeri dari
luka pascabedah.
7. Ajarkan teknik relaksasi Meningkatkan intake oksigen sehingga akan
pernapasan dalam pada saat nyeri menurunkan nyeri sekunder dari penurunan
muncul oksigen lokal.

8. Ajarkan teknik distraksi Disraksi (pengalihan perhatian) dapat


pada saat nyeri menurunkan stimulas internal.
Tingkatkan pengetahuan Pengetahuan yang akan dirasakan membantu
tentang: sebab- sebab nyeri dan mengurangi nyerinya dan dapat membantu
menghubungkan berapa lama nyeri mengembangkan kepatuhan pasien terhadap
akan berlangsung rencana terapeutik
Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian:
1. Analgetik Analgetik diberikan untuk membantu
menghambat stimulus nyeri ke pusat persepsi
nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat
2. Agen Antidiare berkurang
Agen atidiare terkadang diperlukan pada
pasien untuk menurunkan efek hipermotilitas.

Pemenuhan informasi b.d adanya evaluasi diagnostik, rencana pembedahan, dan


rencana perawatan di rumah
Tujuan: Dalam waktu 1x 24 jam informasi kesehatan terpenuhi.
Kriteria evaluasi:
1. Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan
2. Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan
Intervensi Rasional
Kaji tingkat pengetahuan pasien Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh kondisi
tentang prosedur diagnostik, sosial ekonomi pasien, perawatan menggunakan
pembedahan hemoroid, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi individu
rencana perawatan rumah pasien. Dengan mengetahui tingkat pengetahuan
tersebut perawat lebih terarah dalam memberikan
pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan
pasien secara efisien dan efektif.
Cari sumber yang meningkatkan Keluarga terdekat dengan pasien perlu dilibatkan
penerimaan informasi dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan
risiko misinterpretasi terhadap informasi yang
diberikan
Ajarkan toilet retraining Toilet retraining dilakukan dengan kembali pada
pasien bahwa kamar mandi bukanlah
perpustakaan. Pasien tidak harus duduk di toilet
cukup lama untuk mengevakuasi isi usus dan
tidak berupaya untuk mengejan terlalu kuat
karena dapat menyebabkan hemoroid membesar.
Jelaskan tentang terapi Peran peraat mengklarifikasi pemberian
skleroterapi penjelasan medis mengenai terapi skleroterapi.
Skelroterapi adalah penyuntikan larutan ke area
pleksus hemoroidalis yang kemudian menjadi
fibrotik dan meninggalkna jaringan parut
sehingga tidak terjadi lagi pelebaran vena .
Jelaskan tentang prosedur Operasi hemoroid biasanya dapat dilakukan
pembedahan dengan menggunakan anestesi lokal dengan obat
penenang IV. Regional atau teknik anestesi
1. Diskusikan jadwal umum juga digunakan.
pembedahan Pasien dan keluarga harus diberitahu waktu
dimulainya pembedahan. Apabila rumah sakit
mempunyai jadwal kamar operasi yang padat,
lebih baik pasien dan keluarga diberitahukan
2. Persiapan administrasi dan mengenai banyaknya jadwal operasi yang telah
informed consent ditetapkan sebelum pasien.
Pasien sudah menyelesaikan administrasi dan
mengetahui secara finansial biaya pembedahan.
Pasien sudah mendapat penjelasan tentang
3. Persiapan intestinal pembedahan kolektomi atau kolostomi oleh tim
bedah dan menandatangani informed consent.
4. Persiapan puasa Pagi hari sebelum pembedahan, maka lakukan
pemberian laksatif salin ringan dan pemberian
5. Pencukuran area operasi hati-hati.
Puasa dilakukan minimal 6-8 jam sebelum
6. Persiapan istirahat dan tidur dilakukan pembedahan
Pencukuran area operasi dilakukan secara hati-
hati pada area perineal.
Istirahat merupakan hal yang penting untuk
penyembuhan normal. Kecemasan tentang
pembedahan dapat dengan mudah mengganggu
kemampuan untuk istirahat atau tidur.
Beritahu pasien dan keluarga Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui
kapan pasien sudah bisa kapan keluarga dan temannya dapat berkunjung
dikunjungi setelah pembedahan
Beri informasi tentang manajemen Manajemen nyeri dilakukan untuk peningkatan
nyeri keperawatan kontrol nyeri pada pasien
Berikan informasi pada pasien dan Keterlibtan pasien dan keluarga dalam
keluarga yang akan menjalani melakukan perawatan rumah pascabedah dapat
perawatan rumah. menurunkan risiko komplikasi dan dapat
meningkatkan kemnadirian dalam melakukan
masalah yang sedang dihadapi

N. Evaluasi Keperawatan
Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah
sebagai berikut:

1. Informasi kesehatan terpenuhi


2. Tidak mengalami injuri pasca prosedur bedah reseksi kolon
3. Nyeri berkurang atau teradaptasi
4. Asupan nutrisi optimal sesuai tingkat toleransi individu
5. Infeksi luka operasi tidak terjadi
6. Kecemasan berkurang
7. Peningkatan konsep diri atau gambaran diri
8. Peningkatan aktivitas
BAB III
KASUS

A. KASUS
B. LAPORAN KASUS KELOLAAN KELOMPOK

Nama Mahasiswa: Tgl:


Kelompok B 30 April 2021
Tempat Praktik: RSU HGA
Judul Laporan Kasus:
Asuhan Keperawatan pada Pasien Hemoroid

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

A. PENGKAJIAN DASAR

1. IDENTITAS PASIEN
Nama ( Inisial ) : Tn. N
Umur : 37 Thn
Jenis Kelamin : L
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Diagnosa medis : Hemoroid
No. Register : 00400726
Penanggung jawab biaya : BPJS
Tanggal pengkajian : 30 April 2021

2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Riwayat kesehatan saat ini

1) Keluhan utama :
Klien mengatakan nyeri didaerah anus dengan skala 10, timbul
nyeri saat duduk dan pada saat sedang bekerja (angkat beban
berat), demam, BAB berdarah. Klien mengatakan merasa
cemas karena baru pertama kali operasi dan klien mengatakan
tidak tahu dengan jelas terkait penyakitnya

