Anda di halaman 1dari 26

Laporan Pendahuluan Kasus I

Nama Mahasiswa : Chyntia Khalida Tgl: Senin, 26 April 2021


Fathma
NIM: 202015065 Tempat Praktik: Ruang Bedah RSU
Hasanah Graha Afiah
Judul Laporan Pendahuluan:
Appendisitis Perforasi Laparatomy

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Anatomi Fisiologi Terakait Sistem/Organ
a. Mulut merupakan jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ
aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencernaan.
Secara umum mulut terdiri atas dua bagian yaitu :
1) Bagian luar yang sempit (vestibula) yaitu ruang diantara gusi,
gigi,dan gusi
2) Bagian rongga mulut (bagian dalam), yaitu rongga mulut yang
dibatasi oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis selaput
lendir mulut ditutupi epitelium yang berlapis – lapis, dibawahnya
terletak kelenjar – kelenjar halus yang mengeluarkan lender, selaput
ini kaya akan pembulu darah dan juga memuat banyak ujung akhir
syaraf sensoris. Di sebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan
disebelah dalam ditutupi oleh selaput lender (mukosa) di mulut ada
beberapa bagian yang perlu diketahui :
a) Palatum
Palatum terdiri dari dua bagian:
 Palatum darum yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari
sebelah depan tulang maksilaris dan lebih kebelakan terdiri
dari dari dua bagian palatum
 Palatuum mole, terletak di belakang yang merupakan lipatan
menggantung yang dapat bergerak, terdiri atas jaringan
fibrosa dan selaput lender
b) Rongga mulut
 Gigi
Manusia mempunyai dua susunan gigi primer dan sekunder.
Juga gigi ada dua macam, yaitu Gigi sulung, molai tumbuh
pada anak – anak umur 6 – 7 bulan Gigi tetap tumbuh pada
umur 6 – 18 tahun umlahnya 32 buah.
 Lidah
Berfungsi untuk menggerakan makanan saat dikunyah atau
ditelan. Dibagian belakang pangkal lidah terdapat epiglottis
yang berfungsi untuk menutup jalan nafas.
c) Kelenjar ludah terdapat tiga buah kelenjar ludah bagiannya yaitu:
 Kelenjar parotis, letaknya dibawah depan dari telinga
diantarprosesus mastoid kiri dan kanan os mandibularis,
duktusnya stensoni.
 Kelenjar submaksilaris, terletak dibawah rongga mulut
bagian belakang, duktusnya bernama duktus wartoni,
bermuara di rongga mulut dekat dengn frenulum
lingua.ukuran kurang lebih sebesar kacang kenari.
 Kelenjar sub lungualis, letaknya terdapat dibawah selaput
lender dasar rongga mulut bermuara didasar rongga mulut.
b. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amande) yaitu
kumpulan kelenjar limfe yang bnyak mengandung limfosit dan
merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terdapat persimpangan
antara jalan nafas dan jalan makanan, yang terletak di belakang rongga
mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
c. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,
panjangnya sekitar 9 sampai dengan 25 cm dengan diameter sekitar 2.54
cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.
d. Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak,
terutama didaerah epigaster lambung, terdiri dari bagian atas fundus uteri
berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilarik terletak dibawah
diafragma didepan pangkreas dan limpa menempel disebelah kiri fundus
uteri. Bagian lambung terdiri dari:
a) Fundus ventriculi
Bagian yang menonjol keatas terletak sebelah kiri osteom kardium
dan biasanya penuh berisi gas
b) Korpus ventriculi
Korpus fentrikuli setinggi ostium kardium suatu lekukan pada bagian
bawah kurfatura minor.
c) Antrum vilorus
Antrum vilorus bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot
yang tebal membentuk spinter pylorus
d) Kurvatura minor
Kurvatura minor terdapat disebelah kanan lambung, terbentang dari
osteom kardiak sampai ke pilorus.
e) Kurvatura mayor
Kurvatura mayor lebih panjang dari kurvatura minor terbentang dari
sisi kiri osteom kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju kekanan
sampai ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lenalis terbentang dari
bagian atas kurvatura mayor sampai ke limfa.
f) Osteom kardiakum
Osteom kardiakum merupakan tempat diman abdomen masuk ke
lambung pada bagian ini terdapat orifisium pilorik .