2) Kronologis keluhan :
- Faktor pencetus : klien mengatakan saat mengangkat
beban berat

- Timbulnya keluhan : klien mengatakan timbulnya


keluhan saat BAB dan saat duduk terlalu lama
- Upaya mengatasi : klien mengatakan sudah berobat ke
puskesmas tanggal 29 April 2021 dan diberikan Asam
Mefenamat tetapi tidak ada perubahan

b. Riwayat kesehatan masa lalu


1) Riwayat alergi ( obat, makanan, binatang,
lingkungan ) : tidak
Bila ada, sebutkan :
…………………………………………………
2) Riwayat kecelakaan : tidak
Bila ada, sebutkan :
…………………………………………………
3) Penyakit yang pernah diderita sebelumnya : ada
Bila ada, sebutkan : Typus ditahun 2010 dan riwayat hemoroid
tahun 2016
4) Riwayat dirawat di RS : klien mengatakan pernah di
rawat di RS Sentral Medika dengan Typus di tahun 2010
5) Riwayat pemakaian obat : klien mengkonsumsi obat
Asam Mefenamat

c. Riwayat kesehatan keluarga (buat genogram dua


generasi)

Keterangan:

: Klien

: Tinggal serumah

d. Riwayat psikososial dan spiritual


1) Adakah orang terdekat dengan Pasien : Istri klien

2) Interaksi dalam keluarga


- Pola komunikasi : baik

- Pembuat keputusan : jika terjadi masalah klien sendiri


yang membuat keputusan
- Kegiatan kemasyarakatan : klien mengatakan mengikuti
kegiatan gotong royong setiap minggu dilingkungan rumah

3) Dampak penyakit Pasien terhadap keluarga : klien


mengatakan sangat terganggu, keluarga menjadi cemas dan
takut

4) Mekanisme koping terhadap stress : kien


mengatakan saat ada masaah atau stress, klien hanya
memendam tidak menceritakan kepada siapapun

5) Persepsi Pasien terhadap penyakitnya : klien


mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya, klien menganggap
bahwa penyakitnya bukanlah hal yang harus ditangani tetapi
klien mengatakan penyakitnya sekarang sangat mengganggu

6) Tugas perkembangan menurut usia saat ini : klien


masuk kedalam tahap perkembangan dewasa tengah dengan
tugas memulai hidup berkeluarga, memelihara dan mendidik
anak, mengelola rumah tangga, serta bertanggung jawab
sebagai masyarakat dan warga negara

7) Sistem nilai kepercayaan :


- Nilai nilai yang bertentangan dengan kesehatan : klien
mengatakan tidak memiliki nilai-nilai yang bertentangan
dengan kesehatan

- Aktivitas agama / kepercayaan agama yang dilakukan :


klien menjalankan sholat 5 waktu,

e. Kondisi lingkungan rumah :


klien tinggal dirumah milik sendiri dengan lingkungan rumah baik,
terdapat ventilasi yang cukup, rumah jauh dari pembuangan sampah
akhir dan pabrik, pencahayaan yang baik serta lingkungan didalam
rumah yang bersih. Klien mengatakan rumah sudah beratap genteng
dan lantai berkeramik, dan letak rumah klien tidak berada didekat
jalan raya

f. Pola kebiasaan sehari hari sebelum sakit


1) Pola nutrisi :
- Frekwensi makan : 3 x / hari
- Nafsu makan : Baik
- Jenis makanan yang biasa dimakan : klien mengatakan
memakan apa saja
- Makanan yang tidak disukai/alergi/pantangan : tidak ada
- Kebiasaan sebelum makan : berdoa
- Berat badan sebelum sakit : 50 Kg
- Tinggi badan : 165 Cm.

2) Pola eliminasi
a) B.A.K
- Frekwensi : 7 x./ hari
- Waktu : kapan saja
- Warna : kuning jernih
- Keluhan yang berhubungan dengan B.A.K :
Tidak ada masalah dengan BAK
b) B.A.B
- Frekwensi : 1 x/hari
- Waktu : pagi
- Warna : coklat
- Bau : khas
- Konsistensi : padat
- Keluhan yang berhubungan dengan B.A.B :
Klien mengatakan nyeri saat BAB dan keluar darah

3) Pola personal hygiene


a) Mandi
- Frekwensi 2 x/hari, menggunakan sabun : ya
b) Oral hygiene
- Frekwensi 2 x/hari, menggunakan pasta gigi : ya
c) Cuci rambut
- Frekwensi 1 x/hari, menggunakan shampoo : ya

4) Pola istirahat dan tidur


- Lama tidur 7 jam/ hari
- Gangguan tidur : pada saat nyeri di benjolannya
- Hal hal yang mendorong cepat tidur : ketika kelelahan
bekerja
- Hal hal yang mendorong sulit tidur : ketika merasa nyeri
dibenjolan
5) Pola aktivitas dan latihan
- Kegiatan dalam bekerja: klien sering mengangkat beban
berat
- Olah raga : klien jarang melakukan olahraga
- Keluhan dalam beraktivitas : klien mengatakan merasa nyeri
dan tidak nyaman

g. Pola kebiasaan sehari hari di rumah sakit


1) Pola nutrisi
- Frekwensi : 3 x/hari
- Jenis makanan yang dimakan : Diet TKTP
- Nafsu makan : baik
- Berat badan : 50 Kg
- Keluhan lain : Tidak ada keluhan

2) Pola eliminasi
a) B.A. K
- Frekwensi : 3-6 x / hari
- Warna : kuning jernih
- Keluhan yang berhubungan dengan B.A.K : tidak ada
keluhan
b) B.A.B
- Frekwensi : 1 x / hari
- Warna : kecoklatan
- Konsistensi : padat
- Bau : khas
- Keluhan yang berhubungan dengan B.A.B : klien mengeluh
nyeri di bagian anus dan BAB berdarah
3) Pola personal hygiene
a. Mandi : 1 x/hari, dibantu oleh perawat : ya
b. Oral hygiene : 1 x/ hari, dibantu oleh perawat : ya
c. Cuci rambut : 1 x / hari, dibantu oleh perawat : ya