e. Usus halus (intestinum minor)


Adalah saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar, yang merupakan
tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai kiatup ileosekal
empatnya menyatu dengan usus besar. Susunan usus halus :
a) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25 cm, berbentuk
seperti sepatu kuda melengkung kekiri pada lengkungan ini terdapat
pangkreas.
b) Yeyenum
Adalah bagian kelanjutan dari duodenum yang panjangnya lebih 1-1,5m.
c) Ileum
ILeum merentang sampai menyatu dengan usus besar dengan panjang 2 –
2,5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen
posterior dengan perantaraan lipatam peritoneum yang berbentuk kipas
dikenal sebagai mesentreum

f. Hati
Organ yang paling besar dalam tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya
1500 kg. Letaknya dibagian atas rongga abdomen disebelah 13 kanan bawah
diafragma.Hepar tertetak diquadran kanan atas abdomen, dibawah diafragma
dan terlindungi oleh tulang rusuk (costae),sehingga dalam keadaan normal
(hepar yang sehat tidak teraba). Hati menerima darah teroksigenasi dari arteri
hepatica dan darah yang tidak teroksigenasi tetapi kanya akan nutrien vena
porta hepatica.

g. Empedu
Sebuah kantong berbentuk terang dan merupakan membrane berotot, letaknya
dalam sebuah lobus disebelah permukaan bawah hati sampai pinggir
depannya, panjangnya 8 – 12 cm berisi 60 cm. Empedu yang diproduksi oleh
sel – sel hati memasuki kanalikuli empedu yang kemudian menjadi duktus
hepatica kanan dan kiri. Duktushepatica menyatu untuk membentuk duktus
hepatic komunis yang kemudian menyatu dengan duktus sistikus dari
kandung empedu damn keluar dari hati sebagai duktus empedu komunis.
Duktus empedu komunis bersama denagn duktus pancreas bernuara
diduodenum atau dialihkan untuk penyimpanan dikandung empedu.

h. Pankreas
Pankreas adalah kelenjar terelongasi berukuran besar dibalik kurvatura besar
lambung. Kelenjar pancreas sekumpulan kelenjar yang strukturnya sanga
mirip dengan kelenjar ludah panjangya kira – kira 15 cm, lebar 5 cm mulai
dari duodenum 14 sampai kelimpa dan beratnya rata – rata 60 – 90 gr.
Terbentang pada vertebral lumbalis II dan II dibelakang lambung.

i. Usus besar
Dalam ke luar adalah selaput lender, laposan otot melingkar, lapisan otot
memanjang, dan jaringan ikat . Ukurannya lebi besar daripada usus halus,
disini terdapat taenia coli dan apendiks epiploika, mukosanya lebih halus
daripada usus halus dan tidak memiliki villi,tidal memiliki lipatan – lipatan
sirkuler. Serabut otot longitudinal dalam muskulus eksterna membentuk tiga
pita, taenia coli yang menarik kolon menjafdi kantong – kantong besar yang di
sebut haustra. Dibagian bawah terdapat katup ileosekal yaitu katup antara usus
halus dan usus besar. Katup ini tertutup dan akan terbuka untuk
merespongelombang peristaltic, sehingga memungkinkan kimus mengalir 15
ml sekali masuk dan untuk total aliran sebanyak 500 ml/hari.
Usus besar terdiri dari :
a) Kolon asendens (kanan)
b) Kolon transversum
c) Kolon desendens (kiri)
d) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).

j. Rectum
Rectun adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah
kolon sigmoid) dan berakhir dianus. Biasanya rectum ini kosong karena tinja
simpam ditempat yang lebih tinggi yaitu pada kolon desenden. Jika kolon
desenden penuh dan tinja masuk kedalam rectum, maka akan timbul
keinginan buang air besar, orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa
menahan ini, tetapi pada bayi dan anak mudah mengalami kekurangan dalam
pengendalian otot yamg penting untuk menunda buang air besar. Anus
merupakan lubang diujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar
dari tubuh.sebagiann anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan
sebagian lainnya dari usus.

2. Definisi
Appendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan
penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini menyerang
semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang
laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun dan merupakan penyebab paling umum
inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dan merupakan penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013)
Apendisitis perforasi adalah pecahnya apendik yang sudah gangrenosa yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis
umum. Pada dinding apendik tampak daerah perforasi dikelilingi oleh
jaringan nekrotik (Erianto, Fitriyani, & Siswandi, 2020).

3. Etiologi
Appendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai
faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit,
tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan.
Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan appendisitis adalah erosi
mukosa apendiks karena parasit seperti E. histolytica (Sjamsuhidajat, 2011).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya appendisitis akut
(Sjamsuhidajat, 2011).
4. Patofisiologi
Menurut Smeltzer & Bare (2013) Apendisitis kemungkinan dimulai oleh
obstruksi dari lumen yang disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit.
Sesuai dengan pengamatan epidemiologi bahwa apendisitis berhubungan
dengan asupan makanan yang rendah serat. Pada stadium awal apendisitis,
terlebih dahulu terjadi inflamasi mukosa. Inflamasi ini kemudian berlanjut ke
submukosa dan melibatkan peritoneal. Cairan eksudat fibrinopurulenta
terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa permukaan
peritoneal yang bersebelahan. Dalam stadium ini mukosa glandular yang
nekrosis terkelupas ke dalam lumen yang menjadi distensi dengan pus.
Akhirnya, arteri yang menyuplai apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks
yang kurang suplai darah menjadi nekrosis ke rongga peritoneal. Jika
perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses lokal akan terjadi.
5. Pathway

6. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala menurut Erianto, Fitriyani, & Siswandi (2020) adalah
sebagai berikut:
a. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
b. Mual, muntah
c. Anoreksia, malaise
d. Nyeri lepas lokal pada titik Mc. Burney
e. Spasme otot
f. Konstipasi

7. Klasifikasi
Menurut Elizabeth (2009) klasifikasi appendicitis ada 7 macam diantaranya
adalah :
a. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis
akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti
oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
1) Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
2) Fekalit
3) Benda asing
4) Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi
tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan
intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin
tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding
apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus /
nanah pada dinding apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian
menyebar secara hematogen ke apendiks.

b. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)


Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema
pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam
dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi
suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat
eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal
seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan
nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi
pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
c. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua
syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang
kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan
menghilang satelah apendektomi.

Kriteria  mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh


dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.

d. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri
berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan
hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila
serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis
tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan
parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens
apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang diperiksa secara
patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering
penderita datang dalam serangan akut.

e. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin
akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya berupa
jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi.
Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu kistadenoma yang
dicurigai bisa menjadi ganas.

Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di
perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan.
Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut.
Pengobatannya adalah apendiktomi.

f. Tumor Apendiks/Adenokarsinoma apendiks


Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu
apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke
limfonodi regional, dianjurkan  hemikolektomi kanan yang akan memberi
harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi.

g. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang
didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis
akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada
muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag hanya
ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor
memproduksi serotonin yang menyebabkan gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa
memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai
radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan
pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau
hemikolektomi kanan

8. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Kurniati, Trisyani, & Theresia (2018) pemeriksaan diagnostik
appendicitis adalah sebagai berikut:
Apendisitis dapat menjadi sulit untuk didiagnosa, karena banyak pasien yang
datang dengan gejala yang menahun dan berkepanjangan atau dapat pula
dengan tanda dan gejala yang tidak khas. Kekeliruan dalam mendiagnosis
dapat terjadi dengan frekuensi 20% sampai 40% dalam beberapa populations.
a. CBC untuk mendeteksi leukositosis (bergeser ke kiri): salah satu
penelitian pada pasien usia 15-83 tahun dengan dugaan apendisitis
ditemukan bahwa sel darah putih lebih dari 10.000 / mm 3 adalah 77%
sensitive dan 63% spesifik untuk diagnosa. Jumlah sel darah putih normal
pada 10% sampai 30% dari pasien dengan appendicitis.
b. Urinalisis dan tes kehamilan secara rutin
c. Imaging: CT scan dengan kontras direkomendasikan oleh literature saat
ini (70% sampai 94%) diatas ultrasonografi untuk mendiagnosis usus
buntu dan dapat mendeteksi ekstrakolon penyebab nyeri pada perut. CT
scan memiliki sensitivitas 92% sampai 98% dan secara khusus
direkomendasikan untuk pria dengan presentasi tidak khas dan untuk
perempuan diantaranya patologi pelvis yang mungkin meniru appendicitis.
9. Penatalaksanaan Medis
Menurut Wijaya & Putri (2013) penatalaksanaan medis pada appendisitis
meliputi :
a. Sebelum operasi
1) Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
appendisitis seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi ketat
perlu dilaksanakan. Klien diminta melakukan tirah baring dan
dipuasakan. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah
(leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik, foto abdomen dan
toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit
lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi
nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
2) Antibiotik
Antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksidan abses intra
abdominal luka operasi pada klien apendiktomi.Antibiotik diberikan
sebelum, saat, hingga 24 jam pasca operasi dan melalui cara
pemberian intravena (IV).