4) Pola istirahat dan tidur


- Lama tidur 9 jam/hari
- Tidur siang : 3 jam
- Tidur malam 6 jam
- Keluhan keluhan yang berhubungan dengan tidur :
Klien mengatakan sulit tidur ketika merasa nyeri

5) Pola aktivitas dan latihan


- Kegiatan Pasien : kegiatan klien hanya tidur dikasur
- Keluhan dalam beraktivitas : nyeri saat bergerak

3. PENGKAJIAN FISIK (Head To Toes)


a. Pemeriksaan Fisik Umum :
1) Berat badan : 50 Kg (Sebelum Sakit : 50 Kg)
2) Tinggi Badan : 165 cm
3) Keadaan umum : (√ ) Ringan ( ) Sedang ( )
Berat
4) Pembesaran kelenjar getah bening : (√ ) Tidak
( ) Ya, Lokasi………..
b. Sistem Penglihatan :
1) Posisi mata : (√ ) Simetri ( ) Asimetris
2) Kelopak mata : (√ ) Normal ( ) Ptosis
3) Pergerakan bola mata : (√ ) Normal ( ) Abnormal
4) Konjungtiva : (√ ) Merah muda ( ) Anemis ( ) Sangat Merah
5) Kornea : (√ ) Normal ( ) Keruh/ berkabut
( ) Terdapat Perdarahan
6) Sklera : ( ) Ikterik (√ ) Anikterik
7) Pupil : ( ) Isokor (√ ) Anisokor
( ) Midriasis ( ) Miosis
8) Otot-otot mata : (√ ) Tidak ada kelainan ( ) Juling keluar
( ) Juling ke dalam ( ) Berada di atas
9) Fungsi penglihatan : (√ ) Baik ( ) Kabur
( ) Dua bentuk / diplopia
10) Tanda-tanda radang : tidak ada tanda peradangan
11) Pemakaian kaca mata : (√ ) Tidak ( ) Ya, Jenis….…………
12) Pemakaian lensa kontak : klien tidak menggunakan lensa kontak
13) Reaksi terhadap cahaya : pupil mengecil saat diberikan cahaya
c. Sistem Pendengaran :

1) Daun telinga : (√ ) Normal ( ) Tidak,


Kanan/kiri……………
2) Karakteristik serumen (warna, kosistensi, bau) : -
3) Kondisi telinga tengah: (√ ) Normal ( ) Kemerahan
( ) Bengkak ( ) Terdapat lesi

4) Cairan dari telinga : (√ ) Tidak ( ) Ada,……


( ) Darah, nanah dll.
5) Perasaan penuh di telinga : ( ) Ya (√ ) Tidak
6) Tinitus : ( ) Ya ( √) Tidak
7) Fungsi pendengaran : (√ ) Normal ( ) Kurang
( ) Tuli, kanan/kiri …..….
8) Gangguan keseimbangan : (√ ) Tidak ( ) Ya,
………
9) Pemakaian alat bantu : ( ) Ya (√ ) Tidak

d. Sistem Wicara : (√ ) Normal ( ) Tidak :………..


( ) Aphasia ( ) Aphonia
( ) Dysartria ( ) Dysphasia ( ) Anarthia
e. Sistem Pernafasan :
1) Jalan nafas : (√ ) Bersih ( ) Ada sumbatan; ……….
2) Pernafasan : (√ ) Tidak Sesak ( ) Sesak :…………..

3) Menggunakan otot bantu pernafasan : ( ) Ya ( ) Tidak


4) Frekuensi :20 x / menit
5) Irama : (√ ) Teratur ( ) Tidak teratur
6) Jenis pernafasan : Spontan ( Spontan, Kausmaull, Cheynestoke, Biot,
dll)
7) Kedalaman : (√ ) Dalam ( )
Dangkal
8) Batuk : (√ ) Tidak ( )Ya …..….
(Produktif/Tidak
9) Sputum : (√ ) Tidak ( )Ya ......
(Putih/Kuning/Hijau)
10) Konsistensi : ( ) Kental ( ) Encer
11) Terdapat darah : ( ) Ya (√ ) Tidak
12) Palpasi dada : simetris
13) Perkusi dada : Resonor
14) Suara nafas : (√ ) Vesikuler ( )
Ronkhi
( ) Wheezing ( ) Rales
15) Nyeri saat bernafas : ( ) Ya (√ ) Tidak
16) Penggunaan alat bantu nafas : (√ ) Tidak ( )Ya ……………………

f. Sistem Kardiovaskuler :
1) Sirkulasi Peripher
a) Nadi 80 x/ menit : Irama : ( √ ) Teratur ( ) Tidak teratur
Denyut : ( ) Lemah( √ ) Kuat
b) Tekanan darah : 120/70 mm/Hg
c) Distensi vena jugularis : Kanan : ( ) Ya (√ ) Tidak
Kiri : ( ) Ya (√ ) Tidak
d) Temperatur kulit (√ ) Hangat ( ) Dingin suhu : ….. °C
e) Warna kulit : (√ ) Pucat ( ) Cyanosis ( ) Kemerahan
f) Pengisian kapiler : < 3 detik

g) Edema : ( ) Ya,………. (√ ) Tidak


( ) Tungkai atas ( ) Tungkai bawah
( ) Periorbital ( ) muka
( ) Skrotalis ( ) Anasarka
2) Sirkulasi Jantung
a) Kecepatan denyut apical : 80 x/menit
b) Irama : (√ ) Teratur ( ) Tidak teratur
c)Kelainan bunyi jantung : ( ) Murmur ( ) Gallop
d) Sakit dada : ( ) Ya (√ ) Tidak
1) Timbulnya : ( ) Saat aktivitas ( ) Tanpa aktivitas
2) Karakteristik : ( ) Seperti ditusuk-tusuk
( ) Seperti terbakar ( ) Seperti tertimpa benda
berat
3) Skala nyeri :-
g. Sistem Hematologi