b. Operasi
Tindakan operasi yang dapat dilakukan adalah apendiktomi. Apendiktomi
adalah suatu tindakan pembedahan dengan cara membuang apendiks.
Indikasi dilakukannya operasi apendiktomi yaitu bila diagnosa
appendisitis telah ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pada keadaan yang
meragukan diperlukan pemeriksan penunjang USG atau CT scan. Operasi
apendiktomi dapat dilakukan dengan 2 teknik, yaitu operasi apendiktomi
terbuka dan laparaskopi apendiktomi. Apendiktomi terbuka dilakukan
dengan cara membuat sebuah sayatan dengan panjang sekitar 2 – 4 inci
pada kuadran kanan bawah abdomen dan apendiks dipotong melalui
lapisan lemak dan otot apendiks kemudian apendiks diangkat atau
dipisahkan dari usus. Sedangkan pada laparaskopi apendiktomi dilakukan
dengan membuat 3 sayatan kecil di perut sebagai akses, lubang pertama
dibuat dibawah pusar, fungsinya untuk memasukkan kamera super mini
yang terhubung ke monitor ke dalam tubuh, melalui lubang ini pula
sumber cahaya dimasukkan. Sementara dua lubang lain di posisikan
sebagai jalan masuk peralatan bedah seperti penjepit atau gunting. Ahli
bedah mengamati organ abdominal secara visual dan mengidentifikasi
apendiks. Apendiks dipisahkan dari semua jaringan yang melekat,
kemudian apendiks diangkat dan dikeluarkan melalui salah satu sayatan.
Jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka abdomen dicuci dengan
garam fisiologis dan antibiotika.Tindakan pembedahan dapat
menimbulkan luka insisi sehingga pada klien post operatif apendiktomi
dapat terjadi resiko infeksi luka operasi.

c. Pasca Operasi
Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan pernapasan. Klien
dibaringkan dalam posisi terlentang. Klien dikatakan baik bila dalam 12
jam tidak terjadi gangguan. Puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali
normal.

10. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan appendisitis. Adapun
jenis komplikasi menurut Sulekale (2016) adalah sebagai berkut:
a. Abses
Abses merupakan peradangan apendiks yang berisi pus. Teraba massa
lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mulamula
berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus.
Hal ini terjadi apabila appendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi
oleh omentum. Operasi appendektomi untuk kondisi abses apendiks dapat
dilakukan secara dini (appendektomi dini) maupun tertunda
(appendektomi interval). Appendektomi dini merupakan appendektomi
yang dilakukan segera atau beberapa hari setelah kedatangan klien di
rumah sakit. Sedangkan appendektomi interval merupakan appendektomi
yang dilakukan setelah terapi konservatif awal, berupa pemberian
antibiotika intravena selama beberapa minggu.
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya apendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama
sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat
diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul
lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5° C, tampak toksik,
nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama Polymorphonuclear
(PMN). Perforasi baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi
dapat menyebabkan terjadinya peritonitis. Perforasi memerlukan
pertolongan medis segera untuk membatasi pergerakan lebih lanjut atau
kebocoran dari isi lambung ke rongga perut. Mengatasi peritonitis dapat
dilakukan operasi untuk memperbaiki perforasi, mengatasi sumber infeksi,
atau dalam beberapa kasus mengangkat bagian dari organ yang
terpengaruh.
c. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum. Bila infeksi tersebar luas
pada permukaan peritoneum dapat menyebabkan timbulnya peritonitis
umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus
meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok,
gangguan sirkulasi, dan oliguria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang
semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.
Penderita peritonitis akan disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah
sakit. Beberapa penanganan bagi penderita peritonitis adalah:
1) Pemberian obat-obatan. Penderita akan diberikan antibiotik suntik atau
obat antijamur bila dicurigai penyebabnya adalah infeksi jamur, untuk
mengobati serta mencegah infeksi menyebar ke seluruh tubuh. Jangka
waktu pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan yang
dialami klien.
2) Pembedahan. Tindakan pembedahan dilakukan untuk membuang
jaringan yang terinfeksi atau menutup robekan yang terjadi pada organ
dalam.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
Wawancara untuk mendapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya
mengenai:
a. Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium
menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah
mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium
dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-
menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan
yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
b. Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah.
kesehatan klien sekarang.
c. Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
d. Kebiasaan eliminasi.
e. Pemeriksaan Fisik
i. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit
ringan/sedang/berat.
ii. Sirkulasi : Takikardia.
iii. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
f. Aktivitas/istirahat : Malaise.
g. Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
h. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak
ada bising usus.
i. Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena
berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah
karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
j. Demam lebih dari 38oC.
k. Data psikologis klien nampak gelisah.
l. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
m. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa
nyeri pada daerah prolitotomi.
n. Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.

2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


a. Pre operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan
intestinal oleh inflamasi)
2) Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan
peritaltik.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4) Cemas  berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
b. Post operasi
1) Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appenditomi).
2) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post
pembedahan).
3) Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan
pengobatan b.d kurang informasi.
3. Rencana Keperawatan
PRE OPERASI
N DIAGNOSA
NOC NIC RASIONAL
O KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan, - Kaji tingkat nyeri, lokasi dan -Untuk mengetahui sejauh mana t
dengan agen injuri diharapkan nyeri klien berkurang dengan karasteristik nyeri. dan merupakan indiaktor secar
biologi (distensi jaringan kriteria hasil : dapat memberikan tindakan sel
intestinal oleh inflamasi) - Klien mampu mengontrol nyeri (tahu -Informasi yang tepat dapat m
penyebab nyeri, mampu - Jelaskan pada pasien tentang tingkat kecemasan pasien dan
menggunakan tehnik nonfarmakologi penyebab nyeri pengetahuan pasien tentang ny
untuk mengurangi nyeri, mencari -Napas dalam dapat menghirup
bantuan) - Ajarkan tehnik untuk adequate sehingga otot-oto
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang pernafasan diafragmatik lambat relaksasi sehingga dapat meng
dengan menggunakan manajemen / napas dalam nyeri.
nyeri -Meningkatkan relaksasi d
- Tanda vital dalam rentang normal : - Berikan aktivitas hiburan meningkatkan kemampuan koo
TD (systole 110-130mmHg, diastole (ngobrol dengan anggota
70-90mmHg), HR(60-100x/menit), keluarga) -Deteksi dini terhadap pe
RR (16-24x/menit), suhu (36,5- - Observasi tanda-tanda vital kesehatan pasien.
37,50C) -Sebagai profilaksis untu
- Klien tampak rileks mampu - Kolaborasi dengan tim medis menghilangkan rasa nyeri.
tidur/istirahat dalam pemberian analgetik
2. Perubahan pola eliminasi Setelah dilakukan asuhan keperawatan, - Pastikan kebiasaan - Membantu dalam pembentuk
(konstipasi) berhubungan diharapkan konstipasi klien teratasi defekasi klien dan gaya hidup irigasi efektif
dengan penurunan dengan kriteria hasil: sebelumnya.
peritaltik. - BAB 1-2 kali/hari - Auskultasi bising usus - Kembalinya fungsi gastriintes
- Feses lunak mungkin terlambat oleh infla
- Bising usus 5-30 kali/menit peritonial
- Tinjau ulang pola diet dan - Masukan adekuat dan serat, m
jumlah / tipe masukan cairan. kasar memberikan bentuk dan
adalah faktor penting dalam m
konsistensi feses.
- Berikan makanan tinggi serat. - Makanan yang tinggi serat da
memperlancar pencernaan seh
terjadi konstipasi.
- Berikan obat sesuai indikasi, - Obat pelunak feses dapat mel
contoh : pelunak feses feses sehingga tidak terjadi ko
3. Kekurangan volume Setelah dilakukan asuhan keperawatan - Monitor tanda-tanda vital - Tanda yang membantu
cairan berhubungan diharapkan keseimbangan cairan dapat mengidentifikasikan fluktuas
dengan mual muntah. dipertahankan dengan kriteria hasil: intravaskuler.
- kelembaban membrane mukosa - Kaji membrane mukosa, kaji - Indicator keadekuatan sirkula
        turgor kulit baik tugor kulit dan pengisian dan hidrasi seluler.
- Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg kapiler.
BB/jam - Awasi masukan dan haluaran, - Penurunan haluaran urin peka
- Tanda-tanda vital dalam batas catat warna urine/konsentrasi, peningkatan berat jenis didug
normal : TD (systole 110-130mmHg, berat jenis. dehidrasi/kebutuhan peningka
diastole 70-90mmHg), HR(60- - Auskultasi bising usus, catat
100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu kelancaran flatus, gerakan
(36,5-37,50C) usus. - Indicator kembalinya peristal
- Berikan perawatan mulut kesiapan untuk pemasukan pe
sering dengan perhatian khusus
pada perlindungan bibir. - Dehidrasi mengakibatkan bib
- Pertahankan penghisapan mulut kering dan pecah-pecah
gaster/usus.
- Selang NG biasanya dimasuk
praoperasi dan dipertahankan
segera pascaoperasi  untuk de
- Kolaborasi pemberian cairan usus, meningkatkan istirahat
IV dan elektrolit mencegah mentah.
- Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan mengha
sejumlah besar cairan yang da
menurunkan volume sirkulasi
mengakibatkan hipovolemia.
dapat terjadi ketidakseimbang
elektrolit
4. Cemas  berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan, - Evaluasi tingkat ansietas, catat -Ketakutan dapat terjadi karena ny
dengan akan diharapkan kecemasan klien berkurang verbal dan non verbal pasien. penting pada prosedur diagnos
dilaksanakan operasi. dengan kriteria hasil : pembedahan.
- Melaporkan ansietas menurun sampai - Jelaskan dan persiapkan untuk -Dapat meringankan ansietas terut
tingkat teratasi tindakan prosedur sebelum pemeriksaan tersebut melibatk
- Tampak rileks dilakukan pembedahan.
- Jadwalkan istirahat adekuat
dan periode menghentikan -Membatasi kelemahan, menghem
tidur. dan meningkatkan kemampuan
- Anjurkan keluarga untuk
menemani disamping klien -Mengurangi kecemasan klien