Gangguan Hematologi :
1) Pucat : (√ ) Tidak ( ) Ya
2) Perdarahan : ( √ ) Tidak ( ) Ya, …..:
( ) Ptechie ( ) Purpura ( ) Mimisan ( ) Perdarahan gusi ( )
Echimosis
h. Sistem Syaraf Pusat
1) Keluhan sakit kepala : tidak ada keluhan (vertigo/migrain, dll)

2) Tingkat kesadaran : (√ ) Compos mentis ( ) Apatis


( ) Somnolent ( ) Soporokoma
3) Glasgow coma scale(GCS) E : 4, M : 6, V:5

4) Tanda-tanda peningkatan TIK : (√ ) Tidak ( ) Ya,………..:


( ) Muntah proyektil ( ) Nyeri Kepala hebat
( ) Papil Edema
5) Gangguan Sistem persyarafan : ( ) Kejang ( ) Pelo
( ) Mulut mencong ( ) Disorientasi ( ) Polineuritis/ kesemutan
( ) Kelumpuhan ekstremitas (kanan / kiri / atas / bawah)
6) Pemeriksaan Reflek :
a) Reflek fisiologis : (√ ) Normal ( ) Tidak …………….
b) Reflek Patologis : ( ) Tidak (√ ) Ya ………………..
i. Sistem Pencernaan
Keadaan mulut :
1) Gigi : ( ) Caries (√ ) Tidak
2) Penggunaan gigi palsu : ( ) Ya (√ ) Tidak
3) Stomatitis : ( ) Ya ( √ ) Tidak
4) Lidah kotor : ( ) Ya (√ ) Tidak
5) Salifa : (√ ) Normal ( ) Abnormal
6) Muntah : (√ ) Tidak ( ) Ya,……..….
a) Isi : ( ) Makanan ( ) Cairan ( )
Darah
b) Warna : ( ) Sesuai warna makanan ( ) Kehijauan
( ) Cokelat ( ) Kuning ( ) Hitam
c) Frekuensi : - .X/ hari
d) Jumlah :- ml
7) Nyeri daerah perut : ( ) Ya,………………. (√ ) Tidak
8) Skala Nyeri : ……………………
9) Lokasi dan Karakter nyeri :
(√ ) Seperti ditusuk-tusuk ( ) Melilit-lilit
( ) Cramp ( ) Panas/seperti terbakar
(√ ) Setempat ( ) Menyebar ( ) Berpindah-pindah
( ) Kanan atas ( ) Kanan bawah ( ) Kiri atas ( ) Kiri bawah
10) Bising usus : 20 x / menit.
11) Diare : (√ ) Tidak ( ) Ya,………….
a) Lamanya : …………….. Frekuensi : …………..x / hari.
b) Warna faeces : ( ) Kuning ( ) Putih seperti air cucian beras
( ) Cokelat ( ) Hitam ( ) Dempul
c) Konsistensi faeces : ( ) Setengah padat ( ) Cair ( ) Berdarah
( ) Terdapat lendir ( ) Tidak ada kelainan
12) Konstipasi : (√ ) Tidak ( ) Ya,………….
lamanya : ………….. hari
13) Hepar : ( ) Teraba (√ ) Tak teraba
14) Abdomen : ( √ ) Lembek ( ) Kembung
( ) Acites ( ) Distensi

j. Sistem Endokrin
Pembesaran Kelenjar Tiroid : ( √ ) Tidak ( ) Ya,
( ) Exoptalmus ( ) Tremor
( ) Diaporesis
Nafas berbau keton : ( ) Ya (√ ) Tidak
( ) Poliuri ( ) Polidipsi ( ) Poliphagi
Luka Ganggren : (√ ) Tidak ( ) Ya, Lokasi……………
Kondisi Luka………………

k. Sistem Urogenital
Balance Cairan : Intake 2990 ml; Output 2350 ml
Perubahan pola kemih : ( ) Retensi ( ) Urgency ( ) Disuria
( ) Tidak lampias ( ) Nocturia
( ) Inkontinensia ( ) Anuria
B.a.k : Warna : (√ ) Kuning jernih ( ) Kuning
kental/coklat
( ) Merah ( ) Putih
Distensi/ketegangan kandung kemih : ( ) Ya (√ ) Tidak
Keluhan sakit pinggang : ( ) Ya (√ ) Tidak
Skala nyeri : ……………

l. Sistem Integumen
Turgor kulit : (√ ) Elastis ( ) Tidak elastis
Temperatur kulit : (√ ) Hangat ( ) Dingin
Warna kulit : ( ) Pucat ( ) Sianosis (√ ) Kemerahan
Keadaan kulit : ( ) Baik ( ) Lesi ( ) Ulkus
( ) Luka, Lokasi…………..
( ) Insisi operasi, Lokasi ………………………...
Kondisi……………………….…………
( ) Gatal-gatal ( )
Memar/lebam
( ) Kelainan Pigmen
( ) Luka bakar, Grade………..
Prosentase…………
( ) Dekubitus, Lokasi………….
Kelainan Kulit : ( ) Tidak ( ) Ya, Jenis…………………
Kondisi kulit daerah pemasangan Infus :……………………………

Keadaan rambut : - Tekstur : ( ) Baik ( ) Tidak ( ) Alopesia


- Kebersihan : ( ) Ya ( ) Tidak, …….
m. Sistem Muskuloskeletal
Kesulitan dalam pergerakan : (√ ) Ya ( ) Tidak
Sakit pada tulang, sendi, kulit : ( ) Ya (√ ) Tidak
Fraktur : ( ) Ya (√ ) Tidak
Lokasi : …………………………………….
Kondisi:…………………………………….
Kelainan bentuk tulang sendi : ( ) Kontraktur ( ) Bengkak
( ) Lain-lain, sebutkan : …………
Kelaianan struktur tulang belakang: ( ) Skoliasis ( ) Lordosis
( ) Kiposis

Keadaan Tonus otot : (√ ) Baik ( ) Hipotoni


( ) Hipertoni ( ) Atoni

Kekuatan Otot : 5 5 5 5 5 5 5 5
5 5 5 5 5 5 5 5

n. Sistem reproduksi

4. DATA PENUNJANG DIAGNOSTIK


29 April 2021:
a. Hb: 13, 6 g/dl 14 – 16 g/dl
b. Leu: 6,59 ribu/mm3 3,8-10,6 ribu/mm3
c. Ht: 40,4 % 40-52 %
d. Trom: 172 ribu/µl 150-440 ribu/µl

Pemeriksaan HIV: Negatif


Pemeriksaan Swab Antigen: Negatif

5. RESUME
Klien masuk ke IGD tanggal 29 April 2021 dengan keluhan nyeri pada
bagian anus dengan skala 10 sepanjang waktu, nyeri tersebut
diakibatkan adanya benjolan pada bagian anus sejak 5 tahun yang lalu.
Benjolan tersebut sudah ada sejak 5 tahun yang lalu tetapi tidak
mengganggunya hingga 2 hari sebelum ke RS pasien datang ke
puskesmas dan diberikan obat asam mefenamat tetapi tidak kunjung
hilang rasa sakitnya. Setelah itu pasien dirujuk ke RS HGA karena
wasirnya terasa perih dan pada pagi hari sempat berdarah, sejak 2 hari
belum BAB dan sempat merasa panas dingin ssatu hari yang lalu. Saat
di IGD pasien diberikan obat ketoprofen supositoria (1), vactosub (1),
hesroid tab (PO 2) setelah itu diarahkan untuk rencana operasi tanggal
30 april 2021 pukul 18:00 sehingga pasien diarahkan untuk swab
antigen dan cek lab, dengan hasil swab negatif pasien langsung
dipindahkan ke ruang rawat inap Afiah 4. Sejak 5 tahun memiliki wasir,
klien hanya membiarkannya karena dirasa tidak mengganggu dank lien
tidak mendapat informasi mengenai penyakitnya sehingga klien masih
mengkonsumsi makanan yang dapat memicu penyakitnya bertambah
parah

6. PENATALAKSANAAN MEDIK

SIGN IN TIME OUT SIGN OUT


1. Verifikasi pasien  Persiapan alat  Menghitung kembali
 Periksa identitas pasien  Kelengkapan tim dan fasilitas instrument yang dipakai
 Periksa gelang identitas/ operasi untuk melihat
gelang alergi  Posisikan pasien kelengkapannya
 Periksa riwayat alergi  Pemberian anastesi oleh dokter  Menutup luka dengan kassa
pasien anastesi di deep dianus dan
 Jenis dan lokasi menutupnya dengan hipavik
pembedahan dipastikan  Memasukkan obat
bersama pasien suppositoria suprapenid
 Masalah Bahasa/ vetroprofen 100mg
komunikasi  Merapihkan alat bedah
 Kelengkapan surat yang telah digunakan
persetujuan Tindakan  Memindahkan pasien dari
kedokteran ruang operasi ke ruang
 Kelengkapan formulir recovery
pemberian informasi  Memonitor dan
Tindakan kedokteran mengobservasi kondisi
 Kelengkapan edukasi klien
dan persetujuan anastesi  Klien dijemput ke ruang
 Periksa kelengkapan rawat inap
hasil konsultasi (X-Ray
& EKG)

2. Persiapan fisik pasien


 Puasa makan dan minum
terakhir
 Pengosongan kandung
kemih/clisma
1. Analisa Data
No Analisa Data Masalah Etiologi
DS = Nyeri Akut Agens Cidera Fisik
- Klien mengatakan nyeri diarea
anus sejak 2 hari dengan skala
nyeri 10
- Klien mengatakan saat BAB
berdarah
- Klien mengatakan terdapat
benjolan didaerah anus sudah
sejak 5 tahun yang lalu
DO =
- Klien terlihat meringis
kesakitan
- Klien menunjukkan sikap
protektif
- P: nyeri di bagian anus
- Q: sejak 2 hari terakhir
- R: Anus
- S: 10
- T: duduk dan saat BAB

DS = Ansietas Krisis Situasional


- Klien mengatakan cemas akan
operasi karena baru pertama
kali melakukan operasi
DO =
- Klien terlihat tegang
- Klien terlihat gelisah

DS = Defisit Kurang Terpapar


- Klien mengatakan tidak Pengetahuan Informasi
mengetahui penyebab
penyakitnya
- Klien mengatakan sudah 5
tahun mempunyai benjolan di
anus tetapi tidak diobati
apapun
DO =
- Klien terlihat bertanya aktif
terkait penyakitnya
DS= Gangguan Penurunan Kendali Otot
- Klien mengatakan kakinya Mobilitas Fisik
kebas dan belum bisa
digerakkan
DO=
- Klien dilakukan bius spinal
pada saat tindakan operasi
DS: Resiko Infeksi

DO:
Terdapat jaitan di anus (post op
hemoroidektomi)
2. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan , Tujuan dan Rencana Keperawatan
kriteria hasil (mandiri dan kolaborasi)
Dx: 1. Manajemen nyeri (I.08238)
Nyeri Akut berhubungan dengan O:
agens cidera fisik (D.0077) 1. identifikasi lokasi, karakteristik,
durasi,frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam 2. Identifikasi skala nyeri
diharapkan masalah klien dengan 3. Identifikasi factor yang memperberat dan
nyeri akut dapat teratasi dengan memperingan nyeri
kriteria hasil: 4. Monitor keberhasilan terapi komplementer
1. Kontrol nyeri (L.08063) yang sudah diberikan
a. Melaporkan nyeri terkontrol M:
dari cukup menurun (2) 1. Berikan tindak nonfarmakologis untuk
menjadi cukup meningkat (4) mengurangi rasa nyeri
b. Kemampuan mengenali 2. Kontrol lingkugan yang memperberat rasa
penyebab nyeri dari cukup nyeri
menurun (2) menjadi cukup E:
meningkat (4) 1. Jelaskan strategi mereda nyeri
c. Kemampuan menggunakan 2. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
tindak non farmakologis 3. Ajarkan tindak nonfarmakologis untuk
cukup menurun (2) menjadi mengurangi rasa nyeri
cukup meningkat (4) K:
1. Kolaborasi Pemberian tindakan
2. Tingkat nyeri (L.08066)
a. Keluhan nyeri dari meningkat 2. Terapi Relaksasi (I.309326)
(1) menjadi sedang (3) O:
b. Meringis dari meningkat (1) 1. Identifikasi penurunan tingkat energi,
menjadi sedang (3) ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala
c. Gelisah dari meningkat (1) lain yang mengganggu kemampuan kognitif
menjadi sedang (3) 2. Identifikasi tindak relaksasi yang pernah
efektif digunakan
3. Monitor respon terhadap terapi relaksasi

M:
1. Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang
dengan tindakan atau tindakan medis lain
2. Gunakan nada suara lembut dengan berirama
lambat

E:
1. Jelaskan tujuan, manfaat, tindakan dan jenis
relaksasi yang tersedia
2. Anjurkan mengambil posisi nyaman
3. Anjurkan rileks dan merasakan sensasi
relaksasi
4. Demonstrasikan dan latih tindakan relaksasi
K:
1. Kolaborasi pemberian analgetik
Dx: 1. Reduksi Ansietas (I.09314)
Ansietas berhubungan dengan krisis
situasional (D.0080) O:
1. Identifikasi saat ansietas berubah
Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam 2. Monitor tanda 0 tanda ansietas
diharapkan masalah klien dengan
nyeri akut dapat teratasi dengan M:
kriteria hasil: 1. Ciptakan suasasna tarapeutik untuk
1. Tingkat ansietas (L.09093) menumbuhkan kepercayaan
a. Verbalisasi khawatir akibat 2. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan
kondisi yang dihadapi dari 3. Pahami situasi yang membuat ansietas
meningkat (1) menjadi 4. Motivasi mengidentifikasi situasi yang
sedang (3) memicu kecemasan
b. Perilaku gelisah meningkat
(1) menjadi sedang (3) E:
c. Perilaku tegang meningkat 1. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
(1) menjadi sedang (3) ketegangan
2. Latih pengguaan mekanisme pertahanan diri
yang ketat

K:
1. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas
Dx: 1. Edukasi proses penyakit (I.12444)
Defisit pengetahuan berhubungan
dengan kurang terpapar informasi O
(D.0111) 1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam
diharapkan masalah klien dengan M
nyeri akut dapat teratasi dengan 1. Sediakan materi dan media tindakan tindakan
kriteria hasil: 2. Berikan kesempatan untuk bertanya
1. Tingkat pengetahuan (L.12111)
a. Kemampuan menjelaskan E
pengetahuan tentang suatu 1. Jelaskan penyebab dan factor risiko penyakit
topic dari cukup menurun (2) 2. Jelaskan proses patofisiologi munculnya
menjadi cukup meningkat penyakit
(4) 3. Jelaskan tanda dan gejala yang ditimbulkan
b. Perilaku sesuai dengan oleh penyakit
pengetahuan dari cukup 4. Jelaskan kemungkinan adanya komplikasi
menurun (2) menjadi cukup 5. Informasikan kondisi pasien
meningkat (4)
c. Pertanyaan tentang masalah K: -
yang dihadapi dari
meningkat (1) menjadi 1. Edukasi Kesehatan (I.12383)
sedang (3)
O
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi

M:
1. Sediakan materi dan media tindakan
2. Berikan kesempatan untuk bertanya

E:
1. Jelaskan factor risiko yang dapat
mempengaruhi tindakan
2. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

K: -
Dx: 1. Dukungan mobilisasi (I.05173)
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan O:
kendali otot (D.0054) 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
lainnya
Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam 2. Identifikasi toleransi fisik saat melakukan
diharapkan masalah klien dengan pergerakan
nyeri akut dapat teratasi dengan 3. Monitor kondisi umum selama melakukan
kriteria hasil: mobilisasi
1. Mobilitas fisik (L.05042)
a. Kekuatan otot dari cukup M:
menurun (2) menjadi cukup 1. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
meningkat (4) bantu
b. Nyeri dari meningkat (1) 2. Fasilitasi melakukan aktivitas pergerakan
menjadi sedang (3)
c. Kelemahan fisik dari cukup E:
meningkat (2) menjadi cukup 1. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
menurun (4) 2. Anjurkan mobilisasi dini
3. Ajarkan mobilisasasi sederhana yang harus
dilakukan

K:-
Resiko infeksi 1. Pencegahan infeksi
O:
Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam 1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan
diharapkan masalah klien dengan sistemik
resiko infeksi dapat teratasi dengan
kriteria hasil: M:
1. Tingkat infeksi 1. Berikan perawatan kulit pada area edema
a. Demam dari sedang (3) 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
menjadi cukup meningkat dengan pasien dan lingkungan pasien
(5) 3. Pertahankan Teknik aseptic pada pasien
b. Kemerahan dari sedang (3) beresiko tinggi
menjadi cukup menurun (5)
c. Nyeri sedang (3) menjadi E:
cukup menurun (5) 1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
d. Bengkak sedang (3) menjadi 2. Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau
cukup menurun (5) luka operasi
3. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
4. Anjurkan meningkatkan asupan cairan

K: -
3. Implementasi & Evaluasi

Diagnosa Implementasi Evaluasi


Nyeri Manajemen nyeri
Akut 1. Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, S: klien mengatakan sudah sedikit
berhubun durasi, frekuensi, kualitas, intensitas berkurang tetapi nyerinya memang
gan nyeri sudah sakit sekali jadi rasa nyeri yang
dengan S: dirasakan masih terlalu
agens  Klien mengatakan nyerinya mengganggunya
cidera dikarenakan wasir yang sudah
fisik dialaminya selama 5 tahun (P) O: klien masih terlihat meringis dan
 Klien mengatakan nyerinya terasa menyeritkan dahinya
perih seperti ditusuk-tusuk (Q)
 Klien mengatakan nyerinya berada A: dalam mengurangi nyeri dengan
di anusnya (R) skala 10 dengan Teknik relaksasi harus
 Klien mengatakan skala nyeri yang dilakukan dengan waktu yang lebih
dirasakan adalah 10 yaitu sangat lama agar terlihat hasil yang
nyeri (S) signifikan, nyeri akut belum teratasi
 Klien mengatakan nyerinya sudah lanjutkan intervensi
dirasakan sejak 2 hari yang lalu
dan dirasakan setiap saat (T) P: Kolaborasikan pemberian analgetik
dengan dokter
O: Klien tampak meringis,
menyeritkan dahi, merintih dan
gelisah

H: klien dapat terbuka dengan


perawat sehingga perawat
mendapatkan data terkait nyeri yang
dirasakan klien

2. Mengidentifikasi skala nyeri


S: klien mengatakan nyeri yang
dirasakan berada di skala 10 yaitu
sangat nyeri

O: Klien tampak meringis,


menyeritkan dahi, merintih dan
gelisah

H: Klien dapat menyampaikan skala


nyeri yang dirasakan, sehingga
perawat dapat menentukan intervensi
selanjutnya sesuai kondisi pasien
3. Mengidentifikasi factor yang
memperberat dan memperingan nyeri
S: klien mengatakan kalau sakitnya
semakin parah jika ia terus memaksa
bekerja mengangkat beban yang
berat, saat itu nyeri yang dirasakan
sangat nyeri

O: klien bekerja sebagai buruh dan


selalu mengangkat beban berat

H: klien dapat mengidentifikasi faktor


yang memperberat rasa nyerinya
namun tidak dapat dihindari karena
pekerjaannya

4. Mengajarkan teknik nonfarmakologis


untuk mengurangi rasa nyeri
S: klien mengatakan mau untuk
diberikan terapi relaksasi untuk
mengurangi nyerinya

O: klien terlihat kooperatif ketika


diajarkan untuk terapi relaksasi dalam
mengurangi nyeri yang dirasakan

H: klien sanggat kooperatif sehingga


ketika perawat mengajarkan Teknik
relaksasi nafas dalam klien
memperhatikan dan mampu
mengulangi kegiatan terapi relaksasi

Terapi relaksasi
1. Menganjurkan mengambil posisi
nyaman
S: klien mengatakan posisinya sudah
jauh lebih nyaman dari sebelumya dan
siap untuk melakukan terapi relaksasi

O: klien terlihat lebih rileks dengan


posisinya saat ini

H: klien dapat rileks dengan posisinya


saat ini dengan dibantu perawat untuk
mengubah posisinya

2. Menganjurkan rileks dan merasakan


sensasi relaksasi
S: klien mengatakan dirinya rileks dan
kurang berfokus pada saat terapi
sehingga masih merasakan nyerinya
O: klien terlihat kurang fokus karena
nyeri yang dirasakan, klien terlihat
merintih dan menyeritkan dahi

H: klien dapat mematuhi instruksi


untuk rileks dan berfokus ketika
sedang melakukan relaksasi

3. Mendemonstrasikan dan latih teknik


relaksasi
S: klien mengatakan melakukan
Teknik relaksasi nafas dalam seperti
Tarik nafas dalam melalui hidung,
tahan 3 detik lalu buang perlahan
melalui mulut

O: klien terlihat dapat mengulang


kembali Teknik relaksasi yang telah
diajarkan perawat

H: perawat mendemonstrasikan cara


melakukan Teknik relaksasi dan
mengevaluasi pasien apakah Teknik
relaksasi yang dilakukan sudah efektif
dan pasien dapat mengulang kembali
sesuai dengan yang diajarkan

4. Memonitor respon terhadap terapi


relaksasi
S: klien mengatakan sudah sedikit
berkurang tetapi nyerinya memang
sudah sakit sekali jadi masih terlalu
mengganggunya

O: klien masih terlihat meringis dan


menyeritkan dahinya
H: rasa sakit klien masih dirasakan
karena dalam melakukan Teknik
relaksasi membutuhkan beberapa
waktu hingga dapat berkurang
nyerinya
Ansietas Reduksi ansietas
berhubun 1. Memonitor tanda-tanda ansietas S: klien mengatakan deg-deg an,
gan S: klien mengatakan detakan karena ini operasi pertamanya
dengan jantungnya terasa cepat, klien
krisis mengatakan takut O: klien terlihat gelisah, tegang dan
situasion terkadang urang fokus
al O: klien terlihat gelisah dan terkadang
kurang fokus A: ansietas dapat diidentifikasi,
ansietas belum teratasi lanjutkan
H: perawat dapat mengidentifkasi intervensi
tanda-tanda ansietas pada pasien
P: Perawat bersama dengan dokter
2. Memahami situasi yang membuat dapat membantu menjelaskan
ansietas mengenai proses penyakit dan
S: klien mengatakan ini pertama prosedur yang akan dilakukan oleh
kalinya dioperasi sehingga klien pasien didalam ruang operasi
merasa cemas

O: klien terlihat gelisah dan tegang

H: perawat dapat mengidentifikasi


penyebab ansietas pada pasien

3. Melatih pengguaan mekanisme


pertahanan diri yang ketat
S: klien mengatakan biasanya kalau
sedang cemas hanya pasrah kepada
tuhan dengan berdoa agar diberikan
yang terbaik

O: klien terlihat lebih tenang

H: klien dapat menggunakan berdoa


sebagai mekanisme diri untuk
mengatasi cemasnya
Defisit
pengetah
uan
berhubun
gan
dengan
kurang
terpapar
informas
i
BAB IV
PEMBAHASAN

BAB ini membahas mengenai, perbedaan dan kesenjangan yang terdapat pada
teori dan kasus, menganalisis kasus. Pembahasan ini diuraikan mulai dari tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi
keperawatan dan evaluasi keperawatan.

Menurut pengertian yang dijelaskan oleh Muttaqin dan Sari, (2011) hemoroid
merupakan penyakit yang dapat menyerang segala usia, namun umumnya lebih
sering menimbulkan keluhan pada usia 50 tahun atau lebih. Usia pasien dalam
kasus yang didapatkan oleh kelompok berusia 37 tahun dan dalam penelitian yang
dilakukan Putri, Sari, dan Vidiastutik, (2020) terdapat hasil bahwa usia yang
paling banyak mengalami hemoroid adalah responden yang berumur ≥ 35 tahun
sebanyak 26 orang (86.7%) hal ini sebanding dengan usia pasien dalam kasus
yang didapatkan oleh kelompok. Menurut Apriza dan Abdullah, (2018) dimana
usia ≥ 35 tahun memiliki risiko tinggi terjadinya hemoroid karena terjadi
penurunan fungsi struktur organ dan pembuluh darah mengalami penurunan
elastisitas disebabkan karena efek degenerasi akibat usia dapat memperlemah
jaringan penyokong dan bersamaan dengan usaha pengeluaran feses yang keras
secara berulang serta mengakibatkan prolapsus. Bantalan yang mengalami
prolapsus akan terganggu aliran balik vena.

Jenis kelamin pasien pada kasus yang didapatkan oleh kelompok adalah laki-laki
dan pasien memiliki pekerjaan dengan aktivitas fisik yang berat seperti
mengangkat barang, dimana menurut penelitian yang dilakukan Apriza dan
Abdullah, (2018) menunjukkan jenis kelamin yang paling banyak menderita
hemoroid adalah laki- laki sebanyak 27 orang (54,0%) sedangkan perempuan
hanya 23 orang (46.0%). Penelitian yang dilakukan oleh (Utomo, Virgiandhy, &
Rialita, 2015) menjelaskan hemoroid pada laki-laki terjadi karena laki- laki
memiliki aktivitas fisik yang lebih berat dibandingkan perempuan. Aktivitas fisik
yang berat seperti mengangkat beban berat akan meningkatkan risiko terjadinya
hemoroid. Bekerja sambil duduk dan mengangkat beban berat yang terlalu lama
menyebabkan peregangan otot sfingter ani berulang sehingga ketika penderita
mengejan akan terjadi peregangan yang bertambah buruk. Pembesaran prostat
adalah salah satu faktor risiko pada laki-laki yang akan meningkatkan poses
mengejan sehingga yang terjadi adalah peningkatan tekanan intraabdominal
sehingga akan menghambat aliran darah dari arteri hemoroidalis.

Tanda dan gejala yang dirasakan oleh pasien dalam kasus saat sebelum
dilakukannya proses operasi, yaitu mengatakan nyeri didaerah anus dengan skala
10, timbul nyeri saat duduk dan pada saat sedang bekerja (angkat beban berat),
demam, BAB berdarah. Tanda dan gejala yang dirasakan pasien sesuai dengan
teori manifestasi klinis menurut (Muttaqin & Sari, 2011) yaitu darah segar
menetes setelah buang air besar (BAB), terdapat benjolan pada anus, nyeri dan
rasa tidak nyaman.

Penatalaksanaan medis menurut Muttaqin & Sari, (2011) terdiri dari beberapa
tindakan yaitu konservatif, skleroterapi, ligasi, dan hemoroidektomi, Sedangkan
penatalaksanaan medis yang sesuai dengan masalah pasien dalam kasus adalah
operasi hemoroidektomi, hemoroidektomi adalah suatu tindakan pembedahan dan
cara pengangkatan pleksus hemoroidalis dan mukosa atau tanpa mukosa yang
hanya dilakukan pada jaringan yang benar- benar berlebih. Hal ini terjadi karena
tingkat stadium hemoroid yang dialami pasien sudah mencapai stadium III dan
stadium IV sehingga diharuskan dilakukannya operasi hemoroidektomi.

PENGKAJIAN
RENCANA
INTERVENSI
EVALUASI
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Apriza, R., & Abdullah, D. (2018). Karakteristik Pasien Hemorrhoid Dibagian


bedah Digestifrsi Siti Rahmah Padang Periode Januari- Desember. Jurnal
Kesehatan Saintika Meditory, 2(2), 73–82.
Buntzen, S., Christensen, P., Khalid, A., Ljungmann, K., Lindholt, J., Lundby, L.,
… Raahave, D. (2013). Diagnosis and treatment of haemorrhoids. Danish
Medical.
Depkes, R. (2015). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: RI Jakarta.
Griffiths, M. (2019). Crash Course Gastrointestinal System, Hepatobiliary and
Pancreas (1 st Indon). Retrieved from https://books.google.co.id/books?
id=xiD3DwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summar
y_r&cad=0#v=onepage&q&f=false
Joyce., B., & Hawks, J. H. (2014). Medical Surgical Nursing vol 2. Jakarta:
Salemba Medika.
Muttaqin, A., & Sari, K. (2011). Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif, & Kusuma. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction.
Putri, D. ika, Sari, A. P., & Vidiastutik, Y. (2020). Hubungan Anestesi Regional
(Sab) Dengan Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Operasi Hemoroid Di
Ruang Mawar RSUD Jombang. 4, 35–44.
Riskesda. (2015). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta: Badan
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Rosdahl, C. B., & Kowalski, M. T. (2017). Buku Ajar Keperawatan Dasar.
Jakarta: EGC.
Sjamsuhidajat. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah (2nd ed.). Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C. ., & Bare, B. G. . (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: EGC.
Sudoyo A. W., Setiyohadi B., Alwi I., Setiati S., D. (2006). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I (4th ed.). Jakarta: Pusat penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FK UI.
Utomo, F. D., Virgiandhy, I., & Rialita, A. (2015). Hubungan Usia Dan Jenis
Kelamin Terhadap Derajat Hemoroid Internal Di RSUD Dokter Soedarso
Pontianak Tahun 2009-2013.