POST OPERASI
N DIAGNOSA
NOC NIC RASIONAL
O KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan, - Kaji skala nyeri lokasi, -Berguna dalam pengawasan dan k
dengan agen injuri fisik diharapkan nyeri berkurang dengan karakteristik dan laporkan obat, kemajuan penyembuhan,
(luka insisi post operasi kriteria hasil : perubahan nyeri dengan tepat. dan karakteristik nyeri.
appenditomi). - Melaporkan nyeri berkurang - Monitor tanda-tanda vital -Deteksi dini terhadap perkembang
- Klien tampak rileks kesehatan pasien.
- Dapat tidur dengan tepat - Pertahankan istirahat dengan -Menghilangkan tegangan abdome
- Tanda-tanda vital dalam batas posisi semi powler. bertambah dengan posisi terlen
normal : TD (systole 110-130mmHg, - Dorong ambulasi dini. -Meningkatkan kormolisasi fungsi
diastole 70-90mmHg), HR(60- - Berikan aktivitas hiburan. -Meningkatkan relaksasi.
100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu - Kolaborasi tim dokter dalam -Menghilangkan nyeri.
(36,5-37,50C) pemberian analgetika.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan - Kaji adanya tanda-tanda infeksi -Dugaan adanya infeksi
berhubungan dengan diharapkan infeksi dapat diatasi dengan pada area insisi
tindakan invasif (insisi kriteria hasil : - Monitor tanda-tanda vital.
post pembedahan). - Klien bebas dari tanda-tanda infeksi Perhatikan demam, menggigil, -Dugaan adanya infeksi/terjadinya
- Menunjukkan kemampuan untuk berkeringat, perubahan mental abses, peritonitis
mencegah timbulnya infeksi - Lakukan teknik isolasi untuk
- Nilai leukosit (4,5-11ribu/ul) infeksi enterik, termasuk cuci -Mencegah transmisi penyakit viru
tangan efektif. lain.
- Pertahankan teknik aseptik
ketat pada perawatan luka -Mencegah meluas dan membatasi
insisi / terbuka, bersihkan organisme infektif / kontamina
dengan betadine.
- Awasi / batasi pengunjung dan -Menurunkan resiko terpajan.
siap kebutuhan.
- Kolaborasi tim medis dalam -Terapi ditunjukkan pada bakteri a
pemberian antibiotik hasil aerob gra negatif.
3. Defisit self care Setelah dilakukan asuhan keperawatan - Mandikan pasien setiap hari -Agar badan menjadi segar, melan
berhubungan dengan diharapkan kebersihan klien dapat sampai klien mampu peredaran darah dan meningka
nyeri. dipertahankan dengan kriteria hasil : melaksanakan sendiri serta cuci kesehatan.
- klien bebas dari bau badan rambut dan potong kuku klien.
- klien tampak bersih - Ganti pakaian yang kotor -Untuk melindungi klien dari kum
- ADL klien dapat mandiri atau dengan dengan yang bersih. meningkatkan rasa nyaman
bantuan - Berikan Hynege Edukasipada -Agar klien dan keluarga dapat ter
klien dan keluarganya tentang untuk menjaga personal hygien
pentingnya kebersihan diri.
- Berikan pujian pada klien -Agar klien merasa tersanjung dan
tentang kebersihannya. kooperatif dalam kebersihan
- Bimbing keluarga klien
memandikan / menyeka pasien -Agar keterampilan dapat diterapk
- Bersihkan dan atur posisi serta
tempat tidur klien. -Klien merasa nyaman dengan tenu
bersih serta mencegah terjadiny

4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan keperawatan - Kaji ulang pembatasan -Memberikan informasi pada pasie
tentang kondisi prognosis diharapkan pengetahuan bertambah aktivitas pascaoperasi merencanakan kembali rutinita
dan kebutuhan dengan kriteria hasil : tanpa menimbulkan masalah.
pengobatan b.d kurang - menyatakan pemahaman proses - Anjuran menggunakan -Membantu kembali ke fungsi usu
informasi. penyakit dan pengobatan laksatif/pelembek feses ringan mencegah ngejan saat defekasi
- berpartisipasi dalam program bila perlu dan hindari enema
pengobatan - Diskusikan perawatan insisi, -Pemahaman meningkatkan kerja s
                                          termasuk mengamati balutan, dengan terapi, meningkatkan
pembatasan mandi, dan penyembuhan
kembali ke dokter untuk
mengangkat jahitan/pengikat
- Identifikasi gejala yang -Upaya intervensi menurunkan res
memerlukan evaluasi medic, komplikasi lambatnya penyem
contoh peningkatan nyeri peritonitis.
edema/eritema luka, adanya
drainase, demam
DAFTAR PUSTAKA

Erianto, M., Fitriyani, N., & Siswandi, A. (2020). Perforasi pada Penderita Apendisitis Di RSUD
DR.H.Abdul Moeloek Lampung. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 490–496.

Kurniati, A., Trisyani, Y., & Theresia, S. I. M. (2018). Keperawatan Gawat Darurat Dan
Bencana Sheehy (Edisi Indo). Singapore: Elsevier Pte Ltd.

Sjamsuhidajat, R. (2011). Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi Ke-3). Jakarta: EGC.

Smeltzer, & Bare. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brurner & Suddarath (8th
ed). Jakarta: EGC.

Sulekale. (2016). Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kasus Appendisitis di
Rumah Sakit Santa Anna Kendari. Journal of Health.

Wijaya, A. S., & Putri, Y. M. (2013). Keperawatan Medikal Bedah 2, Keperawatan Dewasa
Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medika.

Laporan Pendahuluan ini telah diperiksa:


Tanda Tangan Nama Preseptor Klinik: Catatan dan Penilaian Preseptor:

Nilai :
Hari/Tanggal